Anda di halaman 1dari 4

Hiperemesis Gravidarum

mual dan muntah


terjadi pada sekitar 50-90% wanita hamil
usia kehamilan 9 minggu dan akan hilang pada usia kehamilan sekitar 20 minggu
grade 1, yakni mual dan muntah tanpa adanya ketidakseimbangan metabolic
grade 2, jika ditambah dengan adanya ketidakseimbangan metabolic
penyebab hiperemesis antara lain hormon (Human Chorionic Gonadotrophin [HCG],

estrogen, progesteron), thyrotoxicosis, infeksi Helicobacter pylori, ataupun psikosomatik


Kehamilan kembar, primipara, obesitas, riwayat hiperemesis pada kehamilan

sebelumnya, dan gangguan psikologis merupakan beberapa faktor risiko hiperemesis


dapat mengganggu homeostasis tubuh, keseimbangan elektrolit, fungsi ginjal, serta

pendarahan antepartum
Sedangkan pada bayi dari ibu dengan hiperemesis, risiko bayi lahir prematur, BBLR,

skor apgar kurang dari 7, serta malformasi congenital


Dampak psikologis yang sering gelisah dan kawatir
Beberapa perubahan pola hidup yang disarankan menghindari stres, cukup istirahat,
serta konsultasi pada psikolog jika dibutuhkan dukungan emosional
Unsur gizi vitamin B6 dan jahe menurunkan rasa mual
Asam folat diberikan pada trimesterawal untuk mencegah neural tube

Preeklampsi

Hipertensi pada kehamilan

Diagnosis preeclampsia hipertensi dan proteinuria pada usia kehamilan diatas 20


minggu dan odem tidak dipakai

Preelamsia apabla tidak titangani akan menyebabkan eklamsia ditandai dengan keadaan
kejang

preeklampsi berat, sering terjadi yang disebut dengan sindrom HELLP, yang
merupakan singkatan dari hemolysis, elevated liver enzymes and low platelets

obesitas merupakan foktor dari preklamsia

Penatalaksanaan
-

Penatalaksanaan medis antara lain terminasi kehamilan, pemberian obat anti


hipertensi, dan magnesium sulfat untuk mencegah kejang (POGI, 2015).

Tidak ada penelitian yang menyebutkan efektifitas asupan energi dan protein dalam
menurunkan risiko preeklampsia (NICE, 2011)

Rekomendasi POGI (2015) menyebutkan bahwa


Pembatasan

garam

untuk

mencegah

preeklampsia

dan

komplikasinya

selama

kehamilan tidak direkomendasikan.


Pemberian kalsium dapat diberikan pada wanita yang memiliki

risiko tinggi

preeklampsia dan rendah asupan kalsium untuk mencegah terjadinya preeklampsia.


Pemberian vitamin C dan E tidak direkomendasikan untuk diberikan dalam
pencegahan preeklampsia
Pemberian magnesium sulfat pada preeklampsia berat berguna untuk mencegah
terjadinya kejang/eklampsia atau kejang berulang.

Materi bu dini
Nephrotic syndrome (Sindroma nefrotik)

Sindroma nefrotik (SN) merupakan salah satu manifestasi klinik


glomerulonefritis (GN) ditandai dengan edema anarsarka, proteinuria massif
3,5 g/hari, hiperkolesterolemia dan lipiduria
Hipoalbuminemia, hiperlipidemia dan lipiduria, gangguan keseimbangan
nitrogen, hiperkoagulabilitas, gangguan metabolisme kalsium dan tulang
serta hormone tiroid sering dijumpai pada SN

GIZI DAN PENYEMBUHAN LUKA PASCA OPERASI

Malnutrisi berhubungan dengan menurunnya fungsi otot, fungsi respirasi,


fungsi imun, kualitas hidup, dan gangguan pada proses penyembuhan luka
Pemeriksaan Biokimia (Laboratorium)

emeriksaan yang lain mengukur produk anabolisme protein (seperti


kadar albumin,
transferin, haemoglobin, hematokrit, prealbumin,
retinol binding protein, dan jumlah
limfosit total)
Prinsip gangguan gizi pada pasien pasca bedah
secara umum adalah :

Starvasi ok. penyakit dan asupan kurang


Efek stres metabolik - ok. inflamasi,katabolisme, penurunan anabolisme

Penentuan tingkat Luka Bakar ditentukan berdasarkan :


Dalamnya pengaruh panas terhadap tubuh (derajat luka bakar)
Luas Permukaan tubuh yang terbakar
Tindakan perawatan intensif di rumah sakit
KLASIFIKASI LUKA BAKAR
1. Derajat I (eritema)
Luka bakar hanya mengenai epidermis sehingga kulit berwarna merah dan terasa
nyeri yang hebat.
2. Derajat II (Bullosa)
a. Dangkal Luka bakar mengenai seluruh lapisan epidermis dan bag. atas dermis.
Timbul lepuhan (bulae) denganpenumpukan cairan intra muskuler).
b. DalamKerusakan mengenai bag. dalam dermis dgn gejala hampir sama dengan
dangkal, hanya lepuhan sedikit dan warna kulit lebih pucat
3. Derajat III
Seluruh tebal kulit atau lapisan dibawahnya ikut terbakar sehingga kulit tampak
kering dan putih-hitam dan tidak terasa lagi.Apabila ditemukan luka bakar dengan
Derajat II dan III dengan luas permukaan tubuh yang luas,maka penderita tersebut
akan mengalami kehilangan banyak cairan
4. Derajat IV
Kerusakan kulit lebih dalam lagi serta menimbulkan arang pada anggota tubuh yang
terbakar

Anda mungkin juga menyukai