Anda di halaman 1dari 22

by Adadeh » Thu Feb 28, 2008 11:35 am

Perkawinan Islam dan Penghalalan Pelacuran


oleh Sujit Das
20 Feb, 2008

Kehidupan perkawinan sangatlah penting. Sungguh beruntung pasangan yang memulainya dengan
pengertian yang be nar aka n nilai da n makna perka winan. Perkawina n merupaka n persekutuan spiritual
yang suci antara dua jiwa duniawi ini untuk mencapai kehidupan yang terhormat, suci, Dharma (adat
sosial dalam Hindu) dan tujuan illahi melalui kehidupan yang ideal. Karena itu, rumah pasangan yang
berumahtangga merupakan pusat kehidupan spiritual yang suci. Rumah adalah tempat mereka
beribadah, berdoa dan melakukan meditasi setiap hari. Adalah benar bahwa perkawinan sebenarnya
diciptakan di surga. Seks bukanlah segala-galanya dalam perkawinan.

Rumah merupakan arena suci untuk mencapai penyangkalan-diri dan pengontrolan-diri dan ini lebih
menarik daripada mengalahkan suatu monarki. Diberkatilah pasangan2 yang mencapai kehidupan illahi,
di mana kebenaran, kesucian dan kasih sejati, rasa percaya dan kasih sayang membentuk fondasi dasar
kehidupan illahi. Tuhan berada di rumah seperti itu. Orang2 berkunjung ke tempat suci seperti itu.

Dalam agama Hindu, upacara perkawinan merupakan yajña Veda (api pengorbanan), di mana dewa2
Aria dipanggil dalam adat kuno Indo-Aria. Sang dewa api Agni merupakan saks i utama perka winan
1 / 22
Hindu. Berdasarkan hukum dan tradisi, tiada perkawinan Hindu yang dianggap lengkap tanpa kehadiran
api suci ini dan pasangan suami istri harus berjalan melingkari api bersama sebanyak tujuh kali. Jarang
terjadi perceraian dalam pasangan Hindu.

Dalam agama Kristen, perkawinan dianggap sebagai penyatuan lelaki dan perempuan oleh Tuhan untuk
seumur hidup. Prinsip dasar telah dinyatakan dalam Alkitab di kitab Kejadian 2:24 (Sebab itu seorang
laki- laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya
menjadi satu daging.) Setelah itu, Yesus mengajukan dasar perkawinan dengan menggabungkan dua
ayat penting dari kitab Kejadian (1:27; 2:7-25). Dia menunjukkan keutuhan proses penciptaan – “lelaki
dan perempuan yang diciptaka nNya”. Lalu Yesus menyatakan perka winan seba gai hubungan ya ng suci,
persekutuan yang sangat intim dan nyata sehingga “keduanya menjadi satu daging”. Sebagai manusia,
suami dan istri mempunyai nilai yang sama. Mereka adalah satu dalam pengertian yang sebenarnya.

Lalu bagai mana dengan Islam dan Muslim?

Ada orang2 pesimis yang menjabarkan perkawinan sebagai penghalalan pelacuran. Hal ini tepat sekali
untuk menjabarka n kesucian perkawinan Muslim dan status dari wanita bersuami dalam Islam. Menurut
Islam, melalui pernikahan, pria punya hak milik penuh atas ‘daging’ di tubuh wanita. Tidak seperti
agama Hindu dan Kristen, perkawinan bukanlah persatuan yang mengikat dalam Islam. Hal ini karena
tidak ada pengertian persekutuan dan penyatuan antara pasangan suami istri. Qur’an tidak memandang
perceraian dan perpisahan sebagai pilihan tragis, tapi sebagai kesempatan emas bagi pria. Dalam Islam,
wanita dianggap tak berotak, dan hanya berupa daging halal saja bagi pria untuk dinikmati.

Lihatlah Hadis Sahih Bukhari 7.62.173 yang menyatakan bahwa Istri harus mencukur bulu kemaluannya
tatkala suami kembali pulang ke rumah setelah perjalanan jauh.

Di bukunya, Nasrin (2007) mengeluh, “Ibuku mengenakan ‘purdah’. Dia mengenakan ‘burqa’ dengan
net jaring yang menutupi bagian mukanya. Ini mengingatkanku akan kerudung penutup2 daging di
rumah nenekk u. Satu punya jaring yang terbuat dari ka in, da n yang satu lagi terbuat dari kawat. Tapi
maknanya tetap sama – agar daging itu aman.”

Di jaman Muhammad dan para penggantinya, pelacuran lenyap untuk sementara waktu (Durant, 1950).
Ini BUKAN karena Muhammad menganggap wanita bernilai luhur dan berusaha keras utk menaikkan
harkat wanita. Yang terjadi justru sebaliknya; Muhammad merendahkan status wanita menikah sampai
sama derajatnya dengan budak seks dan pelacur. Dia mengijinkan pengumbaran nafsu seksual
sedemikian rupa dalam Islam sehingga para pelacur jadi pengangguran. Kenyataan yang
mencengangkan adalah Muhammad memandang wanita sebagai binatang piaraan.

Dalam khotbah terakhirnya, Muhammad menyamakan wanita dengan binatang ternak. Tabari (IX:113)
mencatat (dikutip oleh Winn, 2004, hal. 557) “Pe rlak ukan wanita denga n baik karena mereka
seperti binatang2 piaraa n dan mereka tidak me miliki apapun. Allah telah me nghalalkan untuk
menikmati tubuh2 mereka dalam Qur’an-Nya.”

Hal yang sama juga bisa dilihat di Sunaan Abu Dawud 11.2155: Wanita2, budak2 dan unta2 adalah
sama s emua; harus mencari perlindungan Allah dari mereka semua ini.

2 / 22
Ajaran Muhammad sungguh luar biasa. Di tahun 2007, seorang pria Afghanistan, 40 tahun, mencukur
gundul istrinya yang bernama Nazia, 17 tahun, lalu memotong kedua daun telinganya, hidungnya,
menghancurkan gigi2nya dengan batu, memukulinya dengan hebatnya sampai tangan dan kakinya
hancur dan menyiram kakinya dengan air mendidih saat gadis itu pingsan. Semua ini dilakukannya di
hari pertama Idul Adha, upacara korban Islam. Nazia adalah istrinya yang kedua. Pria ini sudah
membunuh istrinya yang pertama. (Hairan, 2007; IRIN, 2007).

Beginilah cara Muslim merayakan Id; mengorbankan nyawa istrinya sendiri sebagai ganti onta, karena
onta mahal harganya, sedangkan wanita sangat murah.

Dalam bahasa Urdu, wanita disebut ‘aurat’ (‫)تروع‬, dan kata ini berasal dari kata Arab ‘awrah’
(‫)ةروع‬. Kata Arab ini berarti vagina wanita. Ini berarti pula seluruh tubuh Muslimah adalah vag ina
besar dan tidak lebih daripada itu (Warraq, 2005. hal. 316). Berapa banyak sih Muslim Asia
berbahasa Urdu yang tahu benar arti kata ini yang diterapkan bagi ibu, saudara perempuan, dan putri
mereka? Kata yang sebenarnya sangat merendahkan sanak saudara mereka sendiri?

‘Nikah’ (perkawinan Islam, ‫ )حاكنلا‬merupakan kata Arab yang arti harafiahnya adalah
‘pencoblosan secara seksual’ (Kaleeby, 2002; Warraq, 2005). Kata itu dapat dilafalkan
sebagai ‘Nokh’, yang sama artinya dengan ‘awrah’, yakni vagina besar = seluruh tubuh Muslimah. Para
Muslim yang kurang pengetahuan seringkali menggunakan kata Nikah tanpa tahu arti sebenarnya yang
justru merendahkan wanita kalangan mereka sendiri sampai sederajat dengan budak2 wanita dan WTS.

