Anda di halaman 1dari 6

Diagnosis Banding

1. TINEA KAPITIS
Definisi
Tinea kapitis adalah infeksi jamur superficial yang menyerang kulit kepala dan rambut.
Etiologi

Golongan dermatofita, terutama T. Rubrum, T. Mentagrophytes dan M. Gypseum.


Umur : umumnya menyerang anak-anak sekolah dasar
Jenis kelamin : anak pria lebih banyak daripada anak wanita

Faktor yang mempengaruhi timbulnya penyakit

Bangsa : semua bangsa dapat terkena penyakit ini


Daerah : lebih banyak pada daerah beriklim panas
Kebersihan/higine : kebersihan yang buruk dan kontak dengan binatang peliharaan
seperti anjing atau kucing berperan dalam penularan.
Lingkungan : lingkungan kotor dan panas, serta udara yang lembap ikut berperan
dalam penularan

Gejala singkat penyakit


Perjalanan penyakit termasuk keluhan utama dan keluhan tambahan : jamur dapat
masuk ke dalam kulit atau rambut, dan selanjutnya berkembang membentuk kelainan di
kepala tergantung dari bentuknya. Biasanya memberi keluhan gatal atau nyeri.
Pemeriksaan kulit :

Lokalisasi : daerah kulit kepala dan rambut


Efloresensi : bergantung dari jenisnya :
1. Gray patch ring worm : papula-papula miliar sekitar muara rambut, rambut mudah
putus, meninggalkan alopesia yang berwarna coklat.
2. Black dot ring worm : infeksi jamur dalam rambut (endotriks) atau diluar rambut
(ektotriks), rambut putus tepat pada permukaan kulit, meninggalkan makula coklat
berbintik hitam, dan berwarna rambut sekitarnya menjadi suram.
3. Kerion : pada kulit kepala tampak bisul-bisul kecil dengan skuamasi akibat radang
lokal, rambut putus dan mudah dicabut.
4. Tinea Favosa : berbintik-bintik berwarna merah kuning ditutupi oleh krusta yang
berbentuk cawan (skutula), berbau busuk (mousy odor), rambut diatasnya putusputus dan mudah dicabut.

Pemeriksaan lab

1. Sinar wood : fluoresensi kehijauan


2. Pembiakan skuama dalam media agar Sabouraud
3. Preparat langsung dari kerokan kulit dengan larutan KOH 10%, dapat terlihat hifa
atau spora dan miselium. Preparat langsung dari rambut dapat terlihat hifa atau spora
di dalam rambut (endotriks) atau di luar rambut (ektotriks)
Diagnosis banding
1. Alopesia areata (dengan bentuk black dot) biasanya kulit tampak licin dan berwarna
coklat.
2. Dermatitis seboroika (dengan bentuk tinea favosa), rambut tampak berminyak, kulit
kepala ditutupi skuama yang berminyak.
3. Psoriasis (dengan bentuk tinea favosa), sisik (skuama) tebal, berwarna putih
mengkilat dan bersifat kronik residif.
Penatalaksanaan

Sistemik
Griseofulvin 10-25 mg/kg; dewasa 500 mg/hari.
Ketokonazol 5-10 mg/kg BB; dewasa 200 mg/hari selama 7-14 hari
Topikal
Mencuci kepala dan rambut dengan shampoo desinfektan antimikotik seperti
larutan asam salisilat, asam benzoat, dan sulfur, presipitatum. Obat-obat derivat
imidazol 1-2% dalam krim atau larutan dapat menyembuhkan, demikian pula
ketokonazol krim atau larutan.

Prognosis
Jika penyembuhan telah dicapai dan faktor-faktor infeksi dapat dihindari, prognosis
umumnya baik.
2. TINEA KORPORIS
Definisi
Penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur superfisial golongan dermatofita,
menyerang daerah kulit tak berambut pada wajah, badan, lengan, dan tungkai.
Etiologi

Penyebab : golongan jamur dermatofita, yang tersering adalah Epider mophyton


floccocum atau T. Rubrum
Umur : semua umur, tetapi lebih sering menyerang orang dewasa
Jenis kelamin : menyerang pria dan wanita
Bangsa/ras : penyakit ini tersebar di seluruh dunia
Daerah : terutama pada daerah tropis
Musim/iklim : insiden meningkat pada kelembapan udara yang tinggi
Kebersihan : sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan penyakit ini.

