Anda di halaman 1dari 15

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kekuatan kepada
kita semua untuk dapat menyelesaikan pembuatan kliping ini dengan sebaik-baiknya.
Juga tidak lupa teriring salam dan sholawat kehadirat rasulullah SAW yang
telah membawa kita dari zaman jahiliyah menuju zaman terang benderang yaitu
Addinul Islam. Memberikan pencerahan pada setiap hati manusia untuk berfikir
menyaksikan kekuasaan Illahi Robbi yang memiliki tingkat keilmuan yang maha
tinggi.
Terima kasih kami haturkan kepada bapak/Ibu guru yang telah memberikan
dorongan serta motifasi keilmuannya dalam membimbing dan memberikan dorongan
dalam pembuatan kliping ini. Dan tidak lupa diucapkan terima kasih kepada semua
anggota yang telah mencurahkan segala kemampuannya demi tersusunnya makalah
ini.
Penyusunan kliping ini salah satunya bertujuan untuk menjaga kemurnian
kebudayaan islam dan spiritualnya atas berbagai bangsa yang telah tercemari oleh
buku-buku yang tersedia
Tujuan islam tidak pernah mengajarkan pada ancaman kekerasan seperti yang
diduga keras oleh para orientalis.Islam mengajarkan pada keluhuran akhlaq yang
diterapkan oleh para pemimpin setelah Rasulullah SAW. Kebijakan, kearifan,
keadilan yang menjadi sifat para pemimpin terdahulu patut untuk kita tiru teladannya.
Dengan adanya kliping ini semoga dapat sedikit memberikan informasi dan
pemahaman teladan para pemimpin terdahulu yang bisa diterapkan pada kehidupan
sekarang ini. Agar bisa menjadi islam yang tumbuh subur sehingga menjadi generasi
yang cakap, cerdas serta berakhlaq mulia, berguna bagi nusa,bangsa dan
agama.Semoga Allah menerima upaya sederhana ini. Semoga para pembaca dapat
memberikan sedikit saran dan kritik untuk memperbaiki kekurangan dan kelemahan
bagi penyusunan makalah selanjutnya.
Belitang, Oktober 2015

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL........................................................................................

KATA PENGANTAR.......................................................................................

ii

DAFTAR ISI.....................................................................................................

iii

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...........................................................................
B. Rumusan Masalah......................................................................
C. Tujuan Penulisan........................................................................

BAB II

1
1
1

PEMBAHASAN
A.
B.
C.
D.

Genetika.....................................................................................
Percobaan Mendell.....................................................................
Penerapan Hukum Mendell........................................................
Pemanfaatan Genetika untuk Kesejahteraan..............................

2
3
4
8

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ...............................................................................
B. Saran ..........................................................................................

DAFTAR PUSTAKA

............................................11

10
10

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pemimpin memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kelompok,
masyarakat, berbangsa dan bernegara. Suatu komunitas masyarakat, bangsa dan
Negara tidak akan maju, aman dan terarah jika tidak adanya pemimpin. Maka
pemimpin menjadi kunci keberhasilkan dalam suatu komunitas masyarakat.
Pemimpin yang mampu memberi rasa aman, tentram, mampu mewujudkan keinginan
rakyatnya. Maka dianggap sebagai pemimpin yang sukses. Pemimpin yang sukses
adalah pemimpin yang dicintai oleh yang dipimpinnya, sehingga pikirannya selalu
didukung, perintahnya selalu di ikuti dan rakyat membelanya tanpa diminta terlebih
dahulu. Figur kepemimpinan yang mendekati penjelasan tersebut adalah Rasulullah
beserta para sahabatnya (khulafaur Rasyidin).
Wafatnya nabi Muhammad sebagai pemimpin agama maupun Negara
menyisahkan persoalan pelik. Nabi tidak meninggalkan wasiat kepada seorangpun
sebagai penerusnya. Akibatnya, para sahabat mempermasalahkan dan saling berusaha
untuk mengajukan calon pilihan dari kelompoknya. Ahmad Amin mencatat sedikitnya
ada 3 kelompok yang berkeinginan menjadi penerus Nabi, yaitu1[1][1]
a. Kelompok atau golongan mencalonkan Ali Bin Abi Tholib, dikarenakanYang
b.

paling berhak adalah para ahl-bait Rasulullah sendiri.


