Anda di halaman 1dari 19

PENGAMBILAN, TES DAN INTERPRETASI CAIRAN SENDI

Suci Aprianti, Adriani Badji, Hardjoeno


Bagian Patologi Klinik FK Unhas/RS Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar
I. PENDAHULUAN
Cairan sendi adalah cairan viskos yang terdapat dalam rongga sendi. Cairan
sendi ini mensuplai makanan bagi kartilago sendi. Normalnya, cairan sendi
mempunyai komposisi kimia yang sama dengan komposisi plasma, selama cairan
sendi itu merupakan ultrafiltrat plasma. Cairan sendi mengandung
mukopolisakarida dengan berat molekul besar yang disebut asam hialuronat.
Asam hialuronat ini menyebabkan cairan sendi bersifat kental, sehingga cairan
itu juga berfungsi sebagai pelumas dan pelindung sendi. Selain dibentuk oleh
dialisis plasma, cairan sendi juga dibentuk oleh sel-sel sinoviosit. (1,2,3,4)
Pada umumnya jumlah cairan sendi yang terdapat dalam sendi-sendi besar 1-3
ml, misalnya sendi pergelangan kaki, lutut, pangkal paha, pergelangan tangan,
siku dan bahu.
Penyakit sendi dapat terjadi oleh berbagai sebab. Oleh karena itu dibutuhkan testes yang dapat dipakai untuk menegakkan diagnosis atau menyingkirkan dugaan
penyebab penyakit sendi tersebut. Hal ini penting untuk menentukan tindakan
dan terapi yang tepat. Tes-tes tersebut adalah tes makroskopi, tes mikroskopi, tes
mikrobiologi, tes kimia dan tes imuno-logi. (2)
PATOLOGI
Secara patologi cairan sendi dapat digolongkan menjadi 4 kelompok yaitu
kelompok non inflamatorik, inflamatorik akut, septik dan hemoragik
Indikasi melakukan aspirasi cairan sendi :
0
Memastikan diagnosis.
1
Mengurangi rasa sakit dan untuk memperbaiki fungsi gerak persendian
2
Diagnosis banding.
3
Pemberian obat intra artikuler (terapeutik).
Kontra indikasi :
0
Infeksi lokal
1
Diatesis hemoragik
2
Fraktur intra artikuler
3
Osteoporosis juxta-artikuler yang berat
4
Sendi yang tidak stabil
5
Tidak ada indikasi yang tepat
6
Kegagalan suntikan terdahulu (jika bukan karena kesalahan teknis). (7)
Komplikasi :
0
Infeksi
1
Perdarahan
2
Kerusakan kartilago sendi
4. Ruptur tendo/ligamen. (7)

TUJUAN
Untuk mengetahui teknik-teknik pemeriksaan yang digunakan dalam
mendiagnosis kelainan sendi atau menentukan diferensial diagnosisnya serta
mengetahui interpretasi hasil-hasil tes yang dilakukan.
ARTROSENTESIS
Teknik pengambilan cairan sendi disebut artrosentesis. Artrosentesis harus
dilakukan oleh seorang dokter atau paramedis yang sudah terlatih dan harus
dilakukan dalam keadaan steril. Teknik aspirasi harus disesuaikan menurut lokasi,
anatomi dan ukuran sendi. (1,7)
A. Teknik artrosentesis :
~ Alat dan bahan :
0

Spuit dan jarum disposable. Ukuran jarum disesuaikan dengan besar sendi
yang akan diaspirasi. Misalnya jarum nomor 19 atau 21 untuk sendi besar,
sedangkan sendi kecil jarum 23 atau 25.
1
Pulpen untuk menandai titik yang akan disuntik.
2
Anestetik lokal (lidokain atau semprotan etilklorida).
3
Kapas alkohol, kain kasa dan larutan pembersih kulit (misalnya larutan
yang mengandung yodium).
4
Tabung penampung aspirat 4 buah. (1,7)
~ Cara kerja :

0
Penyuntikan dilakukan dalam keadaan yang steril.
1
Tentukan tempat pengambilan yang tepat dan tandai dengan pulpen.
2
Atur posisi penderita sedemikian rupa, sehingga struktur sasaran suntikan
dalam keadaan rileks.
3
Lakukan pembersihan serta tindakan asepsis dan antisepsis pada tempat
yang akan disuntik.
4
Jika prosedur diperkirakan berlangsung lama atau sulit, dapat diberikan
sem-protan etilklorida atau anestesi lokal dengan infiltrasi lidokain melalui jarum
yang sangat halus.
5
Umumnya pendekatan dilakukan dari bagian ekstensor untuk menghindari
trauma neurovaskuler.
6
Setelah semua posedur diatas dilakukan, aspirasi dapat dimulai dengan
menusuk perlahan-lahan tempat yang telah diberi tanda pulpen.
7
Jika ada efusi, jumlah cairan yang diambil dapat berkisar 10-20 ml.
Tampunglah aspirat ke dalam 4 tabung yang telah disiapkan sebelumnya.
Tabung I (tanpa antikoagulan): untuk tes makroskopi, viskositas dan tes
musin, tabung II (dengan antikoagulan EDTA) : untuk tes mikroskopi,
hitung jenis dan sel, tabung III (tabung harus steril, berisi heparin/EDTA)
: untuk tes mikrobiologi dan tabung IV (tanpa antikoagulan) : untuk tes
kimia dan imunologi.
Setelah aspirasi, sendi hendaklah dalam keadaan rileks atau posisi netral.
(7)

II. METODE

TES

A. TES MAKROSKOPI
~ Warna dan kejernihan :

0
0
1
2
3

Pre analitik
Persiapan pasien : tidak dibutuhkan persiapan khusus.
Persiapan sampel : tidak ada persiapan khusus.
Prinsip tes : setiap kelainan memberi warna dan kejernihan yang berbeda.
Alat : tabung yang jernih.

