Anda di halaman 1dari 6

ADMINISTRASI PEMBANGUNAN

Pembangunan Nasinonal dibidang Pertahanan dan Keamanan

Disusun oleh :
M. Aldi Satriadi (13111066)
Veni Pertiwi (13111072)

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI PUBLIK


UNIVERSITAS BANDAR LAMPUNG
2015

Pertahanan dan Keamanan Nasional (Hankamnas)

Pembangunan Pertahanan dan Keamanan Nasional (Hankamnas) tidak dapat dipisahkan


daripada Pembangunan Nasional dalam keseluruhannya. Pada satu pihak Pembangunan
Nasional diarahkan pada tercapainya peningkatan kesejahteraan bangsa, pada pihak lain
tingkat kesejahteraan bangsa itu wajib diamankan terhadap segala bentuk ancaman yang
dapat mengganggu, bahkan dapat menghancurkannya dalam bentuk satu perang terbuka.
Oleh sebab itu perlu adanya kekuatan yang pada satu pihak mempunyai pengaruh pencegahan
terhadap mereka-mereka yang hendak mengancam kelangsungan hidup bangsa, pada pihak
lain mampu menggagalkan ancaman tersebut dengan kekuatan senjata. Kekuatan inti
daripada Pertahanan dan Keamanan Nasional adalah Angkatan Bersenjata, oleh sebab itu
meskipun unsur-unsur daripada kekuatan Hankamnas adalah beranekaragam coraknya,
namun unsur Angkatan Bersenjata-lah yang memegang peranan terpenting yang perlu
dibangun dan dikembangkan dalam rangka perlindungan dan pengamanan bangsa dan negara
terhadap segala ancaman, dalam segala bentuk dan manifestasinya.
Politik Pertahanan dan Keamanan Nasional

a. Pada dasarnya Politik Pertahanan dan Keamanan Nasional kita (Hankamnas)


diarahkan pada sasaran-sasaran pokok sebagai berikut:
Kedalam, menciptakan suasana dan keadaan aman, tenteram, tertib dan dinamis,
yang merupakan landasan dan iklim bagi tiap usaha dalam pelaksanaan
pembangunan disegala bidang.
b. Keluar, ikut serta menjamin adanya perdamaian dunia, dan mewudjudkan
kestabilan di Wilajah Asia Tenggara.
c. Siap menghadapi segala kemungkinan ancaman dalam segala bentuk dan
manifestasinja baik dari luar maupun dari dalam, yang dapat menghambat,
mengganggu serta dapat membahayakan kelangsungan hidup bangsa dan negara.
Strategi Pertahanan dan Keamanan Nasional

Strategi Pertahanan dan Keamanan Nasional diarahkan kepada pembentukan, pengembangan


serta penggunaan kekuatan-kekuatan dan unsur-unsur Hankam untuk menjamin
tercapainya dan terwujudnya Politik Pertahanan dan Keamanan Nasional. STRATEGI yang
ditempuh adalah membangun kemampuan pertahanan dan keamanan rakyat semesta, dan
meniadakan kerawanannya dengan membangun ABRI dengan kekuatan siap yang kecil dan
cadangan yang cukup, serta Polri yang mampu membina keamanan dan ketertiban
masyarakat.
Fungsi-fungsi Pertahanan dan Keamanan Nasional
a) Membentuk suatu kekuatan Hankamnas yang berintikan potensi Angkatan Bersenjata
Republik Indonesia, disamping potensi-potensi yang lain.
b) Memelihara dan mempertinggi Ketahanan Nasional disegala bidang, baik dalam bidang
mental-ideologi, politik, sosial, budaya maupun militer.
c) Memelihara serta mempertinggi kewaspadaan serta kesiapsiagaan nasional.
d) Mengembangkan integrasi Angkatan Bersendjata Republik Indonesia dengan Rakyat,
integrasi intern Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, serta integrasi intern angkatanangkatan.
Ketentuan perundang-undangan di bidang Hankam

Ketentuan perundang-undangan di bidang Hankam yang diberlakukan di era reformasi


adalah:
a) UUD RI 1945 (Amandemen) BAB III Pasal 10, 11, 12 dan Bab XII Pasal 30;
b) UU No. 3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara;
c) UU No. 34 tahun 2004 tentang TNI;
d) Keputusan Panglima TNI No. KEP/2/I/2007 tgl. 12 Januari 2007 tentang Tri Dharma
Eka Karma (Tridek).
e) Relevansi Sishankamrata Saat Ini
Anggota Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
a) TNI
b) TNI AD
c) TNI AL
d) TNI AU
e) POLRI