Kasem (n. d) menyimpulkan bahwa cara penghalalan penikmatan tubuh wanita ini sama seperti
transaksi daga ng, atau secara sederhananya: pelacuran. Dalam semua kasus perkawinan dan seks, para
wanita diperlakukan sebagai obyek seks belaka, sama seperti penyaji pelayanan seks yang harus dibayar
dengan imbalan.

Imba lan/ Emas kawin (dowry) bagi pelayanan seksual dari pihak istri dikenal sebagai ‘mahr’ da n harus
dibayar pria Muslim sebelum perkawinan. Pembayaran bisa dilakukan seketika atau di masa depan.
Tiada perkawinan Islam yang sah tanpa pembayaran ‘mahr’. Para Muslimah bisa berbangga hati dengan
‘mahr’ yang mereka terima, tapi tidak mengerti makna ‘mahr’ yang sebenarnya. Dalam kenyataannya,
‘mahr’ tak lebih daripada pembayaran atas pembelian tubuh wanita untuk kenikmatan seksual.
Perendahan derajat wanita ini dihalalkan oleh Allah dalam Syariah. Jika seorang Muslim menikahkan
saudara perempuan atau putrinya kepada pria Muslim, dia sebenarnya melelang vagina saudara
perempuan atau anaknya yang lembut dan hangat untuk dapat keuntungan harta.

Menurut Syariah, jika ‘mahr’ terlalu rendah, perkawinan bisa dibatalkan. Seringkali pihak Muslimah
tidak menikmati ‘mahr’ tersebut. Harta ‘mahr’ habis digunakan untuk menghiasi rumah pasangan
pengantin baru atau ayah Muslimah tersebut mengambil seluruh ‘mahr’ (Warraq, 2005, hal. 311). Dalam
perkawinan Islam, tiada kasih atau puisi romantis segala.

Kasem (n. d) lebih jauh mengut ip buku Hukum Syariah yang menyatakan bahwa hak2 suami termasuk,
tapi tidak terbatas pada ‘…. Memiliki tubuh wanita untuk melakukan apapun yang dikehendakinya

3 / 22
termas uk pemukulan… seorang suami memiliki hak penuh untuk menikmati tubuh istrinya ( dari
ubun2 sampai tapak kakinya!) dalam pengertian tidak menyakitinya secara fisik … dia wajib
me mbawa istrinya bersamanya tatkala dia melakukan perjalanan.’

Kasem (n. d) juga mengutip dari buku berjudul The Hedaya Commentary on the Islamic Laws (Hida yah
Hukum Islam). Buku ini umum digunakan oleh ahli hukum Syariah dalam menafsirkan hukum Islam. Di
buku ini tercantum, “… mahr yang dibaya r penuh me rupakan pe mbaya ran untuk menye rahkan
wanita, ‘Booza’, berarti ‘Genitalia arvum Mulieris’ ”

Kasem dengan rasa jijik menyarikan, “Ya, kau tidak salah baca arti ‘Genitalia arvum Mulieris’ adalah
vagina wanita. Kalimat di atas dengan jelas berarti bahwa Muslimah menjual vaginanya dan dibayar
dengan mahr. Ini jelas transaksi dagang. Jangan salah mengerti! Titik. ”

Apa yang dikatakan Kasem ternyata sesuai dengan Al-Hadis. Misalnya dalam Mishkat al-Masabih,
dinyatakan bahwa “Wanita itu bagaikan kemaluan. Ketika dia pergi ke luar, setan
me mandangnya.”

Menur ut Syariah Islam, suami tidak wajib me mbayar biaya pengo batannya jika istri sakit (Warraq,
2005. hal. 311).

Syariah tidak mengenal kata perkosaan dalam perkawinan. Begitu ‘mahr’ telah dibayar, sang istri jadi
budak seks yang halal bagi Muslim (biasanya jadi istri kedua, ke tiga, atau keempat wanita2 lain yang
sama tidak berdayanya). Dalam pelacuran, pembeli jasa seks tidak perlu peduli atas kepuasan seksual
pelacurnya.

Kepuasan seksual dan pilihan pasangan yang diinginkan wanita tidak dikenal dalam Islam. Kejadian2
perkosaan dalam perkawinan sedemikian tinggi di Bangladesh, seperti yang dikeluhkan oleh Azad
(1995, hal. 240), “Bagi wanita, malam pertama perkawinan adalah perlakuan seks yang dipaksakan. Di
Bangladesh, jumlah perkosaan perkawinan beberapa kali lipat lebih tinggi daripada perkosaan2 jenis
lain.”

Di laporannya yang lain, Azad (1995, hal. 248) lagi2 mengeluhkan, “Di sini [Bangladesh], terjadi
perkosaan yang dilakukan seorang pria dan perkosaan rame2. Di sini terjadi; ayah memperkosa putri
kandungnya sendiri, menantu pria memperkosa mertua wanita… pejabat kantor memperkosa penyapu
kantor, guru pria memperkosa murid wanita, Imam memperkosa anak perempuan TK, ipar pria
memperkosa ipar wanita, mertua pria memperkosa menantu wanita… “ [laporan ditulis dalam bahasa
Bengali, diterjemahkan oleh penulis].

Sikap Islam terhadap wanita dapat disejajarkan dengan tulisan abad ke 16 yang berjudul Taman yang
Harum, ditulis oleh Shaykh Nefzawi. Begini tanya Nefzawi “Tahukah kau bahwa agama wanita
terletak dalam vagina2 me reka?” Dia melanjutkan, “Alat kelamin mereka tidak pernah terpuaskan,
dan untuk memuaskan nafsu berahi, mereka tidak peduli bersetubuh dengan orang bodoh, negro, orang
kotor, dan bahkan orang hina yang menjijikan. Setanlah yang membuat cairan2 mengalir dari dalam
vagina2 mereka” (dikutip Warraq, 1995, hal. 290).

4 / 22
Warraq (1995) mengeluhkan, “Islam selalu saja menganggap kaum wanita sebagai makhluk rendah di
segala bidang; secara fisik, intelek, da n moral. Pandangan negatif ini jelas ditulis dalam Qur’an,
ditunjang ahadis, dan ditambah lagi dengan komentar2 para ahli agama Islam yang merupakan penjaga
dogma Islam dan kebodohan Muslim."

Hukum Syariah Islam juga mengijinkan kawin sesaat saja. Hal ini disebut sebagai kawin Mutah, yang
tidak lebih daripada praktek pelacuran terselubung. Dalam Kamus Islam, Mutah adalah ‘pe rkawinan
kontrak berbatas wak tu tertentu, denga n imbalan uang’. (dikutip oleh Brahmachari, 2008). Di
bawah sistem ini, seorang Muslim bisa gonta-ganti istri setiap hari. Perkawinan ini merupakan ijin sesaat
untuk servis seks dan dengan demikian merupakan penghalalan pelacuran.

Para Mulah dan Imam India sangat sadar akan hukum illahi perkawinan Islam ini. Di Hyderabad, kota
besar India, para Mullah dan Imam ini bekerja sebagai germo untuk pria2 Arab. Banyak dari pria2 Arab
tersebut yang sangat kaya raya tapi bejad moral. Mereka berkunjung ke Hyderabad dan mengawini
gadis2 M uslimah India yang berusia muda, de ngan ba ntuan Mullah loka l untuk ka win de ngan orang2
Arab tersebut dalam kurun waktu 15 sampai 30 hari saja. Setelah memuaskan nafsu berahinya dan
mengambil keperawanan gadis2 India malang ini sembari menikmati keramah-tamahan masyarakat
India, pria2 Arab ini menceraikan para gadis tersebut dengan talak tiga. Mereka lalu kembali pulang ke
tanah Arab sebagai pria terhormat. Di satu kejadian, seorang pria Arab tua bernama Muhammad Zafer
Yaqub Hassan al Jorani dari Sharjah menikahi Haseena Begum; gadis India berusia 19 tahun, pada
tanggal 7 Mei, 2004, dan Muhammad menceraikannya dua hari kemudian. Pada tanggal 24 Mei,
Muhammad la mengawini gadis Ruksana Begum berusia 16 tahun. Haseena lalu melaporkan hal ini
pada polisi dan Muhammad ditangkap bersama-sama de ngan sang Mullah germo S hamsudd in yang
menerima bayaran 40.000 rupee dari Muhammad. Muhammad sendiri sudah punya dua istri dan 11 anak
di rumahnya di Arab. Laporan lain di Hindu Voice keluaran bulan January 2007, menyatakan seorang
pria Arab kaya berusia 60 tahun menikahi tiga gadis India yakni Afreen, Farheena dan Sultana, dalam
waktu 10 menit di Hyderabad. (Brahmachari, 2008).

