Anda di halaman 1dari 18

Satuan Acara Penyuluhan (SAP)

LATAR BELAKANG
Diabetes Mellitus (DM) adalah penyakit kronis dengan prevalensi yang
meningkat di seluruh dunia, termasuk di Indonesia terutama di kalangan
kelompok dewasa. Peningkatan prevalensi DM diikuti dengan peningkatan
prevalensi obesitas dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup dan pola diet yang
tidak sehat, (Almatsier, 2004).
Diabetes Mellitus (DM) Tipe II adalah jenis yang paling banyak ditemukan
(lebih dari 90%). Timbul makin sering setelah usia 40 tahun dengan catatan pada
dekade ke 7 kekerapan diabetes mencapai 3 - 4 kali lebih tinggi dari pada ratarata orang dewasa. Pada keadaan dengan kadar glukosa darah tidak terlalu
tinggi atau belum ada komplikasi, biasanya pasien tidak berobat ke rumah sakit
atau dokter. Ada juga yang sudah didiagnosis sebagai diabetes tetapi karena
kekurangan biaya biasanya pasien tidak berobat lagi.Keadaan seperti ini masih
terdapat di Negara maju. Kalau dinegara maju saja sudah lebih dari 50 % yang
tidak terdiagnosis, dapat dibayangkan berapa besar angka itu di Negara
berkembang seperti indonesia. Pasti lebih besar jauh dari 50 % melebihi angka
yang terdiagnosis. Ini berarti usaha pengobatan apalagi pencegahan komplikasi
akan mengalami hambatan, (Soegondo,dkk, 2007).
Pada tahun 2006, jumlah penyandang diabetes di Indonesia mencapai 14
juta orang. Dari jumlah itu, baru 50% penderita yang sadar mengidap, dan sekitar
30% diantaranya melakukan pengobatan secar teratur. Menurut beberapa
penelitian, prevalensi diabetes di Indonesia berkisar 1,5 % sampai 2,3 % kecuali
manado yang cenderung lebih tinggi yaitu 6,1%.
Data WHO mengungkapkan, beban global diabetes mellitus tahun 2000
adalah 135 juta, dimana beban ini diperkirakan akan meningkat terus menjadi
366 juta orang setelah 25 tahun (tahun 2025). Pada 2025, Asia diperkirakan
mempunyai populasi diabetes terbesar didunia, yaitu 82 juta orang dalam jumlah
ini akan meningkat menjadi 366 juta orang setelah 25 tahun, (Purnomo 2009).
Kasus diabetes yang paling banyak dijumpai adalah DM tipe 2, yang
umumnya mempunyai latar belakang kelainan berupa resistensi insulin. DM tipe
2 dapat terjadi oleh beberapa faktor diantaranya faktor genetik, faktor
kegemukan yang disebabkan oleh gaya hidup, kurang aktifitas, serta makan
berlebihan. Selain itu adalah faktor demografi dimana terjadi peningkatan jumlah

penduduk, urbanisasi, penduduk dengan usia diatas 40 tahun meningkat. Serta


faktor berkurangnya penyakit infeksi dan kurang gizi. Bila dilihat dari faktor
tersebut maka dapat disimpulkan bahwa dalam 1 atau 2 dekade yang akan
datang keekerapan pada DM tipe 2 akan meningkat drastis, (Soegondo, 2009).
TUJUAN

TUJUAN INSTITUSIONAL ( TI )
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan diharapkan para keluarga pasien
di ruang 27 mengetahui pengertian Diabetes Melitus, tanda dan gejala,
faktor resiko serta pencegahan.

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM ( TIU )


Setelah mengikuti penyuluhan kesehatan tentang Diabetes Melitus ini,
keluarga dari pasien di Ruang 27 mampu mengenali penyakit Diabetes
Melitus serta melakukan pencegahannya.

