Anda di halaman 1dari 42

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNIK SISTEM TERMAL


KONDUKSI MELALUI DINDING DATAR

Oleh:
Lutfita Diaz A
NIM A1H013046

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2015

I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Akhir-akhir ini aplikasi mengenai ilmu perpindahan kalor sudah


berkembang pesat. Hampir semua hal yang ada sekitar kita berhubungan dengan
ilmu ini. Kalor merupakan salah satu bentuk energi yang dapat berpindah dari
suatu tempat ke tempat yang lain, secara alami kalor berpindah dari benda yang
bersuhu tinggi ke benda yang bersuhu rendah. Seiring berjalannya waktu, kalor
dianggap sebagai suatu bentuk energi yang berkaitan erat dengan suhu. Kajian
lanjut menunjukkan bahwa kalor dapat berpindah melalui tiga cara yaitu,
konduksi, konveksi dan radiasi. Apabila dua jenis benda yang memiliki
temperatur berbeda saling berkontak termal, maka temperatur benda yang lebih
panas akan perlahan mendingin, sedangkan temperatur benda yang lebih dingin
akan menjadi panas hingga suhu tertentu. Peristiwa tersebut terjadi karena adanya
perpindahan kalor antara dua benda yang berkontak termal. Perpindahan panas
yang mana partikel-partikel dalam medium perpindahan panas tersebut tidak
berpindah disebut konduksi. Pada peristiwa konduksi, koefisien perpindahan
panas dan koefisien kontak merupakan faktor yang penting, yang dalam
percobaan ini akan ditentukan besarnya untuk dua unit yang digunakan dalam
percobaan.
Proses perpindahan kalor dapat terjadi dalam beberapa kategori yang dibagi
berdasarkan cara perambatannya. Salah satu jenis perpindahan kalor ialah
konduksi. Perpindahan kalor secara konduksi dibedakan menjadi dua, yaitu
konduksi tunak dan konduksi tak-tunak. Aplikasi dari konduksi tunak ini ialah

pada proses insulasi. Zaman ini, sistem insulasi digunakan pada banyak kasus.
Salah satu penerapan sistem insulasi yang dikenal ialah sistem insulasi perpipaan.
Fluida yang dialirkan dalam pipa memiliki kondisi yang perlu dipertahankan
sehingga membutuhkan sistem insulasi yang baik. contoh lain ialah sistem
insulasi pada oven dan kulkas. Oleh karena, hal tersebut diatas maka perlu
dipelajari dengan baik sistem perpipaan, diantaranya ialah tebal kritis insulasi,
tahanan kalor tergabung, dan konduktivitas termal.
Perpindahan kalor konduksi tak-tunak memiliki perbedaan dengan konduksi
tunak dimana pada konduksi tak-tunak terjadi perubahan pada energi
internal.contoh dari konduksi tak-tunak ialah proses pemanasan dan pendinginan
makanan. Pada proses ini terjadi aliran kalor yang tidak langsung setimbang
secara termal. Aplikasi dari hukum fourier ini membahas aliran kapasitas kalor
tergabung, aliran kalor transien pada benda semi-infinite, batasan-batasan
konveksi, dan angka biot, angka fourier, serta bagan heisler.
B. Tujuan
1.

Memahami karakteristik pindah panas secara konduksi pada dinding datar

2.

Menghitung laju pindah panas konduksi pada dinding datar

II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Pengertian Konduksi
Konduksi adalah proses perpindahan kalor dimana panas mengalir dari

tempat yang suhunya tinggi ke tempat yang suhunya lebih rendah, tetapi
medianya tetap. Perpindahan kalor secara konduksi tidak hanya terjadi pada
padatan saja tetapi bisa juga terjadi pada cairan ataupun gas, hanya saja
konduktivitas terbesar pada padatan.
Proses perpindahan kalor secara konduksi bila dilihat secara atomik
merupakan pertukaran energi kinetik antar molekul (atom), dimana partikel yang
energinya rendah dapat meningkat dengan menumbuk partikel dengan energi yang
lebih tinggi. Konduksi terjadi melalui getaran dan gerakan elektron bebas.
Berdasarkan perubahan suhu menurut waktu, konduksi dapat dibagi menjadi dua,
yaitu konduksi tunak dan konduksi tidak tunak.
Pada zat padat, energi kalor tersebut dipindahkan hanya akibat adanya
vibrasi dari atom- atom zat padat yang saling berdekatan. Hal ini disebabkan
karena zat padat merupakan zat dengan gaya intermolekular yang sangat kuat,
sehingga atom-atomnya tidak dapat bebas bergerak, oleh sebab itu perpindahan
kalor hanya dapt terjadi melalui proses vibrasi. Sedangkan proses konduksi pada
fluida disebabkan karena pengaruh secara langsung karena atom-atomnya dapat
lebih bebas bergerak dibandingkan dengan zat padat.
Konduksi merupakan suatu proses perpindahan kalor secara spontan tanpa
disertai perpindahan partikel media karena adanya perbedaan suhu, yaitu dari suhu
yang tinggi ke suhu yang rendah.
Konduksi atau hantaran kalor pada banyak materi dapat digambarkan
sebagai hasil tumbukan molekul-molekul. Sementara satu ujung benda
dipanaskan, molekul-molekul di tempat itu bergerak lebih cepat. Sementara itu,

tumbukan dengan molekul-molekul yang langsung berdekatan lebih lambat,


mereka mentransfer sebagian energi ke molekul-molekul lain, yang lajunya
kemudian bertambah. Molekul-molekul ini kemudian juga mentransfer sebagian
energi mereka dengan molekul-molekul lain sepanjang benda tersebut. Dengan
demikian, energi gerak termal ditransfer oleh tumbukan molekul sepanjang benda.
Hal inilah yang mengakibatkan terjadinya konduksi.
Konduksi atau hantaran kalor hanya terjadi bila ada perbedaan suhu.
Berdasarkan eksperimen, menunjukkan bahwa kecepatan hantaran kalor melalui
benda yang sebanding dengan perbedaan suhu antara ujung-ujungnya.Kecepatan
hantaran kalor juga bergantung pada ukuran dan bentuk benda. Untuk mengetahui
secara kuantitatif, perhatikan hantaran kalor melalui sebuah benda uniform
tampak seperti pada gambar berikut.

Gambar 1. Mekanisme konduksi


Konduksi dapat dibagi menjadi dua berdasarkan berubah atau tidaknya suhu
terhadap waktu, yaitu konduksi tunak (steady) dan konduksi tak tunak (unsteady).
Konduksi tunak dapat dijelaskan sebagai konduksi ketika suhu yang dihantarkan
tidak berubah atau distribusi suhu konstan terhadap waktu. Sebaliknya, konduksi
tak tunak jika suhu berubah terhadap waktu.

