Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada

EDISI #19

ISSN: 2087-5967

PREFACE

Innovate, Interact, Inspire!
Tag-Line ini merupakan semangat yang diusung pada peringatan

Dies Natalies ke-59 FEB UGM. Di usianya yang telah lebih dari
setengah abad, FEB UGM diharapkan dapat menghasilkan beragam
inovasi, berinteraksi dan menginspirasi seluruh lapisan masyarakat.
Berbagai agenda diselenggarakan dalam rangka memeriahkan
Dies Natalis tahun ini, baik bersifat non-akademik dan akademik.
Acara olah raga mengawali rangkaian perhelatan penting ini, yang
mengusung kebersamaan dan kekeluargaan antara mahasiswa,
karyawan dan dosen untuk mewujudkan visi misi FEB UGM.
Kemeriahan dan kekhidmatan mewarnai Dies Natalis ke-59 ini di
kegiatan seminar, ziarah, sarasehan, anjang sana, family fun day,
wayangan, dan tumpengan.
Pada rubrik unit news kali ini menyajikan beragam berita penelitian,
pelatihan dan seminar yang sukses diselenggarakan selain oleh
P2EB juga oleh Dashboard dan Corner: Banking Corner, Dashboard
Ekonomi Kerakyatan, Investment Gallery dan Dashboard for
Excellence Quality and Productivity Improvement (DEQPI). Acara
International Week, CEO Talk to the Walk dan kegiatan lain juga
menghiasi rubrik What’s Up FEB.
Cerita inspiratif tentang sosok seorang alumni kali ini menampilkan
Hari Sudarmaji dengan judul Highly Motivated Professional Adult.
Topik lain ditulis apik seputar keberhasilan mahasiswa-mahasiswa
dalam menempuh kuliah baik di dalam maupun luar negeri. News
from Abroad dituliskan secara khusus oleh dosen yang menempuh
studi S3 di Norwegia, Risa Virgosita.
Semoga di usianya yang ke-59, FEB UGM semakin memberikan
pengaruh dan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat dengan

Prof. Wihana Kirana Jaya, M.Soc.Sc, Ph.D.

Diterbitkan oleh

Fakultas Ekonomika dan Bisnis
Universitas Gadjah Mada
Jl. Sosio Humaniora
Bulaksumur, Yogyakarta 55281
T: + 62 274 548 510 (hunting)
F: + 62 274 563 212
E: dekan@feb.ugm.ac.id

Dekan

W: http://www.feb.ugm.ac.id

Penanggung Jawab

Pengarah

Tim Liputan

Muhammad Edhie Purnawan, M.A.,
Ph.D.
(Wakil Dekan Bidang Penelitian,
Pengabdian Kepada Masyarakat,
Alumni dan Kerjasama)

Prof. Wihana Kirana Jaya, M.Soc.Sc,
Ph.D
(Dekan)

Ananda Adi C
Hestining Kurniastuti
Muhammad Ikhsan Brilianto
Jodista Giche K
Nadia Fitriani
Azka Azifa
Nela Navida

B.M. Purwanto, MBA., Ph.D.
(Wakil dekan Bidang Akademik dan
Kemahasiswaan)
Prof. Dr. Slamet Sugiri, M.B.A., Akt.
(Wakil Dekan Bidang Keuangan
Administrasi dan Sumber Daya
Manusia)
Eko Suwardi, M.Sc., Ph.D.
(Wakil Dekan Bidang Perencanaan
dan Teknologi Informasi)

Teknologi Informasi
Muhammad Ali Faiq

Artistik
Nisita Putri Rahayu
Mario Rosario Wisnu Aji

19

Special Report
Dies Natalis FEB-UGM ke-59

CONTENTS
What’s Up FEB
Membangun Sinergi melalui
International Week

1

Ambassador Talk the Walk
Saatnya Menjadi Global

3

CEO Talk the Walk
Membangun Nilai Perusahaan

4

S1

1

MAGISTER MANAJEMEN

9

MAGISTER EKONOMIKA
PEMBANGUNAN

11

MAGISTER AKUNTANSI

13

MAGISTER SAINS DAN DOKTOR

15

PROGRAM PROFESI AKUNTANSI

18

Who’s Who

23

Around Bulaksumur

24

Partnership

25

Scholarship and Recruitment

26

Exchange Students’ Comments

32

FEB in Pictures

34

Advertorial

35

Unit News

36

Facilities

43

27

Lecturer’s Article

Setiyono Miharjo, M.B.A., Ph.D.

29

News from Abroad
Risa Virgosita, M.Sc.

31

Alumni Corner
Hari Sudarmaji

33

Student Corner
Lay Monica Ratna Dewi

WHAT’S UP FEB S1

Membangun Sinergi melalui
International Week
Sebagai fakultas dengan
akreditasi Association
to Advance Collegiate
School of Business (AACSB), Fakultas Ekonomika
dan Bisnis UGM memiliki peran dalam membantu proses transisi
menuju AEC pada tahun
mendatang

1

EB News NOVEMBER 2014

A

sean Economic Community (AEC)
akan datang di penghujung
tahun. Setiap negara berlomba
untuk mempersiapkan diri agar dapat
memanfaatkan momentum tersebut.
Akan tetapi, menurut AEC score card
yang dikeluarkan oleh ASEAN pada
2008 silam, Indonesia dipandang
belum memiliki persiapan yang cukup.
Indonesia menjadi juru kunci dalam
peringkat yang terdapat dalam score
card tersebut.
Sebagai fakultas dengan akreditasi Association to Advance Collegiate
School of Business (AACSB), Fakultas
Ekonomika dan Bisnis UGM memiliki
peran dalam membantu proses transisi
menuju AEC pada tahun mendatang.
Oleh karena itu, FEB UGM dengan bangga menyelenggarakan kegiatan yang
mampu merangkul peserta tidak hanya
dari Asia saja, melainkan seluruh dunia,
International Week.

International Week diselenggarakan
pada 25—30 Agustus 2014 di FEB UGM
dengan 63 peserta, baik mahasiswa
sarjana maupun pascasarjana dari
12 negara. Negara-negara tersebut
adalah Prancis, Belanda, Jerman,
Portugal, Korea, Kamboja, Malaysia,
Thailand, Filipina, Jepang, China, dan
tentunya Indonesia. Dengan tema Asean
Business Environment, International
Week berhasil mengundang dosen
dan peneliti dari beragam perspektif.
Hadir diantaranya adalah Prof. Adrian
Borggreve dari Saxion University, Dr.
Tn. Hj. Noor Nasir Kader Ali, Dr. Hooi
Hooi Lean dan Prof. Dr. Sofri Yahya
dari University Sains Malaysia (USM),
Prof. Indra Wijaya Kusuma dan Prof.
Tri Widodo, M.Ec. Dev., Ph.D. dari FEB
UGM, Prof. Scott Don Villanueva Tibayan
dari DLSU, serta Dr. Astrid Kainzbauer
dari Mahidol University. Lebih dari
itu, International Week semakin kaya
karena mendatagkan para Chief

S1 WHAT’S UP FEB

Executive Officer (CEO) yang semakin
memperkaya wawasan peserta. Darwin
Silalahi, Edimon Ginting Ph.D, Frederica
Widyasari Dewi, S.E., MBA, Prof. Dr.
Anwar Nasution, dan H.E. I Gusti Agung
Wesaka Puja hadir untuk berbagi ilmu
pada kesempatan tersebut.
Peserta yang hadir antusias dalam
mengikuti kegiatan tersebut. Hal ini
nampak dari berbagai pertanyaan yang
mereka lontarkan dalam sesi yang
diselenggarakan. Peserta juga membuat
suasana diskusi dalam kelompok kecil
menjadi lebih hidup dengan kekritisan
mereka. Hubungan persahabatan pun
ikut terbangun, baik di antara peserta,
peserta—panitia, atau bahkan peserta-panitia-pembicara. Hal ini tentunya
penting dalam mempersiapkan diri
menghadapi AEC karena bukan hanya
persaingan yang ditonjolkan, melainkan
kolaborasi antar Negara, khususnya di
ASEAN.

Tidak sekadar kelas dan
diskusi saja, International Week
juga mengadakan kunjungan ke
beberapa tempat menarik yang sarat
akan budaya. Salah satunya ialah
kunjungan ke Candi Prambanan. Di
sana para peserta menikmati Tari
Ramayana, ikon Yogyakarta sekaligus
menikmati santap malam. Peserta
juga diajak mengunjungi usaha
mikro, Dowa Bag di Godean. Di sana,
terdapat usaha pembuatan tas dengan
memberdayakan masyarakat sekitar.
Diharapkan peserta dapat memahami
bahwa industri kecil dan menengah
bagi negara berkembang merupakan
potensi ekonomi yang besar, selain
menjadi corak ekonomi bangsa
dan penyumbang kesejahteraan
masyarakat.

FEB UGM, menyampaikan bahwa International Week menjadi bagian dalam
mempersatukan berbagai berbedaan
perspektif, pandangan, budaya, dan
bahkan bahasa untuk bersama membangun iklim bisnis di ASEAN menjadi
lebih baik. Diharapkan akan timbul
pengertian di antara negara-negara di
ASEAN, maupun dunia terhadap kultur
di negara-negara ini. Selain itu, ia juga
menyatakan dukungannya terhadap penyelenggaraan kegiatan ini di
tahun-tahun yang akan datang. Rangga
Almahendra, Dr., S.T., M.M sebagai ketua
acara berharap International Week
tahun depan dapat jauh lebih baik
dibandingkan tahun ini. Apakah Anda
bisa bersabar untuk menunggu tahun
depan? [Azka]

Di penghujung acara, BM. Purwanto, MBA, Ph.D. selaku Wakil Dekan
Bidang Akademik dan Kemahasiswaan
EB News NOVEMBER 2014 2

WHAT’S UP FEB S1

Ambassador Talk The Walk
Saatnya Menjadi Global

S

aat ini, dunia telah semakin
terintegrasi. Going global sudah
bukan lagi menjadi hal yang harus
dihindari, apalagi ditakuti. Menjadi
global merupakan hal yang seharusnya
dilakukan, terutama oleh mahasiswa.
Sebagai salah satu sekolah bisnis
terbaik di dunia, Fakultas Ekonomika
dan Bisnis UGM memiliki empat pilar
untuk mengakomodir hal tersebut.
Keempat pilar ini adalah academic
excellence, softskill development,
internasionalisasi, dan networking.
Dalam Ambassador Talk The Walk
(6/10) silam diulas berbagai hal yang
berkaitan dengan being global. Hadir
sebagai pembicara, Duta Besar Luar
Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Abu
Dhabi dan United Arab Emirates (UAE),
H.E. Mr. Salman Al Farisi dan Duta Luar
Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk
Rusia dan Belarus, H.E. Mr. Djauhari
Oratmangun. Keduanya merupakan
lulusan FEB UGM yang berkecimpung
dalam dunia diplomasi internasional.
Keduanya sepakat bahwa lulusan
ekonomi sangat mungkin menjadi
diplomat karena tidak ada yang tidak
mungkin. “Dunia diplomasi tidak sesulit
ekonometri,” canda Salman.
Sebagai diplomat, keduanya juga
harus dapat melihat potensi yang dimiliki oleh negara tempat mereka ditugaskan. Selain itu, mereka juga harus dapat
melihat berbagai kesempatan yang ada.

3

EB News NOVEMBER 2014

Hal ini dilakukan agar tercipta kerjasama antar kedua negara, yakni Indonesia
dan UAE atau Indonesia dan Rusia. “We
are surrounded by opportunities (kita
dikelilingi berbagai kesempatan-red),”
ujar Djauhari.
Selain itu, keduanya juga memotivasi mahasiswa untuk tidak takut
menghadapi globalisasi, apalagi
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015.
Djauhari menegaskan bahwa Indonesia
adalah bangsa yang besar sehingga

tidak ada yang perlu ditakuti. Salman
menyarankan agar mahasiswa menguasai bahasa internasional agar menjadi
lebih percaya diri. Biar bagaimanapun,
komunikasi merupakan kunci utama
dalam interaksi internasional. Ambassador talk the walk ini ditutup dengan
harapan dapat menginspirasi mahasiswa tentang tugas-tugas diplomasi
khususnya ekonomi Republik Indonesia
di luar negeri. [nadfit]

S1 WHAT’S UP FEB

CEO Talk The Walk
Membangun Nilai Perusahaan

F

akultas Ekonomika dan Bisnis
UGM mendapat kehormatan
karena kedatangan tamu yang
merupakan CEO PT. Sinar Mas, G.
Sulistiyanto. Pada 3 Oktober lalu,
Sulistiyanto berbagi pengalaman
dengan civitas akademika FEB UGM.
Salah satunya mengenai kunci
sukses PT. Sinar Mas dalam meraih
berbagai penghargaan, salah satunya Anugrah Perbankan Indonesia
yang menempatkan perusahaan ini
pada peringkat ke-2 pengelolaan
Corporate Social Responsibility
(CSR) pada 2013 silam. Acara CEO
Talk to The Walk yang diselenggarakan di Djarum Hall FEB UGM ini
mampu menarik banyak peminat,
sehingga peserta tidak hanya hadir

dari FEB UGM saja, tapi juga pihak-pihak lain yang ingin belajar.
Creating Shared Value merupakan kunci keberhasilan PT. Sinar
Mas. Sebagai perusahaan yang
mengelola perusahaan dengan
ribuan karyawan serta bergerak di
lebih dari satu bidang menjadikan
tantangan tersendiri bagi PT. Sinar
Mas. Namun, perusahaan percaya
bahwa menciptakan manfaat
bersama di antara para stakeholder
dengan mengaplikasikan kebijakan
dan praktik operasi dapat meningkatkan daya saing perusahaan. Di
samping itu, diperlukan pula upaya
memajukan kondisi ekonomi dan
sosial masyarakat di wilayah perusahaan beroperasi. Konsep tersebut

dilaksanakan dengan melibatkan
masyarakat dalam program-program perusahaan. Contohnya
adalah program Coorporate Social
Responsibility (CSR) yang memberikan nilai tambah tersendiri bagi
masyarakat.
Meski demikian, perlu diingat
bahwa program yang dilaksanakan
juga harus dapat memberikan value
kepada masyarakat bukan sekadar
public relation saja. Jika tidak,
maka tidak akan tercipta kebermanfaatan bersama antara perusahaan,
lingkungan, dan masyarakat. [Azka]

EB News NOVEMBER 2014 4

WHAT’S UP FEB S1

Business & Alumni Gathering
Pengembangan Pendidikan Tinggi di Indonesia

P

engembangan pendidikan
tinggi merupakan salah satu
dasar terciptanya pemimpin-pemimpin yang kuat untuk
kemajuan bangsa Indonesia.
Fakultas Ekonomika dan Bisnis
(FEB) UGM bekerja sama dengan
PT. Bank Rakyat Indonesia(Persero) Tbk. menyelenggarakan B+A
Gathering dengan tema “Pengembangan Pendidikan Tinggi di
Indonesia” pada Jum’at (28/11).
Bertempat di Lotus Ballroom,
Hotel Shangri-La Jakarta, acara ini
meliputi agenda ucapan selamat
datang kembali Prof. Dr. Boediono,
M.Ec. yang telah selesai mengabdikan diri sebagai Wakil Presiden
RI, ungkapan apresiasi kepada
stakeholders yang mendukung keberhasilan FEB UGM serta rencana
pengembangan FEB UGM di masa
mendatang.
Gathering dihadiri oleh akademisi yang masuk dalam jajaran
Kabinet Kerja RI yaitu Wamenkeu,
Prof. Dr. Mardiasmo, MBA., Akt.
Selain itu dalam pertemuan ini
juga diundang tokoh-tokoh, perusahaan-perusahaan dan yayasanyayasan yang berkomitmen tinggi
terhadap kemajuan pendidikan
tinggi di Indonesia.
Prof. Wihana Kirana Jaya,
5

EB News NOVEMBER 2014

M.Soc.Sc, Ph.D, Dekan FEB UGM
dalam paparannya menyampaikan
capaian FEB UGM dalam meraih
Association to Advance Collegiate
Schools of Business (AACSB) International dan memberikan apresiasi
bagi perusahaan-perusahaan dan
tokoh-tokoh yang mendukung
kesuksesannya pada akreditasi
sekolah bisnis global prestisius ini.
Lebih lanjut Wihana juga menyampaikan rencana pengembangan
Fakultas ke depan baik yang terkait
aspek people, process maupun
infrastructure.
PT Bank Rakyat Indonesia
(Persero) Tbk. secara khusus
mendukung penuh penyelenggaraan gathering ini sebagai
bentuk kepeduliannya kepada
pengembangan pendidikan tinggi
di Indonesia. Sebelumnya banyak
kerja sama terjalin antara BRI dan

FEB UGM baik dalam penyediaan
sarana prasarana kampus, laboratorium UMKM maupun kompetisi-kompetisi mahasiswa untuk
menjaring wirausahawan handal
di masa depan. Sebagai salah satu
bank komersial terbesar di Indonesia, BRI memandang partisipasi
perusahaan pada perkembangan
pendidikan merupakan bentuk
nyata tanggung jawab sosialnya
kepada masyarakat.
Acara yang dipandu oleh Master
of Ceremony Marissa Haque dan
Sudibyo ini juga menampilkan
lantunan flute oleh Chief Economist Bank BRI, Anggito Abimanyu,
Ph.D. Gathering ini ditutup dengan
harapan terbukanya kunci pintu
perusahaan untuk berkontribusi di
bidang pendidikan guna terciptanya kesejahteraan masyarakat
Indonesia.[]

S1 WHAT’S UP FEB

Peluang Bekerja
di International Monetary Fund

F

akultas Ekonomika dan Bisnis
UGM sebagai perguruan tinggi
yang sudah diakui kualitasnya
di dunia memiliki daya Tarik
tersendiri bagi berbagai perusahaan
maupun organisasi internasional.
Salah satu tawaran kerja sama
datang dari International Monetary
Fund (IMF) yang merupakan badan
internasional yang memiliki tujuan
utama untuk memelihara ekonomi
global. Kedatangan IMF pada Jumat
(26/9/2014) silam diwakili oleh Ben
Bingham sebagai representatif senior
IMF di Indonesia, serta Dayalini P.
Mandis, kepala bagian rekrutmen IMF di
Indonesia.
Acara yang diselenggarakan di Auditorium Djarum Hall lantai 6 Pertamina
Tower ini dibuka secara resmi oleh
Dekan FEB UGM, Prof. Wihana Kirana
Jaya, M.Soc.Sc, Ph.D. Selanjutnya,
presentasi pertama dimulai dengan

pemaparan perkembangan perekonomian global maupun Indonesia oleh
Ben dengan moderator Wakil Dekan
Bidang Penelitian, Pengabdian kepada
Masyarakat, Kolaborasi dan Alumni
Muhammad Edhie Purnawan, PhD. Ben
mengatakan bahwa melihat kondisi
yang ada saat ini, Indonesia perlu
meningkatkan ekspor produk-produk
manufaktur. Selain itu, ekonomi perlu
digerakkan untuk menekan angka
pengangguran. Sementara itu, segmen
pertanian menyumbang tingkat pengangguran tertinggi.
Sedangkan pemaparan mengenai
peluang bekerja di IMF sendiri
dipaparkan oleh Dayalini. Lulusan
FEB UGM memiliki kesempatan yang
besar untuk dapat bekerja di organisasi
Internasional ini melihat kompetensi
dari mahasiswanya yang unggul.
Rekrutmen kali ini hanya diperuntukan
bagi mahasiswa master dan doktor saja.

Posisi yang ditawarkan di antaranya
adalah economist program, experienced
economists, support staf, dan research
asisstant. [Azka]

EB News NOVEMBER 2014 6

WHAT’S UP FEB S1

JURUSAN MANAJEMEN S1
Management Forum

J

umat (12/9) lalu, Jurusan Manajemen
Fakultas Ekonomika dan Bisnis
UGM menggelar kegiatan Management
Forum. Pada pelaksanaan kegiatan
yang telah berlangsung kali ke-22 ini
mengangkat topik “Industri Kreatif
Otomotif”. Kegiatan ini dilaksanakan
di Auditorium BRI Kampus MSi dan
Doktor FEB UGM. Diikuti oleh 154
mahasiswa S1 reguler dan International
Undergraduate Program (IUP) Kelas
Dasar-Dasar Pemasaran, Management
Forum menghadirkan langsung Direktur
Retro Classic Cycles Yogyakarta, Lulut
Wahyudi.

Dalam dua minggu ke depannya,
Jumat (3/10) Management Forum
kembali diadakan. Kegiatan rutin
Jurusan Manajemen kali ini bertempat
di Ruang Lippo Kampus MSi dan Doktor
FEB UGM. Jurusan menyelenggarakan
acara Management Forum ke-23
bertopik “Model Analisis Kualitatif
ZMET” dengan menghadirkan
narasumber Lukman Aroean, Ph.D dari
University Bournmouth UK. Berbeda
dengan Management Forum ke-22 yang
dihadiri mahasiswa S1. Kali ini kegiatan
dihadiri oleh dosen FEB UGM serta
mahasiswa M.Si dan Doktor.

S

Workshop Anti Plagiarisme

ekitar 130 mahasiswa S1 reguler
dan International Undergraduate
Program (IUP) jurusan Manajemen
melaksanakan Workshop
Pembimbingan Skripsi dan Anti
Plagiarism Jumat (5/11) lalu. Kegiatan
ini dilaksanakan sebagai upaya
peningkatan kualitas karya tulis Prodi
Sarjana Manajemen.
Materi workshop ini disampaikan
oleh salah satu dosen Fakultas
Ekonomika dan Bisnis UGM, Dr. Nurul
Indarti. Penjelasan mengenai anti
plagiarism ini diberikan secara detil
dan mendalam. Keikutsertaan dalam
workshop ini menjadi syarat bagi
mahasiswa Prodi Sarjana Manajemen
yang sedang melaksanakan skripsi
untuk mendaftar ujian pendadaran.

D

Program Soft Skill: Kepemimpinan

7

EB News NOVEMBER 2014

alam rangka realisasi keputusan
Workshop Jurusan Manajemen
13 Juni 2013 lalu, Prodi Sarjana
Manajemen menyelenggarakan
program soft skill. Program ini diberikan
kepada mahasiswa S1 jurusan
Manajemen baik mahasiswa reguler
maupun International Undergraduate
Program (IUP). Program ini menjadi
bagian dari kurikulum Prodi Sarjana
Manajemen yakni mencakup 3 bidang:
kepemimpinan, daya kreativitas, serta
kemampuan berkomunikasi.
Awal pelaksanaan program soft
skill ini dikemas dalam Workshop
Kepemimpinan yang diberikan oleh
Dr. Hani Handoko pembekalan untuk
pelaksanaan pendidikan kepemimpinan
bagi mahasiswa baru angkatan 2014.
Kegiatan ini telah dua kali dilaksanakan
di Auditorium Djarum Foundation
Pertamina Tower, yakni Jumat (12/9)
bagi mahasiswa S1 reguler dan Jumat
(26/9) bagi mahasiswa S1 IUP.

