Anda di halaman 1dari 4

DISTOSIA BAHU

Distosia bahu umumnya terjadi akibat bahu anterior janin berbenturan dan terhalang oleh
simfisis ibu setelah bagian kepala janin lahir. Distosia bahu dapat juga terjadi akibat bahu
posterior janin berbenturan dan terhalang oleh promontorium sakrum ibu. Persalinan dengan
distosia bahu memerlukan manuver tambahan untuk melahirkan janin karena tarikan lembut
pada persalinan normal tidak memberikan hasil.1,2

Terdapat beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya distosia
bahu:2,3
Faktor ibu:
Anatomi pelvis yang tidak normal; diabetes gestasional; kehamilan post term; kejadian
distosia bahu sebelumnya; tubuh yang pendek.
Faktor janin:\
Kecurigaan janin mikrosomia.
Faktor proses persalinan:

Persalinan per vagina dengan bantuan alat (forsep atau vakum); fase aktif kala 1
persalinan yang lama; kala 2 persalinan yang lama.
Komplikasi distosia bahu yang mungkin terjadi:2,3
Komplikasi pada ibu:
Perdarahan post partum; fistula rektovaginal; diatesis atau renggangnya area simfisis;
episiotomi atau robekan jalan lahir derajat 3-4; ruptur uterus.
Komplikasi pada janin:
Brachial plexus palsy; fraktur klavikula; menatian janin; hipoksia janin dengan atau tanpa
kerusakan saraf permanen; fraktur humerus.
Saat terjadi distosia bahu, tali pusar janin terjepit diantara tubuh janin dan pelvis ibu sehingga
wajah janin akan menjadi kemerahan, dimana kondisi ini termasuk dalam kegawatan persalinan.
Kondisi distosia bahu akan terlihat jelas pada saat persalinan kepala janin sudah keluar namun
tertarik kembali ke perineum dan disebut turtle sign. Bantuan persalinan dengan tenaga yang
berlebihan pada kepala atau leher janin serta pemberian tekanan pada fundus ibu harus dihindari,
karena tindakan tersebut dapat mengakibatkan cedera pada janin dan ibu. Untuk mengatasi
kondisi distosia bahu, dilakukan tindakan klinis terstruktur yang disingkat HELPERR.3
Tanda dan gejala klinis terjadinya distosia bahu saat persalinan:4
Kesulitan melahirkan wajah dan dagu janin.
Kepala janin tetap tertahan erat di daerah vulva bahkan kembali tertarik ke dalam.
Kegagalan restitusi kepala janin.
Kegagalan turunnya bahu janin dari pelvis ibu.

Daftar pustaka:
1. Cunningham FG. et al., 1995. Obstetri Williams, Edisi 18. Penerbit EGC, Jakarta.
2. Kish, Collea, Joseph V., 2003. Current Obstetric & Gynecologic Diagnosis & Treatment,
9th Edition. McGraw-Hill, USA.
3. Baxlex EG., Gobbo RW., 2004. Sholder Dystocia. Am Fam Physician, 69: 1707-14.
4. Croft J. et al., 2012. Shoulder Dystocia. Royal College of Obstetricians an

Gynaecologist, Guideline No. 42.

Anda mungkin juga menyukai