Anda di halaman 1dari 188

Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Terhadap Ny.

E Usia 30 Tahun P2A0


1 Minggu Post Partum Dengan Bendungan ASI
di BPS Usmalana Sadam, Amd.Keb
Bandar Lampung
Tahun 2015

KARYA TULIS ILMIAH

DISUSUN OLEH
NAMA :EVARIYANTI DAMANIK
NIM : 201207146

AKADEMI KEBIDANAN ADILA


BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2015

Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Terhadap Ny. E Usia 30 Tahun P2A0


1 Minggu Post Partum Dengan Bendungan ASI
di BPS Usmalana Sadam, Amd.Keb
Bandar Lampung
Tahun 2015

KARYA TULIS ILMIAH


Karya Tulis Ilmiah Dibuat Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mendapatkan
Gelar Profesi Ahli Madya Kebidanan Pada Prodi DIII Kebidanan
Akbid Adila Bandar Lampung

DISUSUN OLEH
NAMA :EVARIYANTI DAMANIK
NIM : 201207146

AKADEMI KEBIDANAN ADILA


BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2015

LEMBAR PENGESAHAN

Diterima dan disahkan oleh Tim Penguji Ujian Akhir Program Pendidikan
Diploma III Kebidanan Adila:

Hari

: Rabu

Tanggal

: 29 Juli 2015

Penguji I

Penguji II

Ninik Masturiyah, S.ST, M.Kes


NIK. 201501143

Nopa Utari S.ST


NIK. 2015021054

Direktur Akademi Kebidanan Adila


Bandar Lampung

Dr. Wazni Adila,M.PH


NIK. 2011041008

ii

Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Pada Ny. E Usia 30 Tahun P2A0


1 Minggu Post Partum Dengan Bendungan ASI
DI BPS Usmalana Sadam Amd.Keb
Bandar Lampung
Tahun 2015
Evariyanti Damanik, Ninik Masturiyah S.ST,M.Kes, Nopa Utari, S.ST

INTISARI

Menurut Word Health Organization (WHO), secara gobal pada tahun 2014 hanya
38% bayi di dunia yang mendapatkan ASI eksklusif hingga 6 bulan pertama
seperti yang dianjurkan. Menurut penelitian yang dilakukan di Dhaka pada 1.667
bayi selama 12 bulan mengatakan bahwa ASI eksklusif dapat menurunkan resiko
kematian akibat infeksi saluran nafas akut dan diare. Menurut Riset Kesehatan
Dasar tahun 2013, cakupan pemberian ASI di Indonesia hanya 30.2% Angka ini
berada jauh dibawah target kementrian kesehatan yaitu cakupan ASI eksklusif
bagi bayi 0- 6 per 2014 sebesar 80%.
Salah satu kelainan atau keadaan abnormal payudara pada masa nifas adalah
bendungan ASI. Bendungan Air Susu adalah terjadinya pembengkakan pada
payudara karena peningkatan aliran vena dan limfe sehingga menyebabkan
bendungan ASI dan rasa nyeri disertai kenaikan suhu badan. Salah satu faktor
penyebab bendungan ASI adalah pengosongan mamae yang tidak sempurna,
Bendungan ASI yang tidak disusukan secara adekuat, akhirnya bias terjadi
mastitis.
Tujuan dari penelitian ini diperolehnya pengalaman nyata dalam melaksanakan
asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan bendungan ASI. Metodelogi penelitian
dilakukan secara deskriptif. Subjek penelitian Ibu nifas yaitu Ny.E usia 30 tahun
P2A0, objek penelitian Bendungan ASI, tempat penelitian dilakukan di BPS
Usmalana Sadam Amd.Keb, kesimpulan hasil penelitian penulis dapat melakukan
pengkajian data sampai dengan evaluasi, tindakan yang telah diberikan terhadap
Ny.E dengan Asuhan Bendungan ASI. Penulis mengharapkan agar tenaga
kesehatan mampu memberikan Asuhan kepada ibu nifas dan mengajarkan cara
perawatan payudara agar tidak terjadi bendungan ASI.
Kata kunci
Perpustakaan

: Masa Nifas, Bendungan ASI


: 14 (2009-2014)

iii

CURRICULUM VITAE

Nama
Nim
Tempat Lahir
Tanggal Lahir
Alamat
Agama

: Evariyanti Damanik
: 201207146
: Masgar
: 14 Agustus 1991
: Masgar, Desa Bumi Agung Kec. Tegineneng.
: Protestan

Biografi

:
1.
2.
3.
4.
5.

TK Dharma wanita Kota agung Pesawaran 1996


SD N 3 Bumi Agung Pesawaran 1997- 2003
SMP N 1 Natar Lam- Sel 2003- 2006
SMA N 1 Natar Lam- Sel 2006- 2009
Akademi Kebidanan Adila B. Lampung 20122015

iv

Motto

I am the creator of my own destiny

-Evariyanti Damanik-

PERSEMBAHAN

Dengan mengucap syukur, kupersembahkan karya kecilku ini untuk :


1. Tuhan YME yang selalu memberikan kelancaran dan kemudahan kepada
penulis dalam menyusun Karya Tulis Ilmiah ini.
2. Terimakasih untuk kedua orang tuaku, serta adik- adik ku.
3. Terimakasih untuk teman- temanku angkatan ke VII.
4. Terimakasih untuk tempatku menuntut ilmu, Akademi Kebidanan ADILA
Bandar Lampung.

vi

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan YME yang selalu memberikan
kelancaran sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah yang
berjudul Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Pada Ny. E Usia 30 Tahun P2A0 1
Minggu Post Partum Dengan Bendungan ASI Di BPS Usmalana Sadam
Amd.Keb Bandar Lampung Tahun 2015 .
Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis tidak lepas dari kesalahan dan
kesulitan, namun berkat adanya bantuan, bimbingan, dukungan dan arahan dari
pembimbing dan pihak lain maka penulis dapat menyelesaikan. Karya Tulis
Ilmiah ini. Untuk itu ucapan terima kasih yang sebesarbesarnya penulis
sampaikan kepada :
1. dr. Wazni Adila, MPH selaku direktur Akademi Kebidanan Adila Bandar
Lampung
2. Adhesty Novita Xanda S.ST. M.Kes dan Eka Ayu Septiana S.ST selaku
pembimbing I dan II Karya Tulis Ilmiah.
3. BPS Usmalana Sadam, Amd. Keb yang telah memberikan izin untuk
meneliti di tempat
4. Seluruh dosen dan staf Akademi Kebidanan Adila Bandar Lampung
5. Semua pihak yang telah mendukung dan membantu penyusunan penulisan
Karya Tulis Ilmiah ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini tidak luput
dari kesalahan dan kekurangan. Untuk itu melalui kesempatan ini pula penulis
mengharapkan saran dan masukan yang membangun demi kesempurnaan Karya
Tulis Ilmiah ini.

Bandar Lampung, Juni 2015


Penulis

vii

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...................................................................................
HALAMAN PENGESAHAN........................................................................ .
INTISARI ....................................................................................................
CURICULUM VITAE ..................... .........
MOTTO ................ ..........
PERSEMBAHAN ..........................................................................................
KATA PENGANTAR ......................................................................... ..........
DAFTAR ISI ....................................................................................... ...........
DAFTAR TABEL................................................................................ ...........
DAFTAR GAMBAR.......................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN............................................................................ .......

i
ii
iii
iv
v
vi
vii
viii
ix
x
xi

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .........................................................................
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................
1.3 Tujuan ......................................................................................
1.4 Ruang Lingkup .........................................................................
1.5 Manfaat Penelitian....................................................................
1.6 Metodelogi Dan Tehnik Memperoleh Data ..............................

1
3
3
5
5
6

BAB II TINJAUAN TEORI


2.1 Tinjauan Teori Medis ...............................................................
2.2 Tinjauan Teori Asuhan Kebidanan ...........................................
2.3 Landasan Hukum Kewenangan Bidan ......................................

9
61
82

BAB III TINJAUAN KASUS


3. Pengkajian ................................................................................
3.1 Matrik ......................................................................................

84
92

BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Pengkajian................................................................................
4.2 Interpretasi Data Dasar .............................................................
4.3 Identifikasi Diagnosa/ Masalah Potensial..................................
4.4 Tindakan Segera/ Kolaborasi ....................................................
4.5 Perencanaan .............................................................................
4.6 Pelaksanaan ..............................................................................
4.7 Evaluasi ...................................................................................

106
127
129
130
130
133
144

BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ..............................................................................
5.2 Saran .......................................................................................

148
149

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

viii

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Program Masa NIfas ...................................................................... 13
Tabel 2.3 Involusi Uterus................................................................................ . 15
Tabel 3.1 Matriks. ......................................................................................... 92

ix

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Anatomi Payudara ..................................................................... 35


Gambar 2.2 Jenis- jenis puting susu................................................................. 37

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1
Lampiran 2
Lampiran 3
Lampiran 4
Lampiran 5
Lampiran 6

: Surat Izin Penelitian


: Surat izin bidan
: Jadwal penelitian
: SAP & Leaflet
: Dokumentasi
: Lembar konsul

xi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


ASI eksklusif adalah intervensi yang paling efektif untuk mencegah penyakit
pada anak. Dimana bayi hanya diberi ASI saja selama 6 bulan, tanpa
tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, air teh dan air putih, serta
tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, bubur susu, biskuit, bubur
nasi, dan nasi tim. Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan terbaik untuk bayi,
karena kandungan gizi dari ASI sangat khusus dan sempurna. Setelah usia 6
bulan bayi mulai diberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI). ASI dapat
diberikan sampai anak berusia 2 tahun atau lebih (Ambarwati, 2008; h.30).
Salah satu tujuan masa nifas adalah memberikan pendidikan mengenai laktasi
dan perawatan payudara karena ASI eksklusif sangat penting bagi bayi (Dewi
dan Sunarsih, 2012; h.2). Beragam masalah sering terjadi pada saat menyusui,
sehingga bidan/ perawat perlu mengetahui masalah-masalah yang sering
terjadi ini, agar dapat memberikan dukungan bagi ibu untuk menyusui secara
berhasil (Maryunani, 2009; h. 90).
Salah satu kelainan atau keadaan abnormal payudara pada masa nifas adalah
bendungan ASI (Prawiroharjo, 2010; h.652). Bendungan Air Susu adalah
terjadinya pembengkakan pada payudara karena peningkatan aliran vena dan
limfe sehingga menyebabkan bendungan ASI dan rasa nyeri disertai kenaikan
suhu badan (Rukiyah dkk, 2010; h.345).

Bendungan ASI disebabkan oleh pengeluaran ASI yang tidak lancar, bayi
tidak cukup sering menyusui, terlambat menyusukan, hubungan dengan bayi
(bonding) kurang baik, dan dapat pula karena adanya pembatasan waktu
menyusui (Prawiroharjo, 2010; h.652).
Berdasarkan hasil studi pendahuluan di BPS Usmalana Sadam Amd.Keb
Bandar Lampung pada Tanggal 08 April 2015 didapatkan ibu nifas yang
mengalami bendungan ASI. Karena itu penulis tertarik mengambil judul
Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas pada Ny.E usia 30 tahun P2A0 1 minggu
Post Partum dengan Bendungan ASI untuk meminimalkan keluhan yang
dialami oleh ibu.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, maka diidentifikasikan rumusan studi kasus ini
adalah Bagaimanakah asuhan kebidanan pada ibu nifas pada Ny.E usia 30
tahun P2A0 1 minggu Post Partum dengan Bendungan ASI di BPS Usmalana
Sadam Amd.Keb Bandar Lampung tahun 2015 ?
1.3 Tujuan penulisan
1.3.1 Tujuan Umum
Penulis mendapatkan pengalaman nyata dalam melaksanakan asuhan
kebidanan pada Ny.E usia 30 tahun P2 A0 1 minggu Post Partum dengan
Bendungan ASI di BPS Usmalana Sadam Amd.Keb Bandar Lampung
dengan menggunakan pendekatan manajemen kebidanan.

1.3.2 Tujuan Khusus


1.3.2.1 Diharapkan penulis dapat melakukan pengkajian pada ibu nifas
khususnya pada Ny.E usia 30 tahun P2 A0 1 minggu Post
Partum dengan Bendungan ASI di BPS Usmalana Sadam
Amd.Keb Bandar Lampung.
1.3.2.2 Diharapkan penulis dapat menentukan interpretasi data pada
ibu nifas khususnya pada Ny.E usia 30 tahun P 3 A0 1 minggu
Post Partum dengan Bendungan ASI di BPS Usmalana Sadam
Amd.Keb Bandar Lampung.
1.3.2.3 Diharapkan penulis dapat menentukan diagnosa potensial pada
ibu nifas khususnya pada Ny.E usia 30 tahun P2A0 1 minggu
Post Partum dengan Bendungan ASI di BPS Usmalana Sadam
Amd.Keb Bandar Lampung.
1.3.2.4 Diharapkan penulis dapat melakukan tindakan segera pada ibu
nifas khususnya pada Ny.E usia 30 tahun P2 A0 1 minggu Post
Partum dengan Bendungan ASI di BPS Usmalana Sadam
Amd.Keb Bandar Lampung.
1.3.2.5 Diharapkan penulis dapat menentukan rencana asuhan pada
ibu nifas khususnya pada Ny.E usia 30 tahun P 2 A0 1 minggu
Post Partum dengan Bendungan ASI di BPS Usmalana Sadam
Amd.Keb Bandar Lampung
1.3.2.6 Diharapkan penulis dapat melaksanakan asuhan kebidanan
pada ibu nifas khususnya pada Ny.E usia 30 tahun P 2A0 1

minggu Post Partum dengan Bendungan ASI di BPS Usmalana


Sadam Amd.Keb Bandar Lampung
1.3.2.7 Diharapkan

penulis

dapat

melakukan

evaluasi

asuhan

kebidanan pada ibu nifas khususnya pada Ny.E usia 30 tahun


P2A0 1 minggu Post Partum dengan bendungan ASI di BPS
Usmalana Sadam Amd.Keb Bandar Lampung.
1.4 Ruang Lingkup
1.4.1 Sasaran
Objek yang diambil dalam Studi Kasus ini adalah seorang ibu nifas
yaitu Ny.E usia 30 tahun P2A0 1 minggu Post Partum dengan
Bendungan ASI

di BPS Usmalana Sadam Amd.Keb Bandar

Lampung.
1.4.2 Tempat
Dalam Studi Kasus ini penulis mengambil kasus di BPS Usmalana
Sadam Amd.Keb Bandar Lampung.
1.4.3 Waktu
Pelaksanaan asuhan kebidanan dalam Studi Kasus dilaksanakan
daritanggal 08 April 2015- 15 April 2015.

1.5 Manfaat Penelitian


1.5.1 Bagi institusi pendidikan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber bacaan bagi


mahasiswi Akademi Kebidanan Adila Bandar Lampung dalam
menerapkan ilmu dan sebagai acuan penelitian berikutnya.
1.5.2 Bagi lahan praktek
Sebagai bahan masukkan dan bahan informasi untuk meningkatkan
upaya pencegahan dan penanganan pada kasus Bendungan ASI pada
ibu nifas di BPS Usmalana Sadam Amd.Keb Bandar Lampung.

1.5.3 Bagi masyarakat


Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan pengetahuan tentang
penatalaksanaan pada ibu dengan bendungan ASI.
1.5.4 Bagi Penulis berikutnya
Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan
tentang ibu nifas dengan Bendungan ASI dan sebagai bahan
perbandingan antara teori yang diperoleh dibangku kuliah dengan
dilahan praktek.

1.6 Metodologi dan Teknik Memperoleh Data


1.6.1 Metode Penelitian
Dalam menyusun karya tulis ilmiah penulis menggunakan metode
penelitian survei deskriptif, dengan tujuan utama untuk membuat
gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif.
Penelitian ini dilakukan dengan menempuh langkah- langkah

pengumpulan data, klasifikasi, pengolahan/ analisis data, membuat


kesimpulan dan laporan (Notoatmojo, 2012; hal. 35).
1.6.2 Teknik memperoleh data
1.6.2.1 Data primer
Adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan peneliti secara
langsung dari sumber datanya. Untuk mendapatkan data
primer, peneliti harus mengumpulkan secara langsung.

1) Wawancara
Adalah

suatu

metode

yang

dipergunakan

untuk

mengumpulkan data, dimana penelitian mendapatkan


keterangan atau pendirian secara lisan dari seseorang
sasaran penelitian (responden). Wawancara dilakukan
dengan cara:
a. Auto anamnesa
Wawancara yang langsung dilakukan pada klien
mengenai penyakitnya (Natoatmodjo, 2012: h.139).
b. Pengkajian fisik
Adalah suatu pengkajian yang dapat dipandang sebagai
bagian tahap pengkajian pada proses keperawatan atau
tahap pengkajian atau pemeriksaan klinis dari sistem
pelayanan terintegrasi, yang prinsipnya menggunakan
caracara

yang

sama

dengan

pengkajian

fisik

kedokteran, yaitu inspeksi, palpasi, dan auskultasi


(Prihardjo, 2006; h.2-3).
1.6.2.2 Data Sekunder
Sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan
peneliti dari berbagai sumber yang telah ada (peneliti sebagai
tangan kedua). Data sekunder dapat diperoleh dari berbagai
sumber Biro Pusat Statistik (BPS), buku laporan, jurnal, dan
lain-lain.
1) Studi Pustaka
Penulis

mencari,

mengumpulkan,

dan

mempelajari

referensi yang relevan berdasarkan kasus yang dibahas..


(Notoatmodjo, 2005; h.34)
2) Studi Dokumentasi
Study dilakukan

dengan

mempelajari

status

klien

bersumber dari catatan dokter, bidan, dan sumber lain


yang menunjang seperti hasil pemeriksaan diagnostik..
(Notoatmodjo, 2005; h.35)

BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Tinjauan Teori Medis
2.1.1 Pengertian
Masa nifas adalah masa yang dimulai setelah plasenta keluar dan
berakhir ketika alat alat kandungan kembali seperti keadaan semula
(sebelum hamil). Masa nifas berlansung selama kira-kira 6 minggu
(Sulistyawati, 2009; h.1).
Masa setelah melahirkan selama 6 minggu atau 40 hari hitungan awam
merupakan masa nifas. Masa ini penting sekali untuk terus dipantau.
Nifas merupakan masa pembersihan rahim, sama halnya seperti masa
haid. Masa nifas (puerpurium) adalah masa setelah plasenta lahir dan
berkhir ketika alat- alat kandungan kembali seperti sebelum hamil.
Masa nifas berlangsung kira-kira 6 minggu (Saleha, 2009; h.2).
Masa nifas (puerperium) dalam bahasa latin yaitu dari kata puer yang
artinya bayi dan parous berarti melahirkan. Jadi, puerperium berarti
masa setelah melahirkan bayi, atau masa pulih kembali mulai dari
persalinan selesai sampai alat- alat kandungan kembali seperti sebelum
hamil. Sekitar 50% kematian ibu terjadi dalam 24 jam pertama
postpartum sehingga pelayanan pascapersalinan yang berkualitas harus
terselenggara pada masa itu untuk memenuhi kebutuhan ibu dan bayi
(Dewi dan Sunarsih, 2012; h. 1).

10

Masa nifas (puerpurium) adalah masa pulih kembali, mulai persalinan


selesai hingga alat alat kandungan kembali seperti prahamil. Lama masa
nifas ini, yaitu 6- 8 minggu (Bahiyatun, 2013; h.2)
2.1.2 Tujuan Asuhan Masa Nifas
1. Mendeteksi adanya perdarahan masa nifas. Tujuan perawatan masa
nifas adalah untuk menghindari/ mendeteksi kemungkinan adanya
perdarahan post partum dan infeksi.
2. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya. Menjaga kesehatan ibu dan
bayinya baik secara fisik maupun psikologis harus diberikan oleh
penolong persalinan. Ibu dianjurkan untuk menjaga kebersihan
seluruh

tubuh.

Bidan

mengajarkan

kepada

ibu

bagaimana

membersihkan alat kelamin dengan sabun dan air. Pastikan bahwa ia


mengerti untuk membersihkan daerah vulva terlebih dahulu dari
depan ke belakang, dan baru membersihkan daerah sekitar anus.
Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum
dan sesudah membersihkan daerah kelamin.
3. Melaksanakan skrining secara komprehensif. Melaksanakan skrining
secara komprehensif dengan mendeteksi masalah, mengobati, dan
merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu dan bayinya. Pada hal ini
seorang bidan bertugas melakukan pengawasan kala IV yang
meliputi pemeriksaan plasenta, pengawasan TFU, pengawasan
konsistensi rahim, dan pengawasan keadaan umum ibu. Bila

11

ditemukan permasalahan, maka harus segera melakukan tindakan


sesuai dengan standar pelayanan pada penatalaksanaan masa nifas.
4. Memberikan pendidikan kesehatan diri. Memberikan pelayanan
kesehatan tentang perawatan diri, nutrisi, KB, menyusui, pemberian
imunisasi kepada bayinya, dan perawatan bayi sehat.
5. Memberikan pendidikan mengenai laktasi dan perawatan payudara,
yaitu:
a. Menjaga payudara tetap bersih dan kering.
b. Menggunakan bra yang menyokong payudara.
c. Apabila puting susu lecet, oleskan kolostrum atau ASI yang
keluar pada sekitar puting susu setiap kali selesai menyusui.
d. Melakukan

pengompresan

apabila

bengkak

dan

terjadi

bendungan ASI.
6. Konseling mengenai KB. Bidan memberikan konseling mengenai
KB, antara lain seperti:
a. Idealnya pasangan harus menunggu sekurang- kurangnya 2 tahun
sebelum ibu hamil kembali. Setiap pasangan harus menentukan
sendiri kapan dan bagaimana mereka ingin merencanakan
keluarganya dengan mengajarkan kepada mereka tentang cara
mencegah kehamilan yang tidak diinginkan.
b. Biasanya wanita akan menghasilkan ovulasi sebelum ia
mendapatkan lagi haidnya setelah persalinan. Oleh karena itu,
penggunaan KB dibutuhkan sebelum haid pertama untuk

12

mencegah kehamilan baru. Pada umumnya metode KB dapat


dimulai 2 minggu setelah persalinan.
c. Sebelum menggunakan KB sebaiknya dijelaskan efektivitasnya,
efek samping, untung ruginya, serta kapan metode tersebut dapat
digunakan.
d. Jika ibu dan pasangan telah memilih metode KB tertentu, dalam
2 minggu ibu dianjurkan untuk kembali. Hal ini untuk melihat
apakah metode tersebut bekerja dengan baik (Dewi dan Sunarsih,
2012; h. 2).
2.1.3 Tahapan Masa Nifas
1)

Puerperium dini
Pueperium dini merupakan masa kepulihan, yang dalam hal ini ibu
tetap diperbolehkan berdiri dan berjalan- jalan. Dalam agam islam,
dianggap bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.

2)

Puerperium intermedial
Puerperium intermedial merupakan masa kepulihan menyeluruh
alat- alat genetalia, yang lamanya sekitar 6- 8 minggu.

3)

Remote puerperium
Remote puerperium merupakan masa yang diperlukan untuk pulih
dan sehat sempurna, terutama bila selama hamil atau waktu
persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna
dapat berlansung selama berminggu-minggu, berbulan-bulan,
bahkan bertahun- tahun (Sulistyawati, 2009; h.5).

13

2.1.4 Kebijakan Program Nasional Masa Nifas


Table 2.1 Program Masa Nifas
Kunjungan

Waktu

6-

Tujuan
jam

1.

setelah

2.

persalinan

3.

4.
5.
6.
7.

6 hari

1.

setelah
persalinan

2.
3.
4.

5.

Pencegah perdarahan masa nifas karena


atonia uteri.
Mendeteksi dan merawat penyebab lain
prdarahan; rujuk jika perdarahan berlanjut.
Memberikan konseling pada ibu atau salah
satu
anggota
keluarga
mengenai
bagaimana cara mencegah perdarahan
masa nifas karena atonia uteri.
Pemberian ASI awal
Melakukan hubungan antara ibu dan bayi
baru lahir.
Menjaga bayi agar tetap sehat dengan cara
mencegah hypotermi
Jika
petugas
kesehatan
menolong
persalinan, ia harus tinggal dengan ibu dan
bayi baru lahir selama 2 jam pertama
setelah klahiran atau sampai ibu dan
bayinya dalam keadaan stabil.

Memastikan involusi uterus berjalan


normal:uterus berkontraksi, funus dibawah
umbilicus, tidak ada perdarahan abnormal,
tidak ada bau.
Menilai adanya tanda-tanda demam,
infeksi, atau perdarahan abnormal.
Memastikan ibu mendapatkan cukup
makanan, cairan, dan istirahat.
Memastikan ibu menyusui dengan baik
dan tidak mmperlihatkan tanda tanda
penyulit.
Memberikan konseling pada ibu mengenai

14

minggu

asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi


tetap hangat, dan merawat bayi sehari-hari
Sama seperti diatas

setelah
prsalinan
4

minggu

setelah

1.
2.

Menanyakan pada ibu tentang kesulitankesulitan yang ia atau bayinya alami.