Kelompok atau golongan Anshar mencalonkan Saad bin Ubadah,
dikarenakan Golongan anshar merupakan golongan penolong Nabiteraniaya di

Makkah dan beliau pun meninggal dalam keadaan puas terhadap Anshar.
c. Kelompok atau golongan Kaum Muhajirin mencalonkan Abubakar as-shidiq,
dikarenakan Kaum Muhajirin merupakan kaum yang pertama mempercayai
ajaran Nabi dan selalu menemani beliau dalam suka dan duka2[2][2]
Perselisihan tersebut berdampak pada tertundanya pemakaman Rasullah serta
terjadinya peristiwa saqifa3[3][3], dimana Abu bakar di baiat sebagai penerus Nabi.
Masa khulafaur Rasyidin merupakan nama keemasan, zaman ideal, di

mana

pemerintahan dijalankan seperti halnya pemerintahan masa Nabi. Indikator yang


dapat di lihat adalah:
a. Pembentukannya dengan suara rakyat
1
2[2][2]Ibid, hlm.324
3[3][3]Balai pertemuan Bani Saidah tempat membaiat Abu Bakar sebagai kholifah,
Hamdani Anwar, Masa
Abdullah,hlm. 38

khulafaal-rasyidun,Ensiklopedis Tematis, Taufik

b. Pemerintahan dijalankan dengan musyawarah


c. Kedaulatan Hukum Ilahi diaplikasikan dalam kehidupan bernegara, sehingga
terdapat keyakinan bahwa segala gerak gerik dipertanggung jawabkan kepada
Allah
d.
Kekuasaan Negara tidak didominasi oleh satu kelompok ataupun
golongan4[4][4]
Selain mampu menciptakan tatanan pemerintahan yang ideal, masa khulaf al
rasyidun terkenal dengan kemampuanya mengalahkan dua imperium besar
sebelumnya yaitu Persia dan Roma.
Masing-masing khalifah memiliki kekhasan dalam memerintah umat Islam. Mereka
berusaha keras melanjutkan dakwah Nabi ke seluruh alam. Pentingnya mempelajari
sejarah ini agar mahasiswa dapat memperoleh banyak pelajaran hidup dari
pengalaman Rasulullah dan Khulafaurrasyidin. Sehingga nantinya mahasiswa tidak
akan melakukan kesalahan serupa yang pernah dilakukan para sahabat ketika
mahasiswa menjadi pemimpin.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Jelaskan pengertian khulafaur Rosyidin ?
1.2.2 Sebutkan dan jelaskan siapa saja khulafaur Rosyidin itu ?
1.2.3 Bagaimana proses pengangkatan pada masa pemerintahan Khulafaur Rosyidin ?
1.2.4 Bagaimana model pemerintahan pada masa pemerintahan Khulafaur Rosyidin ?
1.2.5 Bagaimana bentuk visi dan misi para Khulafaur Rosyidin ?

1.2 TUJUAN
1.3.1 Agar dapat memahami pengertian Khulafaur Rosyidin
1.3.2 Agar dapat memahami dan menjelaskan tentang para khulafaur Rosyidin
1.3.3 Agar dapat memahami proses pengangkatan kepemipinan pada masa khulafaur
Rossyidin
1.3.4 Agar dapat memahami model kepemimpinan pada masa khulafaur Rosyidin
1.3.5 Agar dapat memahami bentuk visi dan misi dari kepemimpinan para khulafaur
Rosyidin

BAB II
4[4][4]ZainalAbidin Ahmad, IlmuPolitik Islam III, (Jakarta:Bulan Bintang,1977), Hlm. 136

PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Khulafaur Rosyidin
Kemajuan Islam yang sangat pesat menandakan bahwa tugas Rasulullah harus
segera usai. Rasulullah merasakan bahwa dirinya harus segera menghadap kembali
pada Allah. Pada saat itulahAllah menurunkan wahyu terakhir Q.S Al-Maidah ayat 3:
Artinya :
diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah[394], daging babi, (daging
hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang
jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu
menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. dan
(diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan
anak panah itu) adalah kefasikan. pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa
untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan
takutlah kepada-Ku. pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan
telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama
bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa,
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Pergantian kepemimpinan dari tangan Rasulullah ke tangan sahabat yang
dikenal dengan sebutan khalifah (khulafaurrasyidin). Khulafaurrasyidin memiliki
pengertian orang-orang yang terpilih dan mendapat petunjuk menjadi pengganti Nabi
Muhammad SAW setelah beliau wafat tetapi bukan sebagai nabi atau pun rasul.
Khulafaurrasyidin berasal dari kata khalifah yang artinya pengganti dan Ar rasidin
yang artinya orang-orang yang mendapatkan petunjuk. Pedoman yang dijadikan
pegangan untuk memimpin islam adalah Al-Quran dan Sunah Al-Hadist.
Para khalifah ini tetap menggunakan sistem pemerintahan sebagaimana yang
dilakukan oleh Rasulullah. Para khalifah yang memimpin umat islam antara lain Abu
Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Khattab, Ustman ibn Affan, serta Ali ibn Abu
Thalib.Masa mereka merupakan masa keemasan , zaman ideal, di

