Anda di halaman 1dari 27

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang Masalah

Sejak hampir satu abad silam para pakar psikologi telah tahu bahwa
manusia dapat bekerja dengan lebih baik jika merasa sedikit cemas. Manusia tidak
akan begitu sukses dalam mengerjakan tugas kalau tidak merasa cemas sama
sekali, pendek kata, kinerja fisik dan intelektual manusia didorong dan diperkuat
oleh kecemasan. Tanpa itu, hanya sedikit yang dapat dikerjakan manusia dengan
sukses. Tetapi, bila kecemasan yang terlalu banyak, mungkin akan membuat gagal
dalam ujian karena tidak mampu berkonsentrasi pada pertanyaan-pertanyaan
(Durland dan Barlow, 2007).
Kecemasan cenderung menimbulkan kebingungan, disertai distorsi
persepsi, gangguan orientasi, (ruang dan waktu). Distorsi yang semacam ini akan
mengganggu kemampuan untuk memusatkan perhatian, dan kemampuan asosiatif
(Ibrahim, 2002). Perbedaan gender dalam risiko timbulnya depresi tampak setelah
usia 15 tahun, dimana jumlah remaja perempuan mengalami depresi dua kali lebih
banyak daripada laki-laki dan sebanyak 47,7 % remaja sering merasa cemas
(Haryadi, 2007).
Pasiak (2009) juga menyebutkan, perempuan dua kali lebih mungkin
menderita depresi, kecemasan dan mood disorder lain dibanding laki-laki. Karena
ada perbedaan otak laki-laki dan perempuan, maka laki-laki cenderung agresif,
kompetitif, tegas, yakin diri dan percaya diri sedangkan perempuan cakap dalam
bahasa, kesadaran sensoris, memori, kecakapan sosial dan hubungan dengan
orang. Berkaitan dengan kecemasan pada pria dan wanita, wanita lebih cemas
akan ketidakmampuannya dibanding laki-laki. Laki-laki lebih aktif dan
eksploratif, sedangkan wanita lebih sensitif. Selain itu laki-laki berfikir lebih
rasional dibandingkan dengan wanita yang berpikir cenderung emosional.
Penelitian lain menunjukkan bahwa laki-laki lebih rileks dibandingkan wanita
(Trismiati, 2004).

Mahasiswa pun tidak luput dari kecemasan. Salah satu yang menjadi
stressor dalam kehidupan mahasiswa adalah tuntutan dalam pendidikan.
Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk memperoleh nilai yang baik, tetapi juga
untuk memahami, mendalami, dan mampu mempraktekkan ilmu yang telah
dipelajarinya. Mengulang mata kuliah juga menjadi salah satu faktor pencetus
kecemasan pada mahasiswa (Trismiati, 2002).
Kemampuan koping diperlukan oleh manusia untuk mampu bertahan
hidup menghadapi situasi yang berubah cengan cepat, termasuk mahasiswa.
Koping yang digunakan oleh setiap mahasiswa dalam menghadapi permasalah
berbeda satu sama lain, bergantung pada kemampuannya menghadapi masalah
(Keliat, 2005). Dalam kesehariannya banyak tanggung jawab, tuntutan dan
tantangan yang harus dialami oleh mahasiswa. Tantangan dan tututan tersebut
antara lain pembuatan tugas, laporan, makalah, ujian, maupun praktek. Berbeda
dengan mahasiswa lain, mahasiswa fakultas kedokteran memiliki beban lebih
karena sistem pembelajaran yang lebih kompleks (Zulkarnain et al., 2009).
Berdasarkan uraian di atas, terdapat perbedaan antara laki-laki dan
perempuan baik dari aspek biologis, psikologis dan sosial lingkungan, semua
aspek ini akan mempengaruhi perbedaan kecemasan antara laki-laki dan
perempuan. oleh karena itu, peneliti ingin menguji beda tingkat kecemasan antara
yang mengulang berdasarkan jenis kelamin di fakultas kedokteran universitas
islam indonesia tahun ajaran 2014 2015.
1.2. Rumusan Masalah
Apakah terdapat hubungan

antara kecemasan dengan jenis kelamin

mahasiswa yang mengulang di fakultas kedokteran universitas islam indonesia


tahun ajaran 2014 2015
1.3. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui terdapat hubungan

antara kecemasan dengan jenis

kelamin mahasiswa yang mengulang di fakultas kedokteran universitas islam


indonesia tahun ajaran 2014 2015

1.4. Keasliaan Penelitian


Penelitian-penelitian yang pernah dilakukan tentang insomnia dan prestasi
akademik sejauh yang penulis ketahui adalah:
1. Beda Tingkat

Kecemasan Antara

Mahasiswa Laki-Laki

Dan

Perempuan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia Angkatan


2008 Dalam Menghadapi Ujian Pra Pendidikan Klinik (Predik) oleh
Ratnadiwati (2012). Perbedaan dengan penelitian kami adalah dalam
variabel dan populasi serta sampel yang digunakan
2. Perbedaan Tingkat Kecemasan Akseptor Kontrasepsi Mantap Trismiati
(2004). Perbedaan dengan penelitian kami adalah dalam variabel dan
populasi serta sampel yang digunakan.