Perpindahan kalor secara konduksi dibedakan menjadi dua, yaitu konduksi tunak
dan konduksi tak-tunak. Aplikasi dari konduksi tunak ini ialah pada proses
insulasi. Zaman ini, sistem insulasi digunakan pada banyak kasus. Salah satu
penerapan sistem insulasi yang dikenal ialah sistem insulasi perpipaan. Fluida
yang dialirkan dalam pipa memiliki kondisi yang perlu dipertahankan sehingga
membutuhkan sistem insulasi yang baik. contoh lain ialah sistem insulasi pada
oven dan kulkas. Oleh karena, hal tersebut diatas maka perlu dipelajari dengan
baik sistem perpipaan, diantaranya ialah tebal kritis insulasi, tahanan kalor
tergabung, dan konduktivitas termal.
Perpindahan kalor konduksi tak-tunak memiliki perbedaan dengan konduksi tunak
dimana pada konduksi tak-tunak terjadi perubahan pada energi internal.contoh
dari konduksi tak-tunak ialah proses pemanasan dan pendinginan makanan. Pada
proses ini terjadi aliran kalor yang tidak langsung setimbang secara termal.
Aplikasi dari hukum fourier ini membahas aliran kapasitas kalor tergabung, aliran
kalor transien pada benda semi-infinite, batasan-batasan konveksi, dan angka biot,
angka fourier, serta bagan heisler.
2.2 Konduktivitas Thermal(Daya Hantar Panas)
Tetapan kesebandingan (k) adalah sifat fisik bahan atau material yang
disebut konduktivitas termal. Pada umumnya konduktivitas termal itu sangat
tergantung pada suhu.Konduktivitas termal menunjukkan seberapa cepat bahan itu
dapat menghantarkan panas konduksi. Pada umumnya nilai (k) dianggap tetap,
namun sebenarnya nilai k dipengaruhi oleh suhu (T) (Anonim 1, 2014).
Tabel 1.1 Konduktivitas Termal Berbagai Bahan pada 0 oC.

Konduktivitas Termal Bahan


(K)
Perak ( murni )
Tembaga ( murni )
Aluminium ( murni )
Nikel ( murni )
Besi ( murni )
Baja karbon, 1% C
Timbal (murni)
Baja karbon-nikel
Kuarsa ( sejajar sumbu )
Magnesit
Marmar
Batu pasir
Kaca, jendela
Kayu maple atau ek
Serbuk gergaji
Wol kaca
Air-raksa
Air
Amonia
Minyak lumas, SAE 50
Freon 12, 22FCCI
Hidrogen
Helium
Udara
Uap air ( jenuh )
Karbon dioksida
Sumber:Rudiwarman, 2011.
Konduktivitastermal

merupakan

W/m.C

Btu/h . ft . F

410
385
202
93
73
43
35
16,3
41,6
4,15
2,08-2,94
1,83
0,78
0,17
0,059
0,038
8,21
0,556
0,540
0,147
0,073
0,175
0,141
0,024
0,0206
0,0146

237
223
117
54
42
25
20,3
9,4
24
2,4
1,2-1,7
1,06
0,45
0,096
0,034
0,022
4,74
0,327
0,312
0,085
0,042
0,101
0,081
0,0139
0,0119
0,00844

suatubesaran

intensif

bahan yang

menunjukkan kemampuan untuk menghantarkan panas (Anonim 2, 2014).


Konduktivitas

termal

adalah

suatu

fenomena transport dimana

perbedaan

temperatur menyebabkan transfer energi termal dari satu daerah benda panas ke
daerah yang sama pada temperatur yang lebih rendah.Konduktivitas termal dari
material adalah laju perpindahan panas dengan konduksi per satuan panjang per

derajat Celcius.Hal ini dinyatakan dalam satuan W/mC.Berdasarkan daya hantar


kalor, benda dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Konduktor bahan yang mudah dalam menghantarkan kalor (mempunyai
konduktivitas yang baik)
Contoh :aluminium, besi, baja, tembaga
b. Isolatorbahan yang lebih sulit dalam menghantarkan kalor (mempunyai
konduktivitas yang jelek)
Contoh :plastik, kayu, kain, kertas, kaca
(Anonim 1, 2014).
2.3 Perpindahan Kalor Konduksi di dalam Zat Padat
Aliran kalor konduksi terjadi jika dalam suatu bahan kontinu terdapat
gradient suhu, maka kalor akan mengalir tanpa disertai oleh suatu gerakan zat.
Pada logam-logam padat, konduksi termal merupakan akibat dari gerakan elektron
yang tidak terikat. Konduktivitas termal berhubungan erat sekali dengan
konduktivitas listrik. Pada zat padat yang bukan penghantar listrik, konduksi
termal merupakan akibat dari transfer momentum oleh masing-masing molekul di
samping gradient suhu. Contoh perpindahan kalor secara konduksi antara lain:
perpindahan kalor pada logam cerek pemasak air atau batang logam pada dinding
tungku (Anonim 4, 2014)
Hubungan dasar yang menguasai aliran kalor melalui konduksi adalah
kesebandingan antara laju aliran kalor melintasi permukaan isothermal dan
gradient suhu yang terdapat pada permukaan itu. Hubungan umum ini disebut

Hukum Fourier yang berlaku pada setiap lokasi di dalam suatu benda, pada setiap
waktu. Hukum tersebut dapat dituliskan sebagai:
dq
T
=k
dA
n

(1)

dimana A = luas permukaan isothermal yang tegak lurus terhadap arah aliran
kalor(m)
n = jarak, diukur tegak lurus terhadap permukaan itu(m / det)
q = laju aliran kalor melintas permukaan itu pada arah normal terhadap
permukaan(kj / det,W)
T = suhu( C, F )
k = konstanta proporsionalitas (tetapan kesebandingan)(W/m.C)
(Tim Penyusun,2014).
Konduksi pada kondisi distribusi suhu konstan disebut konduksi keadaan
stedi (steady-state conduction). Pada keadaan stedi, T hanya merupakan fungsi
posisi saja dan laju aliran kalor pada setiap titik pada dinding itu konstan. Untuk
aliran stedi satu-dimensi, persamaan (1) dapat dituliskan :
q
dT
=k
A
dn
(2)
Konstanta proporsionalitas k di atas adalah suatu sifat fisika bahan yang disebut
konduktivitas termal (Tim Penyusun,2014).
2.4 Aliran Kalor Melintasi Lempeng

(Tim Penyusun, Suatu lempeng rata seperti terlihat pada Gambar 1.1,
diandaikan bahwa (k) tidak tergantung pada suhu dan luas dinding sangat besar
dibandingkan dengan tebalnya, sehingga kehilangan kalor dari tepi-tepinya dapat
diabaikan. Permukaan-permukaan luar dinding tegak lurus terhadap bidang
gambar, dan kedua permukaan itu isothermal.Arah aliran kalor tegak lurus
terhadap dinding. Karena keadaan stedy, tidak ada penumpukan ataupun
pengurasan kalor di dalam lempeng itu, dan q konstan di sepanjang lintas aliran
kalor. Jika x adalah jarak dari sisi yang panas, maka persamaan 2 dapat
dituliskan :
q
dT
=k
A
dx

(3)

T1

T2

x1

x2

Gambar 2. Pemanasan Suatu Lempeng pada Keadaan Stedy.


Sumber :Tim Penyusun,2014.
Oleh karena hanya x dan T yang merupakan variabel dalam Pers. (3), integrasi
langsung akan menghasilkan :

q
T 1T 2 T
=k
=
A
x 2x 1 x
Dimana T

(4)

= beda suhu melintas lempeng

= tebal lempeng
(Tim Penyusun,2014).