1
0
1

Analitik
Cara kerja : lihat warna dan kejernihan sampel .
Nilai rujukan : tidak berwarna dan jernih.

Pasca analitik
Interpretasi :
0
Kuning jernih : pada artritis traumatik, osteoartritis dan artritis
rematoid ringan.
0
Kuning keruh : pada inflamasi spesifik dan non spesifik,
karena bertambahnya lekosit.
1
Seperti susu (chyloid) : artritis rematoid dengan efusi kronik,
pirai dengan efusi akut dan obstruksi limfatik dengan efusi.
2
Seperti nanah atau purulent : pada artritis septik yang lanjut.
Seperti darah : pada trauma, hemofilia dan sinovisitis vilonodularis
hemoragik.
Bila darah terjadi karena trauma pada waktu aspirasi maka warna
merahnya akan berkurang bila aspirasi diteruskan, sedangkan jika
bukan oleh trauma maka warna merah akan menetap.
Kuning kecoklatan : pada perdarahan yang telah lama. (5)
~ Bekuan
0
0
1
2
3

Pre analitik
Persiapan pasien : tidak dibutuhkan persiapan khusus.
Persiapan sampel : tidak ada persiapan khusus.
Prinsip tes : fibrinogen menyebabkan sampel membeku.
Alat : tabung yang jernih
Analitik
0 Cara kerja : biarkan sampel selama 1 jam, kemudian lihat apakah
ada bekuan atau tidak.
1 Nilai rujukan : tidak membeku.
Pasca analitik
0
Interpretasi : bekuan + : ada proses peradangan
Makin besar bekuan, makin berat peradangan.

(5)

~ Viskositas
2
Pre analitik
0
Persiapan pasien : tidak dibutuhkan persiapan khusus.
1
Persiapan sampel : tidak ada persiapan khusus.
2
Prinsip tes: asam hialuronat dalam cairan sendi menentukan viskositas
cairan.
3
Alat : spoit atau semprit tanpa jarum.
Analitik
~ Cara kerja :
Isap sampel ke dalam spoit atau semprit tanpa jarum.
Teteskan sampel ke luar dari spoit tersebut . Ukur panjang tetesan.
2
Atau ambil sampel dengan jari telunjuk, rentangkan antara
jari telunjuk dan ibu jari. Hitung panjang rentangan. (2,5,6).
~ Nilai rujukan : panjangnya tanpa putus 4-6 cm disebut viskositas tinggi.
(5,6)

Pasca analitik
Interpretasi :
septik

Viskositas tinggi non inflamatorik


Viskositas menurun (<4 cm) inflamatorik akut dan
Viskositas bervariasi hemoragik.

(5,6)

Karena tes yang abnormal dijumpai juga pada berbagai artritis, maka tes
ini tidak dapat dipakai untuk diagnosis banding. (2,5,6,)
~ Tes mucin
3
0
1
2
3

Pre analitik
Persiapan pasien : tidak dibutuhkan persiapan khusus.
Persiapan sampel : tidak ada persiapan khusus.
Prinsip tes : asam asetat dapat membekukan asam hialuronat dan protein.
Alat dan bahan :
0
tabung reaksi
pengaduk
aquades
asam asetat glacial
asam asetat 7 N

Analitik
Cara kerja :
Buatlah larutan asam asetat 7 N dari 40,8 ml asam asetat glasial
dan 100 ml air.
Ke dalam satu tabung reaksi terlebih dulu dimasukkan 4 ml
aquades, kemudian tambahkan 1 ml cairan sendi dan tambahkan
lagi 1 tetes larutan asam asetat 7 N.
Aduklah kuat-kuat dengan pengaduk yang terbuat dari gelas.
Bacalah hasil reaksi segera setelah diaduk. (5,6)

Nilai rujukan :
Mucin baik
jernih.
Pasca analitik

: normal terlihat satu bekuan kenyal dalam cairan

~ Interpretasi :
Mucin sedang
: jika
bekuan
kurang
kuat
dan
tidak
mempunyai batas
tegas dalam cairan jernih. Misalnya
pada RA.
Mucin jelek : jika bekuan yang terjadi berkeping-keping dalam
cairan keruh, misalnya karena infeksi. (5,6)
B. TES MIKROSKOPI
0

Jumlah lekosit.

