Anda di halaman 1dari 15

RS Marga Husada ; Standar Asuhan Keperawatan Kebidanan & Penyakit Kandungan.

ASUHAN KEPERAWATAN
PASIEN BERSALIN NORMAL
I. TINJAUAN TEORI
A. Pengertian
Persalinan ialah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi
(janin dan uri), yang dapat hidup diluar, dari rahim melalui jalan lahir
dengan kekuatan ibu sendiri yang umumnya berlangsung kurang
dari 24 jam.
2. Sebab-sebab yang menimbulkan persalinan
Apa yang menyebabkan terjadinya persalinan belum
diketahui benar, yang ada hanyalah merupakan teori-teori yang
kompleks, antara lain dikemukakan faktor-faktor hormonal, struktur
rahim, sirkulasi rahim, pengaruh tekanan pada saraf dan nutrisi.
1. Teori penurunan hormon
1-2 minggu sebelum partus mulai terjadi penurunan kadar
hormon estrogen dan progesteron. Progesteron bekerja sebagai
penenang otot-otot polos rahim dan akan menyebabkan
kekejangan pembuluh darah sehingga timbul his bila kadar
progesteron turun.
2. Teori plasenta menjadi tua
Akan menyebabkan turunnya kadar estrogen dan progesteron
yang menyebabkan kekejangan pembuluh darah, hal ini akan
menimbulkan kontraksi rahim.
3. Teori distemsi rahim
Rahim yang membesar dan meregang menyebabkan iskemia
otot-otot rahim sehingga mengganggu sirkulasi utero-plasenter..
4. Teori iritasi mekanik
Di belakang servik terletak ganglion sevikale (pleksus
frankenhouser). Bila gangglion ini digeser dan ditekan, misalnya
oleh kepala janin, maka akan timbul kontraksi.
3. Tanda-tanda persalinan
1. Tanda-tanda permulaan persalinan
Sebelum terjadinya persalinan sebenarnya beberapa
minggu sebelumnya wanita memasuki bulannya atau
minggunya atau harinya yang disebut kala pendahuluan
(prepatori stage labor). Ini memberikan tanda-tanda sebagai
berikut:
- Lightening atau setting atau dropping, yaitu kepala turun
memasuki pintu atas panggul terutama pada primigravida.
Pada multipara tidak begitu kentara.

2
RS Marga Husada ; Standar Asuhan Keperawatan Kebidanan & Penyakit Kandungan.

Perut kelihatan lebih besar, fundus uteri turun.


Perasaan sering-sering atau susah kencing (polakisuri)
karena kandung kemih tertekan oleh bagian bawah janin.
Perasaan sakit diperut dan dipinggang oleh adanya
kontraksi-kontraksi lemah dari uterus, kadang disebut false
labor pain.
Servik menjadi lembek, mulai mendatar dan sekresinya
bertambah bisa bercampur darah.

2. Tanda-tanda In Partu
- Rasa sakit oleh datangnya his yang lebih kuat, sering dan
teratur.
- Keluarnya lendir bercampur darah (show) yang lebih banyak
karena robekan-robekan kecil pada serviks.
- Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya.
- Pada pemeriksaan dalam: serviks mendatar dan pembukaan
telah ada.
Seperti telah dikemukakan terdahulu, faktor-faktor yang
berperan dalam persalinan adalah:
a. Kekuatan mendorong janin keluar (power).
Kontraksi uterus (his).
Kontraksi otot-otot dinding perut.
Kontraksi diafragma.
Ligmentous action terutama ligamen rotundum.
b. Faktor janin (passenger).
c. Faktor jalan lahir (pasage).
Pada waktu partus akan terjadi perubahan-perubahan
pada uterus, serviks, vagina dan dasar panggul.
4. Mekanisme persalinan
1. Kala persalinan
Proses persalinan terdiri dari 4 kala, yaitu:
a. Kala I (Kala Pembukaan), waktu untuk pembukaan serviks
sampai menjadi pembukaan lengkap; 10 cm.
In Partu (partus mulai) ditandai dengan keluarnya lendir
bercampur darah (bloody show), karena serviks mulai
membuka (dilatasi) dan mendatar (effacement).
Darah berasal dari pecahnya pembuluh darah kapiler
sekitar kanalis servikalis karena pergeseran ketika serviks
mendatar dan terbuka.
Kala pembukaan terdiri dari 2 fase, yaitu:
1) Fase laten, dimana pembukaan serviks barlangsung lambat,
sampai pembukaan 3 cm berlangsung dalam 7-8 jam.

