Anda di halaman 1dari 8

AMDAL

FAKTOR FISIK :
A. Geomorfologi Pantai :

Bentuk/morfologi wilayah pesisir, seperti pantai terjal atau landai,


ditentukan oleh kekerasan (resestivity) batuan, pola morfologi dan tahapan
proses tektoniknya. Relief/topografi dasar laut perairan nusantara terdiri dari
berbagai tipe mulai dari paparan (shelf) yang dangkal, palung llaut, gunung
bawah laut, terumbu karang dan sebagainya. Kondisi oseanografi fisik di
kawasan pesisir dan lautan ditentukan oleh fenomena pasang surut, arus,
gelombang, kondisi suhu, salinitas serta angin. Fenomena-fenomena tersebut
memberikan kekhasan karakteristik pada kawasan pesisir dan lautan. Prosesproses utama yang sering terjadi di wilayah pesisir meliputi: sirkulasi massa
air, percampuran (terutama antara dua massa air yang berbeda), sedimentasi
dan abrasi serta upwelling. Bentukan-bentukan yang umum terdapat diwilayah
pesisir adalah sebagai berikut:
1. Pesisir Pantai (Beach) adalah yaitu pesisir diantara garis pasang naik dan
pasang surut.

2. Laguna adalah air laut dangkal yang memiliki luas beberapa mil, sering
merupakan teluk atau danau yang terletak diantara pulau penghalang
dengan pantai.
3. 3.Pulau Penghalang (Barrier Island) adalah gosong pasir yang tersembul
dipantai yang dipisahkan dari pantai oleh laguna. Pulau penghalang ini bias
tebentuk sebagai spit atau gumuk pasir yang dibentuk oleh angin atau air.
4. Delta adalah deposit lumpur, pasir, atau kerikil (endapan alluvium) yang
mengendap di muara suatu sungai. Delta dibagi menjadi tiga berdasarkan
bentuknya, yaitu Delta Arcuate (Berbentuk kipas), Delta Cuspate
(Berbentuk gigi tajam), Delta Estuarine (Berbentuk estuarine).
5. Goa Laut (Sea Cave) merupakan goa yang terbentuk pada terbing terjal
(clif) atau tanjung (headland) sebagai akibat erosi dari hantaman
gelombang dan arus.
6. Sea Arch merupakn sea cave yang telah tereosi sangat berat akibat dari
hantaman ombak.
7. Sea Stack merupakan tiang-tiang batu yang terpisah dari daratan yang
tersusun dari batuan yang resisten sehingga masih bertahan dari hantaman
gelombang.
8. Rawa Air Asin (Salt Marsh) merupakan rawa yang terbentuk akibat
genangan air laut di dinggir pantai.
9. Head Land yaitu batuan daratan resisten yang menjorok kelaut sebagai
akibat erosi gelombang.
10.Bar yaitu gosong pasir dan kerikil yang terletak pada dasar laut dipinggir
pantai yang terjadi oleh pengerjaan arus laut dan gelombang.
Kadanngkadang terbenam seluruhnya oleh air laut. Beberapa jenis bar
antara lain:
Spit yaitu yang salah satu ujunganya terikat pada daratan,
sedangkan yang lainnya tidak. Bentuknya kebanyakan lurus sejajar
dengan pantai, tetepai oleh pengaruh arus yang membelok ke arah
darat atau oleh pengaruh pasang naik yang besar, spit itupun
membelok pula ke arah darat yang disebut Hook atau Recurved
Spit (Spit Bengkok).
Baymouth Bar adalah spit yang kedua ujungnya terikat pada daratan
yang menyeberang dibagian muka teluk.
Tombolo adalah spit yang menghubungkan pulau dengan daratan
induk atau dengan pulau lain, contohnya daratan antara Pulau
Pananjung dengan daratan induknya Pulau Jawa.

