Anda di halaman 1dari 13

t

n
e
c
i
e
i
l
l
n
p e
o
o
o
s m To t bl
a
A u
E t
c
i
t To n In Do
u
e e ,
l
d
F e tm ps d y
y d a a se ud
l
k Ad re el i St
e
e e e T f R om p
W at c O d u
e n an k a n r o
c
i io n is R G
Tw rop nte e R is: lel G
P a i u c ti t r a l D I N
M ed a Pa E A
R er m d , L R
D lin N A
B OUR
J

TENTANG JURNAL
JUDUL JURNAL
Twice weekly fluticasone propionate added to emollient maintenance
treatment to reduce risk of relapse in atopic dermatitis: randomised,
double blind, parallel group study
PENULIS
John Berth-Jones, Robert J Damstra, Stefan Golsch, John K Livden,
Oliver Van Hooteghem, Fulvio Allegra, Christine A Parker
NAMA JURNAL DAN TAHUN TERBIT
bmj.com 2003;326:1367

Terdapat di halaman 1

JUDUL DAN
ABSTRAK

LATAR BELAKANG
Halaman 1 - INTRODUCTION
Sampai saat ini belum ada rencana tatalaksana standar untuk terapi jangka
panjang dermatitis atopik sedang sampai berat. Tinjauan sistematis
konprehensif terbaru menemukan bahwa para dokter paling banyak
menggunakan salah satu dari dua pendekatan di bawah ini:
a. Penggunaan kortikosteroid poten topikal diikuti dengan preparat
berpotensi rendah setelah ada perbaikan
b. Penggunan kortikosteroid topikal jangka pendek yang diikuti dengan
regimen emollient

Perhatian tertuju pada penggunaan kortikosteroid berpotensi rendah dalam


jangka panjang, dan, meskipun terapi dengan emollient aman efikasinya
masih terbatas.

Di inggris, baik krim maupun salep fluticasone propionate diklasifikasikan


sebagai kortikosteroid topikal poten. Fluticasone propionate adalah
kortikosteriod terbaru dengan efek anti inflamasi yang tinggi dan potensi
efek samping yang rendah karena rendahnya absorbsi sistemik serta
metabolisme dan klirens yang cepat sehingga bisa digunakan sebagai
tatalaksana jangka panjang

TUJUAN
Halaman 1 INTRODUCTION

Percobaan ini bertujuan untuk


mengevaluasi lebih jauh penggunaan
fluticasone propionate tiap 2 kali
seminggu sebagai bagian dari regimen
perawatan emollient pada pasien
dengan dermatitis atopik sedang
sampai berat

BAHAN
Halaman 1 PATIENTS AND METHODS STUDY DESIGN
Desain penelitian adalah randomised, double blind, parallel
group study

SUBJEK PENELITIAN

Halaman 2 - PATIENTS AND METHODS - PATIENTS


Kelompok inklusi :

Pasien usia 12-56 tahun dengan dermatitis atopik rekuren sedang sampai berat
yang di rekrut selama menggalami flare

Kelompok eksklusi :

Mempunyai kondisi medis yang merupakan kontra indikasi kortikosteroid topikal

Kondisi dermatologikal yang pencegahannya dapat dinilai secara akurat

Pasien yang sedang menerima pengobatan yang mungkin dapat berpengaruh


pada outcome penelitian

INTERVENSI
KELOMPOK
PLASEBO/
KONTROL
Pasien hanya
menggunakan
emollient saja.
Penggunaan
emollient juga
dilakukan pada
kelompok
intervensi

KELOMPOK
INTERVENSI
Mendapatkan krim atau
salep fluticasone
propionate 1-2 kali
sehari selama 4
minggu. Pasien yang
mengalami remisi
masuk ke fase rumatan,
menggunakan formulasi
yang sama yang
dioleskan pada 2
malam suksesif tiap
minggu selama 16
minggu.

OUTCOME

BESAR
SAMPEL DAN
ALUR
PENELITIAN

Halaman 3
Besar sampel
adalah 268
orang. Bagan
alur pasien
terdapat pada
halaman 3
(terlampir)

METODE STATISTIK
Halaman 3 PATIENTS AND METHHODS - ANALYSYS

Peneliti menggunakan metode Kaplan-Meier


untuk memperkirakan distribusi banyaknya
kejadian relaps dermatitis atopic. Peneliti
juga menggunakan Cochran-Mantel-Haenrzel

OUTCOME DAN ESTIMASI


Halaman 4 pada Figure 2 dan Figure 3 (terlampir)

INTERPRETASI
Halaman 5 - DISCUSSION

Pemberian flutikason propionate efektif terhadap


penurunan risiko kekambuhan dermatitis atopic.

Bentuk krim lebih efektif dibandingkan bentuk salep.


Halaman 5:

Pemberian flutikason propionate efektif terhadap


penurunan risiko kekambuhan dermatitis atopic.

Bentuk krim lebih efektif dibandingkan bentuk salep.

GENERALIZIBILITY
Halaman 5 - DISCUSSION

Regimen ini tampaknya dapat ditoleransi dengan baik dan


dapat membuat periode remisi lebih lama sehingga dapat
dijadikan terapi intensif. Tapi belum tentu bisa diaplikasikan
pada jenis steroid lainnya.

OVERALL EVIDENCE
Halaman 5 - DISCUSSION
Sebelum penelitian ini dilakukan sudah
ada bukti kecil tentang prakting
tatalaksana jangka panjang pada
dermatitis atopic