Anda di halaman 1dari 30

LABORATORIUM PILOT PLANT

SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2015/2016

MODUL

: DOUBLE PIPE HEAT EXCHANGER

PEMBIMBING

: Ir. Emma Hermawati, M.T

Tanggal Praktikum : 23 November 2015


Tanggal Penyerahan : 4 Januari 2016
(Laporan)

Oleh :
Kelompok

Nama, NIM :
Kelas

7 (Tujuh)
1. Suci Susilawati

131411029

2. Dila Adila

131411059

3A

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2015

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Alat perpindahan panas ada berbagai tipe dan model yang banyak ragamnya. Secara
garis besar terbagi menjadi tiga macam, yaitu double pipe, shell and tube dan plate heat
exchanger. Masing-asing jenis digunakan berdasarkan keperluan dan ppertimbangan teknis
dan ekonominya, begitu pula dengan kapasitasnya. Salah satu jenis penukar panas adalah
double pipe heat exchanger. Alat penukar panas jenis ini dapat digunakan berlawanan arah
aliran atau searah antara fluida panas dan fluida dingin yang terkandung dalam ruang annular
dan fluida lainnya dalam pipa. Alat penukar panas ini terdiri dari dua pipa logam standart
yang dikedua ujungnya dilas menjadi satu atau dihubungkan dengan kotak penyekat. Fluida
yang satu mengalir di dalam pipa, sedangkan fluida kedua mengalir di dalam ruang anulus
antara pipa luar dengan pipa dalam. Alat penukar panas jenis ini dapat digunakan pada laju
alir fluida yang kecil dan tekanan operasi yang tinggi.
1.2 Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah mengetahui pengaruh laju alir fluida terhadap
koefisien pindah panas keseluruhan (U)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Heat Exchanger
Sesuai dengan namanya, maka alat penukar kalor (heat exchanger) berfungsi
mempertukarkan suhu antara dua fluida dengan melewati dua bidang batas. Bidang batas
pada alat penukar kalor ini berupa pipa yang terbuat dari berbagai jenis logam sesuai dengan
penggunaan dari alat tersebut.
Pada percobaan ini akan dilakukan pengamatan unjuk kerja alat penukar kalor pipa
ganda (double pipe heat exchanger) yang terdiri dari dua pipa konsentris. Pipa yang berada di
luar dikenal sebagai annulus (shell), sedangkan bagian dalam dikenal sebagai pipa (tube).
2.2. Prinsip Kerja Heat Exchanger
Heat exchanger adalah heat exchanger antara dua fluida dengan melewati dua bidang
batas. Bidang batas pada heat exchanger adalah dinding pipa yang terbuat dari berbagai jenis
logam. Pada heat exchanger ini, terdapat dari dua pipa konsentris, yaitu: annullus/shell (pipa
yang berada di luar) dan tube (pipa yang berada di dalam).
Berdasarkan jenis alirannya heat exchanger dibagi menjadi tiga, yaitu:
1. Pararel Flow
Kedua fluida ,mengalir dalam heat exchanger dengan aliran yang searah. Kedua fluida
memasuki HE dengan perbedaan suhu yang besar. Perbedaan temperatur yang besar
akan berkurang seiring dengan semakin besarnya x, jarak pada HE. Temperatur keluaran
dari fluida dingin tidak akan melebihi temperatur fluida panas.
2. Counter Flow
Berlawanan dengan paralel flow, kedua aliran fluida yang mengalir dalam HE masuk
dari arah yang berlawanan. Aliran keluaran yang fluida dingin ini suhunya mendekati
suhu dari masukan fluida panas sehingga hasil suhu yang didapat lebih efekrif dari
paralel flow. Mekanisme perpindahan kalor jenis ini hampir sama dengan paralel flow,
dimana aplikasi dari bentuk diferensial dari persamaan steady-state:

dQ U T t a" dL
dQ WCdT wcdt

3. Cross flow Heat exchanger

(1)
(2)

Dimana satu fluida mengalir tegak lurus dengan fluida yang lain. Biasa dipakai untuk
aplikasi yang melibatkan dua fasa. Misalnya sistem kondensor uap (tube and shell heat
exchanger), di mana uap memasuki shell, air pendingin mengalir di dalam tube dan
menyerap panas dari uap sehingga uap menjadi cair.
2.3. Komponen Penyusun Heat Exchanger
Komponen-komponen dari penyusun Heat Exchanger, terdiri dari:
1. Shell dan Tube
Suatu sillinder yang dilengkapi dengan inlet dan outlet nozzle sebagai tempat keluar
masuknya fluida. Ada 2 jenis tube dalam shell, yaitu finned tube (tube yang
mempunyai sirip (fin) pada bagian luar tube) dan bare tube (tube dengan permukaan
yang rata)
2. Tube Sheet
Tempat untuk merangkai ujung-ujung tube sehingga menjadi satu yang disebut tube
bundle. HE dengan tube lurus pada umumnya menggunakan 2 buah tube sheet.
Sedangkan pada tube tipe U menggunakan satu buah tube sheet yang berfungsi
untuk menyatukan tube-tube menjadi tube bundle dan sebagai pemisah antara tube
side dengan shell side.
3. Baffle
Berfungsi sebagai penyangga tube, menjaga jarak antar tube, menahan vibrasi yang
disebabkan oleh aliran fluida, dan mengatur aliran turbulen sehingga perpindahan
panas lebih sempurna. Jenis baffle yaitu battle melintang (segmental, dish and
doughnut) dan baffle memanjang.
4. Tie Rods
Batangan besi yang dipasang sejajar dengan tube dan ditempatkan di bagian paling
luar dari baffle yang berfungsi sebagai penyangga agar jarak antara baffle yang satu
dengan lainnya tetap.

2.4. Jenis-Jenis Heat Exchanger


A. Berdasarkan Fungsinya
1. Heat exchanger

Heat exchanger mengontrol kalor antara dua proses aliran: aliran fluida panas yang
membutuhkan pendinginan ke aliran fluida temperatur rendah yang membutuhkan
pemanasan. Kedua fluida biasanya satu fasa atau suatu fluida yang berbentuk gas
dan lainnya berbentuk cairan.
2. Condenser
Condenser adalah tipe lain dimana hidrokarbon atau gas lainnya yang mencair
sebagian atau seluruhnya dengan pemindahan panas.
3. Cooler Chiller
Berfungsi memindahkan panas, baik panas sensibel maupun panas laten fluida yang
berbentuk uap kepada media pendingin, sehingga terjadi perubahan fasa uap menjadi
cair. Media pendingin biasanya digunakan air atau udara. Condensor biasanya
dipasang pada top kolom fraksinasi. Pada beberapa kasus refrijeran biasa digunakan
ketika temperatur rendah dibutuhkan. Pendinginan itu sering disebut chiller.
4. Reboiler
Digunakan untuk menguapkan kembali sebagian cairan pada dasar kolom (bottom)
distilasi, sehingga fraksi ringan yang masih ada masih teruapkan. Media pemanas
yang digunakan adalah uap (steam). Reboiler bisa dipanaskan melalui media
pemanas atau dipanaskan langsung. Yang terakhir reboilernya adalah furnace atau
fire tube
5. Heater Superheater
Heater digunakan untuk memanaskan fluida yang memiliki viskositas tinggi baik
bahan baku ataupun fluida proses dan biasanya menggunakan steam sebagai
pemanas. Superheater memanaskan gas dibawah temperatur jenuh.

