Anda di halaman 1dari 21

REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

IMPLIKASI UNDANG-UNDANG TENAGA KESEHATAN TERHADAP


PROFESI DOKTER DI MASA DEPAN

Konsulen Penguji:
dr. Arif Rahman Sadad, SH., Sp.F, MSi.Med, DHM

Residen Pembimbing:
dr. Stephanus Rumancay
Disusun Oleh:
Angelyn Christabella
Eka Putri Maulani
Azaria Sabrina
Jocelyn Judian
Jacob Benedict
Ivan Meidika Kurnia

KEPANITERAAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL


RSUP DR. KARIADI SEMARANG
PERIODE 6 JULI 2015 1 AGUSTUS 2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis dalam menyelesaikan referat berjudul Implikasi
Undang-Undang Tenaga Kesehatan Terhadap Profesi Dokter di Masa Depan sebagai salah
satu tugas dalam kepaniteraan klinik ilmu kedokteran forensic dan medikolegal di RSUP DR.
Kariadi Semarang.
Penulis juga ingin menyampaikan terimakasih kepada dr. Arif R Sadad, S.H., Sp.F,
MSi.Med, DHM selaku dosen penguji dan dr. Stephanus Rumancay selaku residen
pembimbing dalam penyusunan referat ini.
Penulis menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna maka dari itu penulis
mohon maaf atas segala kekurangan dalam pembuatan referat ini. Penulis juga mengharapkan
kritik dan saran yang membangun untuk memperbaiki kekurangan dari referat ini di
kemudian hari.
Akhir kata semoga referat ini bisa bermanfaat bagi para pembaca.Atas perhatian yang
diberikan, penulis mengucapkan terimakasih.

Semarang, 15Juli 2015

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar

Daftar Isi

Bab I Pendahuluan

I.1
I.2
I.3

LatarBelakang
RumusanMasalah
TujuanPenelitian

4
5
6

Bab II Pembahasan

II.1
II.2
II.3
II.4
II.5
II.6

7
10
11
13
16
16

Tenaga Kesehatan
Konsil Kedokteran Indonesia (KKI)
Implikasi UU Nakes Terhadap KKI
Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia
Kriminalisasi Dokter
Tenaga Kesehatan Lain

Bab III Penutup


III.1
III.2
DaftarPustaka

Kesimpulan
Saran

18
18
18
20

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Atas dasar Pancasila sila kelima yang berbunyi Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia, Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28H ayat (1) yang berbunyi Setiap orang
berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan
hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan, pasal 34 ayat
(3) yang berbunyi Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan
kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. serta dalam rangka menjalankan
amanah Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 Pasal 21 ayat (3) untuk mengatur tenaga
kesehatan selain tenaga medis, maka pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan RI
menginisiasi penyusunan rancangan Undang-Undang Tenaga Kesehatan.
Awalnya, proses penyusunan draft Rancangan Undang-UndangTenaga Kesehatan
(RUU Nakes) melibatkan beberapa pemangku kebijakan, di antaranya adalah Ikatan
Dokter Indonesia (IDI) sebagai organisasi profesi dokter. Dinamika pembahasan RUU
Nakes terjadi karena IDI menganggap amanah Pasal 21 ayat (3) lebih menekankan
kepada pengaturan tenaga kesehatan di luar tenaga medis. Hal ini sangat jelas dalam
penjelasan Pasal 21 ayat (3) yang berbunyi Pengaturan tenaga kesehatan di dalam
undang-undang adalah tenaga kesehatan di luar tenaga medis. Oleh karena itu, IDI
menyarankan agar pembahasan substansi RUU lebih banyak melibatkan organisasi tenaga
kesehatan lain di luar tenaga medis.1
Setelah sekian lama pembahasan RUU Nakes tidak lagi terdengar karena tidak ada
lagi undangan untuk membahas RUU Nakes yang masuk ke sekretariat Pengurus Besar
IDI,tiba-tiba RUU Nakes telah mendekati proses pembahasan final di Panja yang
dibentuk di Komisi IX DPR RI.
Polemik muncul oleh sebab hal yang mendasari penyusunan RUU ini yaitu
pengaturan tenaga kesehatan di luar tenaga medis menjadi tidak jelas, oleh karena
substansi yang menyebutkan bahwa Undang-Undang ini mengatur mengenai tenaga
kesehatan kecuali hal-hal yang telah diatur dalam Undang-Undang Praktik Kedokteran
tidak lagi tercantum. Tentu hal ini memunculkan pertanyaan apakah RUU Tenaga
Kesehatan juga mengatur tenaga medis (yaitu dokter dan dokter gigi) yang telah di atur