KARAKTERISTIK/ PRASYARAT PESERTA DIDIK


Keluarga Pasien ruang 27

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK)


Setelah mengikuti penyuluhan mengenaiDiabetes

Melitus,

Keluarga pasien Ruang 27 mampu :


Know
Menjelaskan pengertian Diabetes Melitus
Menjelaskan faktor resiko yang berkaitan dengan Diabetes Melitus
Menjelaskantanda dan gejala Diabetes Melitus
Menjelaskan jenis pengobatan Diabetes Melitus
Do

Melakukan Pencegahan terhadap Diabetes Melitus


Show

Memperhatikan kegiatan penyuluhan dengan saksama

Menunjukkan antusiasme dalam menjawab pertanyaan yang diberikan

RENCANA KEGIATAN
Medote

: Ceramah dan Tanya Jawab

Media atau Alat Bantu

: Leaflet dan ppt

Waktu

: 50 menit

Hari,Tanggal

: Jumat, 2 Oktober 2015

Tempat

: Ruang 27

MATERI (Terlampir)
JOB DESK
Moderator

: Yulis (Stikes Kendedes)

Pemateri

1. Diabetes Mellitus : Ni Made Ardaningsih (PSIK UB)


2. Chronic Kidney Disease : Nita (Stikes Maharani)
3. Pengelolaan Sampah : Elok (Poltekkes Prodi Lawang)
Operator

: Eka Fitri Cahyani (PSIK UB)

Fasilitator

: Surya , Shinta, Via, Tri, Rian, Winda, Hesty, Dian.

Gambar 1. Denah Pembagian Jobdesk

KEGIATAN PEMBELAJARAN
Tahap

Wakt

Kegiatan Penyuluhan

Kegiatan

Pendahulua

u
5

menit

Mahasiswa
Pembukaan:
Menjawab

Membuka kegiatan
salam
dengan
Medengarkan

Metode

Medi

ceramah

a
PPT

mengucapkan

dan
menyimak

salam
Meperkenalkan diri
Menjelaskan tujuan

dari penyuluhan
Menyebutkan
materi yang akan

Penyajian

35

dan diskusi

menit

diberikan
Membuat

kontrak

waktu
1. Penyampaian

materi
Menjelaskan

pengertian DM

Menjelaskan
resiko
resiko DM
Menjelaskan tanda dan

Mendengarka

Ceramah

n dan

,
Tanya

menyimak
Bertanya

PPT

jawab

mengenai
hal-hal yang
belum jelas

gejala DM
Menjelaskan

cara

dan belum

pencegahan DM
Menjelaskan

dimengerti

jenis

pengobatan DM
2. Tanya jawab
Memberikankesempata
n kepada peserta
Penutup

10
menit

untuk bertanya
1. Evaluasi :

Menanyakan pada
peserta

tentang

materi yang telah


diberikan
2. Menyampaikan
kesimpulan materi
3. Mengakhiri
pertemuan
mengucapkan
salam
4. Membagikan
Leaflet

dan

Mendengarka
n dan
menyimak
Menjawab
pertanyaan
yang diajukan
Menjawab
salam

Ceramah
Tanya
jawab

PPT

EVALUASI
1. Apa yang dimaksud dengan Diabetes Melitus?
2. Apa saja faktor resiko yang berkaitan dengan Diabetes Melitus?
3. Apa saja tanda dan gejala Diabetes Melitus?
4. Apa saja cara pencegahan penyakit Diabetes Melitus?
5. Bagaimana Pengobatan penyakit Diabetes Melitus?

1.
2.
3.
4.
5.

Evaluasi Struktur
Pendidik kesehatan menyiapkan satuan acara penyuluhan
Pendidik kesehatan menyiapkan materi dan media untuk penyuluhan
Pendidik kesehatan melakukan kontrak waktu dengan sasaran
Pendidik kesehatan menyiapkan tempat untuk penyuluhan
Pendidik kesehatan menyiapkan pertanyaan untuk mengetahui apakah
keluarga pasien ruang 27 dapat memahami apa yang telah