Memberikan konseling Kb secara dini

persalinan

(Sulistyawati, 2009; h.6)

2.1.5 Perubahan Fisiologis Masa Nifas


2.1.5.1 Perubahan sisitem reproduksi
a) Uterus
1) Pengerutan rahim (involusi)
Involusi merupakan suatu proses kembalinya uterus pada
kondisi sebelum hamil. Dengan involusi uterus ini, lapisan
luar dari desidua yang mengelilingi situs plasenta akan
menjadi neurotic (layu/ mati). Perubahan ini dapat
diketahui dengan melakukan pemeriksaan palpasi untuk
meraba TFU-nya.
Proses involusi uterus adalah sebagai berikut :
a. Autolysis

15

Merupakan proses penghancuran diri sendiri yang


terjadi didalam otot uteri. Enzim proteolitik akan
memendekkan jaringan otot yang telah sempat
mengendur hingga 10 kali panjangnya dari semula
dan lima kali lebar dari semula selama kehamilan.
Sitoplasma sel yang berlebihan akan tercerna sendiri
sehingga tertinggal jaringan fibro elastis dalam jumlah
renik sebagai bukti kehamilan.
b. Atrofi jaringan
Jaringan yang berpoliferasi dengan adanya estrogen
dalam jumlah besar, kemudian mengalami atrofi
sebagai

reaksi

terhadap

penghentian

produksi

estrogen yang menyertai pelepasan plasenta. Selain


perubahan atrofi pada otot otot uterus, lapisan
desidua akan mengalami atrofi dan terlepas dengan
meninggalkan lapisan basal yang akan beregenerasi
menjadi endometrium yang baru.
c. Efek oksitosin (kontraksi)
Hormon oksitosin yang terlepas dari kelenjar hipofisis
memperkuat

dan

mengatur

kontraksi

uterus,

mengompresi pembuluh darah dan membantu proses


hemostatis. Kontraksi dan retraksi otot uterus akan
mengurangi suplai darah ke uterus. Proses ini akan

16

membantu

mengurangi

suplai

darah

keuterus

(Sulistyawati, 2009; h.73- 75)


Tabel 2.3 Involusi Uterus
Involusi

Tinggi

Fundus

Berat

Keadaan Serviks

Uteri

Uterus (gr)

Bayi lahir

Setinggi pusat

1000

Uri lahir

dibawah

750

Lembek

Pertengahan pusat

500

Beberapa hari setelah

jari

pusat
Satu minggu

dan simpisis
Dua minggu

Tak teraba diatas

postpartum
350

dapat

dilalui 2 jari.
Akhir minggu pertama

simpisis
Enam minggu

Bertambah kecil

50-60

Delapan

Sebesar normal

30

dapat dimasuki 1 jari.

minggu

(Dewi dan Sunarsih, 2011; h.57)

Involusi uteri dari luar dapat diamati yaitu dengan


memeriksa fundus uteri dengan cara:
1.

Segera setelah persalinan, tinggi fundus uteri 2 cm


dibawah pusat, 12 jam kemudian kembali 1 cm
diatas pusat dan menurun kira- kira 1 cm setiap hari.

2.

Pada hari kedua setelah persalinan tinggi fundus


uteri 1 cm dibawah pusat. Pada hari ketiga sampai
hari keempat tinggi fundus uteri 2 cm dibawah

17

pusat. Pada hari kelima sampai hari ketujuh tinggi


fundus uteri pertengahan antara pusat dan simpisis.
Pada hari kesepuluh tinggi fundus uteri tidak teraba
(Ambarwati dan Wulandari, 2008; h.77).
d. Lochea
Lochea adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas.
Lochea mengandung darah dan sisa jaringan desidua yang
nekrotik dari dalam uterus. Lochea mempunyai reaksi basa
atau alkalis yang dapat membuat organisme berkembang
lebih cepat dari pada kondisi asam yang ada pada vagina
normal. Lochea berbau amis atau anyir dengan volume yang
berbeda- beda pada setiap wanita. Lochea yang berbau dan
tidak

sedap

menandakan

adanya

infeksi.

Lochea

mempunyai perubahan warna dan volume karena adanya


proses involusi (Sulistyawati, 2009; h. 76).
Berikut Ini Adalah beberapa jenis lochea yang terdapat pada
wanita pada masa nifas yaitu :
1) Lochea rubra (cruenta)
Lochea ini muncul pada hari pertama sampai hari
ketiga post partum. Sesuai dengan namanya, warnanya
biasanya merah dan mengandung darah dari perobekan
atau luka pada plasenta dan serabut dari desidua dan
chorion. Lokia ini terdiri atas sel desidua, verniks

18

caseosa, rambut lanugo, sisa mekoneum, dan sisa darah


(Dewi dan Sunarsih, 2011; h.58).
2) Lochea sanguilenta
Berwarna merah kecokelatan dan berlendir, serta
berlangsung, dari hari keempat dan hari ketujuh post
partum (Sulistyawati, 2009; h.76)
3) Lochea serosa
Lochea serosa adalah lokia berikutnya. Dimulai dengan
versi yang lebih pucat dari lokia rubra.Lokia ini
berbentuk serum dan berwarna merah jambu kemudian
menjadi kuning. Cairan tidak berdarah lagi pada hari
ke-7 sampai hari ke- 14 pascapersalinan (Sulistyawati,
2009; h. 76).

4) Lochea alba
Lochea alba adalah lochea yang terakhir. Lochea alba
mengandung terutama cairan serum, jaringan desidua,
leukosit, dan eritrosit. Dimulai dari hari ke- 14 sampai
satu atau dua minggu berikutnya. Bentuknya seperti
cairan putih berbentuk krim serta terdiri atas leukosit
dan sel sel desidua (Saleha, 2009; h. 56).
5) Lochea Purulenta

19

Terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah dan berbau


busuk (Sulistyawati, 2009; h.77).
6) Locheastatis
lochea yang tidak lancar keluarnya (Dewi dan Sunarsih,
2011; h. 58)
e. Perubahan di serviks dan Segmen Bawah Uterus (Dewi dan
Sunarsih, 2011; h.58).
Setelah kelahiran, miometrium segmen bawah uterus yang
sangat menipis berkontraksi dan bertraksi tetapi tidak sekuat
korpus uteri.Segera setelah melahirkan, serviks menjadi
lembek, kendor, terkulai dan berbentuk seperti corong. Hal
ini disebabkan korpus uteri berkontraksi, sedangkan serviks
tidak berkontraksi sehingga perbatasan antara korpus dan
serviks uteri berbentuk cincin (Rukiyah dkk, 2011; h.60).

f. Vulva dan vagina


Vulva dan vagina mengalami penekanan, serta peregangan
yang sangat besar selama proses melahirkan bayi. Dalam
beberapa hari pertama sesudah proses tersebut, kedua organ
ini tetap dalam keadaan kendur. Setelah 3 minggu, vulva
dan vagina kembali keadaan tidak hamil dan rugae dalam
vagina.
g. Perenium

20

Segera setelah melahirkan, perenium menjadi kendur karena


sebelumnya terenggang oleh tekanan bayi yang bergerak
maju. Pada post natal hari kelima, perineum sudah
mendapatkan kembali sebagian tonus-nya, sekalipun tetap
kendur daripada keadaan sebelum hamil (Sulistyawati,
2009; h.77-78)
2.1.5.2 Perubahan Sistem Pencernaan
Biasanya, ibu akan mengalami konstipasi setelah persalinan
hal ini disebabkan karena pada waktu persalinan, alat
pencernaan mengalami tekanan yang menyebabkan kolon
menjadi kosong, pengeluaran cairan berlebih pada waktu
persalinan, kurangnya asupan cairan dan makanan, serta
kurangnya aktifitas tubuh supaya buang air besar kembali
normal, dapat diatasi diet tinggi serat, peningkatan asupan
cairan, dan ambulasi awal. Jika tidak berhasil, dalam 2- 3 hari
dapat diberikan obat laksansia. Selain konstipasi, ibu juga
mengalami anoreksia akibat penurunan dari sekresi kelenjar
pencernaan dan mempengaruhi perubahan sekresi, serta
penurunan kebutuhan kalori yang menyebabkan kurang nafsu
makan.
2.1.5.3 Perubahan Sistem Perkemihan
Setelah proses persalinan berlangsung, biasanya ibu akan sulit
untuk buang air kecil dalam 24 jam pertama. Kemungkinan

21

penyebab dari keadaan ini adalah terdapat spasme sfinkter dan


edema leher kandung kemih sesudah bagian ini mengalami
kompresi (tekanan) antara kepala janin dan tulang pubis
selama persalinan berlansung.Urine dalam jumlah besar akan
dihasilkan dalam 12- 36 jam postpartum. Kadar hormon
estrogen yang bersifat menahan air akan mengalami penurunan
yang mencolok. Keadaan tersebut disebut deuresis. Ureter
yang berdilatasi akan kembali normal dalam 6 minggu
(Sulistyawati, 2009; h.78- 79).
2.1.5.4 Perubahan Sistem Muskuloskeletal
Ligamen- ligamen, diafragma pelvis, serta fasia yang
meregang pada waktu persalinan, secara berangsur-angsur
menjadi ciut dan pulih kembali sehingga tak jarang uterus
jatuh ke belakang dan menjadi retrofleksi karena ligamentum
rotundum menjadi kendor. Stabilisasi secara sempurna terjadi
pada 6- 8 minggu setelah persalinan. (Sulistyawati, 2009;
h.79).
2.1.5.5 Perubahan Sistem Endokrin
Selama proses kehamilan dan persalinan terdapat perubahan
pada sistem endokrin, terutama pada hormon-hormon yang
berperan dalam proses tersebut.
a) Oksitosin

22

Oksitosin disekresikan dari kelenjar otak bagian belakang.


Selama tahap ketiga persalinan, hormon oksitosin berperan
dalam pelepasan plasenta dan mempertahankan kontraksi,
sehingga

mencegah

pendarahan.

Isapan

bayi

dapat

merangsang produksi ASI dan sekresi oksitosin. Hal


tersebut membantu uterus kembali ke bentuk normal.
b) Prolaktin
Menurunnya kadar estrogen menimbulkan terangsangnya
kelenjar pituitary bagian belakang untuk mengeluarkan
prolaktin, hormon ini berperan dalam pembesaran payudara
untuk merangsang produksi susu.
c) Estrogen dan Progesteron
Selama hamil volume darah normal meningkat walaupun
mekanismenya
Diperkirakan

secara
bahwa

penuh
tingkat

belum
estrogen

dimengerti.
yang

tinggi

memperbesar hormon antidiuretik yang meningkatkan


volume darah. Di samping itu, progesteron mempengaruhi
otot halus yang mengurangi perangsangan dan peningkatan
pembuluh darah. Hal ini sangat mempengaruhi saluran
kemih, ginjal, usus, dinding vena, dasar panggul, perineum
dan vulva, serta vagina (Saleha, 2009; h. 60).
2.1.5.6 Perubahan Tanda-Tanda Vital
1) Suhu tubuh

23

Suhu tubuh wanita inpartu tidak lebih dari 37,20C. sesudah


partus dapat naik kurang dari 0,50C dari keadaan normal,
namun tidak akan melebihi 380C. Sesudah dua jam pertama
melahirkan umumnya suhu badan akan kembali normal.
Bila suhu ibu lebih dari 380C, mungkin terjadi infeksi pada
klien (Saleha, 2009: h.61).
Dalam satu hari (24 jam) post partum, suhu badan akan naik
sedikit (37,50C- 380C) sebagai akibat kerja keras sewaktu
melahirkan, kehilangan cairan, dan kelelahan. Apabila
keadaan normal, suhu badan menjadi biasa. Biasanya, pada
hari ke-3 suhu badan naik lagi karena adanya pembentukan
ASI. Payudara menjadi bengkak dan berwarna merah
karena banyaknya Asi. Bila suhu tidak turun, kemingkinan
adanya

infeksi

pada

endometrium

(Ambarwati

dan

Wulandari, 2008; h.138 ).

2) Nadi dan pernafasan


Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80 x/ menit
setelah partus. Pada masa nifas umumnya denyut nadi labil
dibandingkan dengan suhu tubuh, sedangkan pernafasan
akan sedikit meningkat setelah partus kemudian kembali
seperti keadaan semula (Saleha, 2009: h.61).

24

Nadi Berkisar antara 60- 80x/ menit denyut nadi di atas


100x/ menit pada masa nifas adalah mengindikasikan
adanya suatu infeksi, hal ini salah satunya bisa di akibatkan
oleh proses persalinan sulit atau karena kehilangan darah
yang berlebih (Ambarwati dan Wulandari, 2008; h.138).
Denyut nadi normal pada orang dewasa adalah 60- 80 kali
permenit.Setiap denyut nadi yang melebihi 100 kali per
menit adalah abnormal dan hal ini menunjukkan adanya
kemungkinan infeksi (Sulistyawati, 2009; h. 81).
Normal frekuensi pernapasan pada orang dewasa adalah
16 24 kali permenit, pada ibu post partum umumnya
pernapasan lambat atau normal karna dalam keadaan
pemulihan atau dalam kondisi istirahat. Bila pernapasan
pada masa post partum lebih cepat kemungkinan adanya
tanda tanda syok (Rukiyah, 2011; h. 69).

3) Tekanan darah
Tekanan darah biasanya tidak berubah. Kemungkinana
tekanan darah akan lebih rendah setelah ibu melahirkan
karena ada perdarahan. Tekanan darah tinggi pada saat
postpartum dapat menandakan terjadinya pre-eklamsi
postpartum (Dewi dan Sunarsih, 2011; h.60)

25

Pada beberapa kasus di temukan keadaan hipertensi post


partum, tetapi keadaan ini akan menghilang dengan
sendirinya apabila tidak ada penyakit-penyakit lain yang
menyertainya dalam 2 bulan pengobatan (Ambarwati dan
Wulandari, 2008; h.139).
Tekanan darah normalnya adalah sistolik 90 120 dan
diastolnya 60 80 mmHg. Tekanan darah menjadi lebih
rendah pasca melahirkan dapat diakibatkan oleh perdarahan.
Sedangkan tekanan darah tinggi pada post partum
merupakan tanda pre eklampsia post partum (Rukiyah,
2011; h. 69)
2.1.5.7 Perubahan Sistem Kardiovaskuler
Setelah terjadi diuresis yang mencolok akibat penurunan kadar
estrogen, volume darah kembali kepada keadaan tidak hamil.
Jumlah sel darah merah dan kadar hemoglobin kembali normal
pada hari ke-5. Meskipun kadar estrogen mengalami
penurunan yang sangat besar selama masa nifas, namun
kadarnya masih tetap lebih tinggi daripada normal. Plasma
darah tidak begitu mengandung cairan dengan demikian daya
koagulasi meningkat. Pembekuan darah harus dicegah dengan
penanganan yang cermat dan penekanan pada ambulasi dini.
2.1.5.8 Perubahan Sistem Hematologi

26

Pada ibu masa nifas 72 jam pertama biasanya akan kehilangan


volume plasma daripada sel darah, penurunan plasma ditambah
peningkatan sel darah pada waktu kehamilan diasosikan
denganpeningkatan hematoktir dan haemoglobin pada hari
ketiga sampai tujuh hari setelah persalinan (Rukiyah

dkk,

2011; h. 71).
2.1.5.9 Perubahan Payudara
Pada semua wanita yang telah melahirkan proses laktasi terjadi
secara alami. Proses menyusui mempunyai dua mekanisme
fisiologi, yaitu produksi susu dan sekresi susu atau let down.
Selama Sembilan bulan kehamilan, jaringan payudara tumbuh
dan menyiapkan fungsinya untuk menyediakan makanan bagi
bayi baru lahir.Setelah melahirkan, ketika hormon yang
dihasilkan plasenta lalu mengeluarkan hormon prolaktin.
Sampai hari ketiga setelah melahirkan, efek prolaktin pada
payudara mulai bisa dirasakan.Pembuluh darah payudara
menjadi bengkak terisi darah, sehingga timbul rasa hangat,
bengkak, dan sakit. Sel- sel acini yang menghasilkan ASI juga
mulai berfungsi. Ketika bayi menghisap putting, refleks saraf
meransang untuk mengsekresi hormon oksitosin. Oksitosin
merangsang

reflek

let

down

(mengalirkan),

sehingga

menyebabkan infeksi ASI melalui sinus aktiferus payudara ke


duktus yang terdapat pada putting. Ketika ASI dialirkan karena

27

isapan bayi atau dengan dipompa sel-sel acini terangsang


untuk menghasilkan ASI lebih banyak.Refleks ini dapat
berlanjut sampai waktu yang cukup lama (Saleha, 2009; h.58).
2.1.6 Kebutuhan dasar ibu masa nifas
1) Nutrisi dan cairan
Untuk membentuk produksi ASI yang baik, makanan ibu harus
memenuhi jumlah kalori, protein, lemak dan vitamin serta mineral
yang cukup selain itu ibu dianjurkan minum lebih banyak kira-kira
8-12 gelas/ hari (Ambarwati dan Wulandari, 2008; h. 27). Ibu nifas
membutuhkan nutrisi yang cukup, gizi seimbang terutama kebutuhan
protein dan karbohidrat (Dewi dan Sunarsih, 2011; h.71).
Pada masa nifas masalah diet perlu mendapat perhatian yang khusus,
karena dengan nutrisi yang baik dapat mempercepat penyembuhan
ibu yan sangat mempengaruhi susunan air susu. Diet yang diberikan
harus bermutu, bergizi tinggi, cukup kalori, tinggi protein dan
banyak mengandung cairan.

Ibu yang menyusui harus memenuhi akan kebutuhan gizi sebagai


berikut:
a) Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari.
b) Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein,
mineral dan vitamin yang cukup.
c) Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari.

28

d) Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi, setidaknya
40 hari pasca persalinan.
e) Minum kapsul vitamin A 200.000 unit agar dapat membetikan
vitamin A kepada bayinya melalui ASI.
2) Ambulasi
Ambulasi dini (early ambulation) ialah kebijaksanaan agar secepat
mungkin bidan membimbing ibu postpartum bangun dari tempat
tidurnya dan membimbing ibu secepat mungkin untuk berjalan.
Sekarang tidak perlu lagi menahan ibu postpartum terlentang
ditempat tidurnya selama 7- 14 hari setelah melahirkan.Ibu
postpartum sudah diperbolehkan bangun dari tempat tidurnya dalam
24- 48 jam postpartum.
Keuntungan (early ambulation) adalah sebagai berikut:
a) Ibu merasa lebih sehat dan kuat dengan early ambulation.
b) Faal usus dan kandung kemih lebih baik.
c) Early ambulation memungkinkan kita mengajarkan ibu cara
merawat anaknya selama ibu masih di rumah sakit. Misalnya
memandikan, mangganti pakaian dan memberi makan.
d) Lebih sesuai dengan keadaan Indonesia (sosial ekonomis).
Menurut penalitian- penelitian yang seksama, early ambulation
tidak mempunyai pengaruh yang buruk, tidak menyebabkan
perdarahan yang abnormal, tidak memengaruhi penyembuhan

29

luka episiotomi atau luka diperut, serta tidak memperbesar


kemungkinan prolapsus atau retrotexto uteri.
Early ambulation tentu tidak dibanarkan pada ibu postpartum
dengan penyulit, misalnya anemia, penyakit jantung, penyakit
paru-paru, demam dan sebagainya.Panambahan kegitan dengan
early ambulation harus berangsur-angsur, jadi bukan maksudnya
ibu segera setelah bangun dibanarkan mencuci, memasak dan
sebagainya (Saleha, 2009; h.71-73).
3) Eliminasi
a) Buang air kecil
Eliminasi di anggap normal bila dapat BAK spontan tiap 3- 4 jam
post partum (Dewi dan Sunarsih, 2011; h.73). Ibu diminta untuk
buang air kecil (miksi) 6 jam postpartum. Jika dalam 8 jam
postpartum belum berkemih atau sekali berkemih belum melebihi
100 cc, maka dilakukan kateterisasi. Akan tetapi jika kandung
kemih penuh, tidak perlu menunggu 8 jam untuk berkemih.
Berikut ini sebab-sabab terjadinya kesulitan berkemih (retensio
urine) pada ibu postpartum.
(1) Berkurangnya tekanan intraabdominal
(2) Otot-otot perut masih lemah
(3) Edema dan uretra (Saleha, 2009; h.73).
b) Buang air besar

30

Biasanya ibu mengalami obstipasi setelah persalinan. Hal ini


disebabkan karena pada waktu melahirkan alat pencernaan
mendapatkan tekanan yang menyebabkan colon menjadi kosong,
pengeluaran cairan berlebih pada waktu persalinan, kurangnya
asupan cairan dan makanan serta kurangnya aktifitas tubuh
(Sulistyawati, 2009; h. 78).
Ibu diharapkan dapat BAB sekitar 3-4 hari post partum. Apabila
mengalami kesulitan BAB, lakukan diet teratur, cukup cairan,
konsumsi makanan berserat, olahraga, berikan obat rangsanagan
per oral atau per rectal atau klisma bilamana perlu (Yanti, 2011;
h. 83).
Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kebersihan
diri ibu postpartum adalah sebagai berikut.
(1)

Anjurkan kebersihan seluruh tubuh, terutama perineum.

(2)

Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin


dengan sabun dan air.

(3)

Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut


setidaknya dua kali sehari. Kain dapat digunakan ulang
setelah dicuci dengan baik dan dikeringkan dibawah
matahari dan disetrika.

(4)

Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air


sebelum dan sesudah membersihkan alat kelaminnya.

31

(5)

Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, sarankan


kepada ibu untuk menghindari menyantuh daerah tersebut
(Saleha, 2009; h. 73- 74).

4) Istirahat dan tidur


Ibu post partum sangat membutuhkan istirahat yang berkualitas
untuk memulihkan kembali keadaan fisiknya.
Kurangnya istirahat pada ibu post partum akan mengakibatkan
beberapa kerugian, misalnya :
a) Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi
b) Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak
perdarahan.
c) Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi
dan dirinya sendiri.
Bidan harus menyampaikan kepada pasien dan keluarga bahwa
untuk kembali melakukan kegiatan rumah tangga harus dilakukan
secara perlahan lahan dan bertahap. Pasien juga perlu diingatkan
untuk selalu tidur siang atau beristirahat selagi bayinya tidur.
Kebutuhan istirahat bagi ibu menyusui minimal 8 jam sehari yang
dapat dipenuhi melalui istirahat siang dan malam (Sulistyawati,
2009; h. 103).
Tidur Menggambarkan pola istirahat dan tidur pasien, berapa jam
pasien tidur.Istirahat sangat penting bagi ibu masa nifas karena

32

dengan istirahat yang cukup dapat mempercepat penyembuhan


(Ambarwati dan Wulandari, 2008; h. 136).
5) Aktivitas seksual
Aktifitas seksual yang dapat dilakukan oleh ibu nifas harus
memenuhi syarat sebagai berikut:
a) Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu
darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan sau atau dua
jarinya kedalam vagina tanpa rasa nyeri, maka ibu aman untuk
memulai melakukan hubungan suami istri kapan saja ibu siap.
b) Banyak budaya yang mempunyai tradisi menunda hubungan
suami istri sampai masa waktu terrtentu, misalnya setelah 40 hari
atau 6 minggu setelah persalinan. Keputusan ini bergantung pada
pasangan yang bersangkutan (Saleha, 2009; h. 75).
Dinding vagina kembali pada keadaan sebelum hamil dalam
waktu 6- 8 minggu. Secara fisik aman untuk memulai hubungan
suami istri begitu darah merah berhenti, dan ibu dapat
memasukkan 1 atau 2 jari kedalam vagina tanpa rasa nyeri. Begitu
darah merah berhenti dan ibu tidak merasakan ketidaknyamanan,
maka aman untuk memulai melakukan hubungan suami istri
kapan saja ibu siap (Dewi dan Sunarsih, 2011, h: 77).
6) Latihan dan senam nifas
Senam nifas adalah senam yang dilakukan ibu-ibu setelah
melahirkan setelah keadaan tubuhnya pulih kembali.

33

senam nifas bertujuan untuk:


a) Mempercepat penyembuhan
b) Mencegah timbulnya komplikasi
c) Memulihkan dan menguatkan otot-otot punggung, otot dasar
panggul dan otot perut
Pada saat hamil, otot perut dan sekitar rahim, serta vagina telah
teregang dan melemah. Latihan senam nifas dilakukan untuk
membantu mengencangkan otot-otot tersebut. Hal ini untuk
mencegah terjadinya nyeri punggung dikemudian hari dan
terjadinya kelemahan pada otot

panggul sehingga dapat

mengakibatkan ibu tidak bisa menahan BAK (Dewi dan Sunarsih,


2011; h.81).
7) Adaptasi psikologis ibu masa nifas
Dorongan dan perhatian dari seluruh anggota keluarga lainnya
merupakan dukungan yang positif bagi ibu. Dalam menjalani
adaptasi setelah melahirkan ibu akan mengalami fase-fase sebagai
berikut :

1. Fase taking in
Fase taking in yaitu periode ketergantungan yang berlangsung
pada hari pertama sampai hari kedua setelah melahirkan, pada sat
itu fokus perhatian ibu terutama pada dirinya sendiri. Pengalaman
ibu selama proses persalinan berulang kali diceritakannya. Hal ini

34

membuat ibu cenderung menjadi pasif terhadap lingkungan


sekitar. Kemampuan mendengarkan dan menyediakan waktu yang
cukup merupakan dukungan yang tidak ternilai bagi ibu.
Kehadiran suami dan keluarga sangat diperlukan pada fase ini.
2. Fase taking hold
Fase taking hold adalah priode yang berlangsung antara 3-10 hari
setelah melahirkan. Pada fase ini ibu merasa khawatir akan
ketidakmampuannya dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat
bayi. Ibu memiliki perasaan yang sangat sensitif sehingga mudah
tersinggung sehingga kita perlu berhati-hati dalam berkomunikasi
dengan ibu berhati-hati dalam tindakan. Pada fase ini ibu
memerlukan dukungan karena saat ini merupakan kesempatan
yang baik untuk menerima berbagai penyuluhan dalam merawat
diri dan bayinya sehingga timbul percaya diri.
3. Fase letting go
Fase letting go merupakan fase menerima tanggung jawab akan
peran barunya yang berlangsung sepuluh hari setelah melahirkan.
Ibu sudah dapat menyesuaikan diri, merawat diri dan bayinya.
Serta

kepercayaan

dirinya

sudah

meningkat.