dalam undang-undang Praktik Kedokteran. Meskipun secara jelas penjelasan Pasal 21


ayat (3) telah menyebutkan hal tersebut.1,2
Undang-Undang Tenaga Kesehatan yang telah disahkan pada tahun 2014
mengandung banyak implikasi krusial yang berbenturan dengan undang-undang tentang
kesehatan lainnya, contohnya Undang-Undang Praktik Kedokteran tahun 2004.
Perubahan yang terjadi menyangkut yang menimbulkan perdebatan, beberapa di
antaranya adalah profesi dokter (dokter umum, dokter spesialis, dokter gigi, doker gigi
spesialis) disetarakan dengan tenaga kesehatan lainnya yang tidak berhubungan langsung
dengan praktik medis, peniadaan fungsi Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), adanya
celah untuk mengkriminalisasi dokter atas kelalaian berat yang tercantum di salah satu
isi pasal Undang-Undang Tenaga Kesehatan sehingga dokter bisa dihukum terhadap
dokter oleh pihak yang tidak berkompeten dalam ilmu medis. 1,2
Kehadiran Undang-Undang Tenaga Kesehatan menyebabkan degradasi tanggung
jawab tenaga medis karena tanggung jawab profesi dokter dan dokter gigi yang berfungsi
sebagai captain of the team dianggap sama dengan tenaga kesehatan lain yang sebenarnya
bersifat delegated function, termasuk tenaga administrasi kesehatan, teknisi gigi, perekan
medis dan informasi kesehatan, bahkan tenaga kesehatan tradisional (seperti tukang urut
atau ahli patah tulang).
Peniadaan fungsi KKI yang merupakan lembaga negara yang dibentuk dengan
Undang-Undang Praktik Kedokteran adalah kesewenangan kekuasaan dalam pembuatan
Undang-Undang Tenaga Kesehatan. Usaha kriminalisasi dokter sebagaimana diatur dalam
Undang-Undang Tenaga Kesehatan tahun 2014 pasal 84 bertentangan dengan Putusan
Mahkamah Konstitusi Nomor 14/PUU-XII/2014 angka 3.14.
Pada referat ini, kami membahas beberapa pasal yang mempunyai implikasi khusus
terhadap profesi dokter, di antaranya adalah peniadaan fungsi KKI, penyamarataan dokter
sebagai tenaga medis dengan tenaga kesehatan lainnya, serta adanya celah untuk
mengkriminalisasi dokter.1,2
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Siapa saja yang termasuk sebagai tenaga kesehatan menurut Undang-Undang Tenaga
Kesehatan?
2. Apa perbedaan fungsi Konsil Kedokteran Indonesia menurut Undang-Undang Praktik
Kedokteran tahun 2004 dan UU Nakes tahun 2014?
3. Apa dampak UU Nakes tahun 2014 terhadap profesi kedokteran?
4. Apa fungsi Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia KTKI menurut UU Nakes tahun
2014?
5

5. Bagaimana dokter bisa dikriminalisasi menurut UU Nakes tahun 2014?

1.3 TUJUAN PENELITIAN


1.3.1 Tujuan Umum
Untuk memperoleh informasi tentang UU Tenaga Kesehatan.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.
2.

Mengetahui definisi tenaga kesehatan menurut UU NaKes tahun 2014.


Mengetahui elemen-elemen yang tergolong sebagai tenaga kesehatan menurut UU

3.
4.

