Anda di halaman 1dari 11

MUTIARA AL-HIKAM AL-ATHOIYYAH (2-b)

UJIAN PARA ULAMA


"


"
Wa iraadatuka al-asbaaba maa iqoomatillahi iyyaka fit tajriidi inhithothun anil himmatil aliyyah
Artinya : dan keinginanmu pada maqom asbab, padahal Allah telah mendudukkan mu pada maqom
tajrid, termasuk degradasi dari cita-cita yang luhur.
Syaikh Ibn Athoillah menjelaskan, bahwa ada kalanya seseorang itu justeru punya keinginan sibuk
pada maqom asbab, meskipun telah didudukkan Allah swt pada maqom tajrid. Orang seperti ini
termasuk golongan yang terdegradasi kedudukannya yang luhur di sisi Allah swt atau perbuatan yang
nyata-nyata sebagai hawa nafsu (asy-syahwat al-jaliyyah).
Maqom tajrid yang dimiliki para ulama juga tidak lepas dari ujian Allah SWT. Semestinya jika seorang
yang sudah pada maqom tajrid, hatinya serta segala gerak-geriknya hanyalah tertuju taabbud kepada
Allah swt. Namun syaitan cukup canggih untuk menggoda mereka, sehingga bisa jadi justeru orang
tersebut berpaling dari Allah swt serta disibukkan dengan urusan dunia (siwallah). Bahkan yang lebih
parah lagi, ulama yang sudah pada maqom tajrid tadi memanfaatkan ilmunya untuk orientasi duniawi
yang fana, sehingga jauh dari kikhlasan dalam mengamalkan dan mengajarkan ilmunya.
Al-Kisah pada zaman Bani Israil terdapat seorang yang sangat alim pada masa Nabi Musa AS,
namanya Balam bin Bauro. Selain alim Balam terkenal sebagai ulama yang doanya mustajab,
sehingga banyak orang yang meminta doa kepadanya. Suatu saat ada penguasa lalim yang
kekuasaanya terdesak oleh Nabi Musa AS datang kepada Balam untuk meminta doa melawan Nabi
Musa AS. Permintaan itu awalnya ditolak, namun setelah dihadiahi wanita cantik oleh penguasa yang
lalim tadi untuk dijadikan isteri, akhirnya Balam pun luluh hatinya dengan memenuhi permintaan
penguasa yang lalim tadi.
Imam Sufyan ats-Tsauri menisbatkan kisah Balam bin Baura tersebut sebagai bagian dari sababun
nuzul ayat 175-176 Surat al-Araf berikut ini :







Artinya : Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat
Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia
diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat (175) Dan
kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia
cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti
anjing jika kamu menghalaunya diulurkanlah lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan
lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka
ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir (176).
Wal-Hasil, pada maqom apapun kita, harus berhati-hati dengan rayuan syaitan serta tarikan hawa
nafsu yang terkutuk. Semoga Allah SWT melindungi kita dari godaan Syaitan serta membimbing kita ke
jalan yang diridloi-Nya, sehingga keimanan dalam hati kita semakin kokoh hingga akhir hayat kita
termasuk golongan yang husnul khotimah. Amien. Wallahu Alam (al-Faqir HM. Jauhar Hatta Hasan)

HABIB ALI & ULAMA YANG TAWADHU


Al Alim Al Habib Ali Al Jufri & Al Allamah Asy- Syaikh Dawud (Mufti Syafii Rusia)
Habib Ali Jufri berziarah kepada Ulama Mastur (tidak dikenal) yang tinggal di Syisyan (Rusia) . Ulama ini bernama Syeikh
Dawud, salah seorang mufti madzhab Syafii yang merupakan guru dari ulama-ulama penting di Syisyan. Selama duduk
dengan beliau, Syeikh Dawud selalu menundukkan kepalanya memandang ke arah bumi, hampir tidak sedikitpun
mengangkat kepalanya.
Ketika Habib Ali bertanya kepada beliau siapa lagi orang sholeh di daerah ini yang layak diziarahi, beliau menjawab,
Semua orang di kota ini sholeh, kecuali aku. Masya ALLAHDiantara doa beliau ketika duduk bersama Habib Ali,
Ya Allah aku berlindung kepadamu,supaya aku tidak menjadi orang yang mulia di mata manusia,tetapi hina dalam
pandanganmu.

KEIKHLASAN GURU
Menjadi Guru itu harus ikhlas. Janganlah orientasi harta serta kepentingan di dunia yang sesaat lebih
diutamakan.
Mengapa guru harus ikhlas ?
Imam Al Ghazali (w. 505 H) memberikan argumentasi :
( ) .
"Bahwa harta dan dunia seisinya adalah yang menjadi pelayan (khadim) badan, sedangkan badan itu
sebagai kendaraan jiwa. Bahwa yang harus dilayani (al makhdum) adalah ilmu, karena dengan ilmu
menghantarkan kemuliaan jiwa-" ( Kitab Ihya' Juz 1 hal .70)
Janganlah sesuatu yang dilayani justeru didudukkan sbg pelayan, sementara pelayan justeru
diposisikan sebagai sesuatu yang dilayani.
Guru itu khadimul ilmi, bukan khadimul badan, bukan pula khadimul maal wad-dunya. Wallahu a'lam
Selamat hari guru 25 Nopember 2015

