Anda di halaman 1dari 5

Analisis Kebijakan Publik

Ada buku yang cukup menarik, Analisis Kebijakan Publik, Konsep dan Aplikasi Analisis Proses
Kebijakan Publik yang ditulis oleh DR. Joko Widodo, M.S., seorang widyaiswara Diklatpim
Jawa Timur. Buku itu dengan ringan membahas dasar-dasar analisis kebijakan publik.Uraian
dalam buku ini dibuka dengan gambaran situasi pasca reformasi, dimana pemerintah saat ini
sedang mengupayakan otonomi daerah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat di daerah. Dan
memang karena beliau orang daerah, maka otonomi daerah menjadi dasar pijakan beliau untuk
memulai uraian analisis kebijakan publik. Dalam pandangan saya, akan lebih baik apabila beliau
mengutip tujuan negara yang diamanatkan dalam Pembukaan UUD 45, karena saya pikir tujuan
tersebut akan lebih universal sebagai pijakan reformasi kebijakan publik, sebab reformasi publik
tidak hanya dilaksanakan di daerah, namun juga di tingkat pusat.
Untuk menghadapi situasi yang ada sekarang ini, penulis menuntut ditingkatkannya
profesionalisme mesin birokrasi. Pemerintahan pada dasarnya adalah pelayanan kepada
masyarakat. Ia tidaklah diadakan untuk melayani dirinya sendiri, tetapi untuk melayani
masyarakat serta menciptakan kondisi yang memungkinkan setiap anggota masyarakat untuk
mengembangkan kemampuan dan kreativitasnya demi mencapai tujuan bersama. Saya lihat
beliau ingin menerapkan prinsip-prinsip Weberian mengenai birokrasi, dimana dalam pandangan
Weberian, birokrasi diciptakan untuk melayani dan profesional.Sesuai dengan pandangan ini,
kinerja birokrasi harus bisa dipertanggungjawabkan kepada khalayak umum, sebab government
organizations are created by the public, for the public and need to be accountable to it. Sebuah
birokrasi harus akuntabel, terbuka dan transparan. Seiring dengan perkembangan masyarakat
dewasa ini, tantangan yang dihadapi organisasi pemerintahan juga berubah, oleh karena itu,
aparatur pemerintah juga perlu meningkatkan kompetensi diri mereka guna menghadapi
tantangan tersebut. Kompetensi tersebut setidaknya mencakup beberapa virtues yakni
pengetahuan, kecakapan/kapabilitas, keterampilan, keahlian, sikap dan perilaku untuk
menjalankan tugas pokok dan fungsi serta tanggung jawab yang diamanatkan khalayak umum
kepada mereka.
Dalam tataran yang lebih nyata, tantangan yang dihadapi oleh pemimpin dan organisasi
pemerintahan adalah hal-hal meliputi peran baru, keterampilan baru dan piranti baru. Peran baru
(new role) meliputi peran para pemimpin pemerintahan sebagai perancang, guru, pengayom,
pendorong sekaligus pelayan. Sebagai seorang perancang, seorang pemimpin harus berperan
sebagai pihak yang merancang dan mengimplementasikan visi, misi, tujuan, target, kebijakan,
nilai dan struktur organisasi. Sebagai seorang guru, seorang pemimpin harus mampu mendidik
dan mengarahkan anggota organisasi untuk mengenali realitas secara baik, dan menciptakan
sebuah organisasi sebagai sebuah tempat belajar bagi seluruh anggota organisasi. Sebagai
seorang pelayan, seorang pemimpin harus mau melayani seluruh anggota organisasi.
Keterampilan baru yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah keterampilan dalam
menciptakan, membangun dan mengimplementasikan visi bersama, membangun dan menguji
model mental serta keterampilan dalam berpikir secara sistematis. Sedangkan piranti baru dalam
kepemimpinan masa kini adalah sistem informasi kepemimpinan yang akan memberikan
prediksi masa depan secara lebih komprehensif.Oleh karena itu, untuk memenuhi tantangan
masa depan, diperlukan kebijakan publik yang sifatnya lebih komprehensif dan antisipatif.
Konsep Kebijakan

