Anda di halaman 1dari 48

Mobilisasi dan Imobilisasi

KELOMPOK 2
I G A RISMA C. ANGGREANI
I G A SINTHA OETAMI
I G A SRI PUTRI
I KADEK ARIYASA PUTRA
I MD DODIEK V. WIJAYA
I MADE JULIARTANA
I PUTU HARIWAN SAHISNU
I PUTU MERTA ADIWARDANA

1. Pengertian Mobilisasi dan


Imobilisasi
MOBILISASI
Mobilisasi merupakan kemampuan
seseorang untuk bergerak bebas, mudah,
teratur, mempunyai tujuan memenuhi
kebutuhan hidup aktivitasnya guna
mempertahankan kesehatannya ( A. Aziz,
2006)
Mobilisasi adalah suatu kondisi dimana

tubuh dapat melakukan kegiatan dengan


bebas ( Kosier, 1989).

mobilisasi
Mobilisasi adalah kemampuan seseorang

untuk bergerak secara bebas, mudah dan


teratur yang bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan hidup sehat. Mobilisasi
diperlukan untuk meninngkatkan
kesehatan, memperlambat proses penyakit
khususnya penyakit degeneratif dan untuk
aktualisasi.Mobilisasi menyebabkan
perbaikan sirkulasi, membuat napas dalam
dan menstimulasi kembali fungsi
gastrointestinal normal, dorong untuk
menggerakkan kaki dan tungkai bawah
sesegera mungkin, biasanya dalam waktu

Jenis Mobilisasi

1.Mobilisasi Penuh
2.Mobilisasi Sebagian
Mobilisasi sebagian ini dibagi menjadi dua jenis
yaitu
a. Mobilitas Sebagian Temporer
contohnya: dislokasi sendi dan tulang.
b. Mobilitas Sebagian Permanen
contoh: hemiplegia akibat stroke, paraplegi
karena cedera tulang belakang.

Imobilisasi
Keadaan dimana individu tidak dapat

bergerak dengan bebas karena kondisi


yang mengganggu
pergerakan(aktivitas).misalnya trauma
tulang belakang ,cedera otak berat disertai
fraktur pada ekstremitas dan
sebagainya.Imobilisasi merupakan
pembatasan gerak atau keterbatasan fisik
dari anggota badan dan tubuh itu sendiri
dalam berputar, duduk dan berjalan, hal ini
salah satunya disebabkan oleh berada
pada posisi tetap dengan gravitasi
berkurang seperti saat duduk atau

Jenis Imobilitas
1.Imobilitas.
2.Imobilitas Intelektual
3.Imobilitas Emosional
4.Imobilitas Sosial

2. PENGANTAR MEKANIKA
TUBUH
Mekanika tubuh adalah usaha kordinasi

dari muskuskeletal dan system saraf untuk


mempertahankankeseimbangan yang
tepat.
Mekanika tubuh pada dasarnya adalah

bagaimana tubuh secara efesien


terkordinasi dan aman sehingga
menghasilkan gerakan yang baik dan
memelihara keseimbangan selama
beraktifitas.

a. Prinsip mekanika tubuh


1) Gravitasi
Pusat gravitasi
Garis gravitasi
Dasar tumpuan

2) Keseimbangan

b. Komponen mekanika
tubuh.

1. Tulang
2. Otot
3. Tendon
4. Ligamen
5. Kartilago
6. Sendi

Macam

c. Pergerakan dasar dalam


mekanika Tubuh
1)
Gerakan (ambulating)
2) Menahan (squatting)
3) Menarik (pulling)
4) Mengangkat (lifting)
5)Memutar (pivoting)

d. Faktor-faktor yang
mempengaruhi Mekanika tubuh
1) Status kesehatan
2) Nutrisi
3) Emosi
4) Situasi dan Kebiasaan
5) Gaya Hidup
6) Pengetahuan

e. Dampak Mekanika
Tubuh yang Salah
1) Terjadi ketergantungan sehingga
memudahkan timbulnya kelelehan dan
gangguan dalam muskuskeletal.
2) Resiko terjadi kecelakaan dalam
muskuskeletal, misalnya seseorang yang
salah berjongkok atau berdiri.