1.5. Manfaat Penelitian


1. Untuk memberikan pengetahuan kepada mahasiswa, tentang pengaruh
jenis kelamin terhadap tingkat kecemasan.
2. Mengkaji hubungan jenis kelamin terhadap tingkat kecemasan
3. Bila terhadap hubungan yang saling mempengaruhi antara jenis kelamin
terhadap tingkat kecemasan, dapat diusahakan cara-cara untuk mengatasi
kecemasan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tinjauan Pustaka
2.1.1. Kecemasan
a. Definisi
Kecemasan atau anxietas adalah status perasaan tidak menyenangkan yang
terdiri atas respons-respons patofisiologis terhadap antisipasi bahaya yang tidak
riil atau yang terbayangkan, secara nyata disebabkan oleh konflik intrapsikis yang
tidak diketahui. Penyerta fisiologis berupa denyut jantung bertambah cepat,
kecepatan pernapasan tidak teratur, berkeringat, gemetar, lemas dan lelah ;
penyerta psikologis meliputi perasaanperasaan akan ada bahaya, tidak berdaya,
terancam dan takut (Dorland, 2002).
Pada manusia, kecemasan bisa jadi berupa perasaan gelisah yang bersifat
subjektif, sejumlah perilaku (tampak khawatir dan gelisah atau resah), maupun
respon fisiologi tertentu. Kecemasan bersifat kompleks dan merupakan keadaan
suasana hati yang berorientasi pada masa yang akan datang dengan ditandai
dengan adanya kekhawatiran karena tidak dapat memprediksi atau mengontrol
kejadian yang akan datang (Durland dan Barlow, 2007).
b. Epidemiologi
Beberapa tahun yang lalu hasil penelitian yang pernah dilakukan pada
kelompok perempuan yang tinggal di rumah susun Klender Jakarta timur,
menunjukkan prevalensi gangguan anxietas sebesar 9,8%. Penelitian lainnya yang
dilakukan pada sejumlah karyawan pada tingkat eksekutif di beberapa Instansi
Pemerintah, maupun Instansi Swasta di Jakarta, menunjukkan prevalensi phobia
sosial (satu di antara gangguan anxietas), sebesar 10-16%.Beberapa kelompok
yang mempunyai risiko mengalami gangguan kecemasan adalah usia muda,
wanita, mempunyai masalah sosial dan yang sebelumnya pernah mempunyai
masalah psikiatrik (House dan Stark, 2002).

c. Etiologi
Menurut

Trismiati

(2004),

sumber-sumber

ancaman

yang

dapat

menimbulkan kecemasan bersifat lebih umum. Dapat berasal dari berbagai


kejadian dalam kehidupan atau dalam diri seseorang itu sendiri. Beberapa macam
teori penyebab kecemasan, yaitu :
1) Teori psikoanalitik: Freud menyatakan bahwa kecemasan sebagai
sinyal, kecemasan menyadarkan ego untuk mengambil tindakan defensif
terhadap tekanan dari dalam diri. Misal dengan menggunakan mekanisme
represi, bila berhasil maka terjadi pemulihan keseimbangan psikologis
tanpa adanya gejala anxietas. Jika represi tidak berhasil sebagai suatu
pertahanan, maka dipakai mekanisme pertahanan yang lain misalnya
konvensi.
2) Teori perilaku: teori perilaku menyatakan bahwa kecemasan adalah
suatu respon yang dibiasakan terhadap stimuli lingkungan spesifik.
Contoh: seorang dapat belajar untuk memiliki respon kecemasan internal
dengan meniru respon kecemasan orang tuanya.
3) Teori eksistensial: konsep dan teori ini adalah bahwa seseorang menjadi
menyadari adanya kehampaan yang menonjol di dalam dirinya. Perasaan
ini

lebih

mengganggu

daripada

penerimaan

tentang

kenyataan

kehilangan/kematian seseorang yang tidak dapat dihindari. Kecemasan


adalah respon seseorang terhadap kehampaan eksistensi tersebut.
4) Sistem saraf otonom: stimuli sistem saraf otonom menyebabkan gejala
tertentu. Sistem kardiovaskular: takikardi, muskular nyeri kepala.
Gastrointestinal: diare.
5) Neurotransmiter: tiga neurotrasmiter utama yang berhubungan dengan
kecemasan berdasarkan penelitian pada binatang dan respon terhadap
terapi obat yaitu: norepinefrin, serotonin dan gamma-aminobutyric acid.
6) Penelitian genetika: penelitian ini mendapatkan hampir separuh dan
semua pasien dengan gangguan panik memiliki sekurangnya satu sanak
saudara yang juga menderita gangguan.

7) Penelitian pencitraan otak: contoh: pada gangguan anxietas didapati


kelainan di korteks frontalis, oksipital, temporalis. Pada gangguan panik
didapati kelainan pada girus para hipokampus (Hutagalung, 2007).
d. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan
Dalam kehidupan siswa dipengaruhi oleh keadaan kehidupan keluarganya.
Pada berbagai penelitian telah dikemukakan bahwa siswa yang dibesarkan dalam
lingkungan sosial keluarga yang tidak baik akan mengalami gangguan kepribadian
yang menjadi kepribadian anti sosial dan berperilaku menyimpang dibandingkan
dengan siswa yang dibesarkan dalam lingkungan harmonis (Hawari, 2007).
Kriteria keluarga yang tidak sehat menurut para ahli adalah :
1) Keluarga yang tidak utuh (Broken home by death or separation)
2) Kesibukan orang tua, ketidakberadaan dan ketidakbersamaan orang tua dan
anak di rumah.
3) Hubungan interpersonal antar anggota keluarga (ayah, ibu dan anak) yang tidak
baik.
4) Jumlah saudara yang terlalu banyak menjadikan kasih sayang orang tua
tercurahkan makin sedikit (Hawari, 2007).
Kualitas kesehatan siswa juga mempengaruhi timbulnya kecemasan, antara lain :
1) Gaya hidup, misalnya merokok, olah raga, penggunaan alkohol.
2) Status ekonomi sosial dimana terdapat hubungan yang positif antara status
ekonomi dan kesehatan mental.
3) Jenis kelamin, dimana wanita lebih sering mencari pelayanan kesehatan
daripada laki-laki.
4) Lingkungan, gangguan mental bisa timbul misalnya dari masyarakat pinggiran
kota yang berpindah ke kota (Kaplan dan Saddock, 2007).
e. Manifestasi klinis
Penderita tegang terus menerus dan tidak mau santai, pemikirannya penuh
tentang kekhawatiran. Kadang-kadang bicaranya cepat, tetapi terputus-putus. Pada
pemeriksaan fisik terdapat nadi yang sedikit lebih cepat. Gejala-gejala lain seperti
depresi, marah, perasaan tidak mampu dan gangguan psikosomatik (Maramis,
2005).