disampaikan
Evaluasi Proses
1. Pada saat berlangsungnya penyuluhan, sasaran memperhatikan
dengan cermat
2. Jika sasaran ada yang tidak mengerti, sasaran aktif bertanya
3. Sasaran mampu menjawab pertanyaan dari pendidik kesehatan dan
mampu mengulang kembali informasi yang telah disampaikan.
Evaluasi Hasil
1. Pendidikan kesehatan dikatakan berhasil apabila sasaran mampu
menjawab 80% pertanyaan yang diberikan
2. Penyuluhan dikatakan cukup berhasil apabila sasaran mampu
menjawab 50-80% pertanyaan yang diberikan
3. Penyuluhan dikatakan kurang berhasil apabila sasaran hanya mampu
menjawab < 50% pertanyaan yang diberikan
Hasil Evaluasi
Sasaran mampu menjawab pertanyaan 50-80% sehingga pendidikan
kesehatan dikatakan cukup berhasil
LAMPIRAN
MATERI
1. DEFINISI
Diabetes mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan
karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin,

kerja insulin, atau kedua- duanya (Sudoyo, 2007).


Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan
timbulnya hiperglikemia akibat gangguan sekresi insulin, dan atau
peningkatan resistensi insulin seluler terhadap insulin. Hiperglikemia

kronik dan gangguan metabolik DM lainnya akan menyebabkan


kerusakan jaringan dan organ, seperti mata, ginjal, syaraf, dan sistem

vaskular (Cavallerano, 2009).


Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang
ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia
karena menurunnya produksi insulin akibat dari kerusakan sel pankreas
(Suzanne, 2002).

Puasa
Tidak Puasa

Normal
< 110
< 110

KADAR GULA DARAH (mg/dl)


Pra DM
DM
110-125
126
110-199
200

2. FAKTOR RISIKO
Faktor risiko di abetes melli tus umumnya di bagi menjadi 2 golongan besar
yaitu :
1) Faktor yang tidak dapat dimodifikasi
a. Umur
Manusia mengalami penurunan fisiologis setelah umur 40 tahun.
Diabetes mellitus sering muncul setelah manusia memasuki umur
rawan tersebut. Semakin bertambahnya umur, maka risiko menderita
diabetes mellitus akan meningkat terutama umur 45 tahun (kelompok
risiko tinggi).
b. Jenis kelamin
Distribusi penderita diabetes mellitus menurut jenis kelamin
sangat bervariasi. Di Amerika Serikat penderita diabetes mellitus lebih
banyak terjadi pada perempuan dari pada laki-laki.
c. Bangsa dan etnik
Berdasarkan penelitian terakhir di 10 negara menunjukkan bahwa
bangsa Asia lebih berisiko terserang diabetes mellitus dibandingkan
bangsa Barat. Hasil dari penelitian tersebut mengatakan bahwa
secara keseluruhan bangsa Asia kurang berolahraga dibandingkan
bangsa-bangsa di benua Barat.
d. Faktor keturunan
Adanya riwayat diabetes mellitus dalam keluarga terutama orang
tua dan saudara kandung memiliki risiko lebih besar terkena penyakit
ini dibandingkan dengan anggota keluarga yang tidak menderita

diabetes. Ahli menyebutkan bahwa diabetes mellitus merupakan


penyakit yang terpaut kromosom seks atau kelamin. Umumnya lakilaki menjadi penderita sesungguhnya, sedangkan perempuan sebagai
pihak yang membawa gen untuk di wariskan kepada anak-anaknya.
e. Riwayat menderita diabetes gestasional
Diabetes gestasional dapat terjadi sekitar 2-5 % pada ibu hamil.
Biasanya diabetes akan hilang setelah anak lahir. Namun, dapat pula
terjadi diabetes di kemudian hari. Ibu hamil yang menderita diabetes
akan melahirkan bayi besar dengan berat badan lebih dari 4000 gram.
Apabila hal ini terjadi, maka kemungkinan besar si ibu akan mengidap
diabetes tipe 2 kelak.

