Anda di halaman 1dari 83

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

FORMULASI EMULSI TIPE M/A


MINYAK BIJI JINTEN HITAM (Nigella sativa L.)

SKRIPSI

WARDA NABIELA
NIM. 109102000001

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


PROGRAM STUDI FARMASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
JULI 2013/1434 H

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

FORMULASI EMULSI TIPE M/A


MINYAK BIJI JINTEN HITAM (Nigella sativa L.)

SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Farmasi

WARDA NABIELA
NIM. 109102000001

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


PROGRAM STUDI FARMASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
JULI 2013/1434 H

ii

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Skripsi ini adalah hasil karya sendiri,


dan semua sumber yang dikutip maupun dirujuk
telah saya nyatakan dengan benar.

Nama

: Warda Nabiela

NIM

: 109102000001

Tanda Tangan

Tanggal

: 30 Juli 2013

iii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING

Nama

: Warda Nabiela

NIM

: 109102000001

Program Studi

: Farmasi

Judul

: Formulasi Emulsi Tipe M/A Minyak Biji Jinten Hitam (Nigella


sativa L.)

Menyetujui,

Pembimbing I

Pembimbing II

Yuni Anggraeni, M.Farm., Apt


NIP : 19831028 200901 2 008

Ofa Suzanti Betha, M.Si., Apt


NIP : 19750104 200912 2 001

Mengetahui,

Kepala Program Studi Farmasi


Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Drs. Umar Mansur, M.Sc

iv

HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI

Skripsi ini diajukan oleh


Nama
NIM
Program Studi
Judul

: Warda Nabiela
: 109102000001
: Farmasi
: Formulasi Emulsi Tipe M/A Minyak Biji Jinten Hitam (Nigella
sativa L.)

Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima


sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar
Sarjana Farmasi pada Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

DEWAN PENGUJI

Pembimbing I

: Yuni Anggraeni,M.Farm.,Apt

Pembimbing II

: Ofa Suzanti Betha,M.Si.,Apt

Penguji I

: Sabrina,M.Farm.,Apt

Penguji II

: Nelly Suryani,P.hD.,Apt

Ditetapkan di
Tanggal

: Ciputat
: 30 Juli 2013

ABSTRAK

Nama
Program Studi
Judul

: Warda Nabiela
: Farmasi
: Formulasi Emulsi Tipe M/A Minyak Biji Jinten Hitam (Nigella
sativa L.)

Minyak biji jinten hitam (Nigella sativa L.) merupakan salah satu herbal yang
berpotensi memiliki sejumlah aktivitas farmakologis. Penelitian ini bertujuan
untuk memformulasi minyak biji jinten hitam ke dalam bentuk sediaan emulsi tipe
M/A dan mengkarakterisasi sifat fisika-kimianya. Emulsi dibuat dalam 3 formula
yaitu F1, F2 dan F3 dengan memvariasikan konsentrasi tragakan sebanyak 1%,
1,5% dan 2%. Formula emulsi F1, F2 dan F3 setelah 21 hari penyimpanan
memiliki karakteristik berwarna krem kekuningan, tidak terjadi creaming dan
pemisahan fase setelah uji sentrifugasi. Hasil karakteristik lainnya yaitu ukuran
diameter globul yang sedikit meningkat berturut-turut 15,32 m, 14,74 m dan
3,50 m. pH sediaan berturut-turut 5,064, 4,455 dan 4,715. Viskositas berturutturut 160 cps, 450 cps dan 930 cps. Ukuran diameter globul setelah cycling test
yang sedikit meningkat berturut-turut 18,60 m, 6,28 m dan 3,67 m.
Kata Kunci : emulsi tipe M/A, minyak biji jinten hitam, tragakan.

vi

ABSTRACT

Name
Program Study
Title

: Warda Nabiela
: Pharmacy
: Formulation of O/W Emulsion Black Cumin Seed Oil (Nigella
sativa L.)

Black cumin seed oil (Nigella sativa L.) is one of herbal medicine that have great
pharmacological activities. The objective of this research were to formulated
black cumin seed oil as O/W emulsion and characterized their chemical-physic
properties. Emulsions were formulated in three formulas termed F1, F2 dan F3 by
varying the concentration of tragacanth as emulsifier as much as 1%, 1,5% and
2%. After 21 days of storage, emulsions F1, F2 dan F3 has characterization with
yellowish-creams colour, no creaming occured and phase separation after
centrifugation test. Other characterization respectively with globules diameter
slightly increased were 15,32 m, 14,74 m dan 3,50 m. pH were 5,064, 4,455
dan 4,715. Viscosity were 160 cps, 450 cps dan 930 cps. Globules diameter
slighlty increased were 18,60 m, 6,28 m dan 3,67 m.
Key word : O/W emulsion, black cumin seed oil, tragacanth.

vii

KATA PENGANTAR

Bismillahirahmaanirrahiim
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas segala
rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian dan
penyusunan skripsi dengan judul Formulasi Emulsi Tipe M/A Minyak Biji
Jinten Hitam (Nigella sativa L.). Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat
untuk menyelesaikan program pendidikan tingkat Strata 1 (S1) pada Program
Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam
Negeri (UIN) Syarif Hidayatulah Jakarta.
Pada kesempatan ini perkenankanlah penulis menyampaikan ucapan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Ibu Yuni Anggraeni, M.Farm., Apt dan Ibu Ofa Suzanti Betha, M.Si., Apt.
Selaku pembimbing yang telah memberikan waktu, tenaga, pikiran,
bimbingan serta motivasi kepada penulis selama penelitian.
2. Prof.DR (hc). Dr. M. K Tadjudin, Sp. And. Selaku dekan Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatulah Jakarta.
3. Drs. Umar Mansur, M.Sc. Selaku ketua Program Studi Farmasi Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatulah Jakarta.
4. Dosen-dosen, staff, karyawan Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran
dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatulah
Jakarta serta karyawan Perpustakaan Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatulah Jakarta.
5. Ka Eris, Ka Lisna, Ka Tiwi, Ka Rani, Ka Liken, Ka Yopi, Ka Rahmadi
yang telah memberi bantuan kepada penulis pada saat penelitian di
kampus.
6. Papa Drs. H. Zainal Arifin, dan Mama Dra. Hj. Abdatul Azizah. Selaku
orang tuaku dan adik-adikku tercinta Tara, Kevin, Beri, Intan dan Fella
serta keluarga besar yang senantiasa memberi support mulai dari moriil
viii

dan materil, serta tak lupa doa yang selalu dipanjatkan dalam setiap
langkah yang penulis lakukan dalam menyelesaikan skripsi ini.
7. Sahabat-sahabat tersayang. Fauziah Utami, Nadya Zahrayny, Indah Fadlul,
Qaffah Silma, Widya Larasati, Alfrida Tatsa, Muhammad Arif, Agung
Priyanto. Terima kasih untuk tambahan ilmu, semangat, motivasi, canda
tawa dan kasih sayang selama ini.
8. Sahabat-sahabatku tersayang juga, Hissi Fitriyah, Maulida Putri Ahdaini,
Chairunnisa, Mutia Sari Wardana, Dina Permata Wijaya, Nurul Fitrializa,
Risda Yulianti. Terima kasih juga atas tambahan ilmu, semangat, canda
tawa dan persahabatan dekat yang telah kita lewati.
9. Teman-teman seperjuangan jurusan Farmasi angkatan 2009 kelas A dan B.
Terima kasih atas kebersamaan kita dari awal masuk sampai akhir ini,
semoga silaturahmi kita bisa tetap terus terjaga, karena kita adalah
keluarga.
10. Adik-adik jurusan Farmasi angkatan 2010 dan 2012 (khusunya Meta,
Adina, Auva, Lele, Biella, Yeyet, Dwiki, Monic, Fio, Henni, Eko, Fattah,
Nita, Rika). Terima kasih juga untuk semangat dan doa serta partisipasi
kalian.
11. Serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu yang turut
membantu menyelesaikan skripsi.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki banyak
kekurangan, oleh karena itu penulis dengan senang hati menerima segala saran
dan kritik.
Semoga kebaikan yang telah diberikan kepada penulis dicatat sebagai
amal ibadah dan dibalas oleh Allah SWT dan penulis berharap semoga
penelitian ini dapat bermanfaat bagi masyarakat dan dalam pengembangan
ilmu pengetahuan. Aamiin.

Ciputat, 30 Juli 2013

Penulis

ix

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI


TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIK

Sebagai sivitas akademik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif


Hidayatullah Jakarta, Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama

: Warda Nabiela

NIM

: 109102000001

Program studi

: Farmasi

Fakultas

: Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK)

Jenis Karya

: Skripsi

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya menyetujui skripsi/karya


ilmiah saya dengan judul
FORMULASI EMULSI TIPE M/A MINYAK BIJI JINTEN HITAM
(Nigella sativa L.)
untuk dipublikasikan atau ditampilkan di internet atau media lain yaitu Digital
Library Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
untuk kepentingan akademik sebatas sesuai dengan Undang-Undang Hak Cipta.
Dengan demikian persetujuan publikasi karya ilmiah ini saya buat dengan
sebenarnya.

Dibuat di

: Ciputat

Pada Tanggal : 30 Juli 2013

Yang menyatakan,

(Warda Nabiela)

DAFTAR ISI
Halaman

HALAMAN JUDUL ........................................................................................ ii


HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ............................................. iii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .............................................. iv
HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................... v
ABSTRAK ........................................................................................................ vi
ABSTRACT ..................................................................................................... vii
KATA PENGANTAR ......................................................................................viii
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ................... x
DAFTAR ISI .................................................................................................... xi
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................xiii
DAFTAR TABEL ............................................................................................xiv
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xv
BAB 1 PENDAHULUAN.................................................................................
1.1 Latar Belakang ................................................................................
1.2 Batasan Masalah .............................................................................
1.3 Identifikasi Masalah.........................................................................
1.4 Tujuan Penelitian .............................................................................
1.5 Kegunaan Penelitian ........................................................................

1
1
2
3
3
3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................... 4


2.1 Tanaman Jinten Hitam (Nigella sativa L.) ........................................ 4
2.2 Emulsi ............................................................................................. 8
2.3 Komponen Pembentuk Emulsi ......................................................... 12
2.4 Evaluasi Sediaan Emulsi .................................................................. 13
2.5 Stabilitas Sediaan Emulsi ................................................................. 13
BAB 3 METODE PENELITIAN .................................................................... 15
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian .......................................................... 15
3.2 Alat ................................................................................................. 15
3.3 Bahan .............................................................................................. 15
3.4 Prosedur Penelitian .......................................................................... 15
3.4.1 Penyiapan Bahan .................................................................... 15
3.4.2 Uji Pendahuluan Formula Basis Emulsi .................................. 16
3.4.3 Formulasi Emulsi dengan Emulgator Tragakan ....................... 17
3.5 Evaluasi Sediaan Emulsi .................................................................. 18
3.6 Alur Penelitian ................................................................................ 21
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................. 22
4.1 Prosedur Pembuatan Emulsi ............................................................ 22
4.2 Evaluasi Sediaan Emulsi .................................................................. 24
xi

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................. 33


5.1 Kesimpulan ..................................................................................... 33
5.2 Saran ............................................................................................... 34
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 35
LAMPIRAN ..................................................................................................... 40

xii

DAFTAR GAMBAR
Halaman

Gambar 1. Tanaman Jinten Hitam (Nigella sativa L.) ......................................... 4


Gambar 2. Biji Jinten Hitam (Nigella sativa L.) ................................................. 5
Gambar 2. Hubungan antara pH dengan waktu penyimpanan ............................. 26
Gambar 3. Hubungan antara viskositas dengan waktu penyimpanan .................. 28
Gambar 4. Skema ilustrasi pembentukan koalesen dalam emulsi ........................ 29
Gambar 5. Hubungan antara uk.diameter globul dengan waktu penyimpanan..... 30
Gambar 6. Hubungan antara uk.diameter globul hasil cycling test ...................... 32

xiii

DAFTAR TABEL
Halaman

Tabel 2.1 Komposisi Kimia Biji Jinten Hitam ................................................... 6


Tabel 2.2 Komposisi Kimia Minyak Biji Jinten Hitam ....................................... 6
Tabel 2.3 Sumber Hidrokoloid Penting .............................................................. 11
Tabel 3.1 Formulasi Basis Emulsi Tipe M/A Minyak Biji Jinten Hitam ............. 16
Tabel 3.2 Formulasi Sediaan Emulsi Tipe M/A Minyak Biji Jinten Hitam.......... 18
Tabel 4.1 Hasil Formula Basis Emulsi ............................................................... 22
Tabel 4.2 Hasil Pengukuran pH Emulsi .............................................................. 25
Tabel 4.3 Hasil Pengukuran Viskositas Emulsi .................................................. 26
Tabel 4.4 Hasil Pengukuran Diameter Globul Rata-Rata .................................... 28
Tabel 4.5 Hasil Pengamatan Uji Volume Creaming Emulsi ............................... 30
Tabel 4.6 Hasil Pengamatan Cycling test Emulsi ................................................ 31
Tabel 4.7 Hasil Pengukuran Diameter Globul Rata-Rata Hasil Cycling test ........ 31

xiv

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman

Lampiran 1. Gambar minyak biji jinten hitam .................................................. 42


