Anda di halaman 1dari 9

REAKSI WIDAL

Nama
: Nurlita Prahastuti
NIM
: B1J012065
Rombongan: III
Kelompok : 3
Asisten
: Bunga Khalida Puri

LAPORAN PRAKTIKUM IMUNOBIOLOGI

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Analisis antigen Salmonella yang dilihat dari interaksinya dengan antibodi
serum tubuh dikenal sebagai reaksi Widal. Gejala umumnya dapat diamati pada usia
dini, dan gejalanya sangat berbeda dari yang ditemukan diantara orang dewasa.
Gejala dari penyakit ini hampir sama dengan penyakit gastroenteritis, malaria,
pneumonia, dan meningitis (Anggraeni, 2010).
Salmonella merupakan bakteri gram-negatif yang motil, aerob, dan tidak dapat
memfermentasi laktosa. Salmonella bersifat patogen pada manusia dan hewan,
dengan menyerang sistem pencernaannya. Keberadaan berbagai macam spesies
Salmonella dapat dideteksi dengan berbagai uji biokimiawi maupun analisis antigen.
Analisis antigen Salmonella yang dilihat dari interaksinya dengan antibodi serum
tubuh dikenal sebagai reaksi Widal. Infeksi Salmonella dapat ditemukan pada semua
usia, umumnya ditemukan pada anak-anak. Gejala umumnya dapat diamati pada usia
dini, dan gejalanya sangat berbeda dari yang ditemukan diantara orang dewasa.
Gejala dari penyakit ini hampir sama dengan penyakit gastroenteritis, malaria,
pneumonia, dan meningitis (Anggraeni, 2010).
Beberapa faktor penyebab demam tifoid masih terus menjadi masalah
kesehatan penting di negara berkembang meliputi pula keterlambatan penegakan
diagnosis pasti (Pang T., 1992). Penegakan diagnosis demam tifoid saat ini dilakukan
secara klinis dan melalui pemeriksaan laboratorium. Diagnosis demam tifoid secara
klinis seringkali tidak tepat karena tidak ditemukannya gejala klinis spesifik atau
didapatkan gejala yang sama pada beberapa penyakit lain pada anak, terutama pada
minggu pertama sakit. Hal ini menunjukkan perlunya pemeriksaan penunjang
laboratorium untuk konfirmasi penegakan diagnosis demam tifoid (Darmowandowo,
2003).
B. Tinjauan Pustaka
Sel-sel dalam suspensi seperti bakteri atau sel-sel darah merah biasanya
teraglutinasi ketika dicampur dengan antiserumnya. Aglutinasi menyediakan metode
yang berurutan untuk mengidentifikasi variasi bakteri, jamur, dan tipe sel darah
merah (Pelczar & Chan, 1988).Antigen merupakan suatu substansi yang bila
memasuki inang vertebrata menimbulkan respon kekebalan yang membawa kepada
terbentuknya kekebalan padatan. Respon ini mengakibatkan pembentukan antibodi
spesifik yang beredar dalam aliran darah (imunitas humoral) atau merangsang

peningkatan jumlah sel-sel reaksi khusus yang disebut limfosit (Pelczar & Chan,
1988).
Molekul antigen yang mungkin terdapat beberapa tempat di permukaannya
yang dapat bereaksi secara khas dengan antibodi, tempat ini disebut determinan
antigen. Bahan yang mempunyai berat molekul rendah sehingga tidak dapat bersifat
antigen dan hanya dapat menimbulkan produksi antibodi bila bahan ini bergabung
dengan protein lain, kemudian dapat bereaksi secara khas dengan antibodi itu disebut
hapten.Definisi yang lebih tinggi dari pengertian antigen muncul melalui penemuan
bahwa bakteri pasti memproses flagella, sehingga dua antigen dapat dibedakan yaitu
antigen flagella dan antigen somatik atau antigen dinding bakteri (Flynn, 1966).
Antibodi yaitu protein yang diproduksi sebagai akibat pemberian suatu antigen
dan mempunyai kemampuan untuk bergabung dengan antigen yang merangsang
produksinya. Antigen yaitu suatu zat yang dapat dideteksi bila dimasukkan ke dalam
tubuh hewan serta dapat menginduksi respon imun (Jawetz, 1966).Uji Widal
dirancang secara khusus untuk membantu diagnosis demam typhoid dengan cara
mengaglutinasikan basilus typhoid dengan serum penderita. Namun, istilah ini
kadang-kadang diterapkan secara tidak resmi pada uji aglutinasi lain yang
menggunakan biakan organisme yang dimatikan dengan panas selain Salmonella
typhii (Pelczar & Chan, 1988).
C. Tujuan
Mengetahui penetapan titer antibody terhadap antigen Salmonella typhii pada
seseorang yang terkena tifus.

