Anda di halaman 1dari 6

Perpindahan Panas Pada Furnace

1.

Perpindahan Panas
Perpindahan panas adalah salah satu faktor yang sangat menentukan

operasional suatu pabrik kimia. Penyelesaian soal-soal perpindahan kalor secara


kuantitatif biasanya didasarkan pada neraca energi dan perkiraan laju perpindahan
panas. Perpindahan panas akan terjadi apabila ada perbedaan temperatur antara
dua bagian benda. Pada umumnya proses yang terjadi di dalam industri-industri
kimia sering melibatkan energi panas, misalnya proses perpindahan panas.
Pengetahuan tentang proses perpindahan panas sangat diperlukan untuk dapat
memahami peristiwa-peristiwa yang berlangusng dalam proses pemanasan,
pendinginan, evavorasi, dan lain-lain.
Industri kimia membutuhkan alat bantu untuk melaksanakan operasi
pertukaran panas (heat transfer) yang disebut alat penukar panas. Dimana dengan
alat ini dapat dilakukan pengendalian terhadap panas yang terlibat dalam proses.
Furnace merupakan salah satu alat batu dalam melakukan operasi pertukaran
panas di industri kimia. Kepustakaan perpindahan panas pada umumnya mengenal
tiga cara perpindahan panas yang berbeda : Konduksi (Conduction, juga di kenal
sebagai istilah hantaran), Radiasi (Radiation, proses dengan mana panas mengalir
dari benda yang bersuhu tinggi ke benda yang bersuhu rendah bila benda itu
terpisah dalam ruang, dan konveksi (Convection, juga di kenal sebagai ilian),
(Frank keith, 1991). Jika dibicarakan secara tepat, maka hanya konduksi dan
radiasi dapat di golongkan sebagai proses perpindahan panas, karena hanya kedua
mekanisme ini yang untuk terselenggaranya tergantung semata-mata pada beda
suhu. Yang disebut terakhir dari ketiga cara itu, yaitu konveksi, tidak secara tepat
memenuhi definisi perpindahan panas, karena untuk penyelenggaraanya
tergantung pada transport massa mekanik pula.
2.

Furnace
Furnace adalah alat yang berfungsi untuk memindahkan panas yang

dihasilkan dari proses pembakaran bahan bakar dalam suatu ruangan ke fluida.

yang dipanaskan sampai mencapai suhu yang diinginkan (Priyo Utomo, 1998).
Struktur furnace berupa bangunan berdinding plat baja yang bagian dalamnya
dilapisi oleh material tahan api, batu isolasiuntuk menahan kehilangan panas ke
udara melalui dinding furnace dan refractory.
Mekanisme perpindahan panas dari sumber panas ke penerima
dibedakan atas tiga cara, yaitu:
1) Perpindahan Panas secara Konduksi
Perpindahan panas secara konduksi adalah perpindahan panas dimana
melekul-molekul dari zat perantara tidak ikut berpindah tempat tetapi molekulmolekul tersebut hanya menghantarkan panas atau proses perpindahan panas dari
suhu yang tinggi ke bagian lain yang suhunya lebih rendah. Terjadi pada antar
elemen-elemen pada furnace. Dalam aliran panas konduksi, perpindahan energi
terjadi karena hubungan molekul secara langsung tanpa adanya perpindahan
molekul yang cukup besar. Mekanisme konduksi adalah zat padat yang tidak
tembus cahaya. Konduksi penting pula dalam fluida, tetapi didalam medium yang
bukan padat biasanya tergabung dengan konveksi.
Panas yang masuk ke dalam furnace terdiri dari : Panas pembakaran dan
sensible fuel gas, Panas pembakaran dan sensible fuel oil, Panas sensible
atomizing steam, Panas sensible udara pembakaran., Panas yang dibawa oleh
minyak mentah. Dalam aliran panas konduksi, perpindahan energi terjadi karena
hubungan molekul secara langsung tanpa adanya perpindahan molekul yang
cukup besar. Mekanisme konduksi adalah zat padat yang tidak tembus cahaya.
Konduksi penting pula dalam fluida, tetapi didalam medium yang bukan padat
biasanya tergabung dengan konveksi, dan dalam beberapa hal juga dengan radiasi.
2)