Lampiran 2. Gambar alat yang digunakan dalam penelitian ............................. 42
Lampiran 3. Gambar hasil uji volume creaming selama 21 hari........................ 44
Lampiran 4. Gambar hasil uji pendahuluan formula basis emulsi hari ke-0 ...... 45
Lampiran 5. Gambar hasil uji pendahuluan formula basis emulsi hari ke-3 ...... 47
Lampiran 6. Gambar formula basis emulsi dengan emulgator tragakan ........... 49
Lampiran 7. Gambar ukuran diameter globul formula emulsi ........................... 49
Lampiran 8. Gambar hasil uji sentrifugasi formula emulsi ................................ 50
Lampiran 9. Hasil reogram formula emulsi pada hari ke-0 ............................... 51
Lampiran 10. Hasil pengamatan organoleptis formula emulsi............................. 52
Lampiran 11. Hasil pengukuran pH formula emulsi ........................................... 52
Lampiran 12. Hasil uji sentrifugasi formula emulsi ............................................ 53
Lampiran 13. Hasil cycling test formula emulsi .................................................. 53
Lampiran 14. Hasil pengukuran viskositas formula emulsi pada hari ke-0 .......... 54
Lampiran 15. Hasil pengukuran viskositas formula emulsi pada hari ke-21 ........ 55
Lampiran 16. Hasil uji volume creaming formula emulsi ................................... 56
Lampiran 17. Perhitungan diameter globul formula 1 selama 21 hari ................. 57
Lampiran 18. Perhitungan diameter globul formula 2 selama 21 hari ................. 59
Lampiran 19. Perhitungan diameter globul formula 3 selama 21 hari ................. 61
Lampiran 20. Perhitungan diameter globul formula 1 hasil cycling test .............. 63
Lampiran 21. Perhitungan diameter globul formula 2 hasil cycling test .............. 64
Lampiran 22. Perhitungan diameter globul formula 3 hasil cycling test .............. 65
Lampiran 23. Sertifikat analisis pengujian minyak biji jinten hitam.................... 66
Lampiran 24. Sertifikat analisis tragakan............................................................ 67

xv

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Tumbuhan merupakan salah satu sumber bahan alam yang memproduksi

komponen kimia di dalamnya dan menurut 92% survey konsumen menyatakan


bahwa produk bahan alam tersebut dipercaya sebagai obat, aman, dan tidak
menimbulkan efek samping. Tanaman yang berfungsi sebagai pengobatan
tersebut dapat disebut juga dengan herbal medicine (Dubick, 1986). Biji jinten
hitam (Nigella sativa L.Seed) atau yang lebih dikenal dengan habbatussauda
merupakan salah satu herbal medicine yang sampai saat ini banyak dimanfaatkan
oleh masyarakat luas. Pada zaman dahulu, biji jinten hitam pun telah digunakan
sebagai pengobatan tradisional untuk sejumlah penyakit dan bumbu masakan
terutama oleh masyarakat di Timur Tengah dan Asia Barat (Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian, 2009; Paarakh, 2010).
Dalam hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhori Muslim,
Rasulullah bersabda: Hendaklah kalian mengkonsumsi jenis habbat al-sauda,
karena di

dalamnya terkandung khasiat penyembuhan semua penyakit, kecuali

penyakit mati (al-sam). Penggunaan empiris dalam bidang farmasi yang


diketahui dari biji tanaman ini sangat banyak sekali ditunjang oleh adanya hadits
di atas. Salah satu komponen biji jinten jitam yang dapat digunakan sebagai bahan
aktif dalam sediaan adalah minyaknya. Adapun efek farmakologis dari minyak
biji jinten hitam antara lain sebagai antiinflamasi, analgesik, antioksidan,
antibakteri, hipertensi, diabetes, antikanker serta meningkatkan sistem kekebalan
tubuh (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2009; Gali, 2006; Sultan,
2009). Oleh karena itu, minyak biji jinten hitam memiliki potensi yang besar
sebagai salah satu sumber nutrasetika yang sangat bermanfaat bagi tubuh.
Pemanfaatan minyak biji jinten hitam dalam pengobatan pada umumnya
berupa sediaan minyak yang dikemas langsung dalam botol, minyak yang
dimasukan dalam soft kapsul, ataupun serbuk kering yang dicampur madu,
minyak zaitun dan sari kurma. Seiring dengan berkembangnya penelitian-

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

penelitian yang membahas minyak biji jinten hitam dan manfaatnya bagi
kesehatan, maka semakin banyak pula masyarakat yang tertarik untuk mencoba
mengonsumsi minyak ini baik sebagai obat maupun sebagai suplemen untuk
menjaga ketahanan tubuh.
Rasa berminyak dari biji jinten hitam inilah yang merupakan salah satu
hambatan masyarakat dalam mengonsumsinya. Meskipun berkhasiat, banyak
orang yang enggan mengonsumsi minyak biji jinten hitam secara langsung. Salah
satu cara untuk mengatasi hal ini, minyak biji jinten hitam dibuat menjadi sediaan
emulsi. Emulsi merupakan suatu sistem sediaan heterogen yang terdiri atas dua
cairan yang tidak menyatu (dideskripsikan sebagai minyak dan air), di mana salah
satu fase terdispersinya (globul) sebagai tetesan seragam di dalam fase lainnya.
Terdapat dua tipe emulsi yaitu tipe minyak dalam air (M/A) dan air dalam minyak
(A/M) (Effionora, 2012). Untuk menstabilkan atau menyatukan emulsi tersebut
perlu ditambahkan emulgator. Emulgator tersebut mengelilingi tetesan fase dalam
sebagai suatu lapisan tipis yang diadsorpsi pada permukaan dari fase terdispersi.
Lapisan tersebut mencegah terjadinya kontak atau berkumpulnya kembali globul
atau fase terdispersi, sehingga kestabilan emulsi terjaga. Penggunaan emulsi tipe
M/A merupakan suatu cara pemberian sediaan oral yang dapat dengan mudah
diterima untuk zat dalam bentuk cairan-cairan yang tidak larut dalam air, seperti
minyak biji jinten hitam (Suryani, Sailah, dan Hambali, 2002).
Dalam penelitian ini digunakan tragakan sebagai bahan emulgator.
Tragakan biasanya berdampak pada stabilitas emulsi dengan meningkatkan sifat
fisik atau viskositas dari fase luar, memperpanjang shelf-life dan mencegah
terjadinya flokulasi, koalesen dan creaming (Samavati, et al., 2012). Dengan
demikian perlu dilakukan penelitian mengenai pengaruh penggunaan tragakan
dalam variasi konsentrasi yang dapat menghasilkan emulsi tipe M/A yang
memenuhi persyaratan.

1.2

Batasan Masalah
Dalam formulasi sediaan emulsi tipe M/A minyak biji jinten hitam ini,

masalah dibatasi pada formulasi dan evaluasi stabilitas fisik sediaan emulsi
minyak biji jinten hitamnya saja.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

1.3

Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka dapat

diidentifikasi masalah sebagai berikut:


a.

Apakah minyak biji jinten hitam dapat dibuat menjadi sediaan emulsi tipe
M/A yang baik dan stabil?

b.

Bagaimana karakteristik sediaan emulsi M/A tipe minyak biji jinten


hitam?

1.4

Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi emulsi tipe M/A minyak biji

jinten hitam (Nigella sativa L.) dengan menggunakan emulgator yang sesuai
sehingga stabil secara fisik selama jangka waktu penyimpanan tertentu.

1.5

Kegunaan Penelitian
Penelitian diharapkan dapat memberikan informasi mengenai pemanfaatan

potensi minyak biji jinten hitam yang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif
usaha pengembangan produk yang praktis untuk dikonsumsi, yakni berupa emulsi
tipe M/A, serta diharapkan dapat memberikan informasi mengenai formulasi
emulsi tipe M/A minyak biji jinten hitam dengan menggunakan variasi
konsentrasi emulgator.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Tanaman Jinten Hitam (Nigella sativa L.)

2.1.1 Klasifikasi Tanaman Jinten Hitam (Nigella sativa L.)


Berdasarkan ilmu taksonomi, klasifikasi tanaman jinten hitam adalah
sebagai berikut (Hutapea, 1994):
Kingdom : Plantae
Divisio

: Spermatophyta

Subdivisi : Angiospermae
Class

: Dicotyledoneae

Ordo

: Ranunculales

Famili

: Ranunculaceae

Genus

: Nigella

Species

: Nigella sativa Linn.

2.1.2 Deskripsi Tanaman Jinten Hitam (Nigella sativa L.)


Nama lain dari Nigella sativa L. ini adalah jinten hitam pahit (Indonesia),
black cumin (Inggris), kalvanji (Urdu) atau habbatussauda (Arab Saudi)
(Randhawa, 2008). Tumbuhan ini dapat tumbuh mencapai tinggi 20-30 cm
dengan daun hijau lonjong, ujung dan pangkal runcing, tepi beringgit dan
pertulangan menyirip. Bunganya majemuk, bentuk karang, kepala sari berwarna
biru sampai putih dengan 5-10 kelopak bunga dalam satu batang pohon (Hutapea,
1994).

[sumber:Balakrishnan, B. R dan Gupta, Paras, 2011, telah diolah kembali]

Gambar 2.1 Tanaman Jinten Hitam (Nigella sativa L.)

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2.1.3 Deskripsi Biji Jinten Hitam (Nigella sativa L.)


Biji Jinten Hitam agak keras berbentuk limas ganda dengan kedua
ujungnya meruncing, limas yang satu lebih pendek dari yang lain, bersudut 3
sampai 4, panjang 1,5 mm sampai 2 mm. Lebar kurang lebih 1 mm. Permukaan
luar biji berwarna hitam kecokelatan, berbintik-bintik, kasar dan berkerut,
terkadang dengan beberapa rusuk membujur atau melintang. Pada penampang
melintang biji akan terlihat kulit biji berwarna cokelat kehitaman sampai hitam
(Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1979).

[sumber:Balakrishnan, B. R dan Gupta, Paras, 2011, telah diolah kembali]

Gambar 2.2 Biji Jinten Hitam (Nigella sativa L.)

2.1.4 Cara Ekstraksi Minyak Biji Jinten Hitam (Nigella sativa L.)
Minyak biji jinten hitam (Nigella sativa L.) umumnya diekstraksi dengan
menggunakan teknik pelarut seperti yang digambarkan pada penelitian Nickavar,
et al., (2003), menggunakan pelarut petroleum eter selama 4 jam dalam sokhlet.
Ekstrak kemudian dikonsentrasikan di bawah tekanan yang rendah. Selanjutnya
dilarutkan kembali dalam petroleum eter dan ditambahkan larutan metanol-KOH
2M. Campuran dikocok selama 2 menit kemudian didiamkan selama 10 menit.
Lapisan paling atas merupakan minyak biji jinten sehingga dapat diambil dan
dicuci dengan air hingga bebas dari pelarut.
Kemudian metode ekstraksi yang dikemukakan oleh Ramadhan dan
Moersel (2002), biji jinten hitam diekstraksi dengan dua pelarut yang berbeda, nheksana dan campuran antara kloroform dan methanol (2:1,v/v).
Metode terbaru dalam mengekstraksi minyak biji jinten hitam dilakukan
dengan metode cold-pressing. Pada metode tersebut simplisia tidak mendapatkan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

perlakuan panas maupun penambahan pelarut. Sehingga minyak biji jinten hitam
hasil cold-pressing tidak memerlukan proses pemurnian dan juga memungkinkan
untuk memperoleh kandungan fitokimia lipofilik dalam kadar tinggi, termasuk di
dalamnya antioksidan alam dan turunan timoquinonnya (Lutterodt, et al., 2010).

2.1.5 Komponen Kimia Biji dan Minyak Jinten Hitam (Nigella sativa L.)
Komposisi senyawa biji jinten hitam akan bervariasi sesuai dengan
distribusi geografi, waktu pemanenan biji dan cara pemanenannya (Sultan, 2009).
Tabel 2.1 Komposisi Kimia Biji Jinten Hitam (Nigella sativa L.)
Secara Umum
Komposisi

Rentang dalam % (w/w)

Minyak

31-35,5

Karbohidrat

16-19,9

Protein

33-34

Serat

4,5-6,5

Abu

3,7-7

Saponin

0,013

Air

5-7

[Sumber: El-Din, El-Tahir dan Bakeet, 2006, telah diolah kembali]

Tabel 2.2 Komposisi Kimia Minyak biji Jinten Hitam (Nigella sativa L.)
Secara Umum
Komposisi

Rentang dalam % (w/w)

Asam Linoleat

55,6

Asam Oleat

23,4

Asam Palmitat

12,5

Asam Stearat

3,4

Asam Eikosadinat

3,1

Asam Laurat

0,6

Asam Miristat

0,5

Asam Linolenik

0,4

[Sumber: Nickavar, et al., 2003, telah diolah kembali]

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2.1.6 Aktifitas Farmakologi Minyak Biji Jinten Hitam (Nigella sativa L.)
a.

Antibakteri
Minyak biji jinten hitam sangat banyak manfaatnya, di antaranya aktivitas

sebagai antibakteri yang telah berhasil dilakukan penelitiannya oleh Arici,


Muhammet, et al., (2005). Mereka menyimpulkan dari lima minyak jinten hitam
yang berbeda yang biasanya digunakan pada makanan terutama untuk tambahan
citarasa, pengawetan dan terapi alami, bisa digunakan sebagai antibakteri pada
konsentrasi 0,5%, 1,0% dan 2% menggunakan metode agar difusi yang
menyerang 24 bakteri patogenik dan bakteri asam laktat. Dan semua minyak yang
diuji menunjukkan aktivitas antibakteri pada konsentrasi 2% yang lebih efektif
dibandingkan konsentrasi lainnya.
b.

Antidiabetik
Banyak penelitian yang membuktikan berbagai macam khasiat dari minyak

jinten hitam, di antaranya adalah kemampuannya memperpanjang waktu


protombin dari tikus untuk aktivitas antikoagulan. Pada pemberian minyak biji
jinten hitam jangka panjang yang dicampurkan pada makanan sehari-hari tikus
diabetes yang terinduksi streptozotocin (STZ) memperlihatkan bahwa terjadi
proses penyembuhan yang cukup signifikan dari hari ke hari (El-Din, El-Tahir dan
Bakeet, 2006). Begitupun dengan penelitian Al-Logmani (2011)

yang

menyebutkan hal yang sama, bahwa dengan diberikannya minyak biji jinten hitam
pada tikus yang terinduksi streptozotocin (STZ) dapat menurunkan glukosa darah,
trigliserida, kolesterol, LDL, asam urat, urea, kadar kreatinin, ALT, AST dan total
protein secara signifikan jika dibandingkan dengan tikus normal.
c.