2) Faktor yang dapat dimodifikasi


a. Obesitas
Berdasarkan beberapa

teori menyebutkan

bahwa

obesitas

merupakan faktor predisposisi terjadinya resistensi insulin. Semakin


banyak jaringan lemak pada tubuh, maka tubuh semakin resisten
terhadap kerja insulin, terutama bila lemak tubuh atau kelebihan berat
badan terkumpul di daerah sentral atau perut (central obesity). Lemak
dapat memblokir kerja insulin sehingga glukosa tidak dapat diangkut
ke dalam sel dan menumpuk dalam pembuluh darah, sehingga terjadi
peningkatan kadar glukosa darah. Obesitas merupakan faktor risiko
terjadinya diabetes mellitus tipe 2 dimana sekitar 80-90% penderita
mengalami obesitas.
b. Aktifitas fisik yang kurang
Berdasarkan penelitian bahwa aktifitas fisik yang dilakukan secara
teratur dapat menambah sensitifitas insulin. Prevalensi diabetes
mellitus mencapai 2-4 kali lipat terjadi pada individu yang kurang aktif
dibandingkan dengan individu yang aktif .
Semakin kurang aktifitas fisik, maka semakin mudah seseorang
terkena diabetes. Olahraga atau aktifitas fisik dapat membantu
mengontrol berat badan. Glukosa dalam darah akan dibakar menjadi
energi, sehingga sel-sel tubuh menjadi lebih sensitif terhadap insulin.

Selain itu, aktifitas fisik yang teratur juga dapat melancarkan


peredaran darah, dan menurunkan faktor risiko terjadinya diabetes
mellitus.
c. Hipertensi
Hipertensi merupakan suatu keadaan dimana tekanan darah
sistole 140 mmHg atau tekanan darah diastole 90 mmHg. Hipertensi
juga dapat menimbulkan resistensi insulin dan merupakan salah satu
faktor risiko terjadinya diabetes mellitus.
d. Stres
Kondisi stres kronik cenderung membuat seseorang mencari
makanan yang manis-manis dan berlemak tinggi untuk meningkatkan
kadar serotonin pada otak. Serotonin mempunyai efek penenang
sementara untuk meredakan stresnya. Tetapi efek mengkonsumsi
makanan yang manis-manis dan berlemak tinggi terlalu banyak
berbahaya bagi mereka yang berisiko terkena diabetes mellitus.
e. Pola makan
Pola makan yang salah dapat mengakibatkan kurang gizi atau
kelebihan berat badan. Kedua hal tersebut dapat meningkatkan risiko
terkena diabetes. Kurang gizi (malnutrisi) dapat menganggu fungsi
pankreas dan mengakibatkan gangguan sekresi insulin. Sedangkan
kelebihan berat badan dapat mengakibatkan gangguan kerja insulin.
f.

Alkohol
Alkohol dapat menyebabkan terjadinya inflamasi kronis pada
pankreas yang dikenal dengan istilah pankreatitis. Penyakit tersebut
dapat menimbulkan gangguan produksi insulin dan akhirnya dapat
menyebabkan diabetes mellitus.

3. MANIFESTASI KLINIS
Tanda dan gejala diabetes mellitus menurut Riyadi (2007), yaitu :
Gejala klasik
a. Poliuria (urinasi yang sering dikarenakan diuresis osmotic dari
glukosa).
b. Polidipsia (peningkatan rasa haus) akibat volume urin yang sangat
besar dan keluarnya air menyebabkan dehidrasi ekstrasel karena
air intrasel akan berdifusi keluar sel mengikuti penurunan gradien
konsentrasi

plasma

yang

hipertonik.

Dehidrasi

intrasel

merangsang pengeluaran ADH dan menimbulkan rasa haus.

c. Polifagia (peningkatan rasa lapar) akibat terjadi kegalalan glukosa


masuk ke dalam sel dan menghasilkan energi sehingga
menyebabkan pasien selalu merasa lapar.

