Anda di halaman 1dari 16

PAKET PENYULUHAN

IMUNISASI DASAR LENGKAP

PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT (PKRS)


IRNA IV RSUD Dr.SAIFUL ANWAR
MALANG
2015

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)


IMUNISASI DASAR LENGKAP

Disusun Oleh:
Eka Fitri Cahyani
Khonaah Toyyibah
Shinta Ardiana P

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

SAP IMUNISASI DASAR LENGKAP


Pokok Bahasan

: Imunisasi Dasar Lengkap

Sasaran

: Ibu atau Orangtua Bayi Diruang 11

Tempat

: Ruangan Perina

Hari/Tanggal

: Jumat,18 Desember 2015

Waktu

: 30 menit

Penyuluh

: Mahasiswa PSIK

A. Latar Belakang
Anak yang sehat, cerdas, berpenampilan menarik, dan berakhlak mulia
merupakan dambaan setiap orang tua. Agar dapat mencapai hal tersebut
terdapat berbagai kriteria yang harus terpenuhi dalam pertumbuhan dan
perkembangan anak, salah satunya adalah faktor keturunan atau genetika.
Namun,

selain

faktor

keturunan

masih

terdapat

faktor

lain

yang

mempengaruhi kualitas seorang anak.


Kualitas seorang anak dapat dinilai dari proses tumbuh kembang. Proses
tumbuh kembang merupakan hasil interaksi faktor genetik dan faktor
lingkungan. Faktor genetik/keturunan adalah faktor yang berhubungan
dengan gen yang berasal dari ayah dan ibu, sedangkan faktor lingkungan
meliputi lingkungan biologis, fisik, psikologis, dan sosial. Pertumbuhan dan
perkembangan mengalami peningkatan yang pesat pada usia dini, yaitu dari
0 sampai 5 tahun. Masa ini sering juga disebut sebagai fase Golden Age.
Golden age merupakan masa yang sangat penting untuk memperhatikan
tumbuh kembang anak secara cermat agar sedini mungkin dapat terdeteksi
apabila terjadi kelainan. Selain itu, penanganan kelainan yang sesuai pada
masa

golden

age

dapat

meminimalisir

kelainan

pertumbuhan

dan

perkembangan anak sehingga kelaianan yang bersifat permanen dapat


dicegah.
Pemantauan tumbuh kembang anak meliputi pemantauan dari aspek
fisik, psikologi, dan sosial. Pemantauan tersebut harus dilakukan secara
teratur dan berkesinambungan. Sedini mungkin pemantauan dapat dilakukan
oleh orang tua. Selain itu pemantauan juga dapat dilakukan oleh masyarakat
melalui kegiatan posyandu dan oleh guru di sekolah. Oleh karena itu,
pengetahuan tentang deteksi dini pertumbuhan dan perkembangan anak
perlu dimiliki oleh orang tua, guru, dan masyarakat.
Anak

memerlukan

kekebalan

tubuh

atau

imunitas.

Cara

untuk

memperoleh imunitas tersebut melalui kekebalan aktif dan pasif. Kekebalan


tersebut diperoleh secara natural dan acquired. Secara natural diperoleh dari
transfer dari mantibodi maternal melalui plasenta dan ASI. Secara acquired