Preanalitik
~ Persiapan pasien : tidak dibutuhkan persiapan khusus.
~ Persiapan sampel :. Cairan pengencer Turk tidak dapat dipakai
karena asam asetat dalam larutan Turk dapat menyebabkan mucin
membeku (presipitasi asam hialuronat), sel bertumpuk dan jumlah
sel yang palsu. Sampel diencerkan dengan NaCl 0,9% atau metilen
biru dalam NaCl 0,9% untuk cairan yang jernih. Jika cairan sendi
terlalu kental kemungkinan sulit untuk dipipet, maka sampel harus
diencerkan dengan buffer hialuronidase. Caranya 2 ml cairan sendi
diinkubasikan dengan 150 IU hialuronidase selama 1 jam pada suhu
370C. Bila cairan sendi banyak mengandung eritrosit, maka
digunakan HCl 0,1% atau saponin 1%, karena cairan ini dapat
melisiskan eritrosit. (1,5,6)
~ Prinsip tes : Sampel diencerkan dan dimasukkan ke dalam kamar
hitung
(hemositometer);
dengan
memperhitungkan
faktor
(5)
pengenceran, jumlah lekosit dalam darah dapat diketahui.
~
0
1
2
3
4

Alat dan bahan :

Larutan NaCl 0,9%


Kamar hitung Improved Neubauer
Piper lekosit, selang pengisap
Mikroskop
Kaca objek dan kaca penutup.
Analitik
~ Cara kerja :

Isap sampel ke dalam pipet lekosit sampai tanda 0,5.


Isap larutan NaCl 0,9% sampai tanda 11, kocok isi pipet beberapa menit
agar isi pipet tercampur baik. Setelah itu buanglah 4-5 tetes isi pipet.
2
Siapkan kamar hitung dengan kaca penutup di atasnya.
3
Teteskan isi pipet pelahan-lahan ke dalam kamar hitung.
1

Hitung jumlah lekosit yang tampak dalam 4 kotak besar dengan menggunakan lensa 10x. Hasilnya dikali 50. (5,6)
~ Nilai rujukan
Pasca analitik

: jumlah lekosit <200/mm3.

Interpretasi :
0
jumlah lekosit 200-500/mm3 pada penyakit non inflamatorik (penyakit
degeneratif).
1
jumlah lekosit 2.000-100.000/mm3 kelompok inflamatorik akut.
~ artritis gout akut : jumlah lekosit 750-45.000/mm 3, rata-rata
13.500/mm3.
~ faktor rematoid : jumlah lekosit
300-98.000/mm 3, rata-rata
17.800/mm3
~ artritis rematoid : jumlah lekosit 300-75.000/mm 3, rata-rata
15.500/mm3.
0
jumlah lekosit 20.000-200.000/mm3 kelompok septik (infeksi).
~ artritis TB : jumlah lekosit 2.500-105.000/mm 3, rata-rata
23.500/mm3.
~ atritis gonore : jumlah lekosit 1.500-108.000/mm 3, rata-rata
14.000/mm3.
~ atritis septik : jumlah lekosit 15.600-213.000/mm3, rata-rata
65.400/mm3.
1
jumlah lekosit 200-10.000/mm3 kelompok hemoragik. (5,9)
1

Mofologi dan hitung jenis

a. Preanalitik

0
1
2
3
4
5

~ Persiapan pasien : tidak dibutuhkan persiapan khusus.


~ Persiapan sampel : sampel harus diperiksa paling lambat 1 jam
setelah pengambilan untuk mencegah distorsi sel dan degenerasi
sel yang ada.. Sampel dapat langsung dari cairan aspirasi atau dari
sedimen cairan sendi yang telah disentrifus (paling baik). (1)
~ Prinsip tes : cairan sendi diapuskan di atas kaca objek kemudian
diwarnai.
~ Alat dan bahan :
Alat sentrifus
Kaca objek
Metil alkohol
Larutan Giemsa/ Wrigt/ May-Grunwald Giemsa (MGG)
Pengukur waktu
Mikroskop dan minyak imersi.(5,6)
Analitik

0
1

~ Cara kerja pewarnaan MGG :


Ambil cairan sendi yang telah disentrifus, apuskan di atas kaca objek
Biarkan mengering.
2
Fiksasi apusan tersebut dengan metil alkohol selama 5 menit
lalu buang kelebihan metil alkohol.

3
Tetesi sediaan apus dengan larutan May Grunwald 1-2
menit.
4
Tambahkan larutan buffer pH 6,4 , diamkan 3 menit.
5
Buang sisa larutan.
6
Warnai dengan larutan Giemsa yang sudah diencerkan
dengan buffer pH 6,4 dan dibiarkan 5-10 menit.
7
Cuci dengan air mengalir lalu keringkan.
8
Baca apusan di bawah mikroskop dengan pembesaran 100x
menggunakan minyak imersi.
~ Nilai rujukan : jumlah netrofil <25%.
c. Pasca analitik
Interpretasi :
0
1

jumlah netrofil <25% normal atau non inflamatorik


jumlah netrofil pada kelompok akut inflamatorik :
~ artritis gout akut : jumlah netrofil 48 94%, rata-rata 83%.
~ faktor rematoid : jumlah netrofil 8 89%, rata-rata 46%
~ artritis rematoid : jumlah netrofil 5 96%, rata-rata 65%.
0
jumlah netrofil pada kelompok septik (infeksi) :
~ artritis tuberkulosa
: jumlah netrofil 29 96%, rata-rata 67%.
~ artritis gonore
: jumlah netrofil 2 - 96% , rata-rata 64%.
~ artritis septik
: jumlah netrofil 75 100%, rata-rata 95%.
jumlah netrofil pada kelompok hemoragik : <50%. (1,5,9)
Sel lain yang dapat ditemukan :

