Anda di halaman 1dari 4

Nama

: Dwi Riski Tyani

NIM

: 03031281320035

Shift

: Rabu, 10.00-12.00

Kelompok

:3

Efisiensi Evaporator
1) Spesifikasi Evaporator
Evaporator PT Raya Sugarindo Inti \memiliki beberapa unit pre
evaporator, yaitu 1 unit single effect evaporator, 2 unit double effect evaporator ,
dan 2 unit triple effect evaporator. Jenis evaporator yang digunakan adalah falling
film evaporator. Spesifikasi triple effect evaporator yang dimiliki oleh PT Raya
Sugarindo Inti adalah sebagai berikut:
Tipe

: Pre evaporator

Fungsi

: Memekatkan sirup gula sampai 60 Brix

Prinsip kerja

: Penguapan dengan bantuan udara vakum

Jumlah alat

: 1 set yang terdiri dari 3 buah tabung Operasi Kontinyu

Bentuk

: Silinder

Ukuran

: Tinggi 4 m; diameter 0,5 m

Kapasitas

: 1800 L/jam

Temperatur operasi

: Tabung I 90 C Tabung II 80 C Tabung III 70 C

Tekanan operasi

: Tabung I 90 cmHg Tabung II 80 cmHg Tabung III 70


cmHg Laju

alir : 2m3 /jam

Bahan konstruksi

: Stainless steel

Utilitas

: Steam dan listrik

Instrumen

: Tangki penguapan 2 set, tangki pemanas 2 set, tangki


penangkap uap 1 set, tangki produk tengah 1 set, pompa
umpan 3 HP, pompa produk 3 HP, pompa vakum 10 HP,
pompa air 20 HP, alat vakum 580-700 mmHg, thermostat,
pipa kondensat (32 buah, panjang 4 m, diameter inch).

Data yang dibutuhkan antara lain data laju alir, jika memungkinkan semua
aliran yang ada, dan data karakteristik gula pada setiap aliran (derajat brix). Di PT
Raya Sugarindo Inti, semua data disediakan oleh bagian Quality Control (QC).
QC selalu mengecek karakteristik gula setiap jam pada hampir semua keluaran
proses. Dengan demikian semua data dalam penyelesaian tugas khusus ini

diperoleh dari QC. Data-data yang tidak disediakan oleh QC diambil dengan
pengamatan langsung dari data operasi yang dikerjakan oleh operator, dan
beberapa data yang tidak disediakan diperoleh dengan dengan menggunakan
asumsi bahwa data yang akan dibutuhkan sama dengan data yang terdapat di
literatur
2) Perhitungan Heat Loss pada Evaporator
Heat loss atau hilang panas merupakan salah satu parameter yang
mempengaruhi efisiensi energi proses evaporasi. Semakin besar heat loss maka
semakin kecil efisiensi energi. Heat loss merupakan suatu hal yang dihindari.
Sebab panas yang hilang dapat dimanfaatkan untuk aktivitas lain. Dengan
mengurangi heat loss maka sistem akan berjalan lebih optimal. Salah satu usaha
yang dapat dilakukan untuk mencegah heat loss adalah dengan menambahkan
insulator pada evaporator. PT Raya Sugarindo Inti telah menggunakan insulator
pada evaporator untuk mengurangi heat loss ini. Heat loss dapat dideteksi dengan
meninjau suhu bagian luar evaporator. Setelah ditinjau, ternyata suhu di bagian
evaporator cukup panas. Hal ini menandakan ada panas yang hilang. Dengan
mengasumsikan heat loss ke lingkungan. Suhu di bagian luar evaporator
diperkirakan hanya terjadi melalui konveksi saja, maka heat loss dapat dihitung
dengan menggunakan:
TQ = h x A x

(1)

Dengan h (koefisien perpindahan konveksi) adalah dari hasil perhitungan


maka akan diperoleh nilai heat loss sebesar 661,315 W untuk triple effect
evaporator. Maka akan terjadinya perubahan suhu yang menjadi 30 C. Jika
temperatur di bagian luar evaporator berkurang sekitar 5 C maka penurunan heat
loss sebesar 383,267 W sehingga heat loss menjadi 278,048 W. Sebenarnya nilai
heat loss ini cukup rendah jika dibandingkan industri pada umumnya. Hal ini
menunjukkan penggunaan insulator seperti yang telah digunakan oleh PT Raya
Sugarindo Inti telah mengurangi heat loss dengan cukup efektif. Penggantian

insulator secara berkala dapat dilakukan untuk mengurangi panas yang keluar ke
udara sekitar.
3) Perhitungan Efisiensi Energi Evaporator
Evaporator yang digunakan oleh PT Raya Sugarindo Inti memiliki jenis
falling film evaporator. Pemilihan jenis evaporator ini sudah benar, sebab falling
film evaporator diketahui memiliki beberapa keunggulan, yaitu koefisien transfer
panas yang tinggi, waktu tinggal yang rendah, hilang tekan yang rendah, cocok
untuk operasi vakum, memiliki rasio penguapan yang tinggi, jangkauan operasi
yang luas, aman dari risiko fouling, dan biaya operasi yang minimum
(Richardson, dkk., 2002).
Untuk mengetahui apakah proses yang berjalan dalam sebuah pabrik
sudah baik atau belum, dapat dilihat dari efisiensinya. Salah satunya adalah
dengan membandingkan steam yang disuplai untuk proses evaporasi, apakah
sudah efisien jika dibandingkan dengan perhitungan rancangan atau teoretisnya.
Untuk menghitung efisiensi, diperlukan laju alir massa steam aktual yang
digunakan oleh pabrik untuk proses evaporasi. Sayangnya PT Raya Sugarindo
Inti tidak memiliki orificemeter atau venturimeter untuk mengetahui laju aktual
penggunan steam. Padahal dengan mengetahui laju steam yang digunakan, akan
terlihat apakah penggunaan selama ini berlebihan atau tidak.
Dari hasil perhitungan diketahui bahwa effisiensi energi proses evaporasi
ini adalah sebesar 64,38 %. Efisiensi ini dapat ditingkatkan dengan mengurangi
steam yang dialirkan untuk proses evaporasi. Tentunya hasil perhitungan teoretis
dapat digunakan sebagai acuan dalam menentukan jumlah steam yang harus
dialirkan. Dengan meningkatnya efisiensi energi proses evaporasi, pabrik juga
dapat menghemat biaya. Sebab salah satu proses di pabrik gula yang paling
banyak menggunakan energi adalah pada evaporator. Selain mengurangi steam
yang dialirkan, efisiensi energi juga dipengaruhi oleh kebersihan evaporator.
Selama proses evaporasi, adanya padatan yang tersuspensi dalam cairan akan
menimbulkan kerak pada evaporator. Fouling yang terjadi pada penukar panas
dapat mengurangi laju perpindahan panas karena koefisien transfer panas

mengalami penurunan. Hal ini akan berdampak pada terhambatnya proses


penguapan. Untuk itu pembersihan evaporator harus dilakukan secara berkala agar
tidak terdapat fouling.
DAFTAR PUSTAKA
Mc Cabe. 1999. Unit Operation of Chemical Engineering. Edisi Ketiga. New
York: McGraw- Hill Book Co.
Syarifuddin.Ismail. 2010. Modul Alat Industri Kimia. Palembang: Universitas
Sriwijaya
Toga. 2012. Perhitungan Efisiensi. (online). https://www.academia.edu/8933577/
BAB (Diakses pada 6 Oktober 2015)