yaitu melalui imunisasi dengan memberikan vaksin. Imunisasi adalah


pemberian vaksin untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu. Cara ini
adalah untuk meningkatkan kekebalan seseorang terhadap suatu antigen,
sehingga bila ia terpapar oleh antigen yang sama tidak terjadi penyakit.
Dengan dilakukan imunisasi ini, dapat menyelamatkan 3 juta nyawa diseluruh
dunia setiap tahunnya. Di dunia, terdapat 34 juta anak yang tidak menerima
imunisasi secara lengkap (WHO, 2001. Adapun kegiatan imunisasi yang
rutin diadakan ialah: 1) Imunisasi dasar pada bayi umur 0-11 bulan meliputi :
BCG (1 kali pemberian), DPT (3 kali), Polio (4 kali), Hepatitis B (3 kali), dan
Campak (1 kali). 2) Imunisasi lanjutan pada anak sekolah yaitu imunisasi DT
(1 kali) dan TT (2 kali). 3) Imunisasi lanjutan pada ibu hamil dan calon
pengantin wanita ialah TT 5 kali pemberian.
B. Tujuan intruksional
1. Tujuan umum
Setelah mengikuti penyuluhan tentang imunisasi selama 30 menit
diharapkan terjadi perubahan perilaku masyarakat atau ibu yang memiliki
bayi/ balita untuk melengkapi imunisasi dasar anaknya.
2. Tujuan khusus
Setelah mendapat penyuluhan tentang imunisasi, diharapkan peserta
mampu :
1) Mengetahui pengertian Imunisasi
2) Mengetahui tujuan Imunisasi
3) Mengetahui macam Imunisasi
4) Mengetahui jadwal Imunisasi
5) Mengetahui waktu yang tidak diperbolehkan Imunisasi
6) Mengetahui penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi
7) Mengetahui reaksi pasca Imunisasi
8) Mengetahui perawatan setelah Imunisasi
9) Mengetahui tempat pelayanan Imunisasi
C. Sub pokok bahasan
1. Pengertian imunisasi
2. Tujuan imunisasi
3. Macam imunisasi
4. Jadwal imunisasi
5. Waktu yang tidak diperbolehkan imunisasi

6. Penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi


7. Reaksi pasca imunisasi
8. Perawatan setelah imunisasi
9. Tempat pelayanan imunisasi
D. Sasaran
Sasaran penyuluhan adalah pasien, keluarga pasien, dan pengunjung.
E. Metode
Metode yang digunakan saat penyuluhan adalah ceramah dan tanya jawab
F. Media
Media yang digunakan saat penyuluhan adalah leaflet, LCD dan laptop

G. Kegiatan Belajar Mengajar


Tahap
Pembukaan

Waktu
Kegiatan Penyuluhan
5 menit Membuka dengan salam

Metode
Ceramah

Mendengarkan

Ceramah,

Power

Memberikan

Tanya

Point

Tujuan imunisasi

tanggapan

dan jawab

Jadwal imunisasi

pertanyaan

Macam imunisasi

mengenai

Memperkenalkan diri

Kegiatan peserta
Mendengarkan

Media

Memperhatikan

Menjelaskan maksud dan Menjawab


tujuan penyuluhan

pertanyaan

Kontrak waktu

Penyajian

Menggali

pengetahuan

peserta

sebelum

dilakukan penyuluhan
15 menit Menjelaskan tentang:
Pengertian imunisasi

Waktu

yang

tidak

diperbolehkan imunisasi
Penyakit

yang

dicegah

yang

hal
kurang

dimengerti

dapat
dengan

Imunisasi
Reaksi pasca imunisasi
Perawatan

setelah

imunisasi
Tempat

pelayanan

imunisasi
Memberi kesempatan untuk
bertanya/diskusi
Penutup

tentang

materi penyuluhan
10 menit Menggali
pengetahuan Menjawab
peserta setelah dilakukan
penyuluhan
Menyimpulkan
kegiatan penyuluhan
Menutup dengan salam

H. Evaluasi
1. Proses :

pertanyaan
Memberikan

hasil

tanggapan balik

Ceramah,

Power

Tanya

Point

jawab

a. Jumlah peserta penyuluhan minimal 5 peserta


b. Media yang digunakan adalah power point
c. Waktu penyuluhan adalah 30 menit
d. Persiapan penyuluhan dilakukan beberapa hari sebelum kegiatan
penyuluhan
e. Pembicara diharapkan menguasai materi dengan baik
f.

Tidak ada peserta yang meninggalkan ruangan saat kegiatan


penyuluhan berlangsung

g. Peserta aktif dan antusias dalam mengikuti kegiatan penyuluhan


2. Hasil

a. Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan peserta diharapkan mengerti


dan memahami tentang pengertian Imunisasi, tujuan Imunisasi,
macam Imunisasi, jadwal Imunisasi, waktu yang tidak diperbolehkan
imunisasi, Penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi, reaksi
pasca imunisasi, perawatan setelah Imunisasi, tempat pelayanan
Imunisasi.
b. Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan diharapkan ada perubahan
perilaku kesehatan, yaitu memahami pentingnya imunisasi dasar
lengkap untuk anak.
I.

