Anda di halaman 1dari 20

PANDUAN LAB SKILL

PEMERIKSAAN VITAL SIGN


BLOK III SEMESTER I TA. 2013/2014

PENYUSUN:
TIM PUSAT KETRAMPILAN MEDIK
FK UNMUL

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN

2014
PEMERIKSAAN VITAL SIGN

Pada ketrampilan pemeriksaan vital sign ini, yang ingin dicapai adalah:
Standar Kompetensi : Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan vital sign secara lengkap
dan benar.

Kompetensi dasar:
1. Mahasiswa mampu menjelaskan jenis-jenis pemeriksaan vital sign
2. Mahasiswa mampu mengenal dan menjelaskan alat yang akan digunakan dalam
pemeriksaan vital sign.
3. Mahasiswa mampu mempersiapkan pasien dalam rangka pemeriksaan vital
4. Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan Nadi secara baik dan benar.
5. Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan Tekanan darah secara baik dan benar
6. Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan Pernafasan secara baik dan benar
7. Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan suhu tubuh secara baik dan benar

PENDAHULUAN
Dalam menangani seorang penderita; Vital Sign (Tanda Vital) mempunyai arti yang
sangat penting, baik dalam upaya menentukan diagnosis dan pengobatan; maupun dalam
pemantauan hasil pengobatan dan perjalanan penyakit. Adanya data Vital Sign, bersama
dengan data yang diperoleh dari anamnesa dan pemeriksaan fisik serta dibantu dengan data
pemeriksaan penunjang, seperti laboratorium, radiologi dan pemeriksaan penunjang lainnya;
sangat membantu dalam menegakkan diagnosis pada seorang penderita. Data Vital Sign juga
berperan penting dalam perencanaan pengobatan seorang penderita dan pemantauan hasil
pengobatan serta perjalanan penyakitnya.
Pemeriksaan Vital Sign meliputi pemeriksaan nadi, tekanan darah, pernafasan dan
suhu tubuh penderita.

1. PEMERIKSAAN TANDA VITAL (VITAL SIGN)

Setelah keadaan umum, hal kedua yang dinilai adalah tanda vital, yang meliputi nadi,
tekanan darah, pernafasan dan suhu tubuh.
1.1. NADI :
Pemeriksaan nadi merupakan bagian prosedur perawatan rumah sakit yang rutin
dikerjakan. Walaupun demikian pemeriksaan ini tidak bisa diabaikan hanya sebagai
indikator keadaan sistim kardiovaskuler yang paling mudah dikerjakan. Kelainan sistim
kardiovaskuler, efek demam dan efek obat dapat dipantau dengan pemeriksaan nadi.

Alat yang dibutuhkan : 1. Jam yang dilengkapi jarum detik, atau


2. Stop watch.
Cara pemeriksaan :
1. Pemeriksa memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud dan tujuan pemeriksaan
kepada penderita atau orangtua penderita.
2. Memeriksa nadi paling baik dilakukan dengan pasien dalam keadaan tidur.
Bisa juga dengan anak dalam keadaan tenang, dalam posisi berbaring terlentang
atau duduk di ruangan yang tenang.
3. Bila tidak mungkin, harus diberikan catatan keadaan pasien waktu nadi diperiksa
(bangun tenang, gelisah, menangis, berontak).
4. Pemeriksa berada di sisi kanan penderita.
5. Pemeriksa meraba a. radialis penderita dengan ujung jari II, III dan IV tangan kanan,
sedangkan ibu jari berada dibagian dorsal tangan anak..
6. Lokasi pembuluh nadi superficial lain yang dapat diperiksa adalah :
a. Fossa cubiti (a. Brachialis) : pada bayi dan anak dibawah usia 2 tahun.
b. Inguinal (a. Femoralis) : pada bayi dan anak dibawah usia 2 tahun.
c. Fossa poplitea (a. Poplitea)
d. Leher (a. Carotis)
e. Kening (a. Temporalis)
f.

Dorsum pedis (a. dorsalis pedis)

7. Pemeriksaan laju nadi harus dihitung selama 1 menit penuh.


8. Catat laju nadi dalam satuan frekuensi/menit (Nilai normal laju nadi sesuai dengan
golongan umur dapat dilihat pada Appendix Tabel A-1)
9. Pemeriksaan Nadi harus dilakukan pada keempat ekstremitas.

10. Untuk menyingkirkan kemungkinan terdapatnya pulsus defisit, lakukan juga


penghitungan denyut jantung pada setiap penghitungan laju nadi
11. Selain penghitungan frekuensi atau laju nadi, pemeriksaan Nadi harus
mencakup pula :
a. Irama nadi
b. Isi atau kualitas nadi
c. Ekualitas nadi.
12. Hasil pemeriksaan harus dicatat secara lengkap (meliputi ke empat aspek diatas).

