Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PRAKTIKUM UJI MUTU OBAT

TABLET IBUPROFEN 200 mg

Kelompok

: 3A (Tiga A)

Kelas

: Apoteker A

Anggota

: Hasmawati

(3351141423)

Erlangga Restu M (3351141427)


Chresgers L

(3351141430)

Program Studi Apoteker


Fakultas Farmasi
Universitas Jenderal Achmad Yani
2015

BAB I
PENDAHULUAN

Ibuprofen merupakan golongan obat anti inflamasi non steroid derivat asam
propionat yang mempunyai aktivitas analgetik dengan daya antiinflamsi tidak
terlalu kuat. Mekanisme ibuprofen adalah menghambat isoenzim siklooksigenase1 dan siklooksigenase-2 dengan cara mengganggu perubahan asam arakidonat
menjadi prostaglandin. Enzim

siklooksigenase berperan dalam memacu

pembentukan prostaglandin dan tromboksan asam arakidonat, sedangkan


prostaglandin adalah molekul pembawa pesan pada proses inflamasi atau
peradangan. Efek analgetik ibuprofen adalah sama seperti aspirin. Efek analgetik
obat tersebut terlihat dengan memberikan dosis 1200-2400 mg sehari (Wilmana
dan Gan, 2007).
Penggunaan ibuprofen untuk mengurangi penyakit sebagai analgetik-antipiretik.
Ibuprofen ketika digunakan secara oral akan diabsorpsi secara cepat oleh usus
dengan konsentrasi puncak dalam plasma terjadi dalam waktu1-2 jam. Ibuprofen
akanterikat oleh protein plasma sekitar 90-99%. Metabolisme ibuprofen melalui
hidroksilasi maupun karboksilasi. Ekskresi ibuprofen sangat cepat sekitar lebih
dari 90% pada urin dalam bentuk metabolit (Wilmana dan Gan, 2007).
Nama dagang ibuprofen Arthrifen, Axalan, Brufen, Ibufen, Prifen, Ostarin, Ifen,
dan lain lain. Ibuprofen yang beredar bentuk sediaannya seperti tablet dan
kapsul. (Theodorus, 1996)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1

Pengertian tablet

Tablet merupakan bentuk sediaan padat yang relatif lebih stabil secara fisika
kimia dan bahan obat dalam bentuk sediaan padat yang sering dibuat dengan
penambahan bahan tambahan farmasetika yang dirancang. Tablet pun
mengandung dosis zat aktif yang relatif tepat, dapat mengandung zat aktif
dalam jumlah besar dengan volume kecil. Pada rancangan pembuatan tablet
berbeda-beda seperti: ukuran, bentuk, berat,kekerasan, ketebalan, daya
hancur, dan dalam aspek lainnya yaitu cara pemakaian maupun metode
pembutan tablet (Ansel, 1989).
Tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempa cetak, dalam
bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung,
mengandung satu jenis obatatau lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Zat
tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai zat pengisi, zat
pengembang, zat pengikat, zat pelicin, zat pembasah atau zat lain yang cocok
(Dirjen POM,1979).
II.2

Ibuprofen

Ibuprofen adalah satu dari obat paling aman untuk pengobatan nyeri,
inflamasi, dan demam. Ibuprofen merupakan obat yang termasuk ke dalam
kelompok AINS (Anti Inflamasi Non Steroid). Ibuprofen memiliki efek
samping umum antara lain ruam, diare, telinga berdengung, mual, sakit
kepala, sembelit, pening, rasa panas, nyeri perut.
Tablet ibuprofen mengandung ibuprofen, C13H18O2 , tidak kurang dari 90,0%
dan tidak lebih dari 110,0% dari jumlah yang tertera pada etiket.

1. Nama kimia

: -2-(p-isobutilfenil) asam propionat

2. Berat molekul

: 206, 28

3. Rumus Molekul

: C13H18O2

4. Kelarutan

: Praktis tidak larut dalam air; sangat mudah larut


dalam etanol, dalam metanol, dalam aseton dan
dalam kloroform; sukar larut dalam etil asetat

5. Pemerian

: Ibuprofen berupa serbuk hablur, putih hingga


hampir putih, berbau khas lemah.

