Anda di halaman 1dari 19

1

KONTRASEPSI EMERGENSI
1. Definisi
Kontrasepsi emergensi, dinamakan juga sebagai pengaturan
kehamilan emergensi adalah suatu metode untuk mencegah
kehamilan pasca koitus yang tidak terlindung (1). Definisi lain
menyatakan kontrasepsi emergensi adalah metode kontrasepsi
darurat dimana wanita dapat menggunakannya pada hari-hari
pertama pasca koitus yang tidak terlindung dengan tujuan untuk
mencegah kehamilan yang tidak diinginkan. (2) Koitus yang tidak
terlindung

dapat

diartikan

sebagai

koitus

yang

tidak

menggunakan satu pun metode pencegah kehamilan atau


metode pencegah kehamilan digunakan tetapi tidak bekerja
sebagaimana mestinya, misalnya diperkosa, lupa meminum pil
pencegah kehamilan, atau kondom yang digunakan bocor. (3)
2. Insidensi
Kontrasepsi emergensi telah digunakan secara luas di seluruh
dunia selama lebih dari dua dekade. Keamanan dan efektifitas
metode ini terlihat dari menurunnya angka aborsi sebesar 1 juta
dan angka kehamilan yang tidak diinginkan sebesar 2 juta per
tahun di US.(4)
Setengah dari seluruh kehamilan di US, yaitu sekitar lebih dari
3 juta per tahun merupakan kehamilan yang tidak diinginkan.
Saat ini kontrasepsi emergensi hanya dipakai oleh sekitar 1%
wanita Amerika. Lebih dari 3 juta wanita tidak menggunakan
pencegah kehamilan dan beresiko hamil di luar keinginan.
Penggunaan kontrasepsi emergensi dapat mengurangi resiko
kehamilan sekitar 75% bahkan lebih, tetapi hal ini tidak berarti
bahwa 25% wanita yang menggunakan kontrasepsi emergensi

tersebut hamil. Jika 100 wanita melakukan sekali koitus yang


tidak terlindung pada minggu ke-2 atau 3 siklus menstruasi,
maka

wanita

akan

menjadi

hamil,

tetapi

jika

mereka

menggunakan kontrasepsi emergensi, maka hanya 2 wanita


yang akan hamil. Hal ini berarti terjadi penurunan resiko
kehamilan yang tidak diinginkan sebesar 75%.(5)
3. Aspek Legalitas dan Etik
Sebagai suatu metode kontrasepsi, kontrasepsi emergensi
memiliki aspek legalitas yang sama dengan bentuk kontrasepsi
yang lainnya.(5)
Kontrasepsi emergensi sebaiknya tidak diberikan kepada
wanita yang telah dikonfirmasi hamil karena sudah terlambat
untuk mencegah kehamilan. Para ahli percaya bahwa kontrasepsi
emergensi

tidak

membahayakan

ibu

dan

janinnya

walau

digunakan selama awal kehamilan.(2,3)


Kontrasepsi emergensi hanya digunakan untuk keadaan yang
mendesak dan tidak sesuai untuk penggunaan rutin karena
memiliki

tingkat

kegagalan

yang

lebih

untuk

mencegah

kehamilan dibandingkan kontrasepsi modern lainnya. Selain itu


penggunaan

yang

terlalu

sering

dapat

menimbulkan

efek

samping seperti menstruasi yang tidak teratur walaupun efeknya


terhadap kesehatan belum diketahui.(2)
4. Indikasi
Wanita usia reproduktif memerlukan kontrasepsi emergensi
dengan tujuan untuk mencegah kehamilan. Hal ini berarti
kontrasepsi emergensi digunakan pada situasi-situasi seperti
berikut(2,5) :
a. Ketika tidak menggunakan alat kontrasepsi

b. Ketika kontrasepsi gagal atau penggunaannya tidak benar,


seperti :
-

kondom yang bocor, atau penggunaannya tidak tepat

minipil (pil yang hanya mengandung progesteron) yang


diminum terlambat 3 jam

suntikan progestogen yang terlambat lebih dari 2 minggu

suntikan kombinasi progestogen dan estrogen bulanan


yang terlambat lebih dari 7 hari

kegagalan koitus interuptus (ejakulasi di dalam vagina atau


genitalia eksterna)

kegagalan tablet spermisida atau film untuk meleleh


sebelum koitus

kesalahan

menghitung

pada

sistem

kalender

atau

kegagalan untuk tidak melakukan hubungan seksual pada


masa subur
-

ekspulsi IUD

c. Pada kasus-kasus perkosaan ketika seorang wanita tidak


dilindungi oleh metode kontrasepsi yang efektif.
5. Mekanisme Kerja
Kontrasepsi emergensi mencegah kehamilan pada tahap(3) :
a. Ovulasi

: Mencegah ovarium melepaskan ovum yang dapat


dibuahi

b. Fertilisasi : Mencegah ovum bertemu dengan sperma


c. Implantasi: Mencegah

ovum

yang

telah

dibuahi

untuk

menempel pada dinding uterus.


Dari penelitian lain didapatkan bahwa kontrasepsi emergensi
hanya menunda atau menghambat ovulasi, perkembangan
folikel, dan mempengaruhi maturasi korpus luteum. Tidak
didapatkan

bukti

bahwa

kontrasepsi

emergensi

mencegah

implantasi (kecuali IUD), mempengaruhi sperma atau transport


ovum, inhibisi fertilisasi, atau menimbulkan perubahan pada
mukosa serviks.(1)
Kontrasepsi emergensi tidak bekerja pada(3) :
a. Wanita yang telah hamil
b. Wanita dengan kehamilan ektopik
6. Metode Kontrasepsi Emergensi
Kontrasepsi

emergensi

tersedia

dalam

dua

metode,

yaitu(3,4,6,7,8) :
1. Pil kontrasepsi emergensi
2. Copper-T Intra Uterine Device.
Berikut

ini

adalah

perbandingan

antara

metode-metode

kontrasepsi emergensi(4):
Pemberian dosis
pertama pasca
koitus

Efektifita
s

Estrogen dan progestin (100 g


etinil estradiol dan 0.5 mg
levonorgestrel 2X1 selang 12 jam)

0 sampai 72 jam

75%

Levonorgestrel (0.75 mg 2x1 selang


12 jam)

0 sampai 72 jam

75 - 85%

Estrogen dosis tinggi ( 5 g etinil


estradiol setiap hari selama 5 hari)

0 sampai 72 jam

75%

0 sampai 120 jam

85-100%

0 sampai 72 jam

86%

0 sampai 120 jam


setelah waktu pertama
ovulasi

Tingkat
kegagalan
<1%

Regimen

Mifepriston (dosis tunggal 10, 50


atau 600 mg)
Danazol (3x400 mg
antigonadotropin, interval 12 jam)
Copper-T Intra Uterine Device

IUD merupakan metode yang paling efektif, tetapi sebagian


besar wanita lebih memilih bentuk pil kontrasepsi emergensi.(8)

6.1

Pil Kontrasepsi Emergensi

Pil kontrasepsi emergensi atau juga disingkat sebagai ECPs


(Emergency Contraceptive Pills) kadang-kadang disamaartikan
sebagai morning after pill. Hal ini merupakan sesuatu yang salah
karena ECPs tidak pernah diminum hanya satu pil dan tidak
harus diminum keesokan pagi setelah koitus. ECPs mengandung
hormon yang lebih besar dibandingkan pil pencegah kehamilan.
ECPs dibagi menjadi dua dosis, dosis pertama diminum dalam
waktu 72 jam, dosis kedua diminum 12 jam setelahnya. (8) ECPs
berefek paling baik jika diminum dalam waktu 72 jam (3 hari)
setelah hubungan seksual yang tidak terlindung. (3,7,8) Tingkat
keefektifannya bervariasi tergantung dari saat diminumnya pil
tersebut, yaitu(6) :
a. Sampai 95% jika diminum dalam 24 jam pasca koitus
b. Sampai 85% jika diminum dalam waktu antara 25-48 jam
pasca koitus
c. Sampai 58% jika diminum dalam waktu 49-72 jam pasca
koitus.
d. Jika lebih dari 72 jam maka efektifitasnya tidak diketahui.
Berikut ini adalah grafik mengenai perbandingan waktu
pemberian dengan efektifitas ECPs(4) :

ECPs bukan merupakan pil aborsi karena pil ini bertujuan


untuk mencegah kehamilan dan tidak bekerja jika kehamilan
telah

terjadi.

Sedangkan

pil

aborsi

(seperti

Mifeprex

(mifepristone) atau dikenal dengan RU-486) bekerja setelah


wanita tersebut hamil, yaitu tepatnya setelah ovum yang telah
dibuahi berimplantasi pada dinding uterus. Pil aborsi ini dapat
merangsang uterus untuk mengeluarkan ovum yang telah
dibuahi tersebut sehingga kehamilan akan berakhir. (3,9,10)
ECPs dapat digunakan sebanyak yang diperlukan. ECPs dapat
diminum lebih dari sekali dalam satu siklus menstruasi. Hal ini
tidak

membahayakan,

tetapi

dapat

mengganggu

periode

menstruasi. Tetapi perlu diingat, penggunaan ECPs kurang efektif


jika dibandingkan dengan kontrasepsi yang lain.(6)
6.1.1 Karakteristik ECPs
Secara umum karakteristik ECPs adalah sebagai berikut(11) :
a. Aman, efektif, dan mudah digunakan
b. Dapat digunakan kapan pun selama siklus menstruasi
c. Tidak mencegah infeksi menular seksual termasuk HIV
d. Memiliki efek yang singkat
6.1.2 Fisiologi ECPs
Hormon-hormon yang terkandung di dalam pil kontrasepsi
secara temporer mengganggu produksi hormon ovarium dan
menghambat

atau

menunda

ovulasi

serta

menyebabkan

disfungsi atau meniadakan hormon fase luteal. ECPs dapat


mencegah fertilisasi ovum setelah ovulasi dan mengganggu
transport

ovum

melalui

tuba,

implantasi pada endometrium.(5)

serta

mencegah

terjadinya

6.1.3 Kontraindikasi ECPs


Tidak ada kontraindikasi untuk menggunakan ECPs. (11) Tetapi
dari literatur lain didapatkan bahwa ECPs sebaiknya tidak
digunakan oleh wanita dalam kondisi berikut ini(5):
a. dicurigai atau diketahui hamil
b. Emboli paru
c. Penyakit jantung iskemi
d. Riwayat penyakit serebrovaskular
e. Valvular heart disease dengan komplikasi
f. Hipertensi berat
g. Diabetes yang melibatkan kelainan vaskular
h. Sakit kepala disertai gejala neurologis
i. Operasi mayor dengan imobilisasi lama
j. Karsinoma mammae
k. Tumor hati
l. Penyakit hati yang aktif
m. Perokok berat yang berusia lebih dari 35 tahun (>15 batang
rokok/hari)
6.1.4 Tipe ECPs
6.1.4.1 Progestin-only ECP (Plan B)
ECP ini mengandung hormon progestin yang merupakan
bentuk sintetik dari hormon progesteron alamiah. Di beberapa
negara, ECP ini dikemas dan dilabel secara khusus untuk
digunakan sebagai kontrasepsi emergensi, nama dagangnya di
US adalah Plan B. Sering pula pil ini dinamakan dengan mini pil.
Berbeda dengan pil kontrasepsi regular yang mengandung 2
hormon,

yaitu

estrogen

dan

mengandung progesteron.(6,7,10)

progesteron,

pil

ini

hanya

ECP ini lebih efektif dibandingkan tipe kedua dan efek


sampingnya (berupa mual dan muntah) lebih ringan karena
hanya mengandung satu hormon.(7)
Jika Plan B diminum dalam waktu 72 jam pasca koitus yang
tidak terlindung, hanya sekitar 1-2% wanita yang akan hamil.
Semakin cepat diminum, maka pil ini akan lebih efektif. Oleh
sebab itu sebaiknya pil ini diminum segera mungkin.(6,10,12)
Indikasi penggunaan Plan B adalah(12) :
a. Ketika alat kontrasepsi tidak digunakan sewaktu koitus
b. Ketika 3-4 pil pencegah kehamilan tidak diminum atau pil
pencegah kehamilan pada siklus baru telat diminum l hari
atau lebih
c. Kondom bocor atau penggunaannya tidak benar
d. Kasus perkosaan
Plan B bekerja dengan cara menunda ovulasi (mencegah
ovum

dilepaskan

dari

ovarium)

dan

atau

dengan

cara

mempengaruhi uterus, sehingga ovum yang telah dibuahi tidak


dapat menempel (berimplantasi) dan berkembang menjadi suatu
kehamilan. Plan B tidak berefek menggugurkan kehamilan yang
telah terjadi.(6,10,12)
Plan B tidak memberikan perlindungan terhadap infeksi
menular

seksual,

penggunaan

kondom

direkomendasikan
digunakan

termasuk

karena

tetap

sebagai
kurang

HIV/AIDS,
dianjurkan.

metode
efektif

oleh
Plan

kontrasepsi
dibandingkan

karena
B
yang

itu
tidak
rutin

kontrasepsi

regular.(12)
Cara pemberian regimen progestin-only ECP adalah sebagai
berikut(11) :
a. Minum 2 pil yang mengandung levonorgestrel 0,75 mg dalam
waktu 120 jam pasca koitus yang tidak terlindung, atau

b. Minum satu pil yang mengandung levonorgestrel 0,75 mg


dalam waktu 120 jam pasca koitus yang tidak terlindung dan
pil lain yang mengandung levonorgestrel 0,75 mg 12 jam
setelah minum pil pertama.
6.1.4.2 Combined ECP (Metode Yuzpe)
ECP yang mengandung 2 hormon (estrogen dan progestin)
juga dikemas dan dilabel secara khusus untuk digunakan sebagai
kontrasepsi emergensi. ECP tipe ini dinamakan pula dengan
metode Yuzpe. Sekitar 50% wanita yang menggunakan tipe ini
mengalami mual dan 20% nya mengalami muntah. Penggunaan
pil ini dapat mencegah kehamilan sampai 75%.(3,7,13)
Cara pemberian regimen combined ECP (Yuzpe) adalah
sebagai berikut(11) :
a. Pil kontrasepsi oral dapat digunakan untuk tujuan ini. Jumlah

pil yang diminum untuk setiap dosisnya bervariasi tergantung


dari

jumlah

hormon

di

dalam setiap

pil.

Setiap

dosis

mengandung etinil estradiol 0,1 mg dan levonorgestrel 0,5


mg.
b. Ketika memilih untuk menggunakan pil kontrasepsi oral dosis kecil
(setiap pil mengandung 0,03 mg etinil estradiol) : minum 4 pil
dalam waktu 120 jam pasca koitus yang tidak terlindung, 12 jam
kemudian minum kembali 4 pil.
c. Ketika memilih untuk menggunakan pil kontrasepsi oral dosis tinggi
(setiap pil mengandung etinil estradiol 0,05 mg) : minum 2 pil
dalam waktu 120 jam pasca koitus yang tidak terlindung, 12 jam
kemudian minum 2 pil lagi.

Berikut ini adalah daftar pil kontrasepsi emergensi beserta


gambar(4,14):

10

Merk dagang
Ethinyl
Levonorgestre
Jumlah pil estradiol per
l per dosis
per dosis
dosis (g)
(mg)
Ovral
2 pil putih
100
5 pil merah
Alesse
muda
100
5 pil merah
Levlite
muda
100
4 pil oranye
Nordette
muda
120
4 pil oranye
Levlen
muda
120
Levora
4 pil putih
120
Lo/Ovral
4 pil putih
120
Triphasil
4 pil kuning
120
Tri-Levlen
4 pil kuning
120
4 pil merah
Trivora
muda
120
Ovrette
20 pil kuning
0
Preven ||
2 pil biru
100
Plan B||
1 pil putih
0

Harga ($)
0.50

47

0.50

29

0.50

28

0.60

30

0.60
0.60
0.60
0.50
0.50

30
27
31
29
28

0.50
0.75
0.50
0.75

28
31
20
20

Catatan: Dosis pertama diminum dalam waktu 72 jam setelah koitus yang
tidak terlindung; dosis kedua diminum 12 jam kemudian.

Brands and Doses

Preven (2 blue
pills)
Dedicated
Product

Ovral (2 white
pills)

Alesse (5 pink pills)

Levlite (5 pink pills)

Plan B (1 white
pill)
Dedicated
Product

Nordette (4 light-orange pills)

Triphasil (4 yellow pills)

Levlen (4 light-orange
pills)

Levora (4 white pills)

Tri-Levlen (4 yellow pills)

Trivora (4 pink pills)

Lo/Ovral (4 white pills)


Ovrette (20 yellow pills)

11

6.1.4.3 Estrogen Dosis Tinggi


Penggunaan estrogen dosis tinggi (etinil estradiol 5 mg/hari)
pertama kali diperkenalkan pada tahun 1960 dan terbukti efektif
seperti metode Yuzpe, tetapi dengan efek samping yang lebih
besar. Dosis awal diberikan dalam waktu 72 jam pasca koitus
yang tidak terlindung dan dibagi dalam 2 dosis per hari selama 5
hari. Linoral merupakan salah satu contoh dari estrogen dosis
tinggi yang masih dipasarkan dan digunakan dalam program
keluarga berencana di Belanda.(15,16)
Pada penelitian, dari 3016 wanita pasca koitus yang tidak
terlindung didapatkan hanya 17 orang yang hamil setelah
diberikan regimen ini. Selain itu didapatkan efek samping 54%
mual, 24% muntah dan 23% mengalami nyeri tekan pada
payudara.(15)
Jika dibandingkan dengan metode Yuzpe, regimen ini lebih
efektif tetapi kemungkinan timbulnya efek samping lebih besar.
(15)

6.1.4.4 Danazol
Danazol mengandung progestin dan androgen sintetis yang
dapat

digunakan

sebagai

kontrasepsi

emergensi.

Regimen

danazol terdiri dari 2 dosis yang masing-masing 400 mg diminum


selang 12 jam dalam waktu 72 jam pasca koitus yang tidak
terlindung.(16,17) Variasi dari regimen ini bisa berupa 3x400 mg
(interval 12 jam), 2x600 mg (interval 12 jam).(16)
Danazol bekerja dengan cara mencegah terjadinya ovulasi.
Ketika diberikan pada wanita selama fase folikular, danazol dapat
menghambat atau menunda tercapainya kadar puncak hormon

12

LH sehingga dapat menekan atau menunda terjadinya ovulasi.


Efek langsung danazol pada endometrium ketika diberikan
selama fase ini dalam siklus menstruasi masih belum jelas.
Pemberian post ovulasi tidak mempengaruhi fungsi ovarium atau
perkembangan endometrium. Kelemahan dari danazol adalah
tidak adanya efek selama fase luteal.(15)
Keunggulan dari danazol adalah efek sampingnya yang lebih
rendah

dibandingkan

digunakan

oleh

dengan

wanita

metode

dengan

kontra

yuzpe,

dan

indikasi

dapat

terhadap

combined ECP atau estrogen.(16,18) Efek sampingnya berupa mual


(10-30%), muntah (1-4%), nyeri tekan pada payudara (21%).
Kemungkinan timbul efek samping berupa menstruasi yang tidak
teratur lebih kecil jika dibandingkan dengan metoda kontrasepsi
emergensi yang lain. Sebagian besar wanita akan menstruasi
kembali dalam waktu 3 hari (56%) atau 4-7 hari (30%) lebih awal
dari waktu yang seharusnya.(18)
Dari suatu penelitian yang menggunakan danazol 800mg,
1200mg, dan metode Yuzpe didapatkan efektifitas masingmasing sebesar 73%, 86%, dan 69%.(15)
6.1.4.5 Mifepriston
Mifepriston (Ru486) mengandung antagonis progesteron dan
glukokortikoid yang berasal dari norethindron. (15) Mifepriston
merupakan obat nonhormonal yang lebih efektif untuk mencegah
kehamilan jika dibandingkan dengan pil hormonal.(17)
Mifepriston

memiliki

beberapa

efek

farmakologis

yang

menentukan efektifitasnya sebagai kontrasepsi emergensi. Obat


ini berkompetisi dengan progesteron endogen dan memiliki
afinitas yang tinggi untuk berikatan dengan reseptor progesteron
membentuk kompleks reseptor progesteron-mifepriston. Karena
reseptor

progesteron

paling

banyak

terdapat

pada

organ

13

reproduksi, maka mifepriston berefek secara primer di dalam


uterus. Kompleks reseptor progesteron-mifepriston memblok efek
progesteron endogen terhadap perkembangan endometrium dan
mencegah peningkatan transkripsi dna. Ketika diberikan selama
fase

folikular,

mifepriston

menghambat

fase

pembentukan

folikuler dan menekan produksi hormon LH yang berperan untuk


ovulasi. Ketika mifepriston diberikan pada wanita selama awal
dan pertengahan fase luteal pasa siklus menstruasi akan terjadi
perubahan

endometrium

sebagai

akibat

dari

rendahnya

progesteron. Keadaan ini akan mengganggu atau mencegah


implantasi ovum yang telah dibuahi. Lebih jauh lagi aksi anti
progestogen dari mifepriston akan mancegah perkembangan
embrio yang berimplantasi. Berbeda dengan regimen Yuzpe,
progestin-only,

etinil

estradiol

dosis

tinggi,

mifepriston

merupakan kontrasepsi emergensi yang dapat diberikan sebelum


maupun sesudah implantasi dan dapat tetap efektif sampai 1217 hari pasca koitus yang tidak terlindung.(15)
Mifepriston ditoleransi lebih baik dibandingkan metode Yuzpe.
Perbadingan efek samping mifepriston dan metode Yuzpe adalah
mual (40%:60%), muntah (3%:17%), nyeri kepala (49%:70%),
nyeri tekan pada payudara (27%:46%). Efek samping yang paling
bermasalah dari mifepriston adalah gangguan dalam waktu
periode menstruasi berikutnya. Hal ini dapat mencemaskan
pasien yang menunggu periode menstruasi berikutnya sebagai
indikator

bahwa

mereka

tidak

hamil.

Mifepriston

dapat

menyebabkan menstruasi >3hari lebih awal pada 19%wanita dan


>3hari lebih lama pada 19% wanita.(15)
6.1.5 Efek Samping ECPs

14

Penggunaan ECPs tidak menimbulkan efek samping serius


baik jangka pendek maupun jangka panjang. Beberapa wanita
dapat merasa sakit, pusing atau lelah, sakit kepala, nyeri tekan
pada payudara, atau nyeri perut.(6)
Progestin-only ECP (Plan B) tidak menimbulkan komplikasi
yang serius. Efek samping yang ditimbulkan minimal jika
dibandingkan combined ECP (metode Yuzpe), diantaranya adalah
berupa rasa mual (jarang timbul dan biasanya ringan) dan
perubahan menstruasi (periode menstruasi berikutnya menjadi
lebih cepat, lebih lama, atau bisa pula tepat waktu).(1,6,12)
Jika

mengalami

nausea

berat,

penggunaan

pil

jangan

dihentikan, karena jika pil tersebut tidak tuntas diminum maka


kehamilan mungkin tidak dapat dicegah.(3) Banyak obat-obatan
yang tersedia untuk mengurangi nausea dan vomitus dan
biasanya diminum 1 jam sebelum meminum ECPs. Jika muntah
dalam waktu 1 jam setelah meminum ECPs, maka dosisnya harus
diulang.(8)
Berikut ini adalah perbandingan antara metode Yuzpe dan
Plan B(13) :
Metode Yuzpe
Efektifitas 75%
Efek samping (nausea,
vomitus)
lebih berat
Harga $15-$20

Plan B
Efektifitas 85%
Efek samping
ringan

lebih

Harga $30-$35

6.1.6 Follow Up
Setelah minum ECPs, tidak perlu untuk memeriksakan diri ke
dokter kecuali(6,9):
a. Merasa hamil
b. Periode menstruasi telat lebih dari 7 hari
c. Periode

menstruasi lebih pendek atau lebih

biasanya
d. Nyeri mendadak pada perut bagian bawah

lama

dari

15

e. Membutuhkan kontrasepsi regular


f. Membutuhkan informasi mengenai infeksi menular seksual,
seperti HIV/AIDS.
Setelah minum ECPs, maka untuk mencegah terjadinya
kehamilan

kontrasepsi

regular

digunakan

kembali,

seperti

kondom, spermisida, atau diafragma.(10)


6.1.7 Kegagalan ECPs
ECPs sangat efektif dan harus diminum segera mungkin pasca
koitus yang tidak terlindung. Tetapi pada beberapa wanita, ECPs
dapat gagal dan mereka menjadi hamil walau telah meminumnya
dengan benar. Kehamilan dapat juga terjadi jika(6) :
a. Telat minum pil kontrasepsi emergensi
b. Muntah dalam waktu 2 jam setelah minum pil
c. Melakukan koitus yang tidak terlindung pada waktu lain
setelah minum pil kontrasepsi emergensi
6.2

Copper-T Intra Uterine Device

Kontrasepsi emergensi ini berbentuk huruf T dan diletakkan di


dalam uterus.(3,7) IUD merupakan alat yang terbuat dari plastik
kecil dan tembaga. IUD ini harus digunakan dalam waktu 5 hari
setelah hubungan seksual yang tidak terlindung. (6,7) IUD dapat
dipasang sampai 10 tahun jika hendak digunakan sebagai
metode kontrasepsi regular.(3,7)

16

Gambar Copper-T IUD

6.2.1 Fisiologi Copper IUD


Mineral (tembaga) pada IUD mempengaruhi transport sperma
dan fertilisasi. Copper IUD menyebabkan respon inflamasi
sehingga endometrium tidak kondusif lagi untuk implantasi.(4,5)
6.2.2 Efektifitas Copper IUD
IUD merupakan metode kontrasepsi emergensi yang paling
efektif.

