Anda di halaman 1dari 12

DIAGNOSIS KESULITAN

BELAJAR

Dosen Pengampu : Dra. RISWANI, M.Ed

PROSEDUR, TEKNIK, DAN


CARA MENGATASI
Sebuah Aanalisis tentang Prosedur dan
Teknik Diagnosis, serta Usaha untuk
Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa
Oleh:
KELOMPOK 7
VITA MAY LESTARI :
ADE JUNITA
:
INDRIANI SASMITA
SUARNI DESWITA :

11313203426
11313205077
: 11313204489
11313200501

BK 5 D
KONSENTRASI BIMBINGAN DAN KONSELING
JURUSAN MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM
RIAU
PEKANBARU
2015

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan Buku
Saku ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan-Nya pula mungkin penyusun tidak
akan sanggup menyelesaikan dengan baik.
Buku Saku ini disusun agar pembaca dapat mengetahui Prosedur, Teknik Diagnosis,
dan Cara Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa. Buku Saku ini disusun oleh penyusun dengan
berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar.
Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah SWT akhirnya Buku
Saku ini dapat terselesaikan.
Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah Diagnosis
Kesulitan Belajar yang telah banyak membantu penyusun agar dapat menyelesaikan Buku
Saku ini.
Semoga Buku Saku ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca.
Walaupun Buku Saku ini memiliki kelebihan dan kekurangan, penyusun mohon untuk saran
dan kritiknya. Terima kasih.

Pekanbaru, Nopember 2015

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................

DAFTAR ISI ...............................................................................................................

ii

PROSEDUR, TEKNIK DIAGNOSIS, DAN CARA MENGATASI


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Menurut BURTON (1952) ...................................................................................


Menurut PRAYITNO Berdasarkan DEPDIKBUD (1996) ................................
ANALISIS KESULITAN BELAJAR AKUNTANSI ..........................................
Menurut ABIN SYAMSUDDIN MAKMUN .......................................................
Menurut WEENER DAN SENF (1982) yang dikutip WARDANI (1991) ........
Menurut ROSS STANLEY ...................................................................................
Penggunaan Role Playing dalam mengatasi kecemasan menghadapi Ujian ...
Menurut KARDIAWARMAN, Ph. D. .................................................................

1
1
4
4
6
6
8
10

PROSEDUR, TEKNIK DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR DAN USAHA


MENGATASI KESULITAN BELAJAR
1. MENURUT BURTON (1952)
a. Teknik dan Instrumen yang dapat digunakan
1) General Diagnosis
Pada tahap ini lazim dipergunakan tes baku, seperti yang dipergunakan untuk
evaluasi dan pengukuran Psikologis dan hasil belajar. sasarannya, untuk
menemukan siapakah siswa yang diduga mengalami kelemahan tertentu.
2) Analytic Diagnosis
Pada tahap ini yang lazimnya digunakan ialah tes diagnostic. Sasarannya
untuk mengetahui dimana letak kelemahan tersebut.
3) Psychological Diagnosis
Pada tahap ini teknik pendekatan dan instrumen yang digunakan antara lain:
1) Observasi
2) Analisis Karya Tulis
3) Analisis Proses dan Respon Lisan
4) Analisis Berbagai Catatan Objektif
5) Wawancara
6) Pendekatan Labolatories dan Klinis
7) Studi Kasus
b. Cara Mengatasi
1) Menganalisis Hasil Diagnosis, yakni menelaah bagian-bagian masalah dan
hubungan antar bagian tersebut untuk memperoleh pengertian yang benar
mengenai kesulitan belajar yang dialami siswa
2) Mengidentifikasi dan menentukan bidang kecakapan tertentu yang
memerlukan pernaikan
3) Menyusun program perbaikan (remedial)
2. Menurut PRAYITNO Berdasarkan DEPDIKBUD (1996)1
a. Langkah-langkah Diagnostik dan Remedial
1) Identifikasi Kasus
Pada langkah ini, menentukan siswa mana yang diduga mengalami kesulitan
belajar. Cara-cara yang ditempuh dalam langkah ini, sebagai berikut:
a) Menandai siswa dalam satu kelas untuk kelompok yang diperkirakan
mengalami kesulitan belajar
b) Caranya, ialah dengan membandingkan posisi atau kedudukan prestasi
siswa dengan prestasi kelompok atau dengan kriteria tingkat keberhasilan
yang telah ditetapkan
c) Teknik yang ditempuh dapat bermacam-macam, antara lain :

