Anda di halaman 1dari 51

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menstruasi merupakan bagian

dari proses reguler yang

mempersiapkan wanita setiap bulannya untuk kehamilan (Keikos,


2007). Menstruasi menurut Prawiroharjo (1999) adalah perdarahan
secara periodik dan siklik dari uterus, di sertai dengan pelepasan
(deskuamasi)endometrium.
bulan

pada

usia

Walaupaun

reproduksi,

menstruasi

banyak

wanita

datang

yang

setiap

mengalami

ketidaknyamanan fisik atau merasa tersiksa saat menjelang atau


selama haid berlangsung (Blogdokter, 2007). Kebanyakan wanita tidak
merasakan gejala- gejala pada salah satu waktu haid, tetapi sebagian
kecil merasa berat di panggul atau merasa nyeri (Sarwono, 2007).
Ketidaknyamanan fisik saat menstruasi yaitu dismenore.
Dismenore atau nyeri haid mungkin merupakan suatu
gejala yang paling sering menyebabkan wanita- wanita muda pergi ke
dokter

untuk

konsultasi

dan

pengobatan

(Sarwono,

2007). Dismenoremerupakan keluhan yang paling sering di temukan


oleh ahli ginekologi, pemeriksaannya harus di laksanakan secara
sistematis. Riwayat medis dan pemeriksaan fisik yang menyeluruh
merupakan

cara

diagnostik

yang

berhubungan

dengan

asaldismenore. Diagnostik tidak boleh berhenti pada jenis kelainan


adanya penyakit atau kelainan yang menjadi dasar penyebabnya harus
di

cari,

di

diagnosis

(www.kompas.co.id).

kemudian

di

terapi

dengan

sesuai

Pada gadis- gadis yang secara emosional tidak stabil,


apalagi jika mereka tidak mendapat penerangan yang baik tentang
proses haid, mudah timbul dismenore. Kebanyakan wanita mengalami
tingkat kram bervariasi, pada beberapa wanita, hal itu muncul dalam
bentuk rasa tidak nyaman dan letih, sedangkan beberapa yang lain
menderita rasa sakit yang mampu menghentikan aktivitas seharihari.
Namun waspadai jika nyeri haid terjadi terus menerus
setiap bulannya dalam jangka waktu yang lama, karena kondisi itu
merupakan salah satu gejala endometritis (penyakit kandungan yang
disebabkan timbulnya jaringan otot non- kanker sejenis tumor fibroid
di luar rahim). Dismenore dikelompokkan sebagai dismenore primer
saat tidak ada sebab yang dapat dikenali dan dismenore sekunder saat
ada kelainan jeladss yang menyebabkannya (Sastrowardoyo, 2007).
Sekitar 50% dari wanita yang sedang haid mengalami
dismenore dan 10% nya mempunyai gejala yang hebat sehingga
memerlukannya istirahat di tempat tidur (Hacker, 2007). Menurut
beberapa laporan internasional prevalensi dismenore sangat tinggi dan
setidaknya 50% remaja putri mengalami dismenore sepanjang tahuntahun reproduktif.
Suatu studi menyatakan akibat dismenore tersebut sekitar
10% hingga 18%, dismenore adalah penyebab utama absen sekolah
dan terganggu aktivitas lain. Hal ini diperkuat oleh penelitian sulastri
(2006) bahwa akibat keluhan dismenore pada remaja putri di
purworejo berdampak pada gangguan aktivitas sehari- hari sehingga
menyebabkan absen sekolah < 3 hari.

Hasil studi terbaru menunjukan bahwa hampir 10% remaja


yang dismenore mengalami absence rate1-3 hari per bulan atau
ketidakmampuan remaja dalam melakukan tugasnya sehari- hari
akibat nyeri hebat (Poureslami, dkk dalam sulastri 2006). Hal ini
diperkuat oleh jarret, dkk dalam sulastri (2006) tingkatan rasa sakit
saat menstruasi adalah sakit ringan 47,7% dan sakit berat sebanyak
47%. Selanjutnya untuk menghilangkan rasa sakit, remaja tersebut
menggunakan obat sendiri tanpa konsultasi dengan dokter, minum
obat analgesik 32,5%, melakukan kompres dengan air panas 34% dan
yang tersering melakukan istirahat sekitar 92%.
Dismenore banyak di alami oleh para wanita. Di Amerika Serikat
di perkirakan hampir 90 % wanita mengalami dismenore, dan 10-15
% di antaranya mengalami dismenore berat, yang menyebabkan
mereka tidak mampu melakukan kegiatan apapun. Penelitian di
Swedia menjumpai 30 % wanita menurun jumlah penghasilannya
dikarenakan nyeri saat haid (Jurnal Occupation And Invironment
Medicine, 2008).
Di Indonesia angka kejadian dismenore sebesar 64,25 %
yang

terdiri

dari

54,89

% Dismenore primer

dan

9,36

% Dismenore sekunder (Info Sehat,2008). Tidak ada angka yang pasti


mengenai penderita nyeri haid di Indonesia, namun di Surabaya di
dapatkan 1,07 % sampai 1,31 % dari jumlah penderita datang ke
bagian kebidanan (Harunriyanto, 2002).
Angka kejadian dismenorepada remaja diperkirakan 1,12 %
sampai 1,35 % dari jumlah penderita yang memeriksakan diri ke
petugas kesehatan (Profil kesehatan lampung 2007).

Di Metro, untuk angka kejadian Dismenore belum terdata


dengan sistematis. Akan tetapi, untuk pelayanan terhadap kesehatan
remaja cenderung berfluktuatif atau naik turun, pada tahun 2007
sebesar 13,05% dan cakupan ini masih jauh dari target yang
ditetapkan. Jika dilihat distribusinya maka hanya empat kabupaten
yang memiliki data yaitu Kota Bandar Lampung, Kabupaten Lampung
Selatan, Kabupaten Lampung Tengah dan Kabupaten Way Kanan.
Berbagai upaya perlu dilakukan agar pencatatan dan pelaporan
diperbaiki sehingga data pelayanan kesehatan remaja dapat tercover
(ProfilKesehatan Propinsi Lampung Tahun 2007).
Berdasarkan hasil studi pendahuluan kepada 30 santri AlMuhsin, sebanyak 50% (15 santri) mengalami dismenore dan hanya
33% (5 santri) yang mengerti tentang nyeri haid dengan pengetahuan
yang minim serta menanganinya dengan mengompres di bagian perut
menggunakan air hangat. Berdasarkan uraian pada latar belakang
masalah diatas penulis ingin melakukan penelitian tentang Hubungan
pengetahuan remaja putri tentang dismenore dengan penanganan
dismenore pada santri Al- Muhsin Metro Utara Tahun 2011.

1.2 Identifikasi Masalah


Masalah adalah kesenjangan antara harapan dan kenyataan.
Berdasarkan latar belakang masalah yang penulis uraikan, maka
masalah yang dapat di identifikasi adalah :
1.

Di Indonesia angka kejadian dismenore sebesar 64,25 % yang terdiri


dari 54,89 % Dismenore primer dan 9,36 % Dismenore sekunder.

Tidak ada angka yang pasti mengenai penderita nyeri haid di


Indonesia, namun di Surabaya di dapatkan 1,07 % sampai 1,31 %
dari jumlah penderita datang ke bagian kebidanan .
2.

Dalam penelitian oleh jarret, dkk dalam sulastri (2006) tingkatan rasa
sakit saat menstruasi adalah sakit ringan 47,7% dan sakit berat
sebanyak 47%. Selanjutnya untuk menghilangkan rasa sakit, remaja
tersebut menggunakan obat sendiri tanpa konsultasi dengan dokter,
minum obat analgesik 32,5%, melakukan kompres dengan air panas
34% dan yang tersering melakukan istirahat sekitar 92%.

3.

Dari

30

santri

putri

Al-

Muhsin,

sebanyak

50%

(15

santri)

mengalamidismenoredan hanya 33% (5 santri) yang mengerti tentang


nyeri haid dengan pengetahuan yang minim serta menanganinya
dengan mengompres di bagian perut menggunakan air hangat.

1.3 Rumusan Masalah


1.3.1

Masalah
Belum diketahuinya hubungan pengetahuan remaja tentang
dismenore dengan penanganan dismenore pada santri Pon. Pes. Islam
Al- Muhsin Metro Utara Tahun 2011.

1.3.2

Permasalahan
Permasalahan pada penelitian ini adalah adalah Bagaimana
hubungan pengetahuan remaja putri tentang dismenore dengan

penanganan dismenore pada santri Pon. Pes. Islam Al- Muhsin Metro
Utara Tahun 2011.

1.4 Tujuan Penelitian


1.4.1

Tujuan Umum
Untuk mengetahui adakah Hubungan pengetahuan remaja putri
tentang dismenore dengan penanganan dismenore pada santri AlMuhsin Metro Utara Tahun 2011.

1.4.2
1.

Tujuan Khusus
Untuk mengetahui frekuensi pengetahuan tentang dismenore pada
santri putri Al- Muhsin Metro Utara Tahun 2011.

2.

Untuk mengetahui frekuensi penanganan dimenore pada santri putri


Al- Muhsin Metro Utara Tahun 2011.