3
RS Marga Husada ; Standar Asuhan Keperawatan Kebidanan & Penyakit Kandungan.

2) Fase aktif, berlangsung selama 6 jam dan dibagi atas 3 fase:


a) Periode akselerasi, berlangsung 2 jam, pembukaan
menjadi 4 cm.
b) Periode dilatasi maksimal (steady) selama 2 jam,
pembukaan berlangsung cerpat menjadi 9 cm.
c) Periode deselerasi, berlangsung lambat, dalam waktu
2 jam pembukaan menjadi 10 cm atau lengkap.
Proses membukanya serviks disebut dengan
berbagai istilah: melembek (softening), menipis (thinned
out), obliterasi (obliterated), mendatar dan tertarik keatas
(effaced and taken up) dan membuka (dilatation).
Fase-fase yang dikemukakan diatas dijumpai pada
primigravida.
Perbedaan primigravida dan multigravida
Primi
Serviks mendatar (effacement)
dulu baru dilatasi.
Berlangsung 13-14 jam

Multi
Mendatar dan membuka
bisa bersamaan.
Berlangsung 6-7 jam

Kala II (Kala Pengeluaran janin), waktu uterus dengan


kekuatan his ditambah kekuatan mengedan mendorong
janin keluar hingga lahir. Pada kala pengeluaran janin, hs
terkoordinir, kuat, cepat dan lebih lama, kira-kira 2-3 menit
sekali. Kepala janin telah turun masuk ruang panggul
sehingga terjadi tekanan pada otot-otot dasar panggul yang
secara reflektoris menimbulkan rasa mengedan. Karena
tekanan pada rektum, ibu merasa seperti mau buang air
besar, dengan tanda anus terbuka. Pada waktu his kepala
janin mulai kelihatan, vulva membuka dan perineum
meregang. Dengan his mengedan yang dipimpin akan
lahirlah kepala, diikuti oleh seluruh badan janin. Kala II pada
primi 1 -2 jam pada multi -1 jam.
b. Kala III (Kala Pengeluaran uri)
Setelah bayi lahir, kontraksi rahim istirahat sebentar.
Uterus teraba keras dengan fundus uteri setinggi pusat dan
berisi pasenta yang menjadi tebal 2 x sebelumnya.
Beberapa saat kemudian timbul his pelepasan dan
pengeluaran uri. Dalam waktu 5-10 menit seluruh plasenta
terlepas terdorong kedalam vagina dan akan lahir spontan
atau dengan sedikit dorongan dari atas simfisis atau fundsus
uteri. Seluruh proses biasanya berlangsung 5-30 menit
setelah bayi lahir. Pengeluaran plasenta disetai dengan
pengeluaran darah kira-kira 100-200 cc.

4
RS Marga Husada ; Standar Asuhan Keperawatan Kebidanan & Penyakit Kandungan.

c. Kala IV, mulai dari lahirnya uri selama 1-2 jam.


Adalah kala pengawasan selama 1 jam setelah bayi
dan uri lahir untuk mengamati keadaan ibu terutama
terhadap bahaya perdarahan post partum.
Lamanya persalinan pada primi dan multi adalah
Kala I
Kala II
Kala III
Lama persalinan