0
Sel LE (lupus eritematosus) sering ditemukan pada penderita SLE (lupus
eritematosus sistemik) dan kadang-kadang juga ditemukan pada penderita
artritis rematoid.
1
Sel Reiter ditemukan pada penderita sindroma Reiter tapi tidak spesifik
karena ditemukan pada keadaan lain.
2
Sel RA (rheumatoid arthritis) adalah netrofil dengan benda inklusi yang
dapat dilihat dengan mikroskop fase kontras.
Walaupun ditemukan pada 95% penderita RA, sel ini tidak spesifik
karena dapat ditemukan juga pada pirai atau artritis lain. (5,9)
2

Kristal-kristal
Pre analitik
~ persiapan pasien : tidak diperlukan persiapan khusus.
~ persiapan sampel : sampel disentrifus terlebih dahulu, sampel tidak
boleh menyusun bekuan, oleh karena itu harus segera diperiksa setelah
pengambilan.
~ prinsip tes : jenis kristal tergantung jenis kelainan.
~ Alat/bahan :
0
Kaca objek dan kaca penutup
1
Sentrifus
2
Mikroskop

Analitik
0

Cara kerja :
Satu sampai dua tetes cairan sendi yang telah disentrifus ditaruh
diatas kaca objek dan segera tutup dengan kaca penutup. Periksalah
segera dengan mikroskop biasa atau lebih baik dengan mikroskop
polarisasi. (1,5)

Nilai rujukan : tidak ditemukan kristal dalam cairan sendi.


c. Pasca analitik

Interpretasi :
kristal monosodium urat (MSU) ditemukan pada artritis gout.
1
calcium pyrophosphate dihydrate (CPPD) yang ditemukan pada kondrokalsinosis (pseudogout).
2
calcium hydroxyapatite (HA) terdapat pada calcific periarthritis dan
tendenitis.
3
kristal kolesterol ditemukan pada artritis rematoid (2,6,9,10).
0

C.

TES KIMIA

Tes glukosa
Tes glukosa darah dilakukan bersamaan dengan tes glukosa cairan sendi.
0

Pre analitik

(6,9)

Preanalitik dan analitik tes glukosa pada serum dan cairan sendi adalah
sama.
4
Persiapan pasien : pasien harus berpuasa 6-12 jam sebelum
pengambilan sampel.
5
Persiapan sampel : serum tidak boleh hemolisis, cairan sendi
disentrifus terlebih dahulu.
Metode : Heksokinase.
7
Prinsip
:
Larutan
kerja
(buffer/ATP/NADP/HKG-6-PDH)
ditambahkan ke dalam sampel dan akan terjadi reaksi :

Glukosa + ATP HK
G-6-P + ADP
Heksokinase mengkatalisis fosforilase glukosa menjadi glukosa-6fosfat oleh ATP.
G-6-P + NADP
8

0
1
2
3
4

G-6-PDH

glukonat 6-P + NADPH + H

Alat dan bahan :


Pipet mikro 50 l
Cup sample
Rak sampel
Cobas Mira
Reagen 1 : Buffer/ATP/NADP

5
6

Reagen 2 : Hk/G-6-PDH
Analitik

~ Cara kerja :
Masukkan 50 l sampel ke dalam cup sample , lalu letakkan dalam rak
sampel sesuai nomor pemeriksaan.
1
Tempatkan reagen pada rak reagen sesuai program tes glukosa.
2
Masukkan nomor identitas penderita dan program tes .
3
Pengukuran akan dilakukan secara otomatis.
4
Hasil tes akan keluar pada print out. ( 12)
~ Nilai rujukan : Perbedaan antara glukosa serum dan glukosa
cairan sendi
adalah <10mg%.(9)
Pasca analitik
0

Interpretasi :
Kelompok non inflamatorik : perbedaannya <10 mg%.
Kelompok inflamatorik :
~ arthritis gout akut perbedaannya 0 41 mg%, rata-rata 12
mg%.
~ faktor rematoid perbedaannya 6 mg%.
~ artritis rematoid perbedaannya 0 88 mg%, rata-rata 31
mg%.
Kelompok septik
:
~ artritis tuberkulosa perbedaannya 0 108 mg%, rata-rata
57 mg%.
~ artritis gonore perbedaannya 0 97 mg%, rata-rata 26 mg
%.
~ artritis septik perbedaannya 40 122 mg%, rata-rata 71
mg%.
Kelompok hemoragik perbedaannya < 25 mg%. (1,2,5,9 )
1

Enzim
Aktivitas enzim secara umum mempunyai nilai diagnostik yang kecil untuk
mengevaluasi efusi sendi. (1,2,3)