3.

Untuk menganalisis Hubungan pengetahuan remaja putri tentang


dismenore dengan penanganan dismenore pada santri Al- Muhsin
Metro Utara Tahun 2011.

1.5 Manfaat Penelitian


1.5.1

Bagi Institusi Pendidikan


Dapat menjadi masukan bagi para pembaca dan meningkatkan
pengetahuan khususnya mahasiswa kebidanan tentang dismenore
dengan penanganan dismenore pada santri Al- Muhsin Metro Utara .

1.5.2 Bagi Remaja Putri santri Al- Muhsin

Sebagai masukan dan informasi bagi remaja putri tentang


dismenore dengan penanganan dismenore pada santri Al- Muhsin
Metro Utara.

1.5.3

Bagi peneliti
Menambah pengetahuan dan pengalaman dalam penelitian di
bidang kesehatan reproduksi khususnya tentang dismenore.

1.5.4

Bagi Peneliti Selanjutnya


Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumber
bacaan

dan

pembanding

bagi

peneliti

selanjutnya

untuk

tentang

hubungan

antara

pengembangan penelitian lebih luas.


1.6 Ruang Lingkup
Penelitian

ini

membahas

pengetahuanremaja putri tentang dismenore dengan penanganan


dismenore di Pon. Pes. Al- muhsin Metro Utara. Rancangan penelitian
ini yaitu analitik dengan pendekatan cross sectional. Variabel yang
diteliti meliputi penanganan dismenore sebagai variabel dependen
serta pengetahuan remaja putri tentang dismenore sebagai variabel
independen.

Lokasi

penelitian

di Pon.

Pes.

Al-muhsin

Utara. Penelitian ini dilakukan selama bulan juli 2011.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Dismenore
2.1.1 Pengertian

Metro

Dismenore adalah nyeri perut yang berasal dari kram rahim dan
terjadi selama menstruasi (Imew, 2007). Sedangkan menurut kamus
kedokteran (2005) dismenore berarti nyeri sewaktu haid. Dismenore
merupakan nyeri saat menstruasi yang mengganggu kehidupan
sehari- hari wanita dan mendorong penderita untuk melekukan
pemeriksaan atau konsultasi ke dokter, puskesmas atau ke bidan
(Manuaba, 1998).
Dismenore berarti karam, nyeri, ketidaknyamanan lainnya yang
di hubungkan dengan menstruasi (Saturned, 2008). Sedangkan
menurut Prawiroharjo (1999) dismenore atau nyeri haid mungkin
merupakan suatu gejala yang paling sering menyebabakan wanitawanita muda pergi ke dokter untuk konsultasi dan pengobatan.

2.1.2 Patofisiologi
a.

Hiperaktivitas uterus dan berkurangnya aliran darah uterus


Penyelidikan yang menggunakan catatan tekanan intra uterus telah

memperlihatkan hiperaktivitas uterus, yaitu kontraksi uterus yang


lebih sering atau kontraksi- kontraksi yang lebih besar intensitasnya
atau peningkatan tonus uterus yang mendasarinya, atau sejumlah
kombinasi dari ketiga pengamatan ini pada hampir semua wanita yang
mengeluh dismenore primer.
b.

Kelainan anatomi
Faktor- faktor anatomi dapat juga menyokong dismenore. Stenosi
servik

pernah

di

pikirkan

(Ginekologi Greenhill:110).
c.

Ketidakseimbangan hormon

sebagai

penyebab

umum

dismenore

Mekanisme

terjadinya

dismenore

yaitu

korpus

luteum

berumurhanya 8 hari korpus luteum menstruasionis dan sejak umur


4 hari telah menurun pengeluaran estrogen dan progesteron disertai
perbandingan yang tidak seimbang.
Penurunan dan ketidakseimbangan estrogen dan progesteron (E2/P)
= 0.01 menjadi pemicu pengeluaran dari :
1) Enzim lipogenase dan siklosigenase.
2) Kerusakan membran sel sehingga dapat dikeluarkannya :
a) Asam fosfolipase.
b) Asam fosfatase.
c) Mengeluarkan ion Ca.
3)

Pembentukan

prostaglandin

dari

asam

arakidonik (Manuaba:2001)

2.1.3 Macam- Macam Dismenore


Berdasarkan penyebabnya, dismenore di kelompokkan menjadi
dua yaitu dismenore primer (esensial, intrinsik, idiopatik), tidak
terdapat hubungan

dengan

kelainan

ginekologik dan

dismenore

sekunder (ekstrinsik, yang di peroleh, aquired) di sebabkan oleh


kelainan

(salpingitis

kronika,

endometriosis,

adenomiosis

uteri,

stenosis serivisis uteri, dan lain- lain) (Prawiroharjo,1999).

2.1.3.1

Dismenore Primer

2.1.3.1.1 Pengertian
Dismenore primer adalah nyeri haid yang dijumpai tanpa di jumpai
kelainan pada alat- alat genital yang nyata. Dismenore primer terjadi
beberapa waktu setelah menarche biasanya setelah 12 bulan atau

lebih, oleh karena siklus- siklus haid pada bulan- bulan pertama
setelah menarche umumnya berjenis anovulator yang tidak disertai
dengan rasa nyeri. Rasa nyeri timbul tidak lama sebelumnya atau
bersama- sama dengan permulaan haid dan berlangsung untuk
beberapa jam, walaupun pada beberapa kasus dapat berlangsung
beberapa hari. Sifat rasa nyeri adalah kejang berjangkit- jangkit,
biasanya terbatas pada perut bagian bawah, tetapi dapat menyebar ke
daerah pinggang dan paha. Bersamaan dengan rasa nyeri dapat
dijumpai rasa mual, muntah, sakit kepala, diare, iritabilitas dan
sebagainya.
2.1.3.1.2 Faktor- faktor Penyebab
Beberapa

faktor

memegang

peranan

sebagai

penyebab

dismenore primer, antara lain :


a.

Faktor kejiwaan
Pada gadis- gadis yang secara emosional tidak stabil, apalagi jika

mereka tidak mendapat penerangan yang baik tentang proses haid,


mudah timbul dismenore.
b.

Faktor konstitusi
Faktor ini erat hubungan dengan faktor kejiwaan yang dapat

menurunkan ketahanan terhadap rasa nyeri. Faktor- faktor seperti


anemia, penyakit menahun dan sebagainya dapat mempengaruhi
timbulnya dismenore.
c.

Faktor obstruksi kanalis servikalis


Pada wanita dengan uterus dalam hiperantefleksi mungkin dapat

terjadi stenosis kanalis servikalis, tetapi ini tidak di anggap sebagai


faktor penting penyebab dismenore.
d. Faktor endokrin

Pada umumnya da anggapan bahwa kejang yang terjadi pada


dismenore

primer

di

sebabakan

oleh

kontraksi

uterus

yang

berlebihanan. Faktor endokrin mempunyai hubungan dengan soal


tonus dan kontraktilitas otot usus.
Novak dan Reynoldss yang melakukan penelitian pada uterus kelinci
berkesimpulan bahwa hormon esterogen merangsang kontraktilitas
uterus, sedang hormon progesteron menghambat atau mencegahnya.
Tetapi, teori ini tidak dapat menerengkan fakta mengapa tidak timbul
rasa nyeri pada perdarahan disfungsional anovulator.
e.

Faktor alergi
Teori ini di kemukakan setelah memperhatiakn adanya asosiasi

antara dismenore dengan urtikaria, migraine atau asma bronkhiale.


Smith menduga bahwa sebab alergi ialah toksin haid. Penyelidikan
dalam tahun- tahun terakhir menunjukan bahwa peningkatan kadar
prostaglandin memegang peranan penting dalam etiologi dismenore
primer (Prawiroharjo, 1999).

2.1.3.2

Dismenore Sekunder
Biasanya baru muncul kemudian, yaitu jika ada keluhan yang

menetap seperti infeksi rahim, kista, atau polip, tumor sekitar


kandungan, kelainan kedudukan rahim yang dapat mengganggu organ
dan jaringan sekitarnya (www.compas.co.id). Dismenore sekunder
adalah nyeri haid yang disertai kelainan anatomis genitalis (Manuaba,
2001).
Menurut Hacker (2001) tanda tanda klinik dari dismenore
sekunder adalah endometriosis, radang pelvis, fibroid, adenomiosis,
kista ovarium dan kongesti pelvis. Umumnya, dismenore sekunder

tidak terbatas pada haid, kurang berhubungan dengan hari pertama


haid, terjadi pada wanita yang lebih tua (tiga puluhan atau empat
puluhan

tahun)

dan

dapat

disertai

dengan

gejala

yang

lain

(dispareunia, kemandulan dan perdarahan yang abnormal).


Dismenore sekunder dapat di sebabkan oleh :
1.

Rahim yang terbalik, sehingga membuat darah haid tidak mudah di


keluarkan.

2.

Benjolan besar atau kecil didalam rahim.

3.

Peradangan selaput lendir rahim.

4.

Pemakaian spiral

5.

Endometriosis

6.

Fibroid atau tumor

7.

Infeksi pelvis
(www.compas.co.id).

2.1.3.2.1 Gejala Klinis


Gejala- gejala klinis biasanya di mulai sehari sebelum haid,
berlangsung selama hari pertama dan hari ke dua haid dan jarang
terjadi setelah itu. Rasa nyeri biasanya merupakan nyeri di garis
tengah perut di atas tulang kemaluan, nyeri terasa hilang timbul,
tajam dan bergelombang. Biasanya menngikuti arah rahim dan dapat
menjalar ke arah pinggang bagian belakang. Selain rasa nyeri dapat di
sertai rasa mual, muntah, sakit kepala dan mudah tersinggung atau
depresi (www.compas.co.id).
Dismenore primer terjadi bersamaan atau beberapa waktu
setelah menarche biasanya setelah 12 bulan atau lebih, oleh karena
siklus siklus haid pada bulan bulan pertama setelah menarche

umumnya berjenis anovulator yang tidak disertai dengan rasa nyeri.


Rasa nyeri timbul tidak lama sebelumnya atau bersama sama
dengan

permulaan

haid

dan

berlangsung

untuk

beberapa

jam

walaupun pada beberapa kasus dapat berlangsung beberapa hari. Sifat


rasa nyeri adalah kejang, biasanya terbatas pada perut bawah tetapi
dapat menyebar ke daerah pinggang dan paha. Bersamaan dengan
rasa nyeri dapat dijumpai rasa mual, muntah, sakit kepala, diare dan
iritabilitas.
Sedangkan tanda tanda klinik dari dismenore sekunder adalah
endometriosis, radang pelvis, fibroid, adenomiosis, kista ovarium dan
kongesti pelvis. Umumnya, dismenore sekunder tidak terbatas pada
haid, kurang berhubungan dengan hari pertama haid, terjadi pada
wanita yang lebih tua (tiga puluhan atau empat puluhan tahun) dan
dapat disertai dengan gejala yang lain (dispareunia, kemandulan dan
perdarahan yang abnormal).

2.1.3.2.2 Dampak Dismenore


Perlu waspadai jika nyeri haid terjadi terus menerus setiap
bulannya

dalam

jangka

waktu

yang

lama,

karena

kondisi

itu

merupakan salah satu gejala endometritis (penyakit kandungan yang


disebabkan timbulnya jaringan otot non- kanker sejenis tumor fibroid
di luar rahim). Dismenore dikelompokkan sebagai dismenore primer
saat tidak ada sebab yang dapat dikenali dan dismenore sekunder saat
ada kelainan jelas yang menyebabkannya (Sastrowardoyo, 2007).

2.2 Pengetahuan
2.2.1 Pengertian Pengetahuan

Berdasarkan

Kamus

Besar

Bahasa

Indonesia

(2003)

pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui berkaitan dengan


proses pembelajaran. Proses belajar ini dipengaruhi berbagai faktor
dari luar berupa sarana informasi yang tersedia serta keadaan sosialbudaya.
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia atau hasil tahu
seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata,
hidung,

telinga

dan

sebagainya).

Sebagian

besar

pengetahuan

seseorang diperoleh melalui indera pendengaran (telinga) dan indera


penglihatan (mata) (Notoatmodjo, 2005).

2.2.2 Tingkat Pengetahuan


Menurut

Notoatmodjo

pengetahuan. Ada

(2003)

6tingkat

membagi

pengetahuan

yang

tingkat
dicapai

dalam domain kognitif yaitu :


1) Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai pengingat suatu materi yang telah
dipelajari sebelumnya, termasuk ke dalam pengetahuan tingkatan ini
adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari
seluruh

bahan

yang

dipelajari

atau

rangsangan

yang

telah

diterima. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang
paling rendah.
2) Memahami (comprehension)
Memahami

diartikan

sebagai

suatu

kemampuan

untuk

menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat


menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
3) Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan sebagai kamapuan untuk menggunakan materi


yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).
4) Analisa (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi
atau suatu objek ke dalam komponen, tetapi masih di dalam struktur
organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
Kemampuan analisis dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti
dapat

menggambarkan

(membuat

bagan),

membedakan,

memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.


5) Sintesis (Syntesis)
Sintesis

menunjuk

kepada

suatu

kemampuan

untuk

menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan


yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk
menyusun suatu formula baru dari formulasi-formulasi yang ada.

6) Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan
justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.

2.2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan


Menurut Soekidjo Notoatmodjo (2002:25) beberapa faktor yang
berhubungan dengan karakteristik subjek antara lain:
a. Usia
Semakin cukup usia tingkat kemampuan atau kematangannya
akan lebih mudah untuk berfikir dan mudah menerima informasi.
b. Tingkat Pendidikan

Pendidikan seseorang mempengaruhi cara pandangan atau


masyarakat yang pendidikannya tinggi akan lebih mudah menerima
informasi atau penyuluhan yang akan diberikan dan lebih cepat
merubah sikapnya dalam kehidupan sehari-hari.
c. Intelegensi
Pada prinsipnya mempengaruhi kemampuan diri dan cara
pengambilan keputusan masyarakat yang intelegensinya tinggi akan
banyak

berpartisipasi

lebih

cepat

dan

tepat

dalam

mengambil

keputusan disbanding dengan masyarakat yang intelegensinya rendah.

d. Sosial-ekonomi
Mempengaruhi tingkah laku seseorang yang berasal dari social
ekonomi tinggi dimungkinkan lebih memiliki sikap positif memandang
diri

dan

masa

depannya

tetapi

bagi

masyarakat

yang

social

ekonominya rendah akan merasa takut untuk mengambil sikap dan


tindakan.
e. Sosial-budaya
Dapat mempengaruhi proses pengetahuan khususnya dalam
penyerapan nilai-nilai social keagamaan untuk memperkuat super
egonya.

2.2.4 Cara Memperoleh Pengetahuan


Dari berbagai macam
memperoleh

kebenaran

cara yang

pengetahuan

telah

digunakan

sepanjang

sejarah

untuk
dapat

dikelompokkan menjadi dua, yaitu cara tradisional (non ilmiah) dan


cara modern (ilmiah).

a. Cara tradisional (non ilmiah)


Cara

ini

dipakai

orang

untuk

memperoleh

pengetahuan

sebelum ditemukannya metode ilmiah atau metode penemuan secara


sistematis dan logis. Cara penentuan pengetahuan secara tradisional
antara lain :
(1) Coba-coba dan salah
Cara ini telah dipakai orang sebelum adanya kebudayaan,
bahkan mungkin sebelum adanya peradaban.

(2) Cara kekuasaan (otoritas)


Prinsip dalam cara ini adalah orang lain menerima pendapat
yang diketemukan oleh orang yang mempunyai aktivitas tanpa
menguji atau membuktikan kebenaran terlebih dahulu berdasarkan
fakta empiris atau berdasarkan penalaran sendiri.
(3) Berdasarkan pengalaman pribadi
Pengalaman merupakan sumber pengetahuan atau merupakan
suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Dilakukan
dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam
memecahkan permasalahan yang ada pada masa lalu.
(4) Melalui jalan pikir
Dalam memperoleh kebenaran pengetahuan, manusia telah
menggunakan jalan pikirannya secara induksi dan deduksi.

b. Cara modern (ilmiah)

Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan pada


saat ini lebih sistematis, logis, dan ilmiah. Dalam memperoleh
kesimpulan dilakukan dengan jalan mengadakan observasi langsung
dan membuat pencatatan terhadap semua fakta sebelumnya dengan
objek penelitian (Notoatmodjo, 2005).

2.2.5 Cara Mengukur Pengetahun dan Hasil Pengukuran


Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara
atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang di ukur dari
subjek penelitian atau responden. Pendalaman pengetahuan yang
ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan
tingkatan-tingkatan di atas.
Menurut Sugiyono (2007)
dengan

menggunakan hasil

hasil
rata-

pengukuran
rata

pengetahuan

keseluruhan dan

di

implementasikan ke dalam2 kategori, yaitu :


1. Kategori pengetahuan baik, jika skor jawaban > mean.
2. Kategori pengetahuan kurang baik, jika skor jawaban <mean.

2.3

Penanganan

2.3.1

Pengertian
Penanganan

adalah

proses,

(www.artikata.com).
2.3.2
1.

Penanganan Dismenore
Penerangan dan nasehat

cara,

perbuatan

menangani

Perlu

di

jelaskan

pada

penderita

bahwa

dismenore

adalah

gangguan tidak berbahaya untuk kesehatan. Hendaknya diadakan


penjelasan dan diskusi mengenai cara hidup, pekerjaan, kegiatan dan
lingkungan penderita. Kemungkinan salah informasi mengenai haid
atau adanya tabu atau tahayul mengenai haid perlu di bicarakan.
Nasihat- nasihat mengenai makanan sehat, istirahat yang cukup dan
olahraga yang berguna. Kadang- kadang di perlukan psikoterapi.
2.

Penberian Obat Analgetik


Pemberian

obat

analgetik

yang

di

berikan

sebagai

terapi

simptomatik. Obat analgetik yang sering di berikan adalah preparat


kombinasi aspirin, fenasetin dan kafein.
Untuk mengurangi rasa nyeri bisa diberikan obat anti peradangan
non steroid (misalnya ibuprofen, naproksen dan asam mefenamat).
Obat ini akan sangat efektif jika mulai diminum 2 hari sebelum
menstruasi dan dilanjutkan sampai 1 2 hari menstruasi.
3.