mana

pemerintahan dijalankan seperti halnya pemerintahan masa Nabi . Karena alasan ini,
mereka dikenal sebagai khulafaur rosyidin, yakni para Khalifah penunjuk jalan
kebenaran .
2.2 Tokoh-Tokoh Khulafaur Rosyidin
Seperti yang telah dijelaskan dalam(Q.S Al- anbiyaa ayat 105) yang berbunyi:

Artinya : Dan sungguh telah kami tulis di dalam zabur sesudah(kami tulis
dalam)lauh mahfudz bahwasannya bumi ini di pusakai hamba-hamba-Ku yang
saleh.
Dan di perjelas dengan ayat Al-quran (Q.S Al-Hajj ayat 41) yang berbunyi:
Artinya: (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka
bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat
ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali
segala urusan.
Pergantian kepemimpinan dari tangan Rasulullah ke tangan sahabat yang
dikenal dengan sebutan khalifah (khulafaurrasyidin). Para khalifah ini tetap
menggunakan sistem pemerintahan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah.
Para khalifah yang memimpin umat islam antara lain Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar
bin Khattab, Ustman ibn Affan, serta Ali ibn Abu Thalib.
2.2.1 Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq (11-13 H/632-634 M)
a. Pofil khalifah abu bakar ash-shiddiq sebelum menjadi khalifah
Asal Usul dan Nasab Abu BakarAbu bakar dari kabilah taim bin Murrah bin
kaab. Nasabnya bertemu dengan Nabi Adam. Nama aslinya adalah Abdullah bin Abi
quhafah, ibunya bernama Ummul Khair. Disebutkan juga, bahwa sebelum masuk
Islam ia bernama Abdul kaab. Setelah olemasuk Islam oleh Rasulullah dipanggil
Abdullah. Dan mengenai julukan Abu Bakar, ada yang menyimpulkan bahwa dijuluki
bgitu karena ia orang yang paling dini (bakar) masuk Islam dibandingkan dengan
yang

lain.

Kemudian

Ash-Shiddiq,

amatmembenarkanberbagaipengalamandanajaran

yang

artinya
dibawaNabi

yang
Muhammad

SAW. TerutamaperistiwaIsra-Mira.
Sejak usia muda, Abu Bakar Ra seorang yang sangat tenang dan tulus. Ia
sangat jujur, dan selalu mengatakan yang sebenar benarnya. Ia adalah sahabat
terdekat Rasululllah saw. Ketika Rasulullah saw, memperlihatkan kepadanya semua
rahasia mengenai wahyu Allah, Abu Bakar menerimanya dengan begitu, ia
merupakan orang dewasa merdeka yang pertama kali mempercayai misi kenabian
Rasulullah saw, dan menjadi orang kepercayaannya.
b. Proses Pengangkatan Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi Khalifah
Nabi Muhammad Saw tidak meninggalkan wasiat tentang siapa yang akan
menggantikan beliau sebagai pemimpin politik umat islam setelah beliau wafat.
Beliau tampaknya menyerahkan persoalan tersebut kepada kaum muslimin sendiri
untuk menentukannya. Karena itulah, tidak lama setelah beliau wafat belum lagi

