Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Volume batuan sedimen dan termasuk batuan metasedimen hanya
mengandung 5% yang diketahui di litosfera dengan ketebalan 10 mil di luar tepian
benua, dimana batuan beku metabeku mengandung 95%. Sementara itu,
kenampakan di permukaan bumi, batuan-batuan sedimen menempati luas bumi
sebesar 75%, sedangkan singkapa dari batuan beku sebesar 25% saja. Batuan
sedimen dimulai dari lapisan yang tipis sekali sampai yang tebal sekali. Ketebalan
batuan sedimen antara 0 sampai 13 kilometer, hanya 2,2 kilometer ketebalan yang
tersingkap dibagian benua. Bentuk yang besar lainnya tidak terlihat, setiap
singkapan memiliki ketebalan yang berbeda dan singkapan umum yang terlihat
ketebalannya hanya 1,8 kilometer. Di dasar lautan dipenuhim oleh sedimen dari
pantai ke pantai. Ketebalan dari lapisan itu selalu tidak pasti karena setiap saat selalu
bertambah ketebalannya. Ketebalan yang dimiliki bervariasi dari yang lebih tipis
darim0,2 kilometer sampai lebih dari 3 kilometer, sedangkan ketebalan rata-rata
sekitar 1 kilometer (Endarto, 2005 ).
Total volume dan massa dari batuan-batuan sedimen di bumi memiliki
perkiraan yang berbeda-beda, termasuk juga jalan untuk mengetahui jumlah yang
tepat. Beberapa ahli dalam bidangnya telah mencoba untuk mengetahui ketebalan
rata-rata dari lapisan batuan sedimen di seluruh muka bumi. Clarke (1924) pertama
sekali memperkirakan ketebalan sedimen di paparan benua adalah 0,5 kilometer. Di
dalam cekungan yang dalam, ketebalan ini lebih tinggi, lapisan tersebut selalu
bertambah ketebalannya dari hasil alterasi dari batuan beku, oksidasi, karonasi dan
hidrasi. Ketebalan tersebut akan bertambah dari hasil rombakan di benua sehinngga
ketebalan akan mencapai 2.200 meter. Volume batuan sedimen hasil perhitungan
dari Clarke adalah 3,7 x 108 kilometer kubik (Clarke ,1924).

1.2 MAKSUD DAN TUJUAN


Setelah membuat makalah ini, mahasiswa diharapkan :
1

Mengenali apa itu batuan sedimen khususnya batuan sedimen klastik dan batuan

sedimen non klastik serta kaitanya sebagai batuan penyusun kerak bumi,
Lebih Memahami konsep batuan, khususnya batuan sedimen klastik dan batuan

sedimen non klastik,


Mampu mengidentifikasi batuan sedimen klastik dan non klastik dari sifat

4
5
6

fisiknya,
Memahami genesa batuan sedimen klastik dan non klastik,
Dapat menerangkan batuan sedimen klastik dan non klastik secara teoritis,
Pada akhirnya dapat melakukan penamaan dan pemerian segala jenis batuan
sedimen khusunya batuan sedimen klastik dan non klastik.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN BATUAN SEDIMEN
Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk sebagai hasil pemadatan
endapan yang berupa bahan lepas. Menurut ( Pettijohn, 1975 ) batuan sedimen
adalah batuan yang terbentuk dari akumulasi material hasil perombakan batuan
yang sudah ada sebelumnya atau hasil aktivitas kimia maupun organisme, yang di
endapkan lapis demi lapis pada permukaan bumi yang kemudian mengalami
pembatuan. Menurut Tucker (1991), 70 % batuan di permukaan bumi berupa
batuan sedimen. Tetapi batuan itu hanya 2 % dari volume seluruh kerak bumi. Ini
berarti batuan sedimen tersebar sangat luas di permukaan bumi, tetapi ketebalannya
relatif tipis.
Volume batuan sedimen dan termasuk batuan metasedimen hanya
mengandung 5% yang diketahui di litosfera dengan ketebalan 10 mil di luar tepian
benua, dimana batuan beku metabeku mengandung 95%. Sementara itu,
kenampakan di permukaan bumi, batuan-batuan sedimen menempati luas bumi
sebesar 75%, sedangkan singkapa dari batuan beku sebesar 25% saja. Batuan
sedimen dimulai dari lapisan yang tipis sekali sampai yang tebal sekali. Ketebalan
batuan sedimen antara 0 sampai 13 kilometer, hanya 2,2 kilometer ketebalan yang
tersingkap dibagian benua. Bentuk yang besar lainnya tidak terlihat, setiap
singkapan memiliki ketebalan yang berbeda dan singkapan umum yang terlihat
ketebalannya hanya 1,8 kilometer. Di dasar lautan dipenuhim oleh sedimen dari
pantai ke pantai. Ketebalan dari lapisan itu selalu tidak pasti karena setiap saat
selalu bertambah ketebalannya. Ketebalan yang dimiliki bervariasi dari yang lebih
tipis dari 0,2 kilometer sampai lebih dari 3 kilometer, sedangkan ketebalan rata-rata
sekitar 1 kilometer (Endarto, 2005 ).
Batuan sedimen banyak sekali jenisnya dan tersebar sangat luas dengan
ketebalan antara beberapa centimetersampai beberapa kilometer. Juga ukuran
butirnya dari sangat halus sampai sangat kasar dan beberapa proses yang penting