B.

Berdasarkan Konstruksinya

1. Tubular Exchanger
a.

Double-pipe Heat exchanger

Terdiri dari satu buah pipa yang diletakkan di dalam sebuah pipa lainnya yang
berdiameter lebih besar secara konsentris. Fluida yang satu mengalir di dalam pipa
kecil sedangkan fluida yang lain mengalir di bagian luarnya. Pada bagian luar pipa
kecil biasanya dipasang fin atau sirip memanjang, hal ini dimaksudkan untuk
mendapatkan permukaan perpindahan panas yang lebih luas. Double pipe ini dapat
digunakan untuk memanaskan atau mendinginkan Gambar 1. Double pipe
HE

fluida hasil proses yang membutuhkan area perpindahan panas yang kecil (biasanya
hanya mencapai 50 m2).
Double-pipe Heat exchanger ini juga dapat digunakan untuk mendidihkan atau
mengkondensasikan fluida proses tapi dalam jumlah yang sedikit. Kerugian yang
ditimbulkan jika memakai Heat exchanger ini adalah kesulitan untuk memindahkan
panas dan mahalnya biaya per unit permukaan transfer. Tetapi, double pipe Heat
exchanger ini juga memiliki keuntungan yaitu Heat exchanger ini dapat dipasang
dengan berbagai macam fitting (ukuran).
Pada alat ini, mekanisme perpindahan kalor terjadi secara tidak langsung (indirect
contact type), karena terdapat dinding pemisah antara kedua fluida sehingga kedua
fluida tidak bercampur. Fluida yang memiliki suhu lebih rendah (fluida pendingin)
mengalir melalui pipa kecil, sedangkan fluida dengan suhu yang lebih tinggi
mengalir pada pipa yang lebih besar (pipa annulus). Penukar kalor demikian
mungkin terdiri dari beberapa lintasan yang disusun dalam susunan vertikal.
Perpindahan kalor yang terjadi pada fluida adalah proses konveksi, sedang proses
konduksi terjadi pada dinding pipa. Kalor mengalir dari fluida yang bertemperatur
tinggi ke fluida yang bertemperatur rendah.

Kelebihan Double-pipe Heat exchanger:


o Dapat digunakan untuk fluida yang memiliki tekanan tinggi.
o Mudah dibersihkan pada bagian fitting

o Fleksibel dalam berbagai aplikasi dan pengaturan pipa

o Dapat dipasang secara seri ataupun paralel


o Dapat diatur sedimikian rupa agar diperoleh batas pressure drop dan LMTD
sesuai dengan keperluan
o Mudah bila kita ingin menambahkan luas permukaannya
o Kalkulasi design mudah dibuat dan akurat
Kekurangan Double-pipe Heat exchanger:
o Relatif mahal
o Terbatas untuk fluida yang membutuhkan area perpindahan kalor kecil (<50 m2)
o Biasanya hanya digunakan untuk sejumlah kecil fluida yang akan dipanaskan atau
dikondensasikan.
b. Shell and tube
Jenis ini terdiri dari shell
yang didalamnya terdapat
rangkaian pipa kecil yang
disebut

tube

bundle.

Perpindahan panas terjadi


antara

fluida

yang

mengalir di dalam tube

Gambar 2. Shell and Tube HE


type

dan fluida yang mengalir di luar tube (pada shell side). Shell and tube ini merupakan
Heat exchanger yang paling banyak digunakan dalam proses-proses industri.
Keuntungan Shell and Tube Heat exchanger merupakan Heat exchanger yang paling
banyak digunakan di proses-proses industri karena mampu memberikan ratio area
perpindahan panas dengan volume dan massa fluida yang cukup kecil. Selain itu
juga dapat mengakomodasi ekspansi termal, mudah untuk dibersihkan, dan
konstruksinya juga paling murah di antara yang lain. Untuk menjamin bahwa fluida
pada shell-side mengalir melintasi tabung dan dengan demikian menyebabkan
perpindahan kalor yang lebih tinggi, maka di dalam shell tersebut dipasangkan
sekat/penghalang (baffles).
Shell and tube ini dibagi lagi sesuai dengan penggunaannya yaitu class R (untuk
keperluan proses dengan tekanan tinggi), class C (untuk keperluan proses dengan
tekanan dan temperatur menengah dan fluida yang tidak korosif, serta class B (untuk
keperluan fluida yang korosif). Proses pertukaran panas pada kedua fluida ini terjadi

pada dinding tube dimana terdapat dua proses perpindahan yaitu secara konduksi
dan konveksi. Dilihat dari konstruksinya, Heat exchanger tipe Shell and Tube
dibedakan atas:
Fixed Tube Sheet
Fixed Tube Sheet merupakan jenis shell and tube Heat exchanger yang terdiri dari
tube-bundle yang dipasang sejajar dengan shell dan kedua tube sheet menyatu
dengan shell. Kelemahan pada tipe ini adalah kesulitan pada penggantian tube dan
pembersihan shell.
Floating Tube Sheet
Floating Tube Sheet merupakan Heat exchanger yang dirancang dengan salah satu
tipe tube sheetnya mengambang, sehingga tube-bundle dapat bergerak di dalam shell
jika terjadi pemuaian atau penyusutan karena perubahan suhu. Tipe ini banyak
digunakan dalam industri migas karena pemeliharaannya lebih mudah dibandingkan
fix tube sheet, karena tube-bundlenya dapat dikeluarkan, dan dapat digunakan pada
operasi dengan perbedaan temperatur antara shell dan tube side di atas 200oF.
U tube/U bundle
U tube/U bundle merupakan jenis HE yang hanya mempunyai 1 buah tube sheet,
dimana tube dibuat berbentuk U yang ujung-ujungnya disatukan pada tube sheet
sehingga biaya yang dibutuhkan paling murah di antara Shell and Tube Heat
exchanger yang lain. Tube bundle dapat dikeluarkan dari shellnya setelah channel
headnya dilepas. Tipe ini juga dapat digunakan pada tekanan tinggi dan beda
temperatur yang tinggi. Masalah yang sering terjadi pada Heat exchanger ini adalah
terjadinya erosi pada bagian dalam bengkokan tube yang disebabkan oleh kecepatan
aliran dan tekanan di dalam tube, untuk itu fluida yang mengalir dalam tube side
haruslah fluida yang tidak mengandung partikel-partikel padat.

