Anda di halaman 1dari 13

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmatnya kepada saya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Sholawat serta salam saya curahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW beserta
kelauargnya. Adapun tujuan dari makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata
pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.
Sadar akan kekurangan dan keterbatasan yang saya miliki, kami mohon maaf
jika ada penulisan yang kurang berkenan dihati para pembaca yang membaca isi dari
makalah kami ini. Saran dan kritik sangat kami harapkan untuk meningkatkan bobot
dari makalah ini agar isi dari makalah ini dapat bernilai lebih baik lagi dan
bermanfaat buat kita semuanya. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Belitang, Oktober 2015

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL........................................................................................

KATA PENGANTAR.......................................................................................

ii

DAFTAR ISI.....................................................................................................

iii

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...........................................................................
B. Rumusan Masalah......................................................................
C. Tujuan Penulisan........................................................................

BAB II

1
1
1

PEMBAHASAN
A.
B.
C.
D.

Genetika.....................................................................................
Percobaan Mendell.....................................................................
Penerapan Hukum Mendell........................................................
Pemanfaatan Genetika untuk Kesejahteraan..............................

2
3
4
8

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ...............................................................................
B. Saran ..........................................................................................

DAFTAR PUSTAKA

............................................11

10
10

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gregor Johann Mendel disepakati sebagai Bapak Pendiri Genetika. Tinggal di
Brno (Jerman: Brunn), Austria, ia adalah seorang rahib Katolik yang juga mengajar di
sekolah. Rasa ingin tahunya yang tinggi menuntun dia melakukan pekerjaan
persilangan

dan

pemurnian

tanaman

ercis.

Melalui

percobaannya

ini

ia

menyimpulkan sejumlah aturan ('hukum') mengenai pewarisan sifat yang dikenal


dengan nama Hukum Pewarisan Mendel.
Penemuan nya merupakan penumuan yang sangat besar dalam bidan genetika
pada masa nya maka dari itu dia di sepakati menjadi bapak pendiri genetika. Pertama,
Mendel mengetahui bahwa pada semua organisme hidup terdapat "unit dasar" yang
kini disebut gene yang secara khusus diturunkan oleh orang tua kepada anakanaknya. Dalam dunia tumbuh-tumbuhan yang diselidiki Mendel, tiap ciri pribadi,
misalnya warna benih, bentuk daun, ditentukan oleh pasangan gene. Suatu tumbuhan
mewariskan satu gene tiap pasang dari tiap "induk"-nya.
Mendel menemukan, apabila dua gen mewariskan satu kualitas tertentu yang
berbeda akan menunjukkan dengan sendirinya dalam tumbuhan tertentu itu. Tetapi,
gen yang berciri lemah tidaklah terhancurkan dan mungkin diteruskan kepada
tumbuhan keturunannya. Hukum Mendel, meski sudah dilakukan perubahan kecil,
tetap merupakan titik tolak dari ilmu genetika modern.
Untuk lebih jelas nya kami akan menjelaskan hukum mendel 1 & 2 di makalah
kami ini, semoga makalah kami ini dapat bermanfaat untuk kita semua.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Apa pengertian genetika?
2. Bagaimana percobaan Mendell?
3. Bagaimana Penerapan Hukum Mendell?
4. Bagaimana pemanfaatan genetika untuk kesejahteraan manusia?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengertian dari genetika
2. Untuk mengetahui percobaan Mendell
3. Untuk mengetahui penerapan Hukum Mendell
4. Untuk mengetahui pemanfaatan genetika untuk kesejahteraan manusia
BAB II
PEMBAHASAN
A. Genetika

