Anda di halaman 1dari 15

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Kaptopril adalah senyawa aktif yang berfungsi sebagai inhibitor angiotensin converting
enzyme (ACE) yang telah banyak digunakan untuk pengobatan gagal jantung dan hipertensi,
kaptopril banyak dipilih karena efektif dan toksisitasnya rendah. Kaptopril memiliki waktu paruh
yang pendek yaitu 1-3 jam serta memiliki absobrsi yang baik di lambung sehingga sesuai untuk
dibuat sediaan lepas lambat mucoadhesive (Asyarie dkk., 2007).
Salah satu sistem yang dapat digunakan untuk menahan obat agar berada di dalam
lambung dalam waktu yang lama adalah menggunakan system mucoadhesive. Mekanisme kerja
sistem ini yaitu perlekatan tablet pada sel epitel lambung atau mucin sehingga akan
memperpanjang waktu tinggal di lambung. Sistem ini dirancang dengan menggunakan polimer
yang memiliki sifat mucoadhesive, sehingga dapat digunakan untuk menghantarkan obat pada
target site-nya. Salah satu polimer biomucoadhesive yang digunakan berasal dari golongan
karboksil yaitu sodium karboksi metilselulosa (SCMC). Penggunaan polimer sodium karboksi
metilselulosa secara tunggal untuk formulasi tablet mucoadhesive akan mengalami gelling, yang
akan membuat tablet menempel di lambung. Untuk itu perlu dilakukan kombinasi dengan suatu
bahan tambahan yang bersifat sukar larut dalam air seperti etilselulosa. Etilselulosa dapat
mengontrol pelepasan obat serta mempertahankan integritas matriks lebih dari 12 jam karena
etilselulosa mempunyai kelarutan dalam air yang lebih kecil dari sodium karboksi metilselulosa
sehingga akan memperlambat penetrasi air masuk ke dalam matriks tersebut (Chowdary dkk.,
2003).
Berdasarkan penjelasan di atas, maka perlu dilakukan penelitian tentang kombinasi antara
matriks sodium karboksimetilselulosa dan etilselulosa untuk menghasilkan tablet kaptopril lepas
lambat yang paling optimum.

1.2

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan suatu permasalahan yaitu:
1. Bagaimana pengaruh kombinasi SCMC dan etilselulosa terhadap sifat fisik tablet kaptopril
dan pola pelepasannya ?
2. Pada konsentrasi berapa di dapat tablet kaptopril lepas lambat mucoadhesive yang optimum ?.

1.3

Tujuan Penelitian

1. Mengetahui pengaruh kombinasi SCMC dan etilselulosa terhadap sifat fisik tablet kaptopril
dan pola pelepasannya.
2. Untuk mendapatkan formula tablet kaptopril lepas lambat mucoadhesive yang optimum.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Gastroretentive Drug Delivery System