Terapi Hormonal
Tujuan terapi hormonal adalah menekan ovulasi. Tujuan ini dapat
dicapai dengan dengan pemberian salah satu jenis pil kombinasi
kontrasepsi.

4.

Terapi dengan Obat Nonsteroid antiprostaglandin


Memegang

peranan

penting

yang

makin

penting

terhadap

dismenore primer. Obat yang menurunkan jumlah prostaglandin akan


membantu mengurangi rasa nyeri. Hendaknya pengobatan diberikan
sbelum haid dimulai (1 sampai 3 hari sebelum haid) dan pada hari
pertama haid (Prawiroharjo, 1999).
5.

Senam rutin dapat mengurangi kadar prostaglandin.

6.

Memberikan terapi dengan mengompres bagian perut yang nyeri


dengan menggunakan air hangat yang dimasukkan ke dalam botol
(www. Medicastore.co.id).

7.

Pemijatan didaerah punggung dan paha

8.

Orgasme pada aktivitas seksual

2.4

Remaja
2.3.1 Pengertian Remaja
Remaja berasal dari kata latin adolescere (kata bendanya
adolescentra yang berarti remaja) yang berarti tumbuh atau tumbuh
menjadi dewasa. Istilah adolescence , seperti yang dipergunakan saat
ini mempunyai arti yang lebih luas mencakup kematangan mental,
emosional, sosial dan fisik. (Hurlock, 2000)
Secara psikologis masa remaja adalah usia dimana individu
berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi
merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan dalam
tingkatan yang sama. (Hurlock, 2000).

2.3.2 Batasan Usia Remaja


Awal masa remaja berlangsung kira-kira 13 tahun sampai 16
atau 17 tahun, dan akhir masa remaja bermula dari usia 16 atau 17
tahun sampai 18 tahun, yaitu usia matang secara hukum. Dengan
demikian akhir masa remaja merupakan periode yang sangat singkat.
(Hurlock, 2000)

Pada masa adolesensi ini terjadi proses kematangan yang


berlangsung secara lambat dan teratur. Masa ini merupakan kunci dari
perkembangan

anak.

Menurut

banyak

ahli

jiwa,

batas

waktu

adolesensi itu ialah 17-19 tahun atau 117-21 tahun. (Kartono, Kartini,
1992 : 65)
Sedangkan menurut WHO batasan usia remaja adalah 12-24
tahun. Namun jika pada usia remaja seseorang sudah menikah, maka
ia tergolong dalam dewasa, atau bukan lagi remaja. Sebaliknya, jika
usia sudah bukan lagi remaja tetapi masih tergantung pada orang tua
(tidak mandiri), maka dimasukkan dalam kelompok remaja.
(http://smileboys.blogspot.com/2008/06/pengertian-remaja.html)

2.3.3 Aspek-Aspek Perkembangan Pada Masa Remaja


1.

Perkembangan fisik
Yang dimaksud dengan perkembangan fisik adalah perubahanperubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensoris dan ketrampilan
motorik (Papalia & Olds, 2001). Perubahan pada tubuh ditandai
dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh, pertumbuhan tulang dan
otot, dan kematangan organ seksual dan fungsi reproduksi. Tubuh
remaja mulai beralih dari tubuh kanak-kanak yang cirinya adalah
pertumbuhan menjadi tubuh orang dewasa yang cirinya adalah
kematangan. Perubahan fisik otak sehingga strukturnya semakin
sempurna meningkatkan kemampuan kognitif (Piaget dalam Papalia
dan Olds, 2001).

2.

Perkembangan Kognitif
Menurut Piaget (dalam Santrock, 2001), seorang remaja
termotivasi untuk memahami dunia karena perilaku adaptasi secara

biologis mereka. Dalam pandangan Piaget, remaja secara aktif


membangun

dunia

kognitif

mereka,

di

mana

informasi

yang

didapatkan tidak langsung diterima begitu saja ke dalam skema


kognitif mereka. Remaja sudah mampu membedakan antara hal-hal
atau ide-ide yang lebih penting dibanding ide lainnya, lalu remaja juga
menghubungkan

ide-ide

tersebut.

Seorang

remaja

tidak

saja

mengorganisasikan apa yang dialami dan diamati, tetapi remaja


mampu mengolah cara berpikir mereka sehingga memunculkan suatu
ide baru.
Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental
seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Piaget (dalam
Papalia & Olds, 2001) mengemukakan bahwa pada masa remaja
terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang
telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk
eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak. Piaget
menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi
formal (Papalia & Olds, 2001).
Pendapat Elkind bahwa remaja memiliki semacam perasaan
invulnerability yaitu keyakinan bahwa diri mereka tidak mungkin
mengalami kejadian yang membahayakan diri, merupakan kutipan
yang populer dalam penjelasan berkaitan perilaku berisiko yang
dilakukan remaja (Beyth-Marom, dkk., 1993). Umumnya dikemukakan
bahwa remaja biasanya dipandang memiliki keyakinan yang tidak
realistis

yaitu

bahwa

mereka

dapat

melakukan

perilaku

yang

dipandang berbahaya tanpa kemungkinan mengalami bahaya itu.


Beyth-Marom, dkk (1993) kemudian membuktikan bahwa
ternyata baik remaja maupun orang dewasa memiliki kemungkinan

yang sama untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku yang


berisiko merusak diri (self-destructive). Mereka juga mengemukakan
adanya derajat yang sama antara remaja dan orang dewasa dalam
mempersepsi self-invulnerability. Dengan demikian, kecenderungan
melakukan perilaku berisiko dan kecenderungan mempersepsi diri
invulnerable menurut Beyth-Marom, dkk., pada remaja dan orang
dewasa adalah sama.
3.

Perkembangan kepribadian dan social


Yang dimaksud dengan perkembangan kepribadian adalah
perubahan cara individu berhubungan dengan dunia dan menyatakan
emosi secara unik; sedangkan perkembangan sosial berarti perubahan
dalam berhubungan dengan orang lain (Papalia & Olds, 2001).
Perkembangan kepribadian yang penting pada masa remaja adalah
pencarian identitas diri. Yang dimaksud dengan pencarian identitas diri
adalah proses menjadi seorang yang unik dengan peran yang penting
dalam hidup (Erikson dalam Papalia & Olds, 2001).
Perkembangan sosial pada masa remaja lebih melibatkan
kelompok teman sebaya dibanding orang tua (Conger, 1991; Papalia &
Olds, 2001). Dibanding pada masa kanak-kanak, remaja lebih banyak
melakukan kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstra
kurikuler dan bermain dengan teman (Conger, 1991; Papalia & Olds,
2001). Dengan demikian, pada masa remaja peran kelompok teman
sebaya adalah besar.
Pada diri remaja, pengaruh lingkungan dalam menentukan
perilaku diakui cukup kuat. Walaupun remaja telah mencapai tahap
perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya
sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak

dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya (Conger,


1991).
Kelompok

teman

sebaya

diakui

dapat

mempengaruhi

pertimbangan dan keputusan seorang remaja tentang perilakunya


(Beyth-Marom, et al., 1993; Conger, 1991; Deaux, et al, 1993; Papalia
& Olds, 2001).

BAB III
KERANGKA KONSEP, VARIABEL DAN
DEFINISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka konsep


Kerangka kerja penelitian adalah kerangka hubungan
antara

konsep-konsep

penelitian-penelitian

yang
yang

ingin
akan

diamati

atau

diukur

dilakukan

melalui

(Nototmodjo,

2005). Berdasarkan kerangka teori di atas, maka kerangka konsep


dari hubungan pengetahuan remaja putri tentang dismenoredapat
dilihat pada kerangka di bawah ini :

Variabel Independent

Variabel

Dependent

Gambar 3.1 : Kerangka Konsep Penelitian

3.2 Variabel

Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat,


atau ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian
tentang sesuatu konsep pengertian tertentu, misalnya umur, jenis
kelamin, pendidikan, status perkawinan, pekerjaan, pengetahuan,
pendapatan, penyakit, dan sebagainya (Notoatmodjo, 2005).

Dalam penelitian ini digunakan dua jenis variabel yaitu :


1. Variabel

bebas/independen

yaitu

variabel

yang

mempengaruhi

variabel dependen. Dalam penelitian ini pengetahuan remaja putri


tentang dismenoresebagai variabel bebas.
2. Variabel

terikat/dependen

independen.

Dalam

yaitu

penelitian

variabel

akibat

ini penanganan

dari

variabel

dismenoresebagai

variabel terikat.

