Anda di halaman 1dari 91

1

KARAKTERISTIK PASIEN STROKE RAWAT INAP RSUD SLEMAN


JUNI SEPTEMBER 2014

Karya Tulis Ilmiah


Untuk Memenuhi Sebagian Syarat
Memperoleh Derajat Sarjana Kedokteran

Oleh :
Mochamad Adifta
08711091

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
2015

STROKE PATIENT CHARACTERISTICS Inpatient Hospital SLEMAN


JUNE - SEPTEMBER 2014
To Getting a degree of Bachelor of Medicine

By :
Mochamad Adifta
08711091

MEDICAL SCHOOL
ISLAMIC UNIVERSITY INDONESIA
YOGYAKARTA
2015

HALAMAN PENGESAHAN
KARAKTERISTIK PASIEN STROKE RAWAT INAP RSUD SLEMAN
JUNI SEPTEMBER 2014
Oleh :
Mochamad Adifta
08711091

Diseminarkan pada tanggal :


Dan disetujui oleh :

Pembimbing Utama

Penguji

(Dr. Titik Kuntari MPH)

(Dr.Maftuhah Nurbeti MPH)

Ketua Program Studi Pendidikan Dokter

(Dr.Erlina Marfianti Sp.PD M.Sc)


Dekan

(Dr.Linda Rosita Sp.PK M.Kes)

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL

HALAMAN PENGESAHAN

ii

DAFTAR ISI

iii

DAFTAR TABEL DAN GAMBAR.


PERNYATAAN
INTISARI
ABSTRACT
KATA PENGANTAR

iv
v
vi
vii
viii

BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

1.2. Rumusan Masalah

1.3. Tujuan Penelitian

1.4. Keaslian Penelitian

1.5. Manfaat Penelitian

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Stroke

12

2.2. Landasan Teori

20

2.3. Kerangka Teori

21

2.3. Kerangka Konsep

22

2.4. Hipotesis.

22

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN


3.1. Jenis dan Rancangan Penelitian

28

3.2. Waktu dan Tempat Penenltian

28

3.3. Populasi dan Sampel Penelitian

28

3.4. Variabel Penelitian

30

3.5. Definisi Operasional

30

3.6. Instrumen Penelitian

31

3.7. Rencana Teknik Analisis Data

31

3.8. Tahap Penelitian

31

3.9. Etika Penelitian

32

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Hasil Penelitian

33

4.2. Penelitian

36

BAB V. SIMPULAN DAN SARAN


5.2. Simpulan

37

5.3. Saran

37

DAFTAR PUSTAKA

38

LAMPIRAN

40

DAFTAR TABEL DAN GAMBAR

Tabel 2.1. Karakteristik Responden Penelitian

33

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Kerangka Teori Penelitian

23

Gambar 2.2. Kerangka Konsep Penelitian

24

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam Karya Tulis Ilmiah ini tidak
terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu
perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau
pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara
tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Yogyakarta, 11 Juli 2015

Adifta

INTISARI

KARAKTERISTIK PASIEN STROKE RAWAT INAP RSUD SLEMAN


JUNI SEPTEMBER 2014
Latar belakang : Setiap tahun, kurang lebih 15 juta orang di seluruh dunia terserang
stroke. Di Amerika Serikat sekitar 5 juta orang pernah mengalami stroke, sedangkan
di Inggris sekitar 250.000 orang. Di Indonesia, stroke menyerang 35,8 % pasien usia
lanjut dan 12,9 % pada usia yang lebih muda. Jumlah total penderita stroke di
Indonesia diperkirakan 500.000 setiap tahun. Dari jumlah itu, sekitar 2,5% atau
250.000 orang meninggal dunia, dan sisanya cacat ringan maupun berat. Insidens
stroke di seluruh dunia bervariasi. Insidens tahunan rata- rata meningkat sejalan
dengan pertambahan usia, dari 3 per 100.000 pada kelompok umur dekade ketiga dan
keempat menjadi hampir 300 per 100.000 penduduk pada kelompok umur dekade
kedelapan dan kesembilan (Anonim, 2008; Konsensus Nasional Pengelolaan Stroke
di Indonesia, 2009).
Tujuan : Untuk mengetahui karakteristik pasien stroke rawat inap RSUD Sleman
Juni September 2014
Metode :Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental jenis deskriptif
dengan menggunakan pendekatan cross sectional bersifat retrospektif dengan
melihat data sekunder yang diperoleh dari catatan rekam medis pasien stroke di
RSUD Sleman Juni September 2014.
Hasil : Dari 68 pasien stroke rawat inap di RSUD Sleman, sebanyak 28 pasien
(41,2%) yang pulang dalam keadaan meninggal, dan 33 pasien ( 48,5 % ) pulang
dalam keadaan cacat dan hanya 7 pasien (10,3%) pulang dalam keadaan sembuh.
Pasien stroke rawat inap di RSUD Sleman lebih banyak berada di kategori umur
> 65 tahun. Dari 68 pasien stroke rawat inap di RSUD Sleman, sebanyak 38
pasien (55,9%) berjenis kelamin laki-laki dan 30 pasien (44,1%) berjenis kelamin
perempuan. Sebanyak 36 pasien (52,9%) memiliki riwayat penyakit keluarga,
sedangkan 32 pasien (47,1%) memiliki riwayat penyakit keluarga.Sebagian besar
pasien stroke rawat inap di RSUD Sleman memiliki tekanan darah yang tergolong
dalam kriteria hipertensi stage 2, yaitu sebanyak 28 pasien (41,2%). Lalu diikuti
dengan golongan hipertensi stage 1 sebanyak 19 pasien (26%), golongan tekanan
darah pre-hipertensi dan normal yang masing-masing sebanyak 14 pasien (1,6%)
dan 7 pasien (10,3%).
Simpulan : Proporsi pasien stroke Dari 68 pasien stroke rawat inap didapatkan
jumlah pasien stroke iskemik sebanyak 51 pasien (75%), sedangkan stroke
hemoragik sebanyak 17 pasien (15%). Rata-rata lama rawat inap pasien adalah
6,9 atau 7 hari dengan standar deviasi 3. Lama rawat inap paling lama adalah 15
hari.
Kata Kunci : Stroke, Karakteristik, Sleman

STROKE PATIENT CHARACTERISTICS Inpatient Hospital SLEMAN


JUNE - SEPTEMBER 2014

ABSTRACT
Background: Every year, approximately 15 million people worldwide have a
stroke. In the United States around 5 million people have had strokes, while in the
UK around 250,000 people. In Indonesia, a stroke has 35.8% of elderly patients
and 12.9% at a younger age. Total number of stroke patients in Indonesia
estimated 500,000 each year. Of that amount, about 2.5% or 250,000 people died,
and the rest is mild or severe disability. The incidence of stroke in the world
varies. Average annual incidence increases with age, from 3 per 100,000 in the
age group of the third and fourth decades to nearly 300 per 100,000 population in
the age group of the eighth and ninth decades (Anonymous, 2008; National
Consensus Management of Stroke in Indonesia, 2009).
Objective: To determine the characteristics of stroke patients hospitalized Sleman
District Hospital from June to September 2014.
Methods: This study is a non-experimental descriptive with cross sectional
approach is retrospective look at the secondary data obtained from the medical
record of stroke patients in hospitals Sleman June-September 2014.
Results: Of the 68 stroke patients hospitalized in Sleman District Hospital, 28
patients (41.2%) who came home he died, and 33 patients (48.5%) home in a state
of disability and only 7 patients (10.3%) home in a state of recovery. Stroke
patients hospitalized in the Hospital Sleman more are in the category of age> 65
years. Of the 68 stroke patients hospitalized in Sleman District Hospital, there
were 38 patients (55.9%) male gender and 30 patients (44.1%) were female. A
total of 36 patients (52.9%) had a family history of disease, while 32 patients
(47.1%) had a history of illness keluarga.Sebagian hospitalized stroke patients in
hospitals Sleman have blood pressure that is classified as stage 2 hypertension
criteria, as many as 28 patients (41.2%). Then followed with stage 1 hypertension
group were 19 patients (26%), group of pre-hypertensive blood pressure and
normal respectively of 14 patients (1.6%) and 7 patients (10.3%).
Conclusions: The proportion of patients with stroke from 68 stroke patients found
the number of patients hospitalized for ischemic stroke by 51 patients (75%),
while hemorrhagic stroke by 17 patients (15%). The average length of
hospitalization of patients was 6.9 or 7 days with a standard deviation of 3.
Duration of hospitalization longest was 15 days.
Keywords: Stroke, Characteristics, Sleman

KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbilalamiin, puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang
telah memberikan hidayah, kesempatan, dan kemudahan kepada kita semua dalam

10

menjalankan amanah yang menjadi tanggung jawab kita. Shalawat serta salam
selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga
dan para sahabat, karena dengan syafaatnya kita dapat hijrah dari zaman jahiliyah
menuju zaman yang terang benderang.
Atas karunia dan pertolongan dari Allah SWT, Karya Tulis Ilmiah ini
dapat terselesaikan dengan baik dengan judul karakteristik pasien stroke
rawat inap RSUD Sleman Juni September 2014. Karya tulis ini disusun
untuk memenuhi sebagian syarat memperoleh derajat sarjana kedokteran pada
Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia. Pada kesempatan ini penulis
mengucapkan terima kasih kepada:
1

Allah SWT, yang selalu ada dalam setiap langkah, atas karunia, hidayah,

akal, pikiran, kekuatan, kesehatan, dan segala kemudahan-Nya.


Nabi Muhammad SAW, yang selalu dan akan terus kita harapkan syafaatnya

di setiap detik perjalanan kita menuju hadiratNya.


Dr.Linda Rosita.,Sp.PK.,M.Kes selaku dekan

Universitas Islam Indonesia.


Dr. Titik Kuntari MPH, selaku dosen pembimbing utama. Terima kasih atas

fakultas

Kedokteran

ide-ide cemerlang yang sangat berarti bagi saya, dan atas kesediannya
meluangkan waktu untuk berdiskusi, membimbing saya, sehingga karya
5

tulis ini dapat terselesaikan.


Dr. Maftuhah Nurbeti MPH, selaku dosen penguji, terima kasih atas

masukan-masukannya.
Divisi Akademik Fakultas Kedokteran UII, terima kasih atas izin dan
kerjasamanya

Bapak dan mama, terimakasih atas doanya karena dengan doa itu bisa
membentangkan sayap jutaan malaikat untuk melindungi setiap langkahku.
Terimakasih atas dorongan serta segala apa yang sudah diberikan.

Kepada mas ku dan adek-adek ku, dan teman-teman yang telah mendoakan

dan memberikan dukungan baik moril maupun materil.


Kepada mas Sigit terimakasih banyak atas dukungannya yang tiada henti

yang selalu sabar menemani hingga karya tulis ini terselesaikan.


10 Dan semua pihak yang sudah berpartisipasi dan memberi dukungan baik
materi maupun non materi yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu.

11

Penulis hanya dapat mendoakan mereka yang telah membantu dalam segala
hal yang berkaitan dengan pembuatan skripsi ini semoga diberikan balasan dan
rahmat dari Allah SWT. Selain itu saran, kritik dan perbaikan senantiasa sangat
diharapkan. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi pihak
yang membutuhkan.
Wassalaamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh
Yogyakarta, 11 Agustus 2015
Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang Masalah

Setiap tahun, kurang lebih 15 juta orang di seluruh dunia terserang stroke. Di
Amerika Serikat sekitar 5 juta orang pernah mengalami stroke, sedangkan di Inggris
sekitar 250.000 orang. Di Indonesia, stroke menyerang 35,8 % pasien usia lanjut dan
12,9 % pada usia yang lebih muda. Jumlah total penderita stroke di Indonesia
diperkirakan 500.000 setiap tahun. Dari jumlah itu, sekitar 2,5% atau 250.000 orang

12

meninggal dunia, dan sisanya cacat ringan maupun berat. Insidens stroke di seluruh
dunia bervariasi. Insidens tahunan rata- rata meningkat sejalan dengan pertambahan
usia, dari 3 per 100.000 pada kelompok umur dekade ketiga dan keempat menjadi
hampir 300 per 100.000 penduduk pada kelompok umur dekade kedelapan dan
kesembilan (Anonim, 2008; Konsensus Nasional Pengelolaan Stroke di Indonesia,
2009).
Dalam penelitiannya di Indonesia, Widjaja (2000) mengemukakan bahwa
pada penderita stroke 60,7 persen disebabkan oleh stroke non hemoragik sedangkan
36,6 persen oleh karena stroke hemoragik. Stroke trombotik paling banyak terdapat
(58,3%), disusul oleh perdarahan intraserebral (PIS) (35,6%). Emboli dan perdarahan
subaraknoidal hanya sedikit sekali 2,4% dan 1 %. Lakilaki (63,5%) lebih banyak
terkena dari pada wanita (36,5%). Usia kurang dari 45 tahun lebih jarang terkena
(15,9%) dan pada usia lebih dari 45 tahun (84,1%). Kematian dan seluruh stroke
(32,1%) adalah nomer dua setelah meningoensefalitis (59,5%). Dari semua penderita
stroke 50% dan PIS meninggal, sedangkan pada PSA dan emboli kira-kira 40%
meninggal. Penyebab stroke paling banyak karena hipertensi (81,7%) dan diabetes
mellitus (66,7%). Anamnesis adanya hipertensi hanya terdapat pada 66,7% kasus.
Hipertensi yang terdapat pada waktu masuk rumah sakit kebanyakan hipertensireaktip, yang terjadi karena. pelepasan katekolamin dan neurotransmitter yang
menyebabkan kenaikan tekanan darah. Pada trombosis serebri 54,5% menderita
hipertensi stadium II, sedangkan pada PIS 66,4% menderita hipertensi stadium III dan
IV. Anamnesis gangguan peredaran darah sepintas (47,4%) (GPDOS) hanya terdapat
pada trombosis serebri. Pada emboli, PIS dan PSA tak terdapat riwayat GPDOS
sebelumnya. Pada stroke emboli 86,7% disebabkan oleh fibrilasi atrial dan infark
jantung lama, selebihnya tak diketahui penyebabnya (Widjaja,2000).
Stroke atau gangguan peredaran darah otak (GPDO) merupakan salah satu
penyakit saraf yang paling banyak menarik perhatian, bahkan di pusat pelayanan
neurologi di Indonesia, jumlah penderita gangguan peredaran darah otak (GPDO)
selalu menempati urutan pertama dari seluruh penderita rawat inap (Harsono, 2005).
Stroke adalah serangan mendadak yang terjadi pada pembuluh darah otak di
sebabkan oleh tersumbatnya atau pecahnya pembuluh darah dalam otak, selain itu
stroke juga merupakan penyakit neurologic (saraf) yang seringmenyebabkan

13

kecacatan dan kematian sehingga dapat juga di sebut sebagai brain attack atau
serangan otak (Auryn, 2009).
Membedakan antara stroke hemoragik dan stroke iskemik adalah hal yang
penting dalam manajemen sroke serta prognosis dan pencegahannya. Pada orang kulit
putih, sekitar 80% dari pertama pernah stroke iskemik .metode yang pembeda jenis
stroke ini menggunakan CT-scan. Dalam banyak negara, ini sebaiknya dilakukan oleh
CT. Lumbal pungsi berguna dalam menyakinkan perdarahan subarachnoid, namun
jika hasil pencitraan otak samar, maka tidak dapat membedakan iskemik dan stroke
hemoragik. (Davenport & Dennis, 2000).

