Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

DEMAM TYPHOID

Oleh :
dr. Lanasari
NIP.196102151989032004

Puskesmas Cangkuang
Kabupaten Bandung
2014

BAB I
PENDAHULUAN
Demam tifoid adalah suatu penyakit sistemik akut yang disebabkan oleh
Salmonella enterica serotype typhi, dapat juga disebabkan oleh Salmonella enterica
serotype paratyphi A, B, atau C (demam paratifoid). Demam tifoid ditandai antara lain
dengan demam tinggi yang terus menerus bisa selama 3-4 minggu, toksemia, denyut
nadi yang relatif lambat, kadang gangguan kesadaran seperti mengigau, perut kembung,
splenomegali dan lekopeni.
Di banyak negara berkembang, termasuk di Indonesia, demam tifoid masih tetap
merupakan masalah kesehatan masyarakat, berbagai upaya yang dilakukan untuk
memberantas penyakit ini tampaknya belum memuaskan. Sebaliknya di negara maju
seperti Amerika Serikat, Eropa dan Jepang misalnya, seiring dengan perbaikan
lingkungan, pengelolaan sampah dan limbah yang memadai dan penyediaan air bersih
yang cukup, mampu menurunkan insidensi penyakit ini secara dramatis. Di abad ke 19
demam tifoid masih merupakan penyebab kesakitan dan kematian utama di Amerika,
namun sekarang kasusnya sudah sangat berkurang.
Tingginya jumlah penderita demam tifoid tentu menjadi beban ekonomi bagi
keluraga dan masyarakat. Besarnya beban ekonomi tersebut sulit dihitung dengan pasti
mengingat angka kejadian demam tifoid secara tepat tak dapat diperoleh.
Insidensi demam tifoid secara tepat tidaklah diketahui mengingat tampilan
kliniknya yang bervariasi sehingga bila tanpa konfirmasi laboratorium, terbaurkan
dengan penyakit infeksi lainnya. Kultur darah sebagai pemeriksaan untuk mencari
kuman penyebab tidak selalu tersedia di setiap daerah dan setiap fasilitas kesehatan.
Di negara maju kasus demam tifoid terjadi secara sporadik dan sering juga berupa
kasus impor atau bila ditelusuri ternyata ada riwayat kontak dengan karier kronik. Di
negara berkembang kasus ini endemik. Diperkirakan sampai dengan 90 - 95 %
penderita dikelola sebagai penderita rawat jalan. Jadi data penderita yang dirawat di
rumahsakit dapat lebih rendah 15 25 kali dari keadaan yang sebenarnya.

Diseluruh dunia diperkirakan antara 16 16, 6 juta kasus baru demam tifoid
ditemukan dan 600.000 diantaranya meninggal dunia. Di Asia diperkirakan sebanyak 13
juta kasus setiap tahunnya.
Suatu penelitian epidemiologi di masyarakat Vietnam khususnya di delta Sungai
Mekong, diperoleh angka insidensi 198 per 100.000 penduduk7 dan di Delhi India
sebesar 980 per 100.000 penduduk. Suatu laporan di Indonesia diperoleh sekitar 310
800 per 100.000 sehingga setiap tahun didapatkan antara 620.000 1.600.000 kasus. Di
Jawa Barat menurut laporan tahun 2000 ditemukan 38.668 kasus baru yang terdiri atas
18.949 kasus rawat jalan dan 19.719 kasus rawat inap.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI
Tifoid Abdominalis adalah penyakit infeksi sistemik oleh Salmonella typhi yang
semula menyerang usus halus & klinis antara lain ditandai demam remitten,
splenomegali, limfadenopati intestinal & roseola.
KRITERIA DIAGNOSIS

Demam naik secara bertangga lalu menentap selama beberapa hari, demam
terutama pada sore/malam hari.

Sulit buang air besar atau diare, sakit kepala.

Kesadaran berkabut, bradikardia relatif, lidah kotor, nyeri abdomen, hepatomegali,


atau splenomegali.

