Anda di halaman 1dari 4

A.

Anemia
1. Definisi Anemia
Menurut WHO, anemia gizi besi didefinisikan suatu keadaan dimana kadar Hb dalam darah
hemotokrit atau jumlah eritrosit lebih rendah dari normal sebagai kekurangan salah satu atau
lebih zat besi penting, apapun kekurangan tersebut. Batas normal kadar Hb menurut umur dan
jenis kelamin adalah terlihat
dalam Tabel 1:

Sumber : Wirakusumah, 1999


2. Penyebab Anemia
Sebagian besar penyebab anemia di Indonesia adalah kekurangan zat besi yang diperlukan untuk
pembentukan Hb, sehinggadisebut anemia kekurangan zat besi. Kekurangan zat besi dalam tubuh
tersebut disebabkan karena:
a. Kurangnya konsumsi makanan kaya zat besi terutama yang berasal dari sumber hewani.
b. Kekurangan zat besi karena kebutuhan yang meningkat seperti pada kehamilan, masa tumbuh
kembang serta pada penyakit infeksi seperti malaria dan penyakit kronis lainnya misal TBC.
c. Kehilangan zat besi yang berlebihan pada pendarahan termasuk haid yang berlebihan, sering
melahirkan dan infeksi cacing.
d. Ketidakseimbangan antara kebutuhan tubuh akan zat besi dibandingkan dengan penyerapan
dari makanan.
3. Akibat Anemia Kekurangan Zat Besi
a. Kekurangan zat besi dapat menimbulkan gangguan atau hambatan pada pertumbuhan baik sel
tubuh maupun sel otak sehingga pada ibu hamil dapat mengalami keguguran, lahir sebelum
waktunya. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), pendarahan sebelum dan pada waktu melahirkan
serta pada anemia berat dapat menimbulkan kematian ibu dan bayi.

b. Kekurangan Hb dalam darah mengakibatkan kurangnya oksigen yang ditransport ke sel tubuh
maupun otak, sehingga menimbulkan gejala-gejala sebagai berikut letih, lesu dan cepat capek
yang akibatnya penderita terkena penyakit infeksi. Mengingat dampak anemia diatas yang dapat
menurunkan kualitas sumber daya manusia, maka perlu penanggulangan segera.
4. Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Anemia
Upaya pencegahan dan penanggulangan anemia pada dasarnya adalah mengatasi penyebabnya
pada anemia berat. Biasanya ada penyakit yang melatar belakangi antara lain penyakit TBC.
Infeksi cacing atau malaria, sehingga selain penanggulangan pada anemia harus dilakukan
pengobatan terhadap penyakit tersebut.
Pencegahan dan penanggulangan anemia dapat dilakukan antara lain sebagai berikut:
1. Meningkatkan konsumsi zat besi dari makanan melalui penyuluhan, terutama makanan sumber
hewani yang mudah diserap seperti hati, ikan ,daging dan lain-lain. Selain itu perlu ditingkatkan
juga makanan yang banyak mengandung vitamin C dan vitamin A (buah-buahan dan sayuran).
Untuk membantu penyerapan besi dan membantu proses pembentukan Hb.
2. Pemberian suplementasi dengan tablet besi
Untuk menanggulangi akibat buruk yang diderita penderita anemia terutama yang disebabkan
oleh kekurangan zat besi maka perlu diberi tambahan zat besi
3. Fortifikasi bahan makanan dengan zat besi
Fortifikasi adalah penambahan suatu jenis gizi kedalam bahan pangan untuk meningkatkan
kualitas pangan suatu kelompok masyarakat. Keuntungan Fortifikasi diantaranya dapat
diterapkan pada populasi yang besar dan biaya relatif murah. Fortifikasi bahan makanan dapat
dilakukan dengan menambahkan zat besi,asam folat, vitamin A dan asam amino pada bahan
makanan yang dimakan secara luas oleh kelompok sasaran. (Wirakusumah,1999)
Patofisiologi Terjadinya Anemia
Menurut Price (2006) patofisiologi anemia defisiensi besi secara morfologis, Keadaan ini
diklasifikasikan sebagai anemia mikrositik hipokromik dengan penurunan kuantitatif sintesis
hemoglobin. Definisi besi merupakan penyebab utama anemia didunia dan terutama sering
dijumpai pada perempuan usai subur disebabkan oleh kehilangan darah sewaktu menstruasi dan
peningkatan kebutuhan besi selama kehamilan . Penyebab- penyebab lain defisiensi besi adalah :
(1) asupan besi yang tidak cukup, misal , pada masa bayi bayi yang hanya diberi diet susu saja
selama 12 24 bulan dan pada individu individu tertentu yang vegetarian ketat; (2) gangguan
absorsi setelah gastrektomi dan (3) kehilangan darah menetap, seperti pada perdarahan saluran
cerna lambat akibat polip, neoplasma, gastritis, varises esofagus, ingesti aspirin dan hemorroid.