Bila konduktivitas termal k berubah secara linier dengan suhu, maka k

diganti dengan nilai rata-rata

k . Nilai

dapat dihitung dengan mencari

rata-rata aritmetik dari k pada kedua suhu permukaan, T1 dan T2, atau dengan
menghitung rata-rata aritmetik suhu dan menggunakan nilai k pada suhu itu.
Persamaan (4) dapat dituliskan dalam bentuk :
q=

T
R

(5)

dimana R adalah tahanan termal zat padat antara titik 1 dan titik 2 (Tim
Penyusun,2014).

Gambar 1.3Dinding Rata dalam Susunan Seri


ka

TI

kb

kc

TO

xa

xb

xc

Sumber :Tim Penyusun,2014


Karena dalam aliran kalor stedi semua kalor yang melalui tahanan
pertama harus seluruhnya melalui tahanan kedua pula, dan lalu tahanan ketiga,
maka qa, qb dan qc tentulah sama, dan ketiganya dapat ditandai dengan q.
q k a T a k b T b k c T c
=
=
=
A
xa
xb
xc

(6)

Selanjutnya,

q xa

xb

xc

( T 1T 8 ) =( T a + T b + T c )= A k + k + k
a
b
c

(7)

atau
q
=U (T I T O )
A

(8)

dimana
x x x
1
= a + b + c =R
U
ka kb kc

(9)

U adalah overall heat transfer coefficient2014).

Koefisien

perpindahan

panas

menyeluruh

(overall

heat

transfer

coefficient,U) merupakan aliran panas menyeluruh sebagai hasil gabungan proses


konduksi dan konveksi .Koefisien perpindahan panas menyeluruh dinyatakan
dengan W/m2oC. Koefisien perpindahan panas menyeluruh menyatakan mudah
atau tidaknya panas berpindah dari fluida panas ke fluida dingin. Besar kalor yang
mengalir per satuan waktu pada proses konduksi ini tergantung pada :
a. Berbanding lurus dengan luas penampang batang
b. Berbanding lurus dengan selisih suhu kedua ujung batang, dan
c. Berbanding terbalik dengan panjang batang
(Anonim 2, 2014).

III.

METODOLOGI

A Alat dan Bahan

Bak multilapis

Hybrid recorder dan termokopel (alat ukur suhu)

Penangkas/kompor

Heater

Panci

Air

B Prosedur Kerja

Ukur suhu awal dan dinding observasi

Tuangkan air yang telah dipanaskan pada suhu 100 C kedalam bak air
multilapis, perthanankan suhu air tersebut sampai pengukuran selesai

Ukur perubahan suhu yang terjadi pada setiap titik observasi dengan
interval waktu 2 menit selama 30 menit

Catat hasil pengukuran

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Pengeringan Ubi
1

Dengan oven 105C 60 menit


massa awalmassa pa datan
a Ka (BB%) =
massa awal
=

20 gram17 gram
20 gram

x 100%

x 100%

= 15 %
2

Sinar Matahari

Waktu

Suhu (C)

Berat bahan (gram)

Ka (%)

10
20
30
40
50
60

31
30
30
32
29
30

19.86
19.48
19.23
19.02
18.76
18.55

6,55
4,65
3,4
2,35
1,05
0

Ka (BB%) pengovenan

Berat air

Ka bb
100

7,25
100

x berat bahan awal

x 20 gram

= 1,45 gram

Padatan

= berat bahan awal air


= 20 gram 1,45 gram
= 18,55 gram

Ka t = 10
Padatan sama (Ya)

Air = awal padatan


= m1 ya

Ka =

air
100
m

Air1 = m1 ya

Ka1 =

air
m x 100%

= 19,86 18.55
= 1,31 gram

Air2 = m2 ya

1,31
20

x 100%

= 6,55 %
air
Ka2 = m x 100%

= 19.48 18,55
= 0,93 gram

Air3 = m3 ya
= 19.23 18,55

0,93
20

x 100%

= 4,65 %
air
Ka3 = m x 100%

= 0,68 gram

0,68
920

x 100%

= 3,4 %

Air4 = m4 ya
= 19,02 18,55
= 0,47 gram

Ka4 =

air
m x 100%
0,47
20

x 100%

= 2,35 %

Air5 = m5 ya
= 18,76 18,55
= 0,21 gram

Ka5 =

air
m x 100%
0,21
20

x 100%

= 1,05 %

Air6 = m6 ya
= 18,55 18,55
= 0 gram

Ka6 =

air
m x 100%
0

= 20 x 100%
=0%

B. Pembahasan

Dalam bahasa ilmiah pengeringan adalah penghidratan, yang berarti


menghilangkan air dari suatu bahan. Proses pengeringan atau penghidratan
berlaku apabila bahan yang dikeringkan kehilangan sebahagian atau keseluruhan
air yang dikandungnya. Proses utama yang terjadi pada proses pengeringan adalah
penguapan. Penguapan terjadi apabila air yang dikandung oleh suatu bahan
teruap, yaitu apabila panas diberikan kepada bahan tersebut. Panas ini dapat
diberikan melalui berbagai sumber seperti kayu api, minyak dan gas, arang baru
ataupun tenaga surya.
Dengan kata lain pengeringan merupakan proses penghilangan sejumlah
air dari material. Dalam pengeringan, air dihilangkan dengan prinsip perbedaan
kelembaban antara udara pengering dengan bahan makanan yang dikeringkan.
Material biasanya dikontakkan dengan udara kering yang kemudian terjadi
perpindahan massa air dari material ke udara pengering.
Dalam sektor pertanian sistem pengeringan yang umum digunakan
adalah tenaga surya. Pada sistem tenaga surya ini, bahan diexpose ke sinar surya
secara langsung maupun tidak langsung. Uap air yang terjadi dipindahkan dari
tempat pengeringan melalui aliran udara
Pengeringan makanan memiliki dua tujuan utama. Tujuan pertama adalah
sebagai sarana pengawetan makanan. Mikroorganisme yang mengakibatkan
kerusakan makanan tidak dapat berkembang dan bertahan hidup pada lingkungan
dengan kadar air yang rendah. Selain itu, banyak enzim yang mengakibatkan
perubahan kimia pada makanan tidak dapat berfungsi tanpa kehadiran air. Tujuan
kedua adalah untuk meminimalkan biaya distribusi bahan makanan karena

