Anda di halaman 1dari 5

SINOPSIS RENCANA PENELITIAN

Gambaran Perkembangan Fetus Anjing yang Terpapar Radiasi X-ray


Berulang
Oleh: drh. Willy Moris Nainggolan
Sudah menjadi rahasia umum bahwa radiologi menjadi hal yang sangat
berperan penting dalam dunia kedokteran untuk mendiagnosa suatu penyakit,
terutama penyakit yang merujuk pada organ dalam. Gelombang radio yang
digunakan dalam radiologi dapat berupa gelombang elektromagnetik maupun
gelombang mekanik. Peralatan medis yang mengandung unsur radiologi yang
banyak digunakan antara lain Rontgent, Computed Tomography scan (CT scan),
Magnetic Resonance Imaging (MRI), dan Ultrasonography (USG) (OBrien, 2005).
Saat ini X-ray menjadi salah satu alat bantu diagnosis yang paling popular
digunakan dalam dunia kedokteran hewan. X-ray didefinisikan sebagai salah satu
bentuk radiasi elektromagnetik yang mirip dengan cahaya tampak tetapi dengan
panjang gelombang yang jauh lebih pendek. Dibandingkan dengan USG, X-ray
mampu menembus berbagai organ bahkan tulang sekalipun karena frekuensinya
yang sangat tinggi (semakin tinggi frekuensi, semakin besar kemampuan penetrasi
yang dimiliki energi untuk melewati ruang dan zat). X-ray menghasilkan gambar
pada film fotografi yang dapat dilihat setelah film tersebut diproses (Lavin, 2002).
Karena kemampuannya tersebut X-ray kemudian banyak digunakan untuk berbagai
keperluan baik untuk diagnose maupun terapi. Dalam teknologi pangan baru-baru
ini, Mahmoud dkk (2015) menemukan bahwa X-ray juga dapat digunakan untuk
mengurangi kontaminasi bakteri Salmonella enterica pada daging ayam dan

cangkang telur ayam. Hal tersebut tentu merupakan hal yang sangat menjanjikan
untuk menggunakan X-ray sebagai antimicrobial dalam industri perunggasan.
Penggunaan X-ray dalam dunia medis tentu memiliki efek samping, terutama
pengaruhnya terhadap sel tubuh. X-ray memiliki kemampuan untuk mengeksitasi
ataupun mengionosasi atom dan molekul sebuah substansi termasuk gas. X-ray
mampu menyebabkan perubahan biologis pada jaringan hidup baik secara langsung
melalui eksitasi/ionisasi molekul penting dalam sel, atau secara tidak langsung
sebagai akibat dari perubahan kimia yang terjadi di dekat sel. Sel yang terkena
dampak dapat rusak ataupun mati (Lavin, 2002). Ionisasi menyebabkan pelepasan
elektron dari atom lalu membentuk ion atau atom bermuatan. Ion yang terbentuk
kemudian pergi dan bereaksi dengan atom lain di dalam sel sehingga menyebabkan
kerusakan. Contoh sederhana yaitu saat sinar melewati sel, molekul air yang
berdekatan dengan DNA akan terionisasi dan ion bereaksi dengan DNA
menyebabkan kerusakan. Pada dosis rendah, sel akan pulih dari kerusakan dengan
segera. Tetapi pada dosis yang lebih tinggi sel mungkin tidak mampu untuk pulih
dari kerusakan dan sel dapat berubah permanen maupun mati. Kebanyakan sel yang
mati adalah konsekuensi yang kecil karena tubuh dapat menggantinya dengan yang
baru. Sel yang mengalami perubahan abnormal akan terus hidup dan menghasilkan
sel abnormal saat membelah. Pada lingkungan yang cocok, sel-sel tersebut dapat
menjadi kanker (Anonim, 2015).
Dalam dunia kedokteran hewan, anjing menjadi hewan yang paling popular
karena karakter dan tingkat kesetiaan yang tinggi terhadap pemilik. Saat anjing
mereka mengalami penyakit terutama yang berhubungan dengan organ dalam,