Stroke adalah suatu penyakit defisit neurologis akut yang disebabkan oleh
gangguan pembuluh darah otak yang terjadi secara mendadak dan dapat
menimbulkan cacat atau kematian. Menurut Departemen Kesehatan (2006),
pasien stroke rawat inap di RS Indonesia dengan CFR 20.01%. Penelitian
karakteristik penderita stroke rawat inap di rumah Sakit Haji Medan Tahun 20022006, dilakukan penelitian deskriptif dengan desain case series. Trend penderita
stroke cenderung turun menurut persamaan garis Y=214,5- 8,7x. Proporsi
penderita stroke tertinggi umur 45-64 tahun 51,2%, laki-laki 53,4%, batak 36,7%,
Islam 95,0%, tinggal di kota Medan 70,5%, pendidikan tingkat menengah 33,5%,
ibu rumah tangga 32,7%, stroke non hemoragik 66,5%, hemiparese sinistra
46,3%, hipertensi 60,4%, onset serangan 6 jam 64,0%, lama rawatan rata-rata
7,31 hari dan pulang berobat jalan 60,1%. Tidak ada perbedaan umur berdasarkan
jenis kelamin (p= 0,052), umur berdasarkan tipe stroke (p= 0,145), jenis kelamin
berdasarkan tipe stroke (p= 0,864), tipe stroke berdasakan onset serangan
(p=0,683), faktor risiko berdasarkan tipe stroke (p= 0,174), factor risiko
berdasarkan keadaan sewaktu pulang (p= 0,398) dan lama rawatan rata-rata
berdasarkan tipe stroke (p= 0,669). Ada perbedaan tipe stroke berdasarkan
keadaan sewaktu pulang (p= 0,003) dan lama rawatan rata-rata berdasarkan
keadaan sewaktu pulang (p= 0.000). Bagi penderita hipertensi dengan umur 45-64
tahun, untuk selalu melakukan kontrol secara rutin dan menerapkan pola hidup
sehat untuk mencegah terjadinya stroke. Penderita stroke sebaiknya dibawa ke
rumah sakit jika ada kelainan yang mendadak.

14

1.2. Rumusan Masalah


Bagaimana karakteristik pasien stroke rawat inap RSUD Sleman Juni
September 2014?.
1.3. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui karakteristik pasien stroke rawat inap RSUD Sleman
Juni September 2014.
1.4. Keasliaan Penelitian
Penelitian-penelitian yang pernah dilakukan tentang karakterisik pasien
stroke sejauh yang penulis ketahui adalah:
1. Karakteristik penderita stroke rawat inap di rumah Sakit Haji Medan

Tahun 2002-2006, dilakukan penelitian deskriptif dengan desain case


series oleh Sri Andriany Sinaga. Perbedaan dengan penelitian
kami adalah dalam variabel dan populasi serta sampel yang digunakan.
2. Hubungan antara Kadar LDL Kolesterol pada Penderita Stroke di RSUD
Dr. Moewardi Surakarta oleh Linda Soebroto Tahun 2010. Perbedaan

dengan penelitian kami adalah rancangan penelitian dalam variabel


dan populasi serta sampel yang digunakan.
3. Karakteristik Penderita Stroke Hemoragik Yang Di Rawat Inap Di

RSUP H Adam Malik Medan Tahun 2007-2008 Oleh Mustafa Sirait.


Perbedaan dengan penelitian kami adalah dalam variabel dan populasi
serta sampel yang digunakan.
1.5. Manfaat Penelitian
1. Untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat, tentang karakteristik
pasien stroke rawat inap.
2. Dengan mengetahui karakteristik pasien stroke rawat inap, dapat
diusahakan cara-cara untuk memperbaiki outcome/ keluaran pasien rawat
inap.

15

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tinjauan Pustaka
2.1.1. Stroke
a. Definisi
Stroke adalah suatu penyakit defisit neurologis akut yang disebabkan oleh
gangguan pembuluh darah otak yang terjadi secara mendadak dan dapat

16

menimbulkan cacat atau kematian. Secara umum, stroke digunakan sebagai


sinonim Cerebro Vascular Disease (CVD) dan kurikulum Inti Pendidikan Dokter
di Indonesia (KIPDI) mengistilahkan stroke sebagai penyakit akibat gangguan
peredaran darah otak (GPDO). Stroke atau gangguan aliran darah di otak disebut
juga sebagai serangan otak (brain attack), merupakan penyebab cacat (disabilitas,
invaliditas) (Auryn, 2009; Criqui & Ringel, 2004).
b. Anatomi Pembuluh Darah Otak
Otak terdiri dari sel-sel otak yang disebut neuron, sel-sel penunjang yang
dikenal sebagai sel glia, cairan serebrospinal, dan pembuluh darah. Semua orang
memiliki jumlah neuron yang sama sekitar 100 miliar, tetapi koneksi di antara
berbagi neuron berbeda-beda. Pada orang dewasa, otak membentuk hanya sekitar
2% (sekitar 1,4 kg) dari berat tubuh total, tetapi mengkonsumsi sekitar 20%
oksigen dan 50% glukosa yang ada di dalam darah arterial (Sidharta & Mardjono,
2008) (Gambar 2.1.).

Otak harus menerima lebih kurang satu liter darah per menit, yaitu sekitar
15% dari darah total yang dipompa oleh jantung saat istirahat agar berfungsi
normal. Otak mendapat darah dari arteri. Yang pertama adalah arteri karotis
interna yang terdiri dari arteri karotis (kanan dan kiri), yang menyalurkan darah ke
bagian depan otak disebut sebagai sirkulasi arteri serebrum anterior. Yang kedua
adala vertebrobasiler, yang memasok darah ke bagian belakang otak disebut
sebagai sirkulasi arteri serebrum posterior. Selanjutnya sirkulasi arteri serebrum
anterior bertemu dengan sirkulasi arteri serebrum posterior membentuk suatu
sirkulus willisi (Sidharta & Mardjono, 2008) (Gambar 2.2).
Ada dua hemisfer di otak yang memiliki masing-masing fungsi. Fungsifungsi dari otak adalah otak merupakan pusat gerakan atau motorik, sebagai pusat
sensibilitas, sebagai area broca atau pusat bicara motorik, sebagai area Wernicke
atau pusat bicara sensoris, sebagai area visuosensoris, dan otak kecil yang
berfungsi sebagai pusat koordinasi serta batang otak yang merupakan tempat jalan
serabutserabut saraf ke target organ(Sidharta & Mardjono, 2008) (gambar 2.3.).

17

Gambar 2.1. Sel Glia Pada Otak

Gambar 2.2. Pembuluh Darah di Otak

18

Gambar 2.3. Bagian Otak dan Fungsi Otak


Jika terjadi kerusakan gangguan otak maka akan mengakibatkan
kelumpuhan pada anggota gerak, gangguan bicara, serta gangguan dalam
pengaturan nafas dan tekanan darah. Gejala di atas biasanya terjadi karena adanya
serangan stroke (Auryn V, 2009).
c. Stroke Non Hemoragik
1. Klasifikasi Stroke Non Hemoragik
Secara non hemoragik, stroke dapat dibagi berdasarkan manifestasi klinik
dan proses patologik (kausal):
a. Berdasarkan manifestasi klinik:
i. Serangan Iskemik Sepintas/Transient Ischemic Attack (TIA)
Gejala neurologik yang timbul akibat gangguan peredaran darah di otak
akan menghilang dalam waktu 24 jam.
ii. Defisit Neurologik Iskemik Sepintas/Reversible Ischemic Neurological
Deficit (RIND)Gejala neurologik yang timbul akan menghilang dalam
waktu lebih lama dari 24 jam, tapi tidak lebih dari seminggu.
iii. Stroke Progresif (Progressive Stroke/Stroke In Evaluation)
Gejala neurologik makin lama makin berat.
iv. Stroke komplet (Completed Stroke/Permanent Stroke) Kelainan
neurologik sudah menetap, dan tidak berkembang lagi (Auryn V, 2009).
b. Berdasarkan Kausal:
i. Stroke Trombotik
Stroke trombotik terjadi karena adanya penggumpalan pada pembuluh
darah di otak. Trombotik dapat terjadi pada pembuluh darah yang besar dan
pembuluh darah yang kecil. Pada pembuluh darah besar trombotik terjadi akibat
aterosklerosis yang diikuti oleh terbentuknya gumpalan darah yang cepat. Selain
itu, trombotik juga diakibatkan oleh tingginya kadar kolesterol jahat atau Low
Density Lipoprotein (LDL). Sedangkan pada pembuluh darah kecil, trombotik
terjadi karena aliran darah ke pembuluh darah arteri kecil terhalang. Ini terkait
dengan hipertensi dan merupakan indikator penyakit aterosklerosis (Shahab, 2002;
Sidharta & Mardjono, 2008; Auryn V, 2009).

19

ii. Stroke Emboli/Non Trombotik


Stroke emboli terjadi karena adanya gumpalan dari jantung atau lapisan
lemak yang lepas. Sehingga, terjadi penyumbatan pembuluh darah yang
mengakibatkan darah tidak bisa mengaliri oksigen dan nutrisi ke otak (Sidharta &
Mardjono, 2008).

2. Gejala Stroke Non Hemoragik


Gejala stroke non hemoragik yang timbul akibat gangguan peredaran
darah di otak bergantung pada berat ringannya gangguan pembuluh darah dan
lokasi tempat gangguan peredaran darah terjadi, maka gejala-gejala tersebut
(Auryn, 2009) adalah:
a. Gejala akibat penyumbatan arteri karotis interna.
i. Buta mendadak (amaurosis fugaks).
ii. Ketidakmampuan untuk berbicara atau mengerti bahasa lisan (disfasia)
bila gangguan terletak pada sisi dominan.
iii. Kelumpuhan pada sisi tubuh yang berlawanan (hemiparesis
kontralateral) dan dapat disertai sindrom Horner pada sisi sumbatan
(Auryn, 2009).
b. Gejala akibat penyumbatan arteri serebri anterior.
i. Hemiparesis kontralateral dengan kelumpuhan tungkai lebih menonjol.
ii. Gangguan mental.
iii. Gangguan sensibilitas pada tungkai yang lumpuh.
iv. Ketidakmampuan dalam mengendalikan buang air.
v. Bisa terjadi kejang-kejang(Auryn, 2009).
c. Gejala akibat penyumbatan arteri serebri media.
i. Bila sumbatan di pangkal arteri, terjadi kelumpuhan yang lebih ringan.
Bila tidak di pangkal maka lengan lebih menonjol.
ii. Gangguan saraf perasa pada satu sisi tubuh.
iii. Hilangnya kemampuan dalam berbahasa (aphasia) (Auryn, 2009).
d. Gejala akibat penyumbatan sistem vertebrobasilar.
i. Kelumpuhan di satu sampai keempat ekstremitas.
ii. Meningkatnya refleks tendon.

20

iii. Gangguan dalam koordinasi gerakan tubuh.


iv. Gejala-gejala sereblum seperti gemetar pada tangan (tremor), kepala
berputar (vertigo) (Auryn, 2009).
v. Ketidakmampuan untuk menelan (disfagia).
vi. Gangguan motoris pada lidah, mulut, rahang dan pita suara sehingga
pasien sulit bicara (disatria).
vii. Kehilangan kesadaran sepintas (sinkop), penurunan kesadaran secara
lengkap (strupor), koma, pusing, gangguan daya ingat, kehilangan daya
ingat terhadap lingkungan (disorientasi).
viii.Gangguan penglihatan, sepert penglihatan ganda (diplopia), gerakan
arah bola mata yang tidak dikehendaki (nistagmus), penurunan kelopak
mata (ptosis), kurangnya daya gerak mata, kebutaan setengah lapang
pandang pada belahan kanan atau kiri kedua mata (hemianopia homonim).
ix. Gangguan pendengaran.
x. Rasa kaku di wajah, mulut atau lidah(Auryn, 2009).
e. Gejala akibat penyumbatan arteri serebri posterior
i. Koma
ii. Hemiparesis kontra lateral.
iii. Ketidakmampuan membaca (aleksia).
iv. Kelumpuhan saraf kranialis ketiga (Auryn, 2009).

f. Gejala akibat gangguan fungsi luhur


i. Aphasia yaitu hilangnya kemampuan dalam berbahasa. Aphasia dibagi
dua yaitu, Aphasia motorik adalah ketidakmampuan untuk berbicara,
mengeluarkan isi pikiran melalui perkataannya sendiri, sementara
kemampuannya untuk mengerti bicara orang lain tetap baik. Aphasia
sensorik adalah ketidakmampuan untuk mengerti pembicaraan orang lain,
namun masih mampu mengeluarkan perkataan dengan lancar, walau
sebagian diantaranya tidak memiliki arti, tergantung dari luasnya
kerusakan otak (Auryn, 2009).

21

ii. Alexia adalah hilangnya kemampuan membaca karena kerusakan otak.


Dibedakan dari Dyslexia (yang memang ada secara kongenital), yaitu
Verbal alexia adalah ketidakmampuan membaca kata, tetapi dapat
membaca huruf. Lateral alexia adalah ketidakmampuan membaca huruf,
tetapi masih dapat membaca kata. Jika terjadi ketidakmampuan keduanya
disebut Global alexia(Auryn, 2009).
iii. Agraphia adalah hilangnya kemampuan menulis akibat adanya
kerusakan otak(Auryn, 2009).
iv. Acalculia adalah hilangnya kemampuan berhitung dan mengenal angka
setelah terjadinya kerusakan otak (Auryn, 2009).
v. Right-Left Disorientation & Agnosia jari (Body Image) adalah sejumlah
tingkat kemampuan yang sangat kompleks, seperti penamaan, melakukan
gerakan yang sesuai dengan perintah atau menirukan gerakan-gerakan
tertentu. Kelainan ini sering bersamaan dengan Agnosia jari (dapat dilihat
dari disuruh menyebutkan nama jari yang disentuh sementara penderita
tidak boleh melihat jarinya) (Auryn, 2009).
vi. Hemi spatial neglect (Viso spatial agnosia) adalah hilangnya
kemampuan melaksanakan bermacam perintah yang berhubungan dengan
ruang (Auryn, 2009).
vii. Syndrome Lobus Frontal, ini berhubungan dengan tingkah laku akibat
kerusakan pada kortex motor dan premotor dari hemisphere dominan yang
menyebabkan terjadinya gangguan bicara (Auryn, 2009).
viii.Amnesia adalah gangguan mengingat yang dapat terjadi pada trauma
capitis, infeksi virus, stroke, anoxia dan pasca operasi pengangkatan massa
di otak (Auryn, 2009).
ix. Dementia adalah hilangnya fungsi intelektual yang mencakup sejumlah
kemampuan (Harsono (Ed.),

2005; Immamura et al, 2008; Konsensus

Nasional Pengelolaan Stroke di Indonesia, 2009)

.
3. Diagnosis Stroke Non Hemoragik
Diagnosis didasarkan atas hasil:

22

a. Penemuan Klinis
i. Anamnesis
Terutama terjadinya keluhan/gejala defisit neurologik yang mendadak.
Tanpa trauma kepala, dan adanya faktor risiko stroke (Auryn, 2009).
ii. Pemeriksaan Fisik
Adanya defisit neurologik fokal, ditemukan faktor risiko seperti hipertensi,
kelainan jantung dan kelainan pembuluh darah lainnya (Auryn, 2009).
b. Pemeriksaan tambahan/Laboratorium
i. Pemeriksaan Neuro-Radiologik
Computerized Tomography Scanning (CT-Scan), sangat membantu
diagnosis dan membedakannya dengan perdarahan terutama pada fase akut.
Angiografi serebral (karotis atau vertebral) untuk mendapatkan gambaran yang
jelas tentang pembuluh darah yang terganggu, atau bila scan tak jelas.
Pemeriksaan likuor serebrospinalis, seringkali dapat membantu membedakan
infark, perdarahan otak, baik perdarahan intraserebral (PIS) maupun perdarahan
subarakhnoid (PSA) (Criqui & Ringel, 2004; Derex et al 2004; Harsono (Ed.),
2005; Immamura et al, 2008; Konsensus Nasional Pengelolaan Stroke di Indonesia,
2009; Nurhidayat, 2008; Shahab, 2002; Sidharta & Mardjono, 2008; Auryn, 2009)

ii. Pemeriksaan lain-lain


Pemeriksaan untuk menemukan faktor resiko, seperti: pemeriksaan darah
rutin (Hb, hematokrit, leukosit, eritrosit), hitung jenis dan bila perlu gambaran
darah. Komponen kimia darah, gas, elektrolit, Doppler, Elektrokardiografi (EKG).
(Harsono (Ed.), 2005)

d. Stroke Hemoragik
1. Klasifikasi Stroke Hemoragik
Menurut WHO, dalam International Statistical Classification of Diseases
and Related Health Problem 10th Revision, stroke hemoragik dibagi atas:
a. Perdarahan Intraserebral (PIS)
Perdarahan Intraserebral (PIS) adalah perdarahan yang primer berasal dari
pembuluh darah dalam parenkim otak dan bukan disebabkan oleh trauma.
Perdarahan ini banyak disebabkan oleh hipertensi, selain itu faktor penyebab