Dilaporkan sekitar 35 sampai 40 perkawinan palsu setiap tahun antara pria2 Arab kaya raya dan gadis2
Muslim India di Hyderabad. Angka sebenarnya jauh lebih tinggi. Kenyataannya, para Mullah sudah
mulai mengejar-ngejar para Arab ka ya ini sejak tiba di airport internasional di Hyderabad. Begitu para
Arab turun pesawat, mereka sudah disambut para Mullah germo untuk mengadakan tawar- menawar
pelayanan seks terselubung dengan perkawinan. Foto2 gadis2 ditunjukkan, pembayaran diatur, dan
tanggal serta tempat perkawinan ditetapkan. Ini sungguh bisnis besar. Perbuatan memalukan ini tidak
diketahui anak2 dan cucu2 perempuan mereka di tanah Arab yang berusia sama dengan sang gadis
pengantin. Yang lebih mengganggu lagi adalah para Arab ini kebanyakan menyewa kamar di rumah2
para Imam yang menyediakan fasilitas perkawinan palsu ini. Dalam beberapa kasus, perkawinan hanya
berlangsung selama 24 jam (Sheikh, 2005). Inilah caranya bagaimana para Mullah menggunakan Islam
untuk mempromosikan pelacuran Islamiah dan menggemukkan kantong mereka dengan uang. Majhar
Hussain, presiden Confederation of Voluntary Agencies berkata, “Perkawinan Mutah ini merubah
gadis2 Muslimah muda jadi pelacur2.” (dikutip Brahmachari, 2008). Jika praktek ini terus terjadi dan
para Mullah tidak dihentikan, maka dalam waktu singkat Hyderabad bisa jadi kota pusat penghalalan
pelacuran Syariah Islamiah, dan jadi ‘Mekahnya Sarang Pelacuran) yang dicari-cari para Muslim,
terutama dari dunia Arab. Banyak Muslim yang akan datang ke India untuk servis Haji Sex (naik haji
sambil ngeseks Islamiah). Jika kekurangan perawan muda, para Mullah bisa jadi mencari istri2

5 / 22
Muslimah muda usia untuk melakukan bisnis pelacuran ini.

Berapa banyak Muslim India yang mengetahui kegiatan para Mullah germo di Hyderabad? Tragisnya,
para Mullah, sang penjaga Islam, malah menjadi pemanfaat Islam yang terbesar. Para Mullah ini
mencari nafkah dengan mempertaruhkan kehormatan para wanita muda dari keluarga Muslim.

Dalam Islam, bahkan susu payudara wanita bukanlah miliknya sendiri, karena suaminya (yang telah
membelinya dengan ‘mahr’) lebih berhak memiliki susu tersebut. Jika suami Muslim memaksa
menyedot susu dari istrinya, maka di bawah aturan Syariah, susu tersebut dianggap sebagai makanan
dan bukannya susu untuk pertumbuhan bayi. Menurut Muwatta Malik (Buku 30, Nomer 30.1.11),
“Menyedot susu… setelah dua tahun pertama, banyak atau sedikit, bukanlah hal yang haram. Susu itu
seperti makanan.” Juga hadis lain dari Muwatta Malik (Buku 30, nomer 30.2.14), menyatakan bahwa
pr ia Muslim halal untuk meminum susu istrinya (atau, istri2nya, dia bebas memilih da n merasakan mana
yang lebih enak) setiap saat dan boleh sambil menggauli istrinya secara seksual (wah, banyak banget nih
keuntungan suami Muslim dibandingkan suami non-Muslim). Inilah puncak ke tololan hukum illahi
Allah.

Beberapa tahun yang lalu AIMPLB (All India Muslim Personal Law Boa rd) telah menetapk an aturan
perkawinan. Tapi tidak ada anggota wanita dalam badan ini (Sheikh, 2005). Di sebuah masyarakat
beradab, hal ini sungguh tidak terbayangkan, tapi biasa saja dalam dunia Muslim sih. Menurut Islam,
“daging halal” tubuh wanita tidak punya kepribadian ataupun jati diri.

Dalam Syariah, wanita boleh dikawini di usia berapapun, bahkan jika dia baru saja lahir. Khomeini
berkata, “Pria boleh mendapatkan kepuasan seksual dari seorang anak bahkan bayi sekalipun” (Paz,
2006). Yang dikatakan Khomeini sangatlah tidak etis, tapi halal dalam Islam. Muhammad sang nabi
kegelapan merupakan maniak seks. Telah banyak tulisan yang menyatakan koleksi istri2nya yang
banyak itu (termasuk anak ingusan Aisyah dan menantu Muhammad sendiri yang bernama Zainab),
budak2 seks, dan gundik2 harem. Yang tidak banyak diketahui adalah Muhammad juga tertarik pada
bayi perempuan yang masih merangkak. Ibn Ishaq yang merupaka n penulis riwayat hidup sang Nabi
yang tertua dan paling terpercaya menyatakan hal ini dalam bukunya yang berjudul Sirat Rasul Allah.
”… sang Nabi melihatnya (Ummu’l-Fadl) ketika dia masih bayi yang merangkak di hadapannya dan
berkata, ‘Jika dia telah tumbuh dan aku masih hidup, aku akan mengawininya.’ Tapi sang Nabi terlebih
dahulu meninggal sebelum dia tumbuh besar…”

Umar (Khulafa Rashedin, salah satu dari 4 Kalifah Tauladan) mengikuti jejak Muhammad dengan
mengawini Umm Kulthum ketika berusia 4,5 tahun atau setengah usia Aisyah ke tika ditiduri oleh
muha mmad. Inilah aturan illahi Islami. Jika Muhammad da n Kalifah Umar saja tidak normal, ba gaimana
mungkin kita dapat menyalahkan Khomeini? Melakukan perkawinan dengan anak2 adalah sama dengan
melakukan pelacuran pada anak2.

Poligami dihalalkan dalam Qur’an (4:3). Muslim boleh mengambil sampai empat istri dalam waktu yang
bersamaan. Di India, saudara angkat Sultan Mughal bernama Akbar yakni Mirza Aziz punya penjelasan
lucu mengapa pria butuh empat istri. ‘Pria harus menikah dengan satu wanita Hindustan untuk memiliki
anak, satu istri dari Khurasan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, satu wanita dari Iran untuk jadi
teman bicara dan bercakap.’ Dan yang keempat? ‘Ya tentu saja kawini pula satu wanita dari Transoxiana

6 / 22
untuk mencambuki ketiga istri lainnya dan menjaga perdamaian.’ (Early, 1977 hal. 666).

Al-Ghazali menasehati semua Muslim sebagai berikut, “Jika seorang wanita tidak mencukupi, ambilah
beberapa lainnya (sampai jumlahnya empat). Jika kau masih tidak bahagia, ganti saja mereka semua.”

Kemudahan memiliki sejumlah istri2 dan gundik2, dan kebebasan Muslim untuk kawin terus diantara
sanak keluarga sendiri seringkali membingungkan hubungan antar anggota keluarga tersebut. Akibatnya,
ketiak Munawwar Ali yang masih kecil pergi ke Madrasah untuk dapat pendidikan Islam; dirinya
dikenal sebagai anak dari 20 anak dari seorang istri dari 13 istri milik Sheikh Abdullah Ali! Banyaknya
jumlah anak ini merupaka n salah satu alasan mengapa banyak ke luarga Muslim yang miskin.