Salah satu sediaan dengan pelepasan obat yang dimodifikasi adalah sediaan dengan
pelepasan diperlambat. Banyak metode yang dapat digunakan untuk membuat sediaan lepas
lambat, salah satunya adalah sediaan yang dirancang untuk tetap tinggal di dalam lambung.
Bentuk sediaan yang dapat dipertahankan di dalam lambung disebut Gastro Retentive Drug
Delivery System (GRDDS). Keuntungan GRDDS diantaranya adalah mampu meningkatkan
bioavailabilitas, mengurangi obat yang terbuang dengan sia-sia, meningkatkan kelarutan obatobatan yang kurang larut pada lingkungan pH yang tinggi. GRDDS juga memiliki kemampuan
untuk menghantarkan obat-obatan secara lokal di dalam lambung (contoh: antasid dan anti
Helicobacter pylori) dan usus kecil bagian atas.
Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk meningkatkan waktu tinggal obat
di dalam lambung/Gastrict Residence Time (GRT), diantaranya adalah suatu sistem bioadesif
yang dapat melekat pada permukaan mukosa lambung, sistem penghantaran yang dapat
meningkatkan ukuran obat dengan segera sesudah obat tersebut ditelan sehingga tertahan di
dalam lambung, sistem dengan densitas yang besar sehingga ketika masuk lambung akan segera
tenggelam di bagian lekukan lambung, sistem yang dikontrol secara magnetik bekerja dengan
menggabungkan magnetit oksida atau dilapisi oleh magnet dan suatu sistem dengan densitas
yang rendah ( 1,004 gram/ cm3 ) bila dibandingkan dengan cairan lambung sehingga dapat
mengapung di dalamnya.
SISTEM TERTAHAN DI LAMBUNG
Salah satu bentuk sediaan lepas terkendali oral yang memungkinkan obat untuk tinggal
lebih lama di saluran gastrointestinal bagian atas adalah sediaan dengan sistem penghantaran
obat tertahan di lambung (gastroretentive). Pada sistem penghantaran lepas terkendali tertahan di
lambung, zat aktif yang cocok digunakan adalah obat yang memiliki lokasi absorpsi utama di
lambung atau usus bagian atas, tidak stabil pada lingkungan usus halus atau kolon, dan memiliki
kelarutan yang rendah pada pH yang tinggi. Bentuk sediaan tertahan di lambung dapat mengatur
pelepasan obat yang memiliki indeks terapeutik yang sempit, dan absorpsi yang baik di lambung.
Secara umum, sistem penghantaran obat tertahan di lambung terdiri dari sistem
mengembang (swelling system), sistem mukoadhesif (mucoadhesive system), dan sistem
mengapung (floating system).

Sistem mengembang (swelling system)


Merupakan suatu sediaan yang apabila berkontak dengan asam lambung maka sediaan
akan segera mengembang sehingga ukurannya menjadi lebih besar dan tetap bisa
bertahan di dalam lambung.
Pada sistem mengembang obat dipertahankan berada di lambung dengan cara
meningkatkan ukuran sediaan lebih besar dari pilorus, sehingga obat dapat bertahan lebih
lama di lambung. Pada sistem mengembang sediaan akan mengembang setelah berada
dalam lambung dalam waktu cepat dan sediaan tidak terbawa bersama gerakan lambung
melewati pylorus. Sediaan ini membutuhkan polimer yang akan mengembang dalam
waktu tertentu ketika kontak dengan cairan lambung, kemudian selanjutnya akan tererosi
menjadi ukuran yang lebih kecil. Contoh polimer yang dapat digunakan adalah senyawa
selulosa, poliakrilat, poliamida, poliuretan.
Sistem mukoadhesif (mucoadhesive system)
Bentuk sediaan ini dapat berupa granul, pellet, tablet matriks, kapsul, dan mikrokapsul.
Sediaan ini ditahan di lambung berdasarkan atas mekanisme perlekatan pada permukaan
sel epitel atau pada mukus dalam waktu yang cukup lama. Mukus merupakan sekret
jernih, kental dan juga melekat yang membentuk suatu lapisan tipis dan berbentuk gel
yang kontinyu menutupi dan beradhesi pada permukaan epitel mukosa. Tebal mukus
bermacam-macam 50-450 um dan berkomposisi bervariasi tergantung anatomi, lokasi,
keadaan suatu organisme. Komposisinya yaitu 95% air, 0,5-5,0% glikoprotein, 1% garam
mineral dan 0,5- 1% adalah protein bebas (Indrawati dkk., 2005).
Pada sistem ini mengakibatkan tablet dapat terikat pada permukaan sel epitel lambung
dan akan mempengaruhi lama waktu tinggal di lambung yaitu dengan cara menaikkan
durasi kontak antara sediaan dengan membrane biologisnya. Sistem ini juga sering
digunakan untuk pengembangan dalam GRDDS (Gastroretentive Drug Delivery System)
melalui penggunaan polimer bio/muchoadhesive. Perlekatan sistem ini akan
meningkatkan waktu tinggal di lambung menjadi lebih lama terutama di tempat aksinya
(Chawla dkk., 2003).
Sistem mengapung (Floating system)
Bentuk sediaan ini dirancang untuk dapat mengapung pada cairan lambung yang
memiliki berat jenis 1,004 g/cm3. Pada saat sediaan mengapung pada cairan lambung
obat dilepaskan secara perlahan dari sistem sehingga akan meningkatkan absorbsi dan
pengontrolan fluktuasi konsentrasi obat dalam plasma darah (Doshi dan Thank, 2012).
Sistem ini diformulasikan menggunakan polimer yang memiliki daya pengembang tinggi
seperti hydroxypropil methyl cellulose (HPMC), polyacrylate polymers, polyvinyl acetat,
carbopol, agas, sodium alginate, calcium chloride, polyethylene oxide dan polycarbonate
(Khan dkk., 2009).