23

lainnya adalah aneurisma kriptogenik, diskrasia darah, penyakit darah seperti


hemofilia, leukemia, trombositopenia, pemakaian antikoagulan angiomatosa
dalam otak, tumor otak yang tumbuh cepat, amiloidosis serebrovaskular (;
Harsono (Ed.), 2005; Immamura et al, 2008; Auryn, 2009)

b. Perdarahan Subarakhnoidal (PSA)


Perdarahan Subarakhnoidal (PSA) adalah keadaan terdapatnya/masuknya
darah ke dalam ruangan subarakhnoidal. Perdarahan ini terjadi karena pecahnya
aneurisma (50%), pecahnya malformasi arteriovena atau MAV (5%), berasal dari
PIS (20%) dan 25% kausanya tidak diketahui (Sidharta & Mardjono, 2008; Auryn,
2009).

c. Perdarahan Subdural
Perdarahan subdural adalah perdarahan yang terjadi akibat robeknya vena
jembatan ( bridging veins) yang menghubungkan vena di permukaan otak dan
sinus venosus di dalam durameter atau karena robeknya araknoidea.
2. Gejala Stroke Hemoragik
a. Gejala Perdarahan Intraserebral (PIS)
Gejala yang sering djumpai pada perdarahan intraserebral adalah: nyeri
kepala berat, mual, muntah dan adanya darah di rongga subarakhnoid pada
pemeriksaan pungsi lumbal merupakan gejala penyerta yang khas. Serangan
sering kali di siang hari, waktu beraktivitas dan saat emosi/marah. Kesadaran
biasanya menurun dan cepat masuk koma (65% terjadi kurang dari setengah jam,
23% antara 1/2-2 jam, dan 12% terjadi setelah 3 jam) ( Auryn, 2009).
b. Gejala Perdarahan Subarakhnoid (PSA)
Pada penderita PSA dijumpai gejala: nyeri kepala yang hebat, nyeri di
leher dan punggung, mual, muntah, fotofobia. Pada pemeriksaan fisik dapat
dilakukan dengan pemeriksaan kaku kuduk, Lasegue dan Kernig untuk
mengetahui kondisi rangsangan selaput otak, jika terasa nyeri maka telah terjadi
gangguan pada fungsi saraf. Pada gangguan fungsi saraf otonom terjadi demam
setelah 24 jam. Bila berat, maka terjadi ulkus pepticum karena pemberian obat
antimuntah disertai peningkatan kadar gula darah, glukosuria, albuminuria, dan

24

perubahan pada EKG(Harsono (Ed.), 2005; Konsensus Nasional Pengelolaan Stroke


di Indonesia, 2009).

c. Gejala Perdarahan Subdural


Pada penderita perdarahan subdural akan dijumpai gejala: nyeri kepala,
tajam penglihatan mundur akibat edema papil yang terjadi, tanda-tanda deficit
neurologik daerah otak yang tertekan. Gejala ini timbul berminggu-minggu
hingga berbulan-bulan setelah terjadinya trauma kepala ( Konsensus Nasional
Pengelolaan Stroke di Indonesia, 2009).

3. Diagnosis Stroke Hemoragik


a. Perdarahan Intraserebral (PIS)
Diagnosis didasarkan atas gejala dan tanda-tanda klinis dari hasil
pemeriksaan.

Untuk

pemeriksaan

tambahan

dapat

dilakukan

dengan

Computerized Tomography Scanning (CT-Scan), Magnetic Resonance Imaging


(MRI), Elektrokardiografi (EKG), Elektroensefalografi (EEG), Ultrasonografi
(USG), dan Angiografi cerebral(Criqui & Ringel, 2004).
b. Perdarahan Subarakhnoid (PSA)
Diagnosis didasarkan atas gejala-gejala dan tanda klinis. Pemeriksaan
tambahan dapat dilakukan dengan Multislices CT-Angiografi, MR Angiografi atau
Digital Substraction Angiography (DSA) (Immamura et al, 2008)

c. Perdarahan Subdural
Diagnosis didasarkan atas pemeriksaan yaitu dilakukan foto tengkorak
anteroposterior dengan sisi daerah trauma. Selain itu, dapat juga dilakukan dengan
CT-Scan dan EEG. Oleh karena tidak seluruh Rumah Sakit memiliki alat-alat di
atas, maka untuk memudahkan pemeriksaan dapat dilakukan dengan sistem lain,
misalnya system skoring yaitu sistem yang berdasarkan gejala klinis yang ada
pada saat pasien masuk Rumah Sakit ( Harsono (Ed.), 2005; Konsensus Nasional
Pengelolaan Stroke di Indonesia, 2009)

Sistem skoring yang sering digunakan antara lain:


1. Skor Stroke Hemoragik dan Non-Hemoragik (Djoenaidi, 1988)

25

Tanda/Gejala
1. TIA sebelum serangan

Skor
1

2. Permulaan serangan
Sangat mendadak (1-2 menit)

6,5

Mendadak (beberapa menit-1 jam)

6,5

Pelan-pelan (beberapa jam)

3. Waktu serangan
Waktu kerja (aktivitas)

6,5

Waktu istirahat/duduk/tidur

Waktu bangun tidur

4. Sakit kepala waktu serangan


Sangat hebat

10

Hebat

7,5

Ringan

Tak ada

5. Muntah
Langsung habis serangan

10

Mendadak (beberapa menit-jam)

7,5

Pelan-pelan (1 hari atau lebih)

Tak ada

6. Kesadaran
Hilang waktu serangan (langsung)

10

Hilang mendadak (beberapa menit-jam)

10

2. Guy's Hospital Score (1985)


Gejala/Tanda Klinis dan Skor
1. Derajat kesadaran 24 jam setelah MRS
Mengantuk
Tak dapat dibangunkan
2. Babinski bilateral

+ 7.3
+ 14.6
+ 7.1

3. Permulaan serangan
Sakit kepala dalam 2 jam setelah serangan atau kaku kuduk: + 21.9

26

4. Tekanan darah diastolik setelah 24 jam + (tekanan darah diastolik x 0.17)


5. Penyakit katub aorta/mitral -4.3
6. Gagal jantung - 4.3
7. Kardiomiopati - 4.3
8. Fibrilasi atrial - 4.3
9. Rasio kardio-torasik > 0.5 (pada x-foto toraks) - 4.3
10. Infark jantung (dalam 6 bulan) - 4.3
11. Angina, klaudikasio atau diabetes - 3.7
12. TIA atau stroke sebelumnya - 6.7
13. Anemnesis adanya hipertensi - 4.1
Pembacaan:
Skor : < + 25: Infark (stroke non hemoragik)
> + - 5: Perdarahan (stroke hemoragik)
+ 14: Kemungkinan infark dan perdarahan 1 : 1
< + 4: Kemungkinan perdarahan 10%
Sensivitas:
Untuk stroke hemoragik: 81-88%;
stroke non hemoragik (infark) 76-82%.
Ketetapan keseluruhan: 76-82%.
3. Siriraj Hospital Score (Poungvarin, 1991)
Versi orisinal:
= (0.80 x kesadaran) + (0.66 x muntah) + (0.33 x sakit kepala) + (0.33x tekanan
darah diastolik) (0.99 x atheromal) 3.71.
Versi disederhanakan:
= (2.5 x kesadaran) + (2 x muntah) + ( 2 x sakit kepala) + (0.1 x tekanan darah
diastolik) (3 x atheroma) 12.
Kesadaran:
Sadar = 0; mengantuk, stupor = 1; semikoma, koma = 2
Muntah:
tidak = 0 ; ya = 1
Sakit kepala dalam 2 jam:

27

tidak = 0 ; ya = 1
Tanda-tanda ateroma:
tidak ada = 0 ; 1 atau lebih tanda ateroma = 1
(anamnesis diabetes; angina; klaudikasio intermitten)
Pembacaan:
Skor > 1 : Perdarahan otak
< -1: Infark otak
Sensivitas: Untuk perdarahan: 89.3%.
Untuk infark: 93.2%.
Ketepatan diagnostik: 90.3%.
e. Epidemiologi Stroke
1. Distribusi Frekuensi Stroke
a. Menurut Orang
Menurut penelitian Tsong Hai Lee di Taiwan pada tahun 1997-2001,
terdapat 264 orang penderita stroke iskemik pada usia 18-45 tahun, yang
disebabkan oleh kelebihan lemak, merokok, hipertensi dan riwayat stroke.
Berdasarkan data penderita stroke yang dirawat oleh Pusat Pengembangan dan
Penanggulangan Stroke Nasional (P3SN) RSUP Bukittinggi pada tahun 2002,
terdapat 501 pasien, yang terdiri dari usia 20-30 tahun sebesar 3,59%, usia 30-50
tahun sebesar 20,76%, usia 51-70 tahun sebesar 52,69% dan usia 71-90 tahun
sebesar 22,95% (Harsono (Ed.), 2005; Immamura et al, 2008; Konsensus Nasional
Pengelolaan Stroke di Indonesia, 2009; Auryn, 2009)

Hasil penelitian Syarif. R di Rumah Sakit PTP Nusantara II Medan tahun


1999-2003 menunjukkan bahwa dari 220 sampel yang diteliti, berdasarkan suku
penderita stroke yang dirawat inap sebagian besar bersuku Jawa sebanyak 120
orang (54,5%) dan yang terendah suku Minang sebanyak 3 orang (1,4%),
berdasarkan status perkawinan penderita stroke yang dirawat inap sebagian besar
berstatus kawin sebanyak 217 orang (98,6%) dan yang berstatus tidak kawin
sebanyak 3 orang (1,4%) (Shahab, 2002; Sidharta & Mardjono, 2008; Auryn, 2009).
b. Menurut Tempat

28

Menurut American Heart Association, diperkirakan terjadi 3 juta penderita


stroke pertahun, dan 500.000 penderita stroke yang baru terjadi pertahun. Angka
kematian penderita stroke di Amerika adalah 50-100/100.000 penderita pertahun.
Di China (2005), terdapat 1,5 juta penderita stroke dan 1 juta penderita stroke
meninggal dunia dengan CFR 66,66%.19 Di India, angka prevalensi stroke
sebesar 8,6 per 100.000 populasi pertahun (Criqui & Ringel, 2004 Nurhidayat,
2008)

Di Indonesia diperkirakan setiap tahun terjadi 500.000 orang terkena


serangan stroke, 125.000 orang meninggal dunia dengan CFR 25% dan yang
mengalami cacat ringan atau berat dengan proporsi 75% (375.000 orang) (Harsono
(Ed.), 2005).

c. Menurut Waktu
Menurut WHO (2005), stroke menjadi penyebab kematian dari 5,7 juta
jiwa di seluruh dunia, dan diperkirakan meningkat menjadi 6,5 juta penderita pada
tahun 2015 dan 7,8 juta penderita pada tahun 2030. Berdasarkan Penelitian
Misbach di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo tahun 2000-2003, menunjukkan
bahwa jumlah penderita stroke tahun 2000 sebanyak 641 orang, tahun 2001
sebanyak 722 orang, tahun 2002 sebanyak 706 orang dan tahun 2003 sebanyak
522 orang. Di RSU Sleman, terjadi peningkatan penderita stroke yang dirawat
inap pada tahun 1997-2000. Pada tahun1997 terdapat penderita stroke sebanyak
255 orang, tahun 1998 sebanyak 298 orang, tahun 1999 sebanyak 393 orang dan
tahun 2000 sebanyak 459 orang.
2. Determinan Stroke
Faktor risiko stroke terdiri dari dua kategori, yaitu:
a. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi:
i. Usia
Risiko terkena stroke meningkat sejak usia 45 tahun. Setiap penambahan
usia tiga tahun akan meningkatkan risiko stroke sebesar 11-20%. Dari semua
stroke, orang yang berusia lebih dari 65 tahun memiliki risiko paling tinggi yaitu
71%, sedangkan 25% terjadi pada orang yang berusia 65-45 tahun, dan 4% terjadi
pada orang berusia <45 tahun(Criqui & Ringel, 2004; Derex et al 2004; Harsono

29

(Ed.), 2005; Immamura et al, 2008; Konsensus Nasional Pengelolaan Stroke di


Indonesia, 2009; Nurhidayat, 2008; Shahab, 2002; Sidharta & Mardjono,

2008;

Auryn, 2009).

Menurut penelitian Siregar F (2002) di RSUP Haji Adam Malik Medan


dengan desain case control, umur berpengaruh terhadap terjadinya stroke dimana
pada kelompok umur 45 tahun risiko terkena stroke dengan OR: 9,451 kali
dibandingkan kelompok umur < 45 tahun.
ii. Jenis Kelamin
Menurut data dari 28 rumah sakit di Indonesia, ternyata laki-laki banyak
menderita stroke dibandingkan perempuan.3 Insiden stroke 1,25 kali lebih besar
pada laki-laki dibanding perempuan( Immamura et al, 2008 Auryn, 2009)
iii. Ras/bangsa
Orang kulit hitam lebih banyak menderita stroke dari pada orang kulit
putih. Hal ini disebabkan oleh pengaruh lingkungan dan gaya hidup. Pada tahun
2004 di Amerika terdapat penderita stroke pada laki-laki yang berkulit putih
sebesar 37,1% dan yang berkulit hitam sebesar 62,9% sedangkan pada wanita
yang berkulit putih sebesar 41,3% dan yang berkulit hitam sebesar 58,7%. (Criqui
& Ringel, 2004; Derex et al 2004; Harsono (Ed.), 2005)

iv. Hereditas
Gen berperan besar dalam beberapa faktor risiko stroke, misalnya
hipertensi, jantung, diabetes dan kelainan pembuluh darah. Riwayat stroke dalam
keluarga, terutama jika dua atau lebih anggota keluarga pernah mengalami stroke
pada usia kurang dari 65 tahun, meningkatkan risiko terkena stroke.12 Menurut
penelitian Tsong Hai Lee di Taiwan pada tahun 1997-2001 riwayat stroke pada
keluarga meningkatkan risiko terkena stroke sebesar 29,3% (Criqui & Ringel,
2004; Nurhidayat, 2008; Shahab, 2002; Sidharta & Mardjono, 2008; Auryn, 2009).

b. Faktor risiko yang dapat dirubah:


i. Hipertensi

30

Hipertensi merupakan faktor risiko utama terjadinya stroke. Hipertensi


meningkatkan risiko terjadinya stroke sebanyak 4 sampai 6 kali. Makin tinggi
tekanan darah kemungkinan stroke makin besar karena terjadinya kerusakan pada
dinding

pembuluh

darah

sehingga

memudahkan

terjadinya

penyumbatan/perdarahan otak. Sebanyak 70% dari orang yang terserang stroke


mempunyai tekanan darah tinggi (Auryn, 2009).
ii. Diabetes Melitus
Diabetes melitus merupakan faktor risiko untuk stroke, namun tidak sekuat
hipertensi. Diabetes melitus dapat mempercepat terjadinya aterosklerosis
(pengerasan pembuluh darah) yang lebih berat sehingga berpengaruh terhadap
terjadinya stroke.24 Menurut penelitian Siregar F (2002) di RSUP Haji Adam
Malik Medan dengan desain case control, penderita diabetes melitus mempunyai
risiko terkena stroke dengan OR: 3,39. Artinya risiko terjadinya stroke pada
penderita diabetes mellitus 3,39 kali dibandingkan dengan yang tidak menderita
diabetes mellitus ( Konsensus Nasional Pengelolaan Stroke di Indonesia, 2009;
Nurhidayat, 2008; Shahab, 2002; Sidharta & Mardjono, 2008; Auryn, 2009).

iii. Penyakit Jantung


Penyakit jantung yang paling sering menyebabkan stroke adalah fibrilasi
atrium/atrial fibrillation (AF), karena memudahkan terjadinya penggumpalan
darah di jantung dan dapat lepas hingga menyumbat pembuluh darah di otak. Di
samping itu juga penyakit jantung koroner, kelainan katup jantung, infeksi otot
jantung, pasca operasi jantung juga memperbesar risiko stroke.3 Fibrilasi atrium
yang tidak diobati meningkatkan risiko stroke 4-7 kali ( Auryn, 2009).
iv. Transient Ischemic Attack (TIA)
Sekitar 1 dari seratus orang dewasa akan mengalami paling sedikit 1 kali
serangan iskemik sesaat (TIA) seumur hidup mereka. Jika diobati dengan benar,
sekitar 1/10 dari para pasien ini kemudian akan mengalami stroke dalam 3,5 bulan
setelah serangan pertama, dan sekitar 1/3 akan terkena stroke dalam lima tahun
setelah serangan pertama.12 Risiko TIA untuk terkena stroke 35-60% dalam
waktu lima tahun ( Nurhidayat, 2008; Shahab, 2002; Sidharta & Mardjono, 2008;
Auryn, 2009).