makanan yang telah dikeringkan akan memiliki berat yang lebih rendah dan
ukuran yang lebih kecil.
Faktor- Faktor yang mempengaruhi proses pengeringan
1. Luas Permukaan
Makin luas permukaan bahan makin cepat bahan menjadi kering Air menguap
melalui permukaan bahan, sedangkan air yang ada di bagian tengah akan
merembes ke bagian permukaan dan kemudian menguap. Untuk mempercepat
pengeringan umumnya bahan pangan yang akan dikeringkan dipotong-potong
atau di iris-iris terlebih dulu. Hal ini terjadi karena:
(1) pemotongan atau pengirisan tersebut akan memperluas permukaan bahan dan
permukaan yang luas dapat berhubungan dengan medium pemanasan sehingga air
mudah keluar,
(2) potongan-potongan kecil atau lapisan yang tipis mengurangi jarak dimana
panas harus bergerak sampai ke pusat bahan pangan. Potongan kecil juga akan
mengurangi jarak melalui massa air dari pusat bahan yang harus keluar ke
permukaan bahan dan kemudian keluar dari bahan tersebut.(Supriyono, 2003)
2. Perbedaan Suhu dan Udara Sekitarnya
Semakin besar perbedaan suhu antara medium pemanas dengan bahan pangan
makin cepat pemindahan panas ke dalam bahan dan makin cepat pula
penghilangan air dari bahan. Air yang keluar dari bahan yang dikeringkan akan
menjenuhkan udara sehingga kemampuannya untuk menyingkirkan air berkurang.
Jadi dengan semakin tinggi suhu pengeringan maka proses pengeringan akan
semakin cepat. Akan tetapi bila tidak sesuai dengan bahan yang dikeringkan,

akibatnya akan terjadi suatu peristiwa yang disebut "Case Hardening", yaitu suatu
keadaan dimana bagian luar bahan sudah kering sedangkan bagian dalamnya
masih basah.(Supriyono, 2003)
3. Kecepatan Aliran Udara
Makin tinggi kecepatan udara, makin banyak penghilangan uap air dari
permukaan bahan sehinngga dapat mencegah terjadinya udara jenuh di permukaan
bahan. Udara yang bergerak dan mempunyai gerakan yang tinggi selain dapat
mengambil uap air juga akan menghilangkan uap air tersebut dari permukaan
bahan pangan, sehingga akan mencegah terjadinya atmosfir jenuh yang akan
memperlambat penghilangan air. Apabila aliran udara disekitar tempat
pengeringan berjalan dengan baik, proses pengeringan akan semakin cepat, yaitu
semakin mudah dan semakin cepat uap air terbawa dan teruapkan.(Supriyono,
2003)
4. Tekanan Udara
Semakin kecil tekanan udara akan semakin besar kemampuan udara untuk
mengangkut air selama pengeringan, karena dengan semakin kecilnya tekanan
berarti kerapatan udara makin berkurang sehingga uap air dapat lebih banyak
tetampung dan disingkirkan dari bahan pangan. Sebaliknya jika tekanan udara
semakin besar maka udara disekitar pengeringan akan lembab, sehingga
kemampuan menampung uap air terbatas dan menghambat proses atau laju
pengeringan.
5. Kelembapan Udara

Makin lembab udara maka Makin lama kering sedangkan Makin kering udara
maka makin cepat pengeringan. Karena udara kering dapat mengabsobsi dan
menahan uap air Setiap bahan mempunyai keseimbangan kelembaban nisbi
masing-masing. kelembaban pada suhu tertentu dimana bahan tidak akan
kehilangan air (pindah) ke atmosfir atau tidak akan mengambil uap air dari
atmosfir (Supriyono, 2003).
Proses pengeringan pada prinsipnya menyangkut proses pindah panas dan
pindah massa yang terjadi secara bersamaan (simultan). Pertama panas harus di
transfer dari medium pemanas ke bahan. Selanjutnya setelah terjadi penguapan
air, uap air yang terbentuk harus dipindahkan melalui struktur bahan ke medium
sekitarnya. Proses ini akan menyangkut aliran fluida di mana cairan harus di
transfer melalui struktur bahan selama proses pengeringan berlangsung. Jadi
panas harus di sediakan untuk menguapkan air dan air harus mendifusi melalui
berbagai macam tahanan agar supaya dapat lepas dari bahan dan berbentuk uap air
yang bebas. Lama proses pengeringan tergantung pada bahan yang di keringkan
dan cara pemanasan yang digunakan. Makin tinggi suhu dan kecepatan aliran
udara pengeringan makin cepat pula proses pengeringan berlangsung. Makin
tinggi suhu udara pengering, makin besar energi panas yang di bawa udara
sehingga makin banyak jumlah massa cairan yang di uapkan dari permukaan
bahan yang dikeringkan. Jika kecepatan aliran udara pengering makin tinggi maka
makin cepat massa uap air yang dipindahkan dari bahan ke atmosfer. Kelembaban
udara berpengaruh terhadap proses pemindahan uap air. Pada kelembaban udara
tinggi, perbedaan tekanan uap air didalam dan diluar bahan kecil, sehingga

pemindahan uap air dari dalam bahan keluar menjadi terhambat. Pada
pengeringan dengan menggunakan alat umumnya terdiri dari tenaga penggerak
dan kipas, unit pemanas (heater) serta alat-alat kontrol. Sebagai sumber tenaga
untuk mengalirkan udara dapat digunakan blower. Sumber energi yang dapat
digunakan pada unit pemanas adalah tungku, gas, minyak bumi, dan elemen
pemanas listrik.

Berdasarkan

prosesnya

dikenal

dua

macam

pengeringan

yaitu

pengeringan secara alami dengan menggunakan matahari dan secara mekanis


dengan menggunakan dryer, berikut merupakan perbedaannya,
1. Pengeringan secara alami dengan sinar matahari
Pengeringan ditingkat petani Indonesia sebagian besar dilakukan dengn
sinar matahari dan hanya sebagin besar petani yang melakukan pengeringan
dengan mesin pengering. Pengeringan dengan sinar matahari dapat dilakukan
dengan mudah terutama di daerah-daerah tropis seperti Indonesia. Akan tetapi

Indonesia panen umumnya jatuh pada musim hujan sehingga pengeringan


menjadi masalah.
Menurut Taib dkk, (1998), pengeringan alamiah memanfaatkan radiasi
surya, suhu, dan kelembaban udara sekitar serta kecepatan angin untuk proses
pengeringan. Pengeringan dengan cara penjemuran ini mempunyai beberapa
kelemahan antara lain tergantung cuaca, sukar dikontrol, memerlukan tempat
penjemuran yang luas, mudah terkontaminasi, dan memerlukan waktu yang
lama.
Alat pengering yang menggunakan energi surya terdiri atas dua jenis
berdasarkan prinsip kerja alat dalam memanfaatkan radiasi untuk proses
pengeringan yaitu sistem pasif dan sistem hibrid. Pengeringan sistem pasif
memanfaatkan radiasi surya dan kecepatan angin tanpa tambahan sumber
energy selain ebergi surya. Pengeringan sistem hibrid memanfaatkan energy
surya dengan tambahan sumber energi lain (listrik, bahan bakar, dan lain-lain).
2. Pengeringan secara mekanis dengan menggunakan dryer
Pengeringan dengan menggunakan alat mekanis (pengeringan buatan)
yang menggunakan tambahan panas memberikan beberapa keuntungan
diantaranya tidak memerlukan cuaca, kapasitas pengeringan dapat dipilih
sesuai dengan yang diperlukan, tidak memerlukan tempat yang luas, serta
kondisi pengering dapat dikontrol. Pengering ini memerlukan energi untuk
memanaskan alat pengering, mengimbangi radiasi panas yang keluar dari alat,
memanaskan bahan, menguapkan air bahan, serta menggerakkan udara.
Alat pengering buatan pada umumnya terdiri dari tenaga penggerak dan
kipas, unit pemanas (heater) serta alat-alat kontrol. Sebagai sumber tenaga
untuk mengalirkan udara penggerak dapat digunakan motor bakar atau motor
listrik. Untuk alat pengering dengan unit pemanas, beberapa macam sumber

energi panas yang biasanya dipakai adalah gas, minyak bumi, batubara, atau
elemen pemanas listrik.
Kadar air adalah persentase kandungan air suatu bahan yang dapat
dinyatakan berdasarkan berat basah (wet basis) atau berdasarkan berat kering (dry
basis). Kadar air berat basah mempunyai batas maksimum teoritis sebesar 100
persen, sedangkan kadar air berdasarkan berat kering dapat lebih dari 100 persen.
Adapun beberapa jenis mesin pengering diantaranya, yaitu :
1.