jenazahnya dimakamkan, sejumlah tokoh Muhajirin dan Anshar berkumpul. Mereka


memusyawarahkan siapa yang akan dipilih menjadi pemimpin, Musyawarah berjalan
alot karena masing-masing pihak baik Muhajirin maupun Anshar merasa berhak
menjadi pemimpin umat Islam. Dengan semangat Ukhuah Islamiah yang tinggi
akhirnya, terpilihlah Abu Bakar.
Setelah Rasulullah saw wafat, kaum Muslimin mengadakan pertemuan di
Saqifah bani Sa'idah. Mereka membicarakan siapakah sepatutnya yang menggantikan
Rasulullah saw dalam memimpin kaum Muslimin dan mengurusi persoalan umat.
Setelah diskusi, pembahasan, dan pengajuan sejumlah usulan, tercapailah
kesepakatan bulat khalifah Rasulullah pertama setelah kematian beliau adalah orang
yang pernah menjadi khalifah (pengganti) Nabi saw dalam mengimami kaum
Muslimin pada saat beliau sakit. Itulah ash-Shiddiq sahabat beliau yang terbesar dan
pendamping beliau di dalam gua, Abu Bakar r.a
c. Model Pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq
Setelah resmi menjadi khalifah, Abu Bakar segera memberangkatkan pasukan
Usamah. Pasukan itu tertahan setelah sampai di sebuah tempat dekat Madinah
bernama Dzu Khasyab, tempat ketika Usamah mendapat berita tentang sakitnya
Rasulullah saw. Abu Bakar tidak mempedulikan pendapat-pendapat yang mendesak
agar pasukan Usamah dibekukan mengingat tersebar luasnya kemurtadan di sebagian
barisan. Sebagaimana juga beliau tidak memedulikan pendapat-pendapat yang
menghendaki penggantian Usamah dengan orang lain.
Abu Bakar ash-Shiddiq r.a berangkat mengantarkan pasukan yang dipimpin
Usamah dengan berjalan kaki. Ketika Usamah bermaksud turun dari kendaraannya
agar dinaiki oleh Abu Bakar, ia berkata kepada Usamah,"Demi Allah, engkau tidak
perlu turun dan aku tidak usah naik." Selanjutnya Abu Bakar menyampaikan wasiat
kepada pasukan untuk tidak berkhianat, tidak menipu, tidak melampaui batas, tidak
mencincang musuh, tidak membunuh anak-anak atau wanita atau orang lanjut usia,
tidak memotong kambing atau unta kecuali untuk dimakan.
Abu Bakar menjadi kholifah hanya dua tahun. Pada tahun 634 M ia meninggal
dunia. Masa sesingkat itu habis untuk menyelesaikan persoalan dalam negeri
terutama tantangan yang ditimbulkan oleh suku-suku bangsa Arab yang tidak mau
tunduk lagi kepada pemerintahan Madinah.
Abu Bakar meninggal dunia, sementara barisan depan pasukan Islam sedang
mengancam Palestina, Irak, dan kerajaan Hirah.

Ia digantikan oleh tangan

kanannya Umar bin Khathab. Ketika Abu Bakar sakit dan merasa ajalnya sudah

dekat, ia bermusyawarahdengan para pemuka sahabat, kemudian mengangkat Umar


sebagai penggantinya.
2.2.2 Khalifah Umar bin Khattab (13 23 H/634 644 M)
a. Profil kholifah Umar bin Khattab sebelum menjadi khalifah
Umar r.a termasuk keluarga Adi dari suku Quraisy. Pada generasi kedelapan,
garis keturunannya bertemu dengan Rasulullah saw. Abu Hafs adalah nama yang
berasal dari keturunan ayah dan al-faruq nama julukan yang diberikan Rasulullah
saw, ia dilahirkan pada tahun 583 M, sekitar empat puluh tahun sebelum hijriah yang
masyhur. Masa-masa awal kehidupan Umar r.a tidak diketahui secara rinci. Pada
masa mudanya ia adalah jagoan berkelahi yang terkenal dan seorang orator, serta
orang yang bersemangat. Ia salah seorang di antara beberapa orang di mekkah yang
kenal baca tulis sebelum islam. Pekerjaan utamanya adalah berbisnis (berdagang).
Ketika Rasulullah saw mendapat wahyu dan menyeru orang-orang pada islam,
Umar r.a menjadi musuh sejati islam dan Rasulullah saw. Umar sangat ingin
membunuh nabi,ketika umar ingin membunuh nabi di tengah perjalanan bertemu
dengan Saad bin abi waqosh dengan sapaannya;ikan pertamakali keluarghatEngkau
lebih baik memperhatikan keluargamu sendiri,mereka telah masuk islam.Mendengar
hal itu beliau langsung mengubah arah jalannya menuju kediaman adiknya. Setelah
sampai di rumah Fatimah dan mendengar lantunan merdu ayat suci Al-Quran hati
umar bergetar dan meminta lembaran Al-Quran yang di baca oleh Fatimah kemudian
bergegas menuju rumah nabi dan masuk islam. sejak memeluk Islam , ia
menyerahkan seluruh hidupnya untuk kepentingan Islam dan muslimin. Baginya tak
ada kepentingan yg lebih tinggi dan harus dilaksanakan selain perintah Allah dan
Rasul-Nya.
Sesuai dengan tauladan yang diberikanlah Rasul saw. ia hidup sederhana dan
sangat besar perhatiannya kepada kaum sengsara terutama mereka yang diperlakukan
secara tidak adil oleh orang lain.
b. Pengangkatan Menjadi Khalifah
Bila Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. menjadi Khalifah melalui pemilihan kaum
muslimin maka Umar Ibnul Khattab r.a. dibaiat sebagai Khalifah berdasarkan
pencalonan yg diajukan oleh Abu Bakar r.a. beberapa saat sebelum wafat. Masa
kekhalifahan Umar Ibnul Khattab r.a. berlangsung selama kurang lebih 10 tahun.
Pada zaman Umar gelombang ekspansi (perluasan daerah kekuasaan)
pertama terjadi, ibu kota Syria, Damaskus, jatuh tahun 635 M. Karena perluasan