31

v. Obesitas
Obesitas berhubungan erat dengan hipertensi, dislipidemia, dan diabetes
melitus.3 Obesitas meningkatkan risiko stroke sebesar 15%. Obesitas dapat
meningkatkan hipertensi, jantung, diabetes dan aterosklerosis yang semuanya
akan meningkatkan kemungkinan terkena serangan stroke.
vi. Hiperkolesterolemia
Kondisi ini secara langsung dan tidak langsung meningkatkan factor
risiko, tingginya kolesterol dapat merusak dinding pembuluh darah dan juga
menyebabkan penyakit jantung koroner. Kolesterol yang tinggi terutama Low
Density Lipoprotein (LDL) akan membentuk plak di dalam pembuluh darah dan
dapat menyumbat pembuluh darah baik di jantung maupun di otak. Kadar
kolesterol total > 200 mg/dl meningkatkan risiko stroke 9 kali (Criqui & Ringel,
2004; Auryn, 2009).

vii. Merokok
Berdasarkan penelitian Siregar F (2002) di RSUP Haji Adam Malik Medan
dengan desain case control, kebiasaan merokok meningkatkan risiko terkena
stroke sebesar 4 kali. Merokok menyebabkan penyempitan dan pengerasan arteri
di seluruh tubuh (termasuk yang ada di otak dan jantung), sehingga merokok
mendorong terjadinya aterosklerosis, mengurangi aliran darah, dan menyebabkan
darah mudah menggumpal.
viii.Alkohol
Konsumsi alkohol yang berlebihan dapat mengganggu metabolisme tubuh,
sehingga terjadi dislipidemia, diabetes melitus, mempengaruhi berat badan dan
tekanan darah, dapat merusak sel-sel saraf tepi, saraf otak dan lain-lain. Semua ini
mempermudah terjadinya stroke. Konsumsi alkoholberlebihan meningkatkan
risiko terkena stroke 2-3 kali (Siregar, 2002).
ix. Stres
Hampir setiap orang pernah mengalami stres. Stres psiokososial dapat
menyebabkan depresi. Jika depresi berkombinasi dengan faktor risiko lain
(misalnya, aterosklerosis berat, penyakit jantung atau hipertensi) dapat memicu

32

terjadinya stroke. Depresi meningkatkan risiko terkena stroke sebesar 2 kali


(Siregar, 2002).
x. Penyalahgunaan Obat
Pada orang-orang yang menggunakan narkoba terutama jenis suntikan
akan mempermudah terjadinya stroke, akibat dari infeksi dan kerusakan dinding
pembuluh darah otak. Di samping itu, zat narkoba itu sendiri akan mempengaruhi
metabolisme tubuh, sehingga mudah terserang stroke. Hasil pengumpulan data
dari rumah sakit Jakarta tahun 2001 yang menangani narkoba, didapatkan bahwa
lebih dari 50% pengguna narkoba dengan suntikan berisiko terkena stroke
(Siregar, 2002).
f. Pencegahan Stroke
Menurut Konsensus Nasional Pengelolaan Stroke (2009) di Indonesia,
upaya yang dilakukan untuk pencegahan penyakit stroke yaitu:
1. Pencegahan Primordial
Tujuan pencegahan primordial adalah mencegah timbulnya faktor risiko
stroke bagi individu yang belum mempunyai faktor risiko. Pencegahan primordial
dapat dilakukan dengan cara melakukan promosi kesehatan, seperti berkampanye
tentang bahaya rokok terhadap stroke dengan membuat selebaran atau poster yang
dapat menarik perhatian masyarakat (Harsono, 2005).
Selain itu, promosi kesehatan lain yang dapat dilakukan adalah program
pendidikan kesehatan masyarakat, dengan memberikan informasi tentang penyakit
stroke melalui ceramah, media cetak, media elektronik dan billboard (Harsono,
2005).

2. Pencegahan Primer
Tujuan pencegahan primer adalah mengurangi timbulnya faktor risiko
stroke bagi individu yang mempunyai faktor risiko dengan cara melaksanakan
gaya hidup sehat bebas stroke, antara lain:
a. Menghindari: rokok, stress, alkohol, kegemukan, konsumsi garam berlebihan,
obat-obatan golongan amfetamin, kokain dan sejenisnya.
b. Mengurangi: kolesterol dan lemak dalam makanan.

33

c. Mengendalikan: Hipertensi, DM, penyakit jantung (misalnya fibrilasi atrium,


infark miokard akut, penyakit jantung reumatik), dan penyakit vascular
aterosklerotik lainnya.
d. Menganjurkan konsumsi gizi yang seimbang seperti, makan banyak sayuran,
buah-buahan, ikan terutama ikan salem dan tuna, minimalkan junk food dan
beralih pada makanan tradisional yang rendah lemak dan gula, serealia dan susu
rendah lemak serta dianjurkan berolah raga secara teratur (Harsono, 2005).
3. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder ditujukan bagi mereka yang pernah menderita
stroke. Pada tahap ini ditekankan pada pengobatan terhadap penderita stroke agar
stroke tidak berlanjut menjadi kronis. Tindakan yang dilakukan adalah:
a. Obat-obatan, yang digunakan: asetosal (asam asetil salisilat) digunakan sebagai
obat antiagregasi trombosit pilihan pertama dengan dosis berkisar antara 80-320
mg/hari, antikoagulan oral diberikan pada penderita dengan faktor resiko penyakit
jantung (fibrilasi atrium, infark miokard akut, kelainan katup) dan kondisi
koagulopati yang lain.
b. Clopidogrel dengan dosis 1x75 mg. Merupakan pilihan obat antiagregasi
trombosit kedua, diberikan bila pasien tidak tahan atau mempunyai kontra
indikasi terhadap asetosal (aspirin).
c. Modifikasi gaya hidup dan faktor risiko stroke, misalnya mengkonsumsi obat
antihipertensi yang sesuai pada penderita hipertensi, mengkonsumsi obat
hipoglikemik pada penderita diabetes, diet rendah lemak dan mengkonsumsi obat
antidislipidemia

pada

penderita

dislipidemia,

berhenti

merokok,berhenti

mengkonsumsi alkohol, hindari kelebihan berat badan dan kurang gerak (Harsono,
2005).

4. Pencegahan Tertier
Tujuan pencegahan tersier adalah untuk mereka yang telah menderita
stroke agar kelumpuhan yang dialami tidak bertambah berat dan mengurangi
ketergantungan pada orang lain dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari.
Pencegahan tersier dapat dilakukan dalam bentuk rehabilitasi fisik, mental dan
sosial. Rehabilitasi akan diberikan oleh tim yang terdiri dari dokter, perawat, ahli

34

fisioterapi, ahli terapi wicara dan bahasa, ahli okupasional, petugas sosial dan
peran serta keluarga.
a. Rehabilitasi Fisik
Pada rehabilitasi ini, penderita mendapatkan terapi yang dapat membantu
proses pemulihan secara fisik. Adapun terapi yang diberikan yaitu yang pertama
adalah fisioterapi, diberikan untuk mengatasi masalah gerakan dan sensoris
penderita seperti masalah kekuatan otot, duduk, berdiri, berjalan, koordinasi dan
keseimbangan serta mobilitas di tempat tidur. Terapi yang kedua adalah terapi
okupasional (Occupational Therapist atau OT), diberikan untuk melatih
kemampuan penderita dalam melakukan aktivitas sehari-hari seperti mandi,
memakai baju, makan dan buang air. Terapi yang ketiga adalah terapi wicara dan
bahasa, diberikan untuk melatih kemampuan penderita dalam menelan makanan
dan minuman dengan aman serta dapat berkomunikasi dengan orang lain(Widjaja,
2000).

b. Rehabilitasi Mental
Sebagian besar penderita stroke mengalami masalah emosional yang dapat
mempengaruhi mental mereka, misalnya reaksi sedih, mudah tersinggung, tidak
bahagia, murung dan depresi. Masalah emosional yang mereka alami akan
mengakibatkan penderita kehilangan motivasi untuk menjalani proses rehabilitasi.
Oleh sebab itu, penderita perlu mendapatkan terapi mental dengan melakukan
konsultasi dengan psikiater atau ahki psikologi klinis (Widjaja, 2000).

c. Rehabilitasi Sosial
Pada rehabilitasi ini, petugas sosial berperan untuk membantu penderita
stroke

menghadapi

masalah

sosial

seperti,

mengatasi

perubahan

gaya

hidup,hubungan perorangan, pekerjaan, dan aktivitas senggang. Selain itu,


petugas sosial akan memberikan informasi mengenai layanan komunitas lokal dan
badan-badan bantuan sosial(Harsono, 2005).
2.2. Landasan Teori

35

Berdasarkan data penderita stroke yang dirawat oleh Pusat Pengembangan


dan Penanggulangan Stroke Nasional (P3SN) RSUP Bukittinggi pada tahun 2002,
terdapat 501 pasien, yang terdiri dari usia 20-30 tahun sebesar 3,59%, usia 30-50
tahun sebesar 20,76%, usia 51-70 tahun sebesar 52,69% dan usia 71-90 tahun
sebesar 22,95%. Menurut American Heart Association, diperkirakan terjadi 3 juta
penderita stroke pertahun, dan 500.000 penderita stroke yang baru terjadi
pertahun.
Menurut WHO (2005), stroke menjadi penyebab kematian dari 5,7 juta
jiwa di seluruh dunia, dan diperkirakan meningkat menjadi 6,5 juta penderita pada
tahun 2015 dan 7,8 juta penderita pada tahun 2030. Berdasarkan Penelitian
Misbach di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo tahun 2000-2003, menunjukkan
bahwa jumlah penderita stroke tahun 2000 sebanyak 641 orang, tahun 2001
sebanyak 722 orang, tahun 2002 sebanyak 706 orang dan tahun 2003 sebanyak
522 orang.
Faktor risiko stroke terdiri dari dua kategori, yaitu: faktor risiko yang tidak
dapat dimodifikasi: usia, jenis kelamin, ras/bangsa dan hereditas dan faktor risiko
yang dapat dirubah: hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, transient
ischemic attack (TIA), obesitas, hiperkolesterolemia, merokok, alkohol, stres, dan
penyalahgunaan obat.

1.3.

Kerangka Teori

Faktor risiko yang tidak dapat


dimodifikasi
usia, jenis kelamin, ras/bangsa
dan hereditas

Stroke

36

faktor risiko yang dapat dirubah


hipertensi,

diabetes

melitus,

penyakit jantung, transient ischemic


attack

(TIA),

obesitas,

hiperkolesterolemia,

merokok,

alkohol, stres, dan penyalahgunaan


obat.

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Rancangan penelitian
Jenis penelitian ini adalah studi epidemiologi deskriptif dengan
menggunakan disain studi case series, yaitu studi yang menggambarkan aspek
orang, tempat, dan waktu pada sekelompok orang yang mendapatkan kasus atau
penyakit. Sebagaimana sesuai dengan tujuan penelitian ini bahwa peneliti hanya

37

ingin melihat gambaran pasien stroke rawat inap di RSUD Sleman Juni
September 2014.
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di RSUD Sleman yang merupakan rumah
sakit milik pemerintah kabupaten Sleman. Penelitian ini akan dilaksanakan selama
bulan RSUD Sleman Juni September 2014.
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian
3.3.1 Populasi Target
Populasi Target pada penelitian ini adalah seluruh pasien stroke serangan
pertama yang menjalani pelayanan rawat inap di RSUD Sleman Juni September
2014.
3.3.2 Sampel
Sampel pada penelitian ini adalah seluruh penderita stroke rawat inap
serangan pertama yang memiliki kriteria inklusi dan memiliki catatan rekam
medik lengkap di RSUD Sleman Juni September 2014.
Metode sampling yang digunakan oleh peneliti adalah total sampling.
Untuk mendapatkan sampel yang dapat mewakilkan populasi, maka dalam
penentuan sampel digunakan rumus Slovin:
Keterangan:
n=

N
1+ N ( d2 )

n = jumlah sampel
N = jumlah populasi
d = derajat kemaknaan (0,05).

Sehingga besar sampel yang dibutuhkan adalah sebagai berikut :


n=

80
1+80 ( 0,05 2)

66

Jadi jumlah minimal responden yang dibutuhkan sebagai sampel pada


penelitian ini adalah sebanyak 66 pasien. Kriteria inklusi adalah pasien stroke
yang terkena serangan stroke pertama dan terdaftar sebagai pasien rawat inap di
RSUD Sleman yang memiliki catatan rekam medik yang lengkap, meliputi :
biodata pasien (nama, umur, jenis kelamin, riwayat penyakit pada keluarga), status
kesehatan pasien (tekanan darah,kadar gula darah, kolesterol total, penyakit
jantung, diabetes melitus,dan jenis stroke), dan status sosial ekonomi (pendidikan,
pekerjaan, dan statuspernikahan).
Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah pasien yang pernah
terdiagnosis

stroke

sebelumnya,

pasien

yang

tidak

memiliki

catatan

lengkapmengenai status kesehatan, dan pasien pindah atau yang tidak menjalani
rawat inap sehingga belum sempat menjalani tes laboratorium.
3.4. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data sekunder yang
diperoleh dari rekam medik pasien stroke serangan pertama yang menjalani
pelayanan rawat inap di RSUD Sleman Juni September 2014.
Pada penelitian ini data dikumpulkan melalui data sekunder yang
diperoleh dari rekam medik pasien dengan diagnosis stroke pada saat pertama kali
masuk ruang rawat inap di RSUD Sleman Juni September 2014.
3.5. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah form pengumpulan
data yang dibuat oleh peneliti dengan menyesuaikan variabel-variabel yang ada
dalam data rekam medik dengan yang ada di definisi operasional dalam penelitian

ini. Mencatat data rekam medik dengan menggunakan form pengumpulan data
yang digunakan pada penelitian ini.
3.6. Definisi Operasional
No
.
1.