1.1.1. FREKUENSI/LAJU NADI :

Laju nadi paling baik dihitung dengan penderita dalam keadaan tidur.
Perlu ditekankan bahwa penghitungan nadi harus disertai pula dengan
penghitungan laju/frekuensi jantung. Hal ini perlu dilakukan untuk menyingkirkan
kemungkinan terdapatnya pulsus defisit , yakni denyut jantung yang tidak cukup
kuat untuk menimbulkan denyut nadi, sehingga laju jantung lebih tinggi daripada
laju nadi.
Laju nadi dihitung/dilaporkan dalam satuan frekuensi/menit. Nilai normal
laju nadi pada pelbagai tingkat umur dapat dilihat pada Appendix. Berdasarkan
harga normal tadi, laju jantung dapat dikelompokkan menjadi :
a. Takikardia :
Takikardia adalah laju denyut jantung yang lebih cepat daripada laju
normal.
Takikardia dapat terjadi antara lain pada keadaan demam, aktifitas fisik,
ansietas, tirotoksikosis, miokarditis, gagal jantung, dehidrasi atau renjatan.
Sewaktu demam, setiap

kenaikan suhu badan 1C diikuti oleh kenaikan

denyut nadi sebanyak 15-20/menit.


Pada beberapa penderita dapat dijumpai variant abnormal, seperti
takikardia sinus dan takikardia supraventrikular paroksismal.
b. Bradikardia :
Bradikardia adalah frekuensi denyut jantung yang lebih lambat dari
frekuensi normal.

Beberapa variannya adalah bradikardia relatif (pada demam tifoid),


bradikardia sinus (pada olahragawan terlatih, sepsis, tekanan intrakranial
meningkat, hipotiroidisme, intoksikasi digitalis) dan blok jantung komplet.
1.1.2. IRAMA NADI :

Dalam keadaan normal irama nadi normal. Ketidakteraturan nadi yang


paling sering dijumpai adalah disritmia/aritmia sinus. Pada keadaan ini denyut
nadi teraba lebih cepat pada waktu inspirasi dan lebih lambat pada waktu
ekspirasi. Hal ini sering ditemui pada anak diatas usia 3 tahun, dan makin jelas
pada remaja., terutama bila laju nadi kurang dari 100/menit. Keadaan ini adalah
normal, bahkan merupakan petunjuk adanya cadangan jantung yang baik.
Disritmia sinus ini jarang ditemui pada bayi.
Meskipun disritmia dapat dideteksi dengan perabaan nadi dan auskultasi
jantung,

namun

jenis

disritmia

hanya

dapat

dipastikan

dengan

EKG

(Elektrokardiografi). Selain nadi yang irregular seperti ekstra sistole dan fibrilasi
atrium; dapat pula dijumpai keadaan yang disebut sebagai ketidakteraturan yang
teratur (regular irregularity) seperti pulsus bigeminus (nadi teraba sepasangsepasang) atau pulsus trigeminus (teraba sebagai kelompok tiga) (lihat gambar
1.1.)

1.1.3. KUALITAS NADI :


Kualitas nadi disebut cukup bila isi perabaan nadi normal. Pada beberapa
keadaan, nadi dapat teraba sangat kuat atau kurang/lemah.
Pada Pulsus seler (disebut juga sebagai water-hammer pulse atau
Corrigans pulse) nadi teraba sangat kuat dan turun dengan cepat, akibat
tekanan nadi (perbedaan tekanan sistolik dan diastolik) yang besar. Keadaan ini
biasanya disertai dengan pulsasi kapiler, yang dapat diperiksa dengan cara
menekan ujung kuku dengan ringan (Quinkes pulse). Bila didengarkan dengan
stetoskop di a.femoralis, akan terdengar suara seperti letusan pistol (pistol shot
sign), atau dapat terdengar semacam bising sistolik dan diatolik (Durosiez sign).
Keadaan ini dapat ditemui pada insufisiensi aorta, duktus arteriosus persisten,

fistula arterio-vena, atau pada keadaan hiperkinetik seperti tirotoksikosis dan


anemia.
Isi nadi yang kurang atau lemah terdapat pada kegagalan sirkulasi
(renjatan) serta gagal jantung yang berat. Beberapa variannya (lihat Gambar
1.1.) adalah :
a. Pulsus parvus et tardus :
Keadaan yang dapat dijumpai pada stenosis aorta berat ini ditandai dengan
nadi dengan amplitudo yang rendah dan teraba lambat naik.
b. Pulsus alternans :
Keadaan yang menunjukkan adanya beban ventrikel kiri yang berat, atau
gagal jantung kiri ini ditandai dengan denyut nadi yang berselang-selang kuat
dan lemah
c. Pulsus paradoksus (disebut juga pulsus paradoksikus) :
Pada saat inspirasi nadi teraba lemah dan teraba normal/kuat pada ekspirasi.
Hal ini harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan tekanan darah. Pulsus
paradoksus ditemukan pada tamponade jantung akibat efusi perikardium ,
perikarditis konstriktiva, gagal jantung berat atau serangan asma berat.