Kriteria Zulkarnaen:
o

Febris > 7 hari, naik perlahan, seperti anak tangga bisa remitten atau kontinua,
disertai delirium/apatis, gangguan defekasi.

Terdapat 2 atau lebih :

Lekopeni.

Malaria -.

Kelainan urine -.

Terdapat 2 atau lebih :

Penurunan kesadaran.

Rangsang meningeal -.

Perdarahan usus +.

Bradikardi relatif.

Splenomegali +.

Dengan pemberian chloramfenicol 4 x 500mg, suhu akan lisis dalam 3 - 5


hari.

Temperatur turun, nadi naik : Toten creutz.

Diagnosa ditegakkan dari :


o

Riwayat dan gejala klinik sesuai untuk typhus (5 gejala kardinal dianggap
sebagai positif, 3 gejala kardinal curiga).

5 cardinal sign (Manson-Bahr (1985))


1. Demam
2. Ratio frekuensi nadi = suhu yang rendah (bradikardi relatif).
3. Toxemia yang karakteristik.
4. Splenomegali
5. Rose spot

Sign lainnya :
1. Distensi abdomen.
2. Pea soup stool.

3. Perdarahan intestinal
o

Biakkan Salmonella typhi +

Tes widal meningkat atau peninggian 4x pada 2 kali pemeriksaan.

Gall kultur+, Media SS agar.

PATOGENESIS
Benda tercemar kuman (tinja, muntah, keringat) => sistem pencernaan =>
lambung, kuman akan berkurang oleh karena HCl => pada usus kecil, melakukan
penetrasi & berbiak di kelenjar limfoid mesenterik => masuk ductus thoracicus
=>masuk ke peredaran darah (bakteriemi I) => ditangkap oleh RES (sampai disini
disebebut silent period/masa tunas) => kemudian di RES akan bermultiplikasi
intraseluler => masuk ke dalam peredaran darah (bakteriemi II) => beredar di seluruh
tubuh => masuk ke dalam empedu & usus, di usus akan membuat luka di plaque payeri.
Bila Salmonella typhi menetap di empedu/limpa dapat terjadi relaps/carrier.
Terjadinya febris diduga disebabkan oleh endotoksin (suatu lipopolisakarida
penyebab leukopeni) yang bersama-sama Salmonella typhi merangsang leukosit di
jaringan. Inflamasi merangsang pengeluaran zat pirogen.
Pada fase bakteriemi (minggu ke I, 7 hari pertama) Salmonella ada di hati, limpa,
ginjal, sumsum tulang, kantung empedu => bermanifestasi di usus (plaque payeri)
dimana akan terjadi :

Minggu I => membuat luka hiperemis pada plaque payeri.

Minggu II => terjadi necrosis pada plaque payeri.

Minggu III => terbentuk tukak/ulcus yang ukurannya bervariasi dimana dapat
terjadi perdarahan dan perforasi.

Minggu IV => dapat sembuh dengan sendirinya.