Nama Variabel

Definisi
Operasional

Alat
Ukur

Cara ukur

Skala
Ukur

Hasil Ukur

Jenis stroke

Diagnosa tenaga
kesehatan
mengenai
jenis stroke yang
dialami oleh
pasien

Data
rekam
medik
pasien
stroke
yang
menjalani
rawat
inap

Memindahka
n
informasi dari
data
rekam medik
pasien
ke dalam
kuesioner
pengumpulan
data

Nominal

1 = iskemik
2 = hemoragik
(National
Stroke
AssociationUSA
dalam
Soeharto,
2004)

2.

Umur

Lama hidup
responden
dihitung dari
saat lahir
sampai ulang
tahun terakhir
saat pencatatan
di rekam medik

Data
rekam
medik
pasien
stroke
yang
menjalani
rawat
inap

Memindahka
n
informasi dari
data
rekam medik
pasien
ke dalam
kuesioner
pengumpulan
data

Ordinal

1 = < 35

tahun
2 = 35-50
tahun
3 = 51-65
tahun
4 = >65 tahun
(data
histogram
hasil
penelitian)

3.

Jenis kelamin

Jenis kelamin
yang tercatat pada
data
rekam medik
pasien.

Data
rekam
medik
pasien
stroke
yang
menjalani
rawat
inap

Memindahka
n
informasi dari
data
rekam medik
pasien
ke dalam
kuesioner
pengumpulan
data

Nominal

1 = perempuan
2 = laki-laki

4.

Riwayat
penyakit
pada keluarga

Status keluarga
yang pernah
didiagnosis
terkena serangan
stroke, hipertensi,
jantung, dan DM

Data
rekam
medik
pasien
stroke
yang
menjalani
rawat
inap

Memindahka
n
informasi dari
data
rekam medik
pasien
ke dalam
kuesioner
pengumpulan

Ordinal

1 = tidak ada
2 = ada

data
5.

Tekanan darah
Sistolik

Ukuran tekanan
dar ah pasien
sistolik yang
tercatat
di rekam medik
pasien saat
pertama kali
datang

Data
rekam
medik
pasien
stroke
yang
menjalani
rawat
inap

Memindahka
n
informasi dari
data
rekam medik
pasien
ke dalam
kuesioner
pengumpulan
data

Ordinal

1 = Normal

(sistolik <
120)
2 = PreHipertensi
(sistolik 120
139
mmHg)
3=

Hipertensi
Stage 1
(sistolik
140 159
mmHg)
4=

Hipertensi
Stage 2
(sistolik
> 160)
6.

Tekanan darah
Diastolik

Ukuran tekanan
darah pasien
Diastolik yang
tercatat
di rekam medik
pasien saat
pertama kali
datang

Data
rekam
medik
pasien
stroke
yang
menjalani
rawat
inap

Memindahka
n
informasi dari
data
rekam medik
pasien
ke dalam
kuesioner
pengumpulan
data

Ordinal

1 = Normal

(diastolik <
80 mmHg)
2 = PreHipertensi (
diastolik 80 89
mmHg)
3=

Hipertensi
Stage 1 (
diastolik 90 99 mmHg)
4=

Hipertensi
Stage 2
(diastolik >
100
mmHg)
7.

Kadar gula
darah

Kadar gula darah


sewaktu dan 2
jam PP
pada pasien
stroke yang

Data
rekam
medik
pasien
stroke

Memindahka
n
informasi dari
data
rekam medik

Ordinal

1 = < 100
mg/dl
2 = 100-199
mg/dl
3 = 200-299

terdapat dalam
hasil
laboratorium
rekam medik
pasien

yang
menjalani
rawat
inap

pasien
ke dalam
kuesioner
pengumpulan
data

mg/dl
4 = > 300
mg/dl
(data
histogram
hasil
penelitian)

8.

Kolesterol total

Kadar kolesterol
total dalam darah
pasien stroke
yang dicatat pada
rekam
medik

Data
rekam
medik
pasien
stroke
yang
menjalani
rawat
inap

Memindahka
n
informasi dari
data
rekam medik
pasien
ke dalam
kuesioner
pengumpulan
data

Ordinal

1 = rendah (<
200)
2 = sedang
(200-239)
3 = tinggi
(>240)
(ATP III dalam
Iskandar,
2004)

9.

Lama
Perawatan

Lama hari
perawatan yang
mengharuskan
pasien di rawat
inap di
RS. Lama
perawatan =
tanggal keluar
pasien dikurangi
tanggal masuk

Data
rekam
medik
pasien
stroke
yang
menjalani
rawat
inap

Memindahka
n
informasi dari
data
rekam medik
pasien
ke dalam
kuesioner

Ordinal

1 = < 5 hari
1 = 5-10 hari
2 = 11-16 hari
3 = 17-21 hari
4 = > 21 hari
(data
histogram
hasil
penelitian)

10.

Riwayat
penyakit
jantung

Status pernah
didiagnosa oleh
dokter bahwa
pasien memiliki
penyakit jantung

Data
rekam
medik
pasien
stroke
yang
menjalani
rawat

Memindahka
n
informasi dari
data
rekam medik
pasien
ke dalam
kuesioner
pengumpulan
data

Ordinal

1 = tidak ada
2 = ada

11.

DM

Status pernah
didiagnosa oleh
tenaga
kesehatan bahwa
pasien memiliki
penyakit diabetes
melitus

Data
rekam
medik
pasien
stroke
yang
menjalani
rawat

Memindahka
n
informasi dari
data
rekam medik
pasien
ke dalam
kuesioner

Ordinal

1 = tidak ada
2 = ada

inap
12.

Pendidikan

Tingkat
pendidikan
terakhir pasien
stroke

Data
rekam
medik
pasien
stroke
yang
menjalani
rawat
inap

Memindahka
n
informasi dari
data
rekam medik
pasien
ke dalam
kuesioner
pengumpulan
data

Ordinal

1 = tidak
sekolah
2 = tidak tamat
SD
3 = tamat SD
4 = tamat SMP
5 = SMA
6 = perguruan
tinggi/
diploma
(Rekam Medik
RSKM)

13.

Pekerjaan

Pekerjaan pasien
stroke yang
tercatat
dalam rekam
medik pasien

Data
rekam
medik
pasien
stroke
yang
menjalani
rawat
inap

Memindahka
n
informasi dari
data
rekam medik
pasien
ke dalam
kuesioner

Ordinal

1 = bekerja
1 = tidak
bekerja/
pensiun

14

Status
pernikahan

Status pernikahan
pasien

Data
rekam
medik
pasien
stroke
yang
menjalani
rawat

Memindahka
n
informasi dari
data
rekam medik
pasien inap ke
dalam
kuesioner
(Rekam
Medik
RSKM)

Ordinal

1 = menikah
2 = belum
menikah
3 = bercerai
hidup atau
meninggal

15.

Status
kepulangan/
keluaran

Status pasien
stroke saat keluar
RS

Data
rekam
medik
pasien
stroke
yang
di rawat
inap

Memindahka
n
informasi ke
dalam
kuesioner

Ordinal

1 = Sembuh
2 = meninggal
3= Cacat

16.

Hasil CT Scan

Hasil Pembacaan
CT oleh dokter
radiologi yang

Data
rekam
medik

Memindahka
n
informasi ke

Open
data

Deskriptif

15

tercatat
di rekam medik
pasien saat
pertama kali
datang

pasien
stroke
yang
di rawat
inap

dalam
kuesioner

Hemiparesis

Kelumpuhan

Data

Memindahka

kontralateral

pada sisi tubuh

rekam

yang

medik
pasien

n
informasi dari

berlawanan

stroke

Ordinal

1 = tidak ada
2 = ada

Ordinal

1 = tidak ada
2 = ada

Memindahka
n
informasi ke
dalam
kuesioner

Numerik

Angka

Ordinal

1 = tidak ada
2 = ada

data
rekam medik

pasien
yang
ke dalam
menjalani
kuesioner
rawat
pengumpulan
inap
data
16

pada Data

Gejala-gejala

gemetar

sereblum

tangan (tremor), rekam


kepala berputar medik
(vertigo).

pasien
stroke

Memindahka
n
informasi dari
data
rekam medik

pasien
yang
ke dalam
menjalani
kuesioner
rawat
pengumpulan
inap
data
17.

Lama Rawat
inap

Lama rawat inap


dalam hari
dihitung sejak
pertama kali
masuk RS

Data
rekam
medik
pasien
stroke
yang
di rawat
inap

17

Disfagia

Ketidakmampua Data

Memindahka

n untuk menelan rekam

n
informasi dari

medik
pasien
stroke
yang

data
rekam medik
pasien
ke dalam

menjalani kuesioner
pengumpulan
rawat
inap
data
18

Disatria

Data

Gangguan

pada rekam

motoris
lidah,

mulut, medik

rahang dan pita

pasien
stroke

Memindahka

Ordinal

1 = tidak ada
2 = ada

Ordinal

1 = tidak ada
2 = ada

n
informasi dari
data
rekam medik

pasien
sehingga yang
ke dalam
pasien
sulit menjalani

suara

rawat
inap

bicara

kuesioner
pengumpulan
data

19

Gangguan

penglihatan

Data

Memindahka

penglihatan

ganda

rekam

(diplopia),

medik
pasien

n
informasi dari

gerakan
arahbola
yang

stroke

pasien
mata yang
ke dalam
tidak menjalani

dikehendaki
(nistagmus),
penurunan
kelopak

mata

(ptosis),
kurangnya daya
gerak

data
rekam medik

mata,

kebutaan
setengah lapang
pandang

pada

belahan

kanan

atau kiri kedua


mata
(hemianopia

rawat
inap

kuesioner
pengumpulan
data

20

Aphasia

homonym).
hilangnya

Data

Memindahka

kemampuan

rekam

dalam

medik
pasien

n
informasi dari

berbahasa.

stroke

data
rekam medik

pasien
Aphasia dibagi yang
ke dalam
dua
yaitu, menjalani
rawat
inap

Aphasia
motorik adalah
ketidakmampua
n

untuk

berbicara,
mengeluarkan
isi

pikiran

melalui
perkataannya
sendiri,
sementara
kemampuannya
untuk mengerti
bicara

orang

lain tetap baik.


Aphasia
sensorik adalah
ketidakmampua
n

untuk

mengerti
pembicaraan
orang
namun
mampu

lain,
masih

kuesioner
pengumpulan
data

Ordinal

1 = tidak ada
2 = ada

mengeluarkan
perkataan
dengan

lancar,

walau sebagian
diantaranya
tidak

memiliki

arti, tergantung
dari
21

Alexia

luasnya

kerusakan otak.
hilangnya

Data

Memindahka

kemampuan

rekam

membaca

medik
pasien

n
informasi dari

karena

22

Agraphia

stroke

pasien
yang
ke dalam
menjalani
kuesioner
rawat
pengumpulan
inap
data

hilangnya

Data

Memindahka

kemampuan

rekam

n
informasi dari

akibat medik

pasien

adanya

23

Acalculia

stroke

pasien
yang
ke dalam
menjalani
kuesioner
rawat
pengumpulan
inap
data

hilangnya

Data

Memindahka

kemampuan

rekam

n
informasi dari

dan medik

mengenal angka
setelah
terjadinya

pasien
stroke

Ordinal

1 = tidak ada
2 = ada

Ordinal

1 = tidak ada
2 = ada

data
rekam medik

kerusakan otak.

berhitung

1 = tidak ada
2 = ada

data
rekam medik

kerusakan otak.

menulis

Ordinal

data
rekam medik

pasien
yang
ke dalam
menjalani

kerusakan otak.

rawat
inap

kuesioner
pengumpulan
data

3.7. Pengolahan Data


Data diolah dengan menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menarik
kesimpulan setelah dianalisis. Tahapan pengolahan data yang akan dilakukan
adalah sebagai berikut :
1. Memberikan kode pada data (coding), yaitu mengklasifikasikan data dan
memberi

kode

pada

masing-masing

data

agar

memudahkan

peneliti

dalammemasukkan data ke program komputer.


2. Menyusun data (Editing), yaitu menyeleksi data yang salah atau diragukan
dalam pengumpulan data di lapangan agar dapat ditelusuri kembali.
3. Struktur data (data structure), yaitu penyusunan data sesuai dengan analisis
yang akan dilakukan dan jenis perangkat lunak yang akan digunakan.
3. Memasukkan data (data entry), yaitu memasukkan data secara komputerisasike
dalam program SPSS for Windows versi 20.0.
5. Membersihkan data (data cleaning), yaitu menjaga kualitas data dengan
carapembersihan data dari kesalahan yang mungkin terjadi. Data cleaning
dilakukan dengan metode pencarian data yang missing.
3.8. Rencana Teknik Analisis Data
Analisis data dilakukan secara univariat untuk mengatahui gambaran
faktor risiko yang dimiliki oleh para pasien stroke rawat inap di RSUD Sleman
Juni September 2014. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini
semuanyabersifat kategorik, maka hasil penelitian akan disajikan dalam bentuk
proporsi. Penyajian hasil ditunjang dengan bantuan tabel dan diagram, agar
memudahkan dalam membaca hasil.
3.9. Etika Penelitian
Peneliti dalam merekrut data partisipan terlebih dahulu memberikan
Informed Consent, yaitu mengurus surat ijin penelitian. Selama dan sesudah
penelitian privacy partisipan tetap dijaga, semua partisipan diperlakukan sama,

nama partisipan diganti dengan nomor (anonimity), peneliti menjaga kerahasiaan


informasi yang diberikan dan hanya digunakan untuk kegiatan penelitian serta
tidak akan dipublikasikan tanpa izin partisipan.
Tabel 1. Jadwal Penelitian
No.
1.
2.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Jadwal

tahun 2015

Penyusunan Proposal
Bimbingan Proposal
Pengajuan Proposal
Seminar Proposal
Pelaksanaan Penelitian
Penyusunan Laporan Hasil
Bimbingan Laporan Hasil
Seminar Laporan Hasil

4
V

V
V
V
V
V
V
V

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.

Hasil Penelitian

Dari penelitian yang dilakukan di RSUD sleman pada tanggal 17 sampai


20 Juli 2015 didapatkan populasi sejumlah 68 pasien stroke dari bulan juli
september 2014. Dari data yang didapat diperoleh gambaran umum karakteristik
subjek yang dominan antara lain; 75 % pasien stroke iskemik atau non hemoragik,
25 % pasien stroke hemoragik.

Tabel 4.1. Karakteristik Subjek Penelitian


No.
1.

2.

3.
4.
5.

6.

7.

8.

9.
10.
11.

Karakteristik Subjek
Jenis Stroke
Stroke Iskemik
Stroke Hemoragik
Umur
< 35 tahun
35-50 tahun
52-65 tahun
> 65 tahun
Jenis kelamin
Perempuan
Laki-laki
Riwayat Penyakit Keluarga
Ada
tidak ada
Tekanan Darah Sistolik
Normal
Prehipertensi
HT Grade I
HT Grade II
Tekanan Darah Diastolik
Normal
Prehipertensi
HT Grade I
HT Grade II
Kadar Gula Darah Sewaktu
< 100 mg/dl
100-199 mg/dl
200-299 mg/dl
> 300 mg/dl
Kadar Kolesterol Total
rendah < 200
sedang 200-239
tinggi > 240
Riwayat Jantung
tidak ada
Ada
DM
Tidak Ada
Ada
Pendidikan
Tidak Sekolah

Jumlah
(n=68)

51
17

75,0 %
25,0 %

1
27
11
29

1,5 %
39,7 %
16,2 %
42,6 %

30
38

44,1 %
55,9 %

36
32

52,9 %
47,1 %

2
11
11
44

2,9 %
16,2 %
16,2 %
64,7 %

14
7
19
28

20,6
10,3
27,9
41,2

3
36
21
8

4,4 %
52,9 %
30,9 %
11,8 %

52
9
7

76,5 %
13,2 %
10,3 %

63
5

92,6 %
7,4 %

59
9

86,8 %
13,2 %

35

51,5 %

%
%
%
%

12.
13.