MUTIARA AL-HIKAM AL-ATHOIYYAH (2)


SYAHWAT KHOFIYYAH
(Hawa Nafsu Tersembunyi)
Ibtighoan limardlootillahi wa rahmatihi al-Faatihah ..
Mari kita awali dengan membaca dan menghayati atas Firman Allah swt dalam surat Yusuf ayat 53 :

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh
kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Sesungguhnya Tuhanku Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Yusuf ayat 53).
Dari ayat tersebut mari kita baca dan pahami pesan Syaikh Ibn Athoillah As Sakandari berikut ini :
" "
Keinginanmu menggapai maqom tajrid, padahal Allah masih mendudukkan mu pada maqom asbab,
termasuk syahwat (hawa nafsu) yang tersembunyi.
Kehidupan kiita ini hakikatnya merupakan pengembaraan menuju Allah SWT. Secara umum, dalam
pengembaraan seorang salik, syaikh Ibn Athoillah membagi dua maqom. Pertama maqom tajrid ,
kelompoknya para kekasih Allah; dan kedua maqom asbab yang melekat pada kalangan umum (awam)
dari umat Islam. Seseorang bisa menggapai maqom tajrid bukan disebabkan usahanya. Derajat itu
merupakan mauhibah ilahiyyah (pemberian Allah swt).
Karena itu tidaklah benar jika seseorang dalam beribadah kepada Allah dilandasi atas orientasi ingin
menggapai maqom tajrid, ingin menjadi waliyyullah, ingin mendapatkan karomah dan sebagainya. Jika
dalam hati seseorang masih terlintas keinginan seperti itu, berarti masih tersisipkan dalam hatinya
hawa nafsu dan ambisinya. Hal ini jelas menandakan amal yang tidak tulus ikhlas..
Hawa nafsu seperti ini dikatakan khofiyyah (samar/lembut), karena secara lahir nampak dibungkus
dengan sebuah ketaatan dan ritual ibadah, namun batinnya sebenarnya berupa ambisi hawa nafsu
yang terlepas dari tujuan utama beribadah.
Memang berat untuk mengekang hawa nafsu kita agar tidak ikut bagian dalam suatu ketaatan. Rayuan
syaitan memang sangat canggih. Jika seseorang sudah beribadah, syaitan akan menggoda hatinya
supaya punya tujuan selain kepada Allah swt, sehingga menjadi tidak ikhlas.
Jika keingingan untuk menggapai maqom tajrid saja termasuk dari hawa nafsu, bagaimana dengan
orientasi duniawi seperti pangkat, harta, wanita dan sejenisnya ?
Dari hikmah ini pula bisa dipahami bahwa maqom seorang hamba di hadapan Allah hanyalah effek dari
sebuah ketaatan kita kepada Allah swt. Bukan menjadi tujuan kita dalam beribadah. Marilah kita
menata hati kita dalam setiap gerak gerik dan langkah kita di dunia ini dari gangguan syaitan yang
terkutuk. semoga Allah swt membimbing kita agar mampu beramal dengan tulus ikhlas.
Ilaahii Anta Maqshuudii wa ridloo-Ka Mathluubii. amin Wallahu A'lam

MUTIARA AL-HIKAM AL-ATHOIYYAH (2)


SYAHWAT KHOFIYYAH
(Hawa Nafsu Tersembunyi)
Ibtighoan limardlootillahi wa rahmatihi al-Faatihah ..
Mari kita awali dengan membaca dan menghayati atas Firman Allah swt dalam surat Yusuf ayat 53 :

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh
kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Sesungguhnya Tuhanku Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Yusuf ayat 53).
Dari ayat tersebut mari kita baca dan pahami pesan Syaikh Ibn Athoillah As Sakandari berikut ini :
" "
Keinginanmu menggapai maqom tajrid, padahal Allah masih mendudukkan mu pada maqom asbab,
termasuk syahwat (hawa nafsu) yang tersembunyi.
Kehidupan kiita ini hakikatnya merupakan pengembaraan menuju Allah SWT. Secara umum, dalam
pengembaraan seorang salik, syaikh Ibn Athoillah membagi dua maqom. Pertama maqom tajrid ,
kelompoknya para kekasih Allah; dan kedua maqom asbab yang melekat pada kalangan umum (awam)
dari umat Islam. Seseorang bisa menggapai maqom tajrid bukan disebabkan usahanya. Derajat itu
merupakan mauhibah ilahiyyah (pemberian Allah swt).
Karena itu tidaklah benar jika seseorang dalam beribadah kepada Allah dilandasi atas orientasi ingin
menggapai maqom tajrid, ingin menjadi waliyyullah, ingin mendapatkan karomah dan sebagainya. Jika
dalam hati seseorang masih terlintas keinginan seperti itu, berarti masih tersisipkan dalam hatinya
hawa nafsu dan ambisinya. Hal ini jelas menandakan amal yang tidak tulus ikhlas..
Hawa nafsu seperti ini dikatakan khofiyyah (samar/lembut), karena secara lahir nampak dibungkus
dengan sebuah ketaatan dan ritual ibadah, namun batinnya sebenarnya berupa ambisi hawa nafsu
yang terlepas dari tujuan utama beribadah.
Memang berat untuk mengekang hawa nafsu kita agar tidak ikut bagian dalam suatu ketaatan. Rayuan
syaitan memang sangat canggih. Jika seseorang sudah beribadah, syaitan akan menggoda hatinya
supaya punya tujuan selain kepada Allah swt, sehingga menjadi tidak ikhlas.
Jika keingingan untuk menggapai maqom tajrid saja termasuk dari hawa nafsu, bagaimana dengan
orientasi duniawi seperti pangkat, harta, wanita dan sejenisnya ?
Dari hikmah ini pula bisa dipahami bahwa maqom seorang hamba di hadapan Allah hanyalah effek dari
sebuah ketaatan kita kepada Allah swt. Bukan menjadi tujuan kita dalam beribadah. Marilah kita
menata hati kita dalam setiap gerak gerik dan langkah kita di dunia ini dari gangguan syaitan yang
terkutuk. semoga Allah swt membimbing kita agar mampu beramal dengan tulus ikhlas.
Ilaahii Anta Maqshuudii wa ridloo-Ka Mathluubii. amin Wallahu A'lam