Pendidikan

kesehatan yang kita berikan pada fase sebelumnya akan sangat


berguna bagi ibu, ibu lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan
diri dan bayinya (Dewi dan Sunarsih, 2011, h. 65-66).
2.1.7 PROSES LAKTASI DAN MENYUSUI

35

2.1.7.1 Anatomi dan Fisiologi Payudara


Payudara adalah kelenjar yang terletak dibawah kulit, diatas
otot dada. Fungsi dari payudara adalah memproduksi susu
untuk nutrisi bayi. Manusia yang mempunyai sepasang
kelenjar payudara, yang beratnya kurang lebih 200 gram, saat
hamil 600 gram, dan saat menyusui 800 gram.

Gambar. 2.1 Anatomi Payudara


a. Letak: setiap payudara terletak pada sternum yang meluas
setinggi kosta kedua dan keenam. Payudara ini terletak pada
fascia superficialis dinding rongga dada yang disangga oleh
ligamentum sospensorium
b. Bentuk: bentuk masing- masing payudara berbentuk
tonjolan setengah bola dan mempunyai ekor (cauda) dari
jaringan yang meluas ke ketiak atau aksila

36

c. Ukuran: ukuran payudara berbeda pada setiap individu, juga


tergantung pada stadium perkembangan dan umur. Tidak
jarang salah satu payudara ukurannya agak lebih besar dari
pada yang lain (Dewi dan Sunarsih, 2011; h.7).
1. Struktur Makroskopis
Struktur makroskopis payudara adalah sebagai berikut:
a. Cauda Aksilaris
Adalah jaringan payudara yang meluas ke arah aksila.
b. Areola
Adalah daerah lingkaran yang terdiri dari kulit yang
longgar dan mengalami pigmentasi. Areola pada masingmasing payudara memiliki garis tengah kira- kira 2.5 cm.
Letaknya mengelilingi puting susu dan berwarna
kegelapan

yang

disebabkan

oleh

penipisan

dan

penimbunan pigmen pada kulitnya.


c. Papila Mamae
Terletak setinggi interkosta IV, tetapi berhubung adanya
variasi bentuk dan ukuran payudara, maka letaknya akan
bervariasi. Pada tempat ini terdapat lubang- lubang kecil
yang merupakan muara dari duktus laktiferus, ujungujung serat saraf, pembuluh darah, pembuluh getah
bening, serat- serat otot polos yang tersusun secara
sirkuler sehingga bila ada kontraksi duktus laktiferus

37

akan memadat dan menyebabkan puting susu ereksi,


sedangkan otot- otot yang Longitudinal akan menarik
kembali puting susu tersebut. Bentuk puting ada empat
macam yaitu bentuk yang normal, pendek atau datar,
panjang dan terbenam (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 7- 9)

Gambar. 2.2 Jenis-jenis puting susu


2. Struktur Mikroskopis
a. Alveoli: Alveolus merupakan tempat air susu diproduksi.
b. Ductus lactifer: saluran sentral yang merupakan muara
beberapa tubulus lactiferus.
c. Ampulla: bagian dari ductus lactifer yang melebar, yang
merupakan tempat menyimpan air susu. Letaknya di
bawah areola.

38

d. Lanjutan setiap duktus laktiferus :meluas dari ampula


sampai muara papilla mammae (Dewi dan Sunarsih,
2011; h. 9).
2.1.7.2 Proses laktasi dan menyusui
Proses ini juga dikenal dengan istilah inisiasi menyusui dini,
dimana ASI baru akan keluar setelah ari-ari atau plasenta
lepas. Plasenta mengandung hormone penghambat prolaktin
(hormone plasenta) yang menghambat pembentukan ASI. Air
susu ibu (ASI) merupakan nutrisi alamiah terbaik bagi bayi
karena

mengandung

kebutuhan energy dan

zat

yang

dibutuhkan selama enam bulan pertama kehidupan bayi.


Namun, ada kalanya seorang ibu mengalami masalah dalam
pemberian ASI tidak lancar (Saleha, 2009; h.11).
2.1.7.3 Proses Produksi Air Susu
Pada seorang ibu yang hamil dikenal dua refleks yang masingmasing berperan dalam pembentukan dan pengeluaran air susu,
yaitu: refleks prolaktin dan refleks let down.

1. Refleks Prolaktin
Akhir kehamilan hormon prolaktin memegang peranan
untuk membuat kolostrum, tetapi jumlah kolostrum terbatas
dikarenakan aktivitas prolaktin dihambat oleh estrogen
dan progesteron yang masih tinggi. Hormon ini merangsang

39

sel- sel alveoli yang fungsinya membuat air susu. Kadar


prolaktin pada ibu yang menyusui akan normal kembali tiga
bulan setelah melahirkan sampai penyapihan anak.
2. Refleks let down
Bersamaan

dengan

pembentukan

prolaktin

oleh

adenohipofisis, rangsangan yang berasal dari hisapan bayi


ada yang dilanjutkan neurohipofisis yang kemudian
dikeluarkan oksitosin. Oksitosin yang sampai pada alveoli
akan mempengaruhi sel mioepitelin. Kontraksi dari sel akan
memeras air susu yang telah terbuat keluar dari alveoli dan
masuk ke sistem duktus yang selanjutnya mengalir melalui
duktus laktiferus masuk kemulut bayi.
Faktor-faktor yang meningkatkan refleks let downadalah:
a) Melihat bayi
b) Mendengar suara bayi
c) Mencium bayi
d) Memikirkan untuk menyusui bayi (Saleha, 2009; h.1516).
Beberapa refleks yang memungkinkan bayi baru lahir untuk
memperoleh ASI:
a) Refleks rooting: refleks ini memungkinkan bayi baru lahir
untuk menemukan puting susu apabila ia diletakkan di
payudara.

40

b) Refleks menghisap: yaitu saat bayi mengisi mulutnya


dengan puting susu sampai kelangit-langit dan punggung
lidah. Refleks ini melibatkan rahang, lidah dan pipi.
c) Refleks menelan: yaitu gerakan pipi dan gusi dalam
menekan

aerola,

sehingga

refleks

ini

merangsang

pembentukan rahang bayi (Saleha, 2009; h.16- 17).


2.1.7.4 Manfaat pemberian ASI
1) Bagi bayi
(a) Komposisi sesuai kebutuhan
(b) Kalori dari ASI memenuhi kebutuhan bayi sampai usia
6 bulan
(c) ASI mengandung zat pelindung
(d) Perkembangan psikomotorik lebih cepat
(e) Menunjang perkembangan kognitif
(f) Menunjang perkembangan penglihatan
(g) Memperkuat ikatan batin ibu dan anak
(h) Dasar untuk perkembangan emosi yang hangat dasar
untuk perkembangan kepribadian dan percaya diri
(Saleha, 2009; h. 31- 32)
2) Bagi ibu
(a) Mempercepat kembalinya rahim kebentuk semula
(b) Mencegah anemia defisiensi besi

41

(c) Mempercepat ibu kembali ke berat badan sebelum


hamil
(d) Menunda kesuburan
(e) Menimbulkan perasaan dibutuhkan
(f) Mengurangi

kemungkinan

kanker

payudara

dan

ovarium
3) Manfaat bagi keluarga
(a) Mudah dalam proses pemberiannya
(b) Mengurangi biaya rumah tangga
(c) Bayi yang mendapat ASI jarang sakit, sehingga dapat
menghemat biaya untuk berobat
4) Manfaat bagi negara
(a) Penghematan untuk subsidi anak sakit dan pemakaian
obat obatan
(b) Penghematan devisa dalam hal pembelian susu formula
dan perlengkapan menyusui

(c) Mengurangi populasi


(d) Mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas
(Saleha, 2009; h. 32- 33)
2.1.7.5 Komposisi ASI
Komposisi gizi dalam ASI

42

ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. ASI khusus dibuat


untuk bayi manusia. Kandungan gizi dari ASI sangat khusus
dan sempurna, serta sesuai dengan kebutuhan tumbuh
kembang bayi (Dewi dan Sunarsih, 2011; h.19).
1) Protein
Keistimewaan protein dalam ASI dapat dilihat dari rasio
protein whey: kasein= 60: 40, dibandingkan dengan air susu
sapi yang rasionya= 20:80. ASI mengandung alfa-laktabumin,
sedangkan air susu sapi mengandung beta-laktoglobulin dan
bovine serum albumin. ASI mengandung asam amino esensial
taurin yang tinggi. Kadar metiolin dalam ASI lebih rendah
daripada susu sapi, sedangkan sistin lebih tinggi. Kadar tirosin
dan fenilalanin pada ASI rendah. Kadar poliamin dan
nukleotid yang penting untuk sintesis protein pada ASI lebih
tinggi dibandingkan air susu sapi.
2) Karbohidrat
ASI mengandung karbohidrat lebih tinggi dari air susu sapi
(6,5- 7 gram). Karbohidrat yang utama adalah laktosa.
3) Lemak
Bentuk emulsi lebih sempurna. Kadar lemak tak jenuh dalam
ASI 7-8 kali lebih besar dari susu sapi. Asam lemak rantai
panjang berperan dalam perkembangan otak. Kolestrol yang
diperlukan untuk mielinisasi susunan saraf pusat dan

43

diperkirakan

juga

berfungsi

dalam

perkembangan

pembentukan enzim.
4) Mineral
ASI mengandung mineral lengkap. Total mineral selama
laktasi adalah konstan. Fa dan Ca paling stabil, tidak
terpengaruh diet ibu. Garam organic yang terdapat dalam ASI
terutama kalsium, kalium, dan natrium dari asam klorida dan
fosfat. ASI memiliki kalsium, fosfor, sodium potassium, dalam
tingkat yang lebih rendah dibandingkan dengan susu sapi. Bayi
yang diberi ASI tidak akan menerima pemasukan suatu muatan
garam yang berlebihan sehingga tidak memerlukan air
tambahan di bawah kondisi- kondisi umum.
5) Air
Kira-kira 88% ASI terdiri atas air yang berguna melarutkan
zat-zat yang terdapat didalamnya sekaligus juga dapat
meredakan rangsangan haus dari bayi.

6) Vitamin
Kandungan vitamin dalam ASI adalah lengkap, vitamin A, D,
dan C cukup. Sementara itu, golongan vitamin B kecuali
riboflavin dan sam penthotenik lebih kurang.

44

a.

Vitamin A: air susu manusia sudah masak (dewasa


mengandung

280

IU)

vitamin

dan

kolustrum

mengandung sejumlah dua kali itu. Susu sapi hanya


mengandung 18 IU.
b.

Vitamin D: vitamin D larut dalam air dan lemak, terdalam


air susu manusia.

c.

Vitamin E: kolustrum manusia kaya akan vitamin E,


fungsinya adalah untuk mencegah hemolitik anemia, akan
tetapi juga membantu melindungi paru-paru dan retina
dari cedera akibat oxide.

d.

Vitamin K: diperlukan untuk sintesis faktor-faktor


pembekuan darah, bayi yang mendapatkan ASI mendapat
vitamin K lebih banyak.

e.

Vitamin B kompleks: semua vitamin B ada pada tingkat


yang diyakini memberikan kebutuhan harian yang
diperlukan.

f.

Vitamin C: vitamin C sangat penting dalam sintesis


kolagen, ASI mengandung 43 mg/100 ml vitamin C
dibandingkan dengan susu sapi (Dewi dan Sunarsih, 2011,
hal 19-20).

2.1.7.6 Stadium ASI


ASI dibedakan dalam tiga stadium yaitu sebagai berikut :
a)

Kolostrum

45

Cairan pertama yang diperoleh bayi pada ibunya adalah


kolustrum, yang mengandung kaya akan protein, mineral,
dan antibody daripada ASI yang telah matang. ASI mulai
ada kira-kira pada hari ke- 3 atau hari ke- 4. Kolustrum
berubah menjadi ASI yang matang kira-kira 15 hari sesudah
bayi lahir. Kolustrum merupakan cairan dengan viskositas
kental, lengket, dan berwarna kekuningan.
b) ASI transisi/ peralihan
ASI peralihan adalah ASI yang keluar setelah kolustrum
sampai sebelum ASI matang, yaitu sejak hari ke- 4 sampai
hari ke-10. Selama dua minggu, volume air susu bertambah
banyak dan berubah warna, serta komposisinya. Kadar
immunoglobulin dan protein menurun, sedangkan lemak
dan laktosa meningkat.
c)

ASI matur
ASI matur disekresi pada hari ke- 10 dan seterusnya.ASI
matur tampak berwarna putih. Kandungan ASI matur relatif
konstan, tidak menggumpal bila dipanaskan. Air susu yang
mengalir pertama kali atau saat lima menit pertama disebut
foremilk.

Foremilk

lebih

encer,

serta

mempunyai

kandungan rendah lemak, tinggi laktosa, gula, protein,


mineral ,dan air (Dewi dan Sunarsih, 2011, h: 20).
2.1.7.7 Tanda bayi cukup ASI

46

a) Bayi minum ASI tiap 2- 3 jam atau dalam 24 jam minimal


mendapat ASI 8 kali pada 2 sampai 3 minggu pertama
b) Kotoran berwarna kuning dengan frekuensi sering dan
warna menjadi lebih muda pada hari kelima setelah lahir
c) Bayi akan BAK paling tidak 6-8 kali/ hari
d) Ibu dapat mendengarkan pada saat bayi menelan ASI
e) Payudara terasa lebih lembek yang menandakan ASI telah
habis
f) Warna bayi merah dan kulit terasa kenyal
g) Pertumbuhan berat badan dan tinggi badan bayi sesuai
dengan grafik pertumbuhan
h) Perkembangan motorik bayi (bayi aktif dan motoriknya
sesuai dengan rentan usianya)
i) Bayi kelihatan puas sewaktu-waktu akan lapar akan bangun
dan tidur dengan cukup
j) Bayi menyusu dengan kuat (rakus) kemudian mengantuk
dan tertidur pulas (Dewi dan Sunarsih, 2011, hal :24).

2.1.8 Cara Menyusui Yang Benar


2.1.8.1 Pengertian
Tekhnik menyusui yang benar adalah cara memberikan ASI
kepada bayi dengan perlekatan dan posisi ibu dan bayi dengan
benar (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 30). Cara menyusui sangat

47

mempengaruhi kenyamanan bayi menghisap air susu. Bidan/


perawat perlu memberikan bimbingan pada ibu dalam minggu
pertama setelah persalinan (nifas) tentang cara-cara menyusui
yang sebenarnya agar tidak menimbulkan masalah (Maryunani,
2009, h: 76).
Cara menyusui yang baik dan benar
a) Sebelum menyusui, ASI dikeluarkan sedikit dan dioleskan ke
putting susu dan areola sekitarnya. Hal ini bermanfaat
sebagai desinfektan dan menjaga kelembutan putting susu
(Maryunani, 2009; h. 77).
b) Bayi diletakkan menghadap perut ibu/ payudara
1. Ibu duduk atau berbaring.
2. Bayi dipegang dengan satu lengan, kepala bayi terletak
pada lengkung siku ibu dan bokong bayi terletak pada
lengan. Kepala bayi tidak boleh tertengadah dan bokong
bayi ditahan dengan telapak tangan ibu.
3. Bayi menempel pada ibu, kepala bayi menghadap
payudara (tidak hanya membelokkan kepala bayi).
4. Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus.
c) Payudara dipegang dengan ibu jari diatas dan jari yang lain
menopang dibawah, jangan menekan putting susu dan
areolanya saja.

48

d) Bayi diberi rangsangan untuk membuka mulut (rooting


reflek) dengan cara menyentuh pipi bayi dengan putting susu
atau menyentuh sisi mulut bayi.
e) Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat kepala bayi
didekatkan ke payudara ibu dengan putting susu serta areola
dimasukkan kemulut bayi. Usahakan sebagian besar areola
dapat masuk kedalam mulut bayi, sehingga putting susu
berada dibawah langit-langit dan lidah bayi akan menekan
ASI keluar dari tempat penampungan ASI yang terletak
dibawah areola.
f) Setelah bayi menyusu pada salah satu payudara sampai terasa
kosong, sebaiknya ganti menyusui pada payudara yang lain.
Cara melepas isapan bayi, yaitu :
(a) Jari kelingking ibu dimasukkan ke mulut bayi melalui
sudut mulut.
(b) Dagu bawah bayi ditekan.
g) Menyusui berikutnya mulai dari payudara yang belum
terkosongkan (yang dihisap terakhir).
h) Setelah selesai menyusui, ASI dikeluarkan sedikit, kemudian
dioleskan pada putting susu dan areola sekitarnya, biarkan
kering dengan sendirinya.

49

i) Setelah selesai menyusui, bayi disendawakan dengan tujuan


untuk mengeluarkan udara dari lambung supaya bayi tidak
muntah (Maryunani, 2009; h.77- 78).
2.1.9

Memerah dan menyimpan ASI


Cara memerah ASI adalah sebagai berikut :
a. Letakkan ibu jari dan dua jari lainnya sekitar 1-1,5 cm dari
areola. Usahakan untuk mengikuti aturan tersebut sebagai
panduan, apalagi ukuran dari areola tiap wanita sangat
bervariasi. Tempatkan ibu jari di atas areola pada posisi jam 12
dan jari lainnya pada posisi jam 6.
b. Dorong kearah dada, hindari meregangkan jari.Bagi ibu yang
payudaranya besar , angkat dan dorong kearah dada.
c. Gulung menggunakan ibu jari dan jari lainnya secara bersamaan
d. Gerakkan ibu jari dan jari lainnya hingga menekan gudang ASI
hingga kosong.Jika dilakukan dengan tepat maka ibu tidak akan
kesakitan saat memerah.
e. Putar ibu jari dan jari-jari lainnya ke titik gudang ASI lainnya.
Demikian juga saat memerah payudara lainnya , gunakan kedua
tangan (Sulistyawati, 2009; h. 39-41)
ASI yang dikeluarkan dapat disimpan untuk beberapa saat dengan
syarat sebagai berikut:
a.

Di udara bebas / terbuka

: 6-8 jam

b.

Di lemari es ( 40C )

: 24 jam

50

c.

Di lemari pendingin / beku ( -180C)

: 6 bulan

(Saleha,2009; h.28)
Mencairkan ASI beku dapat dilakukan dengan cara sebagaiberikut:
a.

Siapkan air hangat suam kuku di dalam rantang atau panci


kecil

b.

Taruhlah plastik berisi ASI beku dalam air hangat tersebut.


ASI akan mencair dalam waktu kurang dari 5 menit
(Saleha,2009; h.27)

2.1.10

Masalah- masalah menyusui pada ibu


Beragam masalah sering terjadi pada saat menyusui, bidan/perawat
perlu mengetahui masalah-masalah yang sering terjadi ini, agar
dapat memberikan dukungan bagi ibu untuk menyusui secara
berhasil (Maryunani, 2009; h. 90).
Masalah- masalah menyusui pada ibu yang sering terjadi antara
lain :
2.1.10.1 Puting Susu Lecet
Puting susu lecet dapat disebabkan oleh trauma saat
menyusui. Selain itu,

dapat pula terjadi retak dan

pembentukan celah- celah. beberapa penyebab puting susu


lecet adalah:
1.

Teknik menyusui yang tidak benar

51

2.

Puting susu terpapar oleh sabun, krim, alkohol,


ataupun zat

iritan lain saat ibu membersihkan puting

susu
3.

Moniliasis pada mulut bayi yang menular pada puting


susu ibu

4.

Bayi dengan tali lidah pendek (frenulum lingue)

5.

Cara menghentikan menyusui yang kurang tepat


(Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 39-40).

Tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi puting susu


lecet adalah:
(a) Cari penyebab putting lecet
(b) Selama puting susu diistirahatkan, sebaiknya ASI tetap
dikeluarkan dengan tangan, dan tidak di anjurkan
menggunakan pompa karena nyeri atau bayi disusukan
lebih dulu pada putting susu yang normal atau lecetnya
sedikit.
(c) Olesi puting dengan ASI akhir (hind milk), tidak
menggunakan sabun, krim, alkohol ataupun zat iritan lain
saat membersihkan payudara.
(d) Menyusui lebih sering (8- 12 kali dalam 24 jam)
(e) Puting susu yang sakit dapat diistirahatkan untuk sementara
waktu 1x 24 jam, dan biasanya akan sembuh sendiri dalam
waaktu 2x 24 jam.

52

(f) Cuci payudara sekali sehari dan tidak dibenarkan untuk


mengunakan sabun.
(g) Posisi menyusui harus benar, bayi menyusu sampai kalang
payudara dan susukan secara bergantian di antara kedua
payudara.
(h) Keluarkan sedikit ASI dan oleskan ke puting yang lecet
dan biarkan kering
(i) Pergunakan bra yang menyangga.
(j) Bila terasa sangat sakit boleh minum obat pengurang rasa
sakit (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 39- 40)
2.1.10.2 Puting melesak (masuk ke dalam)
Jika puting susu melesak diketahui sejak hamil, hendaknya
puting susu ditari-tarik dengan menggunakan minyak kelapa
setiap mandi 2- 3 kali sehari. Jika puting susu melesak
diketahui setelah melahirkan, dapat dibantu dengan tudung
puting (nipple hoot). (Dewi dan Sunarsih, 2009; hal. 40 ).
2.1.10.3 Payudara Bengkak
Pada payudara bengkak tampak payudara udem, sakit, putting
kencang, kulit mengkilap walau tidak merah, dan bila
diperiksa/ dihisap ASI tidak keluar. Badan bisa demam setelah
24 jam, hal ini terjadi pada hari ketiga setelah melahirkan.
Penyebab bengkak :
1. Menyusui yang tidak kontinu

53

2. Terlambat menyusui
3. Perlekatan kurang baik
4. Pembatasan waktu menyusui
Tindakan yang dilakukan untuk mencegah payudara bengkak
adalah:
1) Menyusui segera setelah lahir dengan posisi dan perlekatan
yang benar.
2) Menyusui bayi tanpa jadwal (nir-jadwal dan on demand).
3) Keluarkan ASI dengan tangan/ pompa bila produksi
melebihi kebutuhan bayi.
4) Jangan memberikan minuman lain pada bayi
5) Lakukan perawatan payudara pasca persalinan
Beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi
payudara bengkak adalah sebagai berikut:
1) Setiap 2 jam sekali sebelum menyusui kompreslah payudara
dengan lap bersih atau dengan daun pepaya basah.
2) Keluarkan sedikit ASI sebelum menyusui agar payudara
lebih lembek sehingga lebih mudah memasukkannya
kedalam mulut bayi.
3) Bila bayi belum dapat menyusu, ASI keluarkan dengan
tangan atau pompa dan diberikan pada bayi dengan cangkir/
sendok.

54

4) Tetap mengeluarkan ASI sesering yang diperlukan sampai


bendungan teratasi.
5) Untuk mengurangi rasa sakit dapat diberi kompres hangat
dan dingin.
6) Bila ibu demam dapat diberikan obat penurun demam dan
pengurang sakit.
7) Lakukan pemijatan pada daerah payudara yang bengkak,
bermanfaat untuk membantu memperlancar pengeluaran
ASI.
8) Pada saat menyusui ibu sebaiknya tetap rileks
9) Makan makanan bergizi untuk meningkatkan daya tahan
tubuh dan perbanyak minum.
10) Jika ibu yang sedang menyusui terserang penyakit seperti
pilek, usahakan tetap memberikan ASI dengan menutup
mulut dan hidung dengan masker

(Dewi dan Sunarsih,

2011, h: 40- 41).


2.1.10.4 Saluran susu tersumbat
Berikut ini akan dijelaskan mengenai penyebab, gejala,
penatalaksanaannya, dan pencegahan saluran susu yang
tersumbat. Hal-hal yang menjadi penyebab saluran susu
tersumbat adalah sebagai berikut :
1) Tekanan jari ibu yang terlalu kuat pada waktu menyusui
2) Pemakaian bra yang terlalu ketat

55

3) Komplikasi payudara bengkak, yaitu susu terkumpul tidak


segera dikeluarkan, sehingga terbentuklah sumbatan.
Gejala yang dirasakan adalah sebagai berikut :
1) Pada wanita yang kurus, gejalanya terlihat dengan jelas
dan lunak pada perabaan
2) Payudara pada daerah yang mengalami penyumbatan
terasa nyeri dan bengkak yang terlokalisir
Penatalaksanaan :
Saluran susu yang tersumbat ini harus dirawat, sehingga benarbenar sembuh, untuk menghindari terjadinya radang payudara
(mastitis).
1) Untuk mengurangi rasa nyeri dan bengkak, dapat
dilakukan masase serta kompres panas dan dingin secara
bergantian
2) Bila payudara masih terasa penuh, ibu dianjurkan untuk
mengeluarkan ASI dengan tangan atau dengan pompa
setiap kali selesai menyusui
3) Ubah-ubah posisi menyusui untuk melancarkan aliran
ASI.
Pencegahan yang dapat dilakukan agar payudara tidak
tersumbat adalah sebagai berikut :
1.

