Anda di halaman 1dari 10

SOSIOLOGI HUKUM

Oleh:

Andreas Wewen Marwito Sitompul

Fakultas Hukum
UNIVERSITAS JAMBI
Sosiologi Hukum
1. Definisi Sosiologi Hukum
Definisi Sosiologi menurut Soerjono Soekanto adalah ilmu yang
memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum
dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum kehidupan masyarakat.
Hukum menurut Utrecht adalah Himpunan petunjuk hidup perintah
dan larangan yang mengatur tata tertib dalam suatu masyarakat yang
seharusnya ditaati oleh seluruh anggota masyarakat oleh karena itu
pelanggaran petunjuk hidup tersebut dapat menimbulkan tindakan oleh
pemerintah/penguasa itu.
Menurut Soerjono Soekanto, sosiologi hukum merupakan suatu
cabang ilmu pengetahuan yang antara lain meneliti, mengapa manusia
patuh pada hukum, dan mengapa dia gagal untuk mentaati hukum tersebut
serta faktor-faktor sosial lain yang mempengaruhinya (Pokok-Pokok Sosiologi
hukum).
Menurut David N. Schif, sosiologi hukum adalah studi sosiologi
terhadap fenomena-fenomena hukum yang spesifik yaitu yang berkaitan
dengan masalah legal relation, juga proses interaksional dan organizational
socialization, typikasi, abolisasi dan konstruksi sosial.
Menurut Brade Meyer:
Sociology of the law Menjadikan hukum sebagai alat pusat
penelitian secara sosiologis yakni sama halnya bagaimana sosiologi
meneliti suatu kelompok kecil lainnya. Tujuan penelitian adalah
selain untuk menggambarkan betapa penting arti hukum bagi
masyarakat luas juga untuk menggambarkan proses internalnya
hukum.
Sociology in the law Untuk memudahkan fungsi hukumnya,
pelaksanaan fungsi hukum dengan dibantu oleh pengetahuanatau
ilmu sosial pada alat-alat hukumnya.
Gejala sosial lainnya Sosiologi bukan hanya saja mempersoalkan
penelitian secara normatif (dassollen) saja tetapi juga mempersoalkan

analisa-analisa normatif didalam rangka efektifitas hukum agar tujan


kepastian hukum dapat tercapai.
Jadi, Sosiologi hukum adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal
balik antara hukum dengan pola-pola dan gejala-gejala sosial dalam
masyarakat lainnya secara empiris analitis.
2. Obyek Sosiologi Hukum
Beroperasinya hukum di masyarakat (ius operatum) atau Law in Action
dan pengaruh timbal balik antara hukum dan masyarakat.
Dari segi statiknya (struktur) : kaidah sosial, lembaga sosial, kelompok
sosial dan lapisan sosial.
Dari segi dinamiknya (proses sosial), interaksi dan perubahan sosial.
Menurut Soerjono Soekanto ;
1) Hukum dan struktur sosial masyarakat;
2) Hukum, kaidah hukum dan kaidah sosial lainnya;
3) Stratifikasi sosial dan hukum;
4) Hukum dan nilai sosial budaya;
5) Hukum dan kekerasan;
6) Kepastian hukum dan keadilan hukum;
7) Hukum sebagai alat untuk melakukan perubahan sosial.
3. Pendekatan-pendekatan dalam Sosiologi Hukum
1) Pendekatan Instrumental
Menurut pendapat Adam Podgorecki yang dikutip oleh Soerjono
Soekanto yaitu bahwa Sosiolohi Hukum merupakan suatu disiplin Ilmu
teoritis yang umumnya mempelajari ketenteraman dari berfungsinya
hukum. Dengan tujuan disiplin ilmu adalah untuk mendapatkan prinsipprinsip hukum dan ketertiban yang didasari secara rasional dan
didasarkan pada dogmatis yang mempunyai dasar yang akurat.
2) Pendekatan Hukum Alam
Menurut Philip Seznik yaitu pendekatan instrumental merupakan tahap
menengah dari perkembangan / pertumbuhan Sosiologi Hukum dan
tahapan selanjutnya akan tercapai, bila ada otonomi dan kemandirian
intelektual.
4. Kegunaan Sosiologi Hukum
Mengetahui dan memahami perkembangan hukum positif (tertulis/tidak
tertulis) di dalam negara /masyarakat;

Mengetahui efektifitas berlakunya hukum positif di dalam masyarakat;


Mampu menganalisis penerapan hukum di dalam masyarakat;
Mampu mengonstruksikan fenomena hukum yang terjadi di
masyarakat;
Mampu memetakan masalah-masalah sosial dalam kaitan dengan
penerapan hukum di masyarakat.