MUSYAWARAH KITAB HIKAM


IBTIGHOAN LIMARDLOTILLAHI WA RAHMATIHI
:

Syaikh Ahmad ibn athaillah As Sakandari berkata : " berkurangnya harapan atas rahmat Allah tatkala
jatuh dalam kesalahan/dosa, merupakan sebagian dari tanda-tanda orang bergantung atas amalnya".
Tempat bergantung yang benar hanyalah Allah swt. Selain-Nya tidaklah patut untuk dijadikan tempat
sandaran. Ketika seseorang sudah menjalankan banyak amal ibadah, terkadang dia tidak sadar,
merasa bahagia dengan banyaknya amal tersebut. Sebaliknya, jika dia terjerumus dalam lembah
kemaksiatan merasa tidak ada harapan untuk menjadi penghuni surga.
Guru kita Syaikh Ibn Athoillah As-Sakandari RA mengingatkan dalam hikmah awalnya bahwa
"Berkurangnya harapan di saat seseorang terpleset dalam kemaksiatan merupakan salah satu di antara
tanda-tanda orang tersebut bergantung pada amal.
Dalam suatu hadis, Rasulullah SAW menegaskan

.
Telah diampuni (dosa) seorang wanita yang berzina. Dia tengah berjalan dengan seekor anjing di dekat
oase (sumur di tengah padang pasir). Anjing itu menjulurkan lidahnya karena hampir mati sebab
kehausan. Wanita tadi terus mencopot sepatunya yang kemudian diikat dengan kerudungnya, lalu
digunakan untuk mengambil air dalam oase itu. Setelah mendapatkan air, diminumkanlah kepada
anjing yang kehausan tadi. Dari perbuatan wanita ini, Allah telah mengampuni dosa wanita tadi. HR.
Imam Bukhori dari Abu Hurairah RA
Dari hadis tersebut, nampak betapa luasnya rahmat Allah swt itu. Kebaikan
sekecil apapun janganlah diremehkan, karena jika Allah meridloi akan menghantarkan diterimanya
amal tersebut menuju kepada keridloan dan maghfiroh-Nya. Kita juga tidak boleh su'u dzon (berburuk
sangka) kepada seseorang atau pun diri kita atas perbuatan maksiat atau kejelekan yang dilakukan.
Karena sejelek apapun seseorang dalam pandangan manusia, jika Allah kemudian mengampuni dan
meridloi , pasti akan menggapai kebahagiaan hidup kelak di akhirat. Seorang yang beriman kepada
Allah harus selalu husnudz dzon terhadap Allah swt dengan tetap mengharap rahmat-Nya.
Rahmat Allah hanyalah akan diberikan kepada hambaNya yang muhsinin. Wanita yang berzina dalam
hadis tersebut, bisa jadi dengan akhlaqnya yang peduli kepada seekor anjing yang kehausan, bisa
membawanya dalam kategori orang yang mendapatkan rahmat Allah swt. Irhamuu man fil ardli
yarhamkum man fis sama', kasihanilah makhluk yang di bumi, niscaya akan merahmati Yang di Langit
(Allah swt). Wallahu a'lam.

