Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Dengan adanya perkembangan zaman modern yang mempengaruhi
kebudayaan yang ada di Indonesia yang pada akhirnya secara perlahan
budaya tersebut akan mulai di lupakan oleh masyarakat, karena lebih memilih
sistem modern. Dari kajian tersebut, maka perlu mempelajari sejarah-sejarah
masa lampau yang tersebar di nusantara.
Khusus peradaban Islam di Indonesia, sebagian masyarakat Indonesia yang
beragama islam tidak mengetahui tentang peradaban tesebut. Hal ini
dikarenakan kurangnya informasi yang diperoleh. Untuk mengkaji kembali
peradaban tersebut, maka perlu di susun suatu tulisan yang membahas tentang
masalah peradaban islam di Indonesia. Salah satu bentuk tulisan itu adalah
penulisan makalah ini, yang diharapkan mampu memberikan informasi secara
singkat tentang peradaban islam di Indonesia.

1.2

Tujuan Pembelajaran
Untuk mengetahui bagaimana sejarah perkembangan peradapan Islam di
Indonesia.

BAB II
LANDASAN KAJIAN
2.1

Teori
Islam bukan hanya sekedar agama atau keyakinan, tetapi merupakan asas dari
sebuah peradaban. Sejarah telah membuktikan bahwa dalam kurun waktu 23,
Nabi Muhammad SAW mampu membangun peradaban Islam di jazirah
Arabia yang berdasarkan pada prinsip-prinsip persamaan dan keadilan. Dalam
waktu yang singkat, pengaruh peradaban Islam tersebut segera menyebar ke
berbagai belahan dunia, termasuk ke wilayah Nusantara.
Ada berbagai macam teori yang menyatakan tentang masuknya Islam ke
Nusantara. Beberapa teori tersebut ada yang menyatakan bahwa Islam masuk
ke Nusantara sekitar abad ke-7, abad ke-11, dan sebagainya. Dari teori
tersebut, proses sentuhan awal masyarakat Nusantara dengan Islam terjadi
pada abad ke-7 melalui proses perdagangan , kemudian pada abad selanjutnya
Islam mulai tumbuh dan berkembang. Selanjutnya melahirkan kerajaankerajaan yang bercorak Islam. Seperti kerajaan-kerajaan Islam di Sumatera,
Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, maupun di NTB.
Semua kerajaan tersebut memiliki andil dalam mengembangkan khazanah
peradaban Islam di Nusantara, khususnya peradaban Islam di wilayah
kekuasaan kerajaan tersebut. Dalam makalah ini, penulis akan membahas
lebih spesifik dari uraian tersebut yaitu mengenai proses masuknya islam di
Sumatera.

2.2 Syariat
Berkat pesan Alquran yang mendorong umat Islam untuk selalu mencintai
ilmu pengetahuan dan menjunjung tinggi peradaban,muncullah pusat-pusat
kebudayaan Islam di berbagai belahan bumi dengan ciri inklusif, yaitu sikap
kritis-apresiatif terhadap peradaban luar yang dijumpainya seraya tetap setia
pada tauhid yang menjadi jati dirinya.
Perjumpaannya dengan warisan intelektual Yunani telah mendorong
lahirnya pemikiran filsafat dan teologi dalam Islam, sehingga muncullah filsuf

dan teolog muslim kelas dunia yang turut berjasa bagi kebangkitan Eropa
modern. Ketika umat Islam masuk ke India yang kental dengan pengaruh
Hindu, muncullah mazhab tasawuf atau mistik Islam.
Semua

ini

merupakan

contoh

adanya

sikap

kreatifinovatif

dalam

mengembangkan peradaban Islam yang dimotivasi oleh Alquran. Begitu pun


ketika Islam masuk ke Nusantara, maka dengan sangat bijak para penyebar
Islam itu menghargai tradisi luhur yang dijumpainya sambil memperkenalkan
ajaran Alquran, sehingga antara agama dan budaya setempat saling menopang,
saling mengisi.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Masuknya Islam Ke Indonesia
Sejak zaman pra sejarah, penduduk kepulauan Indonesia dikenal sebagai pelayarpelayar yang sanggup mengarungi lautan lepas. Sejak awal masehi sudah ada ruterute pelayaran dan perdagangan antara kepulauan Indonesia dengan berbagai
daerah di daratan Asia Tenggara. Wilayah Barat Nusantara dan sekitar Malaka
sejak masa kuno merupakan wilayah yang menjadi titik perhatian, terutama
karena hasil bumi yang dijual disana menarik bagi para pedagang, dan menjadi
daerah lintasan penting antara Cina dan India. Sementara itu, pala dan cengkeh
yang berasal dari Maluku dipasarkan di Jawa dan Sumatera, untuk kemudian
dijual kepada para pedagang asing. Pelabuhan-pelabuhan penting di Sumatra dan
Jawa antara abad ke-1 dan ke-7 M sering disinggahi para pedagang asing seperti
Lamuri (Aceh), Barus, dan Palembang di Sumatra; Sunda Kelapa dan Gresik di
Jawa.
Bersamaan dengan itu, datang pula para pedagang yang berasal dari Timur
Tengah. Mereka tidak hanya membeli dan menjajakan barang dagangan, tetapi
ada juga yang berupaya menyebarkan agama Islam. Dengan demikian, agama
Islam telah ada di Indonesia ini bersamaan dengan kehadiran para pedagang Arab
tersebut. Meskipun belum tersebar secara intensif ke seluruh wilayah Indonesia.
Islam masuk ke Indonesia pada abad pertama Hijrah atau abad ke tujuh/ke
delapan masehi. Ini mungkin didasarkan pada penemuan batu nisan seorang
wanita muslimah yang bernama Fatimah binti Maimun di Leran dekat Surabaya
yang bertahun 475 H atau 1082 M. Sedangkan menurut laporan seorang musafir
Maroko Ibnu Batutah yang mengunjungi Samudra Pasai dalam perjalanannya ke
Negeri Cina pada 1345M, Agama islam yang bermadzhab SyafiI telah mantap
disana selama seabad. Oleh karena itu, abad XIII biasanya dianggap sebagai masa
awal masuknya agama Islam ke Indonesia.

Adapun daerah pertama yang dikunjungi adalah pesisir Utara pulau Sumatera.
Mereka membentuk masyarakat Islam pertama di Peureulak Aceh Timur yang
kemudian meluas sampai bisa mendirikan kerajaan Islam pertama di Samudera
pasai, Aceh Utara.
Sekitar permulaan abad XV, Islam telah memperkuat kedudukannya di Malaka,
pusat rute perdagangan Asia Tenggara yang kemudian melebarkan sayapnya ke
wilayah-wilayah Indonesia lainnya. Pada permulaan abad tersebut, Islam sudah
bisa menjejakkan kakinya ke Maluku, dan yang terpenting ke beberapa kota
perdagangan di Pesisir Utara Pulau Jawa yang selama beberapa abad menjadi
pusat kerajaan Hindu yaitu kerajaan Majapahit. Dalam waktu yang tidak terlalu
lama yakni permulaan abad XVII, dengan masuk islamnya penguasa kerajaan
Mataram yaitu Sulthan Agung, kemenangan agama tersebut hampir meliputi
sebagian besar wilayah Indonesia.
Berbeda dengan masuknya islam ke Negara-negara di bagian dunia lainnya yakni
dengan kekuatan militer, masuknya islam ke Indonesia itu dengan cara damai
disertai dengan jiwa toleransi dan saling menghargai antara penyebar dan pemeluk
agama baru dengan penganut-penganut agama lama (Hindu-Budha). Ia dibawa
oleh pedagang-pedagang Arab dan Ghujarat di India yang tertarik dengan rempahrempah. Masuknya Islam melalui India ini menurut sebagian pengamat,
mengakibatkan bahwa islam yang masuk ke Indonesia ini bukan islam yang murni
dari pusatnya di Timur Tengah, tetapi islam yang sudah banyak dipengaruhi
paham mistik, sehingga banyak kejanggalan dalam pelaksanannnya .
Berbeda dengan pendapat diatas, S.M.N. Al-Attas berpendapat bahwa pada tahap
pertama islam di Indonesia yang menonjol adalah aspek hukumnya bukan aspek
mistiknya karena ia melihat bahwa kecenderungan penafsiran al-Quran secara
mistik itu baru terjadi antara 1400-1700 M.