Daerah pesisir merupakan daerah yang selalu mengalami perubahan,


karena daerah tersebut menjadi tempat bertemunya dua kekuatan, yaitu
berasal dari daratan dan lautan. Perubahan lingkungan pesisir dapat terjadi
secara lambat hingga sangat cepat, tergantung pada imbang daya antara
topografi, batuan dan sifat-sifatnya dengan gelombang, pasang surut dan
angin. Perubahan pesisir terjadi apabila proses geomorfologi yang terjadi pada
suatu segmen pesisir melebihi proses yang biasa terjadi. Perubahan proses
geomorfologi tersebut sebagai akibat dari sejumlah faktor lingkungan seperti
faktor geologi, geomorfologi, iklim, biotik, pasang surut, gelombang, arus laut,
dan salinitas (Sutikno, 1993 dalam Johanson D. Putinella, 2002). Iklim
mempengaruhi gelombang dan juga aktivitas biologi serta proses-proses kimia
di permukaan atau dekat dengan permukaan seperti evaporation, penyemian
dan lain-lain.
Menurut Dahuri (1996) dalam Johanson. D. Putinella (2002), ombak
merupakan salah satu penyebab yang berperan besar dalam pembentukan
pesisir. Ombak yang terjadi di laut dalam pada umumnya tidak berpengaruh
terhadap dasar laut dan sedimen yang terdapat di dalamnya. Sebaliknya
ombak yang terdapat di dekat pesisir, terutama di daerah pecahan ombak
mempunyai energi besar dan sangat berperan dalam pembentukan morfologi
pesisir, seperti menyeret sedimen (umumnya pasir dan kerikil) yang ada di
dasar laut untuk ditumpuk dalam bentuk gosong pasir. Di samping mengangkut
sedimen dasar, ombak berperan sangat dominan dalam menghancurkan
daratan (erosi laut). Daya penghancur ombak terhadap daratan atau batuan
dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain keterjalan garis pesisir, kekerasan
batuan, rekahan pada batuan, kedalaman laut di depan pesisir, bentuk pesisir,
terdapat atau tidaknya penghalang di muka pesisir dan sebagainya.
Berbeda dengan ombak yang bergerak maju ke arah pesisir, arus laut,
terutama yang mengalir sepanjang pesisir merupakan penyebab utama yang
lain dalam membentuk morfologi pesisir. Arus laut terbentuk oleh angin yang

bertiup dalam selang waktu yang lama, dapat pula terjadi karena ombak yang
membentur pesisir secara miring. Berbeda dengan peran ombak yang
mengangkut sedimen tegaklurus terhadap arah ombak, arus laut mampu
membawa sedimen yang mengapung maupun yang terdapat di dasar laut.
Pergerakan sedimen searah dengan arah pergerakan arus, umumnya
menyebar sepanjang garis pesisir. Bentuk morfologispit, tombolo, beach ridge
atau akumulasi sedimen di sekitar jetty (dermaga atau tembok laut) dan
tanggul pantai menunjukkan hasil kerja arus laut. Dalam hal tertentu arus laut
dapat pula berfungsi sebagai penyebab terjadinya abrasi pesisir.
Keseimbangan antara sedimen yang dibawa sungai dengan kecepatan
pengangkutan sedimen di muara sungai akan menentukan berkembangnya
dataran pesisir. Apabila jumlah sedimen yang dibawa ke laut dapat segera
diangkut oleh ombak dan arus laut, maka pantai akan dalam keadaan stabil.
Sebaliknya apabila jumlah sedimen melebihi kemampuan ombak dan arus laut
dalam pengangkutannya, maka dataran pesisir akan bertambah. Selain itu
aktivitas manusia yang memanfaatkan wilayah pesisir untuk berbagai
kepentingan juga dapat merubah morfologi pesisir menjadi rusak apabila
pengelolaannya tidak memperhatikan kelestarian lingkungan. Proses-proses
lainnya yang terjadi di wilayah pesisir antara lain:
B. Pola Arus Pasang Surut
Arus laut pasang surut yang disebabkan oleh pasang surut air laut
(subsidence) adalah proses naik turunnya muka laut secara hampir
periodik karena gaya tarik benda-benda angkasa, terutama bulan dan
matahari. Naik turunnya muka laut dapat terjadi sehari sekali (pasang
surut tunggal), atau dua kali sehari (pasang surut ganda). Ketika pasang
surut terbentuk dilautan luas merambat sebagai gelombang menuju
lereng benua (continental slope) dan paparan benua (continental shelf),
gelombang tersebut akan mengalami proses perubahan karena nakin
dangkalnya perairan.
C. Pencemaran dan Sedimentasi
Sedimentasi yang dibawa melalui sungai, arus sepanjang tepi
pantai (longshore drift), dan arus pasang surut. Sedimen ini terbentuk
dari lumpur, pasir, hingga kerikil. Sedimen bertekstur kasar terdapat di
kawasan bertenaga tinggi.
D. Level air tanah
FAKTOR BIOLOGI :
Rhizophora Mucronata