6. Stabilitas

: pH 7,2 (pada buffer fosfat)

7. Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik dan ditempat kering


(Dirjen POM, 1995)

8. Farmakokinetik

: Ibuprofen diserap dengan mudah dari dinding


saluran pencernaan. Kadar puncak dalam darah
dicapai 1-2 jam setelah pemberian oral, dengan
waktu paruh eliminasi selama dua jam. Eskresi
ibuprofen terjadi dengan cepat dan sempurna.
Lebih dari 90% dari dosis yang diberikan dieskresi
melalui urin sebagai metabolit asam konjugatnya
(Gilman, 1996).

9.

Indikasi

: Nyeri pasca operasi (Cabut gigi, episiotomi)


dismenoria, sakit kepala, demam, reumatoid
artritis, osteoartritis, spondilitas ankilosa.

10. Kontraindikasi

: Ulkus peptikum, penyakit hati dan ginjal, wanita


hamil dan menyusui.

11. Interaksi obat

: mempengaruhi aktifitas antikoagulan. Aspirin


menurunkan aktifitasnya. Menghambat akumulasi
metotreksat.

Menurunkan

efek

diuretika.

Meningkatkan toksisitas litium.


12. Dosis, Perhitungan dosis dan aturan Pakai
Dosis Dewasa

: 4 6 x 200-400 mg/hari

Anak

: 30-40 mg/kgbb/hari (Theodorus, 1996)

Identifikasi ibuprofen berdasarkan Farmakope Indonesia edisi 4 adalah


menggunakan spektrofotometri ultraviolet, spektrofotometri inframerah,

kromatografi cair kinerja tinggi, dengan menggunakan baku pembanding


ibuprofen BPFI. (Dirjen POM, 1995)
II.3

Evaluasi Tablet
Untuk menjamin agar mutu sediaan tablet sama, maka perlu dilakukan uji
sediaan. Uji uji yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Keseragaman ukuran tablet
Diameter tablet tidak lebih dari tiga kali dan tidak kurang dari satu
sepertiga kali tebal tablet. (Dirjen POM, 1979)
2. Keseragaman bobot tablet
Farmakope Indonesia memberi aturan cara uji keseragaman bobot dan
batas toleransi yang masih dapat diterima, yaitu tablet tidak bersalut
harus memenuhi syarat keseragaman bobot yang ditetapkan sebagai
berikut : timbang 20 tablet satu per satu, hitung bobot rata-ratanya dan
penyimpangan bobot rata-ratanya. Persyaratan keseragaman bobot
terpenuhi jika tidak lebih dari dua tablet yang masing-masing bobotnya
menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar dari harga yang ditetapkan
pada kolom A, dan tidak satu pun tablet yang bobotnya menyimpang dari
bobot rata-ratanya lebih besar dari harga yang ditetapkan pada kolom B.
Apabila tidak mencukupi dari 20 tablet, dapat digunakan 10 tablet, tidak
satu tabletpun yang bobotnya menyimpang lebih dari bobot rata-rata
yang ditetapkan pada kolom B. (Dirjen POM, 1979)
3. Kekerasan Tablet
Kekerasan tablet dan ketebalannya berhubungan dengan isi die dan gaya
kompresi yang diberikan. Bila tekanan ditambah, maka kekerasan tablet
meningkat sedangkan ketebalan tablet berkurang. Selain itu, metode
granulasi juga menentukan kekerasan tablet. Persyaratan kekerasan tablet
umumnya berkisar 4 - 8 kg, bobot tersebut dianggap sebagai batas
minimum untuk menghasilkan untuk menghasilkan tablet yang
memuaskan. (Lachmann, 1994)
4. Friability tablet

Kekerasan tablet bukanlah indikator yang mutlak dari kekuatan tablet.