lagi yang termasuk kedalam batuan sedimen. Disbanding dengan batuan beku,
batuan sedimen hanya merupakan tutupan kecil dari kerak bumi. Batuan sedimen
hanya 5% dari seluruh batuan-batuan yang terdapat dikerak bumi. Dari jumlah 5%
ini,batu lempung adalah 80%, batupasir 5% dan batu gamping kira-kira 80%
(Pettijohn, 1975).
Sedimen tidak hanya bersumber dari darat saja tetapi dapat juga dari yang
terakumulasi di tepi-tepi cekungan yang melengser kebawah akibat gaya gravitasi.
Meskipun secara teoritis dibawah permukaan air tidak terjadi erosi, namun masih
ada energy air, gelombang dan arus bawah permukaan yang mengikis terumbuterumbu karang di laut dan hasil kikisannya terendapkan di sekitarnya. Material
sedimen dapat berupa :
1. Fragmen dan mineral-mineral dari batuan yang sudah ada. Misalnya kerikil di
sungai, pasir di pantai dan lumpur di laut atau di danau.
2. Material organik, seperti terumbu koral di laut, sisa-sisa cangkang organism air
dan vegetasi di rawa-rawa.
3. Hasil penguapan dan proses kimia seperti garam di danau payau dankalsim
karbonat di aut dangkal.
Berdasarkan ada tidaknya proses transportasi dari batuan sedimen dapat
dibedakan menjadi 2 macam :
1. Batuan Sedimen Klastik; Yaitu batuan sedimen yang terbentuk berasal dari
hancuran batuan lain. Kemudian tertransportasi dan terdeposisi yang
selanjutnya mengalami diagenesa.
2. Batuan Sedimen Non Klastik; Yaitu batuan sedimen yang tidak mengalami
proses transportasi. Pembentukannya adalah kimiawi dan organis.
2.2 MACAM-MACAM BATUAN SEDIMEN
2.2.1 BATUAN SEDIMEN KLASTIK
Batuan sedimen klastik merupakan batuan sedimen yang terbentuk
dari pengendapan kembali detritus atau pecahan batuan asal. Batuan asal
dapat berupa batuan beku, metamorf dan sedimen itu sendiri. Batuan
sedimen diendapkan dengan proses mekanis, terbagi dalam dua golongan
besar dan pembagian ini berdasarkan ukuran besar butirnya. Cara
terbentuknya batuan tersebut berdasarkan proses pengendapan baik yang

terbentuk dilingkungan darat maupun dilingkungan laut. Batuan yang


ukurannya besar seperti breksi dapat terjadi pengendapan langsung dari
ledakan gunungapi dan di endapkan disekitar gunung tersebut dan dapat
juga diendapkan dilingkungan sungai dan batuan batupasir bisa terjadi
dilingkungan laut, sungai dan danau. Semua batuan diatas tersebut termasuk
ke dalam golongan detritus kasar. Sementara itu, golongan detritus halus
terdiri dari batuan lanau, serpih dan batua lempung dan napal. Batuan yang
termasuk golongan ini pada umumnya di endapkan di lingkungan laut dari
laut dangkal sampai laut dalam.
Fragmentasi batuan asal tersebut dimulai dari pelapukan mekanis
maupun secara kimiawi, kemudian tererosi dan tertransportasi menuju suatu
cekungan pengendapan. Setelah pengendapan berlangsung sedimen
mengalami diagenesa yakni, prosess- proses yang berlangsung pada
temperatur rendah di dalam suatu sedimen, selama dan sesudah litifikasi.
Contohnya; Breksi, Konglomerat, Standsstone (batu pasir), dan lain-lain.
Batuan sedimen yang terbentuk dari pengendapan kembali detritus
atau pecahan batuan asal. Batuan asal dapat berupa batuan beku, metamorf
dan sedimen itu sendiri. (Pettjohn, 1975). Batuan sedimen diendapkan
dengan proses mekanis, terbagi dalam dua golongan besar dan pembagian
ini berdasarkan ukuran besar butirnya. Cara terbentuknya batuan tersebut
berdasarkan proses pengendapan baik yang terbentuk dilingkungan darat
maupun dilingkungan laut. Batuan yang ukurannya besar seperti breksi
dapat terjadi pengendapan langsung dari ledakan gunungapi dan di
endapkan disekitar gunung tersebut dan dapat juga diendapkan dilingkungan
sungai dan batuan batu pasir bisa terjadi dilingkungan laut, sungai dan
danau. Semua batuan diatas tersebut termasuk ke dalam golongan detritus
kasar. Sementara itu, golongan detritus halus terdiri dari batuan lanau, serpih
dan batua lempung dan napal. Batuan yang termasuk golongan ini pada
umumnya di endapkan di lingkungan laut dari laut dangkal sampai laut
dalam (Pettjohn, 1975). Fragmentasi batuan asal tersebut dimulaiu darin
pelapukan mekanis maupun secara kimiawi, kemudian tererosi dan
tertransportasi menuju suatu cekungan pengendapan (Pettjohn, 1975).
5

Setelah pengendapan berlangsung sedimen mengalami diagenesa


yakni, proses proses-proses yang berlangsung pada temperatur rendah di
dalam suatu sedimen, selama dan sesudah litifikasi. Hal ini merupakan
proses yang mengubah suatu sedimen menjadi batuan keras ( Pettjohn,
1975).
Proses diagenesa antara lain :
a) Kompaksi Sedimen
Yaitu termampatnya butir sedimen satu terhadap yang lain akibat
tekanan dari berat beban di atasnya. Disini volume sedimen berkurang
dan hubungan antar butir yang satu dengan yang lain menjadi rapat.
b) Sementasi
Yaitu turunnya material-material di ruang antar butir sedimen dan
secara kimiawi mengikat butir-butir sedimen dengan yang lain.
Sementasi makin efektif bila derajat kelurusan larutan pada ruang butir
makin besar.
c) Rekristalisasi
Yaitu pengkristalan kembali suatu mineral dari suatu larutan
kimia yang berasal dari pelarutan material sedimen selama diagenesa
atu sebelumnya. Rekristalisasi sangat umum terjadi pada pembentukan
batuan karbonat.
d) Autigenesis
Yaitu terbentuknya mineral baru di lingkungan diagenesa,
sehingga adanya mineral tersebut merupakan partikel baru dlam suatu
sedimen. Mineral autigenik ini yang umum diketahui sebagai berikut :
karbonat, silica, klorita, gypsum dan lain-lain.
e) Metasomatisme
Yaitu pergantian material sedimen oleh berbagai mineral
autigenik, tanpa pengurangan volume asal.
2.2.2 BATUAN SEDIMEN NON KLASTIK
Batuan sedimen Non-Klastik merupakan batuan sedimen yang
terbentuk sebagai hasil penguapan suatu larutan, atau pengendapan material
di tempat itu juga (insitu). Proses pembentukan batuan sedimen kelompok
ini dapat secara kimiawi, biologi /organik, dan kombinasi di antara
keduanya (biokimia). Secara kimia, endapan terbentuk sebagai hasil reaksi

