Anda di halaman 1dari 37

REFRAT

TERAPI CAIRAN

Oleh :
HARIANA ETRIYA
NIM. 10101001

PEMBIMBING
Dr. LASMARIA FLORA Sp. An

KKS ILMU ANASTESI RSUD BANGKINANG


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ABDURRAB
PEKANBARU
2014
KATA PENGANTAR
1

Puji syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan refrat dengan judul Terapi Cairan. Refrat
ini diajukan sebagai persyaratan untuk mengikuti KKS pada ilmu anastesi di
RSUD Bangkinang.
Selain itu saya juga mengucapkan Terima kasih kepada Dr, Lasmaria Flora Sp. An
dan segenap staff bagian anastesi RSUD Bangkinang atas bimbingan dan
pertolongannya selama menjalani kepanitraan klinik bagian anastesi dan dapat
menyelasaikan penulisan dan pembahasan refrat ini.
Dalam penulisan ini, penulis menyadari bahwa refrat ini masih jauh dari
kesempurnaan, penulis mohon maaf atas segala kesalan, sehingga kritik dan saran
dari pembaca yang bersifat membangun sangat dibutuhkan untuk kesempurnaan
penulisan refrat berikutnya.

Bangkinang, 13 September 2014

Penulis

Hariana Etriya

BAB I

PENDAHULUAN
Sebagian besar tubuh manusia terdiri dari cairan, pada bayi prematur
jumlahnya sebesar 80% dari berat badan, pada bayi normal 70-75% berat badan,
sebelum puberitas 65-70% berat badan dan dewasa normal sekitar 50-60% dari
berat badan.
Cairan dalam tubuh dibagi dalam dua kompartemen utama yaitu cairan
ekstrasel dan intra sel. Zat-zat yang terkandung dalam cairan tubuh antara lain
adalah

air, elektrolit, trace element, vitamin, dan nutrien-nutrien lain seperti

protein, karbohidrat, dan lemak.


Air dan elektrolit yang masuk kedalam tubuh manusia akan dikeluarkan
dalam jumlah yang kira-kira sama dengan pemasukannya dalam 24 jam melalui
urin, feses, keringat dan pernafasan. Kekurangan masuk. Ubuh memiliki
kemampuan untuk mempertahankan atau memelihara keseimbangan tubuh yang
dikenal dengan homeostasis. Jika masukan cairan kedalam tubuh berkurang,
tubuh membutuhkan terapi cairan untuk mengembalikan keseimbangan tubuh.
Sebagai contoh, pada pasien koma, anoreksia berat, perdarahan banyak, syok
hipovolemik, mual muntah yang hebat, puasa, dan pembedahan. Selain itu dalam
keadaan tertentu, terapi

cairan dapat digunakan sebagai tambahan untuk

memasukkan obat dan zat makanan.


Dengan demikian secara garis besar tujuan dari terapi cairan adalah:
1.
2.
3.
4.

Mengtur keseimbangan air dan elektrolit tubuh.


Dukungan nutrisi
Akses intravena
Mengatasi syok

Untuk memilih cairan yang dibutuhkan harus diteliti betul kasus perkasus
apakah seorang pasien kekurangan air saja, air beserta elektrolit lainnya, atau
sudah terjadi gangguan keseimbangan asam basa. Selain itu gangguan asam basa
tubuh akan menjadi sangat kompleks pada gangguan fungsi paru dan ginjal.

BAB II
PEMBAHASAN
II.1

Komponen cairan tubuh1


4

Cairan tubuh dapat dibagi menjadi komponen intraseluler dan komponen


ekstraseluler. Komponen ekstra seluler dibagi mendjadi intravaskuler dan
intrersisial

Tabel 1. Jumlah cairan sesuai usia


Usia
Bayi premature
3 bulan
6 bulan
1-2 tahun
11-16
Dewasa
Dewasa dengan obesitas
Dewasa kurus

Kilogram berat badan (%)


80
70
60
59
58
58-60
40-50
70-75

1. Cairan intraseluler
Yaitu cairan yang terkandung di dalam sel, komponen cairan intraseluler
merupakan cadangan cairan tubuh yang besar. Pada orang dewasa sekitar
2/3 dari cairan tubuh terdapat di intraseluler (27 liter rata-rata untuk
dewasa laki-laki dengan berat badan sekitar 70 kg, sebaliknya pada bayi
hanya setengah dari berat badannya merupakan cairan intraseluler.
2. Cairan ekstraseluler
Cairan Ekstraselular (CES) = 20% dari BB total Adalah cairan diluar sel.
Ukuran relatif dari (CES) menurun dengan peningkatan usia. Pada bayi
baru lahir, kira-kir cairan tubuh terkandung didalam (CES). Setelah 1
tahun, volume relatif dari (CES) menurun sampai kira-kira 1/3 dari
5

volume total. Ini hampir sebanding dengan 15 L dalam rata-rata pria


dewasa (70 kg). Lebih jauh (CES) dibagi menjadi :
a. Cairan interstisial (CIT) : Cairan disekitar sel, sama dengan kira-kira
8 L pada orang dewasa. Cairan limfe termasuk dalam volume
interstisial. Relatif terhadap ukuran tubuh, volume (CIT) kira-kira
sebesar 2 kali lebih besar pada bayi baru lahir dibanding orang dewasa.
b. Cairan intravaskular (CIV): Cairan yang terkandung di dalam
pembuluh darah. Volume relatif dari (CIV) sama pada orang dewasa
dan anak-anak. Rata-rata volume darah orang dewasa kira-kira 5-6 L
(8% dari BB), 3 L (60%) dari jumlah tersebut adalah PLASMA.
Sisanya 2-3 L (40%) terdiri dari sel darah merah (SDM, atau eritrosit)
yang mentranspor oksigen dan bekerja sebagai bufer tubuh yang
penting; sel darah putih (SDP, atau leukosit); dan trombosit. Tapi nilai
tersebut diatas dapat bervariasi pada orang yang berbeda-beda,
bergantung pada jenis kelamin, berat badan dan faktor-faktor lain.
Adapun fungsi dari darah adalah mencakup :
Pengiriman nutrien (misalnya; glokusa dan oksigen) ke jaringan
Transpor produk sisa ke ginjal dan paru-paru
Pengiriman antibodi dan SDP ke tempat infeksi
Transpor hormon ke tempat aksinya\irkulasi panas tubuh
3. Cairan transseluler
Adalah cairan yang terkandung di dalam rongga khusus dari tubuh.
Contoh (CTS) meliputi cairan serebrospinal, perikardial, pleural, sinovial,
dan cairan intraokular serta sekresi lambung. Pada waktu tertentu (CTS)
mendekati jumlah 1 L. Namun, sejumlah besar cairan dapat saja bergerak
kedalam dan keluar ruang transelular setiap harinya. Sebagai contoh,

saluran gastro-intestinal (GI) secara normal mensekresi dan mereabsorbsi


sampai 6-8 L per-hari.