Nakes 2014.
Mengetahui fungsi Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia.
Mengetahui implikasi UU NaKes 2014 terhadap profesi dokter.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Tenaga Kesehatan
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
1. Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang
kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di
bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk
melakukan upaya kesehatan.
Berdasarkan definisi tenaga kesehatan di atas yang sama persis dengan UU Kesehatan
nomor 36 tahun 2009, maka tenaga kesehatan yang dimaksud seharusnya tidak mencakup
tenaga medis, sesuai dengan penjelasan di UU Kesehatan Pasal 21 ayat 3. Hal ini
menyebabkan UU Nakes melampaui mandat (over mandatory), begitu juga dengan
dimasukkannya tenaga medis dalam Pasal 11 ayat 1 huruf (a). Keberadaan tenaga medis
merupakan profesi yang istimewa dalam hubungannya dengan nyawa manusia namun
bukan digolongkan perbuatan pidana, misalnya membedah, akan dipersalahkan sebagai
kejahatan, padahal justru membantu sebagai helping profesion. Karena itu pembedaan
tenaga medis dengan nakes lain bukan diskriminasi tetapi perbedaan tanggungjawab
profesi.2
Pasal 11
(1) Tenaga Kesehatan dikelompokkan ke dalam:
a. tenaga medis;
b. tenaga psikologi klinis;
c. tenaga keperawatan;
d. tenaga kebidanan;
e. tenaga kefarmasian;
f. tenaga kesehatan masyarakat;
g. tenaga kesehatan lingkungan;
h. tenaga gizi;
7

i. tenaga keterapian fisik;


j. tenaga keteknisian medis;
k. tenaga teknik biomedika;
l. tenaga kesehatan tradisional; dan
m. tenaga kesehatan lain.
(2) Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga medis
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas dokter, dokter gigi, dokter
spesialis, dan dokter gigi spesialis.
(3) Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga psikologi klinis
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b adalah psikologi klinis.
(4) Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga keperawatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c terdiri atas berbagai jenis perawat.
(5) Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga kebidanan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d adalah bidan.
(6) Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga kefarmasian
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e terdiri atas apoteker dan tenaga teknis
kefarmasian.
(7) Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga kesehatan
masyarakat sebagaimanadimaksud pada ayat (1) huruf f terdiri atas epidemiolog
kesehatan, tenaga promosi kesehatan dan ilmu perilaku, pembimbing kesehatan
kerja, tenaga administrasi dan kebijakan kesehatan, tenaga biostatistik dan
kependudukan, serta tenaga kesehatan reproduksi dan keluarga.
(8) Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga kesehatan
lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf g terdiri atas tenaga sanitasi
lingkungan, entomolog kesehatan, dan mikrobiolog kesehatan.
(9) Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga gizi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf h terdiri atas nutrisionis dan dietisien.
(10) Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga keterapian fisik
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf i terdiri atas fisioterapis, okupasi terapis,
terapis wicara, dan akupunktur.
(11) Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga keteknisian
medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf j terdiri atas perekam medis dan
informasi kesehatan, teknik kardiovaskuler, teknisi pelayanan darah, refraksionis

optisien/optometris, teknisi gigi, penata anestesi, terapis gigi dan mulut, dan
audiologis.
(12) Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga teknik
biomedika sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf k terdiri atas radiografer,
elektromedis, ahli teknologi laboratorium medik, fisikawan medik, radioterapis, dan
ortotik prostetik.
(13) Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok Tenaga Kesehatan
tradisional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf l terdiri atas tenaga
kesehatan tradisional ramuan dan tenaga kesehatan tradisional keterampilan.
(14) Tenaga Kesehatan lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf m
ditetapkan oleh Menteri.
Berdasarkan UU Nakes, dokter dan dokter gigi akan menjadi setara dengan semua
tenaga kesehatan lainnya seperti yang tertera di dalam UU tersebut. Hal ini dapat
mengacaukan sistem praktik kedokteran dan merugikan pasien serta profesi dokter. Dengan
disetarakannya dokter dan dokter gigi dengan tenaga kesehatan lain, UU Nakes pun
mengkonstruksikan kompetensi dan tanggung jawab dokter dengan tenaga kesehatan lain,
padahal dokter dan dokter gigi mempunyai peran sebagai captain of the team dengan praktik
kedokteran sebagai inti layanan. Dokter dan dokter gigi mempunyai kompetensi istimewa
untuk melakukan tindakan medis secara mandiri pada tubuh manusia, sedangkan tenaga
kesehatan lain hanya menjalankan fungsi delegasi dari dokter atau pun dokter gigi.Pimpinan
tim penyembuhan bisa diampu selain dokter. Ini berisiko menurunkan efektivitas
penyembuhan. 3
Di sisi lain, anggota Komisi IX DPR RI, Poempida Hidayatulloh mengatakan
memang UU Tenaga Kesehatan ditujukan untuk menaungi profesi kesehatan yang belum
mempunyai organisasi pelindung, hal ini menunjukkan pada dasarnya ada kesepahaman
bahwa tenaga medis (dokter dan dokter gigi) tidak perlu diatur dalam UU Tenaga Kesehatan.
Namun beliau juga membantah apabila UU Tenaga Kesehatan akan membatasi independensi
dokter dan organisasi profesi yang telah ada karena intervensi yang dimaksud di UU Tenaga
Kesehatan adalah bantuan dari pemerintah dan membina profesi kesehatan tradisional.4,5

