Anda di halaman 1dari 122

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu penyakit dengan jumlah
penderita yang semakin meningkat tiap tahunnya. DM merupakan suatu
penyakit menahun yang ditandai dengan kadar glukosa darah yang melebihi
nilai normal yaitu kadar gula darah sewaktu sama atau lebih dari 200 mg/dl,
dan kadar glukosa darah puasa 126 mg/dl (Misnadiarly, 2006). DM
merupakan suatu sindrom dengan terganggunya metabolisme karbohidrat,
lemak dan protein yang disebabkan oleh berkurangnya sekresi insulin atau
penurunan sensitivitas jaringan terhadap insulin (Guyton & Hall, 2008).
Secara

epidemiologi,

DM

merupakan

penyakit

kronis

yang

menyerang kurang lebih 12 juta orang di dunia. Diperkirakan bahwa pada


tahun 2030 prevalensi DM di Indonesia mencapai 21,3 juta orang (Diabetes
Care, 2004). Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun
2007, diperoleh bahwa proporsi penyebab kematian akibat DM pada
kelompok usia 45-54 tahun di daerah perkotaan menduduki ranking ke-2
yaitu 14,7% dan di daerah pedesaan, DM menduduki ranking ke-6 yaitu 5,8%
( Depkes RI, 2012).
World Health Organitations (WHO) sertaInternational Diabetes
Federation(IDF ) menyebutkan bahwa tahun 2000 sampai tahun 2008 masih
tercatat bahwa Indonesia menempati urutan keempat di dunia sebagai jumlah
penderita diabetes yang memiliki tingkat penderita terbanyak setelah negara

India, China dan Amerika. Menurut perkiraan, jumlah penderita DM di


Indonesia sebanyak 8,4 juta pada tahun 2000 akan meningkat menjadi sekitar
21,3 juta pada tahun 2030(Depkes RI,2007). Menurut profil kesehatan
provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (2011) prevalensi penderita DM di D.I.
Yogyakarta terutama di wilayah Bantul adalah sebanyak 0,09% pada tahun
2009 meningkat menjadi 0,8% pada tahun 2011.
Diabetes melitus memiliki dampak yang serius baik terhadap pasien
maupun keluarga. Dampak menahun dari penderita dabetes melitus ini adalah
penderita menyandang penyakit ini seumur hidupnya. Selain itu, DM
merupakan penyakit yang sangat kompleks sehingga penderita membutuhkan
banyak pengobatan dan perubahan gaya hidup(Hidayat,2007). Dampak lain
yang timbul adalah perubahan peran pada keluarga, gangguan psikologis,
masalah ekonomi, perubahan kebiasaan sosial, produktivitas dan perubahan
gaya hidup (Hidayat,2007).
Pengelolaan

yang

baik

dalam

penatalaksanaan

DM

akan

meningkatkan kualitas hidup pasien DM menurut konsensus PERKENI


(Perkumpulan Endokrinologi Indonesia, 2002). Penatalaksanaan DM dikenal
denganempat pilar utama pengelolaan DM yang meliputi edukasi, diet,
latihan jasmani dan pengelolaan farmakologis. Namun saat ini, banyak
penderita yang tidak mematuhi penatalaksanaan DM dengan baik. Hal ini
dapat dijelaskan sesuai dengan penelitian oleh Junianty et al., (2011) yaitu
penderita DM kurang memperhatikan dan mematuhi penatalaksanaan DM
terutama dalam hal diet dan pengelolaan farmakologi. Hal ini dikarenakan

ketidaktahuan penderita untuk mematuhi penatalaksanaan DM tersebut.


Untuk itu perlu juga dikaji lebih mendalam tentang kebutuhan apa saja yang
dibutuhkan sehingga pasien DM dapat melaksanakan penatalaksanaan DM
sehingga dapat mencapai derajat kesehatan yang maksimal.
Menurut Maslow, hirarki kebutuhan dasar manusia adalah sebuah
teori yang dapat digunakan perawat untuk memahami hubungan antara
kebutuhan dasar manusia saat memberikan perawatan. Kebutuhan dasar
manusia seperti makanan, air, keamanan dan cinta merupakan hal yang paling
penting untuk bertahan hidup dan menjaga dan meningkatkan kesehatannya.
(Potter & Perry, 2005).
Maslow

menekankan

bahwa

kebutuhan

manusia

merupakan

kebutuhan yang unik dan berbeda, mungkin saja kebutuhan dasar tertentu
merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi dari kebutuhan yang lainnya,
misalnya orang yang lapar akan lebih mencari makan dari pada kebutuhan
untuk meningkatkan harga diri. Novita, (2012) menyatakan bahwa teori
Maslow menggambarkan bahwa setiap manusia memiliki hak yang sama
dalam pemenuhan kebutuhan untuk kelangsungan hidupnya. Maslow percaya
bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa
mungkin. Jika dilihat dari kondisi fisiologis yang terganggu secara tidak sadar
tetap akan muncul perbedaan yaitu berupa ketidakutuhan kebutuhan dasar
manusia, sebagai contohnya penderita DM tipe 1 selama hidupnya akan
melakukan pergantian insulin yang berarti kebutuhan keamananlah yang
terganggu (Potter & Perry, 2005 ; Hidayat, 2007 ; Novita, 2012).

Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhankebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau
hirarki. Lima tingkat kebutuhan dasar menurut teori Maslow adalah sebagai
berikut: kebutuhan fisiologis, kebutuhan keselamatan dan keamanan,
kebutuhan cinta dan memiliki, kebutuhan rasa berharga dan harga diri dan
aktualisasi diri(Potter & Perry, 2005).
Menurut Maslow kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan paling
dasar pada manusia. Kebutuhan fisiologis terbagi menjadikebutuhan akan
nutrisi, cairan, eliminasi, temperatur, istirahat dan seks (Potter & Perry,
2005).Kebutuhan fisiologis inilah merupakan kebutuhan utama yang
dibutuhkan oleh penderita DM. Pada saat kadar glukosa darah meningkat,
akan timbul gejala-gejala khas pada penderita DM yaitu poliuri, podipsi, dan
polipaghi dan muncul gejala- gejala lain seperti adanya mual muntah,
penurunan berat badan, impotensi, kelelahan serta kelemahan. Dari gejala
khas yang terjadi jika kebutuhan dasar ini tidak terpenuhi, maka tubuh akan
menjadi rentan terhadap penyakit, terasa lemah, tidak fit, sehingga proses
untuk memenuhi kebutuhan selanjutnya dapat terhambat(Misnadiarly, 2006;
Guyton & Hall, 2008).
Ketika kebutuhan fisiologis seseorang telah terpenuhi secara layak,
kebutuhan akan rasa aman mulai muncul. Kebutuhan akan rasa aman dan
keselamatandibagi menjadi keselamatan fisik dan keselamatan psikologis.
Keselamatan fisik meliputi keselamatan atas ancaman terhadap tubuh atau
hidup (Hidayat, 2012). Ancaman yang mungkin timbul pada penderita DM

adalah berupa penyakit yang diderita. Pada penderita DM jangka panjang,


komplikasi makrovaskuler dan mikrovaskuler inilah yang menjadi ancaman
bagi penderita DM, karena hal ini akan menyebabkan organ-organ tubuh
terganggu seperti ginjal, jantung dan retina. Organ-organ tubuh yang
terganggu akan menjadi ancaman bagi penderita DM karena akan
meningkatkanresiko injuri dan rasa tidak aman pada penderita DM( Hidayat,
2012 ; Novita, 2012).
Keselamatan psikologis yaitu keselamatan atas ancaman dari
pengalaman baru dan asing (Hidayat, 2012). Bagi penderita DM yang baru
dan belum mempunyai pengalaman akan penyakitnya, tentu akan
menimbulkan kekhawatiran, kecemasan dan ketakutan bagi penderita.
Bertambah parahnya penyakit yang terus mengancam menjadikeharusan bagi
penderita DM untuk mendapatkan rasa aman berkaitan dengan perkembangan
penyakit DM misalnya dengan melakukan terapi insulin dan kontrol gula
darah jika mengalami kenaikan gula darah atau tidak normal (Hidayat, 2012 ;
Novita, 2012).
Ketika seseorang merasa bahwa kebutuhan fisiologis dan kebutuhan
keselamatan dan keamanan terpenuhi, maka akan mulai timbul kebutuhan
akan rasa cinta, kasih sayang dan rasa memiliki. Penderita DM membutuhkan
cinta

sebagai

bentuk

kekuatan

yang

bersumber

dari

keluarga,

pasangan,sahabat dan lingkungan tempat tinggalnya. Dukungan dan perhatian


menjadi kunci kebutuhan cinta bagi penderita DM (Novita, 2012).Tidak
hanya individu normal saja yang membutuhakan cinta, penderita DM pun

membutuhkan cinta sebagai bentuk kekuatan untuk membangun kekokohan


dirinya(Nabyl, 2012). Sebagai contoh pasien DM dapat akan megalami
ketidakberdayaan dalam menghadapi penyakitnya seperti timbulnya rasa
lelah, sedih, kesepian, putus asa dan tidak berguna sehingga sangat
diperlukan dukungan dari keluarga atau pasangan yang akan meningkatkan
semangat penderita DM untuk terus mempertahankan agar kondisi gula darah
tetap terkontrol dan stabil.
Kebutuhan keempat dari piramida Maslow adalah kebutuhan harga
diri, yang berarti kebutuhan yang terkait dengan perasaan ingin dihargai
orang lain (Potter & Perry, 2005 ; Novita, 2012). Pada penderita DM keadaan
harga diri rendah dapat muncul jika timbul komplikasi dari penyakit DM
yang diderita seperti adanya luka gangren. Keadaan seperti ini diharapkan
tidak merubah fungsi kedudukan seseorang individu dalam hal harga diri,
terutama bagi seorang lelaki yaitu sebagai seorang pemimpin dan dalam
berinteraksi dengan masyarakat. Diperlukan minimal penghargaan diri dari
keluarga sehingga meningkatkan rasa percaya diri dari penderita DM (Novita,
2012).
Sama halnya seperti kebutuhan harga diri, dibutuhkan support dari
orang-orang terdekat terhadap kelangsungan aktualisasi diri. Kebutuhan
aktualisasi diri merupakan kebutuhan tertinggi dalam hirearki Maslow,
berupa kebutuhan untuk berkontribusi pada orang lain atau lingkungan serta
mencapai potensi diri sepenuhnya (Novita, 2012 ; Potter & Perry, 2005 ;

Hidayat, 2012).Penderita DM yang teraktualisasi adalah berarti dirinya


memiliki kepribadian multidimensi yang matang (Potter & Perry, 2005).
Penderita DM mungkin memiliki pengalaman terhadap penyakitnya
sehingga meraka sudah memiliki kemampuan untuk memberikan kontribusi
kepada lingkungan sekitar. Aktualisasi diri akan terbukti jika ada
keseimbangan antara kebutuhan klien, tekanan dan kemampuan untuk
beradaptasi terhadap perubahan tubuh dan lingkungan (Potter & Perry, 2005).
Aktualisasi diri yang dapat dilakukan oleh penderita DM diantaranya dengan
ikut dalam perkumpulan penderita DM sehingga bisa mendapatkan tempat
privasi dan memuaskan rasa ingin tahu yang mengarah keperkembangan dan
kesehatan yang normal (Potter & Perry, 2005 ; Tarwoto, 2006; Novita, 2012 ;
Hidayat, 2012).
Fungsi perawat didalam melakukan pengkajian pada individu
yangsehat

maupun

sakit

dimana

segala

aktifitas

yang

dilakukan

denganberbagai cara untuk mengendalikan kepribadian pasien secepat


mungkindalam bentuk proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian,
identifikasimasalah (diagnosa keperawatan), perencanaan, implementasi dan
evaluasi. Peran perawat dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia adalah
merupakan pelayanan keperawatan meliputi membantu klien dan keluarga
dalam memenuhi kebutuhannya (Potter & Perry, 2005: Hidayat, 2012).
Peran perawat dalam kebutuhan dasar manusia akan sangat membantu
dalam pemenuhan kebutuhannya, misalnya dalam kebutuhan fisiologis
oksigenasi, perawat dapat melakukan tindakan keperawatan untuk memenuhi

kebutuhan oksigen klien jika timbul kondisi darurat dalam oksigenasi seperti
adanya emfisema maka peran perawat disini adalah dengan memberikan
kebutuhan oksigrn kepada klien (Potter & Perry, 2005). Begitu juga dengan
kebutuhan nutrisi pada saat pengkajian keperawatan akan muncul masalah
pada klien terkait dalam ketidakseimbangan nutrisi, peran perawat disini
membantu klien dalam memenuhi kebutuhan nutrisi klien dengan
memberikan pengajaran dan mendiskusikan lebih detail tindakan keperawatan
yang berhubungan dengan kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan klien (Potter &
Perry, 2005).
Peran perawat dalam memenuhi kebutuhan keselamatan fisik adalah
dengan melindungi klien dari ancaman bahaya seperti resiko jatuh ataupun
ancaman dari psikologis klien seperti rasa takut, cemas, dan sebagainya.
Kebutuhan dasar akan cinta dan harga diri merupakan kebutuhan yang
meliputi perasaan klien ingin dicintai dan dihargai. Peran perawat pada
kebutuhan ini adalah dengan memotivasi klien untuk meningkatkan harga diri
klien sehingga klien merasa lebih percaya diri dalam merawat diri mereka
sendiri selain itu juga perawat akan berkolaborasi dengan keluarga untuk
membantu klien memenuhi kebutuhan mereka terhadap rasa cinta dan
memiliki (Potter & Perry, 2005: Hidayat, 2012).
Pemenuhan kebutuhan aktualisasi pada klien adalah ketika klien
merasa bahwa klien merasa sehat dan mempunyai kebutuhan yang kuat
terhadap privasi (Potter & Perry, 2005). Peran perawat dalam pemenuhan
kebutuhan aktualisasi adalah dengan membantu memenuhi kebutuhan

aktualisasinya dengan merencanakan perawatan sehingga privasinya tidak


akan terganggu (Andarmoyo, 2013;Hidayat, 2012).
Sebuah penelitian dari Jirapongsuwan &Sawangpon (2011) tentang
faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku perawatan mandiri pasien
dengan

DM

di

rumah

sakit

Lardlumkaew,

Pathumthani

Thailand

menunjukkan hasil bahwa pemenuhan kebutuhan dari pasien DM adalah


sangat penting untuk mendorong dan meningkatkan perawatan diri pasien
dengan diabetes untuk mengurangi komplikasi dan tingkat keparahan
penderitaan yang berhubungan dengan penyakit ini.Kebutuhan yang yang
dibutuhkan berupa pendidikan dan perilaku mandiri. Kebutuhan tersebut
diberikan kepada perempuan berusia antara 40 sampai 50 dan telah menderita
diabetes selama lebih dari lima tahun dan diharapkan dapat mempromosikan
sikap positif dari perawatan diri pada pasien lain dengan diabetes.
Berdasarkan

study

pendahuluan

yang

dilakukan

di

RSUD

Panembahan Senopati Bantul, pasien DM yang datang di poliklinik rawat


jalan mendapatkan pemerikasaan kadar gula darah dan pemberian obat.
Berdasarkan pengamatan peneliti, para penderita DM mendapatkan pelayanan
yang sama dan tidak dilakukan pengkajian kebutuhan agar pasien dapat
melakukan perawatan diri secara optimal, sehingga pasien dapat mengontrol
gula darahnya dan mencegah komplikasi. Selama ini belum terdapat perhatian
yang serius terhadap kebutuhan pasien DM seperti kebutuhan pasien akan
melaksanakan penatalaksanaan DM yang akhirnya jika dikaji lebih lanjut
akan memenuhi perawatan mandiri oleh pasien DM.

10

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, peneliti tertarik


melakukan penelitian untuk mengkaji kebutuhan pasien diabetes melitus
menurut Maslow di poli penyakit dalam RSUD Panembahan Senopati Bantul.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah penelitian ini adalah, Apakahkebutuhan dasar
manusia menurut Maslow pada penderita DM di poli penyakit dalam RSUD
Panembahan Senopati Bantul ?.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui kebutuhan dasar manusia menurut Maslow pada
penderita DM di poli penyakit dalam RSUD Panembahan Senopati Bantul.
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya data demografi penderita DM di poli penyakit dalam
RSUD Panembahan Senopati Bantul
b. Diketahuinya kebutuhan dasar manusia pada penderita DMdi poli
penyakit dalam RSUD Panembahan Senopati Bantul
c. Diketahuinya prioritas kebutuhan dasar manusia pada penderita DM di
poli penyakit dalam RSUD Panembahan Senopati Bantul
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi penderita
Hasil penelitian ini diharapkan bisa menambah wawasan dan
pengetahuan bagi penderita DM tentang kebutuhan-kebutuhan yang
diperlukan oleh penderita DM. Dengan demikian, penderita dapat

11

mengetahui hal yang dibutuhkan sehingga dapat meningkatkan kesehatan


nya.
2. Bagi instansi kesehatan
Dengan dilaksanakannya penelitian ini, hasil yang diperoleh dapat
digunakan sebagai masukan terhadap pelayanan kesehatan terutama
dengan memperhatikan dan mengetahui kebutuhan pasiennya.
3. Bagi ilmu keperawatan
Manfaat penelitian ini bagi ilmu keperawatan diantaranya adalah
penerapkan dan mengembangkan teori kebutuhan dasar manusia yang
mengarah pada Maslow dan akan diaplikasikan ke kebutuhan DM yang
dapat mempengaruhi kebutuhan dasar manusia. Penelitian ini membuat
peneliti lebih mengetahui kebutuhan-kebutuhan dari pasien DM dan
membantu pasien DM mengidentifikasi prioritas kebutuhannya.
4. Bagi peneliti selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar penelitian
selanjutnya untuk mendukung pengkajian kebutuhan dasar pasien DM
yang berpatokan pada Maslow.Penelitian selanjutnya dapat memfokuskan
pada pemenuhan kebutuhan pasien seperti pemberian pelatihan sesuai
kebutuhan penderita DM ataupun implementasi pada pasien DM.
E. Penelitian Terkait
Penelitian yang pernah dilakukan dan terkait dengan penelitian ini adalah:
1. Penelitian Salam,(2009) dengan judul gambaran pemenuhan kebutuhan
dasar menurut Maslow pada lansia di PSTW Budi Luhur Bantul

12

Yogyakarta Penelitian tersebut termasuk jenis penelitian deskriptif


bersifat eksploratif yang bertujuan untuk mengetahui gambaran kebutuhan
dasar pada lansia. Populasi dari penelitian ini ada 71 responden. Sample
yang digunakan sebanyak 42 sampel yang menggunakan metode purposive
sampling yang memiliki kriteria inklusi lansia di PSTW Budi Luhur
Bantul Yogyakarta. Variabel yang digunakan merupakan variabel tunggal
yaitu tentang kebutuhan dasar manusia pada lansia. Instrumen yang
digunakan berupa kuesioner yang berisikan 5 kebutuhan dasar yang
dibutuhkan oleh lansia.
Perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian saat ini
terletak pada tujuan, tempat penelitian, jumlah sampel, dan instrument
yang digunakan. Tujuan penelitian saat ini adalah untukmengidentifikasi
kebutuhan penderita DMyang dilakukan di poli penyakit dalam RSUD
Panembahan Senopati Bantul jenis penelitian deskriptif.Jumlah popolasi
pada penelitian ini adalah 568 dan diambil sampelnya dengan jumlah
sample 96 sampel. Metode yang digunakan sama dengan penelitian terkait
yaitu menggunakan purposive sampling yaitu menggunakan responden
sampel sesuai dengan kriteria inklusi. Namun kriteria inklusi dari
penelitian sebelumnya merupakan lansia sedangkan peneliti saat ini adalah
merupakan penderita DM. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini
adalah menggunakan kuesioner dengan memasukkan 5 kebutuhan pasien
DM terhadap pemenuhan mereka dalam perawatan secara mandiri.

13

Variabel yang digunakan menggunakan variabel tunggal yaitu pemenuhan


kebutuhan pasien DM itu sendiri.
2. Penelitian Ratih,(2009) dengan judul gambaran pemenuhan kebutuhan
dasar manusia pada pasien dengan minimal care, partial care dan total care
di ruang penyakit dan bedah RSUD kota Yogyakarta Penelitian tersebut
termasuk jenis penelitian deskriptif bersifat eksploratif yang bertujuan
untuk mengetahui gambaran kebutuhan dasar pada pasien dengan minimal
care, partial care dan total care. Populasi dari penelitian ini ada 50
responden.

Sample

yang

digunakan

sebanyak

50

sampel

yang

menggunakan metode cluster sampling. Variabel yang digunakan


merupakan variabel tunggal yaitu tentang kebutuhan dasar manusia pada
lansia. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner yang berisikan
kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh pasien dengan minimal care, partial
care dan total care.
Perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian saat ini
terletak

pada

instrumentyang

tujuan,

tempat

digunakan.

penelitian,

Tujuan

jumlah

penelitian

saat

sampel,
ini

dan
adalah

untukmengidentifikasi kebutuhan penderita DMyang dilakukan di poli


penyakit dalam RSUD Panembahan Senopati Bantul jenis penelitian
deskriptif sedangkan penelitian terkait mengidentifikasi kebutuhan dasar
manusia pada pasien dengan minimal care, partial care dan total care.
Terdapat perbedaan kebutuhan pada psien bedah dengan pasien DM
namun tetap mengarah pada 5 kebutuhan dasar manusia. Jumlah popolasi

14

pada penelitian ini adalah 568 dan diambil sampelnya dengan jumlah
sample 96 sample. Metode yang digunakan dengan purposive sampling
yaitu menggunakan responden sampel sesuai dengan kriteria inklusi.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan
kuesioner dengan memasukkan 5 kebutuhan pasien DM terhadap
pemenuhan mereka dalam perawatan secara mandiri. Variabel yang
digunakan menggunakan variabel tunggal yaitu pemenuhan kebutuhan
pasien

DM

itu

sendiri.