Dalam keadaan normal tubuh seorang dewasa rata - rata mengandung 10 mg besi, dan untuk
seorang anak rata rata mengadung 11 12 mg besi bergantung pada jenis kelamin dan ukuran
tubuhnya(Supariasa, 2002) . Lebih dari dua pertiga besi terdapat didalam hemoglobin. Besi
dilepas dengan semakin tua serta matinya sel dan diangkut melalui transferin plasma ke sumsum
tulang untuk eritropoiesis. Dengan pengecualian mioglobin ( otot ) dan enzim- enzim heme dalam
jumlah yang sangat sedikit, sisa zat besi disimpan di dalam hati, limpa, dan dalam sumsum tulang
sebagai feritinin dan hemosiderin untuk kebutuhan kebutuhan lebih lanjut.
Walaupun dalam diet rata rata mengandung 10 sampai 20 mg besi, hanya sekitar 5 % hingga 10
% ( 1 sampai 2 mg) yang sebenarnya diabsorsi. Pada saat persediaan besi berkurang, maka lebih
banyak besi diasbsorsi dari diet. Besi yang diingesti diubah menjadi besi ferro di dalam lambung
dan duodeunum serta diabsorpsi dari duodenum dan jejunum 15 proksimal. Kemudian besi
diangkut oleh transferin plasma ke sumsum tulang untuk sintesis hemoglobin atau ke tempat
penyimpanan di jaringan.
Tiap mililiter darah mengandung 0,5 mg besi. Kehilangan besi umumnya sedikit sekali, dari 0,5
sampai 1mg / hari . Namun , yang mengalami menstruasi kehilangan tambahan sebanyak 15
sampai 28 mg / bulan. Walaupun kehilangan darah karena menstruasi berhenti selama kehamilan,
kebutuhan besi harian meningkat untuk mencukupi permintaan karena meningkatnya volume
darah ibu dan pembentukan plasenta, tali pusat, dan janin , serta mengimbangi darah yang hilang
selama kelahiran.
Selain tanda tanda dan gejala gejala yang terjadi pada anemia, individu dengan defisiensi besi
yang berat ( besi plasma kurang dari 40 mg / dl: hemoglobin 6 sampai 7 g/ dl) memiliki rambut
yang rapuh dan halus serta kuku tipis, rata , mudah patah dan mungkin berbentuk sendok
(koilonikia). Selain itu, antrofi papila lidah mengalibatkan lidah tampak pucat , licin, mengkilat,
bewarna merah daging, dan meradang serta sakit. Dapat juga terjadi stomatitis angularis, pecah
pecah disertai kemerahan dan nyeri di sudut mulut.
Pemeriksaan darah menunjukan jumlah SDM normal atau hampir normal dan kadar hemoglobin
berkurang, Pada asupan darah perifer, SDM mikrositik dan hipokromik ( MCV, MCHC, dan
MCH berkurang ) disertai poikilositosis dan anisositosis. Jumlah retikulosit dapat normal atau
berkurang. Kadar besi berkurang sedangkan kapasitas mengikat besi serum total meningkat.

Untuk mengobati difesiensi besi, penyebab dasar anemia harus diidentifikasi dan dihilangkan.
Intervensi pembedahan mingkin diperlukan untuk menghambat perdarahan aktif akibat polip,
ulkus, keganasan dan hemoroid: perubahan diet dapat diperlukan untuk bayi bayi yang hanya
diberi susu atau individu dengan idionsnkrasi makanan atau yang menggunakan aspirin dalam
dosis besar. Walaupun modifikasi diet dapat 16 meningkatkan besi yang tesedia ( misalnya,
dengan menambahkan hati ) , suplementasi besi diperlukan untuk meningkatkan hemoglobin dan
mengembalikan cadangan besi. Besi tersedia dalam bentuk parenteral dan oral . sebagian besar
orang berespon baik terhadap senyawa senyawa oral seperti ferosulfat , 325 mg tiap tiga kali
sehari selama paling sedikit 6 bulan untuk menggantikan cadangan besi. Sediaan besi perenteral
digunakan pada pasien yang tidak dapat menoleransi sediaan oral atau yang tidak patuh. Besi
parenteral memiliki insiden terjadinya reaksi reaksi yang merugikan relatif tinggi. Pasien
tersebut diberikan dosis uji dan dipantau selama satu jam. Kila pasien tersebut tidak mengalami
efek samping , sisa dosisnya diberikan 2 jam kemudian .
Daftar Pustaka
Wirakusumah, Emma S.1999. Perencanaan Menu Anemia Gizi Besi. Jakarta: PT.Pustaka
Pembangunan Swadaya Nusantara
Price, S.A & Wilson L.M.(2006).(Penerjemah : Kuncara HY dkk.). Patofisiologi: Konsep Klinis
Proses-Proses Penyakit.Edisi ke-6.Vulume 1.Jakarta: EGC.