Primi
13 jam
1 jam
jam
14 jam

Multi
7 jam
jam
jam
7 jam

2. Mekanisme Persalinan
Pada minggu-minggu terakhir kehamilan, segmen bawah
rahim meluas untuk menerima kapala janin, terutama pada
primi, dan juga pada multi pada saat-saat partus mulai.
Untunglah bahwa hampir 96% janin adalah letak kepala.
Pada letak belakang kepala ( LBK) dijumpai pula :
a. Ubun-ubun kecil kiri depan : 58 %
b. Ubun-ubun kecil kanan depan : 23 %
c. Ubun-ubun kecil kanan belakang : 11 %
d. Ubun-ubun kecil kiri belakang : 8
Kenapa lebih banyak letak kepala dikemukakan 2 teori :
a. Teori akomodasi : bentuk rahim memungkinkan bokong dan
ekstremitas yang volumenya besar berada di atas, dan
kepala di bawah, di ruangan yang lebih sempit.
b. Teori gravitasi : karena kepala relatif lebih besar dan berat,
maka akan turun ke bawah. Karena his yang kuat, teratur
dan sering, maka kepala janin turun memasuki pintu atas
panggul (engangement ). Karena menyesuaikan diri dengan
jalan lahir, kepala bertambah menekuk ( fleksi maksimal ),
sehingga lingkar kepala yang memasuki panggul, dengan
ukuran yang terkecil.
Diameter sub occipito-bregmatika : 9,5 cm dan
Sirkumferensia sub occipito-bregmatika : 32 cm.
5. Pimpinan Persalinan
1. Posisi ibu dalam persalinan.
a. Posisi litotomi adalah posisi yang umum dimana wanita
berbaring terlentang dengan lutut ditekuk, kedua paha
diangkat ke samping kanan dan kiri.
b. Posisi duduk (squading position ): sekarang posisi bersalin
duduk telah dikembangkan di negara- negara Amerika latin.
Untuk itu dibuat meja kusus dimana wanita dapat duduk sambil
melahirkan.

5
RS Marga Husada ; Standar Asuhan Keperawatan Kebidanan & Penyakit Kandungan.

c. Cara berbaring :
1) Menurut Walcher : di tepi tempat tidur.
2) Menurut Tjeenk- Willink : memakai bantal.
3) Menurut Janges : untuk memperlebar jalan panggul.
4) Menurut posisi sims : posisi miring.
2. Pemeriksaan ibu yang mau melahirkan.
Seperti telah dibicarakan diatas, pemeriksaan ibu hamil
meliputi pemeriksaan seluruh tubuh, begitu pula pemeriksaan
ibu yang akan melahirkan, yaitu :
a. Pemeriksaan umum.
1) Tekanan darah, nadi, pernapasan, reflek, jantung, paruparu, berat badan, tinggi badan, dsb
b. Pemeriksaan status obstetrikus
1) Letak dan posisi janin
2) Denyut jantung janin.
3) His dan sifat-sifatnya, dsb
c. Pemeriksaan dalam( vaginal atau rektal).
1) Pembukaan serviks dalam cm atau jari.
2) Turunnya kepala diukur menurut Hodge.
3) Ketuban : sudah pecah atau belum, menonjol atau tidak.
d. Pemeriksaan laboratorium.
1) Pemeriksaan urine : protein dan gula
2) Pemeriksaan darah : Hb dan golongan darah.
e. Persiapan bagi ibu.
1) Bersihkan dan cukur daerah genetalia eksterna.
2) Ibu hamil disuruh kencing atau lakukan kateterisasi guna
mengosongkan kandung kencing.
3) Klisma supaya rektum kosong.
4) Pakaian diganti yang longgar.
f. Persiapan semua alat-alat untuk persalinan biasa
1) Beberapa pasang sarung tangan steril.
2) Gunting Siebold, gunting tali pusat.
3) Beberapa klem tali pusat dan klem lainnya.
4) Benang atau plastik klem untuk tali pusat.
5) Alat penghisap lendir bayi.
6) Jodium tintur dengan kapas lidinya.
7) Alat-alat untuk menjahit luka.
8) Obat-obatan dan jarum suntiknya.
9) Kain kasa steril dsb.
3. Menolong/ memimpin persalinan.
a. Kala I.
Pekerjaan penolong (dokter, bidan, penolong lainnya)
dalam kala I adalah mengawasi wanita inpartu sebaikbaiknya serta menanamkan semangat diri pada wanita ini