BAB II
A. Tinjauan Teoritis
1. Diabetes Melitus (DM)
a. Pengertian Diabetes Melitus (DM)
Diabetes melitus (DM) adalah gangguan metabolisme secara
genetis dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa
hilangya toleransi karbohidrat (Price & Wilson, 2006). DM
merupakan suatu sindrom dengan terganggunya metabolisme
karbohidrat, lemak dan protein yang disebabkan oleh berkurangnya
sekresi insulin atau penurunan sensitivitas jaringan terhadap insulin
(Guyton & Hall, 2008).
DM ini merupakan sekelompok kelainan dari heterogen yang
ditandai

oleh

kenaikan

kadar

glokusa

dalam

darah

atau

hiperglikemia (Smeltzer, 2008). Penyebab DM disebabkan oleh


hormon insulin yang tidak mencukupi atau tidak efektif sehingga
tidak dapat bekerja secara normal dimana insulin mempunyai peran
utama yang mengatur kadar glukosa dalam darah yaitu sekitar 60120 mg/dl waktu puasa dan < 140 mg/dl pada 2 jam sesudah makan
pada orang normal (Misnadiarly, 2006).
b. Etiologi Diabetes Melitus (DM)
Etiologi dari DM menurut berbagai bukti menunjukkan
bahwa hal ini akan mengarah pada insufisiensi insulin, akan tetapi
determinan genetik merupakan penyebab yang utama dari

15

16

mayoritas penderita DM (Price & Wilson, 2006). Diabetes melitus


tipe 1 terhadap bukti determinan genetiknya adalah kaitannya
dengan tipe-tipe histokompatibilitas (Human Leokocyte antigen
(HLA)) spesifik. Tipe dari gen ini berkaitan dengan diabetes tipe 1
yang memberikan kode kepada protein-protein yang berperan
penting dalam interaksi monosit-limfosit (Price & Wilson, 2006).
Protein-protein ini mengatur respon sel T yang merupakan bagian
normal dari respon imun. Jika terjadi kelainan, fungsi linfosit ini T
yang terganggu akan berperan penting dalam patogenesis
perusakan sel-sel pulau Langerhans.
Diabetes melitus tipe 2 mempunyai pola familial yang kuat.
Jika orang tua menderita diabetes tipe 2 rasio diabetes dan nondiabetes pada anak adalah 1:1, dan sekitar 90% pasti pembawa
(carier). Diabetes tipe 2 ditandai dengan kelainan sekresi insulin
serta kerja insulin. Kelainan pengikatan insulin dengan reseptor
disebabkan oleh berkurangnya jumlah tempat reseptor pada
membran sel yang responsif terhadap insulin. Hal ini berakibat
terjadi penggabungan abnormal antara kompleks reseptor insulin
dengan sistem transpor glukosa. Ketidakabnormalan postreseptor
dapat menggangu kerja insulin sehingga timbul kegagalan sel beta
dengan menurunnya jumlah insulin yang tidak lagi memadai untuk
mempertahankan euglikemia (Price & Wilson, 2006).

17

Penyebab lain dari DM menurut Wijayakusuma (2004) ;


Nabyl (2012) ; Andarmoyo (2012) ; Maulana (2012) ; Novita
(2012) adalah :
1) Obesitas
Orang dengan berat badan melebihi batas normal
mempunyai kecenderungan yang lebih besar untuk terserang
Diabetes Melitus dibandingkan dengan orang yang tidak
gemuk. Berat badan yang berlebih bisa menyebabkan DM
karena jalan insulin untuk masuk ke dalam sel-sel terhalangi.
Salah satu cara untuk mengetahui berat badan berlebih atau
obesitas adalah dengan menghitung Indeks Massa Tubuh
(IMT).
Tabel 1. Indeks Massa Tubuh (IMT)
Kategori
BB kurang
BB normal
BB berlebih
Obesitas

IMT (kg/m2)
<18,5
18,5-24,9
25-29,9
=30

3). Faktor genetik


DM cenderung diturunkan atau diwariskan, bukan
ditularkan.

Biasanya,

seseorang

yang

menderita

DM

mempunyai anggota keluarga yang juga terkena. Para ahli


kesehatan menyebutkan bahwa DM merupakan penyakit
terpaut kromosom seks atau kelamin DM sehingga merupakan
penyakit degenerative atau diturunkan.

18

4). Bahan-bahan kimia dan obat-obatan


Bahan kimiawi tertentu dapat mengiritasi pankreas yang
menyebabkan radang pankreas. Peradangan pada pankreas dapat
menyebabkan pankreas tidak berfungsi secara optimal dalam
mensekresikan hormon yang diperlukan untuk metabolisme
dalam tubuh, termasuk hormon insulin. Bahan-bahan kimia
beracun yang masuk ke tubuh misalnya mengandung golongan
nitrosamin ataupun glukosida sianogenik merupakan salah satu
penyebab terjadinya diabetes.
Glukosida sianogenik melepaskan sianida sehingga
memberikan efek toksik terhadap jaringan tubuh. Sianida dapat
menyebabkan kerusakan pankreas yang akhirnya menimbulkan
gejala DM jika disertai dengan kekurangan protein.
5). Penyakit dan infeksi pada pankreas
Mikroorganisme

seperti

bakteri

dan

virus

dapat

menginfeksi pankreas sehingga menimbulkan radang pankreas.


Hal itu menyebabkan sel pada pankreas tidak bekerja secara
optimal dalam mensekresi insulin. Mekanisme infeksi sitolitik
pada sel virus dapat menyebabkan rusaknya sel. Kemudian
hilangmya autoimun pada sel karena adanya reaksi
auotoimunitas. Virus dan bakteri yang dicurigai adalah rubrlla
mumps dan human coxsackievirus B4.

19

Gangguan sistem imunitas berkaitan dengan adanya


infeksu bakteri dan virus. Sistem ini dapat dilakukan oleh
autoimunitas yang disertai dengan pembentukan sel-sel antibodi
antipankreatik dan mengakibatkan kerusakan sel-sel yang
melakukan sekresi insulin dan kemudian peningkatan kepekaan
sel dan virus.
c. Klasifikasi Diabetes Melitus
Beberapa tipe diabetes melitus dapat diklasifikasikan
berdasarkan penyebab, perjalanan klinik dan terapinya. Terdapat
dua tipe utama DM yaitu diabetes melitus tipe 1 dan diabetes
melitus tipe 2 (Guyton & Hall, 2008). Klasifikasi diabetes melitus
(DM) menurut Smeltzer (2008) adalah:
1) Tipe 1
2) Tipe 2
3) Diabetes melitus gestational (GDM)
Klasifikasi etiologis DM American Diabetes Association
(1997) sesuai anjuran Perkumpulan Endokrinologi Indonesia
(PERKENI) adalah :
1) Diabetes tipe 1 berupa destruksi sel P yang umumnya
menjurus ke defisiensi insulin absolut yaitu berupa autoimun
dan idiopatik (Arif, 2000). Diabetes tipe 1 dikenal sebagai tipe
juvenile onset dan tipe dependen insulin. Autoimun, akibat dari
disfungsi autoimun dengan kerusakan sel-sel sedangkan

20

idiopatik berarti tanpa bukti adanya autoimun dan tidak


diketahui sumbernya (Price & Wilson, 2006).
2) Diabetes tipe 2 disebabkan oleh penurunan sensitivitas
jaringan target terhadap efek metabolik insulin (Guyton &
Hall, 2008). Penurunan sensitivitas terhadap insulin (resistensi
insulin) sering terjadi karena disebabkan terdapat resistensi
insulin dari sel-sel sasarn terhadap kerja insulin. Insulin mulamula mengikat pada reseptor-reseptor permukaan sel tertentu,
kemudian terdapat reaksi intraselular yang menyebabkan
mobilisasi pembawa GLUT 4 glukosa yang mengikatkan
transpor glukosa menembus membran sel (Price & Wilson,
2006).
3) Diabetes tipe lain meliputi :
a) Defek genetik fungsi sel berupa Maturity Onset Diabetes
of the Young (MODY) 1,2,3 dan DNA mitokondria (Arif,
2000). Diabetes subtipe ini memiliki prevalensi familial
yang tinggi dan bermanifestasi sebelum usia 14 tahun.
Pasien seringkali obesitas dan resistensi terhadap insulin
(Price & Wilson, 2006).
b) Defek negatif kerja insulin menyebabkan sindrom
resistensi insulin berat dan akantosis negrikans (Price &
Wilson, 2006).

21

c) Penyakit eksorin pankreas meliputi pankreatitis, tumor/


pankreatektomi

dan

pankreatopati

fibrokalkulus

(Arif,2000).
d) Endokrinopati seperti akromegali, sindrom Cushing,
feokromositoma dan hipotiroidisme.
e) Obat-obat bersifat toksik terhadap sel-sel . Hal ini berupa
vacor, pentamidin asam nikotinat, glukokortiroid dan
hormon tiroid, tiazid, dilantin, interferon dan lain-lain.
f) Infeksi meliputi rubela kongenital dan sitomegalovirus.
g) Penyebab

imunologi

yang

jarang

yaitu

antibodi

antiinsulin.
h) Sindrom ginetik lain yang berkaitan dengan DM yitu
sindrom Down, Klinefelter, Turner dan lain-lain.
4. Diabetes gestational (GDM)

dikenali pertama kali pada

kehamilan dan mempengaruhi 4 % dari senua kehamilan. Pada


pasienpasien ini toleransi glukosa dapat kembali normal
setelah persalinan hal Ini meliputi 2 5% dari seluruh diabetes
Faktor resiko terjadinya GDM adalah usia tua, etnik, obesitas,
riwayat keluarga, dan riwayat gestasional terdahulu (Price &
Wilson, 2006). Diabetes dalam masa kehamilan, walaupun
umumnya kelak dapat pulih sendiri beberapa saat setelah
melahirkan, namun dapat berakibat buruk terhadap bayi yang
dikandung. Akibat buruk yang terjadi antara lain malformasi

22

kongenital, peningkatan berat badan bayi ketika lahir dan


meningkatnya resiko mortalitas perinatal.
d. Manifestasi Klinis Diabetes Melitus
Tanda dan gejala awal dari penyakit DM ini awalnya
mungkin tidak dirasakan dan disadari oleh penderitanya, sehingga
perlu diketahui lebih lanjut tanda gejala tersebut oleh si penderita.
Menurut Smeltzer& Bare (2002) tanda dan gejala tersebut
meliputi:
1) Poliuria
Poliuria terjadi jika terjadi kekurangan insulin untuk
mengangkut
menyebabkan

glukosa

melalui

hiperglikemia,

membrandalam
sehingga

serum

sel

yang
plasma

meningkat atau hiperosmolariti menyebabkan cairan intrasel


berdifusi kedalam sirkulasi atau cairan intravaskuler sehingga
aliran darah ke ginjal meningkat sebagai akibat dari
hiperosmolariti (Misnadiarly, 2006). Poliuri atau sering
kencing terjadi karena akan terjadi penumpukan cairan
didalam tubuhnya akibat gangguan osmolaritas darah yang
harus dibuang melalui kencing ( Maulana, 2012). Gejala awal
DM berhubungan dengan efek langsung dari kadar gula darah
yang tinggi. Jika kadar gula darah sampai diatas 160-180
mg/dL, maka glukosa sampai ke air kemih sehingga jika
kadarnya terlalu tinggi ginjal akan membuang tambahan untuk

23

mengencerkan sejumlah besar glukosa yang hilang. Tingginya


frekuensi berkemih sehingga hanya dalam satu malam dapat
mencapai 20-30 kali (Nabyl, 2012).
2) Polidipsia
Polidipsi terjadi jika konsentrasi glukosa cukup tinggi,
ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang
tersaring keluar akibatnya glukosa tersebut muncul di dalam
urin (glukosauria). Akibat meningkatnya difusi cairan dari
intrasel kedalam vaskuler menyebabkan penurunan volume
intrasel sehingga efeknya adalah dehidrasi sel. Akibat dari
dehidrasi sel mulut menjadi kering dan sensor haus teraktivasi
menyebabkan seseorang haus terus dan ingin selalu minum
(polidipsia) (Smeltzer& Bare2002).
Polidipsia dapat terjadi karena sebagai akibat dari
poliuria maka penderita merasakan haus yang berlebihan
sehingga banyak minum (polidipsi) (Nabyl, 2012). Diawali
dari banyaknya urin yang keluar maka tubuh mengadakan
mekanisme lain untuk menyeimbangkan dengan banyak
minum sehingga hal ini juga akan berpengaruh dengan
banyaknya pengeluaran urin pada penderita DM (Novita,
2012).

24

3) Poliphagia
Poliphagi dapat terjadi pada pasien DM karena glukosa
tidak dapat masuk ke sel akibat dari menurunnya kadar insulin
maka produksi energi menurun, penurunan energi akan
menstimulasi rasa lapar. Maka reaksi yang terjadi adalah
seseorang akan lebih banyak makan (poliphagia). Karena
insulin yang bermasalah pemasukan gula kedalam sel-sel
tubuh berkurang akhirnya energi yang dibentuk kurang
sehingga orang DM akan merasakan kurangnya tenaga
akhirnya akanmelakukan kompensasi yakni dengan banyak
makan (Novita, 2012).
Seperti halnya dengan poliuri akibat menurunnya
kemampuan insulin mengelola kadar gulanya sehingga tubuh
dipaksa untuk makan agar mencukupi kadar gula darah yang
bisa

direspon

insulin

(Maulana,

2012).

Untuk

mengkompensasikan hal ini, penderita sering kali merasa lapar


yang luar biasa sehingga banyak makan.
4) Penurunan berat badan
Penurunan berat badan dapat terjadi karena glukosa
tidak dapat di transport kedalam sel maka sel kekurangan
cairan dan tidak mampu mengadakan metabolisme, akibat dari
itu maka sel akan menciut, sehingga seluruh jaringan terutama
otot mengalami atrofi dan penurunan secara otomatis.

25

Sejumlah kalori yang hilang ke dalam air kemih, penderita


mengalami penurunan berat badan (Nabyl, 2012).
Tanda dan gejala penyakit DM menurut Misnadiarly (2006);
Novita (2012); Nabyl (2012), digolongkan menjadi gejala akut dan
gejala kronik.
1) Gejala akut pada pasien DM adalah gejala umum yang timbul
dengan tidak mengurangi kemungkinan adanya variasi gejala
lain. Gejala tersebut meliputi polifagi, polidipsi dan poliuria.
Gejala lain yang mngkin timbul pada masa akut adalah
penurunan berat badan dengan cepat yaitu (bisa mencapai 5-10
kg dalam waktu 2-4 minggu), mudah lelah dan lain-lain.
2) Gejala kronik adalah gejala menahun yang diderita oleh pasien
DM. Gejala kronik yang sering timbul adalah sebagai berikut
(Maulana, 2012 &Misnadiarly 2006).
a) Kesemutan
b) Kulit terasa panas
c) Rasa tebal di kulit
d) Kram
e) Capai dan mudah mengantuk
f) Mata kabur
g) kemampuan seksual menurun bahkan impoten, pruritis
vulva hingga keputihan pada wanita, luka tidak sembuhsembuh.

26

Gejala lain yang mungkin timbul adalah pandangan kabur,


pusing, mual dan berkurangnya ketahanan tubuh selama melakukan
olahraga. Gejala diabetes tipe I muncul saat usia anak-anak sebagai
akibat dari kelainan genetika, sehingga tubuh tidak memproduksi
insulin dengan baik (Maulana, 2012).
Gejala-gejala yang muncul pada diabetes tipe I adalah
menurut Maulana (2012) ; Novita (2012) :
a) sering buang air kecil
b) terus menerus lapar
c) berat badan menurun
d) kelelahan penglihatan kabur
e) infeksi kulit yang berulang
f) meningkatnya kadar gula darah dan air seni
Gejala-gejala yang timbul pada diabetes tipe II Novita (2012) :
a) cepat lelah, kehilangan tenaga
b) sering bang air kecil
c) terus menerus lapar dan haus
d) kelelahan berkepanjangan
e. Komplikasi Diabetes Melitus (DM)
Dua jenis komplikasi yang umumnya timbul pada penderita
DM yaitu komplikasi akut dan kronik. Komplikasi akut adalah
komplikasi jangka pendek dimana dibutuhkan keseimbangan dari
kadar gula darah bagi penderita DM. Komplikasi akut meliputi

27

ketoasidosis diabetik dan hipoglikemia. Komplikasi kronik adalah


komplikasi komplikasi yang terjadi dalam waktu yang lama
(Misnadiarly, 2006). Komplikasi kronik meliputi komplikasi
makrovaskuler

dan

komplikasi

mikrovaskuler.

Komplikasi

makrovaskuler ini meliputi penyakit jantung koroner, penyakit


serebrovaskuler, stroke dan penyakit vaskular perifer sedangkan
komplikasi

mikrovaskuler

meliputi

retinopati,

neuropati

diabetikum dan nefropati (Smeltzer& Bare, 2002).


1) Komplikasi akut
a) Reaksi hipoglikemia
Reaksi hipoglikemia adalah gejala yang timbul akibat
tubuh kekurangan glukosa dengan tanda-tanda rasa lapar,
gemetar, keringat dingin, pusing dan sebagainya Smeltzer&
Bare, 2002). Hipoglikemi ditandai dengan kadar gula darah
yang melonjak turun dibawah 50-60 mg/dL (Misnadiarly,
2006). Gejala- gejala hipoglikemia bisa ditandai oleh dua
penyebab utama. Keterlibatan sistem saraf otonom dan
pelepasan hormon dari kelenjar adrenalin yang menimbulkan
gejala rasa takut, kegelisan, gemetaran, muka pucat serta rasa
pening (Novita, 2012).
b) Ketoasidosis diabetik (DKA)
Ketoasidosis diabetik (DKA) merupakan komplikasi
akut yang terjadi apabila kadar insulin sangat menurun. Pada

28

keadaan ini pasien mengalami hiperglikemia dan glukosuria


berat, penurunan lipogenesis dan peningkatan lipolisis dan
peningkatan okidasi lemak bebas diseratai pembentukan benda
keton (Price & Wilson, 2006).
Peningkatan produksi keton inilah yang meningkatkan
beban ion hydrogen dan asidosis metabolik yang pada akhirnya
dapat mengakibatkan diuresis osmotik dengan dehidrasi dan
kehilangan elektrolit. Pasien dapat menjadi hipotensi dan
mengalami

syok

yang

akhirnya

dapat

mengakibatkan

perubahan perfusi ke jaringan otak sehingga terjado koma


(Aini, 2011). Penyebab komplikasi ini pada umumnya adalah
infeksi yang dapat menyebabkan terjadinya defisiensi atau
kekurangan insulin akut pada metabolisme lemak, karbohidrat
maupun protein (Novita, 2012).
2) Komplikasi Kronik
Komplikasi kronik adalah komplikasi jangka panjang
yang terjadi pada penderita DM. Komplikasi kronik meliputi
komplikasi makrovaskuler dan komplikasi mikrovaskuler
(Smeltzer& Bare, 2002). Komplikasi makro dan mikro
vaskuler ini biasa disebut dengan mikroangopati dan
makroangopati (Sudoyo et all, 2009).
Mikroangiopati adalah komplikasi vaskuler jangka
panjang dari diabetes yang melibatkan pembuluh darah kecil.

29

Mikroangiopati adalah komplikasi mikrovaskuler merupakan


lesi spesifik yang menyerang kapiler dan arteriola retina
(retinopati diabetik), glomerulus ginjal (nefropati diabetik) dan
saraf-saraf perifer (neuropaty diabetik), otot-otot serta kulit
(Meydani, 2011).
Makroangiopati adalah komplikasi vaskuler jangka
panjang dari diabetes yang melibatkan pembuluh darah besar.
Makroangiopati diabetes akan mengakibatkan penyumbatan
vaskuler dan jika mengenai arteri-arteri perifer maka dapat
mengakibatkan insufisiensi vaskuler perifer dan gangren pada
ekstremitas serta insufisiensi serebral dan stroke dan dapat
menyebabkan angina dan infark miokard jika mengenai arteri
koronaria (Aini,2011).
Komplikasi makrovaskular ini seperti: penyakit jantung
koroner (Coronary Heart Disease), penyakit pembuluh darah
otak dan pembuluh darah perifer .
a) Penyakit jantung dan pembuluh darah
Aterosklerosis adalah sebuah kondisi dimana arteri
menebal dan menyempit karena penumpukan lemak pada
bagian

dlam

pembuluh

darah

(Misnadiarly,

2006).