Akan tetapi, sejak pertengahan abad XIX, agama islam Indonesia secara bertahap
mulai meninggalkan sifat-sifatnya yang sinkretik setelah banyak orang Indonesia
yang mengadakan hubungan dengan Mekkah dengan cara melakukan ibadah haji.
Apalagi setelah transportasi laut yang makin membaik, semakin banyaklah orang
Indonesia yang melakukan ibadah haji bahkan sebagian mereka ada yang
bermukim bertahun-tahun lamanya untuk mempelajari ajaran islam dari pusatnya,
dan ketika kembali ke Indonesia mereka menjadi penyebar aliran islam yang
ortodoks.
3.2 Seminar Sejarah Masuknya Islam di Indonesia
Setiap seminar mengadakan siding-sidangnya mulai hari ahad 21 s/d 24 syawal
1382 H, ( 17 s/d 20 Maret 1963) di Medan, yaitu seminar sejarah masuknya Islam
ke Indonesia. Para peserta terdiri dari beberapa negarawan, sejarawan, dan
cendekiawan. Tema seminar dirumuskan dalam 2 hal pokok yaitu: Pertama
tentang masuknya islam ke Indonesia,kedua tentang daerah Islam pertama di
Indonesia yang menyangkut daerah/lokasi dimana Islam mula-mula tertanam.
Dari hasil seminar dapat disimpulkan :
1.

Bahwa menurut sumber-sumber yang kita ketahui, islam untuk pertama kalinya
telah masuk ke Indonesia pada abad pertama hijrah (abad ke 7/8 M) dan langsung
dari Arab.

2.

Bahwa daerah yang pertama didatangi oleh Islam ialah pesisir Sumatera dan
bahwa setelah terbentuknya masyarakat Islam, maka raja Islam yang pertama
berada di Aceh.

3.

Bahwa mubaliq-mubaliq Islam pertama yang datang ke Indonesia merangkap


sebagai saudagar.

4.

Bahwa penyiaran itu di Indonesia dilakukan secara damai.

5.

Bahwa Kedatangan Islam membawa kecerdasan dan peradaban yang tinggi


dalam membentuk kepribadian bangsa Indonesia dalam menahan penderitaan dan
perjuangan melawan penjajahan bangsa asing.
Dr. Hamka memberi kesimpulan:

a.

Agama Islam telah berangsur datang ke tanah air kita ini sejak abad pertama
(abad ke-7M) dibawa oleh saudagar-saudagar Islam yang intinya adalah orangorang Arab diikuti oleh orang Persia dan Gujarat.

b.

Oleh karena penyebaran Islam itu tidak dijalankan dengan kekerasan dan tidak
ada penaklukan negeri, maka jalannya itu adalah berangsur-angsur.

c.

Mazhab SyafiI telah berpengaruh sejak semula perkembangan itu, sampai Raja
Islam Pasai Samudera itu adalah seorang alim ahli fiqih Mazhab Syafii.

d.

Kedatangan ulama-ulama Islam dari luar negari ke Aceh memperteguh odeologi


Mazhab SyafiI yang telah ditanam raja-raja Pasai.

e.

Saya mengakui bahwa ulama luar yang datang kemari, disamping ada ulama
kita belajar ke Mekkah, Syam, Yaman, Aden, dan lainnya.
Tapi semua itu bukanlah menghilangkan kepribadian Muslim Indonesia
dalam rangka umat Islam sedunia, tetapi mengesankan kebesaran Salafussalihin
Indonesia, sehingga Aceh menjadi Serambi Mekkah.
Haji Abubakar Aceh membuat kesimpulan:

a.

Islam masuk ke Indonesia mula pertama di Aceh, tidak mungkin di daerah lain.

b.

Penyiar Islam pertama di Indonesia tidah hanya terdiri dari saudagar India dari
Gujarat, tetapi juga terdiri dari mubaligh-mubaligh Islam dari bangsa Arab.

c.

Diantara mazhab pertama yang dipeluk di Aceh ialah Syiah dan Syafii.
Maka setelah 15 tahun sesudah seminar di Medan berlangsung atau
tepatnya pada tanggal 10-16 juni 1978, majelis ulama propinsi daerah istimewa
Aceh memprakarsai pula seminar serupa yaitu tentang sejarah masuk dan
berkembangnya Islam di daerah istimewa aceh yang diadakan di Banda Aceh.
Seminar ini dihadiri oleh para sarjana dan cendekiawan yang berada di Aceh
khususnya. Dari hasil seminar tersebut dapat disimpulkan:

1.

Pada abad pertama hijrah islam sudah masuk di Aceh

2.

Kerajaan-kerajaan Islam yang pertama adalah perlak, lamuri dan pasai

3.

Islam berkembang di Aceh melalui cara hikmah kebijaksanaan

Sebenarnya apa yang telah disimpulkan dalam ke-2 seminar tersebut diatas
terutama yang menyangkut dengan proses islamisasi di Indonesia adalah juga
seirama dengan pendapat 2 sarjana barat yaitu Prof. Gabriel Ferrand dan Prof.
Paul Wheatly. Bersumber pada keterangan para musafir dan pedagang Arab
tentang Asia Tenggara, maka ke-2 sarjana tersebut menyebutkan bahwa sudah
sejak abad ke-8, pelabuhan-pelabuhan yang terkenal di Asia Tenggara pada masa
itu, telah dikunjungi oleh para pedagang dan musafir-musafir Arab. Dan bahkan
pada kota-kota dagang itu telah terdapat Fondasi-fondasi para pedagang Islam.
Jadi dapat ditafsirkan bahwa agama Islam masuk ke Indonesia sejak awal ke-8 M,
langsung dibawa oleh para pedagang dan musafir Arab.
3.3

Corak dan Perkembangan Islam di Indonesia

1.

Masa Kesulthanan
Untuk melihat lebih jelas gambaran keislaman di kesultanan atau kerajaankerajaan Islam akan di uraikan sebagai berikut.
Di daerah-daerah yang sedikit sekali di sentuh oleh kebudayaan HinduBudha seperti daerah-daerah Aceh dan Minangkabau di Sumatera dan Banten di
Jawa, Agama Islam secara mendalam mempengaruhi kehidupan agama, sosial dan
politik penganut-penganutnya sehingga di daerah-daerah tersebut agama Islam itu
telah menunjukkan di dalam bentuk yang lebih murni.
Di kerajaan Banjar, dengan masuk Islamnya raja, perkembangan Islam
selanjutnya tidak begitu sulit karena raja menunjangnya dengan fasilitas dan
kemudahan-kemudahan lainnya dan hasilnya mebawa kepada kehidupan
masyarakat Banjar yang benar-benar bersendikan Islam. Secara konkrit,
kehidupan keagamaan di kerajaan banjar ini diwujudkan dengan adanya mufti dan
qadhi atas jasa Muhammad Arsyad Al-Banjari yang ahli dalam bidang fiqih dan
tasawuf. Di kerajaan ini, telah berhasil pengodifikasian hukum-hukum yang
sepenuhnya berorientasi pada hukum islam yang dinamakan Undang-Undang
Sultan Adam. Dalam Undang-Undang ini timbul kesan bahwa kedudukan mufti
mirip dengan Mahkamah Agung sekarang yang bertugas mengontrol dan kalau
perlu berfungsi sebagai lembaga untuk naik banding dari mahkamah biasa.