Pembangunan di bidang pertahanan dan keamanan telah menunjukkan kemajuan meskipun


masih mengandung kelemahan. Kepercayaan masyarakat terhadap aparatur Tentara Nasional
Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) masih cenderung lemah,
antara lain, karena digunakan sebagai alat kekuasaan pada masa lalu; rasa aman dan
ketenteraman masyarakat berkurang; meningkatnya gangguan keamanan dan ketertiban; serta
terjadinya kerusuhan massal dan berbagai pelanggaran hukum serta pelanggaran hak asasi
manusia.
Sistem pertahanan dan keamanan Indonesia mengalami transformasi yang cukup substansial.
TNI sebagai kekuatan inti dalam sistem pertahanan negara dan Polri sebagai kekuatan fungsi
keamanan dan ketertiban masyarakat mengalami perubahan paradigma secara mendasar. TNI
dan Polri tidak lagi melaksanakan dwifungsi (fungsi pertahanan keamanan dan fungsi sosial
politik) sehingga tidak lagi terlibat politik praktis. Untuk mencapai tujuan dari perubahan
sistem pertahanan negara dan keamanan negara yang menganut dwifungsi menjadi sistem
pertahanan dan keamanan negara yang profesional, pelaksanaannya dijabarkan dalam dua
bagian, yaitu pertahanan dan keamanan. Pemisahan masalah-masalah pertahanan dan
keamanan dilakukan agar terpetakan secara jelas tugas, tanggung jawab, dan fungsi masingmasing institusi yang terlibat di dalamnya.
Pembangunan bidang pertahanan dan keamanan masih dihadapkan pada permasalahan yang
cukup berat terutama dalam hal pemulihan kredibilitas serta citra baik TNI dan Polri, baik di
dalam maupun di luar negeri. Sebagai institusi pertahanan negara, TNI harus mampu
menjangkau seluruh luas wilayah kepulauan Indonesia dengan kondisi geostrategis yang
berat. Padahal, kuantitas maupun kualitas personil maupun alat utama dan sistem senjata TNI
sangat tidak memadai, sedangkan Polri sebagai penegak hukum yang berperan dalam
memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, harus mampu menegakkan hukum,
memberikan pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat. Dengan menjalankan peran dan
fungsinya dengan baik, diharapkan TNI sebagai kekuatan inti pertahanan negara dan Polri
sebagai pelaksana inti penegak hukum mampu berperanan utama dalam menjaga persatuan
dan kesatuan.
2. Permasalahan

Permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan bidang pertahanan dan keamanan relatif
hampir sama dari tahun ke tahun, meskipun dengan tingkatan yang berbeda-beda. Di samping
permasalahan yang sifatnya sistemik dalam arti sangat mendasar serta memerlukan waktu
dan sumber daya yang sangat besar untuk memecahkannya, terdapat juga permasalahan yang
sifatnya insidental yang relatif dapat segera diatasi. Beberapa permasalahan yang berhasil
dirumuskan diantaranya adalah :
a. Belum Selarasnya Landasan Hukum Strategi Hankam
Makin variatifnya potensi ancaman keamanan, maka menuntut diperlukannya pengelolaan
keamanan nasional secara lebih integratif, efektif, dan efisien, diantaranya dengan
peningkatan kemampuan dan peran lembaga-lembaga keamanan. Belum tuntas dan masih
terbatasnya kerja sama antar institusi menjadikan pentingnya sebuah kerangka kebijakan
yang mampu mengintegrasikan berbagai kebijakan pertahanan dan keamanan nasional yang
sudah ada. Kerangka kebijakan tersebut bersifat memayungi berbagai kebijakan pertahanan
dan keamanan yang telah ada sebelumnya dan tidak bertentangan dengan perundangundangan diatasnya.
b. Terbatasnya Sumber Daya Pertahanan dan Keamanan
Permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan bidang pertahanan dan keamanan relatif
hampir sama dari tahun ke tahun, meskipun dengan tingkatan yang berbeda-beda. Di samping
permasalahan yang sifatnya sistemik dalam arti sangat mendasar serta memerlukan waktu
dan sumber daya yang sangat besar untuk memecahkannya, terdapat juga permasalahan yang
sifatnya insidental yang relatif dapat segera diatasi.
c. Masih Rendahnya Partisipasi Masyarakat dalam Sistem Hankam
Pelaksanaan fungsi pertahanan negara merupakan tanggung jawab seluruh komponen bangsa
dan negara. Tentara Nasional Indonesia (TNI) merupakan komponen utama yang didukung
oleh komponen cadangan dan komponen pendukung. Komponen cadangan adalah warga
negara, sumber daya alam, sumber daya buatan, serta sarana dan prasarana nasional.
Sedangkan dalam pelaksanaan fungsi keamanan, masyarakat dapat berpartisipasi dalam
pencegahan tindak kejahatan dan pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat.
Namun partisipasi warga negara atau masyarakat sebagai bagian dari sistem pertahanan dan
keamanan belum dapat diterapkan atau berjalan dengan baik, sehingga pelaksanaan fungsi
pertahanan dan keamanan belum sepenuhnya mengintegrasikan peran serta atau partisipasi
masyarakat. Sebagaimana tujuan sistem pertahanan dan keamanan negara, masyarakat dapat
berperan serta ikut menjaga dan melindungi kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI dan
keselamatan dari ancaman. Ancaman tersebut bersifat militer dan non-militer, bersifat
internal maupun eksternal, fisik dan non-fisik serta berifat multi- dimensional, meliputi
ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya.
3. Tujuan dan Sasaran
Sasaran pembangunan bidang pertahanan dan keamanan yang diharapkan adalah peningkatan
kemampuan pertahanan negara dan kondisi keamanan dalam negeri yang kondusif, sehingga
aktivitas masyarakat dan dunia usaha dapat berlangsung dengan aman dan nyaman. Untuk
mencapai sasaran tersebut, pembangunan bidang pertahanan dan keamanan diprioritaskan
pada : (a) Peningkatan kemampuan pertahanan menuju minimum essential force; (b)

Pemberdayaan industri pertahanan nasional; (c) Pencegahan dan penanggulangan gangguan


keamanan dan pelanggaran hukum di laut (illegal fishing dan illegal logging); (d)
Peningkatan rasa aman dan ketertiban masyarakat; (e) Modernisasi deteksi dini keamanan
nasional; dan (f) Peningkatan kualitas kebijakan keamanan nasional.
Terlaksananya keenam prioritas tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya penggentar
sistem pertahanan Indonesia, meningkatkan kemandirian alutsista TNI dan alat utama Polri,
meningkatkan kekayaan negara, masyarakat dan dunia usaha dapat beraktivitas secara aman
dan nyaman, meningkatkan keamanan dalam negeri, dan meningkatkan efektivitas
pengelolaan keamanan nasional.
Kondisi keamanan nasional saat ini relatif aman dan dinamis. Ancaman keamanan nasional
yang mengarah pada terganggunya pertahanan negara tidak sampai membahayakan
kewibawaan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pandangan negatif
internasional terhadap kasus pelanggaran HAM oleh oknum TNI/Polri dapat diredam dengan
baik seiring dengan pemberian sanksi yang tegas bagi pelakunya. Dari aspek penciptaan
keamanan dan ketertiban masyarakat, berbagai keberhasilan menangani aksi-aksi terorisme,
aksi-aksi perampokan, aksi-aksi premanisme, dan aksi-aksi kriminal lainnya semakin
memberikan rasa aman di masyarakat, terutama dunia investasi. Hal ini dibuktikan realisasi
investasi baik PMA maupun PMDN cenderung meningkat dari tahun ke tahun.
Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa keterbatasan sarana prasarana pertahanan dan
keamanan masih menjadi salah satu kendala dalam pencapaian sasaran pembangunan bidang
pertahanan dan keamanan. Di berbagai wilayah masih ditemukan berbagai gangguan
pertahanan dan keamanan baik berupa pelanggaran wilayah maupun tindak kriminal yang
apabila tidak diatasi dengan baik berpotensi mendegradasi keamanan dan kenyamanan
aktivitas masyakat dan dunia investasi.
4. Konsep dan Strategi Pembangunan Hankam
Pembangunan pertahanan dan keamanan terutama ditujukan untuk menegakkan kedaulatan
negara, menjaga keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, menjaga
keselamatan segenap bangsa dari ancaman militer dan nonmiliter, meningkatkan rasa aman
dan nyaman beraktivitas, tetap tertib dan tegaknya hukum di masyarakat, serta untuk
memastikan kondisi keamanan dan kenyamanan sebagai jaminan kondusifnya iklim investasi.
Secara umum pembangunan pertahanan dan keamanan telah menghasilkan kekuatan
pertahanan negara pada tingkat penangkalan yang mampu menindak dan menanggulangi
ancaman yang datang, baik dari dalam maupun dari luar negeri profesionalitas aparat
keamanan meningkat sehingga pencitraan dan pelayanan terhadap masyarakat semakin
dirasakan, serta berbagai ancaman dapat diredam berkat kesiapsiagaan dukungan informasi
dan intelijen yang semakin membaik.