1 Sugiyanto, DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR, Yogyakarta, hlm. 121


1

(1) Meneliti hasil ujian semester yang tercantum dalam laporan hasil
belajar (buku leger, dan kemudian membandingkan dengan nilai ratrata kelompok atau dengan kriteria yang telah ditentukan.
(2) Mengobservasi kegiatan siswa dalam proses belajar mengajar, siswa
yang berperilaku menyimpang dalam proses belajar mengajar
diperkirakan akan mengalami kesulitan belajar.
2) Identifikasi Masalah
Setelah menentukan dan memprioritaskan siswa mana yang diduga mengalami
kesulitan belajar, maka langkah berikutnya adalah menentukan atau
melokalisasikan pada bidang studi apa dan pada aspek mana siswa tersebut
mengalami kesulitan. Antara bidang studi tentu saja ada bedanya, karena itu
guru bedang studi lebih mengetahuinya. Pada tahap ini kerjasama antara
petugas bimbingan dan konseling, wali kelas, guru bidang studi akan sangat
membantu siswa dalam mengatasi kesulitan belajarnya. Cara dan alat yang
dapat digunakan, antara lain:
Cara yang langsung dapat digunakan oleh guru, misalnya:
(1) Tes diagnostik yang dibuat oleh guru untuk bidang studi masingmasing, seperti untuk bidang studi Matematika, IPA, IPS, Bahasa dan
yang lainnya. Dengan tes diagnostik ini dapat diketemukan karakteristik
dan sifat kesulitan belajar yang dialami siswa.
(2) Bila tes diagnostik belum tersedia, guru bisa menggunakan hasil ujian
siswa sebagai bahan untuk dianalisis. Apabila tes yang digunakan dalam
ujian tersebut memiliki taraf validitas yang tinggi, tentu akan mengandung
unsur diagnosis yang tinggi. Sehingga dengan tes prestasi hasil belajar
pun,

seandainya

valid

dalam

batas-batas

tertentu

akan

dapat

mengdiagnosis kesulitan belajar siswa.


(3) Memeriksa buku catatan atau pekerjaan siswa. Hasil analisis dalam
aspek ini pun akan membantu dalam mendiagnosis kesulitan belajar
siswa.
3) Indikasi Faktor Penyebab Kesulitan Belajar
a. Faktor Internal, yaitu faktor-faktor yang berasal dalam diri siswa itu
sendiri. Hal ini antara lain, disebabkan oleh:
(1) Kelemahan fisik, pancaindera, syaraf, cacat karena sakit, dan
sebagainya.
(2) Kelemahan mental: faktor kecerdasan, seperti inteligensi dan bakat
yang dapat diketahui dengan tes psikologis.
(3) Gangguan-gangguan yang bersifat emosional.
(4) Sikap kebiasaan yang salah dalam mempelajari materi pelajaran.
2

(5) Belum memiliki pengetahuan dan kecakapan dasar yang dibutuhkan


untuk memahami materi pelajaran lebih lanjut.
2) Faktor Eksternal, yaitu faktor yang berasal dari luar diri siswa, sebagai
penyebab kesulitan belajar, antara lain:
(1) Situasi atau proses belajar mengajar yang tidak merangsang siswa
untuk aktif antisipatif (kurang memungkinkan siswa untuk belajar
secara aktif student active learning).
(2) Sifat kurikulum yang kurang fleksibel.
(3) Beban studi yang terlampau berat.
(4) Metode mengajar yang kurang menarik
(5) Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar
(6) Situasi rumah yang kurang kondusif untuk belajar.
3) Prognosis/Perkiraan Kemungkinan Bantuan, pada langkah ini, dapat
menyimpulkan tentang:
(1) Apakah siswa masih dapat ditolong untuk dapat mengatasi kesulitan
belajarnya atau tidak ?
(2) Berapa waktu yang dibutuhkan untuk mengatasi kesulitan yang dialami
(3)
(4)
(5)
(6)