Materi (lampiran 1)

J. Daftar Pustaka (lampiran 2)

Lampiran 1
Materi Penyuluhan
1. Pengertian
Imunisasi adalah suatu usaha untuk membuat seseorang menjadi kebal
terhadap penyakit tertentu. Imunisasi adalah memberikan kekebalan pada
bayi dan balita dengan suntikan atau tetesan untuk mencegah agar anak
tidak sakit atau walaupun sakit tidak menjadi parah (Depkes RI, 2010.
2. Tujuan
a. Agar

kebal

terhadap

penyakit,

karena

bila

tidak

diimunisasi,

mempermudah terserang penyakit yang seharusnya dapat dicegah


dengan imunisasi.
b. Jika terjadi penyakit, tidak akan terlalu parah dan dapat mencegah gejala
yang dapat menimbulkan cacat atau kematian.
3. Jadwal imunisasi
Jadwal imunisasi wajib dari pemerintah :
Umur
0-7 hari

Jenis imunisasi
Hepatitis B1

< 2 bulan

BCG,Polio 1

2 bulan

DPT Hb Combo 1,Polio 2

3 bulan

DPT Hb Combo 2,Polio 3

4 bulan

DPT Hb Combo 3,Polio 4

9 bulan

Campak

6 tahun

Booster (difteri tetanus)

4. Waktu yang tidak diperbolehkan imunisasi


a. BCG tidak diberikan bila bayi sedang panas tinggi
b. DPT tidak diberikan bila bayi panas dan kejang
c. Campak tidak boleh diberikan bila bayi mendadak panas tinggi
5. Penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi
a. Tuberkulosis
Adalah penyakit yang disebabkan oleh basil tuberculosis, yang

menyerang paru, kelenjar, tulang, sendi, kulit dan selaput otak.


Gejala batuk berdahak > 2 minggu, sesak nafas, berkeringat dimalam

hari, nafsu makan dan berat badan menurun.


Menyerang semua golongan umur, terutama ekonomi rendah.
Menular lewat percikan ludah.
Kuman TBC dapat bertahan pada suhu lembab dan kurang sinar

matahari.
Rumah yang berlantai tanah, kurang sinar matahari dan tidak ada

aliran udara akan mempermudah penularan TBC.


Pencegahan dengan imunisasi BCG dan perilaku hidup bersih dan

sehat.
b. Polio

Penyakit yang disebabkan virus Polio.


Hampir sebagian besar penyakit polio tanpa gejala atau gejala ringan
seperti flu, diare ringan, sebagian kecil menjadi lumpuh layu dan

menetap seumur hidup, yang terjadi terutama pada tungkai.


Imunisasi Polio secara lengkap pada bayi sebanyak 4 kali, dan
melaksanakan pola hidup bersih merupakan pencegahan penyakit

polio.
c. Hepatitis B
Penyakit yang disebabkan virus hepatitis B
Gejala hepatitis B antara lain

Nafsu makan hilang

Rasa tidak enak di perut

Mual sampai muntah

Nyeri dan rasa penuh pada perut sisi kanan atas

Disertai demam tidak tinggi,

Kadang-kadang disertai nyeri sendi

Setelah satu minggu, pada mata bagian putih tampak

berwarna kuning, kulit pun kuning

Air seni berwarna coklat seperti teh.