GEJALA KLINIS
Masa inkubasi penyakit ini 10 -14 hari (mungkin kurang dari 7 hari atau lebih dari
21 hari). Keluhan utama yang mencolok berupa panas yang makin tinggi terutama pada
malam hari dan pagi hari, bila panas sering disertai delirium, demam dapat bersifat
remitten dapat pula kontinua. Suhu meningkat dan bertahap seperti tangga, mencapai
puncaknya pada hari ke 5, dapat mencapai 39o - 40oC. Gejala lainnya berupa lemah
badan, nyeri kepala di frontal, mual/anoreksia, gangguan defekasi, yang dibagi pada
minggu I berupa obstipasi dan diare pada minggu II (peas soup diare), hal ini terjadi
karena peradangan kataral dari usus, yang sering disertai dengan perdarahan dari selaput
lendir usus, terutama ileum. Dapat juga timbul gejala seperti insomnia, muntah, nyeri
perut, myalgi/atralgi, batuk, dan apatis/bingung, diakibatkan toksik yang dapat menjadi
delirium dan berlanjut menjadi meningismus (akhir minggu ke I).
Pada pemerikasaan dapat ditemukan nadi bradicardi relatif (normalnya frekuensi
nadi akan meningkat sebanyak 18x/menit pada setiap peningkatan suhu tubuh sebanyak
1o C, pada demam typoid denyut nadi akan lebih lambat dari perhitungan yang
seharusnya), hal ini disebabkan oleh karena efek endotoksin pada miokard. Lidah,
typhoid tongue, dengan warna lidah putih kotor kecoklatan dengan ujung dan tepi
hiperemis dan terdapat tremor. Thoraks, paru-paru dapat terjadi bronchitis/pneumonia,
pada umumnya bersifat tidak produktif, terjadi pada minggu ke II atau minggu ke III,
yang disebabkan oleh pneumococcus atau yang lainnya. Abdomen, agak cembung dan
meteorismus. Splenomegali pada 70% dari kasus, dengan perabaan keras, mulai teraba
pada akhir minggu ke I sampai minggu ke III, akan tetapi dapat juga lunak dan nyeri
tekan positif. Hepatomegali pada 25% dari kasus, terjadi pada minggu ke II sampai
dengan masa konvalesens. Kantung empedu, merupakan sumber kuman yang dapat
tetap utuh, dapat terjadi kholesistitis akut terutama pada wanita tua dan gemuk. Karier
sering terjadi pada penderita dengan kholesistitis kronik dan batu empedu. Meteorismus,
kita harus hati-hati untuk tanda perforasi/adanya perdarahan pada usus.
Perubahan terjadi pada bagian distal dari Ileum, Plaque payeri menunjukkan :

Hiperplasti pada minggu ke I.

Nekrose pada minggu ke II.

Ulcerasi pada minggu ke III.

Penyembuhan pada minggu ke IV.


Kulit, Rose spot, adalah suatu rash yang khas untuk tipoid, terjadi pada akhir

minggu ke I sampai minggu ke III terutama pada dinding dada dan perut. Hal ini terjadi
karena infiltrasi oleh sel monosit pada ujung-ujung kapiler yang disebabkan oleh
infiltrasi kuman Salmonella typhi pada kulit, yang menyebabkan terjadinya proses
radang, sehingga terjadi perembesan dari sel eritrosit, karena permeabilitas kapiler
meningkat.
Ginjal, karena 25% - 30% dari penderita demam tifoid mengeksresikan
Salmonella typhi dalam air kemih pada stadium akut dari penyakit, maka dianggap
bahwa ginjal sering terjangkit. Tetapi kelainan ginjal yang menetap jarang terjadi,
seperti juga jarangnya karier air kemih.
Sistim syaraf pusat, dapat timbul encephalopathy dengan ring haemorrhagic,
trombus kapiler, demyelinasi perivaskuler, transverse myelitis dan Guillain Barre
syndrome. Meningitis purulenta telah dilaporkan. Penurunan pendengaran juga sering
ditemukan.

Lesi-lesi fokal, abses tifoid dapat terjadi dimana-mana:


o Osteomyelitis.
o Abses otak.
o Abses limfa.

o Eksudat pada kasus-kasus ini merupakan suatu PMN dan bukan mononuklear.
Status typhosa :
o Toxic
o Mengantuk
o Apatis
o Delirium
o Incontinentia urine et alvi
o Tremor halus: tangan dan lidah.
o Gejala psikose sampai koma.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan darah rutin.
o

Leukopeni (47% dari kasus) 2000 - 3000 sampai dengan 5000/mm3. Bila ada
leukositosis (4% dari kasus) hati-hati ada penyulit, perforasi atau infeksi
sekunder.

Limfositosis relatif (pasien tetap leukopeni tetapi persentasi limfosit lebih


banyak dari normal).

Aneosinofilia.