2.2Konsil Kedokteran Indonesia


Konsil Kedokteran Indonesia Indonesia atau KKI merupakan suatu badan otonom,
mandiri, non struktural dan bersifat independen, yang bertanggung jawab kepada Presiden RI.
Mempunyai fungsi pengaturan, pengesahan, penetapan serta pembinaan dokter dan dokter
gigi yang menjalankan praktik kedokteran dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan
medis.4
KKI didirikan pada tanggal 29 April 2005 di Jakarta yang anggotanya terdiri dari 17
(tujuh belas) orang, merupakan perwakilan dari:

Asosiasi Rumah Sakit Pendidikan Indonesia : 2 (dua) orang,


Kolegium Kedokteran Indonesia : 1 (satu) orang,
Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia : 2 (dua) orang,
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Gigi Indonesia : 2 (dua) orang,
Persatuan Dokter Gigi Indonesia : 2 (dua) orang,
Kolegium Kedokteran Gigi Indonesia : 1 (satu) orang,
Tokoh Masyarakat : 3 (tiga) orang, Departemen Kesehatan : 2 (dua) orang, dan
Departemen Pendidikan Nasional : 2 (dua) orang.

KKI bertugas melakukan registrasi dokter dan dokter gigi, mengesahkan standar
pendidikan profesi dokter dan dokter gigi, melakukan pembinaan terhadap penyelenggaraan
praktik kedokteran yang dilaksanakan bersama lembaga terkait sesuai dengan fungsi masingmasing.4
KKI memiliki wewenang menyetujui dan menolak permohonan registrasi dokter dan
dokter gigi. Menerbitkan dan mencabut surat tanda registrasi. Mengesahkan standar
kompetensi. Melakukan pengujian terhadap persyaratan registrasi dokter dan dokter gigi.
Mengesahkan penerapan cabang ilmu kedokteran dan kedokteran gigi. Melakukan pembinaan
bersama terhadap dokter dan dokter gigi mengenai pelaksanaan etika profesi yang ditetapkan
oleh organisasi profesi. Melakukan pencatatan terhadap dokter dan dokter gigi yang
dikenakan sanksi oleh organisasi profesi atau perangkatnya karena melanggar ketentuan etika
profesi.4

2.2.1 Struktur Organisasi KKI


10

2.2.2 Tugas dan Fungsi KKI


2.2.2.1 Tugas
KKI mempunyai tugas (Pasal 7 Undang-undang Praktik Kedokteran nomor 29 tahun 2004):

Melakukan registrasi dokter dan dokter gigi;


Mengesahkan standar pendidikan profesi dokter dan dokter gigi; dan
Melakukan pembinaan terhadap penyelenggaraan praktik kedokteran yang
dilaksanakan bersama lembaga terkait sesuai dengan fungsi masing-masing.

2.2.2.2 Fungsi
KKI mempunyai fungsi (Pasal 6 Undang-undang Praktik Kedokteran nomor 29 tahun
2004), yaitu fungsi pengaturan, pengesahan, penetapan, serta pembinaan dokter dan dokter
gigi yang menjalankan praktik kedokteran, dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan
medis.
2.3 Implikasi Undang-Undang Tenaga Kesehatan Terhadap KKI
KKI yang berperan ganda menjamin Profesional Trust praktik kedokteran dan
melindungi warga masyarakat dari praktik kedokteran yang melanggar norma disiplin akan
menemui ajal akan segera dibubarkan dengan hadinya UU Nakes. Diantaranya dengan
ketentuan Pasal 34 ayat (3), Pasal 90 ayat (1), ayat (2), dan ayat (2), Pasal 94 UU Nakes.
Pasal 34