Gambar 1.1.1. Bentuk beberapa gelombang dan irama nadi : (a) normal (b)
pulsus seler (c) pulsus parvus et tardus (d) pulsus alternans (e) pulsus
bigeminus (f) pulsus trigeminus.

(Sumber : MATONDANG, C.S. et al. Pemeriksaan Fisis. In : Diagnosis Fisis


pada Anak. 2nd ed. Jakarta : PT Sagung Seto, 2000 : 18-35)

Gambar 1.1.2. Cara pemeriksaan Nadi.


(Dari : MATONDANG, C.S. et al. Beberapa Cara Pengukuran. In : Diagnosis
Fisis pada Anak. 2nd ed. Jakarta : PT Sagung Seto, 2000 : 173-182)

1.1.4. EKUALITAS NADI :


Dalam keadaan normal isi nadi teraba sama pada keempat ekstremitas.
Pada beberapa keadaan ditemukan isi nadi yang berbeda, seperti :
a. Koarktatio aorta : nadi pada ekstremitas atas kuat, sedangkan di
ekstremitas bawah teraba lemah sampai tidak teraba.
b. Penyakit Takayasu(pulseless disease) : nadi di ekstremitas bawah teraba
normal , sedangkan di ekstremitas atas teraba lemah atau tidak teraba.
c. Tromboemboli di arteri perifer : nadi sebelah distal emboli menjadi tidak teraba
atau teraba kecil.
Keadaan tersebut diatas disertai pula dengan perbedaan tekanan darah
pada ekstremitas atas dan bawah.
1.2. TEKANAN DARAH :

Idealnya pada setiap pasien harus diukur tekanan darah pada keempat
ekstremitas. Pemeriksaan pada satu ekstremitas bisa dibenarkan, apabila pada palpasi
teraba denyut nadi yang normal pada keempat ekstremitas. Apabila terdapat keraguan
pada denyut nadi keempat ekstremitas , atau bila terdapat hipertensi pada pengukuran 1
ekstremitas; maka pengukuran tekanan darah mutlak harus dilakukan pada keempat
ekstremitas. Apabila pengukuran tekanan darah dilakukan pada 1 ekstremitas, yang
biasa dipergunakan adalah lengan atas kanan (untuk menghindarkan kesalahan akibat
terdapatnya koarktasio aorta sebelah proksimal a. subklavia kiri yang menyebabkan
tekanan darah di lengan kanan tinggi dan di tempat lain rendah).
Dalam keadan normal, tekanan darah sistolik di lengan adalah 10-15 mmHg
lebih rendah dibandingkan tekanan darah tungkai; kecuali pada bayi dibawah 1 tahun
mungkin tekanan darah di tungkai sama atau bahkan sedikit lebih rendah dibandingkan
tekanan darah di lengan, karena ismus aorta masih agak sempit. Tekanan darah
diastolik hampir sama baik di lengan maupun di tungkai.
Dalam pengukuran tekanan darah ukuran manset sangat menentukan. Lebar
manset yang dipakai harus mencakup sampai 2/3 panjang lengan atas atau tungkai
atas. Manset yang terlalu sempit akan memberikan hasil tekanan darah yang terlalu
tinggi, sedangkan manset yang terlalu lebar akan memberi hasil yang terlalu rendah.
Panjang manset juga harus melingkari setidak-tidaknya 2/3 lingkaran lengan atas.
Alat yang diperlukan : 1. Tensimeter (sphigmomanometer) air raksa, atau
2. Tensimeter aneroid atau elektrik atau ultrasonik
3. Manset dengan berbagai ukuran.
4. Stethoskop
Persiapan : 1. Penderita diperiksa dalam keadaan tenang di ruangan yang
tenang. Pemeriksan harus dilakukan sebelum prosedur pemeriksaan
lain yang menimbulkan kecemasan penderita.
2. Tentukan metode, tempat pengukuran dan ukuran manset yang sesuai
dengan penderita.
3.

