Anda di halaman 1dari 16

BAB I

STATUS PASIEN
I.1 Identitas Pasien
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Pekerjaan
Alamat
Agama
Status
Tanggal Periksa

: Tn. S
: 49 tahun
: Laki-laki
: Wiraswata
: Ngaliyan no. 292
: Islam
: Menikah, 1 anak.
: 28 November 2015

I.2 Anamnesis
Keluhan Utama: Panas dan gatal di leher bagian kanan.
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke poliklinik kulit RSUD Dr. ADHYATMA, MPH dengan
keluhan panas dan gatal pada bagian leher sebelah kanan. Keluhan panas dan
gatal dirasakan terus menurus serta kemerahan. Awalnya muncul kemerahan dan
bintik kecil, di bagian dada seperti biji jagung kemudian ukurannya bertambah.
Kemudian selama 3 hari mengering. Setelah bintik kecil di dada mengering,
kemudian muncul keluhan di leher kanan pasien terasa gatal, panas dan
kemerahan kemudian di susul dengan bintik-bintik kecil yang berjajar seperti
deretan rantai bergerombol berisi cairan, nyeri +, serta panas.
Tiga hari sebelum muncul keluhan tersebut pasien merasa badannya lemas,
serta demam yang hilang timbul. kemudian bintik kemerahan seperti di gigit
nyamuk pada dada kemudian karena panas dan gatal di garuk oleh pasien, bintik
tersebut awalnya berisi cairan kemudian berubah menjadi nanah setelah selang 1
hari.pasien juga mengeluh sering sakit kepala sebagian, terutama bagian kanan
yang hialng timbul, yang berbarengan dengan bintik-bintik tersebut muncul.

Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien mengaku tidak pernah mengalami gejala yang sama sebelumnya.


Riwayat sakit cacar +, riwayat alergi disangkal, riwayat trauma disangkal,
riwayat di gigit serangga di sangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat sakit serupa

: Disangkal

Riwayat alergi obat dan makanan : Disangkal

Riwayat Kebiasaan
Pasien biasa mandi 2x sehari, menggunakan sabun mandi dan mengganti
pakaian luar dan dalam 2x sehari. Pasien menggunakan handuk pribadi.

I.3 Pemeriksaan Fisik


Status Generalis
Keadaan Umum

: Baik

Kesadaran

: Komposmentis

Tanda-tanda Vital
Suhu : 36,5 0 C
Nadi

: 88 x/menit

RR

: 26 x/menit

TD

: 110/80 mmHg

Kepala: normocephal
Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), kornea jernih , pupil isokor,
reflex cahaya +/+
Hidung : pernafasan cupping hidung (-)
Mulut : bibir sianosis (-)
Leher: tidak ada pembesaran KGB
Thoraks
Inspeksi: normothoraks, gerakan simetris, retraksi (-)
Palpasi: nyeri tekan (-)
Perkusi: sonor semua lapang paru

Auskultasi: Pulmo: VBS kanan = kiri, rhonki -/-, Wheezing -/Cor: BJ I-II Reguler, Murmur (-), Gallop (-)
Abdomen
Inspeksi: Kontur datar
Auskultasi: bising usus (+) 10x/menit
Perkusi: timpani diseluruh lapang abdomen
Palpasi: nyeri tekan (-)
Ekstermitas : akral hangat, edema (-)
Status Dermatologis
Lokasi

: dada dan leher bagian kanan.

UKK

: leher kanan : makula, vesikel, Papula, eritema, tampak krusta

numular, herpetiformis. Dada : krusta numular, herpetiformis.

I.4 Resume
Seorang laki-laki usia 49 tahun datang ke poliklinik kulit RSUD Dr.
Adhyatma, MPH. Dengan keluahan utama panas dan gatal di regio colli dekstra.
Keluhan panas terasa terus- menerus, eritema +. Tiga hari sebelum timbul eritem
dan papul, pasien merasa mailase +, febris +, kemudian muncul eritem dan pada

dada pruritus +. Vesikel, kemudian berubah jadi pustul selang 1 hari. Pasien juga
mengeluh cefalgia +, migrain +, bagian dekstra intermiten.
Pada pemeriksaan fisik status generalis didapatkan dalam batas normal. Pada
pemeriksaan dermatologis didapatkan pada leher kanan : makula, vesikel, Papula,
eritema, tampak krusta numular, herpetiformis. Dada : krusta numular.
I.5 Diagnosis Banding
1. Herpes Zooster
2. Varisela
3. Dermatitis herpetic/during disease
I.6 Usulan Pemeriksaan
Pemeriksaan apus : Tzanck Smear
I.7 Diagnosis Kerja
Herpes Zooster et regio colli sinistra
1.8 Penatalaksanaan
1. Umum
a. Menjelaskan

kepada

pasien

mengenai

penyakit

dan

cara

pengobatannya.
b. Menerangkan pada pasien untuk memotong kuku tangan, untuk
mencegah infeksi sekunder akibat garukan.
2. Sistemik