Cara lain untuk menentukan kekuatan tablet adalah dengan mengukur
keregasannya. Gesekan dan goncangan merupakan penyebab tablet
menjadi hancur. Untuk menguji keregasan tablet digunakan alat Roche
friabilator. Sebelum tablet dimasukkan kedalam alat friabilator, tablet
ditimbang terlebih dahulu. Kemudian tablet dimasukkn ke dalam alat,
lalu alat dioperasikan selama 4 menit atau 100 putaran. Tablet ditimbang
kembali dan dibandingkan dengan berat mula mula. Selisih berat
dihitung sampai keregasan tablet. Persyaratan keregasan tablet harus
lebih kecil dari 0,8%. (Lachman,1994).
5. Waktu hancur tablet
Waktu hancur penting dilakukan jika tablet diberikan per oral, kecuali
tablet yang harus dikunyah sebelum ditelan dan beberapa jenis tablet
lepas-lambat dan lepas tunda. Untuk obat yang kelarutannya dalam air
terbatas, uji disolusi akan lebih berarti dari pada uji waktu hancur (Dirjen
POM, 1979).
6.

Keseragaman sediaan
Keseragaman sediaan dapat ditetapkan dengan salah satu dari dua metode,
yaitu keragaman bobot atau keragaman kandungan untuk sediaan
mengandung zat aktif dan sediaan mangandung dua atau lebih zat aktif.
Persyaratan keragaman bobot dapat diterapkan pada produk yang
mengandung zat aktif 50 mg atau lebih yang merupakan 50% atau lebih,
dari bobot, satuan sediaan.
Keseragaman dari zat aktif lain, jika ada dalam jumlah lebih kecil,
ditetapkan dengan persyaratan keseragaman kandungan Persyaratan
keseragaman kandungan dapat diterapkan pada semua sediaan. Uji
keseragaman kandungan diperlukan pada tablet bersalut. (Dirjen POM,
1995)

7. Uji disolusi
Disolusi adalah suatu proses larutnya zat aktif dari suatu sediaan dalam
medium. Hal ini berlaku untuk obat-obat yang diberikan secara oral dalam
6

bentuk padat seperti tablet. Uji ini dimaksudkan untuk mengetahui


banyaknya zat aktif yang terabsorbsi dan memberikan efek terapi di dalam
tubuh (Ansel, 1989).

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

III.1

Alat Percobaan

III.2

Labu ukur
Friabilator
Hardness tester
Jangka sorong
Timbangan analitik
Beaker gelas
Spatel
Batang pengaduk
Pipet tetes
Pipet volume
Spektrofotometri UV-Visible

Bahan Percobaan

Tablet ibuprofen 200 mg


NaOH 0,1 N

BAB IV
HASIL PERCOBAAN

IV.1

Organoleptis

Tablet ibuprofen 200 mg


Bentuk

: bulat, permukaan licin dan agak mengkilat

Bau

: tidak berbau

Rasa

: pahit

Warna

: putih

IV.2

Keseragaman ukuran
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
No
16
17
18
19
20
Ratarata

Diameter Tablet (mm)


4,2
4,2
4,3
4,2
4,2
4,3
4,3
4,3
4,3
4,3
4,3
4,4
4,3
4,3
4,3
Diameter Tablet (mm)
4,2
4,4
4,3
4,3
4,3

Tebal Tablet (mm)


11,2
11,1
11,2
11,2
11,2
11,2
11,2
11,2
11,2
11,2
11,2
11,2
11,2
11,2
11,2
Tebal Tablet (mm)
11,2
11,1
11,2
11,2
11,2

4,28

11,19

IV.3

Kekerasan tablet
No Tablet
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
No Tablet
19
20
Rata-rata

IV.4

Friability
Jumlah Tablet
20 Tablet

IV.5

Kekerasan
11
14
12
13
15
14
14
11
11
11
12
12
12
13
14
13
12
10
Kekerasan
15
11
12,5

Berat Awal (g)


8,2539

Berat Akhir (g)