Rute oral merupakan rute pemberian obat yang paling diterima oleh konsumen. Beberapa
bentuk sediaan konvensional dikembangkan untuk penghantaran obat yang periode waktunya
diperpanjang dan untuk menghantarkan obatnya pada tempat targetnya secara khusus.
Beberapa obat memiliki indeksi absorpsi sempit dan obat yang transpornya dimediasi
pembawa di daerah lambung dan bagian atas usus kecil memiliki bioavailabilitas rendah ketika
diberikan dalam bentuk sediaan konvensional. Untuk mengatasi beberapa masalah tersebut,
maka dikembangkan sistem penghantaran obat gastroretentif.

2.2

Anatomi Lambung

Lambung (gaster) merupakan organ beronnga yang berbentuk seperti huruf J yang
didalamnya terdapat ruggae. Lambung merupakan salah satu cara organ pencernaan yang
menghubungkan esophagus dengan duodenum. Selain itu, lambung juga merupakan salah satu
organ intraperioneal.

Lambung memiliki panjang sekitar 25cm dan 10cm pada saat kosong , volume 1-1,5 liter
pada dewasa normal. Lambung terletak pada cavum abdomen pada regio hipokondrium
/hipokondriaka sinistra persis dibawah diafragma, terdiri dari kardia, fundus, antrum dan pylorus
(Aiache 1993).
Lambung berfungsi menyimpan makanan, mencampur makanan dengan getah lambung
untuk merubah bolus menjadi chymus serta mengatur kecepatan pengiriman chymus ke
duodenum. Sekresi asam mempertahankan lingkungan intern yang optimal untuk proteolisis oleh
pepsin yang paling aktif pada pH 2 ( Fawccet 2002).
Lambung secara histologis terdiri dari empat lapisan yang tersusun dari dalam ke luar
yakni lapisan mukosa, lapisan submukosa, lapisan muskularis, dan lapisan serosa (Price dan
Wilson 2006).
HCl dalam lambung yang dihasilkan oleh sel chief berfungsi untuk membunuh kuman
dan menurunkan pH makanan mengaktifkan enzim pepsinogen yang dihasilkan oleh sel parietal
yang masih dalam bentuk zymogen menjadi pepsin. Pepsin itu sendiri berfungsi untuk mengubah
protein menjadi proteosa, polipeptida dan pepton. Pada gaster juga dihasilkan enzim pencernaan
berupa enzim lipase yang berfungsi untuk memecah triasilgliserol (TAG) menjadi diasilgliserol
(DAG). Serta pada bayi terdapat enzim rennin yang berfungsi untuk menggumpalkan protein
susu.

2.3

Sistem Mucoadhesive (bioadhesive)

2.3.1

Pengertian bioadhesive

Istilah bioadhesive digunakan untuk menjelaskan ikatan antara dua permukaan biologi
atau ikatan antara permukaan biologi dengan permukaan bahan bahan sintesis. Pada sistem
penghantaran obat dengan bioadhesive ini digunakan untuk menjelaskan ikatan antara polimer,
baik polimer sintesis maupun polimer alam, dengan jaringan (seperti mukosa saluran cerna).
Mesikupun targetpenghantaran obat sistem bioadhesive adalah jaringan sel halus (seperti sel
epitel), pada kenyataannya ikatan mungkin terjadi dengan lapisan sel, lapisan mukus, ataupun
kombinasi dari keduanya. Ikatan antara mukus dengan polimer, disebut juga dengan
mucoadhesive yang digunakan sebagai sinonim bioadhesive. Pada umumnya, bioadhesive adalah
istilah yang digunakan untuk menggambarkan ikatan dari sistem biologis atau derivat substansi
biologis, dan mucoadhesive hanya digunakan untuk menggambarkan ikatan yang mencakup
mukus dan permukaan mukosa (Chickering dan Mathiowitz, 1999).