6
RS Marga Husada ; Standar Asuhan Keperawatan Kebidanan & Penyakit Kandungan.

bahwa proses persalinan adalah fisiologis. Pemberian obat atau


tindakan hanya dilakukan apabila perlu dan ada indikasi. Apabila
ketuban belum pecah, wanita inpartu boleh duduk atau berjalanjalan. Bila berbaring sebaiknya ke sisi dimana punggung berada.
Bila ketuban sudah pecah, dilarang berjalan harus berbaring.
Periksa dalam pervaginam dilarang, kecuali ada indikasi,
karena setiap pemeriksaan akan membawa infeksi, apalagi
bila dilakukan tanpa memperhatikan sterilitas (asepsis).
Pada kala pembukaan dilarang mengedan, karena belum
waktunya dan akan hanya akan menghabiskan tenaga ibu.
Biasanya kala I berakhir apabila pembukaan sudah lengkap
mencapai 10 cm.
b. Kala II
Pada permulaan kala II umumnya kepala janin telah
masuk ke ruang panggul. Ketuban yang menonjol biasanya
akan pecah sendiri. Bila belum pecah, harus dipecahkan.
His datang lebih sering dan lebih kuat, lalu timbulah his
mengedan. Penolong harus telah siap memimpin persalinan.
Ada 2 cara ibu mengedan :
1) Letak berbaring merangkul kedua pahanya dengan
kedua lengan sampai batas siku. Kepala diangkat sedikit
hingga dagu mengenai dada, mulut dikatupkan.
2) Dengan sikap seperti di atas, tetapi badan miring ke arah
punggung janin berada dan hanya ada satu kaki yang
dirangkul, yaitu yang sebelah atas.
Bila kepala janin sampai dasar panggul, vulva mulai
terbuka (membuka pintu), rambut kepala kelihatan. Tiap his
kepala lebih maju, anus terbuka, perineum meregang.
Penolong harus menahan perineum dengan tangan kanan
beralaskan kain kasa atau kain doek steril, supaya tidak
terjadi robekan (ruptura perinei ). Pada primi gravida
dianjurkan melakukan episiotomi.
Episiotomi
Dilakukan bila perineum sudah menipis dan kepala
janin tidak masuk lagi kedalam vagina, yaitu dengan jalan
mengiris atau menggunting perineum. Ada 3 arah irisan :
medialis, medio lateralis, lateralis tujuan episiotomi adalah
supaya tidak terjadi robekan perineum yang tidak teratur dan
robekan pada m. spinter ani ( ruptura perinei totalis) yang
bila tidak di jahit dan dirawat dengan baik akan
menyebabkan beser berak (incontinentia alvi) .

7
RS Marga Husada ; Standar Asuhan Keperawatan Kebidanan & Penyakit Kandungan.

Ekspresi Kristeler
Mendorong fundus uteri sewaktu ibu mengedan,
tujuannya membantu ibu untuk melahirkan kepala. Cara ini
kurang dibenarkan, jika mau dilakukan hanya boleh 2-3 kali
saja. Bahayanya adalah ruptura uteri, atonia uteri, trauma
organ-organ dalam perut dan solusio plasenta.
Perasat ritgen
Bila perineum meregang dan menipis, maka tangan
kiri penolong menekan bagian kepala janin kearah anus dan
tangan kanan di perineum. Dengan ujung-ujung jari tangan
kanan yang melalui kulit perineum dicoba mengait dagu
janin dan ditekan ke arah simfisis pelan-pelan. Dengan
pimpinan yang baik dan sabar, maka lahirlah kepala dengan
ubun-ubun kecil (subocciput) di bawah simfisis sebagai
hipomochlion secara berturut-turut kelihatan : bregma
( ubun-ubun besar, dahi, muka dan dagu. Perhatikan apakah
tali pusat melilit leher, kalau ada, lepaskan. Kepala akan
mengadakan putaran restitusi ke arah dimana punggung
janin berada. Lahirkan bahu depan dengan menarik kepala
ke arah anus (bawah), lalu bahu belakang dengan menarik
pelan-pelan kearah simfisis ( atas). Melahirkan badan,
bokong dan kaki lebih mudah, yaitu dengan mengait kedua
ketiak janin.
Bayi baru lahir
Bayi baru lahir yang sehat dan normal akan segera
menarik nafas dan menangis, menggerakkan tangan dan
kakinya. Bayi diletakkan dengan kepala lebih rendah, kirakira membuat sudut 30 derajat dengan bidang datar. Mulut
dan hidung dibersihkan, lendir diisap dengan penghisap
lendir. Tali pusat diklem pada dua tempat, 5 dan 10 cm dari
umbilikus, lalu digunting/ dipotong diantaranya. Ujung pada
bayi diikat kuat dengan pita/ benang atau klem plastik
sehingga tidak ada perdarahan. Akhirnya bayi diurus sebaikbaiknya. Lakukanlah pemeriksaan ulang pada ibu, kontraksi
atau palpasi rahim, kandung kemih penuh atau tidak. Kalau
penuh harus dikosongkan karena dapat menghalangi
kontraksi rahim dan menyulitkan kelahiran uri.
c. Kala III.
Pengawasan pada kala pelepasan dan pengeluaran
uri ini cukup penting, karena kelalaian dapat menyebabkan
risiko perdarahan yang dapat membawa kematian. Kala ini
berlangsung mulai dari lahir sampai uri keluar lengkap.
bIasanya uri akan lahir spontan dalam 15-30 menit, dapat