Tercatat dalam sejarah Banjar, di berlakukannya hukum bunuh bagi orang


murtad, hukum potong tangan untuk pencuri dan mendera bagi yang kedapatan
berbuat zina.
Pada akhirnya kedudukan Sultan di Banjar bukan hanya pemegang
kekuasaan dalam kerajaan, tetapi lebih jauh diakui sebagai Ulul amri kaum
Muslimin di seluruh kerajaan itu.
Untuk memacu penyabaran agama Islam, didirikan sebuah organisasi yang
Bayangkare Islah (pengawal usaha kebaikan). Itulah organisasi pertama yang
menjalankan program secara sistematis sebagai berikut:
a.

Pulau Jawa dan Madura dibagi menjadi beberapa wilayah kerja para wali.

b.

Guna memadu penyebaran agama Islam, hendaklah di usahakan agar Islam dan
tradisi Jawa didamaikan satu dengan yang lainnya.

c.

Hendaklah di bangun sebuah mesjid yang menjadi pusat pendidikan Islam.


Dengan kelonggaran-kelonggaran tersebut, tergeraklah petinggi dan
penguasa kerajaan untuk memeluk agama Islam. Bila penguasa memeluk agama
Islam serta memasukkan syariat Islam ke daerah kerajaannya, rakyat pun akan
masuk agama tersebut dan akan melaksanakan ajarannya. Begitu pula dengan
kerajaan-kerajaan yang berada di bawah kekuasaannya. Ini seperti ketika di
pimpin oleh Sultan Agung. Ketika Sultan Agung masuk Islam, kerajaan-kerajaan
yang ada di bawah kekuasaan Mataram ikut pula masuk Islam seperti kerajaan
Cirebon, Priangan dan lain sebagainya. Lalu Sultan Agung menyesuaikan seluruh
tata laksana kerajaan dengan istilah-istilah keislaman, meskipun kadang-kadang
tidak sesuai dengan arti sebenarnya.

2.

Masa Penjajahan
Ditengah-tengah proses transformasi sosial yang relative damai itu,
datanglah pedagang-pedagang Barat, yaitu portugis, kemudian spanyol, di susul
Belanda dan Inggris. Tujuannya adalah menaklukkan kerajaan-kerajaan Islam
Indonesia di sepanjang pesisir kepulauan Nusantara ini.

Pada mulanya mereka datang ke Indonesia hanya untuk menjalinkan


hubungan dagang karena Indonesia kaya akan rempah-rempah, tetapi kemudian
mereka ingin memonopoli perdagangan tersebut dan menjadi tuan bagi bangsa
Indonesia.
Apalagi setelah kedatangan Snouck Hurgronye yang ditugasi menjadi
penasehat urusan pribumi dan Arab, pemerintah Hindia-Belanda lebih berani
membuat kebijaksanaan mengenai masalah Islam di Indonesia karena Snouck
mempunyai pengalaman dalam penelitian lapangan di Negeri Arab, Jawa dan
Aceh. Lalu ia mengemukakan gagasannya yang di kenal dengan politik Islam di
Indonesia. Dengan politik itu ia membagi masalah Islam dalam tiga kategori,
yaitu:
a.

Bidang agama murni atau ibadah;

b.

Bidang sosial kemasyarakatan; dan

c.

Politik.
Terhadap bidang agama murni, pemerintah colonial memberikan
kemerdekaan kepada umat Islam untuk melaksanakan ajaran agamanya sepanjang
tidak mengganggu kekuasaan pemerintah Belanda.
Dalam bidang kemasyarakatan, pemerintah memamfaatkan adat kebiasaan
yang berlaku sehingga pada waktu itu dicetuskanlah teori untuk membatasi
keberlakuan hukum Islam, yakni teori reseptie yang maksudnya hukum Islam
baru bisa diberlakukan apabila tidak bertentangan dengan alat kebiasaan. Oleh
karena itu, terjadi kemandekan hukum Islam.
Sedangkan dalam bidang politik, pemerintah melarang keras orang Islam
membahas hukum Islam baik dari Al-Quran maupun Sunnah yang menerangkan
tentang politik kenegaraan atau ketatanegaraan.

3.

Gerakan dan organisasi Islam


Akibat dari resep politik Islam-nya Snouck Hurgronye itu, menjelang
permulaan abad xx umat Islam Indonesia yang jumlahnya semakin bertambah
menghadapi tiga tayangan dari pemerintah Hindia Belanda, yaitu: politik devide

etimpera, politik penindasan dengan kekerasan dan politik menjinakan melalui


asosiasi.
Untuk sementara pihak pemerintah colonial berhasil mencapai sasarannya,
yakni beberapa golongan Islam dapat di pecah-belah, perlawanan dapat
dipatahkan dengan kekerasan senjata, sebagian besar golongan Islam yang di
pedalaman dapat terus diisolasi dalam alam ketakhayulan dan kemusyrikan, dan
sebagian lagi memasuki aparatur kepegawaian colonial rendahan.
Namun, ajaran Islam pada hakikatnya terlalu dinamis untuk dapat
dijinakkan begitu saja. Dengan pengalaman tersebut, orang Islam bangkit dengan
menggunakan taktik baru, bukan dengan perlawanan fisik tetapi dengan
membangun organisasi. Oleh karena itu, masa terakhir kekuasaan Belanda di
Indonesiadi tandai dengan tumbuhnya kesadaran berpolitik bagi bangsa Indonesia,
sebagai hasil perubahan-perubahan sosial dan ekonomi, dampak dari pendidikan
Barat, serta gagasan-gagasan aliran pembaruan Islam di Mesir.
Akibat dari situasi ini, timbullah perkumpulan-perkumpulan politik baru
dan muncullah pemikir-pemikir politik yang sadar diri. Karena persatuan dalam
syarikat Islam itu berdasarkan ideologi Islam, yakni hanya orang Indonesia yang
beragama Islamlah yang dapat di terima dalam organisasi tersebut, para pejabat
dan pemerintahan (pangreh praja) ditolak dari keanggotaan itu.
Persaingan antara partai-partai politik itu mengakibatkan putusnya
hubungan antara pemimpin Islam, yaitu santri dan para pengikut tradisi Jawa dan
abangan. Di kalangan santri sendiri, dengan lahirnya gerakan pembaruan Islam
dari Mesir yang mengompromikan rasionalisme Barat dengan fundamentalisme
Islam, telah menimbulkan perpecahan sehingga sejak itu dikalangan kaum
muslimin terdapat dua kubu: para cendekiawan Muslimin berpendidikan Barat,
dan para kiayi serta Ulama tradisional.
Selama pendudukan jepang, pihak Jepang rupanya lebih memihak kepada
kaum muslimin dari pada golongan nasionalis karena mereka berusaha
menggunakan agama untuk tujuan perang mereka. Oelh karena itu, ada tiga
prantara politik berikut ini yang merupakan hasil bentukan pemerintah Jepang
yang menguntungkan kaum muslimin.