Aciclovir 5 x 800mg selama 7 hari


Mefenamic acid 3 x 500mg
Prednison 3x20mg selama 7 hari

1.9 Prognosis

Quo ad Vitam
Quo ad Functionam

: Ad Bonam
: Ad Bonam

Quo ad Sanationam

: Ad Bonam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 DEFINISI
Herpes zoster adalah penyakit kulit yang disebabkan infeksi virus varicella
zoster (VZN) yang menyerang kulit dan mukosa 1. Herpes zoster ditandai dengan
adanya nyeri hebat unilateral serta timbulnya lesi vesikuler yang terbatas pada
dermatom yang dipersarafi serabut saraf spinal maupun ganglion serabut saraf
sensorik dan nervus kranialis. Komplikasi herpes zoster dapat terjadi pada 1015% kasus, komplikasi yang terbanyak adalah postherpetic neuralgic yaitu
berupa rasa nyeri yang persisten setelah krusta terlepas atau setelah lesi sembuh2.

Insiden pada herpes zoster meningkat seiring bertambahnya usia, di mana


lebih dari 2/3 kasus terjadi pada usia lebih dari 50 tahun dan kurang dari 10%
terjadi di bawah usia 20 tahun1. Neuralgia pascaherpetika didefi nisikan sebagai
nyeri yang terus berlangsung selama 3 bulan setelah lesi herpes zoster sembuh,
atau nyeri yang terus berlangsung selama 120 hari sejak timbulnya lesi herpes
zoster. Dari data yang ada, disimpulkan bahwa 10-25% pasien herpes zoster akan
mengalami neuralgia pascaherpetika dan kebanyakan pada pasien berusia lanjut 2.
Komplikasi ini jarang terjadi pada usia di bawah 40 tahun, tetapi hampir 1/3
kasus terjadi pada usia di atas 60 tahun. Selain itu terdapat pula komplikasi
berupa infeksi sekunder dan paralisis otot.
Herpes zoster bukanlah penyakit yang mengancam jiwa akan tetapi
menyebabkan penurunan kualitas hidup pada pasien. Pasien dengan komplikasi
herpes zoster akan sulit disembuhkan mengingat kemampuan virus varicella
zoster sendiri yang bias menjadi dorman dan aktif kembali.

II.2 ETIOPATOGENESIS
Herpes zoster disebabkan oleh virus yang sama dengan varisela, yaitu virus
varisela zoster. Herpes zoster dapat muncul disepanjang tahun karena tidak
dipengaruhi oleh musim dan tersebar merata di seluruh dunia, tidak ada
perbedaan angka kesakitan antara laki-laki dan perempuan, angka kesakitan
meningkat dengan peningkatan usia. Di negara maju seperti Amerika, penyakit
ini dilaporkan sekitar 6% setahun, di Inggris 0,34% setahun sedangkan di
Indonesia lebih kurang 1% setahun3.

Gambar 1. Patogenesis herpes zoster dan komplikasi3


Patogenesis herpes zoster belum seluruhnya diketahui. Selama terjadi
varisela, varisela zoster berpindah tempat dari lesi kulit dan permukaan mukosa
ke ujung saraf sensorik dan ditransportasikan secara sentripetal melalui serabut
saraf sensoris ke ganglion sensoris. Pada ganglion terjadi infeksi laten, virus
tersebut tidak lagi menular dan tidak bermultiplikasi, tetapi tetap mempunyai
kemampuan untuk berubah menjadi infeksius3.
Herpes zoster sering muncul pada dermatome dibagian ruam varicella yang
paling banyak densitasnya4. Meskipun masa laten virus memiliki potensi untuk
mengalami kekambuhan, hal ini tidak sering terjadi. Mekanisme reactivasi dari
VZV sendiri masih belum jelas akan tetapi hal ini sering dikaitkan dengan
kondisi immunosuppression, stress emotional, dan trauma local5.
Pada awalnya erupsi berupa papul dan plak eritem yang dalam beberapa jam
akan menjadi vesikel. Vesikel-vesikel baru terus terbentuk selama beberapa hari,
biasanya 1-5 hari, dipengaruhi usia pasien, beratnya penyakit, dan imunitas

pasien5. Vesikel baru menandakan aktivitas replikasi virus. Vesikel selanjutnya


dapat berubah menjadi bula, vesikel hemoragik, pustul, krusta, lalu menyembuh.