Gangguan anxietas menimbulkan sejumlah gejala, pada:


1) Sistem urogenital dengan sering ingin kencing, atau bahkan sulit
kencing.
2) Sistem kardiovaskuler (jantung dan sistem pembuluh darah), gejala
darah tinggi, keringat dingin, debaran jantung berdetak lebih kencang,
sakit kepala, kaki dan tangan terasa dingin.
3) Sistem gastrointestinalis: diare, kembung, lambung terasa perih,
perasaan sebah. Kemungkinan dapat pula terjadi obstipasi.
4) Sistem respiratorius, ditandai dengan gejala susah bernapas dan hidung
tersumbat.
5) Gangguan pada sistem muskulosketel dalam bentuk gejala kejangkejang pada otot, gangguan pada sendi (mirip gejala rematik).
6) Gangguan psikologis dengan tanda-tanda akan pingsan, takut sekali
akan menjadi gila dan takut mati. Gejala psikologis lainya berupa
derealisasi (merasa apa yang ada diluar dirinya berubah menjadi lain),
serta dengan gejala depersonalisasi (dirinya bukan dirinya).
7) Gangguan anxietas cenderung menimbulkan kebingungan, disertai
distorsi persepsi, gangguan orientasi (ruang dan waktu). Distorsi yang
semacam ini akan mengganggu kemampuan untuk memusatkan perhatian,
dan kemampuan asosiatif (Ibrahim, 2002).
f. Patofisiologi kecemasan
Kehidupan manusia selalu dipengaruhi oleh rangsangan dari luar dan dari
dalam berupa pengalaman masa lalu dan faktor genetik. Rangsangan tersebut
dipersepsi oleh panca indera, diteruskan dan direspon oleh SSP, sesuai pola hidup
tiap individu. Bila yang dipersepsi adalah ancaman, maka responnya adalah suatu
kecemasan. Di dalam sistem saraf pusat, proses tersebut melibatkan jalur cortex
cerebri limbic sistem Reticular Activating System (RAS) - Hypotalamus yang
memberikan impuls kepada kelenjar hipofisis untuk mensekresikan mediator
hormonal terhadap target organ yaitu kelenjar adrenal, yaitu memicu sistem saraf
otonom melalui mediator hormonal yang lain (catecolamin). Hiperaktifitas sistem
saraf otonom menyebabkan timbulnya kecemasan. Keluhannya sangat beraneka

ragam seperti sakit kepala, pusing, serasa mabuk, cenderung untuk pingsan,
banyak berkeringat, jantung berdebar-debar, sesak napas dan lain sebagainya
(Mudjaddid, 2006).
Pada anxietas Generalized Anxiety Disorder (GAD) terdapat petunjuk
adanya gangguan pada reseptor serotonis tertentu yaitu 5HT IA pada anxietas
Panic Disorder (PD) lebih jelas berhubungan dengan gangguan noradrenalin pada
locus cereleus (Mudjaddid, 2006).
g. Diagnosis
Diagnosis kecemasan dapat ditegakkan berdasarkan gejala-gejala yang
muncul sesuai dengan kriteria Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan
Jiwa (PPDGJ) edisi III, cemas menyeluruh atau General Anxiety Disorder (GAD)
yaitu kecemasan adalah khawatir akan nasib buruk, merasa seperti diujung
tandung, sulit konsentrasi. Terdapat ketegangan motorik (gelisah, sakit kepala,
gemetaran, tidak dapat santai) dan overaktivitas motorik (kepala ringan,
berkeringat, jantung berdebar-debar, sesak nafas, keluhan lambung, pusing, dan
mulut kering (Hawari, 2006).
Sedangkan kriteria berdasarkan DSM IV, GAD harus memenuhi poin-poin
sebagai berikut:
a. Kecemasan dan kekhwatiran yang berlebihan
b. Kekhawatiran terseut sulit untuk dikendalikan
c. Pasien mengalami tiga atau lebih diantara hal berikut: ketidak sabaran,
sangat mudah lelah, suliit berkonsentrasi, mudah tersinggung,
ketegangan otot, dan gangguan tidur.
2.1.2. Perbedaan Laki-laki dan Perempuan
a. Aspek biologis
Diferensiasi jenis kelamin ditentukan oleh susunan kromosom, yang
bekerja bersama dengan perkembangan gonad, untuk menghasilkan jenis kelamin
fenotip (Cunningham et al., 2005). Jenis kelamin genetik, XX atau XY, sudah
ditentukan saat pembuahan ovum. Diferensiasi gonad primordial menjadi testis
atau ovarium menandai pembentukan jenis kelamin. Pada gestasi 12 minggu