8
RS Marga Husada ; Standar Asuhan Keperawatan Kebidanan & Penyakit Kandungan.

ditunggu sampai 1 jam, tetapi tidak boleh ditunggu bila


terjadi banyak perdarahan.
Kala III ini terdiri dari 2 fase :
1) Fase pelepasan uri
2) Fase pengeluaran uri
Lokalisasi dari uri adalah :
1) Pada dinding depan dan belakang korpus uteri.
2) Kadang-kadang pada dinding lateral
3) Jarang di fundus uteri.
4) Sesekali pada segmen bawah rahim (SBR), disebut
plasenta previa.
Mekanisme pelepasan uri
Kontraks rahim akan mengurangi area uri, kaena
rahim bertambah kecil dan dindingnya bertambah tebal
beberapa centimeter. Kontraksi-kontraksi tadi menyebabkan
bagian-bagian yang longgar dari uri pada dinding rahim,
bagian ini akan terlepas, mula-mula sebagian dan kemudian
seluruhnya dan tinggal bebas dalam kavum uteri. Kadangkadang masih ada bagian uri yang masih melekat pada
dinding rahim.
Proses pelepasan ini biasanya setahap demi setahap
dan pengumpulan darah di belakang uri akan membantu
pelepasan uriini. Bila pelepasan sudah komplit, maka
kontraksi rahim mendorong uri yang sudah lepas ke SBR,
lalu ke vagina dan dilahirkan.
Selaput ketubanpun di keluarkan, sebagian oleh
kontraksi rahim, sebagian sewaktu keluarnya uri. Di tempattempat yang lepas terjadi perdarahan antara uri dan desidua
basalis disebut retroplacenter hematoma.
Jadi jelaslah bahwa setelah anak lahir tugas kita
belum selesai, masih ada satu hal berat yang masih dapat
mengancam jiwa ibu, yaitu pimpinan kala III dan
pengawasan kala IV.
1) Fase penglepasan uri.
Cara lepasnya uri ada beberapa macam :
a) SCHULTZE :
Lepasnya seperti kita menutup payung, cara ini
yang paling ering terjadi (80 %). Yang lepas duluan
adalah bagian tengah, lalu terjadi retroplasental
hematoma yang menolak uri mula-mula bagian
tengah, kemudian seluruhnya. Menurut cara ini
perdarahan biasanya tidak ada sebelum uri lahir dan
banyak setelahnya.