Tanaman ini biasa ditemukan dalam hutan bakau atau hutan mangrove,
yaitu hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada
garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut.
Digunakan untuk rehabilitasi kawasan mangrove di pantai barat maupun
pantai timur di Sulawesi Selatan. Salah satu alasan yang membuat jenis ini
banyak dipilih untuk rehabilitasi hutan mangrove karena buahnya yang mudah
diperoleh, mudah disemai serta dapat tumbuh pada daerah genangan pasang
yang tinggi maupun genangan rendah (Supriharyono, 2000).

Rhizophora mucronata Poir adalah salah satu jenis tanaman bakau . Juga
disebut dengan nama-nama lain seperti bakau betul, bakau hitam dan lain-lain.
Kulit batang hitam, memecah datar. Tanaman ini biasa ditemukan dalam hutan
bakau atau hutan mangrove, yaitu hutan adalah hutan yang tumbuh di atas
rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh
pasang surut air laut.
Tanaman ini memiliki bunga berkelompok, 4-8 kuntum. Daun
mahkotanya putih, berambut panjang hingga 9 mm. Buahnya bentuk telur,
hijau kecoklatan, 5 7 cm. Mempunyai hipokotil besar, kasar dan berbintil,
dengan panjang 36 70 cm. Leher kotiledon kuning jika matang.
Tanaman ini sering bercampur dengan bakau minyak, namun lebih
toleran terhadap substrat yang lebih keras dan berpasir. Lebih menyukai

substrat yang tergenang dalam dan kaya humus; jarang sekali didapati di
tempat yang jauh dari pasang surut. Menyebar luas mulai dari Afrika timur,
Madagaskar, Mauritania, Asia tenggara, kepulauan Nusantara, melanesia dan
Mikronesia. Diintroduksi ke Hawaii.
Rhizophora mucronata tumbuh di atas tanah lumpur. Lumpur tanah liat
bercampur bahan organik merupakan tempat tumbuh yang paling umum bagi
hutan bakau, selain tanah bergambut, lumpur dengan kandungan pasir yang
tinggi, ahkan dominan pecahan karang, di pantai-pantai yang berdekatan
dengan terumbu karang.
Salah satu teknik mengidentifikasi pohon bakau cepat tumbuh yaitu
dengan melihat lingkaran tahun pada batang (annual ring) seperti yang
dipublikasikan oleh Menezes dkk (2003) pada jurnal Wetland Ecology and
Management. Sebagaimana diketahui bersama bahwa lingkaran tahun pada
batang tanaman berkayu menunjukkan umur tanaman. Jenis Rhizophora
mucronata adalah jenis pohon bakau yang sulit dilihat lingkaran tahunnya.
Deskrips
i

Pohon dengan ketinggian mencapai 27 m, jarang melebihi 30


m. Batang memiliki diameter hingga 70 cm dengan kulit
kayu berwarna gelap hingga hitam dan terdapat celah
horizontal. Akar tunjang dan akar udara yang tumbuh
dari percabangan bagian bawah.