II.2 Homeostasis dan patofisiologi


Untuk keseimbangan cairan tubuh dan elektrolitnya, mekanisme homeostasis
diselenggarakan oleh:
a. Ginjal, dengan mekanisme renin-angiotensin, mempengaruhi tekanan
darah.
b. Kelenjar adrenal, dengan mekanisme aldosteronakan mempengaruhi
retensi natrium
c. Kelenjar hipofisis, engan mekanisme ADH, akan mempengaruhi
reabsorbsi air.
d. Paru-paru, dengan mekanisme asidosis-alkalosis untuk menjaga asam
II.3

basa.
Kebutuhan air dan elektrolit per hari
Pada orang dewasa :
Air : 30-40ml/kgBB/hari atau 2ml/kgBB/jam atau (60ml + 1 ml/kg

setiap diatas 20kg)/jam


Kenaikan 1 derajat celcius ditambah 10-15%
Kebutuhan homeostasis kalium :20-30 mEg/Kg/Hari
Na: 2 mEq/kg/hr
K: 1 mEq/kg/hari

Pada anak dan bayi:

0-10 kg : 4 ml/kg/jam (100ml/kg/hr)


10-20kg: 40ml + 2 ml/kg setiap kg diatas 10kg)/jam
(1000ml + 50ml/kg diatas 10kg)/hari
>20kg: (60ml + 1 mg/kg setiap kg diatas 20kg)/jam
(1500ml + 20ml/kg diatas 20kg)/hr
Na: 2 mEq/kg/hr
K: 2 mEq/kg/hr
II.4 Faktor-faktor modifikasi kebutuhan cairan1,2
Kebutuhan ekstra meningkat pada:
Demam (12% tiap kenaikan suhu 10C
Hiperventilasi
Suhu lingkungan tinggi
Aktivitas ekstrim
Setiap kehilangan abnormal (ex:diare, poliuri, dll)
Kebutuhan menurun pada:

Hipotermi (12% tiap penurunan suhu 10C)


Kelembaban dangat tinggi
Oliguria atau anuria
Aktivitas menurun/ tidak beraktivitas
Retensi cairan (ex: gagal jantung, gagal ginjal, dll)

Perubahan cairan tubuh dapat dikategorikan menjadi 3 yaitu: perubahan volume,


konsentrasi, dan komposisi :
1. Perubahan volume
Perubahan vlume cairan ekstraseluler adalah perubahan paling umum yang
terjadi pada pasien bedah, penyebab yang paling umum adalah pasien yang
kehilangan cairan gastro intestinal akibat muntah, penyedot nasogastrik,
diare dan drainase fistula. Penyebab lain dapat berupa kehilangan cairan
pada cidera jaringan lunak, infeksi, inflamasi jaringan, peritonitis,
obstruksi usus, dan luka bakar. Keadaan akut, kehilangan cairan yang

cepat dapat menimbulkan gangguan pada jaringan saraf pusat dan jantung,
kehilagan cairan yang lambat dapat ditoleransi sampai defisit volume
cairan ekstraseluler yang berat terjadi.
Dehidrasi
Klasifikasi dehidrasi dan manifestasi klinis
a. Dehidrasi ringan (defisit <5 BB)
Keadaan umum baik
Rasa haus +
Sirkulasi darah nadi normal
Pernafasan biasa
Mata agak cekung
Turgor biasa
Kencing biasa
b. Dehidrasi sedang (defisit 5-10% BB)
Keadaan umum gelisah
Rasa haus ++
Sirkulasi darah nadi cepat (120-140),
Pernafasan agak cepat
Mata cekung
Turgor agak berkurang
Kencing sedikit
c. Dehidrasi berat (defisit >10% BB)
Keadaan umum apatis/koma
Rasa haus +++
Sirkulasi darah nadi cepat (>140)
Perafasan kussmaul (cepat dan dalam)
Mata cekung sekali
Turgor kurang sekali
Kencing tidak ada
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium yang menunjukakan kelainan antara lain:
a. Hematokrit biasanya meningkat akibat hemokonsentrasi
b. Peningkatan berat jenis plasma
9

c.
d.
e.
f.
g.

Peningkatan protein total


Kelainan pada analisis gas darah (asidosis metabolik)
Sel darah putih meningkat (karena hemokonsentrasi)
Fosfatase alkali meningkat
Natrium dan kalium masih normal, setelah reidrasi kalium ion dalam
serum rendah.

Tabel 2.derajat dehidrasi


Dehidrasi
Ringan
Sedang
Berat
Shock

Deawasa
4%
6%
8%
15-20%

Anak
4% -5%
5%-10%
10%-15%
15%-20%

Rehidrasi
Cara rehidrasi :
a. Nilai status rehidrasi sesuai tabel derajat dehidrasi, banyak cairan yang
diberikan (D)= derajat dehidrasi % X BBX1000cc.
b. Hitung cairan rumatan (M) yang diperlukan untuk dewasa40cc/kgBB/24
jam atau rumus holiday sugar untuk anak-anak)
c. Pemberian cairan
- 6 jam I= D + M atau 8 jam I = D + M (menurut gullot)
- 18 jam II = D + M atau 16 jam II = D + M (menurut gullot)
2. Perubahan konsentrasi
Hiponatremia (jika <120 mg/L)
Rumus menghitung Na serum yang dibutuhkan adalah:
Na= (Na 1-Na 0)X TBW
Na= jumlah Na yang diperlukan untuk koreksi (mEq)
Na 1= 125 mEq/L atau Na serum yang diinginkan
Na0 = Na serum yang aktual
TBW = total body water = 0,6XBB(kg)
Hipernatremia
Hipokalemia
Hiperkalemia

10

3. Perubahan komposisi
Asidosis respiratorik (PH< 7,35 dan PaCO2>45 mmHg)
Alkalosis respiratorik
Asidosis metabolik
Alkalosis metabolik
II.5 Terapi cairan3,4,5,6,7
a. Cairan Kristaloid
Merupakan larutan dengan air (aqueous) yang terdiri dari molekul-molekul
kecil yang dapat menembus membran kapiler dengan mudah. Biasanya
volume pemberian lebih besar, onset lebih cepat, durasinya singkat, efek
samping lebih sedikit dan harga lebih murah.
Yang termasuk cairan kristaloid antara lain salin (salin 0,9%, ringer laktat,
ringer asetat), glukosa (D5%, D10%, D20%), serta sodium bikarbonat.
Masing-masing jenis memiliki kegunaan tersendiri, dimana salin biasa
digunakan untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh sehari-hari dan saat
kegawat daruratan, sedangkan glukosa biasa digunakan pada penanganan
kasus hipoglikemia, serta sodium bikarbonat yang merupakan terapi
pilihan pada kasus asidosis metabolik dan alkalinisasi urin.
Mekanisme secara umum larutan kristaloid menembus membran kapiler
dari kompartemen intravaskuler ke kompartemen interstisial, kemudian
didistribusikan ke semua kompartemen ekstra vaskuler. Hanya 25% dari
jumlah pemberian awal yang tetap berada intravaskuler, sehingga
penggunaannya membutuhkan volume 3-4 kali dari volume plasma yang
hilang. Bersifat isotonik, maka efektif dalam mengisi sejumlah cairan
kedalam pembuluh darah dengan segera dan efektif untuk pasien yang
membutuhkan cairan segera.
Cairan kristaloid bersifat mudah keluar dari intravaskuler, terutama pada
kasus dimana terjadi peningkatan resistensi kapiler seperti pada sepsis.