5. Pandangan Sosiologi Terhadap Hukum


Hukum merupakan lembaga kemasyarakatan (social institution) yang
merupakan himpunan nilai-nilai, kaidah-kaidah dan pola-pola perilaku
yang berkisar pada kebutuhan-kebutuhan pokok manusia. Hukum juga
merupakan suatu gejala sosial budaya yang berfungsi untuk menerapkan
kaidah-kaidah dan pola-pola perikelakuan tertentu terhadap individuindividu dalam masyarakat.
6. Teori-teori dalam Sosiologi Hukum
A. Teori Fungsional Struktural / Structural Function Theory
Secara garis besar fakta sosial yang menjadi pusat perhatian sosiologi
terdiri atas dua tipe yaitu struktur sosial dan pranata sosial.
Menurut teori fungsional struktural, struktur sosial dan pranata sosial
tersebut berada dalam suatu sistem sosial yang berdiri atas bagianbagian atau elemen-elemen yang saling berkaitan dan menyatu dalam
keseimbangan.

Teori

ini

menekankan

kepada

keteraturan

dan

mengabaikan konflik dan perubahan-perubahan dalam masyarakat.


Emile Durkheim menganggap bahwa adanya teori fungsionalismestruktural merupakan suatu yang berbeda, hal ini disebabkan Para
fungsionalis kontemporer menyebut keadaan normal sebagai ekuilibrium,
atau sebagai suatu sistem yang seimbang, sedang keadaan patologis
menunjuk pada ketidakseimbangan atau perubahan sosial.
B. Teori Konflik /Conflict Theory
Teori ini digagas oleh Karl Marx yang didasarkan pada kekecewaannya
pada sistem ekonomi kapitalis yang dianggapnya mengeksploitasi buruh.
Bagi Marx, dalam masyarakat terdapat dua kekuatan yang saling
berhadapan, yakni kaum borjuis yang menguasai sarana produksi
ekonomi dan kaum proletar atau buruh yang dikendalikan oleh kaum

borjuis. Antara kedua kelompok ini selalu terjadi konflik. Marx melihat
masyarakat manusia sebagai sebuah proses perkembangan yang akan
menyudahi konflik melalui konflik.
C. Teori Interaksi Simbolik / Simbolic Interaction Theory
Teori ini dikemukakan oleh George Herbert Mead yang dipengaruhi
oleh filosofi sosiolog Max Weber.
Salah satu pandangan Weber yang dianggap relevan dengan pemikiran
Mead, bahwa tindakan sosial bermakna jauh, berdasarkan makna
subyektifnya

yang

diberikan

individu-individu.

Tindakan

itu

mempertimbangkan perilaku orang lain dan kerenanya diorientasikan


dalam penampilan.
D. Teori Pertukaran Sosial / Social Exchange Theory
Teori pertukaran ini memusatkan perhatiannya pada tingkat analisa
mikro,

khususnya

pada

tingkat

kenyataan

sosial

antarpribadi

(interpersonal).
Teori ini dikemukakan oleh Homans dan Blau. Homans dalam
analisanya berpegang pada keharusan menggunakan prinsip-prinsip
psikologi individu untuk menjelaskan perilaku sosial daripada hanya
sekedar menggambarkannya. Akan tetapi, Blau di lain pihak berusaha
beranjak dari tingkat pertukaran antarpribadi di tingkat mikro, ke tingkat
yang lebih makro yaitu struktur sosial. Ia berusaha untuk menunjukkan
bagaimana struktur sosial yang lebih besar itu muncul dari proses-proses
pertukaran dasar.