daerah terjadi dengan cepat, Umar segera mengatur administrasi negara dengan
mencontoh negara-negara yang sudah berkembang seperti, di Persia.
c. Model Pemerintahan Umar bin Khattab
Di bawah pemerintahannya wilayah kaum muslimin bertambah luas dengan
kecepatan luar biasa. Seluruh Persia jatuh ke tangan kaum muslimin. Sedangkan
daerah-daerah kekuasaan Byzantium seluruh daerah Syam dan Mesir satu persatu
bernaung di bawah bendera tauhid. Penduduk di daerah-daerah luar Semenanjung
Arabia berbondong-bondong memeluk agama Islam. Dengan demikian lslam bukan
lagi hanya dipeluk bangsa Arab saja tetapi sudah rnenjadi agama berbagai bangsa.
Sukses gilang-gemilang yang tercapai tak dapat dipisahkan dari peranan
Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. sebagai pemimpin. Ia banyak mengambil prakarsa
dalam mengatur administrasi pemerintahan sesuai dengan tuntutan keadaan yang
sudah berkembang. Demikian pula di bidang hukum. Dengan berpegang teguh
kepada prinsip-prinsip ajaran Islam dan dengan memanfaatkan ilmu-ilmu yg dimiliki
para sahabat Nabi Muhammad s.a.w.
Selama berada di bawah pemerintahan Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a.
musuh-musuh kaum muslimin memang tidak dapat berkutik. Namun bahaya latent
yang berupa rayuan kesenangan hidup duniawi tetap tumbuh dari sela-sela ketatnya
pengawasan Khalifah.
Dalam menghadapi tantangan yang sangat berat itu Khalifah Umar r.a. tidak
sedikit menerima bantuan dari Imam Ali r.a. Dalam masa yang penuh dengan
tantangan mental dan spiritual itu Imam Ali r.a. menunjukkan perhatiannya yang
dalam.
Dengan kekhalifahannya. itu Umar Ibnul Khattab r.a. telah menanamkan
kesan yang sangat mendalam di kalangan kaum muslimin. Ia dikenang sebagai
seorang pemimpin yang patut dicontoh dalam mengembangkan keadilan. Ia sanggup
dan rela menempuh cara hidup yang tak ada bedanya dengan cara hidup rakyat jelata.
Waktu terjadi paceklik berat sehingga rakyat hanya makan roti kering ia menolak
diberi samin oleh seorang yang tidak tega melihatnya makan roti tanpa disertai apaapa. Ketika itu ia mengatakan: Kalau rakyat hanya bisa makan roti kering saja aku
yg bertanggung jawab atas nasib mereka pun harus berbuat seperti itu juga.
Umar memerintah selama 10 tahun (13-23 H/ 634-644 M). Masa jabatannya
berakhir denga kematian. Dia dibunuh oleh seorang budak dari Persia bernama Abu
Luluah. Untuk menentukan penggantinya, Umar tidak menempuh jalan yang
dilakukan Abu Bakar. Dia menunjuk 6 orang sahabat dan meminta mereka untuk