11

Pada kondisi tersebut, penting untuk dipikirkan penggantian cairan yang


memiliki molekul lebih besar, yaitu jenis koloid.
b. Normal Saline
Komposisi (mmol/l) : Na = 154, Cl = 154.
Kemasan : 100, 250, 500, 1000 ml.
Indikasi
Resusitasi
Pada kondisi kritis, sel-sel endotelium pembuluh darah bocor,
diikuti oleh keluarnya molekul protein besar ke kompartemen
interstisial, diikuti air dan elektrolit yang bergerak ke intertisial
karena gradien osmosis. Plasma expander berguna untuk

mengganti cairan dan elektrolit yang hilang pada intravaskuler.


Diare
Kondisi diare menyebabkan kehilangan cairan dalam jumlah
banyak, cairan NaCl digunakan untuk mengganti cairan yang

hilang tersebut.
Luka Bakar
Manifestasi luka bakar adalah syok hipovolemik, dimana terjadi
kehilangan protein plasma atau cairan ekstraseluler dalam jumlah
besar dari permukaan tubuh yang terbakar. Untuk mempertahankan
cairan dan elektrolit dapat digunakan cairan NaCl, ringer laktat,

atau dekstrosa.
Gagal Ginjal Akut
Penurunan fungsi ginjal akut mengakibatkan kegagalan ginjal
menjaga homeostasis tubuh. Keadaan ini juga meningkatkan
metabolit nitrogen yaitu ureum dan kreatinin serta gangguan
keseimbangan cairan dan elektrolit. Pemberian normal saline dan
glukosa menjaga cairan ekstra seluler dan elektrolit.

12

Kontraindikasi : hipertonik uterus, hiponatremia, retensi cairan.


Digunakan dengan pengawasan ketat pada CHF, insufisiensi renal,
hipertensi, edema perifer dan edema paru.
Adverse Reaction : edema jaringan pada penggunaan volume besar
(biasanya

paru-paru),

penggunaan

dalam

jumlah

besar

menyebabkan akumulasi natrium.


c. Ringer Laktat (RL)
Komposisi (mmol/100ml) :
Na = 130-140, K = 4-5, Ca = 2-3, Cl = 109-110, Basa = 28-30 mEq/l.
Kemasan : 500, 1000 ml.
Cara Kerja Obat : keunggulan terpenting dari larutan Ringer Laktat adalah
komposisi elektrolit dan konsentrasinya yang sangat serupa dengan yang
dikandung cairan ekstraseluler. Natrium merupakan kation utama dari
plasma darah dan menentukan tekanan osmotik. Klorida merupakan anion
utama di plasma darah. Kalium merupakan kation terpenting di intraseluler
dan berfungsi untuk konduksi saraf dan otot. Elektrolit-elektrolit ini
dibutuhkan untuk menggantikan kehilangan cairan pada dehidrasi dan
syok hipovolemik termasuk syok perdarahan.
Indikasi : mengembalikan keseimbangan elektrolit pada keadaan dehidrasi
dan syok hipovolemik. Ringer laktat menjadi kurang disukai karena
menyebabkan hiperkloremia dan asidosis metabolik, karena akan
menyebabkan penumpukan asam laktat yang tinggi akibat metabolisme
anaerob.
Kontraindikasi : hipernatremia, kelainan ginjal, kerusakan sel hati, asidosis
laktat.

13

Adverse Reaction : edema jaringan pada penggunaan volume yang besar,


biasanya paru-paru.
Peringatan dan Perhatian : Not for use in the treatment of lactic acidosis.
Hati-hati pemberian pada penderita edema perifer pulmoner, heart
failure/impaired renal function & pre-eklamsia.
d. Dekstrosa
Komposisi : glukosa = 50 gr/l (5%), 100 gr/l (10%), 200 gr/l (20%).
Kemasan : 100, 250, 500 ml.
Indikasi : sebagai cairan resusitasi pada terapi intravena serta untuk
keperluan hidrasi selama dan sesudah operasi. Diberikan pada keadaan
oliguria ringan sampai sedang (kadar kreatinin kurang dari 25 mg/100ml).
Kontraindikasi : Hiperglikemia.
Adverse Reaction : Injeksi glukosa hipertonik dengan pH rendah dapat
e.

menyebabkan iritasi pada pembuluh darah dan tromboflebitis.


Ringer Asetat (RA)
Larutan ini merupakan salah satu cairan kristaloid yang cukup banyak
diteliti. Larutan RA berbeda dari RL (Ringer Laktat) dimana laktat
terutama dimetabolisme di hati, sementara asetat dimetabolisme terutama
di otot. Sebagai cairan kristaloid isotonik yang memiliki komposisi
elektrolit mirip dengan plasma, RA dan RL efektif sebagai terapi resusitasi
pasien dengan dehidrasi berat dan syok, terlebih pada kondisi yang disertai
asidosis. Metabolisme asetat juga didapatkan lebih cepat 3-4 kali
dibanding laktat. Dengan profil seperti ini, RA memiliki manfaat-manfaat
tambahan pada dehidrasi dengan kehilangan bikarbonat masif yang terjadi
pada diare.
Penggunaan Ringer Asetat sebagai cairan resusitasi sudah seharusnya
diberikan pada pasien dengan gangguan fungsi hati berat seperti sirosis
hati dan asidosis laktat. Hal ini dikarenakan adanya laktat dalam larutan