S1 WHAT’S UP FEB

BPPM EQUILIBRIUM
EQUALITY 2014:

Indonesia di Mata Pemuda

D

alam rangka memperingati Hari
Sumpah Pemuda yang jatuh
pada tanggal 28 Oktober, Badan
Penerbitan dan Pers Mahasiswa
Equlibrium (BPPM Equlibrium)
Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM
menyelenggarakan serangkaian acara
bertema kepemudaan. Acara tahunan
Equilibrium Annual Activity (Equality) ini
dilaksanakakan pada 9-11 Oktober 2014
bertempat di Museum Heritage Bank
Indonesia dan FEB UGM.
Mengusung tema “Indonesia di
Mata Pemuda”, kegiatan tahunan
kali ini dikemas berbeda dari tahun
sebelumnya. Qanita Chika Pribadi
selaku ketua penyelenggara berujar
bahwa pada tahun ini acara dikonsep
sedikit berbeda dengan tidak hanya
menyuguhkan seminar biasa, tapi juga
lomba fotografi, pameran fotografi,

serta pelatihan dan coaching clinic.
Rangkaian kegiatan ini mendapat
respon positif dari peserta yang datang.
Pengumpulan karya fotografi
sendiri dimulai sejak awal September.
Telah berhasil terkumpul lebih dari
30 karya dari berbagai universitas di
Indonesia. Peserta yang lolos tahap 5
besar mendapat pelatihan intensif di
Yogyakarta bersama dengan fotografer
professional, Dwi Oblo. Selain itu,
terdapat penyelenggaraan pameran
bagi 10 karya terbaik yang berlangsung
di Selasar FEB UGM. Pameran tersebut
dikunjungi oleh banyak orang baik dari
FEB UGM sendiri, maupun dari luar
FEB. Hadir pula dosen-dosen FEB UGM
dalam pameran tersebut.
Puncak acara Equality ialah
Pelatihan Fotografi-Jurnalistik oleh
Budi Putra, CEO Jakarta Post dan Bea

Wiharta, fotografer profesional Reuters
pada Sabtu, 11 Oktober 2014 silam.
Pelatihan diikuti oleh 60 peserta dan
berlangsung cukup sukses. Salah
seorang peserta, Luthfan Fauzan,
mengatakan bahwasanya acara yang
disusun oleh panitia sangatlah rapi
dan menambah value added baginya,
“Jarang sekali ada kegiatan yang
lengkap memberikan pelatihan menulis
sekaligus fotografi. Dan Equality
berhasil melakukannya.,” ungkapnya.
Dengan kesuksesan kali ini, Nur
Mutiara Santosa selaku staf acara
mengungkapkan agar Equality dapat
terus meningkatkan kualitasnya dalam
perannya mengedukasi mahasiswa
maupun masyarakat umum dalam
bidang penulisan. Sampai bertemu di
Equality tahun depan! [Azka]

SEF
SENSATION 2014:

Mendakwahkan Ekonomi Islam

D

alam suasana Idul Adha kali ini,
Sharia Economic Forum (SEF)
mengadakan rangkaian acara terbesar
tahunan dalam Shariah Economic
Acts in Innovation (Sensation) yang
juga merupakan media untuk
mendakwahkan Ekonomi Islam. Acara
ini berlangsung selama 3 hari, yakni
pada 2-4 Oktober 2014 bertempat di
Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM.
Sensation 2014 terdiri dari empat
acara, yaitu National Shariah Economic
Championship (NASEC), Sharia Paper
Competition (SHAPEC), Gathering Night,
dan Sensation International Seminar.
National Shariah Economic
Championship (NASEC) menjadi
pembuka pada rangkaian kegiatan ini.
Perlombaan ini diikuti oleh siswa-siswi
Sekolah Menengah Atas (SMA), baik SMA
Islam maupun umum. Mereka tidak
hanya datang dari Pulau Jawa, tapi
juga Sumatra, bahkan Kalimantan. Hal
ini menjadi tujuan dari NASEC sendiri
untuk dapat memperkenalkan Ekonomi
Islam kepada masyarakat sedini
mungkin. Peserta yang lolos tahap
seleksi diundang ke FEB UGM untuk
mengikuti final. Dari lomba tersebut,
SMA Semesta lolos sebagai pemenang.
Sementara itu, Shariah Economic
Forum (SHAPEC) menjadi ajang

bagi para mahasiswa untuk dapat
memberikan gagasannya kepada
pemerintah baru terkait dengan
pengembangan Ekonomi Islam dalam
pengembangan negara. Dimulai dengan
tahap seleksi online yaitu Case Analysis,
dilanjutkan dengan presentasi. Paper
yang terkumpul berasal dari berbagai
perguruan tinggi di Pulau Jawa.
Universitas Diponegoro (UNDIP), IAIN
Surakarta, dan Universitas Islam Negeri
(UIN) Syarif Hidayatullah keluar sebagai
pemenang.
Setelah melalui 2 rangkaian yang
melelahkan, peserta NASEC dan SAPEC
diajak untuk menikmati pagelaran
dalam balutan “Romansa Perjuangan”
di Plaza FEB UGM pada 2 Oktober.
Kegiatan ini diselenggarakan untuk
mengeratkan hubungan antara peserta
dan panitia. Pengumuman lomba juga
dilaksanakan pada malam itu.
Sensation 2014 ditutup oleh
Sensation International Forum di
Djarum Hall, Pertamina Tower tanggal
4 Oktober bertepatan dengan Hari
Idul Adha bagi sebagian umat Islam.
Tema forum kali ini ialah The Role of a
New Government to The Development
of Islamic Economics. Acara ini dihadiri
oleh tokoh dari berbagai macam
latar pekerjaan dan perspektif yang

berbeda dalam Ekonomi Islam. Ahmad
Soekro Tratmono, S.E., M.Si (Direktur
Pengawasan Bank Syariah) dan Dr. R.
Edi Prio Pambudi (Assistant Deputy
Minister for Coordinating Fiscal and
Monetary) hadir sebagai keynote
speaker. Ir. Adiwarman Azwar Karim,
SE, MBA., MAEP (Vice-Chairman of
Majelis Ulama Indonesia), Norhanim
Mat Sari, MBA., M.Sc. (Lecturer in
Professional Studies Department for
Masters in Islamic Finance Practice),
dan Farouk Abdullah Alwyni, S.E.,
M.A., MBA., ACSI (Islamic Finance News
(IFN) Correspondent Board,Kuala
Lumpur, Malaysia) sebagai pembicara.
Sedangkan Muhammad Edhie
Purnawan, Ph.D. (Wakil Dekan bidang
Riset, Pengabdian Masyarakat,
Alumni, dan Kolaborasi) hadir sebagai
moderator.
Salim Fauzan Nul Ihsan selaku
ketua panitia menyampaikan Idul
Adha kali ini terasa sangat spesial
karena tidak sekadar dirayakan dengan
Solat Ied dan penyembelihan hewan
kurban saja, melainkan diisi oleh
diskusi tentang Ekonomi Islam. Meski
demikian, dakwah masih akan terus
berjalan. Sampai jumpa di Sensation
tahun depan! [Azka]

EB News NOVEMBER 2014 8

WHAT’S UP FEB MAGISTER MANAJEMEN

Kunjungan Mitra Manca Negara:

University of New South Wales (UNSW)

S

alah satu mitra mancanegara
kembali mengunjungi Program
Magister Manajemen Fakultas
Ekonomika dan Bisnis Universitas
Gadjah Mada (MM FEB UGM) pada
hari Rabu (24/09) lalu. Kunjungan
University of New South Wales (UNSW)
kali ini diwakilkan oleh Deputy Director
International Office – Indonesian Affairs,
Dr. Kirrilee Hughes, serta Project
Manager, Joe Illingworth.

informasi terkait program dual
degree kepada mahasiswa kelas
internasional angkatan 63 di ruang
pertemuan MM FEB UGM. Didampingi
M. Akhdy Prihantono, Kepala Bagian
Office of International Affairs, Panca
Mulyaningrum, Kepala Bagian
Admisi, dan Diana Kestanti, Kepala
Bagian Akademik, Joe serta Kirrilee
mempresentasikan seluk beluk kondisi
kampus serta perkuliahan di UNSW.

Dalam kesempatan kunjungan
ini, perwakilan UNSW memberikan

Presentasi dimulai dengan
pemutaran video profil kampus UNSW

yang terletak di Sydney, Australia.
Informasi yang menjadi perhatian
utama bagi mahasiswa yang akan
menempuh program dual degree adalah
sistem perkuliahan dan akomodasi di
universitas yang akan dituju. Dalam
sesi informasi dual degree ini, para
mahasiswa yang hadir memanfaatkan
kesempatan ini untuk bertanya dan
mengupas tuntas terkait program
tersebut kepada dua orang staf dari
UNSW yang tengah hadir di MM FEB
UGM. [Nela]

Kunjungan Institut Teknologi
Sepuluh November (ITS) Surabaya

S

etelah menyambut mitra
mancanegara, Magister Manajemen
Fakultas Ekonomika dan Bisnis
Universitas Gadjah Mada (MM FEB
UGM) kembali menyambut kedatangan
mitra. Bedanya, kunjungan yang
dilaksanakan hari Kamis (23/10) ini
dilakukan oleh mitra nasional yaitu
Magister Manajemen Teknologi (MMT)
ITS Surabaya. Sebanyak 10 orang
delegasi yang dipimpin oleh Sekretaris
Program Studi Bidang Administrasi
dan Keuangan, Dr. Sony Sunaryo, M.Si
dari MMT ITS melaksanakan program
kunjungan di ruang meeting kampus

9

EB News NOVEMBER 2014

MM FEB UGM. Disambut oleh Wakil
Ketua Program MM FEB UGM Bidang
Akademik dan Kemahasiswaan,
Kusdhianto Setiawan, Ph.D serta
beberapa Kepala Bagian MM FEB
UGM Yogyakarta, kegiatan kunjungan
berlangsung dengan hangat.
Dalam forum yang berlangsung,
Ketua delegasi MM ITS menjelaskan
bahwa tujuan mereka berkunjung ke
MM FEB UGM adalah melakukan studi
banding guna memperoleh masukan
tentang hal-hal yang berkaitan
dengan tata kelola kegiatan akademik,
keuangan dan tata kelola organisasi.

Selain sebagai program MM yang
pertama di Indonesia, akreditasi
AACSB yang telah berhasil diperoleh
MM FEB UGM juga menjadi salah satu
alasan mengapa MM FEB UGM dipilih
sebagai tujuan studi banding mereka.
Disampaikan oleh ketua delegasi MM
ITS, mereka yakin bahwa mereka
tidak salah alamat. Di samping itu,
mereka juga menaruh harapan yang
tinggi bahwa hasil studi banding ini
dapat diterapkan dan secara signifikan
mampu meningkatkan kualitas
pelayanan di MM ITS. [Nela]

MAGISTER MANAJEMEN WHAT’S UP FEB

Marketing Club:

Belajar dari Cokelat Monggo

M

arketing Club MM Fakultas
Ekonomika dan Bisnis UGM
kembali menggelar acara
sharing session pada Kamis (23/10)
lalu. Kegiatan rutin ini dihadari lebih
dari 70 mahasiwa. Kali ini, para
mahasiswa berkesempatan secara
langsung untuk menyimak pengalaman
Thierry Deoturnay dalam merintis
bisnis Coklat Monggo. Kegiatan yang
berlangsung di ruang faculty meeting
ini diisi dilaksanakan selama dua jam.
Dimulai pukul 14.00, acara sharing
session dibuka dengan sambutan
oleh Kusdhianto Setiawan, Ph.D.,
Wakil Direktur Bidang Akademik,
Kemahasiswaan, Sistem lnformasi dan
Executive Development Program.
Sharing session dimulai oleh
Thierry dengan perkenalan singkat.
Pria asli Belgia ini ternyata cukup
fasih berbahasa Indonesia meskipun
dirinya tidak mengambil pendidikan
formal untuk belajar bahasa Indonesia.
Ia menceritakan bahwa ia datang ke
Indonesia sebagai seorang turis pada
tahun 2001. Kemudian di Yogyakarta
Thierry menemukan sebuah hal yang
tidak ditemukannya di kota lain dan
bahkan di negara lain di Asia, yaitu
keramahan orang-orangnya. Hal ini
membuatnya betah untuk tinggal lebih
lama di bumi ibu pertiwi.
Setelah beberapa tahun berada
di Indonesia, sebagai seorang coklat
mania, ia mulai merasakan kerinduan
menikmati coklat. Menurutnya, di
Indonesia ia tidak bisa menemukan
coklat yang bercitarasa seperti di Belgia.
Atas inisiatif pribadinya, kemudian

Thierry mulai mencoba membuat
racikan coklat. Setelah rekan-rekan
dekatnya banyak yang mencicipi coklat
buatannya, mereka justru mendorong
Thierry untuk memproduksi lebih
banyak dan dikomersilkan. Kemudian
atas saran kawan-kawannya, ia pun
pulai membuat produk coklat untuk
dipasarkan.
Awal pertama coklat produksinya
dipasarkan di sekitar UGM saat hari
Minggu, yang lebih dikenal dengan
Sunday Morning (Sunmor). Agar lebih
mudah dikenali Thierry menggunakan
motor vespa warna pink yang mencolok
saat memasarkan produknya. Dengan
pembawaannya yang kocak dia bahkan
menyebut dirinya bule gila yang
berjualan coklat. Lama kelamaan coklat
Thierry semakin dikenal dan semakin
banyak dicari oleh pelanggannya.
Tahun 2005 adalah awal mula Thierry
mengembangkan usaha dengan
mendirikan PT Anugrah Mulia Indobel.
Bersama rekannya, Edward, Thierry
memproduksi coklat yang diberi merk
“Cocomania”, yang kini telah berganti
menjadi “Monggo”.
Seiring berjalannya waktu akhirnya
Thierry membuka toko di daerah
Prawirotaman, Yogyakarta. Namun,
karena kondisi lingkungan yang tidak
kondusif toko ini tidak lama kemudian
ditutup. Pada akhirnya, Thierry
memilih lokasi di Kotagede untuk
mendirikan toko dan tempat produksi
hingga saat ini. Coklat “Monggo” yang
memiliki slogan “The Finest Indonesian
Chocolate” memiliki dua misi,
yakni misi spiritual untuk membagi

kenikmatan mengonsumsi coklat
yang ditujukan untuk orang Indonesia
dan Asia. Sedangkan misi bisnisnya
lainnya adalah membuat racikan
terbaik untuk menciptakan coklat
terbaik. Tidak tanggung-tanggung,
untuk mewujudkan misi ini Thierry
mendatangkan chocolatier (ahli peracik
coklat) langsung dari Belgia.
Meski mengusung misi yang
bertujuan go-international, Thierry
tidak melupakan lingkungan
terdekatnya. Berprinsip C-U-E-G-S (Care,
Unique, Educate, Genuine, dan Share)
coklat ‘Monggo” mencoba memberikan
kualitas yang terbaik dalam pembuatan
produk coklat. Tak hanya itu, “Monggo”
pun mendukung kelestarian lingkungan
dengan menggunakan kertas daur
ulang sebagai pembungkus, selalu
memberi pengetahuan tentang
keuntungan mengonsumsi coklat,
selalu menggunakan bahan coklat
produk Indonesia yang berkualitas
terbaik, dan berbagi dengan
masyarakat sekitar dengan program
CSR (Corporate Social Responsibility)
ala coklat “Monggo”. Program CSR
tersebut diwujudkan dengan kerja
bakti pembersihan lingkungan sekitar,
mengangkat budaya tradisional, serta
mendayagunakan SDM dari lingkungan
sekitar sebagai karyawan. Berkat
berbagai usaha yang telah dilakukan
di coklat “Monggo”, bisnis ini pun
membuahkan hasil dengan diraihnya
Piagam Industri Bintang 2 dari Badan
POM, dan juga perolehan sertifikat halal
dari MUI. [Nela]

EB News NOVEMBER 2014 10

WHAT’S UP FEB MAGISTER EKONOMIKA PEMBANGUNAN

Kunjungan Universitas
Mitra Jepang

P

ada bulan Oktober 2014,
tercatat ada 2 Universitas
mitra dari Jepang berkunjung
ke Kampus Manajemen Ekonomi
Pembangunan Fakultas Ekonomika
dan Bisnis Universitas Gadjah Mada
(MEP FEB UGM). Kunjungan tersebut
dalam rangka membicarakan proses
penerimaan mahasiswa, membahas
Memorandum of Understanding (MOU)
dan TAA, serta memberikan short lecture
kepada mahasiswa Program Linkage.
Takushoku University dan Internasional
University of Japan (IUJ) merupakan
2 mitra universitas dari 7 universitas
di Jepang untuk program gelar ganda
yang disebut sebagai Linkage Master
Program.
Prof. Koji Fujimoto dan Tomohiro
Kaneko delegasi dari Takushoku
university dalam short lecture-nya

11

EB News NOVEMBER 2014

membahas tentang bagaimana
mempersiapkan penulisan tesis bagi
mahasiswa Program Linkage yang
nantinya akan menlanjutkan ke
Takushoku University. Dari guidance
books yang dibagikan mahasiswa
menjadi tahu lebih banyak tata cara
penulisan tesis sesuai aturan yang
berlaku di universitas Jepang. Hal
senada juga dilakukan oleh Makoto
Kakinaka dari Internasional University
of Japan (IUJ) dengan membagikan
brosur, mahasiswa menjadi lebih
banyak mengetahui dan mengenal IUJ
sebagai salah satu mitra yang nantinya
dapat dipilih oleh mahasiswa.
Program ini terselenggara atas
kerja sama antara Program Studi MEP
FEB UGM dengan Pusbindiklatren
Bappenas melalui Professional Human
Resources Development Project (PHRDP).

Pelaksanaaan PHRPD IV dimulai tahun
2014 ini, dan Program Studi MEP FEB
UGM menerima 16 mahasiswa untuk
Program Linkage dan 25 mahasiswa
untuk Program dalam negeri. Dari
kunjungan awal mitra universitas
Jepang tersebut disambut baik oleh
Pengelola Program, karena mahasiswa
menjadi lebih siap untuk menghadapi
wawancara sebagai salah satu syarat
penerimaan mahasiswa di universitas
mitra pilihannya. Dalam PHRDP IV,
Program Studi MEP FEB UGM menjalin
mitra dengan 7 universitas di Jepang
yaitu International University of Japan
(IUJ), National Graduate Institutes
Policy Studies (GRIPS), Hiroshima
University, Yokohama National
University, Takushoku University, Kobe
University dan Ritsumeikan University.
[Azka]

MAGISTER EKONOMIKA PEMBANGUNAN WHAT’S UP FEB

MEP FEB UGM
Terakreditasi A BAN-PT

K

abar gembira kembali hadir bagi
seluruh keluarga besar Fakultas
Ekonomika dan Bisnis UGM (FEB
UGM). Surat Keputusan dari BANPT dengan nomor: 270/SK/BAN-PT/
Akred/M/VIII/2014 menetapkan bahwa
Program Studi Magister Ekonomika
Pembangunan Fakultas Ekonomika
dan Bisnis Universitas Gadjah Mada
(MEP FEB UGM) mendapatkan nilai
370 dengan peringkat A. Hal tersebut
didasarkan pada Rapat Pleno BANPT tanggal 9 Agustus 2014 yang

memutuskan bahwa Program Studi
MEP FEB UGM memperoleh nilai dan
peringkat akreditasi tanpa melalui
proses Asesmen Lapangan (AL, visit).
Hasil Akreditasi ini merupakan buah
dari kerja keras dan kerja sama seluruh
stakeholders Prodi MEP FEB UGM.
Akreditasi merupakan bentuk mutu
akuntabilitas publik perguruan tinggi
yang harus diperbarui setiap 5 tahun
sekali. Tak terkecuali bagi Program
Studi MEP FEB UGM yang pada 2013
silam mengajukan akreditasi ulang ke

Badan Akreditasi Nasional Perguruan
Tinggi (BAN-PT) untuk memperoleh
akreditasi perguruan tinggi. Semoga
hasil akreditasi yan ini akan semakin
meningkatkan mutu dan layanan
Program Studi MEP ke depan untuk
mencapai visi “menjadi program
studi Pascasarjana terkemuka di Asia
Tenggara yang memberikan kontribusi
intelektual melalui kegiatan pengajaran
dan penelitian di bidang ekonomika
terapan untuk kesejahteraan
masyarakat”. [Azka]

Learning Leadership Program

L

earning Leadership Program adalah
program ekstrakurikuler yang wajib
diikuti oleh seluruh mahasiswa Prodi
MEP. Kegiatan tersebut diselenggarakan
di Ruang Seminar MEP FEB UGM dan
diikuti oleh mahasiswa baru angkatan
52, Sabtu (11/10). Sementara itu, Drs.
Sumaryono, M.Si dan Moh.Hidayat,
S.Psi dosen dari Fakultas Psikologi
UGM, sebagai instruktur kegiatan
ini didampingi oleh 2 orang asisten.
Tujuan utama diselenggarakan
program ini ialah memberikan
soft skills pada mahasiswa dengan
melatih dan mengasah kemampuan
mahasiswa dalam bekerjasama dan
bekerja untuk mencapai tujuan. Hal ini
dipandang perlu oleh Prodi MEP untuk
mempersiapkan agar lulusan MEP

mampu bersaing di era globalisasi yang
sangat keras dan tajam.
Berbagai macam permainan
dibawakan secara kelompok untuk
meningkatkan proses komunikasi
dalam pemecahan masalah, kreativitas,
aspek saling memahami, saling percaya,
menghargai perbedaan, sehingga
proses pengambilan keputusan
bisa tepat, cepat dan efisien. Hal ini
sesuai dengan asal dan latar belakang
mahasiswa Prodi MEP yang sebagaian
besar mahasiswa adalah tugas belajar
dari berbagai instansi di Indonesia.
Kegiatan yang dikemas dalam bentuk
fun games ini memudahkan peserta
dalam memahami dan mencerna
materi Learning Leadership.

Lebih lanjut, melalui sebuah
permainan yang menyenangkan
peserta pun antusias mengikuti
seluruh rangkaian acara hingga
selesai. Kegiatan ini memberi suasana
berbeda, yang biasanya berinteraksi
dengan rutinitas sebagai mahasiswa
yaitu kegiatan perkuliahan, mahasiswa
lebih mencair dan membaur dalam
suasana keakraban dan kebersamaan.
Di akhir permainan fasilitator selalu
memberikan ulasan positif dan
negatifnya hasil akhir prestasi kerja
yang dipermainkan, dan tentu saja
mahasiswa dapat mengambil manfaat
dan nilai tambah agar mampu menjadi
“leader” di masa mendatang. [Azka]

EB News NOVEMBER 2014 12

WHAT’S UP FEB MAGISTER AKUNTANSI

Kuliah Umum “New Zealand Experience”

D

alam Kuliah Umum yang bertajuk
“New Zealand Experience”, Prof.
John Davies selaku Kepala Studi
Manajemen Victoria University of
Wellington menyampaikan beberapa
hal terkait pengalaman hidup di New
Zealand. Pria yang juga menjabat
sebagai Presiden Western Decision
Sciences Institute (WDSI) dan Wakil

Presiden Operational Research Society
of New Zealand (ORSNZ) didampingi
oleh Dr. Rusdi Akbar, M.Sc., sebagai
moderator juga menginformasikan
banyak hal tentang pendidikan,
kondisi dan situasi sosial ekonomi dan
budaya di kota Wellington khususnya
lingkungan pendidikan di universitas
yang terakreditasi oleh Association to

Advance Collegiate Schools of Business
(AACSB), European Quality Improvement
System (EQUIS), Association of MBAs
dan Tourism Education Quality-TedQual.
Prof. Davies juga menyampaikan bahwa
sudah banyak mahasiswa asing di
seluruh dunia yang memilih Victoria
University sebagai tempat untuk
melanjutkan pendidikan pascasarjana.