Menebalnya arteri pada bagian kaki bisa mempengaruhi otototot

kaki

karena

berkurangnya

suplai

darah

yang

mengakibatkan rasa kram, tidak nyaman atau lemas saat

30

berjalan (Nabyl, 2012). Jika suplai darah pada kaki sangat


berkurang atau terputus dalam waktu yang lama bisa terjadi
kematian pada jaringan (Aini, 2011).
b) Kerusakan pada ginjal (Nefropati)
Diabetes mempengaruhi pembuluh darah kecil ginjal
akibatnya efisiensi ginjal untuk menyaring darah terganggu
(Misnadiarly, 2006). Gejalanya adalah ada protein dalam air
kncing terjadi pembengkakan, hipertensi dan kegagalan fungsi
ginjal yang menahun (Novita, 2012). Adanya gagal ginjal
dapat dibuktikan dengan kenaikan kadar kreatinin yang
berkisar antara 2-7,1 % pasien DM (Misnadiarly, 2006).
c) Retinopati
Retinopati diabetik merupakan komplikasi berupa
kerusakan pembuluh darah kapiler pada jaringan yang
berfungsi sebagai sensor cahaya (retina) (Nabyl, 2012). Retina
mata yang terganggu sehingga akan terjadi kehilangan
sebagian atau seluruh penglihatan (Misnadiarly, 2006).
Penyebab dari retinopati adalah dikarenakan karena
dinding pembuluh akan menggembung membentuk suatu
struktur yang disebut mikroaneurisma. Pembentukan
mikroaneurisma akan didiringi dengan penyempitan dan
penyumbatan pada pembuluh kapiler (Nabyl, 2012). Pada
dasarnya tubuh akan membuat pertahanan dengan membuat

31

pembuluh darah baru namun dikarenakan rapuh pembuluh


baru tersebut akan pecah dan akan menimbulkan gejala
seperti kekaburan penglihatan bahkan kebutaan (Novita,
2012).
d) Kerusakan saraf ( Neuropati)
Gula darah yang tinggi menghancurkan sel saraf
dan satu lapisan lemak disekitar saraf, sehingga saraf yang
rusak tidak bisa mengirimkan sinyal ke otak dan dari otak
dengan baik (Misnadiarly, 2006). Gejala dari neuropati
diabetika adalah kehilangan indera perasa , rasa nyeri, rasa
kesemutan serta rasa terhadap dingin dan panas yang
berkurang (Nabyl 2012 ; Novita, 2012). Selain itu, otot
lengan atas menjadi lemah, penglihatan kembar, impotensi,
mengeluarkan keringat dan rasa berdebar waktu istirahat
(Novita, 2012).
f. Penatalaksanaan Diabetes Miletus (DM)
Penatalaksanaan DM bertujuan untuk menghilangkan
keluhan atau gejala DM (Arif, 2001). Tujuan penanganan DM pada
umumnya untuk mencegah terjadinya dekompensasi metabolik
akut dan menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat
komplikasi (Misnadiarly, 2006). Untuk mempermudah tercapainya
tujuan tersebut kegiatan dilaksanakan dalam bentuk pengelolaan
pasien secra holistik dan mengajarkan kegiatan secara mandiri.

32

Komponen penatalaksanaan menurut Misnadiarly (2006)


dan Smeltzer (2002) adalah meliputi edukasi, perencanaan makan
(diet), latihan jasmani dan intervensi farmakologi.
1) Edukasi
Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang
memerlukan perlakuan dan perilaku penanganan secara mandiri
yang khusus dan seumur hidup. Pengelolaan diabetes mandiri
membutuhkan partisipasi aktif pasien, keluarga dan masyarakat.
Tim kesehatan dalam hal ini mendampingi pasien dalam menuju
perubahan

perilaku

dengan

memberikan

edukasi

yang

komprehensif, pengembangan keterampilan dan motivasi.


Edukasi tersebut meliputi penyakit DM, makna dan
perlunya pengendalian dan pemantauan DM, penyulit DM,
intervensi farmakologis dan nonfarmakologis, hipoglikemia,
perawatan kaki diabetes, cara menggunakan sistem pendukung dan
fasilitas perawan kesehatan (Misnadiarly, 2006) (Smeltzer & Bare,
2002).
2) Perencanaan makan (diet)
Perencanaan makan merupakan salah satu pilar dari
pengelolaan DM. Perencanaan makan harus disesuaikan dengan
kebiasaan masing-masing pasien. Hal ini bertujuan untuk mencapai
tujuan berikut menurut Smeltzer & Bare (2002) :
a) Memberikan semua unsur makanan yang esensial

33

b) Mempertahankan dan mencapai berat badan yang sesuai


c) Mencegah terjadinya fluktuasi kadar glukosa darah setiap hari
d) Menurunkan kadar lemak darah jika kadar ini meningkat
Rencana diet pada pasien DM dimaksudkan untuk
mengatur jumlah kalori dan karbohidrat yang dikonsumsi setiap
hari. Pada konsesus Perkumpulan Endokrinologi Indonesia
(PERKENI) telah ditetapkan bahwa standar yang dianjurkan
adalah proporsi dengan komposisi yang seimbang berupa
karbohidrat (60-70%), protein (10-15%) dan lemak (20-25%) (arif,
2001). Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan, status gizi,
umur, stress akut dan kegiatan jasmani untuk mencapai berat badan
yang ideal.
Standar yang dianjurkan sesuai kecukupan gizi baik sebagai
berikut sebagai penentuan status gizi, dipakai Body Mas Index
(BMI) yaitu :
IMT normal wanita = 18,5 23,5 kg / m2
IMT normal laki laki = 22,5 25 kg / m2
3) Latihan Jasmani
Latihan sangat penting dalam penatlaksanaan DM karena
memiliki efek yang dapat menurunkan kadar glukosa darah dan
mengurangi faktor resiko (Novita, 2012). Prinsip latihan jasmani
yang dilakukan adalah :

34

a) Latihan dilakukan dengan berkesinambungan dan dilakukan


terus menerus misalnya aktifitas latihan jasmani seprti jogging
dilakukan setiap 30 menit, maka setiap hari harus dilakuakan
selama 30 menit.
b) Latihan olahraga yang dipilih adalah latihan olahraga yang
berirama yaitu otot-otot dapat berkontraksi dan relaksasi secara
teratur seprti berenang, jogging dan jalan kaki.
c) Latihan dilakukan berdasarkan interval kegiatan latihan
d) Latihan jasmani ini dilakukan secara bertahap sesuai dengan
kemampuan dari intensitas ringan sampai sedang mencapai
waktu 30-60 menit
e) Latihan daya tahan dilakukan 3 hari dalam seminggu seperti
jalan kaki, jogging dan sebagainya. Latihan ini untuk
meningkatkan kemampuan kardiorespirasi
4) Intervensi farmakologi
Sarana pengelolaan farmakologis diabetes menurut
Misnadiarly (2006) dapat berupa :
1) Pemicu sekresi insulin
a) Sulfoniluera
Sulfoniluera menstimulasi pelepasan insulin yang
tersimpan,

menurunkan

ambang

sekresi

insulin

dan

meningkatkan sekresi insulin sebagai akibat rangsangan


glukosa. Kebanyakan pasien mengenal obat golongan

35

sulfonyluera yaitu Chlorpropamide dan Glibenclamide


(Nabyl, 2012).
Pemberian obat ini 15 sampai 30 menit sebelum
makan

(Nabyl,2012).

Mekanisme

kerjanya

untuk

meningkatkan sekresi insulin, meningkatkan performance


dan jumlah reseptor insulin pada otot dan sel lemak,
meningkatkan efisiensi sekresi insulin dan potensiasi
stimulasi insulin transport karbohidrat ke sel otot dan
jaringan lemak serta penurunan produksi glukosa dan hati
(Misnadiarly, 2006).
b) Biguanid
Biguanid

menurunkan

glukosa

darah

melalui

pengaruh terhadap kerja insulin pada tingkat seluler, distal


dari reseptor insulin serta juga pada efeknya menurunkan
produksi glukos hati. Obat biguanid memperbaiki kerja
insulin dalam tubuh dengan mengurangi resistensi insulin
(Nabyl, 2012).
Golongan biguanid yang beredar dipasaran adalah
metformin (Nabyl, 2012). Mekanisme kerja biguanid adalah
untuk menghambat absorbsi karbohidrat dan glikoneogenesis
hati, meningkatkan afinitas pada reseptor insulin dan jumlah
reseptor insulin serta memperbaiki defek respon insulin
(Misnadiarly, 2006).

36

Keuntungan dari obat metformin adalah tidak


menaikkan berat badan. Namun ada beberapa keluhan yang
bisa timbul yaitu gangguan pengecapan, nafsu makan
menurun, mual muntah, kembung dan ruam atau bintik-bintik
di kulit (Nabyl, 2012). Untuk mengurangi keluhan tersebut
dapat diberikan pada saat atau sesudah makan dengan dosis
500-3000 mg 2-3 kali sehari (Misnadiarly, 2006).
2) Penambah sensitivitas terhadap insulin
a) Tiazolidindion
Tiazolidindion meningkatkan sensitifitas insulin. Obat
ini baik bagi penderita diabetes tipe 2 dengan resistensi insulin
karena bekerja dengan merangsang jaringan tubuh untuk lebih
sensitif terhadap insulin (Nabyl, 2012). Obat Tiazolidindion
menjaga hati agar tidak banyak memproduksi glukosa dan
menurunkan trigliserida darah (Maulana, 2012). Termasuk
kelompok obat ini adalah pioglitazone dan rosiglitazone
(Misnadiarly, 2006).
b) Penghambat glukosidase alfa
Penghambat glukosidase alfa menurunkan penyerapan
glukosa dan hiperglikemia postprondial. Obat golongan ini
bekerja di usus menghambat kerja enzim alfa glukosidase di
dalam saluran cerna sehingga pemecahan karbohidrat menjadi
glukosa di usus menjadi berkurang. Obat ini bekerja di lumen

37

ususdan

tidak

menyebabkan

hipoglikemia

dan

tidak

berpengaruh pada kadar insulin (Misnadiarly, 2006 ; Nabyl,


2012). Obat yang termasuk ini adalah acarbose dan miglitol
(Nabyl, 2012).
c) Kombinasi obat
Tujuan dari kombinasi adalah agar efek obat lebih
optimal dalam mengontrolglokosa darah (Nabyl, 2012).
Golongan sulfonylurea paling banyak dikombinasikan dengan
obat

anti

diabetes

lain

karena

efek

kombinasi

bisa

memperbaiki dan menambah kerja insulin. Kombinasi tersebut


adalah

sulfonylurea

-meformin,

sulfonylurea

alpha-

glucosiade inhibitor dan sulfonylurea thiazilidinediones


(Nabyl, 2012 ; Novita, 2012). Selain itu metformin juga bisa
dikombinasikan dengan obat anti diabetes kelompok lain yaitu
metformin - alpha- glucosiade inhibitor dan metformin
thiazilidinediones (Nabyl, 2012).
Pada tipe diabetes II obat sulfoniluera cocok untuk
digunkan karena terapat sisa pulau langerhans yang masih
berfungsi. Obat-obat ini merangsang fungsi sel-sel dan
meningkatkan sekresi insulin. Sebaliknya pada tipe diabetes I
pengobatan dengan sulfonilurea menjadi tidak efektifkarena
menyebabkan

efek

potensial

yang

merugikan

akibat

38

penggunaan agen-agen hipoglikemik oral (Price & Wilson,


2006).
2. Kebutuhan Dasar Manusia menurut Maslow
a. Konsep Kebutuhan Dasar Manusia
Hirarki kebutuhan dasar manusia menurut maslow terdapat
lima tingkatan prioritas. Tingakatan tersebut meliputi tingakatan dari
yang paling dasar yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan keselamatan
dan keamanan, kebutuhan cinta dan rasa memiliki, kebutuhan rasa
berharga dan harga diri dan aktualisasi diri (Potter & Perry, 2005).
Gambar 1. Piramida Maslow

Menurut Maslow seseorang yang kebutuhannya terpenuhi


adalah merupakan orang yang sehat sedangkan seseorang dengan
satu atau lebih kebutuhannya tidak terpenuhi adalah seseorang
yang mungkin tidak sehat atau beresiko sakit. Menurut Maslow,
manusia

termotivasi

untuk

memenuhi

kebutuhan-kebutuhan

hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau


hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis)
sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). 5 (lima) tingkatan

39

kebutuhan dasar pada manusia akan diuraikan dari Potter & Perry
(2005) sebagai berikut :
1) Kebutuhan fisiologis
Kebutuhan fisiologis merupakan prioritas yang paling
tertinggi dalam hirarki Maslow. Jenis kebutuhan ini berhubungan
dengan pemenuhan kebutuhan dasar semua manusia seperti,
makan, minum, menghirup udara, dan sebagainya. Termasuk juga
kebutuhan untuk istirahat, buang air besar atau kecil, menghindari
rasa sakit, dan seks.
Jika kebutuhan dasar ini tidak terpenuhi, maka tubuh akan
menjadi rentan terhadap penyakit, terasa lemah, tidak fit,
sehingga proses untuk memenuhi kebutuhan selanjutnya dapat
terhambat. Hal ini juga berlaku pada setiap jenis kebutuhan
lainnya, yaitu jika terdapat kebutuhan yang tidak terpenuhi, maka
akan sulit untuk memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi (Hidayat,
2006 ; Novita, 2012).
a) Oksigen
Oksigen merupakan kebutuhan yang paling penting.
Tubuh akan selalu membutuhkan oksigen dari waktu kewaktu
untuk bertahan hidup. Melalui metabolisme aerob sangat
diperlukan oksigen dalam jaringan untuk membentuk energi dan
bergantung secara total untuk bertahan hidup (Hidayat, 2006;
Potter & Perry, 2005 ; Andarmoyo, 2011). Oksigen harus secara

40

adekuat diterima lingkungan ke dalam paru-paru, pembuluh


darah, dan jaringan. Manusia tidak akan bisa mempertahankan
hidupnya tanpa suplai oksigen dari alam, makanan, minuman dan
tidur (Novita, 2012).
b) Cairan
Tubuh

manusia

memerlukan

keseimbangan

antara

pemasukan dan pengeluaran cairan. Hal yang mengindikasikan


tidak terpenuhinya kebutuhan cairan yaitu dehidrasi dan edema
(Potter & Perry, 2005). Dalam pengkajian keperawatan tindakan
keperawatan diarahkan pada perbaikan keseimbangan cairan,
elektrolit dan asam basa (Potter & Perry, 2005 ; Andarmoyo,
2011)
c) Nutrisi
Tubuh manusia memiliki kebutuhan esensial terhadap
nutrisi. Pemenuhan kebutuhan nutrisi secara adekuat dan aman
memerlukan kontrol lingkungan dan pengetahuan. Proses
metabolik tubuh yang baik dalam mengontrol pencernaan,
menyimpan zat makanan dan mengeluarkan produk sampah
adalah hal yang penting dalam memenuhi nutrisi tubuh
(Almatsier, 2003 ; Potter & Perry, 2005).
d) Temperatur
Suhu yang nyaman bervariasi untuk setiap individu.
Rentang suhu yang nyaman biasanya berada pada 18,3 37 C

41

(Potter & Perry, 2005 ; Andarmoyo, 2011). Tubuh dapat secara


suhu secara otomatis. Perubahan suhu yang mungkin terjadi
adalah terpajan pada panas berkepanjangan dapat meningkatkan
aktivitas metabolik tubuh dan meningkatkan kebutuhan oksigen
jaringan. Pemaparan yang panas ini akan menyebabkan
heatstroke dan heat exhaustion yang menyebabkan diaforesis,
hipotensi, perubahan status mental, kejang otot, mual dan koma
(Potter & Perry, 2005).
e) Eliminasi
Eliminasi merupakan salah satu dari proses metabolik
tubuh. Produk pengeluaran tersebut dikeluarkan melalui paruparu, kulit, ginjal dan pencernaan. Paru-paru secara primer
mengeluarkan karbon dioksida dan kulit mengeluarkan air dan
natrium sebagai keringa. Ginjal merupakan bagian tubuh yang
mengeksresikan kelebihan cairan tubuh, elektrolit, ion hidrogen
dan asam (Almatsier, 2003 ; Potter & Perry, 2005).
Seseorang

dengan

penyakit

ginjal

juga

akan

mempengaruhi kualitas dan kuantitas urin. Usus sebagai saluran


pencernaan yang berguna untuk mengeluarkan produk sampah
yang padat dan cairan dari tubuh (Almatsier, 2003 ; Potter &
Perry, 2005; Price & Wilson, 2006).
f) Istirahat

42

Istirahat dan tidur merupakan kebutuhan dasar yang baik


dalam mengatasi stres. Dengan istirahat dan tidur yang cukup
akan memulihkan keletihan fisik dan akan memulihkan kondisi
tubuh (Hidayat, 2007). Jumlah kebutuhan istirahat bervariasi
bergantung pada kualitas tidur, status kesehatan, pola aktivitas,
gaya hidup dan umur seseorang. Tidur yang cukup akan
memberikan kegairah dalam hidup dan memperbaiki sel-sel
yang rusak (Potter & Perry, 2005 ; Hidayat, 2007).
g) Seks
Maslow (1970) menganggap seks sebagai kebutuhan
dasar fisiologis yang secara umum mengambil prioritas yang
paling tinggi. Kebutuhan seksual dan perilaku dipengaruhi oleh
umur, latar belakang soaial budaya, etika, nilai, harga diri dan
tingkat kesejahteraan (Potter & Perry, 2005).
2) Kebutuhan Keselamatan dan rasa aman
Ketika kebutuhan fisiologis seseorang telah terpenuhi secara
layak, kebutuhan akan rasa aman mulai muncul. Kebutuhan ini
meliputi keselamatan fisik dan keselamatan psikologis. Keselamatan
fisik

merupakan

keadaan

yang

melibatkan

keadaan

untuk

mempertahankan, mengurangi dan mengeluarkan ancaman pada


tubuh atau kehidupan, sedangkan keselamatan psikologis merupakan
respon dari perasaan pasien saat dikaji yang ini bisa dilihat dari

43

pembicaraan

mereka

yang

secara

tidak

langsung

dapat

memperlihatkan perasaan mereka.


a) Keselamatan fisik
Keselamatan fisik merupakan keadaan yang melibatkan
keadaan untuk mempertahankan, mengurangi dan mengeluarkan
ancaman pada tubuh atau kehidupan. Ancaman tersebut bisa saja
meliputi penyakit, kecelakaan, bahaya, atau pemajanan pada
lingkungan. Dibutuhkan sistem pelayanan kesehatan yang
profesional untuk perlindungan (Potter & Perry, 2005 ; Hidayat,
2007).
b) Keselamatan psikologis
Keselamatan psikologis merupakan respon dari perasaan
pasien,

pembicaraan

yang

secara

langsung

dapat

memperlihatkan perasaan mereka ancaman dari pengalaman


baru dan asing (Potter & Perry, 2005 ; Hidayat, 2012). Dalam
proses adaptasi secara psikologis terdapat dua cara untuk
mempertahankan diri dari berbagai stressor yaitu dengan cara
berorientasi pada tugas yang dikenal dengan problem solving
straregi dan ego oriented atau mekanisme pertahanan diri
(Hidayat, 2007). Untuk merasakan keselamatan dan aman secara
psikologis, seseorang harus memahami apa yang diharapkan
dari orang lain, termasuk anggota keluarga dan pemberi
perawatan yang profesional (Potter & Perry, 2005).

44

3) Kebutuhan cinta dan rasa memiliki


Ketika seseorang merasa bahwa kedua jenis kebutuhan di
atas terpenuhi, maka akan mulai timbul kebutuhan akan rasa kasih
sayang dan rasa memiliki. Kebutuhan cinta dan rasa memiliki ini
merupakan kebutuhan untuk memiliki dan diterima oleh keluarga,
serta kebutuhan untuk mencinta dan dicintai (Potter & Perry, 2005).
Seseorang akan berusaha menginginkan hubungan kasih sayang
dengan orang lain dan kebutuhan akan memiliki tempat di dalam
kelompoknya (Saleh, 2003).
Maslow menyatakan bahwa cinta berkaitan dengan suatu
hubungan yang sehat dan penuh kasih sayang antara dua orang
termasuk sikap saling percaya. Kebutuhan akan cinta meliputi
memberi dan menerima cinta, dan harus memahami dan mampu
mengajarkannya kepada orang lain serta mampu menciptakan cinta
(Saleh, 2003 ; Hidayat, 2007).
4) Kebutuhan penghargaan dan harga diri
Kebutuhan harga diri merupakan keinginan terhadap
kekuatan, pencapaian rasa cukup, kompetensi, rasa percaya diri,
dan kemerdekaan. Manusia membutuhkan penghargaan atau
apresiasi sebagai peningkatan rasa kepercayaan diri dan dianggap
berguna. Jika kebutuhan tidak terpenuhi, mungkin saja akan
merasa tidak berdaya dan rendah diri (Potter & Perry, 2005).

45

Seseorang yang memiliki cukup harga diri akan lebih


percaya diri serta lebih mampu dan akan lebih produktif (Saleh,
2003). Kebutuhan akan harga diri yang tidak cukup akan
mengakibatkan rasa rendah diri, rasa tidak berdaya serta
mengakibatkan muncul rasa putus asa (Saleh, 2003 ; Potter &
Perry, 2005).
5) Kebutuhan aktualisasi diri
Kebutuhan
menggunakan

aktualisasi

kemampuan,

diri

yaitu

skill

dan

kebutuhan
potensi

untuk
dengan

mengemukakan ide-ide dan memberikan penilaian dan dalam


pencapaian kepuasan dari pekerjaan yang dikerjakan. Aktualisasi
diri adalah kebutuhan naluriah pada manusia untuk melakukan
yang terbaik dari yang dia bisa. Aktualisasi diri adalah tingkatan
tertinggi dari perkembangan psikologis yang bisa dicapai bila
semua kebutuhan dasar sudah dipenuhi (Saleh, 2003 ; Potter &
Perry, 2005 ; Hidayat, 2007).
Pada saat manusia sudah memenuhi seluruh kebutuhan
pada semua tingkatan yang lebih rendah, melalui aktualisasi diri di
katakan bahwa mereka mencapai potensi yang paling maksimal.
Kebutuhan aktualisasi mungkin terjadi pada saat ada keseimbangan
antara kebutuhan klien, tekanan dan kemampuan untuk beradaptasi
terhadap perubahan tubuh dan lingkungan (Potter & Perry, 2005 ;
Hidayat, 2007; Novita, 2012).