A. Laktat dehidrogenase (LDH)


0
1
2
3

0
0
1

Pre analitik
Persiapan pasien : tidak ada persiapan khusus.
Persiapan sample : tidak ada persiapan khusus
Metode : Kinetik UV
Prinsip tes :
Pyruvate + NADH + H+ L-Laktat + NAD+
NADH akan mengoksidasi secara langsung dengan bantuan
aktivasi LDH dan diukur dengan fotometer.
Alat/bahan :
Pipet mikro 50 l
Tabung mikro

2
Rak tabung
3
Reagen 1 berisi NADH 0,22 mol
4
Reagen 2 berisi Tris 89 mmol, Pyruvat 1,8 mmol, Sodium Ch/Na Ch 222
mmol, Sodium Azide <0,1%.
Analitik
~ Cara kerja :
5
Masukkan 50 l sampel ke dalam cup sample, lalu letakkan dalam rak
sampel sesuai nomor pemeriksaan.
6
Tempatkan reagen pada rak reagen sesuai program tes LDH.
7
Masukkan nomor identitas penderita dan program tes .
8
Pengukuran akan dilakukan secara otomatis.
9
Hasil tes akan keluar pada print out. (13)
~ Nilai rujukan : 100-190 U/L (13)
0 Pasca analitik
Interpretasi : Laktat dehidrogenase (LDH) meningkat pada RA, gout
dan artritis karena infeksi, tetapi tetap normal pada penyakit sendi
generatif. (2,9,11)
D. TES SEROLOGI
0

Tes Faktor Rematoid (RF)

Pre analitik
0
Persiapan pasien : tidak ada persiapan khusus
1 Persiapan sampel : gunakan sampel segar yang telah disentrifus
terlebih dahulu.
2 Prinsip tes : faktor rematoid dapat dideteksi dengan menggunakan
suspensi granul plastik yang dilapisi gamma globulin manusia dan
akan beraglutinasi jika ada faktor rematoid.
3 Alat dan bahan :
~ Stirrers
~ Agglutination slide
~ reagen lateks RA
~ Kontrol positif
~ Kontrol negatif
Analitik

Cara kerja (metode kualitatif) :

Kocok perlahan reagen lateks sampai partikel-partikelnya


tercampur.

Tempatkan 1 tetes sampel ke dalam lingkaran slide.

Tambahkan 1 tetes reagen lateks di samping tetesan sampel.

Campurkan secara merata sampel dan reagen lateks dengan


ujung pipet sampai batas lingkaran slide.

Goyangkan perlahan-lahan slide ke depan dan belakang


setiap 2 detik selama 2 menit.

Konfirmasi tes juga dengan kontrol positif atau


kontrol
negatif.

Lihat apakah ada aglutinasi yang terjadi atau tidak. (14)

10

Nilai rujukan : Aglutinasi +


: kadar RF 8 IU/ml
Aglutinasi - : kadar RF < 8 IU/ml

Pasca analitik
Interpretasi :

RF + : sekitar >60% ditemukan dalam cairan sendi atau serum


penderita AR.

Hasil positif palsu dapat ditemukan pada penyakit lain seperti SLE,
hepatitis, sirosis, limfoma, skleroderma dan penyakit karena infeksi.
(11,14)

Tes C- Reactive Protein (CRP) (15)

Pre analitik

~ Persiapan pasien : tidak ada persiapan khusus


~ Persiapan sampel : gunakan sampel segar yang telah disentrifus
terlebih dahulu.
~ Prinsip tes : reaksi aglutinasi terjadi akibat adanya inflamasi atau
nekrosis jaringan.
~ Alat dan bahan :
~ Stirrers
~ Agglutination slide
~ reagen lateks CRP
~ Kontrol positif
~ Kontrol negatif

Analitik
~ Cara kerja (metode kualitatif):

Kocok perlahan reagen lateks sampai partikel-partikelnya tercampur.

Tempatkan 1 tetes sampel ke dalam lingkaran slide.

Tambahkan 1 tetes reagen lateks di samping tetesan sampel.

Campurkan secara merata sampel dan reagen lateks dengan ujung pipet
sampai batas lingkaran slide.

Goyangkan perlahan-lahan slide ke depan dan belakang setiap 2 detik selama


2 menit.

Konfirmasi tes juga dengan kontrol positif atau kontrol negatif.

Lihat hasilnya, apakah ada aglutinasi atau tidak.


~ Nilai rujukan :
Aglutinasi +
: kadar CRP 6 mg/l
Aglutinasi - : kadar CRP < 6 mg/l

Pasca analitik
Interpretasi :

11

Aglutinasi +/kadarnya meningkat pada RA aktif (pada 70-80% penderita),


demam rematik, keganasan, infeksi virus, tuberkulosis, kerusakan jaringan,
inflamasi.(11,15)
1

Tes Antinuclear Antibodies (ANA)

(16)

Pre analitik
Persiapan pasien : tidak diperlukan persiapan khusus
1 Persiapan sampel : Larutkan semua sampel, kalibrator, kontrol positif dan
kontrol negatif 1:40 yaitu dengan menambah 10 l
sampel dengan 400 l larutan pengencer.
2 Prinsip tes : Antigen murni terdapat pada microwells. Jika ada antibodi
ANAs dalam sampel, maka akan terikat pada microwells .
Pencucian microwells akan melepaskan antibodi yang tidak
terikat. Horseradish peroksidase conjugated anti-human IgG
akan berikatan dengan antibodi yang te-lah terikat tadi
membentuk enzyme conjugate antibody antigen
sandwich. Pencucian microwells melepaskan conjugated yang
tidak terikat. Conjugated
akan menghidrolisa
larutan
substrat yang telah ditambahkan dan akan membentuk warna
biru.