7. Alasan Mempelajari Sosiologi Hukum


1) Sosiologi Hukum mempunyai kegunaan dalam Praktik Hukum
Ciri dan fungsi dari Sosiologi Hukum kemudian dapat dipakai dalam
praktik Hukum, dikarenakan apa yang dianalisa berupa empiris, maka
dalam praktiknya sangat diperlukan, karena berupa hal yang nyata dan
tidak bersifat abstrak.
2) Pembahuruan dalam proses Hukum, Undang-Undang dan Kebijakan
Sosial
Dalam sebuah analisa Sosiologi Hukum, maka akan ditemukan mana
Undang-Undang, Hukum maupun Kebijakan Sosial yang diterapkan telah

berjalan dengan baik dan mana yang tidak. Hasil dari penganalisaan itu,
kemudian

dapat

dijadikan

dasar

dalam

pengembangan

ataupun

pembahuruan dalam semua proses tadi. Dapat dilihat bagaimana


Sosiologi Hukum sangat turut serta dalam pembangunan masyarakat
Indonesia, terlebih lagi Indonesia berdasarkan Hukum.
3) Hukum memasuki masa Sosiologi
Hukum yang bersifat dinamis kemudian berubah, hal inilah yang
menjadi alasan mengapa kita mempelajari Sosiologi Hukum. Perubahan
ini, meninjau bahwa pembuatan Hukum tidak saja hanya melibatkan apa
yang dibutuhkan Negara tapi apa yang dibutuhkan dalam perkembangan
masyarakat

atau

yang

dikenal

dengan

istilah

tinjauan

empiris.

Perkembangan Hukum inilah yang menyebabkan Hukum masuk ke masa


Sosiologi, karena ditinjau dari apa yang dibutuhkan masyarakat.
4) Studi tentang Sosiologi dalam mempersiapkan Hukum
Menjadi mahasiswa Hukum, hal inilah yang menjadi dasar dalam
penelitian Hukum itu sendiri. Dikarenakan Subjek Hukum itu sendiri
adalah Orang maka hal ini sangat erat hubungannya dengan interkasi.
Studi Sosiologi inilah yang kerap Dijadikan Mahasiswa dalam analisa
suatu penerapan Hukum.
5) Tujuan dari pembuatan Hukum yang efektif yang berfokus pada
masyarakat
Efektif atau

tidak

efektifnya

suatu

penerapan

Hukum

dalam

masyarakat semua itu dapat diketahui lewat analisa empiris. Analisa


Sosiologi akan mengemukakan apakah hukum tersebut efektif dalam
penggunaannya dalam masyarakat ataukah masyarakat mengadakan
kekebalan terhadap hukum yang diterapkan.
8. Ruang Lingkup Sosiologi Hukum
1) Pola-pola perikelakuan (hukum) warga-warga masyarakat
Pola-pola perikelakuan dalam masyarakat, yaitu cara-cara bertindak
atau berkelakuan yang sama dari orang-orang yang hidup bersama dlm
masyarakat. Sampai sejauh manakah hukum membentuk pola-pola
perikelakuan

atau apakah

hukum

yang terbentuk dari pola-pola

kelakuan itu. Di dalam hal yang pertama, bagaimana cara-cara yang


paling efektif dari hukum dalam pembentukan pola-pola kelakuan.
2) Hubungan timbal balik antara perubahan Perubahan dalam hukum
dengan perubahan-perubahan sosial dan budaya.

Untuk meneliti hal itu, diperlukan pengetahuan yang cukup mengenai


Hukum sebagai suatu gejala sosial.
9. Kontribusi Sosiologi Hukum Terhadap Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Bahwa perkembangan ilmu hukum di masa depan perlu diarahkan
secara lebih empiris dan induktif daripada kecendrungan yang bersifat
deduktif dan normatif seperti yang selama ini dikembangkan, ketika
paradigma ini tidak mampu lagi menerangkan realitas yg diamatinya. OKI,
sisa-sisa dari materi pendidikan hukum dogmatik baru, diisi dengan materi
yang sifatnya mengasah nalar. Misalnya Penalaran Hukum, Metodologi
Hukum, dan Filsafat Hukum.