14.

15.

16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.

Tidak Tamat
Tamat SD
Tamat SMP
Tamat Tamat SMA
PT/Diploma
Pekerjaan
Bekerja
tidak bekerja
Status Pernikahan
Menikah
belum menikah
bercerai hidup/meninggal
Pendidikan
Tidak Sekolah
Tidak Tamat
Tamat SD
Tamat SMP
Tamat Tamat SMA
PT/Diploma
Keluaran
Sembuh
Meninggal
Cacat
Gejala Serebelum
Tidak Ada
Ada
Disfagia
Tidak Ada
Ada
Disartria
Tidak Ada
Ada
Gangguan Penglihatan
Tidak Ada
Ada
Aphasia
Tidak Ada
Ada
Alexia
Tidak Ada
Ada
Agrapia
Tidak Ada
Ada

1
15
4
11
2

1,5
22,1
5,9
16,2
2,9

%
%
%
%
%

27
41

39,7 %
60,3 %

64
1
3

94,1 %
1,5 %
4,4 %

35
1
15
4
11
2

51,5
1,5
22,1
5,9
16,2
2,9

7
28
33

10,3 %
41,2 %
48,5 %

42
26

61,8 %
38,2 %

40
28

58,8 %
41,2 %

30
38

44,1 %
55,9 %

64
4

94,1 %
5,9 %

29
39

42,6 %
57,4 %

61
7

89,7 %
10,3 %

45
23

66,2 %
33,8 %

%
%
%
%
%
%

23.
24.
23.

Acalculia
Tidak Ada
Ada
Riwayat Merokok
Tidak Ada
Ada
TIA
Tidak Ada
Ada
Jumlah total

55
13

80,9 %
19,1 %

35
33

51,5 %
48,5 %

56
12
68

82,4 %
17,6 %
100 %

Pada tabel 4.1. didapatkan sebanyak 42,6 % dari 68 pasien berumur diatas
65 tahun. Sebagian besar subjek yang dianalasis pada penelitian ini berjenis
kelamin laki-laki (55,9%). Subjek penelitian dengan hipertensi tingkat kedua
adalah 44 dari 68 pasien( 64,7 %).
Diagram 2. Distribusi subjek berdasarkan jenis stroke pada pasien stroke RSUD
Sleman Juni-September 2014

Iskemik
Hemoragik

Tabel 4.2. Distribusi subjek berdasarkan jenis kelamin pada pasien stroke
RSUD Sleman Juni-September 2014
Subjek

Jenis kelamin

Perempuan

30 (44,1 %)

Laki-laki

38 (55,9 %)

Total

68 (100%)

Tabel 4.2. Distribusi subjek berdasarkan hasil CT Scan pada pasien stroke
RSUD Sleman Juni-September 2014

4.2.

Pembahasan

Menurut penelitian Tsong Hai Lee di Taiwan pada tahun 1997-2001,


terdapat 264 orang penderita stroke iskemik pada usia 18-45 tahun, yang
disebabkan oleh kelebihan lemak, merokok, hipertensi dan riwayat stroke.
Berdasarkan data penderita stroke yang dirawat oleh Pusat Pengembangan dan
Penanggulangan Stroke Nasional (P3SN) RSUP Bukittinggi pada tahun 2002,
terdapat 501 pasien, yang terdiri dari usia 20-30 tahun sebesar 3,59%, usia 30-50
tahun sebesar 20,76%, usia 51-70 tahun sebesar 52,69% dan usia 71-90 tahun
sebesar 22,95% (Harsono (Ed.), 2005; Immamura et al, 2008; Konsensus Nasional
Pengelolaan Stroke di Indonesia, 2009; Auryn, 2009)

Proporsi pasien stroke pada penelitian ini mengambarkan bahwa pasien


stroke iskemik lebih banyak dibandingkan dengan pasien stroke hemoragik. Dari
68 pasien stroke rawat inap didapatkan jumlah pasien stroke iskemik sebanyak 51
pasien (75%), sedangkan stroke hemoragik sebanyak 17 pasien (15%). Hasil ini
sejalan dengan berbagai penelitian tentang stroke lainnya, yaitu jumlah pasien

stroke iskemik atau non-hemoragik lebih banyak dibandingkan stroke hemoragik.


Penelitian Sulastriyani pada tahun 2003 di ruang rawat inap neurologi IRNA B
Perjan RSCM. Proporsi penderita stroke iskemik 367 orang (67%) lebih banyak
dibandingkan dengan stroke hemoragik sebanyak 185 orang (33%) (Sulastriyani,
2004). Pada penelitian

Mailisafitri di Rumah Sakit Stroke Nasional (RSSN)

Bukittinggi tahun 2010 didapatkan proporsi stroke iskemik atau non-hemoragik


yang lebih besar dibandingkan dengan stroke hemoragik. Sebanyak 239 orang
(36%) merupakan pasien stroke hemoragik, sedangkan 416 orang (64%)
merupakan pasien stroke non-hemoragik (Mailisafitri, 2011). Kejadian stroke
iskemik memang lebih sering dialami dibandingkan dengan stroke hemoragik.
Banyak kelainan yang dapat mendukung terjadinya stroke iskemik, akan tetapi
proses aterosklerosis merupakan penyebab utama pada golongan umur dewasa
yang lebih tua. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa penyebab tersering pada
stroke adalah embolime dan yang kedua adalah aterosklerosis (Wahjoepramono,
2004).
Pada penelitian ini lama perawatan pasien stroke diukur dalam jumlah
hari, sejak pasien mulai terdaftar sebagai pasien rawat inap. Lama hari perawatan
didapatkan dari tanggal keluar rumah sakit dikurangi dengan tanggal masuk
rumah sakit. Rata-rata lama rawat inap pasien stroke adalah 6,9 atau 7 hari
dengan standar deviasi 3. Lama rawat inap paling lama adalah 15 hari. Lama hari
rawat di RSUD Sleman termasuk singkat bila dibandingkan dengan penelitian
lain. Penelitian di RS Dr. Kariadi Semarang didapatkan sebagian besar pasien
stroke menjalani perawatan selama 8-28 hari sebanyak 135 pasien (71%) (Thaib,
2008).
Pada hasil penelitian ini diketahui bahwa proporsi pasien stroke serangan
pertama yang pulang dalam kedaan hidup lebih besar dibandingkan dengan
proporsi pasien stroke yang pulang dalam keadaan meninggal. Dari 68 pasien
stroke rawat inap di RSUD Sleman, sebanyak 28 pasien (41,2%) yang pulang
dalam keadaan meninggal, dan 33 pasien ( 48,5 % ) pulang dalam keadaan cacat
dan hanya 7 pasien (10,3%) pulang dalam keadaan sembuh. Hasil penelitian lain
juga menunjukkan hal serupa bahwa proporsi pasien stroke yang pulang dalam

keadaan hidup memang masih lebih besar dibandingkan dengan pasien stroke
yang meninggal. Pasien stroke yang meninggal lebih banyak terjadi pada usia >
65 tahun dan berjenis kelamin laki-laki (Mailisafitri, 2011).
Pasien stroke rawat inap di RSUD Sleman lebih banyak berada di kategori
umur > 65 tahun. Hal ini memberikan gambaran bahwa pola penyakit stroke
pertama kali cenderung terjadi pada golongan umur yang lebih tua. Berbagai
penelitian lain juga menyatakan bahwa distribusi penderita menurut kelompok
umur sebanyak 529 orang (85,3%) ditemukan pada penderita lebih dari 40 tahun
dan paling banyak berada pada golongan umur 50-59 tahun, yaitu sebanyak 192
orang 31%. Penderita stroke paling banyak berusia > 59 tahun. Rata-rata umur
penderita stroke hemoragik adalah 54,44 + 11,22 tahun, sedangkan pada stroke
iskemik rata-rata umur penderita adalah 59,05 + 11,65 tahun, dengan umur
termuda 23 tahun dan tertua 80 tahun (Yanis, 2004).
Pada dasarnya stroke dapat terjadi pada usia berapa saja bahkan pada usia
muda sekalipun bila dilihat dari berbagai kelainan yang menjadi pencetus
serangan stroke, seperti aneurisma intrakranial, malformasi vaskular otak,
kelainan jantung bawaan, dan lainnya (Wahjoepramono, 2005). Akan tetapi pola
penyakit stroke yang cenderung terjadi pada golongan umur lebih tua memang
sering ditemui di banyak wilayah. Hal ini disebabkan oleh stroke merupakan
penyakit yang terjadi akibat gangguan aliran pada pembuluh darah. Seperti kita
ketahui, pembuluh darah orang yang lebih tua cenderung mengalami perubahan
secara degeneratif dan mulai terlihat hasil dari proses aterosklerosis. Cepat atau
lambatnya proses aterosklerosis yang dapat menjadi pencetus stroke tergantung
dari gaya hidup sehat dan perilaku makan.
Pada penelitian ini dapat dilihat bahwa pasien stroke lebih banyak berjenis
kelamin laki-laki. Dari 68 pasien stroke rawat inap di RSUD Sleman, sebanyak
38 pasien (55,9%) berjenis kelamin laki-laki dan 30 pasien (44,1%) berjenis
kelamin perempuan. Dari 38 pasien laki-laki didapatkan sebanyak 33 pasien
(87%) menderita stroke iskemik dan sisanya 5 pasien (13%) menderita stroke
hemoragik. Sedangkan dari 30 pasien stroke perempuan, sebanyak 18 pasien
(60%) menderita stroke iskemik dan sisanya 12 pasien (40%) menderita stroke

hemoragik. Akan tetapi, pada penelitian lain didapatkan bahwa penderita stroke
laki-laki 27 orang (40,9%) lebih sedikit dibandingkan dengan penderita stroke
perempuan, yaitu sebanyak 39 orang (59,1%) (Yanis, 2004). Hal ini menunjukkan
bahwa tidak terlihat perbedaan proporsi yang berarti antara penderita laki-laki
dengan perempuan. Pada hasil penelitian ini didapatkan bahwa proporsi stroke
hemoragik memang lebih kecil dibandingkan dengan stroke iskemik baik pada
laki-laki maupun perempuan. Pada penelitian ini terlihat bahwa kejadian stroke
lebih banyak dialami oleh laki-laki dibandingkan perempuan. Hal ini disebabkan
karena perempuan lebih terlindungi dari penyakit jantung dan stroke sampai umur
pertengahan hidupnya akibat hormon estrogen yang dimilikinya. Akan tetapi,
setelah mengalami menopouse risiko perempuan sama dengan laki-laki untuk
terkena serangan stroke dan penyakit jantung. Banyak wanita menopouse di
Kanada meninggal akibat serangan stroke dan penyakit jantung pada setiap
tahunnya dibandingkan dengan penyakit kanker (Heart And Stroke Foundation,
2010).
Pengertian riwayat penyakit keluarga dalam penelitian ini adalah latar
belakang penyakit stroke atau penyakit lainnya yang merupakan faktor risiko
untuk terjadinya stroke (hipertensi, DM, dan jantung) yang pernah dialami oleh
keluarga penderita stroke. Apakah keluarga penderita stroke ada yang pernah
memiliki riwayat penyakit tersebut atau tidak. Dari 68 pasien stroke rawat inap
dalam penelitian ini, didapatkan bahwa sebanyak 36 pasien (52,9%) memiliki
riwayat penyakit keluarga, sedangkan 32 pasien (47,1%) memiliki riwayat
penyakit keluarga. Berbeda dengan penelitian ini, pada penelitian di RSCM
Jakarta tahun 1997 diketahui bahwa riwayat penyakit keluarga (hipertensi, DM,
dan jantung) pada pasien stroke sebesar 20,5%. Jumlahnya memang lebih sedikit
dibandingkan dengan pasien yang tidak memiliki riwayat penyakit keluarga. Hal
ini menunjukkan bahwa proporsi pasien stroke yang tidak memiliki riwayat
penyakit pada keluarga mereka masih lebih banyak dibandingkan dengan pasien
stroke yang memiliki riwayat penyakit keluarga, artinya sebagian besar pasien
mendapatkan serangan stroke pertama kali bukan karena memiliki riwayat
penyakit keluarga.

Hipertensi merupakan faktor risiko utama dari penyakit stroke, baik


tekanan sistolik maupun tekanan diastoliknya yang tinggi (Lumbantobing, 1994).
Dalam penelitian Framingham didapatkan hasil bahwa kejadian stroke lebih tinggi
pada orang yang hipertensi berat (tekanan darah lebih tinggi dari 160/95 mm Hg)
dibandingkan dengan orang yang normotensi (tekanan darah kurang dari 140/90
mm Hg). Semakini tinggi tekanan darah seseorang, maka semakin besar risiko
untuk terkena stroke (Pearson, 1994). Hal ini juga terlihat dalam hasil penelitian
ini dimana sebagian besar pasien stroke rawat inap di RSUD Sleman memiliki
tekanan darah yang tergolong dalam kriteria hipertensi stage 2, yaitu sebanyak 28
pasien (41,2%). Lalu diikuti dengan golongan hipertensi stage 1 sebanyak 19
pasien (26%), golongan tekanan darah pre-hipertensi dan normal yang masingmasing sebanyak 14 pasien (1,6%) dan 7 pasien (10,3%). Dari hasil penelitian ini
menunujukkan bahwa proporsi kejadian stroke lebih banyak pada orang yang
memiliki tekanan darah tinggi, terutama pada golongan hipertensi stage 2 dimana
tekanan sistolik > 160 mg/dl dan diastolik > 100 mg/dl. Pada hasil penelitian ini
juga didapatkan proporsi pasien stroke berjenis kelamin laki-laki maupun
perempuan lebih banyak yang memiliki tekanan darah golongan hipertensi stage
2. Proporsi pasien stroke pada umur diatas 35 tahun lebih banyak yang memiliki
tekanan darah golongan hipertensi stage 2, sedangkan pada umur dibawah 35
tahun lebih banyak yang memiliki tekanan darah normal. Proporsi pasien stroke
dengan tingkat pendidikan rendah dan menengah lebih banyak memiliki tekanan
darah golongan hipertensi stage 2. Akan tetapi, pada pasien stroke dengan tingkat
pendidikan tinggi, distribusi tekanan darah hampir sama pada semua golongan
tekanan darah. Proporsi pasien stroke yang bekerja maupun tidak bekerja juga
lebih banyak memiliki tekanan darah golongan hipertensi stage 2. Proporsi pasien
stroke yang telah menikah maupun yang belum menikah juga lebih banyak
memiliki tekanan darah golongan hipertensi stage 2, sedangkan pada pasien yang
bercerai lebih banyak memiliki tekanan darah golongan hipertensi stage 1.
Keterangan tabel dapat dilihat di lampiran output data penelitian.
Pemeriksaan kadar gula darah merupakan pemeriksaan yang perlu
dilakukan, karena gangguang neurologis dapat pula menjadi manifestasi dari

hipoglikemia atau hiperglikemia (Wahjoepramono, 2005). Hiperglikemia dapat


terjadi baik pada penderita stroke yang memiliki riwayat DM maupun yang tidak.
Dalam penelitian ini, nilai kadar gula darah yang diambil sebagai variabel
penelitian adalah nilai kadar gula darah sewaktu. Hasil penelitian berdasarkan
kadar gula darah sewaktu, didapatkan masing-masing proporsi pasien stroke yang
terbanyak memiliki nilai kadar gula darah sebesar 100-199 mg/dl. Seseorang
dikatakan DM jika kadar gula darah sewaktu atau 2 jam PP memiliki nilai lebih
dari 200 mg/dl (Depkes,2008).
Kadar kolesterol total yang tinggi dalam darah (hiperkolesterolemia) selalu
dikaitkan dengan timbulnya aterosklerosis. Aterosklerosis tidak timbul secara
spontan, tetapi proses ini mulai terjadi sejak masa anak-anak. Garis-garis lemak
dapat timbul pada dinding-dinding arteri sejak beberapa tahun pertama kehidupan
dan terus berlangsung sampai plak tersebut semakin besar hingga menginvasi
saluran arteri dan menghambat suplai darah (Hull, 2003). Oleh karena itu, jika
kadar kolesterol dalam darah meningkat maka risiko untuk aterosklerosis akan
meningkat juga. Penelitian menunjukkan angka stroke yang meningkat pada
pasien dengan kadar kolesterol total diatas 240 mg%. Setiap kenaikan 38,7 mg%
dapat meningkatkan angka stroke sebesar 25%. Kadar kolesterol total > 200 mg/dl
dapat meningkatkan risiko stroke 1,31-2,9 kali (Bethesda, 2007). Walaupun secara
teoritis, kadar kolesterol yang tinggi dalam darah dapat meningkatkan risiko untuk
terkena serangan stroke. Akan tetapi, menurut hasil penelitian ini diketahui bahwa
dari 68 pasien stroke rawat inap di RSUD Sleman, sebanyak 52 pasien (76,5%)
memiliki kadar kolesterol total yang rendah(<200 mg%). Sedangkan sebanyak 9
pasien (13,2%) memiliki kadar kolesterol total yang sedang(200-239 mg%), dan 7
pasien (10,3%) memiliki kadar kolesterol total yang tinggi ( >240mg%). Dari
hasil penelitian tersebut diketahui bahwa pasien stroke rawat inap lebih banyak
memiliki kadar kolesterol total dalam darahnya < 200 mg/dl atau termasuk dalam
kategori rendah. Pada pasien perempuan maupun laki-laki lebih banyak yang
memiliki nilai kolesterol total rendah (< 200 mg/dl). Hasil penelitian pada
Framingham Study juga menyebutkan bahwa tidak ada hubungan antara
kolesterol total dengan kejadian stroke baik pada laki-laki dan wanita (Pearson,