memilih salah seorang untuk menjadi kholifah. Melalui persaingan yang agak ketat
akhirnya terpilihlah Utsman bin Affan sebagai kholifah selanjutnya.
2.2.3 Khalifah Utsman bin Affan (23 35 H/ 644 656 M)
a. Profil Utsman bin Affan Sebelum Menjadi Khalifah
Utsman r.a berasal dari sebuah keluarga bangsawan, dari orang-orang Quraisy
di Mekkah.Silsilah leluhurnya bertemu dengan Nabi Muhammad saw. Pada generasi
kelima. Ia dari keluarga bani Umayyah Qurais, yang merupakan keluarga dari
Mekkah yang memiliki reputasi baik dan terhormat. Utsman adalah salah satu
diantara beberapa orang makkah yang tau baca tulis. Ketika tumbuh dewasa,ia mulai
berbisnis kain yang telah membuatnya sangat kaya.Ia mengunakan uangnya dengan
cara yang baik-baik dan selalu membantu orang-orang miskin,oleh karena itu orang
makkah sangat menghormatinya.
Utsman termasuk golongan awal yang masuk islam melalui berita yang
disampaikan Abu bakar r.a.,sebelum menjadi khalifah iamembantu islam dengan
segenap harta kekayaannya dan juga berprestasi hampir dalam setiap pertempuran.
b. Pengangkatan Menjadi khalifah
Setelah terbunuhnya umar r.a. Utsman Bin Affan terpilih menjadi khalifah
ketiga berdasarkan suara mayoritas dalam musyawarah tim formatur yang anggotanya
dipilih oleh Khalifah Umar Bin Khaththab menjelang wafatnya. Saat menduduki
amanah sebagai khalifah beliau berusia sekitar 70 tahun. Pada masa pemerintahan
beliau, bangsa Arab berada pada posisi permulaan zaman perubahan. Hal ini ditandai
dengan perputaran dan percepatan pertumbuhan ekonomi disebabkan aliran kekayaan
negeri-negeri Islam ke tanah Arab seiring dengan semakin meluasnya wilayah yang
tersentuh syiar agama. Faktor-faktor ekonomi semakin mudah didapatkan. Sedangkan
masyarakat telah mengalami proses transformasi dari kehidupan bersahaja menuju
pola hidup masyarakat perkotaan.
c. Model Pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan
Dalam manajemen pemerintahannya Utsman menempatkan beberapa anggota
keluarga dekatnya menduduki jabatan publik strategis. Hal ini memicu penilaian ahli
sejarah untuk menekankan telah terjadinya proses dan motif nepotisme dalam
tindakan Utsman tersebut. Adapun daftar keluarga Utsman dalam pemerintahan yang
dimaksud sebagi alasan motif nepotisme tersebut adalah sebagai berikut :
1. Muawiyah Bin Abu Sufyan yang menjabat sebagi gubernur Syam, Beliau
termasuk Shahabat Nabi, keluarga dekat dan satu suku dengan Utsman.

2. Pimpinan Basyrah, Abu Musa Al Asyari, diganti oleh Utsman dengan


Abdullah bin Amir, sepupu Utsman.
3. Pimpinan Kuffah, Saad Bin Abu Waqqash, diganti dengan Walid Bin Uqbah,
saudara tiri Utsman. Lantas Walid ternyata kurang mampu menjalankan
syariat Islam dengan baik akibat minum-minuman keras, maka diganti oleh
Said Bin Ash. Said sendiri merupakan saudara sepupu Utsman.
4. Pemimpin Mesir, Amr Bin Ash, diganti dengan Abdullah Bin Saad Bin Abu
Sarah, yang masih merupakan saudara seangkat ( dalam sumber lain saudara
sepersusuan, atau bahkan saudara sepupu) Utsman
5. Marwan Bin Hakam, sepupu sekaligus ipar Utsman, diangkat menjadi
sekretaris Negara.
6. Khalifah dituduh sebagai koruptor dan nepotis dalam kasus pemberian dana
khumus (seperlima harta dari rampasan perang) kepada Abdullah Bin Saad
Bin Abu Sarah, kepada Mirwan bin Al Hakkam, dan kepada Al Harits Bin Al
Hakam.
Beberapa penulis Muslim mencoba melakukan rasionalisasi bahwa tindakan
Utsman tersebut bukan tanpa alasan. Hal ini merupakan sebuah upaya pembelaan
terhadap tindakan Utsman tidak atau bahkan sama sekali jauh dari motif nepotisme.
Sebagai contoh salah satu bentuk rasionalisasi menyebutkan bahwa Utsman
mengangkat wali-wali negeri dari pihak keluarga beralasan untuk memperkuat
wilayah

kekuasaannya

melalui

personal

yang

telah

jelas

dikenal

baik

karakteristiknya. Hal ini mengingat wilayah kekhilafahan pada masa Utsman semakin
meluas. Demikian juga tanggungjawab dakwah dimasing-masing wilayah tersebut.
Pemerintahan Usman berlangsung selama 12 tahun. Pada paroh terakhir masa
kekhalifahannya, muncul perasaan tidak puas dan kecewa dikalangan umat Islam
terhadapnya. Kepemimpinan Usman memang sangat berbeda dengan kepemimpinan
Umar. Ini mungkin karena umurrya yang lanjut (diangkat dalam usia 70 tahun) dan
sifatnya yang lemah lembut. Akhirnya, pada tahun 35H/ 655M, Usman dibunuh oleh
kaum pemberontak yang terdiri dari orang-orang yang kecewa itu.
2.2.4 Kholifah Ali bin Abi Thalib(35-40/656-661M)
a. Profil Ali bin Abi Thalib Sebelum Menjadi Khalifah
Ali r.a. lahir tiga puluh tahun setelah kelahiran Rasulullah SAW.Ia termasuk
dari keluarga yang sangat terpandang.Ayahnya bernama abu Thalib,semenjak kecil ia