Tray dryer
Pengering baki (tray dryer) disebut juga pengering rak atau pengering

kabinet, dapat digunakan untuk mengeringkan padatan bergumpal atau pasta, yang
ditebarkan pada baki logam dengan ketebalan 10-100 mm. Pengeringan jenis baki
atau wadah adalah dengan meletakkan material yang akan dikeringkan pada baki
yang lansung berhubungan dengan media pengering. Cara perpindahan panas
yang umum digunakan adalah konveksi dan perpindahan panas secara konduksi
juga dimungkinkan dengan memanaskan baki tersebut.
Rangka bak pengering terbuat dari besi, rangka bak pengerik di bentuk dan
dilas, kemudian dibuat dinding untuk penyekat udara dari bahan plat seng dengan
tebal 0,3mm. Dinding tersebut dilengketkan pada rangka bak pengering dengan
cara di revet serta dilakukan pematrian untuk menghindari kebocoran udara panas.
Kemudian plat seng dicat dengan warna hitam buram,agar dapat menyerap panas
dengan lebih cepat. Pada bak pengering dilengkapi dengan pintu yang berguna
untuk memasukan dan mengeluarkan produk yang dikeringkan. Di pintu tersebut
dibuat kaca yang mamungkinkan kita dapat mengetahui temperature tiap rak,
dengan cara melihat thermometer yang sengaja digantungkan pada setiap rak

pengering. Di bagian atas bak pengering dibuat cerobong udara, bertujuan untuk
memperlancar sirkulasi udara pada proses pengeringan.
2. Drum (Rotary) Dryer
Rotary dryer atau bisa disebut drum dryer merupakan alat pengering
berbentuk sebuah drum yang berputar secara kontinyu yang dipanaskan dengan
tungku atau gasifier. Alat pengering ini dapat bekerja pada aliran udara melalui
poros silinder pada suhu 1200-1800 oF tetapi pengering ini lebih seringnya
digunakan pada suhu 400-900 oF.
Rotary dryer sudah sangat dikenal luas di kalangan industri karena proses
pengeringannya jarang menghadapi kegagalan baik dari segi output kualitas
maupun kuantitas. Namun sejak terjadinya kelangkaan dan mahalnya bahan bakar
minyak dan gas, maka teknologi rotary dryer mulai dikembangkan untuk
berdampingan dengan teknologi bahan bakar substitusi seperti burner batubara,
gas sintesis dan sebagainya.
Pengering rotary dryer biasa digunakan untuk mengeringkan bahan yang
berbentuk bubuk, granula, gumpalan partikel padat dalam ukuran besar.
Pemasukkan

dan

pengeluaran

bahan

terjadi

secara

otomatis

dan

berkesinambungan akibat gerakan vibrator, putaran lubang umpan, gerakan


berputar dan gaya gravitasi. Sumber panas yang digunakan dapat berasal dari uap
listrik, batubara, minyak tanah dan gas. Debu yang dihasilkan dikumpulkan
oleh scrubber dan penangkap air elektrostatis.
Secara umum, alat rotary dryer terdiri dari sebuah silinder yang berputar di
atas sebuah bearing dengan kemiringan yang kecil menurut sumbu horisontal,

rotor, gudang piring, perangkat transmisi, perangkat pendukung, cincin meterai,


dan suku cadang lainnya.. Panjang silinder biasanya bervariasi dari 4 sampai lebih
dari 10 kali diameternya (bervariasi dari 0,3 sampai 3 m). Feed padatan
dimasukkan dari salah satu ujung silinder dan karena rotasi, pengaruh ketinggian
dan slope kemiringan, produk keluar dari salah satu ujungnya. Pengering putar ini
dipanaskan dengan kontak langsung gas dengan zat padat atau dengan gas panas
yang mengalir melalui mantel luar, atau dengan uap yang kondensasi di dalam
seperangkat tabung longitudinal yang dipasangkan pada permukaan dalam
selongsong. (Heriana, dkk., 2012)
Pada alat pengering rotary dryer terjadi dua hal yaitu kontak bahan dengan
dinding dan aliran uap panas yang masuk ke dalam drum. Pengeringan yang
terjadi akibat kontak bahan dengan dinding disebut konduksi karena panas
dialirkan melalui media yang berupa logam. Sedangkan pengeringan yang terjadi
akibat kontak bahan dengan aliran uap disebut konveksi karena sumber panas
merupakan bentuk aliran. Pada pengeringan dengan menggunakan alat ini
penyerapan panas mudah dilakukan dan terjadi penyusutan bobot yang lebih tajam
dibandingkan dengan penurunan pembobotan yang dialami tray dryer.
Pengeringan pada rotary dryer dilakukan pemutaran berkali-kali sehingga
tidak hanya permukaan atas yang mengalami proses pengeringan, namun juga
pada seluruh bagian yaitu atas dan bawah secara bergantian,

sehingga

pengeringan yang dilakukan oleh alat ini lebih merata dan lebih banyak
mengalami penyusutan. Selain itu rotary ini mengalami pengeringan berturutturut selama satu jam tanpa dilakukan penghentian proses pengeringan. Pengering

rotary ini terdiri dari unit-unit silinder, dimana bahan basah masuk diujung yang
satu dan bahan kering keluar dari ujung yang lain.
Proses pengeringan terjadi ketika bahan dimasukkan ke dalam silinder yang
berputar kemudian bersamaan dengan itu aliran panas mengalir dan kontak
dengan bahan. Didalam drum yang berputar terjadi gerakan pengangkatan bahan
dan menjatuhkannya dari atas ke bawah sehingga kumpulan bahan basah yang
menempel tersebut terpisah dan proses pengeringan bisa berjalan lebih efektif.
Pengangkatan memerlukan desain yang hati-hati untuk mencegah dinding yang
asimetri. Selain itu bahan bergerak dari bagian ujung dryer keluar menuju bagian
ujung lainnya akibat kemiringan drum. Bahan yang telah kering kemudian
keluar melalui suatu lubang yang berada di bagian belakang pengering drum.
Sumber panas didapatkan dari gas yang diubah menjadi uap panas dengan cara
pembakaran.
Kontak yang terjadi antara padatan dan gas pada alat pengering rotary
dryer dilengkapi dengan flights, yang diletakkan di sepanjang silinder rotary
dryer. Volume material yang ditransport oleh flights antara 10 sampai 15 % dari
total volume material yang terdapat di dalam rotary dryer. Mekanismenya sebagai
berikut, pada saat silinder pengering berputar, padatan diambil keatas oleh flights,
terangkat pada jarak tertentu kemudian terhamburkan melalui udara. Kebanyakan
pengeringan terjadi pada saat seperti proses ini, dimana padatan berkontak dengan
gas. Flights juga berfungsi untuk mentransfer padatan melalui silinder. (Heriana,
dkk., 2012)