II.3 MANIFESTASI KLINIS


Gejala prodromal herpes zoster biasanya berupa rasa sakit dan parestesi pada
dermatom yang terkena. Gejala ini terjadi beberapa hari menjelang timbulnya
erupsi

Gambar 2. Herpes zoster. A. Perkembangan tahap awal pada dermatome thorak


dengan eritema dan grup vesikel B. Perkembangan lanjutan dengan gambaran
krusta. C. Ophtalmic zoster4
Herpes zoster dikarakteristiki oleh sakit dan sensasi lokal kulit lain (seperti
terbakar, tidak nyaman, dan gatal), sakit kepala, tidak enak badan dan (paling
sering) demam3.
Pada awal terinfeksi virus, pasien akan mengeluh rasa tidak nyaman seperti
terbakar dan kulit menjadi sensitif selama beberapa hari hingga satu minggu.
Penyebab terjadinya rasa sakit yang akut tersebut sulit dideteksi apabila ruam
(bintil merah pada kulit) belum muncul.
Ruam shingles mulai muncul dari lepuhan (blister) kecil di atas dasar kulit
merah dengan lepuhan lainnya terus muncul dalam 3-5 hari. Lepuhan atau bintil
merah akan timbul mengikuti saraf dari sumsum tulang belakang dan membentuk
pola seperti pita pada area kulit. . Bintil atau lepuh akan pecah dan berair,

kemudian daerah sekitarnya akan mengeras dan mulai sembuh. Gejala tersebut
akan terjadi dalam selama 3-4 minggu. Pada sebagian kecil kasus, ruam tidak
muncul tetapi hanya ada rasa sakit. Syaraf yang paling sering terkena adalah
bagian syaraf thorak dari T3 ke L2, dan syaraf trigeminal. Penyebaran bintilbintil menyerupai sinar (ray-like) yang disebut pola dermatomal. Bintil akan
muncul di seluruh atau hanya sebagian jalur saraf yang terkait. Biasanya, hanya
satu saraf yang terlibat, namun di beberapa kasus bisa jadi lebih dari satu saraf
ikut terlibat.5
II.4 KOMPLIKASI HERPES ZOSTER
Herpes zoster ddapat menyebabkan komplikasi yang meibatan kulit, visceral
dan neuralgik. Kebanyakan komplikasi adalah timbul sebagai akibat dari
penyebaran VZV yang mencangkup ganglion sensory, saraf dan kulit.

Tabel 1. Komplikasi Herpes zoster4


Komplikasi yang paling banyak dikeluhkan pasien adalah neuralgia pasca
herpetika yaitu berupa rasa nyeri yang persisten setelah krusta terlepas atau
setelah lesi sembuh. Komplikasi ini jarang terjadi pada usia di bawah 40 tahun,

tetapi hampir 1/3 kasus terjadi pada usia di atas 60 tahun. Selain itu terdapat pula
komplikasi berupa infeksi sekunder dan paralisis otot.
Neuralgia Pasca Herpetika
Neuralgia Pasca Herpetika termasuk jenis nyeri neuropatik yang
bermanifestasi dalam bentuk alodinia, hiperalgesia, maupun nyeri spontan.
Neuralgia pasca herpetika (NPH) ditandai gangguan fungsi saraf yang
menyerang saraf nosiseptif (penghantar rangsang nyeri) dan sensorik.
Terbentuknya