kimia, misalnya CaO + CO2 menghasilkan CaCO3. Secara organik adalah


pembentukan sedimen oleh aktivitas binatang atau tumbuh-tumbuhan,
sebagai contoh pembentukan rumah binatang laut (karang), terkumpulnya
cangkang binatang (fosil), atau terkuburnya kayu-kayuan sebagai akibat
penurunan daratan menjadi laut. Contohnya; Limestone (batu gamping),
Coal (batu bara), dan lain-lain.
Batuan sedimen yang terbentuk dari hasil reaksi kimia atau bisa juga
dari kegiatan organisme. Reaksi kimia yang dimaksud adalah kristalisasi
langsung

atau

reaksi

organik

(Pettjohn,

1975). Menurut R.P.

Koesoemadinata, 1981 batuan sedimen dibedakan menjadi enam golongan


yaitu :
a) Golongan Detritus Kasar
Batuan sedimen diendapkan dengan proses mekanis. Termasuk
dalam golongan ini antara lain adalah breksi, konglomerat dan
batupasir. Lingkungan tempat pengendapan batuan ini di lingkungan
sungai dan danau atau laut.
b) Golongan Detritus Halus
Batuan yang termasuk kedalam golongan ini diendapkan di
lingkungan laut dangkal sampai laut dalam. Yang termasuk ked ala
golongan ini adalah batu lanau, serpih, batu lempung dan Nepal.
c) Golongan Karbonat
Batuan

ini

umum

sekali

terbentuk

cangkang moluska, algae dan foraminifera.

Atau

dari
oleh

kumpulan
proses

pengendapan yang merupakan rombakan dari batuan yang terbentuk


lebih dahulu dan di endpkan disuatu tempat. Proses pertama biasa
terjadi di lingkungan laut litoras sampai neritik, sedangkan proses
kedua di endapkan pada lingkungan laut neritik sampai bahtial. Jenis
batuan karbonat ini banyak sekali macamnya tergantung pada material
penyusunnya.
d) Golongan Silika

Proses terbentuknya batuan ini adalah gabungan antara pross


organik dan kimiawi untuk lebih menyempurnakannya. Termasuk
golongan ini rijang (chert), radiolarian dan tanah diatom. Batuan
golongan ini tersebarnya hanya sedikit dan terbatas sekali.
e) Golongan Evaporit
Proses terjadinya batuan sedimen ini harus ada air yang
memiliki larutan kimia yang cukup pekat. Pada umumnya batuan ini
terbentuk di lingkungan danau atau laut yang tertutup, sehingga
sangat memungkinkan terjadi pengayaan unsure-unsur tertentu. Dan
faktor yang penting juga adalah tingginya penguapan maka akan
terbentuk suatu endapan dari larutan tersebut. Batuan-batuan yang
termasuk kedalam batuan ini adalah gip, anhidrit, batu garam.
f) Golongan Batubara
Batuan sedimen ini terbentuk dari unsur-unsur organik yaitu dari
tumbuh-tumbuhan. Dimana sewaktu tumbuhan tersebut mati dengan
cepat tertimbun oleh suatu lapisan yang tebsl di atasnya sehingga tidak
akan memungkinkan terjadinya pelapukan. Lingkungan terbentuknya
batubara adalah khusus sekali, ia harus memiliki banyak sekali
tumbuhan sehingga kalau timbunan itu mati tertumpuk menjadi satu di
tempat tersebut.

2.3

PROSES-PROSES SEDIMENTASI
Batuan yang berasal dari hasil rombakan berbagai jenis batuan adalah
batuan sedimen. Batuan sedimen ini terbentuk dengan proses pertama tentunya
adalah pecahnya atau terabrasinya batuan sumber yang kemudian hasil
pecahannya tertransportasi dan mengendap di suatu area tertentu. Proses-proses
tersebut telah lazim disebut sebagai proses-proses sedimentasi. Proses sedimentasi

pada batuan sedimen klastik terdiri dari 2 proses, yakni proses sedimentasi secara
mekanik dan proses sedimentasi secara kimiawi.
2.3.1 PROSES SEDIMENTASI MEKANIK
Proses sedimentasi secara mekanik merupakan proses dimana butirbutir sedimen tertransportasi hingga diendapkan di suatu tempat. Proses ini
dipengaruhi oleh banyak hal dari luar. Transportasi butir-butir sedimen dapat
dipengaruhi oleh air, gravitasi, angin, dan es. Dalam cairan, terdapat dua
macam aliran, yakni laminar (yang tidak menghasilkan transportasi butirbutir sedimen) dan turbulent (yang menghasilkan transportasi dan
pengendapan butir-butir sedimen). Arus turbulen ini membuat partikel atau
butiran-butiran sedimen mengendap secara suspensi, sehingga butiranbutiran yang diendapkan merupakan butiran sedimen berbutir halus (pasir
hingga lempung). Proses sedimentasi yang dipengaruhi oleh gravitasi dibagi
menjadi 4, yakni yang dipengaruhi oleh arus turbidit, grain flows, aliran
sedimen cair, dan debris flows.
a) Arus turbiditi dipengaruhi oleh aliran air dan juga gravitasi. Ciri utama
pengendpan oleh arus ini adalah butiran lebih kasar akan berada di
bagian bawah pengendapan dan semakin halus ke bagian atas
pengendapan.
b) Grain flows biasanya terjadi saat sedimen yang memiliki kemas dan
sorting yang sangat baik jatuh pada slope di bawah gravitasi. Biasanya
sedimennya membentuk reverse grading.
c) Liquified sediment flows merupakan hasil dari proses liquefaction.
d) Debris flows, volume sedimen melebihi volume ar, dan menyebabka
aliran dengan viskositas tinggi. Dengan sedikit turbulens, sorting dari
partikel mengecil dan akhirnya menghasilkan endapan dengan sorting
buruk.
2.3.2 PROSES SEDIMENTASI KIMIAWI
Proses sedimentasi secara kimiawi terjadi saat pori-pori yang berisi
fluida menembus atau mengisi pori-pori batuan. Hal ini juga berhubungan
dnegan reaksi mineral pada batuan tersebut terhadap cairan yang masuk
tersebut. Berikut ini merupakan beberapa proses kimiawi dari diagenesis
batuan sedimen klastik:

a) Dissolution (pelarutan), mineral melarut dan membentuk porositas


sekunder.
b) Cementation (sementasi), pengendpan mineral yang merupakan semen
dari batuan, semen tersebut diendapkan pada saat proses primer maupun
sekunder.
c) Authigenesis, munulnya mineral baru yang tumbuh pada pori-pori batuan
d) Recrystallization, perubahan struktur kristal, namun kompsisi mineralnya
tetap sama. Mineral yang biasa terkristalisasi adalah kalsit.
e) Replacement, melarutnya satu mineral yang kemudian terdapat mineral
lain yang terbentuk dan menggantikan mineral tersebut
f) Compaction (kompaksi)
g) Bioturbation (bioturbasi), proses sedimentasi oleh hewan (makhluk
hidup)
Dalam proses sedimentasi itu sendiri terdapat yang disebut dengan
diagenesis. Diagenesis memiliki tahapan-tahapan sebagai berikut:
a) Eoldiagenesis
Tahap ini merupakan tahap awal dari pengendapan sedimen. Dimana
terjadi pembebanan, yang menyebabkan adanya kompaksi pada tiap
lapisan sedimennya. Pada tahap ini proses kompaksi mendominasi
b) Mesodiagenesis = earlydiagenesis
c) Latelydiagenesis
Tahap mesogenesis ini terjadi setelah melewati tahap eoldiagenesis. Pada
tahap ini, kompaksi yang sangat kuat disertai dnegan proses burial,
menyebabkan kenaikan suhu dan tekanan yang memicu terjadinya
dissolution. Pada tahap ini proses yang mendominasi adalah proses
dissolution (pelarutan). Sampai dengan proses ini, dikategorikan sebagai
earlydiagenesis. Apabila setelah proses pelarutan, masih terjadi burial,
maka akan terjadi sementasi di sekitar butiran-butiran sedimen. (inilah
yang disebut dnegan latelydigenesis). Apabila kompaksi terus berlanjut,
hingga pada suhu 150 derajat celcius. Proses diagenesis akan berhenti
dan digantikan menjadi proses metamorfisme.
d) Telodiagenesis
Sedangkan jika setelah tahapan mesodiagenesis terjadi pengangkatan,
dalam proses pengangkatan ini, keberadaan berbagai jenis air (air
meteorik, air tanah, dll) mempengaruhi susunan komposisi kimia batuan,

10

sehingga memungkinkan terjadinya authigenesis (pengisian mineral


2.4

baru).
KLASIFIKASI BATUAN SEDIMEN
Sanders (1981) dan Tucker (1991), membagi batuan sedimen menjadi:

Batuan sedimen detritus (klastika)

Batuan sedimen kimia

Batuan sedimen organik, dan

Batuan sedimen klastika gunungapi.


Batuan sedimen jenis ke empat itu adalah batuan sedimen bertekstur
klastika dengan bahan penyusun utamanya berasal dari hasil kegiatan gunungapi.
Graha (1987) membagi batuan sedimen menjadi 4 kelompok juga, yaitu :

Batuan sedimen detritus (klastika/mekanis)

Batuan sedimen batubara (organik/tumbuh-tumbuhan)

Batuan sedimen silika.

Batuan sedimen karbonat


Batuan sedimen jenis kedua pada umumnya bertekstur non-klastika. Tetapi
batuan sedimen jenis ketiga dan keempat dapat merupakan batuan sedimen

klastika ataupun batuan sedimen non-klastika.


2.5 STRUKTUR DAN TEKSTUR BATUAN SEDIMEN
2.5.1 Tekstur Pada Batuan Sedimen
a) Ukuran butir
Dalam pemerian ukuran butir digunakan pedoman ukuran dari Skala
Wentworth yaitu

11

b) Sortasi atau Derajat Pemilahan


Derajat pemilahan adalah tingkat keseragaman dari butiran
pembentuk batuan pembentuk batuan sedimen. Derajad pemilahan
inipun hanya dapat diamati secara megaskopis pada batuan yang
bertekstur kasar. Tingkat-tingkat dalam derajad pemilahan ini adalah :

Pemilahan baik

(well sorted)

Pemilahan sedang (moderately sorted)

Pemilahan buruk (poorly sorted)

c) Derajat Pembundaran (Roundness)


Yaitu nilai membulat/meruncingnya fragmen pembentuk batuan
sedimen, dimana untuk ini diberikan 5 kategori, yaitu:

Angular (menyudut)
Sub-Angular (menyudut tanggung)
Sub-Rounded (membulat tanggung)
Rounded (membulat)
Well Rounded (membulat baik)
Kebundaran/roundness: menyatakan kebundaran atau ketajaman

sudut butiran, yang mencerminkan tingkat abrasi selama transportasi.


12

Merupakan sifat permukaan dari butiran

Disebabkan oleh pengaruh transport terhadap butiran

d) Kemas (Fabric)
Kemas/fabric: merupakan sifat hubungan antar butir sebagai
fungsi orientasi butir dan packing, secara umum dapat memberikan
gambaran tentang arah aliran dalam sedimentasi serta keadaan
porositas dan permeabilitas batuan.

Di dalam batuan sedimen klastik dikenal dua macam kemas,


yaitu:
Kemas Terbuka, Butiran tidak saling bersentuhan (mengambang
di dalam matrik).
Kemas Tertutup, Butiran saling bersentuhan satu sama lain.

13

2.5.2

STRUKTUR BATUAN SEDIMEN


Struktur sedimen adalah kenampakan batuan sedimen dalam dimensi
yang lebih besar, merupakan suatu kelainan dari perlapisan normal batuan
sedimen dan diakibatkan oleh proses pengendapan dan keadaan energi
pembentuknya. Pembentukannya dapat terjadi pada waktu pengendapan
maupun

setelah

proses

pengendapan.

(Pettijohn & Potter, 1964;

Koesoemadinata, 1981)
Pada dasarnya klasifikasi ini adalah struktur yang terbentuk secara
organik (struktur yang terbentuk oleh organisme) dan anorganik. Struktur
anorganik dibedakan lagi menjadi 2, yaitu struktur primer dan struktur
sekunder.
a)
Struktur Primer
Struktur ini terbentuk karena proses sedimentasi atau juga dapat
dikatakan sebagai struktur yang terbentuk bersamaan dengan
terbentuknya batuan sedimen, sehingga struktur ini dijadikan arah
penentuan muda atau tidaknya suatu lapisan (young in direction)
karena dapat menggambarkan mekanisme pengendapannya. Struktur
yang terbentuk saat proses pengendapan sedang berlangsung termasuk
lapisan mendatar, lapisan silang, laminasi, dan laminasi silang yang
mikro yaitu adanya kesan riak.
1) Lapisan silang (cross bedding): struktur primer yang membentuk
sruktur penyilangan suatu lapisan batuan terhadap lapisan batuan
yang lainya, atau lapisan batuan yang lebih muda memotong
lapisan batuan yang lebih tua.Struktur sedimen yang dihasilkan
oleh kegiatan arus air atau arus angin dengan arah yang bervariasi
dapat digunakan untuk menunjukkan pola terjadinya arah arus
14

media sedimentasi (air, angin, gletser, dll) dimana media cross


bedded (batuan, tanah) pada masa lampau. Berikut contohnya:

Gambar 2.1 Struktur lapisan silang (cross bedding)


2)

Lapisan bersusun (graded bedding): struktur perlapisan sedimen


yang menunjukkan perbedaan fragmen atau ukuran butir sedimen
yang membentuk suatu lapisan batuan. Perbedaan ini terbentuk
karena adanya gaya gravitasi yang mempengaruhi saat terjadinya
pengendapan pada sedimen tersebut. Sedimen yang memiliki
ukuran butir lebih besar akan lebih dahulu mengendap
dibandingkan dengan sedimen yang memiliki ukuran lebih kecil
sehingga struktur graded bedding akan selalu menunjukan
sturktur perlapisan yang semakin ke atas lapisan tersebut ukuran
butir yang dijumpai akan semakin kecil. Berikut contohnya:

3)

Gambar 2.2 Struktur lapisan besusun (graded bedding)


Lapisan datar (flat bedding): memiliki perlapisan yang hamper
sama dengan cross bedding tapi hanya saja berbentuk perlapisan
secara mendatar. Berikut contohnya:

15

Gambar 2.3 Struktur perlapisan datar (flat bedding)


4) Gelembur gelombang (ripple mark): struktur primer perlapisan
sedimen yang menunjukan adanya permukaan seperti ombak atau
begelombang yang disebabkan adanya pengikiran oleh kerja air,
dan angin. Pada awalnya lapisan batuan sedimen tersebut datar
dan horizontal karena adanya pengaruh kerja air dan angin
menyebabkan bagian-bagian lemah terbawa air atau angin
sehingg menyisahkan cekungan-cekungan yang membentuk
seperti gelombang. Berikut contohnya:

5)

Gambar 2.4 Struktur perlapisan gelombang (ripple mark)


Load Cest: struktur primer yang terjadi akibat adanya cacat pada
permukaan batuan yang terjadi karena adanya gaya gravitasi
sehingga permukaan batuan tersebut runtuh oleh batuan di
atasnya dan membentuk sebuah lubang. Berikut contohnya:

16

Gambar 2.5 Struktur perlapisan load cest

6)

Flute Cast: struktur primer yang terjadi akibat adanya


penggerusan oleh angin maupun air sehingga timbul cekungan
atau gelombang pada permukaan batuan tersebut. Berikut
contohnya:

Gambar 2.6 Struktur perlapisan flute cast


7) Convolute Bedding: struktur sedimen yang paling tidak
berstruktur dikarenakan pengaruh energi gelombang bolak-balik
dan tidak menentu sehingga menghasilkan alur sedimentasi yang
sulit untuk diprediksi. Berikut contohnya:

17

Gambar 2.7 Struktur perlapisan convolute bedding


8) Flame Structure: struktur yang membentuk load cast, akan tetapi
material-materialnya adalah hasil kontak antara pasir dengan
lempung. Kenampakan struktur ini terlihat dari bergabungan pasir
dengan lempung akibat adanya penekanan. Berikut contohnya:

Gambar 2.8 Flame Structure


9) Pillow Structure: merupakan struktur yang berupa kenampakan
seperti bantal-bantal, material pembentuk struktur ini berupa
pasir. Material-material tadi tertimbun, kemudian mengalami
penekanan kebawah.

18

Gambar 2.9 Pillow Structure

10)

Vesicle: merupakan struktur yang menunjukkan adanya lubanglubang, bekas keluarnya gas, akibat adanya tekanan dari sedimen
di atasnya. Berikut contohnya:

Gambar 2.9 Strutur Vesicle


b)

Struktur Sekunder
Merupakan struktur yang terbentuk setelah proses sedimentasi
dan sebelum atau saat diagenesa. Hal ini juga menggambarkan
keadaan lingkungan pengendapannya atau struktur yang terjadi setelah
batuan terbentuk, struktur ini bisa biasanya dihasilkan oleh interaksi
batuan dengan proses tektonik. Interaksi batuan dengan tektonik

19

(dalam hal ini pergerakan antar lempeng), akan menyebabkan suatu


batuan tersebut terdeformasi.
Deformasi : perubahan dalam tempat dan/atau orientasi dari tubuh
batuan.
Deformasi secara definisi dapat dibagi menjadi :
1)
2)
3)
4)

Distortion, yaitu perubahan bentuk.