Antioksidan
Untuk aktivitas sebagai antioksidan, minyak biji jinten hitam ini telah

dibuktikan dapat mencegah senyawa kimia carbon tetrachloride (CCl4) yang


menyebabkan kerusakan hati. Pemberian treatment 10 ml/kg/hari minyak biji
jinten hitam selama tujuh hari dapat menurunkan level serum enzim hati yang
tinggi secara signifikan dan memperbaiki oxidative stress (Aorahman, 2009).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

d.

Antikanker
Kemudian Salomi, et al., (1991) meneliti bahwa kandungan fatty acids

dalam minyak biji jinten hitam dapat menghambat dengan sempurna tumor
Ehrlich ascites carcinoma yang merupakan jenis sel kanker yang umum
ditemukan pada mencit dengan dosis 2 mg per hari selama 10 hari pemberian.
Serta pada dosis 100 mg/kg minyak biji jinten hitam ini menunda onset atau awal
mula pembentukan papilloma dan mengurangi angka papilloma pada tikus.
e.

Antiinflamasi
Secara tradisional pun menurut penelitian Houghton (1995), minyak biji

jinten hitam dan thymoquinone dapat menghambat generasi eicosanoid dan


membran lipid peroksidasi, dengan melewati jalur penghambatan cyclooxigenase
dan 5-lipoxygenase dari metabolisme arakidonat yang bertanggung jawab sebagai
aktivitas antiinflamasinya.
f.

Antihipertensi
Sedangkan untuk aktivitas hipertensinya, minyak biji jinten hitam dalam

beberapa penelitian dapat menurunkan tekanan darah secara spontan pada tikus
hipertensi yang hampir sama efeknya dengan nifedipin. Kemudian penelitian
menyebutkan bahwa secara tradisional penurunan tingkat kolesterol dengan
mengontrol keseimbangan darah dan berat badan yang merupakan efek dari
pemberian minyak biji jinten hitam (Gillani, et al., 2004).
g.

Sistem Imunitas Tubuh


Selanjutnya

menurut

penelitian

El-Kadi

dan

Kandil

(1986)

pun

menyebutkan bahwa efek dari 1 gram minyak biji jinten hitam selama dua hari
yang diberikan pada relawan, ternyata dapat memperbaiki aktivitas sel-T helper
dan sel natural killer dalam peningkatan sistem imunitas tubuh.

2.2

Emulsi

2.2.1 Pengertian Emulsi


Emulsi adalah sistem dua fase, yang salah satu cairannya terdispers dalam
cairan yang lain dalam bentuk tetesan kecil (droplet/globul) dengan diameter
biasanya lebih dari 0,1 m atau 0,1-50 m (De Man, 1997). Jika minyak yang
merupakan fase terdispersi dan larutan air merupakan fase pendispersi, maka

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

sistem ini disebut emulsi minyak dalam air. Sebaliknya, jika air merupakan fase
terdispersi dan minyak merupakan fase pendispersi, maka sistem ini disebut
emulsi air dalam minyak.
Suatu sistem emulsi pada dasarnya tidak stabil, karena masing-masing
partikel mempunyai kecenderungan untuk bergabung dengan partikel sesama
lainnya. Molekul fase A (air) ditarik ke dalam fase A dan ditolak oleh fase B
(minyak), membentuk suatu agregat yang akhirnya dapat mengakibatkan emulsi
tersebut pecah. Kekuatan dan kekompakan lapisan antarmuka adalah sifat yang
penting yang dapat membentuk stabilitas emulsi (Lachman, et al., 1994). Di
dalam proses pembuatan emulsi biasanya ditambahkan bahan ketiga untuk
menstabilkan emulsi. Bahan pengemulsi tersebut berguna untuk menurunkan
tegangan antarmuka antara fase air dan fase minyak serta mencegah koalesensi,
yaitu penyatuan tetesan kecil menjadi tetesan besar dan akhirnya menjadi satu fase
tunggal yang memisah, dengan membentuk lapisan yang protektif di sekeliling
globul (Effionora, 2012; Lachman, et al., 1994). Bahan pengemulsi umumnya
dibedakan menjadi tiga golongan besar, yaitu surfaktan, hidrokoloid dan zat padat
terbagi halus. Golongan pengemulsi tertentu dipilih terutama berdasarkan
stabilitas shelf life yang dikehendaki, tipe emulsi yang diinginkan dan biaya zat
pengemulsi (Lachman, et al., 1994). Suatu zat pengemulsi harus dapat
dicampurkan dengan bahan formulatif lainnya dan tidak boleh mengganggu
stabilitas atau efikasi dari zat terapeutik, serta tidak toksik pada penggunaan.
Kondisi

lingkungan

seperti

adanya

cahaya,

udara,

kontaminasi

mikroorganisme, dapat memberikan efek yang mengubah stabilitas emulsi. Oleh


karena itu dilakukan formulasi yang sesuai guna mengurangi kerusakan stabilitas
tersebut dengan cara penambahan bahan-bahan tambahan lain. Bahan tambahan
yang diperlukan dalam formulasi emulsi, di antaranya: bahan pengawet,
antioksidan dan penutup rasa. Penambahan bahan pengawet bertujuan untuk
mencegah kontaminasi mikroba. Suatu pengawet harus efektif terhadap
kontaminasi dari mikroorganisme patogen dan cukup dapat melindungi emulsi
selama digunakan pasien. Pengawet harus mempunyai toksisitas rendah, stabil
terhadap pemanasan dan selama penyimpanan, tercampurkan secara kimia,
memiliki rasa, bau dan warna yang lemah. Contoh pengawet yang biasa

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

10

digunakan di antaranya: asam benzoat dan turunannya, nipagin, nipasol,


benzalkonium klorida, klorbutanol, glutaraldehih, asam sorbat, fenol kresol, fenil
merkuri asetat, klorotimol fenil merkuri nitrat (Ansel, 2005; Lachman, et al.,
1994).
Banyak senyawa organik mudah mengalami autooksidasi bila dipaparkan
ke udara, dan lemak yang teremulsi terutama peka terhadap rangsangan. Pada
autooksidasi,

minyak-minyak

yang

tidak

jenuh

seperti

minyak

nabati

menimbulkan ketengikan dengan bau, penampilan, dan rasa yang tidak


menyenangkan. Di pihak lain, minyak mineral dan hidrokarbon-hidrokarbon
jenuh yang berhubungan mudah mengalami degradasi oksidatif pada lingkungan
tidak sesuai. Penambahan antioksidan dapat mencegah oksidasi dari fase minyak
yang terdapat dalam suatu sediaan emulsi. Contoh antioksidan yang biasa
digunakan di antaranya: BHA (butylated hydroxyanisole), BHT (butylated
hydroxytoluene), asam galat, propil galat, asam askorbat, askorbil palmitat, sulfit
dan tokoferol (Lachman, et al., 1994).
Sedangkan penutup rasa ditujukan untuk mengurangi rasa tidak enak dan
secara ideal dilakukan dengan cara mengurangi rasa pahit, menggunakan
penghambat rasa khasiat, stabilitas, penampilan sediaan, serta memberi rasa
tertentu untuk mencirikan suatu produk (Effionora, 2012). Cara penutupan rasa
pahit sediaan oral secara umum dapat dilakukan dengan menggunakan pemanis
dan flavor. Pemanis dapat memainkan peranan penting dalam formulasi sediaan
yang digunakan melalui mulut seperti dengan cara menambah rasa, menutupi rasa
yang tidak dapat diterima oleh masyarakat umum. Contoh pemanis yang biasa
digunakan di antaranya: sukrosa, dekstrosa, fruktosa, gliserin, maltitol, manitol,
sorbitol dan xylitol (Effionora, 2012).

2.2.2 Tujuan Emulsi dan Emulsifikasi


Secara farmasetik, proses emulsifikasi memungkinkan seorang farmasis
dapat membuat suatu sediaan yang stabil dan rata dari dua cairan yang tidak dapat
bercampur, memecah fase dalam menjadi tetesan-tetesan dan menstabilkan
tetesan-tetesan tersebut dalam fase pendispersi dan ditujukan untuk pemberian
obat yang mempunyai rasa lebih enak walaupun yang diberikan sebenarnya

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

11

minyak yang tidak enak rasanya dengan penambahan pemanis dan pemberi rasa
pada pembawa airnya sehingga mudah dikonsumsi dan ditelan sampai ke
lambung. Ukuran partikel yang diperkecil dari bola-bola minyak dapat
mempertahankan minyak tersebut agar lebih dapat dicernakan dan memudahkan
absorpsi obat (Ansel, 2005; Lachman, et al., 1994).

2.2.3 Hidrokoloid
Hidrokoloid merupakan istilah umum yang menjelaskan mengenai
biopolimer hidrofilik dengan berat molekul besar dari polisakarida yang
diekstraksi dari tanaman, rumput laut, sumber mikroba dan protein yang saat ini
sedang ramai digunakan sektor industri sebagai larutan pengental dan gelling
agent, penstabil busa, dispersi dan emulsi, menghambat pembentukan es dan gula,
serta mengontrol pelepasan rasa dalam suatu produksi (Phillips and Williams,
2009). Di bawah ini merupakan sumber penting dari hidrokoloid.

Tabel 2.3 Sumber Hidrokoloid Penting yang Sering Digunakan


Pohon

Selulosa

Eksudat pohon

Gom arab, gom karaya,


tragakan, gom ghatti

Botanical

Tanaman

Starch, pektin, selulosa

Biji

gom locust bean, gom


tara, gom tamarind, gom
guar

Algae
Microbial
Hewan

Akar

Konjac mannan

Rumput laut merah

Agar, karageenan

Rumput laut coklat

Alginate

Gom xanthan, curdlan, dextran, gom gellan, selulosa


Gelatin, kaseinat, whey protein, protein kedelai,
protein putih telur, kitosan

[Sumber: Phillips and Williams, 2009, telah diolah kembali]

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

12

2.3

Komponen Pembentuk Emulsi

2.3.1 Biopolimer (Tragakan)


Tragakan tergolong dalam gum polisakarida dengan berat molekul yang
besar (840.000), terdiri dari 2 bagian yaitu tragacanthin yang merupakan
polisakarida larut air dan bassorin yang merupakan polisakarida yang tidak larut
air atau mengembang. Tragakan berwarna putih hingga kekuningan, translusen,
tidak berbau, berbentuk serbuk yang halus, serta rasa mucilago hambar (Rowey,
Sheskey dan Owen, 2006). Sifat aliran tragakan menunjukkan sifat pseudoplastis
pada konsentrasi 1% (Effionora, 2012). Tragakan tidak toksik karenanya sudah
bertahun-tahun digunakan dalam formulasi farmasetik oral dan produk makanan
sebagai stabilizer, emulgator dan pengental. Peningkatan viskositas dari tragakan
terjadi dengan peningkatan temperatur dan konsentrasi, lalu penurunan viskositas
terjadi dengan peningkatan pH. Penambahan mineral kuat dan asam organik dapat
mengurangi viskositas dipersi tragakan sehingga menurunkan stabilitasnya
(Rowey, Sheskey dan Owen, 2006).

2.3.2 Pemanis (Sukrosa)


Sukrosa merupakan pemanis alami yang paling umum digunakan dalam
formulasi sediaan secara oral yang dapat menutupi rasa sediaan yang kurang enak.
Sukrosa diproduksi dari tebu (Sachharum oficinarum) dan gula bit (Beta vulgaris)
serta dikenal nontoksik dan biodegradable. Sukrosa berwarna putih, berbentuk
serbuk kristal, tidak berbau dan memiliki rasa manis (Rowey, Sheskey dan Owen,
2006).

2.3.3 Pengawet (Na Benzoat)


Na Benzoat merupakan pengawet yang kompatibel dengan tragakan dalam
formulasi dengan konsentrasi 0,1%. Na Benzoat berwarna putih, berbentuk serbuk
hingga kristal, tidak berbau dan tidak berasa. Aktivitas Na benzoat sebagai
pengawet dapat berkurang dengan adanya interaksi dengan kaolin dan surfaktan
nonionik (Rowey, Sheskey dan Owen, 2006).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

13

2.3.4 Pelarut (Aquademineralisata)


Aquademineralisata adalah air murni yang diperoleh dengan cara
penyulingan. Air murni dapat diperoleh dengan cara penyulingan, pertukaran ion,
osmosis terbalik, atau dengan cara yang sesuai. Karena akan digunakan untuk
sediaan oral, maka digunakan air yang bebas mineral, partikel dan mikroba
(Rowey, Sheskey dan Owen, 2006).

2.4

Evaluasi Sediaan Emulsi


Evaluasi sediaan emulsi dilakukan untuk mengetahui kestabilan dari suatu

sediaan emulsi selama waktu penyimpanan tertentu. Evaluasi ini dapat dilakukan
melalui pengamatan secara organoleptis (rasa, bau, warna, konsistensi),
pengamatan secara fisika (volume creaming, diameter globul rata-rata, viskositas,
sentrifugasi, cycling test) dan pengamatan secara kimia (pengukuran pH) (Martin,
et al., 1993; Ansel, 2005; Lachman, et al., 1994).