3.3 Definisi Operasional


Definisi operasional berguna untuk membatasi ruang atau
pengertian variabel-variabel yang diamati. Definisi Operasional ini juga
bermanfaat untuk mengarahkan kepada pengukuran atau pengamatan
terhadap variabel-variabel yang bersangkutan serta pengembangan
instrument alat ukur (Notoatmojo, 2005).
Adapun definisi operasional penelitian ini dijelaskan sebagai berikut :

Tabel 3.1. Definisi operasional variabel Penelitian


Variabel

Definisi Operasional

Cara Ukur

Alat Ukur

Hasil Ukur

Skala
Ukur

Independent :
Pengetahuan

Kemampuan remaja

Angket

Kuesioner

remaja putri

putri untuk menjawab

- Ya

tentang

pertanyaan yang

- Tidak : Skor 0

Dismenore

diberikan tentang
dismenore

Jika jawaban :

Ordinal

: Skor 1

Kemudian dikategorikan
pengetahuan :
a. Baik

:> Mean

b. Kurang Baik :< Mean

Dependent :
Penanganan

Perawatan yang

Angket

Kuesioner

Jika jawaban :

Dismenore

diberikan untuk

- Ya

mengatasi dismenore

- Tidak : Skor 0

: Skor 1

pada remaja putri

Hubungan
pengetahuan
remaja putri
tentang

Jika p value < 0,05, artinya


ada hubungan bermakna
secara statistik atau Ha

dismenore
diterima, jika p Value > 0,05

dengan
penanganan
dismenore pada

tidak ada hubungan secara


statistik atau Ha di tolak.

santri Al- muhsin

3.4 Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban yang bersifat sementara terhadap
permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul
(Notoadmojo, 2005). Berdasarkan latar belakang dan perumusan

Nominal

masalah, maka hipotesis penelitian yang diajukan adalah sebagai


berikut :
Ha = Ada hubungan antara pengetahuan remaja putri santri Al- Muhsin
tentang dismenore dengan penanganan dismenore di Pon. Pes. Putri
Al- Muhsin Metro Utara.

BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian


Dalam penelitian ini peneliti menggunakan desain penelitian
dengan

metode survey

secara Cross

analitik dengan

sectional yaitusuatu

penelitian

pendekatan
untuk

waktu

mempelajari

dinamika korelasi antara faktor-faktor resiko dengan efek, dengan cara


pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu
saat atau point time approach (Notoatmodjo, 2005).
Rancangan
hubungan

penelitian

pengetahuan remaja

ini

digunakan

putri

santri

untuk
Al-

mengetahui

Muhsin

tentang

dismenore dengan penanganan dismenore di Pon. Pes. Islam AlMuhsin Metro Utara Tahun 2011.

4.2 Populasi Penelitian


Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang
diteliti (Notoatmodjo, 2005). Adapun yang menjadi populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh remaja putri santri Al- Muhsin Metro Utara

yang telah mengalami menstruasi. Jumlah populasi dalam penelitian


ini adalah 390 santri.

4.3 Sample Penelitian dan tekhnik sampling


Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan obyek
yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo,
2005). Jumlah sampel dihitung menggunakan rumus Notoatmodjo
(2005) sebagai berikut :
Keterangan:
n = Besar Sampel
N = Besar Populasi
d = Tingkat Kepercayaan
Dengan perhitungan menggunakan rumus tersebut sebagai berikut:
n

390

1 + 390 (0,05)2
n

390
1 + 390 (0,0025)

390
1 + 0,975

390
1,975

= 197

Berdasarkan rumus Notoatmodjo (2005) di atas maka didapatkan


jumlah sampel dalam penelitian ini sebesar 197 santri dari 390 santri
remaja putri yang telah mengalami menstruasi. Untuk mempermudah

peneliti

dalam

proses

penghitungan,

maka

sampel

penelitian

dibulatkan menjadi sebesar 200 santri dari 197 santri.


Dalam pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan
metodetekhnik

sampling

berupa Simple

Random

Sampling, yaitu

sampel diambil secara acak. Dan diambil menggunakan metode


pengambilan secara acak sederhana (Arikunto, 2006).

4.4 Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian

ini

akan

dilaksanakan selama

bulan

juli dan

mengambil lokasi penelitian di Pon. Pes. Putri Al- Muhsin Metro


Utara dengan
di Pon.

Pes.

pertimbangan
Putri

Al-

belum

pernah

Muhsin mengenai

dilakukan

penelitian

permasalahan dismenore

dengan penanganan dismenore.

4.5 Instrumen dan TekhnikPengumpulan Data


Rancangan pengukuran variabel disusun dengan maksud agar
penelitian ini dapat dilakukan seefektif mungkin dalam pengukuran
data dan pengolahan data. Variabel yang diukur dalam penelitian ini
adalah pengetahuan, dengan teknik pengukuran yang digunakan
adalah angket dan alat ukur berupa kuesioner yang diberikan kepada
responden.
Menurut

Notoatmojo

(2005)

kuesioner

adalah

metode

pengumpulan data dengan jalan mengajukan suatu daftar pertanyaan


tertulis kepada sejumlah individu dan individu yang diberikan daftar
pertanyaan tersebut diminta untuk memberikan jawaban secara
tertulis pula.

Menurut

Notoatmojo

(2005)

angket

adalah

suatu

cara

pengumpulan data atau suatu penelitian mengenai suatu masalah


yang umumnya banyak menyangkut kepentingan umum atau orang
banyak. Angket ini dilakukan dengan mengedarkan suatu daftar
pertanyaan yang berupa formulir-formulir, diajukan secara tertulis
kepada sejumlah subjek untuk mendapatkan tanggapan, informasi,
jawaban dan sebagainya.
Kuesioner yang ada, sudah mendapatkan uji validitas dan
rehabilitas yang gunakan untuk mengetahui instrumen yang ingin di
ukur dan untuk mengetahui alat ukur yang akan digunakan dapat
dipercaya atau tidak, jika item yang tidak valid maka akan di
gugurkan.

4.6

Tekhnik Pengolahan Data

Langkah-langkah pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi ;


a.

Langkah Persiapan

Langkah persiapan yang mencakup perbuatan rencana kuisioner adalah:


Menentukan sasaran atau populasi dan jumlah sampel
Membuat kerangka pertanyaan
Menyusun urutan pertanyaan
Membuat format kuisioner
Memperbanyak kuisioner
b.

Langkah Pelaksanaan

Langkah pelaksanaan yaitu mencakup pelaksanaan tahapan adalah :


Membuat surat izin melakukan penelitian di lokasi
Melapor dan meminta izin untuk melakukan penelitian di lokasi

Cara pengumpulan data yang diperlukan dengan pembagian kuisioner,


yang dilaksanakan sendiri oleh peneliti sesuai dengan jumlah sampel
Memproses dengan menganalisis data jawaban yang telah terkumpul.

4.7

Tehnik dan Analisis Data


Pengolahan data meliputi 5 tahap yaitu penyuntingan (editing),
pengkodean

(coding),

tabulasi

(tabulating), entry data

dan Cleaning(Pembersihan)
Editing
Editing adalah
antara

lain

tahap

kesesuaian

memeriksa seluruh

jawaban,

daftar pertanyaan

kelengkapan,

pengisian

serta

ketetapan jawaban yang diisi dan dikembalikan oleh responden.


Coding
Codingadalah kegiatan memproses data memberikan skor pada
kolom sebelah kanan daftar pertanyaan sesuai jawaban yang diberikan
responden. Skor yang digunakan oleh penulis untuk pengetahuan
dismenore (variabel independent) adalah :
1

= Jika jawaban Ya

= Jika jawaban Tidak

skor untuk penanganan dismnenore (variabel Dependent) adalah :


1

= Jika jawaban Ya

= Jika jawaban Tidak


Tabulating
Angka-angka dalam skor setiap butir pertanyaan dijumlahkan

sehingga

diperoleh

skor

keseluruhan

kemudian

jumlah

skor

keseluruhan dibandingkan dengan skor tertinggi (yang diharapkan)


dan dikalikan 100% sehingga diperoleh persentase dan dijadikan

dalam pertimbangan dalam pemberian predikat sesuai dengan tolok


ukur yang ditentukan (Arikunto, 1996).
Entry data
Tahap

ini

dilakukan

dengan

memasukkan

data

kedalam

komputer untuk di olah dan dianalisa melalui program komputer.


Cleaning (Pembersihan)
Merupakan kegiatan mengecek ulang data yang sudah di entri,
apakah ada kesalahan atau tidak.

4.7.1

Analisis Data
Teknik Analisa Data yang penulis ajukan dalam penelitian ini
adalah analisis univariat yang digunakan untuk mengetahui distribusi
dan persentasi dari tiap variabel (Notoatmojo, 2005)

4.7.1.1 Analisa Univariat


Keseluruhan

hasil

jawaban

kuesionerpengetahuan

remaja

dismenoredijumlahkan. Data

yang

ada

responden

tentang

putri

tentang

dikelompokkan

dan

dikategorikan dengan sebuah skala tertentu kemudian dicari kelompok


responden dengan kategori tertentu yang jumlah respondennya
terbanyak dan paling sedikit.

f
P=

x 100%
n

Dengan rumus :

(Eko Budiarto: 2001)


Keterangan:
P

= Persentase

= Jumlah Responden

= Skor jawaban responden

Kemudian untuk mengkategorikan pengetahuan,


digunakan rumus sebagai berikut:

( Sugiyono: 2007 )

4.7.1.2

Analisa Bivariat
Analisis bivariat yang dilakukan terhadap dua variabel yang

diduga berhubungan atau berkorelasi (Notoatmodjo, 2005). Analisis


bivariat dengan menggunakan uji Chi Square (x2) digunakan untuk
mengestimasi

atau

mengevaluasi

frekuensi

yang

diselidiki

atau

menganalisis hasil observasi untuk mengetahui apakah terdapat


hubungan atau perbedaan yang signifikan pada penelitian, maka uji

statistik yang digunakan adalah chi square. Adapun rumus yang


digunakan adalah sebagai berikut :

Rumus chi square

(Eko Budiarto, 2001)


Keterangan :
X2 : chi square
O

: frekuensi yang diamati

: frekuensi yang diharapkan

Mencari nilai x2 tabel dengan rumus :

dk = ( k- 1)(b -1)

(Eko Budiarto, 2001)


Keterangan :
dk

: derajat kebebasan

: Banyaknya kolom

: Banyaknya baris

Derajat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 95 % taraf


kebebasan p value < 0,05, artinya ada hubungan bermakna secara
statistik atau Ha diterima, jika p Value > 0,05 tidak ada hubungan
secara statistik atau Ha di tolak.

BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan di bahas mengenai hal-hal yang berkaitan


dengan masalah penelitian yaitu gambaran umum tempat penelitian,
hasil analisa data dan pembahasan berikut. Hasil penelitian dan
pembahasan tentang hubungan pengetahuan remaja putri tentang
dismenore dengan penanganan dismenore pada santri Pon. Pes. Islam
Al- Muhsin Metro Utara Tahun 2011 sebagai berikut :

5.1 Gambaran Umum Tempat Penelitian


Kurang lebih pada tahun 1994 adalah Bapak Hi. Al Fuadi Rusli
mendapatkan tanah wakaf dengan akte wakaf yang terdaftar di Kantor
Departemen Agama Kabupaten Lampung Tengah seluas + 6.910 m2
dan di atasnya ada satu bangunan rumah tinggal dan satu buah
musholla dari Bapak Hi. Soderi dengan amanah untuk didirikan Pondok
Pesantren. Dengan dana dari masyarakat muslimin Kota Metro
maupun di luar Kota Metro maka dibangunlah Pondok Pesantren.
Pada bulan Juli 1995 mulailah Pondok Pesantren Islam Al
Muhsin menerima pendaftaran santri baru TP 1995/1996, dengan
pembukaan oleh Wali Kota Administratif Metro.
Pada awal tahun berdiri Pondok ini membuka unit Pendidikan
Kuliyyatul Muallimin dan Muallimat Al Islamiyyah (KMI/KMA) Putra
dan Putri, diperuntukkan alumni SD/MI dengan jangka waktu belajar 6
tahun. Sedangkan untuk Takhassus diperuntukkan alumni SLTP/MTs
dengan jangka waktu belajar 4 tahun.
5.1.1

Letak Geografis

Alamat Sekolah
Desa
Kecamatan

: Jln. Dr.Sutomo
: Purwosari
: Metro Utara

Kabupaten /Kota

5.1.2

: Metro

Visi dan misi

5.1.2.1 Visi
1.

Terciptanya Madrasah yang Islami yang ramah berwibawa dengan


memegang teguh ajaran Islam dan memiliki ketrampilan hidup yang
dinamis dan inovatif.

2.

Menuju Sekolah Standar Nasional.

3.

Menuju Sekolah unggulan di bidang IMTAQ,IPTEK dan

Ilmu - ilmu

Sosial.
5.1.2.2 Misi
1.

Sebagai Sekolah bermanajement seimbang.

2.

Menjadikan Sekolah sebagai wahana pendidikan ahlak mulia, Ibadah


yang benar dan

3.

Membekali

pola pikir sehat.

Siswa

IMTAQ,

melanjutkan pendidikan ke
4.

dan

Ilmu-ilmu

sosial

untuk

jenjang yang lebih tinggi.

Meningkatkan kwalitas keimanan dan ketaqwaan kepada Allah sesuai


dengan ajaran Al

5.

IPTEK

Qur`an dan As Sunnah.

Mewujudkan akhlaq yang mulia dan mencintai sesama manusia dan


alam sekitar.

6.

Meningkatkan sarana dan prasarana yang menunjang prestasi siswa.

7.

Meningkatkan semangat belajar yang efektif dan inofatif.

8.

Mengadakan ketrampilan bagi siswa untuk menghadapi kehidupan


yang akan datang.

9.

Meningkatkan pelaksanaan KBM yang efektif.

10. Memberdayakan segala potensi yang ada disekolah.

5.1.3 Sarana dan prasarana


Adapun sarana yang ada di Pon. Pes. Al- Muhsin adalah sebagai
berikut:
1)

Ruang asrama

2)

Ruang belajar

3)

Ruang kepala sekolah

4)

Ruang TU

5)

Ruang dewan guru

6)

Ruang laboraturium bahasa, komputer

7)

Ruang perpustakaan

8)

Ruang gudang

Sedangkan prasarana yang menunjang di Pon. Pes. Al-Muhsin Metro Utara


:
1)

Masjid

2)

Dapur

3)

Kantin

4)

Kamar mandi

5)

Lapangan

5.1.4 Jumlah Ketenagaan di Pon. Pes. Al-Muhsin Metro Utara


1. Kepala
2. Guru Tetap Yayasan
3. Guru Tidak Tetap Yayasan
4. Tenaga Tata Usaha
5. BP
Jumlah

: 1 orang
: 30 orang
: 20 orang
: 3 orang
: 1 orang
: 55 orang

Jumlah siswa di Pon. Pes. Al-Muhsin Metro Utara Tahun 2010/2011


adalah:
a. Kelas VI

: 82 santri

b. Kelas VII

: 66 santri

c. Kelas VIII

: 68 santri

d. Kelas IX

: 56 santri

e. Kelas X

: 68 santri

f. Kelas XI

: 51 santri

Jumlah

: 390 santri

5.2 Hasil Penelitian


5.2.1 Analisa Univariat
Berdasarkan hasil pengumpulan data penelitian dengan menyebarkan
angket berisi 20 pertanyaan mengenai pengetahuan remaja putri
tentang

dismenore

dengan

jawaban

ya,

tidak,

dan

tentang

penanganan dismenore dengan jawaban ya atau tidak, diperoleh data


sebagai berikut:

5.2.1.1

Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden


Variabel pengetahuan di bagi menjadi dua kategori yaitu Baik

dan Tidak baik, dengan mengkategorikan pengetahuan menurut hasil


rata- rata keseluruhan responden. Di dapatkan bahwa hasil rata- rata
keseluruhan sebesar 53,10%, sehingga hasil tabel distribusi frekuensi
pengetahuan sebagai berikut:

No

Pengetahuan Responden

Jumlah

Persentase

1.

Baik

81

40,5%

2.

Tidak baik

119

59,5%

Jumlah
200
100
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Dismenore Responden
Di Pon.Pes.Al-Muhsin Purwaasri Metro Selatan Tahun 2011

( Sumber: Data Primer: 2011, SPSS for Windows versi 16.00)

Berdasarkan

tabel

diatas,

dapat

diketahui

bahwa

distribusi

frekuensi pengetahuan dismenore responden yang terbanyak dengan


kategori pengetahuan kurang baik sejumlah 119 orang responden
(59,5%). Kemampuan rata- rata keseluruhan responden yang diteliti
sebesar 53,1% (x = 53,1). Seperti pada gambar berikut:

Gambar 5.1: Diagaram Persentase Pengetahuan Dismenore


(Sumber: Data Primer: 2011)
5.2.1.2

Distribusi Frekuensi Penanganan Dismenore Responden


Penanganan dismenore pada remaja di kategorikan menjadi dua

kategori yaitu 0 untuk kategori tidak ditangani dan 1 untuk


kategori ditangani, dan diperoleh data sebagai berikut:

No
1.

Penanganan Responden
Ditangani

Jumlah

Persentase (%)

25

12,5%

2.

Tidak ditangani
Jumlah

175

87,5%

200

100

Tabel 5.2 : Distribusi Frekuensi Penanganan Dismenore Responden Di


Pon.Pes.Al-Muhsin Purwaasri Metro Selatan Tahun 2011
( Sumber: Data Primer: 2011, SPSS for Windows versi 16.00)

Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa distribusi


frekuensi penanganan dismenore responden yang terbanyak dengan
kategori tidak ditangani sejumlah 175 orang responden (87,5%).
Terlihat pada gambar dibawah ini:
Gambar 5.2: Diagaram Persentase Penangauan Dismenore
(Sumber: Data Primer: 2011)
5.2.2

Analisa Bivariat
Analisa bivariat untuk menguji hubungan antara variabel independent
yaitu pengetahuan remaja putri tentang dismenore dan variabel
dependent yaitu penanganan dismenore pada remaja putri. Analisa
bivariat dihitung menggunakan uji chi square (x2).