2.3.2 Mekanisme bioadhesive


Untuk membuat sistem penghantaran obat sistem bioadhesive, ini sangat penting untuk
menggambarkan dan menngetahui gaya yang berperan penting dalam pembentukan bentuk
ikatan adhesif. Banyak penelitian yang focus untuk menganalisis interaksi bioadhesive dengan
polimer hidrogel dan jaringan halus. Adapun proses yang mencakup pembentukan ikatan
bioadhesive telah digambarkan dalam tiga langkah yaitu: (a) pembasahan dan pengembangan
polimer untuk memulai kontak dengan jaringan biologis, (b) Interpenetrasi rantai polimer
bioadhesive dan penggabungan rantai polimer dan rantai mukus, (c) pembentukan ikatan kimia
yang lemah pada penggabungan rantai polimer dan mukus (Chickering dan Mathiowitz, 1999).
a. Ikatan kimia
Tipe ikatan kimia mencakup ikatan yang kuat yaitu ikatan primer seperti ikatan kovalen),
dan juga ikatan kimia yang lemah seperti ikatan sekunder seperti ikatan ion, interaksi van der
Waals, dan ikatan hydrogen. Seperti yangdigambarkan pada buku ini, kedua jenis interaksi
tersebut telah dimanfaatkan untuk membuat sediaan sistem bioadhesive (Chickering dan
Mathiowitz, 1999). Meskipun sistem ini didesain untuk membentuk ikatan kovalen dengan
protein pada permukaan sel akan mengasilkan beberapa keuntungan, namun ada tiga faktor yang
membatasi kegunaan dari ikatan yang permanen. Pertama, lapisan mukus mungkin menghambat
secara langsung kontak antara polimer dengan jaringan. Kedua, ikatan kimia yang permanen
dengan epitel mungkin tidak akan menghasilkan yang dapat bertahan lama karena pada
umumnya sel epitel diregenerasi setiap 3 sampai 4 hari. Ketiga, biokompatibilas dari ikatan yang
dapat menghasilkan masalah signifikan (Chickering dan Mathiowitz, 1999).
Untuk alasan itu, maka banyak penelitian yang difokuskan pada pembuatan hidrogel,
sistem mucoadhesive yang memiliki ikatan kimia yang lain seperti interaksi van der Waals atau
ikatan hydrogen. Selanjutnya, polimer yang memiliki berat bolekul besar dan dengan konsentrasi
reaktif yang tinggi, yaitu gugus polar (seperti COOH dan OH) yang berperan dalam
pembuatan ikatan mucoadhesive (Chickering dan Mathiowitz, 1999).
b. Ikatan mekanis atau fisika
Ikatan mekanis dapat terjadi seperti interaksi fisika antara permukaan yang\ sama untuk
menggambungkan dua bentuk susunan. Secara makroskopik, ikatan ini dapat dilihat
penggabungan fisik dari rantai mukus dengan rantai polimer yang fleksibel dan/atau
interpenetrasi dari rantai mukus kedalam pori dari substrat polimer. Laju penetrasi rantai polimer
kedalam lapisan mukus tergantung pada fleksibelitas rantai dan koefisien difusi masing masing.
Kekuatan dari ikatan adhesive secara langsung tergantung dari penetrasi rantai polimer. Faktor
lain yang mempengaruhi kekuatan ikatan mencakup keberadaan air, waktu kontak antar material,
dan panjang dan fleksibilitas rantai polimer (Chickering dan Mathiowitz, 1999).