Siapkan manset yang sesuai dengan umur penderita. Lebar manset


yang dipakai harus mencakup sampai 2/3 panjang lengan atas atau
tungkai atas (Ukuran manset untuk kelompok umur yang sesuai dapat
dilihat pada Appendix Tabel A-3)

4.

Periksa/cek balon, jarum tensimeter aneroid (posisi harus 0) dan klep


tekanan (harus lancar)

5. Periksa balon (bocor/tidak) dan klep tekanan (harus smooth/lancar) pada


sphygmomanometer air raksa.
6. Periksa permukaan air raksa pada kolom air raksa. Posisi harus 0.

Gambar 1.2.1. Tempat-tempat pengukuran tekanan darah. A. Lengan atas. B.


Lengan bawah. C. Paha. D. Betis atau sendi kaki. (Dari :
Hockenberry,MJ et al: Wongs nursing care of infants and
children, ed.7,St.Louis,2003,Mosby.

Pemeriksaan Tekanan Darah :


Pemeriksaan tekanan darah dapat dilakukan dengan metode/cara :
1. Metode Auskultasi.
2. Metode Palpasi
3. Metode Flush
Yang paling lazim digunakan adalah metode auskultasi dan palpasi.

a. Pemeriksaan Tekanan Darah Metode Auskultasi :


1. Pemeriksa memperkenalkan

diri

dan menjelaskan maksud

dan tujuan

pemeriksaan kepada penderita atau orangtua penderita.


2. Istirahatkan penderita selama 5 menit
3. Baringkan penderita terlentang dengan lengan lurus di samping badan atau
penderita duduk dengan lengan bawah yang diletakkan diatas meja (usahakan
agar lengan atas setinggi jantung).

4. Tekanan darah bisa diukur pada lengan atas atau tungkai atas.
5. Buka tutup tensimeter dan tegakkan kolom air raksa sampai tegak lurus.
6. Pasanglah manset yang sesuai dengan panjang lengan/tungkai atas atau sesuai
umur penderita melingkari lengan atas atau tungkai atas , dengan batas bawah
kurang lebih 3 cm dari siku atau lipat lutut. Usahakan pusat manset diatas a.
brakialis atau a. poplitea.
7. Buka kunci air raksa pada sphigmomanometer.
8. Pompa manset dengan cepat sampai denyut nadi a.radialis atau dorsalis pedis
tidak teraba, kemudian teruskan pompa sampai 20-30 mm Hg lagi.
9. Letakkan stethoskop pada a. brakialis (di fossa cubiti) atau a. Poplitea (di fossa
poplitea).
10. Dengarkan stethokop, sambil mengosongkan manometer perlahan-lahan dengan
kecepatan 2-3 mm tiap detik.
11. Pada penurunan air raksa tersebut akan terdengar bunyi-bunyi Korotkoff :

Bunyi Korotkoff I : bunyi yang pertama kali terdengar, berupa bunyi detak
yang perlahan.

Bunyi Korotkoff II : seperti bunyi Korotkoff I, tetapi disertai


bunyi desis (swishing sound)

Bunyi Korotkoff III : seperti bunyi Korotkoff II, tetapi lebih keras

Bunyi Korotkoff IV : bunyi tiba-tiba melemah.

Bunyi Korotkoff V : bunyi menghilang

12. Yang diukur adalah Tekanan Sistolik (saat mulai terdengarnya bunyi Korotkoff I)
dan Tekanan Diastolik (saat mulai terdengar bunyi Korotkoff IV).
13. Catat Tekanan Darah (Sistolik dan Diastolik) dalam satuan mm Hg (contoh :
tekanan darah 120/80 mmHg). (Nilai normal tekanan darah sesuai dengan
golongan umur dapat dilihat pada Appendix Tabel A-2)
14. Kosongkan manometer dengan cepat. Tunggu 30 detik sebelum dipakai untuk
pemeriksaan selanjutnya.
15. Pada bayi dan anak saat mulai terdengarnya suara Korotkoff IV bersamaan atau
hampir bersamaan dengan menghilangnya bunyi

(Korotkoff V). Apabila

melemah dan menghilangnya bunyi tidak bersamaan, pada hasil pemeriksaan


ditulis keduanya, misalnya 100/70/40 mmHg. Bila sampai 0 masih terdengar
bunyi Korotkoff IV, tulislah 100/70/0 mmHg.