14

Ringer Laktat membahayakan pasien sakit berat karena dikonversi dalam


hati menjadi bikarbonat.
Ringer Asetat telah tersedia luas di berbagai negara. Cairan ini terutama
diindikasikan sebagai pengganti kehilangan cairan akut (resusitasi),
misalnya pada diare, DBD, luka bakar/syok hemoragik; pengganti cairan
selama prosedur operasi; loading cairan saat induksi anestesi regional;
priming solution pada tindakan pintas kardiopulmonal; dan juga
diindikasikan pada stroke akut dengan komplikasi dehidrasi.
Manfaat pemberian loading cairan pada saat induksi anastesi, misalnya
ditunjukkan oleh studi Ewaldsson dan Hahn (2001) yang menganalisis
efek pemberian 350 ml RA secara cepat (dalam waktu 2 menit) setelah
induksi anestesi umum dan spinal terhadap parameter-parameter volume
kinetik. Studi ini memperlihatkan pemberian RA dapat mencegah
hipotensi arteri yang disebabkan hipovolemia sentral, yang umum terjadi
setelah anestesi umum/spinal.
Untuk kasus obstetrik, Onizuka dkk (1999) mencoba membandingkan efek
pemberian infus cepat RL dengan RA terhadap metabolisme maternal dan
fetal, serta keseimbangan asam basa pada 20 pasien yang menjalani
kombinasi anestesi spinal dan epidural sebelum seksio sesarea. Studi ini
memperlihatkan pemberian RA lebih baik dibanding RL untuk ke-3
parameter di atas, karena dapat memperbaiki asidosis laktat neonatus
(kondisi yang umum terjadi pada bayi yang dilahirkan dari ibu yang
mengalami eklampsia atau pre-eklampsia).
Dehidrasi dan gangguan hemodinamik dapat terjadi pada stroke
iskemik/hemoragik akut, sehingga umumnya para dokter spesialis saraf

15

menghindari penggunaan cairan hipotonik karena kekhawatiran terhadap


edema otak. Namun, Hahn dan Drobin (2003) memperlihatkan pemberian
RA tidak mendorong terjadinya pembengkakan sel, karena itu dapat
diberikan pada stroke akut, terutama bila ada dugaan terjadinya edema
otak.
Hasil studi juga memperlihatkan RA dapat mempertahankan suhu tubuh
lebih baik dibanding RL secara signifikan pada menit ke 5, 50, 55, dan 65,
tanpa menimbulkan perbedaan yang signifikan pada parameter-parameter
hemodinamik (denyut jantung dan tekanan darah sistolik-diastolik).
f. Cairan Koloid
Merupakan larutan yang terdiri dari molekul-molekul besar yang sulit
menembus membran kapiler, digunakan untuk mengganti cairan
intravaskuler. Umumnya pemberian lebih kecil, onsetnya lambat,
durasinya lebih panjang, efek samping lebih banyak, dan lebih mahal.
Mekanisme secara umum memiliki sifat seperti protein plasma sehingga
cenderung tidak keluar dari membran kapiler dan tetap berada dalam
pembuluh darah, bersifat hipertonik dan dapat menarik cairan dari
pembuluh darah. Oleh karena itu penggunaannya membutuhkan volume
yang sama dengan jumlah volume plasma yang hilang. Digunakan untuk
menjaga dan meningkatkan tekanan osmose plasma.
g. Albumin
Komposisi : Albumin yang tersedia untuk keperluan klinis adalah protein
69-kDa yang dimurnikan dari plasma manusia (cotoh: albumin 5%).
Albumin merupakan koloid alami dan lebih menguntungkan karena :
volume yang dibutuhkan lebih kecil, efek koagulopati lebih rendah, resiko
akumulasi di dalam jaringan pada penggunaan jangka lama yang lebih
kecil dibandingkan starches dan resiko terjadinya anafilaksis lebih kecil.

16

Indikasi :

Pengganti volume plasma atau protein pada keadaan syok hipovolemia,


hipoalbuminemia, atau hipoproteinemia, operasi, trauma, cardiopulmonary
bypass, hiperbilirubinemia, gagal ginjal akut, pancretitis, mediasinitis,
selulitis luas dan luka bakar.

Pengganti volume plasma pada ARDS (Acute Respiratory Distress


Syndrome). Pasien dengan hipoproteinemia dan ARDS diterapi dengan
albumin dan furosemid yang dapat memberikan efek diuresis yang
signifikan serta penurunan berat badan secara bersamaan.

Hipoalbuminemia yang merupakan manifestasi dari keadaan malnutrisi,


kebakaran, operasi besar, infeksi (sepsis syok), berbagai macam kondisi
inflamasi, dan ekskresi renal berlebih.

Pada spontaneus bacterial peritonitis (SBP) yang merupakan komplikasi


dari sirosis. Sirosis memacu terjadinya asites/penumpukan cairan yang
merupakan media pertumbuhan yang baik bagi bakteri. Terapi antibiotik
adalah pilihan utama, sedangkan penggunaan albumin pada terapi tersebut
dapat mengurangi resiko renal impairment dan kematian. Adanya bakteri
dalam darah dapat menyebabkan terjadinya multi organ dysfunction
syndrome (MODS), yaitu sindroma kerusakan organ-organ tubuh yang
timbul akibat infeksi langsung dari bakteri.

Kontraindikasi : gagal jantung, anemia berat.


17

Produk : Plasbumin 20, Plasbumin 25.


h. HES (Hydroxyetyl Starches)
Komposisi : Starches tersusun atas 2 tipe polimer glukosa, yaitu amilosa
dan amilopektin.
Indikasi : Penggunaan HES pada resusitasi post trauma dapat menurunkan
permeabilitas pembuluh darah, sehingga dapat menurunkan resiko
kebocoran kapiler.
Kontraindikasi : Cardiopulmonary bypass, dapat meningkatkan resiko
perdarahan setelah operasi, hal ini terjadi karena HES berefek
antikoagulan pada dosis moderat (>20 ml/kg). Sepsis, karena dapat
meningkatkan resiko acute renal failure (ARF). Penggunaan HES pada
sepsis masih terdapat perdebatan.
Muncul spekulasi tentang penggunaan HES pada kasus sepsis, dimana
suatu penelitian menyatakan bahwa HES dapat digunakan pada pasien
sepsis karena :

Tingkat efikasi koloid lebih tinggi dibandingkan kristaloid, disamping


itu HES tetap bisa digunakan untuk menambah volume plasma
meskipun terjadi kenaikan permeabilitas.

Pada syok hipovolemia diperoleh innvestigasi bahwa HES dan albumin


menunjukkan manifestasi edema paru yang lebih kecil dibandingkan
kristaloid.

Dengan menjaga COP, dapat mencegah komplikasi lebih lanjut seperti


asidosis refraktori.

18

HES

juga

mempunyai

kemampuan

farmakologi yang sangat

menguntungkan pada kondisi sepsis yaitu menekan laju sirkulasi


dengan menghambat adesi molekuler.
Sementara itu pada penelitian yang lain, disimpulkan HES tidak boleh
digunakan pada sepsis karena :

Edema paru tetap terjadi baik setelah penggunaan kristaloid maupun


koloid (HES), yang manifestasinya menyebabkan kerusakan alveoli.

HES tidak dapat meningkatkan sirkulasi splanchnic dibandingkan


dengan gelatin pada pasien sepsis dengan hipovolemia.

HES mempunyai resiko lebih tinggi menimbulkan gangguan koagulasi,


ARF, pruritus, dan liver failure. Hal ini terutama terjadi pada pasien
dengan kondisi iskemik reperfusi (contoh: transplantasi ginjal).