2.5

Stabilitas Sediaan Emulsi


Stabilitas diartikan bahwa sediaan obat yang disimpan dalam kondisi

penyimpanan tertentu di dalam kemasan penyimpanan dan pengangkutannya tidak


menunjukkan perubahan sama sekali atau berubah dalam batas-batas yang
diperbolehkan. Faktor yang menyebabkan ketidakstabilan sediaan obat dapat
dikelompokkan menjadi dua. Pertama adalah kecocokan bahan aktif dan bahan
pembantunya sendiri yang dihasilkan oleh bangun kimiawi dan kimia-fisikanya.
Kedua adalah faktor luar seperti suhu, kelembaban udara dan cahaya yang dapat
menginduksi atau mempercepat jalannya reaksi. Hal penting lainnya adalah
kemasan, khususnya jika digunakan wadah yang terbuat dari bahan sintetis
(Voight, 1995).
Stabilitas sebuah emulsi adalah sifat emulsi untuk mempertahankan
distribusi halus dan teratur dari fase terdispersi yang terjadi dalam jangka waktu
yang panjang (Voight, 1995). Begitupun tanpa adanya koalesen dari fase intern,
creaming, serta terjaganya rupa yang baik, bau dan warnanya (Anief, 1999).
Kehancuran sebuah emulsi ditunjukkan oleh penurunan stabilitasnya. Pada tahap
pertama terjadi pengapungan atau creaming karena bobot jenis fase terdispersi <

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

14

bobot jenis bahan pendispersi dan pengendapan atau sedimentasi karena bobot
jenis fase terdispersinya > bobot jenis bahan pendispersi. Peristiwa ini
mengakibatkan pemisahan dari kedua fase emulsi. Dalam keadaan akhirnya akan
terbentuk dua lapisan emulsi yang satu terletak di atas yang lain. Pada tahap kedua
terjadi penyatuan bola kecil yang tidak reversible yang dinamakan koalesensi,
yang dapat menyebabkan pecahnya emulsi (Voight, 1995). Peneliti lainpun
mendefinisikan bahwa ketidakstabilan fisik suatu emulsi adalah adanya
aglomerasi dari fase intern dan terjadi pemisahan produk (Anief, 1999). Oleh
karena itu cukupnya bahan yang membentuk lapisan antarmuka penting untuk
melindungi seluruh permukaan dari tiap tetesan (Ansel, 2005).
Emulsi tipe M/A dapat mengalami destabilisasi emulsi seperti beberapa
tipe perubahan fisik, berbeda dengan tipe A/M yang mungkin cenderung
mengalami sedimentasi daripada creaming. Destabilisasi emulsi ini di antaranya:
a. Creaming
Creaming adalah pertumbuhan dari droplet karena aktivitas gravitasi
sehingga droplet terpisah ketika disentuh. Creaming berada pada fase kontinyu
jika fase terdispersi tidak memiliki berat jenis yang sebanding. Kecepatan
creaming dapat dikontrol dengan memperkecil ukuran droplet, menyamakan berat
jenis dari kedua fase dan menambah viskositas dari fase kontinyu (Martin, et al.,
1993).
b. Flokulasi
Flokulasi adalah suatu bentuk pelekatan satu atau lebih droplet bersama
dan membentuk suatu agregasi. Hal ini merupakan proses dari droplet sebagai
hasil dari benturan kombinasi gaya antar droplet (Martin, et al., 1993).
c. Koalesen
Penyebab koalesen adalah rusaknya lapisan tipis antardroplet yang
berdekatan. Hal ini akan mengurangi tegangan antarmuka dan luas permukaan
droplet. Kemungkinan terjadinya koalesen sebanding dengan lama droplet itu
saling berdekatan. Koalesen jarang terjadi pada droplet yang kecil atau pada
lapisan yang tebal karena droplet ini memiliki luas lapisan yang lebih kecil atau
memiliki gaya tolak antardroplet. Koalesen menyebabkan droplet menjadi lebih
besar dan terjadi pemisahan fase (Martin, et al., 1993).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB 3
METODE PENELITIAN

3.1

Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Penelitian 1, Laboratorium

Penelitian 2, Laboratorium Pharmacy Sterile Preparation Technology (PST)


Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas
Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dari bulan Februari hingga Juni
2013.

3.2

Alat
Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini yaitu alat-alat gelas yang

biasa

dipergunakan

di

Laboratorium

Pharmacy

Bioavailability

and

Bioequivalency (PBB), homogenizer (STIRER IKA), timbangan analitik (AND


GH-202), viskometer (HAAKE viscoTester 6R), pH-meter digital (HORBA), hot
plate with magnetic stirer (WIGGEn HAUSER), oven, mikroskop optik
(Olympus DX 1x71), centrifuge (eppendorf Centrifuge 5417 R) dan refrigerator.

3.3

Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu minyak biji jinten

hitam yang diperoleh dari (PT Prima Agritech Nusantara, Depok), gom arab (PT
Brataco, Jakarta), tragakan (PT Brataco, Jakarta), gelatin (PT Brataco, Jakarta),
Na alginat (PT Total Equipment Pharmacy, Semarang), Na benzoat, pemanis
sukrosa dan aquadest.

3.4

Prosedur Penelitian

3.4.1 Penyiapan Bahan


Bahan-bahan yang akan digunakan untuk membuat sediaan emulsi yang
diperoleh dari berbagai sumber dikumpulkan dan disiapkan.

15

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

16

3.4.2 Uji Pendahuluan Formula Basis Emulsi


Dilakukan untuk menentukan emulgator alam yang tepat dalam pembuatan
sediaan emulsi minyak biji jinten hitam dengan membuat suatu korpus emulsi
menggunakan beberapa emulgator alam yang biasa digunakan di antaranya go m
arab, tragakan, gelatin, Na alginat dan diamati kestabilannya selama tujuh hari.
Emulgator yang menghasilkan basis emulsi paling baik digunakan untuk membuat
formula selanjutnya.
Tabel 3.1 Formula Basis Emulsi Tipe M/A Minyak Biji Jinten Hitam
1. Gelatin
Bahan

Konsentrasi Bahan Penyusun Basis Emulsi


F1

F2

F3

500mg/5ml

500mg/5ml

500mg/5ml

Gelatin

0,5%

1%

1,5%

Aquadest sampai

100%

100%

100%

Minyak biji jinten hitam

2. Gom arab
Bahan

Konsentrasi Bahan Penyusun Basis Emulsi


F1

F2

F3

500mg/5ml

500mg/5ml

500mg/5ml

Gom arab

10%

15%`

20%

Aquadest sampai

100%

100%

100%

Minyak biji jinten hitam

3. Tragakan
Bahan
Minyak biji jinten hitam
Tragakan
Aquadest sampai

Konsentrasi Bahan Penyusun Basis Emulsi


F1

F2

F3

500mg/5ml

500mg/5ml

500mg/5ml

1%

1,5%

2%

100%

100%

100%

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

17

4. Na alginat
Bahan
Minyak biji jinten hitam
Na alginat
Aquadest sampai

Konsentrasi Bahan Penyusun Basis Emulsi


F1

F2

F3

500mg/5ml

500mg/5ml

500mg/5ml

1%

2%

3%

100%

100%

100%

Keterangan : Rentang konsentrasi dari masing-masing emulgator menurut : Handbook of


Pharmaceutical Excipient Fifth Edition dan Martins Physical Pharmacy and Pharmaceutical
Sciences

Cara Pembuatan:
Untuk dispersi gom arab, tragakan, dan Na alginat sama pengerjaannya.
Emulgator didispersikan dalam sejumlah aquadest selama 10 menit dengan stirer
homogenizer kecepatan 850 rpm dalam beacker glass, kemudian ditambahkan
minyak sedikit demi sedikit (terbentuk korpus emulsi). Lalu ditambahkan sisa
aquadest sambil tetap dihomogenkan (Ramin, et al., 2009; Vahid, et al., 2012)
Sedangkan untuk gelatin didispersikan dalam sejumlah aquadest dengan
stirer homogenizer kecepatan 850 rpm dalam beacker glass di atas hot plate
selama 20 menit kemudian dinaikkan suhu menjadi 98C, kemudian ditambahkan
minyak sedikit demi sedikit (terbentuk korpus emulsi). Lalu ditambahkan sisa
aquadest sambil tetap dihomogenkan (Gennaro, et al., 1975).

3.4.3 Formulasi Emulsi dengan Emulgator Tragakan


Hasil pengamatan organoleptis selama tiga hari menunjukkan bahwa
formula basis emulsi dengan menggunakan emulgator tragakan merupakan basis
emulsi terbaik di antara ketiga basis emulsi yang lain. Oleh karena itu, emulgator
tragakan dipilih untuk membuat formula emulsi selanjutnya.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

18

Tabel 3.2 Formula Sediaan Emulsi Tipe M/A Minyak Biji Jinten Hitam
Konsentrasi Bahan Penyusun Sediaan
Bahan
F1

F2

F3

500mg/5ml

500mg/5ml

500mg/5ml

1%

1,5%

2%

Sukrosa

25%

25%

25%

Na benzoat

0,1%

0,1%

0,1%

Aquadest sampai

300%

300%

300%

Minyak
biji
Hitam
Tragakan

Jinten

Adapun pembuatan formula emulsi dengan cara sebagai berikut:


a)

Semua alat dan bahan disiapkan, dan ditimbang bahan-bahan yang


diperlukan

b)

Tragakan didispersikan lebih dulu dalam beacker glass yang berisi


aquadest sebanyak 100 ml dengan stirer homogenizer kecepatan
950 rpm selama 15 menit. Kemudian ditambahkan minyak sedikit
demi sedikit sambil tetap dihomogenkan (terbentuk korpus emulsi)

c)

Lalu ditambahkan sukrosa dan Na benzoat yang sebelumnya telah


dilarutkan dalam sejumlah air serta sisa aquadest sambil tetap
dihomogenkan selama 35 menit dengan kecepatan 1517 rpm

d)

Emulsi yang dihasilkan dipindahkan ke dalam wadah yang


digunakan untuk menyimpan sediaan, serta dilakukan evaluasi dan
uji stabilitas sediaan.

3.5

Evaluasi Sediaan Emulsi


Evaluasi sediaan emulsi dilakukan untuk mengetahui kestabilan dari

sediaan emulsi yang telah dibuat. Evaluasi ini meliputi pengamatan sediaan uji
(F1, F2, dan F3) selama 21 hari waktu penyimpanan, yaitu dimulai dari hari ke-0,
7, 14 dan 21. Pengamatan sediaan meliputi evaluasi secara umum, di antaranya:

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

19

3.5.1 Pengamatan Organoleptis (Departemen Kesehatan Republik Indonesia,


1995)
Pengamatan sediaan emulsi dilakukan dengan mengamati dari segi
penampilan, rasa dan aroma dari sediaan uji (F1, F2, dan F3) pada hari ke-0 dan
21.

3.5.2 Pengukuran Viskositas (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995)


Pengukuran viskositas sediaan dilakukan dengan menggunakan viskometer
HAAKE ViscoTester 6R. Sediaan disimpan dalam beacker glass 100 ml. Power
alat ditekan dan alat akan mengkalibrasi terlebih dahulu kemudian spindel dipilih
nomor spindel 5 dengan kecepatan 100 rpm. Pengukuran viskositas dilakukan
pada hari ke-0 dan 21.

3.5.3

Uji Sifat Alir


Sediaan disimpan dalam wadah, lalu spindel diturunkan ke dalam sediaan

hingga batas yang ditentukan, kecepatan diatur mulai dari 10, 12, 20, 30, 50, 60,
100 rpm lalu dilanjutkan dari kecepatan sebaliknya 100, 60, 50, 30, 20, 12, 10
rpm. Uji sifat alir dilakukan pada hari ke-0.

3.5.4

Pengukuran Diameter Partikel Rata-rata (Martin, et al., 1993)


Diameter partikel rata-rata diukur dengan menggunakan mikroskop optik.

Dengan cara sediaan emulsi diletakkan pada kaca objek, diamati dengan
mikroskop perbesaran 10 x 10. Gambar yang diamati difoto dan diukur diameter
globulnya. Pengukuran diameter partikel rata-rata dilakukan pada hari ke-0 dan
21.

3.5.5

Uji Tipe Emulsi (Martin, et al., 1993)


Uji tipe emulsi dilakukan dengan menggunakan salah satu metode yaitu

metode pengenceran. Dilakukan dengan penambahan sejumlah air dalam emulsi.


Bila emulsi tersebut bercampur sempurna dengan air, maka emulsi termasuk tipe
M/A sedangkan bila emulsi tidak bercampur dengan sempurna maka tipe emulsi
A/M. Uji tipe emulsi ini dilakukan pada hari ke-0 dan 21, untuk melihat ada atau

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

20

tidaknya fenomena inversi fasa (pengubahan fasa) dari minyak dalam air menjadi
air dalam minyak.

3.5.6

Pengukuran pH (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995)


Pengukuran pH dilakukan dengan menggunakan pH meter. Elekroda

sebelumnya telah dikalibrasi pada larutan buffer pH 4, pH 7 dan pH 9. Kemudian


elektroda dicelupkan ke dalam sediaan, pH yang muncul dilayar dan stabil lalu
dicatat. Pengukuran dilakukan terhadap masing-masing sediaan pada hari ke-0
dan 21 pada suhu ruang.

3.5.7

Uji Stabilitas

a.

Uji Volume creaming (Martin, et al., 1993)


Sebanyak 70 ml emulsi dalam gelas ukur 100 ml disimpan dan dilihat

adanya perubahan tinggi globul akibat creaming atau terjadi pengendapan.


Pengamatan dilakukan selama penyimpanan emulsi dari hari ke-0 sampai 21.
Kemudian dilakukan pengukuran :
F:

x 100

Keterangan: Dimana F=volume kriming; Vu = volume akhir dari terjadinya endapan/creaming;


Vo= volume awal dari emulsi sebelum terjadi endapan/creaming

b.