3
0
1
2
3
4
5
6
7

Alat dan bahan :


Microplate reader
Microplate washer
Pipet mikro 10l dan 100 l
Graduate cylinders 1 dan 4 L
Tabung tes 1, 4, 5 ml
Film plastik
Deiodinized water
Reagen :
~ Sumur-sumur reaksi (microtiter wells yang dilapisi nuclear
antigen murni)
~ Pengencer sampel (buffer dengan <0,1% sodium azide)
~ Kalibrator (serum manusia dengan antibodi ANA)
~ Kontrol set (serum positif dan negatif manusia terhadap
antibodi ANA)
~ Conjugated (Anti-human IgG horseradish peroxidase
conjugate kambing dalam larutan buffer)
~ Substrat TMB dalam buffer
~ Stop solution (mengandung sulfur dan asam hidroklorik)
~ Wash concentrate (buffer)
0

Analitik

~ Cara kerja :
0
Semua ragen dan sampel di tempatkan pada suhu ruangan (18-25 0C)
sebelum tes dimulai. Pasang angka microwells sesuai yang diinginkan ke dalam
strip holder.

12

1
Pipet 100 l larutan pengencer sampel ke dalam sumur pertama sebagai
blanko. Pipet 100 l kalibrator, kontrol dan sampel pasien yang telah diencerkan
ke dalam sumur-sumur yang telah ditentukan. Ketuk perlahan-lahan wadahnya.
Tutupi piring dengan film plastik dan inkubasi selama 30 menit pada suhu 18-25 0
C.
2
Buang isi sumur-sumur dan cuci 5 kali dengan 200 l larutan pencuci.
Keringkan seluruhnya setiap selesai pencucian.
3
Tambahkan 100 l conjugated pada setiap sumur. Ketuk perlahan-lahan
wadahnya. Tutupi wadah dengan film plastik dan inkubasi selama 30 menit pada
suhu 18-250 C.
4
Buanglah isi sumur-sumur dan cuci 5 kali dengan 200 l larutan pencuci.
Keringkan seluruhnya setiap selesai pencucian.
5
Tambahkan 100 l substrat pada setiap sumur. Ketuk perlahan-lahan
wadahnya. Tutupi wadah dengan film plastik dan inkubasi selama 30 menit pada
suhu 18-250 C.
6
Segera setelah inkubasi, tambahkan 100 l stop solution pada masingmasing sumur. Campur reagen tersebut dengan cara mengetuk-ngetuk secara
perla-han wadahnya.
7
Dengan panjang gelombang 450 nm, nolkan reader terhadap sampel
diluent blank (densitas optikal {OD} sampel diluent blank harus kurang dari 0,20
OD). Nilai harus dibaca dalam waktu 30 menit setelah penambahan stop solution.
Kalkulasi hasil :
Menentukan jumlah ANA pada sampel pasien, digunakan
rumus :
OD sampel
= jumlah ANA
OD kalibrator
~ Nilai rujukan :
Jumlah ANA <1 : negatif
Jumlah ANA >1 : positif
Pasca analitik
Interpretasi :
Jumlah ANA >1 : >70% ditemukan dalam cairan sendi
penderita SLE dan > 20% pada penderita RA.
E. TES MIKROBIOLOGI
Tes ini dilakukan bila ada dugaan kelainan sendi disebabkan infeksi,
misalnya artritis gonoroika atau artritis tuberkulosa. Tes mikroskopik
dilakukan dengan pewarnaan gram atau dengan pewarnaan asam lainnya.
Jika hasilnya positif dilanjutkan dengan tes kultur untuk konfirmasi. (2)
Pewarnaan Gram
0

Pre Analitik

(17)

13

0
1

Persiapan pasien : tidak diperlukan persiapan khusus.


Persiapan sampel : sampel ditempatkan dalam tabung yang steril tanpa
antikoagulan.
2 Prinsip : bakteri akan menyerap zat warna tertentu yaitu kristal violet.
Dengan penguatan lugol, bakteri Gram positif akan tetap mengikat wana
ungu meskipun ada penambahan alkohol dan fuschin/safranin, sedangkan
bakteri Gram negatif akan melepaskan warna ungu dengan adanya
penambahan alkohol dan akan mengikat safranin atau fuchsin menjadi
warna merah.
Alat/bahan :
0 Gelas objek
1 Minyak imersi
2 Mikroskop
3 Rak pewarnaan
4 Bunsen
Reagen :
~ Gentian violet
~ Gram Iodine/lugol
~ Larutan Safranin/Fuschin
~ Aceton(alkohol 96%)