1.

Shumubu, yaitu Kantor Urusan Agama yang menggantikan Kantor Urusan


Pribumi zaman Belanda.

2.

Masyumi,

yakni

singkatan

dari

Majelis

Syura

Muslimin

Indonesia

menggantikan MIAI yang dibubarkan pada bulan oktober 1943.


3.

Hizbullah, (Partai Allah dan Angkatan Allah), semacam organisasi militer untuk
pemuda-pemuda Muslimin yang dipimpin oleh Zainul Arifin.

3.4

Tersiarnya Islam di Indonesia


Sebelum Islam masuk ke Indonesia, agama Hindu dan Budha telah
berkembang luas di nusantara ini, disamping banyak yang masih menganut
animism dan dinamisme, kedua agama itu kian lama kian pudar cahayanya dan
akhirnya kedudukannya sepenuhnya diganti oleh agama Islam yang kemudian
menjadi anutan 85 hingga 95% rakyat Indonesia. Sebab-sebab sangat pesat dan
cepat tersiarnya Islam di Indonesia antara lain sebagai berikut:

1.

Terutama sekali faktor agama Islam (aqidah, syariah dan akhlak islam) sendiri
yang lebih banyak berbicara kepada segenap lapisan masyarakat Indonesia.

2.

Faktor para mujtahid dakwah yang banyak terdiri atas para saudagar yang taraf
kebudayaannya sudah tinggi, yang telah berhasil membawakan Islam dan segala
kebijaksanaan kemahiran dan keterampilan

3.

Ajaran Islam tentang dakwah untuk menyampaikan ajaran Allah walaupun


sekedar satu ayat kepada segenap manusia di seluruh pelosok bumi telah
menjadikan segenap kaum muslimin menjadi umat dakwah.

4.

Baik agama Hindu maupun Budha pada umumnya dipeluk oleh orang-orang
keraton yang pada saat mulai tersebarnya Islam antara raja yang satu dengan yang
lainnya terlibat dalam perselisihan.

5.

Pernikahan antara para penyebar Islam dan orang-orang yang baru di islamkan
melahirkan generasi pelanjut yang menganut dan menyebarkan Islam.

3.5

Pengaruh Islam terhadap Peradaban Bangsa Indonesia

1.

Peradaban dan Agama Masyarakat Indonesia Sebelum Kedatangan Islam

Secara geografis, wialayah Indonesia termasuk ke dalam kawasan Asia


Tenggara. Masyarakat di wilayah ini telah memiliki peradaban yang tinggi
sebelum kedatangn Islam. Hal itu disebabkan karena wilayah Asia Tenggara
merupakan Negara-negara yang memiliki kesamaan budaya dan agama.
Bangsa Indonesia dalam sejarahnya telah mengenal tulisan yang diajarkan
oleh para penyebar agama Hindu dan Budha.pengaruh ini telah berlangsung
cukup lama, mungkin sejak abad ke-6 atau ke-7 M sampai abad ke-14 dan ke-15
M. pengaruh Hinduisme dan Budhisme membawa perubahan besar, terutama
dalam sistem pemerintahan.
Bukti dari pengaruh agama Hindu dan Budha bagi masyarakat Indonesia dapat
dilihat dari banyaknya bangunan-bangunan suci untuk peribadatan, seperti candicandi, ukiran, dan sebagainya. Semua bangunan itu merupakan perpaduan antara
seni bangunan zaman megalithicum, seperti punden berundak-undak.ukiran dan
relief yang terdapat di dalamnya menggambarkan kreatifitas bangsa Indonesia.
2.

Pengaruh

Islam

terhadap

Peradaban

Bangsa

Indonesia

dan

Perkembangannya
Islam sebagai agama baru yang dianut sebagian masyarakat Indonesia,
telah banyak memainkan peranan penting dalam berbagai kehidupan sosial,
politik, ekonomi, dan kebudayaan. Peranan itu dapat dilihat dari perkembangan
Islam dan pengaruhnya di masyarakat Indonesia sangat luas, sehingga agak sulit
untuk memisahkan antara kebudyaan local dengan kebudayaan Islam. Masuknya
kebudayaan Islam dalam kebudayaan nasional, meliputi bahasa, nama, adat
istiadat dan kesenian.
a.

Pengaruh Bahasa dan Nama


Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional banyak terpengaruh dari bahasa
Arab. Bahasa ini sudah begitu menyatu dalam lidah bangsa Indonesia. Tidak
hanya dalam bahasa komunikasi sehari-hari, bahakan dipergunakan pula dalam
bahasa surat kabar, dan sebagainya.

Pengaruh Islam dalam bidang nama, sungguh banyak sekali. Banyak tokoh
dan bukan tokoh masyarakat menggunakan nama berdasarkanpada bahasa
Arab,yang merupakan bahasa simbol pemersatu Islam. Semua itu bukti adanya
pengaruh Islam dalam kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia.

b.

Pengaruh Adat Istiadat


Adat istiadat yang ada dan berkembang di Indonesia banyak dipengaruhi
oleh peradaban Islam. Di antara pengaruh itu adalah ucapan salam kepada setiap
muslim

yang

dijumpai,

atau

penggunaannya

dalam

acara-acara

resmi

pemerintahan.
Pengaruh lainnya adalah berupa ucapan-ucapan kalimat penting dalam doa
yang merupakan pengaruh dari tradisi Islam yang lestari.
c.

Pengaruh Dalam Kesenian dan Bangunan Ibadah


Pengaruh kesenian yang paling menonjol dalam hal ini terlihat dalam
irama qasidah dan lagu-lagu yang bernafaskan ajaran Islam. Syair pujian yang
mengagungkan nama-nama Allah yang sering diucapkan oleh umat Islam,
merupakan bukti pengaruh ajaran Islam terhadap kehidupan beragama masyarakat
Islam Indonesia.
Begitu pula pengaruh dalam bidang bangunan peribadatan. Banyak bangunan
mesjid yang ada di Indonesia, terpengaruh dari bangunan mesjid yang ada di
Negara-negara Islam, baik yang ada di Timur Tengah ataupun di tempat-tempat
lainnya di dunia Islam.

d.

Pengaruh Dalam Bidang Politik


Ketika kerajaan-kerajaan Islam mengalami masa kejayaannya, banyak
sekali undur politik Islam yang berpengaruh dalam system politik pemerintahan
kerajaan-kerajaan Islam tersebut. Misalnya tentang konsep khalifatullah fil ardi
dan dzilullah fil ardi. Kedua konsep ini diterapkan pada masa pemerintahan
kerajaan Islam Aceh Darussalam dan kerajaan Islam Mataram.[5]

3.6

Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia


Dalam perkembangan selanjutnya, Islam menempati posisi penting dalam
percaturan sosial ekonomi dan sekaligus percaturan politik. Kekuatan sosial
politik itu semakin mantap ketika lahirnya lembaga-lembaga politik, seperti
kerajaan-kerajaan Islam. Di antara kerajaan-kerajaan Islam yang pernah berdiri di
Indonesia adalah:
a. Kerajaan Islam Samudra Pasai

f. Kerajaan Islam Cirebon

b. Kerajaan Islam Aceh Darussalam

g. Kerajaan Islam Banten

c. Kerajaan Islam Demak

h.

Kerajaan

Islam

di

i.