Resiko nefrotoksik pada HES dua kali lebih tinggi dibandingkan


dengan gelatin pada pasien dengan sepsis.

Adverse reaction : HES dapat terakumulasi pada jaringan retikulo


endotelial jika digunakan dalam jangka waktu yang lama, sehingga dapat
menimbulkan pruritus.
Contoh : HAES steril, Expafusin.
i. Dextran

19

Komposisi : dextran tersusun dari polimer glukosa hasil sintesis dari


bakteri Leuconostoc mesenteroides, yang ditumbuhkan pada media
sukrosa.
Indikasi :

Penambah volume plasma pada kondisi trauma, syok sepsis, iskemia


miokard, iskemia cerebral, dan penyakit vaskuler perifer.

Mempunyai

efek

anti

trombus,

mekanismenya

adalah

dengan

menurunkan viskositas darah, dan menghambat agregasi platelet. Pada


suatu penelitian dikemukakan bahwa dextran-40 mempunyai efek anti
trombus paling poten jika dibandingkan dengan gelatin dan HES.
Kontraidikasi

(trombositopenia,

pasien

dengan

tanda-tanda

hipofibrinogenemia),

kerusakan

tanda-tanda

gagal

hemostatik
jantung,

gangguan ginjal dengan oliguria atau anuria yang parah.


Adverse Reaction : Dextran dapat menyebabkan syok anafilaksis, dextran
juga sering dilaporkan dapat menyebabkan gagal ginjal akibat akumulasi
molekul-molekul dextran pada tubulus renal. Pada dosis tinggi, dextran
menimbulkan efek pendarahan yang signifikan.
Contoh : hibiron, isotic tearin, tears naturale II, plasmafusin.
j. Gelatin
Komposisi : Gelatin diambil dari hidrolisis kolagen bovine.
Indikasi : Penambah volume plasma dan mempunyai efek antikoagulan,

20

Pada sebuah penelitian invitro dengan tromboelastropgraphy diketahui


bahwa

gelatin

memiliki

efek

antikoagulan,

namun

lebih

kecil

dibandingkan HES.
Kontraindikasi : haemacel tersusun atas sejumlah besar kalsium, sehingga
harus dihindari pada keadaan hiperkalsemia.
Adverse reaction : dapat menyebabkan reaksi anafilaksis. Pada penelitian
dengan 20.000 pasien, dilaporkan bahwa gelatin mempunyai resiko
anafilaksis yang tinggi bila dibandingkan dengan starches.
Contoh : haemacel, gelofusine.
k. Cairan Khusus
Contoh dalam kelompok ini seperti cairan mannitol.
II.6 Transfusi darah 2,3,7,8,9,10,11
II.7.1 Definisi
Darah berasal dari bahasa Yunani haima yang artinya darah. Dalam
darah terkandung hemoglobin yang berfungsi sebagai pengikat oksigen.
Hemoglobin merupakan protein pengangkut oksigen.
II.7.2 Komponen darah
Darah terdiri daripada beberapa jenis korpuskula yang membentuk
45% bagian dari darah, angka ini dinyatakan dalam nilai hematokrit atau
volume sel darah merah yang dipadatkan yang berkisar antara 40 sampai 47.
Bagian 55% yang lain berupa cairan kekuningan yang membentuk medium
cairan darah yang disebut plasma darah
Korpuskula darah terdiri dari:
1. Sel darah merah atau eritrosit (sekitar 99%).
Eritrosit tidak mempunyai nukleus sel ataupun organela, dan tidak
dianggap sebagai sel dari segi biologi. Eritrosit mengandung hemoglobin
dan mengedarkan oksigen. Sel darah merah juga berperan dalam
penentuan golongan darah. Orang yang kekurangan eritrosit menderita

21

penyakit anemia. Jumlah pada pria dewasa sekitar 5 juta sel/cc darah dan
pada wanita sekitar 4 juta sel/cc darah. Kadar Hb inilah yang dijadikan
patokan dalam menentukan penyakit Anemia. Eritrosit berusia sekitar 120
hari.
2. Keping-keping darah atau trombosit (0,6 1,0%
Trombosit bertanggung jawab dalam proses pembekuan darah. Normal
berkisar antara 200.000-300.000 keping/mm
3. Sel darah putih atau leukosit (0,2%)
Leukosit bertanggung jawab terhadap sistem imun tubuh dan bertugas
untuk memusnahkan benda-benda yang dianggap asing dan berbahaya
oleh tubuh, misal virus atau bakteri. Fungsi utama dari leukosit tersebut
adalah untuk Fagosit (pemakan) bibit penyakit/ benda asing yang masuk
ke dalam tubuh. Peningkatan jumlah lekosit merupakan petunjuk adanya
infeksi. Orang yang kelebihan leukosit menderita penyakit leukimia,
sedangkan

orang

yang

kekurangan

leukosit

menderita

penyakit leukopenia. Jumlah sel pada orang dewasa berkisar antara 6000
9000 sel/cc darah.Plasma darah adalah bagian yang tidak mengandung sel
darah. Komposisi plasma darah :
Air
Protein
Protein plasma terdiri dari :
1. Albumin

Menjaga tekanan osmotik koloid

2. Globulin

( 57% )

( 40% )

Terdiri dari 1, 2, , globulin.


Berperan dlm kekebalan tubuh.

22

Tiap antibodi bersifat spesifik terhadap antigen dan reaksinya bermacammacam:


- Antibodi yang dapat menggumpalkan antigen (Presipitin)
- Antibodi yang dapat menguraikan antigen (Lisin)
- Antibodi yang dapat menawarkan racun (Antitoksin)

3. Fibrinogen

( 3% )

Mengandung faktor-faktor koagulasi

Serum adalah cairan berwarna kuning supernatan yg terdapat pada darah yg


mengalami koagulasi. Serum tidak mengandung fibrinogen, faktor koagulasi
( f. II, f.V , f. VIII ).
II.7.3 Fungsi darah
Fungsi Umum Darah adalah :
1. Transportasi (sari makanan, oksigen, karbondioksida, sampah dan air)
2. Termoregulasi (pengatur suhu tubuh
3. Imunologi (mengandung antibodi tubuh)
4. Homeostasis (mengatur keseimbangan zat, pH regulator)
II.7.4 Transfusi darah
Transfusi

darah

adalah

tindakan

memindahkan

darah

atau

komponennya ke dalam sistim pembuluh darah seseorang. Komponen darah


yang biasa ditransfusikan ke dalam tubuh seseorang adalah sel darah merah,
trombosit, plasma, sel darah putih.
Transfusi

darah

adalah

suatu

pengobatan

yang

bertujuan

menggantikan atau menambah komponen darah yang hilang atau terdapat


dalam jumlah yang tidak mencukupi.