10

16. Pada pelaporan hasil pemeriksaan tekanan darah hendaknya dicantumkan


keadaan pasien sewaktu diperiksa (duduk, berbaring tenang, tidur, menangis),
ukuran manset dan metode pemeriksaan.
17. Tutup kembali kunci air raksa pada sphygmomanometer, lepas mansetnya dan
tutup kembali sphygmomanometernya.

a. Pemeriksaan Tekanan Darah Metode Auskultasi :


1. Pemeriksa memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud dan tujuan
pemeriksaan kepada penderita atau orangtua penderita.
2. Istirahatkan penderita selama 5 menit
3. Baringkan penderita terlentang dengan lengan lurus di samping badan atau
penderita duduk dengan lengan bawah yang diletakkan diatas meja (usahakan
agar lengan atas setinggi jantung).
4. Tekanan darah bisa diukur pada lengan atas atau tungkai atas.
5. Buka tutup tensimeter dan tegakkan kolom air raksa sampai tegak lurus.
6. Pasanglah manset yang sesuai dengan panjang lengan/tungkai atas atau sesuai
umur penderita melingkari lengan atas atau tungkai atas , dengan batas bawah
kurang lebih 3 cm dari siku atau lipat lutut. Usahakan pusat manset diatas a.
brakialis atau a. poplitea.
7. Buka kunci air raksa pada sphigmomanometer.
8. Palpasi a. brakialis atau a. radialis (pada lengan) atau a.poplitea (pada paha).
9. Pompa sampai 20 mmHg diatas titik dimana nadi menghilang.
10. Perlahan-lahan mengosongkan manometer dengan kecepatan 2-3 mmHg tiap
detik.
11. Tentukan pada titik mana nadi teraba pertamakali dan catat sebagai tekanan
sistolik. Tekanan diastolik tidak bisa ditentukan dengan metode ini.

Tekanan darah sistolik dan diastolik meninggi pada pelbagai kelainan ginjal
(hipertensi renal); baik kelainan reno-parenkim (glomerulonefritis, pielonefritis, kadangkadang sindrom nefrotik), maupun kelainan reno-vaskular (penyempitan a.renalis).
Tekanan darah juga dapat meningkat pada keadaan peninggian tekanan intrakranial,
hiperfungsi adrenal, dan intoksikasi vitamin A dan D.
Peningkatan tekanan darah sistolik tanpa peningkatan tekanan diastolik
(akibatnya tekanan nadi besar) dapat dijumpai pada penderita duktus arteriosus

11

persisten, insufisiensi aorta, fistula arterio-vena, dan keadaan hiperkinetik seperti


ansietas dan anemia.
Tekanan darah sistolik yang rendah dengan tekanan diastolik yang normal
(akibatnya tekanan nadi kecil) terdapat pada stenosis aorta.
Tekanan sistolik dan sistolik menurun ditemukan pada keadaan renjatan oleh
karena sebab apapun.
Tekanan darah yang tinggi pada ekstremitas superior dengan tekanan yang
rendah pada ekstremitas inferior menunjukkan adanya kemungkinan koarktasio aorta
distal dari a. subklavia kiri, atau aortitis desendens/aortitis abdominalis.
Bila koarktasio aorta terdapat proksimal dari a.subklavia kiri, maka tekanan
darah di lengan kanan meninggi, sedangkan pada ketiga ekstremitas lainnya rendah.
Pada sebagian besar penderita penyakit Takayasu, tekanan darah pada
ekstremitas superior rendah atau tidak terukur, sedangkan tekanan darah pada
ekstremitas inferior normal.
Pada beberapa keadaan terdapat perbedaan yang cukup besar antara tekanan
darah sistolik pada saat inspirasi dan saat ekspirasi; yang dalam keadaan normal
perbedaan tersebut tidak lebih dari 10 mmHg. Perbedaan tekanan darah sistolik pada
saat inspirasi dan saat ekspirasi yang lebih dari 10 mmHg (disebut pulsus paradoksus
atau pulsus paradoksikus) terjadi pada tamponade jantung, gagal jantung yang berat
atau asma bronkial berat.
1.3. PERNAFASAN
Setelah nadi dan tekanan darah, pernafasan merupakan tanda vital ketiga yang
perlu dinilai dalam pemeriksaan seorang penderita. Pemeriksaan pernafasan seorang
penderita harus mencakup 4 hal, yaitu :
a. Laju pernafasan
b. Irama atau keteraturan
c. Kedalaman
d. Tipe atau pola pernafasan
a. Laju pernafasan :
Berdasarkan laju pernafasan normal per menit pada masing-masing golongan umur
(Lihat Tabel A-4 pada Appendix) dikenal 2 macam keadaan, yaitu :

Takipne :

12

Pernafasan yang cepat, yang seringkali tampak pada pelbagai penyakit paru. Pada
bayi dan anak kecil takipne merupakan tanda dini gagal jantung.