persambungan

sel-sel

saraf

yang

abnormal

dan

ketidakseimbangan pengaturan otomatis pada sistem penghambatan serta


perangsangan saraf juga ditemukan dan berperan terhadap timbulnya nyeri
pada kasus ini. Tidak semua kasus herpes zoster diikuti dengan NPH.
Faktor risiko utama neuralgia pascaherpetika antara lain usia tua, lesi kulit
yang hebat, nyeri akut yang berat, dan adanya nyeri prodromal pada
dermatom sebelum munculnya ruam.
Kasus ini lebih sering ditemukan pada lansia sepeti serangan herpes zoster
di wajah bagian atas dan lengan, nyeri hebat pada saat serangan herpes
zoster, dan ruam kulit yang sangat banyak pada saat serangan herpes zoster.
Pasien mersakan nyeri di tempat yang tadinya terdapat ruam kulit. Nyeri
demikian dapat dikategorikan sebagai NPH jika masih dirasakan sampai
sejak hilangnya ruam kulit. Sifat nyeri umumnya terasa seperti ditusuktusuk dan dapat dicetuskan oleh sentuhan ringan. Neuralgia pascaherpetika
termasuk nyeri neuropatik, yakni nyeri yang disebabkan oleh kerusakan
atau disfungsi primer pada system saraf. Pada nyeri neuropatik terjadi
kerusakan saraf perifer dan perubahan sinyal sistem saraf pusat, sehingga
terjadi letupan potensial aksi spontan, ambang aktivasi saraf yang menurun,
dan peningkatan respon terhadap stimulus. Neuralgia pascaherpetika dapat
berlangsung terus-menerus selama bertahun-tahun dan dapat sangat
mengganggu kualitas hidup, antara lain mengganggu tidur dan kegiatan
sehari-hari sehingga mengganggu produktivitas pasien. Mekanisme
terjadinya neuralgia pascaherpetika dapat berlainan pada setiap individu

sehingga manifestasi nyeri yang berhubungan dengan neuralgia pasca


herpetika juga berlainan. Replikasi virus di dalam ganglion dorsalis
menyebabkan respon inflamasi berupa pembengkakan, perdarahan,
nekrosis dan kematian sel neuron. Kemudian virus akan menyebar secara
sentrifugal sepanjang saraf menuju ke kulit, menyebabkan infl amasi dan
kerusakan saraf perifer. Hal ini menyebabkan sensitisasi ataupun
deaferenisasi elemen saraf perifer dan sentral
Infeksi Sekunder
Infeksi kulit sekunder adalah infeksi yang terjadi akibat kelainan kulit yang
sudah ada sebelumnya atau akibat disrupsi keutuhan kulit. Lesi akibat VZV
seringkali menyebabkan infeksi oleh bakteri-bakteri lain. Hal ini terjadi pada
pasien Herpes zoster ophthalmicus yang seringkali diikuti oleh conjunctivitis,
keratitis, uveitis, dan ocular cranial-nerve palsies. Infeksi sekunder ini
nantinya akan menyebabkan terhambatnya penyembuhan dan tak jarang akan
meninggalkan bekas sebagai sikatriks. Contoh lain karena infeksi bakteri yang
menyebabkan lesi tidak langsung sembuh, Vesikel malah menjadi ulkus dan
jaringan nekrotik
Paralisis otot
Dapat terjadi pada sebagian kecil penderita (1 5 % kasus), terutama bila
virus juga menyerang ganglion anterior, bagian motorik kranialis. Terjadinya
biasanya 2 minggu setelah timbulnya erupsi. Berbagai paralisis dapat terjadi,
misalnya di muka, diafragma batang tubuh, ekstremitas, vesika urinaria dan
anus. Apabila syaraf facialis yang terkena, kondisi ini disebut Ramsay Hunt
syndrome. Ramsay Hunt Syndrome, atau geniculate neuralgia atau otalgia,
herpes zoster auricularis atau oticus, otic neuralgia, dan Hunts syndrome,
disease atau neuralgia, suatu kelainan neurologi yang disebabkan oleh virus
Varicella Zoster, yang dapat menginfeksi beberapa saraf di kepala sehingga
menyebabkan paralysis fasial dan ruam baik di telinga, lidah, atau langitlangit mulut. Ramsay Hunt Syndrome adalah Herpes Zoster yang mengenai
saraf auditorius dan fasialis yang disertai paralysis fasial ipsilateral dan

biasanya hanya berlangsung sebentar, serta vesikel-vesikel telinga luar atau


membrana tympani yang juga dapat atau tidak dapat disertai dengan tinitus,
vertigo, dan gangguan pendengaran. Ramsay hunt syndrome sering di
diagnose sebagai bells palsy karena itu perlu adanya anamnesis lanjut kepada
pasien.