11

(1) Untuk meningkatkan mutu Praktik Tenaga Kesehatan serta untuk memberikan pelindungan
dan kepastian hukum kepada Tenaga Kesehatan dan masyarakat, dibentuk Konsil Tenaga
Kesehatan Indonesia.
(2) Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas
konsil masingmasing Tenaga Kesehatan.
(3) Konsil masing-masing Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) termasuk
Konsil Kedokteran dan Konsil Kedokteran Gigi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang
tentang Praktik Kedokteran.
(4) Konsil masing-masing Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dalam
melaksanakan tugasnya bersifat independen.
(5) Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertanggung
jawab kepada Presiden melalui Menteri.

Pasal 90
(1) Konsil Kedokteran dan Konsil Kedokteran Gigi menjadi bagian dari Konsil
Tenaga Kesehatan Indonesia setelah Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia
terbentuksesuai dengan ketentuan Undang-Undang ini.
(2) Konsil Kedokteran Indonesia sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor
29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2004 Nomor 116, Tambahan LembaranNegara Republik Indonesia Nomor
4431) tetap melaksanakan fungsi, tugas, dan wewenangnya sampai
dengan terbentuknya Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia.
(3) Sekretariat Konsil Kedokteran Indonesia sebagaimana diatur dalam UndangUndang Nomor 29 Tahun2004 tentang Praktik Kedokteran (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 116,Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4431) tetap melaksanakan fungsi dan tugasnyasampai dengan
terbentuknya sekretariat Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia.

Pada pasal 34 ayat (5) juga tercantum penambahan kata melalui Menteri, hal ini berbeda
dengan yang tercantum di UU Praktik Kedokteran Pasal 4 ayat (2) bahwa KKI bertanggung jawab
langsung kepada Presiden tanpa melalui Menteri, hal ini ditegaskan juga oleh Pasal 94 UU Nakes
yang menyatakan sebagai berikut:

Pasal 94
12

Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku:


a. Pasal 4 ayat (2),Pasal 17, Pasal 20 ayat (4), dan Pasal 21 Undang-Undang Nomor
29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2004 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4431) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku; dan
b. Sekretariat Konsil Kedokteran Indonesia sebagaimana diatur dalam UndangUndang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4431) menjadi secretariat Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia
setelah terbentuknya Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia.
Saat ini KKI menyepakati untuk uji materil UU Nakes, demi melindungi warga
masyarakat, menjaga tanggungjawab profesi dan independensi KKI. Merujuk Pasal 34 ayat
(3), Pasal 90 ayat (1) UU Nakes, Konsil Kedokteran dan Konsil Kedokteran Gigi yang
dibentuk berdasarkan UU Prakdok diambil alih menjadi bagian di bawah Konsil Tenaga
Kesehatan Indonesia (KTKI). Dengan Pasal 90 ayat (2) UU Nakes, KKI yang dibentuk
dalam UU Prakdok diberi tenggat hidup sampai KTKI terbentuk.2
Selain itu, standar kompetensi dokter, dokter spesialis-subspesialis, dokter gigi, dan
dokter gigi spesialis yang disusun profesi kedokteran dan disahkan KKI akan diambil alih
pengesahannya oleh pemerintah. Itu tak lazim dan bertentangan dengan kaidah profesi
kedokteran secara universal.2,6
2.4 Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia (KTKI)
BAB V
KONSIL TENAGA KESEHATAN INDONESIA
Pasal 34
(1) Untuk meningkatkan mutu Praktik Tenaga Kesehatan serta untuk memberikan
pelindungan dan kepastian hukum kepada Tenaga Kesehatan dan masyarakat,
dibentuk Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia.
(2) Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri
atas konsil masing-masing Tenaga Kesehatan.