Biografi KH. Hasyim Hasan Fatah

KH.HASYIMHASANFATAH
(PendidikdanPejuangAswaja)
Oleh:KH.M.JuharHattaHasan
Kelahiran dan Asal-Usulnya:
Dilahirkan di dusun Jambansari Parakancanggah pada tanggal 7 Juli 1938 dengan nama Hasyim.
Putera pertama dari tujuh orang putera-puteri KH. Hasan Fatah dengan Ny. Sama'i ini sejak kecil
tumbuh dan berkembang di bawah asuhan ayah da ibunya di lingkungan Pondok Pesantren yang
telah di rintis oleh kakeknya KH. Abdul Fatah, putera Kyai Naqim (Maqim) dari sawangan
Madukara.
Hasyim kecil masih menjumpai kakeknya. Saat kakeknya wafat, ia masih berusia 4 tahun. Kondisi
ini sangat memberikan pengaruh kejiwaan padanya di saat beinteraksi dengan sang kakek yang
terkenal seorang yang 'alim,faqihdan riyadloh.
Sementara ibunya, Ny. Sama'i merupakan puteri ketiga dari H. Abdusshomad Koplak Banjarnegara.
Kakek dari ibunya ini diriwayatkan berasal dari Yogyakarta.
Pendidikannya :
Hasyim kecil mendapat bimbingan dan pendidikan agama langsung dari ayahnya. Menurut riwayat,
ayahnya sangat keras sekali dalam membimbing mengaji kepadanya agar mampu mengaji. Di
samping itu, ia juga pernah mengaji kepada Kyai Ahmadi di pesantren Purwanegara.
Di sela-sela mengaji tersebut, Hasyim kecil juga belajar di Sekolah Rakyat (SR) hingga
tamat pada tahun 1953, kemudian meneruskan di SMP PGRI (sekarang menjadi Perguruan Taman
Siswa) Banjarnegara hingga selesai pada tahun 1957.Selepas dari SMP, ia meneruskan pendidikan
di PP Al-Wahdah lasem rembang, di bawah asuhan romo KH. Baedlowi Abdul Aziz.
Selama mondok di lasem inilah pribadi hasyim benar-benar di bentuk sebagai calon 'ulama'
dengan menmpa diri untuk memperdalam ilmu agama. Ketekunannya di pondok hingga dipercaya
menjadi Lurah pondok di PP. Al-Wahdah Lasem, sehingga selain mengaji beliau juga di minta
membantu Kyai untuk mengajar para santri serta ikut berdakwah di masyarakat. Pengalaman
menjadi lurah pondok ini juga nantinya menjadikan pribadi Hasyim nantinya menjadikan pribadi
Hasyim yang tengah menginjak usia remaja mampu mengorganisir dakwah di masyarakat maupun
di pesantren.

Saat mondok di Lasem semua 'Ulama' yang ada menjadi tujuanya dalam mengaji, sehingga
selain mengaji kepada KH. Baedlowi Abdul Aziz, juga mengaji kepada Mbah KH. Ma'shum,
Syaikh Masduqi dan KH. Thoblawi Tuyuhan. Kyai Hasyim juga pernah tabarukan di tempat KH.
Asya'ari PP. Poncol Beringin Salatiga untuk mengaji kitab Shahih Bukhori.
Pernikahanya :
Setelah lama mondok di Lasem, akhirnya Allah SWT. Mentadirkan Kyai Hasyim mejadi menantu
gurunya yaitu KH. Thoblawi Tuyuhan pada tahun 1962. Kyai Hasyim menikah dengan Ny. Siti
Mas'udah puteri ketiga dari KH. Thoblawi Tuyuhan dengan Ny.Hj. Rabi'ah Adawiah Tuyuhan. KH.
Thoblawi adalah putera pertama KH. Ibrohim, seorang 'ulama' dari Tuyuhan Lasem yang memiliki
garis keturunan dari Mbah Sambu (Sayyid Abdurrahman Basyaiban) Lasem.
Setelah menikah, Kyai Hasyim masih meneruskan ngaji di pondok. Tiga tahun kemudian pada
tahun 1965, beliau mulai hidup bersama istri dengan memboyongnya ke parakan canggah.
Kehidupan awal rumah tangga beliau benar-benar dimulai dari titik nol, sehingga lika liku
kehidupan yang serba sulit pernah di laluinya. Meski demikian, kesibukanya mencukupi kehidupan
keluarga tidak menghalanginya untuk terus membantu ayahnya dalam mengaji kepada para santri.
Dari pernikahan tersebut, hingga wafat kyai Hasyim di karuniai 8 anak dan 16 cucu. Semua puteraputerinya senantiasa tidak pernah lepas dari pendidikan pesantren.
Mempelopori pengmbangan PP Al-Fatah :
Perkembangan dan kemjuan PP Al-Fatah saat ini tidak terlepas dari pemikiran dan perjuangan Kyai
Hasyim. Saat pulang dari pesantren Lasem, kondisi PP Al-Fatah masih sangat sederhana. Saat itu
yang berkembang hanyalah murid Thoriqoh Naqsabhandiyyah- Kholidiyyah dan Pondok putera.
Dari sisi fisik pun juga hanya berupa bangunan masjid dan kamar santri saja.
Melihat kondisi yang seperti ini dalam catatan pribadinya Kyai Hasyim pada wal perjuangannya
bersama ayahnya KH. Hasan Fatah, pamanya KH. Ridlo Fatah dan adiknya KH. Ali Hanan
membenahi dan mengembangkan PP Al-Fatah agar semakin maju dan berkembang.
Usaha tersebut semakin gencar lagi saat beliau meneruskan ayahnya sebagai pengasuh dan mursyid
Thoriqoh semenjak di tingal wafat ayah nya pada tahun 1990. Di antara perjuangan dan
pengembangan PP Al- Fatah Banjarnegara yang beliau pelopori antara lain:
1.Pembangunan Aula PP Al-Fatah
Pembangunan ini bermula karena belum adanya tempat pengajian bagi ibu-ibu muslimat di
lingkungan pondok. Akhirnya tanah wakaf Mbah KH. Hasan Fatah yang asalnya berupa
kolam di bangunlah aula dengan dana yang di dapat dari swadaya jama'ah serta ikhwan
Thoriqoh.
2.Pembangunan Pondok pesantren Putri Al-Fatah
Perintis dan pembangunan PP Puteri Al-Fatah ini di awali dengan upaya mencari dana untuk
memberi tanah dari keluarga almarhum Mbah KH. Hamzah hingga pembangunan
gedungnya. KH hasyim saat itu bertindak sebagai ketua panitia, Mbah KH. Ridlo sebagai
sekertaris, sementara KH. Ali Hanan yang berusaha mencari donasi dari pihak luar
(pemerintah). Atas usaha keras ini, akhirnya terbangun dua lantai untuk PP Puteri Al-Fatah.
3.Pembangunan Gedung Pasulukan
Pada mulanya tempat pasulukan sangatlah sederhana, sehingga di kembangkan dengan
pembangunan gedung berlantai dua. Pembangunan ini juga di pelopori KH. Hasyim Hasan
bersama Mbah KH. Ridlo Fatah. Adapun pendanaan berasal dari infaq para ikhwan/ikhwati
Thoriqoh.
4.Pengembangan Tanah Wakaf
Karena sangat terbatasnya lahan PP Al- Fatah, KH. Hasyim bersama KH. Ridlo
memprakarsai perluasan tanah wakaf di daerah Pacet dengan mengajak ikhwan/ ikhwati