2004). Hal ini mungkin disebabkan oleh kadar kolesterol total dalam darah yang
tinggi merupakan salah satu faktor risiko yang lemah untuk memicu terjadinya
stroke (Lumbantobing, 204).
Pada hasil penelitian ini didapatkan bahwa dari 68 pasien stroke rawat inap
di RSUD Sleman , sebanyak 63 pasien (84%) tidak memiliki riwayat penyakit
jantung dan sebanyak 5 pasien (7,4%) memiliki riwayat penyakit jantung. Hal ini
menunjukkan bahwa proporsi pasien stroke dengan penyakit jantung lebih sedikit
dibandingkan dengan pasien stroke yang tidak memiliki penyakit jantung. Dari
552 penderita stroke yang dirawat di RSCM tahun 2003, didapatkan bahwa
penderita stroke dengan riwayat penyakit jantung sebanyak 126 orang (22,8%),
sedangkan yang tidak memiliki riwayat penyakit jantung sebanyak 393 orang
(71,2%) dan sisanya tidak tercatat (Sulastriyani, 2004). Dari 652 penderita stroke
di RSSN Bukittinggi tahun 2010, hanya 62 orang (9,5%) merupakan pasien stroke
dengan riwayat penyakit jantung (Mailisafitri, 2011). Beberapa jenis penyakit
jantung diketahui dapat meningkatkan risiko terkena stroke. Gagal jantung
kongestif dan penyakit jantung koroner mempunyai peranan penting dan
berhubungan secara langsung untuk mendukung terjadinya
stroke (Lumbantobing, 2004). Penyaki jantung merupakan faktor risiko stroke,
terutama pada stroke iskemik (Soeharto, 2004). Akan tetapi, banyak penelitian di
rumah sakit yang menunjukkan bahwa proporsi pasien stroke dengan penyakit
jantung lebih kecil dibandingkan dengan pasien stroke tanpa penyakit jantung. Hal
ini menunjukkan bahwa proporsi orang yang terkena serangan stroke akibat
penyakit jantung tidak banyak, artinya sebagian besar pasien mendapatkan
serangan stroke pertama kali bukan karena memiliki penyakit jantung.
Pada hasil penelitian ini didapatkan bahwa dari 68 pasien stroke rawat inap
di RSUD Sleman, sebanyak 59 pasien (86,8%) tidak memiliki riwayat penyakit
DM dan sebanyak 39 pasien (26%) memiliki riwayat penyakit DM. Pada
penelitian lain juga didapatkan hasil serupa, dimana proporsi penderita stroke
dengan DM lebih sedikit dibandingkan penderita stroke tanpa DM. Dari 552
penderita stroke yang dirawat di RSCM tahun 2003, didapatkan bahwa penderita
stroke dengan riwayat penyakit DM sebanyak 56 orang (10,1%), sedangkan

sebanyak 479 orang (85,9%) pasien stroke tidak memiliki riwayat penyakit DM
dan selebihnya tidak tercatat (Sulastriyani, 2004). Penderita stroke yang memiliki
penyakit DM sebanyak 87 orang (15,8%), sedangkan sebanyak 429 orang (77,7%)
pasien stroke tidak memiliki penyakit DM dan selebihnya tidak tercatat
(Sulastriyani, 2004). Dari 655 penderita stroke di RSSN Bukittinggi tahun 2010,
sebanyak 112 orang (17,1%) merupakan pasien stroke dengan DM (Mailisafitri,
2011).
Diabetes dapat meningkatkan risiko 2-4 kali lebih tinggi untuk terkena
stroke dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki penyakit diabetes melitus.
Pada penelitian kohort terhadap wanita berusia 30-55 tahun yang menderita DM
tipe 1 atau 2, dijumpai peningkatan risiko untuk terserang stroke iskemik. Akan
tetapi, bagi penderita DM tipe 1 lebih berisiko untuk menderita stroke hemoragik
(Tarigan, 2011). Diabetes melitus merupakan keadaan hiperglikemia yang kronis,
disebabkan oleh berbagai faktor lingkungan dan faktor genetik. Dari berbagai
penelitian ditemukan bahwa orang dengan DM memiliki risiko untuk menderita
stroke lebih besar dibandingkan orang yang tidak memiliki riwayat DM, karena
dapat memicu terjadinya aterosklerosis lebih cepat dibandingkan dengan orang
yang tidak menderita DM (Pearson, 2004). Akan tetapi, pada penelitian ini
menunjukkan bahwa proporsi pasien stroke dengan DM lebih kecil dibandingkan
pasien stroke tanpa DM. Hal ini menunjukkan bahwa proporsi orang yang terkena
serangan stroke akibat penyakit DM tidak banyak, artinya sebagian besar pasien
mendapatkan serangan stroke pertama kali bukan karena memiliki penyakit DM.
Berdasarkan tingkat pendidikan dari 68 pasien stroke rawat inap di RSUD
Sleman Tahun 2014, didapatkan proporsi terbanyak adalah tidak sekolah, yaitu 35
pasien (51,5%). Sedangkan sebanyak 15 pasien (22,1%) memiliki tingkat
pendidikan terakhir tamat SD, Tingkat pendidikan sebagai faktor sosial ekonomi
memang tidak berkaitan langsung dengan kejadian stroke. Akan tetapi, tingkat
pendidikan seseorang menentukan sikap orang tersebut terhadap perilaku sehat
(Notoatmodjo, 2007). Stroke merupakan penyakit tidak menular yang terjadi
akibat faktor lingkungan dan degeneratif, dimana gaya hidup serta perilaku makan
seseorang perlu diperhatikan. Dalam Framingham Study di Massachusetts

menunjukkan bahwa rata-rata tekanan darah pada kelompok orang dengan tingkat
pendidikan yang tinggi lebih rendah dibandingkan dengan kelompok orang yang
berpendidikan rendah (Patel, 1995). Oleh karena itu, seseorang dengan tingkat
pendidikan yang lebih tinggi diharapkan mampu memahami informasi kesehatan
dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pada hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 58 pasien stroke rawat
inap di RSUD Sleman sebagian besar tidak bekerja, yaitu sebanyak 41 pasien
(60,3%) dan sisanya sebanyak 27 pasien (39,7%) tidak bekerja. Dalam penelitian
lain disebutkan bahwa dari 552 penderita stroke, distribusi penderita stroke
terbanyak adalah pada ibu rumah tangga (30,4%), diikuti dengan penderita stroke
dengan jenis pekerjaan swasta (24,8%) (Sulastriyani, 2004). Pada penelitian ini
didapatkan proporsi pasien stroke lebih banyak pada mereka yang tidak bekerja.
Hal ini mungkin disebabkan oleh stres psikologis akibat pekerjaan yang dapat
meningkatkan risiko stroke. Risiko stroke akibat stress kerja lebih besar 1,4 kali
pada pria dari kalangan ekonomi menengah keatas (Mikail, 2011). Serangan
jantung dan stroke juga sering terjadi pada pekerja di wilayah industri yang maju
(Patel, 2005).
Pada hasil penelitian ini diketahui bahwa sebagian besar pasien stroke
rawat inap di RSUD Sleman telah menikah. Dari 58 pasien stroke rawat inap di
RSUD Sleman, sebanyak 64 pasien (94,1%) telah menikah, 1 pasien (1,5%)
belum menikah, dan 3 pasien (4,4 %) telah bercerai meninggal (berstatus duda
atau janda). Dari studi yang dilakukan oleh Profesor Uri Goldbourt dari Tel Aviv
University dan disajikan dalam American Stroke Association's International
Conference ini menunjukkan bahwa pria yang belum menikah berisiko 64% lebih
tinggi dibanding pria yang sudah menikah. Akan tetapi, kualitas pernikahan juga
perlu diperhatikan. Pria yang pernikahannya tidak bahagia juga memiliki risiko
64% lebih tinggi bila dibandingkan dengan mereka yang pernikahannya bahagia
(Rusaidah, 2010). Akan tetapi, bukan berarti proporsi kejadian stroke lebih besar
pada mereka yang menikah akibat pernikahannya tidak bahagia. Seperti yang
telah dibahas sebelumnya, proporsi pasien stroke terbanyak berada pada umur 51

65 tahun, dimana di umur tersebut rata-rata orang Indonesia memang telah


menikah. Oleh karena itu, hal yang lebih dominan disini adalah sebagian besar
pasien stroke serangan pertama memiliki status menikah karena sebagian besar
dari mereka terkena serangan stroke tersebut di usia 5165 tahun.
Penelitian ini menggunakan disain studi cross sectional dengan
menggunakan data sekunder berupa rekam medik pasien stroke rawat inap, maka
dalam penelitian ini hanya melihat karakteristik dari sekumpulan kasus stroke
serangan pertama yang tercatat pada rekam medik pasien stroke rawat inap di
RSUD Sleman selama tahun 2014 tanpa melihat hubungan antara faktor risiko
dengan outcome berupa kasus stroke. Penggunaan data rekam medik pasien stroke
rawat inap memiliki berbagai keterbatasan, diantaranya yaitu ketidaklengkapan
informasi data rekam medik pasien, sehingga ada sebagian variabel yang tidak
tercatat dan menyebabkan missing value. Di dalam rekam medik juga tidak
terdapat informasi mengenai faktor perilaku (kebiasaan merokok, aktivitas fisik,
dan pola diet), sehingga faktor tersebut tidak dapat diteliti.

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
1. Proporsi pasien stroke Dari 68 pasien stroke rawat inap didapatkan jumlah
pasien stroke iskemik sebanyak 51 pasien (75%), sedangkan stroke hemoragik
sebanyak 17 pasien (15%). Rata-rata lama rawat inap pasien adalah 6,9 atau 7
hari dengan standar deviasi 3. Lama rawat inap paling lama adalah 15 hari.
Dari 68

pasien stroke rawat inap di RSUD Sleman, sebanyak 28 pasien

(41,2%) yang pulang dalam keadaan meninggal, dan 33 pasien ( 48,5 % )

pulang dalam keadaan cacat dan

hanya 7 pasien (10,3%) pulang dalam

keadaan sembuh.
2. Pasien stroke rawat inap di RSUD Sleman lebih banyak berada di kategori
umur

> 65 tahun. Dari 68

pasien stroke rawat inap di RSUD Sleman,

sebanyak 38 pasien (55,9%) berjenis kelamin laki-laki dan 30 pasien (44,1%)


berjenis kelamin perempuan. Sebanyak 36 pasien (52,9%) memiliki riwayat
penyakit keluarga, sedangkan 32 pasien (47,1%) memiliki riwayat penyakit
keluarga.
3. Sebagian besar pasien stroke rawat inap di RSUD Sleman memiliki tekanan
darah yang tergolong dalam kriteria hipertensi stage 2, yaitu sebanyak 28
pasien (41,2%). Lalu diikuti dengan golongan hipertensi stage 1 sebanyak 19
pasien (26%), golongan tekanan darah pre-hipertensi dan normal yang
masing-masing sebanyak 14 pasien (1,6%) dan 7 pasien (10,3%). Proporsi
pasien stroke yang terbanyak memiliki nilai kadar gula darah sebesar 100-199
mg/dl. Hasil penelitian ini diketahui bahwa dari 68 pasien stroke rawat inap di
RSUD Sleman, sebanyak 52 pasien (76,5%) memiliki kadar kolesterol total
yang rendah(<200 mg%). Sedangkan sebanyak 9 pasien (13,2%) memiliki
kadar kolesterol total yang sedang (200-239 mg%), dan 7 pasien (10,3%)
memiliki kadar kolesterol total yang tinggi (>240mg%). Pada hasil penelitian
ini didapatkan bahwa dari 68 pasien stroke rawat inap di RSUD Sleman ,
sebanyak 63 pasien (84%) tidak memiliki riwayat penyakit jantung dan
sebanyak 5 pasien (7,4%) memiliki riwayat penyakit jantung. Pada hasil
penelitian ini didapatkan bahwa dari 68 pasien stroke rawat inap di RSUD
Sleman, sebanyak 59 pasien (86,8%) tidak memiliki riwayat penyakit DM dan
sebanyak 39 pasien (26%) memiliki riwayat penyakit DM.
5.2 Saran
a. Perlu dilakukan penelitian serupa dengan jumlah sampel mahasiswa
dengan kecemasan yang lebih banyak
b. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor-faktor
penyebab stroke pada pasien di RSUD Sleman

DAFTAR PUSTAKA
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) 2007, (Jakarta: Kementrian Kesehatan RI, 2008).
Bahrudin, Muhammad, Model Dignosis Stroke Berdasarkan Gejala Klinis, Jurnal
Saintika Medika, Vol 6, No 13, 2010 (Jurnal Elektronik), diakses 13
Januari

2015;

http://ejournal.umm.ac.id/index.php/sainmed/article/view/1063.
Basjiruddin Darwin.2008. Buku Ajar Ilmu Penyakit Saraf (Neurologi) Edisi 1.
s.l. : (Padang: Bagian Ilmu Penyakit Syaraf Falkutas Kedokteran
Universitas Andalas, 2008).