II.5 DIAGNOSIS BANDING


Beberapa diagnosis banding pada herpes zoster antara lain adalah Herpes
simplex, varicella dan dermatitis kontak. Herpes simplex berbeda dengan herpes
zoster lesi biasanya sering mengenai daerah mulut dan daerah genital, sedangkan
pada herpes zoster lesi biasanya hanya mengenai dermatom saraf yang terkena
saja. Varicella umumnya banyak terjadi pada anak-anak brbeda dengan herpes
zoster yang sekitar 75% kasus menyerang pasien usia di atas 50 tahun. Dermatitis
kontak biasanya lebih menyebabkan gatal daripada rasa nyeri. Lesi VHZ adalah
vesikel berkelompok, sedangkan lesi dermatitis kontak biasanya linier.
II.6 PENATALAKSANAAN
Untuk penatalaksanaan nyeri yang disebabkan herpes zoster, pasien usia
lanjut dan pasien yang kesulitan melakukan aktivitas ada baiknya melakukan bed
rest penuh untuk beberapa hari. Hal ini penting untuk membantu mengurangi
rasa nyeri. Pengompresan dengan air hangat juga direkomendasikan untuk
mengurangi rasa nyeri. Pada Neuralgia post herpetic, rasa nyeri biasanya hilang
dengan sendirinya akan tetapi sering kali membutuhkan waktu yang lama. Pada
kondisi tertentu ketika pasien membutuhkan analgetik, Obat yang sering
digunakan adalah antikonvulsan gabapentin dan pregabalin. Dosis awal
gabapentin 300 mg pada hari pertama, 2 x 300 mg pada hari ke dua, 3 x 300 mg
pada hari ketiga. Titrasi lalu diperlambat sampai mencapai 3 x 600 mg dalam 2
minggu. Dosisnya harus dibagi 3-4 kali sehari karena waktu paruhnya pendek.
Dosis pregabalin 150-600 mg perhari, dibagi 2 dosis2

Pemberiaan antiviral di indikasikan terutama kepada pasien dengan


imunocompromise, dan pasien berusia diatas 50 tahun. Pemberiaan ini bertujuan
untuk mengurangi durasi tingkat keparahan multipikasi varicella zoster virus.
Terapi sebaiknya dilakukan segera setelah diagnosis ditegakan.
Valacyclovir 1000 mg dan famciclovir 500 mg bisa diberikan 3x sehari.
Sama efektifnya dengan acyclovir, 800 mg 5x sehari. Pemberian antiviral ini juga
di indikasikan untuk mengurangi efek paresis selain dri pemberian neurotropic
seperti vit B1, B6, B12.5
Untuk lesi herpes zoster sendiri, pasien diberi edukasi agar tidak menggaruk
atau mnambah trauma pada lesi. Penting segera mengeringkan vesikel. Usahakan
supaya vesikel tidak pecah untuk menghindari infeksi sekunder.

Pencegahan
Pencegahan neuralgia pasca herpetika dapat diusahakan dengan kombinasi agen
antiviral dan usaha agresif mengurangi nyeri akut pada pasien herpes zoster.
Kombinasi ini diharapkan akan mengurangi kerusakan saraf dan nyeri akut.
Terapi antiviral harus dimulai segera setelah diagnosis ditegakkan, dan lebih baik
jika dimulai pada tiga atau empat hari pertama. Terapi antiviral diharapkan dapat
menghentikan replikasi virus, sehingga durasi penyakit akan lebih singkat, dan
menurunkan kejadian neuralgia pascaherpetika4,5

II.7 PROGNOSIS
Pada orang muda dan anak-anak umumnya baik. Bagi kebanyakan orang,
Herpes Zoster yang merupak reaktivasi VZV adalah sementara dan bisa sembuh
tanpa gejala sisa yang merugikan5, Tetapi pada beberapa kondisi, kekambuhan
adalah umum. Jaringan Parut mungkin terjadi dari lesi berat atau superinfected.

DAFTAR PUSTAKA
1. Melton

CD.

Herpes

Zoster.

eMedicine

World

Medical

Library:

http://www.emedicine.com/EMERG/topic823.htm [diakses pada tanggal 4


Desember 2015].
2. Loretta wijaya, Regina. Neuralgia Pascaherpetica. CDK-194/ vol. 39 no. 6, th..
Jakarta. 2012
3. Martodihardjo S. Penanganan Herpes Zoster dan Herpes Progenitalis. Ilmu
Penyakit kulit dan Kelamin. Surabaya: Airlangga University Press, 2001.
4. E. Schmader, Kenneth dkk. Varicella and Herpes Zoster. Dalam: Wolff K,
Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ,editor. Fitzpatricks
Dermatology in General Medicine. Edisi ke-8. New York: McGraw-Hill; 2008.
h.4470.
5. James WD, Berger TG, Elston DM. Andrews Disease of Skin: Clinical
Dermatology 11th Ed. London: Elseiver, 2011. p 367-380
6. Kane KSM, Ryder JB, Johnson RA, Baden HP, Stratigos A. Cutaneous bacterial
infections. In: Color atlas & synopsis of pediatric dermatology. New York:
2002: p 474-5.

7. Clark RA, Hopkins T. The other eczemas, In: Moschella S, Hurley H.

Dermatology: 3rd Ed. Edinburgh: Mosby; 2003. p 489-93.