Thoriqoh untuk turut andil dalam wakaf. Tanah yang dibeli adalah tanah keluarga almarhum
KH. Hamzah saat ini bisa di manfaatkan untuk gedung MTs Al-Fatah, SMK Al-Fatah dan
MA Al-Fatah.
5.Pembangunan Sekolah Formal di Lingkungan PP Al-Fatah
Rintisan sekolah formal di lingkungan di mulai dengan pendirian Yayasan PP Al-Fatah pada
tahun 1975 yang di ketahui pertama kali oleh Kyai Hasyim. Dari sinilah kemudian KH. Ali
Hanan di batu KH. Zainal Abidin merintis berdirinya sekolah MTs, MA hingga SMK.
Terlebih setelah Kyai Hasyim Agak terganggu keshatanya, kepengurusan Yayasan Al-Fatah
di teruskan KH. Ali Hanan.
6.Pembangunan Masjid PP Al-Fatah
Gagasan renovasi Masjid, di munculkan KH. Hasyim setelah beliau pulang menunaikan
ibadah haji yang ke dua (1997), hingga akhirnya saat ini masjid dibuat menjadi dua lantai.
Sebagian besar dana pembangunan Masjid berasal dari infaq ikhwan dan ikhwati Thoriqoh
serta para jama'ah Masjid.
7.Pembangunan Asrama Putera PP Al-Fatah
Karena kondisi bangunan semakin memprihatinkan, KH. Hasyim mempelopori
pembangunan asrama putera dengan dari para ikhwan/ikhwati Thoriqoh serta para wali
santri. Pembangunan tahap pertama pada komplek asrama sebelah barat yang di bangun dua
lantai. Kemudian tahap kedua komplek asrama sebelah timur hingga menjelang akhir hayat
beliau,Al-hamdulillah atas izin Allah swt telah berdiri tegak dua unit gedung asrama puetra
dua lantai beserta kamar mandi yang sangat representatif.
Kegigihannya sebagai pendidik
Setelah menikah, kehidupan Kyai Hasyim diawali dari titik nol. Sebagai alumni pesantren,
Kyai Hasyim memiliki aktifitas yang utama membantu ayahnya KH. Hasan dalam mengajar para
santri. Meskipun kondisi ekonomi serba pas pasan semangat Kai Hasyim untuk mendidik santri
tidak pernah lelah.
Pada mulanya, Kyai Hasyim mengajar pengajian kitab kitab kuning bersama KH. A.
Dalimi. Disamping itu pernah pula K. Azizi Thoblawi dan KH. Mujtahidi Thoblawi (adik Ibu Ny.
Hj. Mas'udah Hasyim) saat masih lajang turut membantu mengajar mengaji.
Kegiatan rutin KH. Hasyim di pondok biasanya setiap ba'da shubuh sorogan kitab santri
puteri, ba'da dluhur sorogan kitab santri putera, kemudian ba'da ashar mengaji kitab, di lanjutkan
ba'dal 'isya juga untuk mengaji hingga larut malam.
Di siang hari di samping bertani, Kyai Hasyim juga pernah berdagang serta menjadi guru
honorer di PGAN Banjarnegara selaa 6 tahun serta menjadi Hakim Honorer di Pengadilan Agama
Banjarnegara.
Kegiatan pengajian kitab tersebut semakin padat lagi jika telah memasuki bulan Ramadhan.
Pengajian bulan Ramadhan dilakukan hampir tiap waktu sampai malam hari.
Kegiatan pengajian kitab ini dilakukan Kyai Hasyim dengan sangat telaten dan istiqomah.
Sampai terkadang jika santri belum ada yang datang, beliau tidak segan-segan untuk mengaji.
Saat ayahnya KH. Hasan wafat pada tahun 1990, aktifitas Kyai Hasyim semakin padat lagi.
Di mana beliau beliau selain menjadi pengasuh PP Al-Fatah, juga sebagai mursyid Thoriqoh
Naqsyabandiyyah Kholidiyyah. Aktifitas Kyai Hasyim di samping mengajar mengaji santri juga
membimbing para murid Thoriqoh, terutama di saat sedang suluk di bulan Muharram, Rajab, dan
Ramadhan.
Bagi masyarakatKyai Hasyim merintis pengajian lapanan setiap hari Ahad wage beserta
Pengurus Cabang NU Banjarnegara saat itu di aula PP Al-Fatah. Pengajian ini hingga saat ini masih
terus berlangsung. Kemudian beliau juga merintis pengajian kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-

Ghazali setiap Ahad pagi di serambi Masjid Al-fatah.