Daun

Daun berkulit. Gagang daun berwarna hijau, panjang 2,5-5,5


cm. Pinak daun terletak pada pangkal gagang daun
berukuran 5,5-8,5 cm. Unit & Letak: sederhana &
berlawanan. Bentuk: elips melebar hingga bulat
memanjang. Ujung: meruncing. Ukuran: 11-23 x 5-13

cm.
Bunga

Gagang kepala bunga seperti cagak, bersifat biseksual,


masing-masing menempel pada gagang individu yang
panjangnya 2,5-5 cm. Letak: di ketiak daun. Formasi:
Kelompok (4-8 bunga per kelompok). Daun mahkota:
4;putih, ada rambut. 9 mm. Kelopak bunga: 4; kuning
pucat, panjangnya 13-19 mm. Benang sari: 8; tak
bertangkai.

Buah

Buah lonjong/panjang hingga berbentuk telur berukuran 5-7


cm, berwarna hijaukecoklatan, seringkali kasar di bagian
pangkal, berbiji tunggal. Hipokotil silindris, kasar dan
berbintil. Leher kotilodon kuning ketika matang. Ukuran:
Hipokotil: panjang 36-70 cm dan diameter 2-3 cm.

Ekologi

Di areal yang sama dengan R.apiculata tetapi lebih toleran


terhadap substrat yang lebih keras dan pasir. Pada
umumnya tumbuh dalam kelompok, dekat atau pada
pematang sungai pasang surut dan di muara sungai,
jarang sekali tumbuh pada daerah yang jauh dari air
pasang surut. Pertumbuhan optimal terjadi pada areal
yang tergenang dalam, serta pada tanah yang kaya
akan humus. Merupakan salah satu jenis tumbuhan
mangrove yang paling penting dan paling tersebar luas.
Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Anakan seringkali
dimakan
oleh
kepiting,
sehingga
menghambat
pertumbuhan mereka. Anakan yang telah dikeringkan
dibawah naungan untuk beberapa hari akan lebih tahan
terhadap gangguan kepiting. Hal tersebut mungkin
dikarenakan adanya akumulasi tanin dalam jaringan
yang kemudian melindungi mereka.

Penyeba
ra
n

Afrika Timur, Madagaskar, Mauritania, Asia tenggara, seluruh


Malaysia dan Indonesia, Melanesia dan Mikronesia.
Dibawa dan ditanam di Hawaii.

Kelimpa
ha
n
Manfaat

Kayu digunakan sebagai bahan bakar dan arang. Tanin dari


kulit kayu digunakan untuk pewarnaan, dan kadangkadang digunakan sebagai obat dalam kasus hematuria
(perdarahan pada air seni). Kadang-kadang ditanam di

sepanjang tambak untuk melindungi pematang.


Suhu
Pada
Rhizophora
spp.,
Ceriops
spp.,
Exocoecaria
spp. dan
Lumnitzera spp., laju tertinggi produksi daun baru adalah pada suhu 2628 C, untuk Bruguiera
spp adalah 27C dan Avicennia marina
memproduksi daun baru pada suhu 18-20 C (Hutchings dan Saenger,
1987).
Pasang Surut
Pasang surut menetukan zonasi komunitas flora dan fauna mangrove.
Durasi pasang surut berpengaruh besar terhadap perubahan salinitas
pada areal mangrove. Salinitas air menjadi sangat tinggi pada saat
pasang naik dan menurun selama pasang surut. Perubahan tingkat
salinitas pada saat pasang merupakan salah satu faktor
yang
membatasi distribusi jenis mangrove. Pada areal yang selalu tergenang
hanya Rhizophora mucronata yang tumbuh baik, sedangkan Bruguiera
spp dan Xylocarpus spp jarang mendominasi daerah yang sering
tergenang. Pasang surut juga berpengaruh terhadap perpindahan massa
antara air tawar dengan air laut, dan oleh karenanya mempengaruhi
organisme mangrove (Ansori, 1998).