Gejala penyerta
a. Rasa lelah dan kelemahan otot. Akibat aliran darah pada pasien
DM lambat, katabolisme protein di otot dan ketidakmampuan
sebagian sel untuk menggunakan glukosa sebagai energi.
b. Kesemutan atau rasa baal akibat neuropati. Pada penderita DM
regenerasi

sel

persarafan

mengalami

gangguan

akibat

kekurangan bahan dasar utama yang berasal dari unsur protein.


Akibatnya banyak sel persarafan terutama perifer mengalami
kerusakan.
c. Peningkatan angka infeksi. Akibat penurunan protein sebagai
bahan dasar pembentukan antibody, peningkatan konsentrasi
glukosa diekskresi mukus, gangguan imun dan penurunan aliran
darah pada penderita DM kronis.
d. Kelemahan tubuh. Akibat penurunan produksi energi metabolik
yang dilakukan oleh sel melalui proses glikolisis tidak dapat
berlangsung secara optimal.
e. Mata kabur. Disebabkan oleh katarak atau gangguan refraksi
akibat perubahan pada lensa oleh karena hiperglikemia, mungkin
f.

juga disebabkan kelainan pada corpus vitreum.


Luka sukar sembuh. Proses penyembuhan luka membutuhkan
bahan dasar utama protein dan unsur makanan lain. Pada
penderita DM bahan protein banyak diformulasikan untuk
kebutuhan energi sel sehingga bahan yang dipergunakan untuk
penggantian jaringan yang rusak terganggu. Selain itu luka yang
sulit sembuh dapat diakibatkan oleh pertumbuhan mikroorganisme
yang cepat pada orang DM dan dapat pula disebabkan oleh zat

sorbitol yang membuat luka sukar sembuh.


g. Impoten pada laki-laki. Akibat penurunan produksi hormone
seksual akibat kerusakan testosterone dan sistem
h. Adanya rasa gatal pada kulit terutama pada daerah kemaluan
yang dapat menimbulkan infeksi.

4. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Tes diagnostik untuk DM menurut Subianto (2009) :
a. Gula darah
GDS, GDP dan GD2PP yaitu pemeriksaan terhadap gula darah. Dengan
hasil normal, hipo atau hiperglikemia.
-Apabila penderita kadar glukosa darah ketika puasa >126 mg/dl atau GD
2 jam setelah makan menunjukkan kadarnya >200 mg/dl.
-Tidak menderita DM jika GDP <110 mg/dl, GDPP <140 mg/dl.
b. Toleransi glukosa (TTG)
Memanjang > 200 mg/dl. Biasanya tes ini dianjurkan untuk pasien yang
menunjukkan kadar glukosa meningkat di bawah kondisi stress.
c. Urinalisis
Pemeriksaan urin positif terhadap glukosa dan keton. Pada respon
terhdap definisi intraseluler protein dan lemak diubah menjadi glukosa
(glukogenesis) untuk energi, selama pengubahan ini asam lemak bebas
dipecah kadar lipid dan kolesterol meningkat menjadi badan keton oleh
hepar. Ketosis terjadi ditunjukkan dari ketonuria, glukosa menunjukkan
bahwa ambang ginjal terhadap reabsorbsi glukosa dicapai.
d. Kultur dan sensitivitas : kemungkinan adanya infeksi pada saluran kemih
dan infeksi pada luka
e. Elektrolit : natrium, kalium, dan fosfor
f. Ureum dan kreatinin : meningkat (dehidrasi atau penurunan fungsi ginjal)
g. HbA1c
Tes glikohemoglobin ini digunakan untuk memantau perkembangan dari
control diabetes (bukan untuk mendiagnosa diabetes. HbA1C normal
adalah 4-6%.
5. PENATALAKSANAAN
Tujuan utama terapi diabetes mellitus adalah menormalkan aktivitas
insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi terjadinya
komplikasi vaskuler serta neuropatik. Pada dasarnya ada 2 pendekatan
dalam penatalaksanaan DM, yaitu penatalaksanaan non farmakologis dan
farmakologis. Langkah pertama penatalaksanaan DM yaitu secara non
farmakologis berupa pengaturan diet dan olahraga. Apabila dengan langkah
pertama

belum

tercapai

tujuannya

dapat

dikombinasikan

dengan

farmakologis berupa terapi insulin atau terapi obat hipoglikemik oral atau
kombinasi keduanya.
a. Penatalaksanaan non farmakologis
Pengaturan diet dan pengendalian berat badan