Genetika disebut juga dengan ilmu keturunan, berasal dari kata genos (bahasa
latin) yang artinya bersuku suku bangsa atau asal usul. Secara etimologi artinya
asal mula kejadian. Namun, genetika bukan merupakan ilmu tentang asal mula
kejadian meskipun pada batas batas tertentu memang ada kaitannya dengan hal itu.
Genetika adalah ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk alih informasi hayati dari
generasi ke generasi. Oleh karena cara berlangsungnya alih informasi hayati tersebut
mendasari adanya perbedaan dan persamaan sifat diantara individu organism, maka
dengan singkat dapat pula dikatakan bahwa genetika adalah ilmu yang mempelajari
tentang pewarisan sifat. Dalam ilmu ini dipelajari tentang bagaimana sifat keturunan
itu diwariskan pada anak cucunya, serta kemungkinan variasi yang timbul
didalamnya.
Genetika perlu dipelajari, agar kita dapat mengetahui sifat sifat keturunan
kita sendiri serta setiap makhluk hidup yang ada disekitar lingkungan kita. Kita
sebagai manusia tidak hidup autonom dan terisolir dari makhluk hidup disekitar kita
tetapi kita menjalin ekosistem dengan mereka. Oleh karena itu, selain kita harus tau
sifat sifat yang menurun dari tubuh kita sendiri, kita juga harus tau pada tumbuhan
dan hewan. Lagi pula prinsip prinsip genetika itu sama saja bagi semua makhluk.
Perkembangan genetika ini dimulai sejak perkembangan bioteknologi
berkembang, hal ini dengan di temukannya teknologi DNA rekombinan. Oleh sebab
itu, perkembangan genetika semakin maju. Dengan adanya perkembangan DNA
rekombinan ini maka optimasi biotransformasi dalam suatu proses bioteknologi dapat
diperoleh dengan lebih terarah dan langsung. Teknologi DNA rekombinan atau
rekayasa genetik memungkinkan kita mengkonstruksi, bukan hanya mengisolasi,
suatu galur yang sangat produktif. Sel prokariot atau eukariot dapat digunakan
sebagai "pabrik biologis" untuk memproduksi insulin, interferon, hormon
pertumbuhan, bahan anti virus, dan berbagai macam protein Lainnya. Teknologi DNA
rekombinan juga memungkinkan produksi senyawa-senyawa tertentu yang jumlahnya
secara alami sangat sedikit, sehingga tidak ekonomis bila diekstrak langsung dari
sumber alaminya.
Oleh karena itu sangatlah diharapkan agar berbagai disiplin ilmu yang ada
membuka pintu lebar-lebar untuk mendisain kurikulum yang dapat menampung minat
mahasiswa yang bersifat interface ini, yang merupakan aspek intrinsik dari
Bioteknologi Moderen atau Bioteknologi Molekuler salah satunya mengenai rekayasa
genetika ini yang perkembangannya harus sesuai dengan bioetika yang ada di Negara
kita ini agar penggunaannya tidak di salah gunakan oleh pihak pihak tertentu
sehingga pemanfaatannya dapat digunakan dengan baik.

B. Percobaan Mendel
Gregor Johann Mendel (lahir di Hynice (Heinzendorf bei Odrau), Kekaisaran
Austria , 20 Juli 1822 meninggal di Brno, Kekaisaran Austria-Hungaria , 6 Januari
1884 pada umur 61 tahun) disepakati sebagai Bapak Pendiri Genetika. Tinggal di
Brno (Jerman: Brunn), Austria, ia adalah seorang rahib Katolik yang juga mengajar di
sekolah. Rasa ingin tahunya yang tinggi menuntun dia melakukan pekerjaan
persilangan

dan

pemurnian

tanaman

ercis.

Melalui

percobaannya

ini

ia

menyimpulkan sejumlah aturan ('hukum') mengenai pewarisan sifat yang dikenal


dengan nama Hukum Pewarisan Mendel.
Hukum pewarisan Mendel adalah hukum mengenai pewarisan sifat pada
organisme yang dijabarkan oleh Gregor Johann Mendel dalam karyanya 'Percobaan
mengenai Persilangan Tanaman'. Hukum ini terdiri dari dua bagian:
1. Hukum pemisahan (segregation) dari Mendel, juga dikenal sebagai Hukum
Pertama Mendel, dan
2. Hukum berpasangan secara bebas (independent assortment) dari Mendel, juga
dikenal sebagai Hukum Kedua Mendel.
Mendel melakukan penelitian tentang pewarisan sifat pada tanaman ercis.
Penggunaan tanaman tersebut merupakan pilihan tepat. Oleh karena tanaman ercis
memiliki kriteria yang menguntungkan, yaitu berumur pendek, dapat melakukan
penyerbukan sendiri, dan memiliki banyak ciri yang dapat diamati. Gambar berikut
memperlihatkan beberapa ciri tanaman ercis yang diamati Mendel.

Beberapa ciri yang diamati Mendel

Perlu diingat pada pembahasan genetika, istilah character atau ciri khas
digunakan untuk menjelaskan ciri yang dapat diturunkan. Contohnya, warna bunga,
penampakan biji, dan panjang batang yang bervariasi antarindividu. Setiap sifat dari
ciri khas tersebut, seperti bunga ungu atau bunga putih, disebut trait atau sifat
(Campbell, 1998: 239). Setiap sifat untuk ciri tersebut selalu berpasangan, seperti
tinggi dan pendek, bulat dan kisut, atau besar dan kecil.
C. Penerapan Hukum Mendel
Hukum pewarisan Mendel adalah hukum mengenai pewarisan sifat pada
organisme yang dijabarkan oleh Gregor Johann Mendel dalam karyanya 'Percobaan
mengenai Persilangan Tanaman'. Hukum ini terdiri dari dua bagian:
Hukum pemisahan (segregation) dari Mendel, juga dikenal sebagai Hukum
Pertama Mendel, dan Hukum berpasangan secara bebas (independent assortment)
dari Mendel, juga dikenal sebagai Hukum Kedua Mendel.
Hukum pewarisan Mendel adalah hukum mengenai pewarisan sifat pada
organisme, yang kita kenal dengan hukum segregasi dan hukum asortasi bebas, yang
telah di jabarkan oleh Gregor Johann Mendel . Mendel mengatakan bahwa pada
pembentukan gamet (sel kelamin), kedua gen induk (Parent) yang merupakan
pasangan alel akan memisah sehingga tiap-tiap gamet menerima satu gen dari
induknya sebagaimana bunyi hukum mendel I, dan bunyi hukum mendel II,
menyatakan bahwa bila dua individu mempunyai dua pasang atau lebih sifat, maka
diturunkannya sepasang sifat secara bebas, tidak bergantung pada pasangan sifat yang
lain.
HUKUM MENDEL 1
Hukum segregasi bebas menyatakan bahwa pada pembentukan gamet (sel
kelamin), kedua gen induk (Parent) yang merupakan pasangan alel akan memisah
sehingga tiap-tiap gamet menerima satu gen dari induknya.
Secara garis besar, hukum ini mencakup tiga pokok:
1. Gen memiliki bentuk-bentuk alternatif yang mengatur variasi pada karakter
turunannya. Ini adalah konsep mengenai dua macam alel; alel resisif (tidak
selalu nampak dari luar, dinyatakan dengan huruf kecil, misalnya w dalam
gambar di sebelah), dan alel dominan (nampak dari luar, dinyatakan dengan
huruf besar, misalnya R).
2. Setiap individu membawa sepasang gen, satu dari tetua jantan (misalnya ww)
dan satu dari tetua betina (misalnya RR).
3. Jika sepasang gen ini merupakan dua alel yang berbeda (Sb dan sB pada
gambar 2), alel dominan (S atau B) akan selalu terekspresikan (nampak secara

visual dari luar). Alel resesif (s atau b) yang tidak selalu terekspresikan, tetap
akan diwariskan pada gamet yang dibentuk pada turunannya.

Alel/gen dominan dan resesif pada orang tua (1, P), anak (2, F1) dan cucu (3, F2)
menurut Mendel
Mendel melakukan percobaan selama 12 tahun. Dia menyilangkan (mengawin
silang) sejenis buncis dengan memerhatikan satu sifat beda yang menyolok.
Contoh dari terapan Hukum Mendell I adalah persilangan monohibrid dengan
dominansi. Persilangan dengan dominansi adalah persilangan suatu sifat beda
dimana satu sifat lebih kuat daripada sifat yang lain. Sifat yang kuat disebut sifat
dominan dan bersifat menutupi, sedangkan yang lemah/tertutup disebut sifat resesif.
Perhatikan contoh berikut ini:
Disilangkan antara mawar merah yang bersifat dominan dengan mawar putih yang
bersifat resesif.