46

b. Faktor yang Mempengaruhi Kebutuhan Dasar manusuia


Menurut Hidayat (2012), kebutuhan dasar manusia dipengaruhi
oleh faktor berikut:
1. Penyakit
Faktor penyakit

yang muncul pada individu akan

menyebabkan perubahan pemenuhan kebutuhan fisiologis dan


psikologis karena beberapa fungsi organ tubuh memerlukan
pemenuhan kebutuhan yang lebih besar dari kebutuhan yang biasa
dipenuhi sehari-hari.
2. Hubungan Keluarga
Hubungan keluarga sangat mempengaruhi kebutuhan
dasar

seseorang.

Hubungan

keluarga

yang

baik

dapat

meningkatkan pemenuhan kebutuhan dasar dengan adanya rasa


saling percaya, merasakan, kesenangan hidup, tidak ada rasa
curiga, peduli dan lain-lain.
3. Konsep Diri
Konsep diri juga akan mempengaruhi kebutuhan dasar.
Konsep diri yang positif yang positif akan memberikan makna
dan keutuhan (wholeness) bagi seseorang. Seseorang dengan
konsep diri yang sehat akan selalu menganggap positif terhadap
diri sendiri bahwa untuk memenuhi kebutuhan dirinya, seseorang

47

akan mudah untuk berubah, mudah mengembangkan dan


mengenali kebutuhan cara hidup sehat.
4. Tahap Perkembangan
Manusia akan mengalami perkembangan, sejalan dengan
meningkatnya usia. Setiap tahap perkembangan tersebut akan
memiliki kebutuhan yang berbeda dari kebutuhan fisiologis,
psikologis, sosial dan spiritual. Hal ini dikarenakan fungsi organ
tubuh mengalami kematangan dengan aktivitas yang berbeda.
3. Kebutuhan Pasien Diabetes Miletus (DM) menurut Maslow
Berdasarkan patofisiologi terjadinya DM, kebutuhan penderita DM
merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi oleh penderita DM ,yang bisa
dilihat dari tanda dan gejala yang muncul. Upaya pengelolaan DM yang
dilakukan pasien DM bertujuan untuk mendapatkan kondisi tubuh yang
optimal agar mampu melakukan aktifitas sehari-hari secara produktif.
Pengaturan cairan dan nutrisi, pengelolaan menejemen diri, pengaturan
aktivitas hingga pemanfaatan fasilitas yang ada menjadi serangkaian upaya
yang harus dilakukan pasien DM. Kebutuhan pasien DM akan berintegrasi
pada penatalaksanaan dari DM tersebut. Pemenuhan perawatan diri
merupakan pengaktualisasian dari semua kebutuhan DM yang telah
terpenuhi (Hidayat, 2007;Potter & Perry, 2005).

48

1) Kebutuhan Fisiologis
a. Oksigen
Oksigen merupakan kebutuhan yang sangat vital dalam
kelangsungan hidup sel dan jaringan tubuh, oksigen diperlukan
untuk proses metabolisme tubuh secara terus menerus. Pemenuhan
kebutuhan oksigen tubuh sangat ditentukan oleh adekuatnya sistem
pernafasan, sistem kardiovaskuler dan sistem hematologi (Tarwoto
& Wartonah, 2011). Sistem respirasi berperan dalam ketersediaan
oksigen untuk kelangsungan metabolisme sel-sel tubuh dan
pertukaran gas. Pada dasarnya peran dari sistem respirasi akan
mengambil oksigen dari atmosfer, ditranspor masuk ke paru-paru
dan terjadi pertukaran gas oksigen dan karbon dioksida di alveoli,
selanjutnya oksigen akan didifusi masuk kapiler darah untuk
dimanfaatkan oleh sel dalam proses metabolisme (Potter&Perry,
2005; Tarwoto & Wartonah, 2011).
Pada penderita DM akan mengalami ganguan dalam pola
pernafasannya dikarenakan saat terjadinya hiperglikemi tubuh
tidak dapat menggunakan glukosa sebagai sumber energi. Sebagai
gantinya tubuh akan memecah lemak untuk sumber energi.
Pemecahan lemak tersebut akan menghasilkan benda-benda keton
dalam darah (ketosis). Ketosis ini yang menyebabkan derajat
keasaman

(pH)

darah

menurun

sehingga

disebut

dengan

ketoasidosis diabetik. Tanda-tanda yang dapat ditemukan pada

49

pasien DM adalah kadar gula darah > 240 mg/dL, nafas dalam dan
cepat atau nafas kusmaul dan nafas berbau aseton atau keton
(Potter&Perry, 2005; Hidayat, 2012; Nabyl, 2012; Tarwoto &
Wartonah, 2011). Pernafasan dalam dan cepat atau nafas kusmaul
terjadi karena tubuh berusaha memperbaiki keasaman darah
(Hasdianah, 2012). Jika terjadi ketoasidosis metabolik memerlukan
pengelolaan dengan cepat dan tepat .
Sistem

kardiovaskular

juga

berperan

dalam

proses

oksigenasi jaringan tubuh. Oksigen ditransportasikan keseluruh


tubuh melalui aliran darah yang adekuat, yang dapat terjadi apabila
fungsi jantung normal. Dengan demikian, kemampuan oksigenasi
pada jaringan sangat ditentukan oleh adekuatnya fungsi jantung.
Fungsi jantung yang adekuat dapat dilihat dari kemampuan jantung
memompa darah dan perubahan tekanan darah

(Potter&Perry,

2005; Tarwoto & Wartonah, 2011).


Pada sebagian penderita DM yang mengalami gangguan
oksigenasi dapat mengalami gangguan jantung atau kardiopati
diabetik. Gangguan jantung ini terjadi ketika hiperglikemi akan
menaikkan kadar kolesterol dan trigliserida darah. Lama-kelamaan
akan

terjadi

aterosklerosis.

Terjadinya

aterosklerosis

ini

menyebabkan pembuluh darah korener menjadi menyempit


sehingga jantung kekurangan suplai oksigen dan mudah terjadi

50

infark miokard. (Potter&Perry, 2005; Misnadiarly, 2006; Tarwoto


& Wartonah, 2011; Hidayat, 2012; Nabyl, 2012).
Pada keadaan normal, nilai normal tekanan darah sistole
dan diastole berkisar 120/80 mmHg. Sebagai rekomendasi
Asosoasi

Diabetes

Amerika

(ADA)

dan

Perkumpulan

Endokrinologi Indonesia (Perkeni), penderita DM diharapkan


mengendalikan faktor-faktor beresiko untuk mendapatkan hasil
yang optimal. Hal yang dapat dilakukan adalah tekanan darah
diturunkan secara agresif 130/80 mmHg, trigliserida < 150 mg/dL,
LDL <100 mg/dL, HDL >40 mg/dL sehingga memberi
perlindungan lebih baik pada jantung (Potter & Perry, 2005;
Tarwoto & Wartonah, 2011; Novita, 2012; Hasdianah, 2012;
Nabyl, 2012).
Dalam sistem hematologi sel darah berperan dalam
oksigenasi adalah sel darah merah , karena didalamnya terdapat
hemoglobin yang mampu mengikat oksigen. Setiap sel darah
merah mempunyai kira-kira 280 juta hemoglobin sehingga
kemampuan sel darah merah membawa oksigen sangat besar. Jika
semua molekul Hb dapat mengikat oksigen maka saturasinya
menjadi 100%. Tekanan parsial oksigen dalam darah (pO2), pH
darah, temperatur dan aktivitas metabolisme dalam sel darah merah
yang

mempengaruhi

ikatan

hemoglobin

(Smeltzer&Bare, ; Tarwoto & Wartonah, 2011).

dalam

oksigen

51

Pada penderita DM, jika gula darah dalam tubuh


meningkat, vikositas darah juga akan meningkat sehingga akan
terjadi gangguan sirkulasi (Potter & Perry, 2005; Novita, 2012).
Terjadinya angiopati, neuropati dan infeksi merupakan komplikasi
yang sering terjadi pada penderita DM. Angiopati menyebabkan
terganggunya aliran darah ke kaki yang akan menyebabkan
terjadinya penurunan asupan nutrisi dan oksigen. Apabila
sumbatan darah terjadi pada pembuluh yang lebih besar penderita
akan merasa ujung kaki terasa dingin, nyeri kaki, kesemutan dan
baal dan denyut arteri hilang (Misnadiarly, 2006). Adanya
neuropati perifer akan menyebabkan terjadinya gangguan sensorik
maupun motorik. Gangguan ini akan menyebabkan hilang atau
menurunnya sensasi nyeri pada kaki dan menyebabkan atrofi pada
otot kaki Smeltzer&Bare, ;Misnadiarly, 2006; Tarwoto &
Wartonah, 2011). Hilangnya atau menurunnya sensasi nyeri pada
kaki menyebabkan penderita tidak sadar bahwa ada luka atau
trauma. Pada saat adanya luka jaringan tidak mendapat cukup
oksigen sehingga proses penyembuhan luka akan jauh lebih lama.
Jika tidak tertangani dengan cepat akan beresiko terjadinya infeksi
(Potter & Perry, 2005; Misnadiarly, 2006; Tarwoto & Wartonah,
2011; Novita, 2012).

52

b. Nutrisi
Nutrisi adalah zat-zat gizi yang berhubungan dengan
kesehatan dan penyakit. Tubuh memerlukan energi untuk fungsifungsi fisiologis organ tubuh. Sel membutuhkan oksigen dan nutrisi
untuk dapat terjadi metabolisme, termasuk air, vitamin, ion,
mineral dan substansi organik seperti enzim (Sloane, 2004;
Tarwoto & Wartonah, 2011). Karakteristik status nutrisi ditentukan
melaui adanya indeks massa tubuh (BMI) dan berat tubuh ideal
(IBW) (Tarwoto & Wartonah, 2011).
a. Body Mass Index (BMI)
Merupakan

ukuran

dari

gambaran

berat

badan

seseorang dengan tinggi badan. BMI dihubungkan dengan total


lemak dalam tubuh dan sebagai panduan untuk mengkaji
kelebihan berat badan dan obesitas.
Rumus BMI :
BB (kg )
TB (m )

atau

b. Ideal Body Weight (IBW)

BB (pon )704,5
TB ( inchi )2

Merupakan perhitungan berat badan optimal dalam fungsi


tubuh yang sehat.
Rumus IBW:
(TB(cm) 100) + 10%

Pada pasien DM terjadinya defesiensi insulin akan


menggangu

metabolisme

protein

dan

lemak

yang

53

menyebabkan penurunan berat badan. Sehingga dengan


keadaan seperti ini nafsu makan penderita DM akan menjadi
meningkat (polifagia). Dalam keadaan normal insulin akan
dikendalikan oleh glukoneogenesis, jika terjadi defisiensi
insulin akan terjadinya peningkatan pemecahan lemak yang
menyebabkan

penurunan

PH

lambung

yang

dapat

menyebabkan mual dan muntah. Selain itu juga peningkatan


lemak yang terjadi akan meningkatan produksi keton sehingga
akan terjadi ketoasidosis diabetikum yang bisa berujung pada
hilangnya kesadaran dan kematian (Misnadiarly, 2006).
Dalam pemenuhan

nutrisi penderita DM tentulah

berbeda dengan individu normal (Novita, 2012). Kebutuhan


nutrisi yang harus dipenuhi oleh penderita DM adalah
makanan yang rendah gula serta mengurangi konsumsi lemak
yang berlebih (Potter & Perry, 2005 ; Novita, 2012).
Pengaturan pola diet pada pasien DM sangat diperlukan untuk
dapat menunjang asupan nutrisinya. Pola diet tersebut terbagi
dalam dua jenis yaitu pola diet tipe A dan tipe B. Diet tipe A
terdiri dari 40-50% karbohidrat, dan 20-25% protein. Diet tipe
B terdiri dari 68% karbohidrat, 20% lemak dan 12% protein
(Novita, 2012).
Pelaksanaan diet DM juga harus memperhatikan
jumlah kalori, jadwal makan dan jenis makanan. Faktor-faktor

54

yang menentukan kebutuhan kalori antara lain jenis kelamin,


umur, aktifitas fisik, berat badan dan kondisi khusus
(Hasdianah, 2012). Perhitungan jumlah kalori, IMT dan contoh
susunan menu diet DM sebagai berikut:
1. Indeks Massa tubuh (IMT) dapat dihitung dengan:
IMT = BB (Kg)/TB (M2)
IMT normal wanita = 18,5-23,5
IMT normal pria = 22,5-2
BB kurang = < 18,5
BB lebih = dengan resiko = 23-24,9
Obes I = 25-29,9
Obes II = 30

2. Penentuan Kebutuhan Kalori (PERKENI, 2002)


Kalori Basal:
Laki-laki : BB idaman (kg) x 30 kalori/kg=........kalori
Wanita : BB idaman (kg) x 25 kalori/ kg =........kalori
Koreksi/ penyesuaian :
Umur > 40 tahun : -50% x kalori basal = ...... kalori
Aktivitas ringan : + 10% x kalori basal =........kalori
Sedang : + 20%
Berat : + 30 %
BB gemuk : -20% x kalori basal

=-/+ .... kalori

55

Lebih : -10%
Kurang : -20 %
Stress metabolik : 10=30% x kalori basal= + .....kalori
Hamil trimester I&II

= + 300 kalori

Hamil trismester III/laktasi

= + 500 kalori

Total kebutuhan

= .........kalori

3. Daftar makanan pengganti


Daftar makanan pengganti adalah daftar bahan
makanan pengganti bagi perencanaan makan yang sering
digunakan dalam penyuluhan diet DM. Ada enam
kelompok utama makanan dalam daftar tersebut adalah
nasi/ roti/ pati (karbohidrat), daging/ telur ( protein
hewani), sayuran/ buah/ susu dan lemak/ minyak, tahu dan
tempe (protein nabati). Jenis-jenis makanan yang termasuk
dalam satu kelompok mengandung kalori yang sama serta
protein, lemak dan karbohidrat dengan jumlah yang sama
dalam gram (Smeltzer & Bare, ; Potter&Perry, 2005;
Tarwoto & Wartonah, 2011).
Contoh menu pengganti berdasarkan pada daftar
pengganti menurut ADA dan PERSAGI :
a. Menu 1
2 pati/ nasi diganti 2 potong roti

56

3 daging diganti 2 ons kalkun dan 1 ons keju rendah


lemak
1 sayuran diganti selada, tomat, bawang merah
1 lemak diganti 1 sendok teh mayonaise
1 buah diaganti 1 apel ukuran sedang
Makanan bebas diganti dengan es teh, dan opsional
berupa mustard, acar, paprika merah
b. Menu 2
2 pati/ nasi diganti roti bulat hamburger
3 daging diganti 3 ons daging sapi yang kurus
1 sayuran diganti selada hijau
1 lemak diganti 1 sendok makan dressing salad
1 buah diganti 114 mangkuk semangka

Makanan bebas diganti dengan soda diet, dan


opsional berupa acar, bawang merah
c. Menu 3
2 pati/ nasi diganti 1 mangkok pasta yang sudah
dimasak
3 daging diganti 3 ons udang rebus
1

1 sayuran diganti 2 mangkok tomat

1 lemak diganti 1 sendok teh minyak zaitun


1 buah diganti 114 mangkuk strawbwri segar

57

Makanan bebas diganti dengan es lemon, dan


opsional berupa bawang putih, basil
c. Eliminasi
Eliminasi

merupakan

proses

pembuangan

sisa-sisa

metabolisme tubuh berupa urin maupun feses. Eliminasi urin


normalnya diproduksi oleh ginjal sekitar 1ml/ menit atau 0,5-2 ml/
menit, sebagian besar hasil filtrasi akan diserap kembali di tubulus
ginjal untuk dimanfaatkan oleh tubuh (Tarwoto & Wartonah,
2011). Karakteristik urin normal adalah volume yang dikeluarkan
setiap berkemih berkisar 250-400 ml, jika pengeluaran urin < 30
ml/ jam, kemungkinan terjadi ketidakadekuatan fungsi ginjal.
Warna urin normal jernih kekuning-kuningan, jika terjadi dehidrasi
urin menjadi kuning gelap atau coklat. Bau yang muncul bervariasi
tergantung komposisi, pada pasien DM akan timbul bau khas
seperti bau keton atau aseton (Misnadiarly, 2006; Tarwoto &
Wartonah, 2011; Nabyl, 2012; Novita, 2012).
Makanan yang sudah dicerna akan dikeluarkan dalam
bentuk feses. Proses pengeluaran sisa pencernaan melalui anus
disebut dengan eliminasi fekal (Tarwoto & Wartonah, 2011).
Dalam proses defekasi gas yang dihasilkan dalam proses
pencernaan normalnya 7-10 l/24 jam. Jenis gas terbanyak adalah
CO 2 , metana, h 2 s, O 2 dan nitrogen. Feses yang normal berwarna
coklat, konsistensi lembek berbentuk dan terdiri atas 75% air dan

58

25% materi padat (Misnadiarly, 2006; Andarmoyo, 2011; Tarwoto


& Wartonah, 2011; Nabyl, 2012).
Perubahan pola eliminasi pada pasien DM membutuhkan
perhatian yang khusus. Terjadinya defisiensi insulin karena sel-sel
pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun. Hiperglikemia
mengakibatkan konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi
sehingga ginjal tidak bisa menyerap kembali semua glukosa
sehingga tersaring keluar dan muncul glukosuria. Eksresi urin yang
terjadi akan mengeluarkan cairan dan elektrolit yang berlebihan
yang disebut diuresis osmotik. Diuresis osmotik ini mengakibatkan
penderita DM mengalami peningkatan berkemih (poliuria) dan
akan menyebabkan rasa haus yang berlebihan (polidipsia)
(Misnadiarly, 2006 ; Nabyl, 2012).
Permasalahan eliminasi urin yang dapat muncul pada
penderita DM adalah retensi urin yang menyebabkan disuria
bahkan jika tidak segera ditangani akan terjadi urinary suppression
yang dapat menjadi anuria (urin < 100 ml/ 24 jam) dan oliguria
(urin berkisar 100-500 ml/ 24 jam) (Tarwoto & Wartonah, 2011;
Nabyl, 2012). Masalah eliminasi fekal yang dapat muncul pada
pasien DM adalah konstipasi. Hal ini disebabkan oleh pola
defekasi yang tidak teratur, usia ataupun stres psikologis serta
penggunaan obat-obatan yang dikonsumsi oleh pasien DM
(Tarwoto & Wartonah, 2011).

59

d.

Cairan
Cairan dan elektrolit merupakan komponen tubuh yang
berperan dalam proses homeostasis. Tubuh kita terdiri atas sekitar
60% air didalam sel maupun di luar sel. Besarnya kandungan air
tergantung dari usia, jenis kelamin dan kandungan lemak. Total
jumlah volume air dalam tubuh kira-kira 60% dari berat badan pria
dan 50% berat badan wanita (Tarwoto & Wartonah, 2011).
Penderita DM memiliki tiga gejala khas yaitu poliuri,
polidipsi dan polifagi. Gejala awal DM ini berhubungan langsung
dari kadar gula darah yang tinggi. Jika kadar gula darah tinggi
ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa sehingga
diekresikan lewat urin yang akan disertai pengeluaran cairan dan
elektrolit yang berlebihan, maka penderita DM akan mengalami
peningkatan dalam berkemih (poliuri) dan rasa haus (polidipsi)
(Nabyl, 2012). Gejala yang muncul ketika tubuh kekurangan cairan
adalah pusing, lemah, letih, turgor kulit menurun, mata cekung,
mukosa mulut kering, penurunan tekanan darah dan denyut jantung
meningkat (Andarmoyo, 2011). Jika keadaan ini tidak tertangani
dengan cepat akan menyebabkan dehidrasi sehinggga kebutuhan
cairan dalam tubuh tidak terpenuhi dan dapat menimbulkan syok.

e.

Istirahat
Kebutuhan aktivitas, istirahat dan tidur merupakan kesatuan
yang dibutuhkan oleh tubuh untuk kegiatan fisiologis dan

60

pemulihan

jika

tubuh

terasa

lelah.