3. PENGATUR GERAK
Sistem Skeletal
Karakteristik Tulang
Sendi

Mobilisasi sendi adalah suatu tehnik yang digunakan untuk menangani


disfungsi sendi seperti kekakuan, hipomobilitas sendi reversibel dan
nyeri.
Mobilisasi merupakan gerakan pasif yang dilakukan oleh fisioterapis pada
kecepatan yang cukup lambat sehingga pasien dapat menghentikan
gerakan.
Tehnik yang diaplikasikan dapat berupa gerakan osilasi, stakato, atau
penguluran secara kontinyu untuk meningkatkan mobilitas dan
mengurangi nyeri baik dengan gerakan fisiologis atau gerakan assesori.
Gerakan fisiologis didasari oleh gerak osteokinamatik seperti fleksi,
ekstensi, dan rotasi. Sedangkan gerakan assesori, didasari oleh gerak
artrokinematik berupa traksi-distraksi, translasi, roll slide, dan
manipulasi.

Klasifikasi

MengkajiFungsional Klien
(Kozier, 2010)
Kategori tingkat kemampuan aktivitas

TINGKAT
AKTIVITAS/
MOBILITAS

KATEGORI

Mampu merawat sendiri secara penuh

Memerlukan penggunaan alat

Memerlukan bantuan atau pengawasan orang lain

Memerlukan bantuan, pengawasan orang lain, dan


peralatan
Sangat tergantung dan tidak dapat melakukan atau
berpartisipasi dalam perawatan

Derajat kekuatan otot


SKALA
0

PERSENTASE
KEKUATAN
NORMAL (%)
0

KARAKTERISTIK

10

Tidak ada gerakan, kontraksi otot dapat


di palpasi atau dilihat

25

Gerakan otot penuh melawan gravitasi


dengan topangan

50

Gerakan yang normal melawan gravitasi

75

Gerakan penuh yang normal melawan


gravitasi dan melawan tahanan minimal

100

Kekuatan normal, gerakan penuh yang


normal melawan gravitasi dan tahanan
penuh

Paralisis sempurna

KATZ INDEX
AKTIVITAS

KEMANDIRIAN
(1 poin)
TIDAK ADA pemantauan,
perintah ataupun didampingi

KETERGANTUNGAN
(0 poin)
Dengan pemantauan, perintah,
pendampingan personal atau
perawatan total

MANDI

(1 poin)
Sanggup mandi sendiri tanpa
bantuan, atau hanya memerlukan
bantuan pada bagian tubuh tertentu
(punggung, genital, atau
ekstermitas lumpuh)

(0 poin)
Mandi dengan bantuan lebih dari satu
bagian tuguh, masuk dan keluar kamar
mandi. Dimandikan dengan bantuan
total

BERPAKAIAN

(1 poin)
Berpakaian lengkap mandiri. Bisa
jadi membutuhkan bantuan unutk
memakai sepatu

(0 poin)
Membutuhkan bantuan dalam
berpakaian, atau dipakaikan baju
secara keseluruhan

TOILETING

(1 poin)
Mampu ke kamar kecil (toilet),
mengganti pakaian, membersihkan
genital tanpa bantuan

(0 poin)
Butuh bantuan menuju dan keluar
toilet, membersihkan sendiri atau
menggunakan telepon

. KATZ INDEX
PINDAH POSISI

KONTINENSIA

MAKAN

(1 poin)
Masuk dan bangun dari tempat
tidur / kursi tanpa bantuan. Alat
bantu berpindah posisi bisa
diterima
(1 poin)
Mampu mengontrol secara baik
perkemihan dan buang air besar
(1 poin)
Mampu memasukkan makanan
ke
mulut
tanpa
bantuan.
Persiapan makan bisa jadi
dilakukan oleh orang lain.