Keturunan : tak berpengaruh


Lingkungan : kebersihan lingkungan/ lingkungan yang kotor mempengaruhi
kebersihan perorangan dalam perkembangan penyakit pada kulit manusia.

Gejala singkat penyakit


Perjalanan penyakit termasuk keluhan dan keluhan tambahan :
. Gejala subjektif : keluhan gatal, terutama jika berkeringat.
. Gejala objektif : makula hiperpigmentasi dengan tepi yang lebih aktif.
Oleh karena gatal dan digaruk, lesi akan makin meluas, terutama pada daerah kulit yang
lembap.
Pemeriksaan kulit

Lokalisasi : wajah, anggota gerak dan bawah, dada, punggung.


Efloresensi : lesi berbentuk makula/plak yang merah/hiperpigmentasi dengan tepi
aktif dan penyembuhan sentral. Pada tepi lesi dijumpai papula-papula eritematosa
atau vesikel. Pada perjalanan penyakit yang kronik dapat dijumpai likenifikasi.
Gambaran lesi dapat polisiklis, anular dan geografis.

Gambaran histopatologi tidak khas


Pemeriksaan penunjang/ laboratorium
Kerokan kulit dengan KOH 10% dijumpai hifa
Diagnosis banding
1. Morbus Hansen : makula eritematosa dengan tepi sedikit aktif, terutama MH tipe
tuberkuloid.
2. Pitiariasis rosea : gambaran makula eritematosa dengan tepi sedikit meninggi, ada
papula, skuama. Diameter panjang lesi menuruti garis kulit.
3. Neurodermatitis sirkumskripta : makula eritematosa berbatas tegas, terutama pada
daerah tengkuk, lipat lutut, dan lipat siku.
Penatalaksanaan
Umum :
a. Meningkatkan kebersihan badan
b. Menghindari pakaian yang tidak menyerap keringat

Khusus :

Sistemik :
a. Antihistamin.
b. Gliseofulvin, anak-anak : 15-20 mg/kg BB/hari; dewasa : 500-1000 mg/hari.
c. Itrakonazol 100 mg/hari selama 2 minggu.
d. Ketokonazol 200 mg/hari selama 3 minggu.
Topikal :
a. Salep Whitfield
b. Campuran asam salisilat 5%, asam benzoat 10% dan resorsinol 5% dalam spiritus
c. Castellanis paint
d. Tolnaftat
e. Imidazol
f. Ketokonazol
g. Piroksolamin siklik

Prognosisnya : baik
3. TINEA BARBARE
Definisi
Tinea barbare adalah bentuk infeksi jamur dermatofita pada daerah dagu/jenggot yang
menyerang kulit dan folikel rambut.
Etiologi

Penyebab : biasanya oleh golongan Trichophyton dan microsporum.


Umur : selalu pada orang dewasa, tak pernah ada pada anak-anak
Jenis kelamin : biasanya pada pria dewasa
Bangsa/ras: dapat mengenai semua bangsa, tetapi lebih sering pada kulit putih.
Daerah : daerah tropis dengan kelembapan tinggi
Lingkungan : kotor merupakan faktor yang mempermudah infeksi

Gejala singkat penyakit

Lokalisasi : biasanya pada daerah dagu/jenggot, tapi dapat menyebar ke wajah dan
leher.
Efloresensi : rambut daerah yang terkena menjadi rapuh dan tidak mengkilat, tampak
reaksi radang pada folikel berupa kemerahan, edema, kadang-kadang ada pustula.

Gambaran histopatologi
Pada batang dan folikel rambut terkadang tampak organisme, tetapi jarang pada lesi
yang lebih dalam. Pada keadaan kronik terlihat nanah, sel raksasa dan infiltrasi sel-sel radang
kronik.