5.2.2.1

Hubungan

antara

Pengetahuan

remaja

putri

tentang

dismenore dengan penanganan dismenore pada santri putri


Pon.Pes.Al-Muhsin Purwaasri Metro Utara Tahun 2011
Tabel 5.3: Frekuensi hubungan antara pengetahuan remaja putri
tentang dismenore dengan penanganan dismenore pada santri putri
Pon.Pes.Al-Muhsin Purwaasri Metro Utara Tahun 2011

Pengetahuan
Dismenore

Penanganan Dismenore
Tidak Ditangani

Ditangani

Total

p-value

OR

Tidak Baik

110

92,4

7,6

Baik

65

80,2

16

19,8

81

Jumlah

175

87,5

25

12.5

200

119
0,019

( Sumber: Data Primer: 2011)

Berdasarkan

hasil

analisa

data

menggunakan

SPSS for

Windows versi 16.00, dapat diketahui bahwa sebanyak 92,4% (110


responden) yang berpengetahuan kurang ternyata tidak melakukan
penanganan

terhadapdismenore,

berpengetahuan

baik

dan

sedangkan

melakukan

responden

melakukan

yang

penanganan

terhadap dismenore sebanyak 19,8% (16 responden).


Hasil uji statistik diperoleh p-value 0,019 (< 0,05) yang
berarti

Ho

pengetahuan

ditolak

sehingga

responden

terhadap dismenore di

disimpulkan
dengan

Pom.Pes.Islam

ada

hubungan

penanganan
Al-Muhsin

antara

responden

Purwaasri

Metro

Utara. Dan diperoleh pula OR = 3,009 yang artinya remaja putri yang
mempunyai pengetahuan tidak baik mempunyai peluang 3 kali untuk
tidak

menangani

dismenore

dibandingkan

dengan

remaja

yang

mempunyai pengetahuan baik.


Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara stres dengan
pola
menstruasi maka dilakukan analisis melalui proses komputerisasi
dengan

SPSS for

Windows versi

16.00

menggunakan

uji chi

square dengan taraf signifikansi () 0,05 atau tingkat kepercayaan


95%. Hipotesis yang dapat disusun adalah:

3,009

Ho

: tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan penanganan


dismenore
Ha

: ada hubungan antara pengetahuan dengan penanganan

dismenore
Setelah dilakukan perhitungan didapatkan nilai p = 0,019. Hal
ini berarti bahwa ada hubungan secara positif antara pengetahuan
tentang dismenore dengan penanganan dismenore pada remaja putri
santri Pon.Pes. Al- Muhsin Purwaasri Metro Utara.

5.3

Pembahasan
Berdasarkan analisa data diatas, dapat diketahui besar dan
jumlah

distribusi

frekuensi

remaja

tentang

pengetahuan dismenore sebesar 59,5% (119 remaja) untuk remaja


dengan pengetahuan yang tidak baik dan 40,5% (81 remaja) untuk
remaja dengan pengetahuan yang baik. Sedangkan umtuk distribusi
frekuensi penanganan remaja terhadap dismenoredidapatkan sebesar
87,5%

(175

remaja)

terhadap dismenore dan

yang
12,5%

tidak

melakukan

penanganan

(25

remaja)

yang

melakukan

dari

analisa

tentang

hubungan

penanganan terhadap dismenore.


Sehingga

dapat

diketahui

pengetahuan remaja putri tentang dismenore dengan penanganan


dismenore pada remaja putri, yang mempunyai pengetahuan yang
tidak baik berjumlah 119 remaja, dimana 110 remaja mempunyai
pengetahuan yang tidak baik (92,4%) dan 9 remaja tidak mempunyai
pengetahuan yang baik (7,6%). Sedangkan remaja yang melakukan
penanganan berjumlah 81 orang, dimana 65 remaja tidak menangani
dismenore (80,2%) dan 16 remaja menangani dismenore (19,8%).

Dari analisis data dengan dengan SPSS for Windows versi 16.00
menggunakan uji chi square dengan taraf signifikansi () 0,05 atau
tingkat kepercayaan 95%, diperoleh nilai p = 0,019 dan nilai RO=
3,009, yang artinya remaja putri yang mempunyai pengetahuan tidak
baik mempunyai peluang 3 kali untuk tidak menangani dismenore
dibandingkan dengan remaja yang mempunyai pengetahuan baik. Hal
ini berarti bahwa terdapat hubungan secara positif antara pengetahuan
remaja putri tentang dismenore dengan penanganan dismenore pada
santri putri Pon.Pes.Al-Muhsin Purwaasri Metro Utara Tahun 2011.
Hal ini mendukung penelitian oleh jarret, dkk dalam sulastri
(2006) ada tingkatan rasa sakit saat menstruasi yaitu sakit ringan dan
sakit berat, selanjutnya untuk menghilangkan rasa sakit, remaja
tersebut menggunakan obat sendiri tanpa konsultasi dengan dokter,
minum obat analgesik 32,5%, melakukan kompres dengan air panas
34% dan yang tersering melakukan istirahat sekitar 92%. Penerangan
dan nasehat. Perlunya penjelasan pada remaja tentang dismenore
bahwa dismenore adalah gangguan tidak berbahaya untuk kesehatan,
tetapi perlu adanya penanganan agar tidak menganggu aktivitas.
Sehingga perlunya diadakan penjelasan dan diskusi mengenai cara
hidup, pekerjaan, kegiatan ataupun lingkungan . Kemungkinan salah
informasi mengenai haid atau adanya tabu atau tahayul mengenai
haid

perlu

di

bicarakan,

sehingga

remaja

putri

mempunyai

pengetahuan yang cukup tentang apa itu dismenore dan apa yang
harus dilakukan jika terjadi dismenore.
Dismenore adalah nyeri perut yang berasal dari kram rahim dan
terjadi selama menstruasi (Imew, 2007). Sedangkan penanganan
adalah proses, cara, perbuatan menangani. Penanganan dismenore

adalah perawatan yang diberikan untuk mengatasi dismenore pada


remaja putri. Penanganan Dismenore dapat diberikan dengan berbagai
cara, seperti:
Penerangan dan nasehat
Pemberian Obat Analgetik
Terapi Hormonal
Terapi dengan Obat Nonsteroid antiprostaglandin
Senam rutin dapat mengurangi kadar prostaglandin.
Memberikan terapi dengan mengompres bagian perut yang nyeri
dengan menggunakan air hangat yang dimasukkan ke dalam botol.
Pemijatan didaerah punggung dan paha
Orgasme pada aktivitas seksual
Perlu waspadai jika nyeri haid terjadi terus menerus setiap
bulannya

dalam

jangka

waktu

yang

lama,

karena

kondisi

itu

merupakan salah satu gejala endometritis (penyakit kandungan yang


disebabkan timbulnya jaringan otot non- kanker sejenis tumor fibroid
di luar rahim).
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia atau hasil tahu
seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata,
hidung,

telinga

dan

sebagainya).

Sebagian

besar

pengetahuan

seseorang diperoleh melalui indera pendengaran (telinga) dan indera


penglihatan

(mata)

(Notoatmodjo,

2005). Sebagian

besar

pengetahuan manusia diperoleh melalui pendidikan, pengalaman


sendiri maupun pengalaman yang didapat dari orang lain, sehingga
pengetahuan sangat penting untuk membentuk perilaku seseorang.
Sehingga perilaku yang didasari pengetahuan lebih permanent dianut

oleh seseorang daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan


(Notoadmodjo: 2005).
Beberapa faktor lain yang mempengaruhi pengetahuan adalah
tempat tinggal dan sumber informasi. Tempat tinggal merupakan
tempat menetap responden sehari- hari. Pengetahuan seseorang akan
lebih jika berada pada lingkungan yang ramai dan bermacam- macam
seperti di perkotaan, karena di lingkungan yang ramai dan bermacammacam mempunyai keluasan kesempatan untuk melibatkan diri dalam
kegiatan

sosial

mendapatkan

maka

wawasan

informasi

sosial

Hurlock:

makin

2002).

kuat

dan

Sedangkan

mudah
sumber

informasi akan mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang, bila


seseorang banyak memperoleh informasi maka cenderung untuk
mempunyai pengetahuan yang lebih luas (Notoadmodjo: 2003).
Dalam penelitian ini didapatkan hubungan antara pengetahuan
tentang

dismenore

dengan

penanganan

dismenore.

Penanganan

adalah perilaku yang ditunjukkan untuk melakukan suatu tindakan.


Pengetahuan merupakan hasil tahu seseorang terhadap objek melalui
indra yang dimilikinya, sedangkan pengetahuan merupakan faktor
yang

mempengaruhi

perilakuremaja

yang

berupa

penanganan

terhadap dismenore, sehingga pengetahuan sangat penting untuk


membentuk perilaku seseorang.
Agar remaja mampu dan mau untuk melakukan penanganan
terhadap

dismenore

memiliki pengetahuan yang


dismenore

itu

yang

terjadi,

mendukung

sendiri, dengan

maka remaja perlu


terhadap penanganan

caramencari

informasi

yang

bersangkutan dengan dismenore dari berbagai sumber informasi,


serta sarana informasi yang memadai bagi para remaja putri.

BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan

hasil

penelitian

hubungan

antara

hubungan

pengetahuan remaja putri tentang dismenore dengan penanganan


dismenore pada santri Pon. Pes. Islam Al- Muhsin Metro Utara Tahun
2011, diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Tingkat

pengetahuan

remaja

putri

tentang

dismenore

dengan

penanganan dismenore pada santri Pon. Pes. Islam Al- Muhsin Metro
Utara rata-rata tidak baik. Dibuktikan dari hasil penelitian, diperoleh
distribusi tingkat pengetahuan baik sejumlah 49,5%, dan tingkat
pengetahuan tidak baik sejumlah 50,5% .
2.