dokter hewan akan menyarankan penggunaan X-ray sebagai alat bantu diagnosa.
Pemeriksaan umum yang terkadang dapat terlewatkan adalah anjing betina yang
berada di fase awal kebuntingan yang masih sulit untuk dipalpasi fetusnya. Dalam
dunia kedokteran manusia, sudah banyak dilakukan penelitian tentang pengaruh
radiasi terhadap perkembangan fetus. Organogenesis yang terjadi saat periode
kehamilan 2-15 minggu adalah periode paling rentan karena pengaruh teratogenik
dari radiasi ionisasi, termasuk mikrosepalis, mikropthalmia, hambatan mental,
hambatan pertumbuhan, dan katarak (Coakley dkk., 2015). Pada dua minggu
pertama postkonsepsi, embrio sangat resisten terhadap pengaruh malformasi akibat
X-ray. Akan tetapi, embrio sangat sensitif terhadap efek letal X-ray, meskipun dosis
yang lebih tinggi dari 50 mSv dibutuhkan untuk menyebabkan keguguran (Brent,
2014). Anjing yang merupakan hewan multipara memiliki periode kebuntingan
yang lebih singkat apabila dibandingkan dengan manusia yaitu sekitar 58-65 hari
sehingga lebih rentan terhadap pengaruh negatif radiasi. Penelitian yang lebih
mendalam pada anjing bunting dibutuhkan untuk mengetahui pengaruh radiasi
berulang terhadap perkembangan fetus anjing.
Penelitian akan di lakukan di Rumah Sakit Hewan IPB Bogor menggunakan
fasilitas mesin X-ray. Metode yang akan digunakan dalam penelitian dengan
memapari beberapa ekor anjing yang memiliki umur kebuntingan sama,
menggunakan X-ray dosis normal dan dilakukan secara berulang pada setiap tahap
perkembangan meliputi periode zigot, embriogenesis, dan organogenesis. Hasil
yang didapatkan akan memberi gambaran tentang pengaruh radiasi X-ray pada
perkembangan fetus anjing akan kemungkinan adanya abnormalitas dalam bentuk

(Rugh dan Leach, 1974). Hasil yang diperoleh akan dapat membatu para praktisi
dokter hewan dalam hal pemahaman tentang pengaruh radiasi sebelum melakukan
tindakan X-ray pada anjing bunting dan tingkat keamanan perlakuan X-ray
berulang. Informasi yang didapatkan juga akan memberi pemahaman kepada
masyarakat luas tentang pentingnya mengetahui status kebuntingan anjingnya
sebelum dibawa ke dokter hewan untuk pemeriksaan menggunakan X-ray.

Daftar Pustaka
Anonim, 2015. Radiation and Risk. Idaho State Univesity. Diakses 1 Agustus 2015
dari http://www.physics.isu.edu/radinf/risk.htm
Brent, Robert. 2014. Pregnancy and Radiation Exposure. Health Physics Society.
Virginia
Coakley, F., Gould, R., Laros Jr, R.K., dan Thiet, Mari Paule. 2015. CT and MR
Pregnancy Guidelines. UCSF Department of Radiology & Biomedical
Imaging.

University

of

California.

USA.

Tersedia

pada

http://www.radiology.ucsf.edu/patientcare/patientsafety/ctmripregnancy
Lavin, Lisa M. 2002. Radiography in Veterinary Technology 3rd Edition. Saunders.
USA. Pp 4-7
Mahmoud, B.S.M., Chang, S., Wu, Yuwei, Nannapeneni, R., Sharma C.S., dan
Coker, Randy. 2015. Effect of X-ray Treatments on Salmonella enterica and
Spoilage Bacteria on Skin-on Chicken Breast Fillets and Shell Eggs. Food
Control. Volume 57, November 2015, Pages 110114. Tersedia pada
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0956713515002157
OBrien, Timothy R. 2005. OBriens Radiology for the Ambulatory Equine
Practitioner. Teton NewMedia. USA

Rugh, Roberts dan Leach, William. 1974. X-ray Effects on The Embryo and Fetus:
A Review of Experimental Findings. Division of Biological Effects, Bureau
of Raiological Health, FDA. Maryland, USA