Kerajaan

Islam

di

Kalimantan
d. Kerajaan Islam Pajang
Sulawesi
e. Kerajaan Islam Mataram

BAB II
PEMBAHASAN
PUSAT-PUSAT PERADABAN DI DUNIA ISLAM
Dalam konteks peradaban, Islam menampilkan peradaban baru yang
esensinya berbeda dengan peradaban sebelumnya, peradaban yang ditinggalkan
Nabi SAW. misalnya,

jelas

sangat

berbeda dengan

peradaban Arab

di

zaman Jahiliah. Dengan demikian, Islam telah melahirkan revolusi kebudayaan


dan peradaban. Peradaban Islam berkembang sangat maju dalam percaturan
peradaban dunia, bahkan jauh sebelum kebangkitan bangsa eropa, umat Islam
telah maju dengan peradabannya yang gemilang. Adapun pusat-pusat peradaban
di dunia Islam yang mendukung kemajuan Islam di dunia sebagai berikut:
A.

MEKAH AL-MUKARRAMAH
Mekah Al-Mukarramah merupakan kota tempat lahirnya agama islam, di
mana Nabi Muhammad SAW lahir dan memperoleh wahyu Alquran di kota
mekah. Mekah juga merupakan kota budaya islam. Di mana kota mekah
merupakan kota untuk menuntut ilmu, baik pada masa Nabi Muhammad SAW,
khulafaur rasyidin maupun umayyah dan abbasiyah, bahkan hingga sekarang.
Awalnya mekah merupakan pusat peradaban jahiliah yang penuh dengan
paganisme. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan agama islam yang dibawa
oleh Nabi Muhammad SAW , kota mekah menjadi kota suci umat islam. Di kota
ini juga terdapat kabah di Masjidil Haram yang merupakan kiblat umat islam
dalam sholat. Mekah juga menjadi pusat kajian ilmu-ilmu keagamaan, khususnya
menjadi pusat kajian ilmu hadis dan fiqih.
Dari Madinah setelah posisi dan kekuatan Nabi Muhammad dan
pengikutnya menjadi besar, beliau merebut kembali kota mekah dengan cara
menaklukan kota itu secara damai, pada tahun 8H (630M) sehingga dikenal
dengan fathu makkah, Yaitu terbukanya kota Mekah. Di samping sebagai kota
suci,

mekah

juga

menjadi

kota

budaya

lantaran

kebudayaan

dikembangkan oleh Nabi di kota ini, samping Madinah Al-munawwarah.

islam

B.

MADINAH AL-MUNAWWARAH
Madinah Al-munawwarah, awalnya kota ini bernama Yasrib. Kota
Madinah menjadi pusat kebudayaan islam setelah Nabi Muhammad berhijrah dari
Mekah ke Yasrib. Setelah Nabi hijrah ke Yasrib, maka kota tersebut dijadikan
pusat jamaah kaum muslimin, dan selanjutnya menjadi ibu kota Negara Islam
yang segera didirikan oleh Nabi, dengan di ubah namanya menjadi Madinah.
Dari Madinah Nabi meneruskan perjuangan menyebarkan agama islam. Di
Madinah selama 13 tahun Nabi membina dan mengembangkan masyarakat islam.
Bahkan di Madinah ini, Nabi membangun sistem kehidupan bermasyarakat Islam
yang dicita-citakan.[1]
Di tengah-tengah kota Madinah, beliau membangun masjid ditempat yang
mana beliau dimakamkan disana yang terkenal dengan nama Masjid Nabawi.
Masjid diberi dua pintu yaitu pintu Aisyah dan pintu Atiqah . Tanah yang
dijadikan tanah area masjid merupakan kepunyaan dua anak yatim yang berada
dalam perwalian As-Ad bin Zararah dan tanah tersebut menjadi tempat menjemur
kurma.[2]
Nabi SAW mempersaudarakan antara semua kaum muslimin yang berbedabeda suku dan bangsa, yang berlain-lain warna kulit dan rupa: Al-Wahdatul
Islamiyah menggantikan Al-Wahdatul Qaumiyah, sehingga dengan demikian
mereka semua menjadi bersaudara dan sederajat. Madinah Al-Munawwarah
merupakan kota pusat kebudayaan islam di Arab, karena kota ini merupakan pusat
Ilmu pengetahuan dan kota perjuangan Nabi dalam menegakkan Agama Islam
sekaligus pusat peradaban Islam. Ilmu pengetahuan agama islam yang pertama
kali berkembang adalah Ilmu hadis, karena melalui Ilmu hadis ini kaum muslimin
pertama-tama mengetahui hukum-hukum Islam, penafsiran Al-Quran, sunnah
Rasulullah dan para sahabat, keteladanan Rasulullah, dan lain sebagainya.
Perkembangan Ilmu Hadis ini berlangsung melalui periwayatan.[3]

Pada zama Nabi dan para khulafaur rasydin, Maasjid Madinah menjadi kantor
besar yang didalamnya diurus segala urusan pemerintahan. Masjid tidak hanya
menjadi tempat ibadah tetapi juga menjadi pusat kehidupan politik, ekonomi, dan
social.
Di kota ini Nabi dimakamkan. Kota Madinah merupakan kota suci umat Islam
setelah Mekah Al-Mukarramah.
C. BAGHDAD
Baghdad didirikan pada tahun 762M oleh khalifah Al-manshur dan Dinasti
Abbasiyah(754-755). Satu tim ahli dibentuk untuk memilih sebuah bidang tanah
yang cukup luas, yang terletak antara sungai Tigris dengan sungai Eufrat.
Baghdad berarti Taman keadilan. Dalam pembangunan kota Baghdad khalifah
mempekerjakan ahli bangunan terdiri dari arsitektur, tukang batu, tukang kayu,
ahli lukis, ahli pahat dan lain-lain, mereka didatangkan dari syiria, mosul, bashrah
dan kufah yang berjumlah sekitar 100.000 orang. Kota ini berbentuk bundar, di
sekelilingnya dibangun tembok yang besar dan tinggi. Di sebelah luar tembok di
bangun parit besar sebagai saluran air dan sekaligus sebagai benteng.
Istana khalifah terletak di tengah-tengah kota Baghdad dengan gaya seni
arsitektur Persia, yang dikenal dengan Al-Qashr Az-Zahabi (Istana Emas). Kota
Baghdad sejak awal berdirinya sudah menjadi pusat peradaban dan kebangkitan
ilmu pengetahuan dalam islam. Masa keemasan kota Baghdad terjadi pada masa
khalifah harun Ar-Rasyd (786-809M), dan anaknya Al-Makmun (813-833M).
Pada masa abbasiyah, d kota Baghdad juga berdiri akademi dan sekolah tinggi.
Perguruan tinggi yang terkenal adalah perguruan An-Nizhamiyah, didirikan oleh
Nizamul Mulk (5M) dan perguruan Al-Mustanshiriyah yang didirakan oleh
khalifah Al-Muntashir Billah (abad 7H).
Dari Baghdad lahir karya-karya sastra yang indah. Di antaranya Alfu Lailah
wa Lailah (1001 malam). Dari ilmu ini lahir para ilmuwan, ulama, filsuf, dan
sastrawan terkenal, di antaranya: Al- khawarizmi (tokoh astronomi dan
matematika), Al-farabi (fisuf besar), Ar-Razi (filsuf, ahli fisika, dan kedokteran),

Imam Al-Ghazali (ilmuwan dan ulama ternama), Syaikh Abdul Qadir Al-jailani
(pendiri tarekat Qadiriyah), dan lain-lain.
Karena serangan bangsa mongol dibawah Hulagu Khan pada tahun
1258M kota ini hancur berantakan. Semua bangunan kota hancur termasuk istana
emas. Pada tahun 1400M, kota ini diserang pula oleh pasukan timur lenk, dan
pada tahun 1508M kota ini juga dihancurkan oleh tentara kerajaan safawi.