8,2514

Keseragaman bobot
Tablet
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Bobot (mg)
411,7
415,5
415,3
406,5
407,3
412,9
410,2
413,9
412,9
407,6

Penyimpangan (%)
0,12
0,80
0,80
0,58
1,18
0,16
0,48
0,41
0,16
1,11

Tablet

Bobot (mg)

Penyimpangan (%)

Friabilitas
0,03 %

11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
Ratarata

IV.6

IV.7

404,7
413,3
413,2
413,2
417,4
412,6
412,8
414,7
415,5
410,7

1,16
0,26
0,24
0,24
0,26
0,09
0,14
0,60
0,80
0,36

412,2

0,4975

Waktu hancur
Jumlah Tablet

Waktu Hancur

2 Menit 2 detik

Keseragaman sediaan ( Keragaman bobot )


Tablet
1
2
Tablet
3
4
5
6
7
8
9
10
Rata rata

Bobot (mg)
411,5
4148
Bobot (mg)
413,0
415,3
415,1
412,8
415,7
415,3
415,2
412,0

Keragaman Bobot (%)


69,8
70,24
Keragaman Bobot (%)
69,93
70,32
70,29
69,90
70,39
70,32
70,31
69,77

414,07

70,12

10

BAB V
PEMBAHASAN

Tablet adalah sediaan padat kompak yang dibuat secara kempa cetak dalam
tabung pipih atau serkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung
satu jenis bahan obat atau lebih dengan atau tanpa bahan tambahan. Pada
percobaan ini, dilakukan uji mutu pada tablet ibuprofen.
Untuk uji mutu dilakukan pengujian yang terdiri dari organoleptis, keseragaman
ukuran, kekerasan, friabilitas, keseragaman bobot, keseragaman sediaan serta
waktu hancur tablet.
Organoleptis dilakukan dengan mengamati tablet secara visual. Tablet yang
diperoleh dari hasil percobaan berbentuk bulat, berwarna putih dengan permukaan
licin dan agak mengkilat. Selain itu diukur keseragaman ukuran yang meliputi
diameter dan tebal tablet. Menurut FI III, diameter tablet tidak boleh lebih dari 3
kali tebal tablet dan tidak boleh kurang dari 1 1/3 tebal tablet. Dari data percobaan
diperoleh rata-rata tebal tablet yaitu 11,19 mm dan diameter 4,28 mm. Hasil
tersebut menunjukkan bahwa diameter tablet memenuhi kriteria dalam farmakope
karena tidak lebih dari 3x tebalnya dan tebal tablet tidak kurang dari 11/3.
Evaluasi selanjutnya yaitu uji kekerasan. Uji kekerasan dilakukan untuk
mengetahui seberapa keras tablet yang dihasilkan dari proses formulasi. Tablet
yang keras diperlukan untuk mencegah kerusakan fisik selama proses produksi,
penyimpanan, dan transportasi. Namun kekerasannnya harus berada pada batas
yang telah ditentukan. Kekerasan tablet ini erat hubungannya dengan ketebalan
tablet, bentuk dan waktu hancur tablet. Pada umumnya tablet yang baik

11

dinyatakan mempunyai kekerasan antara 4-10 kg/cm2. Namun hal ini tidak
mutlak, artinya kekerasan tablet dapat lebih kecil dari 4 atau lebih tinggi dari 8
kg/cm2. Kekerasan tablet kurang dari 4 kg/cm2 masih dapat diterima dengan syarat
kerapuhannya tidak melebihi batas yang diterapkan. Tetapi biasanya tablet yang
tidak keras akan memiliki kerapuhan yang tinggi dan lebih sulit penanganannya
pada saat pengemasan, dan transportasi. Kekerasan tablet lebih besar dari 10
kg/cm2 masih dapat diterima, jika masih memenuhi persyaratan waktu
hancur/disintegrasi

dan

disolusi

yang

dipersyaratkan

(Sulaiman,

2007).

Berdasarkan percobaan, diperoleh rata-rata kekerasan tablet yaitu 12,5 kg/cm2.