Merupakan dasar dari penatalaksanaan diabetes. Penatalaksanaan


nutrisi pada penderita diabetes diarahkan untuk mencapai tujuan
berikut ini :
1. Memberikan semua unsur makanan essensial (misalnya, vitamin,
mineral)
2. Mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesuai
3. Memenuhi kebutuhan energi
4. Mencegah fluktuasi kadar glukosa darah setiap harinya dengan
mengupayakan kadar glukosa darah mendekati normal melalui
cara-cara yang aman dan praktis
5. Menurunkan kadar lemak darah jika kadar ini meningkat
Standar yang dianjurkan makanan dengan komposisi yang
seimbang dalam hal karbohidrat, protein, lemak, sesuai dengan
kecukupan gizi baik sebagai berikut :
Karbohidrat

: 60 70 %

Protein

: 10 15 %

Lemak

: 20 25 %

Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan, status


gizi, umur, stres akut dan kegiatan jasmani untuk mencapai dan
mempertahankan berat badan idaman.
Bagi pasien yang memerlukan insulin untuk membantu
mengendalikan

kadar

glukosa

darah,

upaya

untuk

mempertahankan konsistensi jumlah kalori dan karbohidrat yang


dikonsumsi pada jam-jam makan yang berbeda-beda merupakan
hal penting. Disamping itu, konsistensi interval waktu diantara jam
makan dengan mengkonsumsi camilan (jika
membantu

mencegah

diperlukan),

akan

reaksi hipoglikemia dan pengendalian

keseluruhan kadar glukosa darah. Bagi pasien-pasien obesitas,


khususnya pasien diabetes tipe II, penurunan berat badan
merupakan kunci dalam penanganan diabetes.

Olahraga
Berolahraga

secara

teratur

dapat

menurunkan

dan

menjaga kadar gula darah tetap normal. Prinsipnya tidak perlu


olahraga berat, olahraga ringan asal dilakukan teratur yang sesuai
untuk penderita diabetes. Olahraga yang disarankan adalah yang

bersifat

CRIPE

(Continous,

Rytmical,

Interval,

Progressive,

Endurance Training). Sedapat mungkin mencapai zona sasaran


75-85% denyut nadi maksimal (220-umur), disesuaikan dengan
kemampuan dan kondisi penderita. Beberapa contoh olahraga
yang disarankan antara lain jalan atau lari pagi, bersepeda,
berenang, dan lain-lain. Olahraga aerobic ini dilakukan paling tidak
selama 30-40 menit/ hari selama 3-4 kali dalam seminggu didahului
dengan pemanasan 5-10 menit dan diakhiri dengan pendinginan 510 menit. Olahraga akan memperbanyak jumlah dan meningkatkan
aktivitas reseptor insulin dalah tubuh dan juga meningkatkan
penggunaan glukosa.
b. Penatalaksanaan farmakologis
Jika pasien telah melaksanakan program makan dan latihan
jasmani teratur, namun pengendalian kadar glukosa darah belum

tercapai, perlu ditambahkan obat hipoglikemik baik oral maupun insulin.


Terapi insulin
Terapi insulin mutlak diperlukan oleh penderita DM tipe 1 karena
sel-sel beta di pulau Langerhans kelenjar pankreasnyaa telah rusak
sehingga tidak mampu lagi memproduksi insulin yang diperlukan
dalam penyerapan glukosa dari darah ke dalam sel. Sebagai
gantinya,

penderita

harus

mendapat

insulin

eksogen

untuk

membantu agar metabolisme karbohidrat di dalam tubuhnya dapat


berjalan normal. Untuk penderita DM tipe 2, suntikan insulin sering
kali diperlukan bila obat hipoglikemia oral sudah tidak memberikan
efek yang diinginkan atau menunjukkan resistensi. Penyerapan
insulin paling cepat terjadi di daerah abdomen, diikuti di daerah
lengan, paha bagian atas, dan bokong. Bila disuntikkan secara IM
dalam, maka penyerapan akan lebih cepat dan masa kerjanya

menjadi lebih singkat.