D. KAIRO (MESIR)
Setelah panglima jauhar As-Siqili menduduki mesir pada tahun 358H, maka ia
mengambil keputusan untuk memindahkan pusat pemerintahan dari Fustat, ke
kota yang akan dibangun. Pada tanggal 17 syaban 358H (969M), jauhar As-Siqili
memulai pembangunan kota baru untuk menjadi ibu kota Dinasti Fathimiyah.
Kota ini mula-mula diberi nama kota Manshuriyah di nibatkan kepada
Mansur Al-Muiz Lidinilah. Setelah Muiz sendiri sampai di Mesir, namanya di
ubah menjadi Qahirah Muiziyah. Wilayah Dinasti fathimiyah meliputi Afrika
Utara, Sicilia, dan Syiria. Setelah pembangunan kota kairo selesai lengkap dengan
istanany, Jauhar As-Siqili mendirikan Masjid Al-Azhar pada 17 Ramadhan 359H
(970M). Masjid Al-Azhar dalam perkembangannya menjadi unuversitas besar.
Kota Kairo mengalami puncak kejayaan pada masa Dinasti Fathimiyah, yaitu
pada masa pemerintahan Shalahuddin Al-Ayyubi, pemerintahan Baybars, dan
pemerintahan An-Nashir pada masa Dinasti Mamlik. Periode Fathimiyah di mulai
dengan Al-Muiz dn puncaknya terjadi pada masa pemerintahan Al-Aziz. Dinasti
Fathimiyah dapat ditumbangkan oleh Dinasti Ayyubiyah yang didirikan oleh
Shalahuddin Al-Ayyubi seorang pahlawan dalam perang salib. Shalahuddin tetap
mempertahankan lembaga-lembaga ilmiah yang didirikan oleh Dinasti Fathimiyah
tetapi mengubah orientasi keagamaannya dari syiah menjadi Ahlu Sunnah.
Kekuasaan Dinasti Ayyubiyah di Mesir diteruskan oleh Dinasti Mamluk.
Dinasti ini mampu mempertahankan pusat kekuasaannya dari serangan Bangsa
Mongol di Ain Jalut dibawah pimpinan Baybars yang berkuasa dari 1260-1277 M.

Baybars juga dikenal sebagai pahlawan perang salib pada waktu itu, kairo menjadi
stu-satunya pusat peradaban Islam yang selamat dari serangan Mongol. Kairo
pada waktu itu menjadi pusat peradaban Islam yang terpenting. Pada tahun
1517M, Dinasti Mamlik dapat dikalahkan oleh Dinasti Usmani.[4]
E.

DAMASKUS DI SYIRIA
Kota Damaskus sebelum ditaklukkan bangsa Arab adalah sebagai ibu kota
pemerintahan kolonial Romawi. Kemudian kota Damaskus menjadi pusat
pemerintahan Islam sejak masa ke khalifahan pada zaman sebelum Islam adalah
ibu kota kehalifahan Muawiyah bin Abi Sufyan, khalifah pertama Bani
Umayyah. Pada masa itu Damaskus menjadi kota paling besar dan paling megah
di wilayah pemerintahan Islam, sebagaimana kota Damaskus juga teristimewa
dari kota-kota lain dengan banyak di aliri sungai dan dengan memiliki beberapa
mata air.damaskus bersal dari kataAd Damaqs yang berarti sejenis sutera yang
sudah sangat terkenal sejak zaman dahulu jauh sebelum zaman Islam.[5] Di kota
Damaskus banyak didirikan gedung-gedung yang indah yang bernilai seni,
terdapat pula Masjid Damaskus yang megah dan agung yang dibangun oleh
khalifah Al-Walid bin Abdul Malik dengan arsiteknya Abu Ubaidah bin Jarrah.
Untuk keperluan pembangunannya khalifah Al-Wlid mendatangkan 12.000
orang tukang ahli dari Romawi, kecuali bangunannya sendiri memiliki nilai seni
yang luar biasa, juga pilar-pilar dan dindingnya di ukir dengan ukiran yang indah.
Panjang Masjid mencapai 300m dan lebarnya 200m, di bangun di atas 68 pilar
yang kokoh, dengan biaya 11.200.000 dinar.

F.

ISFAHAN DI PERSIA
Kota Isfahan adalah ibu kota kerajaan shafawi. Merupakan kota tua yang
didirikan oleh yasdajird I (Buhtanashar) Raja Persia. Kota ini dikuasai Islam pada
tahun 19H/640M pada masa Umar bin Khaththab. Sekarang masuk dalam wilayah
iran.

Pada waktu Abbas I Safawiyah menjadikan Isfahan sebai ibu kota


kerajaannya , kota ini menjadi kota yang luas dan indah. Kota ini terletak di
sungai Zandah, dan di atasnya membentang tiga buah jembatan yang megah.
Pada tahun 625H/1228M terjadi pertempuran besar di Isfahan, ketika tentara
Mongol dating menyerbu negeri-negeri Islam dan menjadikan Isfahan sebagai
salah satu wilayah kekuasaan Mongol. Ketika Timur Lenk menyerbu negerinegeri Islam pada tahun 790H/1388M, kota Isfahan jatuh dibawah kekuasaan
Timur Lenk. Kemudian kota Isfahan di kuasai oleh kerajaan Turki Usmani pada
tahun 955H/1548M.
Ketika Timur Lenk menyerbu negeri-negeri Islam pada tahun 790H/1388M,
kota Isfahan jatuh dibawah kekuasaan Timur Lenk.

Kemudian kota Isfahan di kuasai oleh kerajaan Turki Usmani pada tahun
955H/1548M. pada tahun 1134H/1721M terjadi pertempuran antara Husein Syah,
Raja Syafawi dengan Mahmud Al-Afghani, yang mengakhiri riwayat kerajaan
Syafawi. Pada tahun 1141H/1729M, kota Isfahan dibawah kekuasaan Nadir Syah.
Di kota ini berdiri bangunan-bangunan indah seperti Istana, sekolah-sekolah,
masjid, menara, pasar dan rumah-rumah dengan ukiran arsitektur yang indah.
Sultan Abbas I membangun Masjid Syah yang merupakan salah satu Masjid Indah
dan megah di dunia.
G.

ISTAMBUL DI TURKI
Kota Istambul adalah Ibu kota kerajaan Turki Usmani. Kota ini awalnya
merupakan ibu kota kerajaan Romawi timur dengan nama konstantinopel. Pada
tahun 395 M, Kerajaan romawi pecah menjadi dua, Romawi timur dan Romawi
barat.
Konstantinopel jatuh ke tangan umat islam pada masa Dinasti Turki Usmani
dibawah pimpinan Sultan Muhammad II yang bergelar Muhammad Al-Fatih pada
tahun 1453. Oleh Sultan Muhammad Al-Fatih, kota konstantinopel yang artinya
kota constantin, diubah namanya menjadi Istambul yang artinya kota Islam.
Wilayah kekuasaannya meliputi sebagian besar wilayah Eropa Timur, Asia kecil
dan Afrika utara. Bahkan daerah-daerah Islam yang lebih jauh juga mengakui
kekuasaan Istambul.
Pengaruh jatuhnya konstantinopel besar sekali bagi Turki Usmani.kota tua
itu adalah pusat kerajaan bizantium yang menyimpan banyak ilmu pengetahuan
dan menjadi pusat Agama Kristen ortodoks. Kesemuanya itu diwarisi oleh
Usmani.
Istambul merupakan pusat peradaban Islam pada masa kekuasaan Turki
Usmani yang terpenting. Bukan saja karena keindahan kotanya akan tetapi, juga
kerena di kota bekas pusat kekuasaan Romawi Timur itu terdapat pusat-pusat
kajian keilmuan yang mendorong puncak kejayaan peradaban umat Islam.