Dilatation, yaitu perubahan volume.
Rotation, yaitu perubahan orientasi.
Translation, yaitu perubahan posisi.

Struktur sekunder yang dikenal secara umum yaitu kekar, lipatan, dan
sesar.
1.

Kekar (joint), adalah struktur rekahan pada batuan di mana tidak


ada atau relative sedikit sekali terjadi pergeseran. Kekar
merupakan salah satu struktur yang paling umum pada batuan dan
berdasarkan klasifikassinya secara genetic, kekar terbagi atas:
Kekar gerus (shearjoint) yaitu kekar yang terjadi akibat stress
yang

menggelincir

bidang

satu

sama

lainnya

yang

berdekatan.
Kekar tarikan (tensional joint), yaitu kekar tang terbentuk
dengan arah tegak lurus dari gaya yang cenderung untuk
memindahkan batun (gaya tension). Hal ini terjadi akibat dari
stress yang cenderung untuk membelah dengan cara
menekanya pada arah yang berlawanan, sehingga dindingnya

saling menjauh.
Kekar hibrid (hybrid joint), yaitu kekar yang merupakan
gabungan dari kekar gerus dan tarikan dan umumnya
rekahannya terisi oleh mineral sekunder.
2. Sesar atau patahan adalah rekahan pada batuan yang mengalami
pergeseran yang berarti dan suatu sesar dapat berupa bidang sesar
atau rekahan tunggal tetapi sesar juga sering di jumpai sebagai
semacan jalur yang terdiri dari beberapa sesar minor. Jalur sesar
atau jalur pergeseran, mempunnyai dimensi panjang dan lebar

20

yang beragam dari skala minor sampai puluhan kilometer. Unsurunsur sesar adalah sebagai berikut:
Bidang sesar, yaitu bidang tempat terjadinya pergeseran yang

kedudukanya dinyatakan dengan jurus dan kemiringan.


Hanging-Wall, yaitu blok bagian terpatahkan yang berada

relative diatas bidan sesar.


Foot-Wall, yaitu blok bagian terpatahkan yang relative berada
di bawah bidang sesar.
Throw, yaitu besarnya pergeseran vertical pada sesar.
Heave, yaitu besarnya pergeseran horizontal pada sesar.
Berdasarkan arah pergeserannya, sesar diklasifikasikan
menjadi beberapa bentuk yaitu:
a) Strike slip fault, yaitu sesar yang arah pergerakannya relative
paralel dengan strike bidang sesar. (pitch 00-100). Sesar ini di
sebut juga sebaagai sesar mendatar. Sesar mendatar ini juga
dibedakan atas:
Sesar mendatar sinistral, yaitu sesar mendatar yang blok

batuan kirinya lebih mendekati pengamat.


Sesar mendatar dextral, yaitu sesar mendatar yang blok

batuan kanannya lebih mendekati pengamat.


b) Dip-Slip Fault, yaitu sesar yang arah pergerakannya relative
tegak lurus strike bidang sesar dan berada pada dip bidang
sesar (pitch 800-900). Dip-slip fault terbagi atas:
Sesar normal, yaitu sesar yang pergerakan Hangging

Wallnya relative turun terhadapa Foot-Wallnya.


Sesar naik, yaitu sesar yang pergerakan Hangging-Wallnya

relative naik naik terhadap Food-Wallnya.


c) Strike-Dip Slip Fault atau (oblique fault), yaitu sesar yang
vector pergerakannya terpengaruh arah strike dan dip bidang
sesar (pitch 100-800). Strike-dip slip fault terbagi lagi atas
kombinasi-kombinasi strike slip fault dan dip slip fault yaitu:
Sesar normal sinistral, yaitu sesar yang pergerakan
hanging-wallnya relative turun dan sinistrak terhadap
foot-wall.

21

Sesar normal dextral, yaitu sesar yang pergerakan


hanging-wallnya relative turun dan dextral terhadap foot-

wall.
Sesar naik sinistral, yaitu sesar yang pergerakang
hanging-wallnya relative naik dan sinistral terhadap foot-

wall.
Sesar naik dextral, yaitu sesar yang pergerakan hangingwallnya relative naik dan dextral terhadap foot-wall.

3.

Lipatan (Fold)
Lipatan merupakan pencerminan dari suatu lengkungan
yang mekanismenya disebabkan oleh dua proses yaitu bending
(melengkung) dan bucking (melipat). Berdasarkan unsur-unsur
pembentuknya lipatan di bedakan atas:
Plunge yaitu sudut yang terbentuk oleh poros dengan
horizontal pada bidang vertical.
Picth atau rake, sudut antara garis poros dan horizontal,
diukur pada poros.
Limb (sayap) bagian yang terletak downdip (sayap yang di
mulai dari lengkungan maksimum antiklin sampai hinge
singklin) updip (sayap yang di mulai dari lengkungan
maksimum singklin sampai hinge antiklin). Sayap dapat
beerupa bidan datar (planar), melengkung (curve), atau

bergelombang (wave).
Hinge point titik yang merupakan kelengkunagan maksimum

pada suatu perlipatan.


Hinge line garis yang menghubungkan hinge point pada suatu
perlapisan yang sama.
Axial line, garis khayal yang menghubungkan titik-titik dari
lengkungan maksimum pada tiap permukaan lapisan dari
suatu struktur lapisan.
Axial plane, bidang sumbu lipatan yang membagi sudut sama
besar antara sayap-sayap lipatan.
Berdasarkan bentuknya lipatan (fold) dapat diklasifikasikan
berdasarkan unsur geometrinya sebagai berikut:

22

a.

Upright Fold atau Simetrical Fold, yaitu lipatan tegak

b. Asimetrical Fold, yaitu lipatan tak setengkup atau tak simetri.


c.

Inclined Fold atau Over Fold yaitu lipatan miring atau


menggantung.

d. Recumbent Fold yaitu lipatan rebah.


2.6 CONTOH BATUAN SEDIMEN KLASTIK
2.6.1 Konglomerat

Gbr 1. Konglomerat
Ciri-ciri :

Berwarna kelabu keputihan,


Tersusun atas beberapa sens (kerikil-kerikil bulat), tidak ada goresan,
tidak mengkilap, kekerasan 5,5-6 patahan tidak sempurna,p ermukaan
tidak rata, berat.

Genesa :
Konglomerat merupakan suatu bentukan fragmen dari proses sedimentasi,
batuan yang berbutir kasar, terdiri atas fragmen dengan bentuk membundar dengan
ukuran lebih besar dari 2mm yang berada ditengah-tengah semen yang tersusun
oleh batupasir dan diperkuat & dipadatkan lagi kerikil. Dalam pembentukannya
membutuhkan energi yang cukup besar untuk menggerakan fragmen yang cukup
besar biasanya terjadi pada sistem sungai dan pantai.

23

Konglomerat adalah batuan sedimen yang tersusun dari bahan-bahan dengan


ukuran berbeda dan bentuk membulat yang direkat menjadi batuan padat. Bentuk
fragmen yang membulat akibat adanya aktivitas air, umumnya terdiri atas mineral
atau batuan yang mempunyai ketahanan dan diangkut jauh dari sumbernya. Di
antara fragmen- fragmen konglomerat diisi oleh sedimen-sedimen halus sebagai
perekat yang umumnya terdiri atas Oksida Besi, Silika, dan Kalsit. Fragmenfragmen konglomerat dapat terdiri atas satu jenis mineral atau batuan atau beraneka
macam campuran. Seperti halnya breksi, sifatnya yang heterogen menjadikan
berwarna-warni. Konglomerat umumnya diendapkan pada air dangkal.
Kegunaan : Digunakan Sebagai pondasi bangunan.

2.6.2 Batu pasir

Gbr.2 Batupasir
Ciri-ciri : Batu pasir adalah pada batuan sediment dengan ukuran butir antara
1/16 milimeter dan 2 mm. ( untuk siltstone terbentuk dari butiran yang lebih
halus). Walaupun batupasir tidak menandakan adanya mineral istimewa,
tetapi pada kenyataannya batu pasir biasanya banyak mengandung mineral
kuarsa. Kebanyakan batu pasir tetap mengandung sejumlah kecil dari mineral
mineral clays, hematite,ilmenite,feldspar dan mica, yang menambah warna
dan karakter dari matrix kuarsa. Batupasir yang mempunyai kandungan
mineral pengotor dalam jumlah besar digolongkan sebagai wacke atau
graywacke.
24

Genesa : Batu pasir terbentuk ketika pasir jatuh dan terendapkan pada bagian
offshore dari delta delta sungai, tetapi gurun pasir dan pantai dapat
membentuk perlapisan batu pasir apabila dikaji pada rekaman geologi. Batu
pasir biasanya tidak mengandung fosil-fosil, sebab energi yang terdapat pada
lingkungan ketika lapisan lapisan pasir terbentuk tidak mendukung untuk
terpeliharanya fosil-fosil tersebut. Sebagai pemandangan dan pembentuk
batuan, batupasir penuh dengan karakter, warna yang khas dan cepat
terawetkan.
Butiran dari kuarsa di dalam batu pasir tersement bersama dengan silika
( yang secara kimiawi sama dengan kuarsa), atau kalsium karbonate atau
oksida besi. Warna coklat dan belang pada batu pasir yang kasar disebabkan
sejumlah kecil dari mineral mineral besi
2.6.3 Batu lempung

Gbr.3 Batulempung
Genesa :
Type utama batulempung menurut terjadinya terdiri dari lempung residu
dan lempung letakan (sedimen), lempung residu adalah sejenis lempung yang
terbentuk karena proses pelapukan (alterasi) batuan beku dan ditemukan
disekitar batuan induknya. Kemudian material lempung ini mengalami proses
diagenesa sehingga membentuk batu lempung.
Kegunaan :
25

Lempung umumnya digunakan untuk bahan pembuatan keramik, bahan


baku semen Portland, genteng, gerabah dan bata.

2.6.4 Batuserpih

Gbr.4 Batuserpih
Ciri-ciri :
Terdiri dari butiran-butiran batu lempung atau tanah liat, berwarna abuabu kehijauan, merah, atau kuning. Dimanfaatkan sebagai bahan bangunan.
Berasal dari pelapukan batuan tanah liat.
2.6.5 Napal

Gbr.5 Napal

26

Marl atau napal adalah batulempung yang mempunyai komposisi


karbonat yang tinggi,
yaitu antara 30% - 60%. Sifat ini dapat berangsur menjadi lebih kecil
dari 30% yang
dikenal dengan nama batulempung gampingan dan dapat lebih besar
dari 60% yang disebut batugamping lempungan (umum dijumpai dalam
pemerian batuan detrius yang mengandung unsur karbonat). Napal awalnya
merupakan istilah untuk berbagai bahan lepas yang sebagian besar terjadi
secara bebas.
Batuan ini mengandung sejumlah lanau dan lempung. Mineral karbonat
yang dominan pada kebanyakan marl adalah kalsit, namun mineral-mineral
karbonat lain seperti aragonit, dolomit, dan siderit juga dapat hadir.
menggunakan tangan atau kuku Istilah marl secara umum digunakan dalam
ilmu kebumian yang menggunakan bahasa Inggris sebagai acuan, sedangkan
istilah mergel dan seekreidedigunakan dalam referensi-referensi negara Eropa
lain.
2.6.6 Breksi

Gbr.6 Breksi
27

Deskripsi : Breksi adalah batuan sedimen dengan ukuran butir lebih besar
dari 2 hingga 256 milimeter dengan bentuk butitan yang bersudut. yangterdiri
dari kumpulan batuan-batuan yang masih bersudut tajam dan kemudian
terikat menjadi satu oleh caCO3 atau SiO2. Batuan breksi berada tidak jauh
dari sumber 9 batuan induknya, oleh karena itu frakmennya masih bersudut
lancip).
Rumus kimia

:-

Potensi

: bagian dasar lereng, bekas longsoran,

perbukitan yang tandus


Manfaat

: keramik

Pengelompokan batuan

: sedimen

2.7 CONTOH BATUAN SEDIMEN NON KLASTIK


2.7.1 Batubara

Gbr 1 Batubara.
Coal atau batu bara adalah batuan sedimen yang terbentuk dari
kompaksi material yang berasal dari tumbuhan, baik berupa akar, batang,
maupun daun. Teksturnya amorf, berlapis, dan tebal. Komposisinya berupa
humus dan karbon. Warna biasanya coklat kehitaman dan pecahannya bersifat
prismatik.