Pengertian kebijakan merujuk pada tiga hal yakni sudut pandang (point of view); rangkaian
tindakan (series of actions) dan peraturan (regulations). Ketiga hal tersebut menjadi pedoman
bagi para pengambil keputusan untuk menjalankan sebuah kebijakan. Dari beberapa definisi
mengenai kebijakan publik, ada satu definisi yang cukup komprehensif untuk menjelaskan apa
itu kebijakan publik. Definisi tersebut berbunyi respon dari sebuah sistem politik terhadap
demands/claims dan support yang mengalir dari lingkungannya.
Dalam definisi tersebut, respon bisa dilihat sebagai isi dan implementasi serta analisis dampak
kebijakan; sistem politik tentu saja merujuk pada aktor politik (pemerintah, parlemen,
masyarakat, pressure groups dan aktor yang lain), demands dan claim bisa jadi merupakan
tantangan dan permintaan dari aktor-aktor tadi, sedangkan support bisa merujuk pada dukungan
baik SDM maupun infrastruktur yang ada, dan yang terakhir, lingkungan merujuk pada satuan
wilayah tempat sebuah kebijakan diimplementasikan.
Berdasarkan konsep tersebut, tersusunlah sebuah sistem kebijakan publik yang terdiri atas
elemen-elemen yakni: orientasi, tindakan yang benar-benar dilakukan, sifat positif maupun
negatif untuk melakukan sesuatu dan pelaksanaan melalui perundangan yang bersifat memaksa
(otoritatif).
Berdasarkan atas konsep tersebut, maka pemerintah sebagai pelaku utama implementasi
kebijakan publik memiliki dua fungsi yang berbeda yakni fungsi politik dan fungsi administratif.
Fungsi politik terkait dengan fungsi pemerintah sebagai pembuat kebijakan, sedangkan fungsi
administrasi terkait dengan fungsi pemerintah sebagai pelaksana kebijakan. Oleh karena itu,
pemerintah sebagai lembaga pembuat dan pelaksana kebijakan publik memiliki kekuatan
diskretif (discretionary power) dalam pembuatan dan pelaksanaan kebijakan tersebut. Oleh
karena itu, aktor-aktor lain juga harus memainkan peran pengawasan dalam pelaksanaan
kebijakan tersebut.
Sebuah kebijakan publik akan disusun berdasarkan sebuah proses sebagai berikut: identifikasi,
formulasi, adopsi, implementasi dan evaluasi. Dalam proses identifikasi, pemerintah merasakan
adanya masalah yang harus diselesaikan dengan pembuatan kebijakan. Berdasarkan identifikasi
tersebut dilakukanlah formulasi kebijakan. Kebijakan disusun berdasarkan alternatif-alternatif
tindakan dan partisan. Setelah alternatif tindakan dan partisipan disusun, maka proses adopsi
dilakukan dengan memilih alternatif terbaik dengan memperhatikan syarat pelaksanaan,
partisipan, proses dan muatan kebijakan. Tahap selanjutnya adalah implementasi kebijakan.
Implementasi kebijakan terkait dengan pihak-pihak yang terlibat, tindakan yang dilakukan dan
dampak terhadap muatan kebijakan itu sendiri. Setelah implementasi kebijakan dilakukan,
evaluasi kebijakan harus dilaksanakan. Pertanyaan yang timbul dalam evaluasi antara lain
adalah: bagaimana kemangkusan dan kesangkilan kebijakan, siapa yang terlibat, apa konsekuensi
implementasi dan apakah ada tuntutan untuk mencabut atau mengubah kebijakan tersebut.
Pengertian Analisis Kebijakan Publik
Analisis Kebijakan Publik adalah proses penciptaan pengetahuan dari dan dalam proses
penciptaan kebijakan. Maka dari itu analisis kebijakan publik menurunkan beberapa ciri yakni:
(1) analisis kebijakan publik merupakan kegiatan kognitif, yang terkait dengan proses
pembelajaran dan pemikiran. (2) analisis kebijakan publik merupakan hasil kegiatan kolektif,
karena keberadaan sebuah kebijakan pasti melibatkan banyak pihak, dan didasarkan pada
pengetahuan kolektif dan terorganisir mengenai masalah-masalah yang ada. (3) Analisis
kebijakan merupakan disiplin intelektual terapan yang bersifat reflektif, kreatif, imajinatif dan

eksploratori. (4) analisis kebijakan publik berkaitan dengan masalah-masalah publik, bukan
masalah pribadi walaupun masalah tersebut melibatkan banyak orang.
Analisis Kebijakan Publik dan Ilmu Pengetahuan
Masalah kebijakan berkaitan dengan masalah sosial dan manusia, tapi tidak pada pertanyaan
apa yang dilakukan namun lebih kepada menjawab pertanyaan apa yang harus dilakukan.
Elemen dalam Kebijakan yang Menjadi target analisis
Terdapat tiga elemen dalam kebijakan yang menjadi target analisis, yakni: (1) faktor determinan
utama; (2) isi kebijakan; dan (3) dampak kebijakan baik yang diharapkan maupun yang tidak
diharapkan.
Tipe Analisis Kebijakan
Tipe analisis kebijakan dikategorikan menjadi dua tipe yaitu:
1. Tipe analisis akademis. Tipe analisis ini berfokus pada hubungan antara faktor
determinan utama dengan isi kebijakan dan berusaha untuk menjelaskan hakikat,
karakteristik dan profil kebijakan dan bersifat komparatif baik dari segi waktu maupun
segi subtansi.
2. Tipe analisis terapan. Tipe analisis ini lebih memfokuskan diri pada hubungan isi
kebijakan dengan dampak kebijakan serta lebih berorientasi pada evaluasi kebijakan dan
bertujuan untuk menemukan alternatif lebih baik dan bisa menggantikan kebijakan yang
sedang dianalisis.
Gaya Analisis Kebijakan
Secara garis besar, gaya analisis kebijakan dibedakan menjadi tigakategori yaitu:
1. Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif masih dibedakan menjadi 2 bagian yakni (a) analisis isi (content analysis)
yang merupakan definisi empiris mengenai isi kebijakan terutama pada maksud, definisi
masalah, tujuan dan orientasi sebuah kebijakan; (b) analisis sejarah (historical analysis) yang
lebih menekankan aspek evolusi isi kebijakan dari awal pembentukan hingga implementasinya
bahkan bersifat ekspansif dengan membandingkan beberapa kebijakan secara kronologissinkronis.
2. Analisis Proses
Analisis proses tidak begitu berfokus pada isi kebijakan, namun lebih memfokuskan diri pada
proses politik dan interaksi faktor-faktor lingkungan luar yang kompleks dalam membentuk
sebuah kebijakan. Proses politik inipun masih didekati dengan dua aras yakni proses interaksi
para pemangku kepentingan dan struktur politis negara tempat sebuah kebijakan digodok.
3. Analisis Evaluasi