10.Masalah yang Disoroti Sosiologi Hukum


1) Hukum dan Sistem Sosial Masyarakat.
Pada hakekatnya, hal ini merupakan obyek yang menyeluruh dari
sosiologi hukum, oleh karena tak ada keragu-raguan lagi bahwa suatu
sistem hukum merupakan pencerminan daripada suatu sistem sosial di
mana sistem hukum tadi merupakan bagiannya.
2) Persamaan-persamaan dan Perbedaan-perbedaan Sistem-sistem Hukum.
Penelitian di bidang ini penting bagi suatu ilmu perbandingan serta
untuk dapat mengetahui apakah memang terdapat konsep-konsep
hukum yang universal, oleh karena kebutuhan masyarakat setempat
memang menghendakinya.
3) Sifat Sistem Hukum yang Dualistis.
Baik hukum substantif maupun hukum ajektif, di satu pihak berisikan
ketentuan-ketentuan

tentang

bagaimana

manusia

akan

dapat

menjalankan serta memperkembangkan kesamaan derajat manusia,


menjamin kesejahteraan dan seterusnya. Akan tetapi, di lain pihak
hukum dapat menjadi alat yang ampuh untuk mengendalikan wargawarga masyarakat.

11.Faktor Penghambat Perkembangan Sosiologi Hukum


Tidak samanya bahasa kerangka pemikiran yang digunakan antara ahli
sosiologi dengan ahli hukum;
Sulitnya bagi para sosiologi hukum untuk menempatkan dirinya dialam
yang normatif;

Pada umumnya para sosiolog dengan begitu saja menerima pendapat


bahwa hukum merupakan himpunan peraturan-peraturan yang statis;
Kadangkala seorang sosiolog merasakan adanya kesulitan-kesulitan
untuk menguasai keseluruhan data tentang hukum yang demikian
banyaknya yang pernah dihasilkan oleh beberapa generasi ahli-ahli
hukum;
Para ahli hukum lebih memusatkan perhatian pada kejadian-kejadian
konkret sedangkan para sosiolog menganggap kejadian konkret tersebut
sebagai refleksi dari gejala-gajala atau kecenderungan-kecenderungan
umum.

12.Penyebab Lahirnya Sosiologi Hukum


1) Filsafat hukum
Konsep yang dilahirkan oleh paham positivisme (Hans Kelsen) yaitu
stufenbau des recht atau hukum bersifat hirarkis artinya hukum itu
tidak boleh bertentangan dengan ketentuan yang lebih tinggi derajatnya
dengan urutannya sebagai berikut:
Grundnorm atau dasar sosial hukum;
Konstitusi;
Undang-undang dan kebiasaan;
Putusan badan pengadilan.
Beberapa

aliran

yang

mendorong

tumbuh

dan

berkembangnya

Sosiologi Hukum sebagai ilmu seperti;


Mazhab sejarah, oleh Carl Von Savigny (hukum itu tidak dibuat, tetapi
tumbuh dan terbentuk bersama tumbuhnya masyarakat);
Mazhab utility, oleh Jeremy Bentham (hukum itu harus bermanfaat
bagi masyarakat guna mencapai kehidupan yang bahagia);
Aliran sociological jurisprudence, oleh Eugen Ehrlich (hukum yang di
buat harus sesuai dengan hukum yang hidup di dalam masyarakat
atau living law);
Aliran pragmatical legal realism, oleh Roscoe Pound (law as a tool of
social engineering).

2) Ilmu hukum
Ilmu hukum yang menyatakan bahwa hukum itu adalah gejala sosial
merupakan pendukung Ilmu Sosiologi Hukum.

