Anda di halaman 1dari 27

REPARASI DERRICK BOOM

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Praktikum Teknik Galangan dan Reparasi Kapal
Program Studi Diploma III Teknik Perkapalan
Universitas Diponegoro
Semarang
Disusun oleh :

Rizqy Agung Nuladani


21090113060033

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK PERKAPALAN


PROGRAM DIPLOMA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan karunia-Nya
sehingga kami dapat menyusun makalah ini hingga dapat terselesaikan meskipun banyaknya
kesulitan dan hambatan bagi kami. Makalah tentang reparasi derrick boom yang patah
merupakan tugas mata kuliah praktikum galangan dan reparasi kapal. Ucapan terima kasih
penulis sampaikan kepada berbagai pihak yang telah membantu secara tidak langsung atas
penyelesaian makalah ini, yaitu :
1. Dosen

pengampu Praktikum galangan dan reprasi kapal yang telah memberikan

pengetahuan yang sangat berguna untuk penyelesaiaan makalah ini.


2. Orang tua dan seluruh keluarga yang telah memberikan dukungan baik dalam bentuk
material maupun spiritual.
3. Rekan-rekan seperjuangan mahasiswa DIII Teknik Perkapalan angkatan 2013 atas
segala bentuk bantuan yang diberikan sehingga makalah ini tersusun secara baik
dan memenuhi kriteria yang telah ditentukan.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tugas ini jauh daripada sempurna mengingat
keterbatasan kami, maka dari itu kami selaku penulis mengharapkan kritik dan saran dari para
pembaca.
Demikian tulisan ini dibuat semoga dapat bermanfaat untuk menambah wawasan
pengetahuan bagi penulis dan pembaca.

Semarang, 22 Desember 2015

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Untuk mendukung operasi bongkar muat barang pada kapal barang maka perlu
dilengkapi peralatan bongkar muat (cargo handling). Instalasi cargo handling terdiri dari
beberapa peralatan yang saling mendukung. Pada kapal barang, sangat penting untuk
menyediakan peralatan bongkar muat karena akan mempercepat proses bongkar muat barang dan
akan mengurangi biaya tambat di pelabuhan. Alat angkat yang akan digunakan di kapal
direncanakan berdasarkan beban yang akan diangkat guna menentukan SWL alat angkat yang
akan direncanakan.
Setiap kapal barang memiliki ruang muat (cargo hold) yang dilengkapi dengan tutup
palka. Konstruksi tutup palka ini harus dibuat kedap air untuk melindungi muatan yang ada di
ruang muat. Sedangkan bentuk konstruksi tutup palka harus direncanakan dengan tidak
membebani geladak dan tidak mengganggu operasi bongkar muat barang.
Soal !!!
Gambar dan jelaskan reparasi derrick boom yang patah pada pangkal boom sehingga
harus dipotong dan diganti baru sepanjang 4000 mm dan gooseneck beam yang deformasi
sebanyak 50 mm . Jesalakan :
a.
b.
c.
d.
e.

Persiapan Pekerjaan
Pelaksanaan Pekerjaan
Pembuatan WPS
Pemeriksaan Pekerjaan
Pelaksanaan PWHT

1.2 Rumusan Masalah


1.
2.
3.
4.
5.

Bagaimana Persiapan pekerjaan reparasi derrick boom ?


Bagaimana Pelaksanaan Pekerjan reparasi derrick boom ?
Bagaimana WPS untuk proses reparasi derrick boom yang patah?
Apa saja pemeriksaan yang perlu dilakukan setelh pelaksanaan reparasi?
Bagaimana Pelaksanaan PWHT yang digunakan pada saat reparasi?

1.3 Tujuan dan Manfaat


1.
2.
3.
4.

Mengetahui periapan pekerjaan reparasi derrick boom yang patah.


Mengetahui pelaksanaan pekerjaan dan urutan pekerjaan.
Mengetahui WPS pekerjaan reparasi derrick boom.
Mengetahui pemeriksaan apa saja yang harus dilakukan pasca reparasi derrick boom.

5. Pelaksanaan PWHT pada reparasi derrico boom.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Tinjauan Umum
Derrick boom adalah salah satu instalasi cargo handling yang terdiri dari komponen tiang
agung (mast), batang muat (boom) yang ujung-ujungnya dilengkapi pralatan yang disebut heel
fitting dan head fittng yang digunakan untuk tempat menempelnya batang muat dengan mast dan
pada ujung lainnya untuk tempat pemasangan tali span dan tali muat. Memiliki bagian antara lain
:
a. Goose neck bracket adalah tempat pemasangan pena yang berhubungan dengan heel
fitting.
b. Topping bracket adalah tempat pemasangan span block yang berhubungan dengan
peralatan head fitting dan cargo.
c. Winch yaitu winch untuk menggulung tali-tali bongkar muat.
d. Perlengkapan lainnya yang harus dipasang pada saat kegiatan bongkar muat adalah block,
tali dan hook.
Tipe derrick boom yang dikenal adalah swinging derrick dimana memiliki boom hanya satu
pada setiap lubang palka sedangkan tipe lain union purchase dimana setiap lubang palka terdapat
dua boom.

Material batang muat (boom) terbuat dari pipa baja dan panjang boom harus sependek mungkin
dengan mempertimbangkan kondisi dibawah ini :
a) Perbandingan antara jarak goose neck bracket ke topping bracket dengan panjang
boom adalah 0,6 - 0,8.
b) Sudut elevasi pada kondisi tersebut sekitar 250 - 300
c) Pencapaian ujung boom yang keluar dari sisi lambung kapal pada kondisi sudut
elevasi diatas berjarak 3 5 meter dari tepi lambung kapal agar muatan yang diangkat
atau diturunkan tidak bergesek dengan lambung. Untuk kapal-kapal kecil jarak ini
diambil 2,5 meter.
d) Posisi ekstrim dari ujung boom pada kondisi kerja harus tidak boleh kurang dari 1/3
panjang lubang palka.
e) Sudut boom pada kondisi kerja terhadap sisi kapal 600.
Jarak goose neck bracket ke geladak utama sekitar 2,6 2,8 meter atau sekitar 0,4 - 0,6
meter dari plateform winch.
2.2 Reparasi Derrick Boom
Untuk derrick boom yang patah pada pangkal dan akan diganti maka langkah langkah
yang harus dilakukan antara lain :
2.2.1 Persiapan Pekerjaan
Persiapan pekerjaan yang harus dilakukan sebelum pekerjaan dilakukan antara lain :
a.

Tata Stop block atau balok kayu sebagai tatakan dan pelurus derrick boom.

b.

Siapkan mobile crane untuk mengangkat dan menurunkan pipa derrick boom

c.

Siapkan brander potong (cutting torch)

untuk meotong dan membevel pipa derrick

boom.
d.

Siapkan Travo las untuk pengelasan reparasi derrick boom dan gose neck boom.

e.

Pipa pengganti derrick boom , pelat bending dan pelat back strip.

f.

Gerinda untuk menghaluskan sisa sisa pemotongan.

g.

APD

h.

K3
2.2.1 Pembuatan WPS

Dalam pembuatan WPS ada dua variabel yang harus dipertimbangkan, yaitu variabel
penting dan variabel tidak penting.Variabel penting adalah varibel yang harus diperhatikan,
jika ada perubahan terhadap variabel tersebut maka wajib dilakukan pengujian atau test.
Variabel penting :
1. T(tebal plate) atau t(tebal bahan las yang terdeposisi)
2. P Number yang terkualifikasi (material grouping)
3. A Number
4. Proses PWHT
5. Perubahan proses las
6. Perubahan suhu preheating.
Variabel tidak penting adalah variabel yang jika dilakukan perubahan tidak akan
mempengaruhi hasil sehingga tidak perlu dilakukan pengujian.
Variabel tidak penting :
1. Design kampuh las
2. Root gap
3. Perubahan diameter kawat las
4. Perubahan arah pengelasan
5. Perubahan polaritas arus
6. Perubahan metode gouging.
Untuk Pengelasan reparasi derreck boom membutuhkan wps sebagai berikut :
-

Menggunakan pengelasan 5F , karena derrick boom berbentuk pipa


dan welder harus melaksanakan welding pada objek berbentuk silinder
/ pipa yang tidak bergerak.

Melakukan pengelasan Mahkota pada pelat pengganti batang derrick boom


agar pengelasan lebih kuat dan lebih banyak.

Selain menggunakan pengelasan 5F dapat juga dilaksanakan dengan


pengelasan posisi 5G, karena untuk pengelasan hrus menggunkan posisi
downhand untuk meminimalisir terjadinya cacat,
2.2.3 Pelaksanaan Pekerjaan

Derrick boom diturunkan dan dilepas dari goes neck.


-

Diturunkan , dibawa ke bengkel dan diletakkan lurus memanjang dengan stop block /
balok kayu yang telah disediakan agar rata dan mudah mereparasi. (gambar 3)

Lakukan pemotongan pada derrick boom dengan brander potong sepanjang 4000 mm
dibagi 2 memanjang.

Persiapkan pelat back strip / pelat pengganti derrick boom yang sudah disiapkan , dan
dibending sesuai ukuran derrick boom.

Lakukan pengelasan back strip diameter sesuai pipa dan lebar 60 mm. (gambar 1)

Lakukan pengelasan back strip kedalam pipa tersebut yang akan dilakukan
penyambungan.
-

Lakukan pengelasan pelat back strip panjang 4000 mm , lebar 60 mm pada sisi kanan
dan kiri silinder berbentuk lingkaran secara memanjang.

Las pipa lingkaran pada sisi bawah tersebut ke bagian derrick boom.
-

Lakukan pengelasan lingkaran bagian atas dengan sisi bagian bawah yang sudah
terpasang tadi. (gambar 2)

Siapkan pelat pipa berbentuk mahkota sepanjang 6000-7000 mm.


-

Masukkan ke dalam derrick boom yang sudah direparasi tadi dan lakukan pengelasan
pada bagian pipa mahkota tersebut pada sisi depan dan sisi belakang. Dilakukan untuk
memperkuat lengan dari derrick boom. (gambar 6/7)

Pada saat proses pengelasan perlu diperhatikan sequence area untuk memperhatikan apakah
terjadi deformasi akibat penarikan dari pengelasan.
Batang
derrick boom

Stop block`

Back strip

Pelat mahkota

sepanjang 4000-700

Goes
neck
boo
m
-

Lepa
s
goes
neck
boo
m
pada
temp
atnya
.
(gam
bar
4)

Isi
bagia
n
goes
neck
boo
m
terse

but
deng
an
las
yang
elekt
rodra
nya
sama
deng
an
jenis
goes
neck
boo
m
terse
but.
-

Ata
u
isi
den
gan
mat
eria
l
seje
nis
den
gan
mat
eria

l
goe
s
nec
k ,
den
gan
car
a
bee
lzo
na
ata
u
me
tal
spr
ay.

Pem
eriks
aan
peke
rjaan
:
-

D
ry
Penetra
nt Test

B
e
ri
k
u
t
a
d
a
l
a
h
l
a
n
g
k
a
h
l
a
n
g
k
a
h
u
t
a
m
a
I
n
s
p
e
k
si
p
e
n
e
tr
a
n
c

a
ir
/
"
d
y
e
p
e
n
e
tr
a
n
t
i
n
s
p
e
c
ti
o
n
"
c
a
r
a
kerja
penetran
t test:
1.Bersih
kan
permuk
aan
material

P
ermukaa
n

uji

dibersih
kan
terlebih
dahulu
agar
kotoran,
cat,
minyak,
atau
gemuk
tidak
menimb
ulkan
indikasi
yang
tidak
relevan
atau
palsu.
Metode
pembersi
han
dapat
menggu
nakan
cairan
pembersi

hnya
(Cleaner
/Remove
r), untuk
pembersi
han
redusi
alkali,
atau uap
degreasi
ng.
Tujuan
akhir
dari
langkah
ini
adalah
permuka
an yang
bersih di
mana
setiap
cacat
terlihat
dan
terbentu
k

ke

permuka
an,
kering,
dan

bebas
dari
kontam
inasi.

2.
Sempr
otkan
penetr
ant ke
area
yang
akan
di
inspek
si:

P
enetran
test

ini

kemudia
n
diterapk

an pada
permuka
an
material
bahan
yang
diuji.
Penetran
sebaikny
a
diberika
n "waktu
tunggu"
untuk
meresap
ke dalam
setiap
kemung
kinankemung
kinan
cacat
yang ada
(biasany
a

sampai
30
menit).
Waktu
tunggu
terutama

tergantu
ng pada
penetran
yang
digunaka
n, bahan
yang
diuji dan
ukuran
kekuran
gan
dicari.
Seperti
yang
diharapk
an,
kekuran
gan kecil
membut
uhkan
waktu
lebih
lama
dalam
penetrasi
nya.
Karena
sifat
yang
tidak
kompati

bel
mereka
harus
berhati
-hati
untuk
tidak
menerap
kan
pelarut
berbasis
penetran
ke
permuka
an yang
akan
diperiksa
denganp
enetrany
angtelah
dicuci.
3.
Bersi
hkan
sisa
penet
rant:

S
isa-sisa

penetran
kemudia
n
dihapus
dari
permuka
an.
Metode
penghap
usan
dikendal
ikan
oleh
jenis
penetran
digunaka
n.

Air-

dicuci,
pelarutremovab
le,
lipofilik
pascadiemulsi
kan, atau
hidrofili
k pascadiemulsi
kan
adalah
pilihan

umum.
Pengem
ulsi
merupak
an
tingkat
sensitivit
as
tertinggi,
dan
kimia
berintera
ksi
dengan
penetran
berminy
ak untuk
membua
tnya
dilepas
dengan
semprota
n

air.

Bila
menggu
nakan
remover
pelarut
dan kain
adalah
penting

untuk
tidak
menyem
prot
pelarut
pada
permuka
an

tes

langsung
, karena
ini dapat
menghap
us

penetran dari kekurangan. Jika penetran berlebih tidak benar dihapus, setelah pengembang
diterapkan, hal itu mungkin meninggalkan latar belakang di daerah maju yang dapat menutupi
indikasi atau cacat. Selain itu, ini juga dapat menghasilkan indikasi palsu sangat menghambat
kemampuan Anda untuk melakukan pemeriksaan yang tepat.
4. Penerapan Pengembang:

Setelah penetran berlebih telah dihapus pengembang putih diterapkan pada sampel. Jenis
pengembang tersedia beberapa, termasuk: non-berair pengembang basah , bubuk kering, air
suspendable, dan larut dalam air. Pilihan pengembang diatur oleh kompatibilitas penetran (satu
tidak dapat menggunakan pengembang yang larut dalam air atau suspendable dengan air-dicuci
penetran), dan oleh kondisi inspeksi. Bila menggunakan non-berair pengembang basah (NAWD)
atau bubuk kering, sampel harus dikeringkan sebelum aplikasi, sedangkan pengembang larut dan
suspendable diterapkan dengan bagian masih basah dari langkah sebelumnya. NAWD tersedia
secara komersial dalam kaleng semprot aerosol, dan dapat menggunakan aseton , alkohol
isopropil , atau propelan yang merupakan kombinasi dari dua. Pengembang harus membentuk
semi-transparan, bahkan lapisan pada permukaan.
Pengembang menarik penetran dari cacat keluar ke permukaan untuk membentuk indikasi
yang terlihat, umumnya dikenal sebagai berdarah-out. Setiap daerah yang berdarah-out dapat
menunjukkan lokasi, orientasi dan jenis kemungkinan cacat pada permukaan. Menafsirkan hasil
dan karakterisasi cacat dari indikasi yang ditemukan mungkin memerlukan beberapa pelatihan
dan / atau pengalaman [ukuran indikasi bukanlah ukuran sebenarnya dari cacat]

5. Inspeksi:

Inspektur akan menggunakan cahaya tampak dengan intensitas yang memadai (100 kakililin atau 1100 lux khas) untuk dye penetrant terlihat. Ultraviolet (UV-A) radiasi intensitas yang
memadai (1.000 mikro-watt per sentimeter kuadrat umum), bersama dengan rendah tingkat
cahaya ambient (kurang dari 2 foot-candle) untuk pemeriksaan penetran neon. Inspeksi
permukaan uji harus dilakukan setelah 10 sampai 30 menit waktu pengembangan, tergantung
jenis produk.
Ini penundaan waktu memungkinkan tindakan blotting terjadi. Inspektur dapat
mengamati sampel untuk pembentukan indikasi kapan menggunakan pewarna terlihat. Ini juga
kebiasaan yang baik untuk mengamati indikasi karena mereka terbentuk karena karakteristik
berdarah keluar adalah bagian penting dari karakterisasi penafsiran kekurangan.
- Load test.
Pemeriksaan dan pengujian dilakukan berdasarkan peraturan, standard sebagai berikut :
1. Permen Pertambangan & Energi No. 06 P/0746/M. PE/1991 tanggal 19 November 1998
2. Keputusan Dirjen Migas No. 84. K/38/DJM/1998 tanggal 19 Agustus 1998
3. ANSI Standard:
-

B30.2 Overhead and Gantry Crane

B30.11 Monorails and Underhung Crane

B30.16 Overhead Hoist (Underhung)

B30.9 Sling

B30.10 Hook

Lingkup Pemeriksaan dan Pengujian


1. Pemeriksaan Data Crane terdiri dari :

Quality System pemilik

Buku Petunjuk pengoperasian & perawatan (Operating manual & maintenance)

Ijin Operasi Crane dan Operator

Log Book dan History report

2. Pemeriksaan Awal (visual Inspection) terdiri dari :

Rangka

Span

Sambungan-sambungan

Piranti pengaman dan peralatan kontrol

Mekanisme pengangkat

Tenaga penggerak (Listrik)

Bolts & Nuts (strength of tying)


3. Pengujian lifting hoist/sling dengan alat Wire Rope Tester dilaksanakan sebelum pengujian
beban dan sesudah pengujian beban.
4. Pengujian tidak merusak (Non Destructive Testing) yaitu dengan Magnetic Particle Test
(MPT)/Dye Penetrant Test (DPT) terhadap bagian-bagian yang kritis antara lain :

Hook, Block, Wedge Socket, Pin

Sambungan-sambungan (pada daerah kritis) dan bagian/komponen konstruksi yang pada


saat pemeriksaan visual ditemukan kemungkinan adanya cacat-cacat atau keretakankeretakan

5. Pengujian fungsi antara lain :

Piranti pengaman

Rem dan kopling

Peralatan kontrol

Mekanisme pengangkatan dan penurunan beban

Mekanisme Traveling & Traversing