siswa tersebut ?
Kapan dan di mana pertolongan itu dapat diberikan ?
Siapa yang dapat memberikan pertolongan ?
Bagaimana caranya agar siswa dapat ditolong secara efektif ?
Siapa sajakah yang perlu dilibatkan atau disertakan dalam membantu
siswa tersebut, dan apakah peranan atau sumbangan yang dapat

diberikan masingmasing pihak dalam menolong siswa tersebut ?


4) Referal, Rencana ini hendaknya mencakup:
(1) Cara-cara yang harus ditempuh untuk menyembuhkan kesulitan belajar
yang dialami siswa yang bersangkutan.
(2) Menjaga agar kesulitan yang serupa jangan sampai terulang lagi.
3. ANALISIS KESULITAN BELAJAR AKUNTANSI
a. Teknik yang dapat ditempuh dalam penelitian Faktor Kesulitan Belajar
Siswa pada Mata Pelajaran IPS
1) Teknik Observasi Langsung, mencatat gejala-gejala yang tampak pada objek
penelitian yang pelaksanaannya langsung pada tempat dimana suatu peristiwa,
keadaan atau situasi yang sedang terjadi.
2) Teknik Komunikasi Langsung, peneliti mengadakan kontak langsung secara
lisan atau tatap muka dengan sumber data.
3) Teknik Komunikasi Tidak Langsung, pengumpulan data dengan cara
mengedarkan angket yang berisikan daftar pertanyaan secara tertulis yang
diajukan pada objek penelitian
4) Teknik Studi Dokumenter, pengumpulan data dengan kategori dan klasifikasi
bahan-bahan tertulis yang berhubungan dengan masalah
3

b. Usaha yang dilakukan untuk Mengatasi Kesulitan Belajar


1) Selalu memberikan tugas/PR kepada siswa sehingga mereka akan belajar dan
megulangi kembali pelajaran dirumah
2) Menyuruh para siswa untuk banyak membaca buku pelajaran
3) Memberikan remedial kepada siswa yang tidak tuntas dalam belajar
4. Menurut ABIN SYAMSUDDIN MAKMUN
a. Prosedur Diagnosis Kesulitan Belajar2
1) Mendiagnosis kasus kesulitan belajar, dimana dalam langkah ini membahas
dua dari lima langkah operasional diagnosis kesulitan belajar:
a) Menandai siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar
b) Melokalisasikan letak kesulitan (permasalahan)
2) Mengidentifikasi faktor penyebab kesulitan belajar
3) Mengambil kesimpulan dan membuat rekomendasi pemecahannya
b. Abin Syamsuddin Makmun (2005: 331-339), mengungkapkan cara mengatasi
kesulitan belajar dibagi dalam dua kasus, yaitu:3
1) Kasus Kelompok
a) Kalau kelemahannya menyeluruh dan bersumber kepada:
(1) Kurikulum dan sistem pengajaran, perlu diadakan program pengajaran
khusus sebagai pengayaan dan perbaikan (remedial);
(2) Sistem evaluasi, perlu diadakan peninjauan kembali dan dikembangkan
sistem penilaian yang bersifat edukatif;
(3) Faktor Kondisional, komponen belajar

seperti

buku

paket,

laboratorium dan sebagainya perlu dipenuhi.