Analisis ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat penilaian. Penilaian yang diberikan bisa
didasarkan pada konsistensi logis, efisiensi dan karakteristik etis. Oleh karena itu analisis
evaluasi ini masih dibedakan menjadi tiga bagian yakni (a) evaluasi logika, dimana analisis ini
melakukan evaluasi atas beberapa dimensi yakni konsistensi internal tujuan kebijakan;
konsistensi tujuan dan instrumen kebijakan; dan perbedaan antara konsekuensi yang diharapkan
dan yang tidak diharapkan; (b) evaluasi empiris, dimana analisis ini bertujuan untuk mengukur
apakah kebijakan publik mampu memecahkan masalah dan menekankan teknik-teknik untuk
melihat efisiensi dan efektifitas sebuah kebijakan; (c) evaluasi etis yang dalam analisisnya
mengacu pada etika, norma dan nilai (value) dimana dalam evaluasi yang lain sangat bersifat
bebas nilai.
Model Analisis Kebijakan
Dalam mengkritisi kebijakan, terdapat dua pendekatan yaitu: (1) Analisis proses kebijakan
(analysis of policy process), dimana dalam pendekatan ini, analisis dilakukan atas proses
perumusan, penentuan agenda, pengambilan keputusan, adopsi, implementasi dan evaluasi dalam
proses kebijakan. Jika dilihat dari item analisisnya, pendekatan ini lebih melihat kandungan
(content) sebuah proses kebijakan. (2) Analisis dalam dan untuk proses kebijakan (analysis in
and for policy process), dimana dalam pendekatan ini, analisis dilakukan atas teknik analisis,
riset, advokasi dalam sebuah proses kebijakan. Nampaknya, pendekatan ini cenderung melihat
prosedur proses kebijakan. Hasil analisis kebijakan adalah informasi yang relevan bagi pihakpihak yang akan melaksanakan kebijakan. Analisis bisa dilakukan pada semua tahap proses
kebijakan. Pada tahap agenda setting, analisis dilakukan untuk mengidentifikasi masalah publik
dan memobilisasi dukungan agar masalah publik tersebut menjadi kebijakan publik. Hasil
analisis tahap ini adalah daftar masalah publik yang menjadi agenda pemerintah. Analisis pada
tahap selanjutnya dilakukan untuk menemukan alternatif kebijakan publik dengan menentukan
tujuan, sasaran, program dan kegiatan. Hasil analisis tahap ini adalah pernyataan kebijakan
(policy statement) yang biasanya berupa peraturan perundangan. Analisis pada tahap selanjutnya
mencakup interpretasi dan sosialisasi kebijakan, merencanakan serta menyusun kegiatan
implementasi kebijakan. Hasil analisis pada tahap ini adalah aksi kebijakan (policy action).
Analisis berikutnya adalah evaluasi implementasi kebijakan dengan memperhatikan tingkat
kinerja dan dampak sebuah implementasi kebijakan. Hasil analisisnya berupa informasi kinerja
yang akan menjadi dasar tindakan apakah kebijakan tersebut akan diteruskan atau sebaliknya.
Kegagalan sebuah kebijakan publik disebabkan oleh beberapa kesalahan antara lain kesalahan
dalam perumusan masalah publik menjadi masalah kebijakan, kesalahan dalam formulasi
alternatif kebijakan, kesalahan dalam implementasi atau kesalahan dalam evaluasi kebijakan.
Oleh karena itu analisis kebijakan dalam tiap tahap merupakan satu hal yang krusial untuk
mencegah kegagalan sebuah kebijakan.
Possibly related posts: (automatically generated)

Penjabaran Operasional Proses Implementasi Kebijakan.

Desain Kebijakan (Policy Design)

Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (Government Procurement) #1

Analisis kebijakan Publik

Posted in Public Policy Analysis


Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (Government Procurement) #1
Highlight Peraturan Pengadaan Barang dan Jasa yang Baru

Responses
1.
salam kenaltukeran link yukkkkkkk