13

(3) Konsil masing-masing Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
termasuk Konsil Kedokteran dan Konsil Kedokteran Gigi sebagaimana diatur dalam
Undang-Undang tentang Praktik Kedokteran.
(4) Konsil masing-masing Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dalam melaksanakan tugasnya bersifat independen.
(5) Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
bertanggung jawab kepada Presiden melalui Menteri.
Pasal 35
Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia berkedudukan di ibukota negara Republik
Indonesia.
Pasal 36
(1) Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia mempunyai fungsi sebagai koordinator
konsil masing-masing Tenaga Kesehatan.
(2) Dalam menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Konsil Tenaga
Kesehatan Indonesia memiliki tugas:
a. memfasilitasi dukungan pelaksanaan tugas konsil masing-masing Tenaga
Kesehatan;
b. melakukan evaluasi tugas konsil masing-masing Tenaga Kesehatan; dan
c. membina dan mengawasi konsil masing-masing Tenaga Kesehatan.
(3) Dalam menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Konsil Tenaga
Kesehatan Indonesia memiliki wewenang menetapkan perencanaan kegiatan untuk
konsil masing-masing Tenaga Kesehatan.
Pasal 37
(1) Konsil masing-masing tenaga kesehatan mempunyai fungsi pengaturan,
penetapan dan pembinaan tenaga kesehatan dalam menjalankan praktik Tenaga
Kesehatan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
(2) Dalam menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), konsil masingmasing Tenaga Kesehatan memiliki tugas:
a. melakukan Registrasi Tenaga Kesehatan;
b. melakukan pembinaan Tenaga Kesehatan dalam menjalankan praktik Tenaga
Kesehatan;
c. menyusun Standar Nasional Pendidikan Tenaga Kesehatan;
d. menyusun standar praktik dan standar kompetensi Tenaga Kesehatan; dan
e. menegakkan disiplin praktik Tenaga Kesehatan.
14

Pasal 38
Dalam menjalankan tugasnya, konsil masing-masing Tenaga Kesehatan mempunyai
wewenang:
a. menyetujui atau menolak permohonan Registrasi Tenaga Kesehatan;
b. menerbitkan atau mencabut STR;
c. menyelidiki dan menangani masalah yang berkaitan dengan pelanggaran disiplin profesi
kedokteran Indonesia.

Pasal 39
Dalam melaksanakan fungsi, tugas, dan wewenang, Konsil Tenaga Kesehatan
Indonesia dibantu secretariat yang dipimpin oleh seorang sekretaris.
Pasal 40
(1) Keanggotaan Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia merupakan pimpinan konsil
masing-masing Tenaga Kesehatan.
(2) Keanggotaan konsil masing-masing Tenaga Kesehatan terdiri atas unsur:
a. kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan;
b. kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan;
c. Organisasi Profesi;
d. Kolegium masing-masing Tenaga Kesehatan;
e. asosiasi institusi pendidikan Tenaga Kesehatan;
f. asosiasi fasilitas pelayanan kesehatan; dan
g. tokoh masyarakat.
Pasal 41
Pendanaan untuk pelaksanaan kegiatan Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia
dibebankan kepada anggaran pendapatan dan belanja negara dan sumber lain yang
tidak mengikat sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
Pasal 42
Ketentuan mengenai pelaksanaan tugas, fungsi, dan wewenang Konsil Tenaga
Kesehatan Indonesia diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 43
Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan organisasi, pengangkatan, pemberhentian,
serta keanggotaan Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia dan sekretariat Konsil Tenaga
Kesehatan Indonesia diatur dengan Peraturan Presiden.

15

Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia harus dibentuk paling lama 2 (dua) tahun
terhitung sejak Undang-Undang ini disahkan pada tanggal 17 Oktober 2014, sehingga hal
inilah yang menjadi tenggat hidup KKI yang berdasarkan UU Prakdok.2
KTKI sendiri dinilai tidak fungsional dan tidak berguna karena hanyaberfungsi
sebagai koordinator, seperti yang tercantum pada Pasal 36 ayat (1), dengan tugas yang
bersifat tata kelola dan manajerial (Pasal 36 ayat (2)). KTKI tidak memiliki tugas, fungsi,
dan wewenang dalam mengawal kompetensi profesi, tetapi dilaksanakan konsil masingmasing

(Pasal

37

ayat

(1),

(2),

(3)).