b) Kalau kelemahannya segmental dan sektoral pada bidang studi dan bagian
tertentu yang mungkin bersumber pada:
(1) Metode belajar mengajar, akan mudah ditempuh remedial teaching
secara kelompok;
(2) Sistem penilaian, pelu diadakan penyesuaian dengan sistem yang lazim
berlaku disekolah yang bersangkutan;
(3) Penampilan dan sikap guru, perlu adanya perubahan atau pengganti
guru pada bidang studi yang bersangkutan
2) Kasus Individu
a) Kalau kelemahannya fatal (karena bersifat hredite), jalan yang terbaik
adalah menyalurkan atau mentransfer siswa kepada program atau jurusan
atau praktik pendidikan yang lebih sesuai dengan tingkat kecerdasan dan
jenis yang dimilikinya.
2 Siti Nurjanah, SKRIPSI DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR MATEMATIKA PADA MATERI
JARAK, WAKTU, DAN KECEPATAN DI KELAS 5A SD NEGERI PUJOKUSUMAN 1 YOGYAKARTA,
(Yogyakarta : 2015), Hlm. 36
3 Siti Nurjanah, Ibid, hlm. 27
4

b) Sikap, minat, dan motivasi akan dapat dirubah dengan jalan:


(1) Menciptakan conditioning (reinforcement, reward, encouragement)
(2) Menggunakan strategi belajar yang inovatif
(3) Kebiasaan juga dapat diubah dengan jalan mengadakan conditioning
dan drill
(4) Kalau sifat kelemahannya bersumber diluar diri siswa, maka dapat
disesuaikan bergantung dengan kondisi disekolah atau lingkungan
yang bersangkutan.
5. Menurut WEENER DAN SENF (1982) yang dikutip WARDANI (1991)
a. Prosedur dan Teknik DKB
1) Melakukan observasi kelas (cara memperoleh data dengan langsung
mengamati terhadap objek). Observai mencatat gejala-gejala yang tampak pada
diri subjek, kemudian diseleksi untuk dipilih yang sesuai dengan tujuan
pendidikan. Bagaimana sikap siswa dalam mengikuti pelajaran adalah tanda-tanda
cepat lelah, mudah mengantuk, sukat memusatkan perhatian pada pelajaran. Dan
bagaimana kelengkapan catatan, peralatan dalam pelajaran. Murid yang
mengalami kesulitan belajar akan menunjukkan gejala cepat lelah, mudah

mengantuk, sukar konsentrasi, dan catatanya tidak lengkap.


2) Memeriksa penglihatan dan pendengaran (pada siswa yang berkesulitan)
3) Interview (Cara mendapatkan data dengan wawancara langsung terhadap
orang yang diselidiki atau terhadap orang lain yang dapat memberikan
informasi tentang orang yang diselidiki.). untuk menyelidiki murid yang
mengalami kesulitan belajar, interview bisa dilaksanakan secara langsung atau
tidak langsung.
4) Memberikan tes diagnosis
5) Memberikan tes kemampuan intelegensi
6) Tes IQ4. IQ singkatan dari Intelegence Quotient yaitu nilai yang diperoleh dari
sebuah alat tes kecerdasan. Hasil tes ini memberikan indikasi mengenai taraf
kecerdasan seseorang dan menggambarkan kecerdasan seseorang secara
hampir keseluruhan5
b. Tekniknya menggunakan Remedial Teaching
6. Menurut ROSS STANLEY
a. Tahap-tahap DKB

4 Abu Ahmad & Widodo Supriono, Psikologi Belajar PT. Rineka Cipta: jakarta, 2004 hal 94-95
5 M. Hari Wijaya. Tes IQ Pustaka Belajar: Jogjakarta, 2005 hal VI
5

