Anda di halaman 1dari 15

1.

Tujuan EBM

Practice without the best evidence


The failure of common sense
Variation in current practice
Difficulty in managing medical information
Knowledge declines over time
(Yamina Alfin.____.Evidence-based Medicine.
http://farmakologi.files.wordpress.com/2010/02/ebm-handout.pdf.)

Karena seorang dokter dituntut dapat melakukan praktik dengan


baik, tepat, dan dapat dipertanggung jawabkan dan sesuai
tuntutan pasien

Kemajuan teknologi dan media


perkembangan di segala bidang

Pengetahuan bisa berubah dalam waktu yang tidak terlalu lama

Banjir informasi

Kemustahilan akses semua informasi

Slipperyslope (kemunduran pengetahuan dokter sedangkan,


pasien membutuhkan informasi untuk tatalaksana yang terkini)

komunikasi

mempengaruhi

2. Manfaat EBM
Membantu proses pengambilan keputusan klinik, baik utk kepentingan
pencegahan, diagnosis, terapetik, maupun rehabilitasi yg didasarkan pada
bukti-bukti ilmiah terkini yg terpercaya dan dapat dipertanggungjawabkan.
(Ida.2009.Evidence-based
Medicine.
http://cutmaulida.blogspot.com/2009/04/evidence-based-medicine-ebm-latar.html .)
Tujuan

Membantu proses pengambilan keputusan klinis baik untuk


keputusan

pencegahan,

diagnosis,

terapetik,

ataupun

rehabilitasi yang didasarkan pada bukti2 ilmiah yang terkini,


terpercaya, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sebagai tanda bagi klinisi tentang pentingnya perkembangan-perkembangan


di dalam ilmu kedokteran , praktik keluarga dan umum, dll, dengan memilih
literature biomedik yang original dan mereview artikel-artikel yang hasilnya
benar dan bisa dipergunakan (royal society, 2009)

Helps us stay up to date


Improves morbidity and mortality (saves lives)

Helps us improve diagnostic certainty and do the right thing for our
patients

Saves time (Cannot possibly keep up)

Helps dispel the myths and avoid the Ping-Pong between experts

Reinforces communication skills, compassion, and listening skills

Skills in finding and appraising evidence

Provides a framework for self-directed lifelong learning

Provides material for future research

Common language

Physician still needs clinical/diagnostic skills and insight


(SLIDE Power Point Presentation by Introduction to
Evidence-Based Medicine (EBM) USF HEALTH Rani S. Gereige, M.D., MPH
Associate Professor University of South Florida)

Sebagai penguat bukti pada proses hukum

Memunculkan keefektifan, keefisiensian kerja

Memperoleh informasi sesuai bukti

Membuat kita tambah terampil

3. Kendala dalam menggunakan EBM

Needs new skills in searching and appraisal

Time limitation for busy clinicians

Late and slow evidence that EBM works

High cost of doing research to provide materials for EBM


(SLIDE Power Point Presentation by Introduction to
Evidence-Based Medicine (EBM) USF HEALTH Rani S. Gereige, M.D., MPH
Associate Professor University of South Florida)

Perlu waktu dan proses yang lama


Pengetahuan yg kurang sehingga hasil kurang
maksimal

Kesalahpahaman dalam menerima informasi

Rasa segan dalam mengkritisi suatu informasi

Kurangnya fasilitas dan teknologi yg memadai

Minimnya pengalaman dan prior knowledge

Hambatan yang jelas dirasakan adalah mengenai dana, yaitu


keperluand a n a

yang

sangat

besar

dan

ka d a n g -

k a d a n g ku r a n g d i m a n f a a t k a n selama berkembangnya
penelitian di bidang kedokteran. Selain itu, tidak adanya
akses yang cukup untuk memperoleh informasi mutakhir dan
sahih tentang kemajuan ilmu pengetahuan. Dari sisi
dokternya,dokter merasa memiliki kemampuan klinik yang
cukup

untuk menangani

dengan

berbagai

menyadari

pasien

macam

timbulnya

karena

kegiatan.

dokter
Mereka

gugatan-gugatan

sibuk
belum

dari pasien

terhadap penatalaksanaan perawatan yang kadang-kadang


salahdan

ketinggalan

zaman.

Dokter

baru

akan

menyadari pentingnya evidence based medicine, jika ada


pasien

yang

dirugikan dan mengajukan tuntutan (Wiryo,

2002)

Jawab:
Kelebihan : EBM merupakan sirkulus yang diawali dari masalah
pasien dan berakhir pada keuntungan pasien.
Kekurangan: EBM dianggap menafikan kompetensi seorang
dokter, yang antara lain dibangun dengan pengalaman serta
intuisi klinis khususnya dalam hal diagnosis.
Sumber: Prof DR Dr Sudigdo Sastroasmoro SpA(K), dari
Subbagian Kardiologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak, FKUI Jakarta.

4. Langkah2 menggunakan EBM

1. Menemukan masalah dengan cara PICO (Patient and problem,


Intervention, Comparison, Outcome)

2. Mencari bukti2
3. Evaluasi masalah dengan cara critical appraisal
4. Mengubah keluhan atau gejala pasien menjadi pertanyaan untuk
mencari informasi yang spesifik
5. Mencari fakta yang terbaik untuk menjawab masalah
6. Menilai secara kritis fakta2 yang diperoleh dari sudut keabsahan,
manfaat dan kemungkinan untuk diterapkan.
7. Diterapkan pada pasien
8. Evaluasi, efektivitas dan efisiensi

Asking answerable questions


Searching for the evidence
Critically appraising the evidence for its validity and relevance
Making a decision
Evaluating your performance
(Yamina Alfin.____.Evidence-based Medicine.
http://farmakologi.files.wordpress.com/2010/02/ebm-handout.pdf.)

9. Alasan penggunaan EBM


10.Hubungan EBM dan critical appraisal

11.Hal yang harus diperhatikan dalam EBM


Konsep Evidence Based Medicine merupakan integrasi dari bukti-bukti
penelitian yang terbaik dengan kemampuan klinik dan nilai-nilai yang
dimiliki pasien. Bukti-bukti penelitian yang terbaik biasanya berasal dari
penelitian-penelitian klinik yang relevan. Kemampuan klinik merupakan
komponen yang penting dalam penerapan konsep EBM, Nilai-nilai yang
dimiliki pasien merupakan harapan dan keinginan pasien saat berobat, dan
harus pula diintegrasikan dalam pengambilan keputusan klinik saat
melayani pasien tersebu
(Hadra.____.EBM. http://www.scribd.com/doc/43742071/EBM.)

Harus ada sumber informasi yang sudah teruji


kebenarannya (sumber terbukti)

Punya nilai keamanan (siapa yang menerbitkan,


bagaimana validitasnya)

Punya nilai efektivitas

12.Bag aturan kajian EBM untuk terapi


Critical appraisal
1. Tujuan Critical appraisal

Tujuan

The Critical Appraisal Skills Programme aims to help people develop the
necessary skills to make sense of scientific evidence, and has produced
appraisal checklists covering validity, results and relevance.
(Burls Amanda.2009.What is Criticak Appraisal?
http://www.medicine.ox.ac.uk/bandolier/painres/download/whatis/What_is_c
ritical_appraisal.pdf)

Mampu memahami informasi yg diperoleh

Mampu berkomentar dan mengevaluasi baik


permasalahan yg dihadapi maupun pememcahan
masalah tersebut

Mampu memilih kriteria informasi yg tepat untuk


dianalisa

Manfaat
Critical appraisal is the process of carefully and systematically examining
research to judge its trustworthiness, and its value and relevance in a
particular context.
The Critical Appraisal Skills Programme aims to help people develop the
necessary skills to make sense of scientific evidence, and has produced
appraisal checklists covering validity, results and relevance.

Meningkatkan daya analisis kritis

Menentukan alternatif yg lebih baik

Memunculkan banyak pertanyaan baru

Informasi yg diperoleh lebih detaiil

Memperoleh kebenaran dari suatu informasi

2. Langkah2 dalam penggunaan Critical appraisal


a. Bagaimana validitasnya?
o Apakah masalah penelitiannya didefinisikan dengan jelas? (ingat
PICO)
o Apakah pasien dirandomisasi terhadap perlakuan dan apakah cara
randomisasinya dijelaskan dengan rinci?
o Apakah subyek penelitian di-blinding?
o Apakah randomisasi menghasilkan kelompokkelompok yang serupa
pada awal studi?
o Apakah semua pasien diperhitungkan dalam analisis? Apakah ada
analisis intention-to-treat?
o Apakah seluruh kelompok dilakukan perlakuan yang sama sejak
awal sampai selesai penelitian?
b. Apakah hasilnya penting?
Seberapa besar efek terapinya? ARR, RRR, NNT, RR
Seberapa ketepatan estimasi efek terapinya? (95%CI)
c. Apakah relevan dengan praktek?
Apakah pasien dalam studi serupa dengan pasien saya?
Apakah semua outcome klinis yang penting sudah
dipertimbangkan?
Apakah manfaat terapi sebanding dengan harm dan biaya?
(Yamina Alfin.____.Evidence-based Medicine.
http://farmakologi.files.wordpress.com/2010/02/ebm-handout.pdf.)

1.

Valid (metode, desain, sampel, populasi, ccontrol group,


informed consent, blind, confounding variabel, analisis
data, hasil)

2.

3.

Important(jumlah yang dibutuhkan untuk diobati)

Can be applied (dapat diaplikasikan atau tidak)

2. Mengapa harus dilakukan EBM dan CA?

3. Alasan diperlukannya critical appraisal

4. Kendala

5. Manfaat
Manfaat
Critical appraisal is the process of carefully and systematically examining
research to judge its trustworthiness, and its value and relevance in a
particular context.
The Critical Appraisal Skills Programme aims to help people develop the
necessary skills to make sense of scientific evidence, and has produced
appraisal checklists covering validity, results and relevance.

Meningkatkan daya analisis kritis

Menentukan alternatif yg lebih baik

Memunculkan banyak pertanyaan baru

Informasi yg diperoleh lebih detaiil

Memperoleh kebenaran dari suatu informasi

6. Bagaimana kriteria hasil penelitian itu layak untuk dirujuk


1. Bagaimana sifat informasi : kontemporer, akurat, fresh dari sumber
informasi : text book, journal, review artikel, informasi fakultas,
audiovisual resources
2. Apakah informasi terlalu luas atau terlalu sempit, terlalu terfokus,
detail, sangat spesifik?
3. Apakah informasi spesifik yang dicari mudah didapat? Apakah
mahasiswa terbias mencari informasi yang tak perlu atau memerlukan
banyak waktu.
4. Berapa lama diperlukan untuk memperoleh informasi tertentu
( contoh: lebih banyak informasi diperoleh dari bacaan dibanding
mendengarkan / melihat AV )
5. Apakah informasi yang diperoleh dapat di review secara mudah untuk
menyegarkan kembali atau mengkorelasi dengan sumber informasi lain.
6. Apakah cara untuk memperoleh informasi sudah terbaik?
EFEKTIF DAN EFISIEN
convenient
most up to date
easily found

easily accessible
-exact information can be located
(Kadir Akmarawita.____.Sumber Belajar Untuk Diskusi.
7. Bagaimana menilai hasil penelitian

1. Deskripsi Umum
a. Desain apakah yang digunakan
b. Manakah populasi target populasi terjangkau dan sample
c. Bagaimanakah cara pemilihan sample
d. Manakah variable bebas
e. Mankah variable tergantung
f. Apakah hasil utama penelitian
2. Validitas interna, hubungan non-kausal
a. Apakah hasil dipengaruhi bias
b. Apakah hasil dipengaruhi faktor peluang
c. Apakah observasi dipengaruhi perancu
3. Validitas interna, hubungan kausal
a. Apakah hubungan waktu benar
b. Apakah asosiasi kuat
c. Apakah ada hubungan dosis
d. Apakah hasil konsisten dalam penelitian ini
e. Apakah hubungan bersifat spesifik
f. Apakah ada koherensi
g. Apakah hasil biological plausible
4. Validitas Eksterna
a. Apakah hasil dapat diterapkan pada subjek terpilih
b. Apakah hasil dapat diterapkan ada populasi terjangkau
c. Apakah hasil dapat diterapkan pada populasi yang lebih luas
Soedigdo Sasroasmoro,2002, Telaah Kritis Makalah Kedokteran

8. Yang harus dipertimbangkan dalam penggunaan critical appraisal


9. Pengetahuan yang harus dimiliki dalam critical appraisal
10.3 hal pokok yg harus dikaji untuk menerapkan hasil penelitian pada pasien

Tiga hal penting yang merupakan patokan telaah kritis yaitu telaah
tentang Validitas, pentingnya hasil penelitian (important), dan
aplikabilitas hasil penelitian tersebut untuk diterapkan pada pasien kita
sesuai dengan situasi dan kondisi kita bekerja, ketiga hal pokok tersebut
disingkat VIA. Validitas hasil penelitian ditentukan oleh metodologi
penelitian yang baik dengan bias yang sekecil-kecilnya, pentingnya hasil
penelitian ditentukan dengan nilai kemaknaan baik secara klinis maupun

statistik dan rentang confidence interval nya, sedangkan aplikabilitas


ditentukan dengan keadaan pasien dan situasi sarana/prasarana yang
tersedia.
www.idai.or.id
Apakah studi yang dilaporkan itu sahih
Apakah hasil yang diperoleh penting
Apakah hasil studi yang sahih dan penting tersebut dapat
diterapkan pada pasien kita