Anda di halaman 1dari 11

Makala

h Fisika
TEORI-TEORI
CAHAYA
Nama : Tiwi Dwi
Yuniarti (41)
Kelas : XII IPA 2
Nis
: 133514

TEORI-TEORI CAHAYA
1. Euclid
Euclid (Alexandria) Dalam nya Optica ia mencatat bahwa perjalanan
cahaya dalam garis lurus dan menjelaskan hukum refleksi. Dia percaya
bahwa visi akan melibatkan sinar dari mata ke obyek terlihat dan ia
mempelajari hubungan antara ukuran jelas dari objek dan sudut-sudut
yang mereka subtend di mata. Hero (juga dikenal sebagai Heron) di
Alexandria. Dalam karyanya Catoptrica, Hero menunjukkan dengan
metode geometri bahwa jalan sebenarnya yang diambil oleh sebuah sinar
cahaya dipantulkan dari sebuah cermin pesawat yang lebih pendek
daripada jalur tercermin lain yang mungkin diambil antara sumber dan
titik pengamatan.

2. Robert Grosseteste
Robert Grosseteste (Inggris) scholarum. Magister dari Universitas
Oxford dan pendukung pandangan bahwa teori harus dibandingkan
dengan observasi, Grosseteste menganggap bahwa sifat cahaya memiliki
arti khusus dalam filsafat alam dan menekankan pentingnya matematika
dan geometri di mereka belajar. Dia percaya bahwa warna terkait dengan
intensitas dan bahwa mereka memperpanjang dari putih menjadi hitam,
putih yang paling murni dan berbaring di luar merah dengan hitam
tergeletak di bawah biru. pelangi itu menduga sebagai akibat refleksi dan
refraksi cahaya matahari oleh lapisan dalam 'awan berair' tapi pengaruh
tetesan individu tidak dianggap. Dia memegang melihat, bersama dengan
orang-orang Yunani sebelumnya, bahwa visi melibatkan emanasi dari
mata ke objek yang dirasakan.

3. Roger Bacon
Roger Bacon (Inggris). Seorang pengikut Grosseteste di Oxford,
Bacon diperpanjang pekerjaan Grosseteste di optik. Ia menganggap
bahwa kecepatan cahaya terbatas dan bahwa disebarluaskan melalui

media dengan cara yang analog dengan propagasi suara. Dalam karyanya
Opus Maius, Bacon menggambarkan studinya atas perbesaran benda kecil
dengan menggunakan lensa cembung dan menyarankan agar mereka
bisa menemukan aplikasi di koreksi penglihatan yang rusak. Dia
menghubungkan fenomena pelangi untuk refleksi sinar matahari dari
hujan individu

4. Al-Kindi (801 M 873 M)


Ilmuwan Muslim pertama yang mencurahkan pikirannya untuk
mengkaji ilmu optik adalah Al-Kindi (801 M 873 M). Hasil kerja kerasnya
mampu menghasilkan pemahaman baru tentang refleksi cahaya serta
prinsip-prinsip persepsi visual.
Secara lugas, Al-Kindi menolak konsep tentang penglihatan yang
dilontarkan Aristoteles. Dalam pandangan ilmuwan Yunani itu, penglihatan
merupakan bentuk yang diterima mata dari obyek yang sedang dilihat.
Namun,

menurut

Al-Kindi

penglihatan

justru

ditimbulkan

daya

pencahayaan yang berjalan dari mata ke obyek dalam bentuk kerucut


radiasi yang padat.

5. Ibnu Sahl (940 M 100 M)


Sarjana Muslim lainnya yang menggembangkan ilmu optik adalah
Ibnu Sahl (940 M 100 M). Sejatinya, Ibnu Sahl adalah seorang
matematikus yang mendedikasikan dirinya di Istana Baghdad. Pada tahun
984 M, dia menulis risalah yang berjudul On Burning Mirrors and Lenses
(pembakaran dan cermin dan lensa). Dalam risalah itu, Ibnu Sahl
mempelajari cermin membengkok dan lensa membengkok serta titik api
cahaya.
Ibnu Sahl pun menemukan hukum refraksi (pembiasan) yang secara
matematis setara dengan hukum Snell. Dia menggunakan hukum tentang
pembiasan cahaya untuk memperhitungkan bentuk-bentuk lensa dan
cermin yang titik fokus cahanya berada di sebuah titik di poros.