Sepanjang sejarah, penguasa Muslim selalu punya ‘harem’ yang dijaga ketat. Dalam bahasa Arab,
‘harem’ merupakan tempat terlarang di mana seluruh ‘begum’ (istri2) hidup – dunia harem terkunci dari
dunia luar. Dalam bahasa sederhananya, harem merupakan tempat pelacuran milik pribadi. Di India,
harem para sultan Mughal sangatlah besar.

Akbar, yang merupakan sultan Mughal pertama, memiliki sampai lebih dari 5.000 wanita (Early, 1977,
hal. 642). Dari jumlah itu, istri2nya berjumlah 300 orang dan yang lainnya adalah gundik. Anak lakinya
yang bernama Jahangir punya lebih dari 1.000 istri. Ali punya 200 istri. Ibn al- Teiyib, imam terkenal
dari Baghdad, yang usianya sampai 85 tahun, dilaporkan punya 900 istri, al-Mutawakkil punya 400 istri
– dan setiap istri hanya ditidurinya semalam saja (Durant, 1950, hal. 222). Cucu Muhammad yakni
Hasan punya 300 istri. Hasan seringkali menikahi 4 wanita sekaligus dan lalu menceraikan keempatnya
secara bersamaan pula (Kasem, n.d.). Para Muslim tidak menghormati kesucian perka winan.
Kebanyakan imam2 Muslim punya banyak istri dan segudang anak. Durant (1950) berkomentar,
‘Mungkin Islam salah aturan dan memperlakuka n perka winan secara ekstrim.’

Abul Fazl (dikutip Early, 1977, hal. 643) mengajukan alasan ‘hebat’ untuk mendukung poligami –
‘Sama seperti bagi orang lain di mana satu istri saja tidak cukup, maka demikian pula orang2 yang hebat
punya lebih banyak kebutuhan, agar rumah mereka tampak lebih megah, dan lebih banyak orang lagi
yang bisa dinafka hi.’

Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana orang2 Muslim ini bisa punya sedemikian banyak istri, jika
ketetapannya hanya boleh sampai empat saja? Ya gampang saja, karena yang dibutuhkan hanyalah
sedikit akal2an. Allah berkata dalam Qur’an (4:3), “Nikahilah wanita yang baik bagimu, dua orang, tiga
orang atau empat orang.” Kalimat ini lalu diartikan dalam berbagai pengertian yang berbeda-beda oleh
para ahli Qur’an – seorang ahli menambahkan dua, tiga, dan empat, sehingga jumlahnya jadi sembilan
istri. Ahli Qur’an yang lain mendapatkan jumlah 18 dengan cara menjumlahkan dua, tiga, dan empat,
lalu dikali dua (Eraly, 1977). Karena Islam tidak pernah kekurangan ahli Qur’an, maka pengertian baru
selalu dapat dihasilkan bilamana uang sogokan tinggi tersedia. Inilah sebabnya jumlah wanita di harem
pribadi begitu membludak.

Dalam keluarga2 tradisional Muslim di negara2 Timur Tengah, ayah atau kakak pria boleh
mengawinkan wanita dalam keluarga kepada siapapun yang diinginkannya, meskipun wanita itu masih
di bawah umur. Kawin karena dasar cinta kasih jarang terdengar dan malah dilarang, karena bisa2
jumlah mahr- nya berkurang. Para gadis biasanya menikah di usia 12 tahun, dan menjadi ibu di usia 13

7 / 22
atau 14 tahun (Durant, 1950; hal. 220). Seringkali pengantin pria tidak boleh melihat wajah pe ngantin
wanita sebelum pernikahan. Lalu daiakan perayaan, makan2, dan berdoa. Setelah upacara2 tersebut,
pengantin baru masuk ruangan tertutup dan pengantin pria membuka cadar penutup wajah pengantin
wanita sambil berkata, “Dalam nama Allah, yang Maha Penyayang, Maha Pemurah..” Jika pengantin
pria tidak suka dengan apa yang dilihatnya, maka dia bisa seketika mengirim kembali pengantin wanita
ke orangtuanya beserta mahrnya dan mencari pengantin wanita baru (Durant, 1950; hal. 220).

Secara umum, wanita tidak berharga dalam Islam (keadaan dunia Islam jaman sekarang tidak banyak
berbeda saat ini dibandingkan dengan jaman Muhammad). Bahkan di kalangan Muslim paling rendah
sekalipun, di mana tidak banyak terdapat perbedaan gender, tetap saja nasib wanita lebih jelek daripada
nasib pria. Kaum wanita yang miskin semakin buruk kesehatannya karena terus- menerus melahirkan
dan membesarkan anak, sambil harus terus bekerja mencari nafkah membantu suaminya. Tidak banyak
yang bisa dinikmati dalam hidup bagi mereka, kecuali tetap berusaha hidup.

Di Afghanistan dan di Bangladesh, lebih dari separuh remaja wanita telah menikah.

Di Iran, para wanita biasanya menikah ketika mereka mencapai usia 9 tahun (Spencer, 2005).

Di Bangladesh, 59% para gadis menderita kekurangan gizi dan 10% lainnya sangat parah keadaannya.
(UNDP, 1995).

Bahkan para Muslimah kelas menengah dan atas juga mengalami keadaan yang sama, seperti yang
dinyatakan oleh Manucci (1989), “Mereka (Muslimah) tidak punya rasa ketertarikan di luar pengabdian
rutin pada keluarga, tidak punya kehidupan sosial di luar lingkungan keluarga, dan tidak punya
kedudukan dalam masyarakat.”

Pendidikan para Muslimah dalam masyarakat secara umum, biasanya tidak lebih dari belajar sholat,
membaca beberapa Sura Qur’an, dan belajar seni mengurus rumah tangga (Durant, 1950; hal. 221).
Kebebasan dan pendidikan wanita dianggap sebagai ancaman dominasi pria. Omar sang Kalifah kedua,
mengatakan, ‘Larang wanita untuk belajar menulis! Cegah mereka melakukan hal yang baru.’ Dan juga,
‘Suruh mereka telanjang saja, karena pakai baju hanya alasan untuk keluar rumah saja.’ (Warraq, 2005,
hal. 299). Dalam tulisannya yang lain, Durant (1950) mengeluhkan, “Di masa kecilnya yang
menyenangkan dia menikmati beberapa tahun penuh kasih sayang, tapi di usia 7 atau 8 tahun, dia lalu
dikawinkan dengan pemuda dari keluarga pilihan ayahnya yang menawarkan uang untuk membeli
pengantin wanita… si gadis cilik ini harus tunduk atas perintah ayahnya, suaminya, atau bahkan anak
lakinya sendiri; dia selalu jadi babu, jarang sekali dianggap sederajat dengan pria. Sang suami menuntut
banyak anak darinya, atau tepatnya anak2 laki; kewajiban sang wanita hanya menghasilkan tentara2
saja. Di banyak kasus, dia merupakan salah satu dari banyak istri suaminya. Sang suami bisa dengan
mudah menceraika nnya sesuka hatinya.”

Di Pakistan, fundamentalis Islam sangat menentang keras pendidikan bagi wanita. Di masa tiada hukum
selama lima hari di bulan Februari, 2004; para Muslim ini membakar delapan sekolah bagi para pelajar
putri (Spencer, 2005). Para Mullah Pakistan, menyatakan bahwa para Muslimah yang ingin belajar
berarti melakukan pemberontakan terhadap Islam: “Peringatkan para wanita tersebut, kami akan cabik2
mereka. Kami akan hukum mereka dengan hebatnya, sehingga di masa depan tidak akan ada lagi yang

8 / 22
berani bersuara menantang Islam.” (dikutip oleh Warraq, 2005. hal. 321)

=======================

Some medieval theologians thought that Muhammad had invented polygamy, but it is not true, because
it antedated Islam by some years (Durant, 1954; p. 39). Muhammad legalized polygamy in his newly
established religion and lowered the status of women to the level of prostitutes with divine sanction. As
Ascha (1989) concluded, “Islam is the fundamental cause of the repression of the Muslim women and
remains the major obstacle to the evolution of their pos ition.”