23

Transfusi darah dapat dikelompokkan menjadi 2 golongan utama


berdasarkan sumbernya,yaitu transfusi allogenic dan transfusi autologus.
Transfusi allogenic adalah darah yang disimpan untuk transfusi berasal dari
tubuh orang lain. Sedangkan transfusi autologus adalah darah yang disimpan
berasal dari tubuh donor sendiri yang diambil 3 unit beberapa

hari

sebelumnya, dan setelah 3 hari ditransferkan kembali ke pasien.


II.7.5 Tujuan transfusi darah
Tujuan dari transfusi darah atara lain :
1. Meningkatkan volume darah sirkulasi (setelah pembedahan, trauma).
2. Meningkatkan jumlah sel darah merah dan untuk mempertahankan kadar
hemoglobin pada klien anemia.
3. Memberikan komponen seluler tertentu sebagai terapi (misalnya: faktor
pembekuan

untuk

membantu

mengontrol

perdarahan

pada

pasien hemofilia).
4. Meningkatkan oksigenasi jaringan.
5. Memperbaiki fungsi Hemostatis.
II.7.6 Indikasi transfusi darah
Dalam pedoman WHO disebutkan :
1. Transfusi tidak boleh diberikan tanpa indikasi kuat.
2. Transfusi hanya diberikan berupa komponen darah pengganti yang
hilang/kurang.
Berdasarkan pada tujuan di atas, maka saat ini transfusi darah
cenderung memakai komponen darah disesuaikan dengan kebutuhan.
Misalnya kebutuhan akan sel darah merah, granulosit, trombosit, dan plasma
darah yang mengandung protein dan faktor-faktor pembekuan. Indikasi
transfusi darah dan komponen-konponennya adalah :

24

1. Anemia pada perdarahan akut setelah didahului penggantian volume


2.
3.
4.
5.

dengan cairan.
Anemia kronis.
Gangguan pembekuan darah karena defisiensi komponen.
Plasma loss atau hipoalbuminemia.
Kehilangan sampai 30% EBV umumnya dapat diatasi dengan cairan
elektrolit saja. Kehilangan lebih daripada itu, setelah diberi cairan

elektrolit perlu dilanjutkan dengan transfusi jika Hb<8 gr/dl.


II.7.7 Jenis transfusi darah
a. Darah lengkap (whole blood)
Darah lengkap mempunyai komponen utama yaitu eritrosit, darah
lengkap juga mempunyai kandungan trombosit dan faktor
pembekuan labil (V, VIII). Volume darah sesuai kantong darah
yang dipakai yaitu antara lain 250 ml, 350 ml, 450 ml. Dapat
bertahan dalam suhu 42C. Darah lengkap berguna untuk
meningkatkan jumlah eritrosit dan plasma secara bersamaan. Hb
meningkat 0,90,12 g/dl dan Ht meningkat 3-4 % post transfusi
450 ml darah lengkap. Tranfusi darah lengkap hanya untuk
mengatasi perdarahan akut dan masif, meningkatkan dan
mempertahankan proses pembekuan. Darah lengkap diberikan
dengan golongan ABO dan Rh yang diketahui. Dosis pada
pediatrik rata-rata 20 ml/kg, diikuti dengan volume yang
diperlukan untuk stabilisasi.
Indikasi :
1. Penggantian volume pada pasien dengan syok hemoragi,
trauma atau luka bakar

25

2. Pasien dengan perdarahan masif dan telah kehilangan lebih dari


25% dari volume darah total.
Rumus kebutuhan whole blood

6 x Hb (Hb normal -Hb pasien) x BB


Ket :

Hb normal : Hb yang diharapkan atau Hb normal


Hb pasien : Hb pasien saat ini

Darah lengkap ada 3 macam. Yaitu :


1. Darah Segar
Yaitu darah yang baru diambil dari donor sampai 6 jam sesudah
pengambilan.

Keuntungan

pemakaian

darah

segar

ialah

faktor

pembekuannya masih lengkap termasuk faktor labil (V dan VIII) dan


fungsi eritrosit masih relatif baik. Kerugiannya sulit diperoleh dalam
waktu yang tepat karena untuk pemeriksaan golongan, reaksi silang dan
transportasi diperlukan waktu lebih dari 4 jam dan resiko penularan
penyakit relatif banyak.
2. Darah Baru
Yaitu darah yang disimpan antara 6 jam sampai 6 hari sesudah diambil dari
donor. Faktor pembekuan disini sudah hampir habis, dan juga dapat terjadi
peningkatan kadar kalium, amonia, dan asam laktat.
3. Darah Simpan
Darah yang disimpan lebih dari 6 hari sampai 35 hari. Keuntungannya
mudah tersedia setiap saat, bahaya penularan lues dan sitomegalovirus

26

hilang. Sedang kerugiaannya ialah faktor pembekuan terutama faktor V


dan VIII sudah habis. Kemampuan transportasi oksigen oleh eritrosit
menurun yang disebabkan karena afinitas Hb terhadap oksigen yang
tinggi, sehingga oksigen sukar dilepas ke jaringan. Hal ini disebabkan oleh
penurunan kadar 2,3 DPG. Kadar kalium, amonia, dan asam laktat tinggi.
b. Sel darah merah
Packed red cell
Packed red cell diperoleh dari pemisahan atau pengeluaran
plasma secara tertutup atau septik sedemikian rupa sehingga
hematokrit menjadi 70-80%. Volume tergantung kantong darah
yang dipakai yaitu 150-300 ml. Suhu simpan 42C. Lama
simpan darah 24 jam dengan sistem terbuka.
Packed cells merupakan komponen yang terdiri dari eritrosit
yang telah dipekatkan dengan memisahkan komponenkomponen yang lain. Packed cells banyak dipakai dalam
pengobatan anemia terutama talasemia, anemia aplastik,
leukemia dan anemia karena keganasan lainnya. Pemberian
transfusi bertujuan untuk memperbaiki oksigenasi jaringan dan
alat-alat tubuh. Biasanya tercapai bila kadar Hb sudah di atas 8
g%.
Untuk menaikkan kadar Hb sebanyak 1 gr/dl diperlukan PRC 4
ml/kgBB atau 1 unit dapat menaikkan kadar hematokrit 3-5 %.
Diberikan selama 2 sampai 4 jam dengan kecepatan 1-2
mL/menit, dengan golongan darah ABO dan Rh yang diketahui.
Kebutuhan darah (ml) :

27

3 x Hb (Hb normal -Hb pasien) x BB


Ket :
-Hb normal : Hb yang diharapkan atau Hb normal
-Hb pasien : Hb pasien saat ini
Tujuan transfusi PRC adalah untuk menaikkan Hb pasien tanpa menaikkan
volume darah secara nyata. Keuntungan menggunakan PRC dibandingkan dengan
darah jenuh adalah:
1. Mengurangi kemungkinan penularan penyakit
2. Mengurangi kemungkinan reaksi imunologis
3. Volume darah yang diberikan lebih sedikit sehingga kemungkinan
overload berkurang
4. Komponen darah lainnya dapat diberikan pada pasien lain.
Indikasi: :
1. Kehilangan darah >20% dan volume darah lebih dari 1000 ml.
2. Hemoglobin <8 gr/dl.
3. Hemoglobin <10 gr/dl dengan penyakit-penyakit utama : (misalnya
empisema, atau penyakit jantung iskemik)