Kekerasan tablet lebih besar dari 10 kg/cm2, kekerasan tablet dalam percobaan
masih dapat diterima karena pada percobaan waktu hancur, tablet ibuprofen
memiliki waktu hancur 2 menit 2 detik. Berdasarkan Farmakope Indonesia :
kecuali dinyatakan lain, semua tablet harus hancur 15 menit (tanpa salut) dan
60 menit (dengan salut). Dengan demikian dapat diketahui bahwa tablet memiliki
waktu hancur yang cepat dan memenuhi persyaratan.
Dilakukan pula pengujian friabilitas. Uji friabilitas digunakan untuk melihat
tingkat kerapuhan tablet terhadap gesekan dan bantingan. Hal ini berkaitan dengan
penggunaan jenis pengikat dan distribusi pengikat dalam tablet. Dalam friabilitas,
yang dipengaruhi adalah daya ikat eksternal tablet. Pengikat yang efektivitasnya
tinggi akan memberikan % friabilitas yang rendah karena pengikat tersebut akan
mengikat kuat massa tablet sehingga massa yang lepas dari tablet akan lebih
sedikit. Menurut Ansel persyaratan % friabilitas yang baik yaitu <1%.
Berdasarkan hasil percobaan, diperoleh bobot awal sebelum uji yaitu 8,2539 gram
dan setelah uji yaitu 8,2514 gram. Pengurangan bobot tersebut terjadi karena
adanya gesekan antar tablet yang menyebabkan fasa luar tablet terkikis. Setelah
dilakukan perhitungan, diperoleh % friabilitas tablet yaitu 0,03 %. Dimana
berdasarkan persyaratan tablet ibuprofen memiliki friabilitas yang baik karena %
friabilitas < 1%.
Uji keseragaman bobot dilakukan untuk melihat homogenitas granul karena
apabila bobot tidak seragam kemungkinan disebabkan oleh homogenitas yang
kurang baik. Menurut FI III persyaratnya tidak boleh ada 2 tablet yang masingmasing menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar dari 7,5% dan tidak boleh
satu pun tablet yang menyimpang dari bobot rata-rata lebih dari 15%. Bobot tablet
rata-rata yang diperoleh yaitu 412,2 mg. Range (7,5%) A yaitu 381,285 mg 12

443,115 mg dan range (15%) B yaitu 350,37 mg - 474,03 mg. Dalam percobaan,
tidak ada satupun tablet yang melewati batas rentang tersebut. Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa keseragaman bobot tablet pada percobaan memenuhi
persyaratan
Uji keseragaman sediaan dapat ditetapkan dengan salah satu metode berikut, yaitu
keragaman bobot dengan keseragamaan kandungan. Persyaratan keseragaman
bobot dapat diterapkan pada produk yang mengandung zat aktif 50 mg atau lebih
yang merupakan 50% atau lebih dari bobot suatu sediaan. Keseragaman zat aktif
lain, jika ada dalam jumlah kecil ditetapkan dengan persyaratan kandungan. Tablet
ibuprofen yang dievaluasi mengandung zat aktif 200 mg. Persyaratan
keseragaman bobot tablet ibuprofen sesuai dengan farmakope edisi IV tidak
kurang dari 90% dan tidak lebih dari 110%. Berdasarkan hasil yang diperoleh
kadar ibuprofen kurang dari persyaratan tersebut yaitu 70,12%. Uji keseragaman
sediaan dilakukan untuk menjamin bahwa setiap tablet mengandung jumlah zat
aktif sesuai dengan etiket.

BAB VI
KESIMPULAN

13

Berdasarkan uji mutu sediaan tablet ibuprofen 200 mg diperoleh :


1. Organoleptis tablet berbentuk bulat, berwarna putih dengan permukaan
licin, agak mengkilat, tidak berbau dan rasa pahit.
2. Uji keseragaman ukuran memenuhi persyaratan dimana diameter tablet
tidak lebih dari 3 kali tebal tablet dan diameter tablet tidak kurang dari
11/3 tebal tablet.
3. Kekerasan tablet yaitu 12,5 kg/cm2 dengan waktu hancur 2,2 menit,
kekerasan tablet masih dapat diterima.
4. Uji friabilitas pada tablet ibuprofen 200 mg memenuhi persyaratan karena
kurang dari 1% yaitu 0,03%. Jadi tablet ibuprofen 200 mg memiliki
friabilitas yang baik.
5. Uji keseragaman bobot pada tablet ibuprofen 200 mg memenuhi
persyaratan dimana tidak ada yang menyimpang lebih dari 2 tablet 7,5%
dan tidak ada 1 tabletpun yang menyimpang dari 15%.
6. Uji keragaman bobot berdasarkan hasil yang diperoleh kadar ibuprofen
kurang dari persyaratan tersebut yaitu 70,12%.

DAFTAR PUSTAKA
Depkes. 1979. Farmakope Indonesia, Edisi III. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. Jakarta.
Depkes. 1995. Farmakope Indonesia, Edisi IV. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. Jakarta.
Gilman, A. G., Hardman, J. G., and Limbird, L. E. (Eds.), 1996, Goodman &
Gilmans The Pharmacological Basis of Therapeutics, 9thed., The
McGraw-Hill Co. Inc., New York

14

Lachman, L., A. L. Herbert, & L. K. Joseph. 1994. Teori dan Praktek Farmasi
Industri. Diterjemahkan oleh: Siti Suyatmi. Universitas Indonesis Press.
Jakarta
Sulaiman, T. N. S. 2007. Teknologi dan Formulasi Sediaan Tablet. Pustaka
Laboratorium Teknologi Farmasi Fakultas Farmasi UGM. Yogyakarta.
Theodorus, 1996. Penuntun Praktis Perserepan Obat. Penerbit Buku Kedokteran
EGC. Jakarta
Voigt, R. 1984. Buku Ajar Teknologi Farmasi, Edisi V. diterjemahkan oleh
Soewandhi, S. N., Edisi 5. UGM Press. Yogyakarta.

LAMPIRAN
A. Perhitungan
1. Penetapan kurva kalibrasi
A=

. b. c,

keterangan :

A : absorban

: absortivitas molar

b : tebal kuvet
c : konsentrasi
Dik :

Mr

: 3800 mol/L
: 206,3

15

: 0,2 0,8

Dit : c.?
Jawab : A
0,2

. b. c

= 3800 mol/L. 1.c


0,5
= 3800
-5
= 5,263 10
mol/L

gram = mol. Mr
-5
= 5,263 10
mol/L 206,3
-2
= 1,086 10
g/L

= 10,86

g/L (10,86 ppm)

2. Perhitungan pengenceran
a. Preparasi sampel tablet Ibuprofen 200 mg
414,07 mg serbuk tablet

200 mg ibuprofen dibuat larutan stok 2000

ppm lalu dilakukan pengenceran sebanyak dua kali dengan NaOH. 414,07 mg
serbuk tablet

200 mg ibuprofen dilarutkan dalam 100 ml NaOH

(2000 ppm larutan stok).


Larutan baku 200 ppm dalam 50 ml NaOH = V1 x C1 = V2 x C2
V1 =

200 ppm
2000 ppm

50 ml = 5 ml

Untuk 12 ppm dalam 50 ml NaOH


V1 x C1 = V2 x C2
12 ppm
V1 = 200 ppm

50 ml = 3 ml

b. Pengenceran baku pembanding ibuprofen


Larutan stock 1000 ppm, ditimbang 100 mg ibuprofen, dilarutkan dalam 100 ml
NaOH, dilakukan pengenceran menjadi 100 ppm sebanyak 100 ml, dibuat 6
variasi pengenceran:

8 ppm dalam 25 ml aquadest

16

V1 x C1 = V2 x C2
8 ppm
V1 = 100 ppm

25 ml = 2 ml

10 ppm dalam 50 ml aquadest

V1 x C1 = V2 x C2
10 ppm
V1 = 100 ppm

50 ml = 5 ml

12 ppm dalam 25 ml aquadest

V1 x C1 = V2 x C2
12 ppm
V1 = 100 ppm

25 ml = 3 ml

14 ppm dalam 50 ml aquadest

V1 x C1 = V2 x C2
14 ppm
V1 = 100 ppm

50 ml = 7 ml

16 ppm dalam 25 ml aquadest

V1 x C1 = V2 x C2
16 ppm
V1 = 100 ppm

25 ml = 4 ml

18 ppm dalam 50 ml aquadest

V1 x C1 = V2 x C2
18 ppm
V1 = 100 ppm

50 ml = 9 ml

3. Perhitungan uji kerapuhan( friabilitas)


Dik : a = 8,2539 gram
b = 8,2514 gram
keterangan : a = bobot tablet sebelum uji
17

b = bobot tablet setelah uji


a-b
jawab : f = a

100 %

8,2539 - 8,2514
= 8,2539

100 %

= 0,03 %
4. Perhitungan keseragaman bobot
bobot tablet bobot rata-rata
bobot rata-rata

100%

a.

411,7 412,2
412,2

b.

415,5 412,2
412,2

100% = 0,80 %

c.

415,3 412,2
412,2

100% = 0,80 %

d.

406,5 412,2
412,2

100% = 1,38 %

e.

407,3 412,2
412,2

100% = 1,18 %

f.

412,9 412,2
412,2

100% = 0,16 %

g.

410,2 412,2
412,2

h.

413,9 412,2
412,2

i.

412,9 412,2
412,2

100% = 0,16 %

j.

407,6 412,2
412,2

100% = 1,11 %

100% = 0,12 %

100% = 0,48 %

100% = 0,41 %

18

k.

407,4 412,2
412,2

l.

413,3 412,2
412,2

m.

413,2 412,2
412,2

n.

413,2 412,2
412,2

o.

417,4 412,2
412,2

p.

412,6 412,2
412,2

q.

412,8 412,2
412,2

100% = 0,14 %

r.

414,7 412,2
412,2

s.

415,5 412,2
412,2

t.

410,7 412,2
412,2

100% = 1,16 %

100% = 0,26 %

100% = 0,24%

100% = 0,24 %
100% = 1,26 %
100% = 0,09 %

100% = 0,60 %

100% = 0,80 %

100% = 0,36 %

5. Perhitungan nilai absorban

19

1.2000

A bs.

1.0000

255.5 nm

0.5000

0.0000
180.00

200.00

250.00
nm .

300.00

Data kurva kalibrasi


Konsentrasi (ppm)
8
10
12
14
16
18

Adsorban
0,352
0,459
0,544
0,646
0,759
0,852

max = 218,6 nm
Persamaan garis: Y = bx + a
Y = 0,05x - 0,0484
R2 = 0,9989

Kurva Kalibrasi Ibuprofen


0.9
0.8

f(x) = 0.05x - 0.05


R = 1

0.7
0.6
0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0
6

10

12

14

Absorban sampel

20

16

18

20

320.00

Berat sampel (mg)


414,07
414,07
414,07

Serapan (nm)
0,421
0,392
0,304

5 0 50

Faktor pengenceran = 3
5
a. Sampel I
Y

= bx - a

0,421 = 0,05 x + 0,0484


0,05 x = 0,421 + 0,0484
X

= 9,388

g/L

kadar ibuprofen = 9,388

5 0 50

g/L x
3
5
g

= 156467
% kadar

x 100 ml

kadar ibuprofen
= kadar etiked
156,467 mg
= 200 mg

100%
100% = 78,23 %

b. Sampel II
y = bx - a
0,392 = 0,05 x - 0,0484
0,05 x = 0,392 + 0,0484
X
= 8,808 g/L
kadar ibuprofen = 8,808

% kadar

g/L

= 146800 g
kadar ibuprofen
= kadar etiked
146,8 mg
= 200 mg

5 0 50

3
5

100 ml

100%

100% = 73,4 %

c. Sampel III
y = bx - a
0,304 = 0,05 x - 0,0484
0,05 x = 0,304 + 0,0484
x = 7,048 g/L

21

kadar ibuprofen = 7,048

% kadar

5 0 50

g/L
3
5 x 100 ml

= 117467 g
kadar ibuprofen
= kadar etiked
117,467 mg
= 200 mg

% kadar rata-rata =

100%
100% = 58,73 %

156,467+ 146,8+ 117,467


3

100%

= 70,12 %
6. Perhitungan uji keragaman sediaan
bobot tablet
% kadar rata-rata
bobot rata-rata

j.

a.

411,5 mg
414,07 mg

b.

414,8 mg
414,07 mg

c.

413 mg
414,07 mg

d.

415,3 mg
414,07 mg

e.

415,1 mg
414,07 mg

f.

412,8 mg
414,07 mg

g.

415,7 mg
414,07 mg

h.

415,3 mg
414,07 mg

i.

415,2 mg
414,07 mg

412 mg
414,07 mg

70,12 % = 69,68 %
70,12 % = 70,24 %
70,12 % = 69,93 %
70,12 % = 70,32 %
70,12 % = 70,29 %
70,12 % = 69,90 %
70,12 % = 70,39 %
70,12 % = 70,32 %
70,12 % = 70,31 %

70,12 % = 69,77 %

B. Diagram Alir
1. Organoleptik
diamati
dan dicatat
Diambil 20 Tablet
ibuprofen
200 mg

22

bentu
kk

ba
u

ras
a

warn
a

2. Keseragaman ukuran
Diambil 20 Tablet ibuprofen
200 mg
-diukur ketebalan dan diameternya
menggunakan jangka sorong
-dihitung rata-ratanya.
Diameter
tablet

Tebal tablet

3. Kekerasan tablet
Diambil 20 Tablet ibuprofen
200 mg
-Dijepit dengan alat Hardness testes
-lihat pada skala tablet tersebut hancur
Memenuhi
syarat atau
tidak

4. Kerapuhan (friabilitas)
Diambil 20 Tablet ibuprofen 200 mg
-Ditimbang bobot 20 tablet
-Masukkan kedalam alat friabilator
kemudian diuji dengan 100 putaran
selama 4 meni
5. Keseragamn bobot Ditimbang kembali setelah perlakuan

Diambil 20 tablet ibuprofen 200 mg


Ditimbang satu persatu
Hitung rata-rata

Bandingkan dengan persyaratan

6. Keseragaman sediaan
a. Pembuatan kurva kalibrasi

23

ibuprofen baku
200 mg - Ditimbang 100 mg
- Masukkan dalam labu ukur, ad aquadest
100

Larutan stok 1000 ppm


-

200 mg

Dipipet 10 ml ad 100 ml aquadest

Larutan baku 100 ppm


-

dipipet 2 ml
ad 25 ml
8 ppm

dipipet 5 ml
ad 50 ml

10 ppm

dipipet 3 ml
ad 25 ml

12 ppm

dibuat pengenceran
dipipet 7 ml dipipet 4 ml
ad 50 ml
ad 25 ml
16 ppm

14 ppm

b. Pembuatan sampel ibuprofen 200 mg

dipipet 9 ml
ad 50 ml
18 ppm

414,07 mg

Tablet ibuprofen
-Ditimbang 10 tablet (hitung rata-rata)
-Timbang sebanyak rata-rata (414,07 mg)
-Masukkan dalam labu ukur ad 100 ml
aquadest, larutkan.

Larutan stok 2000 ppm


-Pipet 5 ml ad 50 ml aquadest

Larutan baku 200


ppm

-dipipet 3 ml ad 50 ml aquadest

Larutan 12 ppm

7. Uji waktu hancur


6 Tablet ibuprofen 200 mg
Dimasukkan kedalam keranjang
(desintegration tester )

Diamati dan dicatat waktu hancur


1. Dicatat

24

waktu

hancur

25