Anda di halaman 1dari 5

Laringitis Tuberkulosis

Definisi
Laringitis tuberkulosis adalah proses inflamasi pada mukosa pita suara dan
laring yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosa.
Etiologi
Laringitis tuberkulosis disebabkan infeksi laring oleh Mycobacterium tuberculosa
Epidemiologi
Tuberkulosis laring lebih sering terjadi pada laki-laki usia lanjut, terutama
pasien-pasien dengan keadaan ekonomi dan kesehatan buruk, banyak di antaranya
adalah peminum alkohol.
Patogenesis
Berdasarkan mekanisme terjadinya laringitis tuberkulosis dikategorikan
menjadi 2 mekanisme, yaitu:
a. Laringitis Tuberkulosis Primer
Laringitis tuberkulosis primer jarang dilaporkan dalam literatur medis.
Laringitis tuberkulosis primer terjadi jika ditemukan infeksi Mycobacterium
tuberculosa pada laring, tanpa disertai adanya keterlibatan paru. Rute penyebaran
infeksi pada laringitis tuberkulosis primer yang saat ini diterima adalah invasi
langsung dari basil tuberkel melalui inhalasi.
b. Laringitis Tuberkulosis Sekunder
Laringitis tuberculosis sekunder terjadi jika ditemukan infeksi laring akibat
Mycobacterium tuberculosa yang disertai adanya keterlibatan paru. Laringitis
tuberculosis sekunder merupakan komplikasi dari lesi tuberculosis paru aktif.
Gambaran Klinis
Secara klinis, laringitis tuberkulosis terdiri dari 4 stadium, yaitu:
1. Stadium infiltrasi
Yang pertama-tama mengalami pembengkakan dan hiperemis adalah
mukosa laring bagian posterior. Kadang-kadang pita suara terkena juga. Pada
stadium ini mukosa laring berwarna pucat. Kemudian di daerah submukosa
terbentuk tuberkel, sehingga mukosa tidak rata, tampak bintik-bintik yang
berwarna kebiruan. Tuberkel ini makin membesar, serta beberapa tuberkel yang

berdekatan bersatu, sehingga mukosa di atasnya meregang. Pada suatu saat,


karena sangat meregang, maka akan pecah dan timbul ulkus.
2. Stadium ulserasi
Ulkus yang timbul pada akhir stadium infiltrasi membesar. Ulkus ini
dangkal, dasarnya ditutupi oleh perkijuan, serta sangat dirasakan yeri oleh pasien.
3. Stadium perikondritis
Ulkus makin dalam, sehingga mengenai kartilago laring, dan yang paling
sering terkena ialah kartilago aritenoid dan epiglotis. Dengan demikian terjadi
kerusakan tulang rawan, sehingga terbentuk nanah yang berbau, proses ini akan
berlanjut dan terbentuk sekuester (squester). Pada stadium ini keadaan umum
pasien sangat buruk dan dapat meninggal dunia. Bila pasien dapat bertahan maka
proses penyakit berlanjut dan masuk dalam stadium terakhir yaitu stadium
fibrotuberkulosis.
4. Stadium fibrotuberkulosis
Pada stadium ini terbentuk fibrotuberkulosis pada dinding posterior, piata
suara dan subglotik.
Gejala Klinis
Tergantung pada stadiumnya, disamping itu terdapat gejala sebagai berikut:
-

Rasa kering, panas dan tertekan di daerah laring.


Suara parau berlangsung berminggu-minggu, sedangkan pada stadium lanjut

dapat timbul afoni.


Hemoptisis
Nyeri waktu menelan yang lebih hebat bila dibandingkan dengan nyeri karena

radang lainnya, merupakan tanda yang khas.


Keadaan umum buruk
Pada pemeriksaan paru (secara klinis dan radiologik) terdapat proses aktif
(biasanya pada stadium eksudatif atau pada pembentukan kaverne)

Diagnosis
Pemeriksaan bakteriologik untuk menemukan kuman tuberkulosis
mempunyai arti yang sangat penting dalam menegakkan diagnosis. Bahan
untuk pemeriksaan bakteriologik ini dapat berasal dari dahak, cairan
pleura, liquor cerebrospinal, bilasan bronkus, bilasan lambung, kurasan
bronkoalveolar (bronchoalveolar lavage/BAL), urin, faeces dan jaringan
biopsi (termasuk biopsi jarum halus/BJH).

Gambaran radiologik yang dicurigai sebagai lesi TB aktif :


-

Bayangan berawan / nodular di segmen apikal dan posterior lobus atas paru dan
segmen superior lobus bawah.

Kavitas, terutama lebih dari satu, dikelilingi oleh bayangan opak berawan atau
nodular.
Laringoskopi direk atau indirek dapat membantu menegakkan diagnosis. Dari

pemeriksaan ini plika vokalis berwarna merah dan tampak edema terutama di bagian
atas dan bawah glotis.
Penatalaksanaan

1. Terapi non medikamentosa


- Mengistirahatkan pita suara dengan cara pasien tidak banyak berbicara.
- Menghindari iritan yang memicu nyeri tenggorokan atau batuk misalnya gorenggorengan, makanan pedas
- Konsumsi cairan yang banyak, berhenti merokok dan konsumsi alkohol.
2. Terapi medikamentosa : Obat antituberkulosis (OAT)
Obat yang digunakan untuk TBC digolongkan atas dua kelompok yaitu:
Obat primer:

Obat sekunder:

- INH (isoniazid)

- Exionamid

- Rifampisin

- Paraaminosalisilat

- Etambutol

- Sikloserin

- Streptomisin

- Amikasin

- Pirazinamid

- Kapreomisin
- Kanamisin

Dosis Obat Anti Tuberkulosis


Obat

Dosis harian

Dosis 2x/minggu

Dosis 3x/minggu

INH
Rifampisin
Pirazinamid
Etambutol
Streptomisin

(mg/kgbb/hari)
5-15 (maks. 300 mg)
10-20 (maks. 600 mg)
15-40 (maks. 2 g)
15-25 (maks. 2,5 g)
15-40 (maks. 1 g)

(mg/kgbb/hari)
15-40 (maks. 900 mg)
10-20 (maks. 600 mg)
50-70 (maks. 4 g)
50 (maks. 2,5 g)
25-40 (maks. 1,5 g)

(mg/kgbb/hari)
15-40 (maks. 900 mg)
15-20 (maks. 600 mg)
15-30 (maks. 3 g)
15-25 (maks. 2,5 g)
25.40maks. 1,5 g)

Singultus
Definisi
Berasal dari bahasa Latin singult yang merarti menarik nafas saat
seseorang sedang terisak isak. Hiccups adalah suatu kontraksi

involunter, intermiten , spasmodik dari diafragma dan otot


interkostal yang menyebabkan inspirasi mendadak yang
berakhir dengan penutupan mendadak glotis, membuat
suara cegukan klasik. Frekuensinya adalah 4-60 cegukan /
menit dengan interval teratur.

Secara embriologik, sinus paranasal berasal dari invaginasi mukosa rongga hidung
dan perkembangannya dimulai dari pada fetus usia 3-4 bulan, kecuali sinus sfenoid
dan sinus frontal. Sinus maksila dan sinus etmoid sudah ada sejak saat bayi lahir,
sedangkan sinus frontal berkembang dari sinus etmoid anterior pada anak yang
berusia kurang lebih 8 tahun. Pneumatisasi sinus sfenoid dimulai pada usia 8-10 tahun
dan berasal dari bagian postero-superior rongga hidung. Sinus-sinus ini umumnya
mencapai besar maksimal pada usia antara 15-18 tahun
Sinus Maksila
Sinus maksila merupakan sinus pertama yang muncul (7-10 minggu masa janin).
Sinus maksila adalah sinus paranasal yang terbesar dan bervolume 6-8 ml saat lahir
Proses terbentuknya sinus maksila berasal dari ekspansi infundibulum etmoid ke
dalam maksila. Proses ekspansi tersebut menghasilkan suatu rongga kecil pada saat
lahir yang berukuran 7 x 4 x 4 mm. Pertumbuhan dan perkembangannya terus
berlanjut pada masa anak-anak kira-kira 2 mm secara vertikal dan 3 mm
anteroposterior. Proses perkembangan tersebut mulai menurun pada usia 7 tahun,
diikuti fase pertumbuhan kedua berikutnya. Pada usia 12 tahun, pneumatisasi
mencapai bagian lateral, yaitu di bawah bagian lateral dinding orbita pada sisipan
prosesus zigomatikus, secara inferior ke bagian dasar hidung dan setelah pertumbuhan
gigi (kedua di bawah dasar hidung. Setelah proses dentisi, sinus hanya akan
membesar secara perlahan-lahan dan mencapai ukuran maksimum pada usia 17
hingga 18 tahun. Ukuran standar volume sinus maksila pada orang dewasa adalah

dibentuk oleh dinding medial sinus maksilaris dengan sisi apeks piramid ke arah
resesus zigomatikus

Sinus Etmoid
Selama 9 dan 10 minggu masa gestasi, 6 hingga 7 lipatan muncul di bagian dinding
lateral dari kapsul nasalis janin. Lipatan-lipatan ini dipisahkan dari satu dengan yang
lain sesuai alurnya. Lebih dari seminggu kemudian, lipatan- lipatan tersebut berfusi
menjadi 3-4 puncak dengan sebuah bagian anterior 'ascending' dan sebuah bagian
posterior 'descending' (ramus asendens dan ramus desendens). Semua struktur
permanen etmoid berkembang dari puncak tersebut (Stammberger, 2008).
Sinus Sfenoid
Sinus sfenoid merupakan sinus paranasal yang terletak paling posterior (Stankiewicz,
2010). Sinus sfenoid mulai dapat dikenal pada sekitar bulan ketiga intrauterin sebagai
sebuah evaginasi dari resesus sfenoetmoidal dan kemudian menjadi sebuah rongga
kecil berukuran 2 x 2 x 1.5 mm pada bayi baru lahir. Pada usia 3 tahun, pneumatisasi
tulang sfenoid berkembang dan pada usia 7 tahun mencapai dasar sella. Volumenya
bervariasi dari 5 sampai 7,5 ml (Soetjipto, 2010).
Sinus Frontal
Sinus frontal adalah sinus yang paling bervariasi dalam ukuran dan bentuk.
Ukurannya tergantung pada derajat pneumatisasi, mungkin tidak ada sama sekali
(5%).Sinus frontal mengalami pneumatisasi dari sinus etmoid anterior. Saat lahir,
sinus frontal kecil dan pada foto x-ray sulit dibedakan dari sel etmoid anterior yang
lain. Berbeda dengan pneumatisasi sinus maksilaris yang cepat, proses pneumatisasi
sinus frontal secara inisial sangat lambat. Meskipun begitu, pneumatisasinya akan
tampak jelas pada gambaran CT- scan pada akhir tahun usia pertama. Saat usia 5
tahun, pneumatisasi akan meluas secara superior dan pada usia 12 tahun sinus sudah
tampak besar. Pneumatisasi mungkin akan berlanjut selama masa remaja. Bentuk
sinus dan resesus frontal merupakan hal yang sangat penting dalam menentukan
variasi (Stammberger, 2008).

Anda mungkin juga menyukai