Total Poin :
6 = Tinggi (Mandiri);
4 = Sedang;
<2 = Ganggaun fungsi berat;
0 = Rendah (Sangat tergantung)

(0 poin)
Butuh bantuan dalam
berpindah dari tempat tidur
ke kursi, atau dibantu total
(0 poin)
Sebagian
atau
total
inkontinensia bowel dan
bladder
(0 poin)
Membutuhkan
bantuan
sebagian atau total dalam
makan, atau memerlukan
makanan parenteral

Indeks ADLBARTHEL (BAI)


NO
1

FUNGSI
Mengendalikan
rangsang pembuangan
tinja

SKOR
0
1
2

KETERANGAN
Tak terkendali/ tak teratur (perlu
pencahar).
Kadang-kadang tak terkendali (1x
seminggu).
Terkendali teratur.

Mengendalikan
rangsang berkemih

0
1
2

Tak terkendali atau pakai kateter


Kadang-kadang
tak
terkendali
(hanya 1x/24 jam)
Mandiri

Membersihkan
diri
(seka
muka,
sisir
rambut, sikat gigi)

0
1

Butuh pertolongan orang lain


Mandiri

Penggunaan jamban,
masuk
dan
keluar
(melepaskan, memakai
celana, membersihkan,
menyiram)

0
1
2

Tergantung pertolongan orang lain


Perlu pertolongan pada beberapa
kegiatan tetapi dapat mengerjakan
sendiri beberapa kegiatan yang lain.
Mandiri

Makan

Tidak mampu

. Indeks ADLBARTHEL (BAI)


6

Berubah
sikap
dari berbaring ke
duduk

0
1
2
3

Berpindah/
berjalan

Memakai baju

0
1
2
3
0
1
2

Naik
tangga

10

Mandi

turun

Skor BAI :
20: Mandiri
12-19: Ketergantungan
ringan
9-11: Ketergantungan

0
1
2
0
1

Tidak mampu
Perlu banyak bantuan untuk bias
duduk
Bantuan minimal 1 orang.
Mandiri
Tidak mampu
Bisa (pindah) dengan kursi roda.
Berjalan dengan bantuan 1 orang.
Mandiri
Tergantung orang lain
Sebagian dibantu (mis: memakai
baju)
Mandiri.
Tidak mampu
Butuh pertolongan
Mandiri
Tergantung orang lain
Mandiri

5-8: Ketergantungan
berat
0-4: Ketergantungan

4. PENGARUH PATOLOGI DAN


KESEJAJARAN TUBUH DAN MOBILISASI

Kesejajaran tubuh dan Postur : merupakan


istilah yang sama, dan mengacu pd posisi
sendi, tendon, ligamen, dan otot selama
berdiri, duduk, dan berbaring.
Kesejajaran tubuh yg benar mengurangi
ketegangan pd struktur muskuloskeletal,
mempertahankan tonus otot secara
adekuat dan menunjang keseimbangan.
Banyak kondisi patologis yang
mempemgaruhi kesejajaran tubuh dan
mobiliasi.

Ada empat pengaruh patologis pada


kesejajaran tubuh dan mobilisasi yaitu
kelainan postur
gangguan perkembangan otot
kerusakan system saraf pusat
trauma langsung pada system

musculoskeletal.

5. GANGGUAN MOBILISASI
a. Kelainan Postur Tubuh
b. Kerusakan Sistem Syaraf Pusat.
c. Perubahan Metabolik
d. Perubahan Sistem Respiratori
e. Perubahan Sistem Kardiovaskuler

Perubahan System Integument


(Potter, Perry : 1997 )
f.

a. Kelainan Postur
Tubuh Deskripsi
Ketidak

Penyebab

Penatalaksanaan

normalan
Tortikolis

Mencondongkan kepala

Kondisi kongenital Operasi, pemanasan, topangan

kesisi yang sakit, dimana

atau didapat

otot sterno

atau imobilisasi, berdasarkan


penyebab dan tingkat keparahan

kleidomastoideus
berkontraksi
Lordosis

Kurva anterior pada spinalis Kondisi kongenital. Latihan peregangan spinal


lumbal yang melengkung

Kondisi temporer

berlebihan

(mis. Kehamilan)

(berdasarkan penyebab)

kelainan postur tubuh


Kifosis

Peningkatan

Kondisi kongenital.