9
RS Marga Husada ; Standar Asuhan Keperawatan Kebidanan & Penyakit Kandungan.

b) DUNCAN :
Lepasnya uri mula-mula dari pinggir, jadi
pinggir uri lahir duluan (20 %). Darah akan mengalir
keluar antara selaput ketuban Serempak dari tengah
dan pinggir plasenta.
Untuk mengetahui cara lepasnya uri dapat
diselidiki dengan dua cara :
Memasukkan zat kontras kedalam uri melalui
pembuluh darah tali pusat, lalu dibuat gambar
rontgen.
Secara klinis, meneliti sewaktu uri lahir melalui
vagina dan vulva.
2) Fase pengeluaran uri.
Uri yang sudah terlepas oleh kontraksi rahim akan
didorong kebawah oleh rahim sekarang dianggap benda
asing. Hal ini dibantu pula oleh tekanan abdominal atau
mengedan, maka uri akan dilahirkan, 20% secara
spontan dan selebihnya memerlukan pertolongan.
Perasat-perasat untuk mengetahui lepasnya uri :
a) KUSTNER :
Dengan meletakkan tangan disertai tekanan
pada/ diatas simfisis, tali pusat ditegangkan, maka
bila tali pusat masuk berarti belum lepas, apabla diam
atau maju berartu sudah lepas.
b) KLEIN :
Sewaktu ada his, rahim kita dorong sedikit, bila
tali pusat kembali : belum lepas, diam atau turun :
lepas.
c) STRASSMAN :
Tegangkan tali pusat dan ketok pada fundus,
bila tali pusat bergetar : belum lepas, dan bila tak
bergetar : sudah lepas.
Rahim menonjol diatas simfisis.
Tali pusat bertambah panjang.
Rahim bundar dan keras.
Keluar darah secara tiba-tiba.
Normalnya penglapasa uri berkisar - jam
sesudah anak lahir, namun kita dapat menunggu
paling lama satu jam. Tetapi bila terjadi banyak
perdarahan bila pada persalinan yang lalu ada riwayat
perdarahan pos partum, maka tidak boleh menunggu,
sebaiknya plasenta langsung dikeluarkan dengan tangan.
Juga kalau perdarahan sudah lebih dari 500 cc atau

10
RS Marga Husada ; Standar Asuhan Keperawatan Kebidanan & Penyakit Kandungan.

satu nierbekken, sebaiknya uri langsung dikeluarkan


secara manual dan diberikan uterus tonika.
Pimpinan kala uri
Segera sesudah anak lahir, anak diurus dan
tali pusat di klem. Biasanya rahim yang telah
menyelesaikan tugas berat mengeluarkan anak akan
istirahat beberapa menit. Tugas kita selama istirahat
adalah :
Memeriksa keadaan ibu tentang :
- Status lokalis obstetrik dengan cara palpasi
fundus uteri dan konsistensinya.
- Memeriksa keadaan vital ibu : tensi, nadi,
pernapasan.
Mengawasi perdarahan
Mencari tanda-tanda pelepasan uri, kalau sudah
lepas segera melahirkannya. Kalau tidak ada
perdarahan dan konsistensi uterus baik (keras),
kita hanya menunggu dan mengawasi, jangan
buru-buru melahirkan uri. Bila rahim memerlukan
stimulasi setelah beberapa menit, lakukan masage
pelan-pelan. Bila kita sabar menunggu, biasanya
uri akan segera lahir spontan dan bila sudah ada
tanda-tanda lepasnya uri, plasnta segera
dilahirkan dengan :
- Menyuruh ibu mengedan.
- Memberi tekanan pada fundus uteri.
Dorongan pada fundus hanya boleh dikerjakan
pada rahim yang kontraksinya baik, sebab pada rahim
yang lembek dapat menimbulkan inversio uteri.
Jangan mendorong sampai serviks melewati introitus
vaginae, karena terancam oleh bahaya infeksi.
Metode CREDE :
Empat jari-jari pada dinding belakang, ibu jari di
fundus depan tengah.
Lalu pijit rahim dan sedikit dorong ke bawah, tetapi
jangan terlalu kuat, seperti memeras jeruk.
Lakukan sewaktu ada his.
Jangan tarik tali pusat, karena bisa terjadi inversio
uteri.
Pengeluaran uri secepat mungkin, hanya bila ada :
Perdarahan yang banyak ( lebih dari 500 cc ).
Ada riwayat perdarahan pos partum sebelumnya.
Adanya retensio plasenta sebelumnya.