28

4. Hemoglobin <12 gr/dl dan tergantung pada ventilator.


Dapat disebutkan bahwa :
Hb sekitar 5 adalah Critical
Hb sekitar 8 adalah Tolerable
Hb Sekitar 10 Adalah Optimal
Transfusi mulai diberikan pada saat Hb Critical dan dihentikan setelah mencapai
batas Tolerable atau Optimal
1. Frozen Wash Concentrated Red Blood Cells (Sel Darah Merah Pekat Beku
yang Dicuci)
Diberikan untuk penderita yang mempunyai antibodi terhadap sel darah
merah yang menetap.
2. Washed red cell
Washed red cell diperoleh dengan mencuci packed red cell 2-3 kali dengan
saline, sisa plasma terbuang habis. Berguna untuk penderita yang tak bisa
diberi human plasma. Kelemahan washed red cell yaitu bahaya infeksi
sekunder yang terjadi selama proses serta masa simpan yang pendek (4-6
jam). Washed red cell dipakai dalam pengobatan aquired hemolytic anemia
dan exchange transfusion.(3) Untuk penderita yang alergi terhadap protein
plasma
3. Darah merah pekat miskin leukosit
Kandungan utama eritrosit, suhu simpan 42C, berguna untuk
meningkatkan jumlah eritrosit pada pasien yang sering memerlukan

29

transfusi. Manfaat komponen darah ini untuk mengurangi reaksi panas dan
alergi.

White Blood Cells (WBC atau leukosit)

Komponen ini terdiri dari darah lengkap dengan isi seperti PRC, plasma
dihilangkan 80 % , biasanya tersedia dalam volume 150 ml. Dalam pemberian
perlu diketahui golongan darah ABO dan sistem Rh. Apabila diresepkan berikan
dipenhidramin. Berikan antipiretik, karena komponen ini bisa menyebabkan
demam dan dingin. Untuk pencegahan infeksi, berikan tranfusi dan disambung
dengan antibiotik.
Indikasi :Pasien sepsis yang tidak berespon dengan antibiotik (khususnya untuk
pasien

dengan

kultur

darah

positif,

demam

persisten

/38,3

dan

granulositopenia).

Suspensi trombosit

Pemberian trombosit seringkali diperlukan pada kasus perdarahan yang


disebabkan oleh kekurangan trombosit. Pemberian trombosit yang berulang-ulang
dapat menyebabkan pembentukan thrombocyte antibody pada penderita. (3)
Transfusi trombosit terbukti bermanfaat menghentikan perdarahan karena
trombositopenia. Komponen trombosit mempunyai masa simpan sampai dengan 3
hari.(2)
Indikasi pemberian komponen trombosit ialah :

30

1. Setiap perdarahan spontan atau suatu operasi besar dengan jumlah


trombositnya kurang dari 50.000/mm3. Misalnya perdarahan pada
trombocytopenic purpura, leukemia, anemia aplastik, demam berdarah,
DIC dan aplasia sumsum tulang karena pemberian sitostatika terhadap
tumor ganas.
2. Splenektomi pada hipersplenisme penderita talasemia maupun hipertensi
portal juga memerlukan pemberian suspensi trombosit prabedah.
Rumus Transfusi Trombosit

BB x 1/13 x 0.3
Macam sediaan:
1. Platelet Rich Plasma (plasma kaya trombosit)
Platelet Rich Plasma dibuat dengan cara pemisahan plasma dari darah
segar. Penyimpanan 34C sebaiknya 24 jam.
2. Platelet Concentrate (trombosit pekat)
Kandungan utama yaitu trombosit, volume 50 ml dengan suhu simpan
202C. Berguna untuk meningkatkan jumlah trombosit. Peningkatan post
transfusi pada dewasa rata-rata 5.000-10.000/ul. Efek samping berupa
urtikaria, menggigil, demam, alloimunisasi Antigen trombosit donor.
Dibuat dengan cara melakukan pemusingan (centrifugasi) lagi pada Platelet
Rich Plasma, sehingga diperoleh endapan yang merupakan pletelet
concentrate dan kemudian memisahkannya dari plasma yang diatas yang
berupa Platelet Poor Plasma. Masa simpan 48-72 jam.

31

Plasma

Plasma darah bermanfaat untuk memperbaiki volume dari sirkulasi darah


(hypovolemia, luka bakar), menggantikan protein yang terbuang seperti
albumin pada nephrotic syndrom dan cirhosis hepatis, menggantikan dan
memperbaiki jumlah faktor-faktor tertentu dari plasma seperti globulin.
Macam sediaan plasma adalah:
1. Plasma cair
Diperoleh dengan memisahkan plasma dari whole blood pada pembuatan
packed red cell.
2. Plasma kering (lyoplylized plasma)
Diperoleh dengan mengeringkan plasma beku dan lebih tahan lama (3
tahun).
3. Fresh Frozen Plasma
Dibuat dengan cara pemisahan plasma dari darah segar dan langsung
dibekukan pada suhu -60C. Pemakaian yang paling baik untuk
menghentikan perdarahan (hemostasis).(3)
Kandungan utama berupa plasma dan faktor pembekuan, dengan volume
150-220 ml. Suhu simpan -18C atau lebih rendah dengan lama simpan 1
tahun. Berguna untuk meningkatkan faktor pembekuan bila faktor
pembekuan pekat/kriopresipitat tidak ada. Ditransfusikan dalam waktu 6
jam setelah dicairkan. Fresh frozen plasma (FFP) mengandung semua
protein plasma (faktor pembekuan), terutama faktor V dan VII. FFP biasa
diberikan setelah transfusi darah masif, setelah terapi warfarin dan
koagulopati pada penyakit hepar. Setiap unit FFP biasanya dapat menaikan
masing-masing kadar faktor pembekuan sebesar 2-3% pada orang dewasa.
32

Sama dengan PRC, saat hendak diberikan pada pasien perlu dihangatkan
terlebih dahulu sesuai suhu tubuh.
Pemberian dilakukan secara cepat, pada pemberian FFP dalam jumlah
besar diperlukan koreksi adanya hypokalsemia, karena asam sitrat dalam
FFP mengikat kalsium. Perlu dilakukan pencocokan golongan darah ABO
dan system Rh.
Efek samping berupa urtikaria, menggigil, demam, hipervolemia.
Indikasi :
- Mengganti defisiensi faktor IX (hemofilia B)
- Neutralisasi hemostasis setelah terapi warfarin bila terdapat perdarahan
-

yang mengancam nyawa.