Latihan peregangan spinal, tidur

kelengkungan pada

Penyakit tulang/

tanpa bantal, menggunakan papan

kurva spinal torakal

Ricket Tuberkulosis

tempat tidur, memakai brace/jacket,

spinal

penggabungan spinal (berdasarkan


penyebab dan tingkat keparahan)

Kifolordosis

Kombinasi dari dan

Kondisi kongenital

lordosis

Sama dengan metode yang disunakan


untuk kifosis dan lordosis
(berdasarkan penyebab)

Skoliosis

Karvatura spinal lateral,

Kondisi kongenital

Immobilisasi dan operasi

tinggi pinggul dan bahu

Poliomielitis

(berdasarkan penyebab dan tingkat

tidak sama

Paralisis spatik

keparahan)

Panjang kaki tidak


sama
Kifoskoliosis

Tidak normalnya kurva

Kondisi kongenital

Immobilisasi dan operasi

spinal anteroposterior

Poliomielitis

(berdasarkan penyebab dan tingkat

dan lateral

Kor Pulmonal

keparahan)

kelainan postur tubuh


Displasia

Ketidakstabilan pinggul dengan

Kondisi

Mempertahankan abduksi paha

pinggul

keterbatasan abduksi pinggul, dan

kongenital

yang terus menerus sehingga

kongenital

kadang-kadang kontraktur adduksi

(biasanya dengan kaput femur menekan ke bagian

(kaput femur tidak tersambung

kelahiran

tengah asetabulum

dengan assebulum karena abnormal sungsang)

Bebat abduksi, gips,

kedangkalan asetabulum)

pembedahan

Knock-knee

Kurva kaki yang masuk ke dalam

Kondisi

Knee brances, operasi jika tidak

(genu-

sehingga lutut rapat jika seseorang

kongenital

dapat diperbaiki oleh

valgum)

berjalan

Penyakit tulang/

pertumbuhan

Ricket
Bowlegs

Satu atau dua kaki bengkok keluar

Kondisi

Memperlambat kurva jika tidak

(Genu

pada lutut, kondisi ini normal

kongenital

dapat diperbaiki oleh

varum)

sampai usia 2-3 tahun

Penyakit tulang/

pertumbuhan

Ricket

Dengan penyakit tulang


meningkatkan vitamin D,
kalsium, dan fosfor

kelainan postur tubuh


Clubfoot

95%: deviasi medial dan

Kondisi kongenital Gips, pembidaian seperti

plantar-fleksi kaki

Denis-Browne splint, dan

(equinovarus)

operasi (tergantrung

5%: deviasi lateral dan

tingkat deformitas)

dorsifleksi (calcaneovalgus)
Footdrop

Plantarfleksi,

Kondisi kongenital Tidak ada (tidak dapat

ketidakmampuan menekuk

Trauma

kaki karena kerusakan saraf

Posisi Immobilisasi Dicegah melalui terapi

patoreal
Pigeon-toes Rotasi dalam kaki depan,
biasa pada bayi

dikoreksi)
fisik

Kondisi kongenital Pertumbuhan,


Kebiasaan

menggunakan sepatu
terbalik

B. Range Of Motion (ROM)


ROM ( Range of Motion) adalah jumlah

maksimum gerakan yang mungkin dilakukan


sendi pada salah satu dari tiga potongan
tubuh, yaitu sagital, transversal, dan frontal.
Potongan sagital adalah garis yang melewati

tubuh dari depan ke belakang, membagi tubuh


menjadi bagian kiri dan kanan.
Potongan frontal melewati tubuh dari sisi ke sisi
dan membagi tubuh menjadi bagian depan ke
belakang. Potongan transversal adalah garis
horizontal yang membagi tubuh menjadi bagian
atas dan bawah.