H.

DELHI (INDIA)

Delhi adalah ibu kota kerajaan Islam India sejak tahun 608 H/1211 M. Delhi
menjadi pusat kebudayaan dan peradaban Islam di anak benua India.
Delhi terletak di pinggir sungai Jamna. Mula-mula Delhi dikuasai Islam,
ditaklukkan oleh Quthb Ad-Din Aybak. Tahun 602 H/1204 M oleh Quthb Ad-Din
Aybak dijadikan ibu kota kerajaan Islam Mongol. Zhahiruddin Babur raja Dinasti
Mongol pertama, merebut Delhi dari tangan Dinasti Lodi.
setelah Delhi dihancurkan oleh tentara Timur Lenk, kekuasaan raja-raja yang
berkedudukan di Delhi merosot tajam. Dinasti Lodi mengambil kota Agra seagai
ibu kota, sementara Delhi menjadi kota yang kurang penting. Kota Agra itu pula
untuk pertama kalinya menjadi ibu kota kerajaan Mongol, ketika Zhahiruddin
Babur mengalahkan Dinasti Lodi. Kota Delhi menjadi ibu kota kerajaan Mongol
pada masa Humayun (1530-1556), seorang raja yang cinta ilmu. Raja Mongol
lainnya, Syah Jehan (1628-1658) mendirikan kota Syahjahanabad. Syah Jehan
mendirikan monemen bersejarah yang sangat indah dan menjadi

salah satu

Tujuh Keajaiban Dunia. Yaitu Taj Mahal, sebuah monumen untuk mengenang istri
tercintanya Mumtaz Mahal.
I.

ANDALUSIA (SPANYOL)
Andalusia adalah sebuah wilayah Islam di Spanyol. Setelah Andalusia menjadi
wilayah Islam, maka dibangunlah, kembali kota-kota lama, di samping
membangun kota baru, dengan gaya seni bangunan Islami, di mana kemudian
Andalusia terkenal dengan kota-kotanya yang indah, masjid-masjid yang cantik,
istana-istananya yang mengagumkan dan taman-tamannya yang mempesona.
Pusat-pusat peradaban Islam di Spanyol adalah sebagai berikut:

1.

Cordava
Cordova merupakan salah satu di antara kota-kota besar dan ajaib. Cordava adalah
kota lama yang di bangun kembali dengan gaya Islam. Setelah dibangun kembali,
luas Cordova menjadi 24 mil panjangnya, dan 6 mil lebarnya, atau 144 mil
persegi.

Menurut George Zaidan, bahwa bangunana yang terdapat dalam kota Cordova
antara lain:
113.000 rumah rakyat,
430 istana besar kecil,
6.300 rumah pegawai negri,
3.873 masjid,
900 tempat pemandian (hamamaat),
8.455 toko besar-kecil.
Jumlah penduduk Cordova kurang lebih 500.000 jiwa. Tercatat bahwa di cordova
terdapat 27 lembaga pendidikan, dan 70 buah perpustakaan. Di perpustakaan
pusat terdapat 400.000 buku, di samping itu masih ada perpustakaan pribadi. Dari
kota ini lahirlah filsuf Ibnu Rusyd (Averros).
Kota ini pertama kali dimasuki Islam pada tahun 711 M oleh pasukan Islam di
bawah pimpinan Thariq bin ziyad. Ketika Abdurrahman I yang bergelar
Abdurrahman Ad-Dhakil masuk ke Andalusia, telah menjadikan Cordova sebagai
ibu kota dan kota yang indah.
Ia ciptakan taman dengan dipenuhi tuffah (apel), dan pohon delima. Ditanami
juga sebuah pohon palm yang sengaja di datangkan dari Syiria.
Semasa pemerintahan Abdurrahman An-Nasir (912-961 M), Abdurrahman
III, Cordova diperindah dan diperluas, istana-istana kecil didirikan seperti AlMubarak, Al-Kamil, Ar-Raudah, AL-Mujaddi dan lain-lain. Sedang ynag terindah
adalah Az-Zahra.
2.

Sevilla
Kota Sevilla (Asyibiliyah) dibangun pada masa Dinasti Al-Muwahiddin
memerintah. Kota ini pernah menjadi ibu kota Andalusia. Semula kota ini adalah
rawa-rawa. Pada masa romawi kota ini bernama Romula Agusta, kemudian
berubah menjadi Hispah, sebelum menjadi Ayibiliyah.
Selama di kuasai Islam, kota ini selalu diperindah dengan tanamantanaman berbunga yang harum baunya. Pengaruh Romawi nampak pada
penanaman pohon-pohon zaitun dan tata cara kehidupan di dusun. Sedang orangorang Arab dan Yahudi telah meninggalkan sifat-sifat yang serbak mistik.

Sevilla berada di bawah kekuasaan Islam, kurang lbih selama 500 tahun
(712-1248 M). Tidak heranlah jika kini banyak dijumpai sisa-sisa peninggalan
seni dan budaya Islam. Salah satu bangunan yang menjadi kebanggaan umat
Islam, kini telah berubah dari masjid besar menjadi gereja yaitu Santa Maria de la
sede. Masjid besar itu dahulu dibangun pada tahun 1171 M pada masa
pemerintahan Sultan Yusuf Abu Yakub (1163-1184 M). Sevilla jatuh ke tangan
Raja Ferdinand pada tahun 1492 M.
3.

Granada
Granada merupakan kota besar di Andalusia, yang pernah menjadi
kebanggaan kaum muslimin Andalusia. Granada terletak sekitar 288 km sebelah
timur kota Sevilla, oada sebuah daratan tinggi yang subur.
Kebesaran kota Granada terlihat pada peninggalannya yang berupa istana
Alhambra yang didirikan pada tahun 1238M/635H oleh Muhammad bin AlAhmar dari Dinasti Ahmar. Granada menjadi kota terbesar ke lima di Spanyol,
pada abad ke-12 M.
Kota ini terletak di tepi sungsi Genil di kaki Gunung Seirra Nevada,
berdekatan dengan pantai laut Mediterania (Laut Tengah0. Semula Granada
adalah tempat tinggal orang Iberia, kemudian menjadi kota orang Romawi, dan
baru terkenal setelah berada di tangan orang-orang Islam.

J.

TRANSOXANIA
Transoxania adalah wilayah Bukhara dan Samarkand. Transoxania adalah wilayah
yang terletak di Asia Tengah, terletak di sekitar barat Cina dan Selatan Rusia serta
di sebelah Timur Afghanistan. Di wilayah ini mterdapat dua kota penting yang
menjadi pusat peradaban Islam, yaitu:

1.