Pemeriksaan penujang/lab

1. Kerokan kulit atau rambut jenggot yang terkena (terputu-putus, tidak mengkilap)
dengan larutan KOH 10-20 %, dilihat langsung dibawah mikroskop untuk mencari
hifa atau infeksi endotriks/eksotriks.
2. Biakan pada media agar Sabouraud.
3. Sinar Wood : fluroresensi kehijauan.
Diagnosis banding
1. Dermatitis kontak alergika
2. Akne kistika
3. Dermatitis seboroika

dapat dibedakan dengan pemeriksaan mikologis

Penatalaksanaan
Umum :
Rambut daerah jenggot dicukur bersih, jaga kebersihan umum
Khusus :
-

Sistemik :
Dapat diberikan gliseofulvin 500 mg-1 gram/hari.
Itrakonazol 100 mg/hari selama 2 minggu atau ketokonazol 200 mg/hari
selama 3 minggu.
Topikal :
Kompres sol. Kaliumpermanganas 1:4.000 atau sol. Asam asetat 0,025%, 2-3
kali sehari.
Antifungi : ketokonazol krim/ointment 2% selama 5-7 hari atau itrakonazol
1%, 5-7 hari.
Epilasi rambut yang terinfeksi.
Antibiotik jika ada infeksi sekunder.

Prognosis: umumnya baik.


4. TINEA KRURIS
Definisi
Tinea kruris adalah infeksi jamur dermatofita pada daerah kruris dan sekitarnya.
Etiologi

Penyebab : sering kali oleh E. Floccosum, dapat pula oleh T.rubrum dan
T.mentagrophytes, yang ditularkan secara langsung atau tak langsung.
Umur : kebanyakan pada dewasa
Jenis kelamin : pria lebih sering daripada wanita
Bangsa/ras : terdapat diseluruh dunia
Daerah : paling banyak di daerah tropis.
Musim/iklim : musim panas, banyak keringat.

Keturunan : tak berpengaruh


Lingkungan : yang kotor dan lembap.

Gejala singkat penyakit


Perjalanan penyakit termasuk keluhan utuama dan keluhan tambahan : rasa gatal
hebat pada daerah kruris (lipat paha), lipat perineum, bokong dan dapat ke genitalia; ruam
kulit berbatas tegas, eritematosa, dan bersisik, semakin hebat jika banyak berkeringat.
Pemeriksaan kulit

Lokalisasi : regio inguinalis bilateral, simetris. Meluas ke perineum sekitar anus,


intergluteal sampai ke gluteus. Dapat pula meluas ke suprapubis dan abdomen bagian
bawah.
Efloresensi : makula eritematosas numular sampai geografis, berbatas tegas denga
tepi lebih aktif terdiri dari papula atau pustula. Jika kronik makula menjadi
hiperpigmentasi dengan skuama di atasnya.

Gambaran histopatologi : tidak khas


Pemeriksaan lab
Kerokan kulit daerah lesi denga KOH 10%: tampak elemen jamur seperti hifa, spora, dan
miselium.
Diagnosis banding
1. Eritrasma : batas lesi tegas, jarang disertai infeksi, fluroresensi merah bata yang khas
dengan sinar Wood.
2. Kandidiasis : lesi relatif lebih basah, berbatas jelas disertai lesi-lesi satelit.
3. Psoriasis intertriginosa : skuama lebih tebal dan berlapis-lapis.
Penatalaksanaan
Seperti pengobatan jamur lainnya.

Topikal : salep atau krim antimikotik. Lokasi ini sangat peka nyeri, jadi konsentrasi
obat harus lebih rendah dibandingkan lokasi lain, misalnya asam salisilat, asam
benzoat, sulfur dan sebagainya.
Sistemik : diberikan jika lesi meluas dan kronik; gliseofulvin 500-1.000 mg selama 23 minggu atau ketokonazol 100 mg/hari selama 1 bulan.

Prognosis baik, asalkan kelembapan dan kebersihan kulit selalu dijaga.


Sumber : Siregar, R.S. Buku Saripati penyakit kulit. Jakarta : EGC