Analitik (17)
Cara kerja
0
Buatlah sediaan di atas kaca objek, keringkan pada suhu kamar dan
panaskan di atas api 3-4 menit. Dinginkan.
1
Letakkan sediaan di atas rak pewarnaan.
2
Tuang larutan gentian violet di atas sediaan. Diamkan selama 1 menit.
3
Cuci sediaan dengan air, tuangi dengan larutan Gram iodine/lugol.
Diamkan selama 1 menit.
4
Cuci dengan aceton/alkohol 96% hingga warna gentian violet menghilang.
5
Segera cuci dengan air.
6
Kemudian tuangi sediaan larutan safranin/fuschin. Diamkan selama 30
detik.
7
Cuci dengan air dan keringkan di udara.
8
Setelah kering lihat di bawah mikroskop pembesaran 100 x menggunakan
minyak emersi.
Hasil : Gram positif (+) : bakteri akan berwarna ungu, bentuknya jelas
(batang
atau kokus)
Gram negatif (-) : bakteri akan berwarna merah, bentuknya jelas
(batang
atau kokus).
2
Pasca Analitik (9,17)
Interpretasi : - Artritis tuberkulosa ditemukan bakteri bentuk batang
yang berwarna ungu.
- Artritis gonore ditemukan bakteri bentuk kokus berwarna
merah.

14

Pewarnaan Tahan Asam/Acid fast Staining


Pre Analitik

(17)

~
~
~
~

Persiapan pasien : Tidak dibutuhkan persiapan khusus


Persiapan sampel : Tidak dibutuhkan persiapan khusus
Prinsip tes : kuman akan mengambil warna sesuai sifatnya
Alat/bahan :
- Gelas objek
- Rak pewarnaan - Kaca objek
- Minyak imersi
- Bunsen
- Mikroskop
- Sengkelit
Reagen :
~ Larutan Ziehl Neelsen
~ Alkohol asam
~ Metilen biru 0,1%
~ Aquades
Analitik (17)
Cara Kerja :

0
Siapkan kaca objek.
0
Ambil satu tetes aquades steril, letakkan di atas kaca objek.
0
Ambil 1 sengkelit (subkultur), oleskan di atas aquades secara merata.
0
Keringkan pada suhu kamar.
0
Panaskan di atas nyala api.
0
Warnai dengan larutan Ziehl Neelsen, panaskan sampai timbul uap, jangan
sampai mendidih dan biarkan dingin selama 5 menit.
0
Cuci dengan air mengalir.
0
Hilangkan warna dengan alkohol asam sampai tidak ada warna.
0
Cuci bersih dengan air mengalir.
0
Tuangi dengan Methylen Blue 0,1% selama 10-20 detik.
0
Cuci dengan air.
0
Keringkan dan lihat di bawah mikroskop dengan pembesaran 100x
menggunakan minyak imersi.
0

Nilai rujukan: Basil tahan asam (positif) : Basil terlihat bewarna merah.
Basil tidak tahan asam
: Badan basil akan berwarna
biru.
Pasca analitik
Interpretasi :
Pada artritis septik, baik pewarnaan gram atau kultur, hasilnya
sering negatif. Pada artritis gonoroika, hasilnya 50% negatif dengan
pewarnaan gram dan 75% negatif dengan kultur. (5)
Untuk menghindari hasil negatif perlu dilakukan inokulasi langsung hasil
aspirasi cair-an sendi ke dalam media tertentu yang telah disiapkan. (5)

15

Karena pemeriksaan cairan sendi saja hasilnya dapat bervariasi, maka dalam
keadaan sukar atau meragukan selain pemeriksaan fisik, diperlukan pemeriksaan
tambahan seperti pemeriksaan radiologi, artroskopi dan USG. Dianjurkan agar tes
cairan sendi dilakukan sebelum terapi dimulai atau bila telah diterapi, maka
pemeriksaan dilakukan setelah terapi dihentikan. (1,5)

******

ALGORITMA ANALISIS CAIRAN SENDI

CAIRAN SENDI

tabung 1

Makroskopik
Bakteriologi

tabung 2

Mikroskopik

tabung 3

Kimia

tabung 4

Imunologi

HASIL

Warna
tidak berwarna kuning muda kuning keruh
kuning keruh
merah/xantokrom
Kejernihan transparan
transparan
transp opaq transp opaq
transp - opaq
Volume
<3,5 ml
sering>3,5 ml sering>3,5 ml
sering >3,5 ml
sering >3,5 ml
Gumpalan negatif
negatif
dapat +
dapat +
negatif
Viskositas
tinggi
tinggi
menurun
menurun
bervariasi
Mucin
baik
baik
cukup-jelek
jelek
bervariasi
Lekosit
<200
200 500
2.000 - 100 rb
20 rb-200 rb
20010.000
Netrofil
<25%
<25%
>50%
>75%
>50 %
Glukosa
<10
<10
<25
<25-60
<10-25

16

Kultur
negatif

negatif

Normal

negatif

Non Infl.

negatif

Inflamatorik

Peny. Sd. Deg.