Proses yang terjadi di dalam rotary dryer sangat kompleks dan masih sedikit
dimengerti dengan baik sehingga menjadi obyek penelitian dari banyak peneliti.
Untuk dapat menganalisis dan mendesain sistem rotary dryer secara benar dan
meyakinkan, perlu difahami fenomena perpindahan panas, perpindahan massa dan
transportasi partikel padat di dalam rotary dryer. Mula-mula panas dipindahkan
dari gas ke padatan basah, karena adanya driving force suhu, dan temperatur
padatan akan naik dan kehilangan uap air. Uap air berpindah ke aliran gas karena
adanya gradien tekanan uap. Hal ini merupakan proses simultan dari perpindahan
massa dan perpindahan panas yang terjadi pada saat partikel padat bergerak secara
kontinyu membentuk pancaran berputar di seluruh silinder dari masukan sampai
keluaran (Earle,1989). Metoda perpindahan panas yang terjadi adalah konveksi
dan konduksi.
Pada umumnya kebanyakan alat pengering, panas dipindahkan dengan lebih
dari satu cara, tetapi pengering industri tertentu (misalnya pengeringan makanan)
mempunyai satu metoda perpindahan panas yang dominan. Sedangkan
pada rotary dryer, perpindahan panas yang dominan adalah perpindahan panas
konveksi, panas yang diperlukan biasanya diperoleh dari kontak langsung antara
gas panas dengan padatan basah. Pengeringan dalam rotary dryer menggunakan
suhu tidak lebih dari 70oC dengan lama pengeringan 80-90 menit, dan
putaran rotary dryer 17-19 rpm. Untuk memperoleh hasil pengeringan yang baik
selain ditentukan oleh suhu dan putaran mesin juga ditentukan oleh kapasitas
mesin pengering. Kapasitas perbatch mesin pengering ditentukan oleh diameter
mesin itu.

Dalam merencanakan alat pengering rotary dryer hendaklah diketahui kadar


air input, kadar air output, densiti material, ukuran material, maksimum panas
yang diijinkan, sifat fisika atau kimia, kapasitas output, dan ketersediaan jenis
bahan bakar sehingga dapat ditentukan dimensi rotary dryer, sistem pemanas
(langsung atau tidak langsung), arah gas panas (co-current atau counter current),
volume dan tekanan udara, kecepatan dan tenaga putar, dan dimensi siklon.
Keuntungan penggunaan rotary/drum dryer sebagai alat pengering adalah :
1.

Dapat mengeringkan baik lapisan luar ataupun dalam dari suatu padatan

2.

Penanganan bahan yang baik sehingga menghindari terjadinya atrisi

3.

Proses pencampuran yang baik, memastikan bahwa terjadinya proses


Pengeringan bahan yang seragam/merata

4.

Efisiensi panas tinggi

5.

Operasi sinambung

6.

Instalasi yang mudah

7.

Menggunakan daya listrik yang sedikit

Kekurangan dari penggunaan pengering drum diantaranya adalah :


1.

Dapat menyebabkan reduksi kuran karena erosi atau pemecahan

2.

Karakteristik produk kering yang inkonsisten

3.

Efisiensi energi rendah

4.

Perawatan alat yang susah

5.

Tidak ada pemisahan debu yang jelas

(Heriana, dkk., 2012)


3. Spray dryer

Spray dryer merupakan suatu proses pengeringan untuk mengurangi kadar


air suatu bahan sehingga dihasilkan produk berupa bubuk melalui penguapan
cairan. Spray dryer menggunakan atomisasi cairan untuk membentuk droplet,
selanjutnya droplet yang terbentuk dikeringkan menggunakan udara kering
dengan suhu dan tekanan yang tinggi. Bahan yang digunakan dalam pengeringan
spry drying dapat berupa suspensi, dispersi maupun emulsi. Sementara produk
akhir yang dihasilkan dapat berupa bubuk, granula maupun aglomerat tergantung
sifat fisik-kimia bahan yang akan dikeringkan, desain alat pengering dan hasil
akhir produk yang diinginkan.
Prinsip dasar Spray drying adalah memperluas permukaan cairan yang akan
dikeringkan dengan cara pembentukan droplet yang selanjutnya dikontakkan
dengan udara pengering yang panas. Udara panas akan memberikan energi untuk
proses penguapan dan menyerap uap air yang keluar dari bahan.
Bahan (cairan) yang akan dikeringkan dilewatkan pada suatu nozzle (saringan
bertekanan) sehingga keluar dalam bentuk butiran (droplet) yang sangat halus.
Butiran ini selanjutnya masuk kedalam ruang pengering yang dilewati oleh aliran
udara panas. Hasil pengeringan berupa bubuk akan berkumpul dibagian bawah
ruang pengering yang selanjutnya dialirkan ke bak penampung.
4. Freeze dryer
Freeze Driyer merupakan suatu alat pengeringan yang termasuk kedalam
Conduction Dryer/ Indirect Dryer karena proses perpindahan terjadi secara tidak
langsung yaitu antara bahan yang akan dikeringkan (bahan basah) dan media
pemanas terdapat dinding pembatas sehingga air dalam bahan basah / lembab

yang menguap tidak terbawa bersama media pemanas. Hal ini menunjukkan
bahwa perpindahan panas terjadi secara hantaran (konduksi), sehingga disebut
juga Conduction Dryer/ Indirect Dryer.
Pengeringan beku (freeze drying) adalah salah satu metode pengeringan yang
mempunyai keunggulan dalam mempertahankan mutu hasil pengeringan,
khususnya untuk produk-produk yang sensitif terhadap panas.
Keunggulan pengeringan beku, dibandingkan metoda lainnya, antara lain adalah :
a. Dapat mempertahankan stabilitas produk (menghindari perubahan aroma,
warna, dan unsur organoleptik lain)
b. Dapat mempertahankan stabilitas struktur bahan (pengkerutan dan
perubahan bentuk setelah pengeringan sangat kecil)
c. Dapat meningkatkan daya rehidrasi (hasil pengeringan sangat berongga
danlyophile sehingga daya rehidrasi sangat tinggi dan dapat kembali ke sifat
fisiologis, organoleptik dan bentuk fisik yang hampir sama dengan sebelum
pengeringan).
Keunggulan-keunggulan tersebut tentu saja dapat diperoleh jika prosedur
dan proses pengeringan beku yang diterapkan tepat dan sesuai dengan
karakteristik bahan yang dikeringkan. Kondisi operasional tertentu yang sesuai
dengan suatu jenis produk tidak menjamin akan sesuai dengan produk jenis lain.
5. Fluidized Bed Dryer
Pengeringan hamparan terfluidisasi (Fluidized Bed Drying) adalah proses
pengeringan dengan memanfaatkan aliran udara panas dengan kecepatan tertentu

yang dilewatkan menembus hamparan bahan sehingga hamparan bahan tersebut


memiliki sifat seperti fluida.
Metode pengeringan fluidisasi digunakan untuk mempercepat proses
pengeringan dan mempertahankan mutu bahan kering. Pengeringan ini banyak
digunakan untuk pengeringan bahan berbentuk partikel atau butiran, baik untuk
industri kimia, pangan, keramik, farmasi, pertanian, polimer dan limbah. Proses
pengeringan dipercepat dengan cara meningkatkan kecepatan aliran udara panas
sampai bahan terfluidisasi. Dalam kondisi ini terjadi penghembusan bahan
sehingga

memperbesar

luas

kontak

pengeringan,

peningkatan

koefisien

perpindahan kalor konveksi, dan peningkatan laju difusi uap air.