6. Al-Haitham (965 M 1040 M)


Ilmuwan Muslim yang paling populer di bidang optik adalah Ibnu AlHaitham (965 M 1040 M). Menurut Turner, Al-Haitham adalah sarjana
Muslim yang mengkaji ilmu optik dengan kualitas riset yang tinggi dan
sistematis. Pencapaian dan keberhasilannya begitu spektakuler, puji
Turner.
Sang ilmuwan Muslim ini meyakini bahwa sinar cahaya keluar dari
garis lurus dari setiap titik di permukaan yang bercahaya.
Selain itu, Al-Haitham memecahkan misteri tentang lintasan cahaya
melalui berbagai media melalui serangkaian percobaan dengan tingkat
ketelitian yang tinggi. Keberhasilannya yang lain adalah ditemukannya
teori pembiasan cahaya. Al-Haitham pun sukses melakukan eksperimen
pertamanya tentang penyebaran cahaya terhadap berbagai warna.
Ia pun mencetuskan teori tentang berbagai macam fenomena fisik
seperti bayangan, gerhana, dan juga pelangi. Ia juga melakukan
percobaan untuk menjelaskan penglihatan binokular dan memberikan
penjelasan yang benar tentang peningkatan ukuran matahari dan bulan
ketika mendekati horison.
Ibnu Haytham menyatakan bahwa objek yang dilihat mengeluarkan
cahaya yang kemudian ditangkap mata sehingga bisa terlihat.
Secara detail, Al-Haitham pun menjelaskan sistem penglihatan
mulai dari kinerja syaraf di otak hingga kinerja mata itu sendiri. Ia juga
menjelaskan secara detil bagian dan fungsi mata seperti konjungtiva, iris,
kornea,

lensa,

dan

menjelaskan

peranan

masing-masing

terhadap

penglihatan manusia.
Al-Haitham juga mencetuskan teori lensa pembesar.

7. Kamal Al-Din Al-Farisi (1267 -1319 M)


Kitab Tanqih merupakan pendapat dan pandangan al-Farisi terhadap
buah karya Ibnu Haytham. Dalam pandangannya, tak semua teori optik
yang diajukan Ibnu Haytham menemukan kebenaran. Guna menutupi
kelemahan teori Ibnu Haytham, al-Farisi Al-Farisi lalu mengusulkan teori

alternatif. Sehingga, kelemahan dalam teori optik Ibnu Haytham dapat


disempurnakan.
Salah satu bagian yang paling penting dalam karya al-Farisi adalah
komentarnya

tentang

teori

pelangi.

Ibnu

Haytham

sesungguhnya

mengusulkan sebuah teori, tapi al-Farisi mempertimbangkan dua teori


yakni teori Ibnu Haytham dan teori Ibnu Sina (Avicenna) sebelum
mencetuskan teori baru. Teori yang diusulkan al-Farisi sungguh luar biasa.
Ia mampu menjelaskan fenomena alam bernama pelangi menggunakan
matematika.
Menurut Ibnu Haytham, pelangi merupapakan cahaya matahari
dipantulkan awan sebelum mencapai mata. Teori yang dicetuskan Ibnu
Haytham itu dinilainya mengandung kelemahan, karena tak melalui
sebuah penelitian yang terlalu baik. Al-Farisi kemudian mengusulkan
sebuah teori baru tentang pelangi. Menurut dia, pelangi terjadi karena
sinar cahaya matahari dibiaskan dua kali dengan air yang turun. Satu atau
lebih pemantulan cahaya terjadi di antara dua pembiasan.
Al-Farisi membuktikan teori tentang pelanginya melalui eksperimen
yang luas menggunakan sebuah lapisan transparan diisi dengan air dan
sebuah kamera obscura," kata J. J O'Connor, dan E.F. Robertson dalam
karyanya bertajuk "Kamal al-Din Abu'l Hasan Muhammad Al-Farisi". AlFarisi

pun

diakui

telah

memperkenalkan

dua

tambahan

sumber

pembiasan, yaitu di permukaan antara bejana kaca dan air. Dalam


karyanya, al-farisi juga menjelaskan tentang warna pelangi. Ia telah
memberi

inspirasi

bagi

masyarakat

fisika

modern

tentang

cara

membentuk warna.
Para ahli sebelum al-Farisi berpendapat bahwai warna merupakan
hasil sebuah pencampuran antara gelap dengan terang. Secara khusus, ia
pun melakukan penelitian yang mendalam soal warna. Ia melakukan
penelitian

dengan

mencetuskan

lapisan/bola

bahwa

warna-warna

transparan.
terjadi

Hasilnya,

karena

al-Farisi

superimposition

perbedaan bentuk gambar dalam latar belakang gelap.


"Jika gambar kemudian menembus di dalam, cahaya diperkuat lagi
dan

memproduksi

sebuah

warna

kuning

bercahaya.