Perpindahan Panas secara Konveksi


Perpindahan panas secara konveksi diakibatkan molekul-molekul zat

perantara ikut bergerak mengalir dalam perambatan panas atau proses


perpindahan panas dari satu titik ke titik lain dalam fluida antara campuran Fluida
dengan bagian yang lain. Perpindahan panas dalam suatu fluida dari suhu tinggi
ke suhu rendah disertai perpindahan molekul dari suatu tempat ke tempat yang

lain. Perpindahan panas pada minyak di dalam pipa furnace merupakan


perpindahan secara konveksi Perpindahan panas ini dapat dibedakan menjadi dua
macam, yaitu:
a)

Konveksi alam ( Natural Convection). Perpindahan panas yang terjadi


bila aliran panas yang berpindah diakibatkan perbedaan berat jenis.
Pada konveksi alam aliran fluida disebabkan oleh perbedaan suhu
antara bagian satu dengan bagian lainnya sehingga terjadi perbedaan
densitas. Densitas bagian fluida dingin lebih besar dari bagian fluida
panas. Aliran terjadi akibat adanya perbedaan densitas

b) Konveksi paksa (Forced Convection). Perpindahan panas yang terjadi


bila aliran fluida disebabkan oleh adanya gerakan dari luar, seperti
pemompaan, pengadukan, dll.
3)

Perpindahan Panas secara Radiasi


Perpindahan panas secara radiasi adalah perpindahan panas yang terjadi

karena perpindahan energi melalui gelombang elektromagnetik secara pancaran


atau proses perpindahan panas dari sumber panas ke penerima panas yang
dilakukan dengan pancaran gelombang panas. Antara sumber panas dengan
penerima panas tidak terjadi kontak. Bagian dapur yang terkena radiasi adalah
ruang pembakaran.
Untuk pembakaran, bahan bakar yang digunakan pada furnace biasanya
terdiridari bahan bakar gas (fuel gas), bahan bakar minyak (fuel oil), kombinasi
bahanbakar gas dan minyak, serta bahan bakar padat seperti batubara, tergantung
seberapa besar panas yang ingin dihasilkan serta aspek keekonomisannya .
Besarnya beban panas yang harus diberikan oleh furnace kepada fluida yang
dipanaskan bergantung pada jumlah umpan dan perbedaan suhu inlet dan
outlet umpan yang ingin dicapai.Semakin besar perbedaan suhu dan semakin
banyak jumlah umpan, maka beban dapur akan semakin tinggi. Namun, juga
harus diperhatikan, bahwa suhu yang dicapai oleh fluida proses yang dipanaskan
tidak boleh mencapai suhu dimana dapat terjadi thermal cracking pada fluida
proses yang dipanaskan. Thermal cracking akan mengakibatkan terbentuknya gasgas ringan yang akan mengakibatkan volume fluida hasil pembakaran menjadi

sangat besar dan melebihi volume pipa fluida proses. Bila hal ini terjadi, dapat
menimbulkan bahaya berupa meledaknya furnace. Thermal cracking dapat pula
mengakibatkan terbentuknya coke yang dapat mengurangi luas perpindahan panas
pada furnace.
Furnace pada dasarnya terdiri dari sebuah ruang pembakaran yang
menghasilkan sumber kalor untuk diserap kumparan pipa (tube coil) yang
didalamnya mengalir fluida. Dalam konstruksi ini biasanya tube coil dipasang
menelusuri dan merapat kebagian lorong yang menyalurkan gas hasil bakar (flue
gas) dari ruang bakar ke cerobong asap (stack). Perpindahan kalor yang diruang
pembakaran terutama terjadi karena radiasi disebut seksi radiasi (radiant section),
sedangkan saluran gas hasil pembakaran terutama oleh konveksi disebut seksi
konveksi (convection section). Untuk mencegah supaya gas buangan tidak terlalu
cepat meninggalkan ruang konveksi maka pada cerobong seringkali dipasang
penyekat (damper). Perpindahan panas kalor melalui pembuluh dikenal sebagai
konduksi.
Hal ini menunjukkan bahwa rasa panas dari lampu dipindahkan secara
radiasi atau pancaran. Radiasi

merupakan

istilah

yang

digunakan

untuk

perindahan energi melalui ruang oleh gelombang-gelombang elektromagnetik.