3) Sosiologi yang berorientasi dibidang hukum


Emile Durkheim menjelaskan bahwa di dalam masyarakat selalu ada
solidaritas sosial yang meliputi;
Solidaritas sosial mekanis yaitu terdapat dalam masyarakat sederhana
dimana kaidah hukumnya bersifat represif (yang diasosiasikan dalam
hukum pidana);
Solidaritas sosial organis yaitu terdapat dalam masyarakat modern
dimana kaidah hukumnya bersifat restitutif (yang diasosiasikan dalam
hukum perdata).
Max Weber, dengan teori ideal type, menerangkan bahwa hukum
mencakup;
Irasionil materil (pembentuk undang-undang mendasarkan keputusankeputusannya semata-mata pada nilai-nilai emosional tanpa menunjuk
pada suatu kaidah);
Irasionil formal (pembentuk undang-undang dan hakim berpedoman
pada kaidah-kaidah diluar akal, oleh karena berdasarkan pada
ramalan atau wahyu);
Rasional materil (keputusan-keputusan para pembentuk undangundnag

dan

hakim

merujuk

pada

kitab

suci,

kebijaksanaan-

kebijaksanaan penguasa atau ideologi);


Rasional formal (pembentukan hukum semata-mata atas dasar
konsep-konsep abstrak dari ilmu hukum)
13.Konsep-konsep dalam Sosiologi Hukum
1) Hukum Berfungsi Sebagai Sarana Social Control (Pengendalian Sosial)
Hukum sebagai sosial control : kepastian hukum, dalam artian
undang-undang yang dilakukan benar-benar terlaksana oleh penguasa,
penegak

hukum.

Pengendalian

sosial

adalah

suatu

cara

untuk

menciptakan kondisi seimbang di dalam masyarakat, yang bertujuan


terciptanya suatu keadaan yang serasi antara stabilitas dan perubahan di
dalam masyarakat.

2) Hukum Berfungsi Sebagai Sarana Social Engineering


Hukum dapat bersifat sosial engineering : merupakan fungsi hukum
dalam pengertian konservatif, fungsi tersebut diperlukan dalam tiap
bentuk masyarakat, termasuk pada masyarakat yang sedang mengalami
proses pergolakan dan pembangunan. Mencakup kekuatan-kekuatan

yang menciptakan serta memelihara ikatan sosial yang menganut teori


imperatif tentang fungsi hukum.
3) Wibawa Hukum
Melemahnya

wibawa

Notohamidjoyo,

hukum

diantaranya

seperti

disebabkan

yang

diutarakan

karena

hukum

O.
tidak

memperoleh dukungan yang semestinya dari norma-norma sosial bukan


hukum, norma-norma hukum belum sesuai dengan norma-norma sosial
yang bukan hukum, tidak ada kesadaran hukum dan kesadaran norma
yang

semestinya,

pejabat-pejabat

hukum

yang

tidak

sadar

akan

kewajibannya untuk memelihara hukum negara, adanya kekuasaan dan


wewenang, ada paradigma hubungan timbal balik antara gejala sosial
lainnya dengan hukum.

14.Kedudukan dan Letak Sosiologi Hukum di Bidang Ilmu Pengetahuan


Sosiologi Hukum merupakan cabang Ilmu yang termuda dari cabang ilmu
Hukum yang lain, hal itu tampak pada Hasil karya tentang sosiologi hukum
yang hingga kini masih sangat sedikit. Hal itu di karenakan eksistensi
sosiologi Hukum sebagai ilmu yang baru yang Berdiri sendiri, banyak di
tentang oleh para ahli, baik ahli hukum ataupun ahli sosiologi.
Menurut Soerjono Soekanto, Sosiologi Hukum adalah cabang ilmu
hukum yaitu ilmu hukum tentang kenyataan dan merupakan suatu cabang
ilmu pengetahuan yang antara lain meneliti mengapa manusia patuh pada
hukum dan mengapa dia gagal untuk menaati hukum tersebut serta faktorfaktor sosial lain yang mempengaruhinya.
Pendapatnya ini dilandaskan pada pengertian tentang disiplin yaitu suatu
ajaran tentang kenyataan yang meliputi;
Disiplin analitis : psikologi, sosiologi;
Disiplin hukum (perspektif): ilmu hukum normative dan kenyataan (ilmu
hukum kenyataan, antropologi hukum, sosiologi hukum).