Kemampuan

aktivitas

dipengaruhi oleh adekuatnya sistem persarafan, otot tulang dan


sendi. Kemampuan seseorang melakukan aktivitas misalnya
berdiri, berjalan dan bekarja (Tarwoto & Wartonah, 2011). Pada
pasien DM dapat mengalami gangguan aktivitas, jika terjadi
neuropati perifer akan menyebabkan terjadinya gangguan motorik.
Gangguan motorik ini akan menyebabkan atrofi pada otot kaki,
sehingga kemampuan penderita DM untuk melakukan aktivitas
menjadi terganggu (Smeltzer&Bare, ;Misnadiarly, 2006; Tarwoto
& Wartonah, 2011).
Bagi pasien DM kebutuhan istirahat dan pola tidur akan
mengalami perubahan. Istirahat dan tidur merupakan kegiatan atau
suatu keadaan dimana kegiatan jasmaniah menurun dan badan
kembali menjadi lebih segar (Andarmoyo, 2011; Tarwoto &
Wartonah, 2011; Hidayat, 2012). Pola tidur normal usia dewasa 7
jam/ hari dan Rapid Eye Movement (REM) 20% dan usia tua
6jam/ hari dengan REM 20-25% dan sering terbangun pada malam
hari (Tarwoto & Wartonah, 2011; Nabyl, 2012).
Pada penderita DM seringkali pola tidur akan mengalami
perubahan karena penyakit dan rasa nyeri yang timbul. Adanya
faktor lingkungan, obat-obatan, kelelahan dan kecemasan juga
dapat mempengaruhi kualitas tidur seseorang. Tanda yang dapat
ditemukan pada gangguan pola tidur adalah seperti perubahan

61

penampilan dan perilaku, letargi, sering menguap, lingkaran mata


hitam dan mata merah, seehingga kebutuhan akan tidur yang
dibutuhkan oleh penderita DM adalah minimal 6-8 jam sehari agar
dapat lebih rileks dan lebih segar (Potter & Perry, 2005 ;
Misnadiarly, 2006; Tarwoto & Wartonah, 2011; Nabyl, 2012).
f. Seks
Kebutuhan seksual adalah kebutuhan dasar manusia berupa
ekspresi perasaan yang saling menghargai, memperhatikan dan
menyayangi (Hidayat, 2012). Secara normal perkembangan seksual
diawali dari masa prenatal, bayi, anak-anak, masa pubertas, masa
dewasa muda dan pertengahan umur serta dewasa (Hidayat, 2012).
Gangguan fungsi seksual dan reproduksi pada penderita
DM seringkali tidak mendapatkan perhatian. Pada dasarnya
kemampuan seksual penderita DM tetap normal apabila tidak ada
masalah dan perubahan disfungsi sesksual. Banyak pria penderita
DM yang mengalami impotensi atau gangguan disfungsi ereksi
(DE) yang menyebabkan terjadinya disfungsi seksual (Maulana,
2012 ; Nabyl, 2012). Pada laki-laki penderita DM, DE dapat terjadi
ketika ada kerusakan syaraf yang disebut neuropati, kerusakan
pembuluh darah yang disebut angiopati, dan kerusakan endotel
serta otot polos, akibatnya pembuluh darah yang menuju penis
menyempit, sehingga aliran darah terhambat dan ereksi terganggu
(Misnadiarly, 2006; Nabyl, 2012)). Pada wanita, angiopati dapat

62

terjadi pada sistem pembuluh darah organ reproduksi sehingga


menyebabkan gangguan potensi seks dan menyebabkan terjadinya
keputihan dan anorgasme (Nabyl, 2012).
Penderita DM dapat mengurangi resiko disfungsi seksual
dengan menjaga kadar gula darah, berhenti merokok, tidak minum
alkohol dan kontrol tekanan darah (Maulana, 2012). Kebutuhan
akan pengobatan terhadap gangguan seksualitas juga dibutuhkan
oleh pasien DM. Pada pasien DM diperlukan perawatan kesehatan
pribadi serta toleransi fisik dan psikologisnya (Maulana, 2012;
Nabyl, 2012; Hidayat, 2012).
2) Kebutuhan akan rasa aman dan keselamatan
Kebutuhan akan rasa aman dan keselamatan memiliki kaitan
dengan perkembangan penyakit. Jika hasil laboratorium gula darah
diatas normal bisa dipastikan pasien DM tidak akan merasa aman dan
nyaman karena akan ada hal buruk yang terjadi (Potter & Perry, 2005 ;
Hidayat, 2012; Novita, 2012). Kebutuhan akan rasa aman dan
keselamatan dibagi menjadi keselamatan fisik dan keselamatan
psikologis.
1. Keselamatan fisik
Keselamatan fisik merupakan keadaan yang melibatkan
keadaan untuk mempertahankan, mengurangi dan mengeluarkan
ancaman pada tubuh atau kehidupan. Ancaman tersebut bisa saja
meliputi penyakit, kecelakaan, bahaya, atau pemajanan pada

63

lingkungan. Ancaman yang mungkin terjadi pada penderita DM


adalah timbulnya komplikasi (Potter & Perry, 2005 ; Hidayat,
2012). Status nutrisi, keadaan imunitas, usia, gangguan persepsi
sensori serta status mobilisasi menjadi faktor yang dapat
mengancam keamanan fisik penderita DM (Hidayat, 2012).
Sebagai contoh jika mengalami retinopati akan mengakibatkan
gangguan penglihatan sehingga jika hal ini terjadi akan
meningkatkan resiko injuri. Tanda-tanda lain yang dapat muncul
adalah kelelahan, keterbatasan aktivitas, paralisis, kelemahan otot,
resiko jatuh, kesadaran menurun, gangguan integritas kulit dan
kebutuhan rasa aman akan terganggu (Potter & Perry, 2005;
Hidayat, 2012).
Kebutuhan keselamatan fisik penderita DM akan terpenuhi
jika dilakukan kontrol gula darah secara mandiri dan teratur setiap
30 menit sebelum makan dan saat akan tidur malam, minum obat
secara teratur, latihan jasmani teratur 4 kali seminggu 30 menit
dan cek lab urin (Smeltzer & Bare, Potter & Perry, 2005;
Misnadiarly, 2006; Hidayat, 2012).
2. Keselamatan psikologis
Keselamatan psikologis merupakan respon dari perasaan
pasien, pembicaraan yang secara langsung dapat memperlihatkan
perasaan mereka (Potter & Perry, 2005). Dalam proses adaptasi
secara psikologis terdapat dua cara untuk mempertahankan diri

64

dari berbagai stressor yaitu dengan cara berorientasi pada tugas


yang dikenal dengan problem solving straregi dan ego oriented
atau mekanisme pertahanan diri (Hidayat, 2007).
Pada pasien DM di tahun awal akan mengalami kecemasan
yang didefinisikan sebagai kebingungan dengan perasaan tidak
yakin, putus asa, perasaan tertekan, bimbang dan gugup.
Kecemasan pada pasien DM dimanifestasikan dalam bentuk
prilaku seperti rasa tidak berdaya, rasa tidak mampu, rasa takut
dan pobia (Novita, 2012; Hidayat, 2012).Pada penderita DM yang
sudah menahun akan mengalami perasaan putus asa, yang
memungkinkan pasien sudah bosan dan malas melanjutkan
terhadap pengobatan dan program DM yang sudah dilakukan
bertahun-tahun (Tarwoto & wartonah, 2011; Novita, 2012).
Bertambah parahnya penyakit yang terus mengancam
menjadi keharusan bagi penderita DM untuk mendapatkan rasa
aman pasikologis berkaitan dengan perkembangan penyakit DM
misalnya denganterus mencari informasi terkait penyakit dan
pengobatannya, mengandalikan emosi serta menambah tingkat
pengetahuannya (Hidayat, 2012).
3) Kebutuhan cinta dan rasa memiliki
Pasien DM juga membutuhkan cinta sebagai bentuk kekuatan
untuk membangun kekokohan dirinya. Cinta bagi pasien DM dapt
bersumber dari pasangan, keluarga, sahabat dan lingkungan tempat

65

pasien DM dalam bersosialisasi. Dukungan dan perhatian menjadi


kunci kebutuhan cinta bagi penderita DM (Saleh, 2003 ; Novita,
2012).
Lamanya waktu perawatan, perjalanan penyakit yang kronik,
perasaan yang tidak berdaya menyebabkan reaksi psikologis yang
negatif pada pasien. Salah satunya adalah perubahan kesehatan
seksual. Adanya perubahan kesehatan seksual dapat menurunkan rasa
cinta, komunikasi dan kepribadian (Hidayat, 2012). Apabila penderita
DM tidak mampu menggunakan mekanisme koping yang adaptif hal
ini dapat menimbulkan reaksi berupa, marah, cemas, tersinggung dan
lain-lain. Oleh sebab itu itu keluarga harus memberikan perawatan,
meluangkan waktu dan biaya yang menjadi dukungan dan cinta
mereka terhadap penderita DM (Nabyl, 2012).
4) Kebutuhan penghargaan dan harga diri
Kebutuhan harga diri ini akan dibutuhkan ketika munculnya
komplikasi pada penderita DM. Adanya luka gangren yang sulit
sembuh dan berbau juga menyebabkan penderita DM malu dan
menarik diri dari pergaulan. Kecenderungan untuk tidak mematuhi
prosedur pengobatan dan perawatan yang lama kemungkinan akan
terjadi. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya dukungan dari orangorang terdekat (Nabyl, 2012). Contoh lain yang dapat membuat
penderita DM menjadi tidak berharga adalah adanya disfungsi
seksual. Perubahan fungsi seksual yang negatif dipandang sebagai

66

ketidakberdayaan dan memadainya dalam memenuhi peran dan fungsi


seksual ( Hidayat, 2012).
Kebutuhan penghargaan dan harga diri sangat diperlukan pada
penderita DM terutama jika penyakit ini menyerang pada usia
produktif. Penyakit DM diharapkan tidak akan merubah fungsi
kedudukan dari individu, misalnya seorang ayah yang menderita DM
kronik akan membuat identitas diri sebagai kepala keluarga akan
terganggu. Pada saat keadaan sakit penderita DM akan sering
mengeluh sehingga kurangnya kepercayaan diri dalam melakukan
perannya sebagai kepala keluarga, sebagai anggota keluarga harus
tetap hormat agar kebutuhan harga diri seorang DM dpat terpenuhi.
Kebutuhan penghargaan dari petugas kesehatan juga dibutuhkan oleh
penderita DM. Memberikan pelayanan kesehatan yang baik serta
hubungan

timbal

balik

yang

harmonis

dapat

meningkatkan

pengetahuan dan harga diri dari penderita DM, sehingga pemenuhan


kebutuhan fisiologis dan cinta otomatis akan terpenuhi(Hidayat, 2007
; Azizah, 2011 ; Novita, 2012).
5) Kebutuhan aktualisasi
Aktualisasi diri adalah kebutuhan naluriah pada manusia untuk
melakukan yang terbaik dari yang dia bisa. Kebutuhan aktualisasi diri
merupakan kebutuhan tertinggi dalam hirearki Maslow, berupa
kebutuhan untuk berkontribusi pada orang lain atau lingkungan serta
mencapai potensi diri sepenuhnya (Novita, 2012 ; Potter & Perry,

67

2005 ; Hidayat, 2012). Penderita DM yang teraktualisasi adalah


berarti dirinya memiliki kepribadian multidimensi yang

matang

(Potter & Perry, 2005).


Individu mengembangkan aktualisasi diri dengan berbagai
usaha untuk mencapai status yang diinginkan. Pada penderita DM
pengaktualisasian diri berupa ingin diakui bahwa penderita DM tetap
bisa beraktifitas seperti biasanya, ingin dipuji dan bisa mendapatkan
tempat privasi bagi penderita DM untuk memuaskan rasa ingin tahu
yang mengarah keperkembangan dan kesehatan yang normal
(Tarwoto, 2006 ; Hidayat, 2007 ; Azizah, 2011 ; Novita, 2012).
Demi membantu pengaktualisasian diri pada penderita DM
perlu dibentuk perkumpulan pasien DM, yang akan membantu
meningkatkan pengetahuan mereka tentang DM dan kepentingan
mereka sendiri seoptimal mungkin (Misnadiarly, 2006 ; Nabyl, 2012).
4. Format Pengkajian Penderita DM sesuai dengan Pola Kebutuhan
Dasar Manusia Maslow
Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang
bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang pasien agar
dapat mengidentifikasi, mengenali masalah-masalah kebutuhan kesehatan
dan keperawatan pasien baik fisik, mental, sosial, dan lingkungan (Potter
& Perry, 2005). Pengumpulan data adalah pengumpulan informasi tentang
pasien yang dilakukan secara sistematis untuk menentukan masalahmasalah

serta

kebutuhan-kebutuhan

keperawatan

dan

kesehatan

68

pasien.Sumber data diperoleh dari pasien, keluarga, catatan medik, dan


perawat. Adapun cara pengumpulan data yang digunakan adalah melalui
wawancara, observasi dan pemeriksaan fisik.
Pada penelitian ini akan dilakukan pengkajian pada pasien DM dan
ditambah dengan pemeriksaan fisik sederhana guna mendukung perolehan
data dari pasien DM. Adapaun format pengkajian penderita DM sesuai
dengan pola kebutuhan dasar manusia menurut Maslow sebagai berikut :
1. Identitas Klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan perlu
dikaji untuk mengetahui tingkat pengetahuan klien yang akan
berpengaruh terhadap tingkat pemahaman klien akan suatu informasi,
pekerjaan perlu dikaji untuk mengetahui apakah pekerjaannya
merupakan faktor predisposisi atau bahkan faktor presipitasi
terjadinya penyakit DM, suku/bangsa, status marital, tanggal masuk
RS, tanggal pengkajian, diagnosa medis dan alamat.
2. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Kesehatan Sekarang
Pada umumnya klien dengan DMakan mengeluh adanya
gejala-gejala spesifik seperti poliuria, polidipsi dan poliphagia,
mengeluh kelemahan dan penurunan berat badan dan adanya
keluhan luka yang tidak sembuh-sembuh.

69

b. Riwayat Kesehatan Dahulu


Perlu dikaji apakah klien memiliki riwayat obesitas,
hipertensi, riwayat penyakit pankreatitis kronis, dan riwayat
glukosuria selama stress (kehamilan, pembedahan, trauma,
infeksi, penyakit), atau terapi obat (glukokortikosteroid, diuretik
tiazid, kontrasepsi oral). Perlu juga dikaji apakah klien pernah
dirawat di rumah sakit karena keluhan yang sama.
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
1. Riwayat Penyakit Menular
Pada umumnya penderita DM mudah terkena penyakit
peradangan atau infeksi seperti TBC Paru, sehingga perlu dikaji
apakah pada keluarga ada yang mempunyai penyakit menular
seperti TBC Paru, Hepatitis, dll.
2. Riwayat Penyakit Keturunan
Kaji apakah dalam keluarga ada yang mempunyai
penyakit yang sama dengan klien yaitu DM karena DM
merupakan salah satu penyakit yang diturunkan, juga perlu
ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang mempunyai
penyakit

keturunan seperti asma, hipertensi, atau penyakit

endokrin lainnya.

70

3. Pengkajian pola kebutuhan dasar manusia menurut Maslow


a. Kebutuhan Fisiologis
1) Oksigen
Ketika dikaji akan didapatkan pernafasan kussmaul jika
penderita mengalami ketoasidosis dan nafas dalam dan cepat
atau nafas kusmaul dan nafas berbau aseton atau keton. Pada
sebagian penderita DM yang mengalami gangguan oksigenasi
dapat mengalami gangguan jantung atau kardiopati diabetik
oleh karena itu dilakukan pengkajian tekanan darah dan hasil
laboratorium trigliserida, LDL, dan HDL. Pada penderita DM
terjadinya

angiopati,

neuropati

dan

infeksi

merupakan

komplikasi yang sering terjadi pada penderita DM. Apabila


sumbatan darah terjadi pada pembuluh yang lebih besar
penderita akan merasa sakit, ujung kaki terasa dingin, nyeri
kaki di malam hari dan denyut arteri hilang dan menurunnya
sensasi nyeri pada kaki.
2) Nutrisi
Kaji indeks massa tubuh (BMI) dan berat tubuh ideal
(IBW), kebiasaan/pola makan klien apakah teratur atau tidak
dan berapa banyak porsi sekali makan, apakah klien sering
makan makanan tambahan/cemilan terutama yang manismanis, apakah ada keluhan selalu merasa lapar walaupun
sudah banyak makan atau ada keluhan penurunan/hilang nafsu

71

makan karena mual/muntah, apakah klien melanggar program


diet yang telah ditetapkan dengan cara memakan makanan
yang dipantang, apakah ada jadwal makanan pengganti.
3) Eliminasi
Kaji frekuensi, karakteristik urin dan bau yang muncul,
kesulitan

berkemih

karena

infeksidan

terkadang

nokturia,anuria dan oliguria., bahkan bisa terjadi infeksi


saluran kemih. Kaji karakteristik dan konsistensi feses, rasa
nyeri saat BAK.

4) Cairan
Kaji total jumlah volume air dalam tubuh apakah ada
keluhan banyak minum dan selalu merasa haus (polidipsi).
Perlu juga dikaji gejala yang muncul ketika tubuh kekurangan
cairan seperti pusing, lemah, letih, turgor kulit menurun, mata
cekung, mukosa mulut kering, penurunan tekanan darah dan
denyut jantung meningkat.
5) Istirahat dan Aktivitas
Kaji kemampuan adekuatnya sistem persarafan, otot
tulang dan sendi. Kaji pola tidur, frekuensi tidur dan kualitas
tidur pasien DM.

72

6) Seks
Perlu dikaji juga adanya masalah impotensi pada lakilaki dan masalah orgasme pada wanita serta infeksi pada
vagina. Kaji faktor resiko merokok dan minum alkohol.
b. Kebutuhan Rasa Aman dan Keselamatan
1) Keselamatan Fisik
Kaji status nutrisi, keadaan imunitas, usia, gangguan persepsi
sensori serta status mobilisasi.

jika pasien memiliki resiko

terjadinya komplikasi kaji keteraturan penderita DM melakukan


kontrol gula darah secara mandiri, minum obat secara teratur,
latihan jasmani dan cek lab urin.

2) Keselamatan Psikologis
Kaji sudah berapa lama menderita DM. Kaji status emosi,
pola koping dan gaya komunikasi. Perlu dikaji perasaan negatif
tentang tubuhnya, kaji apakah klien merasa kehilangan fungsi
tubuhnya, kehilangan kebebasan, dan kehilangan kesempatan
untuk menjalani kehidupannya.
c. Kebutuhan Cinta dan Rasa Memiliki
Perlu dikaji tentang sumber cinta yang didapatkan oleh
pasien DM, kaji adanya perubahan kesehatan seksual, serta kaji
waktu dan biaya pengobatan.

73

d. Kebutuhan Penghargaan dan Harga Diri


Perlu dikaji tentang persepsi klien terhadap dirinya
sehubungan dengan kondisi sekitarnya, hubungan klien dengan
perawat, dokter, tim kesehatan lain serta klien lain dan bagaimana
penerimaan orang-orang sekitar klien.Kaji peran dan adanya ulkus
serta disfungsi seksual.
e. Kebutuhan Aktualisasi
Kaji apakah dukungan dari orang-orang terdekat sudah cukup
sehingga bisa meningkatkan kepercayaan diri klien untuk mencari
hal yang belum mereka ketahui tentang penyakitnya. Kurang
pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan salah interpretasi informasi atau tidak
mengenal sumber informasi. Kaji kebutuhan privasi klien seperti
dibutuhkan adanya perkumpulan sehingga klien bisa sharing
pengetahuan serta pengalaman mereka kepada sesama penderita
DM. Kaji juga peningkatan status kesehatan klien apakah mereka
bisa kembali produktif.
4. Pemeriksaan Diagnostik
a. Kadar glukosa sewaktu 110-200 mg/dL
b. Kadar glukosa saat puasa 110-126 mg/dL
c. Kadar glukosa dua jam setelah makan140-200 mg/dL

74

d. Ureum, creatinin, Lemak darah: (Kholesterol, HDL, LDL,


Trigleserid)
5. Pemeriksaan Fisik Sederhana
a. Rambut

: terawat atau tidak, tebal atau tipis, rontok atau

tidak.
b. Telinga

: menggunakan alat bantu dengar atau tidak

c. Mata

: penderita mengeluh mata kabur atau tidak, lensa

mata tampak keruh atau tidak, pupil isokor atau anisokor.


d. Mulut

: gigi karies atau tidak, gusi membengkak atau

tidak, berapa kali menyikat gigi.


e. Kulit

: turgor kulit, cappilari reffil

f. Kaki

: mikrofilamen

g. Pemeriksaan tanda-tanda vital meliputi : TB, BB, RR, TD, nadi,


suhu.

75

B. Kerangka Teori
Faktor-faktor risiko
(usia,Obesitas, riwayat
keluarga)
Sel beta rusak
Resistensi insulin
Gangguan skresi insulin
Trasport glukosa kedalam sel
kurang
hiperglekimia

Hiperosmolaritas

Viskositas darah

Glukosuria

Gangguan sirkulasi

diuresis osmotik

Trauma
Jaringan

poliuria
kehilangan cairan
dan elektrolit
Kekurangan
Volume

Kebutuhan
fisiologis

Ggn integritas
kulit

Hospitalisasi
Katabolisme

Kebutuhan
aktualisasi

Kebutuhan cinta dan


rasa memiliki

Kalori tubuh
asamlemak
bebas

Menurun

Kebutuhan
Gangguan
fisiologis
penyembuhan
jaringan lebih lama

Kurang
pengetahuan

Lipolisis

Protein

Polifagia

Gangguan pola
nutrisi
Kebutuhan
fisiologis

kelemahan
Terbentuknya
zat-zat keton
Asidosis
metabolik

Intoleransi
Aktivitas, timbul rasa cemas, takut
dan putus asa

Kebutuhan cinta dan


rasa memiliki

Kebutuhan akan rasa


aman dan keselamatan

76

Kerangka teori Komplikasi DM menurut Corwin (2005), Potter & Perry (2005),
Nabyl (2012), Novita (2012)

Defisiensi insulin
Hiperglikemia
Dehidrasi
aterosklerosis

Makrovaskuler
Jantung

cerebral

Mikrovaskuler
ekstremitas

Retina

Miokard
Infark

gg. penglihatan
stroke

gangguan

resiko injuri

Integritas jaringan
luka gangren
Kebutuhan akan rasa
aman dan keselamatan
Kebutuhan penghargaan
dan harga diri

ginjal
gagal ginjal

77

78

Pertanyaan Penelitian
1.