Sehingga

KTKI

tidak

berguna

dalam

mengawalProfesional Trust dan perlindungan warga masyarakat dari praktik nakes.2


2.5 Kriminalisasi Dokter
Pasal 84
(1) Setiap Tenaga Kesehatan yang melakukan kelalaian berat yang mengakibatkan
Penerima Pelayanan Kesehatan luka berat dipidana dengan pidana penjara paling
lama 3 (tiga) tahun.
(2) Jika kelalaian berat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan
kematian, setiap Tenaga Kesehatan dipidana dengan pidana penjara paling lama 5
(lima) tahun.
Karena adanya ketidakjelasan lembaga penegakan disiplin yang diatur oleh UU
Nakes, maka ada kemungkinan intervensi penegakan disiplin oleh Majelis Kehormatan
Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) yang merupakan lembaga independen dalam KKI
(Pasal 37 ayat 2 poin e). Dalam putusan yang dibuat MKDKI, diperbolehkan adanya
keberatan pemerintah atau peluang untuk menyampaikan banding atas putusan MKDKI
kepada pemerintah. Intervensi dari pemerintah berisiko mengganggu kewenangan organisasi
profesi dalam menentukan desain dan wewenang karena menjadi milik eksekutif. Hal ini
mengimplikasikan bahwa Kementerian Kesehatan juga bisa menjadi lembaga penegakan
disiplin (Pasal 49 ayat 3).7
2.6 Tenaga Kesehatan Lain
2.6.1 Apoteker
UU Nomor 36 tahun 2014 juga mengatur posisi asisten apoteker di pelayanan
kefarmasian.1Setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki
pengetahuan dan/ atau keterampilan melalui pendidikan bidang kesehatan namun
16

pendidikannya di bawah jenjang Diploma Tiga (D3) disebut Asisten Tenaga Kesehatan.
Asisten Tenaga Kesehatan tersebut hanya dapat bekerja di bawah supervise Tenaga
Kesehatan. Asisten apoteker yang lulus SMK Farmasi dengan demikian dikelompokkan
sebagai Asisten Tenaga Kesehatan.8,9
Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga kefarmasian menurut UU
Tenaga Kesehatan ini adalah apoteker dan tenaga teknis kefarmasian (Diploma Tiga). Tenaga
teknis kefarmasian meliputi sarjana farmasi, ahli madya farmasi, dan analis farmasi.
Perubahan posisi asisten apoteker yang berubah menjadi Asisten Tenaga Kesehatan
menimbulkan suatu konsekuensi, yaitu asisten apoteker tidak dapat memperoleh Surat Tanda
Registrasi (STR) Tenaga Kesehatan.8-10

17

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Kehadiran Undang-Undang Tenaga Kesehatan menyebabkan polemik dalam profesi
tenaga medis seperti dokter dan dokter gigi karena adanya beberapa hal yang masih kurang
jelas dan mengaburkan peraturan-peraturan yang telah disusun sebelum Undang-Undang
Tenaga Kesehatan. Pengesahan Undang-Undang Tenaga Kesehatan menyamaratakan profesi
dokter; baik dokter umum, dokter spesialis-sub spesialis, dokter gigi dan dokter spesialis gigi
dengan tenaga kesehatan lainnya. Penyamarataan ini memiliki kelemahan karena profesi
dokter memiliki peran sebagai captain of the team dan bertanggung jawab penuh terhadap
tubuh pasien.
Pengesahan Undang-undang Tenaga Kesehatan juga akan menghapus fungsi badan
yang selama ini menaungi profesi dokter, yaitu Konsil Kedokteran Indonesia dan akan berada
di bawah koordinasi Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia. Pelemahan fungsi ini mengakibatan
terjadinya perpindahan wewenang dalam mengesahkan standardisasi kompetensi dokter,
dokter spesialis-sub spesialis, dokter gigi, dan dokter spesialis gigi yang semula diatur oleh
Konsil Kedokteran Indonesia menjadi diatur oleh pemerintah. Konsil Tenaga Kesehatan
Indonesia hanya memiliki fungsi tata kelola dan manajerial sesuai dengan pasal 36 ayat (1)
dan (2), serta pasal 37 ayat (1), (2), dan (3) mengakibatkan Konsil Tenaga Kesehatan
Indonesia hanya menjadi koordinator saja dantidak memenuhi fungsi Konsil Kedokteran
Indonesia yang ditiadakan, yaitu menjamin Professional Trust dan melindungi masyarakat
dari praktik tenaga kesehatan.
Ketidakjelasan Undang-Undang Tenaga Kesehatan dalam mengatur badan penegak
disiplin bagi tenaga kesehatanmenyebabkan adanya celah untuk pemerintah mengintervensi
penegakan disiplin oleh MKDKI. Akibatnya, pemerintah sebagai lembaga eksekutif juga
memiliki wewenang sebagai lembaga praperadilan.
3.2 SARAN
Melalui referat ini penulis mengharapkan agar pemerintah dapat meninjau ulang
sejumlah pasal pada Undang-Undang Tenaga Kesehatan, terutama pasal-pasal yang sedang
digugat oleh berbagai organisasi profesi, sehingga tidak mengakibatkan kerancuan pada
18

profesi medis, tenaga medis, paramedis. Penulis juga berharap para calon dokter dan dokter
lebih peka terhadap isu-isu yang berkaitan dengan profesi dokter, turut aktif mengawal
kebijakan pemerintah dalam menentukan nasib dokter Indonesia di masa depan.

19

DAFTAR PUSTAKA
1. Helti MS, Tarmizi T, ed. IDI: jangan kaburkan UU Praktik Kedokteran. Antara news
[internet]

2014.

[dikutip

17

Juli

2015].

Diunduh

dari:

http://www.antaranews.com/berita/456232/idi-jangan-kaburkan-uu-praktikkedokteran.
2. Anonim. IDI, PDGI dan KKI ajukan uji materil UU Tenaga Kesehatan ke MK.
Faktual

News

[internet]

2015.

[dikutip

17

juli

2015].

Diunduh

dari:

http://www.faktualnews.com/idi-pdgi-dan-kki-ajukan-uji-meteril-uu-tenagakesehatan-ke-mk/.
3. Editors. UU Tenaga Kesehatan diuji. Kompas [internet] 2015. [dikutip 17 juli 2015].
Diunduh dari : http://print.kompas.com/baca/2015/07/08/UU-Tenaga-KesehatanDiuji.
4. Widiyani R, editors. IDI gugat UU 36 tahun 2014. Harian Nasional [internet] 2015.
[dikutip 17 Juli 2015]. Diunduh dari:http://www.harnas.co/2015/07/08/idi-gugat-uu36-tahun-2014.
5. Anna LK, editor. Dokter tolak RUU Tenaga Kesehatan. Kompas [internet] 2015.
[dikutip

17

juli

2015.

Diunduh

dari:

http://health.kompas.com/read/2014/09/11/162620123/Dokter.Tolak.RUU.Tenaga.Kes
ehatan.
6. Wirawan MV, editor. IDI gugat uu nakes, gusar kewenangan KKI diambil pemerintah.
Aktual

[internet]

2015

[dikutip

17

juli

2015].

Diunduh

dari:http://www.aktual.com/idi-gugat-uu-nakes-gusar-kewenangan-kki-diambilpemerintah/.
7. Dokter Indonesia Bersatu. Analisa singkat uu nakes yang baru saja disahkan.
[internet] 2015 [ dikutip 18 juli 2015]. Available from

http://www.dib-

online.org/2014/10/analisa-singkat-uu-nakes-yang-baru-saja_3.html.
8. Bahar A, editor. Telaah undang-undang tenaga kesehatan dari sudut pandang
kefarmasian. Kompasiana [internet] 17 desember 2014 [ dikutip 21 juli 2015].
Tersedia di http://www.kompasiana.com/akbarbahar/telaah-undang-undang-tenagakesehatan-dari-sudut-pandang-kefarmasian_54f39d4c7455137c2b6c7c6f.
9. Editors. Asisten tenaga kesehatan tetap butuh pengakuan. Hukum online [internet] 25
maret 2015 [dikutip 21 juli 2015]. Tersedia di http://www.hukumonline.com
/berita/baca/lt5512a85761d8c/asisten-tenaga-kesehatan-tetap-butuh-pengakuan.
10. Siregar K, Ramidi , editor. Uu tenaga kesehatan , ancam nasib puluhan ribu tenaga
kesehatan. Gresnews [internet] 28 januari 2015 [ dikutip 21 juli 2015]. Tersedia di

20

http://www.gresnews.com/mobile/berita/sosial/180281-uu-tenaga-kesehatan-ancamnasib-puluhan-ribu-tenaga-kesehatan/.

21