Kuliah Umum “Good Governance”
bersama Edimon Ginting

P

ada hari Selasa (2/9) Program
MAKSI FEB UGM mengadakan
kuliah umum bersama Edimon Ginting,
Ph.D selaku Deputy Country Directory
Asian Development Bank (ADB).
Diselenggarakan di Ruang Auditorium
Djarum Foundation Pertamina Tower
FEB UGM, kuliah umum ini di hadiri oleh

13

EB News NOVEMBER 2014

60 mahasiswa kelas khusus STAR BPKP
mulai dari batch 1 sampai dengan batch
3 Program MAKSI FEB UGM.
Edimon didampingi oleh Drs.
Ahmad Jamli, M.A. sebagai moderator
menyampaikan tema Does Indonesia
have a ‘Competitivess Problem’? dan
beberapa hal terkait program beasiswa

STAR BPKP yang didanai oleh ADB.
Kuliah umum yang berlangsung selama
2 jam ini sangat dimanfaatkan oleh
mahasiswa STAR BPKP untuk mencari
informasi dengan bertanya jawab
dengan narasumber. Acara ini di akhiri
dengan foto bersama.

MAGISTER AKUNTANSI WHAT’S UP FEB

Pelepasan Wisuda Mahasiswa
MAKSI FEB UGM Periode 14 Agustus 2014

P

rogram Magister Akuntansi Fakultas
Ekonomika dan Bisnis Universitas
Gadjah Mada (MAKSI FEB UGM) pada
tanggal 14 Agustus 2014 melakukan
Pelepasan Wisuda Mahasiswa
Pascasarjana Perode IV TA 2013/2014
di Ruang Sidang Kertanegara FEB
UGM. Pelepasan yang di hadiri oleh
Wakil Dekan Bidang Perencanaan
dan Sistem Informasi FEB UGM, Eko
Suwardi, M.Sc., Ph.D., Pengelola
Program MAKSI, Prof. Gudono, MBA,
Ph.D., CMA., Drs. Ahmad Jamli, M.A. dan
Dr. Rusdi Akbar, M.Sc., Dosen Program

MAKSI, Karyawan Program MAKSI dan
13 Mahasiswa MAKSI yang di wisuda
beserta pendamping di mulai pukul
11:00—13:00 WIB.
Pada periode kali ini, 13 mahasiswa
yang diluluskan dari Program MAKSI
FEB UGM terdiri dari 7 pria dan 6 wanita
dengan 1 orang berpredikat Cum laude
atas nama Wahyu Setyaji Ismaryanto
dengan IPK 3,89, 6 mahasiswa
berpredikat sangat memuaskan dan 6
mahasiswa berpredikat memuaskan.
Eko Suwardi dalam sambutannya

menyampaikan rasa bangganya
terhadap mahasiswa-mahasiswa yang
telah menyelesaikan studi mereka
dengan baik dan tepat waktu. Beliau
juga menyampaikan bahwa sekarang,
FEB UGM ini telah terakreditasi
Association to Advance Collegiate
Schools of Business (AACSB) sehingga
beliau mengharapkan para alumni
dapat menjaga nama baik Program
Maksi FEB UGM dan tetap menjaga
hubungan baik dengan almamaternya.
Pelepasan wisuda ini diakhiri dengan
foto dan makan siang bersama.

Orientasi Mahasiswa Baru
MAKSI FEB UGM Periode Agustus 2014

P

ada semester gasal tahun ajaran
2014/2015 ini, Program Magister
Akuntansi (MAKSI) FEB UGM telah
menerima 167 mahasiswa pascasarjana
untuk periode perkuliahan Agustus
2014. Terbagi menjadi 3 kelas, 42 orang
di terima di kelas Matrikulasi Reguler,
52 orang diterima di Matrikulasi kelas
khusus Beasiswa STAR BPKP, dan 73
orang di kelas Raguler Semester 2 dari
mahasiswa Joint Program. Sebelum
perkuliahan dimulai tanggal 25

Agustus 2014, semua mahasiswa yang
diterima wajib menghadiri Orientasi
Mahasiswa Baru yang diselenggarakan
pada tanggal 22 Agustus 2014 di Ruang
Auditorium Filsafat, Fakultas Filsafat
UGM.
Orientasi mahasiswa baru ini
berlangsung dari jam 09.00 sampai
dengan jam 15.30. Pada sesi pertama
diisi dengan perkenalan dengan para
staf yang nantinya akan membantu
mahasiswa selama proses perkuliahan.

Sesi kedua diisi oleh pengelola program
tentang tata tertib yang ada di MAKSI
dan pada sesi ketiga mahasiswa baru
mendapatkan kuliah umum dari Prof.
Dr. Suwardjono, M.Sc tentang proses
pembelajaran dengan metode Student
Centered Learning (SCL). Kegiatan
orientasi diakhiri dengan tour de
campus FEB untuk mengenal lebih
dekat fasilitas-fasilitas apa saja yang
bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa.

EB News NOVEMBER 2014 14

WHAT’S UP FEB MAGISTER SAINS DAN DOKTOR

Dies Natalis ke-34
Program Magister Sains dan
Doktor FEB UGM

S

ebagai wujud rasa syukur Program
MSi-Doktor (MD) FEB UGM
memperingati dies natalis yang
ke-34 pada tanggal 29 September 2014
dengan acara sederhana berupa potong
tumpeng oleh Pengelola Program dan
Dekan FEB UGM. Potongan tumpeng
kemudian diberikan kepada dosen
paling senior yang hadir dalam acara
ini, yaitu Dr. Wahyu Widayat, M.Ec. dan
kepada karyawan administrasi paling
senior, yaitu Siswadi. Acara dihadiri
oleh para dosen pengajar Program
MSi-Doktor, perwakilan mahasiswa, dan
seluruh karyawan. Di acara dies natalis
ini diperkenalkan logo dan nickname
baru Program MSi-Doktor FEB UGM,
yaitu MD yang merupakan singkatan
dari Magister Sains dan Doktor
karena selama ini mahasiswa, dosen,

15

EB News NOVEMBER 2014

maupun masyarakat lebih mengenal
dengan sebutan MSi saja, padahal
kepengelolaan Program ini adalah juga
menjadi satu kesatuan dengan Program
Doktor.
Dalam sambutannya, Ketua
Program, Prof. Dr. Bambang Riyanto
LS., MBA menyampaikan terima kasih
kepada segenap civitas academica
yang selama ini ikut terlibat dalam
mewujudkan misi-visi yang dicitacitakan Program. Beliau juga
menyampaikan bahwa perjalanan
Program MD yang mencapai usia 34
tahun ini tidak terlepas dari perjuangan
yang dirintis dari pengelola-pengelola
Program terdahulu dan peran seluruh
staf. Perjuangan yang berkelanjutan
ini menghasilkan proses kegiatan
belajar-mengajar, kegiatan pendukung

suasana akademik, kerjasama dengan
institusi lain, serta penjalinan jejaring
dengan alumni yang berjalan dengan
baik. Pengelola tinggal menjalankan
strategic plan, menjaga continues
quality improvement dengan tinggal
memencet tombol-tombol yang selalu
sudah dijaga sesuai aturan-aturan
dan selalu dipelihara dengan baik.
Dekan FEB UGM, Prof Wihana Kirana
Jaya menyampaikan harapannya
agar Program MD semakin dapat
mewujudkan secara nyata ciri
khasnya sebagai institusi pendidikan
pascasarjana yang mengedepankan
research dan alumninya semakin
dikenal mempunyai metodologi yang
state-of- the-art dan teori yang berada
di garis depan.

MAGISTER SAINS DAN DOKTOR WHAT’S UP FEB

Wisuda, Syukuran, dan Pelepasan Wisuda
Program Magister Sains dan Doktor
Periode Agustus 2014

P

rogram Magister Sains dan Doktor
menyelenggarakan syukuran dan
pelepasan wisuda di Ruang Auditorium
BRI Program Magister Sains dan Doktor
(MD) yang dihadiri oleh wisudawan
dan para pendamping (14/08/14). Prof.
Bambang Riyanto LS., M.B.A.,Ph.D
selaku Ketua Program MD dalam pidato
pelepasan menyampaikan bahwa pada
periode ini Program Doktor meluluskan
1 wisudawan dari Program Studi (PS)
Akuntansi dan Program MSi meluluskan
23 wisudawan (7 dari PS Akuntansi,10
dari PS Ilmu Ekonomi, dan 6 dari PS
Manajemen). Dari 10 wisudawan PS

Ilmu Ekonomi, 8 diantaranya adalah
mahasiswa Double Degree kelas
kerjasama dengan BKF-Kementerian
Keuangan RI yang telah menyelesaikan
tahun kedua di Tulane University.
Lulusan terbaik pada periode
kali ini adalah Dian Juliani dari PS
Akuntansi dengan dosen pembimbing
Dr. Mahfud Sholihin, M.Acc dengan
IPK 3.90 serta masa studi 1 tahun
9 bulan dan Permata Dian Pratiwi
dari PS Manajemen dengan dosen
pembimbing Dr. Agus Setiawan, M.Soc.
Sc dengan IPK 3.82 serta masa studi 1

tahun 9 bulan. Dr. BM. Purwanto, M.B.A
selaku Wakil Dekan Bidang Akademik
dan Kemahasiswaan memberikan
sambutan dan menyerahkan transkrip
akademik bagi wisudawan yang
berpredikat the best graduates dan
cumlaude. Dalam sambutannya,
Dr. BM Purwanto mendorong para
lulusan S2 untuk melanjutkan S3 di
universitas bereputasi di luar negeri
dan ketika berhasil memperoleh gelar
doktor dengan gemilang, pintu untuk
bergabung menjadi staf pengajar FEB
UGM terbuka lebar.

Good Governance and Combined Assurance

P

ada hari Kamis (11/9) bertempat
di Sheraton Mustika Hotel Otoritas
Jasa Keuangan (OJK) bekerjasama
dengan Magister Sains dan Doktor (MD)
FEB UGM mengadakan Focus Group
Discussion (FGD) dengan tema good
governance and combined assurance.
Acara di buka oleh Anies Baridwan.
Paparan tema good governance dari
UGM dibawakan oleh Dr. Sumiyana,
M.Si dan Dr. Irwan Trinugroho, M.Si,
sedangkan sesi 2 dengan tema
combined assurance disampaikan oleh
Prof. Dr. Eduardus Tandelilin, M.B.A
dan Dr. Mamduh M. Hanafi, M.B.A. OJK
menyelenggarakan acara ini dengan
tujuan mendapatkan masukan dari
akademisi terkait implementasi tema
diatas.
Sesi pertama membahas
implementasi good governance di OJK
dari sudut pandang akademisi dimana
tim peneliti dari UGM telah berhasil
mengembangkan alat ukur tata kelola
perusahaan yang terdiri dari empat
dimensi dengan 497 item pertanyaan.

Dalam pemaparannya Dr. Sumiyana,
M.Si menjelaskan bahwa kontribusi dari
pengembangan alat ukur tata kelola
ini adalah menghasilkan informasi
penuh bagi sistem perekonomian
Negara. Informasinya berupa hasil
pemeringkatan tata kelola korporasi
seluruh perusahaan BUMD/N dan
selanjutnya dapat berlanjut untuk
perusahaan-perusahaan swasta,
tidak mahalnya (not costly) bagi
perusahaan-perusahaan di dalam
melakukan self assessment tata
kelola korporasinya, dan mampu
membantu negara Indonesia dalam
melengkapi kewenangan negara untuk
mengendalikan tata kelola korporasi
perusahaan agar tidak ketinggalan
dari negara-negara lain. Tidak hanya
berhenti sampai di pemeringkatan
saja, tetapi UGM juga menindaklanjuti
sampai pada pengauditan dari indikator
tatakelola tersebut.
Sesi kedua membahas tentang
combined assurance. Combined
Assurance didefinisikan sebagai proses

yang dilaksanakan oleh seluruh
fungsi asuransi secara sinergis,
melalui pendekatan yang sistematis
dan menyeluruh (combined) untuk
meningkatkan efektivitas dan efisiensi
pelaksanaan proses governance,
manajemen risiko, kontrol internal,
pengendalian kualitas, dan kepatuhan
(compliance) dalam rangka memastikan
pencapaian tujuan organisasi (OJK,
2014). Prof. Dr. Eduardus Tandelilin,
M.B.A menyampaikan 9 kunci fokus
area combined assurance yaitu
Leadership, People Management, Policy
& Strategy, Resources, Management
Processes, People Satisfaction, Customer
Satisfaction, Impact on Society, dan
Business Results. OJK berharap dalam
FGD ini dapat memberikan masukan
yang sesuai untuk OJK sebagai
regulator dan pengawas industri jasa
keuangan. Dr. Mamduh M. Hanafi, M.B.A
memberikan masukan apakah nanti
combined assurance ini akan dijadikan
standar tersendiri atau dibawah standar
yang sudah ada seperti yang telah
dikeluarkan oleh COSO.
EB News NOVEMBER 2014 16

WHAT’S UP FEB MAGISTER SAINS DAN DOKTOR

Mewaspadai Dinamika Utang Luar
Negeri Korporasi Indonesia

P

rogram Magister Sains dan Doktor
(MD) FEB UGM pada Jumat, 10
Oktober 2014 bekerjasama dengan
Bank Indonesia mengadakan kuliah
umum dengan tema “Mewaspadai
Dinamika Utang Luar Negeri Korporasi
Indonesia” di Auditorium BRI gedung
MD dengan pembicara Dr. Hendar
selaku Deputi Gubernur Bank Indonesia.
Acara dibuka oleh Prof. Wihana Kirana
Jaya, M.Soc.Sc ., Ph.D., dekan FEB UGM
dan dihadiri oleh mahasiswa, dosen,
dan perwakilan Bank Indonesia.
Dr. Hendar menyampaikan bahwa
utang luar negeri meskipun sangat
dibutuhkan untuk pembiayaan
ekonomi, risiko peningkatan utang
luar negeri perlu diwaspadai. Utang
luar negeri terjadi karena adanya
demand yang tinggi seperti kebutuhan
untuk investasi, modal kerja, dan
trade financing. Korporasi sering
menggunakan utang luar negeri karena
berbagai alasan seperti ketersediaan
dana luar negeri, biaya lebih murah,
dan karena keterbatasan dana jangka
pendek dalam negeri. Utang luar
negeri ini akan meningkatkan berbagai
risiko yaitu risiko global dan risiko
domestik. Risiko global yang pertama

17

EB News NOVEMBER 2014

terkait dengan risiko capacity to
repay meningkat akibat perlambatan
ekonomi di emerging market dan masih
rendahnya harga komoditas. Risiko
yang kedua terkait dengan refinancing
dan beban pembayaran utang luar
negeri meningkat akibat ketatnya
likuiditas global. Risiko domestik secara
makro seperti meningkatnya external
vulnerability (DSR, gross external
financing, debt/GDP, dan risk premium).
Secara mikro terkait dengan risiko
currency mismatch, overleverage, dan FX
liqudity risks.
Indonesia menjadi salah satu
negara yang termasuk dalam kelompok
fragile five yaitu negara-negara yang
memiliki kerentanan tinggi dalam
menghadapi perubahan kebijakan
moneter the FED (Tapering QE). Ciri-ciri
negara yang masuk fragile five yaitu:
current account sedikit atau defisit,
cadangan devisa tidak besar, inflasi
tinggi dan budget fiskalnya sedikit.
Utang luar negeri di emerging market
cenderung meningkat dan korporasi
memiliki porsi terbesar dari total utang
luar negeri. Bank indonesia sebagai
pengawas makroprudential membuat
kebijakan utang luar negeri korporasi

dengan tujuan mengendalikan
utang luar negeri korporasi agar
beban pembayaran utang luar negeri
masih berada pada tingkat yang
tidak membahayakan stabilitas
makroekonomi, mendorong kehatihatian korporasi dalam melakukan
utang luar negeri sehingga berbagai
risiko dapat termitigasi dan secara
agregat tidak meningkatkan kerentanan
ekonomi dan agar utang luar negeri
korporasi dapat diarahkan pada
investasi dan kegiatan produktif sesuai
dengan prioritas ekonomi (contohnya
ketersediaan infrastruktur dan energi).
Arah kebijakan pengaturan utang
luar negeri korporasi seperti dipaparkan
oleh Dr. Hendar yaitu menekankan pada
aspek prudential bukan pembatasan.
Hal itu akan mendorong korporasi
untuk mengelola default risk melalui
penyediaan likuiditas valas yang
memadai dan mendorong korporasi
untuk mengelola currency risk terutama
melalui kebijakan hedging currency,
dan mendorong penggunaan utang
luar negeri untuk pembiayaan kegiatan
produktif dan menghasilkan devisa.

PROGRAM PROFESI AKUNTANSI WHAT’S UP FEB

Wisuda Periode XI PPAk FEB UGM

P

endidikan Profesi Akuntansi
(PPAk) FEB UGM kembali
menyelenggarakan Wisuda Periode
XI untuk Angkatan 26 dan 27 pada
tanggal 20 September 2014. Prosesi
wisuda pada periode ini diikuti oleh
292 wisudawan. Prosesi berlangsung
di Gedung Grha Sabha Pramana UGM.
Perwakilan dari rektorat yang hadir

pada acara ini adalah Dr. Agr. Sri Peni
Wastutiningsih yang memberikan
sambutan bahwa penting bagi
alumni pendidikan profesi akuntansi
untuk terus belajar, selalu mengupdate pengetahuan yang dimiliki
serta menjunjung tinggi nama baik
almamater. Alumni juga diharapkan
dapat menjadi “agent of change” yang

pada akhirnya dapat membawa negeri
ini menjadi lebih baik. Dalam wisuda
kali ini, bertindak selaku pembicara
adalah Prof. Dr.Slamet Sugiri, M.B.A
yang menyampaikan orasi bahwa
profesi akuntan merupakan profesi
kepercayaan masyarakat yang terus
akan berkembang dan menjadi profesi
yang menjanjikan di masa mendatang.

Pelatihan Softskill
Bagi Wisudawan Angkatan 26 dan 27

P

endidikan merupakan kegiatan yang
sangat penting dalam kemajuan
manusia. Kegiatan ini pada dasarnya
melibatkan beberapa pihak diantaranya
untuk perguruan tingggi, yakni pendidik
(dosen) dan peserta didik (mahasiswa).
Keterlibatan pihak tersebut merupakan
keterlibatan hubungan antar
manusia (human interaction) yang
mempunyai potensi masing-masing
sebagai aset nasional sekaligus
modal dasar pembangunan bangsa.
Potensi yang ada tersebut harus dapat
dikembangkan serta dipupuk secara
efektif melalui strategi pendidikan
dan pembelajaran yang terarah serta
terpadu. Strategi tersebut juga perlu
dikelola secara serasi dan seimbang.
Oleh karena itu, strategi pendidikan

perlu secara khusus memperhatikan
pengembangan potensi intelektual
maupun bakat khusus yang bersifat
keterampilan termasuk soft skills.
Mengingat pentingnya hal tersebut,
Pendidikan Profesi Akuntansi Fakultas
Ekonomika dan Bisnis Universitas
Gadjah Mada (PPAk FEB UGM)
menyelenggarakan Pelatihan Softskill
bagi Wisudawan angkatan 26 dan 27.
Tema pelatihan tersebut adalah “Berani
Lulus Berani Kerja”. Pelatihan softskill
untuk wisudawan ini merupakan
kegiatan yang pertama kali dilaksanan
oleh PPAk UGM. Hal ini tentunya
merupakan komitmen PPAk FEB UGM
untuk terus memberikan yang terbaik
bagi para lulusannya. Pelatihan softskill
dilaksanakan di Gedung Magister Sains

dan Doktor Fakultas Ekonomika dan
Bisnis UGM dan dihadiri kurang lebih
120 orang calon wisudawan. Sebagai
narasumber pada pelatihan ini adalah
Lusy Lakshita, pakar komunikasi.
Ia menekankan pentingnya etika
berbicara, bersikap, berbusana, dan
tips –tips menghadapi interview. Ia
menyampaikan bahwa kebanyakan
para pencari kerja meremehkan test
interview padahal aspek-aspek yang
tidak terukur itu justru menjadi penentu
diterima atau tidaknya seseorang
dalam melamar pekerjaan. Acara
pelatihan softskill tersebut berlangsung
lancar dan setelah acara selesai calon
wisudawan langsung melakukan gladi
resik wisuda untuk acara wisuda di hari
berikutnya.

Test Validasi Kompetensi

P

ada hari Sabtu (6/10) Pendidikan
Profesi Akuntansi Fakultas
Ekonomika dan Bisnis Universitas
Gadjah Mada (PPAk FEB UGM) kembali
menyelenggarakan Ujian Saringan
Masuk atau Test Validasi Kompetensi
(TVK) bagi calon mahasiswa baru.
Subyek yang diujikan adalah Akuntansi
Keuangan, Akuntansi Manajemen,
Perpajakan dan Sistem Informasi
Akuntansi. Materi yang diujikan

tersebut merupakan kurikulum baru
yang berbeda dengan sebelumnya.
TVK periode ini yang dilaksanakan di
Ruang S 305 dan B 319 Gedung FEB UGM
dan diikuti oleh 35 orang peserta dari
berbagai perguruan tinggi negeri dan
swasta di kawasan Yogyakarta dan kota
lainnya. Tujuan penyelenggaraan TVK
adalah mendapatkan input mahasiswa
yang kompetensinya memenuhi standar
minimal yang telah ditetapkan. Hasil

ujian ini akan menentukan apakah
pendaftar/calon mahasiswa langsung
diterima tanpa matrikulasi, harus
menempuh matrikulasi, atau tidak lulus
ujian masuk sehingga harus mengulang.
Mahasiswa yang lulus pada periode
ini akan memulai kuliah reguler pada
bulan Februari 2015.