Bagaimana karakteristik demografi penderita DM di poli penyakit


dalam RSUD Panembahan Senopati Bantul ?

2.

Apa saja kebutuhan penderita DM di poli penyakit dalam RSUD


Panembahan Senopati Bantul?

3.

Apa saja yang menjadi prioritas kebutuhan penderita DM di poli


penyakit dalam RSUD Panembahan Senopati Bantul ?

BAB III`
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Penelitian ini adalah jenis penelitian non-eksperimen dengan
rancangan penelitian deskriftif. Penelitian deskriptif akan berorientasi pada
pemecahan masalah dan lebih menekankan pada data faktual dan
penyimpulan

(Nursalam,

mengidentifikasi

kebutuhan

2008).
pasien

Penelitian
DM

dan

ini

bertujuan

menggunakan

untuk
metode

pendekatan kuantitatif. Metode kuantitatif digunakan untuk menggambarkan


kebutuhan dasar manusia menurut Maslow pada pasien DM.
B. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien diabetes melitus
yang mendapat pelayanan rawat jalan di Poli Penyakit Dalam RSUD
Penembahan Senopati Bantul sebanyak 568 populasi dari penderita DM
dalam jangka waktu kurun 1 (satu) tahun pada tahun 2012.
2. Sampel
Sampel dari penelitian ini adalah beberapa pasien DMyang sedang
menjalani rawat jalan di Poli Penyakit Dalam RSUD Penembahan
Senopati Bantul yang memenuhi kriteria inklusi penelitian. Sampel dipilih
dengan

menggunakan

teknik

purposive

sampling,

yaitupeneliti

mengidentifikasi calon responden yang memenuhi kriteria inklusi dan

79

80

sampel tersebut dapat mewakili karakteristik populasi yang telah didapat


sesuai dengan data dari pasien DM tersebut ( Nursalam, 2008).
Besarnya sampel pada penelitian ini diperoleh berdasarkan rumus
dari Nursalam (2008)sebagai berikut :
=

N
1 + N. d2

n = jumlah sampel
N= Populasi
d2 = Presisi (ditetapkan 15% dengan tingkat kepercayaan 95%)
Berdasarkan rumus tersebut, didapatkan hasil besarnya sampel
yang dibutuhkan pada penelitian ini adalah41 sampel.
Kriteria inklusi dan kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Kriteria Inklusi
a. Pasien mendapat pelayanan rawat jalan di Poli Penyakit Dalam
Penembahan Senopati Bantul
b. Pasien dengan luka atau tidak
c. Pasien dapat berkomunikasi dengan baik dan tidak buta huruf
d. Bersedia secara suka rela menjadi responden
2. Kriteria Eksklusi
a. Pasien

mengundurkan

diri

penelitian
b. Pasien yang meninggal dunia

menjadi

responden

selama

81

C. Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian ini akan dilakukan di RSUD Panembahan Senopati Bantul
yang memungkinkan didapatkan jumlah sampel yang dibutuhkan dalam
penelitian. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Juli 2013.
D. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
1. Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah variabel tunggal yaitu
pengkajian kebutuhan dasar manusia menurut Maslow pada penderita
diabetes mellitus. Kebutuhan pasien DM merupakan integrasi dari
kebutuhan dasar manusia, yang penting untuk perawatan secara mandiri.
2. Definisi Operasional
a. Penderita DM
Penderita DM adalah pasien yang didiagnosa diabetes melitus
dan saat ini sedang menjalani rawat jalan di RSUD Panembahan
Senopati Bantul. Skala pengukuran yang digunakan adalah skala
nominal untuk mengetahui pasien DM dan bukan pasien DM.
b. Kebutuhan Dasar pasien DM
Kebutuhan dasar pasien DM adalah pernyataan responden
berupa kebutuhan dari pasien DM terkait lima kebutuhan dasar
manusia menurut Maslow. Kebutuhan dasar manusia terbagi menjadi
kebutuhan fisiologis, kebutuhan keselamatan dan rasa aman,
kebutuhan cinta dan rasa memiliki, kebutuhan penghargaan dan harga
diri dan kebutuhan aktualisasi diri, sedangkan kebutuhan pasien DM

82

merupakan pengaplikasian dari penatalaksaan DM yang akan


diakaitkan dengan lima kebutuhan dasar manusia menurut Maslow.
Pengkajian kebutuhan pasien DM merupakan lima kebutuhan
dasar menurut Maslow yang akan diukur dengan menggunakan
kuesioner dengan menggunakan skala data ordinal. Perhitungan
dengan skala ordinal adalah merupakan skala berjenjang untuk
menentukan tingkatan untuk masing-masing kebutuhan (Hidayat,
2011).
E. Instrumen Penelitian
Penelitian ini menggunakan dua jenis kuesioner yaitu:
1. Kuesioner data demografi
Kuesioner karakteristik demografi responden dalam penelitian ini
adalah meliputi nama, alamat, umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan,
status pernikahan, suku bangsa, pekerjaan dan penghasilan perbulan.
Selain itu terdapat pertanyaan mengenai riwayat kesehatan pasien seperti
berapa lama menderita DM, hasil gula darah terakhir, obat yang
dikonsumsi (insulin), jumlah waktu dirawat di rumah sakit selama satu
tahun terakhir dan sebagainya. Data untuk kuesioner didapatkan dari
berbagai sumber melalui wawancara (petugas medis dan pasien/
keluarga) dan rekam medis.
2. Kuesioner pengkajian kebutuhan pasien DM
Kuesioner pengkajian kebutuhan pasien DM ini dikembangkan
oleh peneliti dengan mengkombinasikan teori kebutuhan dasar manusia

83

menurut Maslow denagn teori terkait DM oleh American Diabetes


Association (ADA) dan Smetzer & Bare (2006). Kuesioner tersebut
digunakan untuk mengkaji kebutuhan pasien DM berdasarkan kebutuhan
dasar menurut Maslow. Terdapat lima dimensi kebutuhan yang
mendukung instrumen ini, yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan
keselamatan dan rasa aman, kebutuhan cinta dan rasa memiliki,
kebutuhan penghargaan dan harga diri dan kebutuhan aktualisasi diri.
Kuesioner ini terdiri dari 46item pertanyaan meliputi: 19 item kebutuhan
fisiologis, 10 item kebutuhan keselamatan dan keamanan, 5 item
kebutuhan cinta dan rasa memiliki, 7 item kebutuhan penghargaan dan
harga diri dan 6 item kebutuhan aktualisasi diri. Kuesioner iniakan dibuat
dengan pilihan jawaban dari pertanyaan yang akan dinilai benar atau
salah. Skala penilaian menggunakan skala Guttman dengan interpretasi
penilaian, apabila skor benar nilainya 1 dan apabila salah nilainya 0
(Hidayat, 2011).
Tabel. 2 Kisi-kisi kuesioner pengkajian kebutuhan pasien DM
Subskala

Kebutuhan fisiologis

Kebutuhan aman dan


Keselamatan
Kebutuhan cinta dan
rasa memiliki
Kebutuhan
penghargaan dan

Jawaban Ya
Oksigen
Nutrisi
Eliminasi
Cairan
Istirahat
Seks
Keselamatan
Fisik
Keselamatan
Psikologis

5, 8, 9
14
15, 16
18
20, 22, 23,
24, 25, 26,
29
30,31,32,33,
34
35,36,38,
39,40

Jawaban Tidak
1, 2,3
4, 6, 7
10, 11, 12
13
17
19
21
28, 27

Jumlah
3
6
3
2
3
2
7
3
5

37

84

harga diri
Lanjutan (tabel 2)
Kebutuhan aktualisasi

41, 42, 43,


44, 45, 46
31

Total

6
15

46

F. Cara Pengumpulan Data


1. Tahap Persiapan
Pada tahap ini peneliti melakukan beberapa tahapan persiapan penelitian:
a. Pengajuan judul penelitian pengkajian kebutuhan dasar manusia
menurut Maslow pada pasien DM di poli penyakit dalam RSUD
Panembahan Senopati Bantul
b. Peneliti melakukan survey pendahuluan di RSUD panembahan
Senopati Bantul
c. Peneliti melakukan penyusunan proposal penelitian dan kuesioner
d. Melakukan uji validitas dan reabilitas kuesioner
e. Pengurusan surat izin kepada pihak-pihak terkait untuk dilakukan
penelitian
f. Melakukan pendataan pasien di poli penyakit dalam RSUD
panembahan Senopati Bantul.
2. Tahap Pelaksanaan
a. Penelitian dan pengumpulan data akan dilakukan bulan April-Juli
2013. Peneliti akan memberikan kuesioner kepada pasien DM/
responden

sesuai

kriteria

inklusi

untuk

mendapatkan

data.

Sebelumnya peneliti menjelaskan tentang maksud dan tujuan


dilakukan penelitian ini.

85

b. Peneliti memeiliki asisten penelitian. Pemilihan asisten penelitian


adalah dengan menyamakan presepsi tentang jalannya penelitian dan
menjelaskan alur penelitian yang akan dilakukan , sehingga asisten
peneliti dapat melakukan pengasistenan dalam membantu penelitian.
c. Peneliti juga mendampingi responden dalam pengisian kuesioner
d. Peneliti mengecek kelengkapan kuesioner
e. Setelah data dan kuesioner terkumpul akan dilakukan olah data dan
analisa data
G. Uji Validitas dan Reliabilitas
1. Uji Validitas
Uji validitas dilakukan untuk menunjukkan berapa dekat alat ukur
menyatakan apa yang seharusnya diukur. Uji validitas adalah pengukuran
dan pengamatan yang berarti prinsip keandalan dalam mengumpulkan
data (Nursalam, 2011). Uji validitas untuk instrument yang digunakan
dalam penelitian ini menggunakan rumus Pearson Product Moment
(Hidayat, 2009)
Rumus Pearson Product Moment (Hidayat, 2009)

xy

Keterangan :

N XY ( X )( Y )

{N X

}{

( X ) N Y ( Y )
2

rn

= koefisien korelasi

= jumlah skor item

= jumlah skor total (item)

= jumlah responden

86

Apabila instrument valid maka indeks korelasinya (r)


0,8-1,000

= sangat tinggi

0,600-0,799

= tinggi

0,400-0,599

= cukup tinggi

0,200-0,399

= rendah

0,000-0,199

= sangat rendah (tidak valid)

Standar yang digunakan untuk menetukan valid tidaknya suatu


instrumen penelitian umumnya adalah perbandingan nilai r hitung
dengan r tabel pada taraf kepercayaan 95% atau tingkat signifikan 5%
(Notoatmodjo, 2005).
Dalam penelitian ini dari hasil uji kuesioner nilai r tabel untuk
n=20 adalah 0.444 jadi untuk nilai Corrected Item-Total dibawah nilai
tabel dinyatakan tidak valid. Dari uji validitas diatas diketahui pertanyaan
yang tidak valid adalah pertanyaan nomor 4, 12, 13, 15, 16, 23, 24, 26,
40, 46 dan 53, sehingga dari 58 pertanyaan menjadi 46 pertanyaan.
Pertanyaan yang tidak valid dieliminasi dari daftar pertanyaan kuesioner.
Pertanyaan yang dieliminasi terkait kebutuhan nutrisi, kebutuhan rasa
cinta dan memiliki serat kebutuhan harga diri tidak akan mempengaruhi
hasil penelitian selanjutnya.
2. Uji Reliabilitas
Suatu pengukuran yang dipengaruhi oleh sikap, persepsi dan
motivasi

responden

dalam

memberikan

jawaban.

Uji

reabilitas

dimaksudkan untuk mengukur seberapa jauh responden memberikan

87

jawaban yang konsisten terhadap kuesioner yang diberikan. Metode yang


akan digunakan adalah dengan formula Alpha Cronbrachs. Untuk
melakukan uji reliabilitas dapat menggunakan rumus Alpha Cronbrachs.
Rumus koefisien reliabilitas Alpha Cronbrachs(Arikunto, 2006) yaitu :

11 =1 1


12

keterangan:
11
k

= reliabilitas instrument
= banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal

= banyaknya varians butir

12

= varian total

Suatu konstruk atau variabel dikatakan reliabel jika memberikan

nilai alpha cronbachs > 0,60 (Sugiyono, 2003).


Dalam penelitian ini hasil uji reabilitas didapatkan nilai cronbach
alpha 0,920 > dari 0,6 maka nilai ini berarti kuesioner reliabel dan layak
untuk disebarkan kepada responden.
Uji instrumen ini telah dilakukan pada 20 responden yang memiliki
karakteristik yang sama dengan kriteria inklusi tetapi bukan responden
yang dijadikan sampel penelitian.

88

H. Pengolahan dan Metode Analisa Data


1.

Analisa Data
Analisa data yang digunakan adalah analisis univariat. Analisis
univariatbertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik setipa variabel
penelitian. Analisis ini digunakan untuk memperoleh gambaran hasil
distribusi dan proporsi (Notoatmodjo, 2010 ; Riyanto, 2013). Analisa
data deskriptif akan disajikan berupa mean, median, modus, simpangan
baku (SD), frekuensi dan prosentase (Hidayat, 2007). Data dalam
penelitian ini untuk menguraikan pengkajiankebutuhan pasien DM yang
berlandaskan lima kebutuhan dasar manusia menurut Maslow, analisa
data yang akan dilakukan adalah menganalisis prosentase tertinggi per
sub kebutuhan pasien DM berdasarkan kebutuhan dasar manusia menurut
Maslow (Arikunto, 2010). Penilaian kategori kualitatif menurut arikunto
(2010) adalah dikategorikan dalam:
a. Tinggi

: apabila 76% - 100%

b. Sedang/ cukup

: apabila 56% - 75%

c. Rendah

: apabila <56%

2. Pengolahan Data
a) Editing
Peneliti akan melakukan editing data dengan mengoreksi
kembali

data

pengklasifikasian

yang
data.

diperoleh,
Peneliti

sehingga
akan

dapat

dilakukan

memastikan

semua

89

pertanyaan telah dijawaban oleh responden tanpa ada satupun


jawaban yang terlewati.
b) Transfering
Peneliti melakukan pemindahan jawaban atau kode dalam
master data.
c) Menjumlahkan data yang benar selanjutnya dimasukkan dalam
rumus:

P= 100%

Keterangan : P = presentase (%)


x = jumlah jawaban
n = jumlah responden
d) Cleaning data
Peneliti akan

mengecek kembali seluruh data serta

memastikan bahwa tidak ada data yang salah sebelum dianalisa.


I.

Etik Penelitian
Sebelum melakukan penelitian ini peneliti harus memperhatikan
prinsip etik penelitian yaitu prinsip hak asasi manusia yang merujuk pada 5
(lima) aspek sesuai panduan American Nursing Association (ANA) (2001)
dalam Wood dan Haber (2010), yaitu :
1. Right to self-determination
Peneliti akan memberikan informed concent kepada responden.
Peneliti akan memberikan penjelasan tentang penelitian yang akan
dilakukan lalu setelah mendapatkan penjelasan dan melalui pertimbangan

90

yang baik maka responden menentukan apakah menolak atau bersedia


sebagai responden.
2. Right to privacy and dignity
Peneliti memberitahukan kepada responden bahwaakan menjamin
privasi responden pada saat responden menyampaikan informasi yang
bersifat pribadi dan menjaga kerahasiaan responden.
3. Right to anonimity and confidentiality
Pada saat melakukan pengisian kuesioner peneliti menjamin
kerahasiaan responden dari keseluruhan informasi yang dicantumkan
dalam kuesioner.
4. Right to fair treatment
Peneliti akan memilih

responden yang telah ditentukan sesuai

kriteria inklusi. Responden akan diperlakukan sama selama penelitian


berlangsung.
5. Right to protection from discomfort and harm
Peneliti akan memperhatikankondisi fisik klien dengan tidak
menimbulkan ketidaknyamanan dan kerugian bagi responden.
Berdasarkan lima etik penelitian menurut American Nursing
Association (ANA) (2001) dalam Wood dan Haber (2010) dapat disimpulkan
bahwa sebelum melakukuan penelitian perlu mengajukan permohonan izin
penelitian kepada pihak-pihak yang berkaitan dengan masalah yang akan
diteliti. Responden diberikan informed consent yang masing-masing berisikan
pernyataan persetujuan klien sebagai responden setelah klien diberikan

91

informasi terkait penelitian ini. Untuk mendapatkan informasi dari pasien,


peneliti menanyakan kesediannya terlebih dahulu sebelum dilakukan
pemberian kuesioner. Pemberian kuesioner disertai dengan menjelaskan
tujuan, jaminan kerahasiaan responden dan hak-hak serta kewajiban pasien.
Peneliti juga akan melakukan uji etik dalam penelitian untuk mendapatkan
kelayakan etik dalam penelitian ini.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di RSUD Panembahan Senopati Bantul
merupakan rumah sakit milik Pemerintah Daerah Kabupaten Bantul yang
terletak di jalan Dr. Wahidin Sudiro Husodo no 14. Bagoran Trirenggo,
Bantul. Perkembangan RSUD Bantul menjadi unit Swadana Daerah
berdasarkan Peraturan Daerah No.08 tanggal 8 Juni 2012. Kesuksesan
RSUD Bantul disempurnakan dengan diubahnya nama RSUD Bantul
menjadi RSUD Panembahan Senopati Bantul.
Adapun fasilitas yang dimiliki RSUD Panembahan Senopati
Bantul antara lain berupa pelayanan pokok dan pelayanan penunjang.
Pelayanan pokok terdiri dari instalasi rawat jalan yang terdiri dari poli
penyakit dalam, poli bedah, poli mata, poli gigi, poli jiwa, dan poli mata.
Bagian lain dari pelayanan pokok adalah rawat inap termasuk rawat
intensif, instalasi gawat darurat, ruang bedah dan kamar bersalin. Sarana
penunjang lainnya adalah pelayanan laboratorium dan radiologi.
Pelayanan yang dilakukan di poli penyakit dalam RSUD
Panembahan Senopati Bantul adalah dilakukan setiap hari senin sampai
hari sabtu dari pukul 08.00-14.00 WIB. Pelayanan dilakukan jika pasien
datang dan sudah mengambil nomor urut periksa. Saat pasien sudah
mendapatkan nomor urut periksa, pasien dapat menuju ke bagian perawat
yang akan melakukan pemeriksaan tensi darah pasien. Setelah dilakukan

92

93

pemeriksaan tensi darah pasien menunggu giliran dengan dipanggil


namanya oleh perawat jaga. Menurut data yang didapatkan dari rumah
sakit sabanyak 568 pasien yang menderita DM sepanjang tahun 2013.
Sebagian besar pasien adalah pasien lama yang akan melakukan kontrol
rutin setiap bulannya. Poli penyakit dalam mempunyai 3 dokter spesialis
penyakit dalam dan 15 perawat yang memiliki pergantian shif sesuai
dengan waktu yang telah ditentukan.
Pasien DM merupakan pasien rawat jalan dari bagian penyakit
dalam RSUD Panembahan Senopati Bantul. Pasien DM dianjurkan
melakukan kontrol rutin satu bulan sekali agar status kesehatan mereka
terus dipantau oleh dokter. Mekanisme yang dilakukan saat pemeriksaan
rawat jalan untuk pasien DM adalah pemeriksaan tensi darah,
laboratorium, penimbangan berat badan dan pemeriksaan dokter. Kegiatan
Persadia di RSUD Panembahan Senopati Bantul meliputi konseling,
senam dan membagikan leaflet. Senam bagi anggota dilakukan setiap hari
Kamis dan dimulai pukul 07.00 dengan durasi 30 menit. Selain itu
dilakukan pemeriksaan gula darah setiap satu bulan sekali.
B. Hasil Penelitian
1) Karakteristik Responden
Tabel 3. Karakteristik responden penderita DM di Poli Penyakit
Dalam RSUD Panembahan Senopati Bantul (N=41)
Karakteristik
Umur
20- 34
35-49
50-64
65-70
71

frekuensi

Presentase (%)

4
6
15
9
5

9,7
14,5
41,4
22,3
12,1

94

Lanjutan. (tabel 2)
Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
Pendidikan
Tidak sekolah
SD
SMP
SMA
PT
Pekerjaan
Buruh
Petani
Pedagang
Swasta
PNS
Pensiunan
Penghasilan
<1000000
Lanjutan (Tabel. 2)
1000000-3000000
>3000000

15
26

36,6
63,4

2
9
7
16
7

4,9
22,0
17,1
39,0
17,1

4
3
7
10
11
6

9,8
7,3
17,1
24,4
26,8
14,6

23

87,7

8
10

19,5
24,4

Berdasarkan tabel 3, sebagian besar responden berumur antara 50


64dengan jumlah responden 15 orang (41,4%). Sebagian besar
responden

berjenis kelamin perempuan sebanyak 26 orang (63,4%).

Tingkat pendidikan pasien DM di Poli Penyakit Dalam RSUD


Panembahan Senopati Bantul mayoritas SMA (39,0%) dan jenis
pekerjaan sebagian besar responden yaitu sebagai PNS (26,8%). Data
penghasilan perbulan dari pasien DM menunjukkan bahwa sebagian
besar berpenghasilan sebesar < 1.000.000 (56,1%).