Untuk melaksanakan pembangunan pertahanan dan keamanan dibutuhkan beberapa strategi


yang mencakup :
a. Menyelaraskan Landasan Hukum Hankam
Upaya pertahanan dan keamanan negara sesuai dengan amanat UUD 1945 dilaksanakan
dengan Sishankamrata. Amanat ini telah diupayakan pengembangannya melalui berbagai
upaya pembangunan komponen-komponen sistemnya, namun belum menggambarkan
perkembangan sistem tersebut sesuai dengan kebutuhan masa depan. Sishankamrata yang
sebelumnya telah diupayakan penataannya, sejak amandemen UUD 1945 sampai sekarang
belum ditata kembali secara menyeluruh kedalam berbagai peraturan perundang-undangan.
Penataan baru sebatas pada kekuatan utama yaitu UU No.2 Tahun 2002 tentang Kepolisian
Negara RI, UU No.3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara RI dan UU No. 34 Tahun 2004
tentang TNI. Sedangkan tentang rakyat sebagai kekuatan pendukung sama sekali belum
dijabarkan. UU No. 27 Tahun 1997 tentang Mobilisasi dan Demobilisasi yang telah ada perlu
disesuaikan kembali karena dasar yang digunakan sudah berbeda.
b. Memenuhi Kebutuhan Sumber Daya Hankam
Kebijakan hankam adalah meningkatkan postur MEF (minimum essential force) sebesar
43,67 persen sampai dengan tahun 2014. Sedangkan sisanya akan dilaksanakan pada dua
periode pembangunan yang akan datang. Oleh karena itu dengan mengingat keterbatasan
anggaran negara, maka prioritas pembangunan pertahanan dilaksanakan melalui modernisasi
alutsista TNI/Alut Polri secara terbatas baik melalui penggantian, up grading, maupun
perbaikan alutsista TNI/ Alut Polri untuk mempertahankan usia pakainya. Sementara itu,
untuk menciptakan profesionalisme TNI/ Polri salah satunya dilakukan dengan meningkatkan
kesejahteraan personil TNI/ Polri. Upaya ini dilakukan dengan pemberian jaminan
pemeliharaan kesehatan, santunan asuransi, program KPR, pemberian santunan risiko
kematian khusus (SRKK), peningkatan uang lauk pauk (ULP), dan pemberian tunjangan
khusus bagi personil yang bertugas pada wilayah kritis seperti perbatasan negara. Dalam
rangka mendukung pembentukan postur MEF, peningkatan peran industri pertahanan dalam
negeri sangat dibutuhkan, terutama untuk produkproduk militer yang secara teknis mampu
diproduksi.
c. Meningkatkan Partisipasi Masyarakat dalam Sistem Hankam
Undang-Undang No. 3 Tahun 2002 menegaskan, bahwa pertahanan negara berfungsi untuk
mewujudkan dan mempertahankan seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
sebagai satu kesatuan (Pasal 5). Sedangkan yang dimaksud dengan seluruh wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia sebagai satu kesatuan pertahanan, bahwa ancaman terhadap
sebagian wilayah merupakan ancaman terhadap seluruh wilayah dan menjadi tanggung jawab
segenap bangsa. Merujuk ketentuan tersebut, maka keikutsertaan segenap warga negara
dalam upaya pembelaan negara bukan hanya dalam lingkup nasional, tetapi juga dalam
lingkungan terdekat di mana kita berdomisili. Artinya menjaga keutuhan wilayah lingkungan
kita tidak dapat dipisahkan dari keutuhan wilayah negara secara keseluruhan. Pada dasarnya
setiap orang mempunyai kewajiban untuk menjaga keutuhan dan keamanan serta ketertiban
wilayah sekitarnya mulai dari lingkungan rumah sendiri, lingkungan masyarakat sekitar,
sampai wilayah yang lebih luas.