Perawatan payudara pascapersalinan secara teratur, untuk


menghindari terjadinya statis aliran asi.

56

2.

Posisi menyusui yang di ubah-ubah.

3.

Mengenakan bra yang menyangga, bukan yang menekan


(Saleha, 2009, h: 107-109).

2.1.10.5 Mastitis Atau Abses Payudara


Mastitis adalah peradangan pada payudara.Payudara menjadi
merah, bengkak kadang kala diikuti rasa nyeri dan panas, suhu
tubuh meningkat. Didalam terasa ada masa padat (lump), dan
diluarnya kulit menjadi merah. Kejadian ini terjadi pada masa
nifas 1- 3 minggu setelah persalinan diakibatkan oleh
sumbatan saluran susu yang berlanjut.
Tindakan yang dapat dilakukan :
1. Kompres hangat/ panas dan pemijatan.
2. Rangsangan oksitosin, dimulai pada payudara yang tidak
sakit yaitu stimulasi putting susu, pijat leher punggung, dll.
3. Pemberian antibiotik: Flucloxacilin atau erythromycin
selama 7- 10 hari.
4. Bila perlu bisa diberikan istirahat total dan obat untuk
penghilang rasa nyeri.
5. Kalau terjadi abses sebaiknya tidak disusukan karena
mungkin perlu tindakan bedah. (Ambarwati dan Wulandari,
2009; h. 49- 50).
2.1.10.6 BENDUNGAN ASI
1. Pengertian

57

Bendungan Air Susu adalah terjadinya pembengkakan pada


payudara karena peningkatan aliran vena dan limfe
sehingga menyebabkan bendungan ASI dan rasa nyeri
disertai kenaikan suhu badan. Bendungan ASI dapat terjadi
karena adanya penyempitan duktus laktiferus pada payudara
ibu dan dapat terjadi pula bila ibu memiliki kelainan putting
susu (misalnya putting susu datar, terbenam dan cekung)
(Rukiyah dan Yulianti, 2010; h. 345).
Bendungan air susu dapat terjadi pada hari ke- 2 atau ke- 3
ketika payudara telah memproduksi air susu. Bendungan
disebabkan oleh pengeluaran air susu yang tidak lancar,
karena bayi tidak cukup untuk menyusui, produksi
meningkat, terlambat menyusukan, hubungan dengan bayi
(bounding) kurang baik, dan dapat pula karena adanya
pembantasan waktu menyusu (Prawirohardjo, 2010; h. 652).
2. Faktor-faktor penyebab Bendungan ASI
1) Pengosongan mamae yang tidak sempurna (dalam masa
laktasi, terjadi peningkatan produksi ASI pada ibu yang
produksi ASI-nya berlebihan, apabila bayi sudah
kenyang dan selesai menyusu, dan payudara tidak
dikosongkan, maka masih terdapat sisa ASI didalam
payudara. Sisa ASI tersebut jika tidak dikeluarkan dapat
menimbulkan bendungan ASI).

58

2) Faktor hisap bayi yang tidak aktif (pada masa laktasi,


bila ibu tidak menyusukan bayinya sesering mungkin
atau jika bayi tidak aktif menghisap, maka akan
menimbulkan bendungan ASI).
3) Faktor menyusui bayi yang tidak benar (teknik yang
salah dalam menyusui dapat mengakibatkan puting susu
menjadi lecet dan menimbulkan rasa nyeri pada saat bayi
menyusu. Akibatnya ibu tidak mau menyusui bayinya
dan terjadi bendungan ASI).
4) Puting susu terbenam (putting susu terbenam akan
menyulitkan bayi dalam menyusu. Karena bayi tidak
dapat menghisap puting dan areola, bayi tidak mau
menyusu dan akibatnya terjadi bendungan ASI).
5) Puting susu terlalu panjang (putting susu yang panjang
menimbulkan kesulitan pada saat bayi menyusu karena
bayi tidak dapat menghisap areola dan meransang sinus
laktiferus untuk megeluarkan ASI. Akibatnya ASI
tertahan dan menimbulkan bendungan ASI) (Rukiyah
dkk, 2010; h.346).
3. Tanda dan gejala bendungan ASI
Tanda dan gejala bendungan ASI antara lain dengan
ditandainya dengan: mamae panas serta keras pada
perabaan dan nyeri, putting susu bisa mendatar sehingga

59

bayi sulit menyusui, pengeluaran susu kadang terhalang


oleh duktus laktiferi yang menyempit, payudara bengkak,
keras, panas, nyeri bila ditekan, warnanya kemerahan, suhu
tubuh mencapai 380c (Rukiyah dkk, 2010; h. 346).
Gejala bendungan ASI adalah terjadinya pembengkakan
payudara bilateral dan secara palpasi teraba keras, kadang
terasa nyeri serta seringkali disertai peningkatan suhu badan
ibu, tetapi tidak terdapat tanda kemerahan dan demam
(Prawiroharjo, 2010; h. 652).
4. Penanganan Bendungan ASI
Penanganan
pemakaian

bendungan
kutang

air

untuk

susu

dilakukan

menyangga

dengan

payudara

dan

pemberian analgetik, dianjurkan menyusui segera dan lebih


sering, kompres air hangat, air susu dikeluarkan dengan
pompa dan dilakukan pemijatan (masase) serta perawatan
payudara (Prawiroharjo, 2010; h.652).
Kompres air hangat berguna untuk melancarkan aliran
darah ke payudara dan kompres air dingin agar kekejangan
pembuluh

darah

vena

berkurang

disamping

untuk

mengurangi rasa nyeri (Suherni, dkk, 2008; h. 54).


Penanganan Bendungan asi :
a. Penanganan yang dilakukan yang paling penting adalah
dengan mencegah terjadinya payudara bengkak, susukan

60

bayi segera setelah lahir, susukan bayi tanpa jadwal,


keluarkan sedikit ASI sebelum menyusui agar payudara
lebih lembek, keluarkan ASI dengan tangan atau pompa
bila produksi melebihi kebutuhan ASI.
b. Laksanakan perawatan payudara setelah melahirkan,
untuk mengurangi rasa sakit pada payudara berikan
kompres dingin dan hangat dengan handuk secara
bergantian kiri dan kanan, untuk memudahkan bayi
menghisap atau menangkap putting susu berikan
kompres

sebelum

menyusui,

untuk

mengurangi

bendungan di vena dan pembuluh getah bening dalam


payudara lakukan pengerutan yang dimulai dari putting
kearah korpus mamae, ibu harus rileks, pijat leher dan
punggung belakang.
Payudara merupakan sumber

yang akan menjadi

makanan utama bagi anak. Karena itu jauh sebelumnya


harus memakai BH yang sesuai dengan pembesaran
payudara yang sifatnya menyokong payudara dari bawah
suspension bukan menekan dari depan. (Rukiyah, 2010;
h. 347- 348).
Alat-alat yang diperlukan untuk perawatan payudara
adalah kapas dalam kom kecil, 2 buah waskom yang
berisi air hangat dan air dingin, baby oil, waslap 2 buah,

61

handuk besar 2 buah, sarung tangan 1 buah, bengkok 1


buah, dan baju ganti set.
Cara kerja dalam perawatan payudara adalah :
a. Mencuci tangan
b.

Mempersilahkan untuk duduk dengan tenang, jika


memungkinkan dengan diikuti oleh suami yang
memberikan dukungan.

c.

Ibu dipersilahkan untuk menggendong bayinya agar


terjadi kontak kulit antara ibu dan bayinya. Ibu dapat
menaruh bayi di pangkuannya namun jika tidak
memungkinkan ia cukup melihat dari dekat.

d.

Masase payudara dan ASI diperas dengan tangan


sebelum menyusui

e.

Kompres dengan air dingin untuk mengurangi statis


pembuluh darah vena dan mengurangi rasa nyeri.
Dapat dilakukan selang seling dengan air panas
untuk melancarkan aliran darah pada payudara.

f.

Menyusui lebih sering dan lebih lama pada payudara


yang

bengkak

untuk

melancarkan

ASI

dan

menurunkan tegangan pada payudara.


g.

Pijat bagian punggung ibu untuk merangsang refleks


oksitosin dengan cara:

62

Ibu membungkuk ke depan, serta duduk dan


bersandar pada meja dengan lengan terlipat dan
kepala diletakkan di atas tangannya. Payudara
dibiarkan mengantung dan terlepas dari kain
penutupnya.
Usap bagian punggung ibu kemudian beri tekanan
memutar dengan ibu jari mengarah kebagian bawah
sepanjang tulang belakang yang dimulai dari leher
dan punggung, kemudian kearah bawah selama 3
menit.
h.

Pijat aerola mamae untuk mengetahui bagaimana


pengeluaran ASI

2.2

i.

Pakai BH yang menopang payudara

j.

Cuci tangan (Sulistyawati, 2009; hal 224- 226).

TINJAUAN TEORI ASUHAN KEBIDANAN


2.2.1

Pengertian
Manajemen kebidanan merupakan proses pemecahan masalah yang
digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan
tindakan berdasarkan teori ilmiah, temuan, dan keterampilan dalam

63

rangkaian/tahapan yang logis untuk mengambil suatu keputusan


yang berfokus pada klien (Jannah, 2011; h. 121)
Langkah dalam manajemen kebidanan menurut Varney
2.2.1.1 Pengumpulan data dasar (Pengkajian)
Pengkajian

atau

pengumpulan

data

dasar

adalah

mengumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk


mengevaluasi

keadaan

pasien.

Merupakan

langkah

pertama untuk mengumpulkan semua informasi yang


akurat dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi
pasien (Ambarwati dan wulandari, 2008; h. 131).
1) Data Subyektif
(a) Nama
Nama jelas dan lengkap, bila perlu nama panggilan seharihari agar tidak keliru dalam memberikan penanganan.
(b) Umur
Dicatat dalam tahun untuk mengetahui adanya resiko seperti
kurang dari 20 tahun, alat-alat reproduksi belum matang,
mental dan psikisnya belum siap. Sedangkan umur lebih
dari 35 tahun rentan sekali untuk terjadi perdarahan dalam
masa nifas.
(c) Agama

64

Agama pasien dikaji untuk mengetahui keyakinan pasien


tersebut untuk membimbing atau mengarahkan pasien
dalam berdoa.
(d) Suku/ bangsa
Suku pasien dikaji untuk mengetahui adat dan kebiasaan
sehari- hari.
(e) Pendidikan
Berpengaruh

dalam

tindakan

kebidanan

dan

untuk

mengetahui sejauh mana tingkat intelektualnya, sehingga


bidan

dapat

memberikan

konseling

sesuai

dengan

pendidikannya.
(f) Pekerjaan
Dikaji untuk mengetahui dan mengukur tingkat sosial
ekonominya, karena ini juga mempengaruhi dalam gizi
pasien tersebut.
(g) Alamat
Untuk mempermudah kunjungan rumah bila diperlukan
(Ambarwati dan Wulandari, 2008; hal. 131- 132).

2) Keluhan utama
Ditanyakan unutk menegtahui alasan pasien datang ke fasilitas
pelayanan kesehatan (Sulistyawati , 2009; h.111).

65

3) Riwayat kesehatan
(a) Sekarang
Data-data ini di perlukan untuk mengetahui kemungkinan
adanya penyakit yang di derita pada saat ini yang ada
hubungannya dengan masa nifas dan bayinya.
(b) Yang Lalu
Data yang di perlukan untuk mengetahui kemungkinan
adanya riwayat atau penyakit akut, kronis seperti: Jantung,
DM, Hipertensi, Asma yang dapat mempengaruhi pada
masa nifas ini.
(c) Keluarga
Data ini di perlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya
pengaruh penyakit keluarga terhadap gangguan kesehatan
pasien dan bayinya, yaitu bila ada penyakit keluarga yang
menyertainya.
4) Riwayat Perkawinan
Yang perlu dikaji adalah berapa kali menikah, status menikah
syah atau tidak, karena bila melahirkan tanpa status yang jelas
akan

berkaitan

dengan

psikologisnya

sehingga

akan

mempengaruhi proses nifas (Ambarwati dan Wulandari, 2008;


h.131-133).
5) Riwayat obstetri
(a) Riwayat menstruasi

66

(1) Riwayat haid


Mempunyai gambaran tentang keadaan dasar dari organ
reproduksinya.
(2) Menarche
Usia pertama kali mengalami menstruasi. Untuk wanita
Indonesia pada usia sekitar 12- 16 tahun.
(3) Siklus
Jarak antara menstruasi yang di alami dengan
menstruasi berikutnya dalam hitungan hari, biasanya
sekitar 23- 32 hari.
(4) Volume
Data ini menjelaskan seberapa banyak darah menstrusi
yang di keluarkan.
(5) Keluhan
Beberapa wanita menyampaikan keluhan yang di
rasakan ketika mengalami menstruasi misalnya sakit
yang sangat, pening sampai pingsan,atau jumlah darah
yang banyak.

(b) Gangguan kesehatan alat reproduksi


Ada beberapa penyakit organ reproduksi yang berkaitan erat
dengan personal hygiene pasien atau kebiasaan lain yang

67

tidak mendukung kesehatan reproduksinya (Sulistyawati,


2009; h. 112 113).
(c) Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu.
Berapa kali ibu hamil, apakah pernah abortus, jumlah anak,
cara persalinan yang lalu, penolong persalinan, keadaan
nifas yang lalu.
(d) Riwayat Persalinan sekarang
Tanggal persalinan, jenis persalinan, jenis kelamin anak,
keadaan bayi meliputi JK, BB, penolong persalinan. Hal ini
perlu dikaji untuk mengetahui apakah proses persalinan
mengalami kelainan atau tidak yang bisa berpangaruh pada
masa nifas saat ini.
(e) Riwayat KB
Untuk mengetahui apakah pasien pernah ikut KB dengan
kontrasepsi jenis apa, berapa lama, adakah keluhan selama
menggunakan kontrasepsi serta rencana KB setelah masa
nifas ini dan beralih ke kontrasepsi apa (Ambarwati dan
Wulandari, 2008; h. 133- 134).

6) Pola kebutuhan Sehari-hari


(a) Nutrisi

68

Pada masa nifas masalah diet perlu mendapat perhatian


yang serius, karena dengan nutrisi yang baik dapat
mempercepat

proses

penyembuhan

ibu

dan

sangat

memengaruhi susunan air susu. Diet yang diberikan harus


bermutu, bergizi tinggi, cukup kalori, tinggi protein, dan
banyak mengandung cairan.
Ibu yang menyusui harus memenuhi kebutuhan akan gizi
sebagai berikut :
a)

Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari

b) Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan


protein, mineral, dan vitamin yang cukup.
c)

Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari.

d) Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi


seitidaknya selam 40 hari pasca persalinan.
e)

Minum kapsul vitamin A

200.000 unit agar dapat

memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI


(Saleha, 2009; hal. 71- 72).
(b) Eliminasi
Ibu di minta untuk buang air kecil (miksi) 6 jam post
partum. Jika dalam 8 jam post partum belum dapat
berkemih atau sekali berkemih belum melebihi 100 cc,
maka dilakukan keteterisasi.

69

Ibu post partum diharapkan dapat buang air besar (defekasi)


setelah hari kedua post partum (Saleha, 2009, h. 73).
(c) Istirahat
Ibu nifas memerlukan istirahat cukup, istirahat yang
dibutuhkan ibu nifas sekitar 8 jam pada malam hari, dan
siang hari 1 jam (Yanti, 2011; h. 84).
(d) Personal Hygine
Pada masa post partum, seprang ibu sangat rentan terhadap
infeksi. Oleh karena itu, kebersihan diri sangat penting
untuk mencenggah terjadinya infeksi. Kebersihan tubuh,
pakaian, tempat tidur, dan lingkungan sangat penting untuk
tetap dijaga (Saleha, 2009, hal. 73).
(e) Aktivitas
Menggambarkan pola aktivitas pasien sehari- hari.Pada pola
iniperlu di kaji pengaruh aktivitas terhadap kesehatannya.
Mobilisasi dini dapat mempercepat proses pengembalian
alat- alat reproduksi (Ambarwati dan Wulandari, 2008;
h.137).
2.2.1.2 Data Objektif
Data ini dikumpulkan guna melengkapi data untuk
menegakkan diagnosis. Bidan melakukan pengkajian data
objektif melalui pemeriksaan inspeksi, palpasi, auskultasi,

70

perkusidan pemeriksaan penunjang yang di lakukan secara


berurutan (Sulityawati, 2009; h. 121).
a) Pemeriksaan Umum
Pemeriksaan yang dilakukan kepada pasien sebagai
berikut:
1) Keadaan umum
Data ini dapat dengan mengamati keadaan pasien
secara keseluruhan, hasil pengamatan yang di
laporkan

kriterianya

baik

atau

lemah.

Hasil

pengamatan akan dilaporkan dengan kriteria baik


jika pasien memperlihatkan respon yang baik
dengan orang lain atau lemah jika pasien kurang
atau tidak memberikan respon yang baik terhadap
lingkungan dan dengan orang lain.
2) Kesadaran
Untuk mendapatkan gambaran tentang ke sadaran
pasien, kita dapat melakukan pengkajian derajat
kesadaran pasien dari keadaan compos mentis (sadar
penuh) sampai dengan koma (pasien tidak dalam
keadaan sadar) (Sulistyawati, 2009; h.121- 122).
3) Tinggi badan
Salah satu ukuran pertumbuhan seseorang.
4) Berat badan

71

Massa tubuh di ukur dengan pengukuran massa atau


timbangan.
5) Tanda-tanda vital
(a) Tekanan darah
Pada beberapa kasus di temukan keadaan
hipertensi post partum, tetapi keadaan ini akan
menghilang dengan sendirinya apabila tidak ada
penyakit-penyakitlain yang menyertainya dalam
2 bulan pengobatan (Ambarwati dan wulandari,
2008; hal. 139).
(b) Nadi
Berkisar antara 60- 80x/ menit denyut nadi di
atas 100x/menit

pada masa nifas adalah

mengindikasikan adanya suatu infeksi, hal ini


salah satunya bisa di akibatkan oleh proses
persalinan sulit atau karena kehilangan darah
yang berlebih.
(c) Suhu
Peningkatan suhu badan mencapai pada 24 jam
pertama masa nifas pada umumnya disebabkan
oleh dehidrasi, yang disebabkan oleh keluarnya
cairan pada waktu melahirkan, selain itu bisa
juga disebabkan karena istirahat dan tidur yang

72

diperpanjang selama awal persalinan. Tetapi


pada umumnya setelah 12 jam post partum suhu
tubuh kembali normal. Kenaikan suhu yang
mencapai >380C adalah mengarah ke tandatanda infeksi.
(d) Pernafasan
Pernafasan harus berada dalam rentang yang
normal,yaitu sekitar 20-30x/ menit (Ambarwati
dan Wulandari, 2008 hal; 138- 139).
b) Pemeriksaan fisik
a. Kepala
Tujuan

pengkajian

kepala

dilakukan

untuk

mengetahui keadaan rambut, massa, pembengkakan,


nyeri tekan, dan kulit kepala (Tambunan, 2011, h:
67).
b. Wajah
pada daerah muka kesimetrisan muka, apakah
kulitnya normal, pucat, sianosis atau ikterus.
Bagian muka adalah simetris kanan dan kiri.
Ketidaksimetrisan muka menunjukan adanya
gangguan pada saraf ke tujuh.

c. Mata

73

Untuk mengetahui bentuk dan fungsi mata,


teknik yang digunakan inspeksi dan palpasi
(Tambunan, 2011; hal. 66- 67).
d. Hidung dikaji untuk mengetahui bentuk dan
fungsi hidung apakah dalam keadaan normal
(simetris kanan dan kiri, tidak ada pembesaran
polip). Dimulai dari bagian luar hidung, bagian
dalam, lalu sinus-sinus.
e. Telinga
Telinga berfungsi sebagai alat pendengaran dan
menjaga keseimbangan.

Pengkajian telinga

bertujuan untuk mengetahui keadaan telinga


luar

dan

pendengaran.

pendengaran dilakukan untuk

Pemeriksaan
mengetahui

fungsi telinga.
f. Mulut
Pemeriksaan

mulut

dilakukan

dengan

pencahayaan yang baik sehingga dapat melihat


semua bagian dalam mulut. Tujuan dilakukan
pemeriksaan untuk mengetahui bentuk dan
kelainan pada mulut yang dapat diketahui
inspeksi yaitu mengkaji bagian bibir, gigi, gusi,
dan lidah (Tambunan, 2011; hal. 73- 81).

74

g. Leher
Tujuan

pengkajian

leher

adalah

untuk

mengetahui bentuk leher, pemeriksaan palpasi


ditujukan untuk melihat apakah ada masa yang
teraba pada kelenjar limfe dan kelenjar tiroid
(Tambunan, 2011, h: 83).
h. Dada
Menjelaskan pemeriksaan fisik keadaan buah
dada dan putting susu.
1) Simetris/ tidak
2) Konsistensi, ada pembengkakan/tidak
3) Putting menonjol/ tidak, lecet/ tidak
4) Pengeluaran ada/ tidak (Ambarwati dan
Wulandari 2008, hal :139).
i. Payudara
Bendungan disebabkan oleh pengeluaran air
susu yang tidak lancar, karena bayi tidak cukup
sering menyusui, produksi meningkat, terlambat
menyusukan, hubungan dengan bayi yang
kurang baik, dan dapat pula terjadi akibat
pembatasan waktu menyusui. (Prawirohardjo,
2010; hal. 652).
h. Perut

75

Involusi

Bayi

Tinggi Fundus Uteri

Berat

Keadaan

Uterus (gr)

Serviks

Setinggi pusat

1000

2 jari dibawah pusat

750

Lembek

Satu

Pertengahan pusat dan

500

Beberapa hari

minggu

simpisis

lahir
Uri
lahir

setelah
postpartum
dapat dilalui 2

Dua

Tak

teraba

minggu

simpisis

Enam

Bertambah kecil

diatas

350

Akhir minggu
50-60

pertama dapat
dimasuki

minggu
Delapan

jari.

Sebesar normal

30

jari.

minggu

(Dewi dan Sunarsih, 2011; hal. 57)


i.

Punggung
Nyeri tekan, nyeri ketuk

j.

Genetalia
Mengkaji kebersihan, pengeluaran, massa, bau.

k.

Perinium
Segera setelah melahirkan, perenium menjadi
kendur karena sebelumnya terenggang oleh
tekanan bayi yang bergerak maju. Pada post
natal hari kelima, perineum sudah mendapatkan

76

kembali sebagian tonus-nya, sekalipun tetap


kendur

daripada

keadaan

sebelum

hamil

(Sulistyawati, 2009; hal. 78).

l.

Pengeluaran Pervaginam
Lochea berbau amis atau anyir dengan volume
yang berbeda- beda pada setiap wanita. Lochea
yang berbau dan tidak sedap menandakan
adanya infeksi. Lochea mempunyai perubahan
warna dan volume karena adanya proses
involusi (Sulistyawati,2009; h. 76).

m. Ekstremitas
Untuk melihat

gangguan,

bentuk, oedem,

verices pada ekstremitas bagian atas dan bawah


(Sulistyawati, 2009; h. 124).
2.2.1.3 Interpretasi data dasar
Mengidentifikasi

diagnosa

kebidanan

dan

masalah

berdasarkan intepretasi yang benar atas data data yang


telah di kumpulkan. Dalam langkah ini data yang telah
dikumpulkan

diinterpretasikan

menjadi

diagnosa

kebidanan dan masalah. Keduanya digunakan karena


beberapa
diagnosa

masalah tidak dapat


tetap

membutuhkan

diselesaikan seperti
penanganan

yang

77

dituangkan dalam rencana asuhan terhadap pasien, masalg


sering

berkaitan

dengan pengalaman wanita

yang

diidentifikasikan oleh bidan. (Ambarwati dan Wulandari,


2008; hal. 140).
1) Diagnosa Kebidanan
Diagnosis dapat di tegakkan berkaitan dengan para,
abortus, anak hidup, umur ibu, dan keadaan nifas.
1. Data subjektif
Pernyataan ibu tentang jumlah persalinan, apakah
pernah abortus atau tidak, keterangan ibu tentang
umur, keterangan ibu tentang keluhannya.
2. Data objektif
Palpasi tentang tinggi fundus uteri dan kontraksi,
hasil pemeriksaan tentang pengeluaran pervaginam,
hasil pemeriksaan tanda-tanda vital (Ambarwati dan
Wulandari 2008, h: 141).
2) Masalah Kebutuhan
Permasalahan yang muncul berdasarkan pernyataan
pasien (Ambarwati dan Wulandari, 2008; h. 141- 142).
3) Mengidentifikasi kebutuhan
Dalam hal ini bidan menentukan kebutuhan pasien
berdasarkan keadaan dan masalah (Sulistyawati, 2009;
hal. 192).