Adanya perdarahan dengan parameter koagulasi yang abnormal setelah

transfusi massif
Pasien dengan penyakit hati dan mengalami defisiensi faktor

pembekuan
4. Cryopresipitate
Komponen utama yang terdapat di dalamnya adalah faktor VIII, faktor
pembekuan XIII, faktor Von Willbrand, fibrinogen. Penggunaannya ialah
untuk menghentikan perdarahan karena kurangnya faktor VIII di dalam
darah penderita hemofili A.
Cara pemberian ialah dengan menyuntikkan intravena langsung, tidak
melalui tetesan infus, pemberian segera setelah komponen mencair, sebab
komponen ini tidak tahan pada suhu kamar. (2)
Suhu simpan -18C atau lebih rendah dengan lama simpan 1 tahun,
ditransfusikan dalam waktu 6 jam setelah dicairkan. Efek samping berupa
demam, alergi. Satu kantong (30 ml) mengadung 75-80 unit faktor VIII,
150-200 mg fibrinogen, faktor von wilebrand, faktor XIII
Indikasi :
- Hemophilia A
- Perdarahan akibat gangguan faktor koagulasi
- Penyakit von wilebrand

33

Rumus Kebutuhan Cryopresipitate :

0.5x Hb (Hb normal -Hb pasien) x BB


5. Albumin
Dibuat dari plasma, setelah gamma globulin, AHF dan fibrinogen
dipisahkan dari plasma. Kemurnian 96-98%. Dalam pemakaian diencerkan
sampai menjadi cairan 5% atau 20% 100 ml albumin 20% mempunyai
tekanan osmotik sama dengan 400 ml plasma biasa
Rumus Kebutuhan Albumin

albumin x BB x 0.8
II.7.8 Reaksi Imunologi
a. Reaksi Transfusi Hemolitik
Reaksi transfusi hemolitik merupakan reaksi yang jarang terjadi
tetapi serius dan terdapat pada satu diantara dua puluh ribu
penderita yang mendapat transfusi.
Lisis sel darah donor oleh antibodi resipien. Hal ini bisa terjadi
dengan cara reaksi transfusi hemolitik segera dan reaksi transfusi
hemolitik lambat
Reaksi ini sering terjadi akibat kesalahan manusia sebagai
pelaksana, misalnya salah memasang label atau membaca label
pada botol darah.
Tanda-tanda reaksi hemolitik lain ialah menggigil, panas,
kemerahan pada muka, bendungan vena leher , nyeri kepala, nyeri
dada, mual, muntah, nafas cepat dan dangkal, takhikardi, hipotensi,
hemoglobinuri, oliguri, perdarahan yang tidak bisa diterangkan
asalnya, dan ikterus. Pada penderita yang teranestesi hal ini sukar

34

untuk dideteksi dan memerlukan perhatian khusus dari ahli


anestesi, ahli bedah dan lain-lain.
Tanda-tanda yang dapat dikenal ialah takhikardi, hemoglobinuri,
hipotensi, perdarahan yang tiba-tiba meningkat, selanjutnya terjadi
ikterus dan oliguri.
Terapi reaksi transfusi hemolitik : pemberian cairan intravena dan
diuretika. Cairan digunakan untuk mempertahankan jumlah urine
yang keluar. Diuretika yang digunakan ialah :
1. Manitol 25 %, sebanyak 25 gr diberikan secara intravena
kemudian diikuti pemberian 40 mEq Natrium bikarbonat.
2. Furosemid
Bila terjadi hipotensi penderita dapat diberi larutan Ringer laktat,
albumin dan darah yang cocok. Bila volume darah sudah mencapai
normal penderita dapat diberi vasopressor. Selain itu penderita
perlu diberi oksigen. Bila terjadi anuria yang menetap perlu
tindakan dialysis.
b. Reaksi Transfusi Non Hemilitik
1. Reaksi transfusi febrile
Tanda-tandanya adalah sebagai berikut : Menggigil, panas,
nyeri kepala, nyeri otot, mual.
2. Reaksi alergi
Anafilaksis : Keadaan ini terjadi bila terdapat protein asing

pada darah transfusi.


Urtikaria, paling sering terjadi dan penderita merasa gatalgatal. Biasanya muka penderita sembab.

35

Terapi yang perlu diberikan ialah antihistamin, dan transfusi


harus disetop.
c. Reakasi Non Imunologi
1. Reaksi yang disebabkan oleh volume yang berlebihan
2. Reaksi karena darah transfusi terkontaminasi
3. Virus hepatitis, Malaria, sifilis, virus CMG dan virus EpsteinBarr parasit serta bakteri
4. AIDS
Untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya reaksi selama
transfusi,

dilakukan

beberapa

tindakan

pencegahan. Setelah

diperiksa ulang bahwa darah yang akan diberikan memang


ditujukan untuk resipien yang akan menerima darah tersebut,
petugas secara perlahan memberikan darah kepada resipien,
biasanya selama 2 jam atau lebih untuk setiap unit darah.
Karena sebagian besar reaksi ketidakcocokan terjadi dalam15
menit pertama, , maka pada awal prosedur, resipien harus diawasi
secaraketat.
Setelah itu, petugas dapat memeriksa setiap 30- 45 menit dan jika
terjadi reaksi ketidakcocokan, maka transfusi harus dihentikan.

36

DAFTAR PUSTAKA
1. Sudoyo W. A., Setiyohadi.B., dkk.2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam, Ed.5. Jilid 1. Internal Publishing: Jakarta
2. Guyton AC dan Hell JE (2008) Buku AjarFisiologi Kedoktera.
Ed.11. Jakarta : EGC.
3. Latief A S,dkk petunjuk anestesiologi : terapi cairan pada
pembedahan, ed.2 bagian anestesiologi dan terapi intensif, FK UI.
4. Bongard F.S., Sue D.Y., Vintch J.R., 2008. Current Diagnosis and
Treatment Critical Care Third Edition. McGraw Hill.
5. Brenner M., Safani M., 2005. Critical Care and Cardiac Medicine.
Current Clinical Strategies Publishing.
6. Carpenter D.O., 2001. Handbook of Pathophysiology. Springhouse
Corporation.
7. Singer M., Webb A.R., 2005. OxfordHandbook of Critical Care 2nd
Edition. Oxford University Press Inc.
8. Sue, D.Y., 2005. Current Essentials of Critical Care. McGraw Hill.
9. Carson JL et al. 2012. Red blood transfusion: A clinical practice
guideline from the AABB . Annals of internal medicine
10. Sherwood L(2009)Fisiologi manusia dari sel ke sistem edisi ke 6.
Jakarta:EGC
11. WHO (2013) the clinical use of blood in general medicine obstetric
pediatrics surgery & anaesthasia trauma and Bums .geneva WHO

37