Artritis Traumatik
Osteoartritis
Art.Traumatik
SLE
Neuroartropati
Peny.Sd.Neurogen

RA, AS
TBA,SC
RF, AGA
SLE,RS

Septik

TBA
SVP
GA

positif

Hemoragik

Hemofilia
Neoplasma

SA

Inf.Jamur

Keterangan :
+
= positif
AGA
G.A = Artritis gonore
SA
SLE = Lupus eritematosus sistemik SVP
pigmentasi
RA
= Artritis Rematoid
TBA
RF
= Faktor Rematoid
RS
SC
= Scleroderma
KEPUSTAKAAN

= Artritis gout akut = Pseudogout


= Artritis septik
=
Sinovisitis
vilomedularis
= Artritis tuberkulosa
= Sindroma Reiter
AS
= Ankylosing Spondilytis

1. Ringsrud M.K, Linne J.J : Synovial Fluid Analysis in Urinalysis and Body Fluids,
Mosby A Hartcourt Health Sciences Company, 1995 : 191-201.
2. Smith P.G, Kjeldsberg R.C. : Cerebrospinal, Synovial and Serous Body Fluids in
Henrys Clinical Diagnosis and Management by Laboratory Methods, W.B.
Saunders Company, Ed 19, 1996 : 467-471.
3. Mukherjee K.L., Narang B.S, Reynolds T. :
Laboratory Examination of
Miscellaneous Body Fluid in Medical Laboratory Technology, Vol II, 1998 : 865569.
4. Young S.D, Bermes E. : Specimen Collection and Processing : Sources of
Biological Variation in Tietz Fundamentals of Clinical Chemistry, 2 nd ed, W.B.
Saunders Company, 1996 : 4.
5. Cairan Tubuh : Diktat Kuliah : Cairan Sinovia, Bagian Patologi Klinik Fakultas
Kedokteran UNHAS, 1999 :14-23.
6. Gandasoebrata R. : Penuntun Laboratorium Klinik, Penerbit Dian Rakyat,
Jakarta, 1999 : 154-157.
7. Albar Z. : Teknik Penyuntikan Intra Artikuler dalam Temu Ilmiah Reumatologi
2000, 2000 : 27-29.
8. Hoffman S.G., Reginato J.A. : Artritis akibat pengendapan kristal kalsium
dalam Harrisons Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam, Ed 13, Vol 4, Penerbit
Buku Kedokteran EGC, 1999 : 1892-1895.
9. Wallach J. : Diseases of Joints in Interpretation of Diagnostic Test, Lippincott
Raven Publisher, 1998, pp : 164 166.

17

10.Kasjmir Y. : Diagnosis dan Penatalaksanaan Artropati Kristal dalam Temu


Ilmiah Reumatologi 1999, 1999 : 62-63.
11.Lakare C.H., Pakasi R. : Pemeriksaan Patologi Klinik Sebagai Suplemen Bagi
Diagnosis Klinik Penyakit Rematik dalam Lontara Majalah Universitas
Hasanuddin, No.14, 1983, 36-49.
12.Manual Roche Diagnostic System, Unimate Glukosa.
13.Manual Roche Diagnostic System, Unimate LDH.
14.Antec Diagnostic Laboratory, RA LATEX Test Kit.
15.Antec Diagnostic Laboratory, CRP LATEX Test Kit.
16.Microplate Autoimmune ANA Screen, Bio-Rad Laboratories
17.Standard Operating Procedure in Microbiology, Laboratorium Kesehatan,
2000 : hal 148.

PERJAN RUMAH SAKIT Dr. WAHIDIN SUDIROHUSODO

UNIT PELAYANAN LABORATORIUM


Jl. Perintis Kemerdekaan Km.11 Tamalanrea. Telp (0411) 584677 psw.127 /13, MAKASSAR
Nama
:
No. Rek. Med :
Umur/Sex
:
No.Kunjungan
:
Ruangan/Poli :
Dokter
:
Tanggal
:
Keterangan Klinik :
Hasil Analisis Cairan Sendi
Nilai rujukan
0
0
1
2
3
4

TES MAKROSKOPIK
Warna
:
Kejernihan
:
Bekuan
:
Viskositas
:
Mucin
:

1
0
1
0
1
0
1

TES MIKROSKOPIK
Hitung lekosit :
Hitung jenis lekosit
PMN :
MN
:
Sel-sel lain
:
Kristal-kristal :

( tidak berwarna )
( jernih )
( tidak ada )
( 4-6 cm )
( bekuan kenyal )
( lekosit <200/mm3 )
( <25% )
( tidak ada )
( tidak ada )

3. TES KIMIA

18

0
0
1

Glukosa darah:
Glukosa c. sendi
LDH
:

( <200 mg% )
(<10 mg% dari gluk.darah)
( 100-190 U/L )

4. TES SEROLOGI
0
R.F.
:
1
ANA
:
2
CRP
:

( < 8 IU/ml)
( negatif )
( < 6 mg/l )

5. TES MIKROBIOLOGI
0
Gram :
1
Kultur :

( negatif )
( negatif )

6. KESIMPULAN

7. SARAN

:
Makassar,

Penanggung jawab klinis,

(Dr.Hj.Adriani Badji, SpPK)


NIP : 140 222 264

200

Analis,

(............... ....)

19