78

2.2.1.4 Identifikasi diagnose/ masalah potensial


Mengidentifikasikan diagnosa atau masalah potensial yang
mungkin akan terjadi. Pada langksh ini diidentifikasikan
masalah atau diagnose potensial berdasarkan rangkaian
masalah dan diagnose, hal ini membutuhkan antisipasi,
pencegahan, bila memungkinkan menunggu mengamati
dan bersiap- siap apabila hal tersebut benar-benar terjadi.
Melakukan asuhan yang aman penting sekali dalam hal ini
(Ambarwati dan Wulandari, 2008; hal. 142).
2.2.1.5 Tindakan segera
Langkah ini memerlukan kesinambungan dari manajemen
kebidanan. Identifikasi dan menetapkan perlunya tindakan
segera

oleh

bidan

atau

dokter

dan

atau

untuk

dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota


tim kesehatan lain

sesuai dengan kondisi

pasien

(Ambarwati dan Wulandari, 2008; h. 143).


Tindakan segara untuk bendungan ASI adalah perawatan
payudara dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi rasa
sakit pada payudara dengan berikan kompres dingin dan
hangat dengan handuk secara bergantian kiri dan kanan.
Lalu berikan kompres sebelum menyusui bayi agar
memudahkan bayi dalam menghisap dan menangkap
putting susu. Untuk mengurangi bendungan di vena dan

79

pembuluh

getah

bening

dalam

payudara

lakukan

pengurutan yang dimulai dari puting kearah kopus


mamae.Ibu harus rileks, dan dipijat leher dan punggung
belakang (Rukiyah dan Yulianti, 2010; h. 347).
2.2.1.6 Merencanakan asuhan
Langkah-langkah ini ditentukan oleh sebelumnya yang
merupakan lanjutan dari masalah atau diagnose yang telah
di identifikasi atau antisipasi. Rencana asuhan yang
menyeluruh tidak hanya meliputi apa yang sudah dilihat
dari kondisi pasien atau dari setiap masalah yang
berkaitan, tetapi juga berkaitan dengan kerangka pedoman
antisipasi bagi wanita tersebut yaitu

apa yang terjadi

berikutnya (Ambarwati dan Wulandari, 2008; h. 143).


1. Perencanaan asuhan kebidanan ibu nifas dengan
bendungan ASI yang dilakukan adalah :
a) Beritahu ibu hasil pemeriksaan keadaan ibu dan
hasil pemeriksaan fisik ibu
b) Berikan penjelasan kepada ibu tentang masalah
bahwa ibu mengalami bendungan ASI
c) Lakukan penanganan pada ibu dengan bendungan
ASI
Bila ibu meyusui bayinya:
1. Susukan sesering mungkin

80

2. Kedua payudara disusukan


3. Kompres hangat payudara sebelum disusukan
4. Bantu dengan memijat payudara untuk permulaan
menyusui
5. Sangga payudara
6. Kompres dingin pada payudara diantara waktu
menyusui
7. Bila diperlukan berikan parasetamol 500 mg per oral
setiap 4 jam
8. Lakukan evaluasi setelah 3 hari untuk mengevaluasi
hasilnya.
Bila ibu tidak menyusui:
(a) Sangga payudara
(b) Kompres dingin pada payudara untuk mengurangi
pembengkakan dan rasa sakit
(c) Bila diperlukan berikan parasetamol 500 mg per oral
setiap 4 jam
d) Lakukan evaluasi setelah 3 hari untuk melihat apakah
keadaan membaik atau tidak
e) Dokumentasikan hasil pemeriksaan dan asuhan yang
diberikan (Rukiyah dan Yulianti, 2010; h. 349).
(2) Perencanaan asuhan kebidanan ibu nifas 6 hari post
partum adalah:

81

a) Memastikan involusi uterus berjalan normal:uterus


berkontraksi, funus dibawah umbilicus, tidak ada
perdarahan abnormal, tidak ada bau.
b) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeks, atau
perdarahan abnormal.
c) Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan,
cairan, dan istirahat.
d) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak
mmperlihatkan tanda tanda penyulit.
e) Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan
pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat, dan
merawat bayi sehari-hari. (Sulistyawati, 2009; h. 6).
2.2.1.7 Pelaksanaan Asuhan
Langkah ini merupakan pelaksanaan rencana asuhan
penyuluhan pada klien dan keluarga. Mengarahkan dan
melaksanakn rencana asuhan secara efesien dan aman
(Ambarwati dan Wulandari, 2008; h.145).
1) Pelaksanaan asuhan kebidanan ibu nifas dengan
bendungan ASI yang dilakukan adalah :
a) Beritahu ibu hasil pemeriksaan keadaan ibu dan
hasil pemeriksaan fisik ibu
b) Berikan penjelasan kepada ibu tentang masalah
bahwa ibu mengalami bendungan ASI

82

c) Lakukan penanganan pada ibu dengan bendungan


ASI

(1) Bila ibu meyusui bayinya:


1.

Susukan sesering mungkin

2.

Kedua payudara disusukan

3.

Kompres hangat payudara sebelum disusukan

4.

Bantu

dengan

memijat

payudara

untuk

permulaan menyusui
5.

Sangga payudara

6.

Kompres dingin pada payudara diantara


waktu menyusui

7.

Bila diperlukan berikan parasetamol 500 mg


per oral setiap 4 jam

8.

Lakukan evaluasi setelah 3 hari untuk


mengevaluasi hasilnya

(2) Bila ibu tidak menyusui:


(a) Sangga payudara
(b) Kompres

dingin

pada

payudara

untuk

mengurangi pembengkakan dan rasa sakit


(c) Bila diperlukan berikan parasetamol 500 mg
per oral setiap 4 jam

83

(d) Jangan dipijat atau memakai kompres hangat


pada payudara.
d) Lakukan evaluasi setelah 3 hari untuk melihat
apakah keadaan membaik atau tidak
e) Dokumentasikan hasil pemeriksaan dan asuhan
yang diberikan.
2) Pelaksanaan asuhan kebidanan ibu nifas 6 hari post
partum adalah:
a) Memastikan involusi uterus berjalan normal:uterus
berkontraksi, funus dibawah umbilicus, tidak ada
perdarahan abnormal, tidak ada bau.
b) Menilai adanya tanda-tanda demam,infeks, atau
perdarahan abnormal.
c) Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan,
cairan, dan istirahat.
d) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak
mmperlihatkan tanda tanda penyulit.
e) Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan
pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat,
dan merawat bayi sehari-hari (Sulistyawati, 2009;
h. 6).
2.2.1.8 Evaluasi

84

Langkah ini merupakan langkah terakhir guna mengetahui


apa yang telah dilakukan bidan. Mengevaluasi keefektifan
dari asuhan yang diberikan, ulangi kembali proses
manajemen dengan benar terhadap setiap aspek asuhan
yang sudah dilaksanakan tapi belum efektif atau
merencanakan kembali yang belum terlaksana (Ambarwati
dan Wulandari 2008; hal. 147).
2.1.3 LANDASAN HUKUM KEWENANGAN BIDAN
Bidan sebagai tenaga kesehatan dalam mengatasi masalah nifas dengan
bendungan ASI mempunyai wewenang yang diatur dalam Kepmenkes No.
369/Menkes/III/2007 tentang standar profesi bidan dan standar pelayanan
bidan, yaitu kompetensi ke lima: Bidan memberikan asuhan pada ibu nifas
dan menyusui yang bermutu tinggi dan tanggap terhadap budaya setempat.
Adapun cakupannya yaitu:
1)

Pengetahuan Dasar
Pengetahuan dasar pada kompetensi bidan point lima ini terdiri dari 13
point, dimana terdapat 3 point yang membahas mengenai menyusui
yakni point 3, 7, dan 9 seperti berikut yang menjelaskan bidan harus
memiliki pengetahuan dasar mengenai :
a)

Proses laktasi/ menyusui dan teknik menyusui yang benar serta


penyimpangan yang lazim terjadi termasuk pembengkakan
payudara, abses, mastitis, puting susu lecet, puting susu masuk.

85

b)

Bonding & attachment orang tua dan bayi baru lahir untuk
menciptakan hubungan yang positif.

c)
2)

Indikator masalah-masalah laktasi

Keterampilan dasar
Keterampilan dasar yang harus dimiliki Bidan pada standar
kompetensi kelima ini terdiri dari 15 point, dimana terdapat 2 point
yang terkait dengan menyusui yakni point ke 6 dan 14 seperti
berikut yang menjelaskan bidan harus memiliki keterampilan dasar
mengenai :
a.

Memulai mendukung pemberian ASI eksklusif

b.

Memberikan antibiotika yang sesuai (Hukor Depkes RI).

BAB III
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS PADA NY.E USIA 30 TAHUN P2A0


1 MINGGU POST PARTUM DENGAN BENDUNGAN ASI
DI BPS USMALANAH SADAM Amd.Keb
BANDAR LAMPUNG
2015
I.

PENGKAJIAN
Tanggal

: 8 April 2015

Jam

: 15.00 WIB

Tempat

: BPS Usmalanah Sadam Amd. Keb

NamaMahasiswa

: Evariyanti Damanik

Nim

: 201207146

A. Data subjektif
1. Identitas pasien
Istri

Suami

Nama

: Ny. E

Nama

: Tn. Y

Umur

: 30 tahun

Umur

: 35 Tahun

Agama

: Islam

Agama

: Islam

Suku/ bangsa

: Lampung

Suku/ bangsa : Lampung

Pendidikan

: S1

Pendidikan

: S1

Pekerjaan

: PNS

Pekerjaan

: Wiraswasta

Alama

: Jln. Bataranila

Alamat

: Jln. Bataranila

Gg Cempaka 288

Gg Cempaka 288

2. Alasan Datang
Ibu mengatakan ingin memeriksakan kesehatannya.
3. Keluhan utama
Ibu mengatakan payudara bagian kanan terasa penuh, panas, berat dan
keras serta nyeri

84

85

4. Riwayat Obstetri
a. Riwayathaid
Menarche

: 12 Tahun

Siklus

: 28 Hari

Teratur/ tidak

: Teratur

Lama

: 7 hari

Volume

: 3 kali/ hari ganti pembalut

Warna

: Merah segar

Dismenore

: Ada

Bau

: Khas

Flour albus

: Ada sebelum menstruasi

b. Riwayat kehamilan sekarang


HPHT

: 01 Juli 2014

TP

: 08 April 2015

Tanggal bersalin

: 01 April 2015

Frekuensi ANC

: 11 kali kunjungan

5. Riwayat kesehatan
a. Sekarang
Hipertensi

: Tidak ada

DM

: Tidak ada

Jantung

: Tidak ada

Asma

: Tidak ada

Ginjal

: Tidak ada

Hepatitis

: Tidak ada

TBC

: Tidak ada

b. Yang lalu
Hipertensi

: Tidak ada

DM

: Tidak ada

Jantung

: Tidak ada

Asma

: Tidak ada

86

Ginjal

: Tidak ada

Hepatitis

: Tidak ada

TBC

: Tidak ada

c. Keluarga
Hipertensi

: Tidak ada

DM

: Tidak ada

Jantung

: Tidak ada

Asma

: Tidak ada

Ginjal

: Tidak ada

Hepatitis

: Tidak ada

TBC

: Tidak ada

6. Riwayat KB
N

Jenis

kontrasep

Mulai memakai

Berhenti/ganticara

Tgl

Oleh

Tempat

Keluhan

Tgl

Oleh

Tempat

Alasan

Kb suntik

Tahun

bidan

Bps

Panas

Tahun

bidan

Bps

Panas

3 bulan

2012

dingin

2013

si
1

dingin

7. Pola kebutuhan sehari- hari


a. Nutrisi
Selama Hamil

: Ibu makan 3x/ hari, porsi cukup, dengan menu


nasi, lauk (ikan, tahu, tempe, telur), sayur
(bayam, kangkung, daun singkong), minum
susu 2x/ hari, dan minum air putih 8 gelas/
hari

Selama Nifas

: Ibu makan 3x/ hari, porsi cukup, dengan menu


nasi, lauk (tahu, telur, tempe), sayur (bayam,
kangkung, katuk), minum air putih 8 gelas/
hari.

b. Pola Eliminasi

87

Selama Hamil

: BAB 1x/ hari, BAK 6- 7 x/ hari, warna


Kuning jernih, bau khas.

Selama Nifas

: BAB : BAB 1x/ hari, konsistensi lunak.


BAK 4-5 x/ hari,
warna kuning jernih, bau khas.

c. Pola Istirahat
Selama Hamil

: Ibu tidur siang 1 jam/ hari, tidur


malam 8 jam/ hari, nyenyak, tidak ada
keluhan

Selama nifas

: Tidur siang 1-2 jam dan tidur malam 78 jam.

d. Personal hygiene
Selama hamil
Mandi

: 2x/ hari

Keramas

: 1x/ hari

Ganti Celana dalam

: Jika terasa lembab

Selama nifas
Mandi

: 2x/ hari

Keramas

: 1x/ hari

Ganti pembalut

: 3- 4x/ hari

e. Pola Seksual
Selama hamil

: Ibu melakukannya 2 kali/minggu.

Selama nifas

: Ibu belum melakukannya.

8. Riwayat Psikososial
Status perkawinan

: Syah, 1 kali

Status emosional

: Stabil

9. Riwayat spiritual
a. Selama hamil
b. Selama nifas

: Shalat 5x/ hari


: Ibu belum melakukan ibadah

88

B. Data Objektif
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum

: Baik

Kesadaran

: Compos Mentis

Keadaan emosional

: Stabil

TTV

:
TD

: 120/ 70 mmHg

Pernafasan

: 22 kali/ menit

Nadi

: 80 kali/ menit

Suhu

: 36.80C

2. Pemeriksaan fisik
a. Kepala:
Rambut

: Tidak rontok

Ketombe

: Tidak Ada, bersih

Benjolan

: Tidak Ada

b. Wajah
Cloasma

: Tidak Ada

Edema

: Tidak Ada

c. Mata
Simetris

: Kanan dan kiri

Kelopak mata

: Tidak cekung

Konjungtiva

: Merah muda, tidak anemis

Sklera

: Putih

d. Hidung
Simetris

: Kanan dan kiri

Polip

: Tidak ada pembengkakan

Kebersihan

: Bersih

e. Mulut
Warna bibir

: Merah muda

Pecah- pecah

: Tidak Ada

89

Sariawan

: Tidak Ada

Gusi berdarah

: Tidak Ada

Gigi

: Tidak ada caries

f. Telinga
Simetris

: Kanan dan kiri

Gangguan pendengaran

: Tidak ada

g. Leher
Simetris

: Kanan dan kiri

Pembesaran kelenjar tiroid

: Tidak Ada

Pembesaran vena juguralis

: Tidak Ada

h. Ketiak
Pembesaran kelenjar limfe

: Tidak Ada

i. Dada
Retraksi

: Tidak Ada

Bunyi mengi dan ronchi

: Tidak Ada

j. Payudara
Simetris

: Tidak simetris kanan kiri

Pembesaran

: Ada, pada bagian kanan

Putting susu

: Menonjol

Hiperpigmentasi areola mamae : Ada


Benjolan

: Tidak Ada

Konsisitensi

: Keras dan teraba panas pada


bagian kanan

Pengeluaran

: Ada, ASI

k. Punggung dan pinggang


Simetris

: Kanan dan kiri

Nyeri ketuk

: Tidak Ada

l. Abdomen
Pembesaran

: Tidak Ada

Konsistensi

: Keras

90

Kandung kemih

: Kosong

Uterus

TFU

: Pertengahan pusat dan simpisis

Kandung kemih

: Kosong

Kontraksi

: Baik

m.

n.

Anogenital
Vulva

: Tidak Ada hematoma

Perineum

: Tidak terdapat laserasi

Pengeluaran vaginam

: Lochea sanguilenta

Anus

: Tidak Ada hemoroid

Ekstermitas bawah
Oedema

: Tidak Ada

Kemerahan

: Tidak Ada

Varices

: Tidak Ada

Reflek patella

: (+) Kanan dan kiri

3. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboraturium

: Tidak dilakukan

4. Data Penunjang
a. Riwayat persalinan sekarang
1. IBU
Tempat melahirkan

: BPS Usmalanah Sadam Amd.Keb

Penolong

: Bidan

Jenis persalinan

: Spontan

Lama persalinan

: 8 jam

Catatanwaktu
Kala I

: 5 jam 30 menit

Kala II

: 0 jam 20 menit

Kala III

: 0 jam 10 menit

Kala IV

: 2 jam

Lama

: 8 jam

Ketuban pecah

: Spontan

91

Plasenta
Lahir secara

: Normal

Diameter

: 18 cm

Berat

: 500 gram

Panjang tali pusat

: 49 cm

Perineum

: Tidak ada laserasi

2. Bayi
Lahir tanggal/ pukul : 01 April 2015/ 22.30 WIB
Berat badan

: 3300 gram

Panjang badan

: 50 cm

Nilai apgar

:8/9

Jenis kelamin

: Perempuan

Cacat bawaan

: Tidak Ada

Masa gestasi

: 39 minggu 1 hari

92
TABEL 3.1
MATRIKS
Tgl/

Pengkajian

Jam

08-042015/

Ds :

Interpretasi Data
(diagnosa , masalah
dan kebutuhan)

Dx potensial
/Masalah
potensial

Antisipasi/

Dx :

Payudara
bengkak.

-Perawatan

Intervensi

Implementasi

Evaluasi

1. Beritahu kondisi
ibu saat ini

1. Memberitahu kondisi ibu


saat ini berdasarkan hasil
pemeriksaan ibu mengalami
bendungan asi.

1. Ibu mengetahui
tentang kondisinya saat
ini.

Tindakan
segera

payudara
15:00
WIB

1. Ibu mengatakan
payudara bagian
kanan terasa
penuh , panas,
berat , dan keras
serta nyeri.

DO :
Keadaan umum
: baik.
Kesadaran :
compos mentis.

Ny. E 30 tahun P2A0


1 minggu post
partum dengan
bendungan asi.
Ds :
1. Ibu mengatakan
payudara bagian
kanan terasa
penuh , panas,
berat , dan keras
serta nyeri.

2. Cari penyebab
terjadinya bendungan
ASI pada ibu.

Do :
TTV, TD :
120/80 mmHg.
S: 36,8OC,
N:80x/i,
RR:22X/i,

Keadaan umum :
baik.
Kesadaran :
compos mentis.
TTV, TD :

3. Lakukan dan
ajarkan tentang
perawatan payudara.

2. Mencari penyebab
terjadinya bendungan ASI
pada ibu yaitu karena
pengosongan payudara yang
tidak sempurna, faktor
hisapan bayi tidak aktif
faktor menyusui yang tidak
benar.

3. Melakukan penanganan
bendungan asi dengan
melakukan perawatan
payudara dan mengajari ibu
cara melakukan perawatan
payudara .
Alat yang disiapkan yaitu :

2. Ibu mengetahui
penyebab bendungan
ASI

3. Ibu telah dilakukan


perawatan payudara dan
ibu mengerti cara
melakukan perawatan

93
Payudara bagian
kanan teraba
keras , terdapat
nyeri tekan dan
teraba panas.

Pengeluaran
pervaginam
lochea
sanguilenta.

120/80 mmHg.
S: 36,8OC,
N:80x/i,
RR:22X/i,
Payudara bagian
kanan teraba keras ,
terdapat nyeri tekan
dan teraba panas.

Pengeluaran
pervaginam lochea
sanguilenta.
TFU
pertengahan
pusat- simpisis.

TFU pertengahan
pusat- simpisis

Masalah: Nyeri
payudara bagian
kanan

Kebutuhan :
perawatan payudara.

a. Kapas
b. Dua waskom berisi air
hangat dan dingin
c. Baby oil
d. Baju ganti satu set
e. Washlap dua buah
f. Handuk besar dua
buah
g. Bengkok satu buah
Langkahnya yaitu :
a. Cuci tangan
b. Persilahkan ibu untuk
duduk dengan tenang
c. Masase payudara dan
ASI diperas dengan
tangan sebelum
meyusui
d. Kompres payudara
dengan air hangat dan
dingin secara
bergantian (hangat 2
menit, dingin 1menit)
e. Keringkan payudara
dengan handuk
f. Bantu ibu
menggunakan pakaian

4 .Melakukan teknik
pengeluaran ASI dengan
cara pengeluaran asi dengan
reflex oksitosin dan
pengeluaran asi dengan
tangan yaitu :
a. Pengeluaran asi dengan
reflex oksitosin yaitu:

payudara

94
1. Pakaian bagian atas
ibu dibuka
2. Ibu membungkuk ke
depan, serta duduk dan
bersandar pada meja
dengan lengan terlipat
dan kepala diletakkan di
atas tangannya. Payudara
dibiarkan mengantung
dan terlepas dari kain
penutupnya.
3. beri tekanan memutar
dengan ibu jari mengarah
kebagian bawah
sepanjang tulang
belakang yang dimulai
4. Lakukan tehnik
pengeluaran asi.

dari leher dan punggung,


kemudian kearah bawah
selama 3 menit.

5. Mengajarkan kepada ibu


tehnik menyusui yang benar
yaitu dengan cara:
- Ibu duduk dengan posisi
nyaman dan rileks, dan

4.Ibu telah melakukan


tehnik pengeluaran asi.

95
kaki tidak menggantung,
kemudian keluarkan ASI
sedikit dan oleskan pada
areola dan puting

- Bayi dipegang dengan satu


lengan, kepala bayi terletak
pada lengkung siku ibu dan
bokong bayi terletak pada
lengan. Kepala bayi tidak
boleh tertengadah dan
bokong bayi ditahan
dengan telapak tangan ibu.
- Bayi menempel pada ibu,
kepala bayi menghadap
payudara (tidak hanya
membelokkan kepala bayi.
Telinga dan lengan bayi
terletak pada satu garis
lurus

- Payudara dipegang dengan


ibu jari diatas dan jari yang
lain menopang dibawah,

96
jangan menekan putting
susu dan areolanya saja.
5 . Ajarkan pada ibu
teknik menyusui yang
benar

-Bayi diberi rangsangan


untuk membuka mulut
(rooting reflek) dengan
cara menyentuh pipi bayi
dengan putting susu atau
menyentuh sisi mulut bayi.

- Usahakan sebagian besar


areola dapat masuk
kedalam mulut bayi,
sehingga putting susu
berada dibawah langitlangit dan lidah bayi akan
menekan ASI keluar dari
tempat penampungan ASI
yang terletak dibawah
areola

- Kemudian susui bayi


sampai ibu merasa
payudara ibu sudah
kosong, kemudian
pindahkan kepayudara
yang sebelah.

- Kemudian jika sudah

5. Ibu mengetahui
tentang tehnik menyusui
yang benar dan bisa
mempraktekannya.

97
selesai menyusui keluarkan
ASI sedikit dan oleskan
pada areola dan putting ibu
dan diamkan jangan
dikering kan

- Sendawakan bayi dengan


cara disandarkan di pundak
ibu kemudian tepuk secara
lembut pada punggung
bayi.

6. Menganjurkan kepada ibu


untuk menyusui bayinya
sesering mungkin setiap 2-3
jam secara bergantian antara
payudara kanan dan kiri.
Dan bila bayi tertidur
anjurkan kepada ibu untuk
membangunkan
bayinyaselama siklus
tidurnya untuk mecegah
terjadinyabendungan ASI
pada ibu.

7. Memastikan involusi
uterus berjalan normal
dengan meraba uterus serta
melihat pengeluaran lokea.

98

8. Memberitahu ibu tentang


kebutuhan nutrisi yaitu
makan dengan diet
seimbang yaitu sumber
protein (telur, ikan,tahu)
untuk penyembuhan luka
saat nifas, karbohidrat (nasi,
jagung, roti) untuk tenaga
ibu , mineral untuk
melindungi tubuh dari
serangan penyakit dan
mengatur kelancaran
metabolisme didalam
tubuh.

9. Menganjurkan ibu untuk


cukup istirahat pada malam
hari 7-8 jam /hari dan 1-2
jam pada siang hari karena
bila ibu kurang istirahat
akan mempengaruhi ibu
dalam beberapa hal antara
lain mengurangi jumlah asi
yang diproduksi dan
memperlambat proses
involusi uteri.

99

10. Memberitahu ibu cara


perawatan bayi, yaitu:
a. Memberikan ASI
b. Kebersihan kulit
seperti memandikan
bayi
c. Istirahat bayi 16 jam.
d. Perawatan tali pusat
yaitu tidak
memberikan apapun
selain kassa steril.
e. Menjaga kehangatan
bayi

6. Anjurkan ibu untuk


menyusui bayinya
sesering mungkin
untuk mencegah
terjadinya bendungan
Asi.

11. Menilai dan


memberitahu ibu tandatanda bahaya masa nifas
seperti
-demam tinggi hingga
melebihi 38OC.
-Perdarahan vagina yang
luar biasa atau tiba-tiba
bertambah lebih banyak dari
perdarahan haid biasa atau
bila memerlukan

6. Ibu bersedia untuk


menyusui bayinya
sesering mungkin

100
penggantian pembalut 2 kali
dalam setengah jam
-Nyeri perut hebat di bagian
abdomen .

7. Pastikan involusi
uterus ibu berjalan
lancar

-Sakit kepala dan


pandangan kabur.
-Rasa sakit , merah atau
bengkak dibagian betis atau
kaki.
-Puting payudara berdarah

8. Beritahu ibu
tentang kebutuhan
nutrisi.

12. Memberitahu ibu jadwal


kunjungan kembali yaitu 1
minggu yang akan datang
atau jika ibu ada keluhan.

7. Involusi uterus
berjalan normal. Tfu
pertengahan pusat dan
simpisis, konsistensi
keras, pengeluaran lokea
sanguilenta.

8. Ibu bersedia untuk


memenuhi kebutuhan
nutrisinya.

101

9. Beritahu ibu
kebutuhan istirahat
yang cukup

9. Ibu mengetahui akan


kebutuhan istirahat yang
cukup

10. Ibu mengetahui cara


perawatan bayinya
10. Beritahu ibu cara
perawatan bayi

102

11. Nilai dan beritahu


tanda bahaya masa
nifas

11. Ibu mengetahui


tentang tanda-tanda
bahaya masa nifas.

103

12. Ibu sudah


mengetahui jadwal
kunjungan kembali

12. Beritahu ibu


jadwal kunjung
kembali

12-042015/

Ds:

Dx:

1. Ibu mengatakan

Ny. E 30 tahun P2A0


11 hari post partum
dengan bendungan

15:00
Masih merasakan
nyeri pada payudara

Payudara
bengkak

1. Perawatan
payudara.

1. Beritahu tentang
kondisi ibu saat ini.

1. Memberitahu kondisi ibu


saat ini dengan hasil
pemeriksaan payudara
masih mengalami
bendungan asi karena
pengosongan payudara

1.Ibu mengerti tentang


kondisinya saat ini.

104
WIB

bagian kanan dan


ASI keluar sedikit.

ASI

yang tidak sempurna ,


faktor hisapan bayi tidak
aktif faktor menyusui
yang tidak benar.

Ds:
DO:
2. Mengkaji tentang
perawatan payudara
kepada ibu yaitu alat
yang disiapkan yaitu :
-Kapas

1. Ibu mengatakan
Keadaan umum:
Baik
Kesadaran:

Masih merasakan
nyeri pada payudara
bagian kanan dan
ASI keluar sedikit.

-Dua waskom berisi air


hangat dan dingin

Compos mentis
TTV:
DO:
TD:120/70 mmhg,
T:36,6OC, N:80x/i,
RR:22X/i,
Payudara bagian
kanan teraba sedikit
nyeri dan keras

Keadaan umum:
Baik
Kesadaran:

-Baby oil
2.Kaji ulang kembali
tentang perawatan
payudara.

-Baju ganti satu set


-Washlap dua buah

Compos mentis

-Handuk besar dua


buah

TTV:

-Bengkok satu buah

Pengeluaran
pervaginam Lochea
serosa

TD:120/70 mmhg,
T:36,6OC, N:80x/i,
RR:22X/i,

TFU : tidak teraba


diatas simpisis

Payudara bagian
kanan teraba nyeri
dan keras

Pengeluaran

Langkahnya yaitu :
a. Cuci tangan
b. Persilahkan ibu untuk
duduk dengan tenang
c. Masase payudara dan
ASI diperas dengan
tangan sebelum
meyusui
d. Kompres payudara

2. Ibu telah mengerti


tentang perawatan
payudara dan telah
mempraktekannya
dirumah.

105
pervaginam Lochea
serosa
TFU : tidak teraba
diatas simpisis
Masalah:
Nyeri payudara
bagian kanan

Kebutuhan:
Perawatan payudara

dengan air hangat dan


dingin secara
bergantian (hangat 2
menit, dingin 1menit)
e. Keringkan payudara
dengan handuk
f. Bantu ibu
menggunakan pakaian

3. Mengkaji dan melakukan


kembali teknik pengeluaran
ASI dengan cara
pengeluaran asi dengan
reflex oksitosin dan
pengeluaran asi dengan
tangan yaitu :
1. Pakaian bagian atas ibu
dibuka
2. Ibu membungkuk ke
depan, serta duduk dan
bersandar pada meja dengan
lengan terlipat dan kepala
diletakkan di atas
tangannya. Payudara
dibiarkan mengantung dan
terlepas dari kain
penutupnya.
3. beri tekanan memutar
dengan ibu jari mengarah

106
kebagian bawah sepanjang
3. Kaji dan lakukan
kembali teknik
pengeluaran ASI

tulang belakang yang


dimulai dari leher dan
punggung, kemudian kearah
bawah selama 3 menit.

4. Mengkaji kembali tehnik


menyusui ibu yang benar
yaitu dengan cara:
- Ibu duduk dengan posisi
nyaman dan rileks, dan
kaki tidak menggantung,
kemudian keluarkan ASI
sedikit dan oleskan pada
areola dan puting

- Bayi dipegang dengan satu


lengan, kepala bayi terletak
pada lengkung siku ibu dan
bokong bayi terletak pada

3. Ibu telah dilakukan


teknik pengeluaran ASI
dan telah
mempratekannya.

107
lengan. Kepala bayi tidak
boleh
bokong

tertengadah
bayi

dan

ditahan

dengan telapak tangan ibu.


- Bayi menempel pada ibu,
kepala bayi menghadap
payudara (tidak hanya
membelokkan kepala bayi.
Telinga dan lengan bayi
terletak pada satu garis
lurus
4. Kaji ulang teknik
menyusui ibu yang
benar

- Payudara dipegang dengan


ibu jari diatas dan jari yang
lain menopang dibawah,
jangan menekan putting
susu dan areolanya saja.
- Bayi diberi rangsangan
untuk membuka mulut
(rooting reflek) dengan cara
menyentuh pipi bayi dengan
putting susu atau menyentuh
sisi mulut bayi.

- Usahakan sebagian besar


areola dapat masuk

4. Ibu mengerti tentang


tehnik menyusui yang
benar dan telah
mempraktekannya

108
kedalam mulut bayi,
sehingga putting susu
berada dibawah langitlangit dan lidah bayi akan
menekan ASI keluar dari
tempat penampungan ASI
yang terletak dibawah
areola

- Kemudian susui bayi


sampai ibu merasa
payudara ibu sudah
kosong, kemudian
pindahkan kepayudara
yang sebelah.

- Kemudian jika sudah


selesai menyusui keluarkan
ASI sedikit dan oleskan
pada areola dan putting ibu
dan diamkan jangan
dikering kan

- Sendawakan bayi dengan


cara disandarkan di pundak
ibu kemudian tepuk secara
lembut pada punggung
bayi.

109

5. memastikan ibu tetap


memberi ASI pada bayinya
sesering mungkin dan tanpa
jadwal secara bergantian
antara payudara kanan dan
kiri. Dan bila bayi tertidur
anjurkan kepada ibu untuk
membangunkan
bayinyaselama siklus
tidurnya untuk mecegah
terjadinyabendungan ASI
pada ibu.

6. Memastikan kembali
involusi uterus berjalan
normal dengan meraba
uterus serta melihat
pengeluaran lokea.

7. Menanyakan kepada ibu


tentang kebutuhan nutrisi

110
8. Mengkaji ulang ibu
apakah ibu sudah cukup
istirahat

9. Mengkaji ulang kembali


ibu cara perawatan bayi,
yaitu;
a. Memberikan ASI
b. Kebersihan kulit seperti
memandikan bayi
c. Istirahat bayi 16 jam
d. Perawatan tali pusat yaitu
tidak memberikan apapun
selain kassa steril.
e. Menjaga kehangatan bayi

111
10. Mengkaji kembali pada
ibu tentang tanda-tanda
bahaya masa nifas.
5. Pastikan ibu
menyusui ASI pada
bayinya sesering
mungkin dan tanpa
jadwal.

6. Pastikan kembali
involusi uterus ibu
berjalan lancar

11. Memberitahu ibu jadwal


kunjungan ulang yaitu 1
minggu kemudian atau jika
masih ada keluhan

5. Ibu mengatakan tetap


memberikan ASI Pada
bayinya sesering
mungkin dan tanpa
jadwal setiap 2 jam
sekali

6. Involusi uterus
berjalan normal. Tfu 3
jari diatas simpisis,
konsistensi keras,
pengeluaran lokea
serosa.

7. Ibu telah
mengkonsumsi makanan
yang mengandung

112
nutrisi.

7. Tanyakan tentang
kebutuhan nutrisi.

8. Kaji ulang tentang


kebutuhan istirahat
yang cukup

9. Kaji ulang cara


perawatan bayi.

8. Ibu mengatakan
selama dia mempunyai
bayi ibu tidur jarang
karna terbangun jika bayi
nya ingin menyusui
setiap 2- 3 jam sekali dan
ibu istirahat pada siang
hari 2- 3 jam

9. Ibu mengerti cara


perawatan bayi.

113

10. Ibu sudah mengerti


tentang tanda-tanda masa
nifas.

11. Ibu sudah


mengetahui jadwal
kunjung ulang
10. Kaji ulang
kembali pada ibu
tentang tanda bahaya
masa nifas

11. Beritahu ibu


jadwal kunjungan
ulang

15- 042015/
15:00
wib

Ds:

Dx:

1. Ibu mengatakan
nyeri
payudaranya
sudah berkurang
dan ASI sudah
lancar.

Ny. E 30 tahun P2A0


2 minggu post
partum

Tidak ada

Tidak ada

1. Beritahu tentang
kondisi ibu saat ini

1. Memberitahu kondisi ibu


saat ini dengan hasil
pemeriksaan
Payudara sudah tidak
mengalami bendungan ASI

1.Ibu mengerti dengan


kondisinya.

114
Ds:
DO:
Keadaan
umum:Baik
Kesadaran:

1. Ibu mengatakan
nyeri
payudaranya
sudah berkurang
dan ASI sudah
lancar.

2.Mengevaluasi tentang
perawatan payudara.
2. Lakukan evaluasi
kepada ibu tentang
perawatan payudara

Compos mentis
DO:
TTV:
Keadaan umum:Baik
TD:120/70 mmhg,
T:36,6OC, N:80x/i,
RR:22X/i,

3. Lakukan evaluasi
tentang tehnik
pengeluaran asi.

2.Ibu telah melakukan


perawatan payudara yang
baik dan benar.
3. Mengevaluasi tentang
tehnik pengeluaran asi.

Kesadaran:
Compos mentis

3. Ibu mengatakan
mengatakan mengerti
penjelasan yang telah di
berikan dan mampu
mempraktikanya sesuai
yang telah diajarkan

TTV:
Payudara teraba
lembek
setelah ibu
menyusui bayinya

Pengeluaran
pervaginam Lochea
serosa

TFU : Tak teraba


diatas simpisis

TD:120/70 mmhg,
T:36,6OC, N:80x/i,
RR:22X/i,
Payudara teraba
lembek setelah ibu
menyusui bayinya

4. lakukan evaluasi
tentang tehnik
menyusui yang benar

5. Pastikan ibu
Pengeluaran
pervaginam Lochea
serosa

menyusui ASI pada

4.Mengevaluasi tentang
tehnik menyusui yang
benar.

5. memastikan ibu tetap


memberi ASI pada bayinya
sesering mungkin dan tanpa
jadwal

4. Ibu telah melakukan


teknik menyusui dengan
benar.

5. Ibu mengatakan tetap


memberikan ASI Pada
bayinya sesering
mungkin dan tanpa
jadwal setiap 2 jam
sekali

bayinya sesering
mungkin dan tanpa
jadwal.

6. Involusi uterus
berjalan normal. Tfu

115
TFU : Tak teraba
diatas simpisis

Masalah:

6. Pastikan involusi
uterus ibu berjalan
lancar

6. Memastikan involusi
uterus berjalan normal
dengan meraba uterus serta
melihat pengeluaran lokea.

Tidak ada

Kebutuhan:
Tidak ada

7. Lakukan evaluasi
ibu untuk tetap
mengkonsumsi
makanan yang
bernutrisi

7. Mengevaluasi ibu untuk


tetap mengonsumsi
makanan yang bernutrisi

tidak teraba diatas


simpisis, konsistensi
keras, pengeluaran lokea
serosa.

7. Ibu mengerti akan


mengkonsumsi makanan
bernutrisi yaitu makan
dengan diet berimbang
terutama protein untuk
mempercepat
penyembuhan luka
jahutan, sumber protein
(telur, ikan ,tahu),
karbohidrat (nasi,
jagung, roti), mineral dan
vitamin
Karena makanan dapat
memenuhi produksi asi
dan memperbaiki kondisi
ibu.

8. Ibu mengerti akan


kebutuhan istirahat yang
cukup minimal 8 jam/
hari agar produksi ASI
lancar

9. Ibu mengerti cara

116
perawatan bayinya

8. Mengevaluasi ibu untuk


cukup istirahat
10. Ibu sudah mengerti
tentang tanda-tanda masa
nifas dab tidak ada tanda
bahaya masa nifas pada
ibu

8. Evaluasi ibu
tentang kebutuhan
istirahat yang cukup

9. Mengevaluasi ibu cara


perawatan bayi, yaitu:
9. Evaluasi ibu
tentang cara
perawatan bayi
sehari- hari

a. Memberikan ASI
b. Kebersihan kulit seperti
memandikan bayi
c. Istirahat bayi 16 jam
d. Perawatan tali pusat yaitu
tidak memberikan apapun
selain kassa steril.
e. Menjaga kehangatan bayi
10. Mengkaji dan

11. Ibu mengerti dan


akan melakukan
kunjungan ulang atau
bila ada keluhan

117

10. Kaji ulang dan


evaluasi tanda bahaya
masa nifas.

11. Anjurkan ibu


untuk kunjungan
ulang

mengevaluasi kembali pada


ibu tentang tanda-tanda
bahaya masa nifas.

11. Menganjurkan ibu untuk


melakukan kunjungan ulang
2 minggu yang akan datang,
sesuai jadwal yang telah
ditentukan atau terdapat
keluhan dan memastikan
involusi uterus berjalan
normal, menilai tanda
tanda demam, infeksi atau
perdarahan abnormal,
memastikan ibu mendapat
cukup makanan, cairan, dan
istirahat, memastikan ibu
menyusui dengan baik dan
memberikan konseling
mengenai asuhan pada bayi.

106

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Pengumpulan data dasar


I. Pengkajian
Pada pengkajian yang dilakukan untuk mengumpulkan data dasar
tentang keadaan pasien pada Ny. E usia 30 tahun P2A0 1 minggu
postpartum dengan Bendungan ASI di BPS Usmalanah Sadam
Amd.Keb Bandar Lampung dan didapatkan hasil yaitu sebagai berikut
Data subjektif
1) Nama
a. Tinjauan teori
Nama jelas dan lengkap, bila perlu nama panggilan sehari-hari
agar tidak keliru dalam memberikan penanganan (Ambarwati
dan Wulandari, 2008, h. 131)
b. Tinjauan kasus
Dalam kasus ini ibu bernama Ny E
c. Pembahasan
Dalam kasus ini tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus
karena Ny E memiliki nama jelas yang dapat membedakan
dengan klien yang lain sehingga terhindar dari kekeliruan dalam
memberikan penanganan.

106

107

2) Umur
a. Tinjauan teori
Dicatat dalam tahun untuk mengetahui adanya resiko seperti
kurang dari 20 tahun, alat-alat reproduksi belum matang, mental
psikisnya belum siap, sedangkan umur lebih dari 35 tahun
rentan sekali untuk terjadi perdarahan masa nifas (Ambarwati
dan Wulandari, 2008, hal :131).
b. Tinjauan kasus
Dalam kasus ini Ny E berusia 30 tahun.
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus ini tidak terjadi
kesenjangan pada usia ibu. Karena usia 30 tahun sudah dianggap
matang baik organ reproduksi ibu maupun dari psikis ibu.
3) Suku
a. Tinjauan teori
Berpengaruh pada adat istiadat atau kebiasaan sehari-hari
(Ambarwati dan Wulandari, 2008, hal :132).
b. Tinjauan kasus
Ibu bersuku Lampung dan selama ini ibu tidak memiliki
kebiasaan- kebiasaan yang berpengaruh masa nifas terutama
yang berpengaruh pada proses menyusui.

108

c. Pembahasan
Dalam hal ini tidak terdapat kesenjangan karena ibu tidak
memiliki kebiasaan adat istiadat yang berpengaruh terhadap
masa nifas terutama yang berpengaruh pada proses menyusui.
4) Pendidikan
a. Tinjauan teori
Berpengaruh dalam tindakan kebidanan dan untuk mengetahui
sejauh mana tingkat intelektualnya, sehingga bidan dapat
memberikan

konseling

sesuai

dengan

pendidikannya

(Ambarwati dan Wulandari, 2008, hal :132).


b. Tinjauan khusus
Dalam kasus ini Ny E berpendidikan terakhir S1
c. Pembahasan
Dalam hal ini tidak terdapat kesenjangan karena Ny E memiliki
pendidikan S1 dimana asuhan yang akan dilakukan oleh petugas
dapat diterima dengan baik oleh Ny E.
5) Pekerjaan
a. Tinjauan teori
Gunanya untuk mengetahui dan mengukur tingkat social
ekonominya, karena ini juga mempengaruhi dalam gizi pasien
tersebut (Ambarwati dan Wulandari, 2008, hal :132).

109

b. Tinjauan kasus
Dalam kasus ini Ny E bekerja sebagai PNS dan suaminya
bekerja wiraswasta
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan karena Ny E dan suaminya dengan pekerjaan yang
tetap dapat memenuhi nutrisinya.
6) Alamat
a. Tinjauan teori
Ditanyakan untuk mempermudah kunjungan rumah bila
diperlukan (Ambarwati dan Wulandari, 2008, hal :132).
b. Tinjauan kasus
Alamat rumah Ny E adalah Jl. Bataranila Gg. Cempaka No. 288
Raja Basa.
c. Pembahasan
Tidak terdapat kesenjangan antara teori dan kasus karena Ny E
memiliki alamat rumah yang lengkap.
7) Keluhan
a. Tinjauan teori
Tanda dan gejala bendungan ASI antara lain dengan ditandainya
dengan mamae panas serta keras pada perabaan dan nyeri,
putting susu bisa mendatar sehingga bayi sulit menyusui,
pengeluaran susu kadang terhalang oleh duktus laktiferi yang

110

menyempit, payudara bengkak, keras, panas. Nyeri bila ditekan,


warnanya kemerahan (Rukiyah dkk, 2010; h. 346)
b. Tinjauan kasus
Dalam kasus ini Ny E mengatakan payudara bagian kanan terasa
penuh, panas, berat dan keras serta nyeri.
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan karena sesuai dengan teori gejala dari bendungan
ASI adalah payudara bengkak, teraba keras, panas, berat dan
nyeri saat di tekan.
8) Riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
1) Tinjauan teori
Data-data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan
adanya penyakit yang diderita pada saat ini yang ada
hubungannya dengan masa nifas dan bayinya (Ambarwati
dan Wulandari, 2008, hal :133).
2) Tinjauan kasus
Ibu mengatakan saat ini tidak sedang menderita penyakit
apapun
3) Pembahasan
Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan
kasus karena Ny E sedang tidak menderita penyakit apapun
b. Riwayat kesehatan yang lalu

111

1) Tinjauan teori
Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya
riwayat atau penyakit akut, kronis seperti : jantung, DM,
hipertensi, asma, yang dapat mempengaruhi pada masa nifas
ini (Ambarwati dan Wulandari, 2008, hal :133).
2) Tinjauan kasus
Ibu mengatakan sebelumnya tidak pernah mengalami
riwayat penyakit akut, kronis seperti: jantung, DM,
hipertensi, dan asma.
3) Pembahasan
Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan
kasus karena Ny E memang sebelumnya tidak ada riwayat
penyakit menular dan menurun.
c. Riwayat kesehatan keluarga
1) Tinjauan teori
Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya
pengaruh penyakit keluarga terhadap gangguan kesehatan
pasien dan bayinya, yaitu apabila ada penyakit keluarga
yang menyertainya (Ambarwati dan Wulandari, 2008, h:
133).

2) Tinjauan kasus

112

Ibu mengatakan keluarganya tidak ada yang sedang/ pernah


menderita penyakit
3) Pembahasan
Tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus karena
didalam keluarga Ny E tidak ada yang sedang/ pernah
menderita penyakit sehingga tidak ada pengaruh terhadap
kesehatan Ny E dan bayinya.
9) Riwayat obstetric
a. Tinjauan teori
Tanggal persalinan, jenis persalinan, jenis kelamin anak,
keadaan bayi meliputi PB, BB, penolong persalinan. Hal ini
perlu dikaji untuk mengetahui apakah proses persalinan
mengalami kelainan atau tidak yang bisa berpengaruh pada
masa nifas saat ini (Ambarwati dan Wulandari, 2008, hal: 134).
b. Tinjauan kasus
Ny E melahirkan pada tanggal 01 april 2015, jenis persalinan
spontan menangis, jenis kelamin anak perempuan dengan berat
badan 3300 gram, panjang badan 50 cm.
c. Pembahasan
Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan
kasus karena Ny E melahirkan secara spontan pervaginam dan
bayi dalam keadaan sehat.
10) Riwayat KB

113

a. Tinjauan teori
Untuk mengetahui apakah pasien pernah ikut KB dengan
kontrasepsi jenis apa, berapa lama, adakah keluhan selama
menggunakan kontrasepsi serta rencana KB setelah masa nifas
ini dan beralih kekontrasepsi apa (Ambarwati dan Wulandari,
2008, hal :134).
b. Tinjauan kasus
Ibu mengatakan sebelumnya sudah pernah KB suntik 3 bulan
selama 1 tahun
c. Pembahasan
Dalam hal ini tidak terdapat kesenjangan antara teori dan kasus
dikarenakan Ny E sudah pernah memakai KB suntik 3 bulan
selama 1 tahun.
11) Pola kebutuhan sehari-hari
a. Nutrisi
1) Tinjauan teori
Ibu yang menyusui harus memenuhi akan kebutuhan gizi
sebagai berikut:
f)

Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari.

g) Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan


protein, mineral dan vitamin yang cukup.
h) Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari.

114

i)

Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi,


setidaknya 40 hari pasca persalinan.

j)

Minum kapsul vitamin A 200.000 unit agar dapat


membetikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI.

2) Tinjauan kasus
Ibu mengatakan selama masa nifas ini makan 3x/ hari
dengan menu nasi, lauk (tahu, telur, tempe), sayur (bayam,
kangkung, katuk), minum air putih 8 gelas setiap harinya
dan tidak ada pantangan dalam makanan.
3) Pembahasan
Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan
kasus karena Ny E telah makan dengan porsi yang cukup
dan

teratur

serta

mengkonsumsi

makanan

yang

mengandung karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral


yang berguna untuk proses produksi ASI, ASI itu sendiri
yang akan dikonsumsi bayi untuk pertumbuhan dan
perkembangannya, serta mengatur kelancaran metabolisme
didalam tubuh.
b. Pola eliminasi
1) Tinjauan teori
Ibu diharapkan dapat BAB sekitar 3- 4 hari post partum.
Apabila mengalami kesulitan BAB, lakukan diet teratur,
cukup cairan, konsumsi makanan berserat, olahraga, berikan

115

obat rangsanagan per oral atau per rectal atau klisma


bilamana perlu (Yanti, 2011; h. 83).
2) Tinjauan kasus
Ibu mengatakan sudah buang air kecil 4- 5 kali/hari dengan
bau khas warna kuning jernih dan sudah buang air besar 1
kali/ hari konsistensi lunak.
3) Pembahasan
Dalam kasus ini Ny. E P2A0 1 minggu post partum tidak di
temukan kesenjangan antara teori dan kasus karena Ny. E
tidak memiliki keluhan dalam pola eliminasinya hal ini
dikarenakan Ny E sudah dapat beradaptasi dengan masa
nifasnya.
c. Pola istirahat
1) Tinjauan teori
Menggambarkan pola istirahat dan tidur pasien, berapa jam
pasien tidur. Istirahat sangat penting bagi ibu nifas karena
dengan

istirahat

yang

cukup

dapat

mempecepat

penyembuhan (Ambarwati dan Wulandari, 2008, hal: 136).


2) Tinjauan kasus
Ibu mengatakan sudah tidur siang 1- 2 jam dan tidur malam
7- 8 jam sehari.

116

3) Pembahasan
Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan
kasus karena dalam kasus ini ibu telah tidur siang 1 jam
disaat anaknya tidur dan tidur malam 7- 8 jam bila bayinya
malam terbangun dijaga oleh suaminya.
d. Pola seksual
1) Tinjauan teori
Dinding vagina kembali pada keadaan sebelum hamil dalam
waktu 6- 8 minggu. Secara fisik aman untuk memulai
hubungan suami istri begitu darah merah berhenti, dan ibu
dapat memasukkan 1 atau 2 jari kedalam vagina tanpa rasa
nyeri. Begitu darah merah berhenti dan ibu tidak merasakan
ketidaknyamanan, maka aman untuk memulai melakukan
hubungan suami istri kapan saja ibu siap (Vivian, 2011, h:
77).
2) Tinjauan kasus
Ibu mengatakan saat ini belum melakukan hubungan
seksual.
3) Pembahasan
Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan
kasus karena Ny E 1 minggu postpartum belum melakukan
hubungan seksual.

117

Data Objektif
1. Tanda-tanda vital
a. Tinjauan teori
1) Tekanan darah
Tekanan darah normalnya adalah sistolik 90 120 dan
diastolnya 60 80 mmHg. Tekanan darah menjadi lebih
rendah pasca melahirkan dapat diakibatkan oleh perdarahan.
Sedangkan tekanan darah tinggi pada post partum merupakan
tanda pre eklampsia post partum. (Rukiyah, 2011; h. 69).
2) Nadi
Nadi berkisar antara 60-80x/menit. Denyut nadi diatas
100x/menit pada masa nifas adalah mengidentifikasikan
adanya suatu infeksi, hal ini salah satunya bisa diakibatkan
oleh proses persalinan sulit atau karena kehilangan darah
yang berlebihan (Ambarwati dan Wulandari, 2008; h.138).
3) Pernafasan
Normal frekuensi pernapasan pada orang dewasa adalah 16
24 kali permenit, pada ibu post partum umumnya pernapasan
lambat atau normal karna dalam keadaan pemulihan atau
dalam kondisi istirahat. Bila pernapasan pada masa post
partum lebih cepat kemungkinan adanya tanda tanda syok
(Rukiyah, 2011; h. 69).

118

4) Suhu
Dalam satu hari (24 jam) post partum, suhu badan akan naik
sedikit (37,50C- 380C) sebagai akibat kerja keras sewaktu
melahirkan, kehilangan cairan, dan kelelahan. Apabila
keadaan normal, suhu badan menjadi biasa. Biasanya, pada
hari ke-3 suhu badan naik lagi karena adanya pembentukan
Asi. Payudara menjadi bengkak dan berwarna merah karena
banyaknya Asi. Bila suhu tidak turun, kemingkinan adanya
infeksi pada endometrium (Ambarwati dan Wulandari, 2008;
h.138 ).
b. Tinjauan kasus
Berdasarkan tinjauan kasus, hasil pemeriksaan yang dilakukan
didapatkan hasil :
Tekanan darah

: 120/70 mmhg

nadi

: 80x/ menit

Suhu

: 36,8C

nafas : 22x/ menit

c. Pembahasan
Berdasarkan data diatas, tidak ditemukan kesenjangan antara teori
dan kasus. Tekanan darah ibu normal 120/70 mmhg, suhu ibu
normal 36,8C karena suhu ibu tidak mencapai >38C yang
mengarah ketanda-tanda infeksi, nafas dan nadi ibu juga dalam
batas normal.

119

2.

Pemeriksaan fisik
a. kepala
1) Tinjauan teori
Tujuan pengkajian kepala dilakukan untuk mengetahui
keadaan rambut, massa, pembengkakan, nyeri tekan, dan
kulit kepala (Tambunan, 2011, h: 67).
2) Tinjauan kasus
Berdasarkan

tinjauan

kasus,

hasil

pemeriksaan

yang

dilakukan didapatkan hasil rambut ibu tidak rontok, tidak ada


ketombe, dan tidak ada benjolan.
3) Pembahasan
Berdasarkan data diatas, tidak ditemukan kesenjangan antara
teori dan kasus karena hasil pemeriksaan kepala Ny E dalam
batas normal yaitu rambut ibu tidak rontok, tidak ada
ketombe, dan tidak ada benjolan.
b. Wajah
1) Tinjauan teori
Pada daerah muka/ wajah dilihat keadaan normalnya
kesimetrisan antara kanan dan kiri dan tidak ada edema
(Tambunan, 2011, h: 66).

120

2) Tinjauan kasus
Berdasarkan

tinjauan

kasus,

hasil

pemeriksaan

yang

dilakukan pada wajah ibu didapatkan hasil tidak ada cloasma


dan edema.
3) Pembahasan
Berdasarkan data diatas, tidak ditemukan kesenjangan antara
teori dan kasus karena hasil pemeriksaan wajah Ny E dalam
batas normal yaitu tidak terdapat cloasma serta edema.
c. Mata
1) Tinjauan teori
Tujuan pengkajian mata adalah untuk mengetahui bentuk dan
fungsi mata dilihat kelopak mata (edema/ tidak), konjungtiva
(pucat/tidak), sklera kuning/tidak dan apakah dalam keadaan
normal (Tambunan, 2011, h: 67).
2) Tinjauan kasus
Berdasarkan tinjauan kasus, hasil pemeriksaan yang dilakukan
didapatkan hasil mata simetris kanan dan kiri, kelopak mata
tidak cekung, konjungtiva merah muda, dan sklera putih.
3) Pembahasan
Berdasarkan data diatas, tidak ditemukan kesenjangan antara
teori dan kasus karena hasil pemeriksaan mata Ny E dalam
batas normal simetris kanan dan kiri, kelopak mata tidak
cekung, konjungtiva merah muda, dan sklera putih.

121

d. Hidung
1) Tinjauan teori
Hidung dikaji untuk mengetahui bentuk dan fungsi hidung
apakah dalam keadaan normal (simetris kanan dan kiri, tidak
ada pembesaran polip). Dimulai dari bagian luar hidung,
bagian dalam, lalu sinus-sinus (Tambunan, 2011, h: 79).
2) Tinjauan kasus
Berdasarkan

tinjauan

kasus,

hasil

pemeriksaan

yang

dilakukan didapatkan hasil hidung bersih, simetris kanan dan


kiri, tidak ada pembengkakan polip.
3) Pembahasaan
Berdasarkan data diatas, tidak ditemukan kesenjangan antara
teori dan kasus karena hasil pemeriksaan hidung Ny E dalam
keadaan bersih, simetris kanan dan kiri,

tidak ada

pembengkakan polip.
e. Mulut
1) Tinjauan teori
Pemeriksaan mulut dilakukan dengan pencahayaan yang baik
sehingga dapat melihat semua bagian dalam mulut. Tujuan
dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui bentuk dan
kelainan pada mulut yang dapat diketahui inspeksi yaitu
mengkaji bagian bibir, gigi, gusi, dan lidah (Tambunan, 2011,
h: 81).

122

2) Tinjauan kasus
Berdasarkan

tinjauan

kasus,

hasil

pemeriksaan

yang

dilakukan didapatkan hasil warna bibir merah muda, tidak


pecah- pecah, tidak ada gusi berdarah, dan tidak ada gigi
caries.
3) Pembahasaan
Berdasarkan data diatas, tidak ditemukan kesenjangan antara
teori dan kasus karena hasil pemeriksaan mulut Ny E dalam
batas normal yaitu warna bibir merah muda, tidak pecahpecah, tidak ada gusi berdarah, dan tidak ada gigi caries.
f) Telinga
1) Tinjauan teori
Telinga berfungsi sebagai alat pendengaran dan menjaga
keseimbangan.
mengetahui

Pengkajian

keadaan

telinga

telinga

luar

bertujuan
dan

Pemeriksaan pendengaran dilakukan untuk

untuk

pendengaran.
mengetahui

fungsi telinga (Tambunan, 2011, h: 73).


2) Tinjauan kasus
Berdasarkan

tinjauan

kasus,

hasil

pemeriksaan

yang

dilakukan didapatkan hasil telinga simetris kanan dan kiri dan


tidak ada gangguan pendengaran.

123

3) Pembahasan
Berdasarkan data diatas tidak ditemukan kesenjangan antara
tinjauan teori dan kasus. Karena keadaan telinga simetris
kanan dan kiri dan tidak ada gangguan pendengaran.
g) Leher
1) Tinjauan teori
Tujuan pengkajian leher adalah untuk mengetahui bentuk
leher, pemeriksaan palpasi ditujukan untuk melihat apakah
ada masa yang teraba pada kelenjar limfe dan kelenjar tiroid
(Tambunan, 2011, h: 83).
2) Tinjauan kasus
Berdasarkan

tinjauan

kasus,

hasil

pemeriksaan

yang

dilakukan didapatkan hasil leher simetris, tidak ada


pembengkakan kelenjar tiroid dan tidak ada pembengkakan
vena jugularis.
3) Pembahasan
Berdasarkan data diatas tidak ditemukan kesenjangan teori
dan

kasus

karena

leher

leher

simetris,

tidak

ada

pembengkakan kelenjar tiroid dan tidak ada pembengkakan


vena jugularis.

124

h) Payudara
1) Tinjauan teori
Menjelaskan pemeriksaan fisik keadaan buah dada dan
putting susu.
a. Simetris/ tidak
b. Konsistensi, ada pembengkakan/ tidak
c. Putting menonjol/ lecet/ tidak
d. Pengeluaran ada/ tidak (Ambarwati dan Wulandari, 2008,
hal :139).
Bendungan air susu dapat terjadi pada hari ke- 2 atau ke-3
ketika payudara telah memproduksi asi susu. Bendungan
disebabkan oleh pengeluaran air susu yang tidak lancar,
karena bayi tidak cukup untuk menyusui, produksi meningkat,
terlambat menyusukan, hubungan dengan bayi (bounding)
kurang baik, dan dapat pula karena adanya pembantasan
waktu menyusu. (Prawirohardjo, 2010; h. 652)
2) Tinjauan kasus
Pada hari ketujuh:
Payudara tidak simetris kanan dan kiri, ada pembesaran pada
bagian kanan payudara, putting susu menonjol, tidak ada
benjolan, konsistensi keras dan teraba panas pada bagian
kanan, pengeluaran ASI hanya sedikit.

125

3) Pembahasan
Dalam hal ini ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus
karena menurut tinjauan teori bendungan ASI terdapat pada
hari ke 2- 3 dan pada tinjauan kasus payudara tidak simetris
kanan dan kiri, ada pembesaran pada bagian kanan payudara,
konsistensi keras dan teraba panas pada bagian kanan,
pengeluaran ASI hanya sedikit sampai pada hari ke 7.
i) Abdomen
1) Tinjauan teori
Involusi uteri dari luar dapat diamati yaitu dengan memeriksa
fundus uteri dengan cara:
3. Segera setelah persalinan, tinggi fundus uteri 2 cm
dibawah pusat, 12 jam kemudian kembali 1 cm diatas
pusat dan menurun kira- kira 1 cm setiap hari.
4. Pada hari kedua setelah persalinan tinggi fundus uteri 1
cm dibawah pusat. Pada hari ketiga sampai hari keempat
tinggi fundus uteri 2 cm dibawah pusat. Pada hari kelima
sampai hari ketujuh tinggi fundus uteri pertengahan antara
pusat dan simpisis. Pada hari kesepuluh tinggi fundus uteri
tidak teraba (Ambarwati dan Wulandari dan Wulandari,
2008; h.77).

126

2) Tinjauan kasus
Tidak ada pembesaran, konsistensi keras pada fundus lunak
pada bagian lain, kandung kemih kosong, pertengahan pusat
dan simpisis dan kontraksinya baik.
3) Pembahasan
Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan
kasus. TFU ibu sesuai dengan teori involusi uterus yaitu
pertengahan pusat dan simpisis.
j) Anogenital
1) Tinjauan teori
Lochea mempunyai perubahan warna dan volume karena
adanya proses involusi. Lochea sanguilenta berwarna merah
kecokelatan dan berlendir, serta berlangsung, dari hari keempat
dan hari ketujuh post partum (Sulistyawati, 2009; h. 76).
2) Tinjauan kasus
Pengeluaran pervaginam lochea sanguilenta
3) Pembahasan
Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan
kasus karena ibu dalam 1 minggu postpartum dan lokhea ibu
lokhea sanguilenta berwarna merah kecokelatan dan berlendir.

127

j. Ekstremitas
1) Tinjauan teori
Untuk melihat gangguan, bentuk, oedem, verices pada
ekstremitas bagian atas dan bawah (Sulistyawati, 2009; h. 124)
2) Tinjauan medis
Pada ekstremitas tidak terdapat oedem, tidak ada varices dan
reflek patella positif kanan dan kiri.
3) Pembahasan
Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan
kasus karena bentuk ekstremitas ibu normal, tidak terdapat
oedem, tidak ada verices, reflek patela positif kanan dan kiri.
II.

Interpretasi Data Dasar


a.

Tinjauan teori
Diagnosa dapat ditegakkan yang berkaitan dengan Abortus,
anak hidup, umur ibu, dan keadaan nifas.
3. Data subjektif
Pernyataan ibu tentang jumlah persalinan, apakah pernah
abortus

atau tidak,

keterangan

ibu

tentang

umur,

keterangan ibu tentang keluhannya.


4. Data objektif
Palpasi tentang tinggi fundus uteri dan kontraksi, hasil
pemeriksaan

tentang

pengeluaran

pervaginam,

hasil

128

pemeriksaan tanda-tanda vital (Ambarwati dan Wulandari,


2008, h: 141).
b.

Tinjauan kasus
Diagnosa kebidanan pada kasus ini adalah Ny. E 30 tahun
P2A0 1 minggu post partum dengan bendungan asi. Data dasar
dari diagnosa kebidanan tersebut antara lain Ny. E umur 30
tahun, ibu melahirkan pada tanggal 01 april 2015, sudah
pernah melahirkan dua kali dan belum pernah keguguran.
Dan ibu mengatakan payudara bagian kanan terasa penuh,
berat, panas dan keras.
Sedangkan data objektif yang didapatkan dari Ny. E yaitu :
Pada pemeriksaan payudara.
Simetris

: Tidak simetris kanan dan kiri

Pembesaran

: Ada, sebelah kanan lebih besar

Puting susu

: Menonjol

Konsistensi

: Keras dan teraba panas pada bagian kanan

Pengeluaran

: Ada, ASI

c. Pembahasan
Pada kasus ini, tidak ada kesenjangan antara kasus dan teori
karena diagnosa yang ditegakkan pada Ny. E dilakukan
berdasarkan pengkajian dari data dasar berupa data Subjektif
dan Objektif.

129

III.

Identifikasi diagnosa atau masalah potensial


1) Tinjauan teori
Mengidentifikasi diagnose atau masalah potensial yang
mungkin akan terjadi. Pada langkah ini diidentifikasikan
masalah atau diagnose potensial berdasarkan rangkaian
masalah dan diagnose, hal ini membutuhkan antisipasi,
pencegahan. Bila memungkinkan menunggu mengamati dan
bersiap-siap

apabila

hal

tersebut

benar-benar

terjadi.

Melakukan asuhan yang aman penting sekali dalam hal ini.


(Ambarwati dan Wulandari dan Wulandari, 2008; h.14).
2) Tinjauan kasus
Dalam kasus ini Ny E mengalami bendungan ASI dan belum
mengerti tentang perawatan payudara dan tekhnik menyusui
yang benar. Bendungan ASI tidak segera ditangani maka akan
terjadi masalah menyusui payudara bengkak pada bagian
kanan.
3) Pembahasan
Dalam kasus ini ada data yang menunjang perlunya antisipasi
masalah potensial karena ibu kurang mengetahui tekhnik
menyusui yang benar sehingga menyebabkan perlunya
diagnose masalah potensial yang akan terjadi pada ibu.

130

IV.

Tindakan segera dan kolaborasi


1) Tinjauan teori
Langkah ini memerlukan kesinambungan dari menejemen
kebidanan. Identifikasi dan menetapkan perlunya tindakan
segera oleh bidan atau dokter dan atau untuk dikonsultasikan
atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan lain
sesuai dengan kondisi pasien (Ambarwati dan Wulandari dan
Wulandari, 2008; h.143)
2) Tinjauan kasus
Pada kasus Ny. E tindakan segera yang harus segera dilakukan
adalah perawatan payudara.
3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan kasus tidak ada kesenjangan
karena jika terjadi masalah potensial maka akan dilakukan
tindakan segera yaitu perawatan payudara.

V.

Perencanaan
1) Tinjauan teori
Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa
yang sudah dilihat dari kondisi pasien atau dari setiap masalah
yang berkaitan, tetapi juga berkaitan dengan kerangka pedoman
antisipasi bagi wanita tersebut yaitu apa yang terjadi berikutnya
(Ambarwati dan Wulandari dan Wulandari, 2008; h. 143).

131

Kunjungan 6 hari setelah persalinan


a. Memastikan involusi uterus berjalan dengan normal, uterus
berkontraksi,

fundus

dibawah

umbilicus,

tidak

ada

pendarahan normal, dan tidak ada bau


b. Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, dan pendarahan
abnormal
c. Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan, dan
istirahat
d. Memastikan

ibu

menyusui

dengan

baik

dan

tidak

memperlihatkan tanda-tanda penyulit


e. Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi
dan tali pusat, serta menjaga bayi tetap hangat dan merawat
bayi sehari-hari. (Sulistyawati, 2009; h. 6)
2) Tinjauan kasus
Rencana asuhan yang diberikan terhadap Ny E adalah
Pada tanggal 8 April 2015
a)

Beritahu kepada ibu tentang kondisinya

b)

Cari penyebab terjadinya bendungan ASI pada ibu.

c)

Lakukan dan ajarkan tentang perawatan payudara.

d) Lakukan tekhnik pengeluaran ASI


e)

Ajarkan pada ibu teknik menyusui yang benar

f)

Anjurkan ibu untuk menyusui bayinya sesering mungkin


untuk mencegah terjadinya bendungan Asi.

132

g) Pastikan involusi uterus berjalan lancar.


h)

Beritahu kepada ibu tentang kebutuhan nutrisi

i)

Beritahu ibu kebutuhan istirahat yang cukup

j)

Beritahu ibu cara perawatan bayi

k)

Nilai dan beritahu tanda bahaya masa nifas

l)

Beritahu ibu jadwal kunjung kembali.

Pada tanggal 12 april 2015


i.

Beritahu kepada ibu tentang kondisinya

ii.

Kaji ulang kembali tentang perawatan payudara.

iii.

Kaji dan lakukan kembali teknik pengeluaran ASI

iv.

Kaji ulang teknik menyusui ibu yang benar

v.

Pastikan ibu menyusui ASI pada bayinya sesering mungkin


dan tanpa jadwal.

vi.

Pastikan kembali involusi uterus ibu berjalan lancar

vii.

Tanyakan tentang kebutuhan nutrisi.

viii.

Kaji ulang tentang kebutuhan istirahat yang cukup

ix.

Kaji ulang cara perawatan bayi.

x.

Kaji ulang kembali pada ibu tentang tanda bahaya masa


nifas

xi.

Beritahu ibu jadwal kunjungan ulang


Pada tanggal 15 april 2015
a)

Beritahu tentang kondisi ibu saat ini

b) Lakukan evaluasi kepada ibu tentang perawatan payudara

133

c)

Lakukan evaluasi tentang tehnik pengeluaran asi.

d) Lakukan evaluasi tentang tehnik menyusui yang benar


e)

Pastikan ibu menyusui ASI pada bayinya sesering mungkin


dan tanpa jadwal.

f)

Pastikan involusi uterus ibu berjalan lancar

g) Lakukan evaluasi ibu untuk tetap mengkonsumsi makanan


yang bernutrisi
h) Evaluasi ibu tentang kebutuhan istirahat yang cukup
i)

Evaluasi ibu tentang cara perawatan bayi sehari- hari

j)

Kaji ulang dan evaluasi tanda bahaya masa nifas.

k) Anjurkan ibu untuk kunjungan ulang


3) Pembahasan
Tidak ada kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus,
karena rencana asuhan yang diberikan sesuai kebutuhan.
VI.

Pelaksanaan
1) Tinjauan teori
Langkah ini merupakan pelaksanaan rencana asuhan penyuluhan
pada klien ini dan keluarga. Mengarahkan atau melaksanakan
rencana asuhan secara efisien dan aman (Ambarwati dan
Wulandari dan wulandari, 2008, hal :145).

134

2) Tinjauan Kasus
Pada tanggal 8 april 2015
a) Memberitahu kondisi ibu saat ini berdasarkan hasil
pemeriksaan ibu mengalami bendungan asi.
b) Mencari penyebab terjadinya bendungan ASI pada ibu yaitu
karena pengosongan payudara yang tidak sempurna, faktor
hisapan bayi tidak aktif faktor menyusui yang tidak benar.
c)

Melakukan penanganan bendungan asi dengan melakukan


perawatan payudara dan mengajari ibu cara melakukan
perawatan payudara .
Alat yang disiapkan yaitu :
h. Kapas
i.

Dua waskom berisi air hangat dan dingin

j.

Baby oil

k. Baju ganti satu set


l.

Washlap dua buah

m. Handuk besar dua buah


n. Bengkok satu buah
Langkahnya yaitu :
g. Cuci tangan
h. Persilahkan ibu untuk duduk dengan tenang
i.

Masase payudara dan ASI diperas dengan tangan


sebelum meyusui

135

j.

Kompres payudara dengan air hangat dan dingin secara


bergantian (hangat 2 menit, dingin 1menit)

k. Keringkan payudara dengan handuk


l.

Bantu ibu menggunakan pakaian

d. Melakukan teknik pengeluaran ASI dengan cara pengeluaran


asi dengan reflex oksitosin dan pengeluaran asi dengan
tangan yaitu :
a. Pengeluaran asi dengan reflex oksitosin yaitu:
1. Pakaian bagian atas ibu dibuka
2. Ibu membungkuk ke depan, serta duduk dan bersandar
pada meja dengan lengan terlipat dan kepala diletakkan
di atas tangannya. Payudara dibiarkan mengantung dan
terlepas dari kain penutupnya.
3. Beri tekanan memutar dengan ibu jari mengarah
kebagian bawah sepanjang tulang belakang yang
dimulai dari leher dan punggung, kemudian kearah
bawah selama 3 menit.
e) Mengajarkan kepada ibu tekhnik menyusui yang benar yaitu
dengan cara:
-

Ibu duduk dengan posisi nyaman dan rileks, dan kaki


tidak menggantung, kemudian keluarkan ASI sedikit dan
oleskan pada areola dan puting

136

Bayi dipegang dengan satu lengan, kepala bayi terletak


pada lengkung siku ibu dan bokong bayi terletak pada
lengan. Kepala bayi tidak boleh tertengadah dan bokong
bayi ditahan dengan telapak tangan ibu.

Bayi menempel pada ibu, kepala bayi menghadap


payudara (tidak hanya membelokkan kepala bayi.
Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus

Payudara dipegang dengan ibu jari diatas dan jari yang


lain menopang dibawah, jangan menekan putting susu
dan areolanya saja.

Bayi diberi rangsangan untuk membuka mulut (rooting


reflek) dengan cara menyentuh pipi bayi dengan putting
susu atau menyentuh sisi mulut bayi.

Usahakan sebagian besar areola dapat masuk kedalam


mulut bayi, sehingga putting susu berada dibawah langitlangit dan lidah bayi akan menekan ASI keluar dari
tempat penampungan ASI yang terletak dibawah areola

Kemudian susui bayi sampai ibu merasa payudara ibu


sudah kosong, kemudian pindahkan kepayudara yang
sebelah.

Kemudian jika sudah selesai menyusui keluarkan ASI


sedikit dan oleskan pada areola dan putting ibu dan
diamkan jangan dikeringkan

137

Sendawakan bayi dengan cara disandarkan di pundak ibu


kemudian tepuk secara lembut pada punggung bayi.

k) Menganjurkan kepada ibu untuk menyusui bayinya sesering


mungkin setiap 2- 3 jam secara bergantian antara payudara
kanan dan kiri. Dan bila bayi tertidur anjurkan kepada ibu
untuk membangunkan bayinya selama siklus tidurnya untuk
mencegah terjadinya bendungan ASI pada ibu.
l)

Memastikan involusi uterus berjalan normal dengan meraba


uterus serta melihat pengeluaran lokea.

m) Memberitahu ibu tentang kebutuhan nutrisi yaitu makan


dengan diet seimbang yaitu sumber protein (telur, ikan,
tahu) untuk penyembuhan luka saat nifas, karbohidrat (nasi,
jagung, roti) untuk tenaga ibu ,mineral untuk melindungi
tubuh dari serangan penyakit dan mengatur kelancaran
metabolisme didalam tubuh
n) Menganjurkan ibu untuk cukup istirahat pada malam hari 78 jam/ hari dan 1- 2 jam pada siang hari karena bila ibu
kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam beberapa hal
antara lain mengurangi jumlah asi yang diproduksi dan
memperlambat proses involusi uteri.
o) Memberitahu ibu cara perawatan bayi, yaitu:
a. Memberikan ASI
b. Kebersihan kulit seperti memandikan bayi

138

c. Istirahat bayi 16 jam


d. Perawatan tali pusat yaitu tidak memberikan apapun
selain kassa steril.
e. Menjaga kehangatan bayi
p) Menilai dan memberitahu ibu tanda-tanda bahaya masa
nifas seperti
-

demam tinggi hingga melebihi 38OC.

Perdarahan vagina yang luar biasa atau tiba-tiba


bertambah lebih banyak dari perdarahan haid biasa atau
bila memerlukan penggantian pembalut 2 kali dalam
setengah jam

Nyeri perut hebat di bagian abdomen .

Sakit kepala dan pandangan kabur.

Rasa sakit , merah atau bengkak dibagian betis atau kaki.

Puting payudara berdarah

q) Memberitahu ibu jadwal kunjungan kembali yaitu 1 minggu


yang akan datang atau jika ibu ada keluhan.
Pada tanggal 12 april 2015
1.

Memberitahu kondisi ibu saat ini dengan hasil pemeriksaan


payudara

masih

mengalami

bendungan

asi

karena

pengosongan payudara yang tidak sempurna, faktor hisapan


bayi tidak aktif faktor menyusui yang tidak benar.

139

2.

Mengkaji tentang perawatan payudara kepada ibu

yaitu

Alat yang disiapkan yaitu :


- Kapas
- Dua waskom berisi air hangat dan dingin
- Baby oil
- Baju ganti satu set
- Washlap dua buah
- Handuk besar dua buah
- Bengkok satu buah
Langkahnya yaitu :
g. Cuci tangan
h. Persilahkan ibu untuk duduk dengan tenang
i. Masase payudara dan ASI diperas dengan tangan
sebelum meyusui
j. Kompres payudara dengan air hangat dan dingin secara
bergantian (hangat 2 menit, dingin 1menit)
k. Keringkan payudara dengan handuk
l. Bantu ibu menggunakan pakaian
3. Mengkaji dan melakukan kembali teknik pengeluaran ASI
dengan cara pengeluaran asi dengan reflex oksitosin dan
pengeluaran asi dengan tangan yaitu :
a. Pengeluaran asi dengan reflex oksitosin yaitu:
1) Pakaian bagian atas ibu dibuka

140

2) Ibu membungkuk ke depan, serta duduk dan bersandar


pada meja dengan lengan terlipat dan kepala diletakkan
di atas tangannya. Payudara dibiarkan mengantung dan
terlepas dari kain penutupnya.
3) Beri tekanan memutar dengan ibu jari mengarah
kebagian bawah sepanjang tulang belakang yang
dimulai dari leher dan punggung, kemudian kearah
bawah selama 3 menit.
4. Mengkaji kembali tehnik menyusui ibu yang benar yaitu
dengan cara:
- Ibu duduk dengan posisi nyaman dan rileks, dankaki tidak
menggantung, kemudian keluarkan ASI sedikit dan
oleskan pada areola dan putting
- Bayi dipegang dengan satu lengan, kepala bayi terletak
pada lengkung siku ibu dan bokong bayi terletak pada
lengan. Kepala bayi tidak boleh tertengadah dan bokong
bayi ditahan dengan telapak tangan ibu.
- Bayi menempel pada ibu, kepala bayi menghadap
payudara (tidak hanya membelokkan kepala bayi. Telinga
dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus
- Payudara dipegang dengan ibu jari diatas dan jari yang
lain menopang dibawah, jangan menekan putting susu dan
areolanya saja.

141

- Bayi diberi rangsangan untuk membuka mulut (rooting


reflek) dengan cara menyentuh pipi bayi dengan putting
susu atau menyentuh sisi mulut bayi.
- Usahakan sebagian besar areola dapat masuk kedalam
mulut bayi, sehingga putting susu berada dibawah langitlangit dan lidah bayi akan menekan ASI keluar dari tempat
penampungan ASI yang terletak dibawah areola
- Kemudian susui bayi sampai ibu merasa payudara ibu
sudah kosong, kemudian pindahkan kepayudara yang
sebelah.
- Kemudian jika sudah selesai menyusui keluarkan ASI
sedikit dan oleskan pada areola dan putting ibu dan
diamkan jangan dikering kan
- Sendawakan bayi dengan cara disandarkan di pundak ibu
kemudian tepuk secara lembut pada punggung bayi.
5. Memastikan ibu tetap memberi ASI pada bayinya sesering
mungkin dan tanpa jadwal secara bergantian antara payudara
kanan dan kiri. Dan bila bayi tertidur anjurkan kepada ibu
untuk membangunkan bayinyaselama siklus tidurnya untuk
mecegah terjadinya bendungan ASI pada ibu.
6. Memastikan kembali involusi uterus berjalan normal dengan
meraba uterus serta melihat pengeluaran lokea.
7. Menanyakan kepada ibu tentang kebutuhan nutrisi

142

8. Mengkaji ulang ibu apakah ibu sudah cukup istirrahat


9. Mengkaji ulang kembali ibu cara perawatan bayi, yaitu;
a. Memberikan ASI
b. Kebersihan kulit seperti memandikan bayi
c. Istirahat bayi 16 jam
d. Perawatan tali pusat yaitu tidak memberikan apapun selain
kassa steril.
e. Menjaga kehangatan bayi
10. Mengkaji kembali pada ibu tentang tanda-tanda bahaya masa
nifas.
11. Memberitahu ibu jadwal kunjungan ulang yaitu 1 minggu
kemudian atau jika masih ada keluhan
Pada tanggal 15 april 2015
1. Memberitahu kondisi ibu saat ini dengan hasil pemeriksaan
payudara sudah tidak mengalami bendungan ASI
2. Mengevaluasi tentang perawatan payudara
3. Mengevaluasi tentang tehnik pengeluaran asi.
4. Mengevaluasi tentang tehnik menyusui yang benar
5. memastikan ibu tetap memberi ASI pada bayinya sesering
mungkin dan tanpa jadwal
6. Memastikan involusi uterus berjalan normal dengan meraba
uterus serta melihat pengeluaran lokea.

143

7. Mengevaluasi ibu untuk tetap mengonsumsi makanan yang


bernutrisi
8. Mengevaluasi ibu untuk cukup istirahat
9. Mengevaluasi ibu cara perawatan bayi, yaitu:
a. Memberikan ASI
b. Kebersihan kulit seperti memandikan bayi
c. Istirahat bayi 16 jam
d. Perawatan tali pusat yaitu tidak memberikan apapun
selain kassa steril.
e. Menjaga kehangatan bayi
10. Mengkaji dan mengevaluasi

kembali pada ibu tentang

tanda-tanda bahaya masa nifas.


11. Menganjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang 2
minggu yang akan datang, sesuai jadwal yang telah
ditentukan atau terdapat keluhan dan memastikan involusi
uterus berjalan normal, menilai tanda tanda demam,
infeksi

atau

perdarahan

abnormal,

memastikan

ibu

mendapat cukup makanan, cairan, dan istirahat, memastikan


ibu menyusui dengan baik dan memberikan konseling
mengenai asuhan pada bayi.

144

3) Pembahasan
Tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus,
penulis melakukan tindakan sesuai dengan rencana asuhan yang
telah diberikan terhadap Ny. E.
VII.

Evaluasi
1) Tinjauan teori
Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang diberikan, ulangi
kembali proses manajemen dengan benar terhadap setiap aspek
asuhan yang sudah dilaksanakan tapi belum efektif atau
merencanakan kembali yang belum terlaksana (Ambarwati dan
Wulandari dan Wulandari 2008; hal. 147).
2) Tinjauan kasus
Dalam kasus ini hasil evaluasi yang telah dilakukan adalah:
Pada tanggal 08 april 2015
a. Ibu mengetahui tentang kondisinya saat ini.
b. Ibu mengetahui penyebab bendungan ASI
c. Ibu telah dilakukan perawatan payudara dan ibu mengerti
cara melakukan perawatan payudara
d. Ibu telah melakukan tehnik pengeluaran asi.
e. Ibu mengetahui tentang tehnik menyusui yang benar dan bisa
mempraktekannya.
f. Ibu bersedia untuk menyusui bayinya sesering mungkin

145

g. Involusi uterus berjalan normal. Tfu pertengahan pusat dan


simpisis, konsistensi keras, pengeluaran lokea sanguilenta
h. Ibu bersedia untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya.
i. Ibu mengetahui akan kebutuhan istirahat yang cukup
j. Ibu mengetahui cara perawatan bayinya
k. Ibu mengetahui tentang tanda-tanda bahaya masa nifas.
l. Ibu sudah mengetahui jadwal kunjungan kembali
Tanggal 12 April 2015
1. Ibu mengerti tentang kondisinya saat ini.
2. Ibu telah mengerti tentang perawatan payudara dan telah
mempraktekannya dirumah.
3. Ibu telah dilakukan teknik pengeluaran ASI dan telah
mempratekannya
4. Ibu mengerti tentang tehnik menyusui yang benar dan telah
mempraktekannya
5. Ibu mengatakan tetap memberikan ASI

Pada bayinya

sesering mungkin dan tanpa jadwal setiap 2 jam sekali


6. Involusi uterus berjalan normal. Tfu 3 jari diatas simpisis,
konsistensi keras, pengeluaran lokea serosa.
7. Ibu telah mengkonsumsi makanan yang mengandung nutrisi
8. Ibu mengatakan selama dia mempunyai bayi ibu tidur jarang
karna terbangun jika bayi nya ingin menyusui setiap 2- 3 jam
sekali dan ibu istirahat pada siang hari 2- 3 jam

146

9. Ibu mengerti cara perawatan bayi.


10. Ibu sudah mengerti tentang tanda-tanda masa nifas.
11. Ibu sudah mengetahui jadwal kunjung ulang
Tanggal 15 April 2015
1. Ibu mengerti dengan kondisinya.
2. Ibu telah melakukan perawatan payudara yang baik dan
benar.
3. Ibu mengatakan mengatakan mengerti penjelasan yang telah
di berikan dan mampu mempraktikanya sesuai yang telah
diajarkan
4. Ibu telah melakukan teknik menyusui dengan benar.
5. Ibu mengatakan tetap memberikan ASI

Pada bayinya

sesering mungkin dan tanpa jadwal setiap 2 jam sekali


6. Involusi uterus berjalan normal. Tfu tidak teraba diatas
simpisis, konsistensi keras, pengeluaran lokea serosa.
7. Ibu mengerti akan mengkonsumsi makanan bernutrisi yaitu
makan dengan diet berimbang terutama protein untuk
mempercepat penyembuhan luka jahutan, sumber protein
(telur, ikan, tahu), karbohidrat (nasi, jagung, roti), mineral
dan vitamin. Karena makanan dapat memenuhi produksi asi
dan memperbaiki kondisi ibu.
8. Ibu mengerti akan kebutuhan istirahat yang cukup minimal 8
jam/ hari agar produksi ASI lancar

147

9. Ibu mengerti cara perawatan bayinya


10. Ibu sudah mengerti tentang tanda-tanda masa nifas dab
tidak ada tanda bahaya masa nifas pada ibu.
11. Ibu mengerti dan akan melakukan kunjungan ulang atau
bila ada keluhan
3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan kasus diatas Ny E diberikan asuhan
perawatan bendungan ASI dan tekhnik menyusui yang baik dan
benar. Perkembangan kondisi Ny E dipantau selama 1 minggu,
di rumah Ny E Jl. Batara Nila Gg. Cempaka no. 288 Raja Basa.
Setelah dilakukan perawatan selama 1 minggu, asuhan yang
diberikan pada Ny E dianggap berhasil, pada tanggal 15 april
2015 ibu telah menyusui dengan tekhnik yang benar dan
bendungan ASI dapat teratasi.

148

BAB V
PENUTUP

5.1 KESIMPULAN
Setelah melakukan asuhan kebidanan ibu nifas pada Ny.E umur 30 tahun
P2A0 1 minggu postpartum dengan Bendungan ASI di BPS Usmalanah
Sadam Amd.Keb Bandar Lampung Tahun 2015 Maka penulis dapat
mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
5.1.1 Penulis telah mampu melakukan pengumpulan data dasar terhadap Ny
E umur 30 tahun P2A0 1 minggu postpartum dengan Bendungan ASI
di BPS Usmalanah Sadam, Amd.Keb Bandar Lampung. Pengkajian
data dilakukan menggunakan manajemen varney dengan data
subjektif Ibu mengatakan payudara bagian kanan terasa penuh , panas,
berat , dan keras serta nyeri. dan data obyektif payudara bagian kanan
teraba keras, terdapat nyeri tekan dan teraba panas.
5.1.2 Penulis telah melakukan interpretasi data dengan menentukan
diagnosa kebidanan, yaitu asuhan kebidanan ibu nifas pada Ny. E
umur 30 tahun P2 A0 1 minggu post partum dengan Bendungan ASI di
BPS Usmalanah Sadam, Amd.Keb tahun 2015.
5.1.3 Dalam kasus ini penulis menegakkan diagnose potensial yaitu
terjadinya payudara bengkak.
5.1.4 Dalam kasus ini penulis telah melakukan tindakan segera dengan
melakukan perawatan payudara.

148

149

5.1.5 Dalam kasus ini penulis telah memberikan rencana asuhan secara
menyeluruh pada Ny.E umur 30 tahun P2A0 1 minggu post partum
dengan Bendungan ASI yaitu: Perencanaan Asuhan Kebidanan ibu
nifas dengan Bendungan ASI seperti tindakan perawatan payudara,
mengajarkan penanganan bendungan ASI jika masalah belum teratasi,
teknik menyusui, teknik pengeluaran ASI, serta perencanaan asuhan
kebidanan ibu nifas 6 hari post partum.
5.1.6 Dalam kasus ini penulis telah melaksanakan asuhan kebidanan sesuai
yang telah direncanakan yaitu melakukan tindakan perawatan
payudara mengajarkan pada Ny.E bagaimana cara melakukan
perawatan payudara serta mengajarkan penanganan bendungan ASI
jika masalah belum teratasi.
5.1.7 Dalam kasus ini penulis telah melaksanakan evaluasi pada kasus Ny.
E 2 minggu post partum dengan Bendungan ASI, didapat hasil bahwa
ASI ibu sudah lancar dan ibu dapat melakukan tindakan perawatan
payudara sendiri.

5.2 SARAN
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka penulis dapat menyimpulkan saran
sebagai berikut :
5.2.1 Bagi Institusi Pendidikan
Dengan telah disusunnya Karya Tulis Ilmiah ini diharapkan dapat
meningkatkan keefektifan dalam belajar, pengetahuan, kemampuan
dan keterampilan mahasiswa dalam mengaplikasikan study yang telah
didapatkan, serta untuk melengkapi sumber-sumber buku kepustakaan

150

sebagai bahan informasi dan refrensi yang penting dalam mendukung


pembuatan Karya Tulis Ilmiah.
5.2.2 Bagi Lahan Praktek
Diharapkan pihak lahan praktek bisa lebih meningkatkan mutu
pelayanan secara komprehensif berdasarkan kewenangan bidan dalam
memberikan pelayanan asuhan kepada ibu nifas dan mengajarkan cara
perawatan payudara agar tidak terjadi bendungan ASI.
5.2.3 Bagi Masyarakat khususnya ibu nifas
Diharapkan untuk lebih mengerti lagi dalam perawatan masa nifas,
meningkatkan frekuensi kunjungan masa nifas untuk mendeteksi dini
adanya tanda bahaya atau penyulit pada masa nifas, sehingga bila ada
komplikasi dapat diatasi dengan segera.
5.2.4 Bagi Penulis
Sebaiknya setiap mahasiswa (penulis) dapat terus menerapkan
manajemen dan asuhan kebidanan yang telah dimiliki serta terus
mengikuti kemajuan dan perkembangan dalam dunia kesehatan
khususnya dalam dunia kebidanan.

151
DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati Retna Eny dan Wulandari Diah. 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta :
Nuha Medika
Bahiyatun. 2009. Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jakarta : EGC
Jannah,Nurul.2011.Konsep Kebidanan.Bandar Lampung: AR-RUZZ MEDIA
Maryunani, Anik. 2009. Asuhan Pada Ibu Dalam Masa Nifas ( Puerpurium ). Jakarta : CV.
Trans Info Media
Nanny, Lia Dewi Vivian dan Sunarsih Tri. 2011. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas. Jakarta :
Salamba Medika
Notoadmodjo, Soekidjo. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
Rukiyah Aiyeyeh, dkk. 2011. Asuhan Kebidanan III Nifas. Jakarta : Trans Info Media
Saleha, Sitti. 2009. Asuhan kebidanan pada masa nifas. Jakarta :Salemba Medika
Sulistyawati, Ari. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas. Yogyakarta : Fitramaya
Suherni, dkk. 2009. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta : Fitramaya
Prawirohardjo, Sarwono.2010. Ilmu Kebidanan .2010. Jakarta: PT.Bina Pustaka
Tambunan, S. Eviana dan Kasim Derwani. 2011. Panduan Pemeriksaan Fisik Bagi
Mahasiswa Keperawatan . Jakarta : Salemba Medika
Yanti, Damai dan Dian Sundawati, 2011.Asuhan kebidanan Masa Nifas. Bandung: Refika
Aditama
Biro Hukum dan Organisasi Depkes RI, http://www.hukor.depkes.go.id/, Diakses tanggal 28
April 2015

152

JADWAL PENELITIA
Tanggal dan Bulan
NO

KEGIATAN
1-7

1
2
3
4
5
6
7
8

KONSUL JUDUL
ACC JUDUL
ACC BAB I
ACC BAB II
ACC BAB III
ACC MATRIK
ACC BAB IV
ACC BAB V

April
8-14
15-21

22-30

1-7

Mei
8-14
15-21

22-31

1-7

Juni
8-14
15-21

22-30

Satuan Acara Penyuluhan (SAP)


Tentang Perawatan Payudara dan Tehnik Pengeluaran Asi

Disusun Oleh :
EVARIYANTI DAMANIK
NIM 201207146

AKADEMI KEBIDANAN ADILA


BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2014/2015
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Topik

: Asuhan Kebidanan Tentang Perawatan Payudara


dan Teknik
Pengeluaran ASI

Sub Topik

: Perawatan Payudara dan Teknik pengeluaran asi

Hari / Tanggal

: Sabtu , 12 April 2015

Waktu

: 16.00 wib 16.30 wib

Tempat

: Rumah Ny. E dan Tn. Y

Penyuluhan / Pembicara

: Evariyanti Damanik

Peserta / Sasaran

: Ibu Nifas

Karakteristik

: Ibu Nifas

Jumlah

: 1 Orang

A. Tujuan Umum
Setelah mendapatkan penyuluhan ini , diharapkan ibu nifas dapat mengetahui
teknik pengeluaran asi dan perawatan payudara yang baik dan benar
B. Tujuan Khusus
1. Diharapkan ibu nifas dapat mengetahui pengertian tentang masa nifas
2. Diharapkan ibu nifas dapat mengetahui perawatan payudara
3. Diharapkan ibu hamil dapat mengetahui tehnik pengeluaran asi

Materi : Terlampir
1. Pengertian tentang masa nifas
2. Perawatan payudara
3. Tehnik pengeluaran asi
C. Metode
1. Ceramah

2. Tanya jawab

D. Media
1. Leaflet

POKOK KEGIATAN
NO

MATERI

1.

Pembukaan
(5 menit)

KEGIATAN PENYULUHAN
1. Mengucapkan salam
2. Menyampaikan tujuan umum dan tujuan khusus
3. Menyampaikan waktu atau kontrak waktu yang
akan digunakan dan mendiskusikannya dengan
peserta
4. Memberikan

sedikit

gambaran

mengenai

informasi yang akan disampaikan


2.

Proses
(15 menit)

1. Menjelaskan tentang pengertian masa nifas


2. Menjelaskan tentang perawatan payudara
3. Menjelaskan tentang tehnik pengeluaran asi

3.

Evaluasi
(5 menit)

1. Menanyakan kepada peserta apakaah peserta


mengerti tentang penjelasan tersebut
2. Memberikan soal secara lisan kepada peserta

4.

Penutup
(5 menit)

1. Penyuluh mengucapkan terima kasih atas segala


perhatian peserta
2. Mengucapkan salam penutup

LAMPIRAN MATERI
PENDAHULUAN
Masa nifas merupakan masa yang cukup penting bagi tenaga kesehatan
untuk selalu melakukan pemantauan karena pelaksanaan yang kurang
maksimal dapat menyebabkan ibu mengalami berbagai masalah.

Dimana masa nifas (puerpurium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan


berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil.
Masa nifas atau puerpurium dimulai sejak 2 jam setelah lahirnya plasenta
sampai dengan 6 minggu (42 Hari) setelah itu
Pada permulaan nifas,apabila bayi belum menyusu dengan baik atau
kemudian apabila kelenjar-kelenjar tidak dikosongkan dengan sempurna
,terjadi bendungan asi.Payudara panas , keras dan nyeri pada perabaan serta
suhu badan tidak naik.
MATERI PENYULUHAN
Masa nifas (puerpurium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir
ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa
nifas atau puerpurium dimulai sejak 2 jam setelah lahirnya plasenta sampai
dengan 6 minggu (42 Hari) setelah itu .
Masa nifas (puerpurium) adalah masa setelah plasenta lahir dan berakhir
ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa
nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu .
A. Perawatan payudara adalah suatu cara yang dilakukan untuk merawat
payudara agar air susu keluar dengan lancar. Perawatan payudara untuk
ibu menyusui merupakan salah satu upaya dukungan terhadap pemberian
ASI.

B. Manfaat Perawatan Payudara


Menjaga kebersihan payudara, terutama kebesihan putting susu agar
terhindar dari infeksi. Melunakkan serta memperbaiki bentuk putting
susu sehingga bayi dapat menyusu dgn baik. Merangsang kelenjarkelenjar air susu sehingga produksi asi lancar. Mengetahui secara dini
kelainan putting susu & melakukan usaha-usaha untuk mengatasinya.
C. Tujuan

Tujuannya adalah memperlancar pengeluaran ASI saat masa menyusui.


Untuk pasca persalinan, lakukan sedini mungkin, yaitu 1 sampai 2 hari
dan dilakukan 2 kali sehari.
D. Peralatan untuk perawatan payudara
- Kursi dan meja
- Handuk 2 buah
- Penjepit handuk
- Washlap 2 buah
- 2 Baskom (masing-masing berisi air hangat & dingin)
- Cangkir 1 buah
E. Cara melakukan perawatan payudara ibu menyusui dengan benar
Prosedur pelaksanaan :
- Memposisikan ibu duduk dengan posisi yang nyaman
- Buka pakaian bagian atas ibu
- Letakkan handuk diatas pangkuan ibu & tutuplah payudara dgn
handuk kemudian jepit.
- Kompres dengan air hangat selama 2-5 menit, kemudian ganti dengan
air dingin (lakukan pengompresan pada payudara secara bergantian
dengan payudara sebelah kanan dan kiri)
- Kemudian angkat washlap sambil menekan bagian areola sampai ke
puting
- Geser handuk ke arah belakang
- Lakukan pijit oksitosin (love) dibagian punggung bagian belakang,
dilakukan selama 5-10 menit sampai ASI keluar. Cara melakukan pijat
oksitosin :
a.

Ibu duduk rileks bersandar ke depan, tangan dilipat diatas meja


dengan kepala diletakkan diatasnya

b.

Penolong memijat di sepanjang sisi tulang belakang

c.

Menggunakan dua kepalan tangan dengan ibu jari menujuk ke


depan

d.

Tekan membentuk gerakan seperti bentuk hati (love)

- Lakukan proses pengeluaran ASI, dengan cara :


a. Letakkan cangkir

dibawah payudara, posisi bidan berada

dibelakang pasien
b. Jika puting susu tenggelam, lakukan peregangan di bagian areola
kemudian tarik bagian puting susu
- Bantu ibu mengenakan pakaian dan bereskan alat
- Kemudian cuci tangan

Kesimpulan dan Saran


A. Kesimpulan
Perawatan payudara perlu dilakukan bagi ibu yang menyusui. Perawatan
payudara yang tidak tepat, bisa menimbulkan berbagai masalah dalam
menyusui.

B. Saran
Diharapkan ibu mengerti bagaimana cara melakukan perawatan payudara
yang benar dan dapat mempraktikkan sendiri secara mandiri. Diharapkan pula
para ibu dapat melakukan perawatan payudara secara rutin.

Evaluasi
Jenis

: Tanya jawab

Bentuk

: Secara lisan

Jumlah

: 4 soal

Pertanyaan

:
1. Apa pengertian perawatan payudara?
2. Sebutkan tujuan perawatan payudara?
3. Berapa kali sehari perawatan payudara di lakukan?
4. Alat apa saja yang digunakan dalam perawatan payudara?

DAFTAR PUSTAKA

Dewi, Vivian Nanny Lia., & Sunarsih, Tri.2011. Asuhan Kebidanan pada Ibu
Nifas. Jakarta : Salemba Medika
Sulistyawati, Ari. 2009. Buku AjarAsuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas.
Yogyakarta : CV. Andi Offset

1
PERAWATAN PAYUDARA DAN
TEHNIK PENGELUARAN ASI

Pengertian
Perawatan payudara ialah
melakukan perawatan dengan
tujuan memperlancar pengeluaran
asi saat masa menyusui, yang
dilakukan kali sehari.
CARA MERAWAT

PAYUDARA

a. Pengompesan.
Kompres payudara dengan handuk
kecil hangat selama 2 menit lalu ganti
dengan kompres air dingin lakukan

Di susun oleh :

bergantian 3x diakhiri kompres air


hangat

EVARIYANTI DAMANIK
Apa sajakah yang diperlukan ?
Handuk
Kapas
AKADEMI KEBIDANAN ADILA
BANDAR LAMPUNG
2015

Minyak kelapa/baby oil


Washlap
2

Baskom

(masing-masing

berisi air hangat & dingin)

2
b. Pengosongan Asi
Untuk mencegah bendungan
asi.
Letakkan ibu jari dan
telunjuk 2-3 cm dari putting
susu dan tampung ASI yang
keluar. Lakukan tanpa
rasa sakit

TEHNIK PENGELUARAN
ASI

-Pijat leher dan punggung


belakang menggunakan ibu jari
dengan tehnik memutar searah
jarum jam lakukan 5-10 menit

Bagaimana mudahkan ?
Selalu jaga payudara nya ya
bundaaaa

SELAMAT MENCOBA

Gambar: Pemeriksaan Tanda- tanda vital

Gambar : Perawatan Payudara

Beri Nilai