In cultures that permit polygamy, the youngest co-wife is required to care for elder co-wives. This
relationship is sometimes a daughter/mother relationship, b ut in many cases the elder wives view the
younger with bitterness and resentment. In many polygamous relationships, the child bride is treated as
an unpa id servant and may never succeed in earning the respect of the elder wives or their children.

In add ition to above; domestic violence is the most widespread and common form of violence against
women and young girls in Muslim families. Child brides live with older men who expect them to carry
out all the duties of an adult woman, even if those responsibilities are too great for a child, let alone a
woman. Freque ntly, the husba nds assert their author ity in the home through physical violence and
consider wife torture a heroic deed.

In Egypt twenty-nine percent of married adolescents have been beaten by their husbands; out of this
forty-one percent during pregnancy.

In Jordan, twenty-six percent of reported cases of domestic violence were committed against wives
under eighteen.

As per one repor t by Amnesty International; over ninety pe rcent of Pakistani wives have been
mishandled (struck, beaten, or abused sexually) for minor offences like cooking unsatisfactory meal and
failure to give birth of a male child (Spencer, 2005). Wife beating is sanctioned by Allah (Koran 4:34).
In a Hadith Muhammad advised, “Hang up your whip where your wife can see it” (cited Warraq, 2005.
p. 314).

In Sudan, the genital passage of the divorced women and widows are closed by stitching keeping a small
portion open for menses (Azad, 2005. p. 197).

Even Muhammad raised his violent hand on his child bride, Aisha. It is recorded in Sahih Muslim, Book
004, number 2127 (cited Kasem, 2005) – once while sleeping with Aisha, Muhammad secretly left his
bed and went to the graveyard at Baqi; Aisha spied and followed Muhammad; when Muha mmad learned
Aisha’s misdeed he hit her (beat her) on her chest that caused much pain to her. This divine act of wife-
beating is recorded in The History of al-Tabari. Vol. IX, (cited Kasem, 2005). However, the ‘kind’
treatment of women does not end here. Kasem (2005 ) cited a nother Hadith from Sunaan Abu Dawud
(11.2142) – ‘The Prophet said: A man will not be asked as to why he beat his wife’. Somalia Muslims
whip their newly wedded wives on the very first night (Azad, 1995. p. 197, Miles, 1988. p. 89).
Merciless beating without any reason is a religious tradition in Somalia.

9 / 22
Fajlur Rahaman referred to one Hadith (cited Azad, 1995. p. 166), which says “even if the husband is a
leper and the wife cleans the pus of his wounds with her tongue and swallows the pus, still she is not
equal to her husband” (original in Bengali, translated by author).
In pre-Islamic Arabia women were free, happy and respectful. They used to take part in meetings, often
attended in court of law with similar equality of man; run business (Khadija, the first wife of
Muhammad was a business women and employed several men to look after her business); even fought
many battles. Only under Islam they were animalized.

So, this is the status of married women under Islam. No doubt, a comparison of a legally married woman
with prostitutes is unethical and of bad taste. It doe s not reflect well on the author. But, this article is not
the product of a sick mind. Every bit of information on this article is true and taken from authentic
sources. On the other hand, Muhammad’s and his followers ‘high regard’ for women points to the only
conclusion that Islam cannot be a God approved religion. It is because; high status and respect of women
and responsibility of a married couple towards each other, to the family and to the society in general; as
taught in Christianity, Hinduism, Buddhism and other established religions; is totally absent in Islam.
The plain truth is that, the God of Islam is an invented God. This God is actually a puppet and his only
purpose is to legalize any crime in the name of religion. And, no doubt, this God is doing well in his job,
ever since it was inve nted.

In general a Muslim takes his ‘sex’ philosophically, with hardly more of metaphys ical or theological
misgiving than an animal. Marriage is never a sacrament with him; it is frankly a commercial
transaction. It never occurs to him to be ashamed that he treats women as prostitutes or animals; he
would rather be ashamed of the opposite.

In Islamic nations, much of the married women’s work remains unrecognized and unvalued. Women are
constantly under the threat of divorce (Azad, 1995). Often they don’t get enough food to eat from their
husbands. In Bangladesh, seventy-seven percent of married women from midd le income households and
more than ninety- five percent of those from low income households are underweight and malnourished
(UNDP, 1995). On top of this, their contribution to the family often goes unnoticed. In Sudan the time
spent for gathering fuel wood has increased fourfold in a decade, which is the duty of a woman. In
Mozambique, women spent more than fifteen hours a week just for collecting water for the family
(UNPD, 1995). Some Afghani women are compelled to go for grazing around the mountain valleys
looking for a blade of grass to feed themselves and their children (Sina, 2001). A recent UN report
disclosed that women in Saudi Arabia are the victims of systematic and pervasive discrimination across
all aspects of social life (Times, 2008). In Islamic nations, more girls than bo ys die at young age. Birth
of a girl is still seen as a disaster in Muslim societies. Women, who constitute half the globa l pop ulation,
definitely deserve a better deal.

Islam seeks power, promotes hate and domination in the name of an imaginary God. In a civilized
society, charity begins at home, but in Islamic society; hate and domination begin at home. Probably
prostitutes are in a better pos ition than those helpless ‘animals’ called ‘Muslim women’. The greatest
task of moral is always sexual regulation. A sense of family value is observed amongst many animals
also. Mother is the first ‘Guru’ (spiritual guide) for a child. The child learns the alphabet from his
mother. The child learns to speak from his mother. She may make him a saint or a ruler or a rogue. She

10 / 22
imparts her virtues to her child with her milk. No society can progress unless their women folks are
educated a nd free. M uslim women should be given education and liberty and then the y will bring the
required revisions for their betterment. No need to shed endless crocodile tears by the so-called
intellectual Muslims to try to fool the civilized world. It’s a pity that the Muslims are too spiritually
deprived to ever realize this fact.

-------------------------------------------

Daftar Pustaka
Buku, majalah, jurnal, da n kor an

Ascha G. (1989), Du status inferieur de la femme en Islam. pp.11. Paris.


Azad, Humayun (1995); Nari (woman), originally written in Bengali. Revised third edition. Sept’95.
Agami Prakasani. Dhaka, Bangladesh.
Durant, Will (1950 ), The story of civilization - The age of faith. S imon and Schuster. NY.
Durant, Will (1954 ), The story of civilization – Our Oriental Haritage. Simon and Schuster. NY.
Eraly, Abraham (1977), The lives and times of great Mughals. First edition. Penguin books. New Delhi,
India
Kaleeby (2002), Dictionary of the Quranic phrases and its meaning; compiled by Sheik Mousa Ben
Mohammed Al Kaleeby, Maktabat Al Adab, Cairo.
Manucci, Niccolao (Italian adventurer in India in the second half of the 17th century); Storia do Mogor,
2nd volume (translated by William Irvine). London 1907-08 / Delhi 1922.
Miles, Rosalind (1988 ); The women’s history of the world. Michael Joseph publication. London.
Nasrin, Taslima. (2007), Let’s burn the Burqa, Outlook, the weekly news magazine published from
India, January 22, 2007 issue, pp 62.
Pelsaert Francis (a Dutch treader in India in the second decade of the 17th century); Remonstrantie
(translated by W. H Moreland as Jahangir’s India), Cambridge, 1925 / India 1972.
Spencer, Robert (2005); The politically incorrect guide to Islam (and the crusades). pp. 69 – 77. Regnery
Publishing. Inc. USA
Times (2008 ); Saudi woman strip-searched for café meet with man. The times of India, a daily
newspaper published from India. 7th February. 2008 issue, pp 15, first column.
UNDP (1995); Human Development Report. Published for the United Nations Development Programme
(UNDP), pp. 35 . OUP. Delhi. India
Warraq. Ibn (2005), Why I am not a Muslim, Prometheus books. NY.
Winn, Craig (2004); The Prophet of Doom - Islam’s Terrorist Dogma in Muhammad’s Own Words.
First edition. Cricketsong books (A division of Virginia publishers), Canada.

Internet
Brahmachari R. (2008), Mutah, or temporary marriage in muslim society. Published on 26th January,
2008. at Faith Freedom International. (Last accessed 28th January / 08 ).
Hairan, A. (2007), Husband cut off wife’s ears, nose on Eid day. Published in Groundreport.com on
December 23, 2007. (Last accessed 14th February / 08 ).

11 / 22
IRIN, (2007 ); Nazia, Afghanistan, "My husband cut off my ears and nose and broke my teeth".
Published in YubaNet.com on 26th December, 2007. (Last accessed 14th February / 08 ).
Kasem, Abul (n.d), Sex and Sexuality in Islam, Islam-watch. (Last accessed 10th January / 08 )
Kasem, Abul (n.d); Women in Islam. Islam- watch. (Last accessed 11th January / 08 )
Kasem, Abul (2005) - Did Prophet Muhammad ever beat his Wives? Published on 28th April, 2005 at
Mukto-mona. (Last accessed 10th December / 07)
Paz, (2006), Khomeini's Teachings on sex with infants and animals. (Last accessed 24th March / 07)
Sheikh Q. (2005), You opened my eyes in Leaving Islam section of Faith Freedom International. (Last
accessed 16th June / 06)
Silas (n.d), Wife beating in Islam, Answering Islam. (Last accessed 20th December / 07)
Sina, Ali (2001 ), The fall of Islam, Faith Freedom International. URL: (Last accessed 1st March / 05).
pernikahan islam = pelacuran
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... hp?t=16090

http://www.brandeis.edu/projects/fse/mu ... riage.html


Muslim marriage is a contract, not a sacrament. Though it has importance as the only religiously
sanctioned way for individuals to have legitimate sexual relationships and to procreate (now that slave-
concubinage is no longer practiced), marriage is a civil agreement, entered into by two individuals or
those acting on their behalf. (Read more about consent and forced marriage.)

Menurut situs Muslim ini :


Perkawinan Islam adalah ko ntrak, b uka n sakramen. Perkawinan penting utk mensahkan HUBUNGAN
SEKSUAL DAN PROKREASI. Perkawinan adalah perjanjian sipil antara dua individu atau mereka yg
mewakili pemelai (dlm arti : siapapun bisa diwakili, termasuk anak dibawah umur !)

In exchange for the payment of dower, the husband receives what is referred to as milk al-nikah, milk al-
‘aqd, or milk al-bud‘, “ownership (or control) of marriage (or intercourse) /the marriage contract / [the
wife’s] vulva”; this milk is a prerequisite for lawful intercourse. Because he possesses this control, he
and he alone can unilaterally e nd the marriage at any time by a pronouncement of repudiation (talaq). If
the wife wishes to end the marriage, she must either pay him to gain his agreement (in divorce for
compensation, khul‘) or, if she has grounds (which vary according to the different schools of legal
thought), she may seek judicial divorce.

Sbg ganti mas kawin, s i suami menerima milk al-nikah, yaitu TANDA KEPEMILIKAN/KONTROL
dlm perkawinan tsb dan atas HUBUNGAN SEKSUAL atau 'vulva' istri.

(Apa tuh vulva ?? Alat kemaluan istri ??? )

Karena ia (sang suami) memiliki KONTROL, maka ia dan hanya ia yg dapat secara unilateral
menamatkan perkawinan tsb dgn talaq. Kalau istri ingin menamatkan perkawinan, ia harus
MEMBAYAR sang suami utk meminta persetujuannya , atau kalau ia punya alasan juridis, ia boleh
minta cerai ke pengadilan.

12 / 22
(Susah amat yah ? Khan pengadilan bisa lama dan mahal !! Gimana kalau sang istri nggak punya duit ?
Harus minta suami pula ??? Nanti ditabok pula istri sesuai dgn 4:34 karena minta2 duit buat ke
pengadilan !!)

SATU LAGI SITUS MUSLIM :


http://www.soundvision.com/info/Islam/m ... .nikah.asp
Marriage (nikah) is a solemn and sacred social contract between bride and groom. This contract is a
strong covenant (mithaqun Ghalithun) as expressed in Quran 4:21). The marriage contract in Islam is not
a sacrament. It is revocable.

TERJEMAHAN : Nikah adalah sebuah KONTRAK sosial dan suci (kontrak kok bisa SUCI ????) antara
mempelai. Kontrak itu adalah sebuah janji kuat spt ditulis dlm Quran. Kontrak perkawinan dlm Islam
BUKAN sebuah sakramen. Kontrak ini bisa DIBATALKAN.

Menjadi Muslimah ... karunia atau ketiban duren ???? :cry: :cry:

Makanya istri2 kafir pada untung. Suami mereka harus bersumpah didepan tuhan mereka utk :

I solemly vow to love, comfort, keep you, for better, for worse, in sickness and in health, for richer for
poorer, for as long as we both shall live, until death do us part.
Lalu si pendeta bilang : What GOD has put together, let no man put asunder.

Om ali aja masih sering keluar air mata haru kalau mendengar kata2 sumpah perkawinan ala Barat itu.
:cry: :cry: :cry: :cry:

Ini nih terjemahannya:


Saya bersumpah utk mencintai, melindungimu, dalam hari2 buruk, maupun hari2 baik, selagi
sakit, selagi sehat, selagi kaya, selagi miskin, untuk selama2nya, sampai ke matian me misahkan
kami.
Si Pende ta : Apa yg telah dipersatukan oleh Tuhan, jangan lah manusia memisahkannya.

Di Barat : You may now kiss the bride ...


Kalau Muslim : You may now have SEX with that woman until the day yo u talaq he r ! :evil:

by Moderator 3 » Thu Jul 17, 2008 2:41 pm


13 / 22
Diskusi: Perkawinan Islam & Penghalalan Pelacuran
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... hp?t=26802

Di MALAYSIA:

http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... .php?t=294

Realitasnya adalah bahwa orang sering masuk Islam TANPA mengerti apapun ttg agama itu. Tetapi
sekali kau masuk Islam, negara akan menganggapmu Muslim sampai mati dan ini akan mempengaruhi
status sipilmu.

Ttg perkawinan campur, dokumen itu mengatakan: “S bg M uslim, kau tidak boleh me nikahi seorang
non-Muslim. Kalau suatu wak tu kau me mutuskan utk be rcerai dan ingin murtad, KAU AKAN
KEHILANGAN HAK TERHDP ANAK2MU, karena me reka Muslim.”

Hukum perdata kami mengatakan bahwa Muslim DILARANG menikah dng non- Muslim. Jika kau
me miliki nama Muslim, departemen pendaftaran pe rkawinan tidak akan me mbe rimu ijin utk
menikah non-Muslim. Dlm hukum Islam, pemilikan anak2 disebut dgn ‘hadana’ (hak ibu atas
anak2). Wanita me miliki hak utk me ndapatkan anak2nya hanya jika mereka dibawah usia 12.
Tetapi jika ia tidak lagi me meluk Islam, ia akan kehilangan hak bagi anak2nya dan hak ini akan
beralih ke ibu sang mantan suami, karena a nak2 ini dianggap sbg Muslim sejak mereka lahir.