Bradipne :
Pernafasan yang lambat ini dapat dijumpai pada gangguan pusat pernafasan,
tekanan intrakranial meninggi, pengaruh obat sedatif, alkalosis atau keracunan.

b. Kedalaman nafas :

Eupne :
Pernafasan yang kedalamannya normal.

Hiperpne :
Pernafasan yang dalam ini dapat ditemui pada keadaan asidosis, anoksia serta
kelainan susunan saraf pusat.

Hipopne :
Pernafasan yang dangkal ini biasanya menunjukkan adanya gangguan susunan
saraf pusat.

Gambar 1.3.1. Tipe-tipe pernafasan.


(Dari : MATONDANG, C.S. et al. Pemeriksaan Fisis. In : Diagnosis Fisis pada
Anak. 2nd ed. Jakarta : PT Sagung Seto, 2000 : 18-35)

13

c. Tipe atau pola pernafasan :

Pernafasan Abdominal atau diphragma :


Tipe pernafasan ini merupakan tipe pernafasan bayi dalam keadaan normal.

Pernafasan Torakal :
Terdapatnya pernafasan torakal pada bayi dan anak kecil menunjukkan adanya
kelainan paru, kecuali bila penderita sangat kembung.
Makin besar anak, makin jelas komponen torakal pada pernafasan; dan pada umur
7-8 tahun komponen torakal menjadi predominan (torakoabdominal).

Pernafasan Cheyne-Stokes :
Pernafasan tipe ini ditandai dengan pernafasan yang cepat dan dalam, diikuti oleh
periode pernafasan yang lambat dan dangkal, serta akhirnya periode apne.
Tipe pernafasan ini kadang-kadang dijumpai pada bayi baru lahir normal, terutama
premature. Pola ini biasanya hilang setelah bayi berumur beberapa minggu.
Pernafasan Cheyne-Stokes yang patologis ditemukan pada pelbagai penyakit
yang menyebabkan depresi susunan saraf pusat.

Pernafasan Kussmaul
Tipe pernafasan ini ditandai oleh pernafasan yang dalam dan cepat. Keadaan ini
dijumpai pada keadaan asidosis metabolik, seperti dehidrasi,

hipoksia, atau

keracunan salisilat.

Pernafasan Biot :
Pernafasan ini ditandai dengan irama yang sama sekali tidak teratur. Biasanya
merupakan petunjuk adanya penyakit susunan saraf pusat, seperti ensefalitis,
poliomyelitis tipe bulbar.

Dalam melakukan pemeriksaan pernafasan penderita dapat dijumpai keadaan


patologis yaitu :

Dispne (kesulitan bernafas) :


Keadaan ini ditandai oleh pernafasan cuping hidung, retraksi subkostal, interkostal,
atau suprasternal; dan dapat disertai sianosis dan takipne.
Perlu diperhatikan apakah distres terjadi terutama pada inspirasi atau ekspirasi.
Dispne pada inspirasi lebih mengarah pada obstruksi tinggi, sedangkan distres
pada ekspirasi lebih mengarah ke obstruksi letak rendah.

14

Dispne juga terjadi akibat latihan fisis, nyeri, ketakutan, anemia, atau gagal
jantung.

Ortopne :
Ortopne berarti kesulitan bernafas bila penderita berbaring, yang berkurang
apabila penderita duduk atau berdiri.
Keadaan ini ditemui pada asma, gagal jantung, edema paru, epiglotitis, croup, dan
fibrosis kistik.

Dispne nokturnal paroksismal :


Keadaan ini terjadi beberapa jam setelah penderita tidur, biasanya tengah malam,
dan merupakan tanda edema paru akut, misalnya pada stenosis mitral berat.

Alat yang diperlukan : 1. Jam yang dilengkapi jarum detik, atau


2. Stop watch.
Cara menghitung Laju Pernafasan :
1. Pemeriksa memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud dan tujuan pemeriksaan
kepada penderita atau orangtua penderita.
2. Pada bayi dan anak penghitungan laju pernafasan paling tepat bila dilakukan pada
waktu tidur.
3. Pemeriksa berada di sisi kanan penderita.
4. Laju pernafasan dapat dihitung dengan 3 cara, yaitu :
a. Cara inspeksi :
* Pemeriksa melihat gerakan nafas dan menghitung frekuensinya (harus dihitung
selama 1 menit penuh)
* Catat laju pernafasan dalam satuan frekuensi/menit (Nilai normal laju
pernafasan sesuai dengan golongan umur dapat dilihat pada Appendix Tabel
A-4)
Catatan : cara ini tidak praktis dan tidak dianjurkan , karena pemeriksa harus
melihat gerakan nafas dan detik jarum jam sekaligus.
b. Cara palpasi :
* Pemeriksa meletakkan tangan pada dinding abdomen atau dinding dada
penderita.