Kecepatan minimum fluidisasi adalah tingkat kecepatan aliran udara
terendah dimana bahan yang dikeringkan masih dapat terfluidisasi dengan baik,
sedangkan kecepatan udara maksimum adalah tingkat kecepatan tertinggi dimana
pada tingkat kecepatan ini bahan terhembus ke luar ruang pengering.
6. Vacum dryer
Vakum berasal dari bahasa latin, vacuus, artinya kosong. Jadi vakum artinya
menghampakan suatu ruangan atau suatu kemutlakan dibawah nol tekanan. Sitem
ruang hampa dikepung oleh atmospir bumi. Untuk meciptakan ruang hampa
diperlukan pompa untuk mengeluarkan udara keluar dari sistem. Kebutuhan ini
merupakan arti pekerjaan dasar dari vakum.
Prosedur kerja pada saat praktikum yaitu yang pertama siapkan 2 potongan
bahan yang digunakan dan 2 buah wadah , kemudian menimbang berat masingmasing wadah dengan timbangan digital , lalu menimbang berat setiap wadah

dengan potongan bahan yang berbeda, dan catat hasilnya. Kemudian masukkan
potongan bahan dan wadahnya pada oven dengan suhu 105 0C (wadah ke 1), dan
pada wadah yang ke 2 di letakkan di bawah sinar matahari langsung. Kemudian
ukur berat potongan bahan pada wadah 1 setelah dioven selama 60 menit. Dan
ukur berat potongan bahan, setiap 10 menit sekali pada wadah 2 lalu ukur suhu
lingkungan dengan menggunakan termometer setiap kali potongan bahan diambil
untuk ditimbang dan hitung kadar air setiap menitnya. Setelah di hitung kita dapat
mengetahui massa bahan setelah dan sebelum di keringkan dari 2 metode tersebut
(metode pengeringan dengan sinar matahri dan metode dengan menggunakan alat
pengering oven) dan juga dapat mengetahui kadar air dari masing-masing
perlakuan. Setelah di hitung dan di lihat dari hasil perlakuan yang di dapat massa
bahan mengalami penurunan. Itu artinya kadar air yang terdapat pada bahan juga
berkurang.
Berdasarkan hasil praktikum yang telah di lakukan bila di lihat dari
keefektifan maka dapat di simpulkan bahwa yang lebih efektif adalah dengan
menggunakan metode pengeringan mekanis yaitu dengan menggunakan alat.
Alat yang digunakan pada saat praktikum yaitu oven. Dimana pada alat
pengering oven dapat di atur suhunya yaitu pada saat praktikum kami
menggunakan suhu 105oC , sementara jika pengeringan yang menggunakan
metode alami atau dengan pengeringan matahari langsung suhunya tidak
beraturan. Bila dibandingkan dengan literatur Sun Drying Pengeringan dengan
menggunakan sinar matahari sebaiknya dilakukan di tempat yang udaranya
kering dan suhunya lebih dari 100o Fahrenheit. Pengeringan dengan metode ini

memerlukan waktu 3-4 hari. Untuk kualitas yang lebih baik, setelah
pengeringan, panaskan bahan di oven dengan suhu 175 o Fahrenheit selama
10-15 menit untuk menghilangkan telur serangga dan kotoran lainnya.
Sedangkan pengeringan menggunakan oven dengan mengatur panas,
kelembaban, dan kadar air, oven dapat digunakan sebagai dehydrator. Waktu
yang diperlukan adalah sekitar 5-12 jam. Agar bahan menjadi kering,
temperature oven harus di atas 140o derajat Fahrenheit. Kelebihan Pengeringan
Buatan adalah suhu dan kecepatan proses pengeringan dapat diatur seuai
keinginan, tidak terpengaruh cuaca, sanitisi dan higiene dapat dikendalikan.
Metode pengeringan beserta kelebihan dan kekurangannya yaitu :
a. Pengeringan alami.
Pengeringan alami terdiri dari:
1.

Sun Drying Pengeringan dengan menggunakan sinar matahari sebaiknya


dilakukan di tempat yang udaranya kering dan suhunya lebih dari 100o
Fahrenheit. Pengeringan dengan metode ini memerlukan waktu 3-4 hari.
Untuk kualitas yang lebih baik, setelah pengeringan, panaskan bahan di
oven dengan suhu 175 o Fahrenheit selama 10-15 menit untuk
menghilangkan telur serangga dan kotoran lainnya.

2. Air Drying Pengeringan dengan udara berbeda dengan pengeringan


dengan menggunakan sinar matahari. Pengeringan ini dilakukan dengan
cara menggantung bahan di tempat udara kering berhembus. Misalnya di
beranda atau di daun jendela. Bahan yang biasa dikeringkan dengan
metode ini adalah kacang-kacangan.

Kelebihan Pengeringan Alami adalah tidak memerlukan keahlian dan


peralatan khusus, serta biayanya lebih murah. Dan kelemahan pengeringan
alami adalah membutuhkan lahan yang luas, sangat tergantung pada cuaca,
dan sanitasi hygiene sulit dikendalikan.
b. Pengeringan Buatan Pengeringan buatan terdiri dari:
1. Menggunakan alat Dehidrator Pengeringan makanan memerlukan
waktu yang lama. Dengan menggunakan alat dehydrator, makanan
akan kering dalam jangka waktu 6-10 jam. Waktu pengeringan
tergantung dengan jenis bahan yang kita gunakan.
2. Menggunakan oven Dengan mengatur panas, kelembaban, dan kadar
air, oven dapat digunakan sebagai dehidrator. Waktu yang diperlukan
adalah sekitar 5-12 jam. Lebih lama dari dehidrator biasa. Agar bahan
menjadi kering, temperature oven harus di atas 140o derajat
Fahrenheit. Kelebihan Pengeringan Buatan adalah suhu dan kecepatan
proses pengeringan dapat diatur seuai keinginan, tidak terpengaruh
cuaca, sanitisi dan higiene dapat dikendalikan.Kelemahan Pengeringan
Buatan adalah memerlukan keterampilan dan peralatan khusus, serta
biaya lebih tinggi dibanding pengeringan alami.
Pengeringan dilakukan dengan tujuan untuk memperpanjang umur simpan
produk melalui pengurangan water activity. Pengurangan ini dilakukan dengan
cara menghambat pertumbuhan mikroba dan aktivitas enzim, tanpa harus
menginaktifkannya. Dari tujuan tersebut dapat disimpulkan bahwa manfaat dari

pengeringan produk diantaranya untuk mengawetkan suatu bahan sehingga bahan


tersebut dapat bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama.
Kadar air merupakan pemegang peranan penting, kecuali temperatur maka
aktivitas air mempunyai tempat tersendiri dalam proses pembusukan dan
ketengikan. Kerusakan bahan makanan pada umumnya merupakan proses
mikrobiologis,

kimiawi,

enzimatik

atau

kombinasi

antara

ketiganya.

Berlangsungnya ketiga proses tersebut memerlukan air dimana kini telah


diketahui bahwa hanya air bebas yang dapat membantu berlangsungnya proses
tersebut.
Kadar air suatu bahan biasanya dinyatakan dalam persentase berat bahan
basah, misalnya dalam gram air untuk setiap 100gr bahan disebut kadar air berat
basah. Kadar air basis basah dapat ditentukan dengan persamaan berikut :

Dimana :
m

= Kadar air basis basah (%)

Wm

= Berat air dalam bahan (gr)

Wd

= berat bahan kering mutlak (gr)

Wt

= Berat total = Wm + Wd dalam (gr )


Cara lain untuk menyatakan kadar air adalah kadar air basis kering yaitu :

air yang diuapkan dibagi berat bahan setelah pengeringan. Jumlah air yang
diuapkan adalah berat bahan sebelum pengeringan dikurangi berat bahan setelah
pengeringan dan dinyatakan dalam persamaan berikut:

Dimana :
M

= Kadar air basis kering (%)

Wd

= Berat air dalam bahan (gr)

= Berat bahan kering mutlak (gr)


Berat bahan kering adalah berat bahan setelah mengalami pemanasan

beberapa waktu tertentu sehingga beratnya tetap (konstan). Pada proses


pengeringan air yang terkandung dalam bahan tidak dapat seluruhnya diuapkan.
Kadar air yang diperoleh saat praktikum menunjukkan adanya penurunan
presentase kadar air bahan setiap selang waktu 10 menit selama 60 menit dengan
menggunakan sinar matahari. Pada saat menggunakan kadar air belimbing sebesar
66,7%bb setelah 60 menit kadar air singkong berubah menjadi 26%bb. Dengan
sinar matahari kadar air belimbing sebesar 66,7%bb setelah 60 menit kadar air
belimbing berubah menjadi 61,77%bb. Sedangkan kadar air singkong yang ada
pada referensi, kadar air maksimum belimbing dapat dikeringkan hingga 16% hal
ini berguna untuk pengawetan sehingga produsen dapat menyimpan bahan
tersebut dalam jangka waktu yang lama.
Berikut merupakan grafik yang menghubungkan waktu dengan suhu, waktu
dengan massa bahan dan hubungan waktu dengan kadar air.

Kadar air (%) dengan Waktu pada Sinar matahari


7.00%
6.00%
5.00%
4.00%
Kadar air 3.00%

ka.t

2.00%
1.00%
0.00%
0

10 20 30 40 50 60

70

Waktu (menit)

Gambar 3. Grafik hubungan KA dengan waktu pada sinar matahari


Berdasarkan hasil yang diperoleh dari praktikum kali ini, tampak bahwa
waktu pengeringan semakin lama, kadar air dalam bahan semakin berkurang,
namun dengan kecepatan penurunan kadar air makin lambat. Semakin tinggi suhu
pengeringan maka semakin cepat waktu pengeringannya. Hal ini dapat dilihat dari
grafik yang ada pada gambar diatas. Terlihat bahwa nilai kecepatan pengeringan
pada oven lebih besar dibandingkan dengan kecepatan pengeringan dengan
menggunakan sinar matahari. Maka waktu pengeringan pada oven lebih cepat
daripada dengan menggunakan sinar matahari.

Hubungan antara Waktu dengan Suhu


33
32
31
Suhu (0C)

30
29

f(x) = - 0.02x + 30.93


R = 0.1

Suhu
Linear (Suhu)

28
27
0 10 20 30 40 50 60 70
Waktu (menit)

Gambar 4. Grafik hubungan suhu dengan waktu pada pengeringan sinar


matahari
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari praktikum kali ini, tampak bahwa
suhu lingkungan yang ada menunjukkan nilai yang fluktuatif. suhu yang paing
maksimal yaitu 320C dimenit yang ke-40. Hal ini dapat dilihat dari grafik yang
ada pada gambar diatas.

Hubungan antara Waktu dengan Berat bahan


20
19.5
19
Berat bahan (gram)

18.5

f(x) = - 0.03x + 20.04


R = 0.99
Berat bahan
Linear (Berat bahan)

18
17.5
50
0 100

Waktu (menit)

Gambar 5. Grafik hubungan berat bahan dengan waktu pada pengeringan


sinar matahari

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari praktikum kali ini, tampak bahwa
waktu pengeringan semakin lama, berat pada bahan semakin berkurang. Semakin
tinggi suhu pengeringan maka semakin cepat waktu pengeringannya. Hal ini dapat
dilihat dari grafik yang ada pada gambar diatas.
Kendala-kendala yang dialami dalam praktikum acara 2 ini adalah
1 Alat (timbangan digital) yang tersedia hanya satu, kurang efektif
2 Asisten kurang jelas dalam menjelaskan materi, sehingga praktikan
bingung.

V.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Pengeringan merupakan proses penghilangan sejumlah air dari material. Dalam
pengeringan, air dihilangkan dengan prinsip perbedaan kelembaban antara
udara pengering dengan bahan makanan yang dikeringkan. Material biasanya
dikontakkan dengan udara kering yang kemudian terjadi perpindahan massa air
dari material ke udara pengering.
2. Alat yang digunakan dalam pengeringan diantaranya try dryer, cabinet dryer,
spray dryer, drum dryer, rotary dryer, dan freeze dryer.

B. Saran
Semoga untuk praktikum selanjutnya praktikan dapat datang praktikum
tepat waktu dan bersungguh-sungguh saat jalannya praktikum, untuk kenyamanan
bersama, maka disarankan untuk lebih aktif dalam hubungan antara praktikan dan
asisten bersangkutan. Serta lebih berhati-hati dalam menggunakan alat saat
praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. http://digilib.unimus.ac.id. Diakses pada tanggal 10 Desember 2015


Pukul 21.00 WIB
Anonim. 2010. Drum Drying. http://anekamesin.com/produk-mesin/mesin
lain/spray-dryer.html. [22 May 2011]. Diakses pada tanggal 10 Desember
2015 Pukul 21.00 WIB
Hasibuan, Rosdaneli. 2005. Proses Pengeringan. http://library.usu.ac.id. Diakses
pada tanggal 10 Desember 2015 Pukul 21.00 WIB
Mujumdar, A.S., 1995. Superheated Steam Drying of Industrial Drying,
2nd Edition. Marcel Dekker, New York.
Rohman, Saepul. 2008. Teknologi Pengeringan Bahan Makanan.
http://majarimagazine.com. Diakses pada tanggal 10 Desember 2015
Pukul 21.00 WIB
Tim Penyusun, 2015.

Modul Praktikum Satuan Operasi Industri.

Pertanian. Universitas Jendal Soedirman: Purwokerto.

Fakultas