Burhanuddin, Mutmainna, et al., Faktor Resiko Kejadian Stroke Pada Dewasa


Awal (18-40 Tahun) Di Kota Makassar Tahun 2010-2012. Jurnal 118
Fakultas Kesehatan Masyarakat, UNHAS, Makassar 2012 (Jurnal
Elektronik), diakses 1 Januari 2015; http://repository.unhas.ac.id/
Cintya. 2012 , Gambaran Faktor Resiko dan Tipe Stroke pada Pasien Rawat Inap
di Bagian Penyakit Dalam RSUD Kabupaten Solok Selatan Periode 1
Januari 2010- 31 Juni 2012, Jurnal Kesehatan Masyarakat,Universitas
Andalas, 2012 (Jurnal Elektronik), diakses 25 Desember 2014;
http://jurnal.fk.unand.ac.id/articles/vol_2no_2/57-61.pdf.
Depkes, 2008. Pedoman Teknis Penemuan dan Tatalaksana Penyakit Diabetes
Melitus. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan RI.
Desideria, Benedikta, Waspada, Jumlah penderita stroke wanita meningkat, 2014
(Artikel

Online),

diakses

29

Desember

2014;

http://health.liputan6.com/read/2147285/waspada-jumlah-penderitastroke-wanita-meningkat.
Dourman, Karel, Waspadai Stroke Usia Muda (Jakarta: Penerbit Cerdas Sehat,
2013).
Elisabeth, et al., Hubungan Gaya Hidup Pada Pasien Hipertensi Dengan Resiko
Terjadinya Stroke Di Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung, Jurnal
Kesehatan STIKes Santo Borromeus, 2013 (Jurnal Elektronik), diakses
25 Desember 2014; 119http://e-journal.kopertis4.or.id/file/Hubungan
%20Gaya%20Hidup.pdf
F. Batmanghelidj, MD. .Air, untuk Menjaga Kesehatan dan Menyembuhkan
Penyakit,

2014

(Artikel

Online)

diakses

16

Desember

2014;

http://healindonesia.com/2009/05/15/kenali-delapan-dampak-negatifkafein-bagi-kesehatan-anda/.
Fatimah, Dewi, et al., Monosodium Glutamat (MSG), Fakultas Sains Dan
teknologi, Jurusan Kimia, (Malang: Universitas Islam Negeri Malang,
2007),

(Makalah

Online),

diakses

19

Desember

2014;

http://www.scribd.com/doc/26623327/Monosodium-GlutamatMsg#scribd.
Gontina, Willia, Hubungan Karakteristik Faktor Resiko Terhadap Angka
Kejadian Stroke Di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta, skripsi sarjana
(Jakarta: Fakultas Kedokteran, Universitas Pembangunan Nasional
Veteran, 2011).
Harsono, ed., Buku Ajar Neurologi Klinis. (Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press, 2005).
Heart And Stroke Foundation. 2010. A Perfect Storm Of Heart Disease Looming
On Our Horizon. 8 Desember 2011. www.heartandstroke.com.
Jusman, M & Firdaus Koto, Faktor Resiko Kejadian Stroke Di RSUD Undata
Palu Tahun 2011, Jurnal Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako,
2011

(Jurnal

Elektronik),

diakses

13

Januari

2015;

http://untad.ac.id//jurnal/index/1817.
Khasanah, N., Waspadai Berbagai Penyakit Degeneratif Akibat Pola Makan
(Yogyakarta: Laksana, 2012).
Khellaf, Meheni, et al., AgePeriodCohort Analysis of Stroke Incidence in Dijon
From 1985 to 2005, American Stroke Association, 2010 (Jurnal
Elektronik),

diakses

23

februari

2015;

http://stroke.ahajournals.org/content/41/12/2762.full.pdf+html?
sid=ed8696c0-591c-4e16-9e01-bfe09256ca4b
Lumbantobing, S.M. 2004. Stroke: Bencana Peredaran Darah Di Otak. Jakarta:
Balai Penerbit FK UI.
Lumongga,

Fitriani.

2007.

Atherosclerosis.

28

November

2011.

repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/2060/1/09E01458.pdf.
Mahar M. & Priguna S., Neurologi Klinik Dasar (Jakarta: Dian Rakyat, 1997).
Mailisafitri, 2011. Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Kematian Pada
Pasien Stroke Di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Stroke Bukittinggi
Tahun 2010. Skripsi : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Indonesia.

Maukar, Magreysti & Amatus Yudi Ismanto, Hubungan Pola Makan Dengan
Kejadian Stroke Non Hemoragik di Irna F Neurologi RSUP. Prof.
DR.R.D. Kandau Manado, Jurnal Keperawatan, 2014 (Jurnal Elektronik)
2014,

diakses

17

Januari2015;

http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/jkp/article/view/5217/4731.
Mikail, Bramirus. 2011. 10 Persen Kasus Stroke Dipicu Stress Pekerjaan. 8
Januari

2012.

http://health.kompas.com/read/2011/12/28/15422346/10.Persen.Kasus.St
roke.Dipicu.Stres.Pekerjaan.
Muchtadi, D., Pencegahan Gizi Lebih dan Penyakit Kronis Melalui Perbaikan
Pola Konsumsi Pangan. (Bogor: Sagung Seto, 2001).
Nastiti, Dian., Gambaran Faktor Resiko Kejadian Stroke Pada Pasien Rawat
Inap Di rumah Sakit Krakatau Medika, skripsi sarjana (Jakarta:
Universitas Indonesia, 2012).
Notoatmodjo, Soekijo, Metodologi Penelitian Kesehatan. (Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 2010.
Ophine, Lely, Hubungan antara Obesitas dengan Stroke pada Pasien Rawat Inap
di Bagian Ilmu Penyakit Saraf FK-USU/ RSUP H. Adam Malik Medan,
skripsi sarjana (Medan: Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara,
2010),

diakses

24

Februari

2015;

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25721/7/Cover.pdf
Ovina, Yulia, et al., Hubungan Pola Makan, Olahraga, Dan Merokok Terhadap
Prevalensi Penyakit Stroke Non Hemoragik, The Jambi Medical Jurnal,
2013

(Jurnal

Elektronik),

diakses

31

Desember

2014;

http://onlinejournal.unja.ac.id/index.php/kedokteran/article/view/1249/85
1
Pearson, Thomas A. et al. 2004. Primer In Preventive Cardiology. Texas
:American Heart Association.
Puspitasari, Vania, Hubungan Antara Stroke Dengan Angka Kejadian Epilepsi Di
RSUD Dr. Moewardi Surakarta, skripsi sarjana (Surakarta: Fakultas
Kedokteran, Universitas Sebelas Maret, 2009).

Siregar, Fazidah Aguslina, Determinan kejadian stroke pada penderita rawat inap
RSUP Haji Adam Malik Medan, Jurnal Kesehatan Masyarakat, USU,
2010

(Jurnal

Elekronik),

diakses

20

Desember

2014;

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/15316/1/ikm-jun2005%20%281%29.pdf 123
Slifiani, Pola Konsumsi Berdasarkan Kejadian Obesitas Pada Penduduk Usia
Dewasa (19-50 Tahun) Di Pulau Sulawesi Berdasarkan Data Riskesdas
2010, skripsi sarjana (Jakarta: Universitas Esa Unggul, 2012).
Soeharto, Iman. 2004. Serangan Jantung dan Stroke Hubungannya Dengan
Lemak dan Kolesterol. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Sulastriyani. (2004). Gambaran Epidemiologi Penderita Stroke Di Ruang Rawat
Inap Neurologi IRNA B Perjan RS Dr. Cipto Mangunkusumo Tahun
2003. Skripsi: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia
Tammase, Jumraini,

Stroke dan Pencegahannya. (Makassar: Indentitas.

Universitas Hasanuddin, 2013).


Tarigan,SB.2011.repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25869/5/Chapter
%20I.pdf.
Thaib, Pamela K. Putri. 2008. Hubungan Antara Kadar LDL Darah Pada Stroke
Iskemik Fase Akut Dengan Lama Perawatan Pasien Pulang Hidup dan
Pulang Meninggal. Karya Tulis Ilmiah : Fakultas Kedokteran Universitas
Diponegoro. 12 Januari 2012. eprints.undip.ac.id/24561/1/Pamela.pdf.
Wahjoepramono, Eka J. 2005. Stroke Tata Laksana Fase Akut. Jakarta:
Universitas Pelita Harapan.
Wahjoepramono, Eka J., Stroke Tata Laksana Fase Akut (Jakarta: Universitas
Pelita Harapan, 2005).
Walter, Bradley G, et al., Neurology in clinical practice, principles of diagnosis
and management, Fourth Edition (Philadelphia Elsevier, 2004).
World Health Organization, The Asia-Pacific perspective: Redefining obesity and
its treatment. The International Association for the Study of Obesity and
the International Obesity Task Force. (Melbourne: World Health
Organization, 2000).

Worrall, Bradford B, et al., Stroke Risk Factor Profiles in African American


Women, American Stroke Association, 2002 (Jurnal Elektronik), diakses
23

Februari

2015;

http://stroke.ahajournals.org/content/33/4/913.full.pdf+html 124
Yanis, Hardi. (2004). Pola Kadar Glukosa Darah Pada Stroke Akut.
Tesis:Program Pendidikan Pasca Sarjana Universitas Diponegoro. 7
Desember 2014. http://eprints.undip.ac.id/12330/
Yuniadi Yoga, Intervensi Pada Stroke Non Hemoragik., Jurnal Kardiologi
Indonesia

(Jurnal

Elektronik),

diakses

31

Januari

2014;

http://indonesia.digitaljournals.org/index.php/karidn/article/view/276.

Frequencies

Statistics
Jenis_Stroke
N

Valid
Missing

Umur

Jenis_Kelamin

RPK

TD_Sistolik

68

68

68

68

68

Statistics
TD_Diastolik
N

Valid
Missing

Kadar_Gula

Kolesterol_total

Riwayat_Jantung

DM

68

68

68

68

68

Statistics
Status_Pernikah Keluaran_outcom Gejala_Serebelu
Pendidikan
N

Valid

Pekerjaaan

an

68

68

68

68

68

Missing

Statistics
Gangguan_Pengli
Disfagia
N

Valid
Missing

Disartria

hatan

Aphasia

Alexia

Agrapia

68

68

68

68

68

68

Statistics
Acalculia
N

Valid
Missing

Frequency Table

Riwayat_Merokok

TIA

Hasil_CT_Scan

68

68

68

68

Jenis_Stroke
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

Iskemik

51

75,0

75,0

75,0

Hemoragik

17

25,0

25,0

100,0

Total

68

100,0

100,0

Umur
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

< 35 tahun

1,5

1,5

1,5

35-50 tahun

27

39,7

39,7

41,2

52-65 tahun

11

16,2

16,2

57,4

> 65 tahun

29

42,6

42,6

100,0

Total

68

100,0

100,0

Jenis_Kelamin
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

perempuan

30

44,1

44,1

44,1

laki-laki

38

55,9

55,9

100,0

Total

68

100,0

100,0

RPK
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

ada

36

52,9

52,9

52,9

tidak ada

32

47,1

47,1

100,0

Total

68

100,0

100,0

TD_Sistolik
Cumulative
Frequency
Valid

normal

Percent

Valid Percent

Percent

2,9

2,9

2,9

prehipertensi

11

16,2

16,2

19,1

HT grade I

11

16,2

16,2

35,3

HT grade II

44

64,7

64,7

100,0

Total

68

100,0

100,0

TD_Diastolik
Cumulative
Frequency
Valid

normal

Percent

Valid Percent

Percent

14

20,6

20,6

20,6

10,3

10,3

30,9

HT grade I

19

27,9

27,9

58,8

HT grade II

28

41,2

41,2

100,0

Total

68

100,0

100,0

prehipertensi

Kadar_Gula
Cumulative
Frequency
Valid

< 100 mg/dl

Percent

Valid Percent

Percent

4,4

4,4

4,4

100-199 mg/dl

36

52,9

52,9

57,4

200-299 mg/dl

21

30,9

30,9

88,2

11,8

11,8

100,0

68

100,0

100,0

> 300 mg/dl


Total

Kolesterol_total
Cumulative
Frequency
Valid

rendah < 200


sedang 200-239

Percent

Valid Percent

Percent

52

76,5

76,5

76,5

13,2

13,2

89,7

tinggi > 240


Total

10,3

10,3

68

100,0

100,0

100,0

Riwayat_Jantung
Cumulative
Frequency
Valid

tidak ada

Percent

Valid Percent

Percent

63

92,6

92,6

92,6

ada

7,4

7,4

100,0

Total

68

100,0

100,0

DM
Cumulative
Frequency
Valid

tidak ada

Percent

Valid Percent

Percent

59

86,8

86,8

86,8

ada

13,2

13,2

100,0

Total

68

100,0

100,0

Pendidikan

Cumulative
Frequency
Valid

tidak sekolah
tidak tamat
tamat SD
tamat SMP
tamat tamat SMA
PT/Diploma
Total

Percent

Valid Percent

Percent

35

51,5

51,5

51,5

1,5

1,5

52,9

15

22,1

22,1

75,0

5,9

5,9

80,9

11

16,2

16,2

97,1

2,9

2,9

100,0

68

100,0

100,0

Pekerjaaan
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

bekerja

27

39,7

39,7

39,7

tidak bekerja

41

60,3

60,3

100,0

Total

68

100,0

100,0

Status_Pernikahan
Cumulative
Frequency
Valid

menikah
belum menikah

Percent

Valid Percent

Percent

64

94,1

94,1

94,1

1,5

1,5

95,6

bercerai hidup/meninggal
Total

4,4

4,4

68

100,0

100,0

Keluaran_outcome
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

sembuh

55

80,9

80,9

80,9

Meninggal

13

19,1

19,1

100,0

Total

68

100,0

100,0

Gejala_Serebelum
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

tidak ada

42

61,8

61,8

61,8

ada

26

38,2

38,2

100,0

Total

68

100,0

100,0

Disfagia
Cumulative
Frequency

Percent

Valid Percent

Percent

100,0

Valid

tidak ada

40

58,8

58,8

58,8

ada

28

41,2

41,2

100,0

Total

68

100,0

100,0

Disartria
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

tidak ada

30

44,1

44,1

44,1

ada

38

55,9

55,9

100,0

Total

68

100,0

100,0

Gangguan_Penglihatan
Cumulative
Frequency
Valid

tidak ada

Percent

Valid Percent

Percent

64

94,1

94,1

94,1

ada

5,9

5,9

100,0

Total

68

100,0

100,0

Aphasia

Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

tidak ada

29

42,6

42,6

42,6

ada

39

57,4

57,4

100,0

Total

68

100,0

100,0

Alexia
Cumulative
Frequency
Valid

tidak ada

Percent

Valid Percent

Percent

61

89,7

89,7

89,7

ada

10,3

10,3

100,0

Total

68

100,0

100,0

Agrapia
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

tidak ada

45

66,2

66,2

66,2

ada

23

33,8

33,8

100,0

Total

68

100,0

100,0

Acalculia
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

tidak ada

55

80,9

80,9

80,9

ada

13

19,1

19,1

100,0

Total

68

100,0

100,0

Riwayat_Merokok
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

tidak ada

35

51,5

51,5

51,5

ada

33

48,5

48,5

100,0

Total

68

100,0

100,0

TIA
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

tidak ada

56

82,4

82,4

82,4

ada

12

17,6

17,6

100,0

Total

68

100,0

100,0

Hasil_CT_LOkasi
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

Frontalis

11,8

11,8

11,8

Parietalis

10

14,7

14,7

26,5

Temporalis

17

25,0

25,0

51,5

occipitalis

4,4

4,4

55,9

ganglia basalis dll

30

44,1

44,1

100,0

Total

68

100,0

100,0

Pie Chart

Descriptives
Descriptive Statistics

Lama_Prwatan

Minimum

Maximum

Sum

Mean

Std. Deviation

Statistic

Statistic

Statistic

Statistic

Statistic

Statistic

68

2,00

15,00

475,00

6,9853

3,00493

Valid N (listwise)

68

Descriptive Statistics
Skewness
Statistic
Lama_Prwatan
Valid N (listwise)

Kurtosis

Std. Error
,780

Statistic
,291

Std. Error
,032

,574