15

* Menghitung gerakan pernafasan yang terasa pada tangan tersebut, sementara


pemeriksa memperhatikan jarum jam/stopwatch (harus dihitung selama 1
menit penuh).
* Catat laju pernafasan dalam satuan frekuensi/menit (Nilai normal laju
pernafasan sesuai dengan golongan umur dapat dilihat pada Appendix Tabel
A-4)
Catatan : cara ini dianjurkan.
c. Cara auskultasi :
* Pemeriksa meletakkan stethoskop di dada penderita.
* Pemeriksa mendengarkan suara nafas, sambil menghitung laju pernafasan
(harus dihitung selama 1 menit penuh).
* Catat laju pernafasan dalam satuan frekuensi/menit (Nilai normal laju
pernafasan sesuai dengan golongan umur dapat dilihat pada Appendix Tabel
A-4)
1.4. SUHU TUBUH
Demam adalah manifestasi pelbagai penyakit. Suhu tubuh dapat meningkat
sedikit apabila anak menangis, setelah makan, setelah bermain, dan ansietas. Infeksi
bakteri, virus, protozoa, dehidrasi serta heat stroke akan menyebabkan demam dari
yang ringan sampai hiperpireksi. Demam juga dapat terjadi pada trauma otak, tumor
otak, keganasan, penyakit jaringan ikat, reaksi transfusi, reaksi obat dan sebagainya.
Hipertermia (suhu tubuh > 41C) adalah keadaan yang berbahaya sehingga
perlu penurunan suhu dengan segera.
Hipotermia (suhu tubuh < 35C) juga dapat berakibat fatal, terutama pada bayibayi prematur. Infeksi berat, termasuk sepsis, yang pada anak besar disertai dengan
demam; pada bayi baru lahir, terutama prematur, justru dapat disertai hipotermi.
Hipotermi juga terdapat pada dehidrasi dan renjatan.
Suhu badan penderita dapat diukur pada beberapa tempat, yaitu :

Aksila (suhu aksila) : paling umum dipakai.

Rektal (suhu rektal) : pada anak umur kurang 2 tahun.

Lipatan paha (inguinal) : pada anak umur kurang 2 tahun.

Oral (suhu oral) : pada orang dewasa dan anak umur lebih dari 6 tahun.

Tympanic: untuk semua umur. Cara ini paling mudah diterima anak.

16

Pemilihan tempat pengukuran suhu badan didasarkan pada umur dan keadaan
penderita, kebijakan institusi dan paling kurang traumatik bagi anak.
Tempat pengukuran harus dicantumkan dalam catatan suhu badan, mengingat
adanya perbedaan suhu pada tempat pengukuran yang berbeda. Suhu rektal yang
menggambarkan suhu tubuh pasien (core temperature) akan lebih tinggi dari pada suhu
yang diukur di tempat lain. Pada umumnya suhu aksila 1C lebih rendah dari suhu
rektal, sedang suhu oral 0,5C lebih rendah daripada suhu rektal. Dalam keadaan
normal suhu aksila berkisar antara 36C sampai 37C.
Satuan suhu badan yang dipakai

di Indonesia adalah derajat Celcius(C);

sedangkan di Eropa dan Amerika satuan yang sering dipakai adalah derajat Fahrenheit
(F)
Alat yang diperlukan : 1. Jam yang dilengkapi jarum detik
2.Thermometer badan air raksa (tidak dianjurkan karena bahaya
pecah dan inhalasi uap beracun) atau
3.Thermometer digital.
Cara menghitung Suhu Tubuh :
a. Pada orang dewasa
1. Pemeriksa memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud dan tujuan
pemeriksaan kepada penderita atau orangtua penderita.
2. Mengibas-ngibaskan thermometer badan sebelum dipakai, sehingga permukaan
air raksa turun sampai dibawah 35C.
3. Pada umumnya yang diukur suhu aksila (*), karena itu kepitkan thermometer di
aksila selama 3 menit.
4. Setelah 3 menit, baca suhu badan yang ditunjukkan oleh permukaan air raksa.
5. Tulis suhu badan penderita dengan kepekaan 0,1C (Contoh suhu badan 37,1C)
Catatan : - Pada orang dewasa dan anak diatas umur 6 tahun suhu badan dapat pula
diukur di mulut (suhu oral), yakni dengan meletakkan reservoar thermometer
di bawah lidah (sublingual) dalam posisi penderita duduk atau berbaring.
Cara ini hanya dipakai bila anak kooperatif dan sudah mengerti tujuan
pemeriksaan.