Penularan dari ibu ke bayi pada saat proses kelahiran dan melalui alat

suntik bekas, tranfusi darah dan hubungan seksual


Pencegahan dengan imunisasi Hepatitis B
d. Difteri
Adalah penyakit akut yang disebabkan oleh racun yang dikeluarkan

kuman difteri.
Gejalanya : demam, nyeri saat menelan, terdapat lapisan putih abu-

abu pada tenggorokan


Penyakit ini menyerang selaput lendir hidung, tenggorokan dan

radang dikulit
Difteri ini sering menyebabkan kematian bila terlambat dibawa ke
sarana kesehatan akibat sumbatan jalan nafas dan kelumpuhan otot-

otot pernafasan.
e. Pertusis
Adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh racun yang

dikeluarkan oleh kuman pertusis


Gejalanya mula-mula seperti flu biasa, makin lama batuknya makin
hebat, terus menerus, dan cepat, keras sampai puluhan kali, dan
diakhiri dengan sekuat tenaga mengambil nafas sampai berbunyi
keras. Kadang-kadang sampai muntah, muka tampak kebiruan dan

f.

lelah.
Pertusis sering menimbulkan kematian karena radang paru-paru atau

perdarahan otak.
Tetanus

Penyakit yang disebabkan oleh racun yang dikeluarkan oleh kuman


tetanus, yang masuk melalui luka atau perawatan tali pusat bayi yang

tidak baik.
Gejala penyakit ini adalah kejang seluruh tubuh yang berulang selama
beberapa menit, rahang terkunci dan balita (mulut mencucu untuk
bayi), kaku leher, sulit menelan dan kaku otot perut. Pencegahan
memberikan imunisasi yang diberikan pada ibu hamil, dan WUS

(wanita usia subur) dan siswi di sekolah.


Kekebalan TT dapat diberikan dengan imunisasi TT 5 dosis, untuk

kekebalan seumur hidup.


g. Campak
Campak adalah penyakit yang ditandai dengan demam dan bercak

kemerahan pada wajah atau tubuh terutama menyerang anak-anak


Tanda-tanda:
Demam atau panas tinggi
Timbul bercak kemerahan pada wajah atau tubuh
Disertai batuk dan atau pilek
Kadang-kadang disertai mata merah dan diare
Cara Penularan dan faktor risiko
Penularan secara langsung dari penderita campak ke anak yang
sehat lewat udara
Anak yang tidak dapat imunisasi campak
Kurang gizi
Lingkungan yang padat penduduk dan kumuh
Pencegahan
Memberikan imunisasi campak.
Perbaikan gizi.
Menjaga kebersihan lingkungan.
Hindari kontak dengan penderita campak.

6. Reaksi imunisasi
a. BCG

Bakteri BCG di dalam tubuh bekerja sangat lambat, setelah 2 minggu


terjadi pembengkakan kecil merah dengan garis tengah 10mm.

Setelah 2 sampai 3 minggu kemudian pembengkakan itu menjadi


abses kecil yang kemudian menjadi luka dengan garis tengah 10mm.

Luka tersebut akan sembuh sendiri dan meningglakan garis jaringan


parut bergaris tengah 10mm.

Reaksi berat
1) terjadi peredangan setempat atau abses.
2) terjadi pembengkakan pada kelenjar limfe lehar dan ketiak

b.

DPT
1) Reaksi Normal

Panas, kebanyakan anak menderita panas pada sore hari setelah


pagi mendapat vaksin DPT tetapi akan sembuh dalam 1 hari.

Rasa sakit pada daerah suntikan lamanya tidak lebih dari 1


minggu.

2) Reaksi Berat

Peradangan, bila pembengkakan atau rasa sakit terjadi seminggu


atau lebih sesudah vaksinasi, hal tersebut disebabkan oleh
penggunaan alat-alat yang tidak steril dan penyuntikan yang
paling dalam.

Kejang-kejang,

reaksi

tersebut

jarang

terjadi.

Reaksi

ini

disebabkan dari komponen P dari vaksi DPT. Maka anak yang


pernah mendapatkan reaksio tersebut tidak boleh diberi vaksin
DPT dan sebagai gantinya dapat diberi vaksin DT.
c.

Polio

Efek samping reaksi polio umumnya tidak ada.

d. Campak

Panas dan kemerahan, anak mungkin panas dalam waktu 1 sampai 3


hari setelah 7 hari penyuntikkan kadang-kadang disertai kemerahan
seperti penderita campak ringan.

e. Hepatitis B

Efek samping yang sering dijumpai: kemerahan dan bengkak dan


nyeri ditempat suntik, panas badan, reaksi alergi. Anak yang pernah
mengalami reaksi hebat pada suntikan terdahulu jangan diberikan
suntikan

7. Perawatan setelah imunisasi


a. Bila panas setelah diimunisasi DPT dan campak berikan obat panas,
kalau perlu kompres dingin
b. Luka imunisasi BCG jangan diberi obat atau minyak tawon biarkan saja,
tetapi bila terjadi bengkak sampai ketiak segera bawa ke puskesmas atau
pelayanan kesehatan terdekat
c. Setelah diberi imunisasi polio, jangan diberikan susu selama kurang lebih
15 menit
8. Jenis Vaksin

a. Vaksin BCG

Vaksin BCG berfungsi untuk memberikan kekebalan terhadap


penyakit Tubercullosis.

Vaksin ini mengandung BCG (Bacillus Calmette Guerin) yang masih


hidup.

Vaksin ini harus disimpan dalam lemari es pada suhu 2 8 C.

Di berikan secara intracutan (IC) dengan dosis 0,05 ml. Vaksin yang
dilarutkan harus dipakai dalam waktu 3 jam dan selebihnya harus
dibuang.

b. Vaksin DPT (Dipteri, Pertusis, Tetanus)

Vaksin ini memberikan kekebalan terhadap penyakit Dipteri, Pertusis,


Tetanus.

Tiap ml mengandung 40 If Dipteri toxoid, 15 If tetanus toxoid yang


telah dimurnikan dan diadsorbsikan pada 3 mg aluminium phospat, 24
miilyard kuman B pertusis dan 0,1

merthiolat sebagai bahan

pengawet.

Disimpan dalam lemari es pada suhu 2 8 C. Diberikan sebanyak 3


kali suntikan dengan dosis masing-masing 0,5 ml dengan interval
minimal 4 minggu.

Cara pemberian intramuscular.

c. Vaksin Polio

Vaksin ini memberikan kekebalan terhadap penyakit polio.

Tiap 2 tetes vaksin mengandung virus polio hidup yang dilemahkan :


Tipe I 10 TCID 50, Tipe II 10 TCID 50, Tipe III 10 TCID 50, Kanamisin
5 mcg, Neomisin 5 mcg dan distabilisasi dengan MgC12 1 mol.
Disimpan pada suhu 2 8 C.

Diberikan secara oral sebanyak 2 tetes, 4 kali pemberian dengan


interval pemberian minimal 4 minggu.

d.

Vaksin Campak

Vaksin ini memberikan kekebalan terhadap penyakit campak. Vaksin


ini telah dibekukan dan dikeringkan.

Vaksin ini mengandung virus campak hidup Strain Schwarz yang telah
dilemahkan tidak kurang dari 10 TCID 50, Kanamisin 5 mcg, Neomisin
5 mcg dan distabilisasi dengan albumin 0,25%. Disimpan dalam
lemari es dengan suhu 2 8 C.

Diberikan secara subcutan dengan dosis 0,5 ml. Vaksin campak yang
telah dilarutkan hanya bertahan selama 8 jam.

9. Tempat pelayanan imunisasi


Imunisasi dapat diberikan di Posyandu, Polindes/Poskesdes, Puskesmas
Pembantu, Puskesmas, Rumah Sakit dan sarana kesehatan lainnya.

Lampiran 2
DAFTAR PUSTAKA

A.H. Markum . 1997 . Imunisasi. Edisi Kedua Fakultas kedokteran Universitas


Indonesia, Jakarta.
Abdul, dkk. 2004. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
Departemen Kesehatan RI. 2010. Pedoman Kader Seri Kesehatan Anak.
Direktorat Bina Kesehatan Anak Kementerian Kesehatan RI.
Dinkes. Prov. Jatim. 2005. Buku Pegangan Kader Posyandu.
Yupi Supartini. 2004. Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta:
EGC.