1) Siapakah siswa yang mengalami gangguan ? (Who are the pupils having
trouble ?)
2) Di manakah kelemahan-kelemahan tersebut dapat dilokalisasikan ? (Where
are the erors occur ? )
3) Mengapa kelemahan-kelemahan itu terjadi ? (Why are the errors occur ?)
4) Penyembuh apa saja yang disarankan ? (What are remedies are suggested ?)
5) Bagaimana kelemahan itu dicegah? (How can errors be prevented ?)
b. Tahapan kegiatan sebagai berikut :
1) Mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar, yaitu :
a) Menganalisis prestasi belajar. Dari segi prestasi belajar, individu dapat
dinyatakan mengalami kesulitan bila :
(1) Nilai raport yang bersangkutan lebih rendah dibanding rata-rata
kelasnya
(2) prestasi yang dicapai sekarang lebih rendah dari sebelumnya
(3) prestasi yang dicapai berada di bawah kemampuan sebenarnya.
b) Menganalisis periaku yang berhubungan dengan proses belajar. Dilakukan
dengan :
(1) Membandingkan perilaku yang bersangkutan dengan perilaku siswa
lainnya yang berasal dari tingkat atau kelas yang sama.
(2) membandingkan perilaku yang bersangkutan dengan perilaku yang
diharapkan oleh lembaga pendidikan.
c) Menganalisis hubungan sosial. Intensitas interaksi sosial individu dengan
kelompoknya dapat diketahui dengan sosiometri. Dengan sosiometri dapat
diketahui individu-individu yang terisolasi dari kelompoknya. Gejala
tersebut merupakan salah satu indikator kesulitan belajar.
2) Melokalisasi letak kesulitan belajar. Setelah siswa-siswa yang mengalami
kesulitan belajar diidentifikasi, langkah berikutnya adalah menelaah pada :
a) pelajaran apa siswa mengalami kesulitan;
b) aspek tujuan pembelajaran yang mana kesulitan terjadi;
c) materi yang mana kesulitan terjadi;
d) segi-segi proses pembelajaran yang mana kesulitan terjadi.
3) Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kesulitan belajar. Pada tahap ini
semua faktor yang diduga sebagai penyebab kesulitan belajar diusahakan
untuk dapat diungkap. Teknik pengungkapan faktor penyebab kesulitan belajar
dapat dilakukan dengan observasi, wawancara, kuesioner, skala sikap, tes, dan
pemeriksaan secara medis.
4) Memperkirakan alternatif pertolongan. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan
secara matang pada tahap ini adalah sebagai berikut :
a) Apakah siswa yang mengalami kesulitan belajar tersebut masih mungkin
untuk ditolong?
b) Teknik apa yang tepat untuk pertolongan tersebut?
c) Kapan dan di mana proses pemberian bantuan tersebut dilaksanakan?
6

d) Siapa saja yang terlibat dalam proses pemberian bantuan tersebut?


e) Berapa lama waktu yang diperlukan untuk kegiatan tersebut?
5) Menetapkan kemungkinan teknik mengatasi kesulitan belajar. Tahap ini
merupakan kegiatan penyusunan rencana yang meliputi teknik yang dipilih
untuk mengatasi kesulitan belajar dan teknik yang dipilih untuk mencegah
agar kesulitan belajar tidak terjadi lagi.
6) Pelaksanaan pemberian pertolongan
c. Upaya Mengatasi Kesulitan Belajar
Mulyono Abdurrahman mengutip Barbara Clark, menawarkan pendidikan
intelegensi sebagai suatu sistem pendidikan yang diyakini sebagai upaya
mengatasi kesulitan belajar. Pendidikan integratif ditafsirkan sebagai pendidikan
yang berupaya:
1) Mengintegrasikan antara anak yang tidak normal dengan normal.
2) Mengintegrasikan pendidikan luar biasa dengan pendidikan pada umumnya.
3) Mengintegrasikan dan mengoptimalkan perkembangan kognisi, emosi,
jasmani dan intuisi.
4) Mengintegrasikan anak didik sebagai makhluk individual dan makhluk sosial.
5) Mengintegrasikan antara subjek/materi pelajaran dengan kehidupan masa
depan anak.
6) Mengintegrasikan antara falsafah dan pandangan hidup dengan seni.
7. Penggunaan Role Playing dalam mengatasi kecemasan menghadapi Ujian
a. Prosedur dan tekhnik penelitian
1) Perencanaan
Langkah pertama dalam kegiatan PTK adalah perencanaan. Perencanaan
tidakan perlu dilakukan secara matang dan teliti. Pada tahap perencanaan
terdapat beberapa kegiatan yang akan dilakukan antara lain menentukan
tujuan, topik yang akan dibahas, cara pelaksanaan tindakan dan hasil yang
ingin dicapai. Jika siklus I belum mencapai indikator keberhasilan tindakan
yang telah ditetapkan yaitu perubahan minimal 50% dari keadaan awal
sebelum diberi tindakan, maka subjek akan diberi tindakan selanjutnya yaitu
pada siklus II.
2) Tindakan
Pada tahap tindakan dalam penelitian ini akan dilaksanakan kegiatan role
playing. Pelaksanaan tindakan berupa role playing mengacu pada tahap-tahap
pelaksanaan role playing menurut Shaftel dan Shaftel (dalam Mulyasa,
2012:183).
3) Observasi
Observasi dalam penelitian ini dilaksanakan ketika role playing dan setelah
pemberian tindakan. Hal tersebut bertujuan untuk mengamati perubahan
7

perilaku subjek selama dan setelah diberi tindakan. Selanjutnya, hasil dari
observasi

direfleksikan

untukmengetahui

perubahan

perilaku

subjek

penelitian.
4) Refleksi
Refleksi adalah suatu kegiatan untuk mengemukakan kembali hal yang telah
dilakukan. Jadi, data yang telah diperoleh melalui angket dan observasi dikaji
dan dianalisis pada tahap ini. Pengkajian data dimaksudkan untuk mengetahui
hambatan-hambatan atau kekurangan yang terdapat pada tindakan yang telah
dilakukan. Evaluasi yang dilakukan sebagai dasar untuk melakukan tindak
lanjut.
Adapun tekhnik yang dilakukan dalam penelitian ini adalah tekhnik role
playing
b. Kegunaan Teknik Role Playing dalam mengatasi kecemasan menghadapi
ujian
1) Teknik role playing dapat digunakan sebagai alternatif dalam memberikan
bantuan kepada siswa untuk mengurangi kecemasan dalam menghadapi
ujian.
2) Teknik role playing dapat membantu siswa untuk bebas berbagi
pengalaman, mengekspresikan perasaan, melepaskan segala tekanan yang
dihadapi dengan memerankan tokoh dalam cerita, meningkatkan
kemampuan untuk mengidentifikasi suatu masalah beserta cara untuk
menyelesaikannya. Melalui pesan yang terkandung di dalam cerita siswa
dapat mengaitkannya dengan masalah yang sedang dihadapinya untuk
kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
3) Teknik role playing dapat dijadikan sebagai alternatif guru BK dalam
memberikan layanan kepada siswa kelompok yang berbeda sehingga hasil
yang diperoleh lebih bervariasi
8. Menurut KARDIAWARMAN, Ph. D.
a. Rincian Prosedur Tindakan6
1) Persiapan Tindakan
(a) Menetapkan kelas penelitian; (b) Menetapkan materi pelajaran; (c)
Menetapkan metode pembelajaran; (d) Menyusun rencana pelajaran; (e)
Menetapkan waktu pembelajaran; & (f) Menyiapkan bahan / alat test.
2) Implementasi Tindakan
(a) Memberikan pre test; (b) Memberikan motivasi; (c) Melaksanakan
kegiatan inti dengan metode tertentu (demonstrasi, atau eksperimen, dan
6 Kardiawan, Ph.D, dkk, Diagnosis Kesulitan Belajar IPA-Fisika di SLTP ditinjau dari Kemampuan
Membaca dan Keterbacan, (Bandung), hlm. 12
8

atau diskusi informasi); (d) Melakukan diskusi kelas; (e) Memberikan


latihan soal-soal; (f) Memberikan post test; (g) Menganalisis hasil post
test, Mendiskusikan hasil post test bersama tim penelitian; (h)Merefleksi
perbaikan kegiatan belajar mengajar untuk siklus berikutnya.
3) Pemantauan dan Evaluasi
Pemantauan terhadap proses pembelajaran dilakukan dengan menggunakan
alat bantu catatan-catatan dan tape recorder, hasil pemantauan tersebut
digunakan untuk menentukan jenis tindakan perbaikan pada kegiatan belajar
mengajar siklus berikutnya. Pemantauan terhadap hasil belajar siswa
dilakukan pada setiap akhir siklus dengan memberikan test tertulis (post test)
dalam bentuk tes objektif, jawaban singkat, dan essey.