11
RS Marga Husada ; Standar Asuhan Keperawatan Kebidanan & Penyakit Kandungan.

12
RS Marga Husada ; Standar Asuhan Keperawatan Kebidanan & Penyakit Kandungan.

Pengeluaran selaput ketuban.


Selaput janin biasanya lahir dengan mudah,
namun kadang-kadang masih ada yang tertinggal, ini
dapat dikeluarkan dengan cara :
Menarik pelan-pelan.
Memutar atau memilinnya seperti tali.
Memutar pada klem.
Manual atau digital.
Uri dan selaput ketuban harus diperiksa
sebaik-baiknya setelah dilahirkan, apakah lengkap
atau tidak lengkap. Yang diperiksa yaitu
Permukaan maternal : 6-20 kotiledon.
Permukaan fetal.
Apakah ada tanda-tanda plasenta suksenturiata.
Kalau tidak lengkap, disebut ada sisa uri, dapat
menyebabkan perdarahan yang banyak dan infeksi.
d. Kala IV ( Kala Pengawasan ).
Dalam buku-buku asing tidak kita jumpai kala IV
kecuali buku Belanda. Namun bagi institut-institut di
Indonesia karena dianggap cukup penting, kita masih
mengenal kala pengawasan setelah uri lahir 1-2 jam.
Darah yang keluar harus ditakar sebaik-baiknya.
Kehilangan darah pada persalinan biasa disebabkan luka
pada penglepasan uri dan robekan pada servik dan
perineum. Rata-rata dalam batas normal jumlah perdarahan
adalah 250 cc, biasanya 100 300 cc. Bila perdarahan lebih
dari 500 cc ini sudah dianggap abnormal, harus dicari
sebabnya. Penting untuk diingat jangan meninggalkan
wanita bersalin satu jam setelah bayi dan uri lahir. Sebelum
pergi meninggalkan ibu yang baru melahirkan, periksa ulang
dulu dan perhatikanlah 7 pokok berikut :
1) Kontraksi rahim : baik atau tidak dapat diketahui dengan
palpasi. Bila perlu lakukanlah masage dan berikan uterus
tonika : methergin, ermetrin, dan pitosin.
2) Perdarahan : ada atau tidak banyak atau biasa.
3) Kandung kencing : harus kosong, kalau penuh ibu
disuruh kencing dan kalau tidak bisa lakukan kateter.
4) Luka-luka : jahitannya baik atau tidak, ada perdarahan
atau tidak.
5) Uri dan selaput ketuban harus lengkap.
6) Keadaan umum ibu : tensi, nadi, pernapasan dan rasa
sakit.
7) Bayi dalam keadaan baik.

RS Marga Husada ; Standar Asuhan Keperawatan Kebidanan & Penyakit Kandungan.

13

Ruptura Perinei
Definisi :
Robekan yang terjadi pada perineum sewaktu persalinan.
Episiotomi adalah ruptura perinei yang artifisialis.
Ruptura perinei dibagi menjadi 3 tingkat :
Tingkat 1 : robekan hanya mengenai kulit dan mukosa
sekitar 1 1 cm.
Tingkat 2 : robekan sudah dalam mengenai m. levator ani,
Tingkat 3 : robekan pada kulit, mukosa, perineal bodi, m.
spincter ani.
Ruptura perinei inkompleta : tingkat 1 sampai 2.
Ruptura perinei kompleta : tingkat 3.
Yang dapat menyebabkan ruptura perinei :
Partus prespitatus.
Kepala janin besar dan janin besar.
Pada presentasi defleksi. ( dahi, muka ),
Pada primi gravida ( para).
Pada letak sungsang dan after coming head.
Pimpinan persalinan yang salah.
Pada obstetrik operatif pervaginam : ekstraksi vakum,
ekstraksi forcep, versi dan ekstrasi serta embriotomi.
Kalau luka-luka ini tidak dijahit dengan baik, maka akan
menyebabkan lapangnya perineum dan pada ruptura perinei
kompleta dapat terjadi beser berak (inkontinensia alvi ) . secara
estetis kemaluan menjadi tidak baik.
Penanganan :
Untuk mencegah luka yang jelek dan pinggir luka yang tidak
rata dan kurang bersih, pada beberapa keadaan dilakukan
episiotomi dan pada keadan lain dengan pimpinan
persalinan yang baik.
Bila dijumpai robekan perineum, lakukan penjahitan luka
dengan baik lapis demi lapis, perhatika jangan sampai terjadi
ruang kosong terbuka kearah vagina (dead space) yang
biasanya dapat dimasuki beku-bekuan darah yang akan
menyebabkan tidak baiknya penyembuhan luka.
Berikan antibiotika yang cukup.
Pada luka perineum lama ( old perineal tear), lakukan
perineoplastik dengan membuat luka baru dan menjahit
kembali dengan sebaik-baiknya.