95

Tabel 4. Lama menderita DM dan tipe DM pada penderita DM di


Poli Penyakit Dalam RSUD Panembahan Senopati Bantul (N=41)
Lama DM
1 -5 tahun
6-10 tahun
>10 tahun
Penggunaan
insulin
Ya
Tidak
Penggunaan
OAD
OAD saja
OAD dan insulin

Frekuensi

Presentase (%)

16
20
5

39,0
48,8
12,1

18
23

43,9
56,1

28
13

68,3
30,7

Berdasarkan tabel 4, Sebagian besar responden menderita DM


dengan lama menderita DM 6-10 tahun sebanyak 20 orang (49,8%).
Penderita DM yang menggunakan insulin sebanyak 18 responden (43,9%)
dan tidak menggunakan insulin sebanyak 23 responden (56,1%). Data tipe
DM pada responden yaitu DM tipe 1 sebanyak 20 orang (48%) dan DM
tipe 2 sebanyak 21 orang (51,2%). Pengguanaan jenis Obat Anti Diabetes
(OAD) saja paling banyak digunakan sebanyak 28 orang (68,3%) dan
penggunaan OAD dan insulin sebanyak 13 orang (30,7%).
Tabel 5. Distribusi Hasil laboratorium pada penderita DM di Poli
Penyakit Dalam RSUD Panembahan Senopati Bantul (N=41)
N
LDL (mg/dL)
HDL (mg/dL)
GDS (mg/dL)

41
41
41

MinimumMaximum
70 -176
13-100
76-360

Modus

Mean

SD

115.0
42.0
205.0

117.870
39.4390
213.4146

17.62
15.0034
64.167

Berdasrkan tabel 5, dari 41 responden hasil laboratorium LDL


(mg/dL) dengan nilai minimum 70 mg/dL dan nilai maksimum 176 mg/dL
dengan rata-rata 117,9 (SD=17.62), sedangkan nilai HDL (mg/dL) nilai

96

minimum 13 mg/dL dan nilai maksimum 100 mg/dl dengan rata-rata 39,4
(SD= 15.0034) dan hasil GDS dengan nilai minimum 76 mg/dL dan nilai
maksimum 360 mg/dL dengan rata-rata 213,4 (SD= 64.167).
Tabel 6. Distribusi TD dan suhu pada penderita DM di Poli Penyakit
Dalam RSUD Panembahan Senopati Bantul (N=41)
N
Tekanan darah

41

Suhu

41

MinimumMaximum
110-170
80-90
36-37,9

Modus

Mean

SD

110
90
37

123,71
87.6585
36.9756

13.037
4.93766
.39420

Berdasarkan tabel 6 didapatkan hasil tekanan darah tertinggi


dengan sistole 170 dengan nilai modus 110 dan mean 123,71
(SD=13.037), sedangkan diastole nilai maksimum 90 dengan nilai modus
90 dan mean 87,65 (SD=4,93766). Hasil pengukuran suhu didapatkan
suhu maksimum 37,9dan suhu terendah 36 dengan nilai modus 37 mean
36.9756 (SD=.39420).

2) Pemeriksaan Fisik Sederhana


Tabel 7. Hasil pemeriksaan IMT pada penderita DM di Poli
Penyakit Dalam RSUD Panembahan Senopati Bantul (N=41)
IMT
BB normal (18,5-24,9)
BB berlebih (25-29,9)
Obesitas (=30)

Frekuensi

Presentase (%)

31
8
2

75,6
19,5
4,9

Berdasarkan tabel 7, bahwa BB normal memiliki nilai tertinggi


sebesar 75,5% dan terdapat 2 orang dengan obesitas sebesar 4,9%.

97

Tabel 8. Hasil pemeriksaan fisik pada penderita DM di Poli


Penyakit Dalam RSUD Panembahan Senopati Bantul (N=41)
Rambut
Terawat, tebal, tidak rontok
Terawat, tipis, tidak rontok
Telinga
Tidak memakai alat bantu dengar
Mata
Tidak kabur, isokor
Mulut
Gigi tidak karies, mukosa mulut
tidak kering
Kulit
Turgor kulit baik, cappilari reffil <
2s
Kaki
Tidak ada luka, Uji monofilamen
normal
Tidak ada luka, Uji monofilamen
tidak normal

Frekuensi

Pre

29
12

70,7
29,3

41

100,0

41

100,0

41

100,0

41

100,0

36

87,8

12,2

Berdasarkan tabel 8, pemeriksan fisik sederhana yang dilakukan


peneliti pada responden menunjukkan bahwa keadaan umum pasien
DM di poli penyakit dalam Panembahan Senopati Bantul cukup baik,
sedangkan untuk uji monofilamen tidak normal pada kaki sebanyak 5
orang sebesar 12,2%.
3) Analisis Univariat Kebutuhan Dasar Manusia menurut Maslow
Penelitian ini terdiri dari 5 variabel yaitu kebutuhan fisiologis,
kebutuhan rasa aman dan keselamatan, kebutuhan cinta dan rasa memiliki,
kebutuhan harga diri dan penghargaan dan kebutuhan aktualisasi diri. Hasil
analisis univariat variabel penelitian sebagai berikut:

98

a. Kebutuhan Fisiologis
Distribusi frekuensi responden berdasarkan pengkajian kebutuhan
dasar manusia menurut Maslow pada penderita DM di poli penyakit
dalam RSUD Panembahan Senopati Bantul adalah sebagai berikut.
Tabel 9. Kebutuhan fisiologis menurut Maslow pada penderita DM
di Poli Penyakit Dalam RSUD Panembahan Senopati Bantul (N=41)
Kebutuhan Fisiologis
Oksigen
Nutrisi
Eliminasi
Cairan
Aktivitas
Seks
Total

Prentase %
13%
55,3%
35%
60,9%
30,1%
10,6%
43,4%

Kategori
Rendah
Sedang
Rendah
Sedang
Rendah
Rendah
Rendah

Gambar 2. Diagram Pie Chart Kebutuhan Fisiologis

FISIOLOGIS
10.60%
13%

OKSIGEN

30.10%

NUTRISI
53.30%

ELIMINASI
CAIRAN

60.90%

AKTIVITAS
35%

SEKS

Berdasarkan tabel 9, diketahui bahwa presentase tertinggi dari 6


aspek kebutuhan fisiologis adalah aspek kebutuhan cairan sebesar 60,9%
dan nutrisi sebesar 53,3%, sehingga keduanya tergolong dalam kategori
kebutuhan yang sedang, namun secara keseluruhan kebutuhan fisiologis
responden berada dalam kategori kebutuhan yang rendah sebesar 43,4%.

99

b. Kebutuhan rasa aman dan keselamatan


Distribusi frekuensi responden berdasarkan pengkajian kebutuhan
dasar manusia menurut Maslow pada penderita DM di poli penyakit
dalam RSUD Panembahan Senopati Bantul adalah sebagai berikut.
Tabel 10. Kebutuhan rasa aman dan keselamatan menurut Maslow
pada penderita DM di Poli Penyakit Dalam RSUD Panembahan
Senopati Bantul (N=41)
Kebutuhan
rasa
aman
keselamatan
Keselamatan fisik
Keselamatan psikologi
Total

dan Presentase %

Kategori

33,01%
41,5%
19,89

Rendah
Rendah
Rendah

Gambar 3. Diagram Pie Chart Kebutuhan Rasa Aman dan


keselamatan
KEBUTUHAN KESELAMATAN DAN RASA AMAN

33.01%
41.50%

KESELAMATAN FISIK
KESELAMATAN
PSIKOLOGIS

Berdasarkan tabel 10, diketahui bahwa kebutuhan keselamatan


fisik pada aspek kebutuhan dasar rasa aman dan keselamatan sebesar
33,01% dan aspek keselamatan psikologik sebesar 41,50%, kedua aspek
berikut berada dalam kategori rendah. Total presentase dari kebutuhan

100

rasa aman dan keselamatan yaitu tergolong dalam kategori rendah sebesar
19,89%.
c. Kebutuhan cinta dan rasa memiliki
Distribusi frekuensi responden berdasarkan pengkajian kebutuhan
dasar manusia menurut Maslow pada penderita DM di poli penyakit dalam
RSUD Panembahan Senopati Bantul adalah sebagai berikut.
Tabel 11. Kebutuhan cinta dan rasa memiliki menurut Maslow pada
penderita DM di Poli Penyakit Dalam RSUD Panembahan Senopati
Bantul (N=41)
Kebutuhan cinta dan rasa memiliki
Total

Presentase

Kategori

92,19

Tinggi

Berdasarkan tabel 10, diketahui bahwa presentase yang didapatkan


dari responden terkait kebutuhan cinta dan rasa memiliki sebesar 92,19%
tergolong dalam kategori kebutuhan yang tinggi.
d. Kebutuhan harga diri dan penghargaan
Distribusi frekuensi responden berdasarkan pengkajian kebutuhan
dasar manusia menurut Maslow pada penderita DM di poli penyakit dalam
RSUD Panembahan Senopati Bantul adalah sebagai berikut.
Tabel 12. Kebutuhan harga diri dan penghargaan menurut Maslow
pada penderita DM di Poli Penyakit Dalam RSUD Panembahan
Senopati Bantul (N=41)
Kebutuhan Harga diri dan
penghargaan
Total

Presentase %

Kategori

91,05%

Tinggi

101

Berdasarkan tabel 12, diketahui bahwa presentase

kebutuhan

harga diri dan penghargaan dari 41 responden sebesar 91,05% tergolong


dalam kategori kebutuhan yang tinggi.
e. Kebutuhan Aktualisasi
Distribusi frekuensi responden berdasarkan pengkajian kebutuhan
dasar manusia menurut Maslow pada penderita DM di poli penyakit dalam
RSUD Panembahan Senopati Bantul adalah sebagai berikut.
Tabel 13. Kebutuhan aktualisasi menurut Maslow pada penderita DM
di Poli Penyakit Dalam RSUD Panembahan Senopati Bantul (N=41)
Kebutuhan Aktualisasi
Total

Presentase %

Kategori

62,60%

Sedang

Berdasarkan tabel 13, diketahui bahwa bahwa kebutuhan


aktualisasi yang didapatkan dari 41 responden sebesar 63% tergolong
dalam kategori kebutuhan sedang.
Gambar 4. Prioritas Kebutuhan Dasar Manusia Menurut
Maslow pada Penderita DM di Poli Penyakit Dalam RSUD
Panembahan Senopati Bantul

PRIORITAS KEBUTUHAN
100.00%
80.00%
60.00%
40.00%
20.00%
0.00%

PRIORITAS KEBUTUHAN

102

Gambar 4. menunjukkan bahwa prioritas kebutuhan dari tertinggi


sampai terendah adalah kebutuhan rasa cinta dan rasa memiliki (92,19%),
kebutuhan harga diri (91,05%), kebutuhan aktualisasi (63%), kebutuhan
fisiologis (43,4%) dan terakhir kebutuhan rasa aman dan keselamatan
(19,28%).
C. Pembahasan
1. Karakteristik Responden
Melihat karakteristik dalam penelitian ini, peneliti akan
menganalisis karakteristik responden yaitu usia, jenis kelamin,
pendidikan, pekerjaan, penghasilan perbulan, lama menderita DM,
tipe DM, penggunaaan insulin dan penggunaan Obat Anti Diabetes
(OAD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia responden sangat
bervariasi mulai dari umur 20 sampai usia lebih dari 70 tahun. dan
pada tabel 1 didapatkan bahwa sebagian besar responden berumur 5064 tahun sebesar 41,4%. Penyakit DM akan terus meningkat dengan
bertambahnya usia. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan massa
tubuh akibat penurunan jumlah jaringan lemak dan penurunan massa
otot serta penurunan aktifitas fisik sehingga meningkatkan resiko
untuk terjadinya resistensi insulin (Suyono, 2007). Salah satu resiko
DM terjadi pada usia lebih dari 45 tahun (Soegondo, 2005). Menurut
hasil penelitian dari Agustina (2009), menunjukkan bahwa sebagian
besar usia penderita DM berusia 40-70 tahun, mayoritas berusia 50
tahun. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan penelitian yang

103

dilakukan oleh Kurnia et al (2013), didapatkan bahwa sebagian besar


responden berumur 50-59 tahun sebesar 45,85%.
Berdasarkan data dari hasil penelitian yang menunjukkan jenis
kelamin responden didapatkan bahwa jenis kelamin perempuan lebih
banyak dari pada laki-laki sebesar 63,4%. Dalam hal ini berarti
sebagian besar penderita DM di poli penyakit dalam Panembahan
Senopati Bantul adalah berjenis kelamin perempuan. Angka kejadian
DM akan bervariasi antara kedua jenis kelamin dalam satu populasi.
Aktivitas yang kurang serta adanya obesitas yang dapat memaknai
perbedaan pada jumlah jenis kelamin. Menurut Levine, (2008)
perempuan DM mempunyai kecenderungan untuk mengalami masalah
yang lebih banyak dibanding laki-laki. Masalah yang dapat ditemukan
adalah gangguan sekresi insulin dan aktivitas insulin serta adanya
hipertensi dan keputihan (Subekti, 2005; Levine, 2008).
Gambaran

tingkat

pendidikan

ini

berdasarkan

riwayat

pendidikan formal terakhir yang diikuti oleh responden. Hasil analisis


menunjukkan bahwa sebagian besar resonden berpendidikan sekolah
Menengah Atas (SMA) sebanyak 16 orang (39%). Dengan latar
belakang pendidikan responden setingkat SMA maka diharapkan akan
lebih mudah menerima informasi terkait dengan penatalaksanaan DM
dan mencegah timbulnya komplikasi. Menurut penelitian dari Lubis
(2011) menyatakan bahwa responden paling banyak menderita DM
adalah responden dengan tingkat SMA sebanyak (39,4%).

104

Berdasarkan

hasil

analisis

jenis

pekerjaan

responden

menunjukkan sebagian besar bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil


(PNS) yaitu sebanyak 11 orang (26,8%). Terkait pekerjaan responden
memungkinkan adanya fasilitas askes PNS yang digunakan oleh
responden. Berbeda dengan penelitian dari Agustina (2009) hasil
penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar penderita DM
mayoritas pensiunan sebesar 35% kemudian PNS sebesar 15%.
Menurut data dari karakteristik responden yang menunjukkan
karakteristik penghasilan perbulan paling banyak dari responden
adalah < 1.000.000 perbulannya yaitu sebanyak 23 orang (87,7%).
Dengan karakteristik penghasilan perbulan tersebut, dimungkinkan
banyak penderita DM yang menggunakan kartu jamkesmas ketika
akan melakukan pemerikasaan dan kontrol di rumah sakit. Menurut
Agustina, (2009) tingkat penghasilan dapat mempengaruhi perilaku
responden dalam mencari pengobatan, membeli obat-obatan, biaya
pemeriksaan laboratorium dan biaya perawatan rumah sakit.
Berdasarkan karakteristik responden pada tabel 5 didapatkan
bahwa sebagian besar responden lama menderita DM 6-10 tahun
sebesar 48,8%.

Dalam hal ini sebagian besar penyakit DM yang

diderita oleh responden merupakan penyakit menahun. Secara


epidemiologi diabetes sering tidak terdeteksi dan dikatakan mulai
terjadinya adalah 7 tahun sebelum diagnosis ditegakkan (Romadhiati,
2004). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian dari Kurnia,

105

(2013) yang menunjukkan bahwa sebagian besar responden lama


menderita DM selama 6-10 tahun sebesar 52,1%.
Berdasarkan data penggunaan insulin pada penderita DM
didapatkan hasil bahwa setengah dari responden tidak menggunakan
insulin sebanyak 23 orang (56,1%). Penggunaan insulin ini terkait
tipe DM yang diderita. Menurut penelitian dari Kurnia (2013)
menunjukkan bahwa kurangnya penggunaan insulin oleh penderita
DM disebabkan adanya penolakan dari pasien dengan alasan pasien
takut untuk menyuntikkan insulin dan seringkali merasakan
penambahan berat badan dan pernah menglami hipoglikemi.
Penggunaan OADtunggal paling banyak dikonsumsi oleh
responden sebanyak 28 orang (68,3%) daripada OAD dengan insulin
sebanyak 13 orang (30,7%). Berarti sebagian besar responden hanya
mengkonsumsi OAD untuk pengobatan penyakit DM pasien.
Pemberian obat oral terbanyak diberikan berdasarkan keadaan klinis
yang menunjukkan sel beta pankreas masih dapat mensekresikan
insulin. Pemberian terapi obat metformin atau sulfoniurea akan
menurunkan kadar glukosa darah sebesar 50%, sehingga lebih lambat
dibandingkan menggunakan terapi obat kombinasi (Soegondo, 2007).
Berdasarkan hasil penelitian dari Kurnia, (2013) didapatkan bahwa
penggunaan jenis OAD paling banyak adalah obat oral sebesar 83%,
kombinasi obat oral dengan insulin sebesar 14%. Penggunaan jenis

106

obat anti diabetes terbanyak seperti metformin sebesar 83% dan


lainnya merupakan kombinasi obat oral dengan insulin sebesar 17%.
Berdasarkan hasil analisis data laboratorium nilai LDL
tertinggiyaitu 176 mg/dL dengan rata-rata 117,9 (SD=17.62),
sedangkan nilai HDL tertinggi 100 mg/dl dengan rata-rata 39,4 (SD=
15.0034). Berdasarkan hasil pemeriksaan lipid tersebut dapat
disimpulkan bahwa kadar kolesterol tertinggi dari responden sebesar
276.

Hal

(Soegondo,

ini

memungkinkan

2007).

Menurut

terjadi
penelitian

gangguan
dari

dislipedemia

Kurnia

(2013)

menunjukkan bahwa gambaran jika terjadi gangguan dislipedemia


adalah peningkatan kadar trigliserida, penurunan kadar kolesterol
HDL dan terjadi peningkatan kadar kolesterol LDL ataupun normal
Berdasarkan hasil pemeriksaan Gula darah Sewaktu (GDS)
yang didapatkan dari 41 responden, nilai maksimum GDS pasien
adalah 360 mg/dL dengan rata-rata 213,4 (SD= 64.167). Pengambilan
data GDS dimaksudkan untuk mengkaji secara langsung data gula
darah responden ketika melakukan kontrol dengan melihat hasil
laboratorium yang dilakukan pada saat itu juga. Hasil GDS yang
tinggi ini menunjukkan bahwa pengendalian gula darah sewaktu
responden masih tergolong kurang baik sehingga didpatkan hasil GDS
melebihi batas normal sebesar <200. Menurut Internasional Diabetes
Federation (IDF) berdasarkan tingkat pencapaian pengendalian DM
hanya 32% penderita dengan GDS yang terkendali.Hasil penelitian

107

yang dilakukan di RSUP H. Adam Malik Medan, didapatkan bahwa


mayoritas pasien memiliki kadar gula darah sewaktu pasien rata-rata
246,9 mg/dl yang berarti tinggi. Rendahnya pengetahuan yang
dimiliki responden mengenai penyakit DM sehingga tidak mampunya
responden mengontrol kadar gula darah dan mengakibatkan kadar
gula darah menjadi tinggi (Nabyl, 2012).
2. Hasil Pemeriksaan Fisik Sederhana
Pengkajian pemeriksaan fisik sederhana ini merupakan
pemeriksaan fisik yang dilakukan peneliti kepada responden dengan
menggunakan

alat

pemeriksaan

fisik

sederhana.

Pengkajian

pemeriksaan fisik tersebut meliputi IMT (TB dan BB), tekanan darah
dan suhu, selain itu juga dilakukan pemeriksaan sederhana pada
anggota tubuh pasien DM.
Berdasarkan presentase prekuensi IMT pada penderita DM
didapatkan hasil bahwa sebagian besar hasil IMT berada dalam
rentang

normal sebesar 75,6 %.Dari hasil data tersebut berarti

sebagian besar responden memiliki berat badan dan tinggi badan yang
ideal. Secara umum seorang penderita DM yang obesitas akan
mengalami penurunan berat badan, hal ini disebabkan karena adanya
gangguan metabolisme lemak dan protein didalam tubuh penderita
DM sehingga secara tidak sadar penderita DM akan mengalami
penurunan berat badan tanpa disertai alasan yang jelas. Hasil
penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian dari Kurnia (2013) yang

108

menunjukkan bahwa nilai IMT penderita DM sebagian besar berada


dalam rentang normal/baik sebesar 45,80%.
Berdasarkan tabel, menunjukkanhasil tekanan maksimum
sistol 170 nilai modus 110 dan mean 123,71 (SD=13.037), sedangkan
diastole nilai maksimum 90 dengan nilai modus 90 dan mean 87,65
(SD=4,93766).Data tersebut menunjukkan bahwa ada penyakit
penyerta selain penyakit DM yaitu hipertensi. Berdasarkan hasil
penelitian Asmika et al (2011) menunjukkan bahwa sebagian besar
responden (46%) menunjukkan nilai tekanan darah antara 140/90149/95 mmHg hal ini menunjukkkan bahwa ada penyakit penyerta
DM yaitu hipertensi yang tergolong dalam kategori tekanan darah
ringan. Hipertensi ringan tidak menutup kemungkinan menjadi
hipertensi berat jika tidak adanya diet dan pola makan yang benar.
Berdasarkan tabel 9, pemeriksan fisik sederhana yang
dilakukan peneliti pada responden menunjukkan bahwa keadaan
umum pasien DM di poli penyakit dalam Panembahan Senopati
Bantul cukup baik, sedangkan untuk uji monofilamen tidak normal
pada kaki terdapat 5 orang sebesar 12,2%. Uji monofilamen ini
dimaksudkan untuk mengetahui adanya rasa baal pada kaki responden
hal ini berhubungan dengan ada atau tidaknya gangguan oksigenasi
pada penderita DM.
Adanya hasil yang tidak normal pada uji monofilamen tersebut
menunjukkan bahwa 5 orang pasien DM tersebut beresiko terkena

109

ulkus diabetikum. Jika tidak segera ditangani akan beresiko amputasi.