Di saat putera-puteri beliau telah selesai mondok, kegiatan pengajian Kyai Hasyim dibantu
oleh putera-puteri serta puteramenantu beliau. Salah satu sifat yang beliau miliki sepengetahuan
penulis, Kyai Hasyim senang mengkader yang muda-muda untuk turut mengajar mengaji dan
berjuang. Pengalaman penulis, saat bulan Sya'ban 1416 H menikah dengan puteri beliau (Fitri
Muhlishoh ), pada bulan Ramadhan langsung diminta mengajar kitab yang cukup banyak, meskipun
secara fisik beliau masih memungkinkan mengajar.
Begitu pula di setiap menghadiri pengajian di masyarakat, beliau sering mengajak yang
muda-muda untuk berkiprah. Pengalaman penulis sendiri, jika mendampingi beliau di setiap
pengajian, beliau sering menyuruh penulis memberikan pengajian dahulu, baru kemudian beliau
memberikan mau'idlah yang terakhir dan menutup dengan doa.
Karena itu, setelah beliau sakit cukup parah pada tahun 2003 di Rsu Margono, meski secara
fisik kesehatan menurun, namun belau tetap terus mengajar dan membimbing. Beliau selalu
mengontrol jika ada pengajian yang masih kosong untuk diisi. Bisa dikatakan, dalam kondisi sakit,
Kyai Hasyim membimbing yang muda-muda dengan cara memberikan kesempatan dan dorongan
kepada mereka untuk mbadali (menggantikan) jadwal mengaji beliau.Beliau sangat gembira sekali
jika melihat yang muda-muda bisa mengajar ngaji kapada para santri maupun masyarakat.
Wal hasil,meskipun beliau sudah lemah fisiknya masih terus membimbing dan
mendidik.sampai,tatkala detik-detik menjelang wafat, beliau sebenarnya dalam posisi menghadiri
pengajian kitab kifayatul atqiya' bersama para kyai yang diadakan rutin oleh idaroh syu'biyyah
Jam'iyyah ahlith Thoriqoh al-Mu'tabaroh al-Nahdliyyah Kabupaten Banjarnegara.
Perjuangannya Membentengi Aswaja
Si sela-sela mengajar dan berbagai aktifitas tesebut, Kyai Hasyim selalu menyempatkan
aktif di berbagai organisai kemasyarakatan dan keagamaan, terutama di bawah naungan Nahdlatul
Ulama' (NU). Diawali sebai ketua PC GP Anshor Kabupaten Banjarnegara, kemudian menjadi
ketua PCNU Banjarnegara, Rois Syuriyah PCNU Banjarnegara, mustasyar PCNU Banjarnegara,
Rois Idaroh Su'biyyah Jam'iyyah ahlith Thoriqoh al-Mu'tabaroh al-Nahdliyyah (JATMAN)
Kabupaten Banjarnegara, Rois Awwal Idaroh wustho JATMAN Provinsi Jawa Tengah dan anggota
Majlis Ifta' Idaroh aliyah JATMAN.
Perjuangan KH. Hasyim selain menjadi guru, Ustadz, Kyai, hakim juga dihabiskan untuk
memperjuangkan Jam'iyyah Nahdlatul Ulama'hingga akhir hayatnya. Seperti diketahui, saat beliau
wafat, Kyai Hasyim masih tercatat sebagai Mustasyar PCNU Banjarnegara dan Rois Idaroh
Syu'biyyah JATMAN Banjarnegara.
Semangat perjuangan KH. Hasyim melalui Jam'iyyah NU karena didasari perjuangan untuk
membela 'aqidahahlisunnah wal jama'ah (ASWAJA). Menurut pengamatan penulis, KH. Hasyim
jika dalam kondisi sehat selalu berusaha hadir di setiap ada acara pertemuan para 'alim 'ulama', baik
pada forum Muktamar NU, Muktamar Thoriqoh, Munas NU, Munas Thoriqoh maupun Manaqib
Kubro Thoriqoh. Kecintaan pada Jam'iyyah NU dan Thoriqoh dilandasi karena kecintaan beliau
pada para 'ulama' sebagai pewaris para nabi. Beliau sangat senang sekali bila bisa silaturrahiem
dengan para 'ulama' .
Pertemanan dengan Gus Dur
Ketekunan Kyai Hasyim dalam menggerakan Jam'iyyah NU menjadikan dirinya memiiki
relasi dengan para tokoh NU baik tingkat lokak maupun nasional. Relasi yang sangat erat terjadi
dengan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Menurut Kyai Hasyim, kedekatan dengan Gus Dur
bermula saat acara halaqoh di Cilacap, kemudian diteruskan saat Gus Dur bersedia menjadi
pembicara saat Haflah Akhirussanah PP Al-Fatah serta Apel Akbar NU di Alun-alun Banjarnegara.
Kejadian yang tak pernah terlupakan bagi Kyai Hasyim bersama Gus Dur adalah, tatkala
akan menuaikan ibadah haji pertam kali pada tahun 1991. Saat itu karena Kyai Hasyim menuaikan
ibadah haji dengan paspor hijau mendapat kesulitan mengurus visa di Kedutaan Saudi Arabia,
karena musim haji tahun itu bersamaan presidan Soeharto juga menuaikan ibadah haji, sehingga
sangat ketat sekali bagi mereka yang akan berhaji dengan paspor hijau.
Di tengah keputusasaan untuk mengurus visa tersebut, Kyai Hasyim sowan ke Gus Dur yang