Para uskup juga mengangkat topik2 sensitif spt hak harta benda, hak penguburan dan kas us dimana
isteri dlm perkawinan Kristen pindah ke Islam:

“Dlm hal ke matian, ke luarga non-Muslim- mu (isteri dan anakmu) akan KEHILANGAN HAK atas harta
benda dan uang yang kau ingin tinggalkan bagi mereka. Jenazah seorang Muslim akan diambil dari
ke luarga non-Muslimnya utk dikuburkan dgn ritual Islam, BAHKAN jika ia, semasa hidupnya, tidak
lagi mempraktekkan Islam selama bertahun2.”
“DLm hal isterimu pindah ke Islam, kau tidak akan mendapatkan hak atas anak2 ataupun harta
bendamu.”

Menur ut Shariah, non-Muslim tidak dapat mewarisi harta benda Muslim. Contoh: sebuah kasus di
Malakka. Seseorang lelaki Cina masuk Islam tanpa mengatakan kpd isterinya. Ketika ia wafat, semua
harta bendanya pindah ke tangan Departemen Islam negara. Peristiwa ini menimbulkan kericuhan begitu
besar, dianggap sbg skandal, sampai gubernur Malakka harus dipaksa agar tidak mengembalikan kpd
ke luarga Cina itu setengah dari harta yg disitanya. Ini kasus yg masih bisa berakhir dgn baik, hanya
karena mendpt sorotan media dan karena mengakibatkan kemarahan rakyat. Namun, banyak orang,
khususnya anak muda, tidak sadar bahwa begitu mereka masuk Islam, keluarga non-Muslim mereka
tidak dapat mewarisi harta benda merek.

Kalau seorang Muslim mati, po lisi akan menyita jenazahnya utk dikubur secara islam. Tetapi kalau sang
wafat tidak lagi Muslim, keluarganya HARUS MEMBAWA JENAZAHNYA KE KANTOR POLISI

14 / 22
dan meminta ijin utk menguburnya dgn ritual agama yg dipraktekkannya. Kadang polisi langsung
mengijinka n, tetapi saat keluarga pulang, po lisi memanggil Departemen Agama dan menyita jenazah itu
pada malam yg sama. Jika seorang isteri memeluk Islam, Departemen Federal di Kuala Lumpur aka n
menjatuhka n hukuman Negara yg menegaskan agar keturunan orang yg masuk Islam itu secara
OTOMATIS masuk I slam.//

Lelaki2 SAUDI gilir istri2 mut'ah


http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... 56&t=31406
ali5196

Lelaki2 SAUDI gilir istri2 dlm kawin suri

http://www.arabnews.com/?page=1&section ... m=3&y=2009

Al-Zawaj Al-Urufi: A marriage of convenience


Nadeen Ibrahim | Arab News
Sunday 1 March 2009 (05 Rabi` al-Awwal 1430)

MADINAH: Dgn semakin meningkatnya jumlah orang asing di Medinah, lelaki2 Saudi — kebanyakan
suda h menika h — menikah wanita2 asing MUDA (tentunya) lewat pernikahan yg tidak diakui negara,
atau dikenal dlm bhs arab sbg Al-Zawaj Al-Urufi.

“Jumlah orang asing di Medinah — baik secara legal atau illegal — jauh melebihi orang2 Saudi disini,”
kata sebuah sumber pemda Medinah.

“Ada orang2 asing yg mencoba mendapatkan uang dgn menikahi puteri2 mereka ke orang2 Saudi. INi
semakin meningkatkan jumlah nikah macam itu,” katanya.

Kantor2 Pencatatan Nikah — atau “mazun” — tidak diijinka n melakukan pernikahan antara Saudi &
non-Saudi, tanpa surat
ijin. Saudi yg ingin mengikahi non-Saudi harus minta surat ijin dari Mendagri, yg bisa memakan waktu
berbulan2 atau bertahun2.

Namun, ada saja sheik2 asing yg siap melakukan upacara nikah. Pernikahan itu sah menurut syariah,
tapi tidak menurut aturan Saudi.

Kamal Muhammad, guru IT di Medinah, mengatakan bahwa perkawinan2 macam itu hanya berharga
tidak lebih dari SR10,000. “Saya belajar hal ini dari seorang teman yg memperkenalkan saya kpd
seorang asing yg mencari suami bagi puterinya,” katanya.

“Ayahnya menunjukkan kpd saya tiga puterinya dan meminta saya utk memilih salah satu. Syaratnya,
katanya, emas kawin
tidak boleh kurang dari SR7,000 dan saya diwajibkan utk berada dgnnya dlm rumah yg sama,” katanya.

“Setelah say amenjatuhkan pilihan, sang ayah membawa saya kpd seorang sheikh asing dan menikahkan
15 / 22
kami. Saya bayar SR5,000 dulu dan berjanji utk berikan sisa uangnya entar. Kami langsung melakukan
pesta kawin yg dihadiri ibu pengantin dan kerabat dekat. Saya tidak menyangka bahwa saya bisa kawin
dgn begitu cepat dlm beberapa menit saja dgn harga yg begitu murah,” katanya.

Kamal mengatakan, mertuanya memintahnya utk membayar SR600 per bulan sbg nafkah istrinya. “Jelas
saya langsung
setuju. Dimana lagi saya bisa temuka n istri cantik da n begitu muda itu ?” tanyanya.

Namun, ia bercerai setelah 5 bulan, setelah ia tahu bahwa perkawainan2 macam itu sangat umum
diantara orang asing.
“Si wanita tidak ingin buang waktu dan langsung mencari calon suami baru keesokan harinya,” katanya.

Pedagang Saudi, Ghazi, mengatakan ia telah menikah dan bercerai secara tidak resmi dgn beberapa
wanita asin. “Selain punya istri pertama, saya ingin wanita yg memanjakan saya dan membuat saya
bahagia. Oleh karena itu saya menikahi LIMA wantia asing dgn cara tidak resmi ini. Perkawinan2
macam ini MURAH dan saya tidak perlu sewa rumah. Saya hanya tinggal di rumah2 mereka,” katanya.

Ghazi mengatakan kelima istrinya berbeda2 nasionalitas. Yg paling hebat katanya, adalah wanita Afrika
dari Chad.

Khaled, seorang guru SMP, setuju. “Cara ini memberikan kami kesempatan utk ganti2 pasangan. Kami
bisa menikah dgn macam2 wanita, tua, muda, hitam, putih, tanpa istri2 Saudi kami ataupun saudara2
kami mengetahuinya,” katanya.

“Istri2 asing itu lebih suka tutup mulut karena takut dideportasi karena kebanyakan dari mereka
merupakan imigran gelap,” katanya.

Fatima, wanita Afghan, mengatakan, ia melakukan nikah tidka resmi dgn lelaki Saudi yg berjanji akan
meresmikan pernikahan ini nanti. “Ketika saya hamil, saya ditalaq. Ayah saya harus memohon padanya
agar datang ke RS utk melihat bayinya. Ia nongol tapi setelah itu menghilang tanpa jejak,” katanya.

“Saya sudah diperingatkan akan bahaya menikah secara tidak resmi. Tapi saya teriming2 uang dan
janji2 suami saya utk meresmkikan pernikahan macam itu. Kini saya sangat menentang perkawinan spt
itu,” ka tanya.

A Saudi wife, who spoke on condition of anonymity, said she discovered her husband had married three
women in such a way. “I became suspicious of his behavior. So I kept a close eye on him until I saw him
one day entering a house, which was occupied by foreigners. When I confronted him, he confessed that
he had secretly married,” she said.

“He said he resorted to them because he did not want to commit adultery. I forgave him because his
marriages were only on paper; he had no children from them and did not rent a home for them,” she
added.

16 / 22
According to marriage registers in the Kingdom, marriages with overstayers are illegal since overstayers
are not recognized by law as living in the Kingdom.

Women who unde rgo nika hs with Saudi men without official recognition from the state usually lose
their legal rights as wives in the eyes of the law. Women who are divorced cannot claim their rights —
such as alimony — as their marriages are not legally registered in the Kingdom.

In a previous Arab News article, Mohammed Saeed Tayib, a legal consultant, said there are legal
channels through which marriages conducted abroad can be legalized under Saudi law. He added there is
little that can be done to legalize “unofficial” marriages conducted in the Kingdom.

Re: lelaki2 SAUDI gilir istri2 mut'ah

by seng-su » Wed Mar 04, 2009 11:38 pm

pihak laki- laki butuh kepusasan seksual, pihak wanita butuh duit...
mod el ka win-kawinan kayak gini apa bedanya dengan prostitusi...
ali5196 wrote:Fatima, wanita Afghan, mengatakan, ia melakukan nikah tidka resmi dgn lelaki Saudi yg
berjanji akan meresmikan pernikahan ini nanti. “Ketika saya hamil, saya ditalaq. Ayah saya harus
memohon padanya agar datang ke RS utk melihat bayinya. Ia nongol tapi setelah itu menghilang tanpa
jejak,” katanya.

dia jelas aja merasa gak bersalah...


gak melanggar ajaran mohmed, kok...

Re: lelaki2 SAUDI gilir istri2 mut'ah

by Fox hound » Thu Mar 05, 2009 9:11 am

Kasih ayatnya biar nggak dibilang fitnah:

An Nisaa
24. dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu
miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas ka mu. Dan dihalalkan bag i
kamu selain yang de mikian (yaitu) mencari isteri-isteri denga n hartamu untuk dikawini bukan
untuk berzina. Maka isteri- isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah
kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi
kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Asal pakai acara menikah, sangat halal cari isteri pake duit. Bosen, tinggal dicerai, pake duit lagi
cari istri baru lagi
17 / 22
Re: lelaki2 SAUDI gilir istri2 mut'ah

by anshori2007 » Thu Mar 12, 2009 7:37 am

Foxhound wrote:Kasih ayatnya biar nggak dibilang fitnah:

An Nisaa
24. dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu
miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas ka mu. Dan dihalalkan bag i
kamu selain yang de mikian (yaitu) mencari isteri-isteri denga n hartamu untuk dikawini bukan
untuk berzina. Maka isteri- isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah
kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi
kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya , sesuda h menentukan mahar itu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Asal pakai acara menikah, sangat halal cari isteri pake duit. Bosen, tinggal dicerai, pake duit lagi
cari istri baru lagi

Re: lelaki2 SAUDI gilir istri2 mut'ah

by iamthe warlord » Thu Mar 12, 2009 9:54 am

aduh...
kok ngaco ya...

orang mau rujuk, istri di suruh kawin dulu sama orang lain?

Re: lelaki2 SAUDI gilir istri2 mut'ah

by anshori2007 » Fri Mar 13, 2009 7:34 am

iamthewarlord wrote:aduh...
kok ngaco ya...

orang mau rujuk, istri di suruh kawin dulu sama orang lain?

18 / 22
emang kenapa ? kan ini perintah allah swt ?

Re: lelaki2 SAUDI gilir istri2 mut'ah

by asdqwe » Fri Mar 13, 2009 12:23 pm

ya mentalitas bejad kayak orang arab inilah yang sangat diidolakan sodara-sodara kita kaum muslimin
wal muslimat yang terhormat...
sampe-sampe gue pernah baca ungkapan kalo bangs a indonesia ini jauh lebih arabis ketimbang
bangs a arab sendiri

bravo deh....terusin ntu budaya arab....kalo perlu sekalian operasi plastik biar gak cuman tingkah yang
mirip arab, tapi juga fisik mirip arab

Re: lelaki2 SAUDI gilir istri2 mut'ah

by anshori2007 » Fri Mar 13, 2009 1:00 pm

asdqwe wrote:bravo deh....terusin ntu budaya arab....kalo perlu sekalian operasi plastik biar gak cuman
tingkah yang mirip arab, tapi juga fisik mirip arab

yach, biar sekaliyan jadi ARAB-patigenah alias tidak karuan

Re: lelaki2 SAUDI gilir istri2 mut'ah

by THIOBUKI » Sat Mar 14, 2009 1:05 pm

Foxhound wrote:Kasih ayatnya biar nggak dibilang fitnah:

An Nisaa
24. dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu
miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas ka mu. Dan dihalalkan bag i
kamu selain yang de mikian (yaitu) mencari isteri-isteri denga n hartamu untuk dikawini bukan
untuk berzina. Maka isteri- isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah
kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi
kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

19 / 22
Asal pakai acara menikah, sangat halal cari isteri pake duit. Bosen, tinggal dicerai, pake duit lagi
cari istri baru lagi

Re: lelaki2 SAUDI gilir istri2 mut'ah

by nop_nop » Sun Mar 15, 2009 11:06 am

asdqwe wrote:sampe-sampe gue pernah baca ungkapan kalo bangsa indonesia ini jauh lebih arabis
ketimbang bangs a arab sendiri
bravo deh....terusin ntu budaya arab....kalo perlu sekalian operasi plastik biar gak cuman tingkah yang
mirip arab, tapi juga fisik mirip arab
beneeeeeeeeeerrrrr !!!!
lama lama bangsa Indonesia kehilangan jati diri, lama lama kita kehilangan budaya kita sendiri, lama
lama entar kita ditimbun pasir juga bisa bisa

Juga baca: ARTI MAHAR DALAM PERNIKAHAN ISLAM

ARTI MAHAR DALAM PERNIKAHAN ISLAM

by ICU » Sat Jul 18, 2009 7:22 am

Terima kasih atas bang Dulilah:


adrianus-duladi- islam- itu-benar-t33118/page260.html#p502092

QS 4:20
Dan jika kamu ingin mengganti isterimu dengan isteri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada
seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya
barang sedikitpun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan
dengan (menanggung) dosa yang nyata ?

Penjelasan dari Tafsir Ibn Kathir (Juz 4 hal. 262):

20 / 22
Perhatika n yg digaris-bawahi warna merah diatas. Ayat diatas turun ketika Ibnu 'Abbas bertanya kpd
sang nabi ttg keinginannya mengambil perempuan lain dan berniat meminta maharnya yg dulu.

Seandainya pihak laki2 yg benar dan perempuan istrinya di pihak yg minggat atau berkhianatpun, tidak
mengurangi makna bahwa SUBYEKnya selalu laki2 dan OBYEKnya perempuan. Sang lelaki yg leluasa
berke hendak mencari pe rempuan lain dan oyeknya ada lah KEMALUAN perempuan dgn mengorba nka n
isterinya sendiri!
Apalagi kalau sang isteri tidak punya salah apapun (tidak mandul, tidak berkhianat, tidak minggat,
belum mati, whatever), si suami tetap DIBENARKAN mengambil perempuan lain asal tidak menarik
kembali maharnya.

Ayat ini sangat jelas menegakkan Nafsu syahwat laki2 dan menafikkan ikatan perkawinan antar 1 laki2
dan 1 perempuan sebagaimana manusia dulu pertama diciptakan.

Dan satu lagi, melalui ayat ini pula Ibn Kathir dgn lugas mendifinisikan bahwa MAHAR memang
dibayar untuk sebuah harga kemaluan perempuan! Sang nabi sendiri bersabda demikian.
Ayat ini lalu sangat berkaitan dgn ayat2 lanjutannya, yg berujung pada QS 4:24, dimana MAHAR
dijadikan kwitansi pembaya ran kemaluan pe rempuan dalam kawin Mu'tah dan tidak boleh
21 / 22
diminta ke mbali.

Meskipun terdapa t hadith yg suda h melarang nika h Mut'ah , namun reko nstruks i ttg MAHAR melalui
ayat2 diatas tidak dapat menyembunyikan maksud sebenarnya dari Sang Obyek, yakni KEMALUAN
perempuan!

Mari mulai sekarang kita pikirkan kembali arti dari suatu MAS KAWIN dalam hati kita masing2.

--- Selesai ---

22 / 22

Anda mungkin juga menyukai