Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

FARMAKOLOGI EKSPERIMENTAL I
PENGARUH CARA PEMBERIAN TERHADAP ABSORBSI OBAT

Nama Asisten:
1. Christine
2. Yolanda
Dosen Jaga
Dr.,Ika Puspita Sari, M.Si.,Apt
Irfan Muris Setiawan, M.Si.,Apt
Disusun oleh:
Golongan IV
Kelompok IV
Kelas C
Nama

NIM

1. Anita Kurniawati

FA/09317

2. Annisafia Rizky Damaskha

FA/09320

3. Pridiyanto

FA/09323

4. Mercy Arizona

FA/09326

TTD

LABORATORIUM FARMAKOLOGI dan TOKSIKOLOGI


BAGIAN FARMAKOLOGI dan FARMASI KLINIK
FAKULTAS FARMASI UGM
YOGYAKARTA
2013

I.

TUJUAN
Mengenal, mempraktekan, dan membandingkan cara-cara pemberian obat

terhadap kecepatan absorpsinya, menggunakan data farmakologi sebagai tolok


ukurnya.
II.

DASAR TEORI
Senyawa obat adalah zat kimia (sintetik/alami) selain makanan yang

bertujuan untuk mempengaruhi fungsi tubuh, biokimiawi, psikologis dan khususnya


untuk diagnosa, pengobatan, melunakkan, penyembuhan, atau pencegahan penyakit
pada manusia atau hewan.
Menurut Ansel (1985), obat adalah zat yang digunakan untuk diagnosis,
mengurangi rasa sakit, serta mengobati atau mencegah penyakit pada manusia atau
hewan.
Menurut PerMenKes 917/MenKes/Per/X/1993, obat (jadi) adalah senyawa
atau padu-paduan yang siap digunakan untuk mempengaruhi/menyelidiki secara
fisiologis dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan, penyembuhan, pemulihan,
peningkatan kesehatan dan kontrasepsi.
Obat merupakan sediaan atau padu-paduan bahan-bahan yang siap digunakan
untuk mempengaruhi/menyelidiki system fisiologis atau keadaan patologi dalam
rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan
kesehatan dan kontrasepsi (Kebijakan Obat Nasional, Departemen Kesehatan RI,
2005)
Obat yang diberikan pada pasien akan banyak mengalami proses sebelum tiba
pada tempat tujuannya dalam tubuh , yaitu tempat kerjanya atau reseptor, obat harus
mengalami beberapa proses. Obat yang masuk kedalam tubuh melalui berbagai cara
pemberian umumnya mengalami absorpsi, distribusi, dan pengikatan untuk sampai
ditempat kerja dan menimbulkan efek. Kerja suatu obat merupakan hasil dari banyak
sekali proses dan umumnya ini didasari suatu rangkaian reaksi yang dibagi dalam tiga
fase:
1. Fase Farmasetik
Fase ini meliputi proses fabrikasi, pengaturan dosis, formulasi, bentuk sediaan,
pemecahan bentuk sediaan dan terlarutnya obat aktif. Karena itu fase ini
utamanya ditentukan oleh sifat-sifat galenik obat. Fase ini berperan dalam
ketersediaan obat untuk diabsorpsi ke dalam tubuh (ketersediaan farmasetik).
2. Fase Farmakokinetik

Fase ini meliputi proses absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi. Fase
ini berperan dalam menentukan ketersediaan obat dalam plasma (ketersediaan
hayati) sehingga dapat menimbulkan efek. Fase ini termasuk bagian proses
invasi dan eliminasi. Yang dimaksud dengan invasi adalah proses-proses yang
berlangsung pada pengambilan suatu bahan obat dalam organisme, sedangkan
eliminasi merupakan proses-proses yang menyebabkan penurunan konsentrasi
obat dalam organisme.
3. Fase Farmakodinamik
Fase terjadinya interaksi obat-reseptor dalam target aksi obat. Fase ini
berperan dalam menentukan seberapa besar efek obat dalam tubuh.
Suatu obat mungkin lebih efektif jika diberikan melalui salah satu cara
pemberian, tetapi tidak atau kurang efektif melalui cara pemberian yang lain.
Perbedaan ini salah satunya dapat disebabkan oleh adanya perbedaan
kecepatan absorpsi dari berbagai cara pemberian tersebut. Konsekuensinya,
efek farmakologi yang ditimbulkan juga berbeda untuk masing-masing
pemberian.
Obat dalam tubuh mengalami fase farmakokinetik, yaitu ADME
(Absorpsi, Distribusi, Metabolisme, Ekskresi).
1. Absorpsi
Absorpsi adalah proses perpindahan obat dari tempat pemberian/aplikasi
menuju ke sirkulasi/peredaran darah yang selanjutnya mencapai target aksi
obat. Hal ini menyangkut kelengkapan dan kecepatan proses tersebut.
Kelengkapan dinyatakan dalam persen dari jumlah obat yang diberikan. Tapi
secara klinik yang paling penting adalah bioavailibilitas. Istilah ini
menyatakan jumlah obat dalam persen yang mencapai sirkulasi sistemik dalam
bentuk utuh/aktif. Ini terjadi karena obat-obat tertentu tidak semua diabsorpsi
dari tempat pemberian akan mencapai sirkulasi sistemik. Sebagian akan
dimetabolisme oleh enzim di dinding usus pada pemberian per oral atau
dimetabolisme dihati pada first pass metabolism. Obat demikian memiliki
bioavailibilitas rendah.

Absorpsi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:


a. Sifat fisika-kimia obat
b. Bentuk sediaan obat
c. Dosis obat
d. Rute dan cara pemberian
e. Waktu kontak dengan permukaan absorpsi

f. Luas permukaan tempat absorpsi


g. Nilai PH cairan pada tempat absorpsi
h. Integritas membrane
i. Aliran darah pada tempat absorpsi

Jumlah obat yang diabsorpsi dipengaruhi oleh:


a. Luas permukaan absorpsi
Semakin luas permukaan absorpsi, maka jumlah obat yang diabsorpsi
semakin banyak dan semakin sempit permukaan absorpsi maka jumlah
obat yang diabsorpsi semakin sedikit.
b. Banyaknya membrane yang dilalui obat
Semakin banyak membrane yang dilalui, maka obat yang diabsorpsi
semakin sedikit. Sebaliknya, jika membrane yang dilalui sedikit maka
obat yang diabsorpsi semakin banyak.
c. Banyaknya obat yang terdegradasi
Semakin banyak obat yang terdegradasi, maka obat yang diabsorpsi
semakin sedikit, begitu pula sebaliknya.
d. Jumlah ikatan depot
Banyaknya ikatan depot obat dengan molekul tidak aktif (albumin,
lemak, tulang) berpengaruh pada jumlah obat yang diabsorpsi, yaitu
semakin banyak ikatan depot maka semakin sedikit jumlah obat yang
diabsorpsi, begitu pula dengan sebaliknya.

Mekanisme absorpsi obat dapat terjadi melalui beberapa cara,


yaitu:
a. Difusi pasif
Proses perpindahan molekul obat yang bersifat spontan, mengikuti
gradient konsentrasi, dari konsentrasi tinggi (hipertonis) ke konsentrasi
yang rendah (hipotonis), berbanding lurus dengan luas permukaan
absorpsi, koefisien distribusi senyawa yang bersangkutan, dan
koefisien difusi serta berbanding terbalik dengan tebal membrane.
b. Transpor aktif
Molekul ditranspor melawan gradient transportasi. Proses ini
memerlukan adanya energi dan dapat dihambat oleh senyawa analog,
secara kompetitif dan secara tak kompetitif oleh racun metabolisme.
c. Difusi terfasilitasi
Molekul hidrofil sulit untuk menembus merman yang komposisi
luarnya adalah lipid, maka berikatan dengan suatu protein pembawa

yang spesifik. Pembawa dan kompleks pembawa-substrat dapat


bergerak bebas dalam membran, dengan demikian penetrasi zat yang
ditransport melalui membrane sel lipofil kedalam bagian dalam sel
dipermudah.
2. Distribusi
Setelah obat diabsorpsi kedalam aliran darah, untuk mencapai tepat pada letak
dari aksi harus melalui membrane sel yang kemudian dalam peredaran,
kebanyakan obat-obatan didistribusikan melalui cairan badan. Distribusi
merupakan transfer obat yang reversible antara letak jaringan dan plasma. Pola
distribusi menggambarkan permainan dalam tubuh oleh beberapa factor yang
berhubungan dengan permeabilitas, kelarutan dalam lipid dan ikatan pada
makromolekul. Distribusi obat dibedakan menjadi dua fase berdasarkan
penyebarannya dalam tubuh. Fase pertama terjadi segera setelah penyerapan
yaitu kedalam organ yang perfusinya sangat baik misalnya jantung, hati,
ginjal, dan otak. Selanjutnya distribusi fase kedua jauh lebih luas, yaitu
mencakup jaringan yang perfusinya tidak sebaik jaringan diatas yang meliputi
otot, visera, kulit dan jaringan lemak. Factor-faktor yang berhubungan dengan
distribusi obat dalam badan adalah:
a. Perfusi darah melalui jaringan
b. Kadar gradient, PH, dan ikatan zat dengan makromolekul
c. Partisi kedalam lemak
d. Transport aktif
e. Sawar
f. Ikatan obat dengan protein plasma
3. Metabolisme
Biotransformasi atau metabolisme adalah proses perubahan struktur kimia
obat didalam tubuh yang dikatalisis oleh enzim. Pada proses ini molekul obat
diubah menjadi bentuk yang lebih polar atau lebih mudah larut didalam air dan
sukar larut didalam lemak sehingga mudah diekskresi melalui ginjal. Selain
intu pada umumnya obat diubah menjadi bentuk inaktif, sehingga proses
biotransformasi menentukan dalam mengakhiri kerja obat.
4. Ekskresi
Obat dikeluarkan dari tubuh melalui berbagai organ ekskresi dalam bentuk
metabolit hasil biotransformasi atau dalam bentuk asalnya. Ginjal merupakan

organ ekskresi yang terpenting. Ekskresi pada ginjal merupakan resultan dari
tiga proses yaitu filtrasi diglomerulus, sekresi aktif di tubulus proximal dan
reabsorpsi pasif di tubulus proximal dan distal. Ekskresi obat selain pada
ginjal juga dapat terjadi melalui air liur, keringat, air mata, air susu dan
rambut.
Obat dapat menimbulkan efek apabila terjadi interaksi atau kontak dengan
obat terlebih dahulu. Kontak terjadi pada tempat dimana obat diberikan.
Berikut ini ada beberapa cara pemberian obat berdasarkan ada tidaknya
intervensi saluran pencernaan (melewati gastrointestinal)
a. Enteral
Merupakan cara pemberian obat melalui saluran pencernaan, umumnya
obat ditujukan untuk efek secara sistemik. Contoh pemberian obat secara
enteral yaitu:
1. Per oral (p.o)
Pemberian obat yang rutenya melalui saluran pencernaan dan pemberian
melalui mulut. Cara ini merupakan cara pemberian obat yang paling umum
karena mudah digunakan, relative aman, murah dan praktis (dapat dilakukan
sendiri tanpa keahlian dan alat khusus). Kerugian dari pemberian obat secara
peroral adalah efeknya lama, mengiritasi saluran pencernaan, absorpsi obat
tidak teratur, tidak 100% obat diserap. Tidak diserapnya obat secara 100%
dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:

Jumlah makanan dalam lambung

Kemungkinan obat dirusak oleh reaksi asam lambung atau enzim


gastrointestinal, misalnya insulin yang harus diberikan secara peroral
akan dirusak oleh enzim proteolitik dari saluran gastrointestinal.

Pada keadaan pasien muntah-muntah sehingga obat tidak dapat


diabsorpsi.

Dikehendaki kerja awal yang cepat.

Ketersediaan hayati yaitu persentase obat yang diabsorpsi tubuh dari


suatu dosis yang diberikan dan tersedia untuk memberi efek terapeutik.

Tujuan penggunaan obat melalui oral terutama untuk memperoleh efek


sistemik, yaitu obat masuk melalui pembuluh darah dan beredar ke seluruh
tubuh setelah terjadi absorpsi obat dari bermacam-macam permukaan
sepanjang saluran gastrointestinal. Tetapi ada obat yang memberi efek lokal

dalam usus atau lambung karena obat yang tidak larut, misalnya obat yang
digunakan untuk membunuh cacing dan antasida yang digunakan untuk
menetralkan asam lambung.

2. Sublingual
Merupakan cara pemberian obat melalui mukosa mulut. Keuntungannya
absorpsi lebih cepat daripada peroral, karena pada mukosa mulut banyak
terdapat pembuluh darah. Namun cara pemberian ini tidak bisa digunakan
untuk obat yang rasanya tidak enak sehingga jenis obat yang dapat diberikan
secara sublingual sangat terbatas.
3. Per rektal
Biasanya cara pemberian ini dilakukan pada penderita muntah muntah, tidak
sadar, dan pasien pasca bedah. Umumnya metabolisme lintas pertamanya
sebesar 59%. Namun, cara pemberian melalui rektal dapat mengiritasi mukosa
rektum, absorpsinya tidak sempurna, dan tidak teratur.
b. Parenteral
Cara pemberian ini tidak memasukkan obat ke dalam tubuh melalui
saluran cerna. Pemberian obat secara intravaskuler termasuk ke dalam
parenteral.
Berdasarkan ada tidaknya proses absorbsi, pemberian obat dibagi menjadi 2,
yakni:
Intravaskuler
Merupakan cara pemberian obat yang pengaplikasiannya pada pembuluh
darah, meliputi intra vena dan intra cardiac, intra arterial. Intravena tidak
mengalami proses absorpsi karena semua obat masuk sirkulasi sistemik,
bioavalibilitasnya 100% serta kadarnya akurat. Namun, efek toksik mudah
terjadi dan tidak dapat ditarik kembali jika ada kesalahan dosis, serta perlu
teknik medik khusus. Intra cardiac merupakan cara pemberian yang langsung
dimasukkan ke dalam pembuluh darah cardiac.
Ekstravaskuler
Merupakan pemberian obat yang aplikasinya di luar pembuluh darah. Ada 3
macam, yaitu:
a. Intra muscular (i.m)
Pemberian obat melalui suntikan dalam jaringan otot, umumnya pada otot
pantat dan otot paha (gluteus maximus) di mana tidak terdapat banyak
pembuluh darah dan saraf sehingga relative aman untuk digunakan. Obat
dengan cara pemberian ini dapat berupa larutan, suspensi, atau emulsi.
Kelarutan obat dalam air menentukan kecepatan dan kelengkapan absorpsi.
Obat yang sukar larut dalam air akan mengendap di tempat suntikan sehingga

absorpsinya lambat atau terjadi tagositosis dari partikel obat. Contoh obat
yang

absorpsinya

tidak

sempurna

adalah

Ampicillin,

Cephadrin,

Chlordiazepodixide, Diazepam, Dicloxacilin, Digoksin, Pherylbutazone,


Phenytoin, Quinine. Sebaliknya, obat yang larut dalam air akan diabsorpsi
dengan cepat. Absorpsi biasanya berlangsung dalam waktu 10-30 menit.
Namun, kecepatan absorpsi juga bergantung pada vaskularitas tempat suntikan
dengan kecepatan peredaran darah antara 0,027-0,07 ml/menit. Molekul yang
kecil langsung diabsorpsi ke dalam kapiler sedangkan molekul yang besar
masuk ke sirkulasi melalui saluran getah bening. Absorpsi obat cara suntikan
i.m pada pria lebih cepat daripada wanita karena pada wanita lebih banyak
terdapat jaringan adipose.
o Keuntungannya:

Keuntungan obat dalam gastrointestinal dapat dihindari

Efek obat cepat

Fleksibel dan accurable jika diberikan pada penderita


yang mengalami collaps, shock, dan bagi yang sukar
menelan.

o Kerugiannya:

Lebih mahal

Jika terjadi efek toksik sulit diatasi

Perlu keahlian khusus dalam pemakaian obat

o Terdapat juga efek samping pemberian obat melalui i.m, yaitu:

Nyeri

Peningkatan kreatinfasfokinase dalam serum akibat dari


trauma yang kadang-kadang menyebabkan nervus
sciatica setelah pemberian intraglutal

b. Subkutan (s.c)
Pemberian obat melalui injeksi ke dalam jaringan di bawah kulit. Bentuk
sediaan yang mungkin diberikan dengan cara ini antara lain larutan dan
suspensi dalam volume lebih kecil dari 2 ml, misalnya insulin. Obat diabsorpsi
secara lambat sehingga intensitas efek sistemik dapat diatur. Pemberian obat
dengan cara ini dilakukan bila obat tidak diabsorpsi pada saluran pencernaan
atau dibutuhkan kerja obat secara tepat, misalnya pada situasi akut. Pemberian
subkutan hanya boleh digunakan untuk obat-obat yang tidak menyebabkan
iritasi pada jaringan.

o Keuntungannya:
i. Absorpsinya lambat dan diperpanjang
ii. Efek obat lebih teratur dan cepat disbanding per oral
iii. Fleksibel bagi penderita yang collaps dan disorientasi
iv. Berguna pada kondisi darurat
o Kerugiannya:
i. Tidak boleh untuk obat-obat yang iritatif/dicampur dengan
vasokonstriktor.
ii. Variable absorpsi tergantung aliran darah
c. Intra peritoneal (i.p)
Obat diinjeksikan pada rongga perut tanpa terkena usus atau terkena hati,
karena dapat menyebabkan kematian. Di dalam rongga perut ini, obat
diabsorpsi secara cepat karena pada mesentrium banyak mengandung
pembuluh darah. Dengan demikian absorpsinya lebih cepat dibandingkan
peroral dan intramuscular. Obat yang diberikan secara i.p akan diabsorpsi pada
sirkulasi portal sehingga akan dimetabolisme di dalam hati sebelum mencapai
sirkulasi sistemik.
d. Intra vena (i.v)
Biasanya tidak mengalami absorpsi, kadar diperoleh dengan cepat, tepat, dan
dapat disesuaikan respon serta dapat digunakan untuk larutan iritatif. Namun,
cara pemberian intravena biasanya efek toksik mudah terjadi, dan tidak dapat
ditarik jika terjadi kesalahan perhitungan dosis, juga bagi obat yang larut
dalam larutan minyak tidak boleh diberikan karena mengendapkan konstituen
darah, serta bagi intravena penyuntikan dengan cara perlahan-lahan sambil
mengawasi respon.
Selain cara pemberian, ada faktor lain yang mempengaruhi absorpsi obat,
antara lain sebagai berikut:
1. Faktor Kimia
i. Ukuran partikel
Semakin kecil ukuran partikel berarti luas permukaan absorpsi
obat akan lebih besar sehingga akan memudahkan obat
diabsorpsi.
ii. Kecepatan disolusi

Kecepatan terlepasnya zat aktif dari bentuk sediaannya.


Semakin cepat zat aktif terlepas dari bentuk sediaannya maka
semakin cepat absorpsinya.
iii. Ionisasi
Obat dalam bentuk ion lebih mudah larut dalam air, sedangkan
obat dalam bentuk molekul lebih mudah larut dalam lipid. Obat
tak terionkan lebih mudah diabsorpsi.
iv. Kadar obat
Semakin tinggi kadar obat, tingkat absorpsinya akan semakin
besar. Namun, perlu diperhatikan juga kadar toksis minimum
obat tersebut.
2. Faktor Fisiologis
i. Luas permukaan absorpsi
Semakin luas permukaan absorpsi, semakin cepat absorpsinya.
ii. Kecepatan aliran darah
Semakin cepat aliran darah, semakin cepat absorpsinya.
iii. Pengosongan lambung
Jika obat diberikan bersama dengan makanan, maka proses
pengosongan lambung akan lebih lama, sehingga obat di
lambung dihancurkan oleh asam dan tak terabsorpsi.
iv. Motilitas obat
Jika gerakan peristaltik usus yang mendorong obat besar dan
cepat, maka absorpsinya akan semakin cepat.

III.

CARA PERCOBAAN
1.

Bahan dan alat yang digunakan


Bahan:
Natrium pentobarbital 3.5 % / Natrium Thiopental, Natrium

Hexobarbital alkohol 70 %
Alat:
- Split injeksi dan jarum (1-2 ml)
- Jarum berujung tumpul (untuk per oral)
- Sarung tangan
- Stopwatch
2.
Cara kerja
diambil 4 mencit dan dimasukkan ke dalam tempat mencit
mencit ditimbang dan diperhitungkan volume Na-Thiopental yang akan
diberikan (dosis=55 mg/BB)

Na-Thiopental diberikan pada mencit dengan cara pemberian yang berbeda pada tiap
mencit

Per Oral

Intramuskular

Intraperitonial

Subkutan

dicatat waktu reflek balik badan

dihitung onset dan durasi

dibandingkan hasilnya dengan uji statistika analisis varian pola searah dengan
taraf kepercayaan 95 %

IV.
No

HASIL PERCOBAAN
Bobot
(gram)

wadah Bobot wadah + mencit Bobot mencit Vol Na-Thiopental


(gram)
(gram)
(ml)

83.1

112.8

29.8

0.328

II

83.1

105.1

22.0

0.242

III

82.8

110.5

27.7

0.030

IV

83.1

109.5

26.4

0.290

# Perhitungan volume Na-Thiopental


Dosis x berat mencit (gram)
Volume
Stok x
Mencit I; Per oral
55 x 29.8
5 x 1000

= 0.328

Mencit II; Subkutan


55 x 22.0
Volume
5 x 1000

= 0.242

Mencit III; Intramuskular


55 x 27.7
Volume
50 x 1000

= 0.030

Mencit IV; Intraperitonial


55 x 26.4
Volume
5 x 1000

= 0.290

Volume

#Data onset dan durasi


No

Cara pemberian

Onset (detik)

Durasi (detik)

1.

Per oral

a.
b.
c.
d.
e.

3195
326

a.
b.
c.
d.
e.

818
3702

2.

Sub kutan

a.
b.
c.
d.
e.

1482
4738
503
-

a.
b.
c.
d.
e.

1158
912
3550

3.

Intra muskular

a.
b.
c.
d.
e.

1556
2347
364
2755

a.
b.
c.
d.
e.

176
9012
1251
2342

4.

Intra peritonial

a.
b.
c.
d.
e.

20
1566
123
887
3532

a.
b.
c.
d.
e.

2880
805

263
1291

Keterangan:
Warna biru : dijadikan data untuk analisis
V. Pembahasan
Pada percobaan kali ini bertujuan untuk mengenal, mempraktekkan dan
membandingkan

cara-cara

pemberian

obat

terhadap

kecepatan

menggunakan data farmakologi sebagai tolok ukurnya.

absorbsinya

Dari percobaan ini

diharapkan dapat diketahui pengaruh cara pemberian obat terhadap daya absorbsi
yang selanjutnya akan berpengaruh pada efek farmakologi obat.
Salah satu cara untuk mengetahui pengaruh antara kedua variable tersebut, dengan
membandingakn waktu durasi dan onsetnya.

Waktu onset yaitu waktu yang

diperlukan obat mulai dari proses pemberian obat sampai tmenimbulkan sirkulasi
sistemik dan menimbulkan efek. Sedangkan waktu durasi adalah waktu yang
diperlukan obat mulai memberikan efek sampai hilangnya efek. Absorbsi
(penyerapan) merupakan proses perpindahan obat dari tempat aplikasi menuju
sirkulasi sistemik, menyangkut kecepatan proses dan kelengkapan yang biasa
dinyatakan dalam % dari jumlah obat yang diberikan.
Dalam percobaan ini, hewan uji yang digunakan adalah 4 ekor mencit. Penggunaan
hewan percobaan dalam penelitian ilmiah dibidang kedokteran/biomedis telah
berjalan puluhan tahun yang lalu Hewan uji yang digunakan pada percobaan ini
adalah mencit (Mus muculus). Alasan digunakannya mencit sebagai hewan uji
percobaan ini antara lain :
1. Memiliki sistem fisiologis yang irip dengan manusia
2. Memiliki sistem fisiologis yang relatif lebih kecil dibandingkan hewan uji
lainnya (tikus, kelinci, kucing, anjing) sehingga memudahkan pengamatan
waktu absorpsi obat
3. Pengamatan mencit lebih mudah
4. Lebih ekonomis
Langkah pertama yang dilakukan dalam percobaan ini adalah dengan menimbang
bobot mencit untuk menetapkan kadar yang sesuai bagi mencit agar tidak over dosis.
Hal ini dilakukan karena setiap cara pemberian obat memiliki volume maksimum

masing-masing dan berbeda satu sama lain. Semakin panjang rute penggunaan suatu
obat, maka semakin kecil konsentrasi obat yang mencapai sel target, sehingga volume
yang diberkan juga berbeda. Jika volume obat yang diberikan melebihi volume
maksimum maka dikhawatirkan obat akan melebihi KTM (Kadar toksik maksimum)
dan mencit akan mengalami over dosis. Akan tetap jika volume obat yang diberikan
terlalu sedikit, maka dikhawatirkan obat tidak akan mencapai KEM (Kadar Efektif
Minimum) dan tidak mengakibatkan efek pada mencit. Setelah setiap mencit
ditimbang, ditentukan mencit yang akan digunakan untuk jenis injeksi dan diberi
nomor untuk memudahkan dalam pengamatan.
Berdasarkan percobaan didapat berat mencit 1,2,3,dan 4 berturut-turut sebesar 29,8
gr; 22,0 gr; 27,7 gr; dan 26,4 gr. Dalam percobaan ini,mencit 1 dikenakan cara
pemberian per oral, mencit 2 untuk sub cutan, mencit 3 untuk intramuscular, dan
mencit 4 untuk intraperitonial.Supaya obat yang diberikan tidak over dosis atau tidak
mencapai KEM maka dilakukan perhitungan volume pemberian. Volume pemberian
dihitung dengan cara hasil kali dosis dan berat mencit (gram) dibagi dengan stok yang
dikalikan 1000 terlebih dahulu untuk mengubah satuan gram menjadi kilogram. Pada
percobaan digunakan dosis sebesar 55 mg/kgBB dan larutan stok sebesar 5 mg/ml
dan 50 mg/ml. Dalam perhitungan apabila didapatkan hasil volume pemberian
melebihi volume maksimum , maka harus dilakukan penggantian larutan stok dengan
kadar yang lebih besar. Seperti halnya yang terjadi pada mencit 3. Ketika digunakan
larutan stok 5 mg/ml maka diperoleh hasil 0,3 ml. Hasil ini melebihi volume
maksimum dari intramuscular (0,05 ml). Sehingga untuk memperkecil volume
pemberian agar tidak over dosis, larutan stok yang digunakan adalah 50 mg/ml. Dari
perhitungan tersebut diperoleh hasil 0,03 ml. Dimana hasil ini tidak melebihi volume
maksimum pada perlakuan intramuscular . Dari perhitungan diperoleh hasil volume
pemberian untuk mencit 1,2,3, dan 4 secara berturut-turut sebesar 0,33 ml;0,24
ml;0,03 ml; dan 0,3 ml. Data tersebut dibandingkan dengan volume maksimum
masing-masing cara pera pemberian pada tabel, untuk mengetahui apakah dosis
tersebut over dosis atau tidak. Berdasarkan tabel secara berturut-turur volume
maksimal untuk cara pemberian per oral, sub cutan, intramuscular, dan intraperitonial
adalah 1,0 ml;0,5-1,0 ml; 0,05 ml; dan 1,0 ml. Setelah diperbandingkan volume
pemberian dan volume maksimu maka tidak ditemukan adanya over dosis. Dengan
tidak adanya kasus over dosis pada volume obat yang diberikan, maka segera
dilakukan pengambilan larutan stok yang sesuai dengan volume untuk masing-masing
perlakuan. Perlu diperhatikan bahwa khusus untuk jarum suntik perlakuan per oral
maka digunakan jarum suntik yang ujungnya tumpul . Sedangkan untuk perlakuan
lainnya, digunakan jarum suntik dengan ujung yang tajam.

Pada percobaan digunakan cairan obat Natrium thiopental atau natrium pentobarbital.
Pentothal natrium adalah salah satu dari tiga obat jenis barbiturat yang sering
digunakan untuk anestesi klinis. Namun selain mempunyai efek anestesi. Pentothal
natrium dan golongan barbiturat pada umumnya juga mempunyai efek samping yaitu
mereduksi konsumsi oksigen cerebral (CMR02). Sehingga aliran darah otak dan
tekanan intrakranial pun ikut turun. Pada sistem kardiovaskular digunakan untuk
vasodilatasi, venodilatasi dan menurunkan resiko penurunan tiba-tiba pada kontraksi
kardiak. Pada sistem respirasi pentothal natrium berfungsi sebagai depresan. Senyawa
ini dan senyawa barbiturat pada umumnya sangat bermanfaat bagi manusia khususnya
dunia kesehatan dan operasi (pembedahan) sebagai anestesi. Pada hewan uji, Natrium
thiopental dapat memberikan efek tidur pada hewan uji. Struktur molekul Natrium
Tiopental :

Setelah dipersiapkan alat dan bahannya, maka segera dilakukan penyuntikan terhadap
4 mencit sesuai dengan perlakuan masing-masing. Dalam hal ini, cara memegang
mencit harus dilakukan dengan benar agar penginjeksian dapat berjalan lancar dan
meminimalisir terjadinya salah penyuntikan. Adapun cara memegang mencit yang
benar adalah awalnya ujung ekor mencit diangkat dengan tangan kanan ataupun kiri
( tergantung nyamannya praktikan). Kemudian telunjuk dan ibu jari tangan kiri
menjepit kulit tengkuk, sedangkan ekornya tetap dipegang dengan tangan kanan
(ataupun sebaliknya). Selanjutnya, posisi tubuh mencit dibalikkan, sehingga
permukaan perut menghadap kita dan ekor dijepitkan diantara jari manis dan
kelingking tangan kiri. Dengan kondisi demikian, maka tikus siap untuk diinjeksi.
Hal yang perlu diperhatikan sebelumnya adalah kita harus melakukan pendekatan
terlebih dahulu terhadap hewan uji. Hal ini bertujuan agar mencit-mencit tersebut
lebih mudah untuk dipegang. Kondisi stress pada mencit dapat membuat dirinya
memberontak dan bisa melukai praktikan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi
mencit diantaranya adalah kebisingan suara di dalam laboratorium dan frekuensi
perlakuan terhadap mencit tersebut. Dalam menangani mencit, semua kondisi yang
menjadi faktor internal dan eksternal dalam penanganan hewan percobaan harus

optimal, untuk menjaga kondisi mencit tersebut tetap dalam keadaan normal. Apabila
kondisinya terganggu, maka mencit tersebut akan mengalami stress. Kondisi stress
yang terjadi pada mencit akan mempengaruhi hasil percobaan yang dilakukan.
Pada percobaan ini, dilakukan 4 cara pemberian obat melalui rute-rute yang berbeda.
1. Oral
Penyuntikkan per oral merupakan rute pemberian jalur eternal melalui
gastrointestinal. Pada cara ini dilakukan dengan bantuan jarums suntik yang
ujungnya tumpul . Hal ini dikarenakan untuk menghindari atau meminimalisir
terjadinya infeksi akibat luka yang disebabkan oleh jarum suntik. Jarum suntik
dimasukkan melalui mulut mencit secara pelan-pelan melalui langit-langit kearah
belakang esophagus. Apabila jarum sudah masuk melalui esophagus maka jika
jarum itu didiamkan tanpa ditekan akan masuk sendiri sampai hampir seluruh
jarum masuk dalam mulut mencit. Setelah jarum benar-benar masuk esophagus
mencit, kemudian cairan dimasukkan sampai larutan dalam jarum suntik habis.
Pada percobaan ini, volume cairan yang digunakan 0,33 ml. Jika terasa ada
hambatan mungkin melukai saluran nafas. Maka dari itu jarum suntik harus
ditarik dan dimasukkan kembali hingga tak ada hambatan. Jika jarum tetap
dipaksa untuk masuk, dikhawatirkan akan menyebabkan luka pada mencit dan
dapat mempengaruhi hasil percobaan.
Berdasarkan percobaan, kondisi mencit sebelum diinjeksi adalah sehat dan
bergerak aktif. Kemudian dilakukan penginjeksian per oral pada mencit. Waktu
onset dihitung dari saat pemberiaan obat hingga timbulnya efek pada mencit. Dari
percobaan didapat data waktu onset adalah 3195 detik. Sedangkan durasinya
adalah 818 detik. Secara teoritis pemberian peroral memiliki onset paling lama
karena obat harus melewati rute yang panjang dan mengalami berbagai peristiwa
sebelum mencapat tempat aksinya, yaitu sistem saraf pusat. Obat akan mengalami
first pass metabolism yaitu perubahan obat dalam proses absorpsi sebelum
memasuki sirkulasi sistemik. First pass effect ini dapat terjadi di lambung dan
usus berupa perusakan oleh enzim-enzim pencernaan. Selain itu metabolisme obat
di hati juga dapat mengubah zat aktif menjadi metabolit yang umumnya lebih
tidak aktif.
Cara pemberian obat per oral merupakan cara yang paling umum digunakan
karena mudah, aman dan murah. Akan tetapi, cara tersebut memiliki beberapa
kerugian yaitu banyanyak faktor dapat mempengaruhi bioavailabilitasnya, yaitu
obat dapat mengiritasi saluran pencernaan, sehingga tidak dapat dilakukan bila
pasien koma. Absorpsi obat terjadi secara difusi pasif, oleh sebab itu obat harus
mudah larut dalam lemak dan dalam bentuk non-ionik. Absorpsi obat dalam usus
halus lebih cepat karena epitel usus halus permukaannya luas karena berbentuk

vili yang berlipat. Sedngkan dalam lambung lebih lambat karena dindingnya
tertutup lapisan mukus yang tebal.
2. Sub Cutan
Jarum yang digunakan adalah jarum dengan ujung runcing. Penyuntikan
dilakukan di bawah kulit. Sedangkan volume cairan thiopental yang digunakan
adalah 0,24 ml. Berdasarkan percobaan, kondisi mencit sebelum diinjeksi adalah
sehat dan bergerak aktif. Kemudian dilakukan penginjeksian sub cutan pada
mencit. Penyuntikkan harus dilakukan hati-hati, karena dikhawatirkan justru
menembus daging mencit. Waktu onset dihitung dari saat pemberiaan obat hingga
timbulnya efek pada mencit. Dari percobaan didapat data waktu onset adalah 3195
detik. Sedangkan durasinya adalah 818 detik.
Penginjeksian sub cutan hanya boleh dilakukan untuk obat yang tidak
menyebabkan iritasi jaringan. Pada umumnya absorpsi terjadi secara lambat dan
konstant sehingga efeknya bertahan lama. Obat bentuk suspensi diserap lebih
lambat daripada larutan. Pemberian obat yang dicampur dengan obat
vasokonstriktor juga dapat memperlambat absorpsi obat tersebut.
Subkutan atau di bawah kulit (s.c) yaitu disuntikkan kedalam tubuh melalui
bagian yang sedikit lemaknya dan masuk ke dalam jaringan di bawah kulit.
Larutan tiopental yang digunakan bersifat isotonis dan isohidris. Apabila larutan
sangat menyimpang isotonisnya dapat menimbulkan rasa nyeri atau nekrosis dan
absorpsi zat aktif tidak optimal. Absorpsi obat dapat diperlambat dengan
menambahkan Adrenaline (cukup 1:100.000-200.000) yang menyebabkan
konsentriksi pembuluh darah local, sehingga difusi obat tertahan atau diperlambat.
Sebaliknya, absorpi obat dapat dipercepat dengan penambahan hyaluronidase,
suatu enzim yang memecah mukopolisakarida dari matriks jaringan yang
menyebabkan penyebaran dipercepat. Bila ada infeksi, maka bahayanya lebih
besar dari pada penyuntikkan ke dalam pembuluh darah karena pada pemberian
subkutan mikroba menetap di jaringan dan membentuk abses.
Cara ini termasuk cara pemberian parenteral (diluar saluran pencernaan)
sehingga setelah obat disuntikkan ke bawah kulit, obat akan langsung menuju ke
saluran sistemik. Daerah subkutan memilki suplai darah yang baik dari kapiler
kapiler (tersusun dari sel sel endotelia) dan pembuluh limfa. Dengan demikian
obat dapat berdifusi melalui jaringan melewati dinding kapiler kemudian masuk
ke dalam sirkulasi darah. Kecepatan aliran darah dalam pembuluh kapiler sangat
menentukan kecepatan obat memasuki sirkulasi sistemik. Pada pemberian obat
secara sub kutan, obat tidak mengalami first pass metabolism karena tidak melalui
saluran pencernaan dan vena porta. Barrier yang menghambat obat memasuki
sirkulasi sistemik hanya dinding pembuluh kapiler yang tersusun atas endotelium.

Obat dengan karakter fisika kimia yang tepat akan mudah berdifusi melalui
jaringan dan dinding pembuluh kapiler untuk kemudian masuk ke sistem sirkulasi
sistemik. Oleh karena itu, onset sub kutan kurang dari intraperitonial.
3. Intramuscular
Pemberian secara intra muscular adalah injeksi obat yang dilakukan pada
gluteus maximus (otot paha) dari mencit dengan menggunakan spuit berujung
runcing. Sebelum menginjeksi obat, posisi hewan harus terlentang dan kaki agak
ditarik keluar agar paha bagian luar terlihat, lalu bagian paha mencit terlebih
dahulu diraba untuk menemukan otot paha mencit yang ditunjukkan dengan
adanya tonjolan melintang dan terasa sedikit kenyal. Jika saat diraba terasa keras,
berarti itu bukan otot paha melainkan tulang paha, dan jika injeksi dilakukan pada
bagian tulang dapat menyebabkan cacat di tulang paha mencit. Injeksi dilakukan
dengan sudut kira kira 45 derajat dari otot sehingga obat masuk dengan sempurna
ke dalam serabut otot lurik, sebab absorpsi diharapkan akan berlangsung dengan
menembus dinding pembuluh darah kapiler yang terdapat pada dinding bundel
otot dimana tidak banyak mengandung lemak. Oleh karena itu, secara teori
pemberian obat melalui intra muscular memiliki waktu onset tercepat kedua
setelah injeksi per oral sebab obat akan langsung terabsorpsi ke sirkulasi sistemik,
tidak melewati First Pass Elimination di hepar dan hidrolisis oleh enzim-enzim
pencernaan. Yang berperan sebagai barrier obat di sini dalah pembuluh darah
kapiler.
Pada pemberian secara intra muskular digunakan stock 50 mg/ml dengan dosis
55 mg/kgBB, sehingga volume maksimal yang bisa diberikan adalah 0,03 ml.
Sebelum diinjeksikan, kondisi mencit sehat dan bergerak aktif, setelah obat
diinjeksikan, perilaku mencit menunjukkan perubahan. Perubahan tersebut
ditandai dengan keadaan mencit yang berjalan miring-miring dan tidak bergerak
aktif lagi. Dari percobaan diperoleh waktu onset intra muscular adalah 364 detik
dan durasi 1251 detik.
Keuntungan :
a. Efek yang ditimbulkan lebih cepat dan teratur bila dibandingkan dengan
pemberian per oral
b. Dapat diberikan pada penderita yang tidak sadar, tidak kooperatif, atau
muntah-muntah
c. Sangat berguna dalam kondisi darurat
d. Obat dilepas pelan- pelan
e. Cocok untuk obat yang iritatif bila diberikan secara sub cutan

Kerugian :

a. Obat-obatan dalam larutan dalam minyak atau bentuk suspensi akan


diabsorpsi sangat lambat dibandingkan larutan dalam air. Semakin kecil
pertikel suspensi, kecepatan absorpsi semakin meningkat.
b. Obat yang sukar larut dalam air pada pH fisiologik misalnya digoksin,
fenitoin, dan diazepam akan mengendap di tempat suntikan sehingga
absorpsinya akan berjalan dengan lambat, tidak teratur, dan tidak lengkap.
(Joenoes, 2002)
c. local iritasi di tempat injeksi
d. kecepatan absorbsi tergantung kecepatan aliran darah ke otot
e. perlu keahlian khusus dalam pemakaian obat
f. jika ada efek toksik sukar dihindari
4. Intraperitoneal
Pemberian secara intra peritoneal adalah injeksi obat yang dilakukan pada
rongga perut mencit dengan sudut kontak agak miring terhadap permukaan perut
dari mencit dengan menggunakan spuit berujung runcing. Sebelum menginjeksi
obat, posisi hewan juga harus terlentang, kemudian bagian perut yang diinjeksi
adalah bagian yang berada pada tengah garis yang sejajar jika ditarik dari ujung
kepala hingga bagian bawah perut mencit. Jarum yang dimasukkan tidak boleh
terlalu dalam agar tidak menembus organ usus dan dapat berakibat pada
kebocoran usus hingga berujung kematian. Agar jarum dipastikan telah masuk ke
dalam rongga perut, jarum diputar sedikit hingga dirasakan ada rongga yang
ditembus jarum. Jika dirasa sudah tembus dan tidak terlalu dalam, obat
diinjeksikan. Di dalam rongga perut, obat akan diabsorpsi dengan cepat karena
pada mesentrium (sebagian dari selaput perut/peritoneum yang selain usus juga
menyelubungi organ perut lain dan berlanjut sebagai lapisan dalam dari rongga
perut) banyak pembuluh darah, sehingga permukaan absorpsinya lebih luas.
Namun, pemberian secara Intra peritoneal (IP) tidak dilakukan pada manusia
karena resiko infeksi besar, dan berbahaya. (Anonim, 1995).
Secara teoritis, onset Intra peritoneal paling pendek dibandingkan dengan cara
pemberian lainnya. Dengan kata lain, efek yang ditimbulkan melalui pemberian
secara intra peritoneal sangat cepat.
Pada pemberian secara intra peritoneal digunakan stock 5 mg/ml dengan dosis
55 mg/kgBB, sehingga volume maksimal yang bisa diberikan adalah 0,2904~0,3
ml. Sebelum diinjeksikan, kondisi mencit sehat dan bergerak aktif, setelah obat
diinjeksikan, perilaku mencit menunjukkan perubahan. Perubahan tersebut
ditandai dengan keadaan mencit yang berjalan miring-miring dan tidak bergerak

aktif lagi.Dari hasil percobaan diperoleh waktu onset intra peritoneal 887 detik
dan waktu durasi 263 detik.
Keuntungan :
a. Efek yang ditimbulkan lebih cepat dan teratur bila dibandingkan dengan
pemberian peroral
b. Dapat diberikan pada penderita yang tidak sadar, tidak kooperatif, atau
muntah-muntah
Kerugian :
a. Tidak dapat dilakukan pada manusia karena bahaya infeksi terlalu besar,
bisanya dilakukan pada hewan
b. kemungkinan infeksi sangat besar
Pada literatur, onset yang paling cepat adalah pada pemberian obat
intraperitonial dan paling lambat pada pemberian obat per oral. Hal ini terjadi
karena :

Intraperitonial, rongga peritoneum mempunyai permukaan absorpsi yang


sangat luas sehingga obat dapat masuk ke sirkulasi sistemik secara cepat.
( dr.sjamsuir munaf,1994 )

Peroral, obat akan mengalami rute yang panjang untuk mencapai reseptor
karena melalui saluran cerna yang memiliki banyak factor penghambat seperti
protein plasma.
Sementara hasil dari percobaan menunjukkan bahwa waktu onset kurang
sesuai dengan teori, sebab intra muscular memilki waktu onset paling cepat,
sedangkan onset per oral paling lama. Sedangkan waktu durasinya yang paling
cepat adalah intra peritoneal dan yang paling lambat adalah sub cutan. Pada
literatur, durasi yang paling cepat adalah pada pemberian obat intraperitonial
dan paling lambat pada pemberian obat per oral.
Bedasrkan hasil tersebut, ada yang tidak sesuai teori yakni onset paling cepat
dan durasi paling lambat. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor

diantaranya:
Mekanisme injeksi yang salah, yakni meliputi tempat penyuntikan yang
kurang tepat disebabkan praktikan yang masih kurang berpengalaman dalam

melakukan injeksi terhadap hewan uji.


Pengamatan waktu onset dan durasi yang keliru
Kesalahan pada perhitungan waktu saat obat mulai berefek, yaitu dengan
terlihatnya aktivitas mencit yang menurun dan dicatat sebagai waktu onset.
Padahal, waktu onset tercapai jika mencit sudah menunjukkan kehilangan

refleks balik badan.


Faktor individu dari hewan uji (mencit), contohnya faktor toleransi yaitu
reaksi yang terjadi ketika klien mengalami penurunan respon / tidak berespon

terhadap obat yang diberikan, dan membutuhkan penambahan dosis obat


untuk mencapai efek terapi yang diinginkan. Beberapa zat yang dapat
menimbulkan toleransi terhadap obat adalah nikotin, etil alkohol, opiat dan
golongan barbiturat (ntrium thiopental, fenobarbital, secobarbital, dan lainlain).
Dengan adanya variasi onset dan durasi dari tiap-tiap cara pemberian dapat
disebabkan oleh beberapa hal, meliputi:
1. Kelarutan obat
Kebanyakan obat pada umumnya merupakan senyawa asam lemah atau basa
lemah. Dengan demikian, apabila obat-obat tersebuta dilarutkan dalam pH
absolute rendah, maka akan praktis tidak terion. Sehingga obat yang
terabsorbsi semakin banyak.
2. Rute pemberian
Rute pemberian mempengaruhi kecepatan absorbsi obat ke dalam sistem
sirkulasi sebab cara pemberian obat akan mempengaruhi jalur obat di dalam
tubuh yang akan berpengaruh pada kecepatan absorbsi obat. Semakin banyak
membran yang harus dilalui maka semakin luas permukaan absorbsi, sehingga
semakin banyak obat yang dapat diabsorbsi.
3. Pengosongan lambung
Pada obat-obat jenis tertentu misalnya asam lemah, pengosongan lambung
akan menyebabkan pH lambung semakin rendah atau asam. Sehingga, akan
semakin banyak obat dalam bentuk tak terion yang berakibat pada peningkatan
absorbi obat.
4. Luas permukaan absorbsi
Semakin luas permukaan absorpsi, maka jumlah obat yang diabsorpsi semakin
banyak dan semakin sempit permukaan absorpsi maka jumlah obat yang
diabsorpsi semakin sedikit.
Selain keempat hal tersebut, onset dan durasi dapat dipengaruhi oleh :
1.

Kondisi hewan uji dimana masing-masing hewan uji sangat bervariasi yang
meliputi produksi enzim, berat badan dan luas dinding usus, serta proses

absorbsi pada saluran cerna.


2. Faktor teknis yang meliputi ketetapan pada tempat penyuntikan dan
banyaknya volume pemberian luminal pada hewan uji.

VI. Analisis secara Statistika

Data yang diperoleh dari percobaan kami analisis dengan ANOVA pola searah
sehingga selanjutnya dapat diinterpretasikan pengaruh cara pemberian dengan onset
dan durasi. Syarat untuk uji ANOVA adalah populasi yang diuji berdistribusi normal,
varians dari populasi tersebut adalah sama, dan sample tidak saling berhubungan /
independent. Hipotesis percobaan :

H0: Perbedaan cara pemberian tidak mempengaruhi waktu onset obat

H1: Perbedaan cara pemberian mempengaruhi waktu onset obat

H0 diterima apabila nilai signifikansi (p atau Sig.) lebih dari 0,05 sedangan bila nilai
signifikansi kurang dari 0,05 maka H0 di tolak dan H1 diterima.
1. Test of Normality
Uji pra-ANOVA adalah menguji normalitas distribusi data, yaitu dengan uji
Shapiro-Wilk. Uji Shapiro-Wilk dipilih karena jumlah data yang akan diuji kurang
dari 50. Jika data lebih dari 50, digunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Dengan taraf
kepercayaan 95%, Ho dari uji Shapiro-Wilk ini adalah data terdistribusi normal dan
H1 distribusi data tidak normal. Jika nilai Signifikansi (Sig.) lebih dari 0,05 maka Ho
diterima dan H1 ditolak.

Durasi dan onset signifikansinya > 0,05 maka Ho diterima, data terdistribusi
normal.
2. Test of Homogenity of Variances
Metode ini digunakan untuk melihat apakah sampel-sampel data-data mempunyai
varian yang sama. Dengan H0 : varian dari sampel-sampel adalah identik dan H 1 :
varian dari sampel-sampel adalah tidak identik, diambi keputusan :
1. Jika signifikansi (Sig.) > 0,05; maka H0 diterima.
2. Jika probabilitas (Sig.) < 0,05; maka H0 ditolak.

Dari hasil analisis SPSS, diperoleh bahwa

Ho diterima , varian sampel adalah

identik.
3. Uji ANOVA
Uji ANOVA dilakukan setelah uji normalitas distribusi dan varian dilakukan. Uji
ANOVA bertujuan untuk uji apakah keempat cara pemberian mempunyai rata-rata
(mean) yang sama baik untuk onset maupun durasinya. Ho data ini adalah data tidak
berbeda signifikan, dan H1 adalah data berbeda signifikan. Jika taraf signifikansinya
> 0,05 maka Ho diterima, dan data tidak berbeda signifikan, sedangkan jika taraf
signifikansinya < 0,05 maka H1 ditolak, dan data berbeda signifikan.

Dari hasil analisis SPSS, diperoleh bahwa Ho diterima, data tidak berbeda signifikan.
Hasil analisis ini dipertegas dengan analisis Post Hoc (Tukey HSD Multiple
Comparison) berikut.

Dari kolom Mean difference, dapat dilihat bahwa seluruh data tidak berbeda
bermakna. Jika ada data yang menunjukkan perbedaan signifikan, akan ada tanda
bintang (*) pada angka di kolom tersebut.
Selain itu, dari kolom signifikansi juga dapatmenegaskan hasil ANOVA. Dengan
Ho adalah keempat populasi varian tidak berbeda signifikan (p atau Sig. > 0,05) dan
H1 adalah keempat varian berbeda signifikan (p atau Sig. < 0,05). Dari hasil analisis
SPSS, Sig. > 0,05, maka Ho diterima , sehingga mempertegas hasil ANOVA karena
keempat varian tidak berbeda signifikan, data yang diperoleh juga tidak berbeda
signifikan. Walaupun antardata waktu onset dan durasi pada saat percobaan terlihat
sangat berbeda, ternyata data tersebut tidak berbeda bermakna.
4. Homogeneous Subsets
Uji Homogeneous subsets digunakan untuk merangkum perbedaan rata-rata .
Grup rata-rata yang tidak berbeda satu sama lain (sig < 0,05) berada dalam satu
kolom. Sedangkan, grup rata-rata yang berbeda satu sama lain, akan berada pada
kolom berbeda.

Dari hasil pada tabel tersebut, terlihat data waktu onset dan durasi berada pada
satu kolom. Sehingga dapat disimpulkan data percobaan tidak berbeda bermakna.
VII. Jawaban Pertanyaan
1.

Apakah faktor- faktor yang dapat mempengaruhi absorbsi obat dari saluran
cerna?
Jawab:
a. Kemampuan obat melintasi membrane sel saluran cerna yang tersusun atas
lipid bilayer.
b. Kelarutan obat.
Agar dapat diabsorbsi, obat harus dapat larut dan melepaskan zat aktifnya,
kecuali bila obat sudah dalam bentuk larutan saat diberikan ke dalam tubuh.
Obat yang diberikan dalam bentuk larutan kana lebih cepat diabsorbsi karena
tidak perlu melewati fase pelarutan.
c. Bentuk sediaan obat.
Kecepatan absorbsi obat tergantung pada kecepatan pelepasan obat dari bahan
pembwa bentuk obat dan juga kelaruan dalam cairan tubuh. Kecepatan
peleppasan obat dari bentuk sediaan obat per oral dapat diurutkan dari yang
paling cepat: larutan dalam air> suspensi> kapsul> tablet> tablet salut gula>
tablet salut enterik.

d. Sirkulasi darah pada tempat absorbsi


e. Luas permukaan kontak obat.
f. Rute penggunaan obat.
g. pKa obat atau pKb obat.
2. Jelaskan bagaimana cara pemberian obat dapat mempengaruhi onset dan durasi
obat!
Jawab:
Cara pemberian obat dapat mempengaruhi onset dan durasi obat. Cara
pemberian obat dapat mempengaruhi onset dan durasi dimana hubungannya
dengan kecepatan dan kelengkapan absorbsi obat. Kecepatan absorbsi obat di sini
berpengaruh terhadap onsetnya sedangkan kelengkapan absorbs obat berpengaruh
terhadap durasinya misalnya lengkap atau tidaknya obat yang berikatan dengan
reseptor dan apakah ada factor penghambatnya.
Cara pemberian dapat mempengaruhi kecepatan absorbsi obat yang
berpengaruh juga terhadap onset dan durasi. Pada literature dijelaskan bahwa
onset paling cepat adalah intraperitonial dan paling lambat adalah peroral. Hal ini
terjadi karena :

Intraperitonial mengandung banyak pembuluh darah sehingga obat langsung


masuk ke dalam pembuluh darah.

Intramuscular mengandung lapisan lemak yang cukup kecil sehingga obat akan
terhalang oleh lemak sebelum terabasorbsi.

Subkutan mengandung lemak yang cukup banyak.

Peroral, obat akan mengalami rute yang panjang untuk mencapai reseptor
karena melalui saluran cerna yang memiliki banyak factor penghambat seperti
protein plasma.
Pada literature dijelaskan bahwa durasi paling cepat adalah intraperitonial dan
paling lambat adalah peroral.

3. Jelaskan keuntungan dan kerugian masing- masing cara pemberian!


Jawab:
Cara pemberian
Per oral

Keuntungan
mudah diberikan

Kerugian
dan munculnya efek lama (onset lama)

bisa dilakukan sendiri

tidak sesuai bagi pasien yang

oleh pasien

muntah, diare, tidak sadar, dan

tidak

memerlukan

tidak kooperatif

keahlian khusus serta

kurang cocok untuk obat yang

tidak

rasanya tidak enak dan iritatif

memerlukan

yang

komplikasi

lintas

pertama (first pass metabolism)

relatif aman

sebelum benar- benar didistribusi

praktis

ke tempat aksi sehingga kadar zat

tidak

aktifnya berkurang

memerlukan

absorbsi bervariasi dan kadar obat


dalam darah tidak bisa diprediksi

lebih ekonomis
kerja
obat

terus

absorbsi tergantung pada aliran

menerus,

time

darah
tidak boleh digunakan untuk obat

long

release

yang iritatif dan dicampur dengan

kecapatan absorbsi obat

vasokonstriktor

seragam

Intra muscular

metabolisme

berkaitan dengan jarum

sterilitas tinggi
Sub kutan

mengalami

berguna pada kondisi

darurat
kecepatan absorbsi obat

lokal iritasi di tempat injeksi

seragam

kecepatan

onset

pendek

dan

teratur

absorbsi

tergantung

kecepatan aliran darah ke otot

perlu

keahlian

khusus

dalam

cocok untuk obat yang

pemakaian obat

iritatif bila diberikan

jika ada efek toksik sukar dihindari

secara sub cutan

Obat-obatan dalam larutan dalam

obat

dilepas

pelan-

minyak atau bentuk suspensi akan

pelan

diabsorpsi

berguna pada kondisi

dibandingkan larutan dalam air


Obat yang sukar larut dalam air

darurat

pada

pH

sangat

fisiologik

lambat

misalnya

digoksin, fenitoin, dan diazepam


akan mengendap di tempat suntikan
sehingga absorpsinya akan berjalan
dengan lambat, tidak teratur, dan
tidak lengkap
Intra peritoneal

cepat

absorbsi

paling

jika

dibandingkan

dengan pemberian i.m,

s.c, dan p.o


sesuai bagi pasien yang

cara pemberiannya berbahaya dan


hanya boleh dilakukan pada hewan
kemungkinan infeksi sangat besar

sukar

menelan

muntah-muntah,

obat,
diare,

dan lain-lain

VIII. Kesimpulan
1. Berdasarkan perhitungan statistik, cara pemberin obat berpengaruh terhadap onset
dan tidak berpengaruh pada durasi.
2. Berdasarkan hasil percobaan, onset yang diperoleh yang paling cepat adalah
pemberian obat intramuscular , sedangkan yang paling lambat adalah pemberian
obat per oral. Hal ini tidak sesuai dengan teori karena teori onset yang paling
cepat adalah pemberian obat intraperitonial, sedangkan yang paling lambat sesuai
dengan teori yakni pemberian obat per oral.
3. Berdasarkan hasil percobaan, durasi yang diperoleh yang paling cepat adalah
pemberian obat intraperitonial , sedangkan yang paling lambat adalah pemberian
obat sub cutan . Hal ini sesuai dengan teori karena teori durasi yang paling cepat
adalah pemberian obat intraperitonial, sedangkan yang paling lambat adalah
pemberian obat per oral, sehingga tidak sesuai teori.
4. Hasil dari percobaan ada yang tidak sesuai dengan teori karena mekanisme injeksi
yang salah, pengamatan onset dan durasi yang keliru, dan aktor individu dari
hewan uji (mencit), contohnya faktor toleransi.
5. Durasi dan onset dipengaruhi oleh kelarutan obat, luas permukaan absorbs,
pengosongan lambung, dan rute pemberian
6. Natrium thiopental merupakan obat golongan barbiturat yang dapat memberikan
efek sedatif dan hipnotik.

VII. Daftar Pustaka


Anief,Moh,1993,Farmasetika,Gadjahmada University Press,Yogyakarta
Anonim,1995,Farmakope Indonesia edisi IV,Depkes RI,Jakart
Ansel, H. C, 1986, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, UI Press, Jakarta.
Elly, 2011,
Pengaruh Cara Pemberian Terhadap Absorbsi Obat,
http://marermurer.blogspot.com/2011/04/pengaruh-cara-pemberianterhadap.html, diakses tanggal 23 April 2013, Pukul 23.00 WIB
Joenoes, Z. N., 2002, Ars Prescribendi Jilid 3, Airlangga University Press,
Surabaya
Lullmann
Heinz

et

al,2000,Color

Atlas

of

Pharmacology,2nd

edition,Thieme,Stuttgart-New York
Mutschler,Ernest,1991,Dinamika Obat edisi V,Penerbit ITB,Bandung

Yogyakarta, 24 April 2013


Praktikan,
Nama

NIM

1. Anita Kurniawati

FA/09317

2. Annisafia Rizky Damaskha

FA/09320

3. Pridiyanto

FA/09323

4. Mercy Arizona

FA/09326

TTD