saat itu menjadi Ketua Umum PBNU di kantor PBNU Jl. Kramat Raya. Saat bertemu Gus Dur
Kyai Hasyim menceritakan niatnya untuk pergi haji dan Gus Durpun menyambut dengan senang
sekali, namun Kyai Hasyim menceritakan kesulitan mengurus visa, spontan Gus Dur mengetik
sendiri untuk membuat surat ke Kedubes Arab Saudi, setelah mendapat surat tersebut Kyai Hasyim
segera bergegas ke Kedubes Arab Saudi dengan menyampaikan surat dari Gus Dur. Akhirnya atas
izin Allah, tidak berselang lama Kyai Hasyim diberi visa oleh Kedubes Arab Saudi dan segera
berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji.
Kedekatan Kyai Hasyim dengan Gus Dur juga penulis saksikan sendiri, saat penulis akan
wisuda S-2 di IAIN(UIN) Syahid Jakarta pada tahun 1998,saat itu meski Gus Dur dalam kondisi
sudah tidak bisa melihat, baru mendengar suara Kyai Hasyim langsung menyambutnya dan
mengenali akan kehadiran Kyai Hasyim dan Nyai Hasyim, sehingga Gus Dur mengajak bicara
cukup lama seperti sahabat yang lama tak bertemu.
Pertemuan Kyai Hasyim dengan Gus Dur berikutnya Setelah Gus Dur tidak menjadi
presiden. Sehabis menghadiri acara walimatul 'Ursy di Kebumen Gus Dur menyempatkan
silaturahim ke kediaman Kyai Hasyim.
KH.Hasyim Hasan Sakit
Dalam perjalanan hidupnya, Kyai Hasyim pernah mengalami dua kali kecelakaan lalu lintas
yang cukup parah. Pertama saat perjalanan dari Banjarnegara menuju Wonosobo yang
mengakibatkan patah tulang. Kedua saat perjalanan pulang dari Demak keBanjarnegara. Dari kedua
peristiwa tersebut, secara medis memberikan dampak yang cukup berpengaruhpada kesehatan Kyai
Hasyim di masa masuki usia senja.
Pada tahun 2003, setelah menunaikan shalat Idul Fitri Kyai Hasyim merasa kurang sehat.
Akhirnya, karena di Banjarnegara para dokter Rumah Sakit masih banyak yang cuti dibawa ke
RSUD Margono Purwokerto. Setelah di bawa ke RSUD Margono rupanya kondisi kesehatan beliau
semakin parah, sehingga sempat di rawat hampir satu bulan. Atas izin Allah swt, Kyai Hasyim
masih diberi umur panjang dan diberi kesembuhan.
Meskipun telah sembuh di usianya menginjak 66 tahun tersebut, kondisi fisik Kyai Hasyim
mualia menurun, sehingga banyak aktivitas yang mulai dikurangi dengan memberikan kepercayaan
kepada yang muda-muda untuk menggatikan. Selain dari itu, sejak sakit yang cukup parah tersebut,
Kyai Hasyim berkali-kali masuk Rumah Sakit, baik di RSI Banjarnegara, RSUD Banjarnegara
maupun RSU Nirmala Purbalingga. Bahkan pernah pula berobat ke Rumah Sakit Paru-paru
Salatiga.
KH. Hasyim Hasan Wafat
Menjelang Kyai Hasyim wafat, sebenarnya kondisi beliau sedang tidak merasakan sakit
yang berarti. Bahkan bisa dibilang saat menjelang wafat beliau dalam kondisi sehat sekali
dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Enam hari sebelum wafat (Minggu Pon, 14 April 2013) Beliau mengundang seluruh anak
cucu Mbah KH. Hasan untuk mengadakan pertemuan Bani Hasan Fatah di kediaman beliau. Dua
hari sebelum acara tersebut, beliau memerintahkan penulis untuk membuatkan undangan. Akhirnya
pertemuan pun terlaksana pada hari Minggu Pon tersebut mulai jam 09.30. Keluarga besar Bani
KH. Hasan Fatah yang tinggal di Banjarnegara hampir semua menghadiri acara tersebut. Acara ini
menjadi istimewa karena tidak mengira jika saat itu merupakan ajang pertemuan terkhir Kyai
Hasyim, karena enam hari setelahnya beliau wafat.
Pada hari Selasa Kliwon, 16 April 2013, Kyai Hasyim ta'ziyah ke Wonosobo atas wafatnya
KH. Taftazani Damanhuri, sepupu beliau ( Ibu KH. Taftazani adalah kakak Mbah KH. Hasan).
Bahkan saat pelepasan di Masjid Al-Fatah pun Kyai Hasyim juga melepasnya dengan memberikan
sambutan dan doa. Banyak yang merasakan bahwa saat memberikan sambutan tersebut, Kyai
Hasyim nampak sehat dan lantang sekali suaranya.
Pada hari Kamis, 18 April 2013, KH. Ahmad Warson Munawwir wafat. Bagi Kyai Hasyim
hubungannya dengan Kyai Warson semakin dekat karena sama-sama memiliki putera yang
besannya sama dari Kediri. Karena itu, putera-puteri beliau banyak yang bertakziyah ke
Yogyakarta. Pada hari Jum'at, 19 April 2013 pagi, penulis seperti biasa setelah dari Yogyakarta