28

Genesa : Batu bara terbentuk pada rawa-rawa pada daerah beriklim tropis
yang airnya mengandung sedikit oksigen. Bagian dari tumbuhan jatuh dan
mengendap di dasar

rawa semakin lama semakin bertambah dan

terakumulasi. Material tersebut lama-kelamaan terkubur oleh material di


atasnya sehingga tekanannya bertambah dan air keluar, dan kemudian
mengalami kompaksi menjadi batu-bara.
2.7.2 Batugamping Terumbu

Gbr 2. Batugamping Terumbu


Proses

pembentukan

batuan

gamping

terumbu

berasal

dari

pengumpulan plankton, moluska, algae yang keudian membentuk terumbu.


Jadi gamping terumbu berasal dari organisme. Batuan sedimen yang memiliki
komposisi mineral utama dari kalsit (CaCO3) terbentuk karena aktivitas dari
coral atau terumbu pada perairan yang hangat dan dangkal dan terbentuk
sebagai hasil sedimentasi organik.

29

2.7.3 Batugamping Kristalin

Gbr. 3 Batugamping Kristalin


Batu gamping kristalin merupakan salah satu jenis batuan sedimen
yang terbentuk dari batuan sediment seperti yang kita kira, batuan sedimen
terbentuk dari batuan sedimen, tidak juga terbentuk dari clay dan sand,
melainkan batuan ini terbentuk dari batu-batuan bahkan juga terbentuk dari
kerangka calcite yang berasal dari organisme microscopic di laut yang
dangkal. Sehingga sebagian perlapisan batu gamping hampir murni terdiri
dari kalsit, dan pada perlapisan yang lain terdapat sejumlah kandungan silt
atau clay yang membantu ketahanan dari batu gamping tersebut terhadap
cuaca. Sehingga lapisan yang gelap pada bagian atas batuan ini mengandung
sejumlah besar fraksi dari silika yang terbentuk dari kerangka mikrofosil,
sehingga dimana lapisan pada bagian ini lebih tahan terhadap cuaca.

30

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari penyusunan makalah ini adalah
sebagai berikut:
1) Batuan sedimen yang terbentuk diatas permukaan bumi, di bagi atas dua
kelompok yaitu struktur sedimen primer yang terbentuk bersamaan dengan
dengan terbentuknya bataun sediemen dan struktur sekunder yaitu struktur
yang terjadi setelah batuan sedimen terbentuk.
2) Batuan sedimen dapat di klasifikasikan bardasarkan tenaga yang mengangkut
hasil pelapukan, tempat pengendapaan (lingkungan pengendapaan), dan genetis
batuan sedimen.
3) Batuan sedimen terbagi atas dua kelompok yaitu batuan sedimen klastik dan
batuan sedimen non klastik
4) Batuan sedimen klastik merupakan batuan sedimen yang terbentuk dari
pengendapan kembali detritus atau pecahan batuan asal.
5) Batuan sedimen Non-Klastik merupakan batuan sedimen yang terbentuk
sebagai hasil penguapan suatu larutan, atau pengendapan material di tempat itu
juga (insitu).
6) Proses sedimentasi pada batuan sedimen klastik terdiri dari 2 proses, yakni
proses sedimentasi secara mekanik dan proses sedimentasi secara kimiawi.
7) Proses sedimentasi secara mekanik merupakan proses dimana butir-butir
sedimen tertransportasi hingga diendapkan di suatu tempat.
8) Proses sedimentasi secara kimiawi terjadi saat pori-pori yang berisi fluida
menembus atau mengisi pori-pori batuan.
9) Struktur sedimen adalah kenampakan batuan sedimen dalam dimensi yang
lebih besar, merupakan suatu kelainan dari perlapisan normal batuan sedimen

31

dan diakibatkan oleh proses pengendapan dan keadaan energi pembentuknya.


Pembentukannya dapat terjadi pada waktu pengendapan maupun setelah proses
pengendapan. (Pettijohn & Potter, 1964; Koesoemadinata, 1981)
10) Struktur sedimen terbagi 2 yaitu struktur Primer dan struktur sekunder
11) Contoh Struktur Sedimen adalah croos bedding, parralel laminasi, convolute,
gradded bedding.

DAFTAR PUSTAKA
Boogs,. Sam., Principles of sedimentology and stratigraphy., 1995 Prentice Hall
Kuswan Susilo, Budhi, S.T.,M.T., Texture of Sedimentary Rock Sediment Ary Rocks.
Pdf.
Setia Graha, Doddy, Ir. 1987. Batuan dan Mineral. Penerbit Nova, Bandung.
Sedimentary Rocks, Pettijohn, F.J., 1975

32

http://radonkey.blogspot.com/2009/07/batuan-sedimen.html
wawan-junaidi.blogspot.com/2009/10/batuan-sedimen.html
http://rizqigeos.blogspot.com/2013/05/batuan-sedimen.html
https://ptbudie.wordpress.com/2012/04/02/pengertian-umum-batuan-sedimen-danklasifikasinya/
http://atmantokukuh.blogspot.com/2012/11/batuan-sedimen-klastik-dan-nonklastik.html

33