Penanganan remaja putri tentang dismenore pada santri Pon. Pes.


Islam Al- Muhsin Metro Utara Tahun 2011 rata-rata tidak ditangani .
Dibuktikan dari hasil penelitian, diperoleh distribusi penanganan
dismenore

sejumlah

90,5%

tanpa

ada

penanganan

dan

9,5%

ditangani.
3. Terdapat hubungan positif antara hubungan pengetahuan remaja putri
tentang dismenore dengan penanganan dismenore pada santri Pon.
Pes. Islam Al- Muhsin Metro Utara Tahun 2011.

B. Saran

Dari kesimpulan hasil penelitian diatas, dapat dikemukakan


beberapa saran sebagai berikut :
1. Bagi Remaja Putri Santri Al- Muhsin
Bagi

Remaja

dismenorea

agar

penatalaksanaan

Putri
lebih

Santri

Al-

Muhsin

meningkatkan

dismenorea

dan

yang

mengalami

pengetahuan

mengenai

mengaplikasikannya

dengan

harapan nyeri karena dismenorea yang dialami dapat berkurang dan


bagi yang tidak mengalami dismenore lebih baik untuk terus mencari
sumber

pengetahuan

terutama

masalah

dismenore

yang

sering

menyerang pada remaja usia produktif.


2. Bagi Institusi Pendidikan
Peneliti

lebih

banyak

menggunakan

sumber

pustaka

dari

internet karena sumber pustaka yang tersedia di perpustakaan yang


berkaitan dengan penelitian ini masih kurang. Oleh karena itu
diharapkan pihak institusi dapat menambah jumlah referensi bukunya
terutama yang berkaitan antara pengetahuan tentang dismenore
dengan penanganan dismenore.
3. Bagi Masyarakat
Menambah

pengetahuan

mengenai

dismenore

dengan

penanganan dismenore.

4. Bagi Peneliti Selanjutnya


Diharapkan

dapat

menjadi

pertimbangan

masukan

dalam

penelitian selanjutnya yang meneliti tentang pengetahuan remaja putri


akan dismenore dengan penanganan dismenore.

DAFTAR PUSTAKA
Andira Dita.2010. Seluk Beluk
Jogjakarta : A*Plus Books.

Kesehatan

Reproduksi

Wanita.

Arikunto Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan


Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Anonim,
Dismenore, ONLINE http://www.Medicastore.com, diakses
2008.

2004,
april

Andi,
2000,
remaja, ONLINE http://smileboys.blogspot.com/2008/06/pengertianremaja.html, diakses tanggal 18 april 2011
Arifin
Syamsul.
2010. Nyeri
ONLINEhttp:/ipin4u.esmartstudent.com/haid.htm.

Haid.

Budiarto Eko. 2002. Biostatistika untuk Kedokteran dan Kesehatan


Masyarakat. Jakarta: EGC.
Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, 2008, Profil Kesehatan Provinsi
Lampung tahun 2007( pdf), Bandar Lampung
Dorland, 1996, Kamus Kedokteran Dorland, EGC, Jakarta.
E. Schwarz, M.D. Barry. 1996.Obstetri Greenhill. Jakarta:EGC.
Hardi. 2007. Kespro Remaja.ONLINE http://www.blogdokter.com.
diunduh tanggal 17 april 2008
Harunriyanto, 2002. Angka kejadian
Dismenore. ONLINE www.makalah.co.id, diakses tanggal 12 April
2007
IMCW,
2007, Dismenore
(Nyeri
Haid),ONLINE http://www.MyDinariraq.comdiakses 3 April 2008.
Llewellyn Derek, Jones. 2005. Setiap Wanita. Jakarta: Delapratasa
Publising.
Notoatmodjo Soekidjo. 2002. Metodologi Penelitian. Jakarta: Rineka
Cipta.
Notoatmodjo Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian. Jakarta: Rineka
Cipta.
Ovedoff, David, 1995, Kapita Selekta Kedokteran, Binarupa Aksara,
Jakarta.

Manuaba, I. B. G. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan


keluargaBerencana Untuk Pendidikan Bidan, EGC. Jakarta
Pieter Herri Zan, Lubis Numora Lumongga. 2010. Pengantar Psikologi
Untuk Kebidanan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Rusdiana
Erna.
2010. Menstruasi
dan
Dismenore. ONLINE http:/keperawatan
komunitas.
Blogspot.com/2010/11/menstruasi-dandismenore.html. diunduh tanggal 20 April 2009
Sastrowardoyo, 2007, Sulit Hamil Akibat Nyeri Haid Endometriosis
Dapat Diobati,ONLINE http://www.Gatra.com, diakses 28 maret
2008.
Sudrajat.
2003. Hak
Remaja
Atas
Kesehatan
Reproduksi. ONLINEhttp://www.kesehatanremaja.com. diunduh
tanggal 27 Maret 2008
Sulastri, 2006, Perilaku Pencarian Pengobatan Keluhan Dysmenorrhea
pada Remaja Di Kabupaten Purworejo Propinsi Jawa Tengah, Tesis,
Universitas
Gadjah
Mada,
Yogyakarta, ONLINE http://www.solpro.net.com. Diakses tanggal 19
Agustus 2009.
Suwarno,2008. Remaja dan
Permasalahannya. ONLINE www.kompas.co.id, diakses pada tanggal
20 mei 2009
Widyaningsih. 2007. Kesehatan dan Kehidupan Generasi
Muda. ONLINEhttp://www.kesehatanreproduksi.com. diunduh tanggal
27 Maret 2008.
Wiknjosastro, Hanifa. 2007. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawiroharjo.
--------------, ONLINE, www. Arti kata. Com/arti-380248Penanganan. Diunduh tanggal 20 Mei 2010

KUISIONER
HUBUNGAN PENGETAHUAN REMAJA PUTRI SANTRI
AL- MUHSIN TENTANG DISMENORE DENGAN
PENANGANAN DISMENORE DI PON. PES ISLAM
AL- MUHSIN METRO UTARA TAHUN 2011

Petunjuk 1:
1 Bacalah setiap pertanyaan dengan teliti
2 Pilihlah salah satu jawaban dibawah ini dengan memberi tanda chek
list ( )pada jawaban yang anda anggap benar sesuai pada kolom
yang telah disediakan.
3 Mohon diteliti kembali agar tidak terjadi kesalahan.
Nama

Umur

Variabel Dependent: Pengetahuan remaja putri tantang dismenore


No
1
2
3
4

Pertanyaan
Apakah nyeri pada bagian perut saat menstruasi merupakan suatu masalah dalam
reproduksi wanita?
Apakah nyeri tersebut bersifat cramping (dipuntir- puntir) di bagian bawah perut,
punggung bawah bahkan sampai paha?
Apakah nyeri haid berlangsung selama hari pertama dan hari ke dua haid?
Apakah nyeri haid berlangsung sebelum haid datang atau bersamaan dengan haid untuk
beberapa jam?

Apakah stress berpengaruh pada nyeri haid?

Apakah ketidaksinambungan hormon dalam tubuh dapat mempengaruhi nyeri haid?

Apakah emosi yang tidak stabil pada remaja dapat menyebabkan nyeri haid?

Apakah kelainan organ reproduksi mempengaruhi terjadinya nyeri haid?

10

Apakah gejala- gejala seperti mual, muntah, diare, sakit kepala dan bahkan mudah
tersinggung merupakan gejala- gejala pada nyeri haid?
Apakah nyeri perut, punggung bawah bahkan sampai paha merupakan gejala nyeri haid?

Ya

Ti

11

Apakah dengan mengkonsumsi makanan sehat dan istirahat yang cukup dapat mengurangi
nyeri haid?

12

Apakah melakukan olahraga pada saat menstruasi dapat menambah nyeri haid?

13

Apakah nyeri pada saat menstruasi merupakan penyakit yang berbahaya bagi kesehatan?

14
15
16

Adanya penyakit yang berhubungan dengan reproduksi wanita terutama pada rahim
menyebabkan nyeri haid?
Apakah anda merasa terganggu dengan aktivitas anda apabila terjadi nyeri haid?
Apakah nyeri haid menyebabkan anda tidak bisa berkonsentrasi saat kegiatan belajar
mengajar?

17

Apakah prestasi anda menurun karena nyeri haid yang anda alami?

18

Apakah penyempitan pembuluh darah dapat menyebabkan nyeri haid?

19

20

Apakah benjolan besar atau kecil dalam rahim merupakan salah satu penyebab terjadinya
dismenore?
Apakah nyeri haid menyebabkan anda absen saat kegiatan belajar mengajar di sekolah?

Variabel Independent: Penanganan dismenore


No

Pertanyaan

Apakah anda memberikan penanganan pada saat anda mengalami nyeri haid?

Apakah anda membiarkan nyeri haid itu terjadi tanpa ada penanganan dari anda sendiri?

www.gangunik.blogspot.com

Ya

Tidak