menjumpai beliau kediaman. Kyai Hayim tampak sehat sekali, menanyakan kabar dari Yogyakarta,
menanyakan petugas khotbah Jum'at, di mana saat itu jika petugas berhalangan pesan beliau supaya
penulis menyiapkan diri menjadi badal. Jum'at siang, beliau menuaikan shalat jum'at yang
kebetulan berangkat ke Masjid beriringan dengan penulis.
Saat shalat Jum'at di mana penulis menjadi Khotib- beliau benar benar tampak sehat.
Seusai Khotbah, beliau mengingatkan adiknya KH. Bunyamin agar nanti di adakan sholat ghoib
untuk untuk al-Maghfurlah KH. Warson Yogyakarta. Seusai sholat Jum'at, beliau juga memimpin
langsung acara tawajjuhan, penulis juga masih sempat menemani beliau di ndalem untuk dudukduduk dan berbincang-bincang di ruang tengah. Salah satu materi perbincangan adalah menanyakan
persiapan acara ziaroh wali songo dan pengajian Sabtu Wage. Disaat bincang-bincang, beliau juga
menerima tamu wali santri dari Bakal Batur dengan anaknya yang sebentar lagi akan mengikuti UN
Mts. Kyai Hasyim terus memberikan arahan untuk shalat malam dan banyak membaca shalawat.
Pada Jum'at malam Sabtu (ba'dal isya'), penulis menelpon di ruang tengah ndalem,
kemudian karena beliau mendengar suara penulis, beliau memanggil-menggil dari dalam kamar
untuk di tuntun ke ruang tengah. Saat duduk-duduk di ruang tengah beliau banyak mengajak
berbincang-bincang dengan penulis, termasuk menanyakan jumlah jama'ah ziaroh walisongo berapa
bus dan dari mana saja serta persiapan acara pertemuan Kyai besok Sabtu Wage. Tidak lama
kemudian, istri penulis (Hj. Fitri ), Mbak Hj. Durroh, Mas H. Syafi' dan temasuk Ibu Ny. Hj.
Hasyim ikut berkumpul bersama. Pembicaraan akhirnya semakin hangat lagi hingga agak larut
malam.
Sabtu Wage, 20 April 2013, dikisahkan beliau malam harinya banyak nderes surat-surat
pendek dan membaca sholawat. Bahkan, kegiatan itu dilakukan beliau juga beberapa malam
sebelumnya. Sampai waktu shubuh, beliau masih menunaikan shalat shubuh. Sehabis shalat shubuh,
seperti biasa beliau duduk di ruang tengah, lalu ketika matahari mulai terik berjemur hingga
menjelang pukul 09.00. setelah berjemur kemudian kembali ke ruang tengah untuk persiapan
sarapan pagi. Saat itu juga masih ada tamu yang mengkhabarkan akan bai'at thoriqoh serta ada
santri yang minta do'a restu akan mengikuti perlombaan porseni yang dilaksanakan hari itu di aula
PP Al-Fatah. Setelah selesai makan pagi beliau istirahat di kamar, sambil pesan bila nanti telah
berkumpul para Kyai di ruang depan akan menghadiri acara pengajian kitab Kifayatul
Adqiya'tersebut.
Tidak berapa lama, sekitar pukul 09.50 menjelang dimulainya acara pengajian, beliau terasa
pegal dan sesak. Saat itu telah berkumpul sekitar 50 lebih para Kyai yang akan mengikuti pengajian
dan musyawarah. Akhirnya beliau berpesan supaya penulis memulai acara musyawarah para Kyai
terebih dahulu.
Karena kondisi beliau semakin kurang baik, sekitar pukul 10.30 keluarga akhirnya
membawa beliau ke RSUD Banjarnegara. Setelah di UGD RSUD Banjarnegara tidak berapa lama
kemudian sekitar pukul 11.15 Allah SWT menghendaki beliau untuk sowan kepada-Nya, Innaa
lillahi wa innaa ilaihi roji'uun.
(Tulisan ini di ambil dari berbagai sumber dan keterangan saksi serta dokumentasi / catatan
Almaghfurlah)

Anda mungkin juga menyukai