EB News NOVEMBER 2014 18

SPECIAL REPORT

SPECIAL REPORT

DIES NATALIS FEB UGM KE-59
19

EB News NOVEMBER 2014

SPECIAL REPORT

Pidato Dekan dan Orasi Ilmiah
Dies Natalis FEB UGM ke-59

M

enjadi Fakultas Ekonomika
dan Bisnis terbaik di Indonesia
dan sangat dihormati di
Asia Tenggara merupakan visi yang
terus dipegang oleh FEB UGM. Pada
Perayaan Dies Natalis yang ke-59 kali
ini, dilaporkan berbagai perkembangan
yang telah dialami fakultas dalam
Pidato Dekan dan Orasi Ilmiah
(19/09/14). Segala pencapaian yang
telah diraih perlu diimbangi dengan
penentuan langkah selanjutnya guna
mencapai visi yang dicanangkan.
Tema “Inovasi, Interaksi, dan
Inspirasi” dipilih guna memberikan
renungan serta semangat kepada
seluruh civitas academica dalam
berinovasi untuk mencapai visi di
tengah perubahan dan tantangan
baru. Status UGM kembali diubah,
per September 2014, UGM berbentuk
Perguruan Tinggi Negeri badan
hukum (PTN-bh). Perubahan ini
akan membawa perubahan dalam
pengelolaan fakultas di masa depan.
Tahun ini, FEB UGM juga
semakin mendapat pengakuan
dari dunia internasional. Diraihnya
Accreditation to Advance Collegiate
Schools of Business (AACSB) pada 12
Mei 2014 lalu menandakan bahwa
FEB UGM diakui sebagai salah satu
sekolah bisnis di dunia. Hal ini akan
menandakan semakin lebarnya pintu
internasionalisasi yang akan terjadi.
Selain itu, pada tahun ini
International Undergraduate
Program (IUP) semakin menunjukkan
perkembangan yang positif. Hal
tersebut terbukti dari peningkatan
jumlah pendaftar, yakni meningkat
dari 396 orang menjadi 529 orang.
Jumlah mahasiswa IUP yang mengikuti
perkuliahan juga tercatat paling
besar apabila dibandingkan dengan
tahun-tahun sebelumnya. Tidak hanya
kuantitas, terjadi pula peningkatan
kualitas. Skor rata-rata Undergraduate
Admission Test (UAT) meningkat pada
tahun ini menjadi 751 sedangkan pada
tahun lalu rata-ratanya adalah 694.
Selain peningkatan kualitas

pendidikan melalui peningkatan
jumlah pengajar dan perbaikan
fasilitas, FEB UGM juga semakin giat
untuk memberikan sumbangan dalam
penelitian. Pada tahun ini terdapat 30
penelitian yang dilakukan oleh P2EB.
Selain itu, terdapat pula insentif yang
lebih tinggi bagi dosen dan mahasiswa
untuk melakukan penelitian dan
menerbitkan karya ilmiahnya.
Pada tahun ini, FEB UGM juga
kembali membuka dua corner baru
di Gedung Pertamina Tower, yakni
dashboard perbankan kerjasama
dengan Bank BCA dan Dashboard for
Excellence Quality and Productivity
Improvement (DEQPI). FEB juga
melakukan pembangunan dan renovasi
rumah jabatan di Bulaksumur G11
yang selanjutnya diperuntukkan untuk
tamu fakultas, garasi mobil dinas,
serta sebagai tempat menyimpan dan
berlatih gamelan.
Mahasiswa juga masih terus
menorehkan prestasi. Pada tahun ini
tercatat 18 mahasiswa yang berhasil
menorehkan catatan biru dalam
kancah kompetisi, baik dalam skala
internasional maupun nasional. Hal
ini menunjukkan bahwa proses belajar
dan mengajar yang terjadi di FEB UGM
mampu memberikan buah yang manis.
Sementara itu, dalam Orasi Ilmiah
yang berjudul “Memahami Aspek
Keperilakuan dalam Penerapan Teoriteori Keuangan”, Prof. Dr. Marwan
Asri, M.B.A. menyampaikan hasil
penelitiannya mengenai keuangan
keperilakuan dalam interaksi di pasar
keuangan. Dalam praktik keuangan
yang sesungguhnya, kerap ditemui
bahwa teori-teori yang diajarkan
selama di bangku perkuliahan menjadi
tidak relevan. Hal tersebut terjadi
karena asumsi yang digunakan dalam
teori tidak berlaku sepenuhnya dalam
dunia nyata.
Dalam dunia nyata, para pelaku
dalam pasar keuangan cenderung
menunjukkan perilaku yang irasional.
Hal ini dikarenakan manusia juga
menyimpan emosi selain rasio. Emosi

adalah sesuatu yang kompleks karena
mengandung aspek yang bervariasi.
Aspek-aspek tersebut adalah aspek
kognitif, psikis, sosial dan behavioral.
Pada kesempatan itu, Marwan
membahas lebih jauh mengenai bias
kognitif dalam proses pengambilan
keputusan keuangan. Biar kognitif
terjadi apabila proses berfikir tidak
lagi sepenuhnya didasarkan pada
pertimbangan-pertimbangan rasional
dan tidak dilengkapi alasan-alasan
yang kuat. Bias kognitif ini terjadi
karena disebabkan oleh banyak
variabel. Variabel-variabel tersebut
dikelompokkan menjadi tiga kelompok
utama. Pertama, yakni perilaku
heuristic. Perilaku ini merupakan
perilaku penyederhanaan proses
pembuatan keputusan. Sedangkan
kedua adalah bias reaksi terhadap
kelompok informasi. Dan kelompok
ketiga yaitu bias pemahaman informasi
dan penyesuaian diri.
Marwan juga mengungkapkan
bahwa situasi di pasar merupakan
situasi yang amat kompleks akibat
dari kompleksitas dari para pelakunya.
Beberapa aspek yang dibicarakan
dalam orasi ilmiah kali ini baru
sebagian aspek saja, belum mencakup
keseluruhan. Menurutnya, pemahaman
atas perilaku manusia, sesedikit
apapun, memang diperlukan sebelum
seseorang menerjunkan dirinya ke
dunia investasi yang sebenarnya.
Pidato Dekan dan Orasi Ilmiah
bukan hanya sebatas tradisi
yang dilaksanakan setiap tahun.
Keduanya merupakan bentuk
pertanggungjawaban dari pihak
fakultas yang diwakili oleh Dekan dan
akademisi yang diwakili oleh dosen
yang melakukan orasi. FEB mesti terus
berupaya untuk mengayun langkah
lebih jauh, terutama dalam berinovasi,
berinteraksi, dan menginspirasi guna
menghadapi berbagai perubahan dan
tantangan yang ada demi mencapai
tujuan. Sekali lagi, dirgahayu FEB UGM!
[Nadia]

EB News NOVEMBER 2014 20

SPECIAL REPORT

Kemiskinan dan Ketimpangan
di Indonesia

D

alam rangka dies natalis Fakultas
Ekonomika dan Bisnis (FEB)
UGM ke 59, Program MSi Doktor
mengadakan seminar bertanjuk
“Kemiskinan Ketimpangan di
Indonesia: Permasalahan, Tantangan
dan Kebijaksanaan.” Seminar
yang dilaksanakan di auditorium
BRI mendatangkan Wakil Menteri
Keuangan, Prof. Dr. Bambang
Brodjonegoro (kini Menteri Keuangan),
sebagai pembicara pada sesi Keynote
Speech. Seminar yang dilaksanakan
pada tanggal (5/09/14) silam tersebut
juga menjadi momentum launching
mata kuliah baru, Ekonomika
Kemiskinan, dalam program Magister
Sains dan Doktor Fakultas Ekonomika
dan Bisnis (MSi dan Doktor FEB) UGM
Diawali dengan menyanyikan
lagu kebangsaan Indonesia Raya,

kegiatan ini berlanjut pada acara
inti yaitu seminar serta peluncuran
mata kuliah Ekonomika dan Bisnis.
Dimoderatiori oleh Dr. Elan Satriawan,
seminar berlangsung dimulai dari
keynote speaker oleh Prof. Dr. Bambang
Brodjonegoro hingga dilanjutkan
dengan sesi presentasi paper oleh Dra.
Rahma Iryanti M.T. dari Bappenas, Dr.
Vivi Alatas dari World Bank Jakarta,
serta Dr. Denni P. Purbasari dari FEB
UGM.
Seminar ini diselenggarakan
dengan tujuan untuk menjawab
problematika yang berlangsung di
Indonesia. Sebab, dari perspektif
perbandingan internasional,
pembangunan ekonomi Indonesia
merupakan salah satu kisah sukses.
Indonesia dikenal sebagai salah satu
negara yang mampu mempertahankan

pertumbuhan yang cukup tinggi,
penurunan angka kemiskinan yang
tajam, serta tingkat ketimpangan yang
rendah. Namun, dalam satu dekade
terakhir, pencapaian ini mulai berubah:
pertumbuhan cenderung menurun,
terjadi perlambatan penurunan
tingkat kemiskinan dan peningkatan
ketimpangan.
Oleh karenanya, disampaikan
dalam keynote speech, Bambang
Brodjonegoro berharap dengan adanya
mata kuliah Ekonomika Kemiskinan,
lembaga-lembaga pendidikan seperti
perguruan tinggi khususnya di UGM,
mampu membentuk penyelesaian
kemiskinan yang terstruktur demi
mewujudkan kesejahteraan bagi
seluruh rakyat Indonesia.

Seminar Nasional:

Peran Sekolah Bisnis Terakreditasi AACSB dalam
Pengembangan Sumberdaya Manusia

D

alam rangka memperingati Dies
Natalis ke-59, Program Magister
Manajemen Fakultas Ekonomika dan
Bisnis Universitas Gadjah Mada (MM FEB
UGM) menyelenggarakan acara seminar
nasional pada hari Rabu (17/09) silam.
Kegiatan ini dilaksanakan juga sebagai
ungkapan syukur atas keberhasilan
meraih akreditasi dari Association to
Advance Collegiate Schools of Business
International (AACSB). Berlangsung
di Auditorium Gedung B MM FEB UGM
Kampus Jakarta, seminar nasional ini
digelar dengan tema “Peran Sekolah
Bisnis Terakreditasi AACSB dalam
21

EB News NOVEMBER 2014

Pengembangan Sumberdaya Manusia”.
Seminar nasional ini dihadiri oleh
sekitar 120 peserta dari Alumni dan
Mahasiswa MM FEB UGM, kalangan
industri, serta beberapa perwakilan dari
universitas negeri maupun swasta di
Indonesia.
Acara dibuka dengan sambutan
dari Dekan FEB UGM, Prof. Dr. Wihana
Kirana Jaya, M.Soc.Sc, yang kemudian
dilanjutkan dengan Opening Remarks
oleh Sekretaris Jenderal Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia, Prof. Dr. Ainun Na’im, M.B.A.
Seminar nasional ini diisi oleh beberapa

pembicara, di antaranya adalah Prof.
Dr. Bambang Sudibyo, M.B.A. selaku
inisiator Akreditasi AACSB di FEB UGM,
Dr. Cyrillus Harinowo, M.Ec. Dev., Dr.
B.M. Purwanto, M.B.A., serta Prof. Dr.
Indra Wijaya Kusuma, M.B.A.
Terselenggaranya seminar nasional
ini diharapkan menjadi langkah awal
bagi sekolah-sekolah bisnis di Indonesia
untuk bersama-sama mengembangkan
inovasi pendidikan yang berdampak
positif pada peningkatan kualitas
sumberdaya manusia di Indonesia.
[Nela]

Hidupkan Tradisi,
FEB Gelar Pagelaran Wayang Kulit

Y

ogyakarta adalah salah satu habitat
kesenian wayang kulit. Melawan arus
zaman yang semakin meninggalkan
tradisi lokal, FEB UGM mengadakan
pagelaran wayang kulit semalam
suntuk. Sebagai rangkaian acara Dies
Natalis FEB UGM ke-59, Pagelaran
Wayang Kulit Semalam Suntuk yang
menampilkan dalang Ki Warsono Slenk
dan bintang tamu Sudarko Prawiroyudo
dilaksanakan pada hari Jumat (5/9) di
halaman FEB UGM.
Acara dimulai pada pukul 20.00
WIB, tetapi sejak pukul 19.00 WIB
Dosen dan Karyawan serta beberapa
mahasiswa sudah antusias datang di
pagelaran wayang kulit ini. Beberapa
dosen dan karyawan juga mengajak
keluarga untuk menonton pagelaran
wayang kulit ini. Penuhnya kursi yang
disediakan panitia menunjukkan
antusiasme yang tinggi untuk
menyaksikan pagelaran wayang kulit
ini.

Terlihat beberapa keunikan yang
panitia coba hadirkan dalam acara ini.
Panitia dalam acara ini menggunakan
baju adat Yogyakarta, yaitu jarik dan
surjan. Selain itu, para penonton
dapat menyantap makanan dan
minuman yang disajikan dalam gerobak
angkringan. Kemudian, panitia juga
mengadakan undian berhadiah untuk
membuat penonton tidak cepat pulang.
Dari sekian keunikan, hal
yang paling unik adalah lakon
yang dibawakan dalam pagelaran
wayang kulit semalam suntuk ini.
“Dewaruci: Implementasi pada Upaya
Kepemimpinan Memajukan Ekonomi
Rakyat” menjadi lakon implementatif
dengan core competencies FEB UGM
dalam bidang ekonomi yang diangkat
dalam pagelaran wayang kulit ini.
Sebenarnya, lakon ini juga
disesuaikan dengan momen grand
launching Dashboard Ekonomi
Kerakyatan serta Buku Paku Buwono

X, 46 Tahun Berkuasa di Tanah Jawa,
yang ditulis oleh Prof. Gunawan
Sumodiningrat dan Ari Wulandari, S.S.,
M.A. Sehingga, isi dari lakon wayang
tersebut juga menggambarkan isi dari
buku tersebut.
Lakon wayang tersebut
mengisahkan perjalanan Bima dalam
mencari air suci prawitasari. Amanat
yang ingin disampaikan dari lakon
tersebut adalah pemimpin yang
melaksanakan sifat Tuhan yang
utama yaitu kasih sayang “berbuat
baik, menata, dan membangun (Good
organize develop)”. Ketentraman terjadi
dalam keseimbangan yang saling
memberi dan saling menerima. Saling
menghasilkan dan saling menikmati,
sebagaimana demand dan supply.
Jika demand dan supply menyatu,
bersatu, manunggal, “musyawarah
dan mufakat”, maka tercapailah
kebahagiaan yang abadi. [Ibe]

Kompetisi dalam Kekeluargaan

D

alam rangka memperingati hari jadi
Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM
yang ke-59, FEB menyelenggarakan
serangkaian acara yang melibatkan
dosen, karyawan, mahasiswa, maupun
masyarakat. Salah satu kegiatan
dalam rangkaian tersebut adalah
pertandingan olah raga. selain menjadi
ajang kompetisi pada umumnya,
kegiatan ini juga diselenggarakan
untuk meningkatkan rasa kekeluargaan
seluruh keluarga besar FEB UGM.
Peserta berasal dari delapan prodi dan
jenjang yang berbeda, yakni MM, MEP,
MAKSI-PPAk, MSI-Doktor, P2EB, S1
Manajemen, S1 Ilmu Ekonomi, dan S1
Akuntansi.
Cabang olahraga yang dilombakan
adalah bola voli, tenis meja, dan
bulu tangkis. Pertandingan bola voli
dilaksanakan pada 12-15 Agustus, tenis
meja dilaksanakan pada 16 Agustus,
sedangkan bulu tangkis pada 19 dan
22 Agustus. FEB UGM juga menfasilitasi

para dosen yang memiliki hobi bermain
tenis untuk bertanding pada 30 Agustus.
Semua cabang olah raga tersebut
mendapat antusiasme yang besar dari
keluarga FEB UGM.
Acara dibuka langsung oleh Prof.
Wihana Kirana Jaya, Dekan FEB UGM.
Ia berharap agar iklim gotong royong
dan kekeluargaan di lingkungan FEB
UGM dapat terbangun. Pertandingan
voli yang merupakan pertandingan
pembuka pada rangkaian kali ini
berbeda dari biasanya karena
aturan susunan pemain. Setiap
tim wajib memiliki anggota dua
orang perempuan. Oleh karena itu,
pertandingan voli menjadi tontonan
yang menarik dan banyak mengundang
penonton serta pendukung. Hasil akhir
dari pertandingan bola voli adalah
Juara I oleh S1 Manajemen, juara II oleh
MM, dan juara III diraih oleh S1 Ilmu
Ekonomi.

Pertandingan selanjutnya, tenis
meja, menjadi sarana bagi keluarga FEB
untuk berlibur pada akhir minggu. Hasil
akhir dari pertandingan ini, yakni MM
sebagai juara I, S1 Akuntansi sebagai
juara kedua, dan juara ketiga oleh S1
Manajemen. Pada tanggal 19 Agustus
2014, babak penyisihan bulu tangkis
berlangsung di GOR Lembah UGM.
Lalu, pada tanggal 22 Agustus babak
semifinal sekaligus final dilaksanakan.
S1 Akuntansi berhasil memperoleh
juara I disusul S1 Manajemen dan
MM pada pertandingan bulu tangkis
tersebut.
Di penghujung bulan, tenis
menutup kegiatan pertandingan
olah raga pada rangkaian tahun ini.
Diharapkan acara ini dapat menjadi
tempat untuk seluruh anggota FEB
UGM baik dosen, karyawan, maupun
mahasiswa berkompetisi secara sportif
selain juga mengeratkan hubungan
kekeluargaan. [Azka]
EB News NOVEMBER 2014 22

WHO’S WHO

Dr. Suratno, M.Ec.

Blusukan:
Penelitian dan Pengabdian
Suratno memiliki cara tersendiri dalam
melakukan penelitian dan pengabdian kepada
masyarakat. Ia melakukan keduanya dengan
metode blusukan.

B

aginya, memilih profesi sebagai
pengajar bukan hanya sebatas
keinginan atau cita-cita. Tapi
juga sebuah tuntutan yang ia emban
dari namanya sejak lahir. Dari nama
tersebut, su berarti lebih, rat berarti
jagad/dunia dan no berarti padhang.
Sehingga arti penuh dari nama adalah
menjadi “penerang” bagi dunia,
dengan demikian identik dengan
menjadi pepadhangin liyan atau
sumber pencerah bagi sesama. Arti
tersebut menjadikan tantangan bagi
Dr. Suratno, M.Ec. semakin mantap
untuk mencurahkan hidupnya sebagai
pengajar. Ia telah bekerja sebagai
dosen selama kurun waktu 39 tahun
di Fakultas Ekonomika dan Bisnis
Universitas Gadjah Mada (FEB UGM)
sejak tahun 1975.
Kiprahnya sebagai staf pengajar
maupun peneliti sudah tidak diragukan
lagi. Selama puluhan tahun ia konsisten
untuk mengamalkan Tri Dharma
Perguruan Tinggi, yakni pendidikan,
penelitian, dan pengabdian kepada
masyarakat. Suratno pun memiliki cara
tersendiri dalam melakukan penelitian
dan pengabdian kepada masyarakat. Ia
melakukan keduanya dengan metode
blusukan. Suratno pergi ke daerahdaerah terpencil di banyak wilayah di
Indonesia untuk melihat keindahan
alam, mengamati budaya sekaligus
mengamati langsung kondisi ekonomi
dan masyarakatnya di sana.
Suratno dengan yakin menjelaskan,
“Ekonom harus senang blusukan untuk
tahu kondisi daerah termasuk pasar
tradisional sekalipun. Kalau tidak,
ekonom tidak akan tahu kondisi daerah
dan permasalahan yang ada. ” Ia pun
mengaku bahwa blusukan sangat
membantunya, baik dalam mengajar
maupun meneliti untuk memberikan
contoh yang bermuatan lokal. Sebagai
pengajar khususnya untuk mata kuliah
Metodologi Penelitian, pengalamannya

23

EB News NOVEMBER 2014

selama blusukan sangat bermanfaat.
Mahasiswa yang kesulitan untuk
mendapatkan topik skripsi dan atau
tesis dapat terispirasi dari pengalaman
blusukan Suratno di desa-desa maupun
wilayah terpencil lain di Indonesia.
Suratno mengaku bahwa dengan
relasi yang banyak ia menjadi lebih
tenang dalam menjalani kegiatan
blusukan-nya. Hal tersebut terjadi
karena Suratno merupakan pengelola
Magister Sains (sekarang MSi dan
Doktor) pada periode 1988-1993.
Juga, sebagai pengajar pada Magister
Ekonomika Pembangunan sejak 1995
yang mahasiswanya berasal dari
seluruh penjuru tanah air. Kebetulan,
banyak dari mantan mahasiswanya
di sana yang setelah kembali ke
daerahnya masing-masing menjadi
pejabat atau tokoh masyarakat. Hal
ini semakin mempermulus langkah
Suratno untuk melakukan blusukan. Ia
pun juga dapat dengan lebih mudah
memberikan rekomendasi kebijakan
mengenai permasalahan-permasalahan
yang ia temui di daerah.
Bahkan sebelum aktif menjadi
dosen, Suratno memang telah senang
melakukan kegiatan blusukan. Saat
masih menjadi mahasiswa, ia telah
ditanamkan mengenai pentingnya
blusukan. Ia menjadi asisten peneliti
dalam penelitian yang dilakukan oleh
dosen-dosennya kala itu, khususnya
bersama Prof. Dr. Mubyarto (Alm) dan
Prof. Dr. Sukadji Ranuwiharjo (Alm).
Sehingga, nilai blusukan itu terus ia
bawa hingga kini.
Kebiasaan melakukan blusukan
termasuk mencari wilayah penelitian
yang berada ditengah hutan
dirasakan menjadi kebutuhan pada
saat memimpin Penelitian dan
Pengembangan Ekonomi (PPE) Fakultas
Ekonomi UGM yang sekarang menjadi
P2EB FEB UGM. Juga, pada saat

bergabung dengan tim UGM dalam
membantu Pengembangan Pertanian
dan Perdesaan di kabupaten Mimika
provinsi Papua.
Blusukan banyak dilakukan juga
bersama keluarga secara lengkap,
melalui perjalanan panjang misalnya
yaitu dari Jogjakarta -- kota-kota
di Jawa Timur – pulau Bali – pulau
Lombok – NTB wilayah timur dan
diteruskan sampai pulau Komodo.
Daerah lain yang juga pernah dikunjungi
termasuk provinsi-provinsi di pulau
Sulawesi, Sumatra bagian Selatan,
sebagian dari pulau Kalimantan, Nusa
Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur,
termasuk Papua dan Papua Barat.
Mayoritas kunjungan yaitu terkait
dengan kerjasama antara MEP UGM
dengan beberapa Pemerintah Daerah
setempat.
Di sela-sela waktu luangnya,
Suratno masih juga melakukan
blusukan. Ia dan istri kerap pergi berdua
untuk menghabiskan waktu untuk
mencari sarapan sampai kabupaten/
kota lain di luar Sleman, bahkan
diluar provinsi DIY, sekaligus berjalanjalan sampai ke tempat-tempat lain
yang masih asri. Suratno mengaku
sangat menikmati hobi blusukan-nya
tersebut. Selama blusukan selalu
dilakukan ngobrol dengan petani,
pemilik warung, penduduk setempat
termasuk dengan penjual jasa di obyek
wisata. Bagi Suratno, yang penting
ia berusaha untuk mencurahkan
waktunya ke kampus karena ia
memilih profesi menjadi dosen. “Bagi
dosen yang terpenting itu bukan gaji
yang besar, tapi doa dari mahasiswa
untuk kehidupan dikemudian hari.
Keseimbangan harus diterapkan
kepada diri sendiri. Bekerja diniatkan
sebagai ibadah, disertai keikhlasan.
Hidup haruslah bermanfaat bagi orang
lain, rezeki sudah ada yang mengatur,”
tukasnya. [Nadia]

AROUND BULAKSUMUR

Wajah Baru
Sosio Humaniora

P

emandangan berbeda terlihat
di Jalan Sosio Humaniora. Jalan
aspal yang biasanya dilalui banyak
kendaraan menuju Fakultas Psikologi,
Filsafat, Ilmu Budaya dan Ekonomika dan Bisnis tersebut kini berubah
menjadi medan bebatuan yang tidak
dapat dilewati kendaraan bermotor. Ya,
sudah beberapa bulan ini Jalan Sosio
Humaniora ditutup karena pengerjaan
proyek taman.
Tanpa disadari, berdirinya
gedung-gedung di kawasan Sosio
Humaniora yang sangat padat dan
saling berdekatan serta lalu lintas
kendaraan bermotor yang tidak teratur
telah menyebabkan penurunan kualitas
udara. Jika hal ini dibiarkan maka
polusi udara akan semakin parah dan
kenyamanan warga Sosio-Humaniora
menjadi terganggu. Terlebih Universitas
Gadjah Mada (UGM) tengah bergerak
untuk menjadi Kampus Educopolis,
Kampus Biru, dan Eco-campus yang
ramah lingkungan. Maka dari itu, UGM
terus menggalakkan upaya penambahan Ruang Terbuka Hijau (RTH) melalui
pembangunan proyek yang dinamakan
Promenade Sosio Humaniora Regional
3.
Pada 6 November 2013 silam UGM
melakukan Grand Launching konsep
Sinergi Pengembangan Kampus UGM
mendukung Pengembangan Wilayah
Berkelanjutan. Dengan sinergi berbagai
pihak, baik universitas, Kementerian
PU, dan Pemerintah, disepakati
adanya pengawalan daerah konsep
ini. Penambahan RTH di wilayah UGM

merupakan salah satu hal di dalamnya.
Dalam melaksanakan program
ini pihak UGM pun melakukan
pengonsepan, perencanaan,
pelaksanaan, dan pemeliharaan. Arah
pembangunan ini sebernarnya sudah
dituangkan dalam Rencana Induk
Pengembangan Kampus 2005-2015.
Kemudian dalam praktik sosiasilasi dan
pelaksanaan teknis, pihak Perencanaan
dan Pengembangan UGM sering
mengadakan sosialisasi kepada warga
kampus dan juga kolaborasi dengan
mahasiswa untuk mengawal.
“Beberapa waktu yang lalu
mahasiswa kami ajak untuk
berkolaborasi membuat video
visualisasi untuk menyosialisasikan
program RTH kepada warga kampus”
ujar Muhammad Sulaiman, S.T.,
M.T., D.Eng. sebagai Plt. Direktur
Perencanaan dan Pengembangan UGM.
Taman yang dibangun tentu bukan
taman yang alakadarnya, melainkan
taman yang benar-benar dapat menyejukkan indra baik hidung maupun mata
serta memiliki manfaat yang tinggi.
Proyek yang menelan dana sekitar 3 Miliar Rupiah ini memproyeksikan sebuah
taman yang megah dengan dilengkapi
tanaman-tanaman hias, jalur pejalan
kaki, kolam ikan, dan gazebo. Kendaraan bermotor sudah tidak dapat lagi
melintas karena pejalan kaki menjadi
prioritas dalam pemanfaatan jalan ini.
Selain itu, terdapat gazebo yang dibangun dapat dimanfaatkan mahasiswa
untuk berdiskusi dan mengerjakan
tugas. Said (52), salah seorang pelaksa-

na proyek, mengatakan bahwa proyek
yang dikomando langsung dari Pusat
ini telah selesai pada bulan Desember
2014.
Meskipun konsep telah sangat jelas
memberikan amanat untuk perbaikan
lingkungan kampus. Namun, masih
banyak warga kampus yang masih
belum paham dan menganggap buruk
dampak pembangunan tersebut.
Muncul anggapan pembangunan
taman ini merugikan karena landmark
Pertamina Tower Fakultas Ekonomika
dan Bisnis (FEB) UGM sebagai halaman
depat FEB menjadi tertutupi. Padahal
proyek pembangunan tersebut telah
menelan banyak biaya investasi. Selain
itu, ditutupnya kantung-kantung parkir
yang ada di kawasan Sosio Humaniora
membuat mahasiswa kebingungan
untuk memarkir kendaraan.
Anggapan-anggapan buruk
tersebut ditanggapi secara tegas oleh
Sulaiman dengan menandaskan bahwa
UGM ingin selalu menjadi universitas
visioner. UGM bukanlah entitas yang
terdiri dari fakultas-fakultas yang saling
bersaing secara kanibal satu sama lain,
melainkan satu kesatuan universitas
yang membangun kekuatan bersama-sama. Dalam pembangunan taman
ini, UGM mengadopsi konsep taman di
New South Caroline University, USA.
Bahkan, UGM akan lebih maju karena
taman tidak akan dilalui kendaraan
bermotor sementara di New South
Caroline University masih dapat dilalui
kendaraan bermotor. [Ibe]

EB News NOVEMBER 2014 24

PARTNERSHIP

UGM dan ACCA Bermitra:

Peningkatan Pendidikan dan Profesi
Bidang Akuntansi

U

GM dan Association of Chartered
Certified Accountants (ACCA)
resmi bekerja sama sejak
penandatanganan memorandum
of agreement (MoA) pada 16 Juni
2014. Acara penandatanganan MoA
dilaksanakan oleh Dekan FEB UGM,
Prof. Wihana Kirana Jaya, M.Soc.Sc,
Ph.D dan Chief executive ACCA, Helen
Brand. Tujuan dari kerjasama ini
yaitu untuk memajukan kerjasama
dan kemitraan antara dua organisasi
yang terkemuka untuk mendukung
siswa mengejar pendidikan di bidang
keuangan dan akuntansi, dan untuk
membangun kapasitas dalam profesi
untuk mendukung pertumbuhan
ekonomi Indonesia.
Dalam kerja sama ini, FEB UGM
mempromosikan program “ACCA
Qualification” dan “Foundations in
Accountancy” pada Program Akuntansi
UGM untuk mahasiswa. Program
“Foundations in Accountancy”
menawarkan titik awal untuk meraih
program kualifikasi ACCA. MoA ini juga
menjembatani kedua organisasi untuk
melakukan seminar, konferensi, proyekproyek penelitian dan publikasi. Dengan
kata lain, keduanya akan bekerja
dalam kemitraan untuk memajukan
pendidikan akuntansi dan keuangan di
Indonesia.
Dalam acara penandatanganan
MoA, Wihana Kirana Jaya
menyampaikan, “Sebagai sekolah
bisnis pertama di Indonesia yang

25

EB News NOVEMBER 2014

mendapatkan akreditasi internasional
dari Association Advance Collegiate
Schools of Business (AACSB)
International sebuah badan akreditasi
internasional yang berbasis di Amerika
Serikat dan yang kedelapan di ASEAN,
kami berharap dapat mempertahankan
kerjasama dengan lembaga-lembaga
internasional yang bereputasi baik
seperti ACCA”.
Helen Brand OBE, menyambut
baik kerja sama yang terjalin, “ACCA
sangat senang dapat bermitra dengan
perguruan tinggi terhormat seperti
Universitas Gadjah Mada di Indonesia.
Potensi Indonesia untuk pertumbuhan
ekonomi akan menyebabkan
kebutuhan yang lebih besar bagi para
profesional keuangan berkualitas
yang memiliki kemampuan untuk
mendukung peningkatan kegiatan
ekonomi dan mendukung aspirasi

ekonomi bangsa. Nota Kesepahaman
ini bertujuan untuk memberikan para
pemimpin muda masa depan dengan
kualifikasi akuntansi profesional yang
diakui secara global. Kami optimis
dan yakin bahwa kemitraan kami akan
pergi dari kekuatan ke kekuatan, dan
bersama-sama kami akan mendukung
kemajuan ekonomi Indonesia dan
pembangunan sosial”.
Dengan kerja sama yang
menekankan tentang sinergi antara FEB
UGM dan ACCA ini, kedua belah pihak
berkomitmen untuk mempertahankan
hubungan kerja yang konstruktif dan
kooperatif yang didasarkan pada
kepentingan bersama dan kuat dalam
memajukan profesi akuntansi di
Indonesia, terutama dalam kaitannya
dengan pemeliharaan dan penguatan
kapasitas profesional dan standar
pendidikan. [FEB-ACCA]

SCHOLARSHIP AND RECRUITMENT

Working for the IMF, Working for the World
THE IMF FUND INTERNSHIP PROGRAM (FIP)
The Fund Internship Program (FIP) provides an opportunity for highly talented graduate students to gain a better understandingof the work of the International Monetary Fund and contribute to the IMF’s mission. As an intern in the FIP you would:
- Work with an experienced economist on a research projectin one of
thirteen deparments over a 10-12 week period.
- Be part of a paid internship program with round trip travel to washington D.C.
and basic medical coverage.
Who should apply?PhD and Masters candidates in monetary and international
economics, public finance, and related fields 1-2 years of graduation.
Appication accepted beginning in december 2014.
To apply, or for more information, please visit:
www.imf.org/jobs

Beasiswa Orange Tulip Indonesia
2015/2016
Beasiswa Orange Tulip Indonesia merupakan program beasiswa bagi alumni yang
berpotensi tinggi agar dapat melanjutkan studi di Belanda.
Persyaratan Umum
- Warga Negara Indonesia;
- Tidak sedang menempuh studi pendidikan di Belanda atau bekerja di Belanda;
- Saat ini sedang menjalani proses pendaftaran atau sudah diterima di salah satu
universitas di Belanda peserta OTS;
- Memenuhi syarat-syarat khusus yang dibutuhkan oleh skema Orange Tulip
Scholarship yang didaftarkan.
Dokumen-dokumen Pendaftaran
Kandidat harus mengirimkan dokumen-dokumen pendaftaran ke ots@
nesoindonesia.or.id (total attachment maks. 2MB) DAN ke kantor Neso Indonesia
(Menara Jamsostek Lt. 20, Jl. Gatot Subroto 38 Jakarta 12710)
Berkas lamaran dikirimkan sebelum tanggal 1 April 2015.
informasi lebih lanjut:

http://www.nesoindonesia.or.id/beasiswa/orange-tulip-scholarship/
pendaftaran-seleksi/persyaratan

Penawaran magang di AIP-PRISMA
The Australia Indonesia Partnership for Promoting Rural Income through Support
for Markets in Agriculture (AIP-PRISMA) akan melakukan sebuah studi tentang
kehidupan masyarakat perdesaan di Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Nusa
Tenggara Timur. Studi ini sangat penting bagi keberhasilan program yang didukung
oleh Pemerintah Australia ini. Dipimpin oleh tiga lulusan dari The Center for Development and Cooperation (NADEL), Switzerland, studi ini akan dimulai pada bulan
Maret 2015 selama 10 bulan. Studi ini akan meliputi topik-topik:
1. Pengunaan Pendapatan Perdesaan (Studi Longitudinal)
2. Gambaran Target Penerima Manfaat di Perdesaan
Keberhasilan studi ini hanya dapat dicapai dengan keterlibatan para peneliti Indonesia. Untuk itu,kami mengundang mahasiswa/mahasiswi studi lanjut untuk mengikuti proses seleksi anggota tim. Mahasiswa/mahasiswi S2 dan S3 dari Universitas
anda, khususnya dari fakultas sosiologi, ekonomi atau bisnis,dapat mengirimkan
aplikasi ke alamat e-mail yang tercantum dibawah ini:

recruitment@aip-prisma.or.id.
EB News NOVEMBER 2014 26

LECTURER’S ARTICLE

Setiyono Miharjo1

Kompensasi Ekuitas
(Equity Compensation)

M

eskipun belum sepopuler di
negara maju, salah satu bentuk
kompensasi ekuitas, stock
option, mulai mendapatkan perhatian
di Indonesia. Pemberian kompensasi
dalam bentuk stock option ini dikenal
dengan istilah Program Kepemilikan
Saham oleh Karyawan (Employee Stock
Ownership Program, ESOP). Tahun 2002,
Bapepam melakukan “Studi Tentang
Penerapan ESOP Emiten Atau Perusahaan Publik Di Pasar Modal Indonesia.” Dari 124 emiten yang disurvei,
24 diantaranya telah melaksanakan
ESOP. Tim peneliti bahkan menemukan
4 perusahaan tertutup yang juga menjalankan program yang sama.
Berbeda dengan di Indonesia,
di Amerika, kompensasi ekuitas,
khususnya stock option dan restricted
stock, sudah menjadi bagian penting
dari paket kompensasi yang dibayarkan
kepada para eksekutif perusahaan.
Jumlahnya terus meningkat, baik
dalam angka absolut maupun sebagai
persentase dari total kompensasi (Perry
and Zenner, 2001). Dampaknya, tentu
saja, menjadi semakin mahal (costly)
27

EB News NOVEMBER 2014

bagi pemegang saham dalam bentuk
kas yang dibayarkan, pembelian saham
entitas sendiri untuk pembayarannya,
dan efek dilusi yang ditimbulkan ketika
kompensasi ekuitas tersebut dibayarkan (Balsam, 2002).
Setidaknya terdapat dua tujuan
utama mengapa perusahaan publik
memberikan kompensasi kepada
para eksekutifnya dalam bentuk
ekuitas. Pertama, untuk memotivasi
para eksekutif perusahaan tersebut
agar berlaku dan bertindak sesuai
dengan kepentingan pemegang
saham. Kedua, sebagai upaya untuk
menahan para eksekutif agar bisa
bekerja lebih lama di perusahaan.
Tujuan yang pertama dapat dicapai
tiada lain karena kompensasi ekuitas
menghubungkan secara langsung
antara kompensasi eksekutif dengan
kesejahteraan pemegang saham,
sehingga dampaknya mampu
menyalaraskan (aligns) kepentingan
para eksekutif dengan kepentingan
pemegang saham perusahaan.
Untuk tujuan memotivasi eksekutif
ini, penelitian yang dilakukan Smith

dan Watts (1992) dan Gaver dan Gaver
(1993), misalnya, menunjukkan bahwa
perusahaan yang tengah tumbuh
dengan pesat, yang dengan demikian
berkepentingan untuk mendorong
para eksekutifnya untuk bekerja keras,
ternyata cenderung untuk memberikan
kompensasi dalam bentuk ekuitas.
Penelitian lain yang dilakukan oleh
Mehran (1995) yang meneliti efektivitas
kompensasi dalam bentuk stock option,
menemukan bahwa semakin tinggi
kinerja perusahaan, semakin besar pula
persentase kompensasi yang diberikan
kepada para eksekutifnya dalam bentuk
stock option.
Bagaimana dengan bukti empiris
untuk tujuan kedua, yakni, kemampuan
kompensasi ekuitas dalam menahan
eksekutif perusahaan? Sayangnya
masih sangat sedikit penelitian tentang
kemampuan kompensasi ekuitas untuk
menahan eksekutif (retention effect)
ini. Bahkan belum ada penelitian
yang memberikan bukti empiris secara
langsung. Kalau pun ada, penelitiannya
bersifat teoritis (Oyer and Schaefer,
2003, 2005), atau tidak langsung karena

LECTURER’S ARTICLE
menguji stock option dengan pergantian
eksekutif (Mehran and Yermack, 1999).
Sedangkan dua penelitian lain yang
dilakukan Fee dan Hadlock (2003) serta
Hasenhuttl dan Harrison (2002) sama
sekali tidak menemukan bukti empiris
tentang hubungan antara stock option
dengan retention effect.
Dalam kelangkaan bukti empiris
seperti itulah, penelitian yang awalnya
merupakan tugas salah satu mata
kuliah seminar ketika saya menempuh
program PhD di Temple University,
Philadelphia, USA ini, kemudian saya
kembangkan bersama Steven Balsam,
dosen pembimbing saya kala itu.
Penelitian dengan judul “The Effect
of Equity Compensation on Voluntary
Executive Turnover” tersebut berhasil
dipublikasikan di Journal of Accounting
and Economics, yang merupakan salah
satu top tier journal di bidang akuntansi
dan keuangan. Penelitian ini pulalah
yang telah mengantarkan saya menjadi pemenang “The Harry A. Cochran
Research Center Award for Excellence in
Research by a Doctoral Student for 2006”
menjelang saya lulus dari program PhD
pada Agustus 2007.
Tujuan penelitiannya sendiri adalah
untuk menguji dampak dari kompensasi
dalam bentuk ekuitas pada pergantian
eksekutif (executive turnover), khususnya
pergantian eksekutif secara sukarela
(voluntarily). Eksekutif sebuah perusahaan memiliki pilihan untuk tetap
bekerja di perusahaan, pensiun dini,
atau keluar bekerja pada perusahaan
lain. Keputusan untuk keluar akan
dipengaruhi, setidaknya sebagian,
oleh kos (monetary cost) meninggalkan
pekerjaannya sekarang. Tentu saja, kalau
seorang eksekutif sangat diinginkan oleh
calon perusahaan barunya, perusahaan
baru ini bisa saja mengganti kerugian
akibat si eksekutif meninggalkan perusahaan tempat ia bekerja saat ini. Hal ini
terjadi pada saat CEO 3M, Jim McNerney
dibajak oleh Boeing. McNerney seharusnya kehilangan stock option (unvested)
dan restricted stock yang nilainya cukup
signifikan (lebih dari 25 juta dollar).
Namun, sebagaimana dilaporkan pada
dokumen 8-K tertanggal 6 Juli 2005,
paket kompensasi yang diterima dari
Boeing membuat McNerney dapat
begitu saja melupakan kerugian akibat
meninggalkan 3M.
Dengan demikian, secara
umum, seorang eksekutif bisa saja
memperoleh penggantian atas uang
yang hilang akibat meninggalkan
perusahaan lamanya dengan bonus
awal (signing bonus) atau dengan
kenaikan jumlah kompensasi yang
secara rutin akan diterimanya kelak
di perusahaan barunya. Akan tetapi,
seiring dengan semakin besarnya
jumlah yang akan dikorbankan, tentu
saja akan semakin kecil kemungkinan

ada calon perusahaan yang bersedia
memberi ganti rugi. Dari perspektif
perusahaan yang akan ditinggalkan,
jumlah stock option yang diberikan
kepada eksekutifnya harus cukup
besar sedemikian rupa sehinga mampu
mencegah upaya pembajakan terhadap
eksekutifnya tersebut oleh perusahaan
lain. Terlebih dengan adanya
perusahaan yang bersedia mengganti
kerugian yang akan dialami oleh
seorang eksekutif yang akan dibajak,
maka jumlah yang harus diberikan oleh
perusahaan kepada seorang eksekutif
yang hebat harus lebih besar lagi.
Untuk tujuan penelitian ini, kami
menggunakan data dari S&P ExecuComp data base. ExecuComp data base
ini berisi bukan saja data keuangan
perusahaan, tetapi juga data kompensasi untuk 5 top eksekutif perusahaan
dengan kompensasi tertinggi. Hal
yang menarik dari data base ini adalah
masing-masing eksekutif diberikan
nomor identitas yang unik yang disebut
dengan EXECID (executive ID). Nomor
identitas ini dapat digunakan untuk
melacak keberadaan dari seorang
eksekutif dimana dan kemana pun ia
berada, selama masih termasuk dalam
rangking 5 besar, dan perusahaan tempatnya bekerja masuk dalam data base.
Dengan bantuan EXECID inilah
kami berhasil mengukur pergantian
eksekutif (executive turnover), yakni,
ketika seorang eksekutif diidentifikasi
oleh ExecuComp telah meninggalkan
perusahaan. ExecuComp mengelompokkan perginya eksekutif dari perusahaan
dalam empat kategori: (1) meninggal; (2)
pensiun; (3) mengundurkan diri; dan (4)
tidak diketahui. Tentu saja, pergantian
karena alasan meninggal kami hapus dari
sampel. Pergantian paksa (involuntary)
kami identifikasi dengan menggunakan
kriterianya Huson et al. (2001). Dengan
m e n g u r a n g k a n pergantian paksa
dari dari sisa pergantian eksekutif setelah
dikurangi karena alasan meninggal,
maka diperoleh data pergantian sukarela
(voluntary).
Hipotesis kami adalah bahwa seiring dengan naiknya nilai kompensasi
eksekutif yang akan dikorbankan, maka
pergantian eksekutif sukarela turun.
Kami menguji hipotesis ini dengan
dua model, satu untuk CEO (c h i e f
e x e c u t i v e o f f i c e r ) dan satu untuk
eksekutif lainnya. Penggunaan dua
model yang terpisah ini bukannya tanpa
alasan. Pertama, pengujian dengan
model untuk CEO saja, memungkinkan
hasilnya untuk dibandingkan dengan
literatur yang ada yang fokus pada
pergantian CEO. Kedua, memungkinkan
untuk memasukkan variabel yang
berbeda ke dalam masing-masing
model. Pergantian seorang CEO sangat
mungkin mempengaruhi pergantian eksekutif di bawahnya. Dengan demikian,

menggunakan model yang terpisah untuk pergantian non-CEO, memungkinkan
untuk memasukkan pergantian CEO
sebagai variabel kontrol tambahan.
Untuk mengukur nilai kompensasi
ekuitas yang akan dikorbankan bila
eksekutif meninggalkan perusahaan,
kami menggunakan nilai intrinsik dari
opsi yang belum memenuhi syarat
untuk digunakan (unvested) dengan the
intrinsic value of unexercisable in-themoney stock options (INMONUN) pada
akhir periode sebelumnya, sebagai
proksi sebagaimana dilaporkan dalam
ExecuComp. INMONUN inilah nilai
yang akan dikorbankan oleh seorang
eksekutif ketika pergi meninggalkan
perusahaan. INMONUN ini belum bisa
digunakan karena belum terpenuhi
syarat-syaratnya (belum vested), yang
diantaranya adalah bahwa eksekutif
yang bersangkutan masih harus bekerja
untuk perusahaan beberapa waktu lamanya. Sedangkan untuk opsi yang sudah vested, yang di dalam ExecuComp
disebut dengan istilah the intrinsic value
of exercisable in-the- moneystock options
(INMONEX), eksekutif tidak akan rugi
apapun karena sudah berhak menggunakannya meskipun sudah pergi
meninggalkan perusahaan yang lama.
Hasil pengujian yang kami lakukan
menunjukkan bahwa pergantian
eksekutif berhubungan negatif dengan
the intrinsic value of unexercisable
in-the-money stock options. Hasil ini
mengindikasikan bahwa semakin
besar nilai INMONUN yang dimiliki
seorang eksekutif, maka semakin kecil
kemungkinan eksekutif yang bersangkutanuntuk pindah ke perusahaan
lain. Hasil pengujian ini berlaku baik
untuk sampel CEO maupun non-CEO.
Demikian pula hasil ini sama untuk beberapa jenis kompensasi ekuitas yang
lain. Namun tidak untuk INMONEX.
Hal ini konsisten dengan kenyataan
bahwa seorang eksekutif sudah bisa
menggunakan INMONEX meskipun ia
telah pindah kerja, sehingga tidak akan
mempengaruhi keputusan untuk tetap
tinggal atau pindah ke perusahaan lain.
Kontribusi utama penelitian ini bukan
saja memberikan bukti empiris akan
kemampuan “menahan” kompensasi
ekuitas, namun juga memiliki implikasi
praktis bagi praktisi kompensasi dalam
menyusun paket kompensasi yang akan
ditawarkan kepada eksekutifnya.

1
Dosen jurusan akuntansi, Fakultas
Ekonomika dan Bisnis dan Direktur
Keuangan Rumah Sakit Universitas
Gadjah Mada

EB News NOVEMBER 2014 28

NEWS FROM ABROAD

Risa Virgosita, M.Sc.

Sepenggal Cerita dari
Norwegia
Kesan Pertama di Kota Kristiansand
8 Februari 2014 lalu adalah kali
pertama saya menginjakkan kaki
di sebuah kota kecil di Norwegia,
Kristiandsand. Impresi pertama saya
adalah topografi alam Norwegia yang
luar biasa menawan. Hutan dengan
pepohonan yang didominasi cemara
dan oak, tebing bebatuan, danau, dan
sungai hampir dapat selalu ditemui
pada setiap kota di Norwegia, termasuk
Kristiansand. Dalam beberapa waktu
kedepan, di Kristiansand-lah saya
bersama Bapak Boyke R. Purnomo akan
menjalani pendidikan Ph.D melalui
program In Search of Balance (ISB) yang
merupakan kerjasama antara UGM
dengan Universitetet I Oslo Universitetet
I Oslo (UiO) dan Universitetet I Agder
(UiA) yang didanai oleh Kedutaan Besar
Norwegia.
Kultur Norwegia dan Kehidupan di
Kristiansand
Salah satu hal yang mengejutkan
bagi saya adalah keramahan orang
Norwegia. Sebelumnya saya mendengar
bahwa orang Norwegia itu ‘dingin’ dan
tidak bersahabat. Ternyata itu semua
tidak terbukti. Suatu saat saya tersesat
ketika sedang mencoba jalan kaki
sendirian ke kota. Saya bertanya kepada
setiap orang yang saya temui dan
semuanya menunjukkan arah dengan
ramah, bahkan orang terakhir yang saya
tanya mengantar melewati beberapa
blok hanya untuk memastikan saya
tidak tersesat.
Orang Norwegia pun tidak seperti
tipikal orang Barat, yang identik dengan
budaya direct atau to the point saat
29

EB News NOVEMBER 2014

berbicara. Orang Norwegia cenderung
mirip orang Jawa. Tidak bisa mengemukakan secara langsung hal yang
sekiranya konfrontatif dengan lawan
bicara. Mereka lebih baik memendam
atau mengutarakan dengan kalimat
yang sangat halus agar tidak terkesan melawan, merendahkan, atau
mengkonfrontir lawan bicara. Selain
itu, kesetaraan merupakan hal yang
menjadi budaya yang dijunjung tinggi
di negara ini. Disini kita akan dianggap
sangat tidak sopan jika saat di restoran
kita memanggil pelayan dengan cara
melambaikan tangan apalagi menjentikkan dua jari. Jadi, cara yang benar
adalah menunggu pelayan tersebut
melewati meja kita atau kita yang harus
mendatangi pelayan tersebut.
Orang Norwegia rata-rata bisa
berbahasa Inggris sehingga orang
seperti saya yang tidak memahami
bahasa Norsk tidak merasa kesulitan.
Namun begitu kemampuan berbahasa
lokal tidak bisa dipungkiri akan
membuat hidup kita lebih nyaman.
Mungkin suatu saat nanti saya akan
mengikuti kursus bahasa gratis yang
disediakan kampus di setiap awal
semester.
Salah satu budaya di sini yang agak
aneh dan lucu menurut saya adalah
russefeiring atau disingkat dengan russ.
Ini adalah tradisi merayakan kelulusan
siswa-siswi SMA dengan cara memakai
kostum overall warna warni serta topi
dan secara berkelompok berjalan di
pusat keramaian, menaiki bus, atau
mengadakan pesta bahkan memodifikasi mobil khusus dengan tema russ

untuk pesta. Ada 3 warna baju yang
saya temui, yakni merah, hijau dan biru.
Konon, warna menunjukkan jurusan,
merah untuk siswa yang mengambil jurusan sosial sedangkan biru untuk siswa
jurusan IPA. Tradisi ini dirayakan mulai
tanggal 20 April hingga puncaknya adalah di tanggal 17 Mei yang merupakan
hari kemerdekaan Norwegia.
Kebersihan adalah satu hal yang
sangat diperhatikan di sini. Saya salut
dengan tingkat kebersihan di negara
ini. Tak heran jika gedung-gedung tua
seperti apartemen yang saya tempati
ini bersih dan berfungsi dengan baik
sehingga nyaman untuk ditinggali.
Saya tinggal di apartemen 2 lantai
yang masing-masing lantainya diisi 12
kamar dan 1 dapur. Saya harus berbagi
dapur dengan 12 orang lainnya di 1
lantai. Setiap penghuni pun wajib piket
membersihkan dapur selama seminggu secara bergantian. Peraturan yang
lumayan bikin keder adalah kewajiban
membersihkan saat kita move out dari
kamar tersebut. Kamar yang telah kami
bersihkan akan dicek oleh pengurus SiA
dan jika ditemukan sedikit noda, maka
mereka akan meminta untuk dibersihkan ulang. Bahkan jika kita sudah
sampai ke negara masing-masing, maka
tidak ada pilihan lain selain membayar
denda super mahal karena SiA akan
meng-hire petugas cleaning service khusus untuk membersihkan ulang. Oleh
karena itu berdasarkan pengalaman,
jika akan move out kami harus mencicil
membersihkannya jauh-jauh hari.
Sebab setiap inci ruangan, termasuk
langit-langit, penyaring udara, tembok,
hingga setiap sudutnya tidak luput dari

NEWS FROM ABROAD

pengecekan.
Kristiansand merupakan kota kecil
yang sepi. Namun justru itulah, kota ini
tepat untuk studi karena tidak banyak
‘godaan’. Pusat keramaian di kota ini
hanya ada di daerah Markensgata
sebagai pusat kota dan Sørlandssenteret yang merupakan mall terbesar di
Norwegia. Agak aneh memang kota
sekecil ini mempunyai mall terbesar
se-Norwegia, tapi begitulah kenyataannya. Markensgata sendiri merupakan
jantung kota yang ditandai dengan
gereja tua sebagai landmark-nya, diikuti
dengan toko-toko, restoran, dan mall di
sepanjang jalan.
Dibanding kota-kota lainnya, saya
beruntung tinggal di kota ini karena
terletak di bagian selatan Norwegia sehingga suhunya paling hangat dibanding
kota-kota lain Secara umum yang terkenal dari Norwegia ada 3 hal: dingin, biaya hidup mahal, dan alam yang indah.
Agak sulit bagi saya untuk beradaptasi
dengan iklimnya. Alhasil di musim
semi, musim gugur, dan musim dingin
yang sebentar lagi akan saya hadapi,
saya harus mengoleskan minyak kayu
putih dan pasang heater dengan suhu
maksimal. Masalahnya adalah saat
saya di kantor, karena heaternya sentral
dan tidak bisa diubah-ubah sendiri
sehingga saya harus siap-siap ‘amunisi’
yakni pakaian hangat berlapis-lapis dan
(lagi-lagi) minyak kayu putih.
Alhamdulillah teman-teman
maupun kolega senior FEB yang dahulu
studi disini meninggalkan ‘warisan’
berupa barang-barang peralatan rumah
tangga termasuk baju hangat yang
bisa kami gunakan selama kami disini.
Barang-barang ini memang digunakan
turun temurun oleh mahasiswa dari
Indonesia. Semoga amal kebaikan bagi
mereka yang meninggalkan barang-barang tersebut untuk kami manfaatkan
dan juga generasi selanjutnya setelah
kami.

Kehidupan sebagai Mahasiswa S3
Kesan pertama masuk gedung
yang dijadikan kantor bagi pengelola
program S3, dosen, serta mahasiswa S3,
adalah homy dan santai. Kantor ini bukan kantor bagi saya karena bentuknya
seperti rumah yang memanjang. Ada 2
gedung untuk menampung penghuni
School of Business and Law UiA yang
letaknya berhadapan, yakni gedung
50 dan 51. Semua mahasiswa S3 ada
di gedung 50, atau biasa disebut ‘grey
building’. Gedung ini, dan beberapa gedung dan apartemen di sekitar kampus
UiA, termasuk apartemen yang saya
tempati, adalah bekas barak tentara
Jerman pada Perang Dunia Kedua.
Begitu masuk melalui pintu utama
gedung ini, ruangan pertama yang kami
lihat adalah social room yang berisi
meja makan, sofa, coffee machine dan
pantry. Ruang ini biasa digunakan
untuk makan siang sekaligus ngobrol
ataupun untuk makan bersama
jika ada selebrasi kecil misal salah
satu kami ada yang berulang tahun.
Waktu itu Ph.D Program Director kami
sedang ingin membangun tradisi
merayakan ulang tahun untuk dosen
dan mahasiswa S3 di departemen kami,
International Management, sebagai
salah satu cara untuk mempererat
hubungan. Di dinding ruangan ini
tertera daftar tanggal ulang tahun
masing-masing ‘penghuni’ gedung
50, termasuk pendatang baru seperti
saya dan Pak Boyke. Bagi yang sedang
ulang tahun tidak perlu khawatir harus
membeli makanan atau mentraktir
karena sekretaris departemen
yang akan menyiapkan semuanya.
Bagi saya pribadi ini adalah ajang
yang menyenangkan karena dapat
meregangkan otot dan otak sejenak.
Kapan lagi bisa makan salmon asap
sepuasnya. Salmon asap atau dalam
bahasa lokal disebut røkt laks adalah
daging salmon segar yang diiris tipis
dan rasanya gurih. Røkt laks biasanya

dimakan dengan roti tawar gandum,
ditambah dengan mayones, selada
atau semacam toge tapi kecil-kecil, dan
kaviar. Hmm..sedap!
Namun sejak Juni 2014, kami
menempati kantor baru yang terletak
persis di depan gedung pusat
universitas. Kantor yang sekarang
berkonsep modern minimalis, mirip
kantor perusahaan sehingga atmosfir
akademisnya kurang terasa. Saya
pribadi lebih merasa nyaman di kantor
lama sebab di kantor baru ini terlalu
banyak orang sehingga suasana lebih
lebih ramai. Ruang untuk mahasiswa
S3 juga terasa lebih padat karena 1
ruang diisi 4 orang mahasiswa. Tembok
dan pintu ruangan yang berbatasan
dengan koridor full tersusun dari kaca
dengan aksen garis-garis putih sehingga
dari dalam ruangan orang lalu lalang
di koridor akan terlihat dengan jelas.
Sejak di kantor baru tradisi merayakan
hari ulang tahun juga hilang dan
jarang sekali ada makan gratis. Namun
bagaimanapun saya harus cepat
beradaptasi dengan lingkungan baru
ini.
Hari-hari sebagai mahasiswa S3
kami habiskan dengan kuliah, tugas
dan penulisan paper. Seminar lunch
yang berisi presentasi dari 2 orang
akademisi, dengan mengambil waktu
istirahat makan siang adalah acara
rutin. Baik saya maupun Pak Boyke
sudah mempresentasikan proposal
kami di acara ini. Selain itu, kemajuan
kami juga dipantau dengan ketat oleh
PhD Program Director di UiA, Professor
Roy Mersland, melalui progress report
meeting yang wajib diikuti seluruh
mahasiswa S3 angkatan kami (angkatan
2014) yang berjumlah 4 orang,
supervisor kami, dan Prof. Roy sendiri.
Sejak kedatangan pertama hingga
sekarang, sudah 3 kali progress report
meeting diadakan. Prof. Roy memang
sangat ketat dalam memantau semua
mahasiswa S3-nya.
Bagi kami, pulang kantor malam
hari merupakan rutinitas yang kami
jalani sehari-hari, bahkan ‘ngantor’
hari Sabtu dan Minggu pun kerap kami
jalani. Apalagi yang masih di tahun
pertama seperti kami. Keseharian kami
masih padat dengan kuliah, penulisan
paper, serta pematangan proposal
penelitian yang minimal berjumlah 4
proposal karena disertasi kami adalah
collection of papers.
Demikian sekelumit cerita dari saya,
seorang mahasiswa rantau di Norwegia.
Semoga bisa sedikit memberi gambaran
bagi kolega-kolega di kampus FEB UGM
tercinta mengenai keadaan kami. Saya
harap doanya agar kami bisa menjalani
program ini dengan baik sehingga dapat
cepat kembali ke tanah air tercinta.

EB News NOVEMBER 2014 30

ALUMNI CORNER

Highly Motivated
Professional Adult

Hari Sudarmaji

R

itme lagu yang masih terkesan
sampai sekarang bagi saya
adalah, “Ekonomi, ekonomi goes
marching in, oh I want to be in that
number, ekonomi goes marching in.” Lagu
tersebut dinyanyikan sambil melakukan
senam gaya ‘ipeka limbera’. Itulah
perkenalan saya sebagai mahasiswa
baru FE UGM (sekarang FEB UGM).
Deretan sepeda berjejer rapi di
sebelah Gedung Pusat menandakan
kuliah jam pertama segera dimulai.
Setelah menunggu beberapa menit,
terdengar deru mobil Honda Civic
merah melesat parkir di sela-sela pilar
gedung megah itu. Kuliah intermediate
accounting masih berkutat soal metode
depresiasi yang musti dihafal, ada
Straight Line, juga Sum of the years digit.
Wah, rupanya beberapa teman sudah
mulai beringsut ke meja belakang,
ternyata mereka belum menyelesaikan
PR minggu lalu.
Pak dosen mulai membuka
tas coklat dan dengan bunyi “klik”,
plus batuk-batuk kecil. Ia lalu mulai
membuka catatannya. Beberapa teman
yang masuk ‘Kelompok Rajin’ mulai
menjawab beberapa pertanyaan sambil
tersenyum pada yang masih galau
karena tidak paham apa yang tengah
terjadi di ruang kuliah itu.
Menjelang siang, panas mulai
terasa, ketabahan mental dan fisik diuji
secara nyata dan ini menimbulkan ‘daya
juang’ yang terbukti nantinya membawa
berkah dalam kehidupan organisasi.
Dari ruang kuliah lantai dua, kami
pindah ke Fakultas Hukum karena
pengajar ilmu hukum nampaknya
lebih memilih untuk tidak berjalan kaki
menuju tempat kuliah kami. Kegaduhan
mulai nampak karena sebagian besar
mahasiswa FE adalah laki-laki tulen
dan disambut teriakan dari mahasiswa
Hukum yang juga para jagoan itu. Tapi
syukurlah, tidak ada tawuran seperti

31

EB News NOVEMBER 2014

saat ini. “Pertemuan antar lelaki”
ini menimbulkan Rasa Percaya Diri
yang ternyata terbukti manjur dalam
presentasi di depan orang lain maupun
negosiasi wawancara rekruItmen di
berbagai perusahaan besar di masa itu.
Fenomena unik lainnya adalah
minimnya jumlah mahasiswi sehingga
terjadilah kompetisi yang sering kurang
adil, antara yang punya motor dengan
kemampuan finansial lebih melawan
yang hanya sekedar mengandalkan
sepeda plus rayuan sederhana. Disinilah
motivasi untuk berprestasi akademik
tinggi mulai jelas terlihat, sehingga
nilai ujian yang tertempel di papan
pengumuman menjadi semacam market
value tersendiri.
Dengan berlalunya waktu, berbagai
perubahan telah terjadi, tidak ada lagi
kenangan di Gedung Pusat nan megah
itu, beralih ke gedung sendiri, serba
ada, dingin karena semua full AC, di
mana-mana nampak mobil mengkilat
plus para ‘barista’ yang siap menyeduh
kopi di gedung Pertamina Tower. Era
sosial media membuat para dosen
dituntut berubah peran dari pemberi
pengetahuan menjadi pemandu dan
pembimbing.
Daya juang seperti dulu berkembang
menjadi ‘Competency Level’. Mahasiswa
tidak lagi hanya beradu pengetahuan
saja tetapi juga mengembangkan
keunikan personal yang lebih
menonjolkan perilaku. Mereka berjuang
untuk ‘beda dengan yang lain’.
Yang juga menghilang adalah
percaya diri untuk tatap muka karena
tergantikan oleh budaya media
sosial yang lebih mengedepankan
budaya tulis dan kurang menonjolkan
pendekatan personal. Keakraban harus
diperjuangkan lewat ‘kopdar’ yang
kadang mengecewakan karena yang
ditemui berbeda jauh dengan yang ada
di sosial media.
Motivasi terbesar harus ditempa
melalui cara yang tidak konvensional
tetapi lebih terarah pada kemampuan
untuk memperkenalkan konsep
Personal Branding, dan bukan sematamata pencitraan melalui unduhan
berbagai gaya tetapi lebih kepada Trust
Building antara seorang yang memiliki
potensi unik dan dunia kerja yang
membutuhkannya.
Opini dan rekam jejak dapat
diketahui dari berbagai teknologi
sehingga jangan mencoba untuk
‘menambah nilai jual’ hanya lewat
tampilan CV yang menarik dan ‘laku’ di
masa lalu.
Kemampuan kerjasama di masa
lalu yang tercermin dari kegiatan belajar
bersama, maupun nonton bareng, baik
antar teman sekampung, satu suku, dan
dengan bahasa ibu yang serupa sudah
tidak memadai. Pembekalan budaya
antar negara harus jadi materi kuliah

yang wajib diberikan.
Ada yang hilang dari metode
pendidikan masa lalu, namun tetap
ada beberapa nilai yang masih relevan
dengan tantangan masa kini yaitu
integritas, kerjasama dan peresapan nilai
budaya lokal.
Untuk menghadapi persaingan
masa depan, diperlukan beberapa
perubahan mendasar yang dapat
dilakukan oleh mahasiswa, yakni:
Pertama, memiliki pola pikir global
dan kesediaan bergabung dalam
berbagai jejaring sosial,
Kedua, mau berubah setiap saat dan
adaptif dengan berbagai lingkungan,
Ketiga, mempunyai pemahaman
tetang risiko, baik risiko yang
menyangkut karir maupun kemampuan
keuangan sehingga tidak takut
kehilangan pekerjaan, karena dimasa
datang, jarang kegiatan bisnis yang
statik, semua aktivitas dilakukan secara
mobile dan berkembang sangat cepat.
Keempat, etika bisnis mutlak
diperlukan sebagai pedoman kerja
maupun menjadi pilar penjaga yang
solid dalam menjalankan setiap aktivitas
organisasi. Tidak cukup diberikan
sebagai materi pembelajaran tetapi
dilengkapi dengan contoh riil, nyata, dan
akurat serta akibat yang ditimbulkan
apabila terdapat pelanggaran kode etik
ini.
Kelima, jangan mengharapkan
birokrasi yang berlapis dalam
pengambilan keputusan karena batas
hirarki sudah tergantikan oleh sebaran
informasi dalam hitungan detik. Jadi,
dalam proses pengembangan personal
perlu diberikan bekal yang lebih dari
cukup untuk merumuskan keterampilan
pengambilan keputusan di masa datang.
Keenam, konsep ‘balance of life’
menjadi penting, dengan demikian,
kegiatan yang dicari adalah ‘bekerja’
sambil ‘bersenang-senang’, perusahaan
yang mampu menyediakan tempat
aktivitas hidup yang seimbang akan
menjadi dambaan setiap orang.
Ketujuh, berani menerima
tantangan yang bukan tidak mungkin
belum pernah dialami sebelumnya.
Kedelapan, melatih untuk selalu
fokus dalam setiap kegiatan, sehingga
memilik keunikan dan ciri khusus yang
tidak mudah ditiru oleh orang lain,
bahkan lewat bantuan teknologi.
Kesembilan, di masa depan semua
jenis pekerjaan atau profesi memerlukan
sertifikasi, dengan demikian output yang
diperoleh akan menjadi standar yang
berlaku di manapun. Hal ini seyogyanya
sudah menjadi rencana kerja bagi para
pembimbing di FEBUGM yang baru saja
memperoleh predikat sekolah bisnis
terbaik di Indonesia.
Dengan demikian tercetaklah
alumni dengan predikat HMPA (Highly
Motivated Professional Adult).

EXCHANGE STUDENTS’ COMMENTS

EXCHANGE STUDENTS’ COMMENTS

Yogyakarta is a wonderful city to study and get to
know a part of Indonesia. The city is cheap and easy to

live in. Food and transportation are easy to be organized, you can
as an international student quickly adapt to the circumstances.
For me, learning about culture and lifestyle was more important
in my two semesters at FEB UGM than gaining theoretical
knowledge. I feel like I got a good impression and

experience in how studying in Indonesia works
compared to my home country Germany. Each course

CHARLOTTE KRAEMER
Pforzheim University, Germany

taught me a lot about Indonesia and its people, so that I feel
more prepared to work abroad, and interact with international
colleagues and partners - especially in Indonesia. Understanding
Indonesia’s culture is difficult as a European student. I feel

lucky, that I got to spend two full semesters at
UGM so that I got the opportunity to have more time for that.

There were times, when learning the culture was exhausting
and disappointing but all in all it was an interesting learning
process and very important for me. Only by spending a long time
in the country and concentrating on getting to know the culture,
Europeans can understand better where Indonesians come from
and why they work and live the way they do.

EB News NOVEMBER 2014 32

STUDENT CORNER

Lay Monica Ratna Dewi

Tak Hanya IP Tinggi
Karena waktu merupakan hal
yang sangat penting, ia harus
mengeliminasi kegiatankegiatan yang kurang memiliki
value added. Ia lebih memilih
untuk memfokuskan diri
pada hal-hal yang dapat
mengembangkan kemampuankemampuan yang akan ia
butuhkan di masa depannya.

I

alah Lay Monica Ratna Dewi (21),
mahasiswi Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomika dan Bisnis
(FEB) UGM angkatan 2011. Gadis yang
kerapkali disapa Monica ini dalam
enam semester terakhir Indeks Prestasi
Kumulatif (IPK) yang diraihnya bertahan
di angka mendekati sempurna, 3.99. Tak
hanya itu, Maret lalu Monica bersama
timnya berhasil menjadi pemenang
pertama dalam Spring 2014 SolBridge
Asian Thought Leaders Case Competition
yang diselenggarakan di Daejeon, Korea
Selatan. Oleh karenanya, tidak heran
April 2014 lalu ia pun menjadi menjadi
salah satu penerima Book Prize Awards
yang diberikan oleh Association of
Chartered Certified Accountants (ACCA),
Inggris.
ACCA memberikan penghargaan
kepada mahasiswa yang tak hanya
memiliki IPK tinggi tetapi juga aktif
dalam kegiatan organisasi. Memang
rupanya, selain menonjol dalam
bidang akademik Monica juga aktif
dalam keorganisasian. Dalam kiprah
organisasinya, ia menggeluti bidang
jurnalistik sejak awal tahun pertama
menjadi mahasiswi FEB UGM. Ia
memang jatuh cinta pada bidang ini
sejak SMA. Pada 2010, tahun keduanya
di SMA , Monica telah ditunjuk menjadi
koordinator Group Project Jurnalistik
Van Lithuntuk menulis artikel berjudul
“Teknologi Bisa Jadi Racun, Sadarilah!”
yang dipublikasikan di Kompas MUDA
pada 22 Oktober 2010.
33

EB News NOVEMBER 2014

Memasukki masa kuliah, Monica
bergabung dengan Badan Penerbitan
dan Pers Mahasiswa (BPPM)
Equilibrium. Kemudian dari tahun 2012
hingga 2013, ia pun diberikan amanah
untuk menjadi kepala divisi Penelitian
dan Pengembangan BPPM Equilbrium.
Sejumlah artikel yang ditulis Monica
juga pernah terbit di media massa,
salah satunya adalah artikel berjudul
“Akuntansi Manajemen untuk UMKM:
Jangan Sekadar untuk Formalitas”
yang dimuat di koran Kontan pada 31
Oktober 2013.
Selain aktif dalam bidang
keorganisasian, Monica juga aktif
menjadi asisten dosen serta asisten
peneliti. Semester ini merupakan
kedua kalinya ia menjadi asisten
peneliti. Setumpuk kesibukan yang
dijalani oleh Monica rupanya kerap juga
menyebabkan ia sulit untuk mengatur
waktu dengan baik. Namun, beriringan
dengan pengalamannya yang terus
bertambah, ia mulai menemukan kunci
dari mengatur waktu tersebut. Menurut
mahasiswi yang doyan menonton serial
detektif ini, karena waktu merupakan
hal yang sangat penting ia harus
mengeliminasi kegiatan-kegiatan yang
kurang memiliki value added. Ia lebih
memilih untuk memfokuskan diri pada
hal-hal yang dapat mengembangkan
kemampuan-kemampuan yang akan
ia butuhkan di masa depannya.“Saya
harus bisa berkata tidak pada banyak
hal dan tawaran, walaupun mereka

menggiurkan,” tambah Monica.
Prestasi-prestasi yang diraih gadis
pengagum Franklin Delano Roosevelt
ini rupanya berawal dari sebuah sejarah
yang cukup panjang. Kepada tim EB
News, Monica bercerita bahwa semasa
di bangku sekolah dasar ia merupakan
salah satu anak yang paling pendek
dan tidak begitu pintar. Ia merasa
diremehkan dan sering dikucilkan oleh
kawan-kawan sekolahnya. Berawal
dari perasaan yang tidak mengenakkan
hati itulah Monica berjanji pada dirinya
sendiri untuk tidak lagi menjadi
seseorang yang diremehkan. “Karena
itulah saya menjadi ambisius dan
perfeksionis selama 12 tahun terakhir,”
ujarnya sambil tersenyum kecil.
Tak hanya berbagi soal sejarah
kegigihan Monica dalam perkuliahan
ini, ia pun juga mau mengungkapkan
resep rahasia mendapatkan IPK yang
tinggi dan berprestasi. Menurutnya hal
yang terpenting dalam belajar adalah
menikmatinya. Ia mengatakan, “jika
tidak dapat menikmatinya, strategi
apapun tidak akan berhasil.” Mengambil
‘pelajaran’ dari dosen favorit Monica,
Prof. Arief Suadi, ia juga percaya bahwa
kerja keras harus terus ditanamkan
dalam kehidupan. Menurutnya,
kerja keras bukan hanya kunci untuk
sukses melainkan juga prinsip utama
kehidupan, the foundation of life, not
merely an instrument. [Nela]

FEB IN PICTURES

19 Desember 1951, Ir. Soekarno meletakan batu pertama Universitas Gadjah Mada, universitas
buatan pribumi Indonesia (sumber: arsip UGM)

Anies Baswedan,
alumni FEB UGM
(dulu FE UGM)
yang kini menjabat
sebagai Menteri
Kebudayaan dan
Pendidikan Dasar
Menengah Republik
Indonesia, semasa
masih di bangku
kuliah menuliskan
sebuah artikel
dalam majalah edisi
tahun 1991 BPPM
Equilbrium dengan
judul “Masa Depan,
Sebuah Renungan”.
EB News NOVEMBER 2014 34

ADVERTORIAL

Wira Ditta Lokantara

Terus Bereksplorasi
Hidup selama satu tahun di negeri kincir angin
meninggalkan kesan tersendiri bagi Wira. Ia
mengaku belajar banyak hal dari pengalamannya
selama menjadi mahasiswa di sana.

M

elakukan international exposure
merupakan sebuah keharusan
bagi mahasiswa International
Undergraduate Program (IUP) FEB
UGM. Salah satu kegiatan yang dapat
dilakukan oleh mahasiswa adalah
mengikuti program Double Degree
(DD). Wira Ditta Lokantara merupakan
salah satu mahasiswa IUP jurusan Ilmu
Ekonomi yang telah menyelesaikan
program DD-nya di Erasmus Universiteit
Rotterdam, Belanda.
Menurut Wira, sistem perkuliahan
yang ada di Erasmus Universiteit
Rotterdam berbeda dengan yang
berada di UGM. Di sana digunakan
sistem block. Dalam satu tahun
ajaran terdapat lima block yang harus
diselesaikan oleh mahasiswa DD. Selain
itu, terdapat pula perbedaan yang jelas
dalam kebebasan memilih mata kuliah.
Para mahasiswa tidak perlu pusing
terhadap pembatasan kuota dalam
setiap kelas. “Singkatnya, kita memilih
mata kuliah sebanyak apapun yang kita
mau,” tandasnya.
Sebagai mahasiswa DD, Wira harus
menyelesaikan mata kuliah dengan

35

EB News NOVEMBER 2014

bobot 60 ECTS atau setara dengan 45
Satuan Kredit Semester (SKS) di UGM.
Mahasiswa harus mengikuti seluruh
block dan harus mencapai passing
grade, yakni 55 atau setara C+ untuk
seluruh mata kuliah. Mahasiswa juga
diharuskan untuk mengambil seminar
dan menyelesaikan thesis dengan
supervisor dari Erasmus Universiteit
Rotterdam.
Selain aktif berkuliah, Wira juga
terlibat dalam kegiatan non-akademik.
Ia bergabung dalam Perhimpunan
Pelajar Indonesia (PPI) Rotterdam.
PPI Rotterdam sendiri memiliki
kegiatan-kegiatan di bidang sosial,
akademik, olahraga, dan wirausaha
yang ditujukkan bagi pelajar dan warga
Indonesia di Rotterdam. “Kegiatan
di PPI mempermudah adaptasi kita
karena mereka sangatlah welcome dan
membantu,” tambahnya.
Hidup selama satu tahun di negeri
kincir angin meninggalkan kesan
tersendiri bagi Wira. Ia mengaku
belajar banyak hal dari pengalamannya
selama menjadi mahasiswa di sana.
Menurutnya, kondisi serta lingkungan

di Rotterdam yang sangat menghargai
usaha dan kinerja pekerja menjadikan
warga setempat melakukan kegiatan
yang berhubungan dengan rumah
tangga sendiri. Sebagai mahasiswa, ia
juga menjadi lebih menghargai uang
sehingga kegiatan memasak menjadi
salah satu agenda sehari-hari yang
luput dari absen.
Meski demikian, Wira merasa
beruntung karena Belanda memiliki
toko Chinese yang lengkap. Sehingga
ia dapat dengan mudah menemukan
bumbu-bumbu khas Indonesia, juga
barang-barang lain seperti kecap, saus
sambal, tahu, dan tempe. Hal itulah
yang membuatnya merasa tidak pernah
jauh dari rumah.
Selain itu, ia juga belajar untuk
menghargai waktu pekerja karena
warga Belanda sangat menghargai
hal itu. Di Belanda tidak dikenal
istilah overtime atau bekerja kurang
dari waktu yang seharusnya. Mereka
akan pulang tepat saat waktu bekerja
mereka habis. Menghargai pejalan kaki
dan pengendara sepeda juga menjadi
pelajaran tersendiri baginya. Ia kagum
dengan kemauan warga setempat
untuk menggunakan sepeda maupun
alat transportasi publik demi menjaga
kelestarian lingkungan.
Setelah memperoleh pengalaman
menjelajah negeri Belanda dan Benua
Biru selama satu tahun, Wira mengaku
masih ingin kembali pergi ke negara
berkembang. Menurutnya, di sanalah ia
bisa merasakan bahwa terdapat banyak
hal yang perlu diperbaiki di Indonesia.
Hal tersebut memantik semangatnya
untuk suatu saat dapat berpartisipasi
langsung dalam pembangunan. “Kita
hidup untuk selalu belajar. Saya
mempunyai cita-cita untuk mempunyai
kesempatan berkeliling melihat dunia
dari perspektif berbeda. Saya merasa
proses pembelajaran akan lebih cepat
apabila saya mengenal lingkungan baru
atau hal baru,” ujarnya. [Nadia]

UNIT NEWS

Pelatihan DIKPIMA PT Pegadaian

P

enelitian dan Pelatihan Fakultas
Ekonomika dan Bisnis (P2EB)
kembali melaksanakana kegiatan
Diklat Pimpinan Utama (DIKPIMA) PT
Pegadaian untuk kedua kalinya. Acara
pembukaan DIKPIMA berlangsung
pada 22 September lalu di Auditorium
Djarum Foundation lantai 6 Pertamina
Tower Fakultas Ekonomika dan Bisnis
Universitas Gadjah Mada (FEB UGM).
Acara pembukaan dihadiri langsung
oleh Sri Mulyanto selaku Direktur
Utama dan SDM PT Pegadaian dan
Rofia Afifaziz selaku GM DIKPIMA. Acara
ini berlangsung pada pukul 8.00--9.30.
Acara pembukaan dipimpin langsung
oleh Muhammad Edhie Purnawan,
M.A., Ph.D selaku Wakil Dekan Bidang
Penelitian, Kolaborasi, Alumni dan

Pengabdian Masyarakat. Total terdapat
24 peserta kegiatan ini yang terdiri
dari 22 peserta laki-laki dan 2 peserta
perempuan.

unggul pada masa mendatang dan
merupakan program pengembangan
kapabilitas karyawan/karyawati yang
mumpuni.

Kegiatan DIKPIMA ini akan
berlangsung hingga 31 Oktober 2014,
terdapat 41 sesi dan akan berlangsung
selama 37 hari. Kegiatannya tidak hanya belajar di kelas melainkan akan ada
on field program dimana para peserta
kembali ke tempat kerja untuk mempraktekan apa yang sudah dipelajari.

Materi yang diajarkan dalam
kegiatan DIKPIMA ini beragam mulai
dari manajemen pemasaran, keuangan,
dan stratejik. kondisi perekonomian
Indonesia hingga cross functional
management. Pada akhir kegiatan
nanti akan dilaksanakan penilaian
untuk menilai lulus atau tidak
lulusnya peserta. Kegiatan DIKPIMA ini
menggunakan standarisasi kelulusan
yang tinggi. Hal ini dimaksudkan agar
peserta DIKPIMA yg dinyatakan lulus
benar-benar peserta yang teruji, terasa,
dan memiliki jiwa kepimpinan yang
tinggi.

Kegiatan DIKPIMA sendiri didesain
dan bertujuan untuk meningkatkan
daya saing yang tinggi dari para peserta
dalam rangka memasuki persaingan
pasar global yang semakin terbuka.
Selain itu, juga mempersiapkan insan
pegadaian sebagai kandidat pimpinan

Gadjah Mada International Conference
on Economics and Business 2014

K

antor Publikasi Fakultas
Ekonomika dan Bisnis (FEB)
Universitas Gadjah Mada (UGM)
kembali mengadakan acara tahunan
yang bertajuk 2nd Gadjah Mada
International Conference on Economics
and Business 2014. Acara ini merupakan
konferensi yang diselenggarakan oleh
Kantor Publikasi FEB UGM sebagai
manifestasi terhadap komitmen yang

dimiliki, yaitu mempromosikan dan
mensosialisasikan budaya publikasi
terhadap karya ilmiah baik berskala
nasional maupun internasional.
Rangkaian 2nd Gadjah Mada
International Conference on Economics
and Business 2014 diawali dengan
Call for Papers. Pada acara ini,
Journal of Indonesian Economy and
Business (JIEB) akan mengundang

para akademisi, praktisi, peneliti, dan
khalayak umum, baik yang berasal
dari dalam negeri maupun luar negeri
untuk mempresentasikan sekaligus
mempublikasikan hasil karya ilimiah
mereka. Acara ini sekaligus menjadi
ajang untuk saling bertukar ide dan
pemikiran tentang isu-isu ekonomi yang
sedang hangat. [Azka]

EB News NOVEMBER 2014 36

UNIT NEWS

Investment Gallery FEB UGM,
Edukasi dan Pengembangan
Pelatihan Pasar Modal

I

nvestment Gallery FEB UGM didirikan
sebagai sarana edukasi dan pelatihan
pasar modal khususnya bagi civitas
akademika FEB UGM serta masyarakat
umum. Pengenalan yang diberikan
mencakup produk pasar modal (saham,
obligasi, reksa dana), mekanisme
transaksi saham, analisa fundamental
dan teknikal, juga riset-riset tentang
ekonomi, saham serta obligasi. Secara
rutin investment Gallery menawarkan
dan menyelenggarakan pelatihan
berupa:
1. Pengenalan Produk Investasi
Pasar Modal
Pelatihan ini bertujuan untuk
memberikan pengetahuan dan
pemahaman mengenai investasi dan
produk-produk investasi khususnya di
pasar modal seperti saham, obligasi
dan reksa dana.
2. Analisa Fundamental
Pelatihan ini memberikan
pengetahuan dasar-dasar analisa
dalam memilih saham menggunakan
data ekonomi makro dan laporan
keuangan perusahaan. Melalui
pelatihan ini perserta diharapkan
mampu memilih saham-saham mana
yang akan dibeli.
37

EB News NOVEMBER 2014

3. Analisa Teknikal
Pada pelatihan ini peserta dibekali
dengan pengetahuan analisa tren
harga saham dengan mempelajari
pergerakan harga saham masa lalu
beserta indikator-indikator analisa
teknikal modern. Melalui pelatihan
ini peserta diharapkan mampu
mengetahui tren harga saham dan
membuat keputusan beli atau jual.
4. Mekanisme transaksi
Peserta akan mendapatkan
pengetahuan mengenai mekanisme
transaksi saham mencakup informasi
seperti: rekening efek, proses jual dan
beli saham, sistem transaksi online,
biaya-biaya dalam transaksi saham.
Selain melalui kegiatan pelatihan
di Investment Gallery, edukasi juga
dilakukan melalui kelas atau mata
kuliah yang berhubungan dengan
investasi dan pasar modal. Salah
satu kegiatan di kelas tersebut
berupa simulasi transaksi saham
dengan sistem yang dikembangkan
oleh Danareksa Research Institute.
Melalui sistem simulasi ini, mahasiswa
bisa melakukan transkasi jual dan
beli saham secara online sekaligus
mencoba menerapkan ilmu yang
diperoleh di kelas. Mahasiswa bisa

mendapatkan gambaran yang lebih
riil mengenai kegiatan investasi di
pasar modal dan lebih terpacu lagi
untuk selalu update dengan data dan
informasi terbaru.
Pada bulan September 2014,
Investment Gallery juga ikut serta dalam
kegiatan Open House Dashboard &
Corner FEB UGM 2014. Pada kesempatan
ini, Investment Gallery memberikan
informasi kepada peserta mengenai
fungsi dan kegiatan apa saja yang ada
dan dilakukan. Peserta Open House
yang berkunjung tidak hanya berasal
dari FEB UGM namun juga dari MM UGM
dan M.Si dan Program Doktoral.
Investment Gallery juga
terbuka untuk bekerjasama dengan
mahasiswa atau pihak lain dalam
menyelenggarakan kerjasama edukasi
pasar modal. Beberapa kegiatan lomba
simulasi antar mahasiswa dan antar
kampus juga pernah diselenggarakan.
Selain itu Investment Gallery bekerja
sama dengan Kampus dan Bursa Efek
Indonesia juga aktif melaksanakan
kegiatan Sekolah Pasar Modal bagi
mahasiswa atau masyarakat umum
yang ingin mengetahui pasar modal
secara lengkap.

UNIT NEWS

Peresmian DEQPI dan Sosialisasi WWU
Index di Tingkat Nasional & ASEAN

S

ebagai sekolah bisnis yang telah
memperoleh akreditasi AACSB,
Fakultas Ekonomika dan Bisnis
Universitas Gadjah Mada (FEB UGM)
tidak hanya berkomitmen memenuhi
standar keunggulan, tapi juga untuk
terus melakukan perbaikan. Hal
tersebut dilakukan guna memastikan
bahwa lembaga akan terus memberikan
pendidikan berkualitas tinggi untuk
mahasiswa. Dashboard for Excellence
Quality and Productivity Improvement
(DEQPI) merupakan salah satu program
di bawah naungan FEB UGM untuk
peningkatan bidang penelitian.
Tanggal 12 Juni 2014 diadakan
seminar perdana DEQPI yang diawali
dengan peresmian DEQPI yang
dilakukan oleh Dekan FEB UGM, Prof.
Wihana Kirana Jaya, M.Soc.Sc., Ph.D.
Dalam sambutannya, Wihana yang
didampingi oleh Muhammad Edhie
Purnawan, MA., Ph.D selaku Wakil
Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian
kepada Masyarakat, Kerja Sama
dan Alumni, menyampaikan bahwa
dashboard ini merupakan salah
satu program impact inovation yang
bertujuan untuk meningkatkan research
and teaching dengan fokus kualitas dan
produktivitas. Program tersebut adalah
sejalan dengan semangat AACSB.
Seminar perdana DEQPI
dimaksudkan dengan pembahasan dan
sosialisasi penelitian “Working Women
Unique (WWU) Index” hasil kerjasama

antara Universitas Gadjah Mada (UGM),
Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)
dan Universiti Kebangsaan Malaysia
(UKM). Hadir sebagai pembicara dalam
seminar, Rika Fatimah P.L., ST., M.Sc.,
Ph.D (Direktur DEQPI) dan Dr. Nahiyah
Jaidi Faraz (UNY) bertindak sebagai
moderator.
Rika Fatimah P.L., ST., M.Sc., Ph.D,
dalam presentasinya menyampaikan
bahwa penelitian ini dilatarbelakangi
oleh keinginan untuk menggantikan
perspektif gender menjadi “unik”.
Pembahasan tentang gender
umumnya berangkat dari psikologi
dan sosiologi. Sedangkan pada
penelitian WWU Index, perspektif yang
digunakan berasal dari manajemen
bisnis, terutama produktivitas dan
kualitas. Lebih lanjut, Rika Fatimah
P.L., ST., M.Sc., Ph.D, menyampaikan
bahwa temuan dalam penelitian
WWU Index Indonesia-Malaysia ini
sangat menarik untuk disikapi dengan
menjadikan diantaranya best practice
dan identifikasi room for improvement.
Indeks ini dapat dijadikan rujukan untuk
pengambilan keputusan peningkatan
kualitas & produktifitas dengan
pendekatan yang lebih terfokus, efisien
dan prioritas.
Seminar ini dibawakan oleh
Sudiyanti S.E., M.Sc (UGM) sebagai MC
acara, dan seminar diikuti oleh dosen
serta mahasiswa FEB UGM, dosen
FE UNY, perwakilan dari beberapa

instansi, yaitu Ikatan Wanita Pengusaha
Indonesia (IWAPI), Dinas Tenaga Kerja
dan Transmigrasi (Disnakertrans)
provinsi dan kabupaten Bantul, Badan
Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW),
dan WIPI.
Sosialisasi WWU Index masih
berkelanjutan sampai saat ini, di
kota Yogyakarta melalui Rangkaian
Program DEQPI dengan BAPPEDA DIY,
pengembangan WWU Index ditargetkan
untuk menghasilkan rumusan
kebijakan dan sistem bekerja yang
unik bagi wanita bekerja berdasarkan
pada keunikan wanita. Konsep unik
yang dimaksud bertujuan untuk
meningkatkan produktivitas wanita
bekerja sehingga wanita dapat bekerja
dengan lebih bahagia tanpa harus
mengesampingkan keluarganya dan
tetap bekerja secara profesional.
Pengembangan WWU Index
for SEA (South East Asia) juga
dilakukan agar dapat mencakup
wilayah dan pendekatan sosialiasi
di ASEAN. Cakupan yang lebih luas
memungkinkan benchmarking
sehingga bisa didapatkan best practice.
Bekerja sama dengan RISPRO LPDP
(Lembaga Pengelola Dana Pendidikan)
Kementerian Keuangan, status proposal
WWU Index for SEA saat ini adalah
sudah sampai ketahap final yaitu
persiapan visitasi oleh Tim Evaluasi
RISPRO LPDP. [Tim DEPQI]

EB News NOVEMBER 2014 38

UNIT NEWS
Prof. Dr. Jamal Othman (Profesor
dibidang Ekonomi dan Manajemen,
Universiti Kebangsaan Malaysia), Prof.
Somchai Jitsuchon (Direktur Lembaga
Penelitian dan Pengembangan, Thailand),
Dr. Annie Koh (Wakil Rektor, Singapore
Management University), Dato’ Hafsah
Hashim (CEO SME Corporation, Malaysia),
Burhan Rasool (Direktur Punjab IT,
Pakistan), Prof. Dr. Robert Ian McEwin
(Pakar Kebijakan, Australia).

DEQPI Go Internasional:
PIDD & TechnoMed 2014

P

angkor International Development
Dialogue (PIDD) atau Dialog
Pembangunan Internasional
Pangkor adalah kegiatan internasional
yang menghadirkan pihak pemerintah,
pakar, praktisi, akademisi dari berbagai
negara dan latar belakang untuk
membahas isu yang dapat dijadikan
panduan berbagai pihak dalam
menjalankan kegiatan serta membuat
kebijakan ditingkat negara, nasional, dan
global. PIDD 2014 akan menjadi ruang
diskusi isu-isu seputar kekayaan inklusif
dalam tata pemerintahan yang baik
dan pembangunan sosial ekonomi atau
dalam tema besar dialognya yaitu “Good
Governance for Inclusive Wealth”.
Untuk negara-negara yang cepat
berkembang, kesenjangan antara kelas
masyarakat dapat mengakibatkan
masalah sosial, ekonomi, dan
kesejahteraan. Oleh karena itu, menjadi
hal yang penting untuk membendung
munculnya ketidaksetaraan dan
konsekunsinya. Selanjutnya PIDD 2014
mengangkat sub pembahasan tema yang
menyoroti pada Layanan Kualitas Tinggi
untuk Transformasi Sosial Ekonomi,
Sektor Swasta-Publik sebagai Pendorong
Perubahan untuk Pertumbuhan, dan
Kekayaan Inklusif Untuk Pembangunan
Berkelanjutan dan Kemajuan Sosial.
Rika Fatimah P.L., S.T., M.Sc.,
Ph.D. selaku Direktur DEQPI yang juga
merupakan salah satu pembicara pada
sub pembahasan isu-isu “Sektor PublikSwasta sebagai Pendorong Perubahan
untuk Pertumbuhan Ekonomi”
mengetengahkan sebuah model
mekanisme hibrid dalam pembangunan
sosial ekonomi untuk masyarakat
yaitu Public-Private Social Business
(PPSB) Partnership atau Kemitraan
Sektor Publik-Swasta Bisnis Sosial
39

EB News NOVEMBER 2014

untuk Kekayaan Inklusif. Menurutnya,
kemitraan publik/pemerintah dan swasta
seharusnya mampu berkembang dari
sekedar penyediaan kebutuhan tenaga
kerja tetapi lebih ke arah penciptaan
kebutuhan tenaga kerja. Salah satunya
melalui model bisnis sosial. Berbeda
dengan model bisnis konvensional, model
bisnis sosial ditujukan untuk kesiapan
kewirausahaan masyarakat menengah
kebawah.
Mekanisme hibrid untuk
pemberdayaan sosio-ekonomi
masyarakat merupakan salah satu
realisasi kemitraan pada skema PublicPrivate Social Business (PPSB) Partnership
sebagaimana dipaparkan oleh Rika
Fatimah P.L., S.T., M.Sc., Ph.D. Kemitraan
PPSB dapat dilaksanakan salah satunya
sebagai pendekatan baru implementasi
Corporate Social Responsibility (CSR). CSR
bertujuan meningkatkan perekonomian
yang berorientasi pada masyarakat
menengah ke bawah. Adanya mekanisme
hibrid antara sektor publik, swasta dan
bisnis sosial dapat mengoptimalkan
peran CSR terhadap keberlanjutan bisnis
sosial bukan saja melalui pendanaan
atau program yang bersifat instan tetapi
pendampingan yang juga berkelanjutan.
Tahun ini PIDD diadakan pada
tanggal 19-21 Oktober 2014 di Perak,
Malaysia, dan dihadiri oleh 300 peserta
dari berbagai negara. Adapun pembicara
pada PIDD 2014 berjumlah 20 orang yang
mewakili berbagai pihak dari badan
dunia, pemerintah, pendidikan, para
pakar, dan swasta. Beberapa diantaranya
adalah Morinosuke Kawaguchi (Pakar
Futuristik dari Jepang), Prof. Dr Rajah
Rasiah (Pakar Ekonomi Harvard), Tan Sri
Jeffrey Cheah (Pendiri Sunway Group,
Malaysia), Michelle Gyles-McDonnough
(UN Development Programme, Jamaica),

Partisipasi DEQPI dikegiatan
internasional selanjutnya adalah
Seminar Internasional dan Pameran
TechnoMed 2014. Pengembangan
Teknologi Kedokteran dan Teknologi
Pelayanan Kesehatan (TechnoMed)
adalah kolaborasi multidisiplin untuk
mengembangkan teknologi medis dan
penyediaan layanan kesehatan yang
berkualitas, aman, dan efisien. Inovasiinovasi baru pengembangan di bidang
kedokteran menjadi hal yang prioritas
dalam mengurangi ketergantungan
produk impor dan membangun
kemandirian. Inovasi tersebut tidak hanya
terbatas pada alat dan bahan medis
saja, namun juga metode penyediaan
pelayanan yang lebih cepat dan efisien.
Misalnya, sistem manajemen kualitas
yang terintegrasi dalam pelayanan rumah
sakit.
DEQPI menawarkan indeks
pengukuran Intelligent Health Service
Unique Index (IHSU), suatu indeks
pengukuran kualitas yang mandiri dan
berkelanjutan. Index ini bersifat dinamis,
nyata dan fleksibel tanpa meninggalkan
ke-Indonesian yang kental. Indeks
ini bertujuan untuk memaksimalkan
pelayanan pasien sehingga tercipta
“manajemen pelayanan kesehatan
yang berkualitas, aman, dan efisien”.
Indeks ini disarankan untuk diterapkan.
Ideks ini juga dapat digunakan sebagai
rekomendasi bagi pemerintah dalam
membuat kebijakan, menyediakan
layanan kesehatan, dan organisasi
non pemerintah pemantau kesehatan.
Di samping itu, pemakaian database,
analisis dan peng-indeks-an laporan
dapat dilakukan secara online.
Bekerjasama dengan mitra, DEQPI
memperkenalkan sebuah program
pengukuran kesehatan yang disebut
Occupational Health Services System.
Sistem ini berfungsi sebagai pengukur
kesehatan karyawan dan kelayakan
tempat kerja disuatu perusahaan
(Kesehatan dan Keselamatan Kerja).
Sistem yang terdiri atas 3 bagian yaitu
Training, Konsultasi dan Pengecekan
berkala kesehatan karyawan. [Tim DEQPI]

UNIT NEWS

The National Program of Unity in Diversity and the Role of
Religion in Economic Life: Indonesian Perspective

K

amis (18/12) Dashboard for
Excellence Quality and Productivity Improvement (DEPQI)
Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB)
UGM menyelenggarakan diskusi ilmiah.
Kegiatan yang dilaksanakan di ruang
Kertanegara gedung FEB UGM ini mengangkat tema, “The National Program
of Unity in Diversity and The Role of
Religion in Economic Life: Indonesian
Perspective”. Berkolaborasi dengan seorang asisten profesor Harvard Business
School, Sophus A. Reinert, B.A., M.Phil.,
Ph.D., DEPQI menghadirkan sebuah kegiatan diskusi ilmiah guna membangun
opini dari akademisiakademisi di FEB UGM secara intelektual, komunikatif, dan representatif.
Diskusi ilmiah dimulai pukul
09.30 WIB dengan kata sambutan
yang disampaikan oleh Wakil Dekan
Bidang Penelitian, Pengabdian kepada
Masyarakat dan Kerjasama dan Alumni
FEB UGM, Muhammad Edhie Purnawan, M.A., Ph.D. Usai sambutan yang
dilanjutkan dengan pemukulan gong
tanda dimulainya diskusi ilmiah ini, Rika

Fatimah P.L., S.T., M.Sc., Ph.D. selaku
moderator memulai jalannya kegiatan
diskusi dengan memberikan sedikit
ulasan latar belakang Reinert hadir di
Indonesia. Kehadiran Reinert di Indonesia rupanya didorong oleh keinginannya
untuk memahami lebih lanjut mengenai
“Unity in Diversity” (Bhineka Tunggal
Ika). Asisten profesor Harvard Business
School asal Norwegia ini percaya bahwa
mempelajari Unity in Diversity dengan
hanya membaca semua jurnal ataupun
artikel yang tersedia tidak akan cukup.
Ia yakin dengan mendatangi langsung
asal muasalnya akan mampu menambah lebih jauh perspektif dan pengetahuan Reinert mengenai seluk beluk
Unity in Diversity.
Jalannya diskusi berjalan dengan
interaktif. Diskusi dua arah ini membicarakan mengenai kehidupan di
Indonesia yang mana sebagian besar
penduduknya adalah muslim namun
bukan negara Islam. Beberapa perspektif dibawa dalam diskusi ilmiah ini,
mulai dari pendidikan, politik, hingga
ekonomi. Beberapa studi kasus pun
menjadi bahan diskusi pada siang hari
itu, antara lain adalah mengenai korupsi yang menjadi permasalahan yang
belum berujung di Indonesia. Diskusi
interaktif ini diikuti oleh dosen FEB UGM
serta mahasiswa baik S1 maupun S2.
Terlihat Prof. Tandelilin Eduardus,MBA.,
Ph.D., Dr. John Eddy Junarsin, MBA.,
Nurul Indarti, Sivilekonom, Cand.Merc.,
Ph.D. ikut aktif dalam jalannya kegiatan
ini. Usai diskusi diakhiri dengan kesimpulan oleh moderator, kegiatan ini pun
ditutup pada pukul 11.30 WIB.[Nela]
EB News NOVEMBER 2014 40

UNIT NEWS

Aliansi dan Kemitraan Menuju

One Village One Product, One Person One
Product, dan One Village One Corporation

S

eringkali dikatakan bahwa
kendala utama Usaha Mikro Kecil
dan Menengah (UMKM) untuk
berkembang adalah akses modal.
Pelaku UMKM memiliki keinginan
untuk berkembang, tetapi mereka
menginginkan tambahan modal murah
atau bahkan cuma-cuma. Sementara
itu, bank hanya bersedia memberikan
kredit pada tingkat bunga pasar yang
dirasakan oleh UMKM cukup tinggi.
Akhirnya, permintaan kredit dan
penawaran kredit tidak bertemu. Pada
gilirannya, hal ini akan menghambat
pertumbuhan ekonomi karena banyak
UMKM yang berpotensi namun tidak
berkembang. Di sisi lain, terdapat dana
menganggur yang tidak dipergunakan
dengan baik.
Untuk itu, diperlukan langkah agar
permintaan kredit dan penawaran
kredit dapat dipertemukan. UMKM
didorong agar mampu mengakses
kredit pada tingkat suku bunga pasar.
Di sisi lain, bank didorong untuk
bersedia memberi akses kredit pada
UMKM. Konsultan Keuangan Mitra
Bank (KKMB) menjadi solusi untuk
mempertemukan permintaan dan

41

EB News NOVEMBER 2014

penawaran kredit. KKMB bertugas
mendampingi UMKM agar mampu
mengakses kredit perbankan mulai dari:
persiapan, pencairan, pemanfaatan,
hingga akhirnya kredit dapat dilunasi
dan UMKM berkembang. Keberadaan
KKMB juga meringankan beban
perbankan karena KKMB menjaga
dan mendampingi UMKM mendapat
pelayanan yang mengakses kredit
untuk selalu berada pada jalur yang
tepat dalam melunasi kreditnya.
Menindaklanjuti manfaat besar
KKMB, diperlukan langkah untuk
menyebarluaskan praktek perantara
UMKM dengan bank semacam ini agar
praktek KKMB dapat dikembangkan
di tempat lain. Ketika semakin
banyak UMKM terhubung dengan
bank, mampu mengakses kredit,
dan mampu melunasi kredit, maka
akan terjadi peningkatan produksi
yang pada gilirannya meningkatkan
kesejahteraan masyarakat. Dashboard
Ekonomika Kerakyatan (DEK) FEB UGM
dan Asosiasi Konsultan Keuangan Mitra
Bank (KKMB) Provinsi D.I.Yogyakarta
selanjutnya menyelenggarakan
Sarasehan Memajukan Ekonomi Rakyat

dengan tema “Aliansi PerbankanPerguruan Tinggi, Pemerintah Daerah,
dan Konsultan Keuangan Mitra Bank
menuju One Village One Product, One
Person One Product, dan One Village One
Corporation” pada (27/09/14) silam di
Ruang Audio Visual FEB UGM. Sarasehan
yang dihadiri oleh camat se Provinsi
D.I.Yogyakarta ini menghadirkan
moderator Dr. Bagus Santoso, M.Soc.
Sc., dosen FEB UGM, dan tiga pembicara
yaitu Arif Budi Santoso, Kepala Kantor
Perwakilan Bank Indonesia Yogyakarta,
Iwan Abdi selaku CEO PT Bank Negara
Indonesia Kanwil Semarang, dan
Prof. Gunawan Sumodiningrat, Guru
Besar FEB UGM. Melalui sarasehan ini,
diharapkan KKMB semakin dikenal
oleh masyarakat lewat para camat
sehingga pada gilirannya terjalin
kerjasama yang menghubungkan UMKM
dengan bank. Lebih lanjut, acara ini
bertujuan menyadarkan masyarakat
akan pentingnya pengelolaan keuangan
mengarah pada financial literacyfinancial inclusion-financial passport
yang pada gilirannya mewujudkan
inclusive growth.

UNIT NEWS
Mendukung langkah ini, juga
dibentuk aliansi strategis UGM
dengan Bank Indonesia, Perbankan,
Penjaminan Kredit Indonesia
(JAMKRINDO), Otoritas Jasa Keuangan
(OJK), Pemerintah Derah, masyarakat
yang peduli Memajukan Ekonomi
Rakyat. Pada tataran nasional, FEB UGM
telah menyerahkan Sistem Employment
Income Growth untuk memonitor
implementasi Kartu Indonesia
Wirausaha yang nantinya terintegrasi

dengan program KKMB dalam rangka
mendukung program pemerintahan
Jokowi-Jusuf Kalla.
Seluruh langkah tersebut
merupakan wujud nyata pengabdian
UGM melalui FEB untuk memajukan
ekonomi rakyat dari konsep ke realita.
Dalam rangka dies natalies ke 59, FEB
UGM bertekad memenuhi standar
internasional di era globalisasi tanpa
meninggalkan tanggung jawab

memajukan ekonomi rakyat, FEB UGM
menjulang tinggi dan tetap mengakar
kuat. DEK FEB UGM kemudian
mengimplementasikan konsep FEB
UGM tersebut melalui kegiatan yang
fokus pada aliansi strategis, ToT
Kader Pendamping Masyarakat, dan
Monitoring Success Story Ekonomi
Rakyat dengan bekerjasama dengan
KKMB DIY yang didukung oleh Kantor
Perwakilan Bank Indonesia Yogyakarta
dan Gubernur Provinsi D.I.Yogyakarta.

Kepemimpinan yang Kuat

D

alam Seminar Bulanan Ekonomika
Kerakyatan yang bertajuk
“Membangun Ekonomi Menuju Desa
Mandiri” (2/05/14) dibahas mengenai
aspek kepemimpinan. Narasumber
yang hadir ialah Ir. Darmanto, Dip.H.E.,
M.S. dari Dewan Riset Daerah Provinsi
D.I.Yogyakarta dengan moderator
Eko Suwardi, M.Sc., Ph.D. Kata kunci
pembangunan yang diharapkan
adalah adanya kepemimpinan yang
kuat. Pemimpin yang kuat dapat
mengarahkan anggotanya untuk
mengelola potensi wilayah dalam
suatu usaha produktif. Pemimpin

yang bisa menghubungkan usaha
produktif yang dimiliki rakyat dengan
lembaga keuangan mikro agar
semakin berkembang. Pemimpin yang
bisa mengkomunikasikan program
dan tujuan pembangunan yang
sedang dilaksanakan kepada rakyat.
Pemimpin yang baik akan menjaga
arah pembangunan yang dilaksanakan
oleh anggotanya. Kepemimpinan
dimulai dari tingkat desa, kecamatan,
kabupaten, provinsi, nasional,
internasional, sampai universal. Setiap
tingkatan komunitas masyarakat
membutuhkan pemimpin sesuai

dengan fungsinya masing-masing.
Para peserta yang hadir merupakan
perwakilan dari para akademisi,
pemerintah, perwakilan Badan
Pemberdayaan Masyarakat, koperasi,
pendamping Program Nasional
Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) dari
berbagai daerah, para usahawan, serta
masyarakat dan tim penyuluh lapangan.
Diharapkan pada seminar kali ini para
peserta akan terinspirasi dari karya
nyata meningkatkan kesejahteraan dari
sisi pemerintah maupun masyarakat.

Ekonomika Kerakyatan untuk
Kesejahteraan Rakyat

M

enindaklanjuti acara Workshop
“Pemimpin Masa Depan Yang
Visioner: Membangun Kader Pemimpin
Berjiwa Entrepreneur dan Wawasan
Kebangsaan”, pada 12 Desember
2012 diresmikanlah Dashboard
Ekonomika Kerakyatan (DEK) FEB
UGM oleh Gubernur DIY, Sri Sultan
Hamengkubuwono X dan disaksikan
oleh Rektor UGM, Prof.Pratikno,
Jenderal (Purn.) Luhut Pandjaitan,
Anggota Majelis Wali Amanah UGM, dan
Dekan FEB UGM, Prof. Wihana Kirana
Jaya, Ph.D di auditorium MM UGM
Yogyakarta. DEK akan mewujudkan
Konsep Ekonomi Kerakyatan
dalam Realita dengan Percontohan
Pembangunan Komunitas Kecamatan,
One Village One Product, One Village
One Corporation. DEK memiliki visi
ikut memajukan kesejahteraan umum
sebagaimana tujuan Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang tercantum
dalam Pembukaan UUD 1945. Untuk
mewujudkan visi tersebut, DEK
memiliki lima langkah yang nantinya
diterjemahkan dalam program-program
DEK. Lima langkah DEK ini adalah:

research and development, advokasi
dan sosialisasi, training, consulting, dan
reporting.
DEK menyadari bahwa pencapaian
visi dan pelaksanaan program
memerlukan pendamping masyarakat
yang kompeten. Pendamping dan
pelatih masyarakat ini disebut dengan
Kader Bangsa Wirausaha (KBW), yaitu
kader atau pemimpin yang memiliki
jiwa kebangsaan dan entrepreneurship.
Kompetensi KBW terdiri atas enam
prinsip yaitu: replikasi local leader,
paham potensi daerah, memiliki
usaha produktif bersama, memiliki
lembaga pengelola keuangan, adanya
komunikasi dan silahturahmi, serta
menjaga keberlanjutan kegiatan
pasca program. Kredo ini disebut
Gerakan Nasional Pemberdayaan
Masyarakat-165. Satu Visi, Enam Prinsip,
Lima Langkah. Kredo ini mengingatkan
kita kepada hari lahir Pancasila, 1 Juni
1945 (165).
Pada saat ini, DEK telah menyusun
program-program, seperti seminar
dan workshop bulanan yang akan

dihadiri oleh pembicara-narasumber
yang berkompeten di bidangnya
masing-masing, di antaranya Begug
Purnomosidi, Luhut B. Pandjaitan,
Agus Widjojo, Prof.Totok Mardikanto,
Prof. Dr. Abdul Halim, Dr. Bagus
Santoso, Dr. Hargo Utomo, Dr. Edhie
Purnawan, Prof. Dr. Sri Adiningsih,
Dr. Tony Prasetiantono, serta para
praktisi pemberdayaan masyarakat
di tingkat kecamatan dan desa. Di
samping itu, training dengan tema
leadership, wawasan kebangsaan dan
entrepreneurship juga diadakan oleh
DEK setiap tiga bulan sekali. Pada
akhir periode, DEK akan meluncurkan
laporan kegiatan dan evaluasi program
dalam setahun agar dapat diketahui
oleh masyarakat luas. Seluruh program
ini diharapkan dapat membentuk kader,
pemimpin, yang berjiwa kebangsaan
dan entrepreneurship yang dapat
mendampingi dan melatih masyarakat
sehingga kesejahteraan umum bagi
rakyat Indonesia tercapai.

EB News NOVEMBER 2014 42

FACILITIES

Semangat Going Global
OIA FEB UGM

O

ffice of International Affairs (OIA)
FEB UGM bekerjasama organisasi
mahasiswa dibawah OIA, Global
Leadership Forum (GLF) baru saja
menyelenggarakan acara Study Abroad
Fair “Going Global” pada Senin (10/11).
Acara yang bertempat di Selasar FEB
UGM ini bertujuan mendiseminasi
informasi-informasi tentang prospek
bersekolah di luar negeri melalui
stand-stand Universitas yang telah
bekerjasama dengan FEB UGM.
Mahasiswa dengan penuh antusias
menyerbu setiap stand hingga pameran
sehari tersebut berakhir. Mahasiswa
sangat fokus menanyakan prospek
program summer, exchange, doubledegree, dan master di universitasuniversitas favoritnya.
Acara “Going Global” tersebut
adalah salah satu program OIA
yang menjadi wujud keseriusan FEB
UGM untuk benar-benar menjadi
kampus global, yaitu kampus yang
semakin dipertimbangkan di kancah
internasional. Terlebih akreditasi
Advance Collegiate Schools of Business
(AACSB) yang baru saja didapatkan FEB
UGM memberi konsekuensi dan batu
loncatan untuk memperluas jaringan
kerjasama dengan berbagai universitas
di luar negeri. Diinisiasi melalui program
International Undergraduate Program
(IUP) FEB UGM yang wajib melakukan
short-program, exchange, atau double
degree ke universitas di luar negeri,
OIA kini terus mendorong mahasiswa
reguler untuk dapat menikmati
kesempatan yang sama.
“OIA adalah fasilitas untuk
43

EB News NOVEMBER 2014

seluruh mahasiswa, tidak hanya IUP
saja” tukas Ida, kepala bagian OIA
FEB UGM yang bekerja di bawah Dr.
Rangga Almahendra sebagai manajer
kantor. OIA yang memiliki ruangan di
lantai 3 sayap timur terbuka untuk
didatangi oleh semua mahasiswa.
Semua mahasiswa boleh menikmati
ruangan nyaman dan sejuk OIA untuk
mengerjakan tugas maupun diskusi.
Saat ini FEB UGM telah
melakukan kerjasama dengan 52
Universitas di berbagai benua dan
akan terus bertambah. Selain FEB
UGM bekerjasama mengirimkan
mahasiswa ke universitas partner,
FEB UGM juga menerima mahasiswa
exchange maupun double degree. Total
mahasiswa yang melakukan excange
dan double-degree pada fall semester
ini berjumlah 77 mahasiswa. Mahasiswa
tersebut berasal dari 28 Universitas
di Jepang, Korea Selatan, Norwegia,
Austria, Belanda, Jerman, Prancis,
Portugal, dan Denmark. Pada semester
sebelumnya FEB UGM juga sudah
menerima 22 mahasiswa exchange dan
double-degree.
Dalam menciptakan koordinasi
dan iklim belajar yang baik dalam
mewujudkan going global, OIA
menggandeng mahasiswa sebagai
partner sekaligus memberikan
kesempatan kepada mahasiswa untuk
berinteraksi dengan mahasiswa asing.
Di bawah OIA, terdapat komunitas
mahasiswa, yakni GLF dan Student
Ambassador. GLF yang diketuai
oleh Takumi Wijaya, mahasiswa
Manajemen 2012 adalah komunitas

yang juga merupakan partner OIA
dalam mengadakan programprogram orientasi mahasiswa asing,
kebudayaan, maupun seminar.
Sebelum Study Abroad Fair “Going
Global”, OIA bekerjasama dengan
GLF telah mengadakan kuliah
umum internasional dalam tajuk
“International Week”. Selain itu, masih
banyak program dari GLF baik yang
bersifat formal maupun informal
yang merekatkan hubungan antara
mahasiswa asing dengan mahasiswa
Indonesia serta kebudayaan Yogyakarta.
Di samping GLF terdapat Student
Ambassador yang diketuai oleh Abdul
Azis Muslim, mahasiswa Akuntansi 2011.
Jika GLF bertanggung jawab dalam
mengadakan program, sementara
Student Ambassador bertanggung
jawab dalam memandu mahasiswa
asing. Berperan sebagaimana Liason
Officer, Student Ambassador membantu
mahasiswa asing dalam mengurus
visa/kitas, mencari akomodasi tempat,
maupun transportasi penjemputan
ketika mahasiswa asing datang ke
Yogyakarta. Lebih lanjut, Student
Ambassador juga membantu mahasiswa
asing untuk beradaptasi dalam proses
belajar di FEB UGM.
OIA terus ingin bertransformasi
dalam memfasilitasi seluruh
mahasiswa. Berbagai program terus
digalakkan. Perluasan jaringan
kerjasama dengan berbagai kampus
favorit di dunia terus dilakukan. Impian
FEB UGM untuk going global adalah
sebuah keniscayaan. [Ibe]

EB News NOVEMBER 2014 44

45

EB News NOVEMBER 2014

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful