Anda di halaman 1dari 7

Penularan dan Pencegahan Hepatitis B pada Ibu Hamil terhadap Bayinya

Pebriyanti Salipadang
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510
email : pebribebe@gmail.com
Abstrak
Hepatitis adalah peradangan pada hati yang mengalami nekrosis berupa bercak difus yang
memengaruhi seluruh sel asinus hati dan merusak arsitektur hati. Penyakit hepatitis merupakan salah
satu penyakit yang tergolong berbahaya dan dapat berakibat fatal bagi penderitanya. Penyakit
hepatitis, memiliki tujuh jenis hepatitis. Dari ketujuh jenis tersebut, hepatitis B adalah salah satu tipe
hepatitis yang berbahaya. Penyakit ini lebih sering menular dibandingkan hepatitis jenis lainnya.
Virus hepatitis B 100 kali lebih infeksius, yakni lebih berpotensi menyebabkan infeksi dibandingkan
virus HIV karena masa tunasnya cukup pendek, yaitu sekitar 3 bulan. Penularan VHB digolongkan
menjadi dua cara, yaitu penularan horizontal dan penularan vertikal. Cara penularan horizontal terjadi
dari seorang yang mengidap infeksi VHB kepada individu yang masih rentan disekelilingnya.
Penularan vertikal virus hepatitis B dari ibu ke bayinya terjadi selama proses kehamilan, saat
melahirkan atau setelah melahirkan bahkan dapat menular melalui menyusui. Besar kecilnya resiko
tertular VHB tergantung dua hal. Pertama, faktor status infeksi VHB (akut atau kronis) dan kedua,
apakah status penyakit yang diderita ibu merupakan hepatitis carrier atau kronis aktif. Oleh karena itu,
penderita hepatitis B yang tengah mengandung harus segera diberikan vaksinasi hepatitis B, langkah
ini justru aman dan tidak akan membahayakan janin.
Kata kunci: hepatitis B, penularan, pencegahan

Abstract
Hepatitis is inflammation of the liver which is having necrotic in the form of diffuse patches which
impact the entire acini cells liver and destroys the liver architecture. Hepatitis is a disease that
classified as one of a dangerous case and can be fatal for the sufferer. The disease has seven type of
it. By the seven type, Hepatitis B is one of the dangerous type of Hepatitis itself. Moreover, the
Hepatitis B is the most contagious compare to the other type. The virus of it is a hundred times more
infectious, which is more potentially causing an infection rather than HIV virus because of the sprout
period is quite short, about three months. There are two ways the Hepatitis B virus can spread, the
horizontal and the vertical contagious. Thru the person who has Hepatitis B virus to an individual
that very susceptible with their environment, this case called the horizontal. The vertical can happen
when a pregnant mother bringing the Hepatitis B virus, contagious the baby during the process of
pregnancy, after giving birth or during breastfeeding. The possibility of risk to get infection depends
on two things. The first is infection status factor of the Hepatitis B virus (chronic or acute) and the
second is, what the disease status that suffered by the mother, whether its carrier or chronic active.
Therefore, the pregnant patient carrying the Hepatitis B virus should immediately vaccinated and it
wont threat the fetus and very safe for the mother.
Keyword: Hepatitis B

Pendahuluan
Hepatitis virus merupakan masalah kesehatan utama di negara yang sedang
berkembang dan negara maju. Penemuan baru dalam bidang biologi molekuler telah
membantu identifikasi dan pemahaman patogenesis lima virus yang sekarang diketahui
menyebabkan hepatitis sebagai manifestasi primernya. Virus hepatotropik ini diberi nama
hepatitis A, B, C, D, dan E. Banyak virus yang dapat menyebabkan hepatitis sebagai bagian
dari spektrum klinisnya termasuk herpes simpleks, sitomegalovirus, imunodefisiensi, rubella,
adenovirus, enterovirus, dan arbovirus. Lima hepatitis virus merupakan kelompok virus
heterogen yang menyebabkan penyakit klinis akut yang serupa. Hepatitis A, C, D dan E
adalah virus RNA yang mewakili empat famili yang berbeda dan hepatitis B adalah virus
DNA. Hepatitis A dan E tidak termasuk dalam kategori yang kronis, ini dikarenakan virus
hepatitis A dapat menghilang dengan sendirinya setelah beberapa minggu, sedangkan
hepatitis E menyebabkan penyakit akut namun tidak menyebabkan infeksi kronis dan secara
umum penderitanya bisa sembuh tanpa jangka panjang. Tetapi berbeda dengan hepatitis B, C,
dan D yang menyebabkan morbiditas dan mortalitas penting melalui infeksi kronis dan
hepatitis B adalah jenis hepatitis yang berbahaya serta dapat berakibat fatal bagi
penderitanya.1
Hepatitis juga merupakan suatu infeksi virus hati, salah satu dari infeksi yang paling
serius yang dapat terjadi selama masa kehamilan. Dokter kemungkinan akan memeriksa
terhadap antibodi hepatitis pada masa awal kehamilan. Hepatitis B (HBV) biasa disebut
hepatitis serum, yang ditularkan atau transmisi melalui darah transfusi, semen, getah vagina,
dan air liur yang mengandung virus DNA dikelompokkan sebagai penyakit menular seksual.
Memiliki masa tunas yang lama, antara 1 dan 7 bulan dengan awitan rata-rata 1-2 bulan.
Stadium akut dari suatu infeksi aktif dapat berlangsung sampai 2 bulan. Sekitar 5-10% orang
dewasa yang terjangkit HBV akan mengalami hepatitis kronis dan terus mengalami
peradangan hati selama lebih dari 6 bulan. Hepatitis kronis nekrosis hati, sirosis, gagal hati,
dan kematian. Individu yang terinfeksi HBV juga dapat menjadi pembawa yang menetap
sehingga dapat menularkan penyakitnya tanpa memperlihatkan gejala sakit. Individu yang
terinfeksi selama masa bayi dan memiliki daya tanggap imun rendah terutama cenderung
menjadi pembawa.2,3

Sekitar 10% hepatitis B menahun berkembang menjadi kanker hati. Di Indonesia ada
6-8% orang yang mengidap virus hepatitis B. Tingginya angka penderita ini kemungkinan
disebabkan ketidaktahuan masyarakat tentang penyakit dan cara-cara penularannya.4

Isi
Penyakit hepatitis, memiliki tujuh jenis hepatitis. Dari ketujuh jenis tersebut, hepatitis
B adalah salah satu tipe hepatitis yang berbahaya. Penyakit ini lebih sering menular
dibandingkan hepatitis jenis lainnya. Hepatitis B menular melalui kontak darah atau cairan
tubuh yang mengandung virus hepatitis B (VHB). Hepatitis B biasa disebut hepatitis serum.
Hepatitis B juga dapat menyebabkan penyakit hati, pada wanita hamil, penyakit ini biasanya
bertabah parah karena terjadinya kerusakan sel-sel hati yang meluas sehingga akan
menyebabkan rasa sakit yang sangat hebat dan meningkatkan angka kematian ibu dan
janinnya.5,6
Virus hepatitis B pertama kali ditemukan oleh Blumberg beserta kawan-kawannya
pada tahun 1965 yang melakukan penelitian untuk mencari antibodi yang timbul terhadap
suatu lipoprotein. Mereka mendapatkan suatu antibodi pada 2 orang penderita hemofilia yang
sering mendapat transfusi darah bereaksi dengan suatu antigen yang didapatkan dari
seseorang aborigin Australia. Pada waktu itu, ditemukan bahwa antigen tersebut didapati
pada 20% penderita hepatitis virus. Antigen ini dulu dinamakan antigen Australia dan
sekarang menjadi HbsAg. Pada tahun 1970, Dane dkk melihat untuk pertama kalinya di
bawah mikroskop elektron partikel HbsAg dan partikel virus hepatitis B (VHB) utuh yang
kini dinamakan partikel Dane. Virus hepatitis B stabil dalam darah, plasma, dan serum, serta
dapat bertahan lama di luar tubuh manusia dalam berbagai tingkat kelembapan udara dan
temperatur yang tinggi. Virus hepatitis B sangat menular, bahkan 100 kali lebih menular
dibandingkan virus HIV.7,8
VHB adalah anggota famili hepadnavirus, seseorang dapat saja mengidap VHB, tetapi
tidak disertai dengan gejala klinik ataupun tidak nampak adanya kelainan dan ganggguan
kesehatan. Orang tersebut merupakan pembawa atau sering disebut carrier. Virus hepatitis B
100 kali lebih infeksius, yakni lebih berpotensi menyebabkan infeksi dibandingkan virus HIV
karena masa tunasnya cukup pendek, yaitu sekitar 3 bulan. Virus ini ditemukan di dalam
darah, air ludah, air susu ibu, cairan sperma, atau vagina penderita. 1,5
3

Penularan hepatitis B lebih sering terjadi pada seseorang di usia produktif, yaitu umur
15-64 tahun. Penularan hepatitis B terjadi melalui kontak dengan darah, cairan tubuh,
maupun material lain yang terinfeksi seperti jarum suntik, alat-alat bedah, dan alat-alat dokter
gigi. Penularan hepatitis B juga dapat terjadi pada bayi yang dilahirkan dari ibu yang
menderita hepatitis B. VHB juga dapat ditemukan pada cairan vagina dan sperma maka
penularan dapat terjadi melalui hubungan seksual maupun pada saat proses persalinan.
Penularan VHB digolongkan menjadi dua cara, yaitu penularan horizontal dan penularan
vertikal. Cara penularan horizontal terjadi dari seorang yang mengidap infeksi VHB kepada
individu yang masih rentan disekelilingnya. Penularan horizontal dapat terjadi melalui kulit
atau melalui selaput lendir, sedangkan penularan vertikal terjadi dari seorang pengidap yang
hamil kepada bayi yang dilahirkannya. Penularan melalui kulit ada 2 macam, yaitu penularan
melalui kulit yang disebabkan tusukan yang jelas misalnya melalui suntikan, transfusi darah
atau pemberian yang berasal dari darah, dan tato. Kelompok kedua adalah penularan melalui
kulit tanpa tusukan yang jelas, misalnya masuknya bahan infektif melalui goresan atau abrasi
kulit, dan radang kulit. Penularan melalui selaput lendir yang dapat menjadi tempat masuk
infeksi VHB adalah selaput lendir mulut, mata, hidung, saluran makanan bagian bawah dan
selaput lendir genitalia. Penularan vertikal dari ibu hamil kepada bayi yang dilahirkannya
dapat terjadi pada masa sebelum kelahiran atau prenatal (inutero), selama persalinan atau
perinatal dan setelah persalinan atau postnatal. Penularan yang terjadi pada masa perinatal
dapat terjadi melalui cara maternofetal micro infusion yang terjadi pada waktu terjadi
kontraksi uterus, tertelannya cairan amnion yang banyak mengandung VHB serta masuknya
VHB melalui lesi yang terjadi pada kulit bayi waktu melalui jalan lahir. Berbagai penelitian
epidemiologik yang pernah dilakukan di Indonesia mengesankan bahwa penularan vertikal
ataupun penularan horizontal memegang peranan yang sangat penting. Dalam suatu
penelitian yang dilakukan di Kota Matara, Lombok pada tahun 1988 didapatkan bahwa 51
anak yang HBsAg positif, HBsAg hanya didapatkan pada 25,4% dari ibu-ibu kandungnya.
Hal ini menunjukkan bahwa hampir 75% anak-anak HBsAg positif tersebut mendapat
penularan horizontal. Walaupun jumlah anak pengidap HBsAg yang mendapat penularan
vertikal jauh lebih kecil dari anak-anak yang mendapat penularan horizontal namun dalam hal
ini peran infeksi VHB vertikal sangat penting. Karena penularan vertikal akan menciptakan
anak-anak HBsAg positif yang sanga infeksius dan menjadi fokus penularan horizontal
selanjutnya. 5,8

Penularan secara vertikal virus hepatitis B dari ibu ke bayinya terjadi selama proses
kehamilan, saat melahirkan atau setelah melahirkan bahkan dapat menular melalui menyusui.
Pada masa kehamilan ibu menularkan VHB melalui tali pusat (plasenta) atau karena bayi
meminum air ketuban di dalam kandungan ibu (cairan amnion). Pada saat proses persalinan,
penularan VHB dari ibu ke bayi terjadi karena adanya faktor perlukaan yang dialami janin
saat melalui liang peranakan ibu (vagina). Virus yang berada di tubuh ibu dengan mudah
berpindah tempat melalui perlukaan yang diderita bayinya. Sementara, penularan setelah
melahirkan dapat terjadi melalui kontak erat ibu dan anak, misalnya perlukaan pada puting
ibu karena gigitan anaknya saat menyusui. Anak yang terlepas dari penularan secara vertikal
masih berpeluang terinfeksi secara horizontal. Besar kecilnya resiko tertular VHB tergantung
dua hal. Pertama, faktor status infeksi VHB (akut atau kronis) dan kedua, apakah status
penyakit yang diderita ibu merupakan hepatitis carrier atau kronis aktif. Dalam sebuah studi
di Kalifornia terhadap para ibu hamil yang menderita hepatitis akut, resiko penularan VHB
sangat jarang terjadi pada masa 3 bulan pertama kehamilan (trimester I), menjadi 6% saat
kehamilan 4-6 bulan berikutnya (trimester II), menjadi 67% saat kehamilan bulan ke 7-9
(trimester III) dan yang paling berisiko adalah 5 minggu setelah melahirkan, yaitu mencapai
100%. Pada ibu yang menderita hepatitis carrier (HBsAg positif, HBeAg negatif), resiko
anak tertular sekitar 10%. Sementara, bila ibu berstatus menderita hepatitis B kronis aktif
(HBsAg positif, HBeAg positif, jumlah virus di dalam darah sangat tinggi), resiko anak
tertular dan nantinya akan menderita hepatitis kronis mencapai 80-90%. Melihat begitu besar
resiko bayi tertular VHB maka menjadi kewajiban ibu secara perorangan dan tanggung jawab
pemerintah untuk memberikan prioritas vaksinasi pada bayi baru lahir.9
Mengingat begitu besar resiko penularan VHB dari ibu ke bayi, sangatlah penting
untuk melakukan upaya pencegahan. Langkah yang ditempuh adalah melalui pemeriksaan
serologi HbsAg secara rutin terhadap ibu hamil. Dengan diketahuinya status HBsAg ibu
(positif atau negatif) maka upaya yang dilakukan untuk memberikan proteksi terhadap bayi
yang dilahirkannya menjadi lebih terarah. Sebagai contoh, setelah diketahui bahwa sang ibu
ternyata mengandung HBsAg positif, dengan segera tindakan pencegahan melalui pemberian
vaksinasi dan imunoglobin kepada bayi dapat dilakukan tanpa tunda-tunda. The Advisory
Committee on Immunization Practice (ACIP) membuat rekomendasi dalam rangka mencegah
infeksi perinatal dan manejeman ibu hamil dengan cara, yaitu pemeriksaan HBsAg pada ibu
hamil dan vaksinasi bayi. Bayi yang dilahirkan dari wanita yang HBsAg positif harus
mendapat vaksin pada saat dia lahir, umur 1 bulan, dan 6 bulan. Dosis pertama harus disertai
5

dengan pemberian 0,5ml imunoglobulin hepatitis B (IGHB) sesegera mungkin untuk sesudah
lahir karena efektivitasnya berkurang dengan cepat dengan bertambahnya waktu sesudah
lahir. Bayi yang lahir dari seorang ibu pengidap virus hepatitis B, harus diberikan imunisasi
pasif dengan imunoglobin anti hepatitis B dalam waktu sebelum berusia 24 jam. Berikutnya
bayi tersebut harus pula mendapat imunisasi aktif 24 jam setelah lahir, dengan penyuntikan
vaksin hepatitis B dengan pemberian yang sama seperti biasa. Vaksinasi hepatitis B dapat
diberikan pada ibu hamil dengan aman dan tidak akan membahayakan janin. Bahkan
memberikan perlindungan kepada janin selama dalam kandungan ibu maupun kepada bayi
selama beberapa bulan setelah lahir. Mengingat daya tularnya yang tinggi dari ibu ke bayi,
sebaiknya ibu hamil di Indonesia melakukan pemeriksaan darah utuk mendeteksi apakah ia
mengidap virus hepatitis B sehingga dapat dipersiapkan tindakan yang diperlukan menjelang
kelahiran bayi. 1,9,10

Penutup
Hepatitis B adalah salah satu tipe hepatitis yang berbahaya dan menular dibandingkan
hepatitis jenis lainnya. Hepatitis B menular melalui kontak darah atau cairan tubuh yang
mengandung virus hepatitis B (VHB). Hepatitis B juga dapat menyebabkan penyakit hati,
pada wanita hamil, penyakit ini biasanya bertabah parah karena terjadinya kerusakan sel-sel
hati yang meluas sehingga akan menyebabkan rasa sakit yang sangat hebat dan meningkatkan
angka kematian ibu dan janinnya.
Penularan secara vertikal virus hepatitis B dari ibu ke bayinya terjadi selama proses
kehamilan, saat melahirkan atau setelah melahirkan bahkan dapat menular melalui menyusui.
Pada masa kehamilan ibu menularkan VHB melalui tali pusat (plasenta) atau karena bayi
meminum air ketuban di dalam kandungan ibu (cairan amnion). Pada saat proses persalinan,
penularan VHB dari ibu ke bayi terjadi karena adanya faktor perlukaan yang dialami janin
saat melalui liang peranakan ibu (vagina). Virus yang berada di tubuh ibu dengan mudah
berpindah tempat melalui perlukaan yang diderita bayinya. Sementara, penularan setelah
melahirkan dapat terjadi melalui kontak erat ibu dan anak, misalnya perlukaan pada puting
ibu karena gigitan anaknya saat menyusui.
Mengingat begitu besar resiko penularan VHB dari ibu ke bayi, sangatlah penting
untuk melakukan upaya pencegahan. Pencegahan yang dapat dilakukan adalah memberikan
6

vaksin, langkah ini aman dan tidak membahayakan janin. Langkah yang dapat ditempuh juga
adalah melalui pemeriksaan serologi HbsAg secara rutin terhadap ibu hamil.

Daftar Pustaka
1. Behrman, Kliegman, Arvin. Ilmu kesehatan anak. Edisi 15. Jakarta: EGC; 2003.h.111823.
2. Corwin EJ. Buku saku patofisiologi. Edisi 3. Jakarta: EGC; 2009.h.667.
3. Sastrawinata S, Martaadisoebrata D, Wirakusumah FF. Ilmu kesehatan reproduksi:
obstetri patologi. Jakarta: EGC; 2003.h.114-5.
4. Mangan Y. Cara bijak menaklukkan kanker. Jakarta: Agro Media; 2003.h.27.
5. Sari W, Indrawati L, Djing OG. Hepatitis. Penularan hepatitis. Jakarta: Penebar Plus +;
2008.h.13-4.
6. Huliana M. Panduan menjalani kehamilan sehat. Jakarta: Puspa Swara; 2006.h.57.
7. Wijayakusuma HMH. Tumpas hepatitis dengan ramuan herbal. Jakarta: Pustaka Bunda;
2008.h.13.
8. Soemoharjo S, Gunawan S. Hepatitis virus B. Edisi 2. Jakarta: EGC; 2007.h.1-20.
9. Suharjo JB, Cahyono. Hepatitis B. Jakarta: Penerbit Kanisius; 2010.h.97-9.
10. Priyono Y. Merawat bayi tanpa baby sitter. Yogyakarta: MedPress; 2010.h.147-8.