di asuh oleh nabi sehingga masuk islam atas ajakan nabi.Ali termasuk Assabiqunal
Awwalun.Ali menikmati pahit getirnya kehidupan bersama nabi dan selalu setia
menolongnya.Ali r.a. adalah seorang yang sangat berani,dalam hampir setiap
peperangan

ia

mengikutinya.Karena

keberaniaannya

ia

mendapat

julukan

Asadullah(Singa Allah).Tidak sekedar pejuang besar tapi juga seorang ilmuan besar
Rasulullah SAW bersabda;Aku adalah kota ilmu pengetahuan dan Ali adalah pintu
gerbangnya.
b. Pengangkatan Menjadi khalifah
Tindakan memalukan dari para pemberontak atas pembunuhan kholifah tidak
pernah dapat di bayangkan.Pembunuhan atas utsman sesungguhnya karena perbuatan
faksi diantara umat islam yang merupakan tujuan Abdullah bin Saba dan para
pengikutnya(pemberontak)Setelah wafatnya khalifah Usman bin Affan, kaum
muslimin berada dalam kesedihan yang mendalam.

Kaum pemberontak yang

dipimpin oleh al Ghafiqi dari Mesir bermaksud mengadakan pendekatan kepada Ali
bin Abu Thalib, namun Ali menolak tawaan itu. Ditambah lagi beberapa kalangan
terutama dari Bani Umayyah menolak untuk membaiat Ali.
Keadaan serba sulit ini memaksa Ali untuk bersedia dibaiat. Umat Islam saat
itu tidak boleh dibiarkan terlalu lama tanpa adanya pemimpin. Bila hal ini tetap
dibiarkan, akan terjadi keadaan yang tidak diinginkan. Akhirnya Ali bin Abu Thalib
bersedia dibaiat pada hari Senin 21 Zulhijjah 35/20 Juni 656 di sebuah masjid. Orang
pertama yang membaiat Ali adalah Thalhah bin Ubaidillah. Setelah Ali bin Abu
Thalib dibaiat sebagai khalifah bukan berarti masalah selesai. Bani Umayyah seolah
semakin mendapat alasan untuk menuntut kematian Usman bin Affan.
c. Model Pemerintahan Kholifah Ali bin Abi Thalib
Setelah pelantikan Ali mulai melaksanakan tugasnya sebagai khalifah. Hal
pertama yang ia lakukan adalah mengganti beberapa gubernur, diantaranya
mengangkat Usman bin Hunaif al anshari untuk Bashrah, Sahl bin Hunaif untuk
Syam mengantikan Muawiyah, dan Qais bin saad bin Ubadah untuk Mesir. Ketiga
orang pengganti itu adalah kalangan Anshar.

Ali berpendirian bahwa sumber

kekacauan pada masa Usman adalah karena gubernur.


Muawiyah tetap bersikukuh tidak mau membaiat Ali bin Abu Thalib. Alas an
pertama adalah tuntutan Muawiyah atas para pembunuh Usman harus terlebih dahulu
ditangkap dan dihukum. Kedua karena tak ada suara bular dari kalagan tearkemukan
muslimin.

10

Muawiyah memiliki banyak mata-mata di Irak untuk membujuk orang dengan


diam-diam. Sebaliknya, Ali sedikit pun tak membayangkan akan melakukan hal
serupa. Ambisi Ali untuk memegang amanah kuat kuat dan menaati janji yang telah
dibuatnya dengan siapapun. Muawiyah tetap bersikap hendak bertahan di Damsyik.
Ia mengundang pemuka Syam dan pemimpian militer dengan mengemukakan malsud
Ali

sekaligus

mendramatisasi

pembunuhan

atas

Khalifah

Usman

dengan

mempertontonkan baju perang Khalifah yang berlumuran darah dan potongan jari
istri khalifah.
Untuk mengatasi hal ini, Ali memindahkan ibu kota ke Kuffah.

Karena

suasana di Basrah sudah tidak kondusif lagi. Kufah kemudian tumbuh menjadi kota
intelektual dan kebudayaan Islam, pusat studi bahasa arab, fisiologi dan pertumbuhan
sastra. Selama masa pemerintahan Muawiyah, Kufah adalah kota penuh dengan
pergolakan.
Puncak pemberontakan Thalhah, Aisyah dan Zubair adalah saat terjadi perang
Jamal. Disebut perang Jamal, karena saat peperangan, Aisyah berperang dengan
menunggangi kuda.