2. Pemeriksaan bakteriologik
o

Biakan Gall, untuk diagnosa pasti! Biakan dapat diambil dari :

Sumsum tulang (90% ketelitian) pada minggu ke I dan minggu ke II.

Darah pada minggu ke I dan minggu ke II (70% - 90%) minggu ke II


sampai minggu ke III (30% - 40%).

Biakan pada agar SS bahan diambil dari :

Tinja pada minggu ke II sampai minggu ke III.

Urine pada minggu ke III sampai minggu ke IV.

Jangan menggunakan Gall culture, Rose spot boleh di Gall kultur.

Bila Gall positif diagnosa pasti dari tiphoid abdominalis, tetapi bila negatif
belum tentu bebas tiphoid abdominalis tergantung dari teknik pengambilan
bahan, waktu perjalanan penyakit, post vaksinasi.

3. Pemeriksaan serologik
o

Test aglutinasi mikroskopik cepat, nilai positif bila terjadi penggumpalan,


pemeriksaan ini berguna untuk identifiksai pendahuluan pada biakan kuman.

Test Widal (Aglutinasi pengenceran pada tabung)

Yang diukur adalah aglutinasi antigen H (flagela, suatu protein yang


spesies spesifik), dan antigen O (somatik, suatu lipopolisakarida
(endotoksin) group spesifik)

Interpretasi hasil pemeriksaan:

Positif bila titer O meningkat lebih dari 1/160 atau


peningkatan

>

4x

pada

pengambilan

serum

yang

berangkaian.

Nilai O 1/80 menunjukkan suggestif tifoid. sedangkan untuk


titer H nilai positif adalah > 1/800 semua hasil tersebut

dengan syarat tidak menerima vaksinasi typhoid dalam 6


bulan terakhir.

Peninggian titer H > 1/160 menunjukkan bahwa penderita


pernah divaksinasi atau terinfeksi Salmonella typhi.

Titer Vi (antigen kapsul) meninggi pada pembawa kuman


atau karier.

DIFERENSIAL DIAGNOSIS
1. Paratiphoid.
2. Malaria.
3. TBC millier.
4. Influenza.
5. Dengue.
6. Rheumatic fever.
7. Sistemic lupus erimatosus.
8. Hepatitis.
KOMPLIKASI
1. Relaps, febris timbul kembali setelah 10 hari afebris atau setelah 3 minggu
diberikan terapi kloramfenikol. Relaps kronik jarang terjadi tetapi dapat ditemukan
setelah beberapa bulan, terutama dengan penderita yang mendapat terapi tidak
adekuat (Manson-Bahr, 1985), limfa yang tetap teraba adalah gejala penting dari
impending relaps.
o

Insidensi 10% - 20%.

Patogenesa :

Penderita diserang oleh banyak strain tetapi hanya satu strain yang
bermanifestasi, sedang strain yang lainnya bersembunyi, waktu relaps
disebabkan oleh kuman yang tersembunyi.

Chloramfenikol

menghambat

atau

memperlambat

pembentukkan

antibodi, sehingga memudahkan relaps tapi justru relaps pada titer


antibodi yang tinggi hal ini dibuktikan dengan titer widal, yaitu penularan
bukan oleh karena kekebalan.

Salmonella typhi istirahat dalam sel dan baru aktif pada saat sel tubuh
tersebut mati.

2. Perdarahan usus, biasanya timbul pada hari ke 14 - ke 21 dari perjalanan penyakit.


Dapat berupa perdarahan yang minimal sampai perdarahan tersembunyi yang
masif. Yang ditandai dengan :
o

Penurunan suhu mendadak.

Tanda-tanda shock.

Tensi turun mendadak sampai dibawah normal.

Nadi cepat dan kecil.

Sianosis.

Tachypnoe.

Kulit dingin dan lembab.

Perdarahan per ani yang tidak selalu tampak.

3. Perforasi usus, biasanya muncul pada akhir minggu ke III, umumnya terjadi di
daerah sekitar 60cm dari bagian akhir ileum. Dengan gejala yang kita dapatkan
adalah:
o

KU buruk.

Reaksi tubuh dan mental menjadi lambat.

Tiba-tiba menjadi gelisah dan mengeluh nyeri perut.

Muntah-muntah.

Suhu tiba-tiba turun.

Pernafasan cepat dan hanya menggunakan otot-otot intercostal.

Dinding perut tegang, defence musculare, terutama di perut sebelah kanan


(pada lokasi ileum).

Pekak hati menghilang.

Perkusi menjadi tympani.

Bising usus menurun sampai hilang.

Foto R BNO : tampak udara bebas dalam rongga perut terutama dibawah
diafragma. Preperitoneal fat hilang karena terdapat oedem dan pengumpulan
exudat.

4. Miokarditis, keluhan klinis terjadi pada minggu ke II sampai minggu ke III, berupa
:
o

Takikardia.

Nadi kecil dan lemah.

Bunyi jantung redup.

Gallop rhythm.

Tekanan darah turun atau peningkatan tekanan vena tanpa ada gejala
dekompresi lain.

5. Cholecystitis
6. Thypoid toxic, secara klinis terjadi perubahan mental yang terdiri dari disorientasi,
kebingungan, delirium > 5 hari, yang dapat diikuti dengan/tanpa munculnya gejala
neurologis : afasia, ataxia, perubahan refleks, konvulsi dan lain-lainnya. Thypoid
toxic dapat dibagi menjadi :
o

Meningocerebral

Demam > 6 hari dan menjadi delirium, setengah sadar atau tidak sadar.

Selalu ada kaku kuduk.

Tanda kernig dapat positif atau negatif.

Refleks tendo menjadi meninggi terutama APR.

Liquor cerebro spinal normal.

Prognosa: dapat sembuh sempurna!

Encephalitis diffus

Demam tinggi diikuti penurunan kesadaran.

Refleks tendo dapat positif atau menurun, refleks dinding perut negatif.

Rangsang meningen negatif.

Setelah berlangsung lebih dari 1 minggu akan sembuh sempurna.

Encephalitis akut

Tiba-tiba hiperpireksia.

Tidak sadar dan kejang umum 24 jam setelah onset.

Bisa timbul kejang ulang.

Prognosa : buruk!

Meningitis akut

Liquor cerebro spinal : jernih dengan pleositosis ringan.

Electro encephalograph : gambaran encephalopati.

Bisa terjadi karena dikaitkan dengan sistem imunologis atau kekebalan


seseorang.

Dapat dikaitkan pula dengan kepribadian seseorang, orang yang gampang


histeris, akan lebih gampang jatuh ke dalam toxic typhoid.

Pasien dalam keadaan delirium / bicara ngaco / berteriak-teriak dan


mengalami agitasi.

Terdapat gerakan-gerakan seperti menarik-narik seprei.

7. Hepatitis typhosa
8. Pneumotyphoid
9. Pankreatitis typhosa
10. Carrier typhosa, setelah 6 bulan diperiksa 3 x berturut-turut selang 1 bulan masih
tetap positif (pada pemeriksaan faeces yang dibiakkan).

Penatalaksanaan

1. Non Medika Mentosa


a) Tirah baring
Seperti kebanyakan penyakit sistemik, istirahat sangat membantu. Pasien harus
diedukasi untuk tinggal di rumah dan tidak bekerja sampai pemulihan.5
b) Nutrisi
Pemberian makanan tinggi kalori dan tinggi protein (TKTP) rendah serat
adalah yang paling membantu dalam memenuhi nutrisi penderita namun tidak
memperburuk kondisi usus. Sebaiknya rendah selulosa (rendah serat) untuk
mencegah perdarahan dan perforasi. Diet untuk penderita demam tifoid,
basanya diklasifikasikan atas diet cair, bubur lunak, tim, dan nasi biasa.
c) Cairan
Penderita harus mendapat cairan yang cukup, baik secara oral maupun
parenteral. Cairan parenteral diindikasikan pada penderita sakit berat, ada
komplikasi, penurunan kesadaran serta yang sulit makan. Cairan harus
mengandung elektrolit dan kalori yang optimal. Kebutuhan kalori anak pada
infus setara dengan kebutuhan cairan rumatannya.
d) Kompres air hangat
Mekanisme tubuh terhadap kompres hangat dalam upaya menurunkan suhu
tubuh yaitu dengan pemberian kompres hangat pada daerah tubuh akan
memberikan sinyal ke hipotalamus melalui sumsum tulang belakang. Ketika
reseptor yang peka terhadap panas di hipotalamus dirangsang, sistem efektor
mengeluarkan sinyal yang memulai berkeringat dan vasodilatasi perifer.
Perubahan ukuran pembuluh darah diatur oleh pusat vasomotor pada medulla
oblongata dari tangkai otak, dibawah pengaruh hipotalamik bagian anterior
sehingga terjadi vasodilatasi. Terjadinya vasodilatasi ini menyebabkan
pembuangan/ kehilangan energi/ panas melalui kulit meningkat (berkeringat),
diharapkan akan terjadi penurunan suhu tubuh sehingga mencapai keadaan
normal kembali. Hal ini sependapat dengan teori yang dikemukakan oleh Aden
(2010) bahwa tubuh memiliki pusat pengaturan suhu (thermoregulator) di
hipotalamus. Jika suhu tubuh meningkat, maka pusat pengaturan suhu
berusaha menurunkannya begitu juga sebaliknya.7
2. Medika Mentosa
a) Simptomatik

Panas yang merupakan gejala utama pada tifoid dapat diberi antipiretik. Bila
mungkin peroral sebaiknya diberikan yang paling aman dalam hal ini adalah
Paracetamol dengan dosis 10 mg/kg/kali minum, sedapat mungkin untuk
menghindari aspirin dan turunannya karena mempunyai efek mengiritasi
saluran cerna dengan keadaan saluran cerna yang masih rentan kemungkinan
untuk diperberat keadaannya sangatlah mungkin. Bila tidak mampu intake
peroral dapat diberikan via parenteral, obat yang masih dianjurkan adalah yang
mengandung Methamizole Na yaitu antrain atau Novalgin.
b) Antibiotik
Antibiotik yang sering diberikan adalah :1,4,5

Chloramphenicol, merupakan antibiotik pilihan pertama untuk infeksi tifoid


fever terutama di Indonesia. Dosis yang diberikan untuk anak- anak 50-100
mg/kg/hari dibagi menjadi 4 dosis untuk pemberian intravena biasanya
cukup 50 mg/kg/hari. Diberikan selama 10-14 hari atau sampai 7 hari
setelah demam turun. Pemberian Intra Muskuler tidak dianjurkan oleh
karena hidrolisis ester ini tidak dapat diramalkan dan tempat suntikan terasa
nyeri. Pada kasus malnutrisi atau didapatkan infeksi sekunder pengobatan
diperpanjang sampai 21 hari. Kelemahan dari antibiotik jenis ini adalah
mudahnya terjadi relaps atau kambuh, dan carier.

Cotrimoxazole, merupakan gabungan dari 2 jenis antibiotika trimetoprim


dan sulfametoxazole dengan perbandingan 1:5.
mg/kg/hari

Dosis Trimetoprim 10

dan Sulfametoxzazole 50 mg/kg/hari dibagi dalam 2 dosis.

Untuk pemberian secara syrup dosis yang diberikan untuk anak 4-5
mg/kg/kali minum sehari diberi 2 kali selama 2 minggu. Efek samping dari
pemberian antibiotika golongan ini adalah terjadinya gangguan sistem
hematologi

seperti

Anemia

megaloblastik,

Leukopenia,

dan

granulositopenia. Dan pada beberapa Negara antibiotika golongan ini sudah


dilaporkan resisten.

Ampicillin dan Amoxicillin, memiliki kemampuan yang lebih rendah


dibandingkan dengan chloramphenicol dan cotrimoxazole. Namun untuk
anak- anak golongan obat ini cenderung lebih aman dan cukup efektif.

Dosis yang diberikan untuk anak 100-200 mg/kg/hari dibagi menjadi 4 dosis
selama 2 minggu. Penurunan demam biasanya lebih lama dibandingkan
dengan terapi chloramphenicol.

Sefalosporin

generasi

ketiga

(Ceftriaxone,

Cefotaxim,

Cefixime),

merupakan pilihan ketiga namun efektifitasnya setara atau bahkan lebih dari
Chloramphenicol dan Cotrimoxazole serta lebih sensitive terhadap
Salmonella typhi. Ceftriaxone merupakan prototipnya dengan dosis 100
mg/kg/hari IVdibagi dalam 1-2 dosis (maksimal 4 gram/hari) selama 5-7
hari. Atau dapat diberikan cefotaxim 150-200 mg/kg/hari dibagi dalam 3-4
dosis. Bila mampu untuk sediaan Per oral dapat diberikan Cefixime 10-15
mg/kg/hari selama 10 hari.
Pada demam tifoid berat kasus berat seperti delirium, stupor, koma
sampai syok dapat diberikan kortikosteroid IV (dexametasone) 3 mg/kg dalam
30 menit untuk dosis awal, dilanjutkan 1 mg/kg tiap 6 jam sampai 48 jam.
Untuk demam tifoid dengan penyulit perdarahan usus kadang- kadang
diperlukan tranfusi darah. Sedangkan yang sudah terjadi perforasi harus segera
dilakukan laparotomi disertai penambahan antibiotika metronidazol.

BAB III
KESIMPULAN

Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut disebabkan oleh kuman gram negatif
Salmonella typhi.
Manifestasi klinik pada anak umumnya bersifat lebih ringan dan lebih
bervariasi. Demam adalah gejala yang paling konstan di antara semua penampakan
klinis.
Dalam minggu pertama, keluhan dan gejala menyerupai penyakit infeksi akut
pada umumnya seperti demam, sakit kepala, mual, muntah, nafsu makan menurun, sakit
perut, diare atau sulit buang air beberapa hari, sedangkan pemeriksaan fisik hanya
didapatkan suhu tubuh meningkat dan menetap. Suhu meningkat terutama sore dan
malam hari.
Setelah minggu ke dua maka gejala menjadi lebih jelas demam yang tinggi terus
menerus, nafas berbau tak sedap, kulit kering, rambut kering, bibir kering pecahpecah /terkupas, lidah ditutupi selaput putih kotor, ujung dan tepinya kemerahan dan
tremor, pembesaran hati dan limpa dan timbul rasa nyeri bila diraba, perut kembung.
Anak nampak sakit berat, disertai gangguan kesadaran dari yang ringan letak tidur pasif,
acuh tak acuh (apatis) sampai berat (delirium, koma).

DAFTAR PUSTAKA

1. Widodo Darmowandoyo. Demam Tifoid. Dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan


Anak Infeksi dan Penyakit Tropis. Edisi pertama. 2002. Jakarta ;Bagian Ilmu
Kesehatan Anak FKUI: 367-375
2. Alan R. Tumbelaka. Diagnosis dan Tata laksana Demam Tifoid. Dalam
Pediatrics Update. Cetakan pertama. 2003. Jakarta ;Ikatan Dokter Anak
Indonesia: 37-46
3. http://www.sehatgroup.web.id/guidelines/isiGuide.asp?guideID=36
4. http://www.kabarindonesia.com/berita.php?
pil=3&jd=Mutiara+Diagnosis+Demam+Tifoid&dn=20080905020143
5. http://koaskamar13.wordpress.com/metode-diagnostik-demam-tifoid-pada-anak/
6. http://www.infopenyakit.com/2008/08/penyakit-demam-tifoid.html