Persilangan monohibrid dengan kasus intermediet


Sifat intermediet adalah sifat yang sama kuat, jadi tidak ada yang dominan ataupun
resesif.
Contoh: disilangkan antara mawar merah dengan mawar putih

HUKUM MENDEL II
Dikenal juga sebagai Hukum Asortasi atau Hukum Berpasangan Secara Bebas.
Menurut hukum ini, setiap gen/sifat dapat berpasangan secara bebas dengan gen/sifat
lain. Meskipun demikian, gen untuk satu sifat tidak berpengaruh pada gen untuk sifat
yang lain yang bukan termasuk alelnya.
Hukum Mendel 2 ini dapat dijelaskan melalui oersilangan dihibrida, yaitu
persilangan dengan dua sifat beda, dengan dua alel berbeda. Misalnya, bentuk biji
6

(bulat+keriput) dan warna biji (kuning+hijau). Pada persilangan antara tanaman biji
bulat warna kuning dengan biji keriput warna hijau diperoleh keturunan biji bulat
warna kuning. Karena setiap gen dapat berpasangan secara bebas maka hasil
persilangan antara F1 diperoleh tanaman bulat kuning, keriput kuning, bulat hijau dan
keriput hijau.
Hukum Memdel 2 ini hanya berlaku untuk gen yang letaknya berjauhan. Jika
kedua gen itu letaknya berdekatan hukum ini tidak berlaku. Hukum Mendel 2 ini juga
tidak berlaku untuk persilangan monohibrid.
Perhatikan analisis papan catur di bawah ini tentang persilangan buncis dengan
dua sifat beda (dihibrida). Buncis biji bulat warna kuning disilangkan dengan biji
keriput warna hijau. Keturunan pertama semuanya berbiji bulat warna kuning.
Artinya, sifat bulat dominan terhadap sifat keriput dan kuning dominan terhadap
warna hijau. Persilangan antar F1 mengasilkan keturunan kedua (F2) sebagai berikut:
315 tanaman bulat kuning, 101 tanaman keriput kuning, 108 tanaman bulat hijau dan
32 keriput hijau. Jika diperhatikan, perbandingan antara tanaman bulat kuning :
keriput kuning : bulat hijau : keriput hijau adalah mendekati 9:3:3:1.
P

: BBKK (bulat, kuning) X bbkk (keriput, hijau)

F1

: BbKk (bulat, kuning)

F1XF1

: BbKk (bulat, kuning) X BbKk (bulat, kuning)

Gamet

: BK, Bk, bK, bk BK, Bk, bK, bk

Gamet-gamet ini dapat berpasangan secara bebas (Hukum Mendel 2) sehingga F2


dapat digambarkan sebagai berikut:
Game
t

BK

BK

Bk

bK

bk

BBK

BBK

BbK

BbK

BBK
Bk

BBk

Bbk

BbK
bK

BbK

BbK

10

bbK
K

k
11

bbK
12

bk

BbKk
13

Bbkk
14

bbKk
15

bbkk
16

Keterangan:
bulat kuning 1,2,3,4,5,7,9,10,13
keriput kuning 11,12,15
bulat hijau 6,8,14
keriput hijau 16
Tanaman bulat kuning jumlah 9.
Tanaman bulat hijau jumlah 3.
Tanaman keriput kuning jumlah 3.
Tanaman keriput hijau pada jumlah 1.
Jadi, perbandingan homozigot terdapat pada kotak nomor 1,6,11 dan 16 sedangkan
lainnya heterozigot.
Bastar konstan atau individu baru terdapat pada kotak nomor 6 dan 11. Bastar
konstan adalah keturunan homozigot yang memiliki sifat baru (berbeda dengan kedua
induknya), sehingga dalam persilangan antar sesamanya tidak memisah, konstan
D. Pemanfaatan Genetika untuk Kesejahteraan
Obyek rekayasa genetika mencakup hampir semua golongan organisme, mulai
dari bakteri, fungi, hewan tingkat rendah, hewan tingkat tinggi, hingga tumbuhtumbuhan. Bidang kedokteran dan farmasi paling banyak berinvestasi di bidang yang
relatif baru ini. Sementara itu bidang lain, seperti ilmu pangan, kedokteran hewan,
pertanian (termasuk peternakan dan perikanan), serta teknik lingkungan juga telah
melibatkan ilmu ini untuk mengembangkan bidang masing-masing.
Rekayasa genetika ini memiliki manfaat bagi kehidupan yaitu:
a. Meningkatnya derajat kesehatan manusia, dengan diproduksinya berbagai
b.
c.
d.
e.

hormone manusia seperti insulin dan hormone pertumbuhan.


Tresedianya bahan makanan yang lebih melimpah.
Tersedianya sumber energy yang terbaharui.
Proses industry yang lebih murah.
Berkurangnya polusi.

Manfaat dari rekayasa genetika ini terdapat dalam bidang tertentu seperti:
1. Rekayasa Genetik dibidang Pertanian
Pada

tumbuhan/tanaman

Teknologi

produksi

tanaman

transgenic.