Cycling test (Huynh-BA, Kim, 2008)


Metode ini digunakan untuk melihat kestabilan suatu sediaan dengan

pengaruh variasi suhu selama waktu penyimpanan tertentu. Sediaan emulsi awal
yang telah dibuat, dilakukan evaluasi lebih dulu. Kemudian disimpan pada suhu
5C selama 24 jam, lalu dikeluarkan dan ditempatkan pada suhu 40C selama 24
jam, waktu selama penyimpanan dua suhu tersebut dianggap satu siklus.
Percobaan ini diulang sebanyak 3 siklus selama 12 hari dan dilihat apakah terjadi
pemisahan fase (creaming atau sedimentasi) dan pengukuran diameter globul ratarata.
c.

Uji Sentrifugasi (Lachman, et al., 1994)


Sediaan emulsi dimasukkan ke dalam tabung sentrifugasi, kemudian

dilakukan sentrifugasi pada kecepatan 3800 rpm selama 5 jam. Hasil sentrifugasi
dapat diamati dengan adanya pemisahan atau tidak.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

21

3.6

Alur Penelitian

Minyak Biji Jinten Hitam


(Nigella sativa Linn)

Uji pendahuluan formula basis emulsi yang dievaluasi selama 3 hari

Gom arab

Gelatin

10%, 15%, 20%

0,5%, 1%, 1,5%


Tragakan

Na alginat
1%, 2%, 3%

1%, 1,5%, 2%
Formulasi Emulsi dengan Emulgator terpilih : Tragakan 1%, 1,5%, 2%

Pembuatan Sediaan
Emulsi

Evaluasi Sediaan
Emulsi

Analisis Data

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Prosedur Pembuatan Emulsi


Pengolahan minyak biji jinten hitam menjadi bentuk emulsi dilakukan

dengan tujuan bagaimana menghilangkan rasa berminyak dari minyak biji jinten
hitam sendiri agar menjadi produk yang lebih baik dengan mengurangi atau
menutupi rasa berminyak dari biji jinten hitam tersebut. Dasar pembuatan emulsi
minyak biji jinten hitam dengan menggunakan emulgator tragakan adalah hasil
dari uji pendahuluan formula basis emulsi yang telah dilakukan sebelumnya
menggunakan beberapa emulgator alam terpilih, seperti gom arab, tragakan,
gelatin dan Na alginat dan diamati secara organoleptis selama 3 hari.
Tabel 4.1 Hasil Formula Basis Emulsi Tipe M/A Minyak Biji Jinten Hitam
Bahan

Gom arab

Gelatin

Tragakan

Na alginat

Konsentrasi

Pengamatan selama 3 hari


Warna

Konsistensi

Bau

10%

Cokelat tua

Terpisah 2 lapisan Khas minyak

15%

Cokelat muda

Terpisah 2 lapisan Khas minyak

20%

Cokelat muda

Terpisah 2 lapisan Khas minyak

0,5%

Krem susu

Terpisah 2 lapisan Khas minyak

1%

Krem susu

Terpisah 2 lapisan Khas minyak

1,5%

Krem susu

Terpisah 2 lapisan Khas minyak

1%

Krem kekuningan

Homogen

Khas minyak

1,5%

Krem kekuningan

Homogen

Khas minyak

2%

Krem kekuningan

Homogen

Khas minyak

1%

Cokelat

Terpisah 2 lapisan Khas minyak

2%

Cokelat

Terpisah 2 lapisan Khas minyak

3%

Cokelat

Terpisah 2 lapisan Khas minyak

22

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

23

Basis emulsi dengan emulgator tragakan merupakan basis yang lebih baik di
antara basis emulsi dengan emulgator lain dalam formula emulsi tipe M/A minyak
biji jinten hitam, dilihat dari konsistensinya yaitu berwarna krem kekuningan dan
tidak adanya lapisan terpisah yang menandakan terjadinya ketidakstabilan.
Dibandingkan dengan basis emulsi yang menggunakan emulgator gom arab,
gelatin dan Na alginat yang dari awal pembuatan sudah terlihat adanya pemisahan
fase

(atas:fase

minyak;

bawah:fase

air),

emulgator

tragakan

mampu

mempertahankan viskositas fase pendispersi sehingga produk menjadi lebih stabil.


Oleh karena itu, berdasarkan hasil pengamatan uji pendahuluan di atas tragakan
dipilih untuk membuat formula emulsi minyak biji jinten hitam selanjutnya.
Pada penelitian ini dibuat tiga formula emulsi tipe M/A minyak biji jinten
hitam dengan variasi konsentrasi tragakan. Tujuan memvariasikan konsentrasi
tragakan yaitu untuk memperoleh formula minyak biji jinten hitam dengan
kualitas dan stabilitas fisik yang memenuhi persyaratan sebagai sediaan emulsi
setelah berada dalam sediaan.
Pembuatan emulsi diawali dengan mendispersikan tragakan dengan
aquadest dalam beacker glass, dihomogenkan dengan stirer homogenizer dengan
kecepatan 950 rpm. Kemudian ditambahkan minyak biji jinten hitam, sukrosa,
serta Na benzoat yang telah dilarutkan dalam sejumlah air sambil tetap
dihomogenkan dengan kecepatan tinggi yaitu 1517 rpm selama 30 menit agar
diperoleh ukuran globul yang kecil. Proses homogenisasi merupakan proses
emulsifikasi yang bertujuan memperkecil ukuran fase terdispersi (globul) agar
terdispersi dengan baik dalam medium pendispersinya. Oleh karena itu,
homogenisasi secara mekanis dapat menghasilkan pengurangan ukuran globul dan
penyebaran tragakan sebagai emulgator secara merata. Prinsip kerja dari
homogenisasi secara mekanis yaitu mengurangi ukuran globul dengan cara
menggerus partikel besar dengan rotor atau komponen yang bergerak sehingga
menghasilkan partikel berukuran lebih kecil dari sebelumnya. Energi besar dari
komponen bergerak atau rotor tadi terbukti mampu memperkecil ukuran globul
dari emulsi (Intan, K, et al., 2012).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

24

Peran tragakan dalam emulsi ini sebagai biopolimer hidrofilik yang mampu
meningkatkan stabilitas emulsi dengan teradsorpsi pada permukaan droplet fase
terdispersi dan mencegah penggabungannya dengan membentuk lapisan
pelindung serta meningkatkan viskositas fase pendispersi (Rezvani, et al., 2002).
Begitu pun menurut Vahid, et al., (2012) bahwa tragakan merupakan polisakarida
anionik yang sangat efektif sebagai emulgator alami yang dapat digunakan untuk
meningkatkan sifat fisik dan reologi dari suatu sediaan emulsi. Apabila viskositas
ditingkatkan maka dapat mengurangi kecepatan pemisahan emulsi. Dengan
demikian, penambahan bahan pengental seperti tragakan ini diperlukan untuk
mempertahankan stabilitas emulsi selama penyimpanan.
Secara teoritis pun disebutkan bahwa emulgator berupa hidrokoloid
membentuk lapisan ganda (multimolekular) yang mengelilingi tetesan minyak
yang terdispersi. Emulgator tipe ini tidak menyebabkan penurunan tegangan
permukaan yang cukup dalam, akan tetapi kemampuannya lebih efektif
membentuk suatu lapisan multimolekular pada antarmuka dalam melindungi
tetesan yang terdispersi serta meningkatkan viskositas fase pendispersinya
(Martin, et al., 1993; Gennaro, 1975). Oleh karena itu, tragakan dapat
memfasilitasi pembentukan tetesan minyak (oil-droplet), meningkatkan stabilitas
emulsi dan menghasilkan shelf-life yang diinginkan pada emulsi tipe M/A minyak
biji jinten hitam.
Setelah tercampur homogen, emulsi kemudian disimpan dalam wadah gelas
yang tertutup rapat untuk mencegah terjadinya kontaminasi mikroba.

4.2

Evaluasi Sediaan Emulsi


Evaluasi sediaan emulsi minyak biji jinten hitam dilakukan untuk

menggambarkan kestabilan sediaan secara subjektif atau dikenal dengan istilah


shelf-life. Shelf-life suatu sediaan bisa secara langsung dihubungkan dengan
kestabilan kinetik. Kestabilan kinetik berarti sifat-sifat kimia-fisika dari suatu
sediaan tersebut tidak berubah secara berarti selama suatu periode waktu tertentu
(Lachman, et al., 1994).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

25

4.2.1

Hasil Evaluasi Organoleptis Emulsi tipe M/A Minyak Biji Jinten Hitam
Pengamatan organoleptis ketiga formula emulsi minyak biji jinten hitam

yang diperjelas pada lampiran 9, menunjukkan bahwa selama 21 hari


penyimpanan emulsi berwarna krem kekuningan sesuai dengan warna yang
diharapkan. Begitupun aroma khas minyak biji jinten hitam dalam sediaan masih
tercium karena minyak biji jinten hitam memiliki aroma yang sangat kuat.
Penyebab lainnya adalah karena tidak ditambahkannya penutup rasa dalam
formula untuk menutupi aroma minyak.

4.2.2

Hasil Evaluasi Pengukuran pH


Secara garis besar nilai pH seluruh formula emulsi selama 21 hari

penyimpanan mengalami penurunan. Nilai awal pH emulsi yang dihasilkan sekitar


5-6.
Tabel 4.2 Hasil Pengukuran pH Emulsi Tipe M/A Minyak Biji Jinten Hitam
Sediaan
Formula 1
(Tragakan 1%)
Formula 2
(Tragakan 1,5%)
Formula 3
(Tragakan 2%)

Hasil pH
Hari ke-0

Hari ke-3

6,049

5,064

5,950

4,455

5,848

4,715

Nilai pH dari masing-masing formula menunjukkan terjadinya penurunan selama


21 hari penyimpanan sekitar 4-5 (dapat dilihat pada lampiran 10). Penurunan pH
pada sediaan oral biasanya disebabkan oleh penguraian lemak akibat hidrolisis;
oksidasi dengan adanya oksigen dari atmosfer dan cahaya; serta pertumbuhan
mikroorganisme (Martin, et al., 1993). Akan tetapi pada penelitian ini tidak
dilakukan pengujian lebih lanjut untuk mengetahui penyebab dari penurunan pH
pada sediaan emulsi.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

26

Gambar 4.1 Hubungan antara pH dengan waktu penyimpanan emulsi minyak


biji jinten hitam
4.2.3

Hasil Evaluasi Pengukuran Viskositas


Viskositas merupakan nilai yang menunjukkan satuan kekentalan medium

pendispersi dari suatu sistem emulsi. Semakin tinggi viskositas suatu emulsi,
semakin baik penghambatan agregasi atau penggabungan kembali globul (Intan,
K, et al., 2012). Pengukuran viskositas ketiga formula pada spindel 5 dengan
kecepatan 100 rpm menunjukkan bahwa formula 1, formula 2, dan formula 3
berturut-turut 570 cps, 1050 cps dan 2160 cps.
Tabel 4.3 Hasil Pengukuran Viskositas Emulsi Tipe M/A Minyak Biji Jinten
Hitam dengan spindel 5 dan kecepatan 100 rpm

Sediaan
Formula 1
(Tragakan 1%)
Formula 2
(Tragakan 1,5%)
Formula 3
(Tragakan 2%)

Hasil Viskositas (cPs)


Hari ke-0

Hari ke-3

570

160

1050

450

2160

930

Viskositas yang bermakna dari medium pendispersi ini akibat


pembentukan suatu lapisan ganda multimolekular dari sifat hidrofilik tragakan
dimana lapisan tersebut kuat dan menghambat terjadinya penggabungan dari
globul-globul minyak yang sudah terbentuk. Semakin tinggi konsentrasi zat
pengemulsi, semakin tinggi pula viskositas produk tersebut sehingga dapat

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

27

meningkatkan stabilitas emulsi (Martin, et al., 1993). Hal tersebut dapat diamati
secara nyata dari viskositas formula 1 (570 cps) yang mengandung tragakan 1%
lebih rendah dibandingkan viskositas formula 2 (1050 cps) yang mengandung
tragakan 1,5% serta viskositas formula 2 (1050 cps) yang mengandung tragakan
1,5% lebih rendah dibandingkan viskositas formula 3 (2160 cps) yang
mengandung tragakan 2%.
Secara teoritis seiring dengan lamanya penyimpanan, viskositas emulsi
akan semakin meningkat (Lachman, et al., 1994). Akan tetapi setelah dilakukan
pengukuran viskositas pada hari ke-21 sediaan pada penyimpanan suhu kamar
menunjukkan bahwa ketiga formula mengalami penurunan sehingga lebih encer
dibandingkan dengan minggu ke-0. Hal tersebut dapat diamati dari pengukuran
viskositas menggunakan spindel 5 dengan kecepatan 100 rpm formula 1, formula
2, dan formula 3 berturut-turut 160 cps, 450 cps, dan 930 cps. Penurunan
viskositas tersebut diikuti oleh penurunan stabilitas emulsi. Hal ini karena pada
viskositas yang rendah, fase terdispersi (globul) akan mudah bergerak dalam
medium pendispersinya sehingga peluang terjadinya tabrakan antara sesama
globul semakin tinggi dan globul cenderung bergabung menjadi partikel yang
lebih besar dan menggumpal. Pembahasan mengenai hubungan ukuran globul
akan diuraikan pada pembahasan selanjutnya.
Setelah dilakukan pengukuran viskositas sediaan dengan beragam
kecepatan geser, diperoleh reogram pada lampiran 8. Sifat aliran emulsi minyak
biji jinten hitam dengan emulgator tragakan seharusnya menunjukkan sifat aliran
pseudoplastis thiksotropi, dimana sifat aliran ini disebabkan oleh adanya dispersi
dari tragakan (Martin, et al., 1993). Sifat aliran emulsi pada umumnya berupa
pseudoplastis dimana viskositas akan berkurang seiring dengan naiknya kecepatan
geser. Akan tetapi bentuk reogram yang diperoleh dari ketiga formula tidak ada
yang sama dengan bentuk reogram dari aliran pseudoplastis yang representatif itu
sendiri.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