Kemengangan berada di pihak Ali.

Sedangkan puncak

pemberontakan Muawiyah berada pada perang Shiffin. Kemenangan hampir berada


di tangan Ali, tetapi berkat politik dari Muawiyah yang mengangkat Al-Quran
sebagai tanda damai, menyebabkan pasukan muslim terpecah menjadi berbagai
golongan.

Pasukan yang tetap membela Ali (Syiah) dan pasukan yang kembali

(khawarij) dan tidak mau lagi berperang membela amirulmukminin. Akibatnya,


kemenangan berada di tangan Muawiyah. Tahkim pun dilakukan, yang dipimpin oleh
Amr bin Ash, dia mengokohkan untuk menurunkan jabatan khalifah Ali dan jabatan
Muawiyah, serta menyerahkan pemilihan pemimpin di tangan umat. Dengan ini
bertakhirlah masa pemerintahan khalifah, dan diganti oleh kekuasaan Bani Umayyah.
Bentuk pemerintahan menjadi sistem kerajaan dan kekuasaan dialihkan secara turuntemurun. Tidak ada lagi budaya musyawarah sebagaimana dilakukan pada masa
Khulafaurrasyidin dan Rasulullah. Khalifah Ali dibunuh pada tanggal 17 Ramadhan
dan wafat pada 20 Ramadhan 40 H/ 24 Januari 661 M pada usia 63 tahun. Sebelum
meninggal, Ali berwasiat kepada putranya Hasan dan husein untuk bertakwa kepada
Allah, tidak mengejar dunia, jangan menyesali sesuatu yang sudah lepas, dan jangan
membunuh orang yang membunuh kecuali pembunuhnya dan tak menyiksanya
terlebih dahulu.
Setelah wafatnya Ali bin Abu Thalib, Hasan putra Amirulmukminin,
melakukan perjanjian dengan pihak Muawiyah.

Isi perjanjian ini semakin

menguatkan posisi Muawiyah untuk menjadi pemimpin Umat Islam selanjutnya.

11

Masa pemerintahan Khulafaurrasyidin pun berakhir dan berganti ke keuasaan Bani


Umayyah

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Rasulullah wafat pada hari Senin, tanggal 13 Rabiul Awal tahun ke sebelas Hijriah,
atau pada tanggal 8 juni 632 Masehi
Khalifah pertama pengganti Rasulullah adalah Abu Bakar Ash-shidiq
Khalifah Abu Bakar behasil melakukan pembukuan Al-Quran, memberantas nabi-nabi
palsu, memaksa orang kaya untuk membayar zakat.
Khalifah kedua pengganti Rasulullah adalah Umar bin Khattab
Khalifah Umar berhasil memperluas wilayah Islam, merupakan pemimpin Islam yang
disegani oleh umat.
Khalifah ketiga pengganti Rasulullah adalah Ustman Bin Affan
Khalifah Ustman mulai melakukan praktik KKN, sehingga banyak rasa ketidakpuasan
muncul dari umat Islam.
Khalifah keempat pengganti Rasulullah adalah Ali Bin Abi Thalib
Masa pemerintahan Ali banyak terjadi ketidakseimbangan pemerintahan, meskipun
begitu Khalifah Ali tetap mengembangkan Ilmu pengetahuan.
3.2 Saran
Di harapkan para pembaca bisa mencontoh sisi positif dari kepemimpinan para
kholifah.
Menambah rasa kecintaannya terhadap agama dan Al-quran.
Meneruskan perjuangan kholifah sesuai dengan profesinya yang dijalani sekarang.

12

DAFTAR PUSTAKA
Asul Al-Mubarakfury, Shafiyyurrahman.2003. Perjalanan Hidup Rasul yang Agung
Muhammad dari Kelahiran Hingga Detik-detik Terakhir. Jakarta: Darul Haq.
Audah, Ali. 2007. Ali bin Abi Thalib Sampai Kepada Hasan dan Husen. Jakarta: Litera
Antar Nusa
Chalil, Moenawar. 2001. Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad. Jakarta: Gema Insani Pers
Djabbar, Umar Abdul. 1999. Nurul Yaqin Sejarah Nabi Muhamnmad. Surabaya: Ahmad
Nabhan
Khan,Majid Ali.2000.Sisi Hidup Para Khalifah Shaleh.Surabaya: Risalah Gusti
Yatim, Badri. 1993. Sejarah peradaban Islam Dirasah Islamiyah II. Jakarta: Raja Grafindo

13