Terapi obat hipoglikemik oral (OHO)
Obat hipoglikemik oral dapat dijumpai dalam bentuk golongan
sulfonilurea, golongan biguanid, dan inhibitor glukosidase alfa.
a. Sulfonilurea
Diberikan pada DM tipe 2 yang tidak gemuk karena golongan
sulfonilurea ini mempunyai efek utama meningkatkan sekresi
insulin oleh sel beta pada pankreas
b. Biguanid

Diberikan pada penderita DM yang gemuk karena obat ini


mempunyai efek utama mengurangi produksi glukosa hati.
c. Inhibitor glukosidase alfa
Diberikan pada DM dengan kadar glukosa darah 2 jam sesudah
makan yang tinggi karena obat ini menurunkan puncak glukosa
sesudah makan.
6. Pencegahan
Usaha Pencegahan Primer
Pencegahan primer berarti mencegah terjadinya diabetes melitus.Untuk dapat
menghayati dan melaksanakan benar usah pencegahan primer harus dikanali
dahulu faktor yang berpengaruh terjadinya penyakit diabetes melitus. Faktor
yang berpengaruh pada terjadinya diabetes melitus adalah:

Faktor keturunan
Faktor kegiatan jamnasi yang kurang
Faktor kehemukan/distribusi lemak
Faktor nutrisi berlebihan
Faktor lain, obat-obatan, hormon

Faktor keturunan jelas berpengaruh pada terjadinya DM. keturunan oang yang
mengidap DM (apalagi kalau kedua orang tuanya mengidap DM jelas lebih
besar kemungkinannya untuk mengidap DM daripada orang normal).
Demikian pula saudara kembar identik pengidap DM, hampir 100% dapat
dipastikan akan juga mengidap DM nantinya. Faktor keturunan merupakan
faktor yang tidak dapat diubah tetapi faktor lingkuangan (kegemukan, kegiatan
jasmani, nutrisi berlebih) merupakan faktor yang
dapat diubah dan diperbaiki. Usaha pencegahan primer ini dilakukan secara
menyeluruh pada masyarakat tetapi diutamakan dan ditekankan untuk
dilaksanakan dengan baik pada mereka yang beresiko tinggi untuk kemudian
mengidap DM.
Orang-orang yang menpunyai resiko tinggi untuk mengidap DM1
a) Orang yang pernah terganggu toleransi glukosanya
b) Orang yang berpotensi untuk terganggu toleransi glukosnya
Ibu dengan DM saat hamil
Ibu dengan riwayat melahirkan anak > 4 kg
Saudara kembar DM
Anak yang kedua orang tunya DM
Orang/kelompok yang mangalami perubahan pola/gaya hidup
ke arah kegiatan jasmani yang kurang
Orang yang juga mengidap penyakit yang sering timbul

bersama dengan DM, seperti tekanan darah tinggi,


dislipidemia, dan kegemukan.

Tindakan yang di lakukan untuk usaha pencegahan primer meliputi


penyuluhan mengenai perlunya pengaturan gaya hidup sehat sedini mungkin
dengan memberikan pedoman sebagai berikut:

Mempertahankan pola makan sehari-hari yang sehat dan seimbang yaitu:


Meningkatkan konsumsi sayur dan buah
Membatasi makanan tinggi lemak dan karbohidrat sederhana
Mempertahankan berat badan normal/idaman sesuai dengan umur dan
tinggi badan
Melakukan kegiatan jasmani yang cukup sesuai dengan umur dan

kemampuan
Menghindari obat yang bersifat diabetogenik

Usaha Pencegahan Sekunder


Usaha pencegahan sekunder dimulai dengan usaha mendeteksi diri penderita
DM. karena itu dianjurkan untuk setiap kesemapatan terutama untuk meraka
yang mempunyai resiko tinggi agar dilakukan pemeriksaan penyaring glukosa
darah. Dengan demikian mereka yang mempunyai resiko tinggi DM dapat
terjaring untuk diperiksa dan kemudian yang dicurigai DM akan dapat ditindak
lanjuti, sampai diyakini benar mereka mengidap DM. Bagi mereka dapat
ditegakkan diagnosis dini DM kemudian dapat dikelola dengan baik guna
mencegah penyulit lebih lanjut. Pengelolaan untuk mencegah terjadinya
penyulit dikerjakan bersama bersama oleh dokter dan para petugas
kesehatan.Peran dokter dalam mendapatkan hasil pengendalian glukosa
darah yang baik sangat menonjol. Walapun demikian, hasil pengelolaan yang
baik tidak akan dapat dicapai tanpa keikutsetaan aktif para penderita DM.
Secara garis besar sarana yang dapat digunakan adalah :

Perencanaan makan yang baik dan seimbang untuk mendapatkan berat

badan idaman sesuai dengan umur dan jenis kelamin.


Kegiatan jasamani yang cukup sesuai umur dan kondisi pasien.
Obat-obatan, baik berbagai macam obat yang diminum maupun obat

suntik insulin.
Penyuluhan untuk menjelaskan pada pasien mengenai DM dan
penyulitnya agar kemudian didapatkan pengertian yang baik dan
keikutsertaan pasien dalam usaha untuk mengendalikan kadar glukosa
darahnya.

Usaha Pencegahan Tersier

Usaha pencegahan tersier dilalakukan untuk mencegah lebih lanjut terjadinya


kecacatan kalau penyulit sudah terjadi. Untuk mencegah terjadinya kecacatan
tentu saja harus dimulai dengan deteksi dini penyulit DM agar kemudian
penyulit dapat dikelola dengan baik di samping tentu saja pengelolaan untuk
mengendalikan kadar glukosa darah. Pemeriksaan pemantauan yang
diperlukan untuk penyulit ini adalah:

Mata - pemeriksaan mata/fundus secara berkala setiap 6-12 bulan.


Paru - pemeriksaan berkala foto dada setiap 1-2 tahun atau kalau

keluhan batuk kronik.


Jantung - pemeriksaan berkala EKG/uji latihan jantung secara berkala

setiap tahun atau kalau ada keluhan nyeri dada.


Ginjal - pemeriksaan berkala urin untuk mendeteksi adanya protein dalam

urin.
Kaki - pemeriksaan kaki secara berkala dan penyuluhan mengenai cara
perawatan kaki yang sebaik-baiknya untuk mencegah kemungkinan
timbulnya kaki diabetik dan kecacatan yang mungkin kemudian
ditimbulkan.

DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth.2002. Buku Ajar keperawtan medikal bedah, edisi 8 vol 3.
Jakarta: EGC
Carpenito, L.J. 2000. Diagnosa Keperawatan, Aplikasi pada Praktik Klinis, edisi
6. Jakarta: EGC
Corwin, EJ. 2009. Buku Saku Patofisiologi, 3 Edisi Revisi. Jakarta: EGC
Indriastuti, Na. 2008. Laporan Asuhan Keperawatan Pada Ny. J Dengan Efusi
Pleura

dan

Diabetes

Mellitus

Di

Bougenvil

RSUP

dr

Sardjito

Yogyakarta. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada


Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second
Edition. New Jersey: Upper Saddle River
Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1 edisi 3. Jakarta: Media
Aesculapius
Rab, T. 2008. Agenda Gawat Darurat (Critical Care). Bandung: Penerbit PT
Alumni

Satuan Acara Penyuluhan (SAP)


Diabetes Mellitus

Disusun Oleh :
PSIK Universitas Brawijaya
STIKES Kendedes

RSUD Dr. Saiful Anwar


Malang
2015