II. MATERI DAN METODE


A. Materi
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah object glass, mikroskop,
mikropipet seukuran 20 l, 10 l, dan 5 l, dan yellow tips.
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah serum penderita tifus,
serum individu yang belum menderita tifus, dan antigen Salmonella typhii dari
produk Remel.
B. Metode
1. Diambil 3 buah object glass dan pada masin-masing object glass ditetesi serum
sebanyak 20 l, 10 l, dan 5 l.
2. Masing-masing object glass ditetesi 1 (40 L) tetes reagen S. typhii. Dicampur
hingga larutan menjadi homogen.
3. Object glass digoyang-goyangkan selama 1 menit, lalu diamati ada tidaknya
aglutinasi.
Interpretasi hasil:
1. Tidak ada aglutinasi, hasil negatif (-). Individu tidak terinfeksi bakteri S. typhii.
2. Ada aglutinasi, hasil positif (+). Individu terinfeksi S. typhii.
- Serum 20 l, titer Ab + 1/80 = infeksi ringan
- Serum 10 l, titer Ab + 1/160 = infeksi aktif
- Serum 5 l, titer Ab + 1/320 = infeksi berat

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil

Gambar 3.1. Kontrol Positif

Gambar 3.2. Kontrol Negatif


Gambar 3.3. Sampel negatif kelompok 3

Tabel 3.1. Tabel Pengamatan Uji Reaksi Widal


Kelompo
k
1 (-)
2 (+)
3 (-)
4 (+)
5 (-)

1/80
+
+
-

Tingkat Titer
1/160
-

Keterangan :
+
= Pernah terjangkit tifus
= Belum pernah terjangkit tifus

1/320
-

B. Pembahasan
Demam typhoid merupakan salah satu infeksi yang mendunia yang disebabkan
oleh bakteri S. typhii. Demam typhoid merupakan masalah yang umum dan
menyebabkan kematian yang signifikan di negara berkembang yang masih memiliki
masalah sanitasi. Demam typhoid memiliki beberapa gejala seperti demam
berkepanjangan, gangguan pencernaan, sakit kepala, malaise, mual dan muntah
(Khan et al., 2014). Masa inkubasi demam tifoid berkisar antara 10-14 hari dan
gejalanya muncul bertahap (Tizard, 1987).
Uji widal merupakan uji yang sederhana dan murah yang melihat hasil uji dari
darah. Uji widal mengukur aglutinasi antara serum somatik dengan antigen flagella.
Ketika antibodi bergabung dengan antigen sel bakteri. Sel teraglutinasi jika terdapat
antibodi. Antibodi atau molekul lainnya menikat beberapa partikel dan menjadi satu
membentuk satu kompleks besar. Titer lebih dari 1/80 menandakan adanya antigen O
dan 1/160 menandakan adanya antigen H. Namun, uji widal dapat memberikan hasil
positif palsu dan negatif palsu (Khan et al., 2014).
Langkah-langkah dalam melakukan uji widal yaitu sebanyak 20 l serum
diteteskan pada object glass dengan diameter tetesan 3 cm. Ditambahkan reagen
antigen dengan menggunakan pipet. Dicampur hingga larutan menjadi homogen.
Object glass digoyang-goyangkan selama 1 menit, lalu diamati ada tidaknya
aglutinasi. Jika terjadi aglutinasi, maka dilanjutkan dengan titer berikutnya (Khan et
al., 2014).
Berdasarkan hasil praktikum yang dilakukan uji positif pada serum mencapai
pengenceran 1:80 ada kelompok 2 dan 4 dan negatif pada kelompok 1, 3, dan 5.
Kelompok 2 dan 4 mendapatkan hasil positif karena terlihat adanya aglutinasi pada
uji widal. Kelompok 1, 3, dan 5 mendapat hasil negatif karena menggunakan serum
dari individu yang tidak terinfeksi sehingga tidak terjadi aglutinasi.hal tersebut sesuai
dengan Khan et.al. (2014) yang menerangkan bahwa pada serum yang memiliki
antibodi terhadap tyfus akan membentuk aglutinasi karena adanya ikatan antara
antibody dengan antigen.
Salmonella typhi memiliki beberapa antigen yaitu antigen Vi, H, dan O. antigen
Vi (virulensi) terdapat di plasmid bakteri. Antigen H terdapat pada flagella bakteri.
Antigen H terdapat dalam dua fase yaitu fase 1 dan fase 2 sehingga beberapa bakteri
mengekspresikan dua tipe flagel yang berbeda. Antigen O terdapat pada bagian
somatik atau tubuh bakteri (Lydyard et al., 2009).

Imunitas humoral, yaitu imunitas yang dimediasi oleh molekul di dalam


darah, yang disebut antibodi. Ada dua sistem imunitas humoral yaitu imunitas primer
dan sekunder. Saat terjadi perlukaan, semua Limfosit B segera melepaskan antibodi
yang mereka punya dan merangsang sel Mast untuk menghancurkan antigen atau sel
yang sudah terserang antigen untuk mengeluarkan histamin. 1 sel limfosit B
dibiarkan tetap hidup untuk menyimpan antibodi yang sama sebelum penyerang
terjadi. Limfosit B yang tersisa ini disebut limfosit B memori. Inilah proses respon
imun primer. Jika suatu saat, antigen yang sama menyerang kembali, Limfosit B
dengan cepat menghasilkan lebih banyak sel Limfosit B daripada sebelumnya.
Semuanya melepaskan antibodi dan merangsang sel Mast mengeluarkan histamin
untuk membunuh antigen tersebut. Kemudian, 1 limfosit B dibiarkan hidup untuk
menyimpan antibodi yang ada dari sebelumnya. Hal ini menyebabkan kenapa respon
imun sekunder jauh lebih cepat daripada respon imun primer (Zmijewski & Bellanti,
1993).
Alat yang digunakan dalam praktikum inio adalah mikropipet untuk meneteskan
serum dan antigen, object glass untuk meletakkan tetesan serum dan antigen, dan
mikroskop untuk mengamati hasil uji. Sedangkan bahan-bahannya seperti serum
penderita. Kontrol positif dan negatif digunakan untuk pembanding hasil uji.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya dapat diambil kesimpulan bahwa:
1. Prinsip uji Widal adalah memeriksa reaksi antara antibodi aglutinin dalam serum
penderita yang telah mengalami pengenceran berbeda-beda terhadap antigen
somatik (O) dan flagela (H) yang ditambahkan dalam jumlah yang sama sehingga
terjadi aglutinasi.
2. Hasil praktikum pada kelompok 2 dan 4 pada titer 1/80 l terjadi aglutinasi
namun titer selanjutnya tidak, kelompok dua dan tiga pada semua seri
pengenceran tidak tejadi aglutnasi pada kelompok 1, 3, dan 5 tidak

terjadi

aglutinasi.
B. Saran
Sebaiknya praktikum dilakukan langsung tidak dengan demo, agar praktikan
lebih paham.

DAFTAR REFERENSI
Anggraeni. 2010. Dot-Ela Typhoid Tes Using OMP Salmonella typhi Local Phage
Type Antigen to Support the Diagnosis of Typhoid Fever. Folia Medica
Indonesiana. 40 (1).
Darmowandowo D. 2003. DemamTifoid. Dalam: Continuing Education Ilmu
Kesehatan Anak XXXIII. Surabaya: Surabaya Intellectual Club.
Flynn, W. 1966. Demam Tifoid. Dalam : Continuing Education Ilmu Kesehatan Anak
XXXIII. Surabaya: Surabaya Intellectual Club.
Jawetz, E. 1974. Mikrobiologi Untuk Profesi Kesehatan. Jakarta: EGC.
Khan, S., MD. R.A. Miah, S. Haque, & C.R. Nahen. 2014. Comparison of results
Obtained by WidalAgglutination Test and Polymerase Chain Reaction Among
Clinically Suspected Typhoid Fever Cases. Bangladesh Journal Physiology
Pharmacology. 30(2) pp. 46-50.
Lydrad, P., M. Cole, J. Holton, W. Irving, N. Porakishvili, P. Venkatesan, and K.
Ward. Case Studies in Infectious Disease: Salmonella typhi. New York:
Garland Science.
Pang, T. 1992. Typhoid Fever : A Continuing Problem. Strategies for the 90s.
Singapore: World Scientific.
Pelczar, M. J. dan J. C. E. Chan. 1988. Dasar-dasar Mikrobiologi Jilid 2. Jakarta: UI
Press.
Tizard, I. R. 1987. Pengantar Imunologi Veteriner. Airlangga Surabaya: University
Press.
Zmijewski, C. M and Bellanti, J. A. 1993. Imunologi 3. Yogyakarta: UGM Press.