17

DAFTAR PUSTAKA
1. DOUGLAS, G. Et al. The Cardiovascular system. In : Macleods Clinical Examination. 11th
ed. Edinburgh : Elsevier Churchill Livingstone, 2005 : 90-94.
2. FORD, J.M. et al. The Cardiovascular system. In : Introduction to Clinical Examination. 8th
ed. Edinburgh : Elsevier Churchill Livingstone, 2005 : 61-81.
3. SWARTZ. H.M. Pemeriksaan fisik. In : Buku Ajar Diagnostik Fisik. 1st ed. Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran, EGC, 1995 : 49-55.
4. SWARTZ. H.M. Jantung. In : Buku Ajar Diagnostik Fisik. 1st ed. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran, EGC, 1995 : 194-198.

CHECK LIST PENILAIAN PEMERIKSAAN VITAL SIGN

18

No.

Aspek yang dinilai

Nilai
0

Pemeriksaan suhu
1

Pemeriksa memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud dan


tujuan pemeriksaan

mempersilahkan pasien baring dan lengan lurus disamping badan

Pemeriksa berada di sisi kanan penderita.

Mempersiapkan alat: Jam yang dilengkapi jarum detik,thermometer


badan air raksa
Mengibas-ngibaskan thermometer badan sebelum dipakai,
sehingga permukaan air raksa turun sampai dibawah 35C.

6
7

kepitkan thermometer di aksila selama 3-5 menit,

Mengambil termometer dari kepitan penderita

Membaca angka yang ditunjukkan oleh tinggi permukaan air raksa.

Mencatat suhu badan penderita sesuai hasil yang diperoleh


dengan kepekaan 0,1C
Pemeriksaan nadi
1
Pemeriksa menjelaskan maksud dan tujuan pemeriksaan
10

meraba a. radialis penderita dengan ujung jari II, III dan IV tangan
kanan, sedangkan ibu jari berada dibagian dorsal tangan

Menghitung denyut dan irama nadi selama 1 menit penuh.

Mencatat hasil pemeriksaan (frekwensi/menit)

Pemeriksaan pernapasan (metode palpasi)


1
Pemeriksa menjelaskan maksud dan tujuan pemeriksaan
2
3
4

Pemeriksa meletakkan telapak tangan pada dinding abdomen atau


dinding dada depan penderita
Menghitung pergerakan (naik-turun) dinding dada depan atau
abdomen yang terasa pada telapak tangan sambil pemeriksa
memperhatikan jarum jam/stopwatch
Mencatat hasil pemeriksaan (frekuensi/menit)

Pemeriksaan Tekanan Darah (Metode Auskultasi)


1

menjelaskan maksud dan tujuan pemeriksaan

Istirahatkan penderita selama 5 menit

Buka tutup tensimeter dan tegakkan kolom air raksa sampai tegak
lurus di samping kanan penderita.

Buka kunci air raksa pada sphygmomanometer

19

Pasanglah manset sesuai panjang lengan atas, melingkari lengan,


dengan batas bawah kurang lebih 3 cm dari siku. Usahakan pusat
manset di atas a. brakialis.

Pasang tangkai stetoskop pada kedua lubang telinga.

Meraba A. brakhialis pada fossa cubiti dengan ujung jari II, III dan
IV tangan kanan.

Mengunci balon pompa manset sphygmomanometer.

10

Pompa manset dengan cepat sampai denyut nadi a. brakhialis


tidak teraba, kemudian lanjutkan pompa hingga tekanan bertambah
20-30 mm Hg lagi.

11

Meletakkan membran stethoskop pada a. brakialis (di fossa cubiti)

12

Membuka kunci pompa sphygmomanometer perlahan-lahan


dengan kecepatan penurunan air raksa 2-3 mm/detik .
Mata mengamati tinggi air raksa sphygmomanometer saat
terdengarnya awal bunyi beep pertama (tekanan sistolik).
Mata mengamati tinggi air raksa sphygmomanometer saat bunyi
beep tidak terdengar (tekanan diastolik).

13
14
15

Kosongkan sphygmomanometer dengan cepat.

16

Tutup kembali kunci air raksa pada sphygmomanometer, lepas


mansetnya dan tutup kembali sphygmomanometernya.

17

Catat Tekanan Darah (Sistolik/Diastolik) dalam satuan mm Hg

JUMLAH

Keterangan :
0

Tidak dilakukan

Dilakukan

Dilakukan dengan benar

20

Anda mungkin juga menyukai