Jika radiasi melalui ruang kosong, ia tidak ditranformasikan menjadi kalor atau
bentuk-bentuk lain energi, dan ia tidak pula akan terbelok dari lintasannya. Tetapi
sebaliknya, bila terdapat zat pada lintasannya, radiasi itu akan mengalami
transmisi (diteruskan), refleksi (dipantulkan), dan absorpsi (diserap).

Gambar 1 Skema Furnace

3.
1)

Tipe Furnace
Furnace berdasarkan konstruksinya secara umum terdiri dari :
Tipe Box Furnace yang berbentuk kotak/ box dan mempunyai burner di
samping atau di bawah yang tegak lurus terhadap dinding furnace . Nyala api
di dalam furnace adalah mendatar atau tegak lurus. Tube furnace dipasang
mendatar atau tegak lurus. Furnace tipe box mempunyai bagian radiasi dan
konveksi yang dipisahkan oleh dinding batu tahan api yang disebut bridge
wall. Burner dipasang pada ujung dapur dan api diarahkan tegak lurus dengan
pipa atau dinding samping dapur (api sejajar dengan pipa). Dapur jenis ini
jarang digunakan karena perhitungan ekonomi/harganya mahal.

2)

Tipe Silinder Vertikal

Furnace yang berbentuk silinder tegak yang

mempunyai burner padalantai furnace dengan nyala api tegak lurus ke atas
sejajar dengan dinding furnace. Dikatakan tipe vertical karena tube di dalam
seksi radiasi dipasang tegak lurus dan sejajar dinding furnace.
3) Cabin Furnace jenis ini terdiri dari kamar-kamar dimana tube-tubenya
dipasang secara horizontal. Letak burner pada bagian bawah Furnace dan
nyala api sejajar tegak lurus dengan dinding furnace . Dapur tipe kabin
mempunyai bagian radiasi pada sisi samping dan bagian kerucut furnace
Bagian konveksi terletak di bagian atas furnace sedangkan bagian terbawah
disebut shield section Burner dipasang pada lantai dapur dan menghadap ke
atas sehingga arah pancaran api maupun flue gas tegak lurus dengan susunan
pipa, adakalanya burner dipasang horizontal. Dapur tipe ini ekonomis karena
efisiensi termalnya tinggi. Keuntungan memakai dapur tipe kabin yaitu
bentuk konstruksi kompak dan mempunyai thermal effisiensi tinggi.
Salah satu jenis furnace adalah High Temperatur Chemical furnace
Furnace, tipe ini umumnya digunakan sebagai reactor ,dimana fluida yang
mengalir melalui pipa radiasi akan memperoleh panas radiasi secara merata.
Burner dipasang dilantai dengan arah pancaran api vertical dan dipasang di
dinding dengan arah pancaran api mendatar. Dengan cara pemasangan
burner tersebut maka tube akan memperoleh panas radiasi yang sama dari kedua
sisinya

Daftar Pustaka

Allan,D. 2012. Literatur Furnace. (Online). https://id .scribd.com /doc


/270984911/.html. (diakses pada tanggal 13 September 2015)
Respati, S. M. B. 2009. Rekayasa Pembuatan Furnace Dengan
Kapasitas 2400 Watt. Jurnal Momentum, Vol. 5, No. 2
Robert s, harry c.1988. Transport Phenomena. New York: McGraw-Hill
Book Company
Yuliani, H. 2011. Pengembangan Teknologi Kimia untuk Pengolahan
Sumber Daya Alam Indonesia . Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia ISSN
1693 4393

Anda mungkin juga menyukai