Selanjutnya

mencampur gambar yang dikurangi dan kemudian sebuah warna gelap


dan merah gelap sampai hilang ketika matahari berada di luar kerucut
pembiasan sinar setelh satu kali pemantulan," ungkap al-Farisi.
Penelitiannya itu juga berkaitan dengan dasar investigasi teori
dalam dioptika yang disebut al-Kura al-muhriqa yang sebelumnya juga
telah dilakukan oleh ahli optik Muslim terdahulu yakni, Ibnu Sahl (1000 M)
dan Ibnu al-Haytham (1041 M). Dalam Kitab Tanqih al-Manazir , al-Farisi
menggunakan bejana kaca besar yang bersih dalam bentuk sebuah bola,
yang diisi dengan air, untuk mendapatkan percobaan model skala besar
tentang tetes air hujan.
Dia kemudian menempatkan model ini dengan sebuah kamera
obscura yang berfungsi untuk mengontrol lubang bidik kamera untuk
pengenalan cahaya. Dia memproyeksikan cahaya ke dalam bentuk bola
dan akhirnya dikurangi dengan beberapa percobaan dan penelitian yang
mendetail untuk pemantulan dan pembiasan cahaya bahwa warna pelangi
adalah sebuah fenomena dekomposisi cahaya.

8. Al Hasan (965-1038 M)
Al Hasan (965-1038) mengemukakan pendapat bahwa mata dapat
melihat

benda-benda

di

sekeliling

karena

adanya

cahaya

yang

dipancarkan atau dipantulkan oleh benda-benda yang bersangkutan


masuk ke dalam mata. Teori ini akhirnya dapat diterima oleh orang
banyak sampai sekarang ini.

9. Sir Isaac Newton (1642-1727 M)


Sir Isaac Newton (1642-1727) yang mendukung pendapat Al Hasan
merupakan

ilmuwan

berkebangsaan

Inggris

yang

mengemukakan

pendapat bahwa dari sumber cahaya dipancarkan partikel-partikel yang


sangat kecil dan ringan ke segala arah dengan kecepatan yang sangat
besar. Bila partikel-partikel ini mengenai mata, maka manusia akan
mendapat kesan melihat benda tersebut.
Tabel Opticks

Alasan dikemukakanya teori ini adalah sebagai berikut:

Karena partikel cahaya sangat ringan dan berkecepatan tinggi maka


cahaya dapat merambat lurus tanpa terpengaruh gaya gravitasi
bumi.

Ketika cahaya mengenai permukaan yang halus maka cahaya akan


akan dipantulkan dengan sudut sinar datang sama dengan sudut
sinar pantul sehingga sesuai dengan hukum pemantulan Snellius.
Peristiwa

pemantulan

ini

dijelaskan

oleh

Newton

dengan

menggunakan bantuan sebuah bola yang dipantulkan di atas bidang


pantul.

Alasan berikutnya adalah pada peristiwa pembiasan cahaya yang


disamakan dengan peristiwa menggelindingnya sebuah bola pada
papan yang berbeda ketinggian yang dihubungkan dengan sebuah
bidang miring. Dari permukaan yang lebih tinggi bola digelindingkan
dan akan terus menggelinding melalui bidang miring sampai
akhirnya bola akan menggelinding di permukaan yang lebih rendah.
Jika diamati perjalanan bola, maka sebelum melewati bidang miring
lintasan bola akan membentuk sudut terhadap garis tegak lurus
pada bidang miring. Setelah melewati bidang miring lintasan bola
akan membentuk sudut terhadap garis tegak lurus pada bidang
miring.

Jika

permukaan

atas

dianggap

sebagai

udara

dan

permukaan bawah dianggap sebagai air serta bidang miring


merupakan batas antara udara dan air, gerak bola dianggap sebagai
jalannya pembiasan cahaya dari udara ke air, maka Newton
menganggap bahwa kecepatan cahaya dalam air lebih besar dari
pada kecepatan cahaya dalam udara.

10. Jean Focault (1819 1868 M)


Jean Focault (1819 - 1868) melakukan percobaan tentang pengukuran
kecepatan cahaya dalam berbagai medium. Dalam percobaannya Jeans

Focault mendapatkan kesimpulan bahwa kecepatan cahaya dalam air


lebih kecil dari pada kecepatan cahaya dalam udara.

11. Christian Huygens (1629-1695 M)


Menurut

Christian

Huygens

(1629-1695)

seorang

ilmuwan

berkebangsaan Belanda, bahwa cahaya pada dasarnya sama dengan


bunyi dan berupa gelombang. Perbedaan cahaya dan bunyi hanya terletak
pada

panjang

gelombang

dan

frekuensinya.

Pada teori ini Huygens menganggap bahwa setiap titik pada sebuah muka
gelombang dapat dianggap sebagai sebuah sumber gelombang yang baru
dan arah muka gelombang ini selalu tegak lurus tehadap muka
gelombang yang bersangkutan.
Pada

teori

Huygens

ini

peristiwa

pemantulan,

pembiasan,

interferensi, ataupun difraksi cahaya dapat dijelaskan secara tepat,


namun dalam teori Huygens ada kesulitan dalam penjelasan tentang sifat
cahaya yang merambat lurus.