14
RS Marga Husada ; Standar Asuhan Keperawatan Kebidanan & Penyakit Kandungan.

II. ASUHAN KEPERAWATAN


A. Pengkajian Keperawatan.
1. Data subyektif :
Ibu merasa hamil 9 bulan, merasa kenceng-kenceng
teratur, nyeri pinggang, mengeluarkan lendir darah dari
kemaluan.
2. Data obyektif :
Periksa dalam adanya pembukan jalan lahir, serviks
mendatar, penurunan kepala.
B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan ditegakkan atas dasar data pasien.
Kemungkinan diagnosa keperawatan dari pasien dengan ibu
bersalin normal terdiri dari ( tidak terbatas ) :
No

Diagnosa
keperawatan

Perencanaan keperawatan
Tujuan dan kriteria
Rencana keperawatan
hasil

Cemas berhubungan
de n gan a da n ya
rangsangan dalam
persalinan dan takut
yang tidak menentu.

Tujuan :
Cemas berkurang /
hilang
setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan.
Kriteria :
ibu tampak tenang.
Vital sign normal :

1. B e ri pe n je la san tentang
proses pe rsa lin an secara
sederhana.
2. Beri dukungan moral.
3. Da mp in gi klien se la ma
proses persalinan.
4. L iba t kan keluarga (orang
berarti) d a l a m p r o s e s
keperawatan.

G a n g g u a n rasa
nyaman :nyeri berhubungan dengan
peningkatan frekuensi
dan intensitas dari
kontraksi uterus.

Pasien bisa beradaptasi


terhadap nyeri.

1. Je la ska n penyebab n ye ri
secara singkat dan jelas
2. Ciptakan lingkungan tenang
dan nyaman
3. Atur posisi tidur.
4. Ajarkan teknik distraksi dan
relaksasi.
5. Anjurkan istirahat bila tidak
ada his.
6. Anjurkan jalan-jalan sekitar
ruangan bila mungkin.

K u r a n g vo lu m e
cairan berhubungan
dengan penurunan
intake dan meningkatnya pengeluaran
c a i r a n d en ga n
adanya a k t i f i t a s
persal;inan.

Tujuan :
Kebutuhan cairan terpenuhi
Kriteria:
Turgor kulit baik, bibir
tidak kering, Suhu 3637 C , produksi urine :
25 cc/kg BB / jam.

Kriteria : ibu tampak


tenang.

1. Catat intake dan output.


2. Monitor tanda-tanda vital.
3. Kaji tanda-tanda kekurangan
cairan.
4. Beri minum manis sesering
mungkin.
5. Kolaborasi untuk pemberian
cairan.

RS Marga Husada ; Standar Asuhan Keperawatan Kebidanan & Penyakit Kandungan.

Kurang pengetahuan
berhubungan
dengan primi gravida.

Tujuan:
Klien mengerti tentang
proses persalinan dan
mematuhi p r o g r a m
perawatan & pengobatan
Kriteria :
Klien bisa menjelaskan
ke mb a li tanda-tanda
persalinan.
K lien da n ke lua rga
memperlihatkan
keinginan untuk
berpartisipasi da lam
persalinan.

15

1. K a ji t in gka t pengetahuan
klien tentang proses persalinan.
2. Jelaskan proses persalinan
secara singkat dan jelas.
3 . A n j u r k a n klien u nt u k
melaporkan pada petugas
bila mengalami kelainan.
4 . L i b a t k a n klien da lam
pengambilan keputusan.