Adanya rasa baal tersebut merupakan resiko terjadinya neuropati.
Neuropati terjadi ketika suplai darah ke ujung saraf kecil dan tangan
berhenti atau berkurang (Echeverry, 2009). Menurut The Centers for
Disease

Control

and

Preventions

menyatakan

bahwa

untuk

mengurangi terjadinya penyakit kaki diabetik dapat dilakukan


perawatan kaki secara teratur. Berdasarkan hasil penelitian dari
Sihombing

(2010)

menunjukkan

bahwa

penelitian

tersebut

menggunakan uji monofilamen untuk mengetahui tingkat perawatan


kaki yang dilakukan penderita DM sehingga didapatkan hasil bahwa
pemeriksaan monofilamen pada pasien DM tipe 2, didapatkan hasil
sebagian besar (60,87%) responden memiliki sensasi kaki normal. Hal
ini menggambarkan bahwa penderita DM yang memiliki sensasi kaki
normal berarti saraf sensorik dalam keadaan baik.
3. Pengkajian kebetuhan dasar fisiologis
Hasil penelitian pengkajian kebutuhan dasar fisiologis pada
tabel 8 menunjukkan bahwa kebutuhan fisiologis termasuk dalam
kategori rendah sebesar 43,4%. Berdasarkan gambar 4, menunjukkan
bahwa kebutuhan fisiologis merupakan prioritas terendah kedua dari
kebutuhan dasar manusia lainnya menurut Maslow. Menurut teori
Maslow kebutuhan fisiologis merupakan hal yang penting untuk
bertahan hidup (Potter & Perry, 2005). Menurut Hidayat (2012)
seseorang yang seluruh kebutuhannya terpenuhi merupakan orang

110

yang sehat dan sebaliknya sehingga bila dari kebutuhan dasar ini salah
satunya tidak terpenuhi dikhawatirkan bahwa kondisi seseorang belum
optimal. Hasil penelitian ini berlawanan dengan teori Maslow.
Menurut Maslow prioritas tertinggi dalam hirarki Maslow yaitu
kebutuhan fisiolologis (Potter & Perry, 2005).
Perbedaan

hasil

penelitian

dengan

teori

Maslow

ini

dimungkinkan karena saat ini kebutuhan fisiologis pada penderita DM


selalu menjadi

perhatian utama bagi petugas kesehatan. Padahal

kebutuhan akan rasa cinta merupakan kebutuhan yang tertinggi yang


harus dipenuhi. Hal ini dapat terjadi karena mereka selalu
menganggap bahwa kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan
prioritas padahal walaupun kebutuhan fisiologis yang selalu dipenuhi
tetapi tanpa adanya perhatian, cinta dan kasih sayang menyebabkan
kebutuhan fisiologis ini menjadi tidak bermakna optimal sehingga
tidak menutup kemungkinan pengobatan menjadi gagal. Hasil
penelitian

ini

didukung

oleh

penelitian

Maisyarah

(2013)

menunjukkan bahwa kebutuhan fisiologis berada pada prioritas


keempat dari lima kebutuhan dasar manusia menurut Maslow, hasil
penelitian menunjukkan bahwa bertambah parahnya penyakit dan
kecemasan dikarenakan kurangnya perhatian cinta dari keluarga,
pasangan dan orang terdekat sehingga jika hal ini terjadi segala
macam gangguan fisiologis akan cepat muncul dan berkembang.

111

Walaupun kebutuhan fisiologis pada penderita DM berada


pada kategori kebutuhan yang rendah berdasarkan gambar 1 dan tabel
8, hasil penelitian menunjukkan ada aspek- aspek kebutuhan fisiologis
yang harus dipenuhi yaitu kebutuhan cairan sebesar 60,9% dan nutrisi
sebesar

53,3% yang tergolong kebutuhan yang sedang.Kebutuhan

nutrisi pada pasien DM yang harus dipenuhi berupa pengontrolan


berat badan oleh pasien DM hal ini terkait dengan penatalaksanaan
DM seperti olahraga. Selain itu juga kepatuhan pasien DM terkait 3J
(jenis, jumlah, jadwal) yang akan

mempengaruhi kondisi tubuh

pasien DM jika tidak patuh terhadapa pola diet yang sudah diberikan
(Smeltzer & Bare, 2005).
Aspek kebutuhan fisiologis yang harus dipenuhi selanjutnya
adalah kebutuhan cairan. Hal ini terkait dengan adanya gejala khas
yang timbul dari penderita DM yaitu polidipsi dan poliuri. Sebagian
besar penderita DM kemungkinan akan mengalami dehidrasi jika
kebutuhan cairan didalam tubuh tidak segera tertangani. Menurut
Nabyl (2012) munculnya gejala seperti sering haus, turgor kulit
menurun, adanya , mata cekung, mukosa mulut kering, penurunan
tekanan darah dan denyut jantung meningkat menunjukkan bahwa
penderita DM kekurangan cairan atau jika tidak tertangani akan
timbul dehidrasi sedang sampai dengan berat.

112

4. Pengkajian Kebutuhan Rasa Aman dan Keselamatan


Berdasarkan tabel 11, menunjukkan bahwa kebutuhan rasa
aman dan keselamatan tergolong dalam kategori rendah sebesar
19,89%. Pada gambar 4, menunjukkan bahwa kebutuhan rasa aman
dan keselamatan pada pasien DM di poli Panembahan Senopati Bantul
merupakan prioritas terakhir atau terendah dari kebutuhan dasar
manusia menurut Maslow. Hal ini kemungkinan disebabkan
kebutuhan rasa aman dan keselamatan sudah terpenuhi. Namun perlu
diketahui bahwa kebutuhan rasa aman dan keselamatan tersebut
mempunyai dua aspek yang ternyata penting untuk dipenuhi yaitu
menurut tabel 9 didapatkan hasil bahwa kebutuhan keselamatan fisik
pada aspek kebutuhan dasar rasa aman dan keselamatan sebesar
33,01% dan aspek keselamatan psikologik sebesar 41,5. Dari hasil
penelitian tersebut dapat dianalisis bahwa kebutuhan akan rasa aman
dan keselamatan dari sebagian besar responden merupakan kebutuhan
yang masih tegolong kebutuhan yang rendah, namun kedua aspeknya
harus dipenuhi.
Ancaman keselamatan fisik pada pasien DM seperti kurangnya
fasilitas konseling dan pendidikan kesehatan mengenai pentingnya
melakukan kontrol darah dan diet serta kurangnya kesadaran penderita
DM untuk melakukan pemeriksaan panca indera dan anggota tubuh,
sehingga jika hal ini tidak terpenuhi akan menjadi ancaman yang besar
bagi penderita DM. Selain itu status nutrisi, keadaan imunitas, usia,

113

gangguan persepsi sensori serta status mobilisasi menjadi faktor yang


dapat mengancam keamanan fisik penderita DM (Hidayat, 2012).
Selain keamanan fisik keamanan psikologis pada pasien perlu
diperhatikan.

Rendahnya

keamanan

psikologis

kemungkinan

disebabkan adanya perasaan mengancam yang timbul karena proses


penyakit semakin bertambah parah. Dari hasil analisis keselamatan
psikologis didapatkan bahwa presepsi penderita DM terhadap
penyakit DM yang diderita masih kurang baik, sebagian besar
beranggapan bahwa rasa cemas, takut dan bingung sering muncul
sehingga menganggu pikiran mereka saat ini. Pada penderita DM yang
sudah menahun sebagian akan mengalami perasaan putus asa, yang
memungkinkan pasien sudah bosan dan malas melanjutkan terhadap
pengobatan dan program DM yang sudah dilakukan bertahun-tahun
(Tarwoto & wartonah, 2011; Novita, 2012).
Kecemasan pada pasien DM dimanifestasikan dalam bentuk
prilaku seperti rasa tidak berdaya, rasa tidak mampu, rasa takut dan
pobia (Novita, 2012; Hidayat, 2012). Kecemasan yang terjadi
dimungkinkan bahwa masih ada perasaan mengancam yang dialami
oleh pasien DM di poli Panembahan Senopati Bantul. Sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Nikibakht, et all, (2009)dan Collins, et
all (2008) menunjukkan bahwa hal yang sering dikeluhkan oleh pasien
DM yaitu yang berkaitan dengan kekhawatiran tentang penyakit dan
komplikasi. Sehingga manajemen kecemasan pada penderita DM yang

114

dilakukan dengan baik, salah satunya dengan konseling akan


meningkatkan keberhasilan dalam mengontrol kadar gula darah.
5. Pengkajian Kebutuhan Cinta dan Rasa Memiliki
Hasil penelitian pada tabel menunjukkan bahwa kebutuhan
cinta dan rasa memiliki tergolong dalam kategori tinggi sebesar
92,19%. Pada gambar 4 menunjukkan bahwa kebutuhan rasa cinta dan
rasa memiliki pada pasien DM di Poli Panembahan Senopati Bantul
berarti merupakan prioritas pertama yang harus dipenuhi dari kelima
kebutuhan dasar manusia menurut Maslow. Berdasarkan hasil
penelitian kebutuhan cinta berada pada prioritas yang pertama
dimungkinkan karena sebagian besar pasien DM membutuhkan
perhatian lebih dari keluarga, teman, pasangan dan masyarakat.
Tingginya kebutuhan ini disebabkan karena pada dasarnya kebutuhan
fisiologis selalu menjadi prioritas utama sehingga kebutuhan ini luput
dari perhatian keluarga dan petugas kesehatan.
Menurut

Maslow

manusia

secara

umum

seseorang

membutuhkan perasaan bahwa mereka dicintai oleh keluarga, teman


sebaya dan masyarakat. Kebutuhan cinta dan rasa memiliki akan
meningkat jika mereka memiliki waktu dan energi untuk mendapatkan
cinta dari orang-orang terdekat (Potter & Perry, 2005). Menurut hasil
penelitian kebutuhan cinta dan rasa memiliki pada sebagian besar
responden adalah berupa rasa bahwa sebagian besar pasien DM
mendapat dukungan dari keluarga, pasangan dan orang terdekat,

115

pelibatan pasien DM dalam kegiatan keluarga dan keluarga membantu


dalam biaya pengobatan dan perawatan jika sakit Pelibatan penderita
DM dalam kegiatan keluarga merupakan suatu dukungan sosial
terhadap kenyamanan fisik dan emosionalyang diberikan kepada
seseorang oleh keluarganya, teman, teman kerja ataupunyang lainnya.
Hal ini menunjukkan bahwa seseorang adalah bagian dari suatu
komunitas yang mencintai dan peduli terhadap dirinya.Menurut hasil
peneltian dari Christyani (2007) menunjukkan bahwa komunikasi
merupakan bentuk perhatian dari suami dan anak-anak pada penderita
DM sehingga pada pasien DM dukungan keluarga, teman dan orangorang terdekat akan meningkatkan keinginan untuk melakukan
pengobatan.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian dari Maysarah
(2013) menunjukkan bahwa kebutuhan cinta dan rasa memiliki berada
pada kategori tinggi dari lima kebutuhan dasar dasar lainnya.
6. Pengkajian Kebutuhan Harga Diri dan Penghargaan
Hasil analisis dari kebutuhan harga diri dan penghargaan dari
penderita DM menunjukkan bahwa kebutuhan harga diri dan
penghargaan tergolong dalam kategori tinggi (91,05%). Menurut
gambar 4 menunjukkan bahwa kebutuhan harga diri dan penghargaan
berada pada prioritas kedua setelah kebutuhan cinta dan rasa memiliki.
Hal ini berarti sebagian besar pasien DM di Poli Panembahan
Senopati Bantul merasa bahwa kebutuhan harga diri dan penghargaan

116

mereka belum terpenuhi. Penelitian ini sesuai dengan penelitian


Maiysarah (2013) menunjukkan bahwa selain kebutuhan akan cinta
dan rasa memiliki seseorang membutuhkan kebutuhan harga diri
sebagai penghargaan terhadap dirinya sehingga kebutuhan harga diri
ini merupakan prioritas tertinggi dari lima kebutuhan dasar manusia
menurut Maslow.
Menurut Maslow, manusia membutuhkan penghargaan atau
apresiasi sebagai peningkatan rasa kepercayaan diri dan dianggap
berguna. Jika kebutuhan tidak terpenuhi, mungkin saja akan merasa
tidak berdaya dan rendah diri (Potter & Perry, 2005).Berdasarkan
hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan harga diri yang
dibutuhkan pasien DM berupa perasaan akan penghargaan terhadap
diri sendiri, penerimaanorang-orang disekitar terhadap kondisi dan
hubungan yang baik dengan petugas kesehatan.
Penerimaan dari keluarga tentang keadaan penderita DM akan
meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam melakukan aktivitas
dan bergaul dengan orang-orang sekitar. Hubungan yang baik dengan
petugas kesehatan akan membuat perasaan pasien menjadi lebih
nyaman.Kebutuhan

penghargaan

dari

petugas

kesehatan

juga

dibutuhkan oleh penderita DM. Memberikan pelayanan kesehatan


yang baik serta hubungan timbal balik yang harmonis dapat
meningkatkan pengetahuan dan harga diri dari penderita DM,
sehingga pemenuhan kebutuhan fisiologis dan cinta otomatis akan

117

terpenuhi(Hidayat, 2007 ; Azizah, 2011 ; Novita, 2012).Menurut


penelitian yang dilakukan oleh Sri (2010), menunjukkan bahwa
kebutuhan harga diri dan penghargaan dapat dipenuhi dengan cara
membangun rasa percaya diri pasien, memberikan penghargaan dari
pihak lain, memberi kesempatan untuk mengeksplorasi hal-hal yang
ingin diketahui serta memodifikasi lingkungan.
5. Pengkajian Kebutuhan Aktualisasi
Berdasarkan tabel 13,

menunjukkan bahwa kebutuhan

aktualisasi yang didapatkan dari 41 responden tergolong dalam


kategori sedang (63%). Berdasarkan gambar 4 menunujukkan bahwa
kebutuhan aktualisasi berada di peringkat ketiga dari prioritas
kebutuhan pada pasien DM di poli panembahan senopati Bantul.
Berarti kebutuhan aktualisasi pasien DM di poli Panembahan Senopati
Bantul adalah cukup terpenuhi. Menurut Maslow (1970), aktualisasi
diri dikatakan maksimal jika manusia sudah memenuhi seluruh
kebutuhan pada tingkatan yang rendah (Potter & Perry, 2005). Pada
penelitian ini kebutuhan aktualisasi dari pasien DM belum berada
dalam kategori tinggi atau maksimal, hal ini dimungkinkan karena
sebagian dari responden belum mencapai status kebutuhan dan
kesehatan serta potensi untuk melakukan aktualisasi secara maksimal.
Menurut Hidayat (2007) menyebutkan aktualisasi diri mungkin akan
terjadi jika ada keseimbangan antara kebutuhan klien dan kemampuan
untuk beradaptasi terhadap perubahan tubuh dan lingkungan.

118

Berdasarkan hasil penelitian kebutuhan aktualisasi yang


didapatkan dari responden adalah kemampuan pasien DM untuk tetap
bisa melakukan hobi dan rekreasi seperti biasanya, keikutsertaaan
pasien DM dalam kegiatan tidak aktif di masyarakat, tempat kerja dan
kemampuan pasien DMberkontribusi pada kelompok penderita DM
lainnya.Pada penderita DM pengaktualisasian diri dapat berupa saling
memberikan informasi bagi penderita DM lainnya untuk memuaskan
rasa ingin tahu yang mengarah keperkembangan dan kesehatan yang
normal (Tarwoto, 2006).
Menurut hasil penelitian dari Sri (2010) menunjukkan bahwa
kebutuhan aktualisasi dapat dilakukan dengan cara memberikan
kesempatan untuk melakukan yang terbaik , diberikan kebebasan dan
dilibatkan dalam setiap kegiatan. Pada dasarnya secara umum
seseorang yang tidak yakin akan kemampuannya akan cenderung
memilih bergabung dengan kelompoknya, hal ini sesuai dengan hasil
penelitian bahwa kebutuhan aktualisasi pada pasien DM adalah perlu
dibentuknya kelompok penderita DM agar pasien DM dapat
meningkatkan kebutuhan akualisasinya. Selain itu berdasarkan hasil
penelitian dari Maiysarah (2013) menunjukkan bahwa kebutuhan
aktualisasi merupakan kebutuhan ketiga yang harus dipenuhi dari
kebutuhan cinta dan kebutuhan harga diri.

119

D. Kekuatan dan Kelemahan Penelitian


1. Kekuatan
Kekuatan penelitian ini secara metodologi adalah penelitian ini
menguraikan pengkajiankebutuhan pasien DM yang berlandaskan
lima kebutuhan dasar manusia menurut Maslow, analisa data yang
akan dilakukan adalah menganalisis prosentase tertinggi per sub
kebutuhan pasien DM berdasarkan kebutuhan dasar manusia menurut
Maslow sehingga dapat diketahui lebih detail prosentasi kebutuhan
dan akan dikategorikan berdasarkan tingkat kebutuhan. Kekuatan
yang laian dari penelitian ini adalah belum terdapat penelitian serupa
yang melakukan penelitian mengenai pengkajian kebutuhan dasar
manusia menurut Maslow pada penderita DM.
2. Kelemahan
Kelemahan penelitian ini secara metodelogi adalah penelitian
ini hanya menggunakan metode penelitian kuantitatif, dengan hanya
memberikan kuesioner dan melakukan pemeriksaan fisik sederhana
pada penderita DM. Penelitian pengkajian kebutuhan dasar manusia
pada penderita DM ini tidak melakukan metode wawancara atau
menggunakan mix methode sehigga proses pengkajian ini belum
dilakukan secara lengkap untuk mengetahui kebutuhan-kebutuhan
pasien DM berdasarkan kebutuhan dasar menurut Maslow.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan, dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut:
1. Karakteristik demografi pasien DM di poli penyakit dalam RSUD
Panembahan Senopati Bantul adalah sebagian besar berumur 50-64
tahun, berjenis kelamin perempuandengan tingkat pendidikan SMA
mayoritas bekerjasebagai PNS. Sebagian besar berpenghasilan sebesar
< 1.000.000, menderita DM selama 6-10 tahun dan tidak
menggunakan insulin.Penggunaan OAD tunggal paling banyak
dikonsumsi oleh responden dengan hasil laboratorium LDL, HDL dan
GDS tergolong kurang baik dan hasil pemeriksaan fisik sederhana
pada pasien DM menunjukkan hasil yang cukup baik dan normal.
2. Kebutuhan dasar manusia pada pasien DM berdasarkan 5 kebutuhan
dasar manusia menurut maslow adalah kebutuhan fisiologis dengan
aspek kebutuhan nutrisi dan cairan dalam kategori rendah, kebutuhan
rasa aman dan keselamatan kategori rendah , kebutuhan cinta dan rasa
memiliki kategori tinggi, kebutuhan harga diri dalam kategori tinggi
dan kebutuhan aktualisasi dalam kategori sedang .
3. Prioritas kebutuhan pasien DM dari prioritas tertinggi ke terendah
adalah kebutuhan cinta dan rasa, kebutuhan harga diri dan

120

121

penghargaan, kebutuhan

aktualisasi, kebutuhan fisiologis dan

kebutuhan rasa aman dan keselamatan.


B. Saran.
1.Bagi RSUD Panembahan Senopati Bantul
Hasil penelitian ini dapat dijadikan panduan untuk meningkatkan
pelayanan dan kebijakan terkait penatalaksanaan DM, terutama yang
berkaitan dengan kebutuhan dasar pasien DM.

Hasil penelitian

pengkajian kebutuhan dasar manusia ini dapat dijadikan rumah sakit


sebagai acuan untuk menyusun form pengkajian kebutuhan dasar
manusia pada pasien DM terkait kebutuhan dasar manusia menurut
Maslow. Dengan mengidentifikasi setiap kebutuhan pasien DM dengan
memperhatikan

dan

mengetahui

kebutuhan

pasiennya

sehingga

meningkatkan derajat kesehatan yang optimal.


2. Bagi Pasien DM RSUD Panembahan Senopati Bantul
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sarana informasi bagi pasien
DM terkait kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi pada setiap
pasien DM. Kebutuhan dasar fisiologis terkait nutrisi dan aktivitas
dapat dijadikan acuan untuk memenuhi pola diet dan penatalaksanaan
DM psien DM. Diharapakan hasil penelitian ini dapat dijadikan
panduan bagi pasien DM untuk memperhatikan setiap kebutuhan dasar
mereka sehingga dapat meningkatkan kesehatan yang lebih optimal.

122

3. Bagi Perawat
Hasil penelitian ini dapat bermanfaat dalam melakukan pengkajian
terkait kebutuhan dasar manusia pada pasien DM, dan dijadikan acuan
untuk mengetahui prioritas kebutuhan dasar manusia pada pasien DM
terkait lima kebutuhan dasar manusia menurut Maslow .
4. Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk melakukan
penelitian

selajutnya

dengan

melakukan

kebutuhan dasar manusia pada pasien DM

penelitian

pengkajian

secara lengkap melalui

metode pemeriksaan fisik, wawancara, pemeriksaan diagnostik sampai


tahap implementasi sehingga lebih didapatkan lagi kebutuhan dasar
manusia pada penderita DM secara lengkap.