..Range Of Motion (ROM)

Pengertian ROM lainnya adalah latihan

gerakan sendi yang memungkinkan


terjadinya kontraksi dan pergerakan otot,
dimana klien menggerakan masing-masing
persendiannya sesuai gerakan normal baik
secara aktif ataupun pasif.
Latihan range of motion (ROM) adalah

latihan yang dilakukan untuk


mempertahankan atau memperbaiki
tingkat kesempurnaan kemampuan
menggerakan persendian secara normal
dan lengkap untuk meningkatkan massa

Adapun tujuan dari ROM (Range Of


Motion), yaitu :
Meningkatkan atau mempertahankan

fleksibiltas dan kekuatan otot


Mempertahankan fungsi jantung dan
pernapasan
Mencegah kekakuan pada sendi
Merangsangsirkulasidarah
Mencegahkelainanbentuk,
kekakuandankontraktur

Adapun manfaat dari ROM


(Range Of Motion), yaitu :
Menentukan nilai kemampuan sendi

tulang dan otot dalam melakukan


pergerakan
Mengkaji tulang, sendi, dan otot
Mencegah terjadinya kekakuan sendi
Memperlancar sirkulasi darah
Memperbaiki tonus otot
Meningkatkan mobilisasi sendi
Memperbaiki toleransi otot untuk
latihan

Prinsip Latihan ROM


(Range Of Motion)
ROM harus diulang sekitar 8 kali dan dikerjakan

minimal 2 kali sehari


ROM di lakukan berlahan dan hati-hati sehingga tidak
melelahkan pasien.
Dalam merencanakan program latihan ROM, perhatikan
umur pasien, diagnosa, tanda-tanda vital dan lamanya
tirah baring.
Bagian-bagian tubuh yang dapat di lakukan latihan
ROM adalah leher, jari, lengan, siku, bahu, tumit, kaki,
dan pergelangan kaki.
ROM dapat di lakukan pada semua persendian atau
hanya pada bagian-bagian yang di curigai mengalami
proses penyakit.
Melakukan ROM harus sesuai waktunya. Misalnya
setelah mandi atau perawatan rutin telah di lakukan.

Jenis-jenis ROM (Range Of Motion)

a. ROM Aktif
ROM Aktif yaitu gerakan yang dilakukan oleh seseorang (pasien)
dengan menggunakan energi sendiri. (klien aktif). Kekuatan otot
75 %.
Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi
dengan cara menggunakan otot-ototnya secara aktif. Sendi yang
digerakkan pada ROM aktif adalah sendi di seluruh tubuh dari
kepala sampai ujung jari kaki oleh klien sendri secara aktif.
b. ROM Pasif
ROM Pasif yaitu energi yang dikeluarkan untuk latihan berasal dari
orang lain (perawat) atau alat mekanik. (klienpasif). Kekuatanotot
50 %.
Indikasi latihan pasif adalah pasien semikoma dan tidak sadar,
pasien dengan keterbatasan mobilisasi tidak mampu melakukan
beberapa atau semua latihan rentang gerak dengan mandiri,
pasien tirah baring total atau pasien dengan paralisis ekstermitas
total (suratun, dkk, 2008).

Indikasi dan Sasaran ROM


a. ROM Aktif :
1) Indikasi :
Pada saat pasien dapat melakukan kontraksi otot secara aktif
dan menggerakkan ruas sendinya baik dengan bantuan
atau tidak.
Pada saat pasien memiliki kelemahan otot dan tidak dapat
menggerakkan persendian sepenuhnya, digunakan A-AROM
(Active-Assistive ROM, adalah jenis ROM Aktif yang mana
bantuan diberikan melalui gaya dari luar apakah secara
manual atau mekanik, karena otot penggerak primer
memerlukan bantuan untuk menyelesaikan gerakan).
ROM Aktif dapat digunakan untuk program latihan aerobik.
ROM Aktif digunakan untuk memelihara mobilisasi ruas
diatas dan dibawah daerah yang tidak dapat bergerak.

Indikasi dan Sasaran ROM

2) Sasaran :
Apabila tidak terdapat inflamasi dan

kontraindikasi, sasaran ROM Aktif serupa


dengan ROM Pasif.
Keuntungan fisiologis dari kontraksi otot
aktif dan pembelajaran gerak dari kontrol
gerak volunter.
Sasaran spesifik:
Memelihara elastisitas dan kontraktilitas fisiologis dari otot yang
terlibat
Memberikan umpan balik sensoris dari otot yang berkontraksi
Memberikan rangsangan untuk tulang dan integritas jaringan
persendian
Meningkatkan sirkulasi
Mengembangkan koordinasi dan keterampilan motorik

Indikasi dan Sasaran ROM


b. ROM Pasif
1) Indikasi :
Pada daerah dimana terdapat inflamasi jaringan akut yang apabila

dilakukan pergerakan aktif akan menghambat proses penyembuhan


Ketika pasien tidak dapat atau tidak diperbolehkan untuk bergerak
aktif pada ruas atau seluruh tubuh, misalnya keadaan koma,
kelumpuhan atau bed rest total

2) Sasaran :
Mempertahankan mobilitas sendi dan jaringan ikat
Meminimalisir efek dari pembentukan kontraktur
Mempertahankan elastisitas mekanis dari otot
Membantu kelancaran sirkulasi
Meningkatkan pergerakan sinovial untuk nutrisi tulang rawan serta

difusi persendian
Menurunkan atau mencegah rasa nyeri
Membantu proses penyembuhan pasca cedera dan operasi
Membantu mempertahankan kesadaran akan gerak dari pasien

Kontraindikasi dan Hal-hal yang


harus diwaspadai pada latihan ROM

Latihan ROM tidak boleh diberikan apabila

gerakan dapat mengganggu proses


penyembuhan cedera.
ROM tidak boleh dilakukan bila respon pasien

atau kondisinya membahayakan (life


threatening)

PERAWATAN POST OPERASI


ORIF DAN OREF
1. PENGERTIAN ORIF
ORIF adalah suatu bentuk pembedahan
dengan pemasangan internal fiksasi pada
tulang yang mengalami fraktur. ORIF (Open
Reduksi Internal Fiksasi), open reduksi
merupakan suatu tindakan pembedahan
untuk memanipulasi fragmen-fragmen
tulang yang patah / fraktur sedapat
mungkin kembali seperti letak asalnya.
Internal fiksasi biasanya melibatkan
penggunaan plat, sekrup, paku maupun
suatu intramedulary (IM) untuk
mempertahan kan fragmen tulang dalam

PENGERTIAN OREF
OREF adalah reduksi terbuka dengan fiksasi
internal di mana prinsipnya tulang
ditransfiksasikan di atas dan di bawah
fraktur , sekrup atau kawat ditransfiksi di
bagian proksimal dan distal kemudian
dihubungkan satu sama lain dengan suatu
batang lain.
Fiksasi eksternal digunakan untuk
mengobati fraktur terbuka dengan
kerusakan jaringan lunak

Indikasi ORIF dan OREF


Indikasi ORIF :
Fraktur yang tak bisa sembuh
atau bahaya avasculair nekrosis
tinggi, misalnya fraktur talus dan
fraktur collum femur.
Fraktur yang tidak bisa direposisi
tertutup. Misalnya fraktur avulse
dan fraktur dislokasi.
Fraktur yang dapat direposisi
tetapi sulit dipertahankan.
Misalnya fraktur Monteggia,
fraktur Galeazzi, fraktur
antebrachii, dan fraktur
pergelangan kaki.
Fraktur yang berdasarkan
pengalaman memberi hasil yang
lebih baik dengan operasi,
misalnya : fraktur femur

Indikasi OREF :
Fraktur terbuka derajatI II
Fraktur dengan kerusakan jaringan

lunak yang luas


Fraktur dengan gangguan

neurovaskuler
Fraktur Kominutif
Fraktur Pelvis

PERAWATAN LUKA POST OPERASI ORIF DAN OREF

Merawat luka adalah untuk mencegah trauma pada


kuit, membran mukosa atau jaringan lain yang
disebabkan oleh adanya trauma , fraktur, luka
operasi yang dapat merusak permukaan kulit.
Menurut Mansjoer Luka adalah keadaan hilang atau
terputusnya kontinuitas jaringan.
Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan
tubuh yang disebabkan oleh trauma benda tajam
atau tumpul, perubahan suhu, zat kimia, ledakan,
sengatan listrik atau gigitan hewan (R. Sjamsu
Hidayat).

PERAWATAN LUKA POST OPERASI


ORIF DAN OREF
Tujuan Melakukan Perawatan Luka
Memberikan lingkungan yang memadai untuk
penyembuhan luka.
Absorbsi drainase.
Menekan dan imobilisasi luka.
Mencegah jaringan epitel baru dari cedera
mekanis.
Mencegah luka dari kontaminasi.
Meningkatkan hemostasis dengan menekan
dressing.
Memberikan rasa nyaman mental dan fisik pada
pasien.

Penatalaksanaan atau Perawatan Luka


Dalam manajemen perawatan luka ada beberapa tahap
yang dilakukan yaitu evaluasi luka, tindakan antiseptik,
pembersihan luka, penjahitan luka, penutupan luka,
pembalutan, pemberian antiboitik dan pengangkatan
jahitan.
1. Evaluasi luka meliputi anamnesis dan pemeriksaan fisik
(lokasi dan eksplorasi).
2. Tindakan Antiseptik, prinsipnya untuk mensucihamakan
kulit.Untuk melakukan pencucian/pembersihan luka
biasanya digunakan cairan atau larutan antiseptik
3. Pembersihan Luka
Untuk meningkatkan, memperbaiki dan mempercepat proses
penyembuhan luka serta menghindari terjadinya infeksi.

Beberapa langkah yang harus diperhatikan


dalam pembersihan luka yaitu :
Irigasi dengan sebanyak-banyaknya
dengan tujuan untuk membuang jaringan
mati dan benda asing.
Hilangkan semua benda asing dan eksisi
semua jaringan mati.
Berikan antiseptik.
Bila diperlukan tindakan ini dapat dilakukan

dengan pemberian anastesi lokal.


Bila perlu lakukan penutupan luka.

4. Penjahitan luka
Luka bersih dan diyakini tidak mengalami infeksi serta
berumur kurang dari 8 jam boleh dijahit primer,
sedangkan luka yang terkontaminasi berat dan atau
tidak berbatas tegas sebaiknya dibiarkan sembuh.
5. Penutupan Luka
Penutupan luka adalah mengupayakan kondisi
lingkungan yang baik pada luka sehingga proses
penyembuhan berlangsung optimal.
6. Pembalutan
Pertimbangan dalam menutup dan membalut luka sangat
tergantung pada penilaian kondisi luka. Pembalutan
berfungsi sebagai pelindung terhadap penguapan,
infeksi, mengupayakan lingkungan yang baik bagi luka
dalam proses penyembuhan, sebagai fiksasi dan efek
penekanan yang mencegah berkumpulnya rembesan
darah yang menyebabkan hematom.

7. Pemberian Antibiotik
Prinsipnya pada luka bersih tidak perlu diberikan
antibiotik dan pada luka terkontaminasi atau
kotor maka perlu diberikan antibiotik.
8. Pengangkatan Jahitan
Jahitan diangkat bila fungsinya sudah tidak
diperlukan lagi. Waktu pengangkatan jahitan
tergantung dari berbagai faktor seperti, lokasi,
jenis pengangkatan luka, usia, kesehatan, sikap
penderita dan adanya infeksi.

SEKIAN
TERIMAKASIH

Anda mungkin juga menyukai