IUD

dapat

mencegah

kehamilan

sampai

98%. (6)

Kepustakaan lain menyatakan efektifitas IUD mencapai 99,9%.(3)


6.2.3 Indikasi
Indikasi penggunaan IUD(6):
1. 72 jam pasca koitus yang tidak terlindung dan sudah
terlambat untuk menggunakan pil kontrasepsi emergensi
2. Wanita yang tidak ingin atau tidak dapat manggunakan
progestogen

6.2.4 Kerugian
Kerugian IUD(6) :
1. Penggunaannya tidak semudah pil emergensi
2. Tidak semua wanita dapat menggunakan IUD (misalnya
wanita

yang

memiliki

masalah

dengan

serviks

atau

uterusnya)
3. Ada kemungkinan terjadinya infeksi pada uterus dalam
waktu 20 hari setelah pemasangan IUD.

17

4. IUD dapat menimbulkan perforasi pada serviks atau uterus


ketika dipasang. Hal ini dapat menyebabkan rasa nyeri
tetapi biasanya asimtomatik. Jika hal ini terjadi IUD perlu
dilepaskan dengan cara operasi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Emergency Contraception:A Safe & effective Contraseptive


option for Teens, Available at www.advocatesforyouth.org/
publications/factsheet/fsecp.pdf retrieve on 2 Dec 2005
2. Levonorgestrel for Emergency Contraception, Available at
www.who.int/reproductive-health/
family_planning/docs/ec_factsheet.pdf retrieve on 2 Dec 2005

18

3. Frequently Asked Question about Emergency Contraception,


http://www.4woman.gov/faq/econtracep.htm retrieve on 2 Dec
2005
4. Wertheimer, Randy Ellen. Emergency Postcoital
Contraception, Available at www.aafp.org/afp/200011152287.html retrieve on 2 Dec 2005
5. Emergency Contraception, Available at
http://classes.kumc.edu/son/nrsg835/emergencycontra.htm
retrieve on 2 Dec 2005
6. Emergency Contraception, Available at
www.fpa.org.uk/guide/emergncy.htm retrieve on 2 Dec 2005
7. Copper-T IUD as Emergency Contraception, Available at
http/ec.princeton.edu/mht.html retrieve on 2 Dec 2005
8. The CONTRACEPTION Report, Available at
www.contraceptiononline.org/contrareport/pdfs/09_01_pu.pdf
retrieve on 2 Dec 2005
9. Key Facts About Emergency Contraception, Available at
www.pharmacyaccess.org/pdfs/FactSheetEnglish.pdf retrieve
on 2 Dec 2005
10. Emergency Contraception, Available at
www.aap.org/family/ecparentpage.pdf retrieve on 2 Dec 2005
11. Emergency Contraceptive Pills (ECPs), Available at
www.fhi.org/training/en/modules/ARV/resources/ECPs.doc
retrieve on 2 dec 2005
12. EMERGENCY CONTRACEPTION PILL (ECP), Available at
www.sa.ucsb.edu/studentHealth/HealthLibrary/
Files/Emergency%20Contraception%20Pill.doc retrieve on 2
Dec 2005
13. Emergency contraception: Preventing pregnancy after you
have had sex, Available at www.caringforkids.cps.ca/
teenhealth/EmergencyContraception.pdf retrieve on 2 Dec
2005
14. Brands and Doses, Available at
www.path.org/publications/pub.php?id=668 retrieve on 2 Dec
2005

19

15. Wanner, Melissa Sanders. Pharm D., Couchenour Rachel L.


Hormonal Emergency Contraception, Available at
http://www.medscape.com/viewarticle/423473_print retrieve
on 13 Dec 2005
16.
Ellertson, Charlotte. History and Efficacy of Emergency
Contraception: Beyond Coca-Cola, Available at
http://www.guttmacher.org/pubs/journals/2205296.html
retrieve on 13 Dec 2005
17. Chernomazova, Elena. Emergency Contraception, Available
at http://www.owl.ru/eng/womplus/1997/dorov_e.htm retrieve
on 13 Dec 2005
18. Hormonal Emergency Contraception, Available at
http://www.medscape.com/viewarticle/423473_9 retrieve on
13 Dec 2005