Samarkand
Samarkand berada di sebelah selatan sungai As-Saghad. Riwayat tentang
kota Samarkand yang tertua disebutkan dalam berita-berita tentang peperanganpeperangan Iskandar Zurkarnain (Alexander the Great) di Timur. Menurut
riwayat-riwayat tertua dalam bahasa Arab, iskandarlah yang mendirikan kota
Samarkand. Setelah tahun 323 M, kota ini menjadi bagian dari sebuah kekuasaan

yang berpusat di Bactria. Setelah itu kota tersebut berdiri pula kerajaaan GraecoBactrion (Bractia- Yunani) pada masa Anthiochus II Theos.
Di Samarkand terdapat makam terkenal yang sangat dihormati dan
dikunjungi orang, yaitu makam Qasim bin Abbas, yang dipandang sebagai
pembawa agama Islam ke negeri ini pada masa khalifah Utsman bin Affan. Di
samarkand juga terdapat makam ulama theologi terkenal yaitu Abu Manshur AlMaturidi, yaitu seorang ulama pendiri aliran Maturidiyah, penopang paham Ahlus
Sunnah.
Salah satu walisongo, yaitu Maulana Malik Ibrahim (wafat 1419M) jga
disebutkan konon berasal dari daerah Samarkand, karena ia berasal dari keturunan
Ibrahim As-Samarkandi, yang kemudian di jawa dikenal dengan sebutan Ibrahim
Asmarakandi.
2.

Bukhara
Bukhara diperkirakan sudah ada sebelum Islam, kota ini sudah ada ketika
Iskandar zulkarnain datang ke sana. Pengaruh Persia sanagt menonjol pada
bangunan-bangunan kuno. Demikian pula pen garuh cina. Sebalum Islam datang
ke Bukhara penganut agama buddha cukup banyak.
Pada tahun 204 H/819 M al-Makmun, khalifah dari Dinastii Abbasiyah
yang berpusat di Baghdad menyerahkan urusan pemerintahan negeri Transoxania,
khususnya Samarkand dan Bukhara kepada keluarga Asad ibn Saman. Sejak itu,
dua kota ini berada di bawah kekuasaan Dinasti Samaniyah.
Di kota bukhara ini terdapat makam yang di hormati dan menjadi tempat
ziarah umat Islam, yaitu makam Bahauddin An-Naqsyabandi (wafat pada abad 8
H/14 M), seorang pendiri aliran dalam bidang sufistik, yaitu tarekat
Naqsyabandiyah yang banyak pengikutnya di dunia Islam.
Pada masa kejayaannya di bukhara terdapat istana Dinasti Samani yang
merupakan perguruan tinggi dan pusat kegiatan ilmu dan kehidupan pengetahuan.
Terkenallah Maktab Nuh bin Nashr As-Samani sebagai perguruan tinggi yang
lengkap.

Kota bukhara lahir ulama hadist terkenal yaitu Imam Bukhara yang
menulis kitab shahih Bukhari. Kota Bukhara dikenal sebagai pusat ilmu-ilmu
keagamaanIslam.
Transoxania pernah dihancurkan oleh Jenghiz Khan, dan dibangun
kembali oleh Timur Lenk dan dijadikan ibu kota kerajaannya.
Pada tahun 906 H/1500 M kota Samarkand dan Bukhara jatuh ke tangan
Syaibani, raja Uzbek. Setelah ia wafat, pada tahun itu juga direbut oleh Babur,
raja Mongol di india. Akan tetapi, tahun berikutnya Babur kembali ke India dan
daerah Transoxania kembali dikuasai orang-orang Uzbekistan yang di dalamnya
terdapat Samarkand dan Bukhara menjadi bagian dari Uni soviet. Sejak tahun
1992 M, Uzbekistan menjadi negara Muslim merdeka, karena Uni Soviet bubar
dengan sendirinya.
K.

ACEH
Aceh mewakili pusat dunia Islam di Asia Tenggara. Pada masa
kejayaannyaAceh merupakan pusat peradaban di wilayah dunia islam bagian
Timur, yaitu Asia Tenggara. Bahkan aceh merupakan pintu transmisi jalur
perjalanan penyebaran agama Islam ke seluruh wilayah Asia Tenggara. Karena itu
terkenal dengan sebutan Serambi Mekah.
Aceh merupakan pintu gerbang masuknya Islam ke seluruh wilayah
Nusantara. Di Aceh pernah berdiri kerajaan-kerajaan Islam yang pertama, yaitu
kerajaan Peurlak, Kerajaan Samudra Pasai, dan Kerajaan Aceh Darus Salam.
Dari Aceh muncul beberapa tokoh keilmuan yang menandakan kemajuan
keilmuan di kalangan umat Islam di Asia Tenggara. Beberapa ulama prestisius
Aceh yang terkenal dengan karya-karyanya adalah Nuruddin Ar-Raniri, Hamzah
Fanshuri, Abdurrauf Singkel, Syamsuddin Sumatrani, dan lain-lain.[6]
Aceh menjadi kerajaan Islam yang kuat dan menjadikan Pasai sebagai bagian
dari wilayahnya mulai sekitar pertengahan tahun 1524 disusul Lamuri dan Aceh
Dar al-Kamal sehingga mengukuhkan Aceh sebagai pemegang komodotas lada.
Raja pertama yang terkenal adalah Ali Mughayat Shah kemudian digantikan
putranya yaitu Ala al-Din memerintah antara 1548-1571. Selama Aceh dalam

perintahnya, Aru dan Johor berhasil ditaklukkannya. Bahkan dengan bantuan


persenjataana Dinasti Ottoman (1562) Portugis di Malaka diserangnya.
Puncak kejayaan Aceh berlangsung pada pemerintahan Sultan Iskandar Muda
(1608-1637), menguasai sepanjang pantai Sumatera mengatur perdagangan Lada.
Masa ini pula sekitar Gayo ndan Minangkabau diislamkan. Sultsn Iskandar Muda
digantikan adik iparnya yaitu Iskandar Thani. Kematiannay dalam usia muda
sebelum ada Sultan penggantinya membuat Aceh memesuki kemundurannya.
Istana Sultan Iskandar Muda dilapisi emas sehingga dikagumi bangsa Barat
sebagai masjid besar dengan lima ruangan.[7]
Dari Aceh, Islam berkembang ke berbagai wilayah Nusantara anatara lain
Islam berkembang ke Ampel, Demak, Cirebon, dan terus berkembang ke
Sulawesi, Maluku dan Kalimantan.
Aceh juga merupakan kekuatan yang sangat ditakuti Belanda semasa
penjajahan, karena Aceh memiliki kekuatan yang sangat dahsyat dalam
menghadapi penjajah Belanda.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat kami simpulkan sebagai berikut:
Islam masuk ke Indonesia pada abad pertama Hijrah atau abad ke tujuh/ke
delapan masehi. Ini mungkin didasarkan pada penemuan batu nisan seorang
wanita muslimah yang bernama Fatimah binti Maimun di Leran dekat Surabaya
yang bertahun 475 H atau 1082 M.
Perkembangan Islam dan pengaruhnya di masyarakat Indonesia sangat luas,
adapun pengaruhnya yaitu:
Pengaruh Bahasa dan Nama

Pengaruh Adat Istiadat


Pengaruh Dalam Kesenian dan Bangunan Ibadah
Pengaruh Dalam Bidang Politik

DAFTAR PUSTAKA

Suminto, Aqid., Politik Islam Hindia Belanda, Jakarta: Pustaka LP3ES.

Thohir, Ajid., Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam, Jakarta:


PT. Raja Grafindo Persada, 2004.

Hasjmy, A., Sejarah Kebudayaan Islam di Indonesia, cet.1, Jakarta: PT.


Bulan Bintang, 1990.

Murodi, Sejarah Kebudayaan Islam, Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1994.

http://www.uinjkt.ac.id/index.php/category-table/287-alquran-sebagaisumber-peradaban.html

http://sejarahperadaban-islam.blogspot.com/2011/10/al-quran-dan-peradabanislam.html

http://islamic-center.or.id/al-quran-dan-peradaban-islam/

Siti rahmah
24115269