Anda di halaman 1dari 3

Gangguan Jiwa Berat

Gangguan jiwa berat dinilai melalui serangkaian pertanyaan yang ditanyakan oleh
pewawancara (enumerator) kepada kepala rumah tangga atau ART yang mewakili
kepala rumah tangga. Inti pertanyaan adalah mengenai ada tidaknya anggota rumah
tangga (tanpa melihat umur) yang mengalami gangguan jiwa berat (psikosis atau
skizofrenia) pada rumah tangga tersebut. Angka prevalensi yang diperoleh merupakan
prevalensi gangguan jiwa berat seumur hidup (life time prevalence). Rumah tangga yang
memiliki ART dengan gangguan jiwa, ditanya mengenai riwayat pemasungan yang
mungkin pernah dialami ART selama hidupnya. Pewawancara telah dilatih mengenai
cara melakukan wawancara serta pengetahuan singkat mengenai ciri-ciri gangguan jiwa.
Pelatihan singkat tersebut memberikan keterampilan kepada pewawancara tentang cara
melakukan klarifikasi atau verifikasi terhadap jawaban yang diberikan oleh kepala rumah
tangga atau orang yang mewakilinya.
Keterbatasan pengumpulan data dengan cara wawancara adalah adanya kemungkinan
kasus tidak dilaporkan serta diagnosis yang kurang tepat mengenai gangguan jiwa berat.
Upaya untuk mengatasi kelemahan ini dilakukan dengan cara menetapkan batasan
operasional bahwa yang dinilai pada Riskesdas 2013 adalah gangguan jiwa berat
(psikosis atau skizofrenia) yang dapat dikenali oleh masyarakat umum, sehingga
gangguan jiwa berat dengan diagnosis tertentu dan memerlukan kemampuan diagnostik
oleh dokter spesialis jiwa, kemungkinan tidak terdata.
Tabel 3.9.1 Prevalensi gangguan jiwa berat
menurut provinsi, Indonesia 2013 Provinsi
Aceh
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Jambi
Sumatera Selatan
Bengkulu
Lampung
Bangka Belitung
Kepulauan Riau
DKI Jakarta
Jawa Barat
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
JawaTimur
Banten
Bali
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi Utara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Gorontalo
Sulawesi Barat
Maluku
Maluku Utara
Papua Barat
Papua
Indonesia

Gangguan jiwa berat (psikosis/skizofrenia)


permil
2,7
0,9
1,9
0,9
0,9
1,1
1,9
0,8
2,2
1,3
1,1
1,6
2,3
2,7
2,2
1,1
2,3
2,1
1,6
0,7
0,9
1,4
1,4
0,8
1,9
2,6
1,1
1,5
1,5
1,7
1,8
1,6
1,2
1,7

Jumlah seluruh RT yang dianalisis adalah 294.959 terdiri dari 1.027.763 ART yang
berasal dari semua umur. Rumah tangga yang menjawab memiliki ART dengan
gangguan jiwa berat sebanyak 1.655, terdiri dari 1.588 RT dengan 1 orang ART, 62 RT
memiliki 2 orang ART, 4 RT memiliki 3 ART, dan 1 RT dengan 4 orang ART yang
mengalami gangguan jiwa berat. Jumlah seluruh responden dengan gangguan jiwa berat
berdasarkan data Riskesdas 2013 adalah sebanyak 1.728 orang.

Berdasarkan Tabel 3.9.1, terlihat bahwa prevalensi psikosis tertinggi di DI Yogyakarta


dan Aceh (masing-masing 2,7), sedangkan yang terendah di Kalimantan Barat (0,7).
Prevalensi gangguan jiwa berat nasional sebesar 1,7 per mil. Prevalensi gangguan jiwa
berat berdasarkan tempat tinggal dan kuintil indeks kepemilikan dipaparkan pada buku
Riskesdas 2013 dalam Angka.
Angka prevalensi seumur hidup skizofrenia di dunia bervariasi berkisar 4
permil sampai dengan 1,4 persen (Lewis et al.,2001). Beberapa kepustakaan
menyebutkan secara umum prevalensi skizofrenia sebesar 1 persen
penduduk. Selanjutnya dipaparkan proporsi RT yang pernah melakukan
pemasungan terhadap ART dengan gangguan jiwa berat.
Tabel 3.9.2 Proporsi rumah tangga yang
memiliki ARTgangguan jiwa berat yang
pernah dipasung menurut tempat tinggal
dan kuintil indeks kepemilikan, Indonesia
2013 Karakteristik
Tempat tinggal
Perkotaan
Perdesaan
Kuintil indeks kepemilikan
Terbawah
Menengah bawah
Menengah
Menengah atas
Teratas
Indonesia

RT dengan riwayat pemasungan ART (%)

10,7
18,2
19,5
17,3
12,7
7,3
7,4
14,3