Ahli rekayasa genetik tanaman melakukan transformasi gen dengan tujuan untuk
8

memindahkan gen yang mengatur sifat-sifat yang diinginkan dari satu organisme ke
organisme lainnya. Beberapa sifat yang banyak dikembangkan untuk pembuatan
tanaman transgenik misalnya (1) gen resistensi terhadap hama, penyakit dan
herbisisda, (2) gen kandungan protein tinggi, (3) gen resistensi terhadap stres
lingkungan seperti kadar alumium tinggi ataupun kekeringan dan (4) gen yang
mengekspresikan suatu ciri fenotipe yang sangat menarik seperti warna dan bentuk
bunga, bentuk daun dan pohon yang eksotik.
2. Rekayasa genetic Dibidang Hewan
Rekayasa genetic adalah proses mengidentifikasi dan mengisolasi DNA dari
suatu sel hidup atau mati dan memasukkannya dalam sel hidup lainnya. Sebelum
dimasukkan, materi genetic tersebut dapat direkayasa di lab. Setelah proses rekayasa
enetic berhasil, DNA yang baru tergabung secara genetic dalam kromosom sel baru,
dan tampak pula dalam DNA sel-sel keturunannya. Bagaimana para ilmuwan
melakukan rekayasa genetic? Mereka menggunakan teknologi DNA rekombinan.
Yang dimaksud dengan teknologi DNA Rekombinan yaitu metode mengisolasi,
memanipulasi, menggandakan, memotong dan menggabungkan urutan DNA yang
teridentifikasi secara keseluruhan.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
9

Hukum pewarisan Mendel adalah hukum mengenai pewarisan sifat pada


organisme yang dijabarkan oleh Gregor Johann Mendel dalam karyanya 'Percobaan
mengenai Persilangan Tanaman'. Hukum ini terdiri dari dua bagian:
1. Hukum pemisahan (segregation) dari Mendel, juga dikenal sebagai Hukum
Pertama Mendel, Hukum segregasi bebas menyatakan bahwa pada
pembentukan gamet (sel kelamin), kedua gen induk (Parent) yang merupakan
pasangan alel akan memisah sehingga tiap-tiap gamet menerima satu gen dari
induknya.
2. Hukum berpasangan secara bebas (independent assortment) dari Mendel, juga
dikenal sebagai Hukum Kedua Mendel. Menurut hukum ini, setiap gen/sifat
dapat berpasangan secara bebas dengan gen/sifat lain. Meskipun demikian,
gen untuk satu sifat tidak berpengaruh pada gen untuk sifat yang lain yang
bukan termasuk alelnya.
B. Saran
Makalah ini ditulis dengan keterbatasan penulis atas pengalaman
dan ilmu pengetahuan, sehingga makalah ini tercipta jauh dari hasil
yang sempurna, semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis dan
pembaca.

10

DAFTAR PUSTAKA
http://biologiindonesia.blogspot.co.id/2013/10/penjelasan-tentang-percobaan-mendel.html.

Anonim.

2013.

Penjelasan

tentang

Percobaan

Mendel.

didownload tanggal 5 Oktober 2015.

Sandra

Puspita Ningrum. 2013. Makalah Biologi Hukum Mendel.


http://sandrapuspitaningrum.blogspot.co.id/2013/11/makalah-biologi-hukummendel.html. didownload tanggal 5 Oktober 2015.

Saiful.

2012.
Pemanfaatan
Rekayasa
Genetika.
http://saipolbook.blogspot.co.id/2012/05/pemanfaatan-rekayasa-genetika.html.
didownload tanggal 6 Oktober 2015.

Wiwit wati. 2011. Hukum Mendel 1-2. http://w3i3t2a.blogspot.co.id/2011/10/hukummendel-1-2.html. didownload tanggal 6 Oktober 2015.
Sulistiyo, dkk. 2006. Ringkasan Materi Lengkap Disertai Contoh Soal Jawaban dan
Latihan UANS. Bandung: Pustaka Setia.
Sugiarto, Teguh, Eny Ismawah. 2008. Ilmu Pengetahuan Alam : SMP/MTS. Jakarta:
Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
\Winarsih Anni,dkk. 2008. IPA Terpadu SMP.MTS. Jakarta: Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional

11