28

Gambar 4.2 Hubungan antara viskositas dengan waktu penyimpanan emulsi


minyak biji jinten hitam
4.2.4

Hasil Evaluasi Pengukuran Diameter Globul Rata-Rata


Pengukuran diameter globul rata-rata emulsi menggunakan mikroskop

Olympus DX 1x71 agar terlihat lebih jelas. Setelah dilakukan pengukuran


diameter globul rata-rata menunjukkan bahwa ukuran formula 1, formula 2, dan
formula 3 berturut-turut 14,13 m, 4,065 m, dan 2,91 m.
Tabel 4.4 Hasil Pengukuran Diameter Globul Emulsi Tipe M/A Minyak Biji
Jinten Hitam
Sediaan
Formula 1
(Tragakan 1%)
Formula 2
(Tragakan 1,5%)
Formula 3
(Tragakan 2%)

Hasil Pengukuran Diameter Globul (m)


Hari ke-0

Hari ke-3

14,13

15,32

4,065

14,74

2,91

3,50

Secara teoritis semakin besar konsentrasi emulgator, semakin kecil


diameter globul sehingga dapat meningkatkan stabilitas emulsi yang dihasilkan.
Diameter globul yang kecil akan meningkatkan luas permukaan, meningkatkan
tahanan emulsi untuk mengalir serta meningkatkan viskositas (Koocheki dan
Kadkhodaee, 2011). Hal tersebut dapat diamati secara nyata dari ukuran diameter
formula 1 (14,13 m) yang mengandung tragakan 1% lebih besar dibandingkan
ukuran diameter formula 2 (4,065 m) yang mengandung tragakan 1,5% serta

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

29

ukuran diameter formula 2 (4,065 m) yang mengandung tragakan 1,5% lebih


besar dibandingkan ukuran diameter formula 3 (2,91 m) yang mengandung
tragakan 2%.
Setelah penyimpanan selama 21 hari, terjadi peningkatan ukuran globul.
Dari hasil pengamatan yang diperjelas pada lampiran 6, dapat disimpulkan bahwa
formula 1, formula 2 dan formula 3 memiliki ukuran diameter globul rata-rata
15,32 m, 14,74 m dan 3,50 m. Peningkatan ukuran diameter ini terjadi
mungkin

disebabkan

oleh

menyatunya

kembali

globul-globul

minyak,

beraglomerasi selanjutnya membentuk satu globul yang besar (koalesen) karena


rusaknya lapisan pelindung dari emulgator tragakan yang terbentuk pada globul.

[Sumber : Dickinson, E dan Miller, Reinhard, 2001, telah diolah kembali]

Gambar 4.3 Skema ilustrasi pembentukan koalesen dalam emulsi


Emulgator yang tidak cukup kuat justru akan menyebabkan koalesen
besar-besaran dengan peningkatan ukuran diameter globul dan penurunan jumlah
globul yang terbentuk, hal ini juga yang menyebabkan viskositas sediaan
menurun. Akan tetapi peningkatan ukuran diameter globul rata-rata yang terjadi
pada ketiga formula emulsi tipe M/A minyak biji jinten hitam ini masih dalam
batas rentang ukuran diameter globul emulsi yang baik, yaitu 0,1-50 m (De Man
JM, 1997)

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

30

Gambar 4.4 Hubungan antara ukuran diameter globul rata-rata dengan waktu
penyimpanan emulsi minyak biji jinten hitam
4.2.5

Hasil Evaluasi Pengukuran Volume Creaming


Hasil pengamatan dari hari ke-0 sampai hari ke-21, ketiga formula tidak

menunjukkan adanya ketidakstabilan berupa fenomena creaming. Hal ini diduga


karena adanya penambahan tragakan yang sangat berperan sebagai agen peningkat
viskositas yang cukup dapat menghambat laju creaming.
Tabel 4.5 Hasil Pengamatan Volume Creaming Emulsi Tipe M/A Minyak Biji
Jinten Hitam
Sediaan
Formula 1
(Tragakan 1%)
Formula 2
(Tragakan 1,5%)
Formula 3
(Tragakan 2%)

4.2.6

Awal
Homogen, tidak terlihat
adanya lapisan baru
Homogen, tidak terlihat
adanya lapisan baru
Homogen, tidak terlihat
adanya lapisan baru

Akhir
Tidak terjadi creaming
Tidak terjadi creaming
Tidak terjadi creaming

Hasil Evaluasi Cycling Test


Cycling test merupakan kondisi percepatan dengan adanya fluktuasi suhu

untuk menentukan kestabilan produk selama penyimpanan. Tujuan dilakukannya


cycling test adalah untuk mengetahui terjadinya pemisahan fase, kehilangan
viskositas, presipitasi dan agregasi dari sediaan yang terjadi akibat siklus (HuynhBA, Kim, 2008).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

31

Tabel 4.6 Hasil Cycling test Emulsi Tipe M/A Minyak Biji Jinten Hitam
Sediaan

Awal
Pengamatan

Formula 1
(Tragakan 1%)

Krem
kekuningan,
homogen

Formula 2
(Tragakan
1,5%)

Krem
kekuningan,
homogen

Formula 3
(Tragakan 2%)

Krem
kekuningan,
homogen

Hasil Pengamatan Setelah 3 Siklus


Warna
Uk.Diameter
Perubahan
globul (m)
fisik
Terlihat adanya
fase yang retak
Krem
18,60
kekuningan
dan gelembung

Krem
kekuningan

Krem
kekuningan

6,28

3,67

Terlihat adanya
fase yang retak
dan gelembung
Terlihat adanya
fase yang retak
dan gelembung

Setelah cycling test, seluruh formula diduga mengalami ketidakstabilan


seperti terlihat keretakan dan adanya gelembung udara pada sediaan. Akan tetapi
sifatnya reversible, karena pada saat dilakukan pengocokan dapat kembali lagi
seperti sediaan awal yang homogen. Data tambahan terkait kestabilan sediaan
hasil cycling test berupa pengukuran diameter globul rata-rata. Setelah dilakukan
pengukuran diameter globul rata-rata menunjukkan bahwa ukuran formula 1,
formula 2 dan formula 3 hasil cycling test berturut-turut 18,60 m, 6,28 m dan
3,67 m.
Tabel 4.7 Hasil Pengukuran Diameter Globul Emulsi Tipe M/A Minyak Biji
Jinten Hitam Hasil Cycling test

Sediaan
Formula 1
(Tragakan 1%)
Formula 2
(Tragakan 1,5%)
Formula 3
(Tragakan 2%)

Hasil Pengukuran Diameter Globul (m)


Sebelum cycling test

Sesudah cycling test

14,13

18,60

4,065

6,28

2,91

3,67

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

32

Jika dibandingkan dengan ukuran diameter awal pada hari ke-0,


peningkatan ukuran diameter globul hasil cycling test kemungkinan terjadi karena
menyatunya

kembali

globul-globul

minyak,

beraglomerasi

selanjutnya

membentuk satu globul yang besar (koalesen) karena rusaknya lapisan pelindung
dari emulgator tragakan yang terbentuk pada globul akibat pengaruh panas dan
dingin berulang dari cycling test. Apabila terjadi pembekuan kemudian mencair,
emulsi akan menjadi kasar dan kadang pecah (Ansel, 2005).

Gambar 4.5 Hubungan antara ukuran diameter globul rata-rata sebelum dan
sesudah cycling test
4.2.7

Uji Mekanik (Sentrifugasi)


Uji sentrifugasi merupakan alat yang sangat berguna untuk mengevaluasi

dan meramalkan shelf-life suatu emulsi dengan mengamati pemisahan fase


terdispersi karena pembentukkan krim atau penggumpalan (Lachman, et al.,
1994). Hasil uji sentrifugasi berupa gambar dan deskripsi yang lebih jelas dapat
dilihat pada lampiran 7 dan 14. Ketiga formula terjadi pemisahan fase setelah
dilakukan uji sentrifugasi. Sampel terbagi menjadi dua bagian, dimana lapisan
teratas adalah fase minyak dan lapisan terbawah merupakan fase air. Pembentukan
suatu lapisan minyak secara cepat setelah sentrifugasi merupakan tanda pertama
untuk fenomena ketidakstabilan yang menyebabkan umur simpan sediaan tersebut
pun semakin cepat. Hal ini membuktikan bahwa ketiga formula masih kurang
stabil terhadap pengocokan yang sangat kuat akibat pemisahan gravitasional yang
dipercepat.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Setelah dilakukan penelitian formulasi emulsi tipe M/A minyak biji jinten
hitam, peneliti dapat menarik beberapa kesimpulan sebagai berikut.
1. Minyak biji jinten hitam dapat dibuat menjadi sediaan emulsi tipe M/A
dengan tragakan sebagai emulgator.
2. Formula F1 memiliki karakteristik selama 21 hari penyimpanan,
menunjukkan hasil organoleptis berwarna krem kekuningan dengan
penurunan pH dari 6,049 menjadi 5,064; penurunan viskositas dari 570 cps
menjadi 160 cps; peningkatan ukuran diameter globul dari 14,13 m
menjadi 15,32 m; tidak terbentuk creaming; pemisahan setelah uji
sentrifugasi; peningkatan ukuran diameter globul setelah cycling test dari
14,13 m menjadi 18,60 m.
3. Formula F2 memiliki karakteristik selama 21 hari penyimpanan,
menunjukkan hasil organoleptis berwarna krem kekuningan dengan
penurunan pH dari 5,950 menjadi 4,455; penurunan viskositas dari 1050
cps menjadi 450 cps; peningkatan ukuran diameter globul dari 4,065 m
menjadi 14,74 m; tidak terbentuk creaming; pemisahan setelah uji
sentrifugasi; peningkatan ukuran diameter globul setelah cycling test dari
4,065 m menjadi 6,28 m.
4. Formula F3 memiliki karakteristik selama 21 hari penyimpanan,
menunjukkan hasil organoleptis berwarna krem kekuningan dengan
penurunan pH dari 5,848 menjadi 4,715; penurunan viskositas dari 2160
cps menjadi 930 cps; peningkatan ukuran diameter globul dari 2,91 m
menjadi 3,50 m; tidak terbentuk creaming; pemisahan setelah uji
sentrifugasi; peningkatan ukuran diameter globul setelah cycling test dari
2,91 m menjadi 3,67 m.

33

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

34

5.2 Saran
Saran yang dapat penulis berikan berdasarkan penelitian ini adalah :
1. Dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai jenis emulgator lainnya untuk
membuat sediaan emulsi minyak biji jinten hitam, seperti gabungan antara
emulgator alam dengan emulgator sintetik.
2. Dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai penentuan HLB minyak biji
jinten hitam untuk memudahkan pembuatan sediaan emulsi dengan
emulgator sintetik atau gabungan antara emulgator sintetik dengan
emulgator alam.
3. Dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai terjadinya penurunan pH pada
sediaan emulsi minyak biji jinten hitam dengan emulgator tragakan.
4. Dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai penambahan antioksidan
dalam sediaan emulsi minyak biji jinten hitam dengan emulgator tragakan
untuk meningkatkan stabilitas sediaan emulsi.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

35

DAFTAR PUSTAKA

Al-Logmani, Ayed., Zari, Talal. 2011. Long-term effects of Nigella sativa L.oil on
some physiological parameters in normal and streptozotocin-induced
diabetic rats. Journal of Diabetes Melitus, Vol.1. Hal: 1-2
Anief, M. 1999. Sistem Dispersi, Formulasi Suspensi dan Emulsi. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press. Hal: 56, 65-66, 71-79
Anief , Moh Drs Apt. 1986. Ilmu Farmasi. Jakarta: Ghalia Indonesia. Hal: 96
Ansel, H. C. 2005. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Edisi Keempat. Jakarta:
Universitas Indonesia Press. Hal: 145-146, 376-381, 389
Aorahman, Zheen Ahmed. 2009. Protective Effect of Nigella sativa Oil againts
CCl4-induced Hepatotoxicity in Rats. AJPS, Vol 8. Hal: 1-2
Arici, Muhammet., Sagdic,Osman., Gecgel,Umit. 2005. Antiabacterial effects of
Turkish Black Cumin (Nigella sativa L) Oils. Grasas y Aceites, Vol.56. Hal:
1-2
Anwar, Effionora, Prof. Dr. Ms, Apt. 2012. Eksipien dalam Sediaan Farmasi:
Karakterisasi dan Aplikasi. Jakarta: Dian Rakyat. Hal: 107, 283-293
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2009. Peluang Budidaya dan
Manfaat Jinten Hitam (Nigela sativa). Warta Penelitian dan Pengembangan
Tanaman Industri. Hal: 23-25
Balakrishnan,

B.

dan Gupta,

Paras.

2011.