12. James Clerk Maxwell (1831 - 1879)


Percobaan James Clerk Maxwell (1831 - 1879) seorang ilmuwan
berkebangsaan Inggris (Scotlandia) menyatakan bahwa cepat rambat
gelombang elektromagnetik sama dengan cepat rambat cahaya yaitu
3108 m/s, oleh karena itu Maxwell berkesimpulan bahwa cahaya
merupakan gelombang elektromagnetik. Kesimpulan Maxwell ini di
dukung oleh:

Seorang ilmuwan berkebangsaan Jerman, Heinrich Rudolph Hertz


(1857

1894)

yang

membuktikan

bahwa

gelombang

elektromagnetik merupakan gelombang tranversal. Hal ini sesuai


dengan kenyataan bahwa cahaya
polarisasi.

dapat menunjukkan gejala

Percobaan seorang ilmuwan berkebangsaan Belanda, Peter Zeeman


(1852 - 1943) yang menyatakan bahwa medan magnet yang sangat
kuat dapat berpengaruh terhadap berkas cahaya.

Percobaan Stark (1874 - 1957), seorang ilmuwan berkebangsaan


Jerman yang mengungkapkan bahwa medan listrik yang sangat kuat
dapat mempengaruhi berkas cahaya.

13. Max Karl Ernst Ludwig Planck (1858 1947 M)


Teori kuantum pertama kali dicetuskan pada tahun 1900 oleh
seorang ilmuwan berkebangsaan Jerman yang bernama Max Karl Ernst
Ludwig Planck (1858 - 1947).
Dalam percobaannya Planck mengamati sifat-sifat termodinamika
radiasi benda-benda hitam hingga ia berkesimpulan bahwa energi cahaya
terkumpul dalam paket-paket energi yang disebut kuanta atau foton. Dan
pada tahun 1901 Planck mempublikasikan teori kuantum cahaya yang
menyatakan bahwa cahaya terdiri dari peket-paket energi yang disebut
kuanta atau foton. Akan tetapi dalam teori ini paket-paket energi atau
partikel penyusun cahaya yang dimaksud berbeda dengan partikel yang
dikemukakan oleh Newton . Karena foton tidak bermassa sedangkan
partikel pada teori Newton memiliki massa.

14. Albert Einstein


Pernyataan Planck ternyata mendapat dukungan dengan adanya
percobaan Albert Einstein pada tahun 1905 yang berhasil menerangkan
gejala fotolistrik dengan menggunakan teori Planck. Fotolistrik adalah
peristiwa terlepasnya elektron dari suatu logam yang disinari dengan
panjang

gelombang

bertentangan

tertentu.

dengan

Akibatnya

pernyataan

percobaan
Huygens

Einstein
dengan

justru
teori

gelombangnya.Pada efek fotolistrik, besarnya kecepatan elektron yang


terlepas dari logam ternyata tidak bergantung pada besarnya intensitas
cahaya yang digunakan untuk menyinari logam tersebut. Sedangkan

menurut teori gelombang seharusnya energi kinetik elektron bergantung


pada intensitas cahaya.

15. Maxwell
Inti teori Maxwell mengenai gelombang elektromagnetik adalah:
a. Perubahan medan listrik dapat menghasilkan medan magnet.
b.

Cahaya termasuk gelombang elektromagnetik. Cepat rambat


gelombang ) dan permeabilitas & elektromagnetik (c) tergantung
dari permitivitas ( () zat.

Menurut

Maxwell,

kecepatan

rambat

gelombang

elektromagnetik

dirumuskan sebagai berikut:


Ternyata perubahan medan listrik menimbulkan medan magnet
yang tidak tetap besarannya atau berubah-ubah. Sehingga perubahan
medan magnet tersebut akan menghasilkan lagi medan listrik yang
berubah-ubah.
Proses terjadinya medan listrik dan medan magnet berlangsung
secara

sama

dan

menjalar

kesegala

arah.

Arah

getar

vektor

medanbersama listrik dan medan magnet saling tegak lurus. Jadi


gelombang elektromagnetik adalah gelombang yang dihasilkan dari
perubahan medan magnet dan medan listrik secara berurutan, dimana
arah getar vektor medan listrik dan medan magnet saling tegak lurus.
Dari seluruh teori-teori cahaya yang muncul dapat disimpulkan
bahwa cahaya mempunyai sifat dual (dualisme cahaya) yaitu cahaya
dapat

bersifat

sebagai

gelombang

untuk

menjelaskan

peristiwa

interferensi dan difraksi tetapi di lain pihak cahaya dapat berupa materi
tak bermassa yang berisikan paket-paket energi yang disebut kuanta atau
foton sehingga dapat menjelaskan peristiwa efek fotolistrik.