genitalia eksterna telah mulai memperlihatkan tanda-tanda definitif jenis kelamin


pria atau wanita(Cunningham et al., 2005).
Perbedaan fisik pokok antara laki-laki dan perempuan adalah hasil sekresi
kelenjar internal yang disebut hormon. Perbedaan hormone tersebut menjadi
perbedaan anatomis antara laki-laki dan perempuan yaitu bahwa perempuan lahir
dengan vagina dan uterus, laki-laki dengan penis dan testis. Perbedaan itu juga
menyebabkan perbedaan kelamin sekunder yang timbul pada masa pubertas,
seperti suara membesar dan munculnya jambang dan jenggot pada laki-laki,
pertumbuhan payudara dan menstruasi pada wanita (Calhoun et al., 2005).
Perbedaan fisik antara pria dan wanita sangat jelas terlihat, ratarata pria
mempunyai fisik dan otot yang lebih besar daripada wanita, wanita mempunyai
struktur tulang pelvis lebih besar, yang memang sesuai untuk menyokong
kehamilan (Ratna, 2009).
Otaknya laki-laki cenderung agresif, kompetitif, tegas, yakin diri dan
percaya diri sedangkan perempuan cakap dalam bahasa, kesadaran sensoris,
memori, kecakapan sosial dan hubungan dengan orang (Pasiak, 2009). Anak lakilaki menunjukkan ragam usia dalam pencapaian kematangan seks, tetapi rata-rata
mereka mengalami pancaran perkembangan dan menjadi matang dua tahun lebih
lambat dari anak perempuan (Atkinson dan Rita, 1999).
Dapat disimpulkan bahwa perbedaan biologis perempuan dan laki laki
dapat diamati dari perbedaan hormon, anatomi fisik dan otak, kecepatan
perkembangan organ-organ reproduksi dan pertumbuhan seks sekunder.
Beberapa peneliti berpendapat bahwa walaupun agresi adalah perilaku
yang dipelajari, hormon laki-laki mungkin mensensitisasi organisasi neural anak
laki-laki untuk menyerap pelajaran tersebut dengan lebih baik dibandingkan anak
perempuan (Kaplan, 2007).
Berkaitan dengan kecemasan pada pria dan wanita, wanita lebih cemas
akan ketidakmampuannya dibanding laki-laki. Laki-laki lebih aktif dan
eksploratif, sedangkan wanita lebih sensitif. Selain itu laki-laki berfikir lebih
rasional dibandingkan dengan wanita yang berpikir cenderung emosional.

10

Penelitian lain menunjukkan bahwa laki-laki lebih rileks dibandingkan wanita.


(Trismiati, 2004).
Sebuah analisis lain tentang kecerdasan emosi dilakukan terhadap pria dan
wanita. Hasil analisi tersebut menemukan bahwa wanita rata-rata lebih sadar
tentang emosi mereka, lebih mudah bersikap empati dan lebih terampil dalam
hubungan antarpribadi. Pria sebaliknya, lebih percaya diri dan optimis, mudah
beradaptasi dan lebih baik dalam menangani stress (Goleman, 2001). Perempuan
mempunyai minat utama pada kesejahteraan, perkembangan, pendidikan dan
keselamatan anak-anak, sedangkan laki - laki lebih menghargai kekuasaan dan
ketrampilan (Brizendine, 2006).
Perempuan dengan perasannya yang lebih halus dan intuisinya memiliki
kehidupan psikis yang lebih dalam daripada anak laki-laki. Fungsi keibuan wanita
membuatnya harus berlaku lebih perasa dan cepat tanggap terhadap stimulus
perasaan dibanding laki-laki (Zakaria, 2002). Dari aspek psikologis, dapat
disimpulkan bahwa perempuan lebih memiliki ketajaman intuisi, lebih perasa,
lebih pasif dibandingkan laki - laki yang cenderung agresif dan subjektif.
b. Aspek sosial lingkungan
Jenis kelamin anak mempengaruhi toleransi orang tua terhadap agresi dan
pendorongan atau pemadaman aktifitas atau pasivitas dan minat intelektual,
estetika dan atletik (Kaplan et al., 2007).
Selama masa transisi menuju remaja, orang tua memperlakukan anak lakilaki lebih bebas daripada anak perempuan, van keluarga yang memilki remaja
perempuan dilaporkan menghadapi banyak konflik tentang seksual, pemilihan
teman, dan pemberlakuan jam malam, dibandingkan dengan keluarga yang
memiliki remaja laki-laki (Santrock,2003).
Menurut sejarah, di Amerika, pendidikan telah diartikan menurut konsep
laki-laki bukannya pada konsep keseimbangan gender. Laki-laki menerima
banyak perhatian di sekolah dibandingkan perempuan. Perhatian khusus diberikan
mengenai bahwa sekolah menengah lebih sesuai dengan cara belajar laki-laki
daripada perempuan karena lingkungan yang impersonal dan mandiri (Santrock,
2003).

11

Lingkungan dan masyarakat merupakan salah satu faktor yang


mempengaruhi perbedaan perilaku laki-laki dan perempuan. Tuntutan demi
tuntutan dan aturan tak tertulis yang berlaku di masyarakat mengharuskan
perempuan untuk berperilaku halus, lemah lembut dan lebih memperhatikan
keluarga sementara laki-laki diharuskan untuk bergerak lebih aktif karena
peranannya sebagai kepala keluarga. Akan tetapi, salah satu perubahan penting
dalam model peran gender bagi remaja yang telah muncul beberapa tahun
belakangan ini adalah peningkatan jumlah ibu yang bekerja, yang mana akan
mempengaruhi peran gender (Santrock, 2003).
2.2. Landasan Teori
Menurut Trismiati (2004), berkaitan dengan kecemasan pada pria dan
wanita, wanita lebih cemas akan ketidakmampuannya dibanding laki-laki. Lakilaki lebih aktif dan eksploratif, sedangkan wanita lebih sensitif. Selain itu laki-laki
berfikir lebih rasional dibandingkan dengan wanita yang berpikir cenderung
emosional. Penelitian lain menunjukkan bahwa laki-laki lebih rileks dibandingkan
wanita. (Trismiati, 2004).
Menurut Hutagalung (2007) kecemasan adalah perasaan yang difus, yang
sangat tidak menyenangkan, agak tidak menentu, dan kabur tentang sesuatu yang
akan terjadi. Perasaan ini disertai dengan satu atau beberapa reaksi badaniah yang
khas dan yang akan datang berulang bagi seseorang tertentu. Perasaan ini dapat
berupa rasa kosong di perut, dada sesak, jantung berdebar, keringat berlebihan,
sakit kepala, rasa ingin buang air kecil atau buang air besar, perasaan ini disertai
dengan rasa ingin bergerak dan gelisah.

12

2.3.

Kerangka Teori

Faktor Internal
Usia

Pendidikan

Jenis Kelamin

Pekerjaan

Sosial Ekonomi Maturnitas


Potensi stressor Keadaan fisik
Tipe Kepribadian

Kecemasan

Faktor Eksternal
Ancaman terhadap intergritas fisik
(penyakit, trauma fisik, dll)
Ancaman terhadap sistem diri
(harga diri, fungsi sosial)

13

2.4. Kerangka Konsep

Cemas

Laki-laki

Tidak Cemas

Mahasiswa FK UII yang


mengulang tahun Ajaran
2013-2014
Cemas

Perempuan

Tidak Cemas

14

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1.

Penelitian

ini

menggunakan

Metode Penelitian

metode

penelitian

cross-sectional

non

eksperimental. Pengambilan sampel secara total sampling. Penyaringan sampel


menggunakan Skala Eysencks Personality Questionnaire (EPQ) atau kuisoner
personaliti eysenck.

3.2.

Populasi dan Sampel

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa


Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia yang terdaftar mengulang blok
pada tahun ajaran 2014-2015 dan saat penelitian sedang aktif mengikuti kegiatan
perkuliahan, yang dinyatakan cemas melalui pengukuran dengan kuisoner EPQ
(Eysenck Personality Questionnaire).
Kriteria inklusi dalam penelitian ini yaitu:

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia yang


terdaftar mengulang tahun ajaran 2014-2015 dan sedang aktif
mengikuti kuliah

Kriteria eksklusi dalam penelitian ini yaitu:

Mahasiswa yang mengisi data dan kuesioner tidak lengkap,


sehingga tidak dapat dinilai.

Metode sampling yang digunakan oleh peneliti adalah total sampling.


Untuk mendapatkan sampel yang dapat mewakilkan populasi, maka dalam
penentuan sampel digunakan rumus Slovin
n=
Keterangan:
n = jumlah sampel

N
1+ N ( d2 )

15

N = jumlah populasi
d = derajat kemaknaan (0,05).
Sehingga besar sampel yang dibutuhkan adalah sebagai berikut :
n=

112
1+112 ( 0,052 )

= 88
Jadi responden yang dibutuhkan sebagai sampel pada penelitian ini adalah
sebanyak 88 mahasiswa.

3.3.

Variabel Penelitian

Terdiri atas variabel bebas dan variabel terikat:


a. Variabel terikat adalah kecemasan
b. Variabel bebas adalah jenis kelamin pada mahasiswa yang
mengulang tahun ajaran 2014-2015.
3.4.

Definisi Operasional

a. Kecemasan adalah subjek yang dinyatakan kecemasan dengan pengukuran


menggunakan instrument EPQ (Eysenck Personality Questionnaire)
dengan score lebih dari atau sama dengan 12.
b. Mahasiswa yang dijadikan sampel pada penelitian ini adalah mahasiswa
mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia yang
terdaftar mengulang blok pada tahun ajaran 2014-2015 dan saat penelitian
sedang aktif mengikuti kegiatan perkuliahan.
c. Jenis kelamin
Kategori :
1. Laki-laki
2. Perempuan

16

3.5.
3.5.1.

Instrumen Penelitian

Kuesioner EPI (Eysenck Personality Inventory)

Instrumen EPI memiliki 3 subskor yang digunakan untuk mengevaluasi


tipe kepribadian, kecenderungan neurotik, dan skala kebohongan. Instrumen ini
terdiri dari 57 butir pertanyaan yang disajikan dengan jawaban Ya atau Tidak.
Dari 57 pertanyaan di atas teradapat 25 pertanyaan tentang tipe kepribadian
introvert (I), 26 pertanyaan tentang kecenderungan neurotik (N) dan 6 pertanyaan
tentang skala kebohongan (L). Jawaban yang sesuai akan diberi skor 1 dan
jawaban yang tidak sesuai akan diberikan skor 0.
Untuk kecenderungan neurotik, skor yang diperoleh dari instrumen EPI
dikatakan mengalami kecemasan jika diperoleh skor N 12. Untuk skala
kebohongan, dikatakan berbohong jika diperoleh skor L 4 dari daftar pertanyaan
tentang skala kebohongan.
Uji Dalam instrumen EPI terdapat terdapat 3 subskor yang digunakan
untuk mengevaluasi tipe kepribadian, kecenderungan neurotik, dan skala
kebohongan. Instrumen ini terdiri dari 57 butir pertanyaan yang disajikan dengan
jawaban Ya atau Tidak. Dari 57 pertanyaan di atas teradapat 25 pertanyaan
tentang tipe kepribadian introvert (I), 26 pertanyaan tentang kecenderungan
neurotik (N) dan 6 pertanyaan tentang skala kebohongan (L). Jawaban yang sesuai
akan
Untuk kecenderungan neurotik, skor yang diperoleh dari instrumen EPI
dikatakan mengalami kecemasan jika diperoleh skor N 12. Untuk skala
kebohongan, dikatakan berbohong jika diperoleh skor L 4 dari daftar pertanyaan
tentang skala kebohongan.

3.5.2. Uji Validitas


Pada tahun 1987, Soewadi telah melakukan validitas dan realibilitas
instrumen ini dan diperoleh hasil: Sensitivitas = 95%, Spesifisitas = 81%, positive
predictive value : 83% dan r = 0.70.

17

3.6.

Tahap Penelitian

Tahapan penelitian yang pertama adalah peneliti berupaya mencari


sampling frame dengan mendatangi bagian akademik untuk mengetahui daftar
mahasiswa yang mengulang blok pada tahun ajaran 2014-2015, kemudian sampel
akan diambil secara total sampling untuk diminta kesediaannya masuk kedalam
penelitian dan diberikan kuisioner EPI, selanjutnya dari semua sampel yang
mengisi kuesioner tersebut akan dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yaitu:
kelompok cemas dan kelompok tidak kecemasan. Kelompok ini nantinya yang
akan dimasukkan kedalam penelitian untuk dilihat korelasinya terhadap jenis
kelamin.
3.7.

Analisis Data

Analisis data pada penelitian ini adalah dengan analisis deskriptif dan
analisis bivariat. Analisis deskriptif bertujuan untuk mengetahui distribusi subyek
penelitan yang ditampilkan dalam tabel distribusi frekuensi. Analisis bivariat
bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat kecemasan dengan jenis kelamin
pada mahasiswa fakultas kedokteran universitas islam indonesia mengulang tahun
ajaran 2014-2015. Analisis data dilakukan dengan menggunakan program SPSS
17. Uji yang dilakukan pada analisis bivariat adalah chi square, karena data
penelitian ini variabel bebasnya kategorik 2 kelompok dan data pengukuran
variabel terikatnya berbentuk nominal.
.
3.8.

Etika Penelitian

Peneliti dalam merekrut data partisipan terlebih dahulu memberikan


Informed Consent, yaitu mengurus surat ijin penelitian. Selama dan sesudah
penelitian privacy partisipan tetap dijaga, semua partisipan diperlakukan sama,
nama partisipan diganti dengan nomor (anonimity), peneliti menjaga kerahasiaan
informasi yang diberikan dan hanya digunakan untuk kegiatan penelitian serta
tidak akan dipublikasikan tanpa izin partisipan.

18

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.1.

Hasil Penelitian

19

Pada tanggal 14 desember 2014 disebar 120 lembar persetujuan serta


kesedian menjadi responden dan kuesioner EPI (Eysenck Personality Inventory)
kepada seluruh mahasiswa Fakultas Kedokteran UII yang terdaftar dan aktif
mengikuti kegiatan perkuliahan di semester 7, dari 120 kuesioner yang disebar, 3
menggembalikan kuesioner dalam keadaan kosong, 2 kuesioner diekslusikan
karena data tidak lengkap, sehingga jumlah kuesioner yang masuk ke dalam
penelitian ini berjumlah 115 orang.
Tabel 4.1. Distribusi subjek berdasarkan status mengulang pada mahasiswa FK
UII tahun ajaran 2014-2015
Status Mengulang

Frekuensi

Persentase

Ya

90 orang

78,2%

Tidak

25 orang

21,8%

Total

115 orang

100%

Berdasarkan hasil kuesioner didapatkan gambaran umum subjek adalah


sebagai berikut: sebanyak 90 mahasiswa terdaftar mengulang blok pada tahun
ajaran 2014-2015 dan saat penelitian sedang aktif mengikuti kegiatan perkuliahan
dan 21,8 % mahasiswa tidak mengulang blok.

Gambaran umum subjek berdasarkan Status mengulang dan tidak dapat


dilihat pada tabel 3 dan diagram 3.
Diagram 4.1.. Distribusi subjek berdasarkan status mengulang pada mahasiswa
FK UII tahun ajaran 2014-2015

20

Mengulang
Tidak
Mengulang

Tabel 4.2. Distribusi subjek berdasarkan jenis kelamin pada mahasiswa FK


UII tahun ajaran 2014-2015
Subjek

Jenis kelamin

Perempuan

53 (58,9 %)

Laki-laki

37 (41,1 %)

Total

90 (100%)

Dari 90 subjek yang dianalisis sebagian besar adalah mahasiswi dengan


persentase 58,9 % dan mahasiswa sebanyak 41,1 %. Dari 90 subjek yang masuk
dalam analisis penelitian sebagian besar adalah mahasiswa yang tidak mengalami
kecemasan berdasarkan kuesioner EPI (Eysenck Personality Inventory) dengan
persentase 66,6 % dan mahasiswa yang mengalami kecemasan sebanyak 34,4 %.

Tabel 4.3 Distribusi Subjek Berdasarkan Kecemasan Pada mahasiswa FK


UII tahun ajaran 2014-2015
Subjek
Cemas

Kecemasan
40 (44,4 %)

21

Tidak Cemas

50 (55,6 %)

Total

90 (100 %)

Dari 40 subjek yang dinyatakan kecemasan berdasarkan kuesioner EPQ


kemudian dilihat hubungan jenis kelamin terhadap kecemasan, untuk melihat
hubungan antara jenis kelamin dan kecemasan digunakan uji chi square, dan
didapatkan hasil nilai p : 0,017. nilai tersebut menunjukkan bahwa (p < 0,05),
terdapat hubungan jenis kelamin dengan status kecemasan pada mahasiswa FK
UII tahun ajaran 2014-2015.
Tabel 4.3 Hubungan Jenis Kelamin Dan Kecemasan Pada Mahasiswa FK UII
yang mengulang tahun ajaran 2014-2015
Kecemasan
Jenis Kelamin

Cemas

Tidak Cemas

Total

Perempuan

35

18

53

Laki-Laki

15

15

37

Total

50

40

90

Sumber : Data Primer Diolah, 2014. (X2) Hitung = 3,035

df=1,

p= (<0,05)

Dengan menggunakan tabel kerja perhitungan Chi Square diperoleh harga


Chi Square (X2) Hitung = 3,035 sedangkan dalam Chi Square tabel (X2) Tabel = 2,481
jika dibandingkan dengan nilai Chi Square (X2)
2

Hitung

lebih besar dari (X2)

Tabel

(X Hitung = 3,035 > X Tabel = 2,481), dengan sendirinya hipotesa nol ditolak dan
menerima hipotesa alternatif yang menyatakan terdapat perbedaan kecemasan
yang signifikan antara mahasiswa dengan mahasiswi pada mahasiswa fakultas
kedokteran Universitas Islam Indonesia yang mengulang tahun ajaran 2014-2015.
4.2.

Pembahasan

22

Pada penelitian ini didapatkan prevalensi kecemasan pada mahasiswa FK


UII dalam penelitian ini adalah 44,4 %. Kecemasan merupakan gangguan mental
terbesar. Diperkirakan 20% dari populasi dunia menderita kecemasan dan
sebanyak 47,7% remaja sering merasa cemas (Haryadi, 2007). Angka prevalensi
ini terjadi karena stresor dalam kehidupan mahasiswa adalah tuntutan dalam
pendidikan. Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk memperoleh nilai yang baik,
tetapi juga untuk memahami, mendalami, dan mampu mempraktekkan ilmu yang
telah dipelajarinya. Perubahan lingkungan belajar juga menjadi salah satu faktor
pencetus kecemasan pada mahasiswa (Trismiati, 2004).
Berdasarkan hasil yang didapatkan dari 90 subjek yang masuk dalam
penelitian, 40 mahasiswa dinyatakan mengalami kecemasan dan 50 orang
dinyatakan tidak mengalami kecemasan, dan selanjutnya dilakukan uji Chi-square
untuk melihat hubungan antara jenis kelamim dan kecemasan, dari hasil yang
didapatkan diperoleh nilai p = 0,017 yang berarti nilai P<0,05 ini menunjukkan
bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara kecemasan dengan jenis kelamin
pada mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Islam Indonesia yang mengulang
tahun ajaran 2014-2015. Salah satu faktor yang mempengaruhi kecemasan adalah
dipengaruhi oleh asam lemak bebas dalam tubuh. Pria mempunya produksi asam
lemak bebas lebih banyak dibanding wanita sehingga pria beresiko mengalami
kecemasan lebih tinggi daripada wanita. Selain itu, seseorang yang berpendidikan
tinggi akan menggunakan koping lebih baik sehingga memiliki tingkat kecemasan
yang lebih rendah dibandingkan dengan yang berpendidikan rendah. Sistem
pendukung merupakan kesatuan antara individu, keluarga, lingkungan dan
masyarakat sekitar yang memberikan pengaruh ada individu dalam melakukan
sesuatu. Sistem pendukung tersebut akan mempengaruhi mekanisme koping
individu sehingga mampu member gambaran kecemasan yang berbeda (Stuart &
Laraia, 2005).
Pasiak (2009) juga menyebutkan, perempuan dua kali lebih mungkin
menderita depresi, kecemasan dan mood disorder lain dibanding laki-laki. Karena
ada perbedaan otak laki-laki dan perempuan, maka laki-laki cenderung agresif,
kompetitif, tegas, yakin diri dan percaya diri sedangkan perempuan cakap dalam

23

bahasa, kesadaran sensoris, memori, kecakapan sosial dan hubungan dengan


orang. Berkaitan dengan kecemasan pada pria dan wanita, wanita lebih cemas
akan ketidakmampuannya dibanding laki-laki. Laki-laki lebih aktif dan
eksploratif, sedangkan wanita lebih sensitif. Selain itu laki-laki berfikir lebih
rasional dibandingkan dengan wanita yang berpikir cenderung emosional.
Penelitian lain menunjukkan bahwa laki-laki lebih rileks dibandingkan wanita
(Trismiati, 2004).

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Terdapat hubungan antara kecemasan dengan jenis kelamin mahasiswa
yang mengulang di fakultas kedokteran universitas islam indonesia tahun ajaran
2014 2015

24

5.2 Saran
a. Perlu dilakukan penelitian serupa dengan jumlah sampel mahasiswa
dengan kecemasan yang lebih banyak
b. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor-faktor
penyebab kecemasan pada mahasiswa Fakultas Kedokteran

DAFTAR PUSTAKA
Anjar.

2010.

Kehidupan

Anak

Kost.

http://anjar.student.umm.ac.id/2010/02/04/kehidupan-anak-kost/
Azar, Asadi Sadeghi, Basirani, Asadi Bidmeshki dan Panahi Mirshekar. 2010.
Prevalence of anxiety and its relationship with self-esteem among zabol
university students iran. Educational Research Journal vol. 1(5)

25

Balai Pustaka Nasional, 2001, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III. Balai
Pustaka, Jakarta.
Bayram, N dan Nazan Bilgel. 2008. The prevalence and socio-demographic
correlations of depression, anxiety and stress among a group of university
students. Original Paper Social Psychiatry Epidemiol 43:667672.
Djiwandono, S.E.W. 2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta : PT Grasindo.
Durand, V. M. dan Barlow, D. H. Intisari Psikologi Abnormal (Diterjemahlan oleh
Helly
Eisenberg, Daniel, Sarah E, Gollust, Erza Golberstein and Jennifer L.Hefner.
2007. Prevalence and correlates of depression, anxiety and suicidality
among university students. America Journal Of Aoarthosychiatry vol.77,
no.4,534-542.
Hertz, G., 2011. Sleep Disorders in Women. http://www.emedicinehealth.com/
sleep_disorders_in_women/article_em.htm#Sleep%20Disorders%20in
%20Women%20Overview. Diakses pada tanggal 11 Juli 2014
Hidayat, M.D., 2008. Pengantar Psikologi Untuk Tenaga Kesehatan. Jakarta:
Haryadi, Doddy. 2007. Perilaku bermasalah remaja muncul lebih dini.
http://www.duniaguru.com. (19 Oktober 2009).
Ibrahim, Ayub Sani. 2002. Menyiasati Gangguan Cemas (1). Jakarta: Pdpersi.
Indrawan. 2004. Kamus Bahasa Indonesia. Jombang: Lintas Media.
Kaplan, H., Sadock, B., Grebb, J., 2007. Sinopsis Psikiatri, Ilmu Pengetahuan
Perilaku Psikiatri Klinis Edisi Ketujuh, Binarupa Aksara, Jakarta.
Kaplan, H.I., Sadock, B.J., dan Grebb, J.A.,2007, Sinopsis Psikiatri Ilmu
Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis (terjemahan). Jilid 2. Jakarta:
Binarupa Aksara.
Kaplan, HI., Sadock, BJ., Grebh, JA. 2007. Sinopsis Psikiatri. Edisi ke-7,
Terjemahan. Jakarta : Binarupa Aksara.
Keliat, B. A. 2005. Gangguan Koping dan Citra Tubuh. Jakarta : EGC.
Keliat, B.A. 2000. Gangguan konsep diri. Jakarta: EGC

26

Keltney L, Schwecke C & Bostrom C. (1999). Psychiatric 4th ed. USA: Mosby
INC
Lewin,

D.,

2010.

Insomnia

Fact

Sheet.

http://www.womenshealth.gov/

publications/our-publications/fact-sheet/insomnia.cfm.

Diakses

pada

tanggal 21 Juli 2014.


Maramis F. Willy dan Maramis Albert A., 2009. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa
Edisi Kedua, Airlangga University Press, Surabaya.
Maslim, R., 2001. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari
PPDGJ-III, PT. Nuh Jaya, Jakarta.
Maslim, Rusdi, 2001, Diagnosis Gangguan Jiwa. Jakarta: FK Unika Atmajaya.
Mustaqim, 2008. Psikologi Pendidikan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Notoatmojo. S. 2003. Metodologi Penelitian Kesehatan. Cetakan ke dua Edisi
Revisi. Jakarta: Rineke Cipta.
Ratnadiwati, Yan Marieta. 2012. Beda Tingkat Kecemasan Anatara Mahasiswa
Laki-Laki Dan Perempuan Fakultas Kedokteran Universitas Islam
Indonesia Angkatan 2008 Dalam Menghadapi Ujian Pra Pendidikan Klinik
(Predik). Skripsi. Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia
Sastroasmoro, S. & Ismael, S.,2009. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis,
Binarupa Aksara, Jakarta.
Soewadi, 1999. Gawat Darurat Psikiatrik dalam Praktek Dokter Umum,
Percetakan MEDIKA FK UGM, Yogyakarta.
Stuart, G. W. 2006. Buku Saku Keperawatan Jiwa (Edisi 5). Cet. Pertama.
Jakarta : EGC.
Stuart, G.W & Laraia, M.T. (2005). Princiles and pratice of phschiatric nursing
8th edition. Missouri: Mosby.INC
Suliswati, dkk. 2005. Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa, Jakarta : EGC.
Sundari, Siti. 2005. Kesehatan Mental Dalam Kehidupan, Jakarta : Rineka Cipta.
Townsand, M.C. 2005. Diagnosa keperawatan pada keperawatan psikiatri:
Pedoman untuk pembuatan rencana keperawatan. Jakarta: EGC.
Trismiati. 2004. Perbedaan tingkat kecemasan antara pria dan wanita akseptor
kontrasepsi mantap di RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta.

27

Videbeck, Sheila L. (2008). Buku Ajar Keperawatan Jiwa, Jakarta : EGC.


Zulkarnain., Novliadi, Ferry. 2009. Sense of Humor dan Kecemasan Menghadapi
Ujian di Kalangan Mahasiswa. Fakultas Psikologi Universitas Sumatera
Utara. Majalah Kedokteran Nusantara Volume 42, No. 1, Maret 2009.