2. Spiral tube
Plate Heat exchanger
Kedua

aliran

masuk

dari

sudut

dan

melewati bagian atas dan bawah plat-plat


parallel dengan fluida panas melewati jalan-

Gambar 3. Plate Heat

jalan (ruang antar plat) genap dan fluida dingin melewati jalan-jalan ganjil. Plat-plat
dapat dipasang secara melingkar agar dapat memberikan perpindahan panas yang
besar dan mencegah terjadinya fouling (deposit yang tidak diinginkan). Plate Heat
exchanger juga mudah untuk dilepas dan dipasang kembali sehingga mudah untuk
dibersihkan. Heat exchanger ini dibagi atas 3 macam :
Plate and frame or gasketed plate exchanger

Jenis ini terdiri dari bingkai-bingkai dan plat-plat yang disusun rapat, permukaan
plat mempunyai alur-alur yang berpasangan sehingga jika dirangkai mempunyai dua
aliran. Heat exchanger ini digunakan untuk temperatur dan tekanan rendah seperti
mendinginkan cooling water.

Spiral plate heat exchanger

Lamella (ramen) heat exchanger

C. Berdasarkan Flow arrangements


Terdapat dua jenis Heat Exchanger berdasarkan flow arrangements yakni
single pass dan multiple pass. Pada single pass, kedua fluida melewati sistem hanya
satu kali, sedangkan pada multiple pass, salah satu atau kedua fluida mengalir bolakbalik secara zigzag. Pada single pass aliran fluida bisa parallel ataupun berlawanan,
sedangkan pada multiple pass merupakan kombinasai keduanya. Fluida juga dapat
mengalir secara crossflow. Yang pertama, kedua fluida tidak bercampur, mereka
melewati jalan masing-masing tanpa bercampur. Yang kedua, kedua fliuda bercampur
tanpa terjadi reaksi kimia. Jika luas shell besar, cross flow akan menghasilkan
koefisien perpindahan kalor yang lebih tinggi daripada aliran aksial yang terjadi di
dalam tabung double-pipe.
D. Berdasarkan Arah Aliran
1.

Paralel Flow
Kedua fluida ,mengalir dalam heat exchanger dengan aliran yang searah. Kedua
fluida memasuki HE dengan perbedaan suhu yang besar. Perbedaan temperatur
yang besar akan berkurang seiring dengan semakin besarnya x, jarak pada HE.
Temperatur keluaran dari fluida dingin tidak akan melebihi temperatur fluida
panas.

2.

Counter Flow

Berlawanan dengan paralel flow, kedua aliran fluida yang mengalir dalam HE
masuk dari arah yang berlawanan. Aliran keluaran yang fluida dingin ini suhunya
mendekati suhu dari masukan fluida panas sehingga hasil suhu yang didapat lebih
efekrif dari paralel flow.
3.

Cross Flow Heat exchanger


Dimana satu fluida mengalir tegak lurus dengan fluida yang lain. Biasa dipakai
untuk aplikasi yang melibatkan dua fasa. Misalnya sistem kondensor uap (tube and
shell Heat exchanger), di mana uap memasuki shell, air pendingin mengalir di
dalam tube dan menyerap panas dari uap sehingga uap menjadi cair. Dari ketiga
tipe Heat exchanger tersebut tipe counter flow yang paling efisien ketika kita
membandingkan laju perpindahan kalor per unit area. Dengan beda temperatur
fluida yang paling maksimal di antara kedua tipe Heat exchanger lainnya, maka
beda temperatur rata-rata (log mean temperature difference) akan maksimal dan
pada akhirnya laju perpindahan kalor akan maksimal pula.

2.5. Parameter Heat Exchanger


Logaritmic Mean Temperature Difference (LMTD)

Pada awalnya kita mengandaikan U (bisa juga digantikan oleh h ) sebagai nilai
konstan (nilai U dapat dilihat pada tabel pada lampiran). U sendiri merupakan koefisien heat
transfer overall. Aturan untuk nilai U adalah sebagai berikut :
1.

Fluida dengan konduktivitas termal rendah seperti tar, minyak atau gas, biasanya
menghasilkan h yang rendah. Ketika fluida tersebut melewati heat exchanger, U
akan cenderung untuk turun

2.

Kondensasi dan Pemanasan merupakan proses perpindahan kalor yang efektif.


Proses ini dapat meningkatkan nilai U.

3.

Untuk U yang tinggi, tahanan dalam exchanger pasti rendah

4.

Untuk fluida dengan konduktivitas yang tinggi , mempunyai nilai U dan h yang
tinggi.
Untuk U pada suhu yang hampir konstan, variasi temperatur dari aliran fluida dapat

dihitung secara overall heat transfer dalam bentuk perbedaan temperatur rata-rata dari aliran
dua fluida, yang dapat dibuat persamaan sebagai berikut :
Q UATmean

(3)

Yang menjadi masalah kali ini adalah bagaimana membuat persamaan tersebut
menjadi benar. Kita harus dapat menghitung nilai dari T yang diinginkan. Hal ini

disebabkan karena terlihat pada grafik mengenai kecenderungan perubahan temperatur fluida
akan lebih cepat sejalan dengan posisinya (grafik bisa dilihat dari lampiran). Selain itu pada
counterflow dan pararel flow, perhitungan tersebut bisa berbeda. Oleh karena itu perlu dicari
suatu persamaan yang dapat menyelesaikan masalah ini. Dengan menurunkan rumus awal
sebagai berikut :
dQ U ( dA) T ( mc p ) h dTh ( mc p ) c dTc

(4)

Keterangan : h untuk aliran panas dan c untuk aliran dingin


Setelah itu kita menyamakan persamaan antara persamaan untuk counterflow dan persamaan
untuk pararel flow dan didapat :
Ta Tb
Q UA
ln(Ta / Tb

(5)

Dimana Ta adalah selisih antara suhu keluaran shell dengan suhu fluida pendingin
awal dan Tb adalah selisih antara suhu keluaran shell dengan suhu fluida pendingin akhir. t
mean yang dimaksud dalam persamaan tersebut adalah LMTD, yaitu :
Ta Tb
ln(Ta / Tb

Tmean LMTD

(6)

Namun demikian penggunaan LMTD juga cukup terbatas. Kita harus menggunakan
faktor koreksi F yang dapat dilihat dalam grafik pada lampiran. Sehingga rumusnya menjadi :
Q UAF (LMTD )

(7)

BAB 3
METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan


1. Seperangkat alat double pipe yang terdiri atas sistem perpipaan air dan steam,
termometer, rotameter dan heat exchanger
2. Sumber Steam dari boiler
3. Fluida (air)
3.2 Prosedur Percobaan

Percobaan Aliran Searah (co-current)

Waktu yang digunakan


untuk mengamati adalah
5 detik

Waktu yang digunakan


untuk mengamati adalah
5 detik

BAB 4
PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN
4.1 Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan dengan menggunakan alat Double Pipe Heat
Exchanger dimana air panas dan air dingin dialirkan melalui aliran yang berbeda dan
dikontakan secara counter current agar terjadi proses perpindahan panas. Pada percobaan ini,
perpindahan panas terjadi akibat adanya perbedaan suhu antara air panas dan air dingin,
sehingga suhu tersebut menyebabkan terjadinya proses perpindahan panas, yaitu kenaikan
suhu air dingin keluar dan penurunan suhu air panas keluar.

Pada percobaan ini, air panas yang digunakan berasal dari air yang dipanaskan terlebih
dahulu menggunakan steam dari boiler dengan suhu 60 O-70OC. Laju alir yang digunakan ada
2 macam yaitu laju alir air dingin tetap dan laju alir air panas tetap. Dari hasil percobaan,
diperoleh data nilai koefisien pindah panas keseluruhan (U) dan efisiensi pindah panas
sebagai berikut :

Kurva 1 Hubungan antara Laju Alir Fluida Panas (Berubah) terhadap U Empiris

Kurva 2 Hubungan antara Laju Alir Fluida Panas (Berubah) terhadap U Teoritis

Kurva 3 Hubungan antara Laju Alir Fluida Panas (Berubah) terhadap Efisiensi HE

Kurva 4 Hubungan antara Laju Alir Fluida Dingin (Berubah) terhadap U Empiris

Kurva 5 Hubungan antara Laju Alir Fluida Dingin (Berubah) terhadap U Teoritis

Kurva 6 Hubungan antara Laju Alir Fluida Dingin (Berubah) terhadap Efisiensi HE
Dari literatur yang diperoleh laju nilai koefisien pindah panas keseluruhan (U)
berbanding lurus dengan laju alir fluida sehingga semakin besar laju alir maka akan semakin
besar pula nilai koefisien pindah panas. Hasil percobaan pada variasi laju alir air panas tetap
dan laju alir air dingin tetap sesuai dengan pernyataan tersebut dimana data secara neraca
energi maupun secara empiris memperlihatkan nilai koefisien pindah panas keseluruhan (U)
mengalami kenaikan seiring dengan kenaikan laju alir fluida.
Kemudian dari literatur yang diperoleh untuk mengetahui nilai efisiensi perpindahan
panas didapatkan grafik yang menunjukan bahwa semakin besar laju alir maka semakin besar
pula nilai efisiensi perpindahan panas. Efisiensi perpindahan panas berbanding lurus dengan
laju alir fluida. Hasil percobaan pada variasi laju alir air dingin tetap dan panas tetap sesuai
dengan pernyataan tersebut dimana data memperlihatkan efisiensi pindah panas cenderung
mengalami kenaikan seiring dengan kenaikan laju alir fluida.
Dari hasil percobaan dapat dilihat bahwa selama proses berlangsung ada panas yang
hilang akibat adanya kontak antara double pipe heat exchanger dengan udara luar dan
pembacaan suhu fluida selama proses dan sesuai dengan teori yang didapat dari literatur.

4.2 Kesimpulan
Dari hasil percobaan yang dilakukan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Semakin besar laju alir fluida maka koefisien pindah panas (U) maka laju alir fluida
akan mengalami kenaikan (Laju alir berbanding lurus dengan U)
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja alat adalah luas permukaan perpindahan
panas, koefisien perpindahan panas, jenis aliran (Bilangan Reynold) dan arah aliran
(co-courent)
3. Efisiensi perpindahan panas mengalami kenaikan seiring dengan kenaikan laju alir
fluida.

LAMPIRAN

Lampiran 1.Pengolahan Data


1) Laju Alir Air Dingin Tetap 1.283 kg/s
Run 1 Laju Fluida Dingin Tetap
Ember
: 0.38 kg
Terukur
: 6.795 kg
Massa fluida dingin : 6.415 kg
F fluida dingin
: 1.283 kg/s
No.
1
2
3
4
5
6
7
8

Massa
(kg)
5.72
4.3
6.24
4.6
5.64
6.04
4.64
4.98

FluidaPanas
Waktu
LajuAlir
(s)
(kg/s)
5
1.144
5
0.86
5
1.248
5
0.92
5
1.128
5
1.208
5
0.928
5
0.996

Thi

Tci

Tho

Tco

(oC)

(oC)

(oC)

(oC)

45
42
37
40
44
44
47
46

25
25
25
25
26
26
26
27

35
34
31
33
36
36
38
36

30
29
29
29
30
30
31
31

a. Penentuan Koefisien Pindah Panas (U) secara Empiris


- Penentuan hi dan ho
NNu laminer (NRe< 2100) = 0.664 * NRe1/2*NPr1/3
h = NNu K / D

NRe = v D/
NPr = Cp /K
Trat
a2
27.5
27
27
27
28
28
28.5
29

Trat
a2
40

F
(kg/s
)
1.28
3
1.28
3
1.28
3
1.28
3
1.28
3
1.28
3
1.28
3
1.28
3

(kg/m
3
)
996.2
775
996.3
541
996.3
541
996.3
541
996.2
009
996.2
009
996.1
243
996.0
477

F
(m3/s
)
0.001
288
0.001
288
0.001
288
0.001
288
0.001
288
0.001
288
0.001
288
0.001
288

F
(kg/s
)
1.14
4

(kg/m
3
)
993.6
9
994.6
1
995.2
8
994.9
0
993.6
9
993.6
9
992.5
4
993.2
3

F
(m3/s
)
0.001
151
0.000
865
0.001
254
0.000
925
0.001
135
0.001
216
0.000
935
0.001
003

38

0.86

34

1.24
8

36.5

0.92

40
40
42.5
41

1.12
8
1.20
8
0.92
8
0.99
6

A (m2)
0.00128
1246
0.00128
1246
0.00128
1246
0.00128
1246
0.00128
1246
0.00128
1246
0.00128
1246
0.00128
1246

A (m2)
0.00341
946
0.00341
946
0.00341
946
0.00341
946
0.00341
946
0.00341
946
0.00341
946
0.00341
946

v
(m2/s
)
1.005
111
1.005
034
1.005
034
1.005
034
1.005
188
1.005
188
1.005
265
1.005
343

v
(m2/s
)
0.336
681
0.252
865
0.366
7
0.270
428
0.331
972
0.355
516
0.273
429
0.293
26

D
(m)
0.04
04
0.04
04
0.04
04
0.04
04
0.04
04
0.04
04
0.04
04
0.04
04

D
(m)
0.06
6
0.06
6
0.06
6
0.06
6
0.06
6
0.06
6
0.06
6
0.06
6

(kg/m
s)
847.1
712
855.1
892
855.1
892
855.1
892
839.1
532
839.1
532
831.1
351
823.1
171

(kg/m
s)
662.2
158
680.2
014
678.2
702.8
468
662.2
158
662.2
158
639.7
338
653.2
23

Nre
0.047
753
0.047
306
0.047
306
0.047
306
0.048
21
0.048
21
0.048
675
0.049
149

Nre
0.033
344
0.024
403
0.035
518
0.025
265
0.032
877
0.035
209
0.027
999
0.029
43

Cp
(KJ/kg.
K)
4.183
4.183
4.183
4.183
4.183
4.183
4.183
4.183

Cp
(KJ/kg.
K)
4.18331
7
4.18302
9
4.183
4.183
4.18331
7
4.18331
7
4.18367
6
4.18346

k
(W/m.
K)
0.6121
54
0.6113
7
0.6113
7
0.6113
7
0.6129
38
0.6129
38
0.6137
22
0.6145
05

k
(W/m.
K)
0.6310
38
0.6285
49
0.6223
43
0.6262
62
0.6310
38
0.6310
38
0.6341
5
0.6322
83

NPr
5.788
931
5.851
214
5.851
214
5.851
214
5.726
807
5.726
807
5.664
842
5.603
044

NPr
4.390
003
4.526
779
4.558
436
4.694
534
4.390
003
4.390
003
4.220
514
4.322
008

Nu
(lamine
r)
0.26053
7209
0.26023
9636
0.26023
9636
0.26023
9636
0.26083
916
0.26083
916
0.26114
5582
0.26145
6699

Nu
(lamine
r)
0.19853
1517
0.17158
8496
0.20748
8945
0.17672
135
0.19713
8296
0.20400
9276
0.17955
2203
0.18554
7631

hi
(lam)
3.947
745
3.938
186
3.938
186
3.938
186
3.957
382
3.957
382
3.967
099
3.976
892

ho
(lam)
1.898
196
1.634
118
1.956
504
1.676
877
1.884
875
1.950
57
1.725
197
1.777
555

Penentuan Koefisien Pindah Panas (Uoa)


ri = 0.0202 m
L = 1.4 m
ro = 0.02 m
K = 45 W/m k

No

hi

ho

1
2
3
4
5
6
7
8

3.947745
3.938186
3.938186
3.938186
3.957382
3.957382
3.967099
3.976892

1.898196
1.634118
1.956504
1.676877
1.884875
1.95057
1.725197
1.777555

b.

Uoa = Q panas /
T1

T2

Tlm

20
17
12
15
18
18
21
19

5
5
2
4
6
6
7
5

10.82021
9.805721
5.581106
8.322263
10.92287
10.92287
12.74335
10.48688

Th
rata2
40
38
34
36.5
40
40
42.5
41

Uoa
(W/m2 k)
0.240955
0.217687
0.245553
0.221578
0.240043
0.245486
0.226433
0.231238

Penentuan Koefisien Pindah Panas


secara Neraca Energi
A = 0.185399 m2

UntukAliran Co-current :
T1 = Thi Tho
T2 = Tci Tco

Tc
rata2
27.5
27
27
27
28
28
28.5
29

Cp
Cp
(panas) (dingin)
4.1816
4.1813
4.1816
4.1813
4.1818
4.1812
4.1815
4.1812
4.1817 4.18115
4.18135 4.1811
4.1811
4.1811
4.18135 4.1811

Th

Tc

10
8
6
7
8
8
9
10

5
4
4
4
4
4
5
4

c. Penentuan Efisiensi Pindah Panas


Efisiensi (%) =

F (kg/s)

Q1 (panas)
Watt

Q2 (dingin)
Watt

Efisiensi
%

1.144

47.8375

26.82304

56.0712

0.86

28.76941

21.45843

74.5877

1.248

31.31332

21.45792

68.5265

Q1
(panas)
47.8375
28.76941
31.31332
26.92886
37.73566
40.40857
34.92055
41.64625

Q2
(dingin)
26.82304
21.45843
21.45792
21.45792
21.45766
21.45741
26.82176
21.45741

Uoa (W/m2 k)
23.84658
15.82504
30.26232
17.453
18.63411
19.95401
14.78056
21.42017

0.92

26.92886

21.45792

79.6837

1.128

37.73566

21.45766

56.8631

1.208

40.40857

21.45741

53.1011

0.928

34.92055

26.82176

76.808

0.996

41.64625

21.45741

51.523

2) Laju Alir Air DinginTetap 1.22 kg/s


Run 2 Laju Fluida Dingin Tetap
Ember
: 0.38 kg
Terukur
: 6.48 kg
Massa fluida dingin : 6.1 kg
F fluida dingin
: 1.22 kg/s

No.
1
2
3
4
5
6
7
8

Massa
(kg)
2.42
2.4
2.4
2.5
2.44
2.8
2.85
3.32

FluidaPanas
Waktu
LajuAlir
(s)
(kg/s)
5
0.484
5
0.48
5
0.48
5
0.5
5
0.488
5
0.56
5
0.57
5
0.664

Thi

Tci

Tho

Tco

(oC)

(oC)

(oC)

(oC)

57
75
73
65
51
42
42
40

25
25
26
26
26
25
25
25

32
49
51
49
42
35
35
35

30
30
29
30
29
28
29
29

a. Penentuan Koefisien Pindah Panas (U) secara Empiris


- Penentuan hi dan ho
NNu laminer (NRe< 2100) = 0.664 * NRe1/2*NPr1/3
h = NNu K / D

NRe = v D/
NPr = Cp /K
Trat
a2

F
(kg/s
)

27.5

1.22

27.5

1.22

27.5

1.22

28

1.22

27.5

1.22

(kg/
m3)
996.2
775
996.2
775
996.2
775
996.2
009
996.2
775

F
(m3/s
)
0.001
225
0.001
225
0.001
225
0.001
225
0.001
225

A (m2)
0.00128
1246
0.00128
1246
0.00128
1246
0.00128
1246
0.00128
1246

v
(m2/s
)
0.955
756
0.955
756
0.955
756
0.955
83
0.955
756

D
(m)
0.04
04
0.04
04
0.04
04
0.04
04
0.04
04

(kg/m
s)
847.1
712
847.1
712
847.1
712
839.1
532
847.1
712

Nre
0.045
409
0.045
409
0.045
409
0.045
842
0.045
409

Cp
(KJ/kg.
K)
4.183
4.183
4.183
4.183
4.183

k
(W/m.
K)
0.6121
5
0.6121
5
0.6121
5
0.6129
4
0.6121
5

NPr
5.788
931
5.788
969
5.788
969
5.726
807
5.788
931

Nu
(lamine
r)
0.25406
003
0.25406
0583
0.25406
0583
0.25435
4474
0.25406
003

hi
(lam)
3.849
601
3.849
584
3.849
584
3.858
998
3.849
601

26.5

1.22

27

1.22

27

1.22

Trat
a2
44.5

F
(kg/s
)
0.48
4

62

0.48

62

0.48

57

0.5

46.5

0.48
8

38.5

0.56

38.5

0.57

37.5

0.66
4

996.4
306
996.3
541
996.3
541

0.001
224
0.001
224
0.001
224

(kg/
m3)
991.6
151
983.5
576
983.5
576
985.8
597
990.6
942
994.3
777
994.3
777
994.7
459

F
(m3/s
)
0.000
488
0.000
488
0.000
488
0.000
507
0.000
493
0.000
563
0.000
573
0.000
668

0.00128
1246
0.00128
1246
0.00128
1246

A (m2)
0.00341
946
0.00341
946
0.00341
946
0.00341
946
0.00341
946
0.00341
946
0.00341
946
0.00341
946

0.955
609
0.955
683
0.955
683

v
(m2/s
)
0.142
74
0.142
72
0.142
72
0.148
319
0.144
053
0.164
695
0.167
635
0.195
208

0.04
04
0.04
04
0.04
04

D
(m)
0.06
6
0.06
6
0.06
6
0.06
6
0.06
6
0.06
6
0.06
6
0.06
6

863.2
072
855.1
892
855.1
892

(kg/m
s)
621.7
482
464.3
741
464.3
741
509.3
381
603.7
626
675.7
05
675.7
05
686.8
108

Penentuan Koefisien Pindah Panas (Uoa)


ri = 0.0202 m
L = 1.4 m
ro = 0.02 m
K = 45 W/m k

Uoa
No

hi

ho

(W/m2
k)

3.84960

1.25515

0.17915

0.044
565
0.044
983
0.044
983

Nre
0.015
025
0.019
951
0.019
951
0.018
947
0.015
601
0.015
996
0.016
282
0.018
66

4.183
4.183
4.183

Cp
(KJ/kg.
K)
4.18396
4
4.18648
2
4.18648
2
4.18576
3
4.18425
2
4.18310
1
4.18310
1
4.183

0.6105
9
0.6113
7
0.6131
4

k
(W/m.
K)
0.6366
4
0.6584
2
0.6584
2
0.6522
0
0.6391
3
0.6291
7
0.6291
7
0.6278
3

5.913
652
5.851
214
5.834
351

NPr
4.086
103
2.952
668
2.952
668
3.268
906
3.952
721
4.492
485
4.492
485
4.575
969

0.25348
3794
0.25376
9854
0.25352
5839

Nu
(lamine
r)
0.13012
0725
0.13455
0744
0.13455
0744
0.13564
7148
0.13113
0427
0.13857
0975
0.13980
2741
0.15058
711

3.831
034
3.840
279
3.847
675

ho
(lam)
1.255
15
1.342
285
1.342
285
1.340
433
1.269
835
1.320
983
1.332
725
1.432
471

2
3
4
5
6
7
8

3.84958
3.84958
3.85900
3.84960
3.83103
3.84028
3.84768

1.34229
1.34229
1.34043
1.26984
1.32098
1.33273
1.43247

0.188164
0.188164
0.188102
0.180692
0.185745
0.187066
0.197132

b. Penentuan Koefisien Pindah Panas secara Neraca Energi


A = 0.185399 m2

UntukAliran Co-current :
T1 = Thi Tho
T2 = Tci Tco
Uoa = Q panas /

T T
1
2
32

50

19

47

22

39

19

25

13

17

17

15

Tlm
10.82
021
32.03
856
32.93
351
27.811
67
18.35
069
11.270
1
10.56
216
9.822
21

Th
rat
a2
44.
5

Tc
rat
a2
27.
5
27.
5
27.
5

Cp
(pan
as)
4.182
25
4.181
6
4.181
1

57

28

4.181

46.
5
38.
5
38.
5
37.
5

27.
5
26.
5

62
62

4.181
4.181

27

4.181

27

4.181

Cp
(ding
in)
4.181
05
4.181
05
4.181
05
4.181
05
4.181
1
4.181
1
4.181
1
4.181
1

c. Penentuan Efisiensi Pindah Panas

T
h

T
c

25

26

22

16

Q1
(pana
s)
50.60
523
52.18
637
44.15
242
33.44
8
18.36
295
16.38
952
16.68
219
13.88
092

Q2
(dingi
n)
25.50
441
25.50
441
15.30
264
20.40
352
15.30
283
15.30
283
20.40
377
20.40
377

A
(m2)
0.185
399
0.185
399
0.185
399
0.185
399
0.185
399
0.185
399
0.185
399
0.185
399

Uoa

(W/m2 k)
25.22627
8.785723
7.231191
6.486891
5.397388
7.843894
8.519103
7.622589

Efisiensi (%) =

F (kg/s)

Q1 (panas)
Watt

Q2 (dingin)
Watt

Efisiensi
%

0.484

50.60523

25.50441

50.39876

0.48

52.18637

25.50441

48.87178

0.48

44.15242

15.30264

34.65868

0.5

33.448

20.40352

61.00073

0.488

18.36295

15.30283

83.33533

0.56

16.38952

15.30283

93.36958

0.57

16.68219

20.40377

122.3087

0.664

13.88092

20.40377

146.9915

3) LajuAlir Air Panas Tetap 0.874kg/s


Run 1 Laju Fluida Panas Tetap
Ember
: 0.38 kg
Terukur
: 4.75 kg
Massa fluidadingin : 4.37 kg
F fluida panas
: 0.874 kg/s

No.
1
2
3
4
5
6
7
8

Massa
(kg)
5.44
5.26
5.14
5.64
5.62
6.88
6.6
8.8

Fluida Dingin
Waktu
Laju Alir
(s)
(kg/s)
5
1.088
5
1.052
5
1.028
5
1.128
5
1.124
5
1.376
5
1.32
5
1.76

Thi

Tci

Tho

Tco

(oC)

(oC)

(oC)

(oC)

44
40
40
39
40
42
42
40

24
24
24.5
24.5
25
25
25
25

36
33
32
32
32
29
29
29

29
29
28
29
29
28
28
28

a. Penentuan Koefisien Pindah Panas (U) secara Empiris


- Penentuan hi dan ho
NNu laminer (NRe< 2100) = 0.664 * NRe1/2*NPr1/3
h = NNu K / D

NRe = v D/
NPr = Cp /K
Trat
a2

F
(kg/s

(kg/m

F
(m3/s

A (m2)

v
(m2/s

D
(m)

(kg/m

Nre

Cp
(KJ/kg.

k
(W/m.

NPr

Nu
(laminer

hi
(lam)

26.5
26.5
26.2
5
26.7
5
27
26.5

1.08
8
1.05
2
1.02
8
1.12
8
1.12
4
1.37
6

996.4
31
996.4
31
996.4
65
996.3
92
996.3
54
996.4
31
996.4
31
996.4
31

0.026
595
0.026
595
0.026
343
0.026
847
0.027
099
0.026
595
0.026
595
0.026
595

(kg/m
3
)
993.6
87
994.8
99
994.9
76
995.0
52
994.9
76
995.0
52
995.0
52
995.2
05

F
(m3/s
)
0.000
88
0.000
878
0.000
878
0.000
878
0.000
878
0.000
878
0.000
878
0.000
878

26.5

1.32

26.5

1.76

Trat
a2
40
36.5
36
35.5
36
35.5
35.5
34.5

F
(kg/s
)
0.87
4
0.87
4
0.87
4
0.87
4
0.87
4
0.87
4
0.87
4
0.87
4

)
0.00128
1246
0.00128
1246
0.00128
1246
0.00128
1246
0.00128
1246
0.00128
1246
0.00128
1246
0.00128
1246

A (m2)
0.00341
946
0.00341
946
0.00341
946
0.00341
946
0.00341
946
0.00341
946
0.00341
946
0.00341
946

20.75
708
20.75
708
20.56
056
20.95
372
21.15
036
20.75
708
20.75
708
20.75
708

v
(m2/s
)
0.257
22
0.256
906
0.256
887
0.256
867
0.256
887
0.256
867
0.256
867
0.256
827

s)
0.04
04
0.04
04
0.04
04
0.04
04
0.04
04
0.04
04
0.04
04
0.04
04

D
(m)
0.06
6
0.06
6
0.06
6
0.06
6
0.06
6
0.06
6
0.06
6
0.06
6

863.2
07
863.2
07
870.9
86
859.1
98
855.1
89
863.2
07
863.2
07
863.2
07

(kg/m
s)
662.2
16
702.8
47
710.8
65
718.8
83
710.8
65
710.8
65
710.8
65
734.9
19

PenentuanKoefisienPindahPanas (Uoa)
ri = 0.0202 m
L = 1.4 m
ro = 0.02 m
K = 45 W/m k

Uoa
No

hi

ho

(W/m2
k)

1
2
3
4
5
6
7
8

17.85504
17.85504
17.73266
17.96063
18.06612
17.85504
17.85504
17.85504

1.659147
1.634417
1.629972
1.625558
1.629972
1.628599
1.628599
1.616894

0.291407
0.287458
0.286568
0.286192
0.28705
0.286527
0.286527
0.284653

K)
0.968
01
0.968
01
0.950
314
0.981
702
0.995
521
0.968
01
0.968
01
0.968
01

Nre
0.025
474
0.024
001
0.023
731
0.023
466
0.023
731
0.023
731
0.023
731
0.022
954

4.183
4.183
4.18316
4.183
4.183
4.183
4.183
4.183

Cp
(KJ/kg.
K)
4.18332
4.183
4.183
4.183
4.183
4.183
4.183
4.183

K)
0.6105
9
0.6105
9
0.6099
9
0.6109
8
0.6113
7
0.6105
9
0.6105
9
0.6105
9

k
(W/m.
K)
0.6310
4
0.6262
6
0.6254
8
0.6246
9
0.6254
8
0.6246
9
0.6246
9
0.6231
3

)
5.913
616
5.913
616
5.973
006
5.882
394
5.851
212
5.913
616
5.913
616
5.913
616

NPr
4.389
993
4.694
535
4.754
026
4.813
728
4.754
026
4.760
038
4.760
038
4.933
427

1.18138
7593
1.18138
7593
1.17444
4811
1.18761
555
1.19382
8694
1.18138
7593
1.18138
7593
1.18138
7593

Nu
(laminer
)
0.17352
8889
0.17224
6657
0.17199
2941
0.17174
4064
0.17199
2941
0.17206
5413
0.17206
5413
0.17125
6404

17.85
504
17.85
504
17.73
266
17.96
063
18.06
612
17.85
504
17.85
504
17.85
504

ho
(lam)
1.659
147
1.634
417
1.629
972
1.625
558
1.629
972
1.628
599
1.628
599
1.616
894

b. Penentuan Koefisien Pindah Panas secara Neraca Energi


A = 0.185399 m2

UntukAliran Co-current :
T1 = Thi Tho
T2 = Tci Tco
Uoa = Q panas /

T T
1
2
20

16

15.
5
14.
5

4
3

15

17

17

15

Tlm
12.38
305
8.656
17
8.489
932
7.299
102
7.456
019
5.647
298
5.647
298
5.169
771

Th
rat
a2

Cp
(pan
as)
4.182
25
4.181
6
4.181
1

35.
5

Tc
rat
a2
26.
5
26.
5
26.
25
26.
75

36

27

4.181

35.
5
35.
5
34.
5

26.
5
26.
5
26.
5

40
36.
5
36

4.181

4.181
4.181
4.181

Cp
(ding
in)
4.181
05
4.181
05
4.181
05
4.181
05
4.181
1
4.181
1
4.181
1
4.181
1

T
h

T
c

3.5

4.5

13

13

11

Q1
(pana
s)
29.24
229
25.58
303
29.23
425
25.57
936
29.23
355
47.50
452
47.50
452
40.19
613

c. Penentuan Efisiensi Pindah Panas


Efisiensi (%) =

F (kg/s)

Q1 (panas)
Watt

Q2 (dingin)
Watt

Efisiensi
%

1.088

29.24229

22.74491

77.78088

Q2
(dingi
n)
22.74
491
21.99
232
15.04
342
21.22
301
18.79
823
17.25
958
16.55
716
22.07
621

A
(m2)
0.185
399
0.185
399
0.185
399
0.185
399
0.185
399
0.185
399
0.185
399
0.185
399

Uoa

(W/m2 k)
12.7373
15.94115
18.57296
18.90226
21.14794
45.37198
45.37198
41.93787

1.052

25.58303

21.99232

85.9645

1.028

29.23425

15.04342

51.45819

1.128

25.57936

21.22301

82.96928

1.124

29.23355

18.79823

64.3036

1.376

47.50452

17.25958

36.3325

1.32

47.50452

16.55716

34.85385

1.76

40.19613

22.07621

54.92122

4) Laju Alir Air Panas Tetap 0.644 kg/s


Run 2 Laju Fluida Panas Tetap
Ember
: 0.38 kg
Terukur
: 3.6 kg
Massa fluida panas : 3.22 kg
F fluida panas
: 0.644 kg/s

No.
1
2
3
4
5
6
7
8

Massa
(kg)
2.66
5.26
6.44
6
6.12
6.88
7.46
7.72

Fluida Dingin
Waktu
Laju Alir
(s)
(kg/s)
5
0.532
5
1.052
5
1.288
5
1.2
5
1.224
5
1.376
5
1.492
5
1.544

Thi

Tci

Tho

Tco

(oC)

(oC)

(oC)

(oC)

53
39
43
44
47
42
42
40

25
25
26
26
26
25
25
25

49
32
35
36
35
35
35
35

30
30
29
30
29
28
29
29

a. Penentuan Koefisien Pindah Panas (U) secara Empiris


- Penentuan hi dan ho
NNu laminer (NRe< 2100) = 0.664 * NRe1/2*NPr1/3
h = NNu K / D

NRe = v D/
NPr = Cp /K
Trat
a2

F
(kg/s
)

(kg/m
3
)

F
(m3/s
)

A
(m2)

v
(m2/s
)

D
(m)

(kg/m
s)

Nre

Cp
(KJ/kg.
K)

k
(W/m.
K)

NPr

Nu
(lamine
r)

hi
(lam)

27.5

2.66

27.5

5.26

27.5

6.44

28

27.5

6.12

26.5

6.88

27

7.46

27

7.72

Trat
a2
51
35.5
39
40
41
38.5
38.5
37.5

F
(kg/s
)
0.64
4
0.64
4
0.64
4
0.64
4
0.64
4
0.64
4
0.64
4
0.64
4

996.2
775
996.2
775
996.2
775
996.2
009
996.2
775
996.4
306
996.3
541
996.3
541

0.027
603
0.027
603
0.027
603
0.028
107
0.027
603
0.026
595
0.027
099
0.027
099

(kg/m
3
)
988.6
22
995.0
52
994.1
47
993.6
871
993.2
27
994.3
78
994.3
78
994.7
46

F
(m3/s
)
0.000
651
0.000
647
0.000
648
0.000
648
0.000
648
0.000
648
0.000
648
0.000
647

0.001
281
0.001
281
0.001
281
0.001
281
0.001
281
0.001
281
0.001
281
0.001
281

A
(m2)
0.003
419
0.003
419
0.003
419
0.003
419
0.003
419
0.003
419
0.003
419
0.003
419

21.54
368
21.54
368
21.54
368
21.93
707
21.54
368
20.75
709
21.15
036
21.15
036

v
(m2/s
)
0.190
501
0.189
27
0.189
443
0.189
53
0.189
618
0.189
399
0.189
399
0.189
329

0.04
04
0.04
04
0.04
04
0.04
04
0.04
04
0.04
04
0.04
04
0.04
04

D
(m)
0.06
6
0.06
6
0.06
6
0.06
6
0.06
6
0.06
6
0.06
6
0.06
6

847.1
712
847.1
712
847.1
712
839.1
532
847.1
712
863.2
072
855.1
892
855.1
892

(kg/m
s)
563.2
95
718.8
83
671.2
09
662.2
16
653.2
23
675.7
05
675.7
05
686.8
108

Penentuan Koefisien Pindah Panas (Uoa)


ri = 0.0202 m
L = 1.4 m
ro = 0.02 m
K = 45 W/m k

Uoa
No

hi

ho

(W/m2
k)

1
2
3
4

18.27688
18.27688
18.27688
18.48731

1.484401
1.395371
1.419111
1.424203

0.263771
0.249166
0.253074
0.254137

1.023
553
1.023
553
1.023
553
1.052
121
1.023
553
0.968
01
0.995
521
0.995
521

Nre
0.022
067
0.017
291
0.018
519
0.018
77
0.019
029
0.018
396
0.018
396
0.018
098

4.183
4.183
4.183
4.183
4.183
4.183
4.183
4.183

Cp
(KJ/kg.
K)
4.1849
4.183
4.18317
4.18332
4.18346
4.1831
4.1831
4.183

0.6121
54
0.6121
54
0.6121
54
0.6129
38
0.6121
54
0.6105
86
0.6113
7
0.6113
7

k
(W/m.
K)
0.6447
3
0.6246
9
0.6297
9
0.6310
4
0.6322
8
0.6291
71
0.6291
71
0.6278
3

5.788
931
5.788
931
5.788
931
5.726
807
5.788
931
5.913
652
5.851
214
5.851
214

NPr
3.656
311
4.813
728
4.458
282
4.389
993
4.322
029
4.492
484
4.492
484
4.575
97

1.20621
1.20621
1.20621
1.21853
6
1.20621
1.18139
1.19382
9
1.19382
9

Nu
(lamine
r)
0.15195
6
0.14742
4
0.14871
8
0.14895
6
0.1492
0.14860
1
0.14860
1
0.14830
2

18.27
688
18.27
688
18.27
688
18.48
731
18.27
688
17.85
497
18.06
611
18.06
611

ho
(lam)
1.484
401
1.395
371
1.419
111
1.424
203
1.429
338
1.416
596
1.416
596
1.410
732

5
6
7
8

18.27688
17.85497
18.06611
18.06611

1.429338
1.416596
1.416596
1.410732

0.254755
0.252197
0.252431
0.251468

b. Penentuan Koefisien Pindah Panas secara Neraca Energi


A = 0.185399 m2

UntukAliran Co-current :
T1 = Thi Tho
T2 = Tci Tco
Uoa = Q panas /
T T
1
2
28

19

14

17

18

21

17

17

15

Tlm
23.20
99
6.166
78
10.56
216
10.92
287
11.973
53
11.270
1
10.56
216
9.822
21

Th
rat
a2
51
35.
5
39
40

Tc
rat
a2
27.
5
27.
5
27.
5

Cp
(pan
as)
4.182
25
4.181
6
4.181
1

28

4.181

27.
5
26.
5

41
38.
5
38.
5
37.
5

4.181
4.181

27

4.181

27

4.181

Cp
(ding
in)
4.181
05
4.181
05
4.181
05
4.181
05
4.181
1
4.181
1
4.181
1
4.181
1

T
h

T
c

12

Q1
(pana
s)
10.77
348
18.85
065
21.54
103
21.54
051
32.31
077
18.84
795
18.84
795
13.46
282

c. Penentuan Efisiensi Pindah Panas


Efisiensi (%) =

F (kg/s)

Q1 (panas)
Watt

Q2 (dingin)
Watt

Efisiensi
%

0.532

10.77348

11.12159

103.2312

1.052

18.85065

21.99232

116.6661

1.288

21.54103

16.15558

74.9991

Q2
(dingi
n)
11.121
59
21.99
232
16.15
558
20.06
904
15.35
3
17.25
958
24.95
28
25.82
247

A
(m2)
0.185
399
0.185
399
0.185
399
0.185
399
0.185
399
0.185
399
0.185
399
0.185
399

Uoa

(W/m2 k)
2.503664
16.48775
11.00037
10.63684
14.55521
9.020478
9.625092
7.392993

1.2

21.54051

20.06904

93.16882

1.224

32.31077

15.353

47.51666

1.376

18.84795

17.25958

91.57273

1.492

18.84795

24.9528

132.39

1.544

13.46282

25.82247

191.8058

DAFTAR PUSTAKA
Faisal, Ahmad.2012. Laporan Praktikum UOP : Heat Exchanger. Jakarta : Departemen
Teknik Kimia Universitas Indonesia.
Geankoplis, Christie J. 1978. Transport Processes and Unit Operations 3rd ed. London :
Prentice-Hall International, Inc.
Prastiyo, Sadig. 2014. PDF (BAB II). http://eprints.undip.ac.id/44619/4/BAB_II.pdf. Diakses
pada [25 September 2015].