2.3.3 Teori bioadhesive


A. Teori elektronik
Hipotesis dari teori elektronik didasarkan pada asumsi bahwa material bioadhesive dan
material target biologis mempunyai struktur elektorn yang berbeda. Pada asumsi ini, ketika dua
material kontak satu sama lain, akan terjadi perpindahan electron untuk menghasilkan bentuk
yang stabil, yang menyebabkan pembentukan dua lapisan pada muatan electron yaitu pada
material bioadhesive permukaan material biologis (Chickering dan Mathiowitz, 1999).
B. Teori adsorpsi
Teori adsorpsi menyatakan ikatan bioadhesive dibentuk antara suatu substrat bioadhesive
dan jaringan atau mukosa melalui interaksi van der Waals, ikatan hydrogen, dan gaya yang
berkaitan. Meskipun gaya yang dihasilkan lemah, namun jumlah dari interaksi dapat
menghasilkan adhesive yang kuat (Chickering dan Mathiowitz, 1999).
C. Teori pembasahan

Gambar 2.2. Skematik tegangan permukaan antara material polimer bioadhesive dan mukosa
saluran cerna
Kemampuan dari bioadhesive atau mukus untuk menyebar dan membentuk kontak yang
mandalam dengan substrat yang cocok adalah salah satu faktor yang penting pada pembentukan
ikatan. Teori pembasahan, ditemukan pada umumnya pada adhesive cairan, menggunakan
tegangan antar permukaan untuk memperhitungan penyebaran dan sifat adhesifnya (Chickering
dan Mathiowitz, 1999).

D. Teori difusi
Konsep dari interpenetrasi dan penggabungan rantai polimer bioadhesive dengan rantai
polimer mukus menghasilkan ikatan adhesive yang semipermanen yang disebut dengan teori
difusi. Teori ini menganggap ikatan akan semakin kuat dengan meningkatnya tingkat penetrasi
dari rantai polimer kedalam lapisan mukus. Penetrasi dari rantai polimer kedalam lapisan mukus,
tergantung dari gradien konsentrasi dan koefisien difusi.

Gambar 2.3: Ikatan mekanis melalui interpentrasi rantai polimer bioadhesive dan rantai polimer
mukus
E. Teori fraktur
Barangkali teori yang paling banyak diaplikasikan pada pemahaman tentang bioadhesive
melalui pengukuran secara mekanis adalah teori fraktur. Teori ini menganalisis gaya yang
dibutuhakan untuk memisahkan dua permukaan setelah terjadi adhesive (Chickering dan
Mathiowitz, 1999).

BAB III
PEMBAHASAN

3.1

Formulasi Tablet Lepas Lambat Mucoadhesive

Pada tablet mucoadhesive diformulasikan dengan menggunakanmucoadhesive polimer


seperti macromolecular, hydrophilic gelling substance dengan kelompok ikatan hidrogen seperti
carboxyl, hydroxyl, golongan amide dan sulfate seperti crosslinked polycarylic acids, sodium
carboxymethyl cellulose, sodium alginate dan carrageenan yang dapat melekat pada permukaan
gastrointestinal lambung. Menurut penelitian Irawan dan Fudholi (2009), tablet kaptopril dengan
basis chitosan, natrium karboksi metil selulose dan magnesium stearat dengan sistem
mucoadhesive menghasilkan kekuatan mucoadhesive (26-30 g) dan DE480 (dissolution
efficiency 70 %).
Pada pembuatan sediaan tablet lepas lambat sistem yang sering digunakan dan dianggap
sistemnya paling sederhana yaitu dengan sistem matriks (Simon, 2001). Sistem formulasi pada
matriks dapat ditingkatkan yang bertujuan untukdapat mengontrol secara efektif suatu kecepatan
ketersediaan obat (Lachman dkk.,1994).

3.2

Pemerian Zat Aktif

a. Kaptopril
Kaptopril adalah suatu obat yang zat aktifnya mempunyai fungsi sebagai inhibitor
angiotensin converting enzyme (ACE) yang sering digunakan pada pengobatan gagal jantung
maupun hipertensi karena sifatnya yang efektif dan tingkat toksisitasnya juga rendah. Kaptopril
sendiri mempunyai waktu paruh yang relatif singkat sehinggga cocok untuk dikembangkan
menjadi sediaan lepas lambat (Asyarie dkk., 2007).

Gambar 1. Struktur Molekul Kaptopril (Depkes RI, 1995)


Sekitar 60-75% dari dosis kaptopril diabsorbsi dari sistem gastrointestinal dan puncak
konsentrasi plasma dicapai sampai sekitar 1 jam,Kaptopril mempunyai t1/2 = 3 jam, Vd = 2 liter/
Kg, f = 0,65 (Ritschel dan Kearns, 2004). Kaptopril mempunyai kelarutan yang baik (mudah
larut dalam 250 ml air pada Ph 1-8) dan permeabilitas yang rendah (absorpsinya kurang dari 90
% sehingga termasuk BCS (Biopharmaceutics Classification System) kelas III (Shargel dkk.,
2005).
b. Sodium karboksi metilselulosa
Sodium karboksi metilselulosa mempunyai fungsi sebagai coating agent, stabilizing
agent, suspending agent, bahan pengikat tablet. SCMC biasanya digunakan secara luas didalam
formulasi farmasi oral dan topikal, terutama untuk sifat viskositas yang meningkat. Konsentrasi
tinggi biasanya pada 3-6%, digunakan juga sebagai bahan utama untuk perawatan luka, bagian
dermatologis yang mana digunakan sebagai mucoadhesive dan menyerap eksudat luka maupun
air transepidermal dan keringat. Sifat mucoadhesive ini dirancang untuk penggunaan setelah
operasi seperti perlekatan jaringan serta melokalisasi kinetika pelepasan bahan aktif yang
digunakan dimembran mukus dan perbaikan tulang. Penggunaan sodium karboksi metilselulosa
dapat melindungi dan menghantarkan zat aktif dengan baik yang dikenal sebagai zat pelindung,
sehingga zat aktif akan tertahan lebih lama dalam sediaan. Sodium karboksi metilselulosa stabil
meskipun pada keadaan yang higroskopis, sodium karboksi metilselulosa walaupun berada pada
kelembaban yang tinggi dapat menyerap hingga 50% air (Parsons, 2005).
c. Etilselulosa
Etilselulosa biasa digunakan dalam formulasi oral sebagai zat pelapis untuk tablet dan
granul. Etilselulosa digunakan untuk memodifikasi pelepasan obat, untuk menutupi hal yang
tidak diinginkan atau untuk memperbaiki stabilitas dari formula. Bahan ini larut dalam pelarut
organik maupun pelarut campuran, mempunyai viskositas yang tinggi, dapat digunakan sebagai
bahan pengikat dan dapat dicampur dalam granulasi basah atau kering, Etilselulosa merupakan

bahan dengan tingkat kerapuhan yang rendah, meskipun dengan uji disolusi yang buruk.
Etilselulosa ini sering digunakan pada kosmetik dan bahan makanan (Dahl, 2005).

3.3

Mekanisme Kerja

Kaptopril stabil pada kondisi suhu dan kelembaban normal, namun dalam larutan gugus
tiolnya akan teroksidasi menjadi kaptopril disulfide (Kadin, 1982), memiliki sifat yang mudah
larut dalam air dan mudah teroksidasi pada pH usus, perlu diperhatikan strategi pengembangan
tablet kaptopril lepas lambat yang cukup kuat menahan pelepasan obat dan dapat bertahan dalam
lambung dalam waktu yang cukup lama (Seta dkk., 1988). Salah satu sistem yang dapat
digunakan untuk menahan obat agar berada di dalam lambung dalam waktu yang lama adalah
menggunakan system mucoadhesive. Salah satu polimer biomucoadhesive yang digunakan
berasal dari golongan karboksil yaitu sodium karboksi metilselulosa (SCMC). Penggunaan
polimer sodium karboksi metilselulosa secara tunggal untuk formulasi tablet mucoadhesive akan
menyebabkan terbentuknya gelling secara perlahan dan akan terlarut pada kisaran waktu 4-5
jam. Untuk itu perlu dilakukan kombinasi dengan suatu bahan tambahan yang bersifat yang
sukar larut dalam air seperti Etilselulosa. Etilselulosa dapat mengontrol pelepasan obat serta
mempertahankan dan intergeritas matriks lebih dari 12 jam karena etilselulosa mempunyai
kelarutan dalam air yang lebih kecil dari sodium karboksi metilselulosa sehingga akan
memperlambat penetrasi air masuk kedalam matriks tersebut (Chowdary dkk., 2003).
Penggunaan kombinasi sodium karboksi metilselulosa dan etilselulosa sebagai matriks
akan mempengaruhi sifat fisik tablet kaptopril lepas lambat mucoadhesive dan penggunaan
kombinasi ini diharapkan dapat menghasilkan sediaan kaptopril lepas lambat yang dapat
mempertahankan keutuhan matriks dan tertahan di lambung (Lachman dkk., 1994).

3.4

Aksi Farmakologi

1.
Terdapat dua Isoform ACE, yaitu Isoform Somatik, yang eksis sebagai glycoprotein
terdiri dari rantai polipeptida tunggal 1277; dan Isoform Testicular yang memiliki bobot molekul
yang lebih rendah dan berperan dalam pengaturan pematangan sperma dan pengikatan sperma
terhadap oviduct epithelium. ACE Somatik memiliki dua domain aktif fungsional, N dan C, yang
timbul dari duplikasi gen tandem. Meskipun kedua domain memiliki kemiripan yang tinggi,
mereka memainkan peran fisiologis yang berbeda. Domain C terutama terlibat dalam regulasi
tekanan darah, sedangkan N-domain berperan dalam diferensiasi stem sel hematopoietic
diferensiasi dan proliferasi. ACE inhibitor mengikat dan menghambat kedua domain, Tetapi
memiliki afinitas dan aktivitas inhibitor yang lebih besar terhadap C Domain. Obat Captopril,
satu dari beberapa ACE inhibitor yang bukan prodrug. Kompetisi dengan ATI untuk mengkat

ACE dan menginhibisi dan proteolysis enzymatic ATI menjadi ATII. Penurunan ATII dalam
tubuh menurunkan tekanan darah dengan menginhibisi efek pressor dari ATII. Captopril juga
menyebabkan peningkatan aktifitas plasma renin mungkin karena hilangnya feedback inhibisi
yang dimediasi ATII dalam pelepasan renin dan/atau stimulasi mekanisme reflek melalui
baroreseptor.
2.
Menghambat / Menginhibisi Angiotensin Converting Enzym (ACE) secara kompetitif.
Mencegah konversi angiotensin I menjadi Angiotensin II, sebuah vasokontriktor, Menghasilkan
penurunan jumlah angiotensin II yang mengakibatkan Peningkatan Aktivitas renin plasma dan
mereduksi sekresi aldosterone.
3.
Kaptopril merupakan obat antihipertensi dan efekif dalam penanganan gagal jantung
dengan cara supresi sistem renin angiotensin aldosteron. Renin adalah enzim yang dihasilkan
ginjal dan bekerja pada globulin plasma untuk memproduksi angiotensin I yang besifat inaktif.
"Angiotensin Converting Enzyme" (ACE), akan merubah angiotensin I menjadi angiotensin Il
yang besifat aktif dan merupakan vasokonstriktor endogen serta dapat menstimulasi sintesa dan
sekresi aldosteron dalam korteks adrenal. Peningkatan sekresi aldosteron akan mengakibatkan
ginjal meretensi natrium dan cairan, serta meretensi kalium. Dalam kerjanya, kaptopril akan
menghambat kerja ACE, akibatnya pembentukan angiotensin ll terhambat, timbul vasodilatasi,
penurunan sekresi aldosteron sehingga ginjal mensekresi natrium dan cairan serta mensekresi
kalium. Keadaan ini akan menyebabkan penurunan tekanan darah dan mengurangi beban
jantung, baik 'afterload' maupun 'pre-load', sehingga terjadi peningkatan kerja jantung.
Vasodilatasi yang timbul tidak menimbulkan reflek takikardia.

3.4

Hipotesis

Kombinasi matriks sodium karboksimetilselulosa dengan etilselulosa mempengaruhi sifat


fisik dan pelepasan obat kaptopril lepas lambat mucoadhesive, penambahan konsentrasi jumlah
SCMC yang semakin banyak dapat meningkatkan daya lekat tablet dan kecepetan disolusi, pada
penambahan etilselulosa yang semakin banyak dapat meningkatkan kekerasan, menurunkan
kerapuhan tablet dan menghasilkan sifat alir yang baik. Formula dengan perbandingan SCMC :
etilselulosa (88 mg : 84 mg) diperoleh tablet kaptopril lepas lambat mucoadhesive optimum.

BAB IV
KESIMPULAN

Sediaan tertahan di lambung (gastroretentive) merupakan sediaan yang didesain untuk


dapat memperpanjang waktu tinggal sediaan di lambung yang merupakan salah satu tempat
terjadinya absorbsi obat di dalam tubuh. Sistem penghantaran mukoadhesif merupakan salah satu
bentuk sediaan tersebut dengan mekanisme penempelan pada mukosa lambung.
Kaptopril menggunakan system mukoadesiv karena memiliki sifat yang mudah larut
dalam air dan mudah teroksidasi pada pH usus, maka perlu diperhatikan strategi pengembangan
tablet kaptopril lepas lambat yang cukup kuat menahan pelepasan obat dan dapat bertahan dalam
lambung dalam waktu yang cukup lama.
Penggunaan kombinasi sodium karboksi metilselulosa dan etilselulosa sebagai matriks
akan mempengaruhi sifat fisik tablet kaptopril lepas lambat mucoadhesive dan penggunaan
kombinasi ini diharapkan dapat menghasilkan sediaan kaptopril lepas lambat yang dapat
mempertahankan keutuhan matriks dan tertahan di lambung.
Kaptopril merupakan obat antihipertensi dan efekif dalam penanganan gagal jantung
dengan cara supresi sistem renin angiotensin aldosteron. Renin adalah enzim yang dihasilkan
ginjal dan bekerja pada globulin plasma untuk memproduksi angiotensin I yang besifat inaktif.
"Angiotensin Converting Enzyme" (ACE), akan merubah angiotensin I menjadi angiotensin Il
yang besifat aktif dan merupakan vasokonstriktor endogen serta dapat menstimulasi sintesa dan
sekresi aldosteron dalam korteks adrenal. Peningkatan sekresi aldosteron akan mengakibatkan
ginjal meretensi natrium dan cairan, serta meretensi kalium. Dalam kerjanya, kaptopril akan
menghambat kerja ACE, akibatnya pembentukan angiotensin ll terhambat, timbul vasodilatasi,
penurunan sekresi aldosteron sehingga ginjal mensekresi natrium dan cairan serta mensekresi
kalium. Keadaan ini akan menyebabkan penurunan tekanan darah dan mengurangi beban
jantung, baik 'afterload' maupun 'pre-load', sehingga terjadi peningkatan kerja jantung.
Vasodilatasi yang timbul tidak menimbulkan reflek takikardia.
Kombinasi matriks sodium karboksimetilselulosa dengan etilselulosa mempengaruhi sifat
fisik dan pelepasan obat kaptopril lepas lambat mucoadhesive, penambahan konsentrasi jumlah
SCMC yang semakin banyak dapat meningkatkan daya lekat tablet dan kecepetan disolusi, pada
penambahan etilselulosa yang semakin banyak dapat meningkatkan kekerasan, menurunkan
kerapuhan tablet dan menghasilkan sifat alir yang baik. Formula dengan perbandingan SCMC :
etilselulosa (88 mg : 84 mg) diperoleh tablet kaptopril lepas lambat mucoadhesive optimum.

DAFTAR PUSTAKA

Vinay, P., Sarasija,S.C., and Hemanth, J. 2010. Gastroretentive Drug Delivery System in vitro
evaluation. International Journal of Pharma and Bio Sciences, 2-6.
Kotwal, A *and A.K. Pathak. 2011. Formulation and Evaluation of Intragastric Buoyant Tablets
of Amoxicillin Trihydrate. Department of Pharmacy, Barkatullah University, Bhopal, (M.P.).
India.
https://www.academia.edu/9107810/TABLET_GASTRORETENTIVE
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/43083/4/Chapter%20II.pdf
http://eprints.ums.ac.id/27833/3/BAB_1.pdf
http://www.dechacare.com/Captopril-P545-1.html
http://obat-drug.blogspot.co.id/2015/05/mekanisme-aksi-farmakologi-carakerja-captoprilkaptopril.html