Pharmacognostical and

physicochemical evaluation of seeds of Nigella sativa Linn. With special


reference to evaluation of seed oil. International Journal of Drug Discovery
and Herbal Research. India: Department of Pharmacognosy, Vinayaka
Missions College of Pharmacy. Hal: 153-154
Deman, JM. 1997. Kimia Makanan. Kosasih Padmawinata, Penterjemah.
Bandung: ITB Pr.Terjemahan dari: Food Chemistry. Hal: 72
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV.
Jakarta: Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan. Hal: 1030,
1037, 1039

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

36

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Materia Medika Indonesia Jilid


III. Jakarta: Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan. Hal: 20
Dickinson, Eric dan Miller, Reinhard. 2001. Food Colloids: Fundamental of
Formulation. Germany: Royal Society Chemistry. Hal: 117
Dubick MA. 1986. Historical perspectives on the use of herbal preparations to
promote health. JN The Journal of Nutrition. University of California,
Davis, School of Medicine. Hal:1348-1349
El-Din Hussein, Kamal, El-Tahir Ph D., Dana M Bakeet. 2006. The Black Seed
Nigella sativa Linnaeus- A Mine for Multi Cures: A Plea for Urget Clinical
Evaluation of its Volatile Oil. Department of Pharmacology, College of
Pharmacy, King Saud University Riyadh Saudi Arabia. Hal: 4-14
El-Kadi A, Kandil O. 1986. Effect of Nigella sativa (The Black Seeds) on
immunity. Proceedings of the Fourth International Conference on Islamic
Medicine. Bull. Islamic Med, 4. Hal: 344
Gali-Muhtasib, Hala dkk. 2006. The Medicinal Potential of Black Seed (Nigella
sativa) and its Components. Lead Molecules from Natural Products.
Elsevier. Hal: 134
Gennaro, A. R. 1990. Remingtons Pharmaceutical Science, Volume 2. Easton,
Pennsylvania: Mack Publishing Company. Hal: 331
Gilani, Anwar-ul Hasan, dkk. 2004. A review of medicinal uses and
pharmacological activities of Nigella sativa. Department of Biological and
Biochemical Sciences The Aga Khan University Medical College, Karachi,
Pakistan. Pakistan Journal of Biological sciences 7 (4). Hal: 441-451
Hanna, Dwisari Septi. 2012. Stabilitas Fisik dan Aktivitas Antioksidan Emulsi
Ganda Tipe W/O/W Minyak Biji Jinten Hitam (Nigella sativa Linn) Sebagai
Sediaan Nutrasetika. Skripsi Universitas Indonesia, Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam, Program Studi Farmasi. Hal: 32, 38-42, 44
Houghton, P.J.,R.Zarka,B.De-las-Heras and J.R.Hoult. 1995. Fixed Oil of Nigella
sativa and Derived Thymoquinone Inhibit Eicosanoid Generation in
Leukocytes and Membrane Lipid Peroxidation. Planta Medica. Hal: 61

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

37

Huynh-BA, Kim. 2008. Handbook of Stability Testing in Pharmaceutical


Development: Regulations, Methodologies, and Best Practices. New York:
Springer Science Business Media, LLC, 233 Spring Street. Hal: 346-347
Hutapea, Johnny Ria,DR, dkk. 1994. Inventaris Tanaman Obat Indoensia (III).
Departemen Kesehatan RI. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
Hal: 163
Intan, K., Hidayat, T., dan Setiabudy, D. 2012. Pengaruh kondisi homogenisasi
terhadap karakteristik fisik dan mutu santan selama penyimpanan. Jurnal
Litri 18(1). Bogor: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen
Pertanian. Hal: 34-35
Koocheki Arash, Kadkhodaee, Mortazawi, et al. 2009. Influence of Alyssum
homolocarpum seed gum on the stability and flow properties of o/w
emulsion

prepared

by

high

intensity

ultrasound.

Journal

Food

Hydrocolloids 23. Hal: 2417


Lachman, L., Lieberman, H. A., Kanig, J. L. 1994. Teori dan Praktek Farmasi
Industri, Edisi Ketiga. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Hal: 1029,
1031-1032, 1040, 1051,1063-1068, 1077
Martin, A., Swarbrick, J., Commarata, A. 1993. Farmasi Fisik 2, Edisi Ketiga.
Jakarta: Universitas Indonesia Press. Hal: 794-799, 1079-1089, 1132, 1164
Nickavar, B., Mojaba,F., Javidniab, K., dan Amolia, M.A. 2003. Chemical
Composition of the Fixed and Volatile Oils of Nigella sativa L.from Iran. Z.
Naturforsch 58c. Hal: 629-630
Paarakh, Padma M. 2010. Nigella sativa Linn-a comprehensive review. Indian
Journal of Natural Product and Resources. Vol 1(4). Hal: 400
Padhye, Subhash dkk. 2008. From Here to Eternity-The Secret of Pharaohs:
Therapetutic Potential of Black Cumin Seeds and Beyond. Department of
Pathology and Division of Internal Medicine, Barbara Ann Karmanos
Cancer Institute, Wayne University, School of Medicine, Detroit,MI-48201,
USA.Cancer Ther.6(b). Hal: 495-510
Phillips, G.O., and Williams, P.A. 2009. Handbook of Hydrocolloids: Second
Edition. New York: CRC Press. Hal: 1-2

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

38

Ramadan, M.F.,Kroh,L.W.,dan Morsel,J.T. 2003. Radical scavenging activity of


black cumin (Nigella sativa L), coriander (Coriandrum sativum L), and
niger (Guizotiaabyssinica Cass.) crude seed oils and oil fractions. Journal
Agricultural and Food Chemistry. Hal: 6961-6969
Ramin, L., Mehranian,F., Vahabzadeh. 2009. Soy protein isolate and gum arabic
composite affect stability of beverage emulsion. Iranian Journal of
Chemical Enginering, Vol.6, No.2. Hal: 5
Randhawa, Mohammad Akram. 2008. Black seed, Nigella sativa, deserves more
attention. J Ayub Med Coll Abbottabad, 20 (2). Hal: 1
Rezvani, E., Taherian. A.R., Schleining, G. Physical Stability of Beverage
Emulsions as Influences of Orange Oil, Tragancanth, and Arabic Gums
Concentrations. Austria. Canada: Department of Food Sciences and
Technology, BOKU University; Food Research and Development Center,
Agriculture and Agri-Food Canada. Hal: 1-2
Rowey, R.C., Sheskey, P.J., dan Owen, S.C. 2006. Handbook of Pharmaceutical
Excipients Fifth Edition. London: Pharmaceutical Press. Hal: 1-3, 295-298,
657-658, 662-664, 744-747, 785-787
Salomi NJ., Nair SC., Panikkar KR. 1991. Inhibitory effects of Nigella sativa and
Saffron (Crocus sativus) on Chemical Carcinogenesis in mice. Nut Cancer
16. Hal: 67-72
Sinko,

Patrick

J,PhD,

RPh.

2011.

Martins

Physical

Pharmacy

and

Pharmaceutical Sciences. Sixth Edition. Lippincott Williams & Wilkins at


530 Walnut Street: Philadelphia, PA 19106
Sultan, Muhammad Tauseef., Sadiq Butt, Masood., Muhammad Anjum, Faqir.,
Jamil, Amer., Akhtar, Saeed., Nasir, Muhammad.2009. Nutritional Profile
of Indigenous Cultivar of Black Cumin Seeds and Antioxidant Potential of
its Fixed and Essential Oil. Palestina: National Institute of Food Science
and Technology, University of Agriculture, Faisalabad, Palestina. Hal:
1321-1322
Vahid, Samavati., Djomeh, Emam., Amin, Mohammad., Mahmoud, Omid., Ali,
Mehdinia. 2012. Application of Rheological Modeling in Food Emulsions.
Vol.31, No.2 Iran J.Chem. Eng. Iran: University of Tehran. Hal: 72

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

39

Voight, Rudolf. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Penerjemah


Dr.rer.nat.Soendani

Noerono

Soewandhi,

Apt.

Dan

Dr.Mathilda

B.Widianto, Apt., Jurusan Farmasi FMIPA ITB, Fakultas Farmasi UGM.


Gajah Mada University Press:Yogyakarta. Hal: 434-436, 564

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

40

LAMPIRAN

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

41

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Gambar ........................................................................................

42-49

Lampiran Tabel.............................................................................................

52-65

Lampiran Sertifikat .......................................................................................

66-67

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

42

Lampiran 1. Gambar minyak biji jinten hitam (PT Prima Agritech Nusantara,
Depok)

Lampiran 2. Gambar Alat yang Digunakan dalam Penelitian

Gambar 1. Viskometer HAAKE

Gambar 2. pH meter

Gambar 3. Stirer Homogenizer

Gambar 4. Oven
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

43

Gambar 5. Refrigerator

Gambar 6. Mikroskop

Gambar 7. Sentrifugasi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

44

Lampiran 3. Gambar hasil uji volume creaming formula emulsi tipe M/A
minyak biji jinten hitam selama 21 hari penyimpanan

Hari ke-0

F1

F2

F3

Hari ke-7

F1

F2

F3

Hari ke-14

F1

F2

F3

Hari ke-21

F1

F2

F3

Keterangan: F1=Tragakan 1% ; F2=Tragakan 1,5% ; F3=Tragakan 2%

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

45

Lampiran 4. Gambar hasil uji pendahuluan formula basis emulsi tipe M/A
minyak biji jinten hitam penyimpanan hari ke-0

1
Gelatin

F1 (Kons.0,5%)
Ulangan 1 dan 2

F2 (Kons.1%)
Ulangan 1 dan 2

F3 (Kons.1,5%)
Ulangan 1 dan 2

Ulangan 3
F1; F2; F3 (Kons.0,5%; 1%; 1,5%)

Gom
Arab
1

F1 (Kons.10%)
Ulangan 1 dan 2

F2 (Kons.15%)
Ulangan 1 dan 2

F3 (Kons.20%)
Ulangan 1 dan 2

Ulangan 3
F1; F2; F3 (Kons.10%; 15%; 20%)

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

46

Tragakan

F1 (Kons.1%)
Ulangan 1 dan 2

F2 (Kons.1,5%)
Ulangan 1 dan 2

F3 (Kons.2%)
Ulangan 1 dan 2

Ulangan 3
F1; F2; F3 (Kons.2%; 1,5%; 1%)

1
Na
Alginat

F1 (Kons.1%)
Ulangan 1 dan 2

F2 (Kons.2%)
Ulangan 1 dan 2

F3 (Kons.3%)
Ulangan 1 dan 2

Ulangan 3
F1; F2; F3 (Kons.1%; 2%; 3%)

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

47

Lampiran 5. Gambar hasil uji pendahuluan formula basis emulsi tipe M/A
minyak biji jinten hitam penyimpanan hari ke-3

1
Gelatin

F1 (Kons.0,5%)
Ulangan 1 dan 2

F2 (Kons.1%)
Ulangan 1 dan 2

F3 (Kons.1,5%)
Ulangan 1 dan 2

Ulangan 3
F1; F2; F3 (Kons.0,5%; 1%; 1,5%)

1
Gom
Arab

F1 (Kons.10%)
Ulangan 1 dan 2

F2 (Kons.15%)
Ulangan 1 dan 2

F3 (Kons.20%)
Ulangan 1 dan 2

Ulangan 3
F1; F2; F3 (Kons.20%; 15%; 10%)

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

48

Tragakan

F1 (Kons.1%)
Ulangan 1 dan 2

F2 (Kons.1,5%)
Ulangan 1 dan 2

F3 (Kons.2%)
Ulangan 1 dan 2

Ulangan 3
F1; F2; F3 (Kons.2%; 1,5%; 1%)

1
Na
Alginat

F1 (Kons.1%)
Ulangan 1 dan 2

F2 (Kons.2%)
Ulangan 1 dan 2

F3 (Kons.3%)
Ulangan 1 dan 2

Ulangan 3
F1; F2; F3 (Kons.1%; 2%; 3%)

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

49

Lampiran 6. Gambar formula basis emulsi dengan emulgator tragakan

Lampiran 7. Gambar globul formula sediaan emulsi tipe M/A minyak biji jinten
hitam
Gambar
Keterangan
Hari ke-0

Hari ke-21

Formula 1
(Tragakan 1%)

Formula 2
(Tragakan 1,5%)

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

50

Formula 3
(Tragakan 2%)

Lampiran 8. Gambar hasil uji sentrifugasi formula emulsi tipe M/A minyak biji
jinten hitam
Sebelum

F1

F2

Sesudah

F3

F1

F2

F3

Keterangan: F1=Tragakan 1% ; F2=Tragakan 1,5% ; F3=Tragakan 2%

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

51

Lampiran 9. Hasil reogram formula emulsi tipe M/A minyak biji jinten hitam
pada hari ke-0
Keterangan

Gambar

Formula 1
(Tragakan 1%)

Formula 2
(Tragakan 1,5%)

Formula 3
(Tragakan 2%)

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

52

Lampiran 10. Hasil pengamatan organoleptis emulsi tipe M/A minyak biji jinten
hitam
Hari ke0
7
14
21
Hari ke0
7
14
21
Hari ke0
7
14
21

Hasil Pengamatan Formula 1 (Tragakan 1%)


Warna
Bau
Pemisahan
Krem kekuningan
Khas minyak
Krem kekuningan
Khas minyak
Krem kekuningan
Khas minyak
Krem kekuningan
Khas minyak
Hasil Pengamatan Formula 2 (Tragakan 1,5%)
Warna
Bau
Pemisahan
Krem kekuningan
Khas minyak
Krem kekuningan
Khas minyak
Krem kekuningan
Khas minyak
Krem kekuningan
Khas minyak
Hasil Pengamatan Formula 3 (Tragakan 2%)
Warna
Bau
Pemisahan
Krem kekuningan
Khas minyak
Krem kekuningan
Khas minyak
Krem kekuningan
Khas minyak
Krem kekuningan
Khas minyak
-

Lampiran 11. Hasil pengukuran pH emulsi tipe M/A minyak biji jinten hitam
Formula
Minggu ke-

1 (Tragakan 1%)

2 (Tragakan 1,5%)

3 (Tragakan 2%)

6,049

5,950

5,848

5,874

5,561

5,568

14

5,226

4,942

5,102

21

5,064

4,455

4,715

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

53

Lampiran 12. Hasil uji sentrifugasi emulsi tipe M/A minyak biji jinten hitam
Sediaan

Awal

Akhir

Formula 1
(Tragakan 1%)

Homogen, tidak
ada pemisahan
fase

Terjadi pemisahan fase, terbagi menjadi 2


bagian (atas:fase minyak; bawah:fase air)

Formula 2
(Tragakan 1,5%)

Homogen, tidak
ada pemisahan
fase

Terjadi pemisahan fase, terbagi menjadi 2


bagian (atas: fase minyak; bawah:fase
air)

Formula 3
(Tragakan 2%)

Homogen, tidak
ada pemisahan
fase

Terjadi pemisahan fase, terbagi menjadi 2


bagian (atas:fase minyak; bawah:fase air)

Lampiran 13. Hasil cycling test emulsi tipe M/A minyak biji jinten hitam
Hasil Pengamatan Setelah 3 Siklus
Sediaan

Awal
Warna

Perubahan fisik

Formula 1
(Tragakan 1%)

Krem
kekuningan,
homogen

Krem
kekuningan

Terlihat adanya fase


yang retak dan
gelembung

Formula 2
(Tragakan 1,5%)

Krem
kekuningan,
homogen

Krem
kekuningan

Terlihat adanya fase


yang retak dan
gelembung

Formula 3
(Tragakan 2%)

Krem
kekuningan,
homogen

Krem
kekuningan

Terlihat adanya fase


yang retak dan
gelembung

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

54

Lampiran 14. Hasil pengukuran viskositas seluruh formula emulsi tipe M/A
minyak biji jinten hitam menggunakan spindel nomor 5 pada hari
ke-0

Sediaan

Formula 1
(Tragakan
1%)

Formula 2
(Tragakan
1,5%)

Formula 3
(Tragakan
2%)

02,6
02,9
04,3
06,1
08,8
09,1
10,2
07,5
08,0
05,6
03,9
02,5
02,2

shearing
stress F/A=
dr x 7,187
(dyne/cm2)
18,6862
20,8423
30,9041
43,8407
63,2456
65,4017
73,3074
53,9025
57,496
40,2472
28,0293
17,9675
15,8114

Rate of
shear
dv/dr=F/A x
1/
0,01746
0,02148
0,03593
0,05346
0,08907
0,10721
0,12860
0,09293
0,08983
0,05366
0,03593
0,02089
0,01776

06,5
07,2
10,2
11,1
17,5
19,5
26,2
19,5
17,3
12,9
09,7
06,7
05,9
15,4
16,9
23,2
28,4
37,8
41,5
54,0
41,4
37,5
28,2
22,1
15,9
14,0

46,7155
51,7464
73,3074
79,7757
125,7725
140,1465
188,2994
140,1465
124,3351
92,7123
69,7139
48,1529
42,4033
110,6798
121,4603
166,7384
204,1108
271,6686
298,2605
388,098
297,5418
269,5125
202,6734
158,8327
114,2733
100,618

0,01796
0,02147
0,03593
0,05390
0,08983
0,10698
0,17933
0,10780
0,08944
0,05150
0,03575
0,02130
0,01789
0,01790
0,02145
0,03593
0,05399
0,08995
0,10614
0,17967
0,10702
0,08953
0,05390
0,03585
0,02152
0,01787

Kecepatan
(rpm)

Viskositas
(cps)

dr

10
12
20
30
50
60
100
60
50
30
20
12
10

1070
970
860
820
710
610
570
580
640
750
780
860
890

10
12
20
30
50
60
100
60
50
30
20
12
10
10
12
20
30
50
60
100
60
50
30
20
12
10

2600
2410
2040
1480
1400
1310
1050
1300
1390
1800
1950
2260
2370
6180
5660
4640
3780
3020
2810
2160
2780
3010
3760
4430
5310
5630

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

55

Lampiran 15. Hasil pengukuran viskositas seluruh formula emulsi tipe M/A
minyak biji jinten hitam menggunakan spindel nomor 5 pada
hari ke-21

10
12
20
30
50
60
100
60
50
30
20
12
10

0000000
0000000
210
180
170
170
160
170
180
180
0000000
0000000
0000000

00,0
00,0
01,0
02,1
02,2
02,5
04,0
02,5
02,2
01,3
00,0
00,0
00,0

shearing
stress F/A=
dr x 7,187
(dyne/cm2)
0
0
7,187
15,0927
15,8114
17,9675
28,748
17,9675
15,8114
9,3431
0
0
0

Formula 2
(Tragakan
1,5%)

10
12
20
30
50
60
100
60
50
30
20
12
10

890
870
700
640
550
520
450
460
470
510
570
610
820

02,2
02,6
03,5
04,8
06,8
07,8
11,0
06,7
05,8
03,8
02,8
01,8
02,0

15,8114
18,6862
25,1545
34,4976
48,8716
56,0586
79,057
48,1529
41,6846
27,3106
20,1236
12,9366
14,374

0,01776
0,02147
0,03593
0,05390
0,08885
0,10780
0,17568
0,10468
0,08869
0,05355
0,03530
0,02120
0,01752

Formula 3
(Tragakan
2%)

10
12
20
30
50
60
100
60
50
30
20
12
10

2090
2040
1820
1610
1220
1160
930
1040
1090
1240
1360
1500
1630

05,2
06,1
09,1
12,0
15,2
17,4
23,2
15,4
13,6
09,3
06,8
04,5
04,0

37,3724
43,8407
65,4017
86,244
109,2424
125,0538
166,7384
110,6798
97,7432
66,8391
48,8716
32,3415
28,748

0,01788
0,02149
0,03593
0,05356
0,08954
0,10780
0,17928
0,10642
0,08967
0,05390
0,03593
0,02156
0,01763

Sediaan

Formula 1
(Tragakan
1%)

Kecepatan Viskositas
(rpm)
(cps)

dr

Rate of
shear
dv/dr=F/A x
1/
0
0
0,03422
0,08384
0,09300
0,10569
0,17967
0,10569
0,08784
0,05190
0
0
0

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

56

Lampiran 16. Hasil uji volume creaming emulsi tipe M/A minyak biji jinten
hitam selama 21 hari penyimpanan
Sediaan

Formula 1
(Tragakan 1%)

Formula 2
(Tragakan
1,5%)

Formula 3
(Tragakan 2%)

Hari ke-0

Hari ke-21

Volume awal 70 ml,tidak


terbentuk creaming

F= x 100% = 70 x100% = 100%

Volume awal 70 ml,tidak


terbentuk creaming

F= x 100% = 70 x100% = 100%

Volume awal 70 ml,tidak


terbentuk creaming

F= x 100% = 70 x100% = 100%

70

70

70

Keterangan: F=volume creaming; Vu= volume akhir dari terjadinya endapan/creaming; Vo=
volume awal dari emulsi sebelum terjadi endapan/creaming

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

57

Lampiran 17. Perhitungan diameter globul rata-rata formula 1 (tragakan 1%)


selama 21 hari pada suhu kamar 27-30C (dalam m)
Hari ke-0
Rentang

Nilai tengah (d)

Jumlah globul (n)

nd

1,0-3,9

2,45

98

4,0-6,9

5,45

74

403,3

7,0-9,9

8,45

60

507

10,0-12,9

11,45

94

1076,3

13,0-15,9

14,45

82

1184,9

16,0-18,9

17,45

79

1378,55

19,0-21,9

20,45

73

1492,85

22,0-24,9

23,45

21

492,45

25,0-27,9

26,45

238,05

28,0-30,9

29,45

176,7

31,0-33,9

32,45

34,0-36,9

35,45

35,45

37,0-39,9

38,45

38,45

n= 504

nd=7122

Jadi ukuran diameter partikel rata-rata, d rata-rata=

nd
n

7122
504

= 14,13 m

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

58

Hari ke-21
Rentang

Nilai tengah (d)

Jumlah globul (n)

nd

1,0-3,9

2,45

4,0-6,9

5,45

41

223,45

7,0-9,9

8,45

72

608,4

10,0-12,9

11,45

50

572,5

13,0-15,9

14,45

43

621,35

16,0-18,9

17,45

156

2722,2

19,0-21,9

20,45

107

2188,15

22,0-24,9

23,45

21

492,45

25,0-27,9

26,45

28,0-30,9

29,45

58,9

31,0-33,9

32,45

64,9

34,0-36,9

35,45

35,45

37,0-39,9

38,45

n= 495

nd= 7587,75

Jadi ukuran diameter partikel rata-rata, d rata-rata=

nd
n

7587,75
495

= 15,32 m

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

59

Lampiran 18. Perhitungan diameter globul rata-rata formula 2 (tragakan 1,5%)


selama 21 hari pada suhu kamar 27-30C (dalam m)
Hari ke-0
Rentang

Nilai tengah (d)

Jumlah globul (n)

nd

1,0-3,9

2,45

326

798,7

4,0-6,9

5,45

306

1667,7

7,0-9,9

8,45

16

135,2

10,0-12,9

11,45

34,35

13,0-15,9

14,45

14,45

16,0-18,9

17,45

19,0-21,9

20,45

22,0-24,9

23,45

25,0-27,9

26,45

28,0-30,9

29,45

31,0-33,9

32,45

34,0-36,9

35,45

37,0-39,9

38,45

n= 652

nd=2650,4

Jadi ukuran diameter partikel rata-rata, d rata-rata=

nd
n

2650,4
=
652

4,06 m

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

60

Hari ke-21
Rentang

Nilai tengah (d)

Jumlah globul (n)

nd

1,0-3,9

2,45

4,0-6,9

5,45

5,45

7,0-9,9

8,45

48

405,6

10,0-12,9

11,45

215

2461,75

13,0-15,9

14,45

134

1936,3

16,0-18,9

17,45

94

1640,3

19,0-21,9

20,45

59

1206,55

22,0-24,9

23,45

21

492,45

25,0-27,9

26,45

11

290,95

28,0-30,9

29,45

117,8

31,0-33,9

32,45

64,9

34,0-36,9

35,45

70,9

37,0-39,9

38,45

38,45

n= 592

nd= 8731,4

Jadi ukuran diameter partikel rata-rata, d rata-rata=

nd
n

8731,4
592

= 14,74 m

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

61

Lampiran 19. Perhitungan diameter globul rata-rata formula 3 (tragakan 2%)


selama 21 hari pada suhu kamar 27-30C (dalam m)
Hari ke-0
Rentang

Nilai tengah (d)

Jumlah globul (n)

nd

1,0-3,9

2,45

581

1423,45

4,0-6,9

5,45

103

561,35

7,0-9,9

8,45

16,9

10,0-12,9

11,45

13,0-15,9

14,45

16,0-18,9

17,45

19,0-21,9

20,45

22,0-24,9

23,45

25,0-27,9

26,45

28,0-30,9

29,45

31,0-33,9

32,45

34,0-36,9

35,45

37,0-39,9

38,45

n= 686

nd= 2001,7

Jadi ukuran diameter partikel rata-rata, d rata-rata=

nd
n

2001,7
686

= 2,91 m

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

62

Hari ke-21
Rentang

Nilai tengah (d)

Jumlah globul (n)

nd

1,0-3,9

2,45

475

1158,85

4,0-6,9

5,45

134

730,3

7,0-9,9

8,45

20

169

10,0-12,9

11,45

34,35

13,0-15,9

14,45

72,25

16,0-18,9

17,45

87,25

19,0-21,9

20,45

22,0-24,9

23,45

25,0-27,9

26,45

28,0-30,9

29,45

31,0-33,9

32,45

34,0-36,9

35,45

37,0-39,9

38,45

n= 642

nd= 2252

Jadi ukuran diameter partikel rata-rata, d rata-rata=

nd
n

2252
642

= 3,50 m

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

63

Lampiran 20. Perhitungan diameter globul rata-rata formula 1 (tragakan 1%)


hasil cycling test (dalam m)
Rentang

Nilai tengah (d)

Jumlah globul (n)

nd

1,0-3,9

2,45

4,0-6,9

5,45

15

81,75

7,0-9,9

8,45

20

169

10,0-12,9

11,45

50

572,5

13,0-15,9

14,45

40

578

16,0-18,9

17,45

97

1692,65

19,0-21,9

20,45

150

3067,5

22,0-24,9

23,45

107

2509,15

25,0-27,9

26,45

10

264,5

28,0-30,9

29,45

176,7

31,0-33,9

32,45

34,0-36,9

35,45

37,0-39,9

38,45

192,25

n= 500

nd= 5304

Jadi ukuran diameter partikel rata-rata, d rata-rata=

9304
500

= = 18,60 m

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

64

Lampiran 21. Perhitungan diameter globul rata-rata formula 2 (tragakan 1,5%)


hasil cycling test (dalam m)
Rentang

Nilai tengah (d)

Jumlah globul (n)

nd

1,0-3,9

2,45

7,35

4,0-6,9

5,45

398

2169,1

7,0-9,9

8,45

143

1208,35

10,0-12,9

11,45

80,15

13,0-15,9

14,45

16,0-18,9

17,45

19,0-21,9

20,45

22,0-24,9

23,45

25,0-27,9

26,45

28,0-30,9

29,45

31,0-33,9

32,45

34,0-36,9

35,45

37,0-39,9

38,45

n= 551`

nd= 3464,95

Jadi ukuran diameter partikel rata-rata, d rata-rata =

3464 ,95
551

= 6,28m

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

65

Lampiran 22. Perhitungan diameter globul rata-rata formula 3 (tragakan 2%)


hasil cycling test (dalam m)
Rentang

Nilai tengah (d)

Jumlah globul (n)

nd

1,0-3,9

2,45

378

926,1

4,0-6,9

5,45

183

997,35

7,0-9,9

8,45

27

228,15

10,0-12,9

11,45

11,45

13,0-15,9

14,45

16,0-18,9

17,45

19,0-21,9

20,45

22,0-24,9

23,45

25,0-27,9

26,45

28,0-30,9

29,45

31,0-33,9

32,45

34,0-36,9

35,45

37,0-39,9

38,45

n= 589

nd= 2163,05

Jadi ukuran diameter partikel rata-rata, d rata-rata =

2163 ,05
589

= 3,67 m

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

66

Lampiran 23. Sertifikat analisis pengujian minyak biji jinten hitam

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

67

Lampiran 24. Sertifikat analisis tragakan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

68

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta