Anda di halaman 1dari 10

Laporan Pendahuluan Praktik Keperawatan

Pre, Intra, dan Post Operatif Tindakan Transurethral Resection Prostate (TURP)
Annisa Dwi M.106759454
I. Pre-Operatif
Pengkajian Pemeriksaan fisik, psikososial (untuk menentukan kemampuan koping), dan
pemeriksaan laboratorium.
Pengkajian dasar pre operatif dilakukan untuk:
a.
b.
c.
d.

Menentukan data dasar


Masalah pengobatan yang tersembunyi
Potensial komplikasi berhubungan dengan anestesi
Potensial komplikasi post operasi

Hal penting dalam riwayat keperawatan pre operatif:


a. Umur
b. Alergi terhadap obat, makanan
c. Pengalaman pembedahan
d. Pengalaman anestesi
e. Riwayat pemakaian tembakau, alcohol, obat-obatan
f. Lingkungan
g. Kemampuan self care
h. Support system
Pemeriksaan Fisik

Fokus pada riwayat dan sistem tubuh yang mempengaruhi prosedur

pembedahan.
-

Sistem kardiovaskuler Untuk menentukan kekuatan jantung dan kemampuan untuk


mentoleransi pembedahan dan anestesi. Perubahan jantung menyebabkan 39% kematian

perioperatif.
Sistem pernapasan Lansia, perokok, PPOM resiko atelektasis, kolaps jaringan paru
Sistem renal Abnormal fungsi renal menurunkan rata ekskresi obat dan anestesi.
Sistem neuorologi Kemampuan ambulasi
Sistem muskulosceletal Deformitas mempengaruhi posisi intra dan post operasi. Artritis

mempengaruhi nyeri post operasi karena imobilisasi


Status nutrisi Malnutrisi & obesitas berisiko tinggi pembedahan

II. Intra-Operatif
Tim pembedahan terdiri dari:
1. Ahli bedah

Tim pembedahan dipimpin oleh ahli bedah senior atau ahli bedah yang sudah melakukan operasi.
2. Asisten pembedahan (1 orang atau lebih): asisten bius dokter, residen, atau perawat, di bawah
petunjuk ahli bedah. Asisten memegang retractor dan suction untuk melihat letak operasi.
3. Anaesthesologist atau perawat anaesthesi
Perawat anesthesi memberikan obat-obat anesthesia dan obat-obat lain untuk mempertahankan
status fisik klien selama pembedahan.
4. Circulating nurse
Peran vital sebelum, selama dan sesudah pembedahan.
Tugas: set up ruangan operasi, menjaga kebutuhan alat, check up keamanan dan fungsi semua
peralatan sebelum pembedahan, posisi klien dan kebersihan daerah operasi sebelum drapping,
memenuhi kebutuhan klien, memberi dukungan mental, orientasi klien.
Selama pembedahan: mengkoordinasikan aktivitas, mengimplementasikan NCP, membantu
anesthetic, mendokumentasikan secara lengkap drain, kateter, dll.
5. Surgical technologist atau nurse scrub; bertanggung jawab menyiapkan dan mengendalikan
peralatan steril dan instrumen, kepada ahli bedah/asisten. Pengetahuan anatomi fisiologi dan prosedur
pembedahan memudahkan antisipasi instrumen apa yang dibutuhkan.
Anastesi
Anasthesia menyebabkan keadaan kehilangan rasa secara partial atau total, dengan atau tanpa disertai
kehilangan kesadaran. Tujuan: memblok transmisi impuls syaraf, menekan refleks, meningkatkan
relaksasi otot. Pemilihan anesthesia oleh anesthesiologist berdasarkan konsultasi dengan ahli bedah
dan faktor klien.
Tipe Anastesi:
Perawat perlu mengenal ciri farmakologic terhadap obat anesthesia yang digunakan dan efek
terhadap klien selama dan sesudah pembedahan.
1. Anasthesia Umum
Adalah keadaan kehilangan kesadaran yang reversible karena inhibisi impulse saraf otak.
Misal : bedah kepala, leher. Klien yang tidak kooperatif.
1) Stadium Anesthesia
- Stadium I: Relaksasi. Klien sadar dan kehilangan kesadaran secara bertahap.
- Stadium II: Excitement. Mulai kehilangan kesadaran secara total sampai dengan pernafasan yang
irreguler dan pergerakan anggota badan tidak teratur.
- Stadium III: Ansethesi pembedahan. Ditandai dengan relaksasi rahang, respirasi teratur, penurunan
pendengaran dan sensasi nyeri.
- Stadium IV: Bahaya. Apnoe, cardiapolmunarry arrest, dan kematian.
2) Metode Pemberian:

a. Inhalasi. Contoh obat anastesi: Gas Nitrous Axida (N20), folatile, halotan, ethrane, penthrane,
forane
b. Injeksi IV. Contoh: barbiturat, narkotik, inovar, ketamine, neuromusculer brochler,
III. Post-Operatif
Stadium ketiga dan terakhir dari preoperasi adalah bila klien masuk ruang pulih sadar, ruang PAR,
atau PACU. Selama periode post operative, klien dirawat oleh perawat di ruang PAR (Post Anesthesia
Recovary) dan unit setelah di pindah dari ruang pemulihan. Waktu yang diperlukan tergantung umur
dan kesehatan fisik, type pembedahan, anesthesia dan komplikasi post operasi. Perawat sirkulasi,
anesthesiologist/perawat anesthesia dan ahli bedah mengantar klien ke area recovery. Ahli bedah atau
anesthesiologist mereview catatan klien dengan perawat PACU dan menjelaskan type dan luasnya
pembedahan, type anesthesia, kondisi patologis, darah, cairan intra vena, pemberian obat, perkiraan
kehilangan darah dan beberapa trauma intubasi.
Pengkajian
Setelah menerima laporan dari perawat sirkulasi, dan pengkajian klien, perawat mereview catatan
klien yang berhubungan dengan riwayat klien, status fisik dan emosi, sebelum pembedahan dan
alergi.
-

Sistem pernafasan. Ketika klien dimasukan ke PACU, Perawat segera mengkaji: potensi jalan
nafas, perubahan pernafasan (RR, pola, kedalaman), auskultasi paru, inspeksi pergerakan

dinding dada, penggunaan alat bantu pernafasan.


Sistem kardiovaskular. Mengkaji nadi, suara jantung (tiap 15 menit sebanyak 4x, 30 menit
sebanyak 4x, 2 jam sebanyak 4x, dan setiap 4 jam selama 2 hari jika kondisi stabil).
Penurunan tekanan darah, nadi, dan suara jantung menunjukkan depresi miokard, shock,
perdarahan, atau overdistensi. Perawat juga mengkaji sirkulasi perifer (denyut, warna,

temperatur, dan ukuran ekstremitas).


Keseimbangan cairan dan elektrolit. Inspeksi membran mukosa (warna, kelembaban), turgor
kulit. Ukur balans cairan (NGT, kateter urin, drainase luka). Kaji intake atau output. Monitor

cairan iv dan tekanan darah


Sistem persyarafan. Kaji fungsi serebral dan tingkat kesadaran. Kaji respon pupil, kekuatan

otot, koordinasi.
Sistem perkemihan. Kaji warna, jumlah urine, fungsi perkemihan.
Sistem gastrointestinal. Kaji mual muntah. Auskultasi bising usus, distensi abdomen, flatus.
Sistem integumen. Kaji proses penyembuhan luka. Drain dan balutan (15 menit pada saat di

ruang PAR). Kaji jumlah, warna, konsistensi, bau cairan drain, dan tanggal observasi.
Nyeri. Kaji tanda fisik: peningkatan teanan darah, gelisah, menangis, kualitas nyeri sebelum

dan setelah pemberian analgesik.


Laboratorium. Dilakukan untuk memonitor komplikasi.

Tindakan TURP
TURP (Transurethral Resection Prostate) adalah

tindakan operasi yang dilakukan dengan

memasukkan alat khusus ke uretra yang kemudian mereseksi (mengerok) prostat yang membesar
hingga tidak ada sumbatan pada uretra. Jaringan yang telah direseksi akan dikeluarkan lewat drain
kateter. Dalam operasi ini tidak ada insisi dan masa penyembuhan selama 8-12 minggu (QHC, 2009).
Dalam perspektif lain, Transurethral Resection of Prostate (TURP) adalah operasi yang dilakukan
dengan tujuan menghilangkan obstruksi di area central prostat dengan menggunakan panas diatermi
dan insersi kateter sementara menuju kandung kemih untuk irigasi sisa jaringan yang tereseksi (CUP,
2011). Jadi TURP adalah metode operasi prostat (prostatektomi) non insisi dengan memasukkan alat
melalui utetra yang berfungsi untuk mengerok bagian prostat sampai tidak terjadi sumbatan di uretra.
Diindikasikan bahwa seseorang mengalami BPH adalah adanya gejala-gejala berikut di bawah ini:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

meningkatnya frekuensi buang air kecil


kesulitan memulai buang air kecil
aliran urin pelan
berhenti sebentar di tengah aliran
dribbling setelah urination
tiba-tiba ada keinginan kuat untuk BAK
perasaan tidak komplit (ada sisa urin di bladder) setelah BAK
nyeri atau burning selama BAK

Pemeriksaan fisik dan beberapa investigation perlu dilakukan. diantaranya:


-

DRE (digital rectal examination), pemeriksaan ini direkomendasaikan dilakukan setiap tahun

pada laki-laki dengan usia > 50 tahun.


PSA (prostat spesific antigen) test. PSA adalah sebuah protein yang di hasilkan oleh cell
prostat. PSA diketahui meningkat pada cancer prostat, dan ada kecenderungan meningkat

pada usia tua, sehingga kecenderungan pula pada usia tua untuk munculnya kelainan ini.
Rectal ultrasound dan prostat biopsi. Jika ada kecurigaan adanya tumor pada prostat, maka
dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan ini. pemeriksaan ini dilakukan dengan
memasukan melalui rectum direct wave sound pada prostat, dimana gambaran apakah ada
tumor atau tidak dapat dilihat pada sebuah screen. Dokter juga dapat menggunakan ultrasoun

image sebagai guide dalam biopsi.


Urin flow study (Uroflowmetre) adalah sebuah pemeriksaan untuk mengukur seberapa cepat

aliran urin.
Cystoscopy. Pemeriksaan ini dilakukan dengan memasukan sebuah tube melalui urethra, alat
ini dilengkapi dengan lensa, light sistem, sehingga memudahkan dokter dalam pemeriksaan.

Persiapan pasien untuk TURP:


a. Bila seorang perokok maka harus berhenti merokok beberapa minggu sebelum operasi, untuk
menghindari gangguan proses penyembuhan

b. Bila menggunakan obat seperti aspirin dan ibuprofen maka harus berhenti paling tidak 2
minggu sebelu operasi; hal berhubungan dengan bahawa obat tersebut mempengaruhi
pembekuan darah
c. Harus diinformasikan tentang kondisi kesehatan; apakan punya medikal atau surgucal history,
seperti hipertensi, diabetes, anemia, pernah mengalami operasi apa sebelumnya..,
d. Harus di informasikan tentang obat dan suplemen yang di konsumsi; baik yang ada resepnya
dari dokter atau non-resep
e. Pemeriksaan darah routin (CBC, coagulation profile, urinalisis, Xray, CT abdomen)
f. Puasa paling tidak 8 jam sebelum operasi dilakukan.
Persiapan alat TURP
-

Cold light fountain standard (lampu endoskopi)

Kabel cahaya fiber optic

Pipa air dengan luerlock

Alat koagulasi dan reseksi listrik

Working element yang terdiri dari: Sheath (no.24 atau 30F atau 27F, Teleskope: Optik 0
atau 30) dan Obturator (no. 24F atau 27F Cutting loop: No. 24F atau 27F)

Urethral Bougie ukuran 25 F,27 F, dan 29 F

Desinfeksi klem

Sarung tangan steril 2 pasang

Linen set terdiri dari : penutup meja instrumen, sarung kaki 2 buah, doek besar berlubang,
baju dan skort operasi

Teknik operasi
1. Pasang foto-foto pada light box
2. Setelah dilakukan anestesi regional penderita diletakkan dalam posisi lithotomi
3. Untuk menghindari komplikasi orchitis dilakukan Vasektomi tanpa Pisau (VTP)

4. Dilakukan desinfeksi dengan povidone jodine didaerah penis scrotum dan sebagian dari kedua
paha dan perut sebatas umbilicus
5. Persempit lapangan operasi dengan memasang sarung kaki dan doek panjang berlubang untuk
bagian supra pubis ke kranial.
6. Dilatasi uretra dengan bougie roser 25 F sampai 29 F
7. Sheath 24F / 27F dengan obturator dimasukkan lewat uretra sampai masuk buli-buli.
8. Obturator dilepas, diganti optik 30 dan cutting loop sesuai dengan ukuran sheatnya.
9. Evaluasi buli-buli apakah ada tumor, batu, trabekulasi dan divertikel buli
10. Working element ditarik keluar untuk mengevaluasi prostat (panjangnya prostat yang
menutup uretra, leher buli dan verumontanum )
11. Selanjutnya dilakukan reseksi prostat sambil merawat perdarahan
12. Sebaiknya adenoma prostat dapat direseksi semuanya, waktu reseksi paling lama 60 menit
(bila menggunakan irigan aquades) dan waktu bisa lebih lama bila menggunakan irigan glisin.
Hal ini untuk menghindari terjadinya Sindroma TUR.
13. Bila terjadi pembukaan sinus, operasi dihentikan, untuk menghindari sindroma TUR
14. Chips prostat dikeluarkan dengan menggunakan ellik evakuator sampai bersih, selanjutnya
dilakukan perawatan perdarahan.
15. Setelah selesai, dipasang three way kateter 24F dan dipasang Spoel NaCl 0,9% atau Aquades.

Setelah TURP:
-

Kateter ditraksi selama 6 jam, dan dilepas 3-5 hari.

Flowmetri dilakukan setelah lepas kateter dan penderita dapat miksi spontan.

Penderita dapat pulang sambil menunggu hasil Patologi Anatominya

Edukasi kesehatan yang dapat disampaikan pada pasien TURP:


-

Anjuran untuk melakukan early mobilisation setelah operasi

Nyeri setelah operasi

Keberadaaan cateter setelah operasi

Melakukan aktivitas sehari-hari secara bertahap dan kembali keaktivitas normal setelah 4-6
minggu

Menghindari mengangakat benda berat dan aktivitas sexual setelah 3-4 minggu

Menggunkan obat sesuai dengan resep dari dokter

Follow up

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Pre-Operatif
1. Defisit pengetahuan berhubungan dengan prosedur operasi.
KH: setelah diberikan penjelasan selama 2 x pasien mengerti proses penyakitnya dan program
perawatan serta terapi yg diberikan dengan indikator: pasien mampu menjelaskan kembali tentang
penyakitnya, pasien mampu mengenal kebutuhan perawatan dan pengobatan
Intervensi:
1) Kaji pengetahuan klien tentang penyakitnya mempermudah dalam memberikan penjelasan
pada klien
2) Jelaskan tentang proses penyakit (tanda dan gejala), identifikasi kemungkinan penyebab
meningkatan pengetahuan dan mengurangi cemas
3) Jelaskan kondisi tentang klien
4) Jelaskan tentang program pengobatan dan alternatif pengobantan mencegah keparahan
penyakit
5) Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin digunakan untuk mencegah komplikasi
memberi gambaran tentang pilihan terapi yang bisa digunakan
6) Diskusikan tentang terapi dan pilihannya
7) Eksplorasi kemungkinan sumber yang bisa digunakan/ mendukung
8) Instruksikan kapan harus ke pelayanan
9) Tanyakan kembali pengetahuan klien tentang penyakit, prosedur operasi
2. Ansietas berhubungan dengan tindakan operasi

KH: setelah dilakukan perawatan selama 2x24 jam cemas pasien hilang atau berkurang dengan
indikator: pasien mampu mengungkapkan cara mengatasi cemas, mampu menggunakan koping,
pasien dapat tidur.
Intervensi:
1) BHSP mempermudah intervensi
2) Libatkan keluarga mengurangi kecemasan
3) Jelaskan semua prosedur membantu pasien dalam meningkatkan pengetahuan tentang
status kesehatan dan meningkatkan kontrol kecemasan
4) Hargai pengetahuan pasien tentang penyakitnya
5) Bantu pasien untuk mengefektifkan sumber support dukungan akan memberikan
keyakinan terhadap pernyataan harapan untuk sembuh/masa depan
6) Ajarkan teknik relaksasi mengurangi kecemasan
Intra-Operatif
1. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif
KH: Selama dilakukan tindakan operasi tidak terjadi transmisi agent infeksi dengan indikator: alat dan
bahan yang digunakan tidak terkontaminasi
Intervensi:
1) Gunakan pakaian khusus ruang operasi mencegah kontaminasi kuman terhadap daerah
operasi
2) Pertahankan prinsip aseptic dan antiseptic mencegah kontaminasi kuman terhadap daerah
operasi
Post-Operatif
1. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan perfusi ventilasi
KH: Mendemonstrasikan peningkatan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat, memelihara kebersihan
paru paru dan bebas dari tanda tanda distress pernafasan, mendemonstrasikan batuk efektif dan suara
nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas
dengan mudah, tidak ada pursed lips), tanda tanda vital dalam rentang normal.
Intervensi:
1) Airway management
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o

Buka jalan nafas, guanakan teknik chin lift atau jaw thrust bila perlu
Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan
Pasang mayo bila perlu
Lakukan fisioterapi dada jika perlu
Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
Lakukan suction pada mayo
Berikan bronkodilator bial perlu
Barikan pelembab udara

o
o

Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.


Monitor respirasi dan status O2

2) Respiratory management
o
o

Monitor rata rata, kedalaman, irama dan usaha respirasi


Catat pergerakan dada,amati kesimetrisan, penggunaan otot tambahan, retraksi otot

o
o
o
o
o
o

supraclavicular dan intercostals


Monitor suara nafas, seperti dengkur
Monitor pola nafas: bradipena, takipenia, kussmaul, hiperventilasi, cheyne stokes, biot
Catat lokasi trakea
Monitor kelelahan otot diagfragma ( gerakan paradoksis )
Auskultasi suara nafas, catat area penurunan / tidak adanya ventilasi dan suara tambahan
Tentukan kebutuhan suction dengan mengauskultasi crakles dan ronkhi pada jalan napas

utama
Auskultasi suara paru setelah tindakan untuk mengetahui hasilnya

2. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri (biologi, kimia, fisik, psikologis)
KH: Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi
untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan), melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan
manajemen nyeri, mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri), menyatakan
rasa nyaman setelah nyeri berkurang, tanda vital dalam rentang normal.
Intervensi:
1) Pain management
o

Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi,

o
o
o
o
o

frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi


Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien
Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefektifan kontrol nyeri masa

o
o

lampau
Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan

o
o
o
o
o
o
o
o
o
o

kebisingan
Kurangi faktor presipitasi nyeri
Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan inter personal)
Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
Ajarkan tentang teknik non farmakologi
Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
Tingkatkan istirahat
Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil
Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri
Kolaborasi pemberian analgesik

Referensi
De Laune, S.C., & Ladner, P.K.. (2011). Fundamental of Nursing: Standard & Practice, 4 th Ed. New
York: Delmar
Doenges M.E. (1989). Nursing Care Plan, Guidlines for Planning Patient Care (2 nd ed). Philadelpia:
F.A. Davis Company.
Long, B. C. & Phipps, W. J. (1985). Essential of Medical Surgical Nursing: A Nursing Process
Approach. St. Louis: Cv. Mosby Company.
Judith, M. (2012). Buku Saku Diagnosis Keperawatan: Diagnosis NANDA, Intervensi NIC, Kriteria
Hasil NOC. Jakarta: EGC.
NANDA International. (2012). Nursing Diagnoses: Definitions and classification 2010-2012. (